<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824</id><updated>2012-02-17T16:33:22.908+10:00</updated><category term='Manokwari'/><category term='education'/><category term='reflection'/><category term='Woman'/><category term='Tukang Mimpi'/><category term='poem'/><category term='summer story 2009'/><category term='Vision'/><category term='Family'/><category term='Lingkungan'/><category term='Homesick'/><category term='Pendidikan'/><category term='Q'/><category term='psycho Samantha'/><category term='personal comment'/><category term='Xtraordinary'/><category term='Papua'/><category term='Cinta'/><category term='budaya'/><category term='Antropologi'/><category term='urban legend'/><category term='satir'/><category term='Hewan'/><category term='Nostalgia - surat 2006'/><category term='tragedy'/><category term='Arab'/><category term='doger'/><category term='Hiburan'/><category term='Ilham'/><category term='Lelaki Kopi'/><category term='Politik'/><category term='ca'/><category term='catatan lepas'/><category term='Cultures'/><category term='History'/><category term='Summer story 2009 - 2010'/><category term='J'/><category term='Autumn 2009'/><category term='woman talk'/><category term='Youth'/><category term='Pariwisata'/><category term='Mimpi'/><category term='Autumn 2010'/><category term='Milistea'/><category term='Arfak'/><category term='Book Review'/><category term='Travelling'/><category term='Kesehatan'/><category term='linguistik'/><category term='Her'/><category term='Nostalgia - surat 2007'/><category term='Lelaki Hujan'/><category term='Spring 2009'/><category term='Tanaman Obat'/><category term='Rob'/><category term='self - reflection'/><category term='Ikon'/><category term='Arc'/><category term='dream'/><category term='Virgo'/><category term='Link website'/><category term='X story'/><category term='Situs'/><category term='friendship'/><category term='Klub Menulis'/><category term='Winter Story 2009'/><category term='Bob'/><category term='Makanan'/><category term='Memory'/><category term='HAM'/><category term='Spirituality'/><category term='nostalgia - surat 2008'/><category term='Lelaki Subuh'/><category term='Sosial'/><category term='self-reflection'/><category term='Cerpen'/><category term='transgender'/><category term='health'/><category term='Festival'/><category term='figure'/><category term='Winter Story 2010'/><title type='text'>KISAH HUJAN PAGI</title><subtitle type='html'>Keping kisah Dayanara Meimosaki: direct from the horse's mouth!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>647</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8805520492183439331</id><published>2012-02-17T16:32:00.000+10:00</published><updated>2012-02-17T16:33:22.920+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><title type='text'>Saatnya telah tiba - Yeheskiel 12</title><content type='html'>Subuh tadi, sekitar jam 1 a.m. tanggal 17 Februari 2012, dalam sesi doa harian saya untuk Papua, saya diminta membaca dalam Yeheskiel 12:  1- 28. Dalam Alkitab Good News Bible saya, judulnya tertulis menjadi tiga bagian: ‘The Prophet as a refugee’, ‘The sign of the trembling prophet’ dan ‘a popular proverb and an unpopular message’. Well, ada beberapa hal yang saya dapatkan tentang pembacaan ini dan pada bagian terakhir sempat membuat saya merasa sedikit pasrah dan bilang pada diri saya, “Well God, terserah Tuhan saja suda”. Ya isinya membuat saya sedikit terkejut ya, begitulah. Anyway, dalam sesi doa saya, semua ini terkait dengan Papua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari pembacaan ini, al:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Kaum yang memberontak pada Tuhan tidak akan peduli pada apa yang diajarkan oleh Firman (Yeh 12: 2)&lt;br /&gt;Dalam pembacaan Firman yang saya baca ini dengan jelas dibilang bahwa “They have eyes, but they see nothing; they have ears, but they hear nothing, because they are rebellious.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Papua sendiri? Saya tak akan membawa contoh yang jauh dan tak saya kenal. Di kota saya saja, dalam minggu ini saya mendengar dan melihat banyak contoh ‘pemberontakan’ yang dilakukan oleh banyak anak muda Papua. Dari para pelaku pemerkosaan, penjambretan, pencurian dan juga kekerasan pada perempuan serta para pemabuk; semuanya adalah orang Kristen yang dibabtis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus tetapi hidup dalam ‘kegelapan’ dosa. Saya tak ingin menghakimi tapi bukankah inilah contoh dari ayat ini dalam lingkup yang saya ketahui, bukan? Well, mungkin anda punya contoh lainnya, tapi saya sudah mempunyai contoh yang saya ketahui. Beberapa dari mereka bahkan tak peduli bila dinasehatkan dengan Firman Tuhan bahkan ada juga yang teratur pergi ke tempat ibadah tetapi tidak berbuah sesuai dengan Firman yang mereka dapatkan di tempat ibadah. Bukankah inilah ciri pemberontak? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Hukuman Tuhan akan datang dalam berbagai bentuk sebagai balasan atas pemberontakan pada-Nya.  (Yes 12: 11 – 16; 19 – 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan ini dengan jelas membahas apa yang akan terjadi pada orang Israel yang memberontak pada Tuhan. Mulai dari tanda bahwa mereka akan menjadi orang buangan atau pengungsi, juga akan tersebar kemana – mana, juga akan terpapar sakit penyakit. Tuhan juga mengilhami Yeheskiel pada masa itu untuk menulis bahwa orang – orangyang lolos dari pengungsian dan sampar akan mengalami masa yang sulit hingga untuk makan dan minum pun harus gemetar ketakutan. Bisa dibayangkan bahwa untuk makan dan minum pun dalam keadaan seperti itu, bagaimana mo telan makanan? Pasti susah sekali. Pastilah kesusahan yang menimpa dalam bacaan ini sangat berat, ya sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang patut dicatat adalah semua hukuman ini akan turun untuk mengingatkan pada mereka yang memberontak agar mengakui bahwa yang berhak mereka sembah adalah Tuhan. Inilah pekerjaan Tuhan untuk menegur mereka. Seperti yang saya baca, “Then they will know that I am the LORD” dan “They will realize how disgusting their actions have been and will acknowledge that I am the LORD.” Ya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3.  Tuhan akan menggenapkan apapun yang Ia katakan terkait ‘prediksi/penglihatan’ yang Ia beri dan saatnya sudah dekat. (Yeh 12: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca bagian ini subuh tadi, jujur saya merasa, entahlah, sedikit kaget. Apalagi ada Firman Tuhan yang bilang begini, “The time has come and the predictions are coming true.” (GNT) ataupun dalam terjemahan LAI sebagai “Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat dari pembacaan ini, Tuhan jelas bilang bahwa Ia tak akan menunda – nunda lagi apa yang sudah Ia nyatakan. Tak akan ada lagi penundaan. Inilah saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itu yang saya dapatkan subuh tadi dalam sesi doa saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala Hormat, Kemuliaan dan Pujian menjadi milik Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 170212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8805520492183439331?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8805520492183439331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8805520492183439331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8805520492183439331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8805520492183439331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/saatnya-telah-tiba-yeheskiel-12.html' title='Saatnya telah tiba - Yeheskiel 12'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-7358454129792236358</id><published>2012-02-17T16:30:00.000+10:00</published><updated>2012-02-17T16:31:29.252+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><title type='text'>Catatan Lepas tentang Papua</title><content type='html'>Papua. Saya percaya saudara begitu familiar dengan kata ini. Entah merujuk pada masyarakatnya, penduduknya, kekayaan alamnya ataupun wilayah geografinya. Papua seperti sepotong kue dengan banyak rasa. Mungkin juga bisa saya gambarkan seperti salad buah. Begitu campur aduk. Begitu berwarna – warni tapi di saat yang bersamaan begitu cepat ‘busuk’ dan ‘rapuh’ dan cepat sekali dibuang. Sebuah kontradiksi antara kekayaan dan kemiskinan.  Sebuah paradox. Ya, seperti itulah tanah kelahiran dimana saya dilahirkan. Sebuah tempat yang secara de facto dan de jure katanya bagian dari sebuah negara di Asia Tenggara TAPI bagi saya tanah kelahiran saya ini berada di daerah Pasifik Barat daya hehehe. Well, ini hanya catatan lepas saya terkait tanah kelahiran saya. Hanya sebuah catatan di saat saya tak bisa memaksakan diri tidur dan ya, apa lagi yang bisa saya buat selain menulis. Percayalah, hanya sebuah catatan lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya,  Papua, merujuk pada Tanah Papua secara keseluruhan, adalah seperti sebuah keping surga yang jadi rebutan banyak orang. Sebuah piring makan keramik yang besar yang diperebutkan banyak ‘kanak – kanak’ di sebuah ruangan. Saking berlimpahnya makanan di dalam piring ini, para kanak – kanak ini tak ragu menggunakan cara apapun untuk mendapatkan makanan itu dan juga tentu saja juga menunjukan siapa yang berhak atas piring itu. Para kanak – kanak ini tak peduli kalau saling berebutan seperti itu hanya membuat mereka terluka, terjerembab kadang – kadang dan juga akhirnya hanya merusak piring keramik itu. Padahal tiap kanak – kanak ini sebenarnya sudah punya piring makan sendiri tapi saking terlalu bernafsu makan jadinya ya makanan mereka keburu habis. Tak ada cara lain selain meng’invasi’ piring makan ini yang konon ternyata milik seorang balita yang tertidur. Alamak, saat si balita terbangun dan ingin makan, yang ada hanyalah ia menjadi sasaran ‘tembak’ para kanak – kanak yang lebih besar dari dia. Seperti yang bisa diprediksi, kala tak ada penjaga kanak – kanak ini, si balita silahkan saja gigit jari dan menonton ‘jatah makan’nya habis sia – sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu mau dibawa kemana nasib tanah ini. Kala bantuan dana instan mengalir dengan lancarnya ke tanah ini, Korupsi pada satu sisi juga merebak dengan mudahnya dalam tiap lini strata sosial. Korupsi yang tak mengenal warna kulit dan korban yang dirugikan pun tak kenal warna kulit dan jenis rambut. Sangat merusak tiap organisme yang disebut manusia. Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh para pelaku korupsi ini. Apakah mereka lupa bahwa korupsi adalah satu tindakan pencurian? Sebuah bentuk dosa yang merusak kehidupan banyak orang. Saya tak tahu apa yang dikejar para koruptor di tanah ini, apakah kebanggaan karena memiliki mobil mewah keluaran terbaru, rumah besar, gadget – gadget mewah, kemampuan akses kemana saja dengan layanan kenyamanan tingkat tinggi dan memakai produk – produk hi-class. Well, apalagi kalau cuma ingin diterima oleh kalangan ‘tertentu’. Saya hanya bisa bilang, “Oooops, sangat menyedihkan kalau begitu bila korupsi hanya karena alasan – alasan seperti itu. Karena bagaimanapun artinya orang tersebut punya masalah secara psikologi karena tak bisa menerima dirinya apa adanya dan merasa bahwa ia baru ‘normal’ kalau punya ini – itu. Bagi saya, itu menyedihkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak tahu mau dibawa kemana orang asli Papua. Benar  - benar tak tahu. Sesama orang Papua menjadi pengkhianat kaumnya sendiri. Demi uang, kekuasaan dan juga ‘agar dapat diterima oleh kalangan tertentu’. Padahal, kalau mau dilihat statistik, jumlah orang Papua asli tak bergerak signifikan sejak aneksasi tahun 1963. Bahkan bila ada data statistik yang lebih komprehensif, saya bisa bertaruh bahwa tingkat perkawinan interas Melayu – Melanesia cukup tinggi, baik yang sudah berlangsung dari tingkatan kakek – nenek hingga generasi muda sekarang ini. Semakin besar peran kawin campur ini maka semakin menipis pula ‘warisan budaya’ yang diwariskan apalagi bagi generasi di daerah perkotaan. Ada sebuah krisis identitas yang terjadi di tanah ini. Sebuah krisis identitas menjadi ‘Papua’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, seorang sepupu kandung saya mengirimkan SMS pamit karena hendak berangkat ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya. Biaya sendiri tentu saja. Saya hanya bisa berpesan singkat selain tentu saja dukungan doa padanya, “Ade, jang pernah lupa untuk bangga menjadi ‘Orang Papua’ di sana eee.” Bagi saya, hanya itu nasehat realistis saya yang bisa saya berikan padanya. Sepupu kandung saya ini pun tak benar – benar asli Papua walaupun ia menyandang fam Papua. Semoga ia tetap ingat bahwa dimanapun ia berada, ia tetap orang Papua. Ya, tetap orang Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis identitas kePapuaan kita juga sempat saya lihat pada beberapa teman dan sesama anak – anak 3 G ‘generasi gado – gado’ , pun anak – anak asli Papua. Saat mereka menganggap bahwa dengan merepresentasikan diri mereka dengan ‘budaya orang lain’, well ada nilai jual tambah yang mereka usung. WOW!!! Itu kesan saya untuk mereka. Apakah seperti itu? Apa yang salah dengan ‘komen-isme’ atau ‘papuanisme’ kita?  Saya teringat status seorang teman di dunia maya, sebut saja bro Rudolfo penggagas situs Yaswarau, ia menulis dalam sebuah statusnya tentang anak – anak Papua yang ber-Melayu Ambon. Well, keprihatinannya terkait krisis identitas mungkin bukan hanya miliknya sendiri. Saya pernah mengalami hal tersebut beberapa bulan lalu dengan seorang fans cowok saya yang notabene ‘laki – laki tanah’ sungguh mati dengan fam Papua dan wajah sangat ‘tanah’ tapi sioooooo eee, kalau bicara dan mengirimkan pesan pada saya, benar – benar ‘laki – laki Ambon’ seh. Saya sampai menegurnya berulang kali sampai saya sempat bilang padanya, “Bro neh, biasa saja, macam sebentar dusun sagu smua tacabut rubuh kapa nih. Hehehe. Sa saja yang dibesarkan dengan budaya campuran Jawa – Maluku – Papua saja tra sampe mo sibuk pake ‘beta – ale’ saat bercakap – cakap dengan teman Papua saya kecuali dengan keluarga besar opa – oma saya, tergantung kontekslah’. Itu cuma satu contoh kasus yang saya temukan. Entahlah, apa yang hendak dicari dan ditunjukan oleh orang – orang seperti itu. Saya tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak masalah sosial di tanah Papua, begitu juga masalah lainnya yang ada. Banyak masalah. Tapi saya bermimpi dan juga berharap bahwa apapun masalah yang terjadi di tanah ini tak akan membuat kita lupa bahwa tanah ini ibarat sebuah piring keramik besar tempat makan kita bersama. Semakin kita tak peduli dan melihat permasalahan yang ada semakin menumpuk, maka kelak piring akan terbelah dan hancur. Lalu bagaimana kita akan makan? Bukankah kita makan agar dapat bertahan hidup? Semoga kita tak pernah lupa akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu bagaimana saudara melihat nasib tanah ini, apakah kita menjadi orang – orang apatis ataukah menjadi burung beo yang hanya menyoraki kekalahan maupun kesuksesan di tanah ini? Ataukah saudara mau menjadi bagian dalam  membuat tanah ini menjadi ‘rumah’ yang nyaman bagi generasi kita di masa mendatang? Membangun rumah penuh kasih dan damai. Bukankah Tuhan sudah memberikan lahan yang begitu baik, tinggal bagaimana kita memilih material pembentuk rumah yang kokoh, aman dan nyaman untuk tempat tinggal kita. Saya tak tahu bagaimana anda melihat hal ini, tapi bagi saya, Papua adalah rumah saya dan saya akan tetap menulis bagi Papua dalam kapasitas yang saya bisa. Menulis tentang Papua dari perspektifnya saya. Menulis sebisa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, Papua adalah rumah saya. Tempat dimana saya lahir dan mungkin juga akan mati di sini. Saya ingin yang terbaik bagi saya. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia tentu saja merupakan hal yang wajib. Sandang, pangan dan papan tentu saja. Juga masalah kesehatan dan pendidikan serta aksesnya yang murah dan meriah pastilah mimpi saya juga. Tapi yang saya herankan, di tanah saya ini, urusan kebutuhan dasar ini saja belum terpenuhi tapi kok kebutuhan pendukung  yang tak terlalu penting bagi ketahanan hidup orang banyak menjamur di mana – mana. Saya tak perlu mengabsen semua kebutuhan pendukung tak penting itu, bukan? Well, cara termudah melihat tingkat pemenuhan kebutuhan dasar ya coba saja ke Manokwari dan melihat daerah miskin perkotaan yang berada di daerah teluk, ataupun daerah Sanggeng Dalam ataupun juga ke berbagai pesisir utara dan selatan. Apakah sudah terpenuhi dengan baik urusan kebutuhan dasar ini? Entahlah, bagi saya pribadi sih belum. Itulah Papua; sebuah paradox. Sebuah paradox tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papua akan terus bergeliat dan mungkin juga bergolak. Ada yang tak ingin tanah saya ini damai. Ya, mau dikata pun kondisi keamanan yang bergolak menjadi ajang bisnis besar bagi para pihak yang berkepentingan, bukan? Saya tak tahu bagaimana anda melihat hal ini. Bagi say, tidakkah lebih baik bila kita berhenti sejenak dari ‘kekerasan’ dan melihat ke dalam tanah ini, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tanah ini, oleh penduduk aslinya, oleh penduduk migrannya, oleh penduduknya yang bergenerasi campuran dan semua pihak yang berkepentingan di tanah ini. Duduk dan bicara! Tapi akankah itu terjadi? Saya tak tahu. Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan orang yang duduk di bagian pengambil keputusan, mungkin pula tak akan pernah mendapat jatah suara dalam berbicara tentang nasib tanah ini. Tapi saya hanya akan tetap bilang bahwa saya jemu dengan kekerasan yang terjadi di tanah ini, saya jemu dan muak dengan rasisme yang mengakar di tanah ini, saya capek melihat orang – orang yang korupsi di tanah ini dan saya juga benar – benar muak dengan ketidakadilan di tanah ini. Yang saya lihat, semua bentuk ‘ketidakbaikan’ ini dilakukan oleh baik orang Papua maupun non-Papua. Tak ada lagi batasan ras. Tak ada. Yang tersisa hanyalah ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ di Papua. Yang tersisa hanyalah ‘orang yang peduli Papua’ dan ‘yang tak peduli pada Papua’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya hanya bisa bilang hari ini dari semua kesimpulan saya dalam catatan ini: LAKUKAN APA YANG ANDA BISA DENGAN KAPASITAS YANG ANDA MILIKI demi Papua plus JANGAN PERNAH MENCURI APAPUN yang bukan milik anda. Sesimpel itu. Karena bila anda dan saya setia dalam perkara kecil seperti ini, saya percaya kita bisa melakukan banyak hal besar untuk menjadikan Tanah Papua sebagai rumah yang lebih baik bagi anak cucu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusannya di tangan anda dan saya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya peduli pada Papua. Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya hanya anda yang tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas Mero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 170212; sebuah subuh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-7358454129792236358?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/7358454129792236358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=7358454129792236358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7358454129792236358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7358454129792236358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/catatan-lepas-tentang-papua.html' title='Catatan Lepas tentang Papua'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5404931487185708228</id><published>2012-02-17T16:27:00.000+10:00</published><updated>2012-02-17T16:30:00.249+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>What life brings so far</title><content type='html'>Beberapa hari ini saya merasakan bagaimana Tuhan bekerja di dalam diri saya. Bekerja memperbaharui saya. Saya bersyukur untuk campur tangan Tuhan. Itu intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai merasakan bagaimana the Spirit bisa menolong menegur saya untuk mengatasi rasa marah saya dalam beberapa hal. Mulai dari mengatasi kekecewaan saya dalam menghadiri suatu acara, juga bereaksi terhadap kekerasan di depan saya. Ataupun permasalahan orang lain. Saya benar – benar berterima kasih karena masalah pengelolaan amarah bisa berlangsung dengan baik dan aman tanpa harus mencederai saya dan tak kepikiran berjam – jam. Bahkan kemarin Ia benar – benar membantu saya mengatasi kekecewaan saya terkait seorang sahabat lama. Saya makin mengerti bahwa tiap orang bereaksi berbeda dengan perhatian dan SMS penyemangat yang saya kirimkan pada mereka. Entahlah. Tapi saya bersyukur kemarin Tuhan benar – benar menghibur saya dan menguatkan saya dan yang terpenting adalah Tuhan berpesan bahwa tak ada cara lain yang bisa Ia katakan selain “Tetap mengasihi.” Saran paling rasional yang saya terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini kesehatan saya kembali drop total. Mungkin karena flu berat, Migrain atau juga Malaria tertiana yang timbul tenggelam. Entahlah. Tapi yang saya tahu, saya dikuatkan oleh Tuhan lewat firman-Nya. Dalam kondisi drop inipun dalam sesi doapun saya tidak dituntut lebih seperti beberapa hari silam yang berapi – api tapi lebih tenang. He really knows what I’ve been through. Itu yang saya tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Har ini saja misalnya saya tidur dari jam 12 malam lebih dan baru bisa bangun jam 3 sore dengan selalu harus terbangun tiba – tiba tanpa sebab pada pukul 4/5 subuh untuk berdoa kecil dan kembali tidur. Masih mimpi yang samar dan aneh, tentang lelaki yang menikah denganku. Entahlah, alam bawah sadarku sedang crash. Hahaha. Dalam mimpiku, teman – temanku bilang itu ‘suami’ku HAHAHA. Mimpi terkacau yang pernah kutahu. HAHAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, Saya juga sedang tekun membaca bukunya Rick Warren “God’s Answers to Life Difficult Questions”. Sangat menguatkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya tak tahu apa yang akan ditawarkan hidup ke depan. Tapi saya mau melihat gambaran besarnya kalau saya akan baik – baik saja. Ini hanya sebuah proses dalam hidup saya. Sebuah proses yang harus saya jalani guna menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidup saya. Saya percaya Yesus tak akan membiarkan saya ‘babingung’ kelamaan, terkatung – katung. Beberapa hari ini saya sempat berdoa dan curhat pada Tuhan terkait masalah pendapatan dan Jawaban Tuhan tak pernah terlambat. Minggu depan ada beberapa kerjaan lepas yang menanti untuk saya kerjakan. Ya, walaupun kecil tapi saya bersyukur ada kerjaan lepas dan aktivitas. Saya percaya bahwa Yesus akan mencukupi apa yang saya butuhkan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin hidup saya seimbang dan oleh sebab itu, saya tak akan jemu melakukan apa yang harus saya lakukan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tak akan rumit bila masalah – masalah yang berat biarkan Tuhan yang mengatasinya, setidaknya kita sudah berusaha sebaik mungkin, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup hanya satu kali dan saya mau menjalaninya sebaik mungkin berdasarkan apa yang Yesus inginkan. Saya hanya ingin menjadi apa yang Ia inginkan dari hidup saya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, enjoy life dan jangan pernah menyerah. Itu pesan saya hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 160212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5404931487185708228?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5404931487185708228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5404931487185708228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5404931487185708228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5404931487185708228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/what-life-brings-so-far.html' title='What life brings so far'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-7461945212242855745</id><published>2012-02-15T20:29:00.001+10:00</published><updated>2012-02-15T20:29:49.862+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Secangkir Kopi di Atas Meja</title><content type='html'>Subuh mungkin saat paling tepat bagi saya untuk menulis. Mungkin karena suasana yang tenang dan hanya terdengar bunyi suara serangga dari luar kamar dan tentu saja musik yang saya putar lebih terasa sensasinya. Malam ini dua albumnya Michael Bolton yang menemani saya =) Well, ada tiga hal (musik, suasana kamar yang nyaman dan juga perasaan nyaman sehabis berdoa) yang mungkin membuat mata saya tiba – tiba melihat sebuah ‘gambaran jelas di kepala saya’ saat melihat cangkir kopi (yang tentu saja berisi kopi) di depan komputer jinjing saya. So, terinspirasi dari ‘pencerahan’ yang saya dapat subuh ini, tak butuh waktu lama, saya memilih mengirimkan pesan ini pada beberapa teman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Subuh ini kala sa sedang mengetik, ada 1 cangkir kopi warna merah hadiah Nescafe dan berisi kopi di meja. Bikin sa ingat kalo ko seperti cangkir kopi ini. Yang temani sa, menyemangati sa, apapun jenis kopinya tapi selalu cangkir merah ini yang sa pake. Apapun kopinya tapi selalu bikin sa terinspirasi jalani hidup. Thanx 4 being my friend.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, para sahabat, teman dan orang – orang terdekat di sekitar saya bagaikan cangkir kopi merah ini. Mereka berada di sekitar hidup saya, menjadi wadah dari ‘inspirasi’ yang saya sering dapatkan dalam hidup. Kisah hidup mereka kadang saya pinjam sebagai bahan pembelajaran pribadi, cerita mereka entah keberhasilan dan kegagalan menjadi refleksi saya dan semangat mereka kadang menjadi bara api penyemangat kala saya sedang ‘down’. Mereka benar – benar seperti cangkir kopi merah yang sudah saya miliki sejak masa perkuliahan di Manado 10 tahun lalu. FYI, Saya dulu mengoleksi banyak cangkir kopi Nescafe tapi yang tersisa cuma 2 yang berwarna merah dan favorit saya ya yang warnanya merah polos seperti yang saya lihat subuh ini. hehehe. Mereka ‘ada’ dan ‘hadir’ di dalam hidup saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, tiap kita pasti mempunyai lingkaran inner-circle maupun teman jauh yang menjadi serupa cangkir kopi ini bagi diri kita. Mereka ada dan hadir dalam hidup kita. Tergantung pada intensitas persinggungan tiap orang. Tapi saya percaya, mereka adalah ‘wadah’ yang diciptakan Tuhan dan diijinkan Tuhan untuk hadir dalam hidup kita; menebarkan semangat dan inspirasi, menguarkan aroma pantang menyerah dan tentu saja juga sebagai katalisator dari persinggungan emosi kita dan mereka. Kadang mereka hanyalah tempat kopi dingin seperti iced-coffee tetapi paling sering mereka adalah wadah kopi panas. Mereka berbagi kehangatan pada kita kala ‘hujan’ deras sedang turun dalam hidup kita. Kala kita sedang ‘down’, mereka menaburkan semangat kopi dan membuat kita tertawa lagi, menyemangati dan tentu saja menciptakan banyak inspirasi yang kadang tak kita sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh ini, saya percaya bahwa tiap kita pun adalah cangkir berisi kopi bagi hidup orang lain. Saya percaya tiap kita berperan besar dalam membentuk rantai hidup semangat dalam diri dan kehidupan orang lain. Kadang malah membuat mereka ‘kecanduan’ dan tak bisa hidup jauh dari kita. Saya percaya, apapun intensitas yang telah anda buat, anda berarti dan bermakna dalam hidup orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya hanya bisa bilang: Terimakasih sudah mewarnai hidup saya, berbagi semangat, perhatian dan banyak hal yang tak dapat saya sebut satu per satu. You are wonderful! Itu yang saya tahu. Thanx for being a part of my life. May God bless you abundantly. Itu doa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy life. Semangat! Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 150212; 3 a.m.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-7461945212242855745?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/7461945212242855745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=7461945212242855745' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7461945212242855745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7461945212242855745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/secangkir-kopi-di-atas-meja.html' title='Secangkir Kopi di Atas Meja'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5653649500091038072</id><published>2012-02-15T20:28:00.001+10:00</published><updated>2012-02-15T20:28:55.551+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>Yeremia (lagi)</title><content type='html'>Siang tadi, seorang teman saya di Jayapura, mengirimkan sebuah pesan pendek bagi saya. Dia teman lama saya yang saya temukan minggu lalu usai hampir 10 tahunan tak ada kabar. Well, minggu lalu kami menjalin kontak lagi dan ia menjadi salah seorang yang menguatkan saya untuk balik pada panggilan saya. Kebetulan ia juga cukup peka dengan ‘panggilan’nya. Isi pesannya cukup singkat, “May, tadi sa diminta mencari orang yang biasa berdoa untuk Papua dan sa tahu ko memang berdoa untuk Papua too. Jadi ko tolong bacakan Yeremia 11: 13 dan Yeremia 10: 13 eee.”. Usai bertanya lebih lanjut tentang hal ini, ia bilang, “pokoknya sa su kasi tau eee hehehe.” Well, pembacaan yang ia beri ini benar – benar berpikir lagi. Iya, karena nyambung dengan beberapa hal yang saya dapat dalam sesi ‘doa’ saya beberapa hari ini plus juga pembacaan kitab yang lain: tentang penyembahan berhala dan hukuman Tuhan too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ada dua ayat yang saya baca dan doakan, isinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeremia 11: 13 (GNT):&lt;br /&gt;“The People of Judah have as many gods as they have cities, and the inhabitants of Jerusalem have setp up as many altars for sacrifices to that disgusting god Baal as there are streets in the city.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeremia 10: 13 (GNT):&lt;br /&gt;“At his command the waters above the sky roar; he brings clouds from the ends of the earth. He makes the lightning flash in the rain and sends the wind from his storeroom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, hari ini yang saya tahu, sesi doa tengah hari tadi benar – benar awesome, saya suka kala Tuhan memilih genre-musik etnik. It makes me feel so glad to listen to that sound. Yang pasti, sekali lagi ini tentang Papua. Saya merasakan tadi dalam pujian dan penyembahan sebelum doa itu, saya benar – benar merasakan bagaimana Tuhan mengalir dan mencurahkan kuasa pelepasan atas Papua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti, ini masa ultimatum bagi Papua: Bertobat ataukah hukuman siap menanti. Pilihannya tentu saja ada di tangan orang – orang yang ada di Papua: Komen ka Amber ka pernakan. Ini saatnya Tuhan, mari bergerak bersama-Nya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 140212; Thanx for Peri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5653649500091038072?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5653649500091038072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5653649500091038072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5653649500091038072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5653649500091038072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/yeremia-lagi.html' title='Yeremia (lagi)'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-346623924211776032</id><published>2012-02-15T20:26:00.000+10:00</published><updated>2012-02-15T20:27:56.226+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J'/><title type='text'>Catatan Lepas tentang Cinta</title><content type='html'>Hari ini planet ini giat mengkampanyekan ‘hari Kasih Sayang’ a.k.a. Valentine’s Day. Well, saya tidak merayakan Valentine’s Day dan juga butuh hari khusus untuk mengungkapkan cinta saya karena saya memang mudah jatuh cinta. Tapi, hari ini saya bersyukur bisa berbagi pelukan dan mengatakan “Thanx for being my friends” untuk para sahabat dan teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ekspresi kasih sayang tak butuh hari khusus. Malam ini saat menulis catatan hari ini, saya baru saja selesai berdoa malam dan entahlah, pilihan firman yang saya baca benar – benar full of love. Menyenandungkan dan memuji Tuhan dengan nada lembut dalam kitab Mazmur 30 dan Kidung Agung 1 – 3. Sangat menghanyutkan dan membuat saya berulang kali bilang, “Jesus, I love You.” Padahal beberapa jam sebelumnya saya baru saja diserang sakit kepala hingga harus minum obat dan tidur, mimpi buruk dan juga kelelahan berat. Tapi, saat teduh saya malam ini benar – benar jadi titik balik dan saya merasa disiram cintanya Tuhan yang sangat banyak sampai – sampai saya menulis catatan ini dengan perasaan penuh cinta, muka tersenyum – senyum sendiri dan hati yang terasa penuh. Su tumpah – tumpah malah hahaha. Belum lagi pembacaan Firman diminta baca Hakim – Hakim 18: 1 – 31. Well, saya mendapat sebuah ayat penguatan di ayat ke 16, yang bilang begini, “You have nothing to worry about. The LORD is taking care of you on this journey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana anda memandang cinta? Bagi saya itu energi terhebat yang bisa menggerakan satu alam semesta. Energi yang sangat kuat. Cinta membuat orang bisa melakukan apa saja. Tak bisa dikontrol, malah bikin orang gila. Kehilangannya malah bisa bikin orang patah hati, depresi ataupun bunuh diri. Sebuah energi yang saya tahu berasal dari Tuhan. Entahlah, bagi saya, cinta adalah sebuah anugerah terbesar yang pernah saya tahu dan jadi salah satu alasan saya tetap hidup sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam ini pula, saya mengingat mereka yang menginspirasi saya. Ada banyak sekali. Mulai dari keluarga hingga sahabat jauh dan dekat. Bahkan orang – orang yang hanya saya kenal dari buku, bacaan ataupun biografi mereka. Anyway, terkait Valentine’s Day, saya mungkin hanya mengingat satu orang yang entah sekarang berada di mana; Jonathan. Dua tahun lalu saya merasakan bagaimana artinya dihargai, dipercayai dan tentu saja ditantang untuk menjadi diri saya sendiri. Dia lelaki yang membuat saya percaya bahwa saya layak bermimpi besar karena ia percaya bahwa saya bisa melakukan hal – hal besar. Andai saja ia bisa membaca catatan ini karena saya masih dan akan tetap mencintainya dengan cara seperti ini; menghidupkannya dalam tulisan – tulisan saya. He’s one of the best men I’ve ever met. Itu saja. Saya puas mencintainya dengan cara seperti ini walau mungkin ia tak akan pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup masih panjang, masih akan berlanjut. Saya mungkin akan jatuh cinta beberapa kali, mungkin pula bertemu pasangan hidup saya kelak atau bahkan melajang seumur hidup. Saya tak lagi memikirkan itu. Yang saya tahu saya bahagia dengan kondisi saya sekarang, diliputi banyak cinta di sekeliling saya. Cinta yang lebih universal dan tak lagi hanya berupa cinta eros tetapi saya juga merasakan siraman cinta Tuhan dalam hidup saya. Merasakan banyak perhatian dan saling menguatkan dengan para orang terdekat. Menjalani hidup saya ke depan. Satu yang pasti, saya percaya saya akan baik – baik saja. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya dikuatkan oleh Tuhan dan saya percaya bahwa Firman-Nya benar, “You have nothing to worry about. The LORD is taking care of you on this journey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hidup hanya perlu dijalani dan bukannya dianalisa. Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 140212; reflecting on my life)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-346623924211776032?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/346623924211776032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=346623924211776032' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/346623924211776032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/346623924211776032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/catatan-lepas-tentang-cinta.html' title='Catatan Lepas tentang Cinta'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-1380188528230657981</id><published>2012-02-15T20:24:00.000+10:00</published><updated>2012-02-15T20:25:15.553+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>5 Minutes 4 Women</title><content type='html'>Betapa riangnya kita membahas tentang musik yang lain ‘in’, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hebohnya kita membahas tatanan rambut, fashion, maupun make-up terbaru;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa asyiknya kita membahas kematian para seniman yang menginspirasi hidup kita;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hebohnya kita membahas gol – gol cantik yang dilesatkan tim sepakbola kesayangan kita dan juga berapa banyak skor yang dibuat dan analisa pertandingan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa relanya kita begadang semalaman demi menonton pertandingan sepakbola di TV;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bersemangatnya kita membahas gosip terhangat yang menimpa orang yang tak kita sukai ataupun kita sukai;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senangnya kita berbicara tentang rencana liburan kita, perangkat gadget elektronik terbaru yang akan kita beli dan juga hal – hal berbau ‘mewah’ yang akan kita dapatkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa riangnya kita membahas gosip para pesohor yang hidup di dalam layar kaca, jauh ribuan kilometer dari kita dan tak sekalipun mengenal nama kita;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TETAPI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah waktu yang sama banyaknya dengan hal – hal di atas kita pakai untuk MEMIKIRKAN ataupun setidaknya MENDOAKAN apalagi BERUSAHA untuk para perempuan muda yang mungkin hidup dalam jangkauan 1 Km dari tempat tinggal kita?  Iya, untuk mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan yang digebuki di dalam rumah mereka hingga babak belur oleh suami mereka hanya karena alasan sepele;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda yang berusaha bunuh diri malam ini hanya karena merasa tak berharga karena urusan ‘perawan pica’;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda tanpa ikatan pernikahan yang sedang depresi, bingung dan tak tahu harus bagaimana karena ada kehidupan yang tumbuh di janinnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda yang ingin menjadi ‘bayangan’ dalam keramaian karena merasa bahwa mereka tak berharga dan tak ‘cantik’ dan berusaha keras menjadi ‘orang lain’;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda yang sedang bertarung dengan mimpi mereka dan tampaknya harus melepaskan mimpi mereka karena ketiadaan biaya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda yang ingin menjadi ‘diri mereka sendiri’ tetapi harus memakai topeng karena tekanan budaya patriarki dan ancaman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan muda (maupun di rentang usia lainnya) yang menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan di kota Manokwari maupun di mana saja;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya pikir anda lebih tahu jawabannya dari saya. Yang saya tahu, catatan ini saya buat untuk mereka, untuk mengingatkan bahwa mereka berharga dan mungkin saja anda mau berkomitmen barang 5 menit dari hidup anda dalam sehari untuk mendoakan mereka. Tak banyak, setidaknya agar Tuhan bekerja dan mengubahkan hidup para perempuan ini menjadi lebih baik dan juga menguatkan mereka untuk menjalani hidup. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, perempuan adalah hal terindah yang pernah saya lihat, manusia super yang nyata dan peran mereka sebagai ibu kehidupan kadang lolos dari kilatan blits kamera. Bagi saya, mereka adalah keunikan;  salah satu keajaiban yang dibuat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bagi saya, seperti yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu, adalah makhluk terindah di bumi. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah anda mendoakan mereka? Ah jawaban itu tentu saja milik anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 130212; mengenang para perempuan kuat yang membentuk hidupku)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-1380188528230657981?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/1380188528230657981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=1380188528230657981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1380188528230657981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1380188528230657981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/5-minutes-4-women.html' title='5 Minutes 4 Women'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2467009935029536109</id><published>2012-02-15T20:22:00.000+10:00</published><updated>2012-02-15T20:24:05.286+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>Always Women on His mind</title><content type='html'>Malam ini saat teduh malam terasa berbeda dibanding malam lainnya. Lebih tenang, lebih syahdu dan tentu saja selera musik yang berbeda. Jadi serasa gabung di paduan suara hehehe. Iya, pujian dan penyembahan malam ini pun terasa beda. Tak ada buku nyanyian, tak ada invasi mulut yang ada diminta menyanyikan Mazmur 25 dan kemudian dilanjutkan dengan Mazmur 27. Begitu tenang dan dalam. Apalagi memang aku ada sedikit masalah dengan ‘perasaan’ku beberapa jam sebelumnya. Jadinya, it’s so different. Tenang dan menghanyutkan. Menenangkan mungkin kata yang lebih tepat. Ya, sangat menenangkan hati yang resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, malam ini pokok doa yang Tuhan beri malam ini masih sama dengan malam kemarin, tentang perempuan muda. Bedanya, malam ini lebih pada pelepasan belenggu – belenggu yang mengikat mereka. Berdoa dengan pokok doa yang sama tetap cara penyampaian yang beda. Malam ini aku melihat bahwa Allah membuka tabir awan gelap di atas Manokwari dan Papua dan menyorotkan kuasanya ke bawah. Memberi terang. Malam ini saat berdoa, aku diberitahu oleh the Spirit kalau Yesus sedang bekerja malam ini menyentuh dengan kelembutan hati perempuan – perempuan muda di Papua, baik Papua maupun non-Papua. Yesus meminta mereka kembali pada-Nya. The Spirit bilang kalau Yesus menyanyangi para perempuan muda ini dan tak ingin mereka menyia – nyiakan hidup mereka. Ia menyatakan bahwa mereka berharga. Ia bekerja malam ini dengan kelembutan. Ia ingin mereka kembali dan merasakan kasih-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berdoa, malam ini aku pun diajak untuk membuka Yeheskiel 20: 1 – 49 yang berkenaan dengan “Kehendak Allah dan Ketidaktaatan Manusia.” Membaca banyak hal. Akan kubahas di catatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini yang kutahu, Yesus memang spesialis penyembuh luka. I feel so much better untuk urusan perasaanku. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kemuliaan, hormat dan pujian bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 130212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2467009935029536109?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2467009935029536109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2467009935029536109' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2467009935029536109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2467009935029536109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/always-women-on-his-mind.html' title='Always Women on His mind'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5213221528559607546</id><published>2012-02-13T17:56:00.001+10:00</published><updated>2012-02-13T17:56:40.987+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Seberapa jauh kita peduli?</title><content type='html'>Seberapa jauh kita boleh peduli dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan orang lain yang tidak kita kenal? Itu pertanyaan sedari kemarin sore yang terus saya tanyakan pada diri saya sendiri. Iya sejak kemarin sore. Hal ini membuat saya terus berpikir dan baru bisa tenang saat saya membaca Korintus 13 tentang Kasih. Tentu saja berdoa juga sangat membantu saya mengatasi emosi saya yang terasa ‘kacau’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya ini tentu saja bermula dari pengalaman terpapar kekerasan rumah tangga secara langsung saat saya dan seorang sahabat  mengunjungi teman di luar kota. Saat itu kami sedang berdiri di depan rumahnya. Tak dinyana, belum 5 menit berdiri, datanglah dua perempuan muda yang mungkin belum genap berusia 20 tahun di depan kios sebelah rumahnya. Saya dan sahabat mengenal kedua perempuan ini karena masing – masing kami masih berkerabat dengan mereka.  Singkat cerita, tak lama berselang, datanglah lelaki muda berbaju hijau dan langsung bertanya kasar pada perempuan muda yang masih berkerabat dengan saya. Tak hanya itu, ia langsung menghajar, mencekik, memukul, mendorong dan pukulan bertubi – tubi serta aksi kekerasan lainnya pada perempuan muda itu di depan sebuah kios yang bersebelahan tepat dengan rumah teman saya. Siooooo, hati saya terasa miris. Saat saya melongok, saya malah dibentak. Orang – orang di sekitar tempat itu pun datang dan dibentak juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Untunglah ada seorang laki – laki di situ yang menegur dan bilang, “kalo mo pukul maitua tuh di rumah sana. Jang pukul di tempat umum macam begini.” Si suami pemukul tak tinggal diam, ia pun pergi menantang orang yang menegurnya. Rupanya ada juga perempuan lain yang menegur suami pemukul ini dan makin marahlah si suami. Perhatiannya lengah pada istrinya yang berbadan kecil itu dan kami pun menyuruh istrinya kabur melarikan diri. Pokoknya lari segera. Singkat cerita, si istri kabur dan si suami kena bogem mentah dan tendangan dari sepasang suami isteri yang menegurnya tadi. Semua penonton puas walaupun tersisa miris untuk nasib si istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu bagaimana pandangan anda tentang hal ini. SEBERAPA JAUH KITA BOLEH PEDULI KALA MELIHAT ORANG YANG TAK KITA KENAL DIANIAYA DI DEPAN MATA KITA? Saya tak tahu. Saat itu saya hanya menelpon saudara laki – laki saya dan meminta nomor telpon para kerabat lelaki saudara perempuan yang dianiaya ini tapi rupanya ia tak tahu. Saya hanya bisa berdoa untuk  perempuan ini kala pulang. Saya tak bisa berbuat banyak saat itu untuk mengintervensi karena perempuan ini tak meminta tolong pada saya bahkan cenderung ‘malu’ pada saya. Saya mengenalnya sewaktu kecil karna memang pernah mengajarnya di Sekolah Minggu beberapa tahun silam. Jadinya saya hanya bisa menyuruhnya kabur saat suaminya lengah. Saya baru tahu kalau ia kabur ke rumah tantanya (adik bapaknya) di dekat rumah teman saya. Saat kerabatnya datang, saya hanya bertanya singkat, rupanya itu memang suaminya dan MAS KAWIN sudah LUNAS dibayar. Saya menjadi miris, inikah salah persepsi tentang konsep mas kawin sehingga melegalkan adanya kekerasan dalam rumah tangga bagi pasangan Papua khususnya pasangan muda Papua. Saya tak tahu tapi ada rasa miris di hati. Miris sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ada salah konsepsi tentang pemahaman mas kawin dan kekerasan. Sering disalahartikan bahwa ‘mas kawin’ adalah ‘pembeli’ perempuan dan kita jadi punya hak untuk ‘meng-apa-kan saja’ perempuan yang telah kita bayar mas kawinnya , termasuk memukul dan menganiayanya. Namun, saya percaya para leluhur kita membuat mekanisme mas kawin sebagai penghargaan atas pentingnya perempuan sebagai penyambung keturunan, sebagai ibu dari kehidupan. Dalam suku mama saya, sebuah suku pegunungan di pegunungan Arfak, mas kawin menjadi sebuah sarana reprositas dalam kaitannya keberlangsungan suku. Sebagai timbal balik pekerja. Bukan memandang perempuan sebagai ‘objek’ tetapi lebih dari itu penghargaan pada peran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama saya lahir dari keluarga besar. Dari keluarga poligami. Tete saya punya 12 istri dan saya keturunan dari istrinya yang ke 5. Tete saya mantan kepala suku besar. Walau kami dari keluarga besar, tetapi setiap istri punya rumah sendiri dan mempunyai bagian hak ulayat sendiri untuk anak – anaknya. Bahkan mama saya yang sejak bayi diserahkan untuk diadopsi oleh pasangan suami istri Maluku (Seram – Saparua) juga punya hal wilayah sendiri walau tak sebesar mereka yang tetap tinggal dalam komunitas suku. Tete saya mempunyai istri yang banyak dan tentu saja membayar mas kawin yang banyak karena istri –istrinya akan membantunya membuat kebun guna pasokan bahan makanan. Sebagai pemimpin suku, salah satu tugas tete saya adalah menjamin ketersediaan pangan bagi komunitas sukunya  khususnya saat menjamu tamu – tamunya. Saya tak tahu seberapa banyak yang ia bayar untuk menikahi 12 perempuan ini karena mas kawin suku mama saya termasuk lumayan, bila melihat dari rinciannya.  Ada kain Toba (harganya sekarang saja mencapai 30 Juta Rupiah), ada lagi kain Timor (tergantung permintaan kualitasnya), Kain cita (tergantung permintaan seberapa banyak bal yang diminta), belum lagi manik – manik, juga hewan seperti babi. Masa kini juga termasuk sejumlah uang. Semuanya tergantung pada siapa yang dinikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, mas kawin saat itu diminta karena peran perempuan dalam menjamin ketersediaan makanan dalam keluarga maupun dalam suku. Itulah sebabnya mas kawin dibuat sebagai sarana reprositas dari pernikahan ini. Jadi, bila perempuan menikah dan masuk ke keluarga lain, maka otomatis akan berkurang satu pekerja dalam mempertahankan ketahanan pangan dalam keluarganya sendiri. Itulah sebabnya sistem mas kawin diadakan, agar pihak keluarga yang ditinggalkan bisa mencari pengganti ‘pekerja’ dalam keluarga mereka. Selain itu, dengan adanya mas kawin maka perempuan dihargai  dan pernikahannya kelak mempererat hubungan keluarga yang menikah. Mas kawin menjadi simbol. Apalagi melihat bagaimana harga diri kedua keluarga ditentukan dalam prosesi pengantaran dan penerimaan mas kawin. Sebuah mekanisme mempertahankan ‘simbol identitas’, sebuah penghargaan pada kedua belah pihak plus sebagai  sarana ‘pertemuan’ dua keluarga besar. Saya percaya bahwa MAS KAWIN BUKANLAH ‘SEBUAH LISENSI’ untuk memukul, menganiaya, ataupun menyakiti perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, saya melihat bagaimana pernikahan di usia muda, ketidaksiapan mental dan juga paham bahwa ‘sa –su-beli-ko’ menjadi seumpama lingkaran setan yang mengikat perempuan muda di Papua yang terlanjur ‘menikah’ dan mengalami kekerasan. Para lelaki Papua di sekeliling perempuan muda itu sudah siap membantu andaikan saja perempuan muda itu minta tolong. Tapi ia hanya diam seribu bahasa walau sorot matanya bilang bahwa ia butuh pertolongan. Belum lagi suaminya yang terus menantang orang – orang di sekelilingnya dan bilang, “Ini sa pu urusan keluarga. Jang ikut campur.” Untunglah, seorang lelaki Papua lain, seorang mantri yang menegur dan beralihlah perhatian dari si suami pemukul ini. The rest is the history! Suaminya digebukin sampai tobat dan si istri kabur. Well, tapi tentu saja masalah ini tidak selesai karena saat pulang, pasti akan ada episode – episode lanjutan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak perempuan muda di Papua yang saya lihat yang merasa bahwa mereka tak berharga, tak punya kuasa, tak berdaya kala menghadapi hal seperti ini. Padahal sudah ada pasal – pasal yang menjamin mereka khususnya terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), saya lupa pasal berapa tapi pernah beberapa kali saya tanyakan saat ‘mengurus masalah’ di Samapta Polres Manokwari. Cukup si korban membuat laporan dan bersedia memprosesnya. Ya tapi seperti biasa, ada banyak pertimbangan yang membuat si korban enggan melapor. Saya berdoa semoga suatu hari nanti mereka akan punya cukup keberanian untuk membela diri mereka sendiri. Tiap keputusan pasti punya konsekuensinya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bermimpi suatu hari nanti di Manokwari, akan ada beberapa rumah singgah untuk perempuan dan anak – anak yang dianiaya. Sejenis ‘Shelter’ atau ‘Safe House’. Setidaknya sebuah tempat berlindung sementara waktu dimana perempuan dan anak yang teraniaya bisa lari dan diamankan ke sana dan dicarikan solusi terbaik di sana. Satu hal yang pasti, rumah seperti ini wajib mempunyai sistem keamanan yang baik dan didukung oleh gereja/masjid lokal sebagai badan penasehat dan juga berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Selain itu, rumah singgah ini dilengkapi oleh fasilitas nginap dan dapur, pusat konseling dan juga perawat. Setidaknya bisa membantu para perempuan dan anak menyelamatkan diri untuk beberapa jam ataupun 1 – 2 hari hingga emosi yang meradang bisa reda sekejap. Entahlah, mungkin terasa sulit untuk tempat yang budaya patriarkinya sangat kuat tapi saya percaya suatu hari nanti, bila para perempuan saling bersatu, pasti akan ada perubahan. Saya percaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya pemimpi tapi saya percaya bahwa bumi akan jadi tempat yang lebih baik bagi manusia. Mungkin langkah pertama yang bisa saya lakukan guna memprotes kekerasan pada perempuan adalah  dengan bersuara lewat tulisan – tulisan saya, mendoakan hal ini dan tentu saja mengkampanyekan lewat berbagai hal yang saya bisa. Mungkin akan memesan kaos dengan kata – kata seperti “Stop pukul2 perem suda. Ko pikir dong karung pasir ka”. Sementara itu yang bisa saya tuliskan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Papua, andai ko mengerti kalo ko berharga. Yang saya tahu, saya akan tetap bersuara untuk para perempuan ini karena saya tahu mereka sangat berharga. Mereka adalah para ibu kehidupan. Manusia terkuat yang saya tahu. Lakukan apapun yang kita bisa sesuai kapasitas kita untuk melawan ketidakadilan ini. Intinya, JANGAN TINGGAL DIAM dan menganggap ini hal ‘biasa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya peduli. Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 130212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5213221528559607546?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5213221528559607546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5213221528559607546' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5213221528559607546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5213221528559607546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/seberapa-jauh-kita-peduli.html' title='Seberapa jauh kita peduli?'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-3839200693750802653</id><published>2012-02-13T17:55:00.001+10:00</published><updated>2012-02-13T17:55:56.100+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Enjoy small things</title><content type='html'>‘Enjoy small things’. Well, itu hampir mirip dengan pelajaran yang ada dalam film Zombie Land hehehe. Tapi hari ini saya ingin menulis tentang ungkapan ini. Tentu saja tentang menikmati hal – hal kecil di sekitar kita. Saya tak tahu bagaimana kita memandang hal – hal kecil ini tapi kadang hal – hal kecil inilah yang membuat kita bahagia atau setidaknya membuat kita bersyukur. Kalau di tangan dingin para penulis skenario Hollywood dan berhasil diramu sutradara hingga Director of Photography-nya, well, ini bisa jadi adegan romantis yang bisa bikin kita jatuh mati karena biasanya pake adegan yang melambat. CUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, catatan hari ini ya membahas tentang hal – hal kecil yang membuat kita bahagia. Saya pecinta hal – hal kecil yang membuat saya banyak tertawa, tersenyum dan kadang – kadang bisa bilang WOW hahaha. Well, ini hanyalah catatan lepas saya. Boleh ditertawakan, boleh juga tak dipercayai but this is the real me hehehe. Saya menyukai hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup saya karena itulah yang membuat saya bisa melakukan hal – hal besar. SMALL THINGS COMPOSE BIG THINGS =) ini hanya beberapa hal yang sering saya nikmati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Jalan kaki dan menatap ke atas melihat curah hujan yang turun saat petang atau malam hari di dekat lampu jalan berwarna kuning e.g. dekat persimpangan Makalo. Paling seksi kalau hujannya baru turun gerimis. Damn! Bagi saya itu SEKSI banget. Impian? Bisa motret  momennya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Saat berenang di Pasir Putih sore hari di Pasir Putih saat pantai dalam keadaan bersih dan tenang terus saat lagi di dalam air, dengan air setinggi dada dan kita menatap batas cakrawala, dan tiba – tiba hujan mulai turun perlahan. Saya pernah beberapa kali mengalami hal itu dan bagi saya, tetes – tetes hujan yang turun pertama kali itu KEREN Banget. Inginnya seperti itu segera mencari ‘remote control’ dan membuat ‘adegan lambat’ HAHAHA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Saat lagi di kamar, pagi atau sore hari dan hujan turun dengan deras. Well, saya akan segera ke dapur, mencari cangkir kopi, memilih kopi yang temanya sesuai dengan hari ini, menyeduhnya dan membawanya ke kamar. Nongkrong di ambang jendela dan menatap ‘taman’ depan kamar =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4. Bangun pagi karena dibangunkan para keponakan kecil khususnya si Eu. Padahal para balita di rumah cuma mau memamerkan kapur ataupun pengalaman baru termasuk ‘reportase’ kakaknya Eu yang pulang sekolah. She’s a great investigator and a story teller. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#5. Membuka koleksi foto di komputer. Apalagi yang telah lewat beberapa tahun. Tertawa – tawa melihat penampakan yang masih ‘tak terurus’ HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#6. Mendapat produk kosmetik yang diidam – idamkan especially eyeline. Show time beybeh. Langsung pake bagaya di rumah =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#7. Menikmati sunset sambil ngopi di pantai especially daerah pantai utara. Sioooooooooooooo, saya sedang berada dalam sekian detik ‘surga’ yang dipinjamkan ke Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#8. Saat saya bisa berdoa dan curhat segala macam ke Tuhan tanpa beban dan tanpa hambatan. Apa lagi yang kurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#9. Saat bisa mendapat pelukan sayang atau kecupan sayang dari para keponakan tanpa harus pakai acara ‘minta’ =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#10. Saat hendak pergi dan para keponakan saya berteriak, “Mamay, mo kemana? Ikut ka?” dan mereka semua lari merubung saya, kadang sampai pake acara bertengkar dulu tentang siapa yang ikut. Tak ada yang bisa menggantikan perasaan bahwa ‘saya dicintai’ HAHAHA. Ini salah satu momen surga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya punya banyak sekali hal – hal kecil yang membuat saya bahagia dan membuat saya jatuh cinta pada hidup saya, tapi tampaknya tak mungkin saya tuliskan semuanya. Satu yang pasti, jangan pernah lupa menikmati hal – hal kecil di sekitar kita karena hal – hal kecil itulah yang menyusun rangkaian panjang episode hidup kita. Enjoy life! Semangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooops ampir lupa, hal kecil lainnya yang saya nikmati adalah Menulis catatan seperti ini dan mengirimkannya pada anda.  Anyway, Apa ‘hal kecilmu’ yang membuat anda bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti, thanx for coloring my life, mates. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;(Manokwari, 130212; 1: 24 a.m.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-3839200693750802653?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/3839200693750802653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=3839200693750802653' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3839200693750802653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3839200693750802653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/enjoy-small-things.html' title='Enjoy small things'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-7669185235860602299</id><published>2012-02-13T17:54:00.000+10:00</published><updated>2012-02-13T17:55:03.566+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>V - Special for Young Women</title><content type='html'>Malam ini sekitar jam 8 malam, aku diminta berdoa peperangan jam 10 malam jadi harus siap – siap. Pembacaannya pun sudah diberi tahun di Mazmur 18, tapi baru boleh kubaca di akhir doa. Tak tahu itu tentang apa. Jadinya usai membalas pesan sejumlah teman, akhirnya jam 10 berdoa juga. Mana pake sistem dibajak segala, lagi asik menulis tapi langsung mulut su dibajak untuk nyanyi. Ada invasi mulut, sodara – sodara =D Yet, it is so much FUN. Tra menyesal hehehe. My God is so much fun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, malam ini doa peperangan tingkat tinggi. Inti doa hari ini adalah doa peperangan dengan roh – roh yang mengikat para perempuan muda dan perempuan pada umumnya sehingga mereka tak menjadi berkat, ataupun yang membuat mereka tak bahagia. Malam ini aku melihat bagaimana dalam hatiku Tuhan bilang kalau malam ini Ia mengirimkan apinya untuk membebaskan dan membakar hati banyak orang. Malam ini Ia bilang ia mengirimkan banyak malaikat perang untuk berperang dengan roh – roh yang menawan orang – orang. Plus ia bilang ia akan menggoncangkan bumi dengan kuasanya. Well, tentu saja ada banyak hal yang kulihat malam ini, ini hal – hal yang ditaruh dalam hatiku (dan lihat juga tapi dalam versi hitam putih hehehe):&lt;br /&gt; Berdoa untuk para perempuan muda yang lagi sakit;&lt;br /&gt; Berdoa untuk para perempuan muda yang dianiaya dan dipukul ataupun mendapat kekerasan fisik;&lt;br /&gt; Berdoa untuk para perempuan yang merasa tak berharga, kesepian dan ditinggalkan atau dicampakkan oleh orang yang mereka sayangi;&lt;br /&gt; Berdoa untuk para perempuan muda yang orang terkasihnya sedang sakit khususnya anak mereka;&lt;br /&gt; Berdoa untuk para perempuan muda yang malam ini sedang memutuskan aborsi ataupun sedang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu, malam ini berulang kali bulu kudukku meremang, berulang kali aku merasa kegelapan sedang berusaha menutupiku, tapi aku melihat bagaimana nama dan darah Yesus yang diserukan benar – benar merobek alam Roh. Jadi saat berdoa tadi, aku melihat gelap dan terang di depan mataku. Maksudku, saat menutup mata, tiba – tiba rasanya ada terang yang menyorot mata, tapi tak lama ada juga gelap yang membuat mataku terasa berat dan tertutup dan suaraku turun naik, bahkan saat mengusir itu. Tapi, yang aku tahu, aku sudah bisa mengelola hal ini dan tak terlalu ‘bagaimana’. Tak seperti kemarin – kemarin pada awalnya. Malam ini terasa WOW, God is on fire malam ini. Itu yang aku tahu. Seperti biasa, aku tiba – tiba menyerukan berulang kali bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja di Manokwari dansemua roh dan kuasa apapun tunduk di bawah kuasa Yesus. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di akhir saat teduh, untuk  menguatkanku ternyata Tuhan baik banget dengan memberikan pembacaan Mazmur 18: 1- 50. Lihat banyaknya ayat di akhir doa rasanya kayak “Well, OK. Sa baca hehehe”. Ternyata isinya benar – benar menguatkan sekali. Energi habis berdoa terasa terisi apalagi beberapa ayat di pasal ini ternyata mirip dengan apa yang nyanyian yang  Tuhan beri di mulutku tadi. Cuma satu kalimat malam ini: My God is so much Awesome!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala hormat, kemuliaan dan kuasa hanya bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 11.30 p.m/120212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-7669185235860602299?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/7669185235860602299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=7669185235860602299' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7669185235860602299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7669185235860602299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/v-special-for-young-women.html' title='V - Special for Young Women'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-6497285469803986594</id><published>2012-02-13T17:53:00.000+10:00</published><updated>2012-02-13T17:54:21.001+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>No Idol - Hosea 8</title><content type='html'>Siang tadi dalam saat teduhku, aku diminta membaca dalam Hosea 8: 1 – 14 yang isinya adalah tentang Tuhan mengecam Israel atas penyembahan Berhala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, ini catatan pengajaranku mungkin yang kutuliskan. Saat berdoa tadi, aku diajar bahwa pasal ini berbicara tentang Papua (catatan in terkait dengan catatanku yang berjudul “Let’s dance n Fight”). Ada beberapa hal yang kudapatkan tadi saat berdoa dari pembacaan ini dan relevansinya dengan Papua. Ini ringkasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Jangan ingkar janji pada Tuhan (Hos 8: 1 – 3)&lt;br /&gt;Dalam kisah ini, Tuhan menegur orang Israel yang ingkar janji padanya. Jadi tak sekedar ingkar janji tapi juga menentang pengajarannya. Bahkan dikatakan pula, dalam versi Alkitab Good News yang saya baca begini: “Even though they call me their God and claim that they are my people and that they know me, they have rejected what is good.  Because of this their enemies will pursue them” (Walau mereka menyebutku sebagai Tuhan mereka dan mengaku bahwa mereka adalah umat-Ku dan mengenalKu tapi MEREKA MENOLAK APA YANG BAIK. Oleh karena itu, musuh – musuh mereka akan mengejar mereka.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, bagaimana dengan kita para orang Kristen di Papua sendiri? Bagaimana kehidupan kita sebagai orang Kristen? Saya percaya bahwa kita bisa melihat kembali dalam hidup kita sendiri, bukan? Saya tak ingin menghakimi siapapun tapi ada beberapa kasus yang terjadi di sekitar saya dan bagi saya, bisa jadi contoh kasus dari telaah 3 ayat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada seorang petinggi gereja di gereja lokal saya. Keluarga ini terkenal aktif di gereja lokal. Well, hingga satu hari, katanya si kepala keluarga yang juga memegang jabatan yang lumayan di sebuah kantor pemerintah sakit keras. Ia mengaku ada yang mencoba ‘men-doti’nya. Keluarganya membawanya ke rumah sakit dan segala macam pemeriksaan, dikatakan tak ada sakit medis apapun. Walaupun istrinya juga punya jabatan di organisasi gereja khususnya untuk kaum ibu, tapi toh ia menyetujui juga dengan rencana suaminya. Guess what? Jalan keluar instan yang dipilih adalah bukan berdoa dan meminta Tuhan menyembuhkan suaminya yang mungkin prosesnya sedikit lama. NAMUN, mereka memanggil ORANG PINTAR yang konon menyembuhkan penyakitnya dalam waktu cepat. Saya tak tahu apa yang dipikirkan keluarga ini. TAPI, saya percaya bahwa bila kita mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita maka seharusnya kita lebih peka dalam hal yang berkaitan dengan ‘orang pintar’ dan lain – lain. Pertanyaannya, apakah orang pintar ini menyembuhkan dengan kuasa Yesus ataukah dengan kuasa lain? Jawabannya hanya anda yang tahu. Karena segala hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, jangan pernah ingkar janji dengan janji Iman Rasuli kita. Tak ada kuasa lain yang berkuasa selain kuasa Yesus. That’s it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Jangan Menyembah Buatan Manusia sebagai “Tuhan” (Hos 8: 4 – 7)&lt;br /&gt;Saat berbicara tentang Papua, bukankah sekarang kita di Papua cenderung lupa bahwa segala hal yang kita cari sebenarnya hanyalah BUATAN MANUSIA dan lupa apa yang terpenting dalam hidup; berbagi kasih. Limpahan dana OTSUS yang mengalir lancar pun menjelma bukan menjadi hal – hal yang berbuah kasih dan kebaikan yang luas bagi sesama tapi ada oknum – oknum beragama Kristen yang malah menabung kekayaan semu dan menjadikan UANG sebagai Tuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kalau saya mau jujur, pernah tidak kita melihat bahwa segala hal yang kita banggakan saat ini umumnya hanyalah pada dasarnya berbahan TANAH, bukan? Manusialah yang memberi nilai pada segala yang mereka pakai dan lihat. Ada banyak  orang yang mencari uang sebanyak mungkin dengan berbagai cara termasuk dari yang bukan hasil keringat mereka demi mengejar kekayaan dan simbol kekayaan mereka, misalnya UANG, RUMAH, MOBIL dan segala macam. Padahal, uang yang diagungkan itu hanyalah lembaran kertas yang berasal dari bubur kayu dan buntut- buntutnya adalah produk dari pohon dan bila terurai pun menjadi tanah . Rumah yang dindingnya megah tetaplah berbahan dasar tanah, air dan campuran semen (semen juga bahan dasarnya ditambang). Bahkan mobil pun perangkatnya tetap diambil dari dalam tanah. Lalu, apa yang perlu kita banggakan? Ya, semuanya demi prestise dan hanya demi diterima dalam kalangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, yang perlu kita sembah adalah Dia yang HIDUP. Yang bisa mengendalikan hidup dan nafas kita, yang bisa mengendalikan bumi ini, yang mengontrol apapun dalam hidup kita, yang bisa mengontrol alam. Apakah UANG, HARTA, KEKUASAAN dan segala hal itu dapat menyelamatkan nyawa kita barang sekejap saja, menambah cadangan hidup kita? Saya tak percaya itu. Saya banyak menyaksikan dengan mata saya sendiri bagaimana kekayaan yang banyak pun tak sanggup untuk memberi kita kesehatan, rasa aman, bahagia dan segala hal ‘penting’ demi kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Pengalaman tinggal di luar negeri membuat saya melihat bahwa semua hal yang kita agung – agungkan kita itupun tak sanggup mengisi KEKOSONGAN yang hanya bisa diisi oleh YESUS. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pilihannya ada di tangan kita. Apakah kita mau memberikan 24 jam dari hidup kita tiap hari untuk ‘menyembah’ sesuatu yang bukan TUHAN yang HIDUP? Bukankah yang dimaksud IDOL atau berhala tak selalu patung dewa – dewi tetapi APAPUN YANG MENAHAN KITA UNTUK TAK DATANG DAN MENYEMBAH BAPA, YESUS DAN ROH KUDUS. Itu saja. Bahkan Facebook, Tweeter, olahraga dan segala macam hal yang membuat kita tak punya waktu juga bisa menjadi berhala dalam kita tanpa kita sadari. Padahal, Tuhan tidak tuntut banyak waktu kan untuk dekat dengan Dia? Jangan sampai kita kehilangan banyak waktu berharga kita demi hal yang semu. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3.  Penyembahan ‘Berhala’ pasti mendatangkan hukuman (Hos 8: 3, 7, 10, 13, 14)&lt;br /&gt;Semua hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Jadi, selama yang kita lakukan jauh dari TUHAN, berarti siap – siap saja ada ekses negatif yang akan terjadi dalam hidup kita. Saya pikir saya tak perlu menuliskan apa saja yang akan terjadi too. Misalnya saja, jadikan Minuman Keras sebagai berhala pastilah dampaknya sudah bisa ditebak; dari masalah kesehatan, rusaknya hubungan dengan sesama dan orang terkasih hingga kehilangan nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kesimpulannya sudah jelas, PILIH TUHAN ATAU BERHALA? Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 120212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-6497285469803986594?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/6497285469803986594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=6497285469803986594' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6497285469803986594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6497285469803986594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/no-idol-hosea-8.html' title='No Idol - Hosea 8'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8014683263397641846</id><published>2012-02-13T17:52:00.000+10:00</published><updated>2012-02-13T17:53:12.423+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>V3 - Let's dance and fight</title><content type='html'>Hari ini aku bangun kesiangan, hampir jam 12 siang. Semalam memang aku tidur agak larut karena ngopi 2 gelas besar, plus energiku terkuras abis karena yang ‘kulihat’ dan juga karena saat menuliskan yang ‘kulihat’ itu aku sempat merasa ada kehadiran yang ‘lain’ di kamarku dan harus kutengking lama dengan nama Yesus dan memproteksi kamar dan rumahku dulu baru semuanya terasa ‘normal’. Apalagi sempat bulu kudukku meremang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saat bangun The Spirit bilang, “ayo bergegas bangun May, ko harus berdoa dulu. Cepat May.” Tapi karena bangun kumpul nyawa dan baru bilang “Thanx Jesus” dan melakukan ritual bangun pagi: ke kamar mandi, cari makanan, dan minum air putih. Tapi the Spirit tak bisa tahan melihat kelambatanku jadinya terus memaksa, “Ayo May, cepat. Cepat berdoa. Ko harus doa peperangan siang ini. Harus. Ko akan menari juga. Habis itu nan baca Hosea 8 eee. Tempo. Cepat. Segera suda.” Aku memilih mencari madu untuk mengisi energiku dulu sehabis bangun. Instan sih masalahnya. Aduuuh the Spirit tak bisa tahan juga. Ia memaksaku dengan cepat. “Cepat berdoa. Cepat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terburu – buru masuk kamar, energi masih sangat low dan aku masih kurang bersemangat. Iyalah masih kumpul nyawa. Jadi kuambil buku Nyanyian Rohani dan menyanyi. As usual raba nada sendiri. Karena aku masih tak bersemangat dan sedikit ogah – ogahan, the Spirit bilang, “May, angkat tangan dua – dua dan ikuti sa pu kata – kata.” Guess what? Iya, aku akhirnya ngomong begini menirukan kata – kata yang diucapkan dihatiku, ”Yesus, beri sa sukacita jadi sa bisa memuji Ko dengan layak.” Thanx God, semangat itu tiba – tiba datang, awalnya perlahan saja aku menyanyi. Tapi rupanya benar. Semangat itu balik. Walau jujur tadi sempat merasa ada yang mencoba ‘mengalihkan perhatianku’. Jadinya the Spirit memintaku fokus memandang ke depan, ke meja kerjaku agar pikiranku tak terusik. Berhasil juga sih. Bahkan di sela – sela itu, aku diminta mengusir roh pengganggu pikiran itu dengan nama Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Yesus mau aku menari. Iya, menari dalam arti sesungguhnya. Untung tadi aku dalam kamar, tak tahu apa reaksi orang kalau melihatku dalam keadaan tadi. Awalnya aku hanya menyanyi dan menari gerakan perlahan, dari ke kiri ke kanan, hingga lompat. Aku diberi tahu kalau siang ini Tuhan menurunkan roh-nya untuk membebaskan belenggu – belenggu yang mengikat Manokwari dan Papua. Seperti itulah. Saat asyik – asyiknya seperti itu,  tiba – tiba musiknya berubah dan hanya menjadi senandung nada dengan irama yang seperti berulang dan nada berbeda dan mulutku hanya keluar kata – kata berulang kali, “Yesus, kau raja dan Tuhan atas Manokwari. Yesus raja dan Tuhan atas Papua”. Gerakannya pun berubah. Aku seperti melakukan gerakan penyembahan seperti  gaya bungkuknya orang Jepang, dan cepat sekali. Seperti ada tetabuhan drum di sekelilingku yang membuat tubuhku seperti trance bergerak mengikuti irama drum. Bergerak liar tapi dinamis, menari  seperti menyembah dan mulutku tak berhenti – henti juga menyerukan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja. Bahkan tiap kali aku menyebut Yesus raja atas Papua atau Manokwari, maka aku dalam posisi berdiri setengah busur menyembah dan menyentuh lantai. Yang pasti, aku tak bisa mengontrol tubuhku. ‘Invasi tubuh’ tepatnya.  Seperti diajak ‘senam’ HAHAHA Anyway, it is so much FUN!!! *bisa shed kilo banyak nih =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kemudian masuk dalam tahap penyembahan yang ‘tenang’, seperti biasa, pilihan senandung dan kata – katanya seperti dari Afrika atau Papua, sangat menenangkan. Merasa lepas walau apa yang kulihat dalam penyembahan itu benar – benar bikin copot jantung dan the Spirit menjelaskan apa yang kulihat. Pantasan saja dibilang ada doa peperangan. Apa yang kulihat, kutuliskan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti  aku sedang berada di tengah hutan Papua, di pinggir jalan setapak ataupun hutan yang kerapatan pohonnya tidak terlalu rapat, yang kulihat pertama adalah seorang bocah kulit gelap, mungkin berusia SD atau SMP. Dengan mata nyalang menatapku. Ia seperti sedang memakan sesuatu. Di belakangnya ada beberapa lelaki dewasa berkulit gelap juga. Di depan bawah kaki mereka, tampaknya samar – samar ada sesuatu. The Spirit told me kalau ada manusia yang mereka bunuh. Mereka sedang praktek ‘ilmu hitam’. Aku diminta melihat anak lelaki ini dengan seksama. Rambutnya panjang tak terurus. Tapi yang menjadi perhatianku adalah matanya yang nyalang, sangat menakutkan. Macam mata tatap orang deng ‘tarabe’ ka. Aku langsung diajarkan bahwa anak ini dan orang – orang ini adalah target doaku hari ini. Well, inti doanya simpel saja, “mereka bertobat atau hukuman Allah turun atas mereka.” Selama mereka mau bertobat, maka Allah akan melupakan apa yang telah mereka lakukan, dan ada pemulihan bagi mereka khususnya anak kecil tadi. Tapi, bila mereka masih melakukan kejahatan seperti ini; bersekutu dengan yang Jahat dan membunuh serta mempraktekan ilmu gaib mereka, maka tak akan ada pengampunan. Tak akan ada dan tak memandang tua muda bagi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir dari saat teduhku adalah membaca firman Tuhan. Tadi rasanya aku mau loncat jauh dari  tempat tidur. Yang dibaca adalah Hosea 8: 1 – 14. Guess what isinya apa? Tentang penyembahan berhala. Alamak, jadi sekarang ini pembacaan disesuaikan dengan jenis doa dan penyembahannya ya? I see. Anyway, saat ini tak ada beban lagi. Yang penting, laksanakan saja toooo. Mo bagaimana lagi, it’s my calling. Yet, I feel so much fine after praying. Tak ada beban lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya semua kemuliaan, hormat, pujian menjadi milik Bapa, Yesus dan Roh Kudus . Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 120212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8014683263397641846?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8014683263397641846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8014683263397641846' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8014683263397641846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8014683263397641846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/v3-lets-dance-and-fight.html' title='V3 - Let&apos;s dance and fight'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2465741887045218734</id><published>2012-02-13T17:51:00.000+10:00</published><updated>2012-02-13T17:52:09.569+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>Hagai, Papua dan Janji Berkat</title><content type='html'>Hari ini aku kembali lagi digiring untuk membaca kitab Hagai dan ini terkait dengan Papua. Sangat terkait. Jadinya, karena pembacaan ini pernah kudapatkan juga bulan Mei 2011, aku kembali menyalin catatanku saja hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya pada hari ini, Tuhan lebih menekankan hal  ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#  Tuhan memberikan jaminan bahwa Ia akan selalu bersama kita dalam pembangunan ulang Bait Allah ini (Hag 1: 13; 2: 4 – 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka kalimat ini dalam Alkitab Good Newsku:&lt;br /&gt;“I will be with you – that is my promise.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, tak ada salahnya kan, saya membagi catatan saya tahun lalu. Ini catatannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat merenung Firman dalam keseluruhan kitab Hagai ini, aku diajar bahwa jangan melihat perintah ini saat ini sebagai membangun “Bait Allah” yang secara fisik. Bukan untuk membangun gedung gereja dengan indah, bukan untuk membangun ulang bait Allah di Yerusalem, bukan untuk membangun sesuatu yang fisik. Karena Alkitab yang kupakai adalah versi terjemahan Good News Bible, kata – kata yang dipakai adalah “rebuild the temple” alias MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH. Aku diajar bahwa yang dimaksudkan Firman ini adalah BAIT ALLAH yang ada di dalam diri kita, alias TUBUH KITA. Jadi membangun ulang Bait Allah yang dimaksudkan dalam kitab ini adalah MEMAKAI TUBUH KITA SEBAGAI BAIT ALLAH YANG HIDUP, jadi kalau selama ini Roh Kudus tinggal di dalam tubuh yang ‘tidak sehat’ secara rohani, ya segeralah mentransformasi diri untuk menyiapkan tubuh yang sehat secara rohani dan jasmani untuk berdiamnya Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diajar bahwa kalau kita memakai tubuh kita sebagai alat melakukan percabulan, untuk sebagai alat mendapatkan kepuasan duniawi, untuk dipakai sebagai saluran minuman keras, terowongan asap rokok dan ganja, sebagai alat untuk menunjukan kesombongan kita dan nafsu – nafsu kedagingan kita maka tubuh kita ibarat puing – puing Bait Allah yang masih runtuh dan Roh Kudus sedih melihat hal itu karna ia sesak napas tinggal di dalam rumah seperti ini. Jadi ia menginginkan adanya ‘pembangunan ulang Bait Allah’ bagi diri-Nya, agar dapat menjadi Home Sweet Home bagi-Nya. Caranya? BERBALIK PADA YESUS, MENGAKUI DOSA DAN BERHENTI MELAKUKAN DOSA YANG TAK DIINGINKAN TUHAN. Caranya? Periksa manual hidup dalam Alkitab!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Hagai ini, aku juga diajarkan bahwa selain perintah, ada juga janji yang Tuhan berikan, bahkan aku juga mendapatkan banyak hal, jadi aku mencoba untuk memaparkannya dalam catatan ini. Anyway, catatan ini bukan untuk menunjukan bahwa aku paham tentang Firman lebih baik dari orang lain. Tidak sama sekali!!! Aku hanya ingin membagikan apa yang diperintahkan padaku untuk membaginya dalam catatan dan mempergunakan talenta menulisku guna kepentingan Tuhan. Jadi jangan berpikir bahwa aku memakai kecerdasanku untuk mengajar sesuatu yang rohani dalam catatan ini. Karna siapa sih Maya? Bukan siapa – siapa. Please, jangan menganggap tulisan ini dibuat karna aku ingin membuatnya. Aku sekarang merasa aku ibarat menjadi ‘Baruk’ bagi Yeremia, menjadi ‘tukang tulisnya Tuhan’ dalam skala kecil yang hanya bisa membagikan lewat cara yang aku bisa. Btw, yang kudapatkan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Tuhan akan menginspirasi atau menggerakan semua orang dalam membangun Bait Allahnya (Hag 1:  14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak mau bekerja sendiri, ia mau kita sebagai manusia paham bahwa Ia memerlukan kerjasama walaupun Ia sangat berkuasa melakukan sesuatu sendiri. Ia ingin melihat niat kita bekerja untuk-Nya. Ia tak hanya menginginkan pemimpin politik juga pemimpin agama tetapi juga semua orang terlibat. Dan ia akan berbicara pada mereka lewat perantaraan Roh Kudus. Pertanyaannya? Sudahkah kita mendengar dan MAU melakukan perintah-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Bila hasil yang diinginkan tak sebaik yang kita harapkan atau mengalami kendala, jangan pernah patah semangat, lakukan saja pekerjaan yang diperintahkan karena Allah selalu bersama – sama kita (Hag 2: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saat ingin membangun ulang ‘bait Allah’ sejati yaitu tubuh kita demi kemuliaan Tuhan, akan ada tantangan dan kendala. “Jih de kan tukang mabuk, yang benar saja kalo de bertobat?”, “Jih de kan dulu suka jalan bagatal, tuh betul sadar ka cuma karna takena sedikit jadi?” ... mungkin akan ada perkataan – perkataan seperti ini yang ditujukan buat diri saudara. Tapi Tuhan bilang, jangan berhenti bekerja, tetapi tetap bekerja membangun ulang ‘Bait Allah’. Karena apapun yang terjadi Allah tidak pernah meninggalkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintahnya kan cuma satu, “tetap bekerja membangun ulang Bait Allah”!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Apapun yang terjadi, Tuhan tetap bersama – sama kita (Hag 2: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka terjemahan dalam versi Good News Bible yang bilang begini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I promised that I would always be with you. I am still with you, so do not be afraid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kalau kuterjemahkan jadinya seperti: “Aku berjanji bahwa Aku akan selalu bersama engkau. Aku tetap denganmu, jadi jangan khawatir,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam usaha membangun ulang diri anda sebagai bait Allah, jangan pernah khawatir melakukan pekerjaan ini karna Allah berjanji akan selalu berada bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4. Bait Allah yang baru akan lebih baik dari yang lama dan Allah akan memberikan kemakmuran dan kedamaian (Hag 2: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita baca ayat ini hingga selanjutnya, Allah menjanjikan sebuah kemakmuran dan kedamaian kala kita selesai membangun bait Allah. Dalam konteks hidup kita, bila tubuh kita kita pakai demi kepentingan Tuhan. Jadi bukan hanya untuk pelayanan kekristenan, karna konteks itu terlalu sempit. Tetapi bagaimana kita memakai segala yang ada dalam kita dengan tubuh yang dipersembahkan sebagai rumah Tuhan, dan melakukan semua pekerjaan yang ditujukan buat kepentingan Tuhan; intinya yang mendatangkan kebaikan bagi sesama, yang memaksimalkan bakat yang Tuhan berikan untuk kemuliaan nama Tuhan, maka akan ada berkat – berkat yang mengalir yang lebih baik dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meskipun saat kita membangun ulang bait Allah dalam diri kita kemudian saat itu kita tidak punya apa – apa yang tersisa, misalnya ditinggalkan keluarga kita, teman – teman pergaulan kita dan banyak hal yang tak tersisa, tetapi Tuhan bilang (Hag 2: 19) kalau dari keadaan itu hingga ke depannya, Ia akan memberkati saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTANYAANNYA sekarang adalah “MAUKAH KITA MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH DALAM DIRI KITA dan memaksimalkan segala yang ada diri kita untuk kepentingan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya untuk menjadi pelayan Tuhan dalam lingkup gereja dan yayasan Kristen TETAPI juga dalam kehidupan pekerjaan saudara sehari – hari. Dalam apapun yang saudara dapat lakukan demi kebaikan sesama dan Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya, jawabannya ada di tangan saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kemuliaan bagi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Amen!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay blessed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 110212; direvisi dari tulisan tanggal 4 Mei 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2465741887045218734?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2465741887045218734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2465741887045218734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2465741887045218734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2465741887045218734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/hagai-papua-dan-janji-berkat.html' title='Hagai, Papua dan Janji Berkat'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-6212048229902875682</id><published>2012-02-13T17:48:00.000+10:00</published><updated>2012-02-13T17:49:36.416+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>V2- Perempuan dan Senandung</title><content type='html'>WRAP-UP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CASE  4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date : 11 Februari 2012&lt;br /&gt;Time : 09.30 PM something&lt;br /&gt;Venue : Kamar tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lagi menunggu SMSan dari seorang teman di Jayapura, the Spirit memintaku untuk bersaat teduh sebelum tidur. Aku diminta untuk membaca Alkitab di semua pasal kitab Hagai (untung cuma 2 pasal hehehe).  Sebelum itu, aku diminta untuk memuji Tuhan dulu. Karena menyanyi dengan lagu rohani kontemporer bukan spesialisasiku (berhubung kemampuan menyanyi yang terbatas) jadinya aku memilih menyanyi dengan menggunakan Nyanyian Rohani. Biasa, kalau dapat lagu yang aku tak paham nadanya, maka biasanya kayak dikasi ‘karaoke’ sama Tuhan alias kata – katanya kupinjam dari nyanyian itu dan nadanya nanti Tuhan yang berikan di mulutku. Jadinya ya bagian ikut saja. Pilihan Tuhan malam ini sedikit soul dan jazz. Namun, kala satu nyanyian utuh beberapa ayat di buku telah selesai. It’s SHOW time. Ternyata, roh-ku memilih genre-nya sendiri. Really a show time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s so amazing. Mungkin karena sudah lama sekali tidak seperti ini karena ya begitulah, ogah saja menerima ‘this sort of gift’. Resistensi tingkat tinggi sampai tanggal 7 kemarin =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, yang pasti, pujian mengalir macam aliran kali yang deras. Aku dalam keadaan sadar, masih dengar yang terjadi di luar kamar, HANYA tak bisa mengendalikan apa yang kunyanyikan, tubuhku ataupun  gerakan tubuh. Apalagi bahasanya. It’s so amazing. Mengalir sekali. Rasanya benar – benar kayak ada beban yang hilang, tak ada kekhawatiran sama sekali. Kayak trance tapi dalam keadaan sadar. Aku tadi mendengar seperti menyanyi dengan bahasa – bahasa di Papua, nadanya bukan khas Eropa seperti yang dinyanyikan di gereja. Well, kata – katanya dan iramanya seperti musik – musik etnik. Seperti senandung. Pertama kudengar mirip suku Arfak punya tapi kemudian berubah, I don’t know dari daerah mana, entah Papua atau Afrika tapi bukan Melayu. Ketukannya beda. Hanya bisa bilang WOW!!! God is so awesome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pujian itu, tiba – tiba aku mulai berbahasa yang tak kutahu, tapi tidak seperti bahasa Roh yang pernah kudengar di KKR ataupun acara komsel. Kayak suatu ‘bahasa’ atau ‘nyanyian’ tapi sambil seperti itu, dari dalam hatiku seperti ada suara yang menjelaskan padaku arti dari kata – kata senandungku itu, al:&lt;br /&gt;• Tuhan sedang mencurahkan Roh-nya malam ini, melepaskan rohNya yang akan membebaskan belenggu – belenggu yang mengikat orang – orang;&lt;br /&gt;• Manokwari dan Tanah Papua milik Yesus dan Yesus adalah Tuhan dan Raja atas Manokwari dan Tanah Papua;&lt;br /&gt;• Ada kelepasan karena Tuhan bekerja malam ini;&lt;br /&gt;• Ada berkat – berkat rohani yang dicurahkan malam ini atas Papua;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku sedang mengalir seperti itu, tapi aku tetap sadar atas sekelilingku, tiba – tiba the Spirit told me like this: “Aku ingin kau melihat hatiku atas Papua”. Jangan tanya lagi, tiba – tiba suasana mengalir penuh sukacita itu berubah drastis, total berubah. Dari lagu ceria penuh sukacita berubah menjadi lagu ratapan tapi semuanya dalam nada dan bahasa yang tak kutahu, tapi vibrasinya sangat ‘unik’. Macam tak percaya aku bisa menyenandungkan musik seperti itu. Harusnya kurekam tadi kalau ada alat perekam. Ingin mendengarnya lagi, benar – benar cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saat diminta melihat hatinya Tuhan tentang Papua, tiba – tiba kok rasanya aku diliputi kesedihan tingkat tinggi, lebih parah daripada sewaktu dulu aku mendapat berita kematian anjingku, kematian keponakanku, ataupun berita ditinggal nikah Lelaki Hujan, sedih yang kurasakan ini memang benar – benar sedih hancur hati panggal – panggal. Aku menangis Bombay sekonyong – konyong. Tak bisa mengerem emosiku. Benar – benar sedih sekali. Tak tahu bagaimana menggambarkan rasa seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hatiku remuk seperti itu, sambil menangis kencang dan masih tetap dibimbing mengikuti nada ratapan yang mengiris hati itu, aku pun kembali ‘melihat’. Entahlah, bagaimana kau menyebutnya. Ini ringkasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti di bawah ke sebuah padang atau daerah clearing di hutan atau bukaan di hutan dimana ada padang rumput, langit luas tanpa halangan. Tepatnya open-space. Ada jalan setapak panjang yang dipinggir – pinggirnya rumput – rumput seperti di lapangan tempat angon kambing. Hutan berada di kejauhan. Saat itu seperti sore hari. Aku seperti berada di tempat yang lebih tinggi dan melihatnya. Saat itu, aku seperti berdiri di dekat seorang perempuan kulit gelap, seperti orang Papua atau Afrika. Tapi kulitnya tak terlalu gelap. Mungkin sepeti kulit a la orang Melanesia. Ia berpakaian terang, entah putih atau krem. Bajunya sudah robek – robek. Di belakang atau dekatnya ada balita kecil yang juga berjalan dengan tampang sedih dan seperti menderita. Di depan mereka ada barisan panjang para perempuan. Entahlah, sepertinya mereka mengungsi ataukah mencari  tempat yang aman dan menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat hatiku sedih adalah karena suara di dalam hatiku bilang ‘coba dengar’ dan lihat perempuan yang terdekat itu. Amati dia. Dalam keadaan hati hancur, kulihat perempuan itu sampai tersuruk – suruk di tanah dan berseru meneriakan nama Yesus meminta pertolongan. Ia, menengadah ke langit dan meminta Yesus menolong mereka. Ia dan orang – orang itu kurasakan sedang berseru meminta Yesus. Mereka mencari Yesus dan sangat putus asa. Itu yang kurasakan dan kulihat. Emosiku larut dengan apa yang kulihat dan tampaknya Tuhan mengijinkan aku melihat dan merasakan apa yang dirasakan perempuan itu, betapa mereka benar – benar membutuhkan Tuhan. Aku larut dan membuatku hanya bisa menangis sesenggukan. Aku tahu hati Tuhan merasakan hal yang sama. Aku menangis cukup lama. Usai itu, semuanya hilang dan senandungku hilang. Energi benar – benar terkuras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melihat itu, aku langsung diminta berdoa segera , tak bisa ditunda walau untuk baca Firman, harus segera. Aku diminta mendoakan agar perempuan dan anak ini serta rombongannya kiranya dilawat Tuhan dan Tuhan menolong mereka. Memastikan bahwa mereka baik – baik saja. Itu saja doaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, saatnya diajar tentang bagian Firman dan tepatnya di dalam kitab Hagai. Saatnya menulis catatan pengajaran yang lain =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See you in another note.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala hormat, kemuliaan dan pujian bagi Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus. Amen’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 110212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-6212048229902875682?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/6212048229902875682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=6212048229902875682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6212048229902875682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6212048229902875682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/v2-perempuan-dan-senandung.html' title='V2- Perempuan dan Senandung'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-251094850668060769</id><published>2012-02-11T18:31:00.001+10:00</published><updated>2012-02-11T18:31:35.059+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Renungan Hujan</title><content type='html'>Manokwari sedang mendung dari pagi. Hari ini hari kesekian langit Manokwari berwarna kelabu. Beberapa jam lalu, sehabis saat teduh, sehabis makan siang, aku memilih bermalas – malasan di kamar dan menikmati hari dengan mendengar beberapa lagu reggae sambil tentu saja menyesap kopi hitam. Hari ini secangkir sedang kopi Arab made in Lebanon asli (biji kopinya dari Brazil) oleh – oleh Umroh seorang senior di kantor. Tiba – tiba, as usual, seperti biasa, deep down in my heart, ada yang ngomong begini, “May, lihat ke luar sana. Sedikit lagi hujan eee. Bukankah hidup itu seperti hari hujan kadang – kadang bukan?”. Well, aku mendapat pencerahan baru hari ini tentang perspektif hujan dan hidup dan membuatku mengirimkan pesan ini kepada beberapa teman, mungkin kedengarannya aku sedang melankolis padahal saat ini aku lagi berada dalam keadaan diri paling stabil dan tenang, jadinya kalau tenang ya seperti ini, selalu saja ada pelajaran dari apapun yang kudapat. Ini SMSku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini mendung, tampaknya mau turun hujan. Anyway, it makes me think of u. You are wonderful. Apapun yang buruk dan terjadi dalam hidup ibarat hari hujan. Tapi selalu  hujan akan reda. Kalo beruntung, teh dan kopi panas  akan sangat menyenangkan, apalagi bila adanya pelangi. Enjoy life! Smangat =)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Manokwari, kadang hujan deras beberapa hari ini memang menjengkelkan. Mau kemana – mana dengan motor rasanya kok ribet banget ya? Jalan banjir, belum lagi celana jins yang mudah kotor. Sepatu pun kadang dikorbankan menerobos jalan berlumpur. Selalu saja ada yang tidak menyenangkan, kotor dan basah. Belum lagi bila harus berhadapan dengan comberan. Rasanya kok tidak menyenangkan ya hari hujan. Aku juga beberapa hari lalu sempat berpikiran begitu, khususnya waktu mau pergi nonton konser reggae. Well, walau nama alias-ku mengandung unsur hujan, tapi aku juga masih manusia HEHEHE. Tapi hari ini aku mendapat pelajaran berharga tentang hujan. Sebuah pencerahan hujan. Well, thanx untuk DIA yang sudah mau mengajarku beberapa jam lalu, it means a lot me. Thanx Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diajar untuk melihat bahwa hal – hal buruk ataupun yang di luar rencana kita atau apapun yang menyesakkan dada, masalah ataupun benturan – benturan emosi yang menciderakan kita ibarat hujan. Ada yang cuma ibarat gerimis, rintik – rintik, hujan ingus – ingus ataupun hujan bokar, hujan deras, hujan sungguh mati dan kadang – kadang banjir. Kadang dalam posisi seperti itu, kita sebagai manusia cenderung untuk ‘marah – marah’, kesal, jengkel, dongkol ataupun berbagai reaksi negatif. Aku percaya tak banyak yang mau melihat dari sisi yang berbeda, melihat dari sisi lain. Ya, aku juga masih manusia, kadang aku juga memilih melihat dari sisi kebanyakan manusia. Tapi, hari ini aku diingatkan lagi untuk melihat dari sisi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, hari hujan, walaupun sederas apapun, bahkan sampai banjir sekalipun, selalu saja ada akhirnya. Para penganut agama Samawi pasti pernah mendengar kisah Bahtera Nuh kan? Hujan dan banjir sederas itu pun saja masih ada akhirnya, bukan? Bahkan di akhir bencana itu, ada pelangi, ada sebuah awal baru kehidupan. Selalu ada yang baru! Begitu juga hujan di Manokwari ataupun masalah dalam hidup kita, tidak 24 jam bukan mendera kita? Sakit Malaria saja tidak 24 jam kita dugem (duduk gementar), ada saatnya inkubasi parasit itu turun – naik. Bahkan serangan nyeri pun tak 24 jam siap sedia menghajar kita. Jadi,apapun masalah kita, sesuatu yang berat pun, aku percaya SELALU AKAN ADA AKHIRNYA. Kalau beruntung, mmmmh kita bisa melihat pelangi di akhir hujan. Well, aku sangat menikmati pelangi di akhir hujan karena kalau super duper beruntung, akan ada pelangi kembar. Sudah berulang kali aku melihat pelangi kembar. Di Manokwari tahun lalu saja aku sudah lebih dari sekali. Belum lagi di tahun – tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri percaya, saat hujan turun semakin hebat, itulah saat terbaik untuk minum kopi dan teh ataupun minuman penghangat lainnya. Tapi hati – hati dengan minuman penghangat itu, yang membuat anda terjaga ataukah yang membuat anda terlena. Pastikan dengan baik! Dalam hidup, saat kita punya masalah ataukan katakan saja ‘hari hujan’ dalam hidup kita, kita selalu cenderung mencari ‘minuman penghangat’ ini. Sedari tadi, aku diberikan pencerahan bahwa ‘minuman penghangat’  ini ibarat kehangatan perhatian dan kepedulian dari orang – orang di sekeliling kita, entah keluarga, sahabat, kekasih, teman ataupun orang asing entah konselor dan lain – lain. Jadi mereka menyirami kita dengan perhatian, meminjamkan telinga untuk mendengar kita, memberikan bahu tempat kita menangis dan kadang – kadang memeluk kita untuk menenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN, kita harus tahu seperti apa minuman penghangat yang tepat bagi kita. Salah pilih, bisa – bisa kita malah terlena dalam kemabukan, katakan saja dengan memilih ‘minuman keras’. Dalam hal ini, aku tentu saja tidak secara literal berbicara tentang miras tetapi perhatian yang didapat dari orang – orang yang ‘tidak tepat untuk masalah’ kita dan malah semakin memperkeruh jalan keluar dari masalah yang sesungguhnya. Lebih tepatnya ‘menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru’ =D Aku tak perlu menuliskan contoh deskripsinya dengan jelas tapi aku punya contoh yang pernah aku alami. Misalnya saja hubungan percintaan antara lelaki dan perempuan. Salah seorang dari mereka berpikir bahwa dengan mencari jalan keluar curhat sebanyak – banyaknya dengan orang lain akan menyelesaikan masalah. Sialnya, ia malah jatuh cinta dengan teman curhatnya itu dan malah selingkuh dan tidak menyelesaikan masalah terlebih dahulu dengan kekasihnya. See, mungkin itu satu contoh kecil yang aku bisa bagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to topic, hari hujan secara literal kadang juga tidak menyenangkan karena suhu yang dingin, pakaian yang tidak kering – kering dan keterbatasan hang out di luar ruangan. Tapi, bila kita bukan pencinta hujan ataupun yang tak suka mandi hujan, bukankah selalu ada ruang ataupun bangunan yang menaungi kita. Selalu ada ‘rumah’ ataupun ‘shelter’ a.k.a. perlindungan, bukan? Walau aku pecinta hujan, aku juga tak mau bunuh diri 24 jam berdiri tadah hujan, selalu saja ada tempat hangat yang kutuju kala hujan; sebuah tempat beratap. Kadang sewaktu hidup kita sedang dilanda hujan deras, kita lupa bahwa sebenarnya selalu saja ada SHELTER alias tempat berlindung yang menyelamatkan kita walau saat itu kita sudah terlanjur ‘basah’. Setidaknya shelter itu membantu memberikan kesempatan pada kita untuk memulihkan suhu tubuh menjadi hangat. Aku tak tahu seperti apa anda memandang ‘shelter’ itu. Bagiku, shelter itu sangat jelas. Bagiku, SHELTER TERBAIK ADALAH TUHAN. Aku baru sadar hal itu usai kejadian beberapa hari lalu. Sebuah titik balik diriku untuk kembali ke dalam shelter-ku dan menikmati  memandang hujan dari dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di dalam ‘shelter’-ku, ternyata hujan sangat menyenangkan dinikmati. Aku bisa tidur dengan nyaman karena perbedaan suhu dan hangatnya ‘rumah’. Aku juga bisa minum kopi dengan tenang, mendengarkan musik, dan tentu saja menikmati derai hujan dari jendela dan melihat refleksi tetes air yang turun dekat lampu. Aku mengubah pola pikirku tentang hujan deras. Bahkan aku melihat bagaimana ‘hujan’ itu membantu banyak hal; ada tanaman yang butuh air, ada rumah – rumah yang butuh air, dan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti, hari ini aku kembali lagi diajak untuk mengubah pola pikirku tentang “HUJAN” dalam hidupku. Aku memilih melihatnya dari balik jendela kaca “SHELTER”ku, menikmatinya. Karena ternyata aku perlu ‘hujan’ agar aku menjadi lebih manusiawi dan  lebih menghargai arti dan peran secangkir “teh” atau “kopi” ataupun “cokelat panas”, yang mungkin tak kuhargai kala hari panas. Jadi, intinya, SEDERAS APAPUN HUJAN YANG KITA ALAMI, PASTI AKAN BERHENTI JUGA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, See you in another note of Morning Rain =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas Mero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 110212; Thanx Jesus for my lesson today, without You I’m totally dying.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-251094850668060769?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/251094850668060769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=251094850668060769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/251094850668060769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/251094850668060769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/renungan-hujan.html' title='Renungan Hujan'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2236370298413036111</id><published>2012-02-11T18:29:00.000+10:00</published><updated>2012-02-11T18:30:38.794+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virgo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab'/><title type='text'>Kisah lepas akhir pekan</title><content type='html'>“God’s wisdom, however, is shown to be true by its results.” Itu pelajaran hari ini yang kudapatkan dari saat teduhku hari ini. Si Arab, kakaknya si Virgo pagi tadi menelponku sejam lebih, membahas banyak hal terkait ‘our gift’ =D Menyenangkan juga ngobrol sama si Arab. Padahal dia itu jail sungguh mati, my frenemy tingkat tinggi. Entahlah, aku percaya tidak ada yang kebetulan. Tidak ada. Dia bilang padaku, terima saja, nikmati dan banyak berdoa. Ia juga bilang, “sa telpon ko nih sa ada dapat pernyataan. Sa cuma diminta untuk kuatkan ko untuk ko pu panggilan tuh saja. Nikmati saja ko pu masa pengajaran nih. Sa dikasi tahu kalo ko ada pu tugas besar yang tunggu ko jadi, sa cuma diminta kuatkan ko saja. Terima saja dan jangan lari e, May. Ko mo lari sampe ujung dunia mana juga, tetap Tuhan kejar ko. Biar mo sembunyi di lubang batu mana juga tetap ko tra bisa lari dari Tuhan”. Kami banyak berdiskusi, banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, si Arab dan aku tak lupa pula membahas saudaranya; si Virgo. Kami tentu juga membahas si Virgo yang rupanya kabur dari tugas dan sedang ada bikin kasus yang sedang menunggu sidang keputusan. Alamak, si jail badung ini rupanya bikin kasus parah. Jadi tadi si Arab sampai ketawa mati bilang, “adooh May, ko masih kena tipu dia. Ko su tahu kalo de tuh tukang tipu dari dulu baru HAHAHA. Pasti de cerita sebagian tooo” TAPI, si Arab bilang baguslah kalau si Virgo mo mendengar aku cerita dan memintaku untuk mendengarnya curhat jadi aku punya kesempatan menasihatinya. Sampai – sampai si Arab bilang, “ko pu tugas pelayanan tuh  HAHAHA”. Si Arab bilang si Virgo sudah tak mempan ia nasehati. Ya iyalah, beda setahun mereka dua, mana mau si Virgo dengar si Arab. Si Mas juga sudah nyerah tuh HAHAHA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ditelpon si Arab, dalam saat teduhku tadi, aku curhat sama Tuhan, banyal hal yang kutanyakan. Si Arab kemampuannya supranaturalnya sih beda, malah sudah pelayanan kesana – kemari sejak dari Jogja hingga Kalimantan dan kembali ke Papua. Cuma dia tak bisa berdoa. Jadi semua hal yang ia mau doakan, ia berikan pada penopangnya; seorang pendoa syafaat. Jadi saat aku cerita apa yang kulihat, apa yang kudapatkan, ia hanya bilang aku tak boleh lari lagi dari panggilanku dan kenapa tak bikin pelayanan ka. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sempat curhat pada Tuhan terkait tugasku. Karena dari penjelasan si Arab, kayaknya WOW skali. Sedang aku tidak mendapatkan instruksi untuk melayani, mengajar atau apalah. Itu saja. Saat tadi, dalam hatiku cuma bilang gini, suara dalam hatiku itu menyebut dirinya sebagai Yesus cuma bilang gini, “May, setiap orang punya hal yang berbeda dalam hidupnya. Ko tidak bisa paksa ko pu diri seperti orang lain begitu juga sebaliknya orang lain tra bisa paksa ko untuk jadi seperti mereka. Yang terpenting, Sa kenal ko  dan Ko kenal sa dan ko mo percayakan ko pu hidup pada sa dan dekat sa. Ikuti saja yang ada dulu too. Ko pu tugas kan tuh lihat trus doakan, tulis dan lakukan apa yang Sa perintahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku disuruh membaca dari Yosua 18: 1 – 27 tentang pembagian wilayah dari 7 suku Israel setelah mereka tiba di Kanaan. Intinya sih tentang pemetaan wilayah untuk 7 suku dan juga dalam proses pemetaan itu Yosua meminta 21 anak muda Israel untuk menulis deskripsi dari wilayah yang hendak dibagi, tentu saja dengan seizin Tuhan. Saat membaca bagian Firman ini, aku diajar bahwa pasal ini berbicara terkait dengan kasusku yang kutanyakan tadi, tentang sebenarnya apa sih yang Tuhan mau dari hidupku, apa aku harus mengikuti saran mereka yang lebih rohani dariku atau tidak. Aku diberi gambaran bahwa semua orang punya bagian yang berbeda dari panggilan mereka, semua orang punya tugas yang berbeda. Itu saja. Jadi jangan berkecil hati dari apa yang kulakukan sekarang. Lakukan saja, enjoy it dan tetap dekat dan percaya pada Yesus. Itu yang terpenting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap penasaran juga, jadinya Yesus bilang, cobalah baca di sekitar Matius 12, ada pembacaan yang bisa menjawab keresahan hatimu saat ini. Bolak balik kucek ternyata dapatnya di Matius 11: 1 – 19, kisah tentang pertanyaan dari murid Yohanes Pembabtis tentang Yesus. Jadi di ayat terakhir dari pembacaan itu memang jadi bahan penguatanku hari ini, isinya sih simpel: “God’s wisdom, however, is shown to be true by its results.” (Mat 11: 19b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam juga saat lagi di kamar, Yesus sempat ngomong begini tentang apa yang ia inginkan dari gerejanya alias umatnya, kebetulan waktu itu mama baru mau pergi ke kegiatan di gereja dengan dua keponakanku dan juga adik perempuanku. Kalau tak salah ini pas usai Saat Teduh, Yesus bilang kalau ia melihat banyak gereja sekarang khususnya di Papua yang kehilangan ‘Dia’. Maksudnya ia bilang kalau mereka sekarang lebih fokus pada apa yang kelihatan, tentang tampilan gereja, tata dekorasi dan segala macam tetek bengek urusan pembangunan, apa yang dipakai. Semalam Yesus bilang kalau ia melihat mereka seumpama Martha yang sibuk melayani Yesus, sedangkan yang Yesus inginkan hanyalah umat yang seumpama Maria; datang, duduk, diam, dengarkan dan lakukan perintah dan ajaranNya. Itu saja. Simpel. Tadi malam Yesus bilang padaku kalau ia tak melarang sebenarnya dekorasi segala macam tapi jangan itu menjadi fokus utama. Yang tetap diinginkan adalah buah perbuatan dalam hidup, yang ia inginkan adalah kesederhanaan =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saat aku menulis catatan ini, pada bagian akhir tadi, saat lagi melongokan kepala ke luar jendela dan di depan kamar kan ada pohon Nangka too yang sarat dengan buah dan ada beberapa yang busuk. Tiba – tiba suara di dalam diriku, suara the Spirit tampaknya, dia cuma bilang begini, “May, nan bilang bapa dan mama ee, kalo pohon nangka nih de pu buah su masak smua, tolong pangkas de betul  - betul. Jadi nan biarkan de tumbuh berdaun dulu banyak, trus tolong kas pupuk di bawah pohon. Pohon ini de bilang de lagi stress buah trus baru nutrisi tanah su kurang.” Glek!!! Macam sa pikir sedikit lagi end-up di Rumah Sakit Jiwa. Tapi, ya aku pikir tak ada salahnya memberitahu mama yang lagi makan di dapur. At least, demi kebaikan bersama. Tuh pohon kan buahnya sering mama jual dan paling laku di kompleks. Sekali potong nangka dan jual, dalam 15 – 20 menit sudah licin tandas dibeli orang kompleks =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cerita hari ini yang kudapat termasuk yang akan kutulis dalam catatan berikutnya tadi. Anggap saja catatan orang gila. Boleh dipercaya atau tidak. Toh aku sudah tak hidup untuk membuat orang lain terkesan ataupun menyenangkan orang lain. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 110212; catatan pas lagi tra enak bodi, jadi ogah kemana – mana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2236370298413036111?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2236370298413036111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2236370298413036111' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2236370298413036111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2236370298413036111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/kisah-lepas-akhir-pekan.html' title='Kisah lepas akhir pekan'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-477624345527770542</id><published>2012-02-11T18:28:00.001+10:00</published><updated>2012-02-11T18:32:58.378+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Know HIM</title><content type='html'>Malam ini aku belajar lagi mengenalNya. Mengenal tugasku dan bekerja bersamanya. Selamat tinggal masa pelarian. Aku sudah kembali untuk tugasku. Tugas yang harus kulakukan. Tugas yang menenangkanku. Hari ini aku benar – benar dalam posisi DAMAI. Tak ada beban berat yang menggayut bebanku lagi. Sejak bangun pagi, acara ngobrolku denganNya berjalan sempurna. Perfect!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, hari ini Manokwari masih seperti biasa, hujan terus. Walaupun tadi sore sempat ada gempa kecil yang kurasakan dan tiba – tiba masuklah SMS dari seorang teman yang kuminta untuk doakan tentang Manokwari, ia juga bertanya hal yang sama. Sahabatku sejak kecil pun bilang ada gempa. Begitu pula Virgo malam ini yang mengirimkan SMS dan berdiskusi. Malam ini aku pun harus menghadiri temu alumni berupa makan malam dengan perwakilan bagian beasiswa kedutaan Australia yang ternyata stafnya adalah temanku. Reuni lagi =) Hujan masih turun dengan deras. Hari ini aku juga akhirnya berhasil kontak – kontakan dengan si Arab; kakaknya si Virgo. Kami bercerita banyak hal terkait dengan apa yang kami miliki; ‘tugas’ yang diberikan oleh DIA. Rupanya ia selama ini takut bercerita pada orang lain dan tadi ia sangat antusias menelponku dan mengirimkan pesan, sayangnya aku sudah harus berada makan malam. Jadinya pembicaraan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, pulang dari dinner gathering di sebuah hotel besar tengah kota, aku masih sempat bercerita sedikit dengan mama dan adik perempuanku serta bermain sebentar dengan keponakanku; si Eu. Sekitar pukul 10, aku diminta memuji Tuhan. Tak tahu maksud Tuhan apa. Jadinya ya tak menunggu lama, kuambil buku Nyanyian Rohani dan menyanyi. Aku diminta nyanyi beberapa nyanyian yang tak kutahu dan smepat protes bilang, ‘tapi sa tra tahu de pu not lagu ya, ganti lagu ka?’ Tak dinyana mulutku otomatis menyanyi tuh lagu dengan nada yang tak kutahu dan kedengarannya bagus HAHAHA. Adooooh pembajakan mulut skali. Tapi sungguh, pujian itu pun mengalir, tak terasa beberapa lagu mengalir dengan nikmat. Perasaanku tenang. Dilanjutkan dengan nyanyian – nyanyian baru yang tak kutahu datangnya dari sebelah mana, kata – kata yang seperti sewaktu aku di Australia dulu, kata – kata dari dunia mana yang tiba – tiba pica di kepalaku. Jadinya serasa ada teleprompter besar di depan mata dan aku hanya perlu mengikuti kata – kata itu. Aku menikmati tadi menyanyi dalam nada Jazz dan soul, terasa lega padahal kata – katanya nih tak tahu asalnya dari mana. Refleks menyanyi tadi, dalam genre soul aku tiba – tiba bilang dalam pujianku, “Jesus, you are the music of my life, the music of my heart.” Entah dari mana kata itu =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati pujian tadi selama 20 menitan lebih, menyanyi dengan lepas, menyanyi yang sangat menenangkan dengan pujian baru a.k.a. tra tau kata – kata dari mana yang pica di mulut, isinya mengagungkan Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Tak lama, seperti biasa, aku begitu larut dan tak bisa mengontrol apa yang hendak kuucapkan, yang keluar hanyalah kata – kata seperti “Yesus, Kau adalah musik Jiwaku, irama hidupku. Kau seperti irama jantungku yang tak boleh berhenti, karena bila musik ini berhenti maka akupun mati. Kau seperti tetes hujan yang turun, Yesus. Menenangkanku. Kau adalah musik hidupku. Kau musik jiwaku.” Usai itu masih ada pembacaan nyanyian dalam kitab Mazmur yang harus kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin mengerti malam ini. Rupanya aku diminta untuk menyanyi lepas memuji Tuhan karena aku mau masuk dalam zona pertempuran alias doa peperangan. You knowlah, saat kau diminta Tuhan untuk berdoa pada beberapa hal tertentu yang Ia inginkan aku doakan. Kalau sudah pada bagian ini, aku tak punya kontrol atas apapun yang hendak didoakan. Ada beberapa hal yang aku doakan tadi, al:&lt;br /&gt;• Malam ini Tuhan akan mencurahkan roh-Nya atas Manokwari untuk membebaskan orang – orang yang ditawan roh – roh penguasa kota;&lt;br /&gt;• Tuhan melepaskan lelaki – lelaki muda dan tua yang menyakiti perempuan, anak kecil dan juga terikat dengan dosa – dosa al. korupsi, cinta uang dan kekerasan;&lt;br /&gt;• Aku harus mendoakan dan berseru dalam nama Yesus dan dengan kuasa Yesus serta kesaksianku untuk Manokwari, memanggil nama Manokwari dan menyatakan bahwa kota ini kumeteraikan dalam nama Yesus bahwa hanya Yesus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat atas kota ini dan akan tiba saatnya saat orang Manokwari maupun segala ciptaan tunduk dan menyembah Yesus sebagai Raja dan Tuhan;&lt;br /&gt;• Aku diberitahu kalau malam ini di RSUD Manokwari ada seorang anak kecil seperti bayi yang kritis dan sedang dipeluk mamanya, dan Tuhan katakan padaku untuk mengucapkan bahwa Yesus melawat anak kecil itu malam ini dan ia akan sembuh dan akan menjadi bukti dan kesaksian kekuasaan Tuhan;&lt;br /&gt;• Sebelum menutup doa, aku diminta melihat ke atas dan berseru, “dalam nama Yesus, Alam Manokwari dengarkan perintah ini, Ikutlah kehendak Bapa di Surga walaupun itu artinya penghukuman atas kota ini, biarlah kehendak Bapa jadilah atas Manokwari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kejadian teguran juga hari ini dalam saat teduhku itu. Tadi dalam doa sebelum memulai pujian, aku bilang sama Bapa begini, “Bapa, sa butuh kerjaan tetap nih. Kerjaan yang memang akan menunjang hidupku. Belum ada kerjaan nih. Kan ayat Firman bilang kalau Kau Allah yang berkuasa, Jehovah Jirreh yang menyediakan, sa minta kerjaan eee.” Ya, semacam ‘doa toki’ =D Jadinya pas di pembacaan Firman usai doa peperangan e pas buka Alkitab, langsung terbuka di Lukas 12: 22 – 31. Tentang hal kekuatiran. Dalam perikop versi Good News Bible revised Edition, judulnya “trust in God”. Pas – pas tulang dan menjawab kegalauanku dalam doa intro tadi. Ayatnya yang bilang begini, memang benar membuatku kuat, “Life is much more important than food, and the body is much important than clothes.” (Ayat 24). Apalagi ada lagi teguran lain untukku seperti ini, “If you can’t manage even such a small thing, why worry about the other things?”. Anyway, walaupun begitu, ada satu janji yang Tuhan kuatkan dalam diriku tadi lewat pembacaan ini, yaitu di ayat yang bilang begini, “Instead, be concerned with his Kingdowm, and he will provide you with these things.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belajar banyak malam ini. Apalagi usai pulang dari gereja, mama dan aku beserta adik perempuanku masih sempat ngobrol tentang Firman Tuhan dan apa yang kudoakan tadi. It’s so fantastic talking about our experience with God. Ya lebih baik begini kan daripada ngomongin yang jahat dan menakutkan. Jadi jalani saja lah. Hal yang sama yang tadi kubahas dengan si Virgo, ia mengirimkan SMS usai adik dari iparnya mengirimiku pesan dan kutanya tentang tugas sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan hari ini aku baikan. Sangat baikan dan energiku stabil apalagi emosiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perjalananku yang baru bersama-Nya di tahun ini. Mulai dari titik awal lagi tapi aku tak menyesal mengikutinya. Selalu saja ada terapi kejut dahulu untuk menyadari bahwa Yesusku itu dahsyat hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanx Father, Jesus &amp; Holy Spirit. Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 100212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-477624345527770542?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/477624345527770542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=477624345527770542' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/477624345527770542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/477624345527770542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/know-him.html' title='Know HIM'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-6857698161367030682</id><published>2012-02-10T18:34:00.000+10:00</published><updated>2012-02-10T18:35:53.740+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virgo'/><title type='text'>Virgo's Story</title><content type='html'>Catatan lepas ini hanyalah sebuah catatan lepas tentang my guardian angel minggu ini yang menyelamatkanku dari situasi tidak menyenangkan saat perayaan 5 Februari kemarin. Tampaknya memang Tuhan selalu tahu ada yang tidak beres dengan Lelaki Kopi jadinya Ia selalu mengirimkanku orang untuk menjagaku setidaknya menemaniku. Anyway, sejak tanggal 5 – 8 Februari kemarin, si Virgo benar – benar jadi my guardian padahal di saat yang sama, ia juga punya masalah berat. Ia teman kecilku, tepatnya my frenemy (friend – enemy) anak sahabatnya pakdeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, si Virgo namanya memang sangat Jawa sekali, Sansekerta mati eeee. Namanya berarti ‘tujuh’. Dia anak dari temannya pakde di Jayapura dan keluarganya sudah kami anggap keluarganya bapak sejak mereka pindah ke Manokwari sewaktu aku kecil. Apalagi pakde, bapaknya Virgo dan bapakku sama – sama bekerja di korps yang sama; para aparat united HAHAHA. Sudah 10 tahun lebih tak bertemu dengannya. Panggil saja ia Virgo (karna ia lahir tanggal 2 September).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah rupanya si Virgo sedang cuti dari dinasnya di Jayapura sana. Pekerjaannya juga sama dengan bapak. Sebenarnya lucu juga bila mengingat hubungan keluarga kami dengan keluarganya si Virgo. Apalagi hubungan aku dan si Virgo. Waktu SD – SMP, aku akrab dengan si Virgo dan kakak lelakinya yang setahun lebih tua dariku. Ia orang Jawa – Sanger tapi beragama Kristen, dan dulunya semasa SMA orang tuaku sempat iseng bilang kalau aku mau, aku akan ditunangkan dengan salah satu anak lelaki dari keluarganya Virgo WKWKWKWKW. Waktu itu orang tuaku sangat suka pada kakak lelaki Virgo; sebut saja si Mas, karena sifatnya yang sangat ‘Jawa’ dan kerjanya juga sama dengan bapak. Beda dengan Virgo dan kakaknya; sebut saja si Arab. Iya, tampang para anak lelaki di keluarga ini seperti orang Arab atau India. Mata mereka semuanya WOW. Hritik Roshan pu mata tuh eee. Mungkin dari garis keturunan bapaknya Virgo yang memang nama dan tampangnya seperti Jawa – Arab. Apalagi ditambah dengan mamanya yang cantik itu, khas Sanger. Well, back to topic, si Virgo dan Arab kelakuannya tak ada Jawa – Jawanya deh. Kacau balau!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, mungkin ini catatan yang didedikasikan untuk my Guardian Angel. Tanggal 5 ia membantuku bertemu Lelaki Kopi dan menjadi tempat curhat dan memaki si LK. Tanggal 6, ia menemaniku ke rumahnya Chel dan ke pantai guna memotret Chel, rupanya di sana ada gebetannya si Chel yang terlanjur tak kusuka. Malamnya itu, ia menemaniku sebentar jam 11 lewat ke tempat dimana ada kaka dan teman – temannya. Untung saja kubawa Virgo, jadi tak ada pembicaraan aneh – aneh tentang perasaan dengan si kaka. Benar – benar aman lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 malam, si Virgo benar – benar jadi penyelamatku untuk pergi nonton konser musik reggae di GOR. Kami pulang jam 12.30 pagi, tentu saja bersama dengan sepupunya sepupuku dan temannya. Pulang itu memang aku mendapat gangguan dari ‘barang halus’ dan sekaligus di subuh itu, aku memutuskan balik total dan menyerahkan semua ego-ku pada Tuhan. Aku balik 100%, tanpa keraguan. Tanpa Yesus aku lemah dan sekarat rohani. Tak ada pilihan lain. Tak bisa berlari lari. Makanya aku ditegur dan aku pasrah balik. Serupa Yunus tooooooo HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 8 itu si Virgo benar – benar ingin kami bertemu, curhat banyak hal. Entahlah, aku takut ia menyukaiku seperti dulu. Sebenarnya tak tahulah, dulu kami itu ya begitulah. Ia sangat suka menggangguku, dibanding kakak laki – lakinya, si Virgo itu yang paling getol menggangguku. Pokoknya kalau aku sudah mengendusnya dari jauh, langsung saja pasang kuda – kuda. Daripada dihajar duluan, sorry bukan dihajar tapi digebukin di tulang punggung. Brengseknya lagi, ia dengan cuek tertawa jail dan iseng. Payah banget deh jaman dulu. Benar – benar frenemy!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam penuh petir kemarin itu, sambil ngopi di balkon luar tingkat di rumah orang tuanya, aku melihatnya sebagai lelaki yang terluka, lelaki dewasa yang terluka. Tak ada lagi bayang frenemy semasa SD dan SMP yang nakal, iseng dan cuek walaupun kilat mata itu masih sama. Ia bercerita dengan luka dan suara getir tentang kehidupan rumah tangganya yang sudah berjalan 4 tahun ini dengan seorang perempuan Kei asal Timika. Mereka tak bahagia sejak menikah, semuanya tak berjalan sempurna. Aku merasa benar – benar dibawa ke dalam situasi sejenis dengan Lelaki Hujan, sampai – sampai sibuk mengirimkan SMS ke para sahabat dekat. Untungnya aku masih bisa mengatasinya. Takut terjebak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku melihatnya sangat rapuh malam itu, sangat rapuh dengan kehidupan pernikahannya, karena ia tak pernah sekalipun melihat rupa anaknya secara langsung, menggendongnya ataupun mendekapnya. Semua gajinya juga istrinya yang memegang. Ia hanya nikah secara status dengan istrinya sedang istrinya selalu minta cerai. Aku tahu Virgo memang semasa SMA paling nakal, tukang mabuk, main perempuan. Kacau tingkat tinggi. Semua hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Parahnya, Istrinya yang berinisial YR ini bilang bahwa ia akan tandatangan surat cerai bila Virgo sudah memasukan permohonan cerai di markas besarnya di Jakarta. Aku melihat mereka bagaikan dua orang asing yang saling membenci. Ya mereka seperti dua kutub, dua orang musuh. Membuatku semakin bertanya, inikah wajah lain ‘cinta’ yang tak kukenal? Entahlah, aku sedih melihat saat orang – orang di dekatku harus mengakhiri relasinya seperti ini, apalagi relasi yang dimeteraikan dengan nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Apalagi mereka berdua nikah di denominasi yang sama denganku; GKI. Denominasi kami hampir mirip Katolik, tak ada pernikahan kedua di gereja. Jangan harap ada, kecuali maut yang memisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku hanya bisa bilang pada Virgo kalau aku tak bisa memberi banyak pandangan karena kisah cintaku selalu gagal; kalau bukan diselingkuhi, pastilah aku yang memutuskan hubungan karena ada hal – hal prinsipil yang tak bisa disatukan lagi. Aku hanya terus bertanya padanya “jadi, apa yang akan ko lakukan? Itu su terjadi too. Skarang, ko pu plan A, B, dan C apa?” Aku juga berbagi pandanganku bahwa kebanyakan manusia takut membuat keputusan karena tidak ingin terluka, tidak ingin rugi, tidak ingin ada dampak buruknya. Padahal, semua keputusan yang kita buat pasti ada konsekuensinya. Selalu ada. Jadinya, aku cuma berbagi filosofi hidupku kalau aku tak hidup untuk membuat orang lain terkesan atas diriku ataupun mencoba menyenangkan semua orang. Yang aku inginkan hanyalah hidup untuk melakukan apa yang kucintai. Simpelnya, do what I love and love what I do. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, kami bercerita banyak hal, ia bercerita tentang banyak hal, tentang keinginan orang tuanya agar ia kembali ke Jawa, keluar saja dari korpsnya yang penting ia bahagia, tentang ancaman dari keluarga istrinya, tentang kiriman paket okultisme dan segala macam. Ia tak lagi lelaki kecil yang kukenal, lelaki super duper jail. Aku melihat wajah lainnya; lelaki dewasa yang terluka, sama seperti Lelaki Hujan jaman dahulu. Usai mendengar kisahnya, aku hanya bilang padanya agar sebaiknya ia tidak mencari pengganti istrinya dulu, karna ia masih labil dan tak stabil, nanti cuma jadi pelarian akhirnya dan akan bikin luka baru. Guess what? Sepulang dari rumahnya jam 11 lewat dan ia mengantarku pulang dalam hujan deras malam itu, kami masih ngobrol via SMS sampai jam 3 pagi. Entahlah, aku tak tahu perasaannya padaku juga, tapi ia tak lagi membalas pesan –pesanku hingga hari ini. Apa karena di SMS terakhirku aku bilang, “Ko akan baik – baik saja. Sa sayang ko sebagai sapu sodara dan sa tra mau ko begini. Sa mau ko seperti Virgo yang sa kenal, yang ceria, jail dll” Plus mengganggunya agar jangan takut menjadi ‘DUREN’ (duda keren) karena ia masih muda, ganteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini aku merindukan frenemy-ku ini. Malam itu usai ia curhat tentang masalah pernikahannya, ia malah menyemangatiku dan menanyakan padaku kenapa aku harus lari dari tanggungjawabku, dari ‘misi’ku. Ia tahu bagaimana keluargaku waktu kecil terkait supranatural stuffs, apalagi ia juga bercerita kalau kedua kakak lelakinya juga memiliki apa yang kumiliki, makanya ia bilang kalau aku harus bertemu si Mas dan Si Arab. Aku percaya aku diijinkan bertemu dengan Virgo karena ia menjadi Guardian Angelku teraman selama ada Lelaki Kopi dan Kaka di Manokwari. Ia juga diijinkan untuk bersamaku karena sejak tanggal 5 itu, ia selalu bertanya kenapa aku mati – matian lari dari ‘tugas’ku. Menyemangatiku untuk kembali pada Yesus. Aku melihat walaupun ia punya masalah pernikahan dan stress berat, ia lebih percaya pada Yesus. Itulah sebabnya aku tahu ia dikirim untukku bahkan mengalami kejadian ‘diganggu’ untuk meyakinkanku bahwa Yesus lebih berkuasa dan aku tak harus lari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku belum jatuh cinta padanya. Belum, kok. Tapi aku merindukan pandangan matanya yang iseng jail seperti masa kecil kami, dan dalam beberapa hari kemarin terus memaksaku untuk selalu bersamanya. Padahal ia kan punya banyak teman lelaki di kota ini. Ia besar di kota ini. Entahlah, aku melihatnya sebagai adik kecil lelakiku yang wajib kulindungi. Itu saja. Saat ini, menyayanginya sebagai saudara. Aku berharap ia akan baik – baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kututup catatan ini, aku ingat apa yang kubilang pada Virgo malam itu, bahwa sekarang kondisi rumah tangganya sudah seperti jembatan yang patah di atas sungai berair deras. Ia punya pilihan saat ini. Menyeberang sungai alias melanjutkan hidup walau ada konsekuensi yang harus dihadapi, mungkin terbawa arus, mungkin basah kuyup berenang dan kehabisan energi TAPI akhirnya akan sampai juga di seberang. Mungkin juga pakai cara lain seperti merentangkan tali, pokoknya menyeberang. Ia juga punya pilihan lain, tidak menyeberang jembatan dan berkemah di pinggir jembatan dan berharap akan datang pertolongan tapi resikonya adalah tak tahu sampai kapan ada pertolongan seperti itu, mungkin juga dimakan binatang buas ataupun jatuh sakit. Ia juga punya pilihan lain yaitu mencoba menyambung jembatan yang patah, entah dengan apa. Selalu ada pilihan dari tiap situasi dan selalu ada konsekuensi dan resiko dari tiap pilihan yang ada. Pertanyaannya adalah, SIAP TIDAK AMBIL RESIKO DAN BAYAR HARGA DARI TIAP KEPUTUSAN PILIHAN yang kita buat? Pertanyaannya aku kembalikan pada Virgo malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mengirimkan banyak pesan penyemangat. Sangat banyak. Aku selalu percaya hidup itu seperti hari hujan. Apapun masalahnya selalu saja ada akhirnya, tak ada yang abadi selain Tuhan. Itu saja. Pertanyaannya selalu sama, siap tidak dengan perubahan ataupun berubah? Jawabannya kembali pada tiap manusia, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa banyak membantu Virgo karena keputusannya tetap pilihannya. Aku akan mendoakannya selama aku bisa, mendoakan agar keluarga istrinya boleh dilembutkan hatinya dan juga agar Virgo bisa bertemu anaknya suatu hari nanti dan agar anaknya bisa memanggilnya ‘Bapa’ (Virgo curhat kalau anaknya diajarin untuk memanggilnya ‘Virgo Anjing’ tiap kali ia menelpon). Hanya itu yang bisa kulakukan PLUS mungkin aku akan menyiapkan lagi tulisan refleksi lainnya terkait pernikahan ataupun hubungan untuk kaum muda agar bisa belajar dari kasus – kasus saudara – saudaraku dan para sahabat yang gagal dalam kehidupan pernikahan mereka. Aku hanya merasa sedih kala melihat tak bahagia, kala mereka tak bisa menikmati pilihan yang mereka buat dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berterimakasih pada Yesus sudah mempertemukan seorang frenemy masa kecilku di saat yang tepat. Kiranya kasih Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus menjaga frenemy-ku ini dan membantunya melewati masa – masa sulit ini. Pasti akan ada selalu ada pelangi seusai hujan. Aku percaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 100212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-6857698161367030682?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/6857698161367030682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=6857698161367030682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6857698161367030682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/6857698161367030682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/virgos-story.html' title='Virgo&apos;s Story'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-1287676277104298758</id><published>2012-02-10T18:31:00.001+10:00</published><updated>2012-02-10T18:31:51.993+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Milistea'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xtraordinary'/><title type='text'>Kisah Lain Milistea</title><content type='html'>PERINGATAN! Catatan ini mungkin dianggap catatan gila. Aku tidak bermaksud untuk meyakinkan siapapun. Toh ini sebenarnya hanya untuk konsumsi pribadi saja. Hanya ingin memastikan catatan ini terdokumentasi saja. Anyway, blog ini pun hanyalah catatan harianku. Ini kisah lain Milistea yang kudapatkan saat mau tidur subuh dan hal ini semakin jelas bagiku. Semakin jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mencatat tentang Milistea, bukan? Ya Milistea. Semalam hal ini benar – benar jelas bagiku. Mengapa aku suka hujan, mengapa aku suka anak kecil, kesehatanku yanglemah, dan banyak hal. Membuatku semakin paham tentang siapa diriku ini. Semakin paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam saat mau tidur, sambil berbaring dan memadamkan lampu, suara di dalam diriku, Ia bilang Ia ‘Bapa’ tapi sebaiknya mulai sekarang aku memanggilnya Dad saja, biar aman. Takutnya dianggap melecehkan ataupun mendiskreditkan Tuhannya agama Kristen karena toh aku mengenal Dad sebagai pribadi yang sedikit berbeda seperti yang digambarkan dalam ibadah – ibadah Kristen. Aku mengenalnya seperti Bapa yang tegas tapi juga lembut. Kala ia memberi hukuman pun ia memberikan alasan mengapa ia harus menghukum. Ia lebih tegas dari suara yang kusebut ‘Yesus’ (dalam catatan selanjutnya sebaiknya aku menuliskannya sebagai TY) yang sangat lembut, penuh humor dan juga selalu punya banyak kata ‘sayang’ dan ‘love’ bertaburan dalam tiap percakapan dan selalu memperkenalkan namanya sebagai ‘Yesus’, dan ada lagi yang lain yang berbicara dengan suara tidak selembut si Yesus ataupun si Dad tapi tetap dalam kadar lembut dan halus, sebut saja ia ‘the Spirit’ yang paling getol menyuruhku baca Alkitab, mengajarkanku tentang banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kadang mereka bertiga bisa bersamaan ngomong denganku, kadang hanya satu – satu pada peran yang berbeda. Yang aku tahu, dalam semua titik terendah hidupku, terlemah aku tahu Yesus yang paling aktif meyakinkanku kalau aku berharga dan Ia menyayangiku. Sampai kadang – kadang ia bilang bahwa kalau memang aku mau Ia mati lagi dan menebus dosaku agar aku percaya pada-Nya dan bertahan, ia akan lakukan. Dia adalah kekasih dan sahabat terbaikku. Cinta sejati dalam hidupku. Bersama-Nya, aku merasa hidupku utuh. Itu saja. walau memang aku masih suka lari. Tapi, 3 hari lalu, aku memutuskan berhenti lari. Berhenti kabur. Berhenti nakal. Lelah saja. Karena kehidupan rohaniku sekarat dan lemah tanpa Yesus, dan akhirnya efeknya ke fisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to topic, Dad tadi malam menjelaskan padaku tentang siapa Milistea. Aku sudah pernah diberitahu sebelumnya, sudah 2 atau 3 bulan lalu,  dan juga bulan lalu, lupa oleh si Dad atau sama si Spirit, kalau Milistea itu tinggalnya di Israel sana, salah seorang anak perempuan Salomo. Kenapa ia suka hujan? Karena di sana, hujan hanya turun pada musim tertentu dan menjadi pemandangan yang menakjubkan dan sangat ditunggu. Itulah sebabnya Milistea sangat suka hujan. Tadi malam aku diberi penjelasan tentang siapa Milistea dan bahkan sampai berlanjut pagi ini kala bangun pagi, dalam saat teduhku selama 30 menit itu. Entahlah, anggap ini catatan orang gila dan aku tak perlu meyakinkan siapapun, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dad bercerita padaku bahwa ia bertemu pertama kali dengan Milistea saat umur Milistea sekitar 8 – 9 tahun. Masih kecil. Ia anak perempuan kecil yang lucu dan menjadi kesayangan Salomo bahkan sampai diprotes oleh kakak – kakak lelakinya. Dad bilang ia cerdas, mewarisi kepintaran Salomo dan lucu serta suka mendobrak sistem dan protes sana – sini. Suka melawan aturan yang mengatur bagaimana perempuan bersikap. Dad bertemu dengannya kala Salomo membawanya ke Bait Allah dan memperkenalkannya pada Tuhan. Milistea kecil ingin bertemu dengan Tuhan, tetapi karena aturan Yahudi yang tegas, ia tidak diperbolehkan dan membuat Milistea protes. Dad bilang saat Salomo melarangnya, ia protes dan bapaknya dan bertanya ‘kenapa sa tra boleh ketemu Tuhan?’ dan Salomo menjelaskan kalau ia ‘perempuan’ dan hanya ‘anak kecil’. Ada aturan jelas. Saat Salomo bertanya lagi padanya, kenapa ia mau sekali bertemu Tuhan, Milistea dengan percaya diri dan cuek bilang, “Sa ingin skali polo Tuhan dan bilang kalau sa sayang Dia skali, Pa. Sa ingin bilang Tuhan sa sayang Dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, Dad bercerita kalau Milistea sangat lemah dengan kesehatannya. Pada masa itu teknologi kesehatan tak sebaik sekarang. Dad bisa sembuhkan Milistea tapi Ia punya rencana besar lainnya. Jadinya Ia mengizinkan hal itu terjadi. Dad juga bercerita kalau Milistea adalah anak seorang perempuan suku Efraim; sebuah kebetulan, bukan? Dalam kisah sebelum tidur subuh jam 3 kurang itu, Dad bilang Milistea meninggal saat ia berumur 12 atau 13 tahun, masa remajanya. Sebelum meninggal, Milistea bercerita pada Dad kalau ia ingin punya anak suatu hari dan minta bila diijinkan, ia ingin punya anak suatu hari nanti, entah di kehidupan berikutnya atau dimana. Ia ingin punya anak. Menjadi seorang ibu. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah sebabnya, Dad bercerita, saat Milistea meninggal, ia ditempatkan untuk menjaga para bayi kecil di ‘surga’. Aku diajak melihat bagaimana tempat Milistea bekerja di sana. Ada sebuah gedung luas dan ada banyak boks bayi, tempat bermain kanak – kanak dan banyak kanak – kanak. Aku melihat diriku tapi bukan sebagai diriku; sebagai Milistea, di sana, bermain dengan para kanak – kanak ini. Aku yang berdiri di sana adalah seorang perempuan kecil seumuran anak SD dengan sebuah kain tudung kepala yang disampirkan. Semacam selendang di kepala. Kadang ada seseorang yang kukenal sosoknya, aku mengenalnya, ia Yesus, yang datang bermain bersama kami dan kami semua bermain bersama. Mendengarkannya bercerita. Kadang hanya aku sendiri. Kadang ada para penjaga, mungkin seperti malaikat, yang datang juga bergabung bersama kami dan kami tertawa semua. It’s so much fun. Anak – anak di sana tidak ada yang nakal – nakal. Mereka benar – benar anak – anak ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dad juga bilang kalau anak – anak dan para bayi di sana adalah mereka yang meninggal. Paling banyak juga karena aborsi dan dibunuh dalam kekerasan. Dad benci aborsi. Dad benci itu. Ia tak suka. Baginya itu kekejian. Dad bilang Milistea bertugas bermain dan tinggal dengan para anak dan bayi itu, sebenarnya tak menjaga, hanya sebuah bentuk pemberian Dad baginya dari permintaan yang dimintanya. Anyway, Dad bilang aku adalah Milistea-nya dan ia memberi hal lain diluar yang pernah dimiliki Milistea di masa lalu, tambahan umur panjang agar Ia bisa memenuhi janji-Nya pada Milistea. Yang pasti, Dad juga bilang, anak – anak dan para bayi yang kujaga ada banyak yang sudah kembali ke bumi dan lahir. Aku tak percaya ini semacam Inkarnasi atau apalah. Aku tahu catatan ini kedengaran seperti catatan orang gila, tapi aku sudah pada tahap pasrah jadi memilih menuliskan saja dalam catatan harianku. Dad hanya bilang, para ‘teman mainku’ di atas sana, mereka akan tetap mencariku dan entah bagaimana kami akan banyak bertemu dengan banyak cara, karena kami pernah terkoneksi dan sangat dekat. Iya, kami pernah sangat dekat. Saat aku adalah Milistea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi Dad mengajakku berbicara lagi tentang Milistea, itulah kenapa Ia memilihku. Karena aku Milistea-Nya. Ia rindu Milistea. Rindu melihat bagaimana Milistea kecil mengasihinya tanpa syarat dibanding banyak orang pada masa itu yang datang pada Tuhan karena aturan, ritual dan juga karena harus ‘diancam’ dulu. Tadi pagi, aku melihat hati-Nya untuk Milistea dan membuatku menangis sedih. Ia rindu pada Milistea kecilnya. Itulah sebabnya, kala Dad ataupun TY berbicara, selalu mereka bilang aku spesial. Ia bilang aku spesial, aku istimewa dan ia mengasihiku. Ia selalu bilang sejak kelahiranku, Ia sudah punya rencana besar untukku. Rencana yang tak bisa ditawar.  Ia mengasihiku. Sangat mengasihiku. Ia ingin aku berjalan bersamaNya, bekerja bersamaNya dan ia kan pastikan tak kan ada yang menggangguku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, dalam penutup saat teduhku itu, Dad bilang kalau aku tak perlu khawatir atas apapun. Tak perlu khawatir karena Ia akan melindungiku. Memberi perlindungan ekstra dari para malaikat-Nya. Baru kali aku mendengar Ia jelas bicara tentang perlindungan diriku. Biasanya aku yang harus meminta. Ia bilang aku dapat jatah 5 orang malaikat yang mengawalku. Di tiap sisi tubuhku dan di bagian atas tubuhku. Ia hanya meminta aku menjalankan ‘tugas’ku. Ia tak minta banyak dari diriku; hanya melihat/mendengar dan berdoa untuk hal – hal yang Ia tunjukan dan juga kalau ada yang diajarkan the Spirit, maka aku harus menuliskannya dan membaginya. Ia bilang kalau ‘jangan berpikir terlalu sulit’ tentang ‘berbagi’. Tuliskan saja di catatan jejaring sosialku ataupun berbagi di blogku atau bercerita pada temanku itu sudah cukup. Ia tidak menuntutku lebih. Yang pasti, Ia cuma ingin aku percaya pada-Nya dengan sungguh. Meletakan semua hidupku dalam rencana-Nya. Ia minta intensitas komunikasi dengan diri-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi, saat teduh kami selalu diakhiri dengan ‘ritual’ kecil yang selalu kulakukan, biasanya kalau ada Dad, aku baru sadar kenapa aku melakukan itu, ternyata itu gaya Milistea pada Dad. Ia, selalu dalam akhir ibadah, aku pasti harus memberikan pelukan pada Dad, seakan Ia sedang di depanku. Sebuah pelukan hangat dari anak kecil. Entahlah, tiap kali berbicara dengan Tuhan dalam doaku, aku selalu merasa bahwa aku adalah anak kecil berumur 9-10 tahun, anak kecil perempuan dan itulah sebabnya saat berbicara dengan Tuhanpun sejak beberapa tahun terakhir, aku susah sekali berdoa dengan bahasa yang sangat formal. Aku berbicara seperti seorang anak kecil yang curhat pada Bapa-Nya ataupun pada kekasih/sahabatnya. Sangat privat, dan tak bisa diganggu gugat. Kami bercerita dimana saja, dalam perjalanan, dalam kamar, dimana saja dan tentang apa saja. Bertanya tentang banyak hal. Aku menjadi peka saat bersama-Nya termasuk tentang urusan kecil semisal musik, film dan buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, aku harus memberi keterangan bahwa entitas Dad, TY dan Spirit kadang bersatu dan aku tak dapat membedakannya, tapi kadang – kadang pribadi ini terpisah dan mengajakku bercerita dalam tugas yang berbeda. Itu saja. Trinitas atau bukan, ataukah seperti yang digambarkan dalam Iman Kristen dan diperdebatkan selama berabad – abad, aku tak peduli. Yang aku tahu, pribadi – pribadi ini benar – benar menguatkan dalam beberapa tahun terakhir, menuntunku untuk percaya bahwa ‘Tuhan’ itu ada dan aku dikasihi. Yang menegurku, yang membersihkan lukaku dan meyakinkan bahwa hidup layak untuk diperjuangkan. Yang melarangku untuk bunuh diri. Yang menyemangatiku. Yang memberi banyak hal yang terasa seperti mimpi bagiku. Aku mengenal mereka atau kusebut saja pribadi – pribadi ini sebagai DIA, karena tak ada batas saat aku mau datang pada DIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir lupa, semalam, saat sudah hampir tertidur, kala Dad sudah selesai menyuruhku tidur. Lewat beberapa detik, tiba – tiba aku mendengar suara lain yang tak pernah kudengar. Suara itu terdengar kasar dan lebih besar dan bukan dari dalam diriku, tapi seperti berbicara di dekat telingaku. Dalam keadaan ngantuk berat, suara aneh ini bilang kalau ia mengasihiku dan beberapa kata cinta lainnya untukku. Ia berbicara mengikuti seperti gaya bicaranya TY tapi suaranya sangat beda jauh. Hampir 1 menit ia berbicara tapi entahlah, aku merasa sangat tidak nyaman dan dari dalam diriku ada sebuah suara yang bilang, “tengking Dia dalam nama Yesus. Usir dia”, apalagi tiba – tiba ia seakan membawa pikiranku lari pada potongan - potongan gambaran orang yang sedang onani. Gosh, jangan tanya bagaimana kagetnya aku dan segera menengking dia dalam nama Yesus, aku langsung tahu itu roh apa, karna saat mengusirnya, aku ngomongnya, “Dalam Nama Yesus, Roh percabulan ko keluar dari sa pu diri. Ko tra berhak atas sa pu diri lagi. Sa RI (sebutkan sa nama asli) adalah milik Yesus. Yesus su bayar sa deng harga mahal jadi ko tra pu hak. Ko keluar. Dengan kuasa nama Yesus dan kuasa darah Yesus, ko keluar.” Aku memang belum doa tidur. Langsung saja bergerak berdoa tidur dan perlindungan. Langsung sono sampe pagi HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap saja ini catatan orang gila karena sangat sulit untuk dicerna akal sehat. Aku tahu aku spesial. Apalagi tadi pagi, Dad sempat bilang padaku, “May, istilah ‘Indigo’ itu hanya sebuah label, ada banyak kata yang menjelaskan orang – orang seperti ko. Yang penting, Aku mengenalmu dan Kau mengenal-Ku. Itu sudah cukup. Lakukan saja tugasmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 100212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-1287676277104298758?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/1287676277104298758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=1287676277104298758' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1287676277104298758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1287676277104298758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/kisah-lain-milistea.html' title='Kisah Lain Milistea'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-1800233952723962446</id><published>2012-02-10T18:29:00.000+10:00</published><updated>2012-02-10T18:30:51.443+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xtraordinary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vision'/><title type='text'>V1 - Kuda, Air dan Rasa tak jelas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WRAP-UP&lt;br /&gt;CASE 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Date&lt;/span&gt; : 8 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Time&lt;/span&gt; : 11 PM something&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Venue&lt;/span&gt; : Kamar tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berdoa sebelum atau sesudah baca Firman yang diminta oleh the Spirit (Zakaria 3: 1 – 10), anyway sedikit lupa pada doa yang mana, dalam doa yang kulihat adalah ada banyak kuda yang berlari di jalan setapak yang pinggir – pinggirnya antara jejeran pohon – pohon yang ditanam di sepanjang jalan. Kuda – kuda itu berwarna – warni. Ada pengendaranya tapi saat semakin mendekat, gambaran itupun hilang. Tak paham artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENJELASAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Date&lt;/span&gt; : 9 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Time&lt;/span&gt; : 11 PM something&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Venue&lt;/span&gt; : Ruang tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ngobrol dengan mama, iya usai aku memilih untuk ‘pasrah terima nasib’. Hehehe. Aku bilang kemarin disuruh baca Zakaria 3: 1 – 10. Jadinya aku membahas tentang pembacaan ini dan artinya pada mama, menjelaskan tepatnya dan bilang bahwa ini memang teguran untukku. Trus aku bilang kalau  dalam doa aku melihat rombongan kuda, ada pengendaranya juga. Cuma tak mengerti. Tiba – tiba mama yang lagi membaca kitab Zakaria itu dengan cueknya bilang begini: “Lho May, itu di Zakaria pasal 1 ayat 7 – 17 ada penglihatan tentang rombongan kuda itu, persis tuh dengan yang ko lihat, coba baca dulu baik – baik. Sama tidak?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamak, jangan tanya reaksiku lagi. Aduuuuh kumat deh, kumat deh. Benar – benar kumat nih. Back on mission =) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CASE 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Date&lt;/span&gt; : 9 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Time&lt;/span&gt; : 7 PM something&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Venue&lt;/span&gt; : Kamar tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun dengan deras. Aku sudah menyelesaikan saat teduhku sedari sore. Belajar dalam Yosua 1: 1- 18 dan memuji Tuhan dalam Mazmur. Tapi entahlah , aku merasa sangat tidak enak, tidak nyaman, merasa ada yang tidak beres dengan alam. Jiwaku terasa sangat resah dan gelisah. Merasa adanya ‘sesuatu besar’ yang akan terjadi. Sesuatu yang ‘berbahaya’ dan mengancam. Instuisiku merasa bahwa ini  akan terkait dengan ‘air’ atau sumber – sumber air besar. Aku tak tahu dimana itu. Apa laut atau danau, aku tak punya gambaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 30 menit senewen, aku tak tahan juga. Ada panggilan urgensi untuk berdoa untuk kota Manokwari. Jadi tak tahan, aku bilang sama Tuhan begini: “Bapa, kehendak-Mu jadilah. Tapi tolong lindungi orang – orang percaya dan para anak kecil. Biarlah kehendakmu terjadi. Amen” Bilangnya dengan pandangan pasrah sungguh mati. Masih tak sejahtera juga. Aku mulai mengirimkan pesan pendek pada beberapa teman, baik Kristen maupun non-Kristen, isinya sih simpel:&lt;br /&gt;“Pliz pray for Manokwari dan Tanah Papua, especially untuk anak – anak kecil. Entahlah, z perasaan tra enak skali dari sore. Entahlah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teman yang menguatkan tadi and it means a lot to me. Semoga saja aku salah, semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CASE 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Date&lt;/span&gt; : 9 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Time&lt;/span&gt; : 9 PM something&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Venue&lt;/span&gt; : Kamar tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras masih turun di luar. Perasaanku masih tak enak, masih tak nyaman. Tiba – tiba saat lagi duduk di tempat tidur. Tiba – tiba ‘hal’ itu datang lagi. Kali ini dengan setting lain dan aku menolaknya sampai harus menutup mata karena tak ingin melihatnya. Tapi tak bisa kuatasi. Bahkan saat menutup matapun, hal ini berkelebat dengan jelas dalam kepalaku. Sangat menakutkan kala kita tak bisa mengontrol pikiran kita. Aku sampai harus berbalik menyembunyikan kepalaku ke arah kasur. Tapi tak bisa kutepis. Ada invasi pikiran tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku melihat seperti aku sedang dibawa ke sebuah pesisir pantai Manokwari atau sejenis seperti itu, tapi kayak ada hole sedikit di tempat itu. Entahlah itu dimana. Tapi yang ada rumahnya. Ada rumah – rumah panggung seperti yang ada di Borobudur atau Rodi. Saat itu senja, langitnya jingga dan seakan aku sedang berada di bagian kanan dan lautnya di sebelah kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri dekat atau seakan menonton ada dua anak kecil lelaki sedang bermain atau mandi - mandi di pinggir pantai itu yang ber-hole itu. Rumah mereka kelihatan tak jauh dan jelas di depan mata. Aku tak bisa melihat jelas etnis mereka. Karena aku melihat siluet mereka karena matahari senja berada di langit belakang mereka. Mungkin mereka anak SD. Tapi saat melihat mereka, ada yang berbicara denganku (seperti di dalam diriku) dan bilang akan ada bencana yang menimpa daerah dimana ada anak kecil ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba – tiba aku dibawa melihat ke tengah laut, atau ke arah laut, aku melihat gelombang tinggi dengan air yang membuncah seperti keran dengan tekanan tinggi yang dipaksa jadi air mancur dan aku diberitahu kalau air besar ini akan menyaput dua anak kecil ini dan juga area dimana mereka tinggal. Usai itu, semuanya menghilang dan pikiranku kembali dan aku bisa mengontrol apa yang ada dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melihat itu dan berdoa sambil menangis pada Tuhan untuk keselamatan anak – anak kecil dan juga orang percaya, aku protes berat pada Tuhan. Aku protes pada Tuhan. Tak tahan saja bila melihat anak kecil harus menanggung hal ini. Tapi Tuhan bilang, aku tahu suara penjelasan ini jelas sekali, pasti si Bapa. Entahlah, anggap saja aku gila, tapi aku bisa membedakan ‘suara’ yang berbicara denganku lewat pilihan kata, ‘vibrasi’ suaranya. Suara – suara ini selalu berada di dalam diriku, lain dengan ‘penampakan’ suara tanggal 7 malam kemarin, itu beda sekali. Yang pasti, aku tahu ini pasti suara yang kusebut ‘Bapa’ ataupun si tegas karena ia berbicara dengan suara yang penuh otoritas, tak bisa ditawar walau aku tahu ia baik. Hanya tegas. Ia bilang begini,  “May, harus ada hukuman. Harus ada hukuman agar orang berhenti berbuat dosa. Aku tak bisa membiarkan hal yang salah terjadi terus. Harus ada hukuman. Ko pu keponakan kecil nakal dan bamaki saja ko kasi rica, apalagi saya, May. Ini harus biar ada pertobatan. Jadi jangan menangis sedih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai itu, memang beberapa menit aku masih sedih dan sedikit tertekan dan memilih menangis keras biar emosi beban itu keluar. Berdoa sekali lagi untuk orang percaya dan biarlah rencana Tuhan jadi menurut kehendak-Nya plus juga sekal lagi untuk anak – anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanx God, usai itu semuanya terasa ringan. Sangat ringan. Tak ada lagi perasaan tak enak yang kualami seperti beberapa jam lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Usai itu, saat mama pulang jam 11an, kami diskusi dan ternyata malah ketemu penjelasan tentang visi kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, mau dibilang gila atau apalah, sudah tak peduli. Daripada ditahan – tahan dan terasa berat. Mencoba lari dari tugas alias disersi dari tugas itu tak enak. Hari ini aku memutuskan untuk ikut arus saja lah. Capek ‘berenang lawan arus’. Capek banget.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-1800233952723962446?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/1800233952723962446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=1800233952723962446' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1800233952723962446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1800233952723962446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/v1-kuda-air-dan-rasa-tak-jelas.html' title='V1 - Kuda, Air dan Rasa tak jelas'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-371995460811726793</id><published>2012-02-10T18:28:00.001+10:00</published><updated>2012-02-10T18:28:54.132+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xtraordinary'/><title type='text'>Back On Mission</title><content type='html'>Hari ini kembali hujan dan suhu kembali dingin. Entahlah, hujan beberapa hari ini sangat deras dan mulai adanya banjir  di beberapa bagian Manokwari. Malam ini pun aku dan keluarga menonton berita di TV lokal. Cukup terkejut dengan bagaimana alam sedang ‘bergejolak’ di dataran Prafi kemarin. Ada jembatan yang patah dan memakan korban seorang pengendara motor bareng motornya dan juga sebuah mobil. Di SP 1 seseorang hangus terkena petir, sedang seorang tua lainnya di bagian Prafi lainnya tewas karena rumahnya terbakar petir. Malam ini hujan kembali lagi deras. Sangat deras!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi  kuputuskan untuk mengirim pesan pada beberapa teman untuk bersemangat dengan hidup mereka. Malamini, tak lupa untuk berbagi pesan dengan Miss Classic (MC) dan teman – teman dekat lainnya tentang apa yang kurasakan dan urgensi untuk mendoakan Manokwari dan Tanah Papua khususnya tentang agar Tuhan melindungi anak – anak kecil. Masih ada lagi yang kulihat dan akan kutuliskan dalam catatan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang tak sengaja juga aku kepikiran untuk mencari tahu tentang anak Indigo karena usai menonton beberapa hari lalu sekilas tentang seorang anak indigo yang bisa menerawang ruangan seperti adik perempuanku dulu, aku penasaran. Entahlah, mereka ada yang bilang kalau anak indigo mempunyai banyak talenta supranatural yang berbeda. Bagaimana dengan para anggota keluargaku yang sejak kecil punya talenta yang berbeda? Bagaimana dengan aku sendiri? Entahlah. Adik perempuanku sudah memilih untuk menutup ‘mata ketiganya’ dan ia tampaknya mulai bisa menikmati masa ‘dewasa mudanya’ dengan baik. Bapak dan mama ya masih seperti itu, masih tahu apa yang akan terjadi. Entahlah … keluargaku mungkin adalah salah satu keluarga teraneh yang pernah kutahu. Hubungan kami semua tak pernah dekat tapi selalu saja ada supranatural stuffs yang mengalir dalam diri kami dan terkoneksi. Sebuah pertalian kasat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bapak dan mama masih seperti biasa. Instuisi mereka sangat kuat. Masih suka mendengar, masih menyembunyikan ‘rahasia’ bisikan mereka yang memang bukan untuk konsumsi pribadi. Tiap orang punya peran berbeda dalam keluarga kami. Yang aku tahu, bapak masih seperti begitulah, suka tiba- tiba mengeluarkan ‘amaran’ mendadak baik untuk berdoa, untuk beberapa bagian pasal Alkitab tertentu. Mama juga yang begitulah, mengikuti instuisinya. Suka tiba – tiba membatalkan rencana perjalanannya dan selalu bila terpaksa mengikuti kegiatan yang hendak diikutinya, tetap ada dampaknya. Entah dia sakit ataupun kena celaka ataupun ada saja masalah. Seperti kejadian beberapa bulan lalu, kami mendesaknya ikut penataran sertifikasi gurunya di kota lain. Ia mati – matian tak mau tapi kami sekeluarga plus opa mendesaknya. Dengan hati terpaksa ia berangkat, tapi begini tak sampai lewat sehari ia pun jatuh sakit parah di sana. Terpaksa pulang dengan pesawat ke Manokwari, diantar pula oleh panitia. Yang ada ia marah – marah pada kami karena mendesaknya dan melabelnya terlalu ‘parno’ =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instuisi yang sama rupanya juga ‘diwariskan’ padaku. Aku melihat semakin dekat aku pada Tuhan, semakin tajam dan peka apa yang kurasakan. Makanya sejak sepulang dari Australia, aku berusaha lari dari ‘takdir’ku. Aku hanya tak suka melihat ‘visi kehancuran’ dan ‘visi titipan’ lainnya yang menguras energiku dan selalu harus berdoa untuk hal tersebut agar akan ada yang diselamatkan. Visi – visi yang membuatku ketakutan setengah mati. Setengah mati ketakutan. Apalagi bila visi itu berulang kembali. Tugasku hanyalah melihat visi itu, berdoa dan kalau bisa menuliskannya. Tak harus kubagi sebenarnya. Tapi yang aku tak suka, kadang aku merasa tak punya kontrol atas apa yang kulihat, aku merasa bersalah karena harus melihatnya dan ‘merasakan’nya. Merasa kasihan pula pada korban – korban yang kulihat. So scary!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pasti punya tugas yang berbeda. Aku tak tahu apa memang aku masuk kategori indigo atau bukan, tak begitu peduli sebenarnya walaupun tapi memang dari semua bacaan referensi itu aku tahu aku bisa masuk kategori itu. Itu bukan hal penting bagiku sekarang. Aku hanya tak bisa ‘lari’ lagi dari takdirku. Sungguh tak bisa. 2 malam lalu sudah cukup membuktikan bahwa aku tak kuat bila ‘mendemo’ Tuhan terlalu lama, bila mengkhianatinya dengan menggunakan tugasku untuk menuliskan tentang dia untuk hal – hal yang bukan keinginan-Nya (lihat catatan Psiko Samantha ataupun Reportase TKP), bila tak berbicara dengannya. Parahnya aku malah memilih membicarakan si Jahat dengan hebohnya. Tahu tidak, 2 hari lalu aku hampir kesambet. Baik di kantor maupun sepulang konser reggae. Tak hanya kaki sedingin es batu, tapi juga muka yang menebal dan merah padam serta kepala berat. Bahkan di jalan yang tak terlalu tanjakan pula, motorku tiba – tiba berat saat boncengan dengan si Virgo dan ditemani seorang kerabat jauh dengan motor yang lain. Padahal sampai ganti gigi 1 - 2. Belum lagi ‘dipanggil’ segala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku benar – benar disadarkan bahwa hanya dengan YESUS, aku kuat. Terima kasih, malam itu aku melihat bagaimana nama Yesus sangat berkuasa mengusir kuasa Setan. Semua rasa takut yang membuatku seakan terpenjaradan gejala hilang, hati langsungnyaman. Benar – benar pembuktian sempurna akan betapa kuasanya Yesus.*langsung tobat sungguh mati dan stop melawan ka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kemarin pagi, aku benar – benar dituntun untuk balik padanya, memperbaiki hubungan dengan Yesus, ngobrol lagi. Mempercayakan hidupku padanya, mempercayakan kekuatanku pada-Nya. Membiarkan ia memimpinku, menuntunku dan menjadi Tuhan atas hidup-Ku. Titik balik tepatnya. Titik balik sungguh mati ka ini. Tak boleh tra boleh main – main. 2 malam lalu jadi titik komitmen kalau aku kembali lagi pada Yesus. Tak mau melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kemarin, dalam saat teduhku seusai pulang dari menjadi teman curhat si Virgo (ia kubahas dalam catatanku yang lain), aku diminta membaca Alkitab. Dituntun untuk membaca Zakaria 3:1 – 10. Intinya sih tentang penglihatan Zakaria tentang Iman Besar Yosua. Aku diajar tentang inti dari pembacaan ini dan aku tahu jelas ini teguran untukku tentang apa yang kualami. Jadi, dalam pembacaan itu sudah jelas Yosua bersalah pada Tuhan, dan bahkan ada Iblis yang mendakwa dia. Tapi para malaikat atas suruhan Tuhan mengganti ‘pakaian’ Yosua yang kotor dengan yang baru dan berkata bahwa “I have taken away your sin and will give you new clothes on him while the angel of the Lord stood there”. Pada bagian ini aku tahu ini kondisiku saat ini. Aku bersalah pada Tuhan tapi Tuhan masih mau mengampuniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, jangan pikir semudah itu Tuhan memberi perintah. Masih ada satu ayat teguran yang membuatku tersadar. Jadi ada perintah dan janji dari Tuhan. Tentang restorasi sih sebenarnya. Lihat saja di ayat ke 7:&lt;br /&gt;“If you obey my laws and perform the DUTIES I have assigned to you, then you will continue to be in charge of my Temple and its courts, and I will hear your prayers, just as I hear the prayers of the angels who are in my presence.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan juga berjanji dalam ayat ini tentang pemulihan negeri Yosua dimana Yosua adalah Iman Besarnya. Tuhan bilang dalam sehari saja ia akan menghapus dosa negeri Yosua. Ia juga bilang kalau Yosua dan juga para imam lainnya adalah lambang dari masa depan yang baik sebelum kedatangan ‘pelayan’ Tuhan yang lain yang disebut ‘The Branch’. Jadi ingat Yesus saja deh yang suka dibilang Tunas Daud hehehe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti malam kemarin, menjadi titik tolak kembalinya aku memilih untuk pasrah dengan ‘tugas’ku. Mo lari kemana lagi. Semalam saat berdoa sebelum atau sesudah baca Firman (sedikit lupa pada doa yang mana), e dalam doa yang kulihat adalah ada banyak kuda yang berlari di jalan setapak yang pinggir – pinggirnya antara jejeran pohon – pohon yang ditanam di sepanjang jalan. Kuda – kuda itu berwarna – warni. Ada pengendaranya tapi saat semakin mendekat, gambaran itupun hilang. Masih tak jelas apa artinya. Malam itu aku memilih diam saja. Yang penting Tuhan su mo ngobrol lagi sama diriku, sudah merasa tenang sih. Tak ada lagi rasa takut yang berlebihan. Kayaknya hidup terasa tenang dan mengalir nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, tadi siang pas ngobrol dengan mama, my frenemy, e mama cuma bilang, “May, ko sapa suruh mo lari dari ko pu panggilan. Mo lari ke ujung dunia juga, tetap Tuhan akan kejar ko. Mo sampai kapan ka? Terima sajalah. Stop kaco suda. Banyak berdoa dan dekatkan diri pada Tuhan, kenapa ko tra mau berkat itu ka?”. Walau agak berbantah dikit dan berargumentasi, e akhirnya aku bilang aku sudah mengiyakan panggilanku dan pasrah saja. Pokoknya mama siang tadi mirip si Virgo  tadi malam yang menasehatiku tentang ‘ikut Tuhan’ dan ‘terima’ saja ‘panggilan’ku. Jadinya, ya aku memasrahkan diri. Karena tak ada lagi tempat berlari hihihi. Sudah pada tahap ikhlas. Jujur, aku tobat dengan kejadian dua malam lalu dimana benar – benar diserang dan aku tak punya kekuatan karena pada serangan awal itu, aku mengeraskan hati tak mau percaya bahwa Yesus berkuasa. Tapi usai yang kedua, tak ada pilihan lain. Tanpa Yesus, pastilah aku sudah babak – belur ‘dihajar’ oleh Roh Jahat. Jadinya, berjalan bersama Yesus adalah keharusan. Ia, HARUS!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, mungkin itu yang bisa kucatat sekarang karna ada catatan lain yang harus kutulis. Anggap saja sambungan dari catatan ini. hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti, aku tahu aku tak bisa hidup tanpa Yesus apalagi mau menjauhkan diri dari-Nya. Bisa mati saja =) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, malam ini, yang pasti aku bersyukur Bapa, Yesus dan Roh Kudus masih mau menerimaku. Masih mau percaya padaku untuk menjadikanku ‘staf-Nya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malam lalu, aku percaya bahwa Yesus sungguh berkuasa dan aku mau kembali utuh pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the glory, honor and worship for The Lord Almighty, Jesus and the Holy Spirit. Amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 090212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-371995460811726793?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/371995460811726793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=371995460811726793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/371995460811726793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/371995460811726793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/back-on-mission.html' title='Back On Mission'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-7801807301380402240</id><published>2012-02-10T18:26:00.000+10:00</published><updated>2012-02-10T18:28:07.128+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lelaki Subuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virgo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lelaki Kopi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bob'/><title type='text'>Lelaki Kopi Vs my new Guardian Angel</title><content type='html'>Banyak hal yang terjadi beberapa hari ini. Mulai dari Kisah Lelaki Kopi, bertemu teman lama masa kecil; seorang lelaki sebut saja si Virgo, bertemu kaka di Manokwari hingga kejadian aneh berkaitan dengan supranatural stuffs. It’s my life and I have my own right to document my story from my perspective. It’s totally a messy-wrecking-ship moments. I really thanx God for His Protection on me. I would be in the worst situation if I didn’t rely my trust on Him. Yet, I thanx God for sending some guardian angels to enstrenghten me. Anyway, catatan kali ini hanya ingin membahas tentang urusan perasaan HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta? Bagaimana menjelaskannya. Beberapa hari ini aku bertemu tiga lelaki yang berbeda dalam hidupku dengan intensitas perasaan yang berbeda. Sahabatku; Miss Gaul dengan cueknya bilang, “yoo kumat lagi. Ko pu penyakit lama tuh: Jatuh cinta trus =) plus ko pu kata ENTAHLAH … Kumat trus”. Biasalah, ia dan miss Classic lagi suka jadi tempat sampah SMS malam – malam tentang urusan perasaan.  Well, ceritanya sih terkait dengan perayaan 5 February: Mission Day a.k.a. Hari pekabaran Injil di tanah Papua. Tentu saja terkait dengan pulau Mansinam plus hujan. CATAT!!! HUJAN sekali lagi memang cocok jadi setting film hidupku. Semuanya dimulai dari hujan =D Iya, catatan ini semuanya ber-setting hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 4 malam kemarin, tiba – tiba tak dinyana, si Lelaki Kopi (LK) mengirimkan SMS padaku, biasa ‘kangen’ segala macam pake embel – embel ‘ sa + sayang ko’ dan kata – kata bullshit lainnya. Ya, karena sudah menetralkan perasaan, aku membalasnya dengan kata – kata cuek. Akhirnya singkat cerita, ia mengajakku ke pulau Mansinam untuk perayaan. Karena tak ada rencana, jadinya aku menginterogasinya untuk perayaan. Sialnya, subuhnya perasaan yang masih tersimpan kumat lagi padanya. Ok, itu tentang LK, di saat bersamaan, kaka yang ternyata sudah berada di Manokwari mengirim SMS minta bertemu dan kangen segala macam. Allow, kayaknya hati yang berdarah masih ada jadinya kujawab singkat. Ia memintaku bertemu dan juga pergi ke pulau. Tak hilang akal, aku membohonginya kalau aku sedang ada kerjaan di Ransiki dan akan balik tanggal 10 =D End of story, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku memutuskan untuk pergi ibadah (ini ibadah ke 2 tahun ini). Rencanaku sudah matang, selain piknik dengan LK aku juga akan mengambil banyak gambar suasana perayaan di Mansinam sana. Anggap saja ini upaya perdamaian usai memaki LK abis – abisan di blog ini.  Aku memang ingin tahu bagaimana situasi perayaan di tengah hujan. Apalagi terakhir kali melihat perayaan langsung di pulau sekitar tahun 2007. Itu terakhir kalinya. Dalam lima tahun terakhir ini pun, aku baru 4 kali pergi ke pulau , itupun ada pengalaman buruk yang tak bisa kutuliskan dan lagi – lagi terkait dengan urusan perasaan: Ya, kisah lama Lelaki Hujan. Jadinya, cukup dramatis bagaimana aku harus bertarung dengan diriku sendiri untuk pergi ikut perayaan demi permintaan seorang lelaki. Jangan tanya bagaimana situasi persiapanku. Mana hujan deras lagi jadi sempat dilingkupi perasaan ‘pergi-tidak-pergi-tidak’ akhirnya ya tetap pergi juga, walau dengan acara ‘tukar pakaian’ sebelumnya.&lt;br /&gt;Pukul 2 siang lewat, saat hujan mulai reda, aku memutuskan naik ojek. Asyiknya dapat tukang ojek orang Minahasa yang suka ngobrol dan kami membahas tentang Australia dan situasi kerja di sana. Segala macam dibahas oleh kami. Sampai di Jembatan Turis Kwawi, keramaian sangat padat. Tak lupa aku pakai momen ini untuk mengabadikan situasi di sana. Dalam 5 menit saja kuhitung di teluk lalu lalang lebih dari 30 Johnson alias longboat (Di Tanah Papua, Manokwari satu – satunya kota yang menyebut longboat dengan kata ‘Johnson’ merujuk pada merk pertama motor tempel di kota ini.) Kondisi kesehatanku yang baru saja sembuh dari sakit sendi dan juga malaria Tertiana membuatku tak bisa banyak bergerak apalagi yang melibatkan pergerakan sendi turun naik. Terasa sakit dan nyeri tapi kupaksakan pergi. Takutnya tahun depan aku tak berada di Manokwari. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik Johnson dengan keadaan nyeri dan sakit, aku ingin memaki tukang perahu yang perahunya kutumpangi. Ia bahkan tak mengatur perahunya dengan baik agar bisa mengangkut penumpang. Tak ada sistem keamanan bila terbalik dan sangat minim sarana untuk duduk, sedikit berbeda dengan Johnson yang berfungsi sebagai ‘taksi laut’ yang biasa kami naiki. Tiap perayaan 5 Februari seperti ini pun kami harus membayar lebih: Rp. 5.000,-. Padahal biasanya hanya Rp. 3.000,- Singkat cerita, e aku dan penumpang lainnya diturunkan di pinggir pantai yang bertalud dan sialnya talut ini terlalu tinggi. Untung ada adiknya si miss Internet yang membantuku naik talud. Jangan tanya bagaimana rasa nyerinya itu. Hari itu aku hanya mengenakan jins dan kaos oblong bertuliskan ‘I Love Melbourne’ berwarna merah-hitam dan juga mengenakan topi baseball bertuliskan “Canberra …” dan memanggul tas ransel. Tentu saja dengan kacamata Channel KW sekian – sekian HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan foto pun dimulai. Mana susah sekali menghubungi LK, menanyakan posisi. Mungkin 45 menit pertama kuisi dengan berjalan dan dokumentasi gambar. Akhirnya SMS dari LK pun menyebutkan posisinya. Tanpa banyak bicara, aku pun menuju lokasinya. Tiba – tiba seorang lelaki berjaket lengkap dengan hood duduk jongkok, dan terus memandangku. Aku pikir ia lelaki Ambon (muka macam laki – laki Arab – Maluku ka India begitu jadi). Apalagi ia jongkok dan memandang ke arah laut, tak jauh dari rombongan kunjungan wisata Rohani dari pulau Ambon. Koleksi kata makian sudah siap di mulut. Alamak, ia memanggil nama keluargaku. Ternyata ia teman kecilku, sebut saja si Virgo; lelaki Jawa – Sanger yang 2 tahun lebih muda dariku =D Ada catatan lain terkait aku dan Virgo waktu masih kecil dan kupilih pisahkan di catatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guess what? Karna sudah 10 tahun lebih tak ngobrol lama dengan si Virgo, jadinya ya kami ngobrol heboh dan kuajak dia mencari LK. Sh**! Waktu ketemu si LK, LK hanya bisa memandang diam saat melihat aku datang dengan Virgo. Cuek banget! Seakan tidak mengenalku. Akhirnya kuputuskan ngobrol dengan Virgo di depan LK. Mana tahan aku berdiam diri. Jadinya usai lewat 10 menit, kuputuskan mengenalkan LK dan Virgo. Tapi sialnya, si LK ogah menyebutkan namanya dan langsung menarik diri ke kursi belakang dan hanya mengawasiku bicara dengan Virgo. Entahlah, sore itu aku dan Virgo duduk berdua di bangku kayu yang menghadap pantai di depan teras sebuah rumah, sedang LK di teras belakang kami. Entahlah apa yang dipikirkan LK. Aku juga bingung, ia semalam bilang ia kangen berat segala macam tapi saat aku datang bersama Virgo, ia malah cuek. Mungkin masalah harga diri ya. Padahal aku sudah jengkel sejak di Kwawi karna semalam prosedurnya ia dan aku akan bersama – sama dari Kwawi. Ternyata sedari pagi ia sudah tiba duluan di pulau dan bilang aku datang. Sh**!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karna tidak ada respon mengobrol dari LK, Virgo dan aku mengobrol cukup lama, tentu saja sambil duduk di tempat yang benar – benar ‘menjual’ muka. Karena kelamaan menunggu respon, Virgo mengajakku pergi mencari kopi. Menerobos hujan, kami pergi. Sayangnya, usai ngopi dan menunggu redanya hujan, dengan niat baik, aku dan Virgo kembali. Tentu saja dengan membawa kopi untuk LK. Damn, si LK sudah pulang. Tanpa pemberitahuan pula. Padahal kopi sudah kami bawa, mana kopinya Virgo yang bayarin lagi. Hati t** skali lah. Kukirim SMS pun tak ada respon. Jadinya Virgo mengajakku pergi ke rumah temannya, masih kerabat ipar perempuannya plus juga rumah dari ipar perempuanku (istri seorang sepupu). Menunggu redanya hujan dan redanya gelombang. Tadi saat ngobrol ada Johnson yang terbalik karena ramainya lalu lintas di teluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, usai hujan reda, aku dan Virgo malah pergi mencari kakak lelakinya di ujung pulau. Katanya mereka datang. Tapi karna tak ada, kami malah nongkrong hampir 2 jam di rumah kepala kampung; tepatnya teras belakang rumah. Menikmati senja. Bercerita tentang banyak hal. Dari kerjaannya hingga pengalaman kuliahku di Australia. Mungkin karena sewaktu kecil akrab jadinya ya bercerita tanpa beban dan tanpa jaga sikap; jadi diri sendiri ka ini. Pastinya saat ngobrol itu si LK mengirimkan pesan tentang alasan ia pulang lebih awal. Lucunya ia bilang kalau ia ingin pergi karaoke untuk menghibur diri. Saat kutanya alasan ia mulai stress lagi, ia tak menjawabnya. Ia juga malah pergi ke Chel dan cerita kalau aku piknik ke pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, malam itu seusai pulang, Virgo tak enak hati pada LK. Jadinya ia tanya apa si LK cemburu atau tidak. Respon LK malam itu yang membuat aku naik darah dan langsung mengeluarkan semua uneg – uneg di hati. Malam itu semua emosi keluar, sampai menangis Bombay saat mengetikan SMS yang banyak itu. Benar – benar campuran antara marah, kecewa dan sedih. Benar – benar momen seperti yang pernah kualami dengan Lelaki Hujan dulu membayang di depan mata kembali. Semua luka rasa sakit yang terbuka, terkupas dan disiram cuka. You can’t tell me!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya, malam itu juga, aku jujur dengan perasaanku untuk tidak lagi mempercayai lelaki ataupun berkorban bagi lelaki. It’s enough! Tak akan ada lagi kesempatan untuk LK. Aku akan tetap peduli TAPI sebatas teman. TITIK!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini kisah singkat hari ini. Karena sejak tanggal itu, 3 hari terakhir aku memilih untuk membajak Virgo untuk menemaniku. Termasuk pergi ke rumahnya Chel. Chel bilang sih pandangan Virgo gugup mati saat harus berfoto denganku di pantai, dan ia kikuk banget. Mana mungkin si muka kejahatan ini bisa gugup kala bersamaku. Ia kan dulu my FRENEMY alias friend-enemy HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah selalu saja ada guardian angel yang dikirim untukku kala harus berada pada tahap tak jelas dengan urusan Lelaki Kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap saja it’s my payback time! *walau mematikan kansku mencari pacar =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 080212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-7801807301380402240?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/7801807301380402240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=7801807301380402240' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7801807301380402240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7801807301380402240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/lelaki-kopi-vs-my-new-guardian-angel.html' title='Lelaki Kopi Vs my new Guardian Angel'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-3609555660540761479</id><published>2012-02-04T20:45:00.000+10:00</published><updated>2012-02-04T20:46:43.888+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='urban legend'/><title type='text'>Kisah Lepas Urban Legend Manokwari 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini anggap saja kisah lepas lainnya yang sempat saya tuliskan. Kejadiannya ada yang telah lama, sudah beberapa tahun silam, ada pula yang baru terjadi dalam kurun waktu 2 bulan terakhir dan bahkan ada yang dalam dua minggu terakhir ataupun baru beberapa hari lewat. Hanya yang sempat terekam dan diceritakan serta dialami oleh beberapa teman dekat, kerabat maupun temannya teman dekat. Boleh dipercaya ataupun tidak. Anggap saja kisah lepas dari Manokwari. Tempat kejadiannya pun beragam mulai dari Borarsi, Fanindi, hingga Amban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan saya hanya bermasuk mencatat apa yang dibagikan oleh orang – orang yang mengalami. Tak ada maksud untuk menakuti karena walau saya kadang juga penakut untuk urusan beginian tapi saya tahu bahwa kalau kita tidak takut maka tak akan ada penampakan apapun yang mengganggu kita. Walaupun ya saya kadang – kadang merasakan ataupun secara insidental kadang melihat =D Yang penting tingkatkan kehidupan spiritual. Bahkan saya ingin bila ada yang punya akses, bisa tolong menganjurkan pada para pendoa keliling yang banyak di Manokwari untuk juga berdoa di beberapa tempat ini. Karena percaya tidak percaya, kadang ‘penampakan yang salah waktu’ bisa menjadi penyebab kecelakaan karena pengendara yang kaget ataupun takut. Ini hanya catatan lepas. Saya jamin fresh from tungku. Baca suda!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SOSOK HITAM PENUNGGU TUGU MAMBRUK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konon di tugu mambruk depan KLK Borarsi atau juga yang depan hotel Beringin itu ada penunggunya. Menurut Harry, teman yang tinggal di seputaran Borarsi sana, para orang tua Papua di dekat sana melarang anak kecil mereka bermain di dalam areal tugu ini. Konon, beberapa tahun silam ada pasangan muda – mudi yang pacaran di sana, dan entah bagaimana, tiba – tiba si perempuan ‘menghilang’. Juga paling sering anak kecil hilang di sana. Dahulu katanya ada lobang sejenis gua yang terhubung ke arah pantai. Karena seringnya anak – anak kecil terperosok ke sana, akhirnya lubang itu ditutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, itu versi yang Harry dengar dari teman – temannya. Tapi penuturan VM (30an tahun) rekan sekerja sahabat saya di sebuah dinas pemerintah cukup menjadi sebuah pelajaran berharga untuk menguatkan pendapat Harry dan menjadi sebuah benang merah dari beberapa kejadian lain yang dialami oleh beberapa teman lain di seputaran area Borarsi hingga pelabuhan. Sekitar bulan November lalu, sekitar pukul 3 atau 4 pagi, si VM yang tinggal di asrama Pelayaran Borarsi dan seorang temannya (kebetulan ternyata anak kompleks saya di Fanindi ST) pulang dari ‘acara goyang’ atau kewa dan dalam keadaan mabuk. Mereka berjalan dari arah Borobudur OPSI, pas di dekat areal belakang tembok STO Telkom menuju rumahnya. Saat itu, dari kejauhan si VM mulai merasakan aroma bulu kuduknya berdiri dan badan terasa berat, di saat yang sama, dari arah taman Mambruk, keluarlah satu sosok berbentuk manusia tetapi berwarna hitam dan tinggi sekitar 3 -  4 meter dan berjalan perlahan menuju mereka. Mungkin berniat menghalangi VM dan kawannya. Kalang kabut tak tahu harus bagaimana, si VM berpura – pura marah pada temannya agar kedengaran ribut dan berpura – pura bahwa akan ada teman mereka yang datang dari arah rumahnya. Tapi si sosok hitam itu tetap berjalan perlahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hilang akal, si VM pun langsung sadar berat dan mulai menyebut nama Tuhan minta pertolongan. Kebetulan si VM beragama Kristen. Ia terus berdoa dengan keras walaupun terasa sangat ketakutan. Pengaruh mabuk langsung hilang karena ia ketakutan berat. Untunglah, tak berapa lama, tiba – tiba bayangan itu tiba – tiba masuk kembali ke arah taman dan menghilang, apalagi di ujung jalan, munculah dua ibu Papua yang jalan pagi jam 4 pagi. Si VM cuma bisa bersyukur pada Tuhan. Tapi karena bayang sosok itu masih kental dalam ingatannya, ia langsung pergi ke pelabuhan untuk berenang pagi. Ada kepercayaan lokal di Manokwari kalau ‘mandi air garam’ bisa menghapus segala macam ‘bayangan’ tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NENE TERBANG &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lokasi penampakan nenek terbang ini di lorong jalan samping Masjid Borarsi menuju jalan Jend. Sudirman. Ini kejadian yang dialami oleh kakak sahabat saya, sebut saja namanya OR (32 tahun), anak Fanindi ST. Kejadiannya sekitar 2 tahun lalu pada ‘jam – jam kecil’ alias sekitar antara pukul 1 – 2 pagi. Ceritanya ia dan sepupunya yang anak Bengkel Tan pulang minum dari arah pelabuhan. Dengan berkendara motor usai pesta miras mereka berniat untuk pulang dengan lewat lorong itu. Daerah kota lama Manokwari punya banyak jalan pararel jadi banyak lorong pendek. Nah sialnya, saat mereka baru masuk lorong, baru saja melewati samping Masjid, tiba – tiba dari depan mereka berdiri nenek berambut putih panjang awut – awutan di tengah jalan. Seperti nenek orang Papua. Si nenek tak hanya berdiri kala mereka semakin dekat, si nenek malah terbang menuju mereka di atas motor seakan hendak memeluk mereka. Alamak, mana mereka sempat melihat bahwa sisi nenek tak punya mata dan hanya punya rongga kosong. Yang ada, mereka ‘tindis gas’ sekuat tenaga sambil menunduk. Tak peduli mau celaka yang penting kabur. Alhasil, mereka berhasil kabur tapi dengan luka di sekujur tubuh karena  terkikis trotoar. Yang pasti, mabuk hilang sungguh mati trauma lewat jalan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman – teman jadi penasaran dengan lorong ini akhirnya hehehe. Apalagi di lorong yang sama, beberapa tahun lalu pernah ada anak SMA yang mati tabrakan di lorong ini karena menabrak tiang listrik. Jangan – jangan karena ulah penampakan si nenek yang salah tempat. Who knows ya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENAMPAKAN KEPALA DALAM AIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi di dermaga pelabuhan Manokwari. Sialnya, dialami oleh si VM (yang mengalami kejadian penampakan di tugu Mambruk). Kejadiannya baru beberapa minggu lalu. Si VM dan teman – temannya sesama anak Borarsi sangat suka memancing malam di dermaga. Pada suatu malam, saat sedang asyik memancing pukul 1 pagi. Tiba – tiba dari arah bawah dermaga terdengar bunyi ‘puk – pak’ besar berulang kali. Seperti bunyi kibasan dalam air. Padahal hari itu laut tenang dan tidak berombak. Karena penasaran dengan bunyi berulang kali. VM dan teman – temannya pun merogoh senter besar dan bergerak menuju arah bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guess what? Kesimpulan akhirnya mereka semua kabur pulang, tergesa – gesa melarikan barang bawaan dan berlari meninggalkan nelon mancingnya. Yang mereka lihat kala membidikan senter ke arah bawah dermaga adalah sesosok kepala manusia (berdiri seleher) yang timbul dari dalam air dan menatap ke atas. Sedang dibawah kepala itu, saat menyenter ke bawah mereka tak bisa melihat jelas karena yang kelihatan seperti ada sesuatu yang bergerak terus mengibaskan sesuatu. Asumsi mereka itu ‘ekor’. Tapi karena ketakutan, mereka memilih kabur apalagi kepala itu cukup menakutkan. Tak ada waktu untuk ‘rasa penasaran’ HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEREMPUAN PERUBAH BENTUK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TKPnya di lorong lapangan Borarsi yang menghubungkan antara kantor PLN dan jalan protokol. Lorong di situ memang sempit dan cukup gelap karena tak ada penerangan kalau malam. TKPnya di lorong yang lebih dekat ke arah jalan protokol. Kejadian ini terjadi beberapa hari lalu dan dialami oleh dua anak remaja perempuan Papua yang tinggal di Anggrem. Kebetulan mereka ini adalah pemudi gereja asuhan teman saya yang suaminya pendeta sebuah gereja lokal dan mereka minta didoakan untuk hal ini. Saat ini pun masih jadi ‘target doa’ keluarga teman saya. Anyway, jadinya ya saya kebagian cerita =) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya sih, beberapa malam lalu, kedua remaja ini berboncengan pulang dari bermain di rumah keluarga mereka dan harus pulang ke rumah mereka pukul 12 malam lewat. Yang mengendara motor Matic (Scoopy), sebut saja Melati ini, belum terlalu lincah ‘bawa’ motor jadinya ya jalannya perlahan. So, saat mereka baru saja berbelok dari jalan protokol ingin mencari jalan pintas lewat lorong ke arah jalan bawah Borarsi. Dengan sorot lampu dekat, dan bunyi motor mereka melewati lorong. Apa yang terjadi saudara – saudara, saya yakin saya juga ogah mengalami hal yang sama. Tampaknya ini acara ‘gedap’ tapi yang lagi kena tangkap basah bukan pelaku pencurian tapi sejenis ‘shape-shifter’*meminjam istilah serial Supranatural. Istilah keren di Papua ya tetap SUANGGI too HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, saat lampu motor di jalan lorong selebar 2 meter itu menimpa sesuatu yang lagi menyandar di tembok, si Bunga dan temannya kayak kehilangan akal. Mereka melihat sesosok perempuan yang sedang berbalik badan memunggungi mereka dan seperti sedang berganti wujud, jadi ia masih berwujud perempuan, tetapi bagian belakang tubuhnya seperti berubah. Rambutnya mulai keluar dan seperti rambut binatang dan panjang bergimbal tak terurus. Sedang badannya seperti setengah binatang. Tiba –tiba ia berbalik menatap si Bunga dan temannya. Kata si Bunga, wajah ‘perempuan’ itu bukan lagi asli manusia dan matanya sangat menakutkan dan ia memandang kaget pada Bunga dan sorot lampu yang kena tubuhnya. Jangan tanya bagaimana si Bunga dan temannya ngebut kabut. Ini motor matik saudara – saudara, yang ada tancap gas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMINTA JANIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi di Amban – Anggori dan baru dialami oleh si OR, kakak sahabat saya beberapa hari lalu (minggu terakhir Januari). Kayaknya ia memang punya bad luck bertemu penampakan terus. Kejadiannya saat jam 11.30 malam, ia mengajak pacarnya untuk menemaninya ke rumahnya di Anggori untuk menyalakan lampu dan kemudian ia akan balik ke rumah orang tuanya. OR memang bekerja sebagai teknisi lapangan sebuah operator telpon selular jadi pulangnya selalu larut malam. Hanya sudah hampir sebulan ia memilih tak menginap di rumahnya di ujung Anggori karena masalah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, OR ditemani pacarnya yang sebut saja Bunga. Si Bunga malam itu bercelana pendek dengan rambut terurai, tanpa pakai helm. Karena rumah si OR di Anggori, jadinya mereka wajib melewati jalan  depan pohon Beringin Peternakan depan kampus UNIPA (salah satu areal angker kampus setahu saya karena banyak kejadian aneh yang pernah dialami di sini). Pohon ini sangat besar dan tua dan sudah ada jauh sebelum pendirian kampus di tahun 1960an. Saat itu, di jalan turunan sebelum A1 ataupun TPA Dendrobium, tubuh si Bunga mendadak dingin dan terasa berat. Bahkan tangannya pun dirasakan OR sangat dingin. Tak berapa lama, di tiap jalan gelap yang tak ada lampu, ada suara yang berbisik jelas di telinga OR dan Bunga berulang kali “minta janin, minta janin, minta janin. Saya minta janin.” Mereka pun ketakutan dan memacu motor lebih cepat. Tapi suara itu tetap ada. Alamak, karena masih ketakutan, mereka memilih berhenti sebentar di kios yang lampu depannya terang di Anggori situ. Suara itu pun menghilang. Jadinya mereka melanjutkan ke rumah di ujung Anggori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali, di tempat jalan yang gelap, suara itu pun mulai kumat lagi. Berbisik berulang kali di telinga mereka dengan permintaan yang sama “minta janin, minta janin, minta janin. Saya minta janin.” Badan si Bunga pun semakin dingin. Sampai turun di Reremi dan Bunga diantar pulang di kosnya, badannya malah semakin dingin dan mereka masih mendengar suara itu berbisik di telinga mereka. Karena OR sudah menganggap hal ini keterlaluan, ia pun meminta mereka berdoa. Guess what? Karena si OR beragama Kristen pastilah pakai nama Yesus di doanya. Belum 3 menit berdoa dan mengusir ‘barang halus’ ini, badan bunga kembali hangat dan normal seperti biasa. Berdoa memang sangat ampuh mengusir ‘barang halus’ seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENAMPAKAN DI KLERESIDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini baru dialami oleh OR 2 hari lalu. Kejadiannya di dekat SMA 1, tepatnya di rimbunan pohon Kleresida atau yang biasa disebut ‘pohon kutu busuk’ di bagian atas SMK 3 Manokwari. Nama resminya sih jalan Ekonomi  Reremi. Penampakan kali ini anggap saja insidental. Kebetulan tetangga depan jalan rumahnya OR memang baru saja meninggal saat melahirkan dan si almarhumah dan bayinya baru dikubur 2 hari lalu di samping rumah. Jadi rumah duka dan rumah OR berada di ujung jalan ini, sedangkan deretan pohon Kleresida di ujung jalan yang lain. Jadi, jarak dari Kleresida yang tumbuh di pinggir jalan ini hanya 1 menit naik motor dari rumahnya si OR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, si OR pulang dari mess karyawan jam 12 malam dua hari lalu. Ia berniat untuk tidur di rumah orang tuanya. Jadi dari Sanggeng, ia mengendarai motor lewat jalan samping SMA 1 dan tiba di perempatan SMA 1. Alamak, dari jauh, di rumpun Kleresida yang hanya 5 meter dari persimpangan, berdirilah sesosok gelap perempuan yang menggendong anak kecil. Si OR langsung putar motor kembali ke mess karena bulu kuduknya meremang dan tiba – tiba kepalanya terasa besar dan berat. Jalan itu hanya selebar 3 meter dan pengendara motor cenderung melewati sisi Kleresida karena kondisi jalannya lebih baik. Anyway, tadi pagi adik OR baru saja mengirimkan saya SMS yang isinya bahwa anak kompleks jalan atas itu sigap memangkas deretan pohon Kleresida rimbun itu dan membersihkan tanaman tali temali. Hanya khusus untuk pohon yang menjadi TKP (tempat kejadian penampakan). Mungkin tak hanya OR saja yang melihat ‘penampakan’ HAHAHA. Lebih baik mencegah kan lebih baik hehehe.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SIMPULAN ‘n TIPS LEPAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apapun kisah yang saya bagikan di sini, bagi saya itu adalah sebuah bagian dari budaya. Entah dianggap mitos ataupun kisah pengantar tidur, saya tak mempengaruhi anda untuk percaya. Saya sendiri memilih mengaminkan cerita ini karena beberapa tahun lalu saya sering kali juga berurusan dengan para ‘makhluk tak cantik ini’ *abis dulu selalu lihat yang jelek. NAMUN, yang ingin saya tekankan adalah bahwa apapun penampakan mereka, apapun yang hendak mereka buat, yang saya percaya dan tahu, PENAMPAKAN dan saudara – saudaranya ini TAK BERKUASA dan mengontrol ataupun berhak atas hidup saya. Karena saya percaya mereka selalu tak berkutik kala doa – doa minta pertolongan pada Tuhan keluar, ataupun kala kita MENGAKUI  bahwa hanya Tuhan yang punya kuasa atas hidup kita dan berkuasa untuk kalahkan si penampakan ini. Jadi, tips simpel dan paling UTAMA yang saya anjurkan sih ya BERDOAlah minta perlindungan pada Tuhan kemana saja anda pergi dan dimana saja anda berada. Lebih mudah dan gampang daripada harus bayar mahal ke ‘dukun’ apalagi sampai menyewa ‘bodyguard’ HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga tips lain yang mau dipercaya boleh, tidak juga no worries. Ini terkait dengan ‘barang halus; ataupun penampakan. Hanya kepercayaan lepas yang saya tahu dan dirangkum dari berbagai sumber. Saya tak berani bilang bahwa ini semuanya murni kepercayaan lokal Papua karena saya dibesarkan dengan nilai budaya yang bercampur (Jawa, Sunda, Papua n Maluku).  Meskipun demikian,  saya tetap menganjurkan yang tips utama: BERDOA pada Tuhan. Tapi kalau sekedar ingin berbagi sih, ya ini tipsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Bila bepergian, bawa saja kapur makan pinang dan oleskan tipis di belakang kedua telinga, dan di kedua siku dan mata kaki. Kalau tak mau kelihatan memakai ini, larutkan sedikit air dengan bubuk kapur dan oleskan di tempat yang sama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Setiap sore, apalagi bila merasa ada penampakan di rumah atau perasaan tidak enak, apalagi kalau anda cukup sensitif untuk ‘mendeteksi’ kehadiran ‘barang halus’. Jadi, bakarlah kulit kupasan bawang ataupun akar bawang (bisa dari sisa kupasan bumbu dapur ataupun minta di pasar tradisional) paling bagus campur dengan sedikit garam, letakan dalam wadah yang mudah dipakai berkeliling (dahulu kami di rumah biasanya meletakkannya di dalam kuali bekas) dan bawa asapnya berputar di dalam rumah ataupun mengelilingi rumah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Kadang untuk ibu hamil, biasanya di luar jendela kamar si ibu hamil, ditaburkan garam membentuk garis tipis. Tips ini juga efektif untuk mengusir ular dan keong =D . Trus kemana pun si ibu hamil pergi, bawalah gunting dan juga peniti bertusukan bawang merah yang disematkan di bagian dalam pakaian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4. Ini agak berbau Okultisme HEHEHE. Kalau masuk ke suatu daerah baru, entah hutan ataupun lokasi baru. Permisilah pada yang ‘punya’ tempat. Sewaktu kecil, biasanya mama dan saudara – saudara saat mengajak pertama kali ke hutan atau hak ulayat sukunya, pasti mereka meludah ke tanah ataupun mengambil tanah dan diludah kemudian dioleskan di dahi (testa) sebagai penanda dan berbicara seperti, “Permisi, tong (sebutkan nama dan garis keturunan suku termasuk sebutkan nama nenek moyang segala macam) ada bawa tong pu anak/sodara yang nama (sebutkan sa pu nama) ke sini. Ini pertama kali de kesini. De mo lihat – lihat saja dan tidak maksud merusak. Jadi tong permisi bawa dia eee masuk.” Setiap pulang pun, pasti mama dan saudara – saudaranya harus juga memangil nama masing – masing untuk pulang, termasuk saya pun harus melakukannya. Ya seperti “May, mari pulang.” Mereka percaya bila tak dilakukan, maka ‘jiwa’ ka ‘roh’ itu akan tinggal di sana dan ‘kebingungan’ pulang dan akan mempengaruhi.  Mungkin juga benarnya ya, karena pulang dari OZ saya tidak mau melakukan ritual ini, jadinya ya memang masih kepikiran ingin balik lagi  ke sana someday HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya cara paling simpel dan aman adalah pake nama Tuhanlah. Ottow dan Geissler pu cara too. “Dengan nama Tuhan, kami menginjak tanah ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cara sepupu – sepupu saya yang Sunda Cirebon sana, mereka saat datang ke Papua pertama kali, mereka masing – masing bawa bubuk abu tungku rumah mereka di kampung PLUS juga segenggam tanah dari kampung. Trus pas datang ya sudah mereka cuma mencampurnya dengan abu tungku di rumah saya PLUS juga menggali lubang di depan rumah dan mencampur tanah yang mereka bawa. Entah ada bacaannya atau tidak HEHEHE. Have no idea. Yang saya tahu sih esensinya adalah mereka ingin menyatu dengan tempat baru dimana mereka berada dan berharap tak ada masalah. Semacam masa induksi =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, semua ini hanya catatan lepas. Namanya saja saya pengangguran banyak acara yang hobinya menulis. Apa lagi yang bisa saya tulis selain kisah – kisah kecil yang saya dengar tiap hari. Hanya sebuah penggalan hidup. Kebenarannya biarlah anda yang menentukan. Toh manusia selalu cenderung mempercayai apa yang mereka mau percayai. Yang pasti, di Manokwari, ada kepercayaan dan kisah – kisah lepas yang terjadi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 040212; kayaknya saya memang harusnya kuliah di UGT deh HAHAHA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-3609555660540761479?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/3609555660540761479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=3609555660540761479' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3609555660540761479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3609555660540761479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/kisah-lepas-urban-legend-manokwari-1.html' title='Kisah Lepas Urban Legend Manokwari 1'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8370142956631831370</id><published>2012-02-04T20:43:00.000+10:00</published><updated>2012-02-04T20:44:26.733+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Mending Pesimis Saja</title><content type='html'>Hari ini saya baru saja selesai memposting beberapa tulisan dan juga mengirim 10 Cerpen terbaik untuk dilombakan dalam kompetisi menulis Makassar Writing Competition. Hari ini batas tenggat waktu. Saya tak berharap menang, hanya ingin menantang diri sendiri agar tidak menyesal di kemudian hari karena tidak menantang diri. Saya memang mengadopsi paham “optimis sebelum tes dan jadilah pesimis seusai tes jadi bila tak dapat, ya tak akan kecewa berat.” Berhenti berambisi saja! mungkin ungkapan yang tepat untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, seorang teman kuli tinta di Jayapura yang sedang dikejar deadline dengan santainya berkomentar lewat SMSnya terkait wawancara kemarin bahwa saya harus optimis. Saya setuju dengan pendapatnya TAPI selalu lebih aman bila menantikan hasil wawancara dengan pesimis, bukan? HEHEHE Kalau dapat disyukuri, kalo gagal? Ya sudahlah. Setidaknya pernah mencoba. Pemikiran ini menyeruak keluar usai mendapati bahwa kandidat yang mendaftar di posisi yang saya lamar di atas kertas sangat WOW! Bahkan bocoran dari teman kalo saingannya berat – berat semua. Kebanyakan malah perempuan, cuma tak tahu apakah orang Papua atau bukan. Ada yang sudah beberapa tahun bekerja di bagian media dan pendidikan LSM internasional urusan konservasi di wilayah Kepala Burung Papua. Ada yang lulusan masternya di bidang jurnalistik dari New Zealand dan saat ini sedang tinggal di Yogya. Ada yang lebih hebat lagi, sudah bekerja malang melintang di 7 LSM Internasional. Cckcckckckkc. Ya macamnya saya langsung berada seperti di posisi semacam waktu dulu training di Jakarta ataupun semasa di ANU, Canberra dulu; menjadi orang ‘tergoblok’ di antara para orang pintar HAHAHAHAHA. Tapi setidaknya sisi positifnya adalah “saya berada di antara para orang ‘hebat’ dan tidak menjadi yang terpintar di antara para orang bodoh” *menghibur diri HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, catatan ini hanya catatan lepas tentang rasa pesimis Vs Optimis saya. Seperti yang saya bilang juga kepada si interviewer dalam wawancara saya 3 hari lalu, “Apapun hasilnya, entah saya keterima atau tidak, saya tetap akan bersuara lewat tulisan dan melakukan self-campaign saya tentang alam Papua karena ini ‘rumah’ saya. Karna ini yang harus saya lakukan.” Entahlah, mungkin kedengaran ‘bagaimana getho’, tapi saya percaya bahwa saya dilahirkan untuk menulis dan menulis untuk Papua adalah panggilan hidup saya. Jadi penerjemah, peneliti bahasa dan mengajar serta survey dan pekerjaan lain serta bisnis lulur kopi saya hanyalah sebuah cara mencari uang demi mendanai panggilan hidup saya: menulis. Ini pilihan hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, saya tidak terlalu berminat menjadi wartawan karena mungkin saya merasa tidak terlalu konek dengan penulisan straight news dan reportase. Saya lebih menyukai feature dan artikel tapi sayangnya tak banyak koran lokal yang mau menampilkan tipe tulisan seperti ini. Makanya, saya lebih memilih menjadi kontributur lepas artikel sosial budaya di tabloid lokal dan saat ini sedang berusaha memperbaiki kualitas tulisan saya dan ingin sekali dalam hidup saya, ada satu saja tulisan saya yang bisa muncul di sebuah majalah saku yang saya baca sejak masih TK: INTISARI. Saya dibesarkan dengan majalah ini dan pengetahuan saya berhutang banyak pada majalah saku ini. Sangat membentuk cara saya menulis. Itu yang bisa saya katakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada beberapa majalah dimana sangat membentuk saya yang sekarang ini: Intisari, Bobo, dan Gadis. Beberapa tahun lalu saya suka pada ‘Chic’ tapi entahlah, sekarang saya jarang melihatnya dan beralih pada ‘Cosmopolitan’. Tetapi sewaktu kecil, saya membaca beragam bacaan khususnya majalah mulai dari majalah baru hingga yang bekas. Bahkan gilanya, masa SD kelas 5 pun saya sudah membaca majalah Kartini dan Femina; majalah bekas orang elit di kompleks rumah sewaan depan rumah yang mereka hibahkan pada keluarga teman saya. Kebetulan sepupu teman dekat saya bekerja sebagai tukang cuci pakaian di sana jadinya ya ia selalu membawa pulang banyak majalah bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu SD, teman main saya rata – rata hanya anak – anak dari keluarga miskin dan paling tinggi ya anak mantri ataupun guru. Tak ada yang spektakuler. Tapi mereka adalah orang – orang hebat yang memberi saya banyak pengetahuan tentang kearifan lokal Papua. Salah satu teman saya, sebut saja Amidah, seorang Muslim Papua asal Kokas, sewaktu kecil adalah salah satu ‘pemasok pengetahuan’ bagi saya. Walaupun bapaknya hanya bekerja sebagai anggota ‘pasukan kuning’ alias pekerja truk sampah dan tinggalnya di pinggir tebing kali dengan dinding pondok dari seng bekas dan kayu peti kemas dan hidupnya bergantung pada kebersihan kali, dialah salah seorang pemasok informasi tentang alam Papua. Tak pelit berbagi pengetahuan orang Papua karena bagaimanapun saya tidak ‘asli Papua’ sehingga punya keterbatasan informasi. Anyway, hingga sekarang hubungan kami masih baik walau saya belum banyak membantu dia selama ini, palingan hanya membantu membeli beberapa pak buku tulis untuk anak perempuannya maupun membayar setengah uang pendaftaran anaknya di SMP tahun lalu ataupun kadang – kadang ya kalau ada duit lebih, berkunjung ke rumahnya dan memberi uang jajan pada anak – anaknya. Ia mengajarkan saya banyak hal tentang ‘bertahan hidup’ dan mensyukuri hidup lewat kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena dari kecil saya hanya bermain bersama anak – anak yang kerap dianggap ‘pecundang’,  terbiasa dengan kemiskinan serta tak dibiasakan dengan kemewahan dan juga kami selalu menjadikan alam khususnya hutan sebagai taman bermain, jadilah saya yang sekarang. Saya bukan orang yang optimis sejak kecil. Hanya pemimpi yang punya rasa pesimis, yang berharap setidaknya kami bisa bermain besok hari, masih bisa makan dan masih sehat. Tak banyak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Dasar saya di masa itu hanyalah sebuah sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) yang berafiliasi dengan denominasi gereja lokal. Sekolah yang sangat biasa pada masa itu, kalau tak mau dibilang ‘jelek’ HEHEHE. Lantainya pun semennya banyak yang pecah dan kursi – kursi tua. Belum lagi jendelanya dan lain – lain. *mungkin karna beginilah saya suka pada bukunya Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’: memotret rasanya jadi murid sekolah ‘underdog’. Mayoritas muridnya adalah orang Papua dan berasal dari kalangan marjinal; anak – anak kecil yang tinggal di Fanindi Pantai, Padarni, Brawijaya, Fanindi dan juga Wirsi - Arkuki. Bisa dihitung dengan jari siapa murid ‘elit’ di sekolah kami. Walau yang dimaksud elit adalah anak para staf Pemda, ya semisal anak kepala bagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 6 tahun sekolah saya, seantero sekolah hanya 3 anak yang orang tuanya punya mobil. Lain dari itu, motor saja sudah syukur =) Bapak saya sendiri gemar berganti tukar tambah motor bekas. Saya ingat betul rupa motor bekas yang dibeli bapak, malah ada tambalan banyak sabun mandi bekas warna – warni di dekat tangki bensinnya dan kerap bocor. TAPI, saya suka motor ini karna ini ‘tunggangan’ pertama kali hingga tak ayal saya sampai dijuluki ‘panta bensin’ oleh dua saudara laki – laki karena saya selalu jadi the only kid yang pergi kemana saja dengan bapak saat itu. Iyalah karena selama 9 tahun umur pertama saya, saya satu – satunya anak perempuan di rumah saya dan yang paling fislem sungguh mati HAHAHA. Singkat cerita, saya tetap tidak masuk golongan elit di sekolah walaupun kedua orangtua saya digaji negara =). Salah satu indikator ‘elit’ tidaknya di sekolah adalah pengalaman berangkat dan liburan dengan kapal dan pesawat. Lha wong saat itu, mimpi ‘bajalan; jauh dari mimpi terliar pun di kepala. Makan saja susah apalagi ‘buang duit bajalan’ HAHAHA.*ini juga yang bikin saya suka travelling a la backpacker, untuk memuaskan mimpi masa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa pesimis saya memang saya pupuk sejak kecil. Selalu jadi ‘the underdog’ urusan ekonomi dan segala macam ‘yang gaul – gaul’ getho.  Masa SMP dan SMA saya tidak terlalu berkesan bagi saya. Ya berteman tapi tak seintens semasa SD, walau mendapat beberapa sahabat dekat. Kalau di SD saya masuk sekolah yayasan, kalau SMP saya malah masuk sekolah unggulan dan tak pernah keluar dari kelas inti dan selalu masuk 10 besar dengan karir pendidikan yang ‘naik’ dan saya beryukur akhirnya saat tamat sekolah pun, saya bisa keluar dengan NEM tertinggi se-kabupaten. Mana persaingan di kelas saya benar – benar keras dan mayoritas teman sekelas adalah kalangan ‘The Have’ di Manokwari. Mulai dari anak pejabat, anak Syahbandar, kepala RRI, anak Kapolres, staf PU, keuangan dan segala macam jabatan orang tua. Kadang jadi minder juga makanya teman akrab saya sekelas pun yang dari kalangan ‘underdog’ semua. Anak – anak PNS golongan rendah ataupun swasta biasa.TAPI, sisi positifnya adalah dari 55 anak sekelas itu, hanya saya yang sampai saat ini bisa tamat Master dari Universitas bergengsi di luar negeri. Plus si Miss Gaul yang baru akan pergi ke Amerika tahun ini untuk Masternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya banyak hal yang membuat saya memilih jadi orang pesimis usai tes karena entahlah, hanya semacam mekanisme pembelaan diri. Jadi kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ya tidak terlalu kecewa dan cepat bangkit lagi untuk mencoba yang lain =) Bukankah dengan tidak terlalu berharap dan menjalani apa yang ada lebih ringan, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya punya waktu seminggu untuk menetralkan emosi saya dan juga menguatkan hati apabila gagal untuk ‘dream job’ saya ini. Walaupun saya tahu, apapun hasilnya nanti, saya akan tetap bersuara, menulis dan self-campaign tentang alam Papua dengan cara yang saya bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terasa lebih mudah bila yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan ataupun yang kita butuhkan adalah yang kita inginkan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 040212; pada sebuah subuh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8370142956631831370?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8370142956631831370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8370142956631831370' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8370142956631831370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8370142956631831370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/mending-pesimis-saja.html' title='Mending Pesimis Saja'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2620777903272800258</id><published>2012-02-04T20:27:00.000+10:00</published><updated>2012-02-04T20:34:29.356+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Turning Back</title><content type='html'>Hampir sebulan ini, saya tahu saya berdosa banyak pada Yesus. Sangat banyak berdosa. Selama sebulan yang telah lewat saya memilih membiarkan diri saya menyimpan amarah, dendam dan entahlah … semua emosi negatif. Saya membiarkan bagaimana sisi gelap saya yang berhasil saya tekan bertahun – tahun sejak masa remaja untuk keluar dan menguasai saya. Namun, hari ini saya tahu saya harus kembali menekannya lagi karena membuat saya hanya menyakiti diri saya sendiri PLUS selalu saja saya harus menekannya karena saya tahu saya sedang ditegur lagi sama Yesus. Ya, saya tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu saya sedang ditegur karena ada satu sakit yang hanya akan muncul tiap beberapa bulan saat saya tahu saya sedang bersalah. Saat saya sedang ‘berdosa’ besar pada Tuhan. Saat saya mempertanyakan kekuatan-Nya, kemurahan-Nya dan segala macam kuasa-Nya PLUS juga melakukan larangannya. Saya tahu saya salah. Singkatnya, ada hal – hal yang tidak bisa saya tuliskan secara deskriptif di sini tapi saya tahun Yesus pasti marah dan memang saya merasa kami jauh sebulan terakhir. Hari Minggu kemarin pun baru saya berani pergi ke ibadah hari Minggu dan setelah itu, beberapa hari ini saya baru merasa baikan dan mulai bisa ‘ngobrol’ seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sebulan saya memilih menyimpan dendam dan amarah dalam diri saya. Semua pikiran jahat keluar dengan gampangnya sampai – sampai sahabat perempuan saya; Miss Classic bilang ‘ada yang salah deng ko otak, May.” Semua enegeri negatif ini mengonsumsi saya. Pada satu sisi saya merasa kuat sekali tapi pada sisi lain, saya mulai merasakan bahwa energi negatif ini menguasai saya dan membuat saya berubah menjadi sisi liar saya yang saya sebut ‘Psycho Samatha’ yang ‘gila’ dan ‘psiko’. Saya mulai memikirkan dan merancang segala macam pembunuhan, tips kejahatan dan segala macam hal yang keji serta pembalasan. Saya tahu saya mewarisi DNA dari para leluhur yang memang sedikit ‘haus darah’ TAPI beberapa hari ini The Spirit just told me that seseorang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan banyak orang tetapi yang terpenting bisa mengendalikan dirinya sendiri. Itu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sempat melakukan kesalahan terkait keimanan saya sebagai orang Kristen, walaupun saya memang Kristen Liberal. Dalam kunjungan ke Pantura 5 hari lalu, untuk melepaskan semua energi negatif, saya tahu saya salah, saya duduk di pinggir pantai hak ulayat keluarga mama sambil ngopi dan  memanggil semua nama para moyang dan menyampaikan semua yang di hati. Padahal selalu diingatkan oleh mama bahwa sebaiknya tidak melakukan hal itu. tak boleh bicara dengan mereka atau menyebut nama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, tak ada ritual sebenarnya. Hanya berbicara pada mereka, memperkenalkan diri sebagai turunan ke sekian dari ‘dinasti’ keluarga dan sampaikan semua yang ada di hati. Menyebutkan orang – orang yang menyakiti hati dan bilang saya melepaskan dendam saya pada mereka dan tidak akan menuntut balas tapi saya minta ‘keadilan’ atas kasus ini dan juga kasus yang menimpa keluarga besar saya. Tiap kali bicara, entahlah hari itu saya menyukai pasir dan berkata bila memang saya dan keluarga saya bukan berasal dari tanah ini, dari daerah ini selama bergenerasi, maka tak apalah. Tapi bila kami memang berasal dari tempat ini dan punya ikatan dengan bumi di kota saya, maka saya minta ‘keadilan’. Semacam ‘buang kutuk’ mungkin tepatnya. Tiap kali perkataan itu dilepaskan, secara naluriah, saya pun melepaskan pasir terbawa angin. Tiap kali menyebut nama para moyang dan menyebutkan apa yang menjadi beban, maka saya pun membuang pasir agar tertiup angin dan pergi. Pada sebuah senja, saya bersalah mengharapkan kematian para musuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya baru tahu tentang kematian anggota keluarga seorang ‘target operasi’ yang baru lewat 3 hari dalam keadaan yang menyedihkan. ‘Target’ ini memang saya bidik sejak kejadian malam tahun baru karena aksinya yang ‘menarik saya turun dari motor’ dan saat itu membuat saya refleks melompat dan hampir menghajarnya tapi gagal karena masih ditenangkan dua sahabat saya. Entahlah, saat mendengar berita duka ini, ada rasa bersalah yang muncul. Saya berharap ini hanya kebetulan belaka dan semoga tak ada hubungannya dengan apa yang saya bilang 5 hari lalu di pantai. Saya akan memantau kabar para ‘target’ lainnya. Bila memang kejadiannya terjadi lagi ataupun mereka memang ditimpa celaka 1 bulan ini, maka saya pikir sudah harus ada ‘pemberesan’ dengan para leluhur. Entahlah! Saya hanya terbiasa merasakan para leluhur dan alam ini berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 hari lalu, saya juga bicara pada ‘bumi Manokwari’ dan seperti biasa menyebutkan siapa saya dan semua nama leluhur yang saya tahu dan bilang pada bumi bahwa ia sudah harus melindungi dirinya sendiri di Manokwari karena banyak orang yang menolak mendengarnya dan merusaknya. Entahlah, saya tahu saya bersalah karena memanggil para Moncusu, Kinomu, Monghu, Meski, Amerera, Kinonsa; para roh di alam dan bilang bahwa mereka harus berbuat sesuatu di Manokwari demi alam karena manusia makin merusak alam dan tak ada langkah nyata yang dibuat demi selamatkan alam. Jadi bila mereka mau alam ini hidup maka mereka yang harus bertindak memberi pelajaran pada siapapun yang merusak alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu memang kedengaran gila tapi saya selalu merasa bahwa saya sangat baikan bila berada di alam dan tak pernah punya masalah dengan para roh hutan ataupun di alam walau pernah melihat beberapa ‘tuan tanah’ dalam kunjungan – kunjungan ke pedalaman TAPI tak pernah punya masalah dengan mereka. Biasanya hanya melihat mereka dalam kunjungan dalam ‘mimpi’ ataupun melihat dengan jelas tapi tak perlu dipertanyakan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu, malam ini saya ditegur sama Yesus, sampai diminta untuk membaca Yeheskiel 18 dan membahas tentang sikap orang benar dan tanggungjawab pribadi. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menulis tentang catatan ini, saya ditemani dengan kumpulan nyanyian dari Volume II Mambesak dan ada satu lagu yang saya tahu merupakan lagu pemujaan pada bumi. Saya bisa merasakannya. Sejenis lagu New Age. Saya tahu saya berdosa pada Yesus karena sejak beberapa tahun terakhir saya peka pada musik yang digunakan, walaupun lagunya bernada manis tapi sense-nya saya bisa membedakan mana yang merupakan pemujaan pada bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah panjang keluarga besar yang kelam dan mengikatkan diri dengan alam dan okultisme membuat saya tahu bahwa ikatan itu belum benar – benar hilang. Saya baru resmi menjadi orang Kristen secara pribadi kala SMA kelas 2. Sebelumnya? Entahlah, saya lebih merasa dekat dengan alam dan para roh yang tak bernama, yang menjadi teman cerita saya. Mereka menemani saya dalam masa ‘pencarian’ saya. Tak heran, saya punya masalah komunikasi waktu kecil untuk menyuarakan apa yang ada di kepala saya pada orang lain dan mulai memilih hobi korespondensi sejak kecil. Saya jadi sadar mengapa dalam Alkitab dikatakan bahwa Tuhan itu pencemburu karena memang ada para roh lain tapi entahlah, saya tak ingin membahasnya di sini. Karena bagaimanapun, saya memilih secara pribadi untuk menerima Yesus sebagai ‘Tuhan’ saya dan bukannya yang lain. Walau memang sempat niat berganti kepercayaan di tahun 2008 TETAPI batal usai di hari yang sama, saya bermimpi bertemu ‘Yesus’ dan ditunjukan apa yang terjadi di akhir jaman. Hingga beberapa minggu, saya masih bertemu dengan-Nya dalam mimpi dan menjadi tonggak ia berbicara dengan saya lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya memutuskan kembali pada Yesus. Bercerita kembali. Selama sebulan ini, saya ogah memanggil namanya dalam perkataan saya, ogah bicara padanya. TAPI hari ini, the spirit bilang ia ingin saya menyanyi dan ya begitulah, saya menyanyi beberapa lagu rohani Kristen dan ternyata itu sangat membebaskan jiwa dan beban dilanjutkan dengan membaca pembacaan yang ditentukan the Spirit dan memang isinya benar – benar menegur saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, begitulah. Apa boleh buat, saya sudah mengikatkan diri pada-Nya dan ini hal yang harus saya lakukan, bukan? Mencintai-Nya karena pada akhirnya saya sadar bahwa Ia mengasihi saya dan selalu menjadi seseorang yang selalu peduli pada saya. Seseorang yang selalu ada dalam malam – malam panjang penuh air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu, malam ini saya ingin bilang pada Yesus, “Sorry su bikin Ko tunggu sa lama. Sa su pulang nih. Sa minta maaf karna masih suka nakal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 030212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2620777903272800258?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2620777903272800258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2620777903272800258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2620777903272800258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2620777903272800258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/turning-back.html' title='Turning Back'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2582094092611582620</id><published>2012-02-03T15:21:00.000+10:00</published><updated>2012-02-03T15:23:16.902+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psycho Samantha'/><title type='text'>Psycho Samantha - Mo Beli Kaos, Mas?</title><content type='html'>PERINGATAN KERAS!!!&lt;br /&gt;DILARANG BACA BAGI YANG MASIH DI BAWAH 17 TAHUN, takutnya saya dituntut mencemarkan pikiran dan alam bawah sadar saudara/i. Ini catatan lepas Psycho Samantha lainnya. FYI, Psycho Samantha adalah karakter alter-egonya saya yang sering muncul kalau berada pada tahap hipomania atau terlalu banyak minum kopi. Miss PS ini orangnya memang sedikit kasar, genit, suka ‘bamaki’ dan sedikit ‘psiko’ dan ya memang liberal sungguh mati. Saya lagi senang berpikir a la PS untuk catatan ini. Ya anggap saja karena lagi tak ada kerjaan. Namanya juga pengangguran banyak acara =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kalau si Adityayoga Gardjito dan Rayya serta beberapa temannya sibuk mempromosikan citra Indonesia yang baik lewat kaos bermerk Rep Insula dan bisa diakses lewat gerakan Hiduplahindonesiaraya.com, maka si Psycho Samantha juga tak mau tinggal diam mempromosikan citra Tanah Papua apalagi hometown-nya; Manokwari. Miss PS memang suka banget sama ide si Aditya yang bilang kalau kaus adalah effective Statement yang bisa menyebarkan virus bangga terhadap negaranya. Tapi karena pada dasarnya si miss PS ini rada sedikit ‘error’ jadinya kalau dia bikin ajang promosi tentang nilai – nilai hidupnya apalagi tempat tinggal yang disebutnya rumah, a.k.a. Tanah Papua, ya kemungkinan seperti ini kata – kata di kaos-nya. Memang sih miss PS masih cari teman yang bisa garap desain kaosnya hehehe. Plus rata – rata ide ‘error’ kata ini sudah dipesan oleh seorang teman anak Manokwari yang punya bisnis kaos a.k.a. Dhini Hary Padjala (lihat saja di FBnya pake nama itu). Jadinya ya miss PS berharap jadi brand ambassador kaos merek “KAKARLUCK” (baca: kakarlak) ini HAHAHAHA *berharap mati. Oops ini betulan nama brand kaos. Anyway, Dilarang serangan jantung ya saat baca!!! Namanya saja catatan Psycho Samantha =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.s. kata – katanya kadang cuma sisi depan saja (SD), sisi belakang (SB), ataupun kedua sisi (SD-SB). Kalo tulisannya pendek, ya sebaiknya di depan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAPI, miss PS juga lagi mikir – mikir, bagaimana kalo dibuat stiker juga =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, baca suda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Kalo Psycho Samantha pake kaos ketat dan seksi, pasti tulisannya harus begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD: Mas kawin KRAAAASSS! SB: Kore suda =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tra main ganas!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beee banganga sampe! Mata jatuh =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beeee banganga sampe! Yakin tra stegi, seno atau gila to =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liat apa? Ada utang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas mata masak!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas mata blue, panta yellow. Ada doka ni!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop banganga suda. Mo mata masak? =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD: SORRY! Tawar tambah !!!&lt;br /&gt;SB: Mas kawin KRAAAAASSS!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damainya …. Z pangaruh !!! *buktinya ko liat sa tooo =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Kalo Psycho Samantha a.k.a. miss PS mo kampanye lingkungan hidup khususnya alam Papua, termasuk pohon, hewan dan segala macam yang ada di Tanah Papua,  pasti akan pake kaos yang bertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gali EMAS. Skarang gali BATUBARA. Besok? Gali KUBURAN sendiri!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD: Dulu tembaga, emas &amp; minyak. Sekarang, batubara, gas &amp; kas botak hutan. Besok? &lt;br /&gt;SB: BANJIR, HUJAN ASAM, dan IMPOR AIR minum. Itu yang kam cari too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendrawasih = Nyata, Realistis + Terancam punah. Z peduli! Ko???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Say YES to Mambruk! Say NO to Garuda! Mambruk hidup n terancam punah. Garuda? Ada ka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD:  Hutan Papua = mesin air bokar, rumah binatang hutan, dapur orang Papua n AC bumi. &lt;br /&gt;SB:  So, STOP TEBANG POHON sambarang suda yooo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Papua is the place I call HOME!!! So, jang ‘ganggu’ sa pu rumah!!! Back off!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanam pohon di sini, kas botak hutan di sana! Gali di sini, timbun di sana. Kapan HIJAUnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD:  Bob Marley? Pasti. Lucky Dube? Iya. UB40? Suka. Black Brothers? Tentu saja. &lt;br /&gt;SB: Arnold Ap dan Mambesak? Jang tanya lagi … itu suda!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love hipere! I love Barapen! I Love Papeda! I Love Kladi Tumbu! I love Sagoo. I love Pinang = I LOVE PAPUA!!!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Counterpain? Nope! I love ‘DAUN GATAL!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Say NO 2 ‘Viagra’. Say YES 2 “Daun Bungkus” ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be right back! Lagi balobe =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 DAUN ngetop di Papua = daun suanggi, daun gatal, daun perempuan &amp; daun bungkus. Mo coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Karna miss PS kan suka juga bahas hal unik seperti urban legend dan supranatural things, maka kausnya pasti begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suanggi = Manusia Super dari Tanah Papua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SWAT = Swanggi Terbang Terlatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SWANEX (Swanter express) crew. Swanex = Secepat angin, eco-friendly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi ngontrak ‘Introductory Swanter 101’ ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X-Men? Basi. Superman? Bakarat. Gatotkaca? Lewat … Permisi, it’s time 2 GURABESI!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa? Iya. Kuliah di mana? UGT. UGT? Iya, Universitas Gunung Tata! =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s ur favorite subject? ‘Pengantar ilmu Suanggi’ =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4.  Karna miss PS juga liberal dan suka sama hal – hal yang berkenaan dengan isu sosial di Manokwari dan Papua, pasti kalo kampanyenya, miss PS pake kaos tulisan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK KAMPANYE ANTI MIRAS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Bobo, Saguer, Ampou. Skarang Wiro, Vodka, Balo. Besok? TAMPA NASI HANCUR!!! STOP MABUK suda &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Bobo, Saguer, Ampou. Skarang Wiro, Vodka, Balo. Besok? Botol pelita pica di kuburan!!! STOP MABUK suda &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTI Marten ‘Liter King’!!!&lt;br /&gt;LAIN – LAIN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Z peduli deng Papua! Ko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma rambut k’riting kalo ‘hati’ bonding!!! BUKTIKAN ko cinta Papua! Jadi? KERJA KERAS to! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma rambut k’riting kalo ‘lidah’ bonding!!! BUKTIKAN ko cinta Papua! Jadi? MAKAN HASIL KEBUN jualan mama – mama Papua too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma rambut k’riting kalo ‘hati’ bonding!!! BUKTIKAN ko cinta Papua! Jadi? BELAJAR deng JUJUR untuk bangun Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jang talalu asik pikir NEGARA sampe LUPA BANGUN BANGSA! Itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impor andalan Tanah Papua = TKI dari pulau X, barang dari pulau X, keamanan dari pulau X, penduduk dari pulau X. Kenapa tra skalian ganti nama jadi pulau X saja? Kapan mandirinya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaji disunat? Aiwa bertindak! Gaji masih disunat? Parang menindak! Lapis injak!!! *tips preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Papua = tempat syuting ‘film’ terbaik di dunia! Dari film action, thriller, horror, drama sampe komedi. Pertanyaannya? Yang ‘NONTON’ dong peduli tidak eee? *mikir tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Mambesak, Kini Mambesak, besok (masih) Mambesak! ‘Bernyanyi untuk hidup dahulu, sekarang, dan nanti’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluru tertajam adalah kata dan peluru tertajam terbaik adalah ‘kata’milik musuh. Jadi? Menulislah!!! (Psycho Samantha, 2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bullet? NO. Belot? YES! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMELDA? Ogah ah! *PIS saja dech =D&lt;br /&gt;(baca: terilhami dari catatan saya tentang Imelda a.k.a. Intel Melayu Dah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ko tete? Lewat. Bapa tua? Dipenjara. Ko bapade? Hilang. Nene? Gila. Mamatua? Bunuh diri. Ko ade? Lenyap. Sodara perem? Dapa perkosa gila. Ko pu sahabat? Tewas dibunuh. Ko nama? TANAH PAPUA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran TV di Tanah Papua = Dulu Sumiyati, Kalarce, potong leher. S’karang Penembakan, penculikan dan teror. Besok??? Ganti ‘channel’-nya donk, plis. BOSAN ya!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat ‘keberhasilan’ OTSUS (orang tertentu khusus) = Dulu Kijang, Hardtop, Vespa. Skarang Avanza, Rush, Ford, Kawasaki Ninja. Besok? Ducatti, Ferrari ‘n Lamborghini kapa =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat ‘kesuksesan’ di sa pu kota = motor/mobil baru, rumah baru, jabatan baru. Terakhir? MAITUA BARU toooo =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#5. Kalo miss PS diminta jadi narasumber seminar ‘self-esteem’, pasti pake kaos yang bertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa bangga jadi orang Papua! Ko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m so damn proud to be a West Papuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m not my hair! Catat itu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut boleh bonding TAPi hati tetap  ‘keriting’! I’m not my hair, beib =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Takut!  Takut buat …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proud to be a 3G generation! Generasi gado – gado a.k.a.’Komen pernakan’ =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#6. Kalo ada demo – demo ramai di Manokwari, mau donk miss PS komentar tentang pembangunan dan Manokwari, kan miss PS dikit lagi bayar pajak penghasilan a.k.a. SPT. Tapi sekalian juga cari yang bisa promo jadi anak Manokwari. Jadi kaosnya pasti gini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOP 5 Manokwari = Kali konto, rumberlab, Jembatan Sahara, Jalan balobang, ‘n tempat sampah dimana – mana =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manokwari tuh kota penuh universitas. Ada UNPATI (universitas Pasar Tingkat) hingga UGM (Universitas Gunung Meja). Komplit!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo dukung Tanah Papua GO INTERNASIONAL! Ada Paris (pasar inpres) dan Amsterdam (Ampera terus ke dalam) di Jayapura, ada Belanda (belakang Dani) dan LA (lingkaran Amban) di Manokwari. Ada Berlin di Sorong. Apa lagi yang kurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am a big fan of MU (Manokwari United)!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi depan: MU saja!, sisi belakang:  Manokwari United&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi depan: Z bangga jadi anak Manokwari!Titik. &lt;br /&gt;Sisi belakang:  Ganas? Pi gantung diri di ‘pohon sambal’ sana =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Z bangga jadi anak UNIPA. Titik. &lt;br /&gt;Ganas? Pi kopeng tembok sana! =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manokwari saja!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi depan: Manokwari tetap yang terbaik!!! &lt;br /&gt;Sisi belakang: Versinya z too&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi depan: MINGGIR!!! MINGGIR!!! MINGGIR!!!&lt;br /&gt;Sisi belakang: Anak Manokwari mo lewat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#7. Kalo miss PS ingin cari perhatian dan tebar kegilaan di muka umum, apalagi kalau lagi nonton parade di pinggir jalan yang banyak di Manokwari, apalagi kalo pas nonton, ada yang menghalangi ka ini, pasti miss PS akan mengeluarkan kaos –kaos ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan langka asal Papua? ANJING BABI! Ko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi depan: SA saja. sisi belakang = Kam LEWAT ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry e, z Bukan ABIDIN (anak bikin diri inti)!!! Z BENTO (benturan total) =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam talalu banyak yang ‘bocor alus’ ka ‘kurang 1 ons’ deh. Minggir ….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palang trus! Palang saja. Kam punya too. Tapi jang sampe lain ‘SALIB’ lagi =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin ko pu KRAAAS suda. Tra papa ya! Asal jang sampe tiba – tiba ‘KRAS’ saja =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD: ANTI Yanti &amp; Yance!!! SB: ‘Yang tinggi’ &amp; ‘Yang Ceper’ =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kayaknya hari ini Psycho Samantha sudah kumat kelamaan. Saatnya tidur dan semoga sebentar subuh sudah balik ke alter-ego yang lain, yang ‘normal’ hehehe. Tumpukan tulisan lagi menumpuk untuk dikembangkan jadi. Thanx sudah bergabung dalam catatan Psycho Samantha hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya balik ‘normal’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 020212; it’s my dad’s bday, enaknya z kasi kaos yang judulnya = ‘Bapa terbaik sejagat raya’ kapa eee)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2582094092611582620?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2582094092611582620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2582094092611582620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2582094092611582620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2582094092611582620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/psycho-samantha-mo-beli-kaos-mas.html' title='Psycho Samantha - Mo Beli Kaos, Mas?'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-3966100469634157279</id><published>2012-02-03T15:18:00.001+10:00</published><updated>2012-02-03T15:20:44.541+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Milistea, Waina Nerawa dan para alter ego</title><content type='html'>Hujan turun hari ini dan sebagian diriku larut dalam titiknya. Entahlah, ada rasa yang hilang dari hati. amarah pun kecewa? Mungkin. Sebuah kisah telah ditutup. Semua emosi liar telah runtuh dalam makian alter ego-ku kemarin dan yang tersisa adalah perih di hati. Inikah jalan yang kupilih? Entahlah. Aku tak benar – benar tahu. Malam ini Lionel Richie menemaniku dalam catatan tengah malam yang tak tahu arahnya akan lari kemana. Benar- benar membiarkan diriku berlari dalam rentetan kata – kata. Benar – benar ingin bersetubuh dengan huruf – huruf yang terjuntai dalam tarian kata, merasakan orgasme kepuasan ataukah keputusasaan. Tak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, ada rasa lain yang hilang. Sore tadi sebuah wawancara kerja per telepon dari sebuah kerjaan yang kutunggu hampir 2 tahun, telah menyedot energiku, membuatku kehabisan tenaga. Megap – megap. Belum lagi peranku sebagai konselor selama 3 hari belakangan ini untuk urusan cinta para sahabat. Benar – benar menguras energi. Jujur, aku butuh laut dan alam raya untuk mengisi energiku. Energi marahku yang sudah kubuang dan menggantinya dengan yang baru di pantai utara telah habis digerus oleh banyaknya SMS curhat dari dua sahabat yang benar – benar butuh saran, teman cerita ataupun sekedar mendengarkan. Sampai mabok dengarnya. Jujur, ingin bilang, “So, what is your choice? Do you want to spend time with  that jerk or what?” TAPI aku tahu aku terlahir untuk menjadi semacam ‘think-tank’ urusan beginian. Jadinya, menjadi ‘pendengar’ tukang maki dan juga sekedar bertanya. Nothing more!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lionel Richie masih menyanyi dalam “One world” dan aku hanya bisa diam. Tak hanya sekedar memikirkan kisah cinta dua sahabat, tapi juga acara perbincangan malam ini dengan sahabat lama yang hamil besar kala menunggu redanya hujan di depan warnet. Entahlah, ia hanya bisa geleng – geleng kepala kala ia bertanya tentang lelaki yang kutunggu dan aku hanya bisa bilang bahwa entahlah, aku merasa nyaman dengan diriku dan juga aku ragu bisa mendapatkan lelaki yang benar – benar bisa mengerti diriku. Aku cuek saja bilang kalau aku ‘mata uang’, cinta travelling dan cepat bosan plus segala macam fitur diri. Benar – benar tak berniat membuat orang lain terkesan atau apalah. Hanya mencoba jujur dengan apa yang kuinginkan dengan hidupku. Entahlah. Sejak lama memang aku tahu aku hanya 10% dari populasi di kota ini dan tak peduli. What I really want from my life is just enjoying my life. That’s all. Enjoy every inch of my life, enjoy every bit of its beauty and share the love to others. Sesimpel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan blog ini dulu kubuat dan berlanjut hingga sekarang untuk menampung kegilaanku, mengerem sisi liar diriku, menjadi semacam terapi untuk jujur dengan diriku sendiri. Tak peduli dengan apapun yang orang lain pikirkan. Aku pikir kita terlalu sering berpikir tentang apa yang orang lain pikirkan dan bukannya berpikir tentang apa yang kita pikirkan sendiri tentang diri kita. Betapa sering kita berusaha menjadi gambaran sempurna agar orang lain bisa menghargai kita. Betapa sering kita terlena untuk berusaha membuat orang lain terkesan. Simpelnya sih demi sebuah PENGAKUAN! Entahlah, padahal begitu banyak hal yang bisa dibuat tanpa harus terlena dengan pengakuan. Kita selalu berusaha tampil modern, tak lekang oleh zaman, tak tergerus oleh perkembangan teknologi. Kadang – kadang kita malah menjadi para pemuja dunia berbau hedonisme dan kehilangan rasa dan sensasi kita sebagai manusia. Bahkan lupa tentang keindahan yang ditawarkan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi saat menunggu redanya hujan, duduk di bangku kayu depan warnet, saya terpesona dengan tarian hujan yang turun. Derai pecah di depan warnet. Atau seperti saat ini, Lionel Richie berhasil kubungkam karena di luar kamarku, hujan sedang turun. Tiba – tiba memikirkan status FBku hari ini tentang para babi di pasar Wosi. Apakah mereka sedang ‘molo – molo’ dan sudah mengambil kursus selam? HAHAHA. Sebuah pemikiran lepas. Di luar kamar, sayup – sayup, kudengar suara kucing yang menangis sendu. Terasa aneh dalam tengah hujan lebat seperti ini. Entahlah. Perasaanku sedikit tak enak. Hujan pun reda dan hilang. ANEH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, besok bapak ulang tahun ke 49, dan aku anak perempuannya malah sudah berumur 29 tahun ini =) Bapakku, lelaki Jawa – Sunda ini memang nikah muda. Entahlah, aku ingin mendapatkan pekerjaan ini, demi bapak sebenarnya. Ya, aku lagi butuh dana instan juga yang lumayan besar. Untuk biaya liburan bapak di tahun depan ke kampung nenek di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Benar – benar tanggung. Mungkin kalau ada waktu, sekalian ikut liburan. Sudah 10 tahun aku tak pulang kampung. Tak tahu apakah aki dan nini yang saudaranya nenek masih hidup atau tidak. Entahlah, sudah lama tak tahu kabar aki Karta. He’s so adorable old man. Entahlah, aku lebih merasa nyaman berada dengan komunitas nenekku yang Sunda Cirebon yang migrasi ke daerah Jawa Tengah dibanding dengan komunitas kakekku yang asli Tegal – Slawi itu. Entahlah … kita selalu cenderung memposisikan diri kita pada sebuah titik bukan. Titik tolak memandang diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang kubidik ini sangat berarti bagiku. Karena aku akan bekerja untuk lingkungan hidup, punya akses bajalan dan tentu saja dibayar untuk menulis dan bertemu banyak orang plus tunjangan gaji yang lumayan. Aku ingin menabung karena aku berharap sebelum usiaku yang ke 35 tahun, aku bisa membayar semua janjiku pada diri untuk menapaki perjalanan para leluhur. Ingin balik ke kampungnya nenek dan kakek, ke negeri opa dan oma di Maluku (Amahai &amp; Paperu) plus juga kampung oyangku di Amberparem, Numfoor. Manokwari dan areal tinggal tete dan neneku sudah kujelajahi, setidaknya pernah tinggal jadinya tak terlalu ‘gimana’. Kalau Tuhan sayang dan punya kemampuan membeli tiket dan paket tur, ingin ikut tur ke Israel. Entahlah, hanya ingin melihat negerinya Milistea. Aku tak perlu menjelaskan pada siapapun tentang Milistea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, aku dan temanku di dunia maya bernama Arie ngobrol via pesan pendek. SMS getho. Ia iseng – iseng bilang, “sa harus ketemu suatu hari nanti, sa jago ramal apalagi melihat kehidupan masa lalu. Sa hanya merasa terkoneksi deng ko sejak pertama kali ketemu. Mungkin di masa lalu sam pernah kenal ko. Pertanyaannya, entah sebagai kawan atau lawan. Itu yang sa tra tau.”. Aku hanya bisa ketawa – ketawa kecil. Sudah banyak orang yang bertemu denganku dan mengatakan hal yang sama. Entahlah. Bahkan ada seorang cewek Dayak, teman perjalanan dalam sebuah perjalanan liburan keluarga di Cina dua tahun lalu yang pertama kali melihatku dan bilang kalau insting Dayaknya bilang kalau someday, I’ll be a great person. Ya aku hanya meng-amin-kannya saja. Toh hidup akan selalu berubah tergantung bagaimana kita mempercayainya, bukan? Entahlah, bila melihat numerologi dan segala macam ramalan garis tanganpun, aku tak terlalu percaya sih, walau memang ya ‘begitu suda’, posisiku lumayan baik. HAHAHAHA. Aku hanya percaya bahwa hidup perlu keseimbangan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya banyak alter-ego, karena aku bipolar. Tapi seiring waktu, aku belajar untuk mengenali diriku, belajar apa yang kuinginkan, belajar untuk tidak takut menghadapi sesuatu dan belajar mengatasi fobiaku perlahan – lahan. Setidaknya berdamai dengan diriku sendiri. Itu yang bisa kulakukan. berdamai dengan kondisi kesehatan dan imunitasku yang terkadang sangat bikin ‘hati t**’ sekali. Tapi toh aku hanya hidup satu kali, kenapa juga harus marah – marah pada Tuhan, bukan? Hidup akan terasa mudah saat kita tak sibuk menganalisanya. Cukup jalani saja. Tak usah terlalu banyak menuntut kan? Dalam urusan cintapun, tak usah pusing memikirkan mencari lelaki yang kita inginkan. Bila ada ya, jatuh cintalah, tapi bila keadaan emosi berubah, kenapa harus pikir panjang untuk mengambil jarak, terserah sebelumnya pake acara maki – maki atau apalah. Intinya, kenapa harus pusing? Jalani saja. Entah dengan memaki dan marah – marah dulu, setelah itu LUPAKAN! Gampang kan? *iya, ngomongnya gampang =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu saat dimana Pyscho Samantha, Mellow May dan Dayanara Meimosaki harus muncul. Aku paham benar. Tapi kadang – kadang, aku tahu bahwa aku tak bisa jadi ketiganya karena aku tahu siapa aku. Entahlah, aku tak tahu apa yang dipikirkan temanku, Arie, kala aku bilang aku tahu siapa diriku, siapa namaku di masa lalu. Entahlah! Aku tak peduli dianggap gila atau apalah. I know all this stuff for the Spirit told me so. Itu membuatku nyaman saja. Tak ada satupun orang yang benar – benar asli di muka bumi ini. Kita adalah produk campuran dari berbagai suku dan ras, yang mencari bentuk ‘keaslian’ kita. Semuanya adalah pengembara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya bahwa semua manusia pada masa kini, pada suatu masa pernah hidup di masa lalu dalam peran yang berbeda. Entah sebagai raja, ataupun pengemis. Entah sebagai bangsawan ataukah rakyat jelata. Entah sebagai pelacur ataukah pemuka agama. Semua orang pasti punya peran. Terserah mau dipercaya atau tidak. Aku juga percaya di bumi ini, tiap kita punya ‘kembaran’ yang ada. Yang mungkin kita terpisah benua, ras ataukah hanya tinggal sekota. Entahlah… tapi aku percaya itu. Aku sudah mendapatinya. Sudah, saudara – saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memaksa anda menganggap diriku ‘waras’. Toh sejak kecil aku sudah terbiasa dianggap ‘gila’ dengan tindakanku yang dianggap nyeleneh dan pikiranku yang tak stabil. Kadang the Spirit memanggilku dengan nama lain: Milistea. Seorang perempuan yang tinggal jauh di dataran Israel pada sebuah masa. Ia bilang aku Milistea. Seorang anak Salomo dari istrinya yang banyak. Perempuan yang bahkan tak punya kans dituliskan dalam sejarah hanya karena ia perempuan dan bukan dari selir yang berpengaruh tetapi mewarisi kecerdasan Salomo. Aku kerap menolak pendapatnya the Spirit. Entahlah. Hanya tak ingin benar – benar skisofrenik saja =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, mungkin aku memang tak waras. Aku hanya suka melihat dari cara yang berbeda dari banyak orang. Lebih suka melihat kesimpulan besarnya dan apa yang harus dilakukan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Milistea, tak ada salahnya juga menuliskan namanya, bukan? Seandainya pun ia hanya tokoh imajinasiku, ia sangat menginspirasiku. Karna dari yang dikatakan the Spirit, Milistea itu berambut coklat dan bermata coklat terang seperti diriku dan ia memberontak pada tekanan istana yang menyuruhnya tunduk pada aturan bagaimana perempuan bersikap. Entahlah, aku sering diceritakan tentang Milistea di masa lalu, Milistea yang suka menulis dan selalu mempertanyakan sesuatu. Milistea yang cerdas. Tapi aku tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya. Apakah ia mati muda? Aku tak tahu. Selalu saja ceritanya berakhir pada bagaimana Milistea yang kuat dan melawan aturan – aturan. Selalu saja ada kisah menggantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi pula pada tahun 2006, dalam sebuah tidur siang antara mimpi dan terjaga di atas perahu yang membawaku dan rombongan pulang dari ekspedisi di sebuah daerah di teluk Cenderawasih. Aku memahami bahwa aku berada di teman – temanku. Mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi tak bisa mengontrol diri untuk bangun. Tiba – tiba saja, seorang lelaki muncul di depan pandangan mataku dan bertanya padaku, “Waina Nerawa, ceritakan riwayatmu?” Ia mengajakku berbicara dan bilang bahwa ia mengenalku, ia mengenal siapa aku. Belum sempat aku bicara, ia menghilang dan aku tergeragap bangun karna lautan yang tiba – tiba bergoyang. Entahlah, aku tak pernah tahu siapa WAINA NERAWA itu. Mungkin salah seorang moyangku? Aku benar – benar tak tahu. Aku hanya tahu Ifna Monaresa dan Awini Taberi. Lainnya aku tak tahu nama mereka dalam bahasa suku kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli siapa diriku di masa lalu, entah sebagai Milistea ataukah Waina Nerawa. Aku tak peduli. Nama hanyalah representasi diri yang diberikan oleh orang lain, sebuah harapan atas entitas pribadi kita. Itulah sebabnya, aku lebih suka menyebutkan si pecinta hujan pagi bernama Dayanara Meimosaki. Itu nama yang kupilih untuk diri sendiri bukannya RI (inisial namaku). Aku menyukai nama asliku tapi selalu saja ada saat dimana kita harus bisa memilih nama kita sendiri. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Milistea ataukah Waina Nerawa hanyalah gurat sisa bayang DNA nenek moyang yang tersisa. Entahlah. Tak peduli sebenarnya. Walau memang aku tahu sejak kecil aku berbeda dengan para saudaraku. Sangat berbeda. Bahkan dalam kemampuan analisa dan kecerdasan pun serta life value, aku berbeda. Beberapa temanku bilang aku brilian, ada yang bilang seharusnya sejak kecil aku tak sekolah di Papua, entahlah, seharusnya aku masuk universitas S1ku di Jawa. Seabrek pertanyaan dan solusi. Tapi mereka tak pernah tahu apa yang kuinginkan sejak dulu. Bukan untuk bersaing, tetapi hanya ingin hidup seperti biasa saja, seperti cewek kebanyakan, seperti orang dengan kecerdasan standar, tidak terlalu menonjol dan juga tidak terlalu penuh dengan ide – ide gila yang menyusup perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu SD, saat anak kecil perempuan masih sibuk main boneka, aku sudah memikirkan ingin pergi sekolah di luar negeri, menabung impianku sejak kecil ke Australia. Dan akhirnya aku meraihnya di tahun 2009. Aku pemimpi dan aku tahu aku harus bekerja keras untuk hal itu. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, sejak kecil sangat sulit mencari orang yang bisa mengerti diriku. Orang tuaku pun tak pernah bisa mengertiku dan akhirnya hingga sekarang memilih membebaskanku karena tak tahu apa yang kuinginkan. Aku juga tak minta dimengerti. Bagiku, selama aku bisa mengerti diriku, itu sudah cukup. Aku makin peka dengan kebutuhanku sendiri, peka dengan kesehatanku, peka dengan instuisiku. Entahlah, bagaimana kau menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku tak enak beberapa hari lalu tentang langit. Benar – benar tak enak. Firasatku, akan ada bencana besar yang hendak masuk ke kota ini atau ke tanah ini. Beberapa hari lalu, seakan ada mata di langit yang besar, yang  memantau kota ini. Aku juga tiba – tiba terpikir tentang ‘sang naga jantan’. Entahlah, perasaan itu yang kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaraku sudah mulai ngaco. Sebaiknya catatan ini ditutup saja, dibanding akan semakin kaco. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu, ini semua karena okultisme sialan itu yang dianut oleh opa, kakek, buyutnya nenek, dan tete. Mungkin di catatan lain akan kubahas juga tentang okultisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, ini saatnya tidur. TITIK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas Mero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 010212)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-3966100469634157279?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/3966100469634157279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=3966100469634157279' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3966100469634157279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3966100469634157279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/milistea-waina-nerawa-dan-para-alter.html' title='Milistea, Waina Nerawa dan para alter ego'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-888924368573583690</id><published>2012-02-01T20:27:00.000+10:00</published><updated>2012-02-01T20:33:03.148+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bob'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J'/><title type='text'>Psycho Samantha - Sorry mas, ini Januari!!!</title><content type='html'>Ini akhir Januari dan hari ini saja, aku sudah merasakan energi patah hati yang banyak dan bersinggungan dengan diriku termasuk juga yang kualami sendiri sejak kemarin. Jadinya ya sampai – sampai status FBku merekam energi patah hati itu, tapi kali ini dengan caraku yang sangat ‘Psycho Samantha’. Isinya sih simpel:&lt;br /&gt;“Semuanya tentang pilihan, bukan? Maaf, saya memilih 'mendeportasi' anda keluar dari teritori hidup saya. Karena anda tidak cukup layak u/ saya pikirkan apalagi berbagi mimpi masa depan dengan saya. Sorry, mas!!! Anda sudah bukan prioritas saya. Terima kasih!!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, ini tentang para lelaki babingung yang hanya mengotori hidupku dengan kisah dan tingkah mereka yang bikin mual. Mulai dari si kaka di Jayapura dan juga si Lelaki Kopi. Allow, urusan kalian dengan diri sendiri saja tak beres – beres, e mo bikin hidupku ikut – ikutan kacau. No way!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Lelaki Kopi kan suka kirim SMS kangen, sabtu kemarin malah sibuk berkangen ria dan langsung kupadam di limit, “Kangen? Hehehehehe. Ko kan tra pu kewajiban apapun untuk perhatian ke sa dan lain – lain. Ko bukan sa pu pacar juga mo. Jadi tra usah kenapa2 juga lah. Biasa saja.” Ya cuma tak mau sakit hati. Hari Minggu juga ia mengirimkan SMS padaku untuk mengajakku pergi ke luar kota, piknik bersama keluarga Chel. Tapi kutolak. Iyalah, saya lagi ada kegiatan juga. Sialnya, tadi saat baca FB ceweknya, alamak … si Lelaki Kopi memang buaya darat HAHAHA. Untunglah selama beberapa hari ini aku rada kasar padanya. Tapi selalu begitu. Bila aku mulai cuek dan bicara kasar, barulah ia berkangen – kangen dengan ceweknya di Ambon sana. Kalau tidak, ia pasti cuek. Sialnya, kalau ada masalah baru ia akan mencariku. Untunglah semua SMSnya sudah kuhapus dari kemarin – kemarin dan nomornya tadi resmi kuhapus. Pamalas saja urusan dengan cowok lebay HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, si kaka juga bikin masalah kemarin. Sibuk mengirimkan pesan ‘kangen’ dan mencoba mengulang kisah lama. Aduh kak, basi banget deh. Cuek saja kubilang dan kukarang cerita kalau aku sudah punya cowok baru plus segala macam kemesraan yang kulakukan dengan cowok baru. E si kaka tetap keukeuh dengan perasaannya. Aduh mas, biasa saja deh. Su trada rasa di hati jang sampe bikin gerakan tambahan ko dapa lap sungguh ka dapa tumbu. Sa su balik deng sa sifat asli yang over protektif pada diri sendiri jadi. Macam kemarin memang sedikit down, dan sialnya sempat curhat ke Lelaki Kopi tapi ya pagi tadi, aku sadar bahwa ini hidupku dan aku tak butuh para laki – laki itu untuk membuatku nyaman apalagi mencari perlindungan. That’s totally bullshit lah. Hanya aku dan Tuhan. Period.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini usai setermos teh gopek kental yang sepat manis merayap masuk di tenggorokan, sepotong petatas kuning dan kumpulan suara Glenn Fredly … ah aku bisa menumpahkan emosi yang tertahan. Jadi teringat bagaimana salah satu BFF saya bilang, “betapa babinya dikau” untuk para mantan pacarnya yang brengsek HAHAHAHAHAHA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku juga jadi ‘tempat sampah curhat’ dari dua sahabat dan sialnya kenapa kisah mereka mirip – mirip ya? Tentang para pacar yang tak setia dan tak bisa jaga perasaannya cewek. Lha wong sudah punya pacar tapi basibuk dengan perem lain. Pada satu sisi, saya sempat merasa “dong tra salah ka curhat ke sa, lha sa ini bitchy banget, lebih banyak jadi ‘cewek idaman lain’ kok. Entahlah. Jadinya diriku memposisikan diri sebagai ‘tukang bantu maki’ dan bantu dengar saja lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Lelaki Kopi, ternyata menurut Chel pada pembicaraan kemarin malam, si LK pernah beberapa kali merasa harga dirinya sebagai cowok ‘jatuh’ karena diriku. Alamak, hari ini aku cuma ketawa, memang dia ada harga diri ya? Baru tahu saja!!! Masa hanya karena pada pertemuan pertama kami, aku cuek saja membayar pesanan kami. Plus pada ‘kencan’ kami di pantai, aku dengan cuek menolak ia membayar bakso dan berkata dengan tegas di depan banyak orang, “sorry, teman sih teman, tapi bisnis tetap bisnis. Dan sa bayar sa pu bakso sendiri karena sa alergi dibayarkan cowok. Sa ada uang kok!” Allow, saat itu aku lagi dalam kostum renang seksi sungguh (tank top yang pamer ‘dada’, my boobs tentu saja terekspos sungguh, plus pake boardie yang super pendek yang biasa kupake di OZ). Sorry urusan ke pantai, that’s the real me. Cowok – cowok mo ‘kayu’ ka ‘batang naik’ itu dong pu urusan. Asal jang bikin gerakan tambahan ke sa, kalo berani, lihat saja kalo sa tra potong dong pu ‘batang – batang kayu’ deng cutter ka sangkur. Yang sa tahu, epen ka, yang penting pas sa berenang sa tra rasa berat dan tra bebas bergerak dengan baju saja. Jadinya, sorry mas, pante itu sa pu teritori jadi jang ba’atur apa yang sa mo pake di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LK yang bertampang ‘tabrak’, kecil, pendek pula dan tidak kekar jangan talalu merasa ka. Neh nih su rasa kecelakaan jadi jang babikin yooo. Tangan su halus macam perem tuh jang talalu macam – macam suda, jang sampe sa culik dan ‘patah – patah’ nanti. Apa sih yang dilihat cewek darinya selain de pu duit? Kecuali kalo su dekat memang de perhatian getho orangnya tapi ya getho, lemah di perempuan cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, sa senang di paragraf ini sa su bisa maki2 dia oooo, jadinya sa bisa rasional dikit dan tidak larut dengan rasa bodok ini. HAHAHAHAHA. LK tra pu apa – apa yang bisa de banggakan. He’s not HOT enough ya!!! Selama ini de kan sistem ‘beli cinta deng uang’ too. Iyalah, perem cantik rayu saja lemah tuh yang de pu gadget2 ko lompat ke perem too. Sa tidak merasa kalah apapun dari ceweknya juga yang putih mulus itu karena sa tahu sa lebih deserve cowok yang atletis lah. Ceweknya juga cuma menang ‘muka’ doang, tapi kalo urusan bodi, GOSH, de ‘standar’ di bawah sa lah, lebih pendek dari LK, sedang LK saja lebih pendek dikit dari sa. Tidak proposional (pinggul terlalu lebar). Sorry mas, ko lihat sa bodi saja ko su akui toooo deng ko pu niat jelek tuh too. Ko pu teman – teman cowok saja ada akui sa pas natal kemarin. Sorry, sa hanya akan kawin dengan cowok yang HOT dan juga body atletis, sa tra mau sa pu anak jelek ya. Anak tuh juga investasi ya? Makan tuh cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah … sa su masuk tahap netral emosi dan sadar betul jadi HAHAHAHHA. Iyalah, ceweknya saja tra kuliah, su begitu mo baku taru body, ya ampun. Benar kata Q dulu, “untuk apa saingan deng peremnya, ko tetap su kalahkan de jauh mo.” Damainya Q saja itu manis dan gagahnya tuh su 100% lebih dari si LK lho. Belum lagi duitnya!!! Umur 27 tahun saja sudah punya bisnis dan punya mobil pribadi, belum termasuk kerjaannya sebagai PNS. Adoooh LK ko jauh skali ya. Nih kalo Q tahu sa bisa abis diketawain sama dia. Untung de tra tau =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry, saat ini sa sangat sadar sa pu sexual appeal dengan boobs dan bums yang seksi (pendapat pribadi) jadi sa tra mo  buang sa ‘kemudaan’ untuk ‘pejantan’ yang tra layak. Kalo mo otak gila, mending sa cari yang memang ‘bibitnya’ nan bagus kalo jadi deng sa. Jadi tra rugi Bandar ya. Alamak! Mo saingan dengan ceweknya saja su jelas sa gigi rapi jali, lah ceweknya saja ‘gigi jarang’ dan jadi bahan olokan teman sekantor LK. JADI, sa ingatkan sa diri untuk tra pake ‘victim mentality’ karena LK bukan siapa – siapanya sa. De pu gaya juga tra 10%nya Lelaki Hujan kok, apalagi mo saingat deng Abel ka Psiko yang dulu. SHIT!!!! Kaka itu kesalahan pelarian dulu ya. Kalo mo baku bayar body, wah su tabuang sungguh mati deh dengan mantan – mantan lain. Sa ogah kas turun standar lah. Mending stick ke si Arc saja lah HAHAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nih sa pu omongan su mulai kaco ya HAHAHAHA yang pasti, bubye para lelaki Babi!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa mo jatuh cinta lagi tapi sama yang HOT dan atletis tapi baik dan perhatian. Sorry sa cari yang pejantan bagus eeee, jang sampe sa pu anak bikin rusak penampakan foto keluarga lagi WKWKKWKWKKWWK. Sa pu keponakan – keponakan dong bagus – bagus dan pintar serta aktif di sekolahnya jadi. Masa sa yang paling brilliant di rumah dan dapat cowok lau – lau burik ya? Mending sa stick ke sapa ka WKWKWKKWK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parah! Omongan su kaco nih. Januari seh ……………………!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya memang si Psycho Samantha, my alter ego, lagi kumat deh. Btw, tadi di Warnet ada cowok komin manis eee yang tinggal pantau sa WKWKKWKWK. Lain kali kalo sa ke sana lagi, nan kalo de masih lihat2 sa, sa langsung tanya, “pernah ketemu ka? Ka sa ada utang ka? Abis macam ko tinggal menganga jadi. Kalo sakit mata, bilang eee. Kebetulan sa ada bawa doka 1 set jadi, mungkin sa bisa bantu kas pandangan jelas ka wkwkkwkwkwk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes toooo. HAHAHAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aeh sa mo tidur dulu. Besok ada wawancara kerja jadi. Moga tembus. Kalo trada juga, sa akan tetap jadi sa pu diri yang sayang pohon – pohon dong eeee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sapu hidup dan sa akan jalani deng cara yang sa suka. Sa baru sadar kalo sa cantik dan berharga malam ini hehheehe. Biasa, sejak pagi, the Spirit told me so dan tinggal paksa sa dengar de bicara jadi, de bilang sa berharga bagi de dan sa cantik =) Ah selalu saja sa lebih dicintai sama the Spirit dibanding para Lelaki Babi itu HAHAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa talalu banyak bamaki nih akhir – akhir ini, dan maki yang kurang ajar seperti “Kol** busuk. Kol** tua. Pe** plastik. Pe** kerut, go** takupas sampe segala macam eee.” Dari kecil memang suka bamaki karna memang besar di komunitas Papua yang tong kapala maki jadi. Dari kecil selalu dapat hukuman dapat tahan dan dapat gosok rica tumbuk di mulut makanya ada ‘rem’ sedikit. Sa mama sampe su tinggal nasihat untuk rem mulut tuh HAHAHA. Abis de takut sa dapat pukul dari orang jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa tuh berani sa maki ‘kol**’ baru ada cowok yang balas bilang, “aeh ko juga suka kol** mo”. Sa akan balas”Iya, sa suka. Tapi bukan ko punya apalagi yang busuk lapuk ka takupas macam ko pu eee. Ko buka celana tuh dulu sa lihat akan. Jang sampe su ba’ulat lagi.” Sorry man, sa su lihat kol** tuh dari kecil karna dulu jadi korban pelecehan seksual bertahun – tahun dari orang yang kapala baintip dan eksibisionis jadi sa su tra efek lihat kol** tagantung di depan mata. Sa tra nafsu ya!!! Macam cuma lihat daging spanggal saja di depan mata. Sa su trada rasa jijik ka geli ka bagaimana. Yang ada macam mo pi cari batu ka apa untuk lempar berani ada yang buka celana kas tunjuk kata mo kas takut sa, salah2 yang kas tunjuk kol** ko dapat tendang pas di de pu ‘aset andalan’ eeee HAHAHAHA. Sa dulu kuliah S1 dan tinggal di kos paling suka lempar ka kejar orang kurang ajar yang pamer dong pu kol** balemak hitam spanggal di pagar kos. Sa paling nikmati lempar dong dan pegang parang kejar deng cara panjat pagar untuk potong dong. Sa psiko, saudara – saudara!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa gaya memang terbuka sekali deng sa pu seksualitas dan sa cinta sa pu tubuh jadi jang ada satu yang coba bikin komentar tasalah di depan sa eee. Jang sampe dapat maki parah. Anana SMP laki – laki kecil – kecil kemarin langsung muka sunyi eee pas talalu babikin pas sa jalan kaki ke toko siang2 deng baju tanpa lengan dan kaca mata itam. Karna talalu banganga dan suit – suit sa,  jadi langsung sa balik, lihat dan tindis kata, “kenapa? Panta lobang sakit ka pedis.?” Kalo tidak, “kenapa? Kolot sakit?” Jang tanya lagi dong pu reaksi. Berani bikin gerakan tambahan, jang sampe gigi darah eee. Adoooh nih parah sekali. Bagi sa, sa tra pake mental korban di sa pu otak skarang jadi. Intinya, NYALI saja!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa memang tambah bamaki skarang. Niat hati berhenti di tahun ini tapi macam malah tambah koleksi kosa kata baru. Adooh sa baru sadar kalau sa bahasa kasar eee kadang – kadang. Sa pake gaya bahasa cowok dan padam di limit untuk orang – orang yang coba kurang ajar deng sa. Tadi di pantai saja sa su kas padam pace tua satu yang sok ramah pada sa dan Chel yang lagi seksi di pantai. Pace ko badan tokmar eee baru poro tagantong dan kata alasan sapa genit dan tanya mo kemana. Su tahu tong lagi jalan nih di pinggir pantai. Jadi sa langsung bilang, “adooh oom celana kuning. Tong jalan, kas turun lemak!.” Sambil tertawa ketus nyindir poronya tentu saja. Kas tinggal, epen ka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa mama dan sodara – sodara ka kerabat jauh dong paling tra suka sa pu mulut eee kalo bajawab orang. Abis dong takut sa kas keluar kata bajawab orang yang bisa bikin orang tersinggung mati dan pukul sa. Dong tahu sa pu respon kalo orang bicara sa gaya jadi, sa biasanya bilang begini:&lt;br /&gt;“Kenapa? Berdosa ka? Kam Tuhan jadi eee. Neh tra kas makan sa ka kas uang bapake ka bagaya sama sa jadi diam sudah ya. Kalo tra suka tuh, buka kam celana situ suda dan seret kam pu panta lobang hitam sampe badarah di aspal sana yooo. Nan kalo panta lobang su tipis dan putih  tuh baru kam datang ke sini bicara sa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adoooh lihat kan, sa mulai bamaki lagi HAHAHAHAHHAHA. Sa malaikat pencatat pasti su badan malas catat sa pu dosa – dosa seh. Nih karena dari balita tiap hari dengar sa pu ‘mama suster’ sebelah rumah kapala maki – maki de pu anana dong eee, maki hancur ka ini. Belum lagi sa mama, plus lingkungan sebelah rumah eee. Besar deng budaya maki dan baku kas jatuh deng kata – kata. Jang heran tong satu keluarga jago debat dan bakalai tuh suda, jadi yoooooo. Kalo urusan mulut tra beres, tetap tong semua pi jalan cari parang ka barang apa yang tong bisa pake ka ini. Kelakuan Arfak dari kecil jadi. Untung skarang su mulai kurang bakalai pake parang. Cuma ya itu, karna suka ditahan, skali keluar tetap harus ada kerusakan dulu yang terjadi baru puas ka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karna salah didik deh, lahir perempuan tapi dididik untuk jadi cowok jadi. Mana dari kecil kena berbagai macam bullying dan pelecehan jadinya belajar mekanisme bertahan hidup dan membela diri dengan berbagai cara sejak kecil. Back to urusan cinta, sorry sa tra pake mental korban skarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa jadi ingat sa pu perkataan untuk sa pu pangkat keponakan perempuan satu yang terlanjur pu anak tapi tra nikah dan kadang masih basibuk deng de cowok kecil itu. Sa pu keponakan langsung badan malas eee kalo sa tindis kata besar – besar di depan banyak orang ka ketemu dia baru kata de mo bahas de pu pacar bodok tuh. Sa cuma bilang begini:&lt;br /&gt;“Neh yang pu go**  panjang untuk ‘naik’ ko tuh bukan cuma ko pu pacar kecil tuh ee. Ko smangat de pu Go** sampe. Janda saja masih laku baru ko takut apa eee. Pi makan banyak sana kas bagus ko pu susu dan panta tuh. Jang pikir laki – laki kecil yang cuma andalkan de pu barang spanggal yang tagantung di bawah paha tuh saja eee padahal tra pu uang dan tra pu ijasah ya. Bikin rugi diri saja ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See? Kayaknya memang Psycho Samantha lagi kumat HAHAHAHHAHAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat malam Manokwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 310112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-888924368573583690?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/888924368573583690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=888924368573583690' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/888924368573583690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/888924368573583690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/02/psycho-samantha-sorry-mas-ini-januari.html' title='Psycho Samantha - Sorry mas, ini Januari!!!'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-232085701372544567</id><published>2012-01-31T22:08:00.000+10:00</published><updated>2012-01-31T22:11:47.237+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Catatan 3 Jam</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, pada sebuah sore, saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang berkelebat di benak saya, ya seperti biasa, sejenis pertanyaan filosofis yang hinggap. Pertanyaan itu sangat simpel dan membuat saya sempat tergeragap sendiri. Iseng – iseng, saya berbagi pertanyaan itu pada beberapa teman, dan ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan. Pertanyaan yang saya kirimkan adalah bagaimana mereka bereaksi bila dihadapkan pada situasi: &lt;br /&gt;Jika hari ini anda tahu kalau hanya tersisa 3 jam untuk anda hidup, apa yang akan anda lakukan? Kondisinya adalah anda punya akses untuk kemana saja dengan pintu ajaib Doraemon, kartu debit tanpa limit. Bagikan ide anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ini hanya acara ‘imajinasi lepas’. Toh saya berani melakukannya karena mengutip kata teman lama saya, Nia R.S., “pak polisi dong tra akan tangkap ko juga mo.” Ini rangkuman dari tanggapan teman – teman saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONTEMPLASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman saya memilih mengisi 3 jam tersisa itu dengan tidak melakukan apa – apa selain merenung di tempat yang ingin mereka pergi ataupun ‘do nothing’. ‘Cuma 3 jam juga’, mungkin itu yang ada di kepala mereka ya. Simak saja katanya Amos Sumbung, “Sayang banget cuman 3 jam, dengan pintu ajaib bisa kemana saja mengunjungi tempat yang belum dikunjungi terakhir  tinggal 3 jam jadi mending merenungi perjalanan hidup, lumayan bisa bernostalgia sekaligus buat pengakuan dosa sebelum over LOL”. Hal yang sama juga dikatakan oleh Febry WD, “Kalau menurut saya, mending tidak usah (bikin apa – apa dan kemana – mana) karena hanya 3 jam. Kalau setahun bole, biar dipuas – puasin. Kalo cuma 3 jam, gak terasa oooo…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I’M SORRY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Permohonan maaf di 3 jam terakhir juga dipikirkan oleh beberapa teman lain. Mereka sepakat untuk menggunakan 3 jam terakhir ini untuk menyelesaikan urusan ‘salah’ di dunia. Dari yang simpel hingga yang sedikit ekstrem, tetapi intinya sih tetap ‘pemberesan masalah’. Lihat saja Hasana Lakehu yang ingin 3 jam sisa itu untuk “Pergunakan untuk meminta maaf ke ortu. Aku banyak dosa nich …”, ataupun seperti kata Yani Sawaki yang maunya “pingin temui semua orang untuk minta maaf trus kalo ingin memberi apa saja bagi siapa yang membutuhkan.” Atau yang versi berbeda tapi sedikit ekstrem a la Vera Inggamer kala saya tanya dalam sebuah acara makan siang:  “Selesaikan urusan dengan musuh – musuh lama, sa pukul dong yang tasalah dulu. Sampe puas. Trus abis itu sa minta maaf sama dong dan orang – orang yang salah. Sa juga mo babtis selam deh, biar lengkap ka ini.” Ya, ia cukup jujur dengan dirinya.&lt;br /&gt;RELATION MATTERS &amp; TRAVELLING&lt;br /&gt;Manusia sebagai makhluk sosial terefleksi dalam jawaban beberapa teman yang ingin 3 jam tersisa dari hidup mereka dihabiskan dengan mereka yang terkasih dalam hidup mereka. Entah orang tua, entah sahabat, entah kekasih. Tak hanya itu, mereka ingin mengisinya dengan berbagai kegiatan di berbagai tempat. Saya melihat bagaimana hubungan emosional dengan yang terkasih sangat berarti dalam hidup teman – teman saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri, sahabat saya sejak SMP ingin 3 jam yang tersisa itu diisi dengan “make my family happy. Go out with them, jalan2.”. Hal yang sama juga ingin dilakukan oleh Evert Merani, teman saya di Mamberamo sana, “Z akan langsung ketemu orang- orang yang sa sayang hehehe”.  Setali tiga uang, Icha Warami menambahkan bahwa ia ingin untuk memakai 3 jam itu untuk “menggunakan kebersamaan bersama dia yang amat kita sayangi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara ‘imajinasi’ ini, saya memberikan dua akses bagi teman – teman saya yaitu ‘pintu ke mana saja’ dan juga’kartu debit unlimited’, rupanya ‘dimanfaatkan’ oleh para teman. Intip saja jawaban Arie May yang ingin – jalan sambil menemani yang terkasih, “menemani mama ke tempat yang dia mau. Yang sa tau, mama ingin ke New York dan Yerusalem. Berarti kami akan ke sana :D”. Bila Arie May ingin menemani mamanya jalan – jalan ke luar negeri, si Adnan, teman saya di Bintuni, hanya ingin “saya mau ketemu mama saya, belikan dia apapun yang dia inginkan, bahagiakan dia sebelum waktuku habis.” Ada juga teman saya yang protes karena saya hanya memberikan ‘konteks 3 jam’ dalam acara imajinasi ini, jadinya Eny Arilaha, mantan teman kuliah S1 ini pun awalnya sempat protes. Namun, keluar juga jawabannya, apalagi kalau bukan, “ 3 jam? Aeeee…3 hari ka :D Ok, kalau hanya 3 jam, ajak keluarga/teman – teman ke tempat yang punya view bagus, trus foto – foto + makan di tempat yang punya kuliner yang enak :D”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi jawaban lain yang tak kalah ‘ajaib’nya dari teman – teman saya yang lain. Rupanya sudah ada rencana dalam pikiran mereka. Lihat saja rincian apa yang akan dilakukan oleh Titien Liwutang, pekerja bank Mandiri di Manado sana, “Kalo kita akan pake 3 jam itu untuk: 1 jam kumpul sama keluarga, 1 jam pake pintu  kemana saja untuk ke Yerusalem, 1 jam ke Grame, beli smua komik, buku, n novel pake kartu debit.” Atau juga kulik jawaban Ririe Angganita yang mengembangkan fitur ‘pintu ajaib’ dan menyulapnya jadi ide romantis untuk 3 jam tersisa, “Hmmmm dengan pintu ajaib z akan ke masa depan bertemu dengan pria yang jadi z pu belahan jiwa, lalu dengan kartu kredit tanpa limit itu z akan beli kembang api yang paling mahal dan megah. I’ll spend that last 3 hours sitting with him, holding him n watching the fireworks.” WOW!!! Kayaknya saya ingin juga bergabung di sana HEHEHE tapi gabung – gabung nonton kembang api sambil ngopi =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, masih ada lagi jawaban dari dua teman lainnya yang juga ingin memakai 3 jam tersisa ini dengan perjalanan. Dari beberapa jawaban teman saya ini, tak hanya tempat wisata yang menarik atau sentimental tetapi rupanya konsep ‘Tanah Suci’ itu juga membekas di hati mereka. Jadinya sebagai penganut agama Sawawi, mereka rupanya terilhami untuk juga pergi berkunjung ke tempat – tempat tersebut. Simak saja kata Sherly Rumngewur, “Jika z punya waktu hanya 3 jam, hal pertama z ingin ke Belanda dan Roma Vatikan bertemu bapa Paus. Setelah itu ketemu Ian Kabes (pemain Persipura) berfoto dengannya biar diabadikan smile … Pada bagian ini, saya mau bilang sama kak Sherly, ‘sampaikan sa salam untuk Ian Kabes juga eee, de ganteng jadi HEHEHE’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya, Riana Karubuy, tak mau kalah dengan imajinasi ekstrimnya yang feminis campur liberal itu hehehe. Dia bilang, “Cuma 3 jam? Cari orang yang berkualitas buat bikin LSM buat perem – perem muda dan brainwash dong pu otak tentang urusan dignity Vs Pe**.  Pastikan anak – anak korban perang di Afganistan dan Palestina have better life and future. Terakhir sa mau ke makam Rasul dan meninggal di sana dalam keadaan bertasbih . Tambah lagi, sebelum ke makam Rasul, sa mau ke Vatikan n merit sama Jes di sana :D”. Ekstrem pemimpi tingkat tinggi!!! HAHAHA. *dilarang protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt; HOW ABOUT ME?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Well, entahlah, bila saya sendiri yang dihadapkan dalam situasi 3 jam terakhir dengan konteks lengkap dengan ‘pintu kemana saja’ dan ‘kartu debit unlimited’, mungkin yang saya lakukan adalah selain membuat penawaran pada ‘yang punya napas’ kalau saya ingin meninggal menjelang senja di Manokwari  pada musim panas jadinya ya waktu saya hanya tersisa dari pukul 3 – 6 sore:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam pertama, Pergi ke pusat perdagangan emas entah di mana, beli emas batangan 10 KG, dan investasikan di bank lokal dalam bentuk tabungan deposito emas dengan rincian 8 KG atas nama 4 keponakan saya guna menunjang pendidikan mereka di masa depan dan 2 KG nya untuk  2  yayasan pendidikan anak dan perempuan di Tanah Papua; Jam kedua, mengajak 4 keponakan saya dan keluarga pergi ke Canberra dan mengunjungi kampus saya dan berfoto di beberapa landmark Canberra, Sydney, Melbourne dan tak lupa kampus saya. Hal ini demi memompa semangat para keponakan untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengejar mimpi mereka. Jam ke tiga, membeli setermos kopi panas dan cokelat panas dari gerai kopi  terkenal  entah dari negara mana dan beberapa potong sagu karamel, duduk di tepi pantai utara khususnya di pantai yang menjadi hak ulayat keluarga mama, beralaskan tikar dan memeluk  para keponakan kecil dan menikmati kopi dan cokelat panas bersama mereka serta keluarga yang menemani dari kejauhan dan kami menanti datangnya senja. Tak lupa juga ada acara foto bersama HEHEHE.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang hendak dilakukan, diimpikan oleh saya dan para teman bila dihadapkan pada situasi 3 jam yang saya beri. Apapun yang mereka tulis dan bagikan pada saya adalah sesuatu yang membuat mereka merasa bahagia dan mengajarkan serta menunjukan faset – faset kehidupan mereka sebagai manusia. Yang saya tahu, hidup penuh misteri dan begitu singkat serta tak pernah dapat diprediksi hasil akhirnya. Konteks 3 jam hanyalah konteks imajinasi yang saya beri, di dunia nyata kadang kita bahkan tak pernah tahu kapan waktu terakhir kita. Yang bisa saya pelajari dan ambil dari komentar teman – teman saya ini dapat saya simpulkan sebagai berikut: NIKMATILAH HIDUP SELAMA KITA MASIH HIDUP, BAGIKAN KASIH PADA YANG KITA CINTAI SELAMA MASIH ADA WAKTU  dan BERUSAHA BERBUAT KEBAIKAN SELAMA NAFAS MASIH ADA  karena hidup adalah misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun teringat sebuah perkataan dalam bahasa Inggris, “Work like you don’t need money. Love like nobody has ever hurt you. Dance like nobody is watching. Sing like nobody is listening. Live as if this was paradise on Earth.” Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 300112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-232085701372544567?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/232085701372544567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=232085701372544567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/232085701372544567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/232085701372544567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/catatan-3-jam.html' title='Catatan 3 Jam'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2065389768319721705</id><published>2012-01-31T22:00:00.000+10:00</published><updated>2012-01-31T22:04:00.785+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Sapi Perah Akademik di Manokwari</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sapi perah; saya tak tahu bagaimana sikap pandang anda terhadap hewan ternak ini. Bila jenis sapi lainnya hidup dan dibesarkan hanya untuk menjalani sebuah ritual akhir penuh darah tersembelih dan mengorbankan diri menjadi sumber energi manusia lewat dagingnya, maka jenis sapi yang umumnya berwarna hitam putih ini, hidup hanya untuk mengorbankan saripati hidupnya untuk para manusia. Pada umur tertentu, mereka rela ‘diraba - raba’, dipegang – pegang susunya dan dibelai hanya demi cairan kental yang bila menjalani proses sterilisasi tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk pemenuh kebutuhan kalsium, protein dan lemak, tergantung kebutuhan. Mulai dari keju, susu cair, susu bubuk instan hingga es krim. Banyak manusia yang tertolong karena si ‘mama sapi’ ini, apalagi para wanita pengejar karir yang membiarkan bayi ataupun anak mereka menikmati produk sapi perah pemakan rumput. Saya salah satu orang yang bersyukur adanya hewan ini karena memang tak minum ASI sejak umur 1 minggu dan produk ‘mama sapi’ ini benar – benar jadi salah satu produk yang menjamin kehidupan awal saya di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, catatan ini tak ingin bicara tentang ‘si mama sapi’ tetapi meminjam analogi sapi perah dalam konteks akademik. Oooops, saya tak bicara tentang jurusan peternakan ataupun yang berhubungan secara harafiah dengan hewan rumensia pemamah biak dan pemakan rumput ini. Sama sekali bukan! Yang hendak saya bahas adalah tentang praktek – praktek ‘pemerahan sapi’ terhadap mahasiswa – mahasiswi yang terjadi di lingkungan akademis sebuah universitas negeri yang dalam 6 bulan terakhir ini terus saya dengar dan membuat kuping saya sedikit panas dan akhirnya ya, apa boleh buat, saya harus menulis sesuatu tentang hal ini. Harus! Karena bagi saya, ini adalah sebuah bentuk ketidakadilan yang harus diperangi, dilawan dan tentu saja didokumentasikan agar menjadi pelajaran bersama. Sebuah cara untuk melawan ketidakadilan adalah dengan TIDAK BERDIAM DIRI dan PEDULI! Ini hanya catatan protes saya tentang apa yang terjadi di sebuah universitas terkenal di kota kelahiran saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan saya ini tentang para oknum pengajar ‘tak tahu malu’ yang menebar ‘racun’ di mana – mana. Mereka benar – benar HARUS MALU pada pengajar – pengajar lain yang rela melakukan yang terbaik bagi para anak bimbingan, yang kadang rela keluar duit pribadi demi keberhasilan anak bimbingan ataupun bahkan kehilangan waktu berkumpul dengan yang terkasih demi lulusnya mahasiswa/i bimbingan. Oknum dosen seperti ini juga harus malu pada para orang tua dan kerabat mahasiswa yang diperas karena ia salah mempergunakan kepercayaan mereka. Oknum dosen seperti ini juga harusnya malu pada para mahasiswa yang memberi label mereka ‘dosen’ dan mempercayakan kehidupan akademis mereka pada para begundal ini. Tak lupa, harusnya malu pada para pembayar pajak seperti saudara dan saya yang rela menyisihkan penghasilan kita demi membayar para bromocorah seperti ini. Sayangnya, para begundal ini TAK PUNYA RASA MALU karena saya percaya yang ada TERSISA pada mereka hanyalah ‘KEMALUAN’ mereka yang mungkin lebih dipelihara =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekedar berbagi tentang apa yang sebenarnya terjadi dan berharap serta berdoa akan ada jalan keluar yang baik. Ya itu harapan saya dari tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini juga didasari oleh panggilan hati untuk bersuara karena saya pun pernah mengalami hal serupa bahkan lebih ‘gila’ yang berurusan dengan ‘duit’ berulang kali sewaktu masih berkuliah selama setahun di sebuah universitas negeri terbesar di Manado sana dan kerap jadi korban ‘sapi perah’ para dosen gila uang. Itulah sebabnya saat mendengar kisah – kisah korban tukang peras ini di kota kelahiran saya, khususnya di almamater S1, ‘radar marah’ saya pun menyala. Saatnya MELAWAN! Sesuatu yang saya sesali tak pernah saya lakukan di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan gosip, saudara – saudara. Sama sekali bukan! Hanya sebuah rangkuman peristiwa – peristiwa lepas yang saya dengar langsung dari para ‘korban pemerahan’ ataupun para saksi. Sayangnya, beberapa peristiwa yang saya tulis berikut ini baru saja terjadi dalam hitungan hari dan minggu dan ya tampaknya akan terus terjadi bila tak ada sebuah tindakan tegas atau aksi massa untuk memprotes hal ini. Tapi, semoga akan ada perubahan. Semoga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mr FLY: RUMAH SKRIPSI &amp; MATRIX SOCCER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswi asli Papua yang sedang menunggu tugas akhir perkuliahannya mengeluh pada salah satu sahabat saya. Ya apa lagi kalau bukan urusan pembimbingan skripsinya yang berjalan lambat. Bukan tentang kemampuan kapasitas otaknya, bukan pula tentang obyek penelitiannya, tetapi lebih pada ulah pembimbingnya yang kami label bersama ‘pace tukang peras’. Ya, kami tahu kalau pendidikan di Papua itu lumayan mahal. Namun, apa yang dilakukan si oknum dosen ini memang benar – benar keterlaluan. Sangat keterlaluan. Ini deskripsi singkat aksi si oknum yang sebaiknya kita gelar saja sebagai ‘Mr Fly’ karena hobinya menenggak minuman keras kala pembimbingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr Fly, lelaki paruh baya berusia 50an, pengajar di bidang ilmu eksakta di almamater saya mungkin contoh ajaib dosen yang lupa atau ‘pura – pura mati’ untuk panggilannya dalam mencerdaskan umat manusia atau bahkan lupa atas panggilannya untuk mengabdikan ‘ilmu untuk kemanusiaan’. Lelaki bertubuh pendek yang berasal dari provinsi Seribu pulau dan tinggal di kawasan konservasi di kota saya ini memang tak punya panggilan hati untuk mengabdikan kepintarannya (walau saya sendiri juga ragu atas kepintarannya karena ‘gosip’nya ia bahkan tak punya label jenjang pendidikan lanjutan yang kompeten guna menunjang karir akademiknya). Anyway, Mr Fly tak tanggung- tanggung ‘memerah’ apapun yang bisa ia peras. Ibarat tukang cuci pakaian, kain yang diperasnya bisa sampai kering ibarat disetrika =D Iya, tak percaya? Ini daftar dosanya yang berhasil saya tangkap dari pengakuan penyelidikan beberapa anak yang enggan untuk menyebutkan nama. Iyalah, mereka tak punya keberanian untuk melawan dan masih memakai ‘mental korban’ . Itulah sebabnya saya memilih menuliskan kisah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu, kala Piala Dunia sedang heboh di Afrika Selatan sana. Mr Fly tak ragu bilang pada anak – anak bimbingannya, “Adoooh sa tra bisa periksa ka bimbing kam skripsi kalo sa tra nonton piala dunia oooo. Padahal sa rumah trada parabola Matrix Soccer ka ini. Jadi, kalo kam mo kam skripsi beres, kam harus beli sa Matrix Soccer eee.” Maka berbondong – bondonglah anggota genk pembimbingan urunan duit, tak peduli ada yang orang tuanya bukan orang kaya pun bukan anak pejabat. Cari pinjaman sana – sini, cari tambahan di mana – mana kalau perlu duit makan keluarga dipotong manis demi alat penangkap permainan sepakbola di benua hitam kala itu. Alhasil, Mr Fly cuma bisa ketawa – tawa manis kala perangkat elektronik piring penangkap sinyal bermerek ‘Matrix Soccer’ tiba di rumahnya. Tak peduli bahwa genk Skripsi pada kembang kempis cari duit sebanyak Rp. 2.800,000,- demi membeli alat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, malah lebih parah. Mr Fly mengancam seorang mahasiswi bimbingannya dengan bilang, “ko bayar 2 juta Rupiah dulu baru ko bisa ikut seminar eee. Kalo trada, jang harap ko bisa seminar.” Si mahasiswi tentu saja stress berat. Untunglah, ia tak tinggal diam dan sempat melapor. Tapi saya masih tak tahu informasi lanjutan. Ditengarai memang tak hanya mahasiswi ini yang jadi korban ‘perah’ uang. Masih banyak yang memilih diam yang penting lulus. Payah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr Fly mungkin memang cocok dilabel sebagai Mr Fly tapi memang ya sifatnya yang rada mirip lalat yang suka hinggap di mana – mana menyebarkan penyakit, ataupun memang suka terbang menjaring duit dimana – mana ataukah sekedar terbang ke dunia ketaksadaran. Iya, si Mr Fly memang pemabuk sejati ataupun memang doyan mabuk. Mungkin penggemar ‘air kata – kata’ agar nalar berlogika akademik bisa jalan ya? Saya tak tahu. Yang saya tahu, tiap anak mahasiswa/i yang hendak konsultasi dengannya harus menyetor minuman keras sekitar 2 botol. Lah biar di Manokwari ada Perda Miras, itu mah tidak berlaku bagi Mr Fly. Harus 2 botol, kalau tidak, pembimbingan pun ngadat setengah mati. Taprop getho. Padahal sebotol minuman keras entah Whisky apa Vodka apa Mansion saja sudah mencapai Rp. 125.000,-. Jadi kalikan saja berapa banyak yang bisa didapat Mr Fly bila yang dibimbingnya hampir 10 orang. Tak hanya itu, bila mahasiswa yang datang pembimbingan, mau tak mau, suka tak suka,  Mr Fly menerapkan ‘mabuk berjamaah’ dulu biar bisa ‘konek’ dengan isi bahasan. Parah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kisah Mr Fly dan korbannya, sayangnya saya tak pernah tahu bagaimana penanganan di almamater saya terkait oknum – oknum pemerah seperti ini. Saya jadi mengerti mungkin salah satu alasan Mr Fly gila – gilaan memeras duit dari mahasiswa bimbingan karena tiap kali melintas dekat rumahnya, saya melihat proyek bangun rumahnya yang lumayan megah dan bertingkat. Pagarnya saja ‘elit’. Ya, anggap saja itu ‘rumah skripsi’ karena dibangun dari keringat darah perasan anak bimbingan akademik. Saya jadi bertanya sendiri, kalau memang ingin jadi ORANG KAYA, kenapa juga mau jadi dosen yang gajinya ‘standar’ banget dan tak ada ‘lahan basah’ kecuali kalau ikutan proyek penelitian? Kenapa tidak jadi pengusaha sekalian atau wiraswasta? Kan lebih untung dan juga lebih ‘manusiawi’ karena memang tujuan utama usahawan adalah mencari keuntungan sebanyak mungkin. Lah ini DOSEN, pengajar pula? Mikir dong pak dosen, kalau getho, ganti saja profesi jadi PENGUSAHA SKRIPSI atau sekalian jadi USAHAWAN PEMERAS UANG MAHASISWA! Kan ujung – ujungnya jelas: cari duit sebanyak – banyaknya HAHAHA *ketawa Rahwana sambil pegang pentungan membayangkan melempar dopis ke rumah Mr Fly yang baru dibangun =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mr FISH: ‘SHAKE ME or GIVE ME SUMTHING, BABY’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Label saja dia Mr Fish. Bukan karena suka makan ikan ataupun mirip ikan. Sama sekali bukan. Ini hanyalah gelar saya untuk lelaki berkulit kopi yang berprofesi sebagai pengajar di almamater saya. Ya, saya memang a storyteller indeed, jadinya ya memang selalu pasang telinga atas ‘curhat’ para mahasiswa kampus. Namanya juga pengangguran banyak acara yang suka beredar di mana – mana, selama tidak ada kerjaan. Nah ini cerita saya tentang si Mr Fish dan juga teman – temannya yang sejenis. Fresh from tempat asar ikan =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Mr Fish mungkin sedikit ‘double-error’nya dari Mr Fly. Tak hanya suka jadi ‘pengusaha sapi perah’ ataupun ‘tukang palak’, tapi juga menjadi serupa peternak sapi yang suka ‘menjamah’ kemana – mana. Iya, begitulah. Jadi serasa ingat film Idle Hand-nya si Devon Sawa deh beberapa tahun lalu saat tangannya tak bisa terkontrol. Iya, tapi konteksnya beda, kalau untuk si Mr Fish, istri di rumah mah lewat, bila mahasiswi bimbingan bisa juga jadi ‘sapi perah’. Sorry, ini memang ‘gosip’ terbatas yang sempat singgah di telinga saya dan tentunya mahasiswi ini hanya bisa mengeluh. Untungnya pada kasus terbaru ini, mahasiswi ini bisa ‘kabur’. Ya, walau memang kalau dilihat rekam jejaknya, ini bukan kasus pertama Mr Fish berusaha ber-shake me baby dengan mahasiswi bimbingannya. Jadi, singkatnya saja, si Mr Fish berusaha untuk memanfaatkan kesempatan selama bimbingan dengan ‘aksi menjamah tubuh’ si mahasiswi (paha, pinggang dan terus berusaha mengajaknya duduk berdekatan) ditambah embel – embel ancaman halus, “kalo ko tra mau dekat – dekat nih, sa tra akan periksa ko pu tulisan eee.” Alamak, mana setting-nya diatur sesorean di ruangan kampus yang sepi. Tentu saja mahasiswi korban benar – benar ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh gimana sih Mr Fish, kalau servis di rumah kurang HOT, kan ada jasa’ layanan’ yang banyak di luar rumah, mau dicarikan? HAHAHAHA. Lagian kalo memang ‘butuh’ yang kayak getho, kenapa tra sekalian saja bukan usaha jual ‘property’, pak? Kan sudah enak, nikmat eee dapat untung pula. Apalagi dengan tampangnya yang lumayan itu, Mr Fish pasti laku banget di pasaran para tante girang. Kasian kan para mahasiswi yang harus ketakutan tiap mo konsultasi. Payah nih Mr Fish, enaknya sih diumpankan ke para tukang sodomi deh, biar tahu rasanya dilecehkan HAHAHAHA *ketawa a la Psycho Samantha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, Mr Fish tak hanya jago ‘menjamah’, tapi juga jago memeras. Beberapa bulan lalu, ada serombongan mahasiswa bimbingan yang mengaku diperas halus tak hanya dari uang, buah, tetapi bahkan ikan. Intinya, kata mereka, asalkan Mr Fish tahu ada sumber yang bisa diperas, ia akan memeras. Tak tanggung – tanggung, langsung dengan ancaman halusnya, “Kalo ko tra bawa, nan sa juga tra cek ko tulisan ka ko nilai nan bagaimana eee.” Saya ingat bagaimana para korban sempat curhat pada saya, “Bapa de bilang sama tong, kam ni kuliah enak eee, di Jawa sana tuh dosen dong peras mahasiswa parah ya.” A la Pak, Stop bicara HAM dan ketidakadilan suda ya, kalau memang bapak tak suka apa yang dilakukan di Jawa sana, jangan jadi orang yang bapak protes. Istilahnya sih memaki orang yang ‘ber**’ di kali, tapi toh menjilat pan*** si tukang ber** itu!!! Jijai dobol – dobol donk!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya mental a la Mr Fish ini kerjanya jangan jadi pengajar perguruan tinggi tapi ya semisal kerja jadi dokter kandungan deh. Kan hobinya memberikan ‘jamahan kasih’ sekalian dibayar to. Gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu bagaimana ke depannya kasus si Mr Fish ini ditangani. Semoga tak ada lagi korban baru. Ya semoga, walau pesimis setengah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kasus sejenis Mr Fly dan Mr Fish yang sempat saya dengar, memang yang lain saya cuma mendengar sekilas. Itu belum termasuk para oknum pengajar pesohor kampus yang kerap menghilang ya di musim bimbingan. Entahlah, saya tahu biaya pendidikan itu mahal, tapi saya semakin bingung kok orang – orang seperti Mr Fly dan Mr Fish ini hadir ya. Bagaimana jadinya ya dunia pendidikan di Papua yang katanya sekarang lagi mau dipercepat ini? Bagaimana mo dipercepat bila masih ada para oknum dosen tukang peras dan tukang jamah yang berkeliaran dengan sampul ‘akademisi’ dan ternyata mereka hidup dari BAYARAN NEGARA yang notabene sumber duit pembiayaannya dari pajak saudara dan saya? *protes pemegang NPWP yang tak lama lagi harus bayar SPT =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ini sudah bukan masalah rasa atau suku, karena para oknum pengajar seperti Mr Fish dan Mr Fly ini datang dari kalangan Papua dan Non-Papua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah andai saja para oknum ini bisa sadar bahwa mereka mengabdi pada sebuah universitas yang ingin mengabdikan ‘ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan’. Bagaimana memanusiakan manusia yang belajar bila ada oknum pengajar yang menganggap anak bimbingannya sebagai ‘sapi perah’ untk dijamah dan diperas? Entahlah, Biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi saya percaya, Tuhan tidak pernah tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bukan Tuhan yang membalasnya, saya yakin akan ada perpanjangan tangan lainnya yang akan bekerja. Bila saatnya tiba, saya ingin berada dan menyaksikan. Saat LALAT terakhir ditepuk mati dan IKAN terakhir diracun tewas, itulah saat dimana saya akan tertawa keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, saya tidak akan tinggal diam melihat ada oknum - oknum seperti ini. Sudah saatnya LAWAN, LAWAN, LAWAN. Karena ketidakadilan hanya bisa dilawan kala kita tidak tinggal diam. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahas mero*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ( Manokwari, 290112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Bahas mero (Meyah) Goodbye&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2065389768319721705?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2065389768319721705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2065389768319721705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2065389768319721705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2065389768319721705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/sapi-perah-akademik-di-manokwari.html' title='Sapi Perah Akademik di Manokwari'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2818456474633460246</id><published>2012-01-26T20:21:00.001+10:00</published><updated>2012-01-26T20:24:36.793+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Sekilas tentang Suanggi Meyah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 2001, beberapa teman saya yang berkuliah di UNIPA Manokwari pernah diminta untuk membuat makalah tentang Suanggi oleh dosen mata kuliah Etnografi Papua. Waktu itu, kebetulan saya masih dalam masa pemulihan kesehatan selama setahun dan punya banyak waktu sehingga membantu mereka untuk mengerjakan tugas mencari data ini khususnya mewawancara narasumber. Kebetulan keluarga mama saya memang berasal dari lingkar kekuasaan sukunya karena kakek saya pernah menjadi Kepala Suku Besar Arfak di masa lampau. Jadi, saat mendengar topik suanggi, saya yang sejak kecil telah paham arti kata ini pun mengajukan mewawancarai saudari bungsu mama saya (Ibu Beatrix Irene Mandacan) dan beberapa kerabat di daerah Fanindi ST, Manokwari guna mendapat gambaran tentang bagaimana peran suanggi dan berbagi cerita tentang apa yang mereka ketahui tentang suanggi dalam suku kami. Tentu saja dalam catatan ini saya juga menambahkan intisari pembicaraan lepas yang saya peroleh sekian tahun dari lingkup keluarga besar saya. Ya, karena percaya tak dipercaya, kematian anggota keluarga besar saya secara mendadak dengan cara yang ‘aneh’ bukan lagi barang baru dan kerap terjadi, jadinya ya berbicara tentang suanggi di kalangan keluarga besar kami ibarat berbicara tentang gosip yang sedang panas di infotainment televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap saja ini catatan etnografi dan tidak bermaksud mendeskreditkan suku apapun karena bagaimanapun saya percaya suanggi adalah sebuah mekanisme kontrol sosial yang ada dalam suku mama saya. Catatan ini hanyalah sekedar berbagi. Kebenarannya biarlah anda yang menentukan. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SUANGGI MEYAH: Etimologi &amp; eksklusivitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap kebudayaan pasti ada saja satu elemen budaya yang terkait dengan sistem pengetahuan dan teknologi. Nah, di suku mama saya, sistem pengetahuan tak selalu berujung pada teknik pengetahuan yang berimbas pada kemaslahatan hidup banyak orang tetapi juga yang hanya ada di kalangan tertentu dan bagi saya merupakan salah satu temuan yang menarik untuk dibahas. Apalagi kalau bukan praktek – praktek ilmu hitam atau black magic. Di suku mama saya dan juga beberapa suku Papua lainnya, kata ‘suanggi’ punya arti yang berbeda gradasi maknanya tetapi semuanya ujung – ujungnya yang berujung pada ‘pembunuhan’ atau tindakan membunuh dengan menggunakan kekuatan/tindakan supranatural dengan berbagai alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan suku besar Arfak, istilah suanggi mempunyai sebutan yang berbeda tergantung pada bahasa suku. Suku Meyah menyebut suanggi dengan kata ‘Merejs’, sedangkan suku Hatam menyebutnya dengan nama ‘Mpieda’ dan suku Sough menyebutnya dengan kata ‘Surera’. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, daerah basis atau pusat – pusat kegiatan ilmu suanggi terdapat di daerah distrik Ransiki, Anggi dan Warmare. Suanggi suku Arfak dikategorikan sebagai suanggi gunung dan tidak mempergunakan ilmu terbang ataupun ilmu berubah bentuk. Sehingga benar – benar hanya berlaku seumpama ‘pembunuh bayaran’ yang dapat disewa sebagai alat kontrol sosial kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek suanggi telah ada sejak jaman dahulu di daerah ini namun sangat sulit untuk menelusuri asal muasalnya karena faktor kerahasiaan di dalam komunitas ini sendiri. Selain itu, faktor jender pun terjadi karena peran suanggi hanya dilakukan oleh laki – laki. Tabunya masyarakat suku Meyah untuk menyebut dengan jelas anggota komunitas suanggi yang ada di suku mereka juga berimbas pada tertutupnya informasi tentang semua jenis tanaman dan obat – obatan yang dipakai dalam praktek ini. Selain itu, legenda – legenda tentang suanggi pun tidak dapat dibagi dengan mudah pada komunitas luar. Dapat disimpulkan, suanggi menjadi sebuah komunitas eksklusif di dalam suku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOTIF DAN KOMPENSASI&lt;br /&gt;Pada dasarnya suanggi Meyah tak lebih dari komunitas pembunuh bayaran tradisional terlatih yang menjadi alat kontrol sosial kekuasaan. Suanggi di dalam suku mama saya tak sembarangan membunuh orang  dan mempunyai motif yang sedikit berbeda dengan beberapa suku lainnya di Papua yang ditengarai juga melakukan ilmu suanggi misalnya untuk memberikan ‘makan’ pada makhluk halus atau ilmu gaib kepunyaannya. Di suku Meyah dan juga suku lainnya di daerah pegunungan Arfak, umumnya para suanggi membunuh atas dasar suruhan orang lain. Hal ini dilatarbelakangi oleh dendam keluarga turun temurun, dendam pribadi, hukuman atas perzinahan yang dilakukan oleh korban ataupun karena perebutan ataupun kudeta kekuasaan. Umumnya korban pun berasal dari kalangan suku besar Arfak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hal gratis di dunia ini, begitu pula tak ada jasa suanggi gratis di suku mama saya. Tentu saja para klien pemakai jasa sadar benar tentang konsekuensi pembayaran yang harus diselesaikan dengan para suanggi plus konsekuensi sosial bila keluarga korban melakukan tindakan balasan dengan menggunakan komunitas suanggi lainnya. Pun suanggi yang bisa saja ‘membelot’ dan malah mengeksekusi kliennya sendiri karena kedekatan emosional dengan calon korbannya *berdasarkan cerita keluarga yang pernah saya dengar tentang intrik kekuasaan suku kami di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan pembunuhan tersebut, para suanggi dijanjikan hal – hal menggiurkan. Di masa lalu dan juga masih berimbas pada masa kini, ada beberapa item barang yang menjadi bayaran suanggi al: Kain Timor (nilai konversi = kualitas 10 mata min. 10 juta Rupiah/lembar), Kain Toba (nilai konversi = sekitar 30 Juta Rupiah), Babi ataupun sejumlah uang. Bahkan saya pernah mendengar di masa lalu usai perang dunia II, pucuk senjata peninggalan perang pun dijadikan salah satu bentuk pembayaran. Di masa kini, saya juga pernah mendengar peran senapan angin sebagai bahan bayaran. Jaman modern pun tak bisa menafikan peran uang sebagai alat pembayaran karena uang menjadi salah satu bentuk alat pembayaran yang umum dipakai di masa kini. Pada tahun 2001, saat saya bertanya pada narasumber saya, waktu itu konon tarif suanggi untuk membunuh minimal 1 Juta Rupiah. Tahun kemarin, saya iseng – iseng bertanya pada kerabat jauh, konon tarif minimalnya sudah mencapai antara 7 – 10 juta Rupiah/kepala. Tetapi perlu diingat bahwa dalam komunitas suku Meyah, tarif jasa suanggi tergantung pada peran politik korban. Semakin besar atau berpengaruhya korban dalam kekuasaan, maka tarif yang dikenakan akan semakin tinggi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;METODE PEMBUNUHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suanggi Meyah maupun suku besar Arfak lainnya bekerja dengan berbagai metode, tergantung pada pesanan. Umumnya terbagi 2 jenis: cara lambat dan ‘halus’ dan cara cepat tapi ‘kasar’. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Cara Lambat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian ini, ada dua metode yang dipakai oleh suanggi Meyah yaitu dengan menggunakan ‘doti – doti’ maupun teknik racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila klien suanggi menginginkan korban mati secara lambat, perlahan dan tidak menimbulkan kecurigaan demi mencegah adanya ekses yang tak diinginkan semisal aksi dendam balasan, biasanya pilihan pertama yang diambil adalah dengan menggunakan ‘doti – doti’. Perbedaan utama antara kata suanggi dan doti – doti adalah sbb = Suanggi adalah orang yang melakukan praktek pembunuhan, sedangkan doti adalah salah satu terapan item ilmu gaib yang dipakainya. Doti adalah praktek pengiriman ilmu gaib melalui angin dengan cara menjentikkan dengan jari sejumlah benda asing ke dalam tubuh korban al: kulit kayu merah (mereva), halia merah dan lain – lain. Dengan demikian, diharapkan akan merusak jaringan di dalam tubuh korban dan membuatnya sakit dan meninggal. Umumnya dalam melaksanakan praktek ini, sebelum ‘kutik doti’, suanggi akan merokok dan melihat ke arah mana asap bertiup guna menentukan arah angin. Jadi, doti hanya akan dilepaskan bila angin dari posisi suanggi bergerak mengalir menuju korban dan bukan sebaliknya. Alih – alih, malah si suanggi yang terkena ‘senjata makan tuan’ HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penggunaan doti dalam metode pembunuhan yang lambat, para suanggi Meyah juga menggunakan teknik meracun korban. Umumnya racun dicampurkan dengan makanan dan minuman korban. Pada masa lalu, racun umumnya dibuat dari tanaman tertentu yang didapat langsung dari alam. Pada masa modern ini, konon, obat serangga tertentu dan zat kimia tertentu dipakai pula dalam eksekusi korban. Bahkan konon ada beberapa yang juga mempergunakan alat suntik berisi cairan kimia tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara Cepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan cara khas dan halus seperti doti dan racun, suanggi Meyah juga menggunakan cara ekstrim dalam membunuh korbannya. Ini rangkuman kronologisnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Pada dasarnya suanggi adalah ‘dinas intelijen terbaik’ di suku mama saya. Mereka juga adalah para pengamat yang baik. Suanggi Meyah umumnya dapat bekerja secara individual maupun berkelompok dan bahkan terkadang saat eksekusi akan membawa anak – anak remaja laki – laki yang dipersiapkan agar kelak menjadi penerus mereka. Mereka akan mematai – matai korban dalam jangka waktu tertentu. Bila didapat bahwa korban sendirian, maka suanggi mulai melancarkan aksinya. Mula – mula korban akan dilempari dengan batu kecil atau tanah yang telah dimanterai sehingga korban jatuh tak sadarkan diri. Namun, dalam melaksanakan niatnya, TKP harus dipastikan sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Setelah itu korban dibanting sampai patah sebanyak tiga kali ataupun lebih dalam keadaan tidak berpakaian. Hal ini dimaksudkan agar sewaktu korban dibangkitkan dan diperintahkan pulang tidak terdapat bekas – bekas kekerasan dan pakaian dalam keadaan bersih. Selain dibanting, korban juga dipukul ataupun ditendang. Intinya semua kegiatan itu untuk memastikan bahwa korban sudah meninggal dengan luka patahan yang banyak. Kadang pada beberapa kasus yang korbannya adalah ibu hamil, janin yang dikandungnya sampai keluar. Namun, proses pembunuhan ini umumnya untuk orang dewasa. Pada anak – anak, cukup dipatahkan saja lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Setelah korban diyakini sudah meninggal, suanggi mulai memasukan ilmu gaibnya yang berbentuk telur ke dalam mulut korban. Ada yang mempercayai bahwa telur ini adalah manifestasi sejenis hewan gaib berbentuk kadal sehingga bila masuk ke dalam tubuh mayat korban maka akan berubah menjadi kadal dan memberi hidup sementara dari dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses mendapatkan telur cukup unik. Masyarakat Meyah mempercayai bahwa setiap suanggi mempunyai sejenis pohon tertentu yang mereka tanam di tempat rahasia mereka. Pada waktu mengambil benda gaib ini, mereka menggunakan sejenis daun gatal yang digosokkan ke tumbuhan tersebut. Secara ajaib, tumbuhan tersebut berubah menjadi telur. Tentu saja ini bukan telur biasa. Fungsi telur ini untuk memperbaiki atau menyembuhkan luka – luka korban agar tidak tampak. Namun, tentu saja hal ini bersifat kamuflase atau semu. Usai memasukan telur ini, suanggi lalu menjilat luka – luka korban dan membaca sejumlah mantera. Secara ajaib, luka – luka tersebut hilang lalu korban dipakaikan pakaian. Suanggi kemudian memerintahkan korban untuk bangkit serta meninggal dengan cara yang diinginkan suanggi agar tak meninggalkan kecurigaan misalnya jatuh dari pohon, kecelakaan lalu lintas dan lain – lain. Jangka waktu kematian pun beragam, mulai dari tiga hari sampai satu minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila korban mempunyai pengaruh yang besar, misalnya kepala suku, ada perlakuan khusus. Untuk membunuhnya harus sampai tiga kali dalam jangka waktu yang berbeda. Misalnya korban dibunuh pada tanggal 1 Januari, suanggi akan menyuruhnya untuk kembali dibunuh pada tanggal 8 Januari, dan terakhir pada tanggal 16 Januari untuk pembunuhan terakhir. Setelah korban dibunuh, suanggi akan membawa sedikit rambut dari kepala korban untuk menjadi bukti. Selama masa penantian kematian ‘de jure dan de facto’, telur gaib milik suanggi akan tetap berada di dalam tubuh korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4. Konon, setelah korban meninggal dan dikuburkan, suanggi akan datang ke kuburan dan dengan kekuatan ilmu gaib akan mengambil kembali telurnya. Namun, pada beberapa kasus apabila korbannya adalah orang yang berpengaruh, kadang suanggi akan membawa kepala korban. Itulah sebabnya apabila ada orang Meyah yang meninggal, sanak keluarganya akan menjaga kuburan hingga seminggu. Bahkan pada keluarga besar mama saya, kami langsung men-cor semen kuburan. Itulah sebabnya kuburan keluarga besar keluarga kami berada di tengah – tengah areal domain keluarga, agar bisa terpantau. Konon, apabila suanggi telah berhasil mengambil telurnya, suanggi dan kelompoknya akan mulai menari merayakan pembunuhan ini dan menyanyikan lagu – lagu bahasa Meyah kuno di rumah klien pemakai jasa mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;PANTANGAN SUANGGI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian pembunuhan ini tetap ada saja beberapa pantangan yang harus ditaati suanggi suku Meyah, al:&lt;br /&gt;#1. Pada waktu membangkitkan korban, bila pelakunya dua orang atau lebih, mereka tidak boleh berpapasan di dekat mayat atau korban. Bila hal ini dilanggar, korban akan langsung bangkit dan mengenal mereka. Jadinya ya melintaslah satu – satu getho kali ya hehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Pada waktu membawa rambut korban untuk diberikan kepada klien pemakai jasa, suanggi tidak boleh memberikan benda itu sebelum korban dikuburkan. Bila hal ini dilanggar, maka apabila si klien pemakai jasa datang melayat korban, korban tersebut akan bangkit dan memberi tanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;IDENTIFIKASI: Korban Vs Suanggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suku Meyah mempercayai bahwa orang yang dibunuh suanggi akan memperlihatkan bekas – bekas pukulan pada saat meninggal. Antara lain wajah yang bengkak serta berwarna kebiruan seakan sudah meninggal beberapa hari, padahal baru saja positif meninggal lewat dari satu jam. Juga kadang jenasah yang cepat sekali bau dan membusuk. Tetangga belakang halaman saya, kerabat jauh mama yang berprofesi mantri juga menjadi contoh kasus masa kecil saya tentang suanggi. Keluarga mereka menjadi contoh bagaimana dendam orang Meyah itu ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini. Bermula dari kematian istrinya, seorang suster asal suku lain di teluk Cenderawasih, yang tiba – tiba. Waktu itu tak terlalu mencurigakan. Hampir setahun sejak kematian tanta, oom saya yang kerap merawat saya waktu sakit (kesehatan saya buruk sejak kecil) pun meninggal. Waktu itu di samping rumahnya, ada tumpukan kayu dan papan yang banyak. Saya masih SD waktu itu. Tak lebih dari 1 jam sejak oom mantra meninggal, di wajah dan tubuhnya pun mulai muncul segala bengkak biru lebam yang banyak. Seorang suster lain yang tinggal dekat rumah bilang karena gagal jantung atau serangan jantung. Tapi kami tak serta merta percaya karena lebamnya mencurigakan. Malam saat kematian oom, seorang anak kecil tetangga yang melayat pun kerasukan di rumah duka. Katanya roh oom saya yang masuk dan menyuruh membongkar tumpukan kayu di samping rumahnya, katanya ia dieksekusi di situ dan jam tangan pelaku ada jatuh di bawah tumpukan kayu. Karena tak percaya, kerabat kami membongkar kayu dan ternyata ada sebuah arloji di tumpukan bawah kayu itu. entahlah, saya lupa bagaimana kelanjutannya. Yang saya tahu, pada saat kerabat kami mengetahui bahwa oom mantri meninggal, mereka melakukan sejenis ritual mencincang semua jenis tanaman dan pohon di dekat rumah termasuk mencincang palang pintu sebagai ekspresi sedih dan juga dipercaya mengusir roh – roh jahat. Entahlah … *mengingat bagaimana mirisnya melihat koleksi tanaman oom mantri yang sangat subur itu dicincang abis =( Usai kematian oom mantri, selang 15 tahun kemudian, dua anak oom pun meninggal pula dalam jangka waktu dekat. Yang tersisa hanyalah 1 perempuan dan 1 laki – laki. Entahlah, saya hanya mendengar rumor ini karena urusan dendam keluarga. Kebenarannya biarlah waktu yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ciri – ciri suanggi di suku Meyah sangat sulit dipastikan. Biasanya menjadi pengetahuan kolektif klan tentang siapa yang berprofesi sebagai suanggi. Sedikit sulit mengidentifikasikan berhubung bila mereka sedang tak menjalankan misi atau membawa ‘ilmu’, mereka hanyalah manusia biasa. Bila di daerah lain ada yang sejumlah masyarakat yang berpendapat bahwa ciri – ciri suanggi itu bermata merah, di dalam pupil matanya bayangan manusia mempunyai ciri tertentu dan ciri lainnya, maka hal ini tak terjadi pada suanggi Meyah. Meskipun demikian ada ciri – ciri tertentu yang diajarkan oleh kerabat besar saya dan diwariskan pada kami, al:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Bila tiba – tiba mencium bau kus – kus yang terbawa angin di rumah, maka sebaiknya langsung masuk rumah dan tenang di rumah karena bau kus – kus menjadi salah satu indikator bahwa suanggi Meyah berada tak jauh dari rumah atau posisi kita berdiri. Jangan sampai kita menghalangi jalan mereka. Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Menurut sebuah rumor yang pernah beredar juga, konon komunitas suanggi juga mempunyai ciri khas tato tertentu di dahi mereka. Tato biasanya dipakai untuk kaum wanita suku Meyah di wajah dan tangan, tetapi pada beberapa lelaki kadang juga ditemukan. Konon, motif yang dipakai suanggi bisa berupa titik maupun huruf x yang menandakan jumlah pembunuhan yang dilakukan. Semakin banyak dan berbentuk x, berarti semakin lihai. Suanggi Master ka ini =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3.Bila berpapasan dengan mereka, tiba – tiba buku kuduk kita berdiri atau tiba – tiba jantung kita berdebar dengan kencang padahal tidak ada satu hal pun yang menakutkan. Konon, saat mereka menjalankan misi menuju Target Operasi (TO), ‘senjata gaib’ yang dipakai itu beraura panas dan membuat mereka tak suka ada yang menghalangi jalan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak anggota suku Meyah yang takut pada kehadiran suanggi karena suanggi tak hanya dapat membunuh tetapi karena apabila berpapasan dengan mereka dapat menyebabkan sakit. Meskipun demikian, hal ini tidak perlu terlalu ditakuti karena mereka juga hanyalah manusia biasa. Itulah sebabnya bukanlah hal aneh untuk melihat bagaimana ‘perburuan suanggi’ di komunitas – komunitas Meyah. Ya karena suanggi dapat dilukai dengan tombak, parang ataupun panah. Misalnya saja di tempat tinggal komunitas keluarga besar mama saya (rumah kami sedikit di bagian luar area komunitas), umumnya perburuan akan dimulai bila mulai ada orang – orang asing yang berdiri malam – malam mengendap – endap di belakang rumah atau dapur. Biasanya akan ada pengejaran dan penjagaan beberapa malam sesudah itu. Saya jadi membayangkan kalau ada pencuri yang nekat beroperasi di saat yang sama dan ketangkap, bisa hancur lebur kena parang dan panah HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;HOW TO FIGHT SUANGGI?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah ini bagian yang saya paling suka sih sebenarnya. Tentang bagaimana jalan keluarnya. Intinya adalah mungkin yang paling pertama dan utama ya sebaiknya kita berkawan dan bersosialisasi dengan baik dengan siapa saja tanpa pandang muka. Karena bagaimanapun suanggi Meyah hanyalah manusia biasa yang berpikir fragmatis yang masih punya rasa terima kasih, karena beberapa kasus yang saya dengar dari kerabat adalah pernah beberapa kali suanggi malah membelot dari perintah klien dan malah mengeksekusi klien sendiri karena kedekatan emosi pada korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam suku Meyah sendiri memang tidak ada upaya untuk melindungi diri sendiri semisal jimat ataupun penangkal tertentu dari serangan suanggi. Tetapi ada mekanisme penyembuhan lain yang dapat dipakai terkait praktek suanggi. Misalnya untuk menyembuhkan sakit akibat terkena ‘bayangan’ suanggi dapat dipakai racikan pucuk daun nenas yang ditumbuk dengan daun pohon kapuk. Selain itu, bila ingin mengecek apakah seseorang itu sakit karena memang faktor alami seperti virus dan saudara – saudaranya ataukah terkena ilmu suanggi dapat memakai sejenis tanaman tertentu yang disebut ‘daun merah’. Caranya dengan meminumkan rebusan daun tersebut. Bila sakitnya tidak sembuh – sembuh, berarti terkena ilmu suanggi. Jalan satu – satunya dengan harus segera mencari orang yang dapat melepaskan ‘dampak’ ilmu itu. NAMUN, bagaimana prosedur dan segala macamnya, please don’t ask me, sa belum ambil mata kuliah pengantar ilmu suanggi HEHEHE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMPULAN&lt;br /&gt;Entah bagaimana mendeskripsikan perasaan saya tentang praktek ilmu suanggi ini. Pada satu sisi, mereka adalah pembunuh bayaran. Tapi pada sisi lain, saya kagum pada bagaimana mereka belajar untuk melestarikan kontrol dan peran sosial mereka hingga di dunia modern serta menjaga kerahasiaan jenis – jenis tanaman yang mereka pakai. Tak lupa mereka juga masih melakukan kaderisasi bagi beberapa anak remaja yang mereka ajak ikut dalam praktek pembunuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masalah pilihan hidup dan bagi saya, praktek suanggi akan berkurang bila adanya kesejahteraan yang meningkat, menurunnya kesenjangan sosial dan tentu saja perubahan pola pikir pembauran yang humanistis. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suanggi Meyah akan terus adaptif seiring perkembangan jaman dan akan tetap ada. Karena di masa kini, mereka tak lagi berjalan kaki mematai korban tetapi sudah memakai SMS, ponsel dan juga naik ‘ojek’ dan mempergunakan alat suntik. Pertanyaannya seberapa jauh kerahasiaan komunitas ini dan pelestarian ilmu pengetahuan mereka bertahan, hanya waktu yang akan menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, bagi saya, Suanggi Meyah is the Ninja of my tribe =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 260112; direvisi dari naskah lama yang sudah 11 tahun terselip di sela – sela rak perpustakaan mini kamar)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2818456474633460246?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2818456474633460246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2818456474633460246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2818456474633460246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2818456474633460246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/sekilas-tentang-suanggi-meyah.html' title='Sekilas tentang Suanggi Meyah'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-7538854204330912089</id><published>2012-01-26T20:19:00.000+10:00</published><updated>2012-01-26T20:21:24.659+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lelaki Kopi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bob'/><title type='text'>Overture Lelaki Kopi</title><content type='html'>Kadang kita tak tahu dimana dan pada apa rasa sayang itu tumbuh, kita tak pernah tahu kapan rasa itu ada, kita tak pernah sadar kapan rasa itu berkembang cepat ibarat pembelahan virus. Kita tak benar – benar tahu bagaimana Feromon berselingkuh dengan Oksitosin dan mengajak Adrenalin turut serta dalam sensasinya. Kala semua rasa itu hampir usai, kita tak pernah pula tahu kapan si Kortisol mengendap perlahan …. Dan BUM!!!! Kita patah hati, kebingungan, mencoba meraih tali pengaman untuk bergelantungan karena kita terlalu jauh jatuh cinta dan rasa ini mengiris hati. Lebih pahit dari tumbukan kopi pertama panenan, lebih asam dan perih dari perasan lemon suanggi di luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah cinta itu mahal. Semahal luka! Benar begitu kan? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali lagi jatuh cinta padanya, pada si Lelaki Kopi ini. Ia punya banyak nama yang pernah kutuliskan. Ah ia memang selalu seperti kopi bagiku. Kami bertemu pertama kali beberapa bulan lalu di sebuah kedai beraroma kayu manis, kala kuhirup secangkir kopi susu dan membeli sekotak teh Gopek asli Slawi. Ia datang saat itu dan kami berbincang manis tentang sejenis kayu harum-manis langka penyembuh penyakit bernama Mersinggouw yang khas pegunungan Arfak. Kami berbincang hangat saat itu, berbincang tentang jalan raya, tentang pohon – pohon, tentang apa saja dan juga deskripsi rasa segar, berbicara tentang Persipura hingga rekan – rekan kerjanya. Entahlah, malam itu ia sukses membuatku tersenyum, tertawa dan merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, ia pun datang dan pergi usai kuminta. Selalu saja tiap beberapa minggu, kala hujan turun dengan deras, ia pun datang kembali dengan kata – kata rindunya yang tak bisa kutepis. Ya, tak bisa kutepis. Dan kembali lagi logika dan perasaanku bersinggungan lagi, friksi terjadi dan …. Mereka berkelahi dan membuatku merasa bersalah. It’s not the life I want, not anymore please ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kopiku pun kembali lagi. Ia berkulit kopi khas suku Teluk di tanah ini, dan ia ibarat kopi yang selalu membuatku segar, semangat, kreatif TAPI tak bisa kusesap lebih dari segelas per hari. Bisa bikin lambungku kesakitan dan jantungku berdetak tak sempurna serta dadaku sesak kembali. Entahlah, aku membutuhkan dia karena ia selalu menjadi penyemangat hidup, membuatku banyak tertawa, membuatku kreatif TAPI selalu saja ia kembali menjadi ibarat kopi. Aku intoleran pada kopi sejak tahun 2009. Kafein pernah dengan sukses membuatku terjun tiarap kesakitan tak bisa bernapas di kamar, di ruang kuliah dan di beberapa tempat. Ya, aku punya serangan refluks oseofagitis tiap kali menyesap kopi. Jangan heran, tiap minum kopi aku tahu konsekuensi yang kupunya. Itulah sebabnya aku mengurangi konsumsi kopi hitam apalagi cappuccino espresso atau kopi Italia lainnya, tak ingin menggadaikan nyawaku. Jadinya ya, hingga sekarang aku hanya boleh minum secangkir kopi tapi diikuti dengan minum obat sejenis Ezomeprazole magnesium 40 Mg ataupun omeprazole 40 Mg. Demi sebuah kenikmatan surga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyayangi Lelaki Kopi ini,  entahlah … belum pada tahap cinta TETAPI hanya merasa ingin membuatnya bahagia, tertawa dan tidak stress. Melindunginya!  Mungkin itu kata yang tepat. Aku melihatnya rapuh di dalam, ada luka yang disembunyikannya. Dan aku ingin menyembuhkannya. Entahlah …. Sejak pertama kali bertemu dan bercerita dengannya di bulan November kemarin hingga sekarang, aku serasa mengenal sahabat lama, mungkin karena ia punya beberapa fitur yang mirip Lelaki Hujan. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih suka kopi dan akan tetap cinta mati kopi dan itu pula yang kukatakan padanya hari ini. Untuk menjaga jarak lagi karena aku tahu ia seperti timbangan yang masih bingung tak bisa menentukan pilihan. Benar – benar cowok Libra, benar – benar tak tegas. Jadinya ya aku membuat ketegasan sendiri dari hubungan kami yang tak jelas ini: Pacar? Bukan. Teman? Lebih dari itu. Selingkuhan? Mungkin. 1 minggu ini sudah cukup bagiku untuk mengambil sikap. Ia membuatku tertawa, dan aku membuatnya nyaman dan tertawa. TAPI, selalu saja ada batasan untuk kopi, demikian juga untuk Lelaki Kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jalan terbaik memang. Aku bilang padanya semalam, “Kalo mo jalan deng sa serius, lepaskan semua ikatan cinta di masa lalu maupun kini yang mengikat dan sa juga akan lupakan dan tra akan bahas lelaki lain. Intinya, lepaskan apapun yang tra bisa bikin ko perasaan utuh jalan deng sa. Kalo tidak ya, selamat tinggal. Sa sayang ko tapi sa ingin lihat ko juga bahagia dan tidak kayak begini, karena nan tong dua sama – sama akan terluka pada akhirnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan ia hanya bisa menjawab seperti yang kuprediksi sebelumnya: “Pagi May, sebenarnya z juga suka ko dari awal ketemu, dan lama – lama semakin suka ko, cuma z lagi bingung. Sorry …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku hanya bilang padanya bahwa aku sayang padanya, akan tetap mendoakannya, dan juga segala macam nasihat untuk jangan stress, enjoy his life segala macam. Entahlah … hanya ingin memastikannya baik – baik saja kala aku menjaga jarak darinya. Menyelamatkan hatiku juga agar jangan patah hati terlalu dalam bila saatnya memang tiba. Aku juga bilang padanya untuk jangan mengkhawatirkan diriku karena aku akan baik – baik saja, karena sudah terbiasa patah hati sejak dulu. Hal ini tak akan membuatku terpuruk lagi. Saat yang berat telah lewat jadinya ya I’m get used to it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku kembali lagi meresapi puisinya Nova Riyanti Yusuf ‘Rasa dan Masa’dalam novelnya ‘Mahadewa Mahadewi’ yang isinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa, tidak seharusnya diajari&lt;br /&gt;Rasa, tidak seharusnya dibatasi&lt;br /&gt;Rasa, tidak seharusnya dipagari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa, tidak jelas dimulainya&lt;br /&gt;Masa, tidak jelas dinikmatinya&lt;br /&gt;Masa, tidak jelas diakhirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi keduanya ada&lt;br /&gt;Rasa dan masa&lt;br /&gt;Saling bertautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.&lt;br /&gt;Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur&lt;br /&gt;Namun ketika masa mengakhiri semuanya,&lt;br /&gt;Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu saja. Yang pasti aku tak menyesali perasaan sayangku dan segala macam yang terlewati dengan Lelaki Kopi ini. I enjoy every second of it. HANYA, selalu harus ada batasan bagi asupan ‘kopi’ dalam hidupku. Sesimpel itu. Jadinya ya ini masa hibernasi kami dan tentu saja artinya aku kembali lagi dengan hobi lamaku: mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang bertaburan dimana – mana itu HAHAHAHAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku akan baik – baik saja. Aku pahami itu dan sudah mengganti pola pikir alam bawah sadarku bahwa ‘aku bukan korban’ dari apapun dan ‘aku punya kontrol’ atas apapun yang terjadi atas hidupku agar bisa mengembalikan ritme moodku. Saat ini tinggal memilih sisi alter ego manaku yang hendak kuaktifkan, tentu saja usai beberapa jam menenangkan diri di alam, mungkin ke pantai atau perjalanan ke pinggir muara. Intinya, membuang energi negatif ke alam dan mencari Tuhan. Entah si Psycho Samantha, si Mellow May ataukah si Dayanara Meimosaki. Yang pasti, aku sayang Lelaki Kopi ini dan berharap ia baik – baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I (do) enjoy my life. Itu yang kutahu. Mungkin ini cara terbaik untuk menyayanginya, dengan menjaga jarak dan memantaunya dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How about Psycho Samantha saja ya untuk hari ini? HAHAHAHA. Wahai lelaki – lelaki ganteng dan ‘hot’, Come to mama HAHAHA* kumat gatal iyo =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 260112; an overture indeed, gonna miss my Bob)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-7538854204330912089?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/7538854204330912089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=7538854204330912089' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7538854204330912089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/7538854204330912089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/overture-lelaki-kopi.html' title='Overture Lelaki Kopi'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5529729489140840809</id><published>2012-01-25T14:45:00.001+10:00</published><updated>2012-01-25T14:49:54.776+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='woman talk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psycho Samantha'/><title type='text'>Psiko Samantha - Dari Samantha hingga Magnum Classic</title><content type='html'>Saya dikelilingi oleh banyak teman cewek lajang yang ber-otak ajaib. Saking ajaibnya kami, semua pembicaraan dari politik hingga seks bisa dengan mudahnya jadi bahan bincang – bincang dikunyah ibarat pisang goreng: merakyat dan murah meriah. Apalagi kalau sampai sudah melibatkan banyak topik panas. Mungkin karena para lajang ini tak hanya dikelilingi oleh sesama lajang muda tetapi juga oleh para senior berotak liberal dan sangat open-minded. Itulah sebabnya saya bersyukur dikelilingi oleh mereka: para malaikat tanpa sayap ini. Anyway, catatan berikut ini pernah saya keluarkan, atau juga dapatkan dalam pembicaraan kami selama 1,5 tahun terakhir, plus juga tips ‘ajaib’ yang menurut saya ya sangat Maya banget. Entahlah, that’s why some of them call me Samantha, guna merujuk karakter Samantha di serial Sex and the City ^_^ Ya mungkin karna mereka cuma bisa geleng – geleng kepala saat saya bilang kalau salah satu syarat calon suami saya ya harus ‘Hot di ranjang’ =D Bagi saya, ini hanyalah perkara jujur pada diri sendiri dan bring forward my opinion how silly it is. Tapi itulah perjalanan yang membentuk saya untuk menjadi diri saya saat ini yang menganut 4 filosofi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi hidup saya sebagai berikut:&lt;br /&gt;#1. Do what I love &amp; Love what I do;&lt;br /&gt;#2. I don’t live to neither impress nor please anyone;&lt;br /&gt;#3. Don’t try being different, just being good. Being good is different enough;&lt;br /&gt;#4. Work like you don’t need money. Love like nobody has ever hurt you. Dance like nobody is watching. Sing like nobody is listening. Live as if this was paradise on Earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak peduli bagaimana orang lain melihat diri saya karena memang saya tak hidup untuk membuat mereka terkesan atau pun berusaha menyenangkan mereka. Bagi saya, hidup cuma satu kali dan saya tak ingin hidup dari pandangan mereka. Itu saja. Jadi, saya berusaha untuk membuat yang tebaik dari diri saya, kalo pun gagal ya setidaknya saya sudah berusaha. Mungkin beberapa ide saya dianggap terlalu ‘gila’ dan ‘konyol’, tapi itulah saya; seorang lajang liberal generasi 3G yang lahir besar di Manokwari yang sedang menapaki umur menuju 29 tahun dan masih belum punya pikiran untuk menikah. Ya, saya menikmati hidup saya karena saya selalu berpikir simpel bahwa hidup itu cuma satu kali so enjoy it! Anyway, inilah beberapa tips konyol yang pernah saya katakan pada teman – teman saya yang cukup buat mereka “Cckckckckkckckc. Ko Samantha di SATC skali seh HAHAHAHA. Ganti ko pu batrei Alkaline tuh deng batrei biasa suda HAHAHA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS LEPAS a la Psycho ‘Samantha’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Kalo anda cewek, punya pacar atau calon suami yang fisiknya tidak terlalu mendukung untuk ‘dijual’ apalagi dipamerkan pada teman – teman anda, tapi cowoknya baik banget, mengerti anda dan punya inner beauty yang baik plus mencintai apa adanya. Jangan takut, saat anda diledek teman – teman anda. Ini pembelaan yang bisa anda pakai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aeh z kan cari yang HOT di ranjang. ML juga glap mo, n lagian ko ‘RASA’, bukan ‘LIHAT’. Jang sampe pentingkan ‘muka’ baru cuma dapat yang rasa Es Kiko, bukan Magnum Classic. Cewek kan bukan makhluk visual =D “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips ini langsung direspon sama seorang teman kerja berinisial PI dengan santenya: &lt;br /&gt;“Tapi kalo dipikir, es kiko juga ga buruk2 amat kok, kak. Daripada es batu!!! Ga ada rasanya! Hahahaha. Tapi emang sih, kalo ada Magnum di depan mata tuh, sapa yang pilih Kiko dang? Hahahahaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See, apalagi saya tambahkan lagi kalau cewek harus selalu melihat tak hanya Inner beauty dari pasangan mereka, tapi juga ‘Inner beauty++’ *you know what I mean lah =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Walau jadi cewek yang religius sungguh mati dan berpantang seks sebelum nikah, ataupun juga cewek liberal di Manokwari, jangan pernah meninggalkan rumah tanpa kondom dan alat sengat listrik. Apalagi kalau anda tak menguasai ilmu bela diri yang mumpuni tapi suka ‘bajalan’, menyepi ke tempat sunyi ataupun melewati tempat – tempat ‘jin buang anak’ ataupun pulang malam. Bingung? Nih penjelasan logikanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat penyengat listrik berkekuatan 2 Megavolt yang dijual seharga Rp.110,000,-(harga Jakarta) itu lumayan dipakai untuk membuat pingsan orang kurang ajar ataupun yang hendak memperkosa anda. TAPI, kalo seandainya tak berhasil dan anda berhasil dilumpuhkan oleh pemerkosa, maka gunakan kondom sebagai senjata andalan melindungi diri sendiri. Bingung? Ini penjabarannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondom alias karet lateks yang dibentuk untuk mengikuti bentuk ‘senjata’ andalan cowok tujuannya memang dirancang untuk mencegah tumpahnya air mani atau sperma united di dalam miss V ataupun mengurangi resiko tertular beberapa jenis IMS. Bayangkan saja gimana sakit hatinya korban pemerkosaan yang pemerkosanya tak pake kondom. E yang perkosa ternyata muka tabrak lagi, Petaka 13 itu namanya. Bayangkan, sudah diperkosa, e ternyata hamil baru nanti anak muka macam si pemerkosa. Atau kalo tidak hamil ternyata tertular Infeksi Menular Seksual ataupun HIV. Stress tidak? Nah, jadi setidaknya kondom sangat membantu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi …. tawarkan saja pada pemerkosa dengan suara penuh sugesti. Surrender mode: ON. Karena semakin keras kita resisten, maka semakin beringas si pemerkosa. At least, kondom itu bisa  jadi kesempatan yang digunakan untuk melindungi diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FYI, Anda masih punya kesempatan melarikan diri lho seperkian detik kala si pemerkosa sibuk pasangin kondom (kalo aksi tunggal) atau langsung siapkan alat penyengat listrik dan diarahkan ke ‘senjata andalan’ si pemerkosa. See, anda akan memberikan sensasi ‘big O’ untuk si pemerkosa!!!! *yang sedang terkapar pisang, ooops maksudnya terkapar pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo pencahayaan lumayan bagus, ambil kamera ponsel anda, dan ‘crek. Crek. Crek’ … Lumayan untuk dipamerkan dan disebarkan di Facebook atau jejaring sosial lainnya =D. Lebih gilanya lagi, berpose dari jauh dengan gaya ‘Girl Power’, memegang alat sengat listrik, dan pandangan mata psiko dengan latar belakang pemerkosa yang pingsan. Serasa di medan perang ya? HAHAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Pasti pernah dengar tips andalan yang digagas saya dan sahabat saya si Riana beberapa tahun kemarin: “Jangan pernah keluar rumah tanpa dandan cantik dan bagaya karena kita tak tahu siapa yang akan kita temui: lelaki tampan, perempuan sirik, ataupun mantan pacar.” Itu versi konvensionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, Psycho Samantha punya saran lain yang tak beda jauh. Mau tahu? Ini sarannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pernah keluar rumah tanpa pakaian dalam yang seksi , cantik dan bersih. Apalagi undie. Plus kebersihan area miss V anda. Kalo bisa, bikini wax dan sejenisnya lah. Wajib hukumnya!”. Ini penjelasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat kita keluar rumah. Entah ketabrak, diperkosa ataupun terbuai nafsu sampai one-night stand lho. Jadi, waspadalah. Paling banyak dalam kasus pemerkosaan adalah, berdasarkan pantauan dan referensi yang pernah saya baca, selalu saja pakaian dalam korban jadi barang bukti. See? Karena walaupun pemerkosanya ditangkap dan disidang kelak pun, pakaian dalam anda kemungkinan besar akan dipamerkan di sidang pengadilan, baik di sidang adat maupun di sidang pengadilan negeri sebagai barang bukti. Bisa bayangkan kalau saat itu anda memakai underwear yang tidak terlalu cantik untuk dipakai ya? *mikir – mikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di kota kecil seperti Manokwari ini, jangan pikir ada asas confidentiality di rumah sakit ataupun unit – unit penanganan kasus semisal pemerkosaan. Bisa – bisa pakaian dalam anda jadi ‘mop’ alias ‘orang bicara’. Belum lagi salah – salah masuk Facebook. Lha wong kasus pemerkosaan beberapa bulan lalu saja detailnya bisa bocor kemana – mana termasuk proses evakuasi korban yang setengah telanjang dan lain – lain. Apalagi kalo korban bertampang lumayan, siap – siap saja koleksi foto anda dalam keadaan tertentu jadi koleksi beberapa ‘orang’ berkamera yang punya akses ke TKP. Ini berdasarkan pengalaman pemantauan lho. So, prepare for the worst scenario ya wear your best lingerie =)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga harus ingat, tak hanya pada kasus pemerkosaan, tapi juga kadang tabrakan parah, korban harus ‘dibuka’ demi mendapatkan pertolongan. So, Jangan pernah keluar rumah tanpa pakaian dalam yang seksi , cantik dan bersih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMPULAN&lt;br /&gt;Jadi, apapun tips yang anda hendak ikut di atas, percayalah …. Saya tidak mempengaruhi anda tetapi mengajak anda melihat dari perspektif yang berbeda. Lain kali, mungkin saya akan mengajak anda melihat dari perspektif teroris bila Psycho Samantha jadi teroris di Manokwari =D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, yang saya tahu, kalo si Psycho Samantha; my other alter ego, jadi anggota X-Men. Sudah jelas ia akan jadi apa. Mau tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, ia akan menggantikan ‘gambit’ alias si Scott. Pake kacamata yang ternyata adalah alat HOTMETER yang bisa meng-scan tubuh khusus untuk aspek kesehatan seksual, jadi semuanya terbaca jelas di depan matanya dan diproses cepat a la visual screen di depan mata dan langsung diproyeksikan untuk dibaca orang lain. Jadi, ya kebaca langsung si target X itu gimana, misalnya laki – laki. Mulai dari kemampuan fisiknya mulai dari ketahanan fisik, profil ‘properti’nya segala macam (length Vs diameter), analisa cepat kemampuan tekanan hidrolik posisi, plus aspek fisik lainnya yang mempengaruhi performa mulai dari denyut jantung dan laju endapan darah, faktor gula darah (diabetic factor), batu ginjal dan lain – lain PLUS yang tak kalah penting bisa mengakses seperkian rekam jejak otak tentang stimulasi kimiawi otak terkait hormon feromon dan oksitosin. Jangan lupa, ia juga harus punya kemampuan mendeteksi kualitas sperma, kesuburan pria dan segala macam kutu, virus dan bakteri penyebab IMS dan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, langsung si Psycho Samantha dipekerjakan di Dinas Kesehatan ya, atau punya usaha konsultasi kesehatan seksual ataupun di klinik VCT kapa hahahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ini hanya catatan lepas dari sudut pandang alter ego saya; si Psycho Samantha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See you in another note of Samantha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Xoxo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 250112; Akhirnya keluar juga catatan dari alter ego ini. This is my another ‘dark’ side that I’ve suppressed for years HAHAHA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5529729489140840809?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5529729489140840809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5529729489140840809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5529729489140840809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5529729489140840809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/psiko-samantha-dari-samantha-hingga.html' title='Psiko Samantha - Dari Samantha hingga Magnum Classic'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8410835433137441879</id><published>2012-01-22T21:22:00.000+10:00</published><updated>2012-01-22T21:23:31.441+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bob'/><title type='text'>Benang Merah</title><content type='html'>Entahlah. Bagaimana memulai catatan ini. Kali ini ditemani dengan suaranya Adele dalam lagu yang sama: “Someone like you”. Sialnya, hanya lagu ini yang sanggup menemani dan mengembalikan semangat menulis dan terapi dari kegalauan ini. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku bingung bagaimana menaruhnya dalam kata, bagaimana mentranskripsikan apa yang sedang bergejolak di hati. Kala logika dan rasa tidak sejalan, kala kenangan masa lalu bererupsi dalam dinamika masa kini, kala alam bawah sadar masih tetap sama. Maaf, ini bukan tentang Lelaki Hujan, bukan lagi. Tapi tetap benang merahnya sama dan aku benci dengan rasa ini, sangat benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang kalau jatuh cinta atau cinta itu menyenangkan. No, thanx. I don’t buy it! Entahlah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, ada hal baru yang terjadi dan aku tak bisa menulisnya dalam catatan ini. Bukan tentang cinta dan semoga memang bukan. Karna hatiku masih berdarah dan luka di dalam. Entahlah, apa memang catatan ini tentang cinta. Entahlah. Begitu bodohnya juga bila menyebutnya cinta. Mungkin kegilaan sesaat. Entahlah. Aku paling menyukai kata ini: ENTAHLAH …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada yang bertanya padaku tentang cinta, aku punya deskripsinya sendiri: CINTA ITU MAHAL. SEMAHAL LUKA! Iya, karena sewaktu kita sampai terluka, katakan saja ada irisan di tubuh kita. Yang ada, harus mencari obat untuk menyembuhkan, untuk mengobati dan paling penting untuk menghilangkan rasa sakit itu. Belum lagi harus mencari cara menghilangkan bekas luka itu walau dijamin tak akan sempurna karena sudah ada luka yang menggurat dalam lapisan – lapisan membran itu. Entah kecil, entah besar. Entah dalam, entah dangkal. Tapi terlanjur ada luka di sana. Entahlah! Dan aku tak mau ada lagi luka di hatiku karena urusan cinta. That’s enough!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini tentang dia. Iya, dia yang bukan Lelaki Hujan dan juga bukan Lelaki Subuh. Dia yang bahkan sebenarnya memang bukan siapa – siapanya diriku. Entahlah, aku sudah memintanya untuk stay out of my life walau memang selalu diawali dengan perasaanku yang berat kala mengatakan hal itu lewat pesan – pesan pendek. Entahlah. Beberapa hari ini ia kembali datang dalam hidupku lewat pesan pendeknya yang akhir – akhir ini selalu muncul di kala hujan deras. Sial! Ya pesan singkat yang isinya cuma singkat intinya: ‘Z kangen ko’. Sh**!!!! I hate this feeling. Karna entahlah resistensiku pun luntur. Dan kami kembali mengobrol, dan selalu tentang kabarnya yang selalu ‘stress’. Allow, May, lelaki yang dekat dengan ko kan bukan hanya diam tapi entahlah kenapa juga ko selalu rentan dan tak bisa menolaknya pesannya. Atau HAPUS saja. Toh kau selalu sukses menghapus nomor ponselnya. Mencatatnya kembali. Menghapusnya! Menaruhnya kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku kembali merasakan bagaimana perasaanku kembali lebur dalam pertempuran logika dan perasaan, sama seperti bertahun – tahun lalu kala berhadapan dengan Lelaki Hujan. Dan jujur, aku benci bila harus kembali pada situasi itu. Sangat benci!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah pun mulai muncul. Sial! Ia begitu mirip Al. Baru menyadarinya malam kemarin dalam bincang – bincang kami. Mungkin itulah sebabnya sejak awal mengenalnya, entahlah …. Seperti mengenal sahabat lama. Sial! Itu gaya Al, gaya si Lelaki Hujan. Entahlah. Kenapa juga bisa terjebak dengan tipe yang mirip, yang sama, yang bikin resistensi runtuh. Sial! Dan selalu saja pada akhirnya berbenturan dengan tembok logika yang dibangun bertahun – tahun usai pernikahan Al: self-protection. Tembok yang kubangun sejak pertengahan 2008 bahwa nobody loves me expect God and my self. Benteng yang kubangun untuk melindungi diri sendiri. Sialnya, rasa kurang ajar ini masuk lagi kembali, rasa yang membuatnya mabuk kepayang, rasa yang membuatku tak bisa berpikir jernih. Impulsifku jelas saja kumat ditambah lagi dengan obsesiku. Damn! Aku tak ingin lagi merasakan apa yang kurasakan dengan Al dulu terulang lagi. 3 tahun lebih waktu yang cukup lama untuk melepas kenangan pahit manis itu dan aku tak ingin lagi berada di dalam situasi seperti itu. Tidak lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, aku juga tak tahu apa yang dipikirkannya kala mengirimku pesan – pesan itu. Ungkapan kesepian dan mencari hiburan? Aku tak tahu. Mungkin juga cuma iseng. Entahlah. Tiap kali pesan itu masuk selalu saja aku sedang berada dalam kondisi dimana sedikit stress dalam menjalani pilihanku untuk tetap hidup, pilihan untuk bertahan dalam realitas hidup yang sedang kutunggu dan hidup dalam pengejaran mimpiku. Entahlah.  Dan satu pesan kecilku sudah cukup membuatku merasa ‘ada yang mengingatku saat ini’. Sh**!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, ia selalu berhasil memunculkan dua pertentangan hatiku. Rasaku yang tak pernah bisa pakai hitung – hitungan untung rugi bila dekat dengannya, dan logika yang kencang banget mengingatkan dan memutar ulang semua rasa sakit dan luka yang mengkristal akibat satu rasa bernama cinta. Aku harus bisa mengenali perasaanku sendiri. Tak boleh ada cinta! Tak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam sahabatku bilang begini: “Jatuh cintalah sayang. Ko hanya perlu orang yang sayang ko. Itu lebih berharga dari apapun. Itu juga tiket untuk let go of our past… =) “. Iya memang benar. Tapi pengalaman tahun kemarin pun mengajarkan padaku untuk berhati – hati dengan komitmen serta perasaan cinta yang kupunya, apakah itu memang cinta atau hanya nafsu dan niat menjadikan orang lain pelarian. Itu yang wajib kutahu. Tak ingin kecewa, sakit hati dan tentu saja terluka. Belum lagi investasi waktu dan kenangan serta mimpi percuma. Itu mungkin yang membuatku sedikit menutup diri pada tiap titik dimana ada respon ‘baik’ dari orang lain. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kamarku sekarang, langit sedang mendung. Kelabu! Entahlah, sama dengan hatiku saat ini. entahlah baris – baris kata ini bahkan tak sanggup menghiburku. Aku ingin laut hari ini, ingin pergi jauh ke pantai. Mungkin sedikit balapan. Melepas semua rasa yang membebani diri. Sialnya lagi, malariaku belum benar – benar hilang karena beberapa hari ini aku kembali lagi drop. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang sekarang, entahlah…. Memunculkan benang merah yang menggumpal dalam rendaman luka. Dia begitu mirip Al. Entahlah … Sial. Harusnya aku tak perlu membalas pesannya, bukan? Karena pada akhirnya aku akan selalu berada pada titik dimana aku merindukannya sangat. Dan jujur, aku tak mau merindukan siapapun kecuali keluargaku. Karena selalu ada luka yang hadir kala merindukan dengan memakai ‘rasa’ bila orang tersebut tak harusnya kita rindukan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma takut kalau sekarang aku mulai tak jujur pada diriku. Kata sahabatku beberapa malam lalu, ia bilang bahwa mungkin aku terlanjur mencintai ‘dia’ yang mengirimku pesan itu tetapi  tak bisa mengakuinya atau memang menolaknya setengah mati hanya karena dia bukanlah tipe cowok yang kuinginkan. Entahlah. Aku memang selalu bercerita dengan sahabatku sejak SMP ini dan ia bilang bahwa aku sedang jatuh cinta tetapi setengah mati menyangkal rasa yang ada yang di hatiku. Entahlah. Ia bilang karena aku selalu bercerita dengan semangat tentang dia yang selalu membuatku ketawa dan tersenyum dengan SMSnya, entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah … cinta itu mahal, semahal luka. Bagiku, itu cukup jelas. Aku takut jatuh cinta. Itu saja. Entahlah, aku bahkan sudah tak percaya bahwa di luar sana akan ada seseorang yang benar – benar mencintaiku dengan tulus, bukan karena fisik, gengsi dan segala macam hal yang ada di dalam diriku. Ya terdengar sulit. Bahkan pacar seorang sahabat kecilku kala pertama kali bertemu aku beberapa minggu lalu bilang terus terang pada sahabatku, “May, de ‘keras’ skali eee. De harus dapat orang yang benar – benar mengerti dia.” Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini harus kuakhiri juga. Entahlah. Bagaimana ke depannya. Aku selalu mengatakan sesuatu padanya dan kemudian menyesali apa yang kukatakan, dan membatalkannya. Mengubah pikiranku. Entahlah. Tak lagi berani mengambil risiko. Entahlah. Dia begitu membuatku nyaman, menikmati pembicaraan kami, menikmati rasa humor yang dibuatnya, membuatku merasa feel damn good. Entahlah. TAPI, selalu saja ada rasa takut dan kecewa yang menjalar di hati. Takut salah. Takut gagal, takut harus jatuh cinta dan menjalani konsekuensi yang sama dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu dan pada akhinya … BANK!!! GAGAL!!! Beberapa kali menjalani komitmen dan selalu gagal berantakan memang nama lain hubungan cintaku. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku sendiri padanya, entahlah …. Mungkin terlanjur sayang. Itu juga yang ditebak oleh beberapa sahabatku. Entahlah. I do care padanya, entahlah. Selalu menanyakan kabarnya pada saudara jauhku. Sometimes pray for him. Tak ingin terlalu terlihat peduli sebenarnya. Entahlah. But miss him badly. Entahlah. What do you call this feeling? Yang aku tahu, aku tak punya keberanian lagi untuk menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, aku sedang berada pada titik “Entahlah” dengan perasaan ini.  Tak ingin lagi ada ‘rasa kecelakaan’ saat aku juga tak pasti dengan perasaannya padaku. Tak ingin berjudi dengan perasaan walau yang kutahu ia selalu sukses membuatku nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 220112; thinking about Bob, usai Saturday Night Fever)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8410835433137441879?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8410835433137441879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8410835433137441879' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8410835433137441879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8410835433137441879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/benang-merah.html' title='Benang Merah'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8420339536736239700</id><published>2012-01-22T21:21:00.000+10:00</published><updated>2012-01-22T21:22:16.821+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><title type='text'>Save Your Ass!! *Reflecting on West Papua</title><content type='html'>Everybody wants to save their own ass! Kesan yang saya peroleh dari situasi politik di tanah kelahiran saya khususnya di provinsi Papua Barat ini. Sesama saudara saling menjual dan menjatuhkan, teman berubah menjadi musuh, musuh berubah menjadi sahabat karib. Semuanya dibalut yang bernama politik. Apa boleh buat, toh hukum dasar mata kuliah pengantar politik sudah jelas: Tidak ada teman dan lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Sayangnya, kepentingan abadi tak pernah jauh dari kekuasaan, wanita dan uang. Tak ada namanya hitungan nyawa manusia yang perlu dibela dan diperjuangkan haknya. Ah andai saja saya bisa mengkloning orang seperti Jokowi; walikota Solo untuk tanah ini. I’m a big fan of him. Iya, orang yang bisa membangun dengan bermartabat dan memberi nilai dari pemerintahan mereka. Ini hanya catatan lepas terkait situasi terkini tanah ini di sebuah provinsi bernama Papua Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan pengamat politik, saya juga tidak tertarik dengan urusan politik tapi saya sangat tak suka apa yang saya lihat di tanah ini. Di saat banyak pejabat politik dan juga pemerintahan menambah pundi – pundi kekayaan mereka , dengan rumah – rumah baru yang mahal dan besar, liburan ke sana – kemari dengan burung besi antar pulau, koleksi mobil dan kendaraan bermotor yang bertambah, di saat yang sama, ada banyak anak muda yang kesulitan dengan biaya pendidikan. Bukan karena uang sekolah tetapi biaya – biaya pendukung pendidikan: seragam, sepatu, tas, peralatan sekolah, uang buku, transportasi, jajan, nutrisi, biaya praktikum, biaya pungutan sana – sini yang dibebankan sekolah dan banyak lagi. Suatu kenyataan yang menyesakan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat ada banyak orang baru yang lahir dari kebocoran dana Otsus, makin banyak pula masyarakat asli Papua yang berakhir di rumah sakit dan meninggal karena penyakit klasik dari masa lalu: Malaria, malnutrisi, ISPA dan lain – lain. Entahlah, selama 48 tahun tanah ini dianeksasi Indonesia, saya melihat tak ada perubahan nyata dari kesan atas tanah kelahiran saya. Ya, saya memang baru lahir di tahun ke 20 aneksasi, tapi dari kecil hingga sekarang, saya melihat kehidupan asli orang Papua di sekitar rumah saya masih begitu – begitu saja, kecuali bagi mereka yang mendapat jabatan mendadak di kantor – kantor pemerintahan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statistik kemiskinan yang terus merangkak naik di bawah garis batas , banyaknya anak muda pengangguran dan balita gizi buruk dan juga meningkatnya eskalasi kekerasan dan perasaan terpinggirkan bagi orang asli Papua di daerah perkotaan yang makin menguat, entahlah ada rasa yang pecah di hati untuk hal ini. Saya memang separuh Papua, hanya separuh Papua bahkan kartu identitas pun tak bisa mencantumkan kePapuaan saya. Saya memang memakai semua fasilitas sebagai kaum pendatang di tanah ini dan selama masa orde baru pun tidak mengalami apa yang dirasakan oleh teman – teman dan saudara keluarga mama saya yang asli Papua, but this is my homeland. Tempat dimana saya lahir, besar dan ingin mati di tanah ini kelak. Saya berhutang banyak pada tanah ini, pada bumi Papua. Begitu nelangsa melihat manusia tidak bisa hidup dalam keharmonisan. Tak bisa hidup dalam pandangan kasih. Tak bisa hidup dalam pandangan kasih satu sama lain. Benar – benar merasa sesak napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah kelahiran saya, selalu saja bahasa penguasa yang didiktekan, dibacakan dan harus dilaksanakan apapun keputusannya, apapun konsekuensinya. Orang biasa, apalagi orang asli Papua bahkan jarang punya hak bicara. Kalaupun diberi hak bicara, selalu saja hanya kaum penjilat yang mengadopsi gaya penguasa dan lupa tentang apa yang diperjuangkan oleh kaumnya. Saya tidak bicara tentang politik kemerdekaan atau apalah. Yang saya bicarakan adalah penguasa sering lupa memberikan dan mengembalikan serta mengakui dignity alias martabat orang Papua kembali untuk menjadi manusia – manusia cultural yang menyatu dengan tanah mereka dengan alam mereka. Toh jelas sekali yang terjadi di tanah ini tak lain hanyalah perebutan sumberdaya alam. Sedangkan manusia asli Papua tak bisa hidup tanpa alam mereka karena merupakan satu paket. Sedangkan penguasa kadang melupakan hal ini dan para anana tana yang duduk di pemerintahan pun terbuai dengan banyaknya uang dan fasilitas yang masuk. Ah andai bumi ini bisa bicara dan menilai tiap orang dan tak lupa menuntut dirinya dipulihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak alasan mengapa Papua menjadi seumpama gulungan nelon yang carut marut. Karena masalah dasarnya tidak diselesaikan. Satu hal membentuk masalah lain. Intinya, bagaimana cara masyarakat asli Papua dan penguasa dalam memandang Papua berbeda. Sama – sama ingin memiliki secara utuh. Masyarakat asli Papua mengklaimnya sebagai tempat hidup mereka sejak awal, sebagai yang asli. Penguasa mengklaimnya secara de facto dan de jure lewat segala macam aturan dan mekanisme buatan manusia. Tak ada yang mau kalah. Padahal di bumi ini, tak ada satupun penduduk asli suatu tempat karena pernah di suatu masa, kita semua adalah penjelajah dan pengembara. Di bumi ini juga, tak ada satupun status de facto dan de jure yang abadi tentang keabsahan kepemilikan suatu wilayah. Yang nyata cuma satu: bumi ini, tanah ini punya suara yang enggan didengarkan: untuk menyelamatkannya sebelum terlambat. Jangan sampai ia sendiri yang berjuang karena bila saatnya tiba, jangan salahkan konsekuensi yang terjadi karena ia tak akan pandang bulu antara orang asli ataupun pendatang, antara masyarakat sipil ataupun militer. Tak akan pandang bulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Papua ini sudah cukup lama sakit, cukup lama dirusak. Entahlah, apakah anda bisa mendengar teriakan dan kegalauan mereka? Saya mungkin kedengaran gila tapi terkadang pada pagi tertentu, pada perjalanan saya ke luar kota, pada beberapa momen saya di alam dan juga kunjungan ke pantai, kali dan berbagai tempat: I hear its voice. Ya, saya mendengar suaranya, mendengarnya berbicara di kepala saya, mendengarnya dan meresapi pesannya dan ia tentu saja meminjamkan energinya untuk saya, untuk menjalani hidup. Mendengarnya berbicara seperti dua sahabat lama karena toh pada akhirnya kami pernah satu: dari debu tanah. Bedanya, hanyalah nenek moyang saya diberi nyawa dan kecerdasan luar biasa oleh pencipta dan mereka yang tertinggal menjadi landasan dan basis atas apapun yang tumbuh di planet ini. Entahlah, apakah anda bisa mendengarnya. Lebih sering lagi, kala tanah ini berbicara dengan saya, saya pun merasa begitu dekat dengan Yesus. Tanah ini seakan menjadi penghubung kedekatan dan bukti cinta Yesus pada saya. Tapi seperti yang tadi saya bilang, pesannya tetap sama yang dibisikan oleh alam ini: Save me, I’m dying. Save me! Entahlah …. Apakah manusia di tanah ini karena tamak dan rakus dibuai politik lokal  lupa berkaca pada tugas utama mereka di planet ini: the planet keepers; para penjaga bumi. Menjaga ciptaan Tuhan untuk hidup dan berkembang sebagaimana adanya. Entahlah, mungkin kita hanya mengamini pada bagian menggunakan apa yang ada di alam ini. Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, saya tahu pasti tanah ini sedang sakit parah dan butuh disembuhkan. Entahlah, adakah yang mendengar suara kesakitannya? Saya tak tahu. Yang saya tahu, saya sudah melakukan bagian saya untuk menuliskan ekstraksi apa yang diminta oleh tanah ini. Satu langkah mudah yang bisa saya bagikan adalah JANGAN MENCURI APAPUN YANG BUKAN MILIK KITA!  Satu langkah mencuri kecil dapat menimbulkan kehancuran yang besar pada berbagai aspek hidup secara tidak langsung dan otomatis akan berpengaruh pada kelangsungan tanah ini. Itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 170112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8420339536736239700?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8420339536736239700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8420339536736239700' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8420339536736239700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8420339536736239700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/save-your-ass-reflecting-on-west-papua.html' title='Save Your Ass!! *Reflecting on West Papua'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5714365720914646823</id><published>2012-01-22T21:17:00.001+10:00</published><updated>2012-01-22T21:19:02.302+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Youth'/><title type='text'>Rambut Kus - Kus: Fenomena Rambut Anak Muda Manokwari di Musim Libur Sekolah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak kenal dengan hewan Kus – Kus; salah satu hewan endemik Papua. Hewan berkantung dengan ekor seperti cincin yang piawai bergayut di ranting pepohonan dan bermata khas bulat ini memang bukan ‘barang baru’ di tanah ini. Warnanya pun bervariasi, dari totol kehitaman, hingga keemasan maupun ‘pirang’. Di kota saya Manokwari, beberapa tahun terakhir, tiap bulan desember hingga awal Januari, warna ‘kus – kus’ ini pun hadir menyemarakkan tren gaya anak muda usia sekolah khususnya anak laki - laki. Jangan langsung berpikir bahwa hewan ini dipakai sebagai penyemarak kemeriahan pesta, selebrasi pergantian tahun dan acara berbagi tawa dan sukacita. Tentu saja yang saya maksud tak lain adalah tatanan warna rambut anak muda khususnya anak muda Papua dalam mengekspresikan diri mereka. Sebut saja saja tren mengecat pirang rambut mereka a la orang Eropa Barat. Bila di Jepang ada afiliasi gaya rambut a la anak muda Harajuku yang terkenal suka mewarnai rambut mereka dengan warna – warna menyala termasuk pirang, maka di Manokwari, ada pula tren rambut ‘kus – kus’ tiap liburan sekolah khususnya bulan Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RAMBUT ‘KUS-KUS’: Tren, ekspresi dan aktivitas komunal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mambri Imburi (12 tahun), seorang anak SD yang saya temui di depan rumahnya bersama beberapa temannya  di Fanindi ST mengaku mewarnai pirang rambutnya di minggu kedua bulan Desember silam. Ia dan teman – temannya mengerjakan sendiri pewarnaaan ini dengan membeli bubuk bleach bermerek tertentu di pasar Sanggeng (harga sekitar Rp. 10,000,- Red) dan mengaplikasikan sendiri di depan kaca ataupun bergantian. Saat ditanya tentang alasan mewarnai rambut, ia dan teman – temannya hanya berujar, “Kaka, liburan jadi tong kas pirang rambut. Nan kalo su mo masuk sekolah, baru tong kas hitam kembali pake Tancho atau Top Lady.” Mereka tak menyebutkan alasan jelas mereka mewarnai rambut. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Natan Woria (11 tahun), bocah yang tinggal di kawasan yang sama, ia mengaku membeli ‘bubuk pirang’ bermerk Sasha dengan beberapa temannya di Sanggeng sedang bubuk penghitam rambut cukup dibelinya di toko di kawasan Fanindi. “Kas pirang – pirang rambut saja, kaka. Liburan natal jadi,” alasannya. Setali tiga uang pula dengan alasan seorang remaja asli Papua kelas I SMP yang saya tanya di daerah Arowi. Remaja yang enggan menyebutkan namanya ini hanya mengaku, “Liburan jadi kaka, makanya sa ikut teman – teman tong kas pirang rambut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mewarnai rambut pirang dapat pula sebagai sebuah ekspresi identitas pembeda dan menjual daya tarik diri. Itu yang dapat saya tangkap dari serombongan remaja laki – laki yang saya tanya saat mereka sedang bermain bola di lapangan bulu tangkis POM, Kota. Simon Krey (15 tahun), remaja yang tinggal di Asrama Pelayaran Borarsi dan teman – temannya ini mempunyai alasan mewarnai rambut dengan pola tertentu a la ‘kus-kus’. “Biar tong tambah ganteng, trus lebih gaul, dan perem dong naksir tong. Sama biar tong penampilan beda ka ini,” jawab mereka kompak. Umumnya, para bocah lelaki ini hanya mewarnai rambut di bagian tengah potongan ‘Gomez’nya. Potongan rambut ‘Gomez’ adalah  sebutan lokal  di Manokwari untuk potongan rambut Mohawk yang terinspirasi dari potongan rambut pemain sepak bola asal Amerika Latin.&lt;br /&gt;Rambut ‘kus – kus’ dapat pula dipandang sebagai tindakan komunal anak muda Papua dalam komunitas kecil karena saat mengaplikasikan bubuk pirang (bleach), kegiatan ini dilakukan bersama – sama. Mereka umumnya mengakui bahwa mereka hanya menggunakan alat bantu kantung plastik kecil untuk melindungi tangan  saat melumuri rambut teman mereka.  Begitu pula kala menghitamkan rambut kembali. Simon dan teman – teman remajanya mengaku memilih mengerjakan sendiri pewarnaan rambut karena ketiadaan dana untuk pergi ke salon demi meminta tenaga professional dalam pengerjaan rambut. Terlepas dari bagaimana proses pewarnaan, hal ini tidak selalu bebas perkara karena beberapa anak yang saya tanya khususnya para remaja mengakui bahwa kadang orang tua mereka memarahi mereka tapi kerap tidak mereka pedulikan. Sebuah ekspresi ‘resistensi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda usia sekolah di Manokwari yang umumnya mewarnai pirang rambut adalah anak dan remaja laki – laki dalam sebuah kegiatan komunal massif. Ekspresi ini dapat pula ditinjau sebagai ekspresi pencarian identitas dan pembeda. Yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa anak dan remaja laki – laki lebih responsif secara massif terhadap perubahan ataupun ‘pemberontakan’ gaya rambut ini dibanding perempuan? Tentu saja butuh penelitian mendalam  yang mungkin dapat dikaitkan dengan budaya patriarki di Papua ataupun stigma lain yang tercipta bila perempuan mewarnai pirang rambut. Meskipun demikian, peran rekan sebaya dalam komunitas dalam membentuk kesadaran anak muda dan bagaimana sikap orang lain terhadap mereka khususnya lawan jenis mempengaruhi bagaimana anak muda merepresentasikan diri dan hal ini dapat menjadi faktor – faktor yang tidak dapat disepelekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pakar psikologi perkembangan: Erik Erikson dan James Marcia dalam buku ‘Pathway to Psychology’ tulisan Robert J. Sternberg (1997) membahas tentang perkembangan emosi sosial remaja. Erikson berpendapat bahwa para remaja menghadapi krisis identitas versus  kebingungan mereka tentang peran mereka dalam masyarakat. Tak ayal, mereka mencoba mencari tahu siapa diri mereka, nilai apa yang mereka anut dan bila besar mereka ingin jadi siapa sehingga mereka mencoba mengintegrasikan aspek – aspek intelektual, sosial, etika dan aspek lainnya guna membentuk sebuah identitas diri terpadu. Sedangkan Marcia lebih menekankan pada bagaimana para remaja membangun konsep identitas pribadi mereka dan menunjukannya dengan cara pola – pola  ‘meng-kopi’  sebagai cara yang dapat dianut menuju kedewasaan. Meskipun demikian, Stenberg dalam bukunya menyimpulkan bahwa baik Erikson dan Marcia sepakat bahwa para anak muda juga mempertimbangkan bahwa nilai, kepercayaan, pikiran dan sikap mereka sangat penting dalam memahami siapa diri mereka dan juga sama pentingnya bagaimana orang lain memandang mereka. Sehingga disimpulkan oleh Sternberg bahwa persahabatan dan relasi anak muda dengan teman sebaya mereka penting guna bagaimana mereka dapat menghabiskan waktu bersama dan bagaimana  mereka saling menilai diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENTALITAS NILAI: Tradisional Vs Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tren mewarnai pirang rambut a la Kus – Kus bila dikaji dari sisi budaya  dapat dikategorikan sebagai budaya ‘hibrid’ anak muda Papua di kota Manokwari yang tumbuh beberapa tahun terakhir. Kala konsep budaya ‘tradisional’ Papua bertemu dengan konsep ‘modern’ efek globalisasi dan mencari bentuk tersendiri. Bila ditilik dari masa pengecatan rambut yang biasanya terjadi di masa liburan sekolah, dapat diasumsikan merupakan salah satu ekspresi ‘pemberontakan’ atau resistensi gaya anak sekolah yang notabene selama masa bersekolah harus menjaga gaya dan warna rambut mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  antropolog budaya UNIPA: Adolf Ronsumre, S.Sos, MA dengan gamblang menggambarkan ‘rambut kus – kus’ sebagai ekspresi modernitas anak muda. Bagaimana anak muda Papua mencoba menggambarkan konsep mentalitas mereka yang ‘modern’ dan mengikuti ‘tren’ masa kini. Ronsumre yang juga penulis buku “Mentalitas Orang Papua: Tradisional Vs Modern” terbitan Galang Press ini menambahkan bahwa tren mewarnai rambut ini harus ditinjau dari ekspresi mentalitas nilai mereka. Pada dasarnya, orang Papua dikenal sebagai masyarakat peramu (food-gathered people) yang menganut sistem nilai tradisional dimana penggunaan suatu benda disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan. Namun, dengan adanya fenomena rambut ‘kus  - kus’  seperti ini menggambarkan bentuk transisi dari mentalitas nilai tradisional menuju masyarakat ‘modern’ dengan mengacu pada adaptasi standar nilai modern. Konsep standar ‘modern’ yang dianut adalah yang merujuk pada ‘ Eropa dan Amerika’. Ronsumre tidak lupa berasumsi bahwa fenomena pewarnaan rambut ini umumnya muncul tiap liburan Natal dan Ia melihatnya sebagai sebuah  bentuk hegemoni budaya natal Eropa. Tak hanya sekedar adopsi pohon Natal, pesta natal, maupun parade Sinterklas, tetapi bahkan ke tatanan rambut pirang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronsumre juga menilai fenomena ini sebagai ekspresi transisi menuju konsep nilai masyarakat konsumtif dimana penggunaaan suatu barang tak lagi berdasarkan fungsi ataupun pemenuhan kebutuhan tetapi lebih pada pemenuhan gaya hidup, gengsi ataupun kebutuhan bersosialisasi. Hal ini tentu saja terimbas dari seberapa jauh para penganut gaya ini terkena perubahan kontak budaya; entah dari media, figur tertentu ataupun teman sebaya. Yang pasti, Ronsumre menilai tingkat adopsi budayanya hanya terjadi pada tatanan artefak dimana sebatas ide budaya saja yang ditiru tetapi nilai dari standar nilai yang dirujuk tidak diambil. Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak muda penganut paham ini sekedar mengikuti euforia perayaan Natal yang merujuk pada budaya Eropa tetapi tetap mempertahankan ideologi tradisional mereka. Hal ini dapat dilihat dari salah satu indikator dimana anak muda yang mewarnai rambut mereka umumnya tidak dapat memberikan alasan logis mereka mewarnai rambut mereka. Sekedar ‘ikut rame’ mungkin ungkapan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ‘rambut kus – kus’ sebagai budaya hibrid anak muda Papua di Manokwari menjadi salah satu penyemarak perayaan Natal hingga awal Januari tiap tahun. Entah akan berganti , memudar ataukah makin menguat, hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan anak muda Papua dari produk – produk pewarna rambut yang tidak aman dan tidak sehat bagi diri mereka, karena toh apapun zat kimia yang terpapar pada diri kita pasti akan berdampak pada tubuh. Meninjau budaya hibrid ini dan juga bagaimana alasan yang dipaparkan oleh beberapa anak dan remaja di Manokwari, tidak serta merta menjadi sebuah temuan valid karena masih dibutuhkan sebuah studi mendalam tentang fenomena ini.  Hal ini sebagaimana  pernah dikemukakan oleh psikolog Amir dan Sharon dalam tulisan mereka “Are social-psychologial laws cross-culturally valid?” (1987), “setiap budaya mempunyai  konteks yang berbeda untuk pemikiran, perasaan maupun tindakan mereka sehingga kita tidak bisa serta merta membuat overgeneralisasi temuan dari suatu budaya dengan budaya lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 050112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5714365720914646823?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5714365720914646823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5714365720914646823' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5714365720914646823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5714365720914646823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/rambut-kus-kus-fenomena-rambut-anak.html' title='Rambut Kus - Kus: Fenomena Rambut Anak Muda Manokwari di Musim Libur Sekolah'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5162578306602280402</id><published>2012-01-22T21:16:00.000+10:00</published><updated>2012-01-22T21:17:03.843+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Kilas Seminggu - Life as it is</title><content type='html'>Seminggu terakhir saya melihat bagaimana di dunia ini cuma ada dua tipe manusia: orang baik dan orang jahat. Tergantung kita melihatnya dari sisi yang mana. Seminggu terakhir saat berurusan dengan para oknum a priori yang saya label ‘Imelda’ (Intel melayu dah) yang memburu teman lama saya dari Australia yang sedang berlibur dan melanggar privasinya di kamar hotel dan barang – barangnya, saya melihat bahwa oknum – oknum ini punya masalah dengan rasa aman dan rasa nyaman mereka dan memilih untuk membuang sampah emosi mereka dalam bentuk tindakan aksi yang merugikan hidup orang lain dan mengurangi kebahagiaan. Padahal, mereka salah target dan tentu saja merusak liburan dan perjumpaan dua teman lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu terakhir, saya melihat bahwa adrenalin yang dipacu dan bertemu berbagai tipe manusia juga mendewasakan emosi saya secara utuh, tetapi pada satu sisi membuat saya bertanya tentang tahapan yang sudah saya lewati. Sebuah pencapaian! Plus juga mengurangi kadar ketahanan tubuh. Akhirnya, mengontrak resmi malaria tertiana +1. Badan melayang, dan hari sabtu sukses menjadi bukti bagaimana saya harus ambruk. Ya meriang, demam dan menggigil. Sebuah cerita indah tentang malaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terus berlanjut dan saya melihat apa saja yang terjadi pada manusia di sekeliling saya adalah kehidupan itu sendiri. Dalam berbagai faset. Dalam tiap keping yang berbeda tetapi berbagi ruang yang sama dalam sebuah cerita waktu. Tetangga saya yang masih sepupu jauh yang ditengarai ‘dapa bikin’ dari orang pun dan tiba – tiba sakit pun kelimpungan dan meminta anak – anak kompleks untuk menjaganya pada malam hari. Mungkin saya sudah harus membuat cerita tentang keluarganya. Semoga apa yang menimpanya sekarang bukanlah buah dari apa yang dilakukan keluarga mereka pada keluarga orang lain. ya, semacam ‘keluarga mafia’ getho. Jadi, they have rights to do’something’ to others while the others don’t have the same right. Kira – kira begitu intinya. In the end, it’s always wealth becomes the only factor of change people characters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saya juga melihat bagaimana rencana pernikahan seorang sahabat dekat dengan anggaran cukup besar belum berjalan dengan baik. Prinsip saya sejak pulang dari OZ adalah “If you need something, just tell me. Kalo tidak, sa juga pura – pura mati saja.” Semua orang harus bisa mengungkapkan dan menceritakan apa yang mereka inginkan. Itu saja. Dalam pesta dan perencanaannya, ya saya membantu sesuai kapasitas dan permintaan, karena tak ada permintaan tambahan. Saya hanya membantu pembuatan slideshow foto, awalnya mau bikin video. Sayangnya, software filmnya bermasalah, kurangnya waktu untuk mengumpulkan komentar dan pendapat para teman serta ucapan selamat, daftar lagu yang belum beres dari yang punya hajatan jadinya bingung mo potong lagunya dan tentu saja juga konsep apa yang diusung. Intinya, sejak tahun ini, salah satu resolusi kecil dalam hal berbagi kasih adalah “don’t give the bait, just give them the rod!” Sedikit realistis memang tapi itu yang hendak saya tempuh. Saya akan membantu sebisa mungkin. Kalo tidak bisa ya sudahlah, life must go on!&lt;br /&gt;Sore ini saya juga baru saja terjebak dalam ledakan ekspresi mahasiswa muda yang belum matang emosinya. Sialnya lagi, si cewek ini sebut saja si Queen itu adiknya sahabat saya (miss Classic) dan dia bermasalah dengan pacarnya si miss gaul. Sedang miss gaul juga notabene sahabat saya dan miss classic. Nah, kekasih si miss gaul, sebut saja si Korea pokoknya beberapa tahun lalu pernah pacaran sama si Queen, dan mungkin kebablasan jauh. Tahunya, sejak tahun kemarin si Korea yang notabene mahasiswa ini pacaran dengan miss gaul yang dosen sebuah universitas dan they fall in love deeply tanpa peduli dengan beda usia dan beda agama. Nah rupanya hubungan queen dan Korea serta miss gaul tak berlangsung baik dan they want to cover it from miss Classic. Tapi sayangnya, tadi saat kami bertamu dan membahas persiapan nikahan sahabat kami yang lain, dan miss gaul ditemani sama si Korea, dan miss classic lagi sibuk nyeduh teh, drama queen pun beraksi. Jadi, si miss gaul permisi ke toilet, miss classic nyeduh teh, dan Korea dan saya duduk di ruang tamu bersebelahan. Muncullah Queen dengan bercelana pendek, kaus model jaket dan memaki – maki dan mengusir Korea dengan histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guess what? Teriakan dan makiannya saya jamin bisa membangunkan mayat HAHAHA Jelasnya lagi, saya n Korea kaget setengah mati apalagi penghuni rumah lainnya. Especially usai si Queen teriak – teriak: “KELUAR! KELUAR! KELUAR DARI SA RUMAH. POKOKNYA KELUAR! “ pada bagian ini, saya pikir dia lagi usir anjing kecil dari rumah itu. E tahunya pas di bagian “SAPA YANG SURU KO DATANG KE SINI. STELAH KO BUAT SA BEGINI, BARU KO MO DATANG KE SA RUMAH. KO KELUAR! POKOKNYA KELUAR! CEPAT KELUAR!!!”. Walah, kacau lah semua. Ortunya mengamankan si cewek yang histeris kayak orang gila mengamuk. Miss gaul lari tergopoh – gopoh dari kamar mandi, minta maaf sama miss Classic dan berteriak, “FINE. KAMI KELUAR KOK!” Saya cuma bisa melongo. Tak sampai 5 menit, saya juga numpang permisi. Tak enak saja. Yang pasti, I’ll tell miss Classic kalo saya jadi direktur HRD, saya tak akan merekrut adiknya, make me scare setengah hidup lagi, n saya cuek bilang kalau si Queen childish abis. TAPI, saya juga bilang kalau yang terjadi tak akan mempengaruhi kami untuk jadi sahabatnya miss Classic kok. We’re still friends, cuma tak akan datang main ke rumah lagi. That’s all. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi saya, ini pasti karna urusan ‘perawan pica’ kok, biasanya buntut histeris yang sering saya lihat ya seperti ini. Kalau bukan ceweknya yang setengah mati depresi, e si cewek mo bunuh diri segala. Pokoknya ya sejenis itulah. Tadi ya saya kebagian edisi yang teriak histeris kayak anak kecil direbut lollipopnya. Kacau!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, catatan ini sudah harus ditutup. Mata terasa berat. Yang pasti inilah keping hidup yang terjadi. Apa boleh buat, dari dikejar dan diburu para Imelda, berurusan dengan urusan nikahan yang tak beres, hingga ketemu Queen hysteria. What a life!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 170112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5162578306602280402?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5162578306602280402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5162578306602280402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5162578306602280402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5162578306602280402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/kilas-seminggu-life-as-it-is.html' title='Kilas Seminggu - Life as it is'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8077644975004169332</id><published>2012-01-03T15:01:00.000+10:00</published><updated>2012-01-03T15:02:30.347+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pariwisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Festival'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><title type='text'>Pohon Natal Avanza</title><content type='html'>PENGANTAR&lt;br /&gt;Manokwari, kota administratif tertua di Tanah Papua, tak hanya dikenal sebagai kota buah – buahan. Sejak beberapa tahun silam, kota ini juga dikenal dengan label ‘Kota Injil’. Label barunya ini tak ayal juga menampilkan kisi - kisi khas perayaan Kristiani yang menarik. Catatan kali ini ingin menggali tentang salah satu fenomena pohon yang hanya ‘tumbuh’ tiap bulan Desember di sudut – sudut kota ini. Ooops, jangan berpikir ini sejenis spesies baru pohon. Yang saya maksud tentu saja pohon natal artifisial yang muncul sebagai dekorasi di tiap sudut kota hehehe. Sebut saja ini ‘pohon Desember’.^__^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap bulan Desember di Manokwari, pohon buatan ini muncul dimana – mana.  Pohon ‘Desember’ ini tidak selalu merupakan representasi tanaman konifer khas negara empat musim. Bentuknya pun beragam; mulai dari pohon asli yang dililiti hiasan hingga representatif pohon dari berbagai bentuk: ranting, tonggak besi hingga lilitan nelon. Semuanya didapuk sebagai pohon Natal asalkan berhiaskan gantungan warna – warni berbagai bentuk dan juga dililiti lampu natal warna – warni. Pohon ini ada yang ditemani dengan pondok hias natal, ada pula yang berdiri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat tempat tinggal saya di areal Fanindi, khususnya di bagian Fanindi luar, daerah Jl. Merdeka yang dekat dengan perempatan besar Makalo, lebih tepatnya berhadapan dengan kantor PSW YPK, berdirilah satu pohon natal buatan yang menurut saya sudah bisa menjadi ikon natal di kawasan Fanindi bahkan mungkin menjadi salah satu pohon natal buatan yang memanjakan mata penduduk kota Manokwari karena berdiri megah di pinggir jalan protokol. Pohon Natal milik komunitas AVANZA (Anak Vanindi Zaja). Pohon ini didirikan di halaman rumah keluarga Matini. Iseng – iseng, dalam sebuah acara bajalan malam tanggal 30 Desember 2011, saya berkesempatan menggali cerita dengan senior anggota komunitas Avanza  (Bapak John Matini) yang kebetulan halaman rumahnya dipakai sebagai tempat berdirinya pohon natal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KILAS SEJARAH SINGKAT &lt;br /&gt;Pohon Natal Avanza  merupakan inisiatif swadaya generasi muda Avanza. Hal ini dituturkan oleh John Matini (36 tahun) pada sebuah malam penuh ledakan kembang api warna – warni di atas kepala kami. Inspirasi awalnya bermula dari keinginan untuk mempunyai perayaan natal yang juga meriah penuh dengan dekorasi natal seperti anak – anak Papua lainnya di kota Jayapura. Terbersit dari keinginan agar Manokwari juga punya ‘sesuatu’ yang bisa dikenang dari perayaan natal tiap tahun, maka John Matini dan teman – teman di komunitas anak muda Avanza pun mulai putar otak. Pikir sana – sini, pilihan pun jatuh pada pendirian pohon natal di pinggir jalan, tentu saja dengan ciri khas tertentu yang membedakan dengan pohon natal lain di kota ini. Kebetulan rumah keluarga Matini yang berarsitektur era kolonial ini memang sangat strategis sebagai lokasi display pohon karena berada di pinggir jalan protokol Manokwari, tepatnya di jalan Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah toh akhirnya menorehkan satu kisah baru dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Bulan Desember 2002, pohon natal Avanza resmi berdiri untuk pertama kali dan menjadi komitmen tahunan komunitas ini untuk ‘pasang’ pohon natal setiap tahun.  Tahun ini sendiri, pohon ini selesai didirikan pada tanggal 3 Desember 2011 kemarin.  Pembuatan dan pemasangan pohon natal ini sudah pasti mempunyai rancangan. Yang patut diberi jempol adalah upaya komunitas ini untuk memberdayakan kreativitas anggota muda mereka untuk membuat semua desain awal pohon ini  termasuk sketsa. Hasilnya? Bisa ditebak! Bila di bulan Desember kemarin anda berada di Manokwari dan pernah melewati jalan Merdeka dan melihat sebuah pohon natal buatan yang lumayan besar di pinggir jalan gagah berdiri, itulah hasil karya komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 9 perayaan natal telah berlalu sejak pendirian pohon natal ini pertama kali dan komunitas Avanza sudah membuat tiga jenis desain yang berbeda. Desain pertama, pohon natal buatan yang tingginya lebih dari 10 Meter dan memakai  lilitan suwiran tali plastik Rafia Hijau sebagai representasi daun. Kemudian beberapa tahun kemudian, desain kedua dibuat dengan mengganti tali plastik rafia hijau dengan yang berwarna putih, untuk menggambarkan seakan pohon ini sedang terbungkus salju. Akhirnya, beberapa tahun terakhir ini, desain ketigalah yang dipakai hingga kini, yaitu dengan menggunakan media plastik sampul (kertas cover) berwarna hijau yang dibentuk berbentuk daun oak ukuran besar. Desain taman tiap tahun pun sering berbeda – beda. Tahun lalu bahkan taman sekitar pohon dihiasi dengan tiruan Sinterklas berukuran besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DESKRIPSI SINGKAT POHON&lt;br /&gt;Pohon ini tingginya sekitar 10 meter (tidak termasuk bintang di puncak pohon). Elemen tiang utamanya (pole) terdiri atas pipa besi  setinggi 2 Meter yang disemen pada base-nya dan mempunyai sok kayu besi  berukuran 10 x 10 cm di ujungnya yang dibulatkan agar dapat dimasukan sambungan ranting dan pohon bagian atas. Kemudian dipasangkan juga pada bagian atasnya kawat beton (betonizer) berjarak ukuran 1 Cm yang diperuntukan untuk ranting – ranting pohon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Natal Avanza tahun ini berciri khas berdaun plastik sampul hijau transparan berbentuk daun Oak. Guna menghasilkan efek pohon yang rimbun, dibutuhkan sebanyak 10 rim plastik sampul (1 rim – 500 lembar) sebagai pembentuk daun. Daun – daun dari plastik hijau ini kemudian direkatkan pada ranting bambu yang ujungnya sudah diberi kawat bandre  kecil (beton). Tentu saja jumlah ranting bambu disesuaikan dengan jumlah titik di dalam batangan pohon yang sudah tersedia. Bambu yang biasa dipakai adalah jenis bambu kuning ataupun bambu lainnya. Yang penting bambu tersebut kuat dan tidak mudah patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Natal juga tak bisa lepas dari elemen pencahayaannya, ibarat masakan tanpa garam ^_^. Pohon natal di Fanindi ini tentu saja punya koleksi lampu natal yang cukup memanjakan mata. Ada  4 jenis lampu dengan kekuatan daya yang berbeda – beda yang dipasang. Lampu natal utama tentu saja jenis lampu warna – warni berdaya 5 watt berjumlah 100 buah. Kemudian, ada lagi lampu sorot berdaya 60 watt warna – warni sebanyak 4 buah yang terletak di bagian dasar pohon (semacam taman kecil), plus 8 lampu ujung taman @5 watt. Tak lupa harus saya sebutkan adanya lampu selang kelip warna – warni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENDALA  &lt;br /&gt;Pohon Natal Avanza ini tentu saja inisiatif swadaya komunitas anak muda Fanindi sekitar Jl. Merdeka. Biasanya urusan swadaya tak jauh dari urusan finansial, termasuk dalam pemasangan pohon ini. Berdirinya pohon natal yang penuh dengan lampu warna – warni dan menyala setiap malam lebih dari sebulan tak ayal menyerap biaya perawatan yang tak sedikit, belum lagi dengan biaya pembuatan serta anggaran lainnya. John Matini bertutur bahwa demi pendirian pohon natal ini, komunitas mereka harus merogoh kocek sekitar 8 Juta Rupiah tiap tahun. Tentu saja tiap tahun, ada bahan dari tahun lalu yang masih bisa dipakai, namun biasanya usai sebulan dipamerkan, ada banyak bahan yang rusak dan terpaksa harus diganti. Guna mendapatkan dana ini, anak – anak muda ini bekerja keras mencari dana. Ada beberapa cara yang ditempuh, al: mengumpulkan iuran pohon natal sejak 3 bulan sebelum natal, bekerja beberapa bulan sebelumnya di berbagai tempat dengan mengandalkan jaringan teman seperti  membersihkan halaman, menjual bazaar serta pengecatan dan kegiatan ‘cari dana’ lainnya. Walau tetap diakui bahwa biaya yang didapatkan masih jauh dari yang dibutuhkan sehingga biasanya kerelaan pribadi dari tiap individu dalam komunitas untuk menyumbang. “Ya, yang penting kami ada buat, sehingga perayaan natal lebih meriah di Manokwari lewat adanya pohon ini, ade” tutur Matini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya tanya terkait hujan di bulan Desember terhadap ketahanan pohon, Matini dengan optimis mengakui bahwa selama sebulan ini hujan deras tidak menghancurkan pohon, bahkan lampu dan kabel  - kabel yang terletak di bawah pohon tidak ada masalah. “Kemarin tuh banjir sampe kabel – kabel ada yang hampir tarendam, tapi semua lampu aman.” Dalam percakapan kami itu, saya sempat terlewat menanyakan perihal matinya lampu bintang di puncak pohon, untunglah perihal ini dikemukakan oleh tamunya Matini; Pak Leo Koirewoa, “ade, kenapa ko tra tanya tentang kenapa bintang di ujung pohon de tra menyala tuh.” Matini dengan sigap menjelaskan alasan teknis terkait padamnya lampu bintang terkait kendala sambungan pasca banjir lokal di seputaran jalan Merdeka, “Bintang mati karna aliran tra konek abis banjir kemarin, ade.” Seorang teman John Matini; Pak Anton Renyaan menambahkan dengan gaya humornya, “Ade, mengerti saja, Yesus su lahir too jadi memang abis tanggal 24 langsung bintang padam.” Memang hal ini cukup bikin geleng – geleng kepala juga karena lampu bintang baru padam usai tanggal 24 Desember malam. Anyway, yang pasti secara garis besar Matini mengakui bahwa tak ada kendala yang berarti bagi pohon ini terkait hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon natal yang mempunyai lampu lebih dari 100 buah dan terletak di pinggir jalan utama ini tentu saja menimbulkan pertanyaan penting terkait keamanan properti . Lewat bincang – bincang malam itu, Matini menjelaskan bahwa selama 9 tahun pendirian pohon natal ini tidak pernah ada masalah dengan keamanan semisal pohon dirusak ataupun lampunya dicuri. Jadi dapat disimpulkan bahwa kondisinya aman. Booo sapa mo pancuri, anak kompleks jaga mati hehehe *tes toooo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KNOWLEDGE SHARING&lt;br /&gt;Walaupun pendirian pohon natal ini menjadi kegiatan tahunan dari komunitas anak muda Avanza dan merupakan proyek swadaya, tetapi komunitas Avanza tidak merasa bahwa pengetahuan mereka merupakan hal yang perlu disembunyikan. John Matini bercerita bahwa komunitas ini sudah diminta beberapa kali selama beberapa tahun terakhir untuk memberikan pelatihan singkat dan pendampingan pada komunitas anak muda Kristen khususnya dari pemuda GKI di beberapa gereja di Manokwari  tentang cara pembuatan pohon natal buatan e.g. di GKI Eben Haezer Fanindi, GKI Sion Sanggeng, GKI Manyosi Reremi, pemuda Fanindi Dalam. Namun, Matini melihat bahwa tak hanya diperlukan ketertarikan dan pendanaan saja, tapi yang paling penting adalah komitmen untuk tiap tahun membuat hal yang sama. Hal yang masih belum ditemukan oleh Matini dari komunitas yang sempat dilatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini juga pernah diminta oleh Bupati Kabupaten Teluk Bintuni (Drg. Alfons Manibuy) untuk membuat pohon natal sejenis di Bintuni. “Pohon natal yang kami buat di sana tuh tingginya 8 meter dan habis 15 rim plastik kaver hijau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matini juga menambahkan bahwa komunitas ini sangat terbuka bila ada pihak yang hendak meminta diajari. Namun, mereka menginginkan komitmen yang kuat dari komunitas yang dilatih sehingga mereka berharap akan adanya kesinambungan tiap tahun. Matini juga menambahkan bahwa di waktu – waktu mendatang, ada banyak ide yang sudah digagas oleh komunitas ini terkait pohon natal al. membuat pohon natal air hingga pemanfaatan pembuatan pohon natal dari limbah sampah misalnya dari bungkus Mie instan. Tetapi, ide ini masih digodok karena membutuhkan kesiapan dana dan juga tenaga yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARAN - SARAN&lt;br /&gt;Dalam bincang – bincang malam itu, saya mendapatkan banyak masukan yang berarti untuk saya tulis khususnya terkait perayaan natal. Walau saya pribadi tidak mempercayai pohon natal sebagal salah satu elemen Kekristenan saya namun saya menghargai pandangan orang Kristen lainnnya terkait pohon natal. Ada satu hal menarik yang disampaikan oleh John Matini malam itu dan kami cukup sependapat dalam hal ini: perayaan natal dan kaitannya dengan penggunaan kayu dari hutan alam serta kaitannya dengan sektor pariwisata Manokwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kota Injil, Matini berpendapat bahwa perayaan natal di Manokwari dapat dijadikan sebagai sebuah momentum wisata yang menarik bila dikemas dengan baik. Selama bulan Desember di Manokwari ada banyak karnaval maupun parade di jalan serta berbagai lomba namun hingga saat ini tak ada ‘lomba pohon natal hias’. Yang ada hanyalah ‘lomba pondok hias’. Padahal, pohon natal hias dapat dibuat dari berbagai benda dan punya banyak representasi dan juga dapat dibuat yang lebih ramah lingkungan serta lebih tahan lama. Pemikiran Matini secara tak langsung menyeret kenangan saya kembali ke Canberra, Australia dan mengenang adanya pohon natal kota yang besar sekali di tengah kota dan dijadikan sebagai salah satu areal wisata khususnya tempat berfoto bagi wisatawan ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matini tidak menentang adanya lomba pondok hias tapi secara pribadi ia menyayangkan bahwa bahan baku utama pondok hias adalah pohon – pohon muda maupun spesimen dari hutan alam. Padahal, saat ini pemerintah sedang gencar – gencarnya mempromosikan penanaman pohon di Manokwari. Bukankah dengan adanya lomba pondok hias, secara tidak langsung akan semakin memicu banyaknya pembuatan pondok hias? Tidak jadi masalah bila bahan baku pondok adalah bahan ‘bukan-dari-hutan-alam’, tapi bila sebaliknya, sangat sayang bila ‘pabrik oksigen’ kita habis dibantai hanya untuk pembuatan pondok yang rata – rata hanya bertahan beberapa bulan, bukan? ‘Be wise’, mungkin pesan penting yang ingin disampaikan oleh Matini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup pembicaraan kami malam itu, Matini menyampaikan harapannya terkait pohon natal ini khususnya mimpinya agar ada lomba pohon natal hias tingkat kabupaten. “Ya sa berharap ini bisa jadi festival tahunan sekalian dengan penilaian lampu natalnya sehingga tak langsung akan memancarkan Manokwari sebagai kota Injil dan menyebarkan aroma kedamaian natal penuh sukacita bagi semua orang di Manokwari dan juga pada satu sisi bisa jadi sebuah kegiatan agar anak muda lokal bisa kas keluar dong pu kreativitas di bulan Desember.” Itu mimpi Matini dan komunitas Avanza. Yang pasti, saya salut berat dengan komitmen mereka selama 9 tahun ini. Mereka berhasil membuktikan bahwa anak muda lokal di Papua dapat juga memberdayakan diri mereka serta mengasah kreativitas dengan cara yang benar dan tak ragu untuk mencapai mimpi mereka. Patut diacungkan jempol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, saya hanya  anak Manokwari yang ‘lahir-besar’ di areal Fanindi, dan ‘bangga sungguh mati’ berbagi 28 tahun usia saya dengan kota administratif tertua dan juga pusat penyebaran Kekristenan pertama kali di tanah Papua ini. Pohon Natal Avanza mungkin hanya satu faset kecil perayaan natal di kota saya, tapi saya rindu suatu hari nanti kala industri pariwisata tanah ini berkembang pesat, tak hanya ada lomba pohon natal hias, tetapi lomba lainnya yang menjadikan natal begitu semarak dan memancarkan sukacita hingga tak heran semangat ‘hari baik’ Natal membuat tiap orang merasakan percikan damai surga di bumi. Saya bermimpi, kelak tagline promosi wisata perayaan natal yang tertera di tiap kartu pos maupun kartu natal di tanah ini pasti berbunyi, “Manokwari: the best place for Christmas in Tanah Papua”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sa pu mimpi. Baru kam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 030112)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8077644975004169332?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8077644975004169332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8077644975004169332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8077644975004169332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8077644975004169332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/pohon-natal-avanza.html' title='Pohon Natal Avanza'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2747954531254421453</id><published>2012-01-03T15:00:00.000+10:00</published><updated>2012-01-03T15:01:06.825+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='friendship'/><title type='text'>Post-Xmas Story - Dari Predator hingga Garasi</title><content type='html'>Perayaan Natal baru saja berlalu. Tiap sudut jalan di Manokwari yang saya lalui bahkan juga dalam dekorasi Natal dan hiasan pohon Natal kemarin, ada saja satu sosok yang saya temukan di sana: lelaki gembul berwajah Eropa berbaju merah dengan aksentuasi warna putih dan juga janggut putih yang konon mengendarai sekelompok rusa yang salah satunya bernama Rudolph. Siapa lagi kalau bukan Santa Claus atau yang ngetop disebut Sinterklaas. Catatan kali ini memang hanya membahas pria gembul ini dan sekali lagi maafkan saya kalau setiap tahun saya pasti akan membahas tentang lelaki tua ini yang bagi saya sangat mencuri ‘makna’ natal. Anggap saja ini catatan ‘sakit hati’ saya HAHAHA. Sorry, for Sinterklaas’ lover, please back off HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini ‘catatan sakit hati’ seperti tahun – tahun sebelumnya tapi ya begitulah, saya punya alasan – alasan pribadi mengapa saya tak suka Sinterklas. Mungkin kedengaran konyol tapi bagiku pengkultusan Sinterklas apalagi dengan membuat festivalnya dan bahkan kunjungan – kunjungannya hanya membodohi anak – anak dan tidak mengajarkan inti esensi Kekristenan tentang kasih karena Sinterklas adalah makhluk pilih kasih yang hanya ‘menyukai’ anak – anak penurut. Jadi yang anak nakal, ke laut aja HAHAHA. Padahal inti natal adalah kedatangan Yesus dalam kesederhanaan untuk menebus yang berdosa dan terhilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang Sinterklas, jelas saja ia sangat ‘menjual’ banget. Santa Sales! Iya, ungkapan ini kan lebih tepat menggambarkan popularitasnya belum ditambah dengan Pit Hitam pengiringnya yang entah dicomot dari dunia mana dan kenapa juga harus eksis. Bila mengingat betapa populernya si opa gembul ini, jadi sempat bertanya, “ Memangnya seberapa banyak sih yang mau membeli aksesoris a la bayi Yesus dan kostum Timur Tengah bila ada perayaan natal?”.   Lihat si pria gendut ini, dengan kostum khas Eropa berwarna eye-catching ngenjreng a la bendera Indonesia, ia berhasil menohok perhatian. Mulai dari topi kerucutnya yang bentuknya kok adaptasi dari topi Merlin si penyihir apa topi tidur hingga kostumnya yang bisa diubah bentuk mulai dari coat musim dingin bahkan hingga bikini dan lingerie cewek. Ladang bisnis yang menggemukan, bahkan lebih ngetop dari Boybands yang menjamur HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, catatan kali ini mungkin tidak berpanjang lebar membahas lagi pandangan – pandangan filosofisku terkait si pak tua gembul ini tapi lebih ke beberapa kisah lepas terkait si santa dalam pandangan beberapa teman dan sepengetahuanku sih. Ya hanya catatan ringan terkait si ‘opa’ ini. Just check this out! Fresh from the tungku ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, kala saya memilih ‘duduk kumpul –kumpul’ di ruang tamu CELD di UNIPA sana, saya dan beberapa staf CELD membahas tentang Sinterklas, kebetulan lagi marak adanya kunjungan Sinterklas dan para ‘punggawanya’ kemana – mana. Lengkap dengan iringan musik malah. Nah, saya mengulang kejadian petaka kunjungan Sinterklas tahun lalu di rumah sepupu jauh saya. Tahun lalu, anaknya yang masih berusia SD menjadi korban saat kunjungan Santa di kompleks perumahannya. Iya, karena ketakutan dikejar - kejar Pit Hitam, ia jatuh di kolam Kangkung hingga kepalanya pecah berdarah. Belum lagi tahun ini, keponakan perempuanku yang berusia 2 tahun, tiap kali mendengar lagu ‘Jingle Bells’ dan iringan kendaraan yang ramai langsung panik, menangis dan berlari mencari perlindungan. Trauma! *istilah asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian petaka pun bergulir dan membangkitkan kenangan masa kecil yang beraneka ragam, termasuk ‘how to deal with Sinterklas 101’ ALIAS ‘mata kuliah pengantar menghadapi Sinterklas’. Suasana hari itu memang ramai tiba – tiba. Beberapa teman berbagi pengalaman termasuk saya, mengulang kisah menanti kado, menyiapkan sepatu berisi rumput kuda untuk rusanya si Santa hingga gantungan kaos kaki ‘andalan’ yang dipasang di dekat sepatu. Benar – benar sekilas info ke masa lalu deh. Tiba – tiba teman saya, si Jimmy Karter Kirihio bergumam, “Aeh neh, anana, besok tuh, kalo sinterklas datang, jang hanya taru sepatu isi rumput dan surat, tapi taru helm bokar juga, biar sinterklas kas motor too.” Ramailah suasana ruangan. Ketawa pica lah HAHAHAH. Tiba – tiba, Si Eni Arilaha pun bertanya, “Mmmh kalo taru helm, kan dapat motor. Baru kaka, kalo taru motor toooo, tong dapat apa?”. Semua anak menanti jawaban, ‘sinterklas kas mobil…” dari mulut Jimmy . Alamak! Si Jimmy dengan cuek bilang, “Ah taru motor, ya …. biar sinterklas kas GARASI saja HAHAHA *sambil bayangkan sinterklas pikul – pikul bahan bangunan seperti semen dan kayu balok 5 – 10.^___^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan siang itu tidak langsung hilang, karena Jimmy masih berkisah tentang kejadian kebadungan masa kecilnya kala menjadi ‘predator’ kado saudara – saudaranya. Ceritanya, di keluarga Jimmy, tiap tahun Sinterklas alias kedua orang tua teman saya ini memberikan hadiah hanya pada yang rajin pergi ibadah plus penurut. Jadi, beberapa hari sebelum hari Sinterklas, adik – adik teman saya ini sudah diwanti – wanti orang tua si Jimmy kalau, “kam nan dapa hadiah dari Sinterklas, jadi kam taru sepatu saja eee.”. Guess what? Di malam ‘bagi rezeki’, si Jimmy pun memantau yang dilakukan orang tua mereka dengan penuh rasa ‘curigation’ tingkat tinggi. Apa lagi kalau bukan siapin hadiah dengan embel – embel “from Santa” alias dari Sinterklas. Si Jimmy kecil yang badung tak tinggal akal, maka usai orang tuanya berkemas, ia dengan santainya mengendap – endap menuju tempat hadiah, membuka hadiah yang rata – rata adalah makanan ringan dan tentu saja MENYANTAPNYA! Dan melanjutkan tidur. Tak lupa ‘menghapus jejak predator’nya. Alamak, ricuh banget kejadian paginya saat adik- adiknya datang, terkejut tak melihat ada kado dan menangis. Orang tua pun tutup mulut kehabisan akal menjelaskan tentang kunjungan Sinterklas. Mo ngaku kalo mereka sudah meletakan kadonya = ngaku kalo mereka lah Sinterklas =Sinterklas TIDAK ADA. E mo ngaku  kalo Sinterklas memang ada, kadonya juga tidak ada. Serba salah! Yang pasti, Jimmy kecil hanya bisa terkekeh dan tersenyum simpul di pagi itu. Predator rocks! *mungkin ini yang ada di kepala Jimmy kala itu HEHEHE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Jimmy ini pun membuat saya teringat satu hal dalam pelaksanaan kunjungan Sinterklas tiap tahun di Manokwari. KEJUJURAN. Saya percaya sebagai orang Kristen, salah satu hal yang diinginkan Tuhan dalam hidup adalah sikap ini. Saya cuma berpikir kenapa sih orang tua lebih cenderung memberikan kado kepada anak – anak mereka khususnya anak – anak kecil dan mengatakan bahwa kado itu dari SInterklas. Sudah bayar mahal untuk kunjungan Sinterklas yang kadang ‘ngaret’nya luar biasa lama, e ternyata kado-nya juga dari orang tua. Bukankah lebih baik memberikan kado itu langsung dari orang tua sebagai ekspresi cinta ‘sa sayang ko’ kepada anak dan membuat anak – anak kecil itu sadar bahwa mereka dicintai terlepas dari bagaimana bandelnya mereka? Sebuah ekspresi cinta tanpa pilih kasih. Selain itu, bila Sinterklas selalu dipilih, wah bisa – bisa anak – anak kecil lebih menjagokan Sinterklas sebagai ‘yang baik dan tukang bagi hadiah’ dibanding si pemilik natal yang sesungguhnya: Yesus. Bukankah kita malah sudah menanamkan sebuah dasar kekristenan yang berbeda tentang prinsip Kasih Tuhan seperti dalam Yohanes 3:16, “For God loved the world so much that he gave his only Son, so that everyone who believes in him may not die but have eternal life.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti, jangan sampai kita terlena dengan Sinterklas dan membiarkannya menjadi PREDATOR makna pemberi hadiah kehidupan yang sesungguhnya. Ya semoga saja tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 311211; buka kembali catatan lama yang ‘ngaret’ di komposisikan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2747954531254421453?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2747954531254421453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2747954531254421453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2747954531254421453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2747954531254421453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/post-xmas-story-dari-predator-hingga.html' title='Post-Xmas Story - Dari Predator hingga Garasi'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5986347837357773899</id><published>2012-01-03T14:58:00.000+10:00</published><updated>2012-01-03T14:59:54.723+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Pray, Sleep, Write</title><content type='html'>Apa ketakutan terbesarmu? Pertanyaan yang tiba – tiba muncul di kepala saya. Beberapa jam lalu saya dihadapkan pada situasi seperti ini dan harus menghadapi perasaan ini lagi. Bagi saya, saya paling tidak suka yang namanya ‘ketidakpastian’ dan membuat saya harus merasa ‘tergantung’ dan tidak pasti. Hal yang membuat saya selalu berusaha mencari jalan keluar sesegera mungkin dan tidak suka berlarut – larut dalam hal ini. Bila belum bisa mengatasinya maka saya akan berusaha secepat mungkin mengontrol rasa ini agar tidak berlarut – larut dan membuat saya depresi. Malam ini, saya belajar ada dua hal yang bisa membuat atau setidaknya menepis rasa kurang ajar ini: Tidur dan berdoa. Voila, usai 3 jam tidur dan berdoa dan curhat pada Tuhan, hati terasa nyaman sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai sadar hari ini bahwa saya tidak boleh terlalu marah ataupun terlalu senang. Karena efek ‘unexpected sweet revenge’ ke Bob dan juga ikut ‘bakalai’ di Kampung Ambon kemarin emosi saya benar – benar terkuras dan saya baru sadar kalau saya juga merasakan yang namanya ‘break down’ tanpa saya sadari. Saya akui apa yang saya lakukan dengan bergabung di Kampung Ambon juga salah karena saya ikutan memaki ancur sungguh mati untuk iparnya sahabat saya karena sudah memukul mama sahabat saya dengan helm hingga muntah –muntah dan pingsan dua hari lalu di pinggir jalan sebuah pantai Rekreasi dan dinonton banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, yang saya tahu usai ditegur beberapa jam lalu usai pulang dari acara ulang tahun sahabat saya di daerah Kapling Amban, dalam doa malam saya dan disuruh baca Yesaya 30: 1 – 33, saya belajar banyak. Ya menyadari bahwa saya manusia berdosa dan benar – benar butuh Tuhan. Ya, saya benar – benar butuh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini yang pasti saya belajar banyak dan saya mengerti bahwa hanya doa, membaca Firman dan Tidur serta menulis bisa menenangkan saya. Sesimpel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 291211)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5986347837357773899?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5986347837357773899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5986347837357773899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5986347837357773899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5986347837357773899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2012/01/pray-sleep-write.html' title='Pray, Sleep, Write'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8380861641777385537</id><published>2011-12-28T22:04:00.000+10:00</published><updated>2011-12-28T22:05:29.818+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='X story'/><title type='text'>Catatan Alkitab terkait Pohon</title><content type='html'>Seminggu lalu, saya menulis tentang pohon dan emosi kesedihan saya yang merasa kehilangan dan memikirkan tentang pohon – pohon yang jadi korban dalam peristiwa ‘bakar dan palang 20 Desember’. Pada subuh tanggal 21 itu sebenarnya usai mengeluarkan emosi kesedihan saya yang terpendam, saya bertanya pada Tuhan tentang bagaimana Ia memandang arti pohon. Di subuh itu, dalam Saat Teduh, saya mendapat banyak hal menarik tentang pohon dan bagaimana hubungannya dengan budaya dan alam serta peran pentingnya dalam kehidupan perjalanan beberapa tokoh di Alkitab. Catatan tentang hal itu sebenarnya sudah harus saya buat tetapi karena kesibukan saya menjelang Natal maka saya baru dapatmengumpulkannya dalam catatan ini. Saya bersyukur minggu lalu diajar untuk melihat bagaimana pentingnya pohon dalam kehidupan karena Alkitab mencatat beberapa nama pohon dan peran mereka. Catatan berikut ini mungkin tidak terlalu runut dan komprehensif tapi ini adalah sebagian hal yang berhasil saya catat. Hanya sebuah catatan biasa tetapi sangat menguatkan saya bahwa saya tidak salah dalam mencintai pohon dan tidak ada salahnya bersedih semalaman untuk pohon – pohon yang ditebang itu. Anyway, ini beberapa hal yang berhasil saya dapat dari Saat Teduh saya subuh minggu lalu yang berhasil saya ambil dari coretan Saat Teduh saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Pohon adalah sumber makanan pertama dan utama di dalam Taman terbaik di dunia: Taman Eden (Kej 2:9);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Tuhan menciptakan pohon dengan fungsi – fungsi yang ajaib dan menakjubkan, al:  pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Kej 2: 9, Kej 2: 16-17), pohon kehidupan (abadi?) (Kej 2:9; Kej 3: 22 – 24), serta pohon yang daun – daunnya dapat dipakai untuk menyembuhkan banyak penyakit maupun menjadi sumber makanan abadi (Yeh 47:12 -);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3. Dalam kemarahan Tuhan dalam kisah Air Bah pun, Pohon (atau tumbuhan) tidak termasuk dalam ciptaan yang dimurkai atau disesalkan Tuhan atas terciptanya organisme ini (Kej 6: 7) tetapi bahkan menjadi sebuah indikator bahwa bumi sudah aman untuk kembali ditempati oleh manusia pasca air bah e.g. adanya daun Zaitun segar di paruh burung Merpati (Kej 8: 11);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4# Apa jadinya nasib manusia ditinjau dari kisah Alkitab kalau tak ada pohon dalam kisah bencana Air Bah. Memangnya sudah ada speedboat atau kapal selam pada masa itu? Untung ada kayu yang diambil dari pohon Gofir (Kej 6: 14);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#5. Tuhan kerap memilih hadirnya pohon sebagai sebuah simbol dari sebuah kejadian penting, al: Allah pertama kali menampakan diri pada Abraham di Kanaan dan kembali menjanjikan ‘Tanah perjanjian’ kala Abraham berhenti di sebuah pohon Tarbantin di More, dekat Sikhem (dalam terjemahan Alkitab terjemahan Good News Translation; pohon Tarbatin  ini disebut sebagai salah satu pohon suci) (Kej 12: 6-7); Allah juga menampakan diri pada Abraham untuk memberikan janji tentang kelahiran anak perjanjiannya (Isak) di areal pohon Tarbantin di Mamre (Kej 18: 1);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#6. Pohon pun kerap ditanam untuk dijadikan lambang dari sebuah perjanjian, al: kala Abraham dan Abimelek mengadakan perjanjian damai antara mereka, Abraham menanam sebuah pohon Tamariska (Kej 21: 33);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#7. Tuhan memilih kayu dari pohon tertentu sebagai persembahan baginya ataupun sebagai lambang kehadirannya, al: Kayu Penaga  (sejenis kayu Acacia/GNT) sebagai salah satu persembahan khusus Kemah Suci (Kel 25: 5) bahan pembuatan tabut perjanjian (Kej 25: 10) bahan  meja roti sajian (Kel 25: 23); bahan papan/kerangka dalam kemah suci (Kel 26: 15, 26, 32) , bahan mezbah korban bakaran (Kel 27: 1,6), bahan mezbah pembakaran ukupan (Kel 30:1); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#8. Beberapa kejadian di dalam Alkitab khususnya di dunia Perjanjian Baru terjadi dengan melibatkan pohon, al: Ingat bagaimana si Zakeus yang berpostur pendek hendak melihat Yesus, dengan memanjat pohon Ara* (Luk 19: 4); Yesus mengutuk pohon Ara (Fig Tree) yang hanya banyak daunnya tapi tak ada buahnya (Mat 21: 18-22) ataupun menggunakannya dalam perumpaan (Luk  13: 6-9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, tolong diperhatikan bahwa untuk pohon Ara dalam kisah Zakeus, menurut saya pribadi, saya lebih condong merujuk terjemahan pohon ini BUKAN sebagai pohon ARA seperti terjemahan LAI tetapi seperti terjemahan Good News Bible adalah pohon Sycamore (bisa diterjemahkan sebagai pohon Sikamor atau mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia ataupun nama Latinnnya). Pandangan saya sebagai seseorang yang mendalami studi terjemahan dan penerjemahan Alkitab pernah juga dipelajari dalam sebuah topik bahasan kuliah Master saya, saya lebih setuju untuk mengesampingkan terjemahan pohon ini sebagai pohon Ara yang lebih banyak merujuk pada pohon Fig yang menghasilkan buah dan lebih setuju bila melihat pohon yang dipanjat Zakeus sebagai pohon ‘Sycamore’ karena sepengetahuan saya yang pernah tinggal di negara empat musim, pohon fig itu tidak terlalu kuat dan lumayan kecil untuk menopang tubuh manusia dan sangat berbeda dengan pohon Sycamore yang lumayan besar dan kuat dan sering menjadi pohon peneduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#9. Yesus pernah menyuruh manusia untuk berkaca dan mengambil pelajaran dari kehidupan pohon, khususnya terkait dengan BERJAGA – JAGA (Luk 21: 29 -32);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#10. Yesus mengumpamakan dirinya sebagai ‘POHON’ dalam hal ini lebih kepada tanaman Anggur  (Yoh 15: 1-17) yang walaupun bukanlah tanaman berkayu asli seperti pohon lainnya, tetapi mempunyai ciri yang sama: berdaun, berbunga dan berbuah serta menghasilkan biji. Ia juga menggarisbawahi pentingnya adanya ‘cabang yang menghasilkan BUAH’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#11. Tuhan juga menganggap penting peran pohon karena bahkan dalam penglihatan Yohanes di kitab Wahyu (Wah 11: 4 -6), salah satu simbol dari saksi Tuhan yang diutus adalah dua buah pohon Zaitun yang berdiri di hadapan Tuhan dan mempunyai kekuatan al: mencegah adanya hujan, mengeluarkan api dari diri mereka dan juga kekuatan untuk mengubah air menjadi darah ataupun menciptakan tulah apapun dan mereka juga harus bertugas mewartakan kesaksian tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, pada bagian ini, saya melihatnya juga sebagai simbol bagi manusia yang harus menjadi seperti ‘Pohon’ Zaitun ini. Bukankah kita sebagai orang Kristen diharapkan menghasilkan buah yang ‘baik’ (buah – buah roh) dalam hidup kita? Bukankah kita diharapkan bersaksi tentang Kebaikan Tuhan dalam hidup kita? (bandingkan: Mat 28: 19-20; Maz 102: 18);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#12. Tuhan kerap memakai  POHON sebagai BAHAN PERUMPAMAAN bagi manusia, misalnya untuk menggambarkan  sebuah keluarga. Tentu saja ini bukan sekedar merujuk pada pohon keluarga ya hehehe. Tapi pada metafora dari garis keturunan Daud yang juga merujuk pada Yesus pada akhirnya yang diumpakan sebagai ‘pohon’ (Yes 11: 1). Dapat pula menggambarkan penghukuman Tuhan pada manusia khususnya Israel ataupun bangsa lain sebagai POHON yang ditebang ataupun dihancurkan, lihat saja ia mengumpakan Israel sebagai pohon yang dipanen (Yes 17: 6; Yer 8: 13, 11: 16), ataupun bangsa Etiopia sebagai pokok anggur (Yes 18: 5), ataupun pada bangsa – bangsa lain (Yes 24: 13; 27: 10-11). Bahkan dapat pula dipakai untuk menggambarkan manusia sendiri yang panjang umurnya (Yes 65: 21-22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#13. Pada akhirnya, di dalam Alkitab, pohon tetaplah menjadi salah satu ELEMEN SURGA YANG PENTING (Yerusalem baru) karena tampaknya Tuhan memang pecinta pohon, coba lihat adanya pohon – pohon kehidupan di tiap sisi sungai air hidup yang mengalir di tengah jalan kota baru (Yerusalem Baru) itu (Wah 22: 2). Pohon ini daunnya dipakai sebagai penyembuh. Selain itu, perlu dicatat bahwa pohon kehidupan adalah salah satu dari UPAH atau hak untuk orang Kristen yang ‘baik’ (Wah 22: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan mendapatkan sebuah peringatan keras dari Yohanes dalam bagian terakhir kitab Wahyu terkait peran pohon bahwa bila ada yang menyimpangkan perkataannya maka tak akan mendapat bagian dari POHON kehidupan (ada dua bagian hadiah yang diperoleh yaitu pohon kehidupan dan kota kudus) (Wah 22: 18-19);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#14. Meskipun POHON sangat penting dan banyak dicatat dalam Alkitab, TUHAN dengan jelas MELARANG manusia MENYEMBAH POHON baik dalam bentuk pohon (Yer 3: 9)  maupun produk turunannya e.g. patung ukiran dari pohon (Yes  44: 13 – 20; Yer 10: 3 - 5). Ya, for me it makes sense ya HEHEHE. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bacaan ini membuat saya teringat pada beberapa kepercayaan lokal yang pernah saya temukan terkait produk turunan pohon termasuk kertas (iya, kertas kan terbuat dari bubur kayu), misalnya yang mengatakan bahwa ‘berdosa’ menjatuhkan Alkitab ataupun juga Alkitan sebagai ‘senjata’ yang ditaruh di dekat kepala misalnya bayi atau anak kecil untuk melindungi mereka (Allow, saya tidak percaya hal ini karena bagi saya Alkitab dalam bentuk buku hanyalah sebagai media saja tetap Firman di dalamnya yang dibaca dan ‘dihidupkan’ lewat perbuatan itulah yang penting; esensinya yang penting. Alkitab saya malah seperti buku harian saya yang penuh coretan sana – sini, kertas post-it dimana – mana dan goresan stabillo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga paling tidak suka nonton film Vampir yang menjadikan SALIB sebagai senjata atau kadang juga pendapat ini secara tersirat diyakini oleh beberapa orang Kristen yang saya kenal padahal untuk ngusir setan cuma 3 hal (Kuasa Nama dan darah Yesus serta kesaksian kita tentang hal itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saya juga salah seorang yang menentang penggunaan pohon Natal sebagai salah satu elemen penting perayaan Natal yang notabene milik Kristus, yang mana selalu saja pesta natal tak bisa berlangsung tanpa adanya pohon ini. Please deh, bisa tuh pohon ini jadi simbol ulang tahun Yesus? Penggunaan pohon ini kan tak lain taktik awal perayaan natal di Eropa (kalo tak salah di Jerman) dimana penyembah agama non-Kristen di sana menyembah pohon. Aduh sebagai orang Kristen, saya tak mau kelak suatu hari nanti Tuhan bertanya seperti yang saya baca di dalam Yeremia 3: 13. Ogah lah!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;HAL LEPAS LAINNYA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga masih punya beberapa pertanyaan terkait pohon dalam Alkitab, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Apakah Yudas mati menggantung diri (bunuh diri) itu di dahan pohon atau tidak? Atau di kontruksi rumah? (Mat 27: 5). Sedikit penasaran dengan konstruksi rumah orang Yahudi di masa Yesus saat itu. I will search about it ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2.  Tampaknya kehidupan Yesus sebagai manusia, sangat erat kaitannya dengan pohon (dalam hal ini merujuk pada produknya; kayu)  karena sejak lahirpun ia ditempatkan pada sebuah PALUNGAN (baca: tempat makan hewan) (Luk 2: 12, 16) maupun berakhir di sebuah SALIB (Luk 23: 26-32). Pertanyaannya, Apakah palungan maupun Salib; yang dipakai untuk menyalibkan Yesus dan pada akhirnya dipakai sebagai lambang penderitaan Yesus dan Kekristenan, terbuat dari Kayu yang notabene adalah produk pohon? Indikasi pada masa itu apabila salib terbuat dari kayu maka Pasak bisa dipancangkan melewati tangan Yesus ke dalam materi salib itu sendiri (BELUM KETEMU AYATNYA, JADI INI ASUMSI);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini, saya pun teringat pada hidup manusia itu sendiri, khususnya bagi orang Kristen di Papua. Saat lahir, umumnya kita dilahirkan dalam sebuah ruangan yang berunsur kayu, entah dindin ataupun tempat tidur yang dipakai, dan toh pada saat matinya kita pun, dikuburkan dalam sebuah peti dari kayu. Betapa dekatnya kita dengan pohon ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebagai orang Kristen yang baik, bukankah tak salah bila kita mencintai pohon dan menghargainya sebagai sesama ciptaan Tuhan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa dekatnya kita dengan pohon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 281211)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8380861641777385537?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8380861641777385537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8380861641777385537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8380861641777385537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8380861641777385537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/catatan-alkitab-terkait-pohon.html' title='Catatan Alkitab terkait Pohon'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-3698114979382283860</id><published>2011-12-28T22:03:00.000+10:00</published><updated>2011-12-28T22:04:17.512+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Hujan Malam, Pernikahan, &amp; Hubungan</title><content type='html'>Hari ini saya menghabiskan tidur hingga 14,5 jam tanpa henti. Iya, tidur pukul 2 pagi dan bangun jam 6.30 malam. Benar – benar melewatkan matahari hari ini. Saya mungkin sedang stress tanpa saya sadari sebenarnya. Reaksi tidur ini saya pikir dipicu karena saya jarang beristirahat dengan teratur dan kelelahan bersilahturahmi plus terlibat dalam urusan emosi sehingga membuat saya cepat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sejam bangun, tiba – tiba ada saja yang terjadi. Saat hujan sedang deras turun di malam hari, seorang sahabat saya menelpon kalau mamanya beberapa saat lalu dipukul oleh iparnya di pinggir pantai rekreasi. Iya, ini sahabat saya sejak kecil. Walau nyawa masih setengah, tidak mandi, saya pun menerobos hujan deras dan bermantel mengendarai motor saya ke rumahnya. Mendengar cerita dan setidaknya memberikan dukungan. Guess what? Beberapa jam tadi saya berada di dalam sebuah situasi emosi dimana memposisikan diri saya sebagai pengamat dan pendengar dari kerumunan anggota keluarga yang sangat marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti anda tak percaya apa yang saya lalui. Sekitar 1 jam dari acara berkunjung itu, dalam hujan deras, saya pun menemani sahabat saya, lengkap dengan adik lelakinya dan juga mama mereka plus nantinya disusul oleh keluarga besar mereka pergi menanyakan duduk perkara ke rumah ipar mereka itu di daerah Kampung Ambon. Intinya, pada akhirnya kejadiannya berlangsung dan berakhir sangat runyam. Saya menjadi pengamat dan hanya memantau. Sialnya, sampai di sana, saat adik lelaki sahabat saya dan mamanya hendak menanyakan duduk persoalan pada iparnya, e keluarganya mengusir rombongan ini dan semakin runyamlah acara. Yang pasti, malam itu, berbasah – basah dalam deras hujan malam, saya menyaksikan bagaimana acara ‘kunjungan’ bakalai itu bubar karena kakak si ipar mengamuk mengusir dengan parang, mama si ipar mengejar kerumunan keluarga sahabat saya ibarat mengejar anak ayam dengan payung dan sebongkah batu karang besar plus adegan ‘banting – banting panci’ dari mama sahabat saya. Tentunya ada banyak kerumunan orang yang menonton. Urusan pun dilanjutkan ke kantor polisi, tapi tak selesai karena pihak polisi pun tak berniat mencatat urusan pemukulan di pantai, pengejaran dengan parang ini dan seakan tak peduli. Sangat aneh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari bagaimana kisah drama yang akan sangat panjang sekali bila diceritakan ini, saya mengambil satu kesimpulan yang sangat jelas: BERHATI – HATILAH SAAT MEMILIH JODOH.PILIHLAH YANG TAK HANYA MENJADI ‘TEMAN HIDUP KITA’ TETAPI BISA JUGA MENJADI TEMAN BAGI ANGGOTA KELUARGA KITA YANG LAIN (plus dari anggota keluarga ‘baik – baik’). Pilihlah yang bisa menerima kita apa adanya dan juga yang tak hanya terbawa nafsu. Jangan memilih pasangan hidup yang akhirnya akan menjauhkan kita dari anggota keluarga kita yang lain. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat dari kisah keluarga sahabat saya ini, juga bercermin dari kehidupan keluarga kakak laki – laki saya serta juga keluarga teman saya yang lain bahwa ada banyak pasangan muda di kota saya yang sebenarnya TAK SIAP MENIKAH TETAPI MEMAKSAKAN DIRI UNTUK MENIKAH DEMI STATUS, ANAK, NAFSU DAN JUGA KENYAMANAN! Saya tahu saya tak punya hak untuk menilai hal ini tetapi dengan memantau kisah – kisah pertengkaran keluarga muda yang terpaksa melibatkan banyak anggota keluarga kedua belah pihak maka semakin menguatkan pendapat saya bahwa sebaiknya pernikahan dilakukan bila tiap individu dalam hubungan cinta itu sudah siap untuk melangkah. Tak hanya mempersiapkan kematangan fisik, seksual dan finansial TETAPI yang paling penting kematangan emosi dan kedewasaan diri untuk terikat dalam sebuah pernikahan sebagai institusi dan segala macam konsekuensi psikologi sosial ekonominya. Bagaimanapun, pernikahan di dunia timur ini bukanlah pernikahan yang individualistis seperti di negara – negara Anglo-Saxon sana. Sama sekali bukan. Pernikahan di dunia timur lebih pada pernikahan dua keluarga besar dan peran kontrol sosial sangat lekat hubungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saya teringat pada sebuah pelajaran yang saya pelajari dari sebuah rubrik konsultasi di majalah Cosmopolitan Indonesia, “Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47). Ya, apalagi bila dikaitkan dengan urusan cinta, maka bila kedu sejoli itu menjadi baik, maka peliharalah hubungan itu ke jenjang yang lebih tinggi: Pernikahan. Bila tidak, sebaiknya jangan paksakan diri. Karena toh pada akhirnya hanya akan menyiksa diri dan pada akhirnya, tiap individu ini tidak bisa menikmati hidup itu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi sedikit bingung bila melihat kehidupan pasangan – pasangan muda ini, apa yang sebenarnya mereka cari dari sebuah pernikahan? Apakah kebahagiaan? Bila iya, bagaimana mereka mendeskripsikannya?  Saya hanya kasihan saja melihat nasib anak – anak dari keluarga seperti ini karena saya pernah merasakan kondisi dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis beberapa tahun lalu dan bagaimana hal yang serupa terjadi pada pasangan yang sebenarnya tak siap menikah tetapi memaksakan diri untuk menikah. Ya, mungkin hal inilah yang selalu membuat saya ragu untuk mengikatkan diri pada sebuah kontrak sosial dan institusi bernama ‘pernikahan’. Saya melihat ke dalam hidup saya sendiri bagaimana masa kecil dan remaja saya yang hanya berisi pertengkaran orang tua di rumah, kecemburuan, dan jujur sampai sekarang, saya rindu adanya keluarga yang bisa memberikan saya pelukan. Itulah sebabnya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa tiap kali punya kesempatan, saya harus selalu memeluk para keponakan saya dan meyakinkan bahwa mereka dicintai. Ya sangat sederhana tapi saya ingin mereka selalu tahu bahwa terlepas dari buruknya kehidupan orang tua mereka, akan ada saya yang bisa mencintai mereka karena saya tak mau mereka mengalami masa kecil dan remaja seperti yang pernah saya lalui dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah mengerti bagaimana egoisnya orang dewasa dan tak pernah menimbang perasaan anak mereka dalam sebuah pertengkaran. Dalam pertengkaran keluarga sahabat saya dan juga beberapa kali dalam pertengkaran keluarga kakak laki – laki saya, saya selalu melihat bahwa pada akhirnya para orang dewasa ini selalu mengkambinghitamkan anak mereka sebagai alasan mereka ‘terikat dalam sebuah pernikahan’. Iya, seperti itu. Menyalahkan mereka, terkadang malah anak – anak inilah yang menjadi pelampiasan kemarahan dari individu tertentu, ataupun dijadikan alasan mempertahankan hubungan ataupun dimanipulasi demi mendapatkan keinginan tertentu. Padahal, saya pikir, bukan salah para anak ini, mereka tak pernah minta dilahirkan, bukan? Mereka tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Entahlah, mungkin saya terlalu naïf, tapi bagi saya … toh pada akhirnya para anaklah yang menjadi korban dan akan punya masalah dalam perkembangan emosi dan psikologi mereka. Andai dulu saya bisa memilih ulang sekolah lagi dari awal, saya ingin sekali masuk ke jurusan psikologi klinis khusus untuk anak, memahami mereka dan membantu mereka untuk bisa melewati masa – masa seperti ini. Karena saya paham betul bagaimana rasanya bertumbuh dalam keluarga seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua tak pernah tahu bagaimana sakitnya perceraian ataupun ancaman perceraian yang diwarnai oleh pertengkaran berlarut – larut bertahun – tahun. Ibarat hidup di atas jerami penuh jarum pentul yang tertancap ke atas. Entahlah, mungkin ketahanan tiap orang atas masalah berbeda tapi saya percaya bahwa seorang anak seharusnya hidup dalam keluarga yang bahagia dimana mereka bisa melihat bahwa kedua orang tua mereka saling menyayangi dan juga menyayangi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian dalam hujan malam tadi dan juga melihat dalam hidup keluarga saya dan juga kehidupan keluarga kakak saya, saya semakin sadar bahwa MENIKAH ITU TIDAK MUDAH. MENIKAH BUTUH KESIAPAN YANG SANGAT KUAT, KETETAPAN HATI DAN JUGA KEMATANGAN EMOSI. Menikah juga adalah sebuah JANJI DENGAN TUHAN YANG HARUS DIJAGA MATI, bukan? TAPI yang paling penting sebenarnya adalah MENIKAHLAH bila memang sudah SIAP. Sekali lagi saya ingin bilang bahwa JANGAN PERNAH MENIKAH hanya demi status sosial, seks, alasan finansial dan kenyamanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan siapa – siapa, bukan pula pakar pernikahan karena toh hubungan cinta saya kerap kandas karena saya memilih untuk mengakhirinya saat saya sendiri ragu untuk melangkah ke depan khususnya terkait pada pernikahan. Memang sakit terasa seperti itu tapi saya lebih memilih sakit seperti itu dibanding memaksakan diri terlibat jauh dalam hubungan pernikahan dan toh ternyata saya dan pasangan gagal menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama karena cuma berkelahi dan bertengkar demi mempertahankan ego diri pribadi. NAMUN, yang saya tahu dan percaya, menikahlah bila pasangan anda dan anda sendiri saling mengisi kekurangan, menerima kekurangan itu dan bersama – sama berusaha saling melengkapi. Menikahlah bila anda dan pasangan anda sama – sama dapat menghibur satu sama lain, menjadi penolong satu sama lain, menjadi seseorang yang ibarat ‘kulit kedua’ satu sama lain, menjadi charger pengisi semangat dan energi positif, menjadi tangan yang membalut ‘luka – luka kesedihan’, orang pertama yang dicari saat dalam keadaan bahagia maupun sedih. Menikahlah bila anda berdua setiap hari selalu merasakan ikatan dan cinta satu sama lain semakin menguat, tak bisa berhenti jatuh cinta pada pasangan anda dan juga semakin ‘kecanduan’ dan saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh ini saat saya menuliskan catatan lepas ini, saya pun ingat di dalam Alkitab sendiri ada tercatat bahwa “People learn from one another, just as iron sharpens iron.” (Amsal 27: 17; GNT). Saya belajar banyak hal malam ini. Kejadian dalam hujan malam ini tak sia – sia mengajarkan saya tentang banyak hal. Ya, karena toh dalam perjalanan bernama hidup, pengalaman adalah guru terbaik. Sesimpel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 281211)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-3698114979382283860?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/3698114979382283860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=3698114979382283860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3698114979382283860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/3698114979382283860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/hujan-malam-pernikahan-hubungan.html' title='Hujan Malam, Pernikahan, &amp; Hubungan'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-2295936096666415909</id><published>2011-12-28T22:02:00.000+10:00</published><updated>2011-12-28T22:03:06.556+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bob'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Dendam (dosa) itu manis!</title><content type='html'>Entahlah, bagaimana memulai catatan ini sebenarnya, malam ini saya merasa sangat berdosa pada Tuhan. Iya, sangat berdosa. Ada hal yang sebenarnya saya tahu tak boleh tapi saya masih tergoda juga. Untunglah malam ini Tuhan menegur saya lagi dan bagi saya, itu sudah cukup kuat. Ya semoga ke depannya saya bisa menolak godaan seperti ini, dosa lama yang masih sering mengintip dan sayangnya minggu ini saya sulit sekali menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, malam ini saya ditegur dengan baik oleh Tuhan. Usai berdoa minta ampun, saya diminta untuk membaca Yeheskiel 8: 1-18. Saya benar – benar merasa ditampar oleh Tuhan dengan Firman ini dan saya merasa bahwa saya benar –benar pembohong pada Yesus dan saya sadar bahwa ini salah dan membuat Yesus marah dan juga sedih. Entahlah … itu yang saya tahu saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih menuliskan hal ini di catatan ini karena saya tahu saya tidak bisa berbagi mulai beberapa bulan ini dengan beberapa teman dekat karena saya tidak hanya ingin membuat mereka terbeban dengan saya, tak terlalu suka dekat dan berbagi kisah ataupun masalah saya. Entahlah, semua orang sudah cukup punya masalah, tak usah lagi berbagi hal sepele seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu, malam ini dalam hati saya, The Spirit bilang pada saya begini, “May, ko harus mulai belajar mengontrol ko diri eee. Kalo pikiran godaan berdosa itu datang lagi, ko harus tolak dengan nama Yesus dan minta darah Yesus dan Nama Yesus melindungi ko. Bagaimanapun ko tahu bahwa ko pu standar tuh Alkitab too. Jadi kontrol ko pu diri eee.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar banyak malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, mungkin ini memang ada hubungannya dengan si Bob juga. Entahlah, saya melihat sisi buruk saya mulai kembali menguasai saya akhir – akhir ini sejak kenal dengan lelaki ini. Entahlah, bahkan pagi kemarin sebelum pergi ke Ibadah Natal pagi, the Spirit asked me like this: “Are you sure that he didn’t put any charm on you, May? Are you sure about it?”. Sebuah pertanyaan yang membuat saya sedikit tergagap. Ada sebuah cerita yang saya pikir wajib saya bagikan di sini. Intinya, saya tak ingin lagi terlibat dalam dosa saya menjadi seorang ‘penggoda’, dan segala macam dosa bawaannya. Itu saja. Saya sudah berjanji ingin jadi orang baik berdasarkan standar kekristenan. Itu saja. Ya, saya masih jauh dari sempurna. Masih sangat jauh, tapi saya ingin berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam lalu, tepatnya pukul 10 p.m, something di tanggal 23 Desember, Bob tiba – tiba mengirimkan pesan pendek seperti ini, “Selamat merayakan persiapan menjelang natal. Sorry mengganggu. Cuma kangen saja”. Nah karna saya sudah menghapus nomor ponselnya jadi saya hanya menebak ini pesan dari Bob. Voila, benar. SAYANGNYA, saya tergoda untuk membalas pesannya. Kami bahkan SMSan sampai subuh, dan ia mengaku kalau sedang stress. Saat itu hujan deras dan dingin dan saya tergoda benar untuk SMSan menggodanya, nah keluarlah sudah rayuannya yang mengatakan saya ‘unik’ dan lain – lain. Sialnya, otak ‘penggoda’ saya dan segala macam trik jelek sungguh mati pun keluar dari otak saya dan ditranskripkan lewat pesan – pesan pendek ke dia. Ngomong segala macam hal termasuk urusan seks, mana saya cukup terbuka ngomongin seks lagi. Belum lagi malam itu, saya tak bisa tidur karena boneka di tempat tidur (Ducky) sedang dicuci malam itu, jadinya ya sulit tidur jadi saya katakan hal itu pada Bob, e si Bob ko mulai ngomong segala macam yang intinya sih ‘de kepala besar kecil dan PD kalo misalnya de nan kalo kawin deng sa de yang nan gantikan nih boneka’ HAHAHA *muntah2 iyo. Bisa ditebak kan gimana mabuk kepayangnya nih cowok. Besok paginya kami masih SMSan tapi tak seintens malam hari. Bob cuma bilang ingin sekali mengajak saya jalan – jalan, pokoknya saya akan suka segala rencananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada cerita sambungannya. Sudah tanggal 24 Desember. Siang itu, apa dinyana, tiba – tiba teman lama saya, sebenarnya sih TTM lama saya, sebut saja si Dee, seorang cowok Biak yang dulu kuliah di Jogja dan pindah ke Jakarta, tiba – tiba menelpon saya hanya untuk bilang kalau dia lagi berada di kota saya dan mengajak saya ‘jalan – jalan’. Pokoknya menanyakan jadwal saya. Si Dee ini baru muncul di hidup saya pun bulan lalu, kala meminta akun FB dan juga nomor ponsel saya. Saya juga tahu ia sudah punya pacar dan pacarnya lumayan manis. Saya dan Dee pun baru ngobrol sekali bulan lalu. Pokoknya, tiba – tiba saya dia muncul di tanggal 24 itu. Nah si Dee ngajak jalan – jalan di hari Natal, jadinya ya saya ajakin saja untuk pergi ‘pegang tangan’ nanti di hari Natal mengunjungi teman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke Bob, nah malam natal tanggal 24 Desember itu, saya sempat mengirimkan SMS ke Bob yang bilang gini, “Just miss you”. OK, saya akui ini kesalahan saya, khilaf. Subuhnya tanggal 25, si Bob ngirim SMS yang singkat, “Happy Xmas. Love u”. Saya baru membacanya jam 8 pagi di hari Natal. Saya pun tersadar bahwa saya sudah membuat kesalahan besar, jadinya saya mengirimkan sejumlah pesan pada Bob. Isinya antara lain bahwa memang semalam saya merindukan dia sekali, saya akui kalau saya memang suka sama dia dan nyaman selama ini TAPI saya rasa ini salah dan saya tak ingin punya perasaan seperti ini. itu saja. Jadi saya minta dia untuk tidak perlu mengirimkan pesan apapun pada saya, entah mo kangen atau apalah. Pokoknya tidak boleh. Jadinya saya juga minta ia untuk menghapus nomor ponselnya saya plus saya akan melakukan hal yang sama. Saya pikir itulah akhir semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guess what? Ternyata takdir memang beda jalannya. Siang itu, usai memasak teh rempah (yang ternyata hasilnya ditertawain anggota keluarganya saya, karena bagi mereka itu ‘percuma’ dan bisa ditebak, tehnya jadi mubazir, padahal sangat menghangatkan tubuh), jadinya jam 2 saya baru menjemput Dee yang kebetulan sedang mengantar mama adenya berangkat dengan kapal laut. Tujuan pertama otomatis tempat terjauh di rumahnya Chel di daerah pesisir luar kota sana. Kedatangan Dee ke rumah yang sering jadi tempat nongkrongnya saya otomatis jadi bahan pertanyaan, pokoknya ortu-nya Chel sudah pada meledek di dapur tentang si Dee, “paitua ka” HAHAHA. Si Dee sih stabil abis di ruang tamu. Mana dia menolak makan karena lagi diet. Iya, badannya tambah gode sekarang. Dee bekerja di sebuah perusahaan tambang khususnya di bagian survey, dan sebelumnya bekerja di Jakarta dan Kalimantan dan mulai bulan Januari akan pindah ke sebuah perusahaan tambang di wilayah kabupaten pemekaran  di daerah Selatan Papua, khususnya di bagian produksi off-shore. Orang tuanya juga baru pindah ke Manokwari tahun lalu dan sementara tinggal dan membangun rumah di sebuah pulau kecil di dekat Manokwari. Jadinya si Dee jadi anak pulau. Tampangnya juga lumayan manis untuk cowok Papua dan berkulit terang plus cara bicaranya yang halus. Pokoknya bila dibandingkan dengan si Bob, jauh banget dah perbedaannya. Si Dee sih orangnya tenang dan lebih suka ngaku ‘pengangguran banyak acara’ saat ditanya. Cuma karna dasar saya juga bawaannya ‘miss Investigasi’ ya kebuka deh. Jadi dia cuma bisa pasrah saja saat kami diskusi dan ia diinterogasi HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, intinya adalah Sweet Revenge. Saat saya bertamu di Chel bersama Dee, lewat 1 jam, muncullah si Bob dan rombongan teman- temannya, sekitar 12 orang, cuma ada cewek seorang dalam rombongan mereka, plus juga ada si Arc (gebetan lama HAHAHA). Si Arc, Bob dan juga Chel sekantor di sebuah instansi pemerintah. Jadi, pas mereka semua masuk, saya dan Dee memang duduk dekat pintu. Jadinya semua bersalaman dengan kami, termasuk si Bob. Ia hanya memandang saya datar tanpa ekspresi. Beda banget sama reaksinya Arc yang heboh, menjabat tangan saya dengan semangat. Jadi, saat kami semua duduk mengitari meja berisi toples – toples kue kering, si Arc berhadapan dengan saya dan Dee. Si Bob di ujung lain searah saya dan Dee. Jadi, saya dan Dee di arah jam 7, si Arc sekitar arah jam 10, nah si Bob anggap saja di arah jam 3. Alamak, saya bahkan tidak merasa ada apa – apa antara saya dan Bob, jadinya saya malah asik ngobrol dengan Dee dan juga memperkenalkannya ke Arc. Apalagi mereka sama – sama dari Jogja, mangkali saja dulu baku kenal ka ini. Sapa tau yaro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar benar saat itu, hanya saya, Arc dan Dee yang ngomong, mulai dari membahas tempat kuliah, dan juga saya dan Arc berbagi kabar tentang teman kami yang lagi liburan. Saya sadar bahwa si Bob mungkin sedang mengamati kami. Tak berapa lama, saya dan Dee mohon diri dan pamit. Itupun pake gaya saya yang kabur duluan ke ortunya Chel dan memanggil Dee dari tengah ruangan, tentu saja dipandangi semua teman – temannya Bob dan Dee pun manut saja ikutin instruksinya saya seakan saya ini pacarnya yang suka nyuruh – nyuruh HAHAHA. Kami pun pulang, tentu saja berpamitan garis besar pada semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pulang, Dee tentu saja harus balik ke pulau tapi saya memang hanya mendropnya di rumah kerabatnya yang hendak ia kunjungi. Pokoknya, ia benar – benar jadi my guardian angel. Ia hanya bisa ketawa – ketawa kala saya sudah cerita kalau ia telah menolong saya dari sebuah situasi emosi yang tidak menyenangkan. Yang pasti ia bilang, “Adoooh May, ko bikin sa dalam situasi buruk saja di kota ini. Bisa – bisa sa dapa pukul sia – sia”. Ia pun bercerita tentang pengalamannya saat survey di Nabire dan berada dalam situasi seperti ini, kali ini berurusan dengan para tentara hanya karena ia ‘dipinjam’ menjadi subyek membuat pasangan cemburu HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pulang, saya juga tak lupa mengirimkan pesan pada Chel. Tentu saja memantau bagaimana reaksi teman – temannya Bob. Guess what? Benar – benar sweet revenge, ternyata benar perkiraan saya dan Chel, selama ini Bob sudah hiperbolis bercerita kemana – mana khususnya untuk bahan ‘menaikan gengsi’ di antara sesama cowok di kantornya, kalau saya ini gebetannya dia. Ia juga sampai mengambil foto saya dari akun FB saya dan memamerkannya di notebook-nya bersama para TO (target operasi)nya di Manokwari. Padahal, saat ini tunangannya sudah tinggal di rumah orang tua Bob di Nabire sana, mana foto ceweknya sudah berada bersama saudara – saudara perempuan si Bob. FYI, saya bahkan saat meng-track percakapan dinding di laman si cewek, e si Bob malah ada kasi komen segala tentang keinginan bersama ceweknya. Benar – benar buaya darat lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Chel bilang, baik via SMS maupun kunjungan saya hari ini ke rumahnya lagi bersama teman – teman jalan saya, kalau kehebohan terjadi saat saya baru saja pergi dan tiba – tiba seorang cowok amber di rombongan itu bertanya pada Chel begini, “Chel, tuh cewek siapa ka? De gaya keren skali ooo”. Saya tidak tahu bagaimana reaksi wajah Bob saat itu. Si Chel dengan cuek bilang, “Oh itu … itu yang namanya kak Maya”.  Dan hebohlah seisi ruangan!!! Ibarat melempar sarang tawon, keluarlah semua lebah. Iyalah, mereka pun otomatis melihat Bob dan bilang, “ohhhhh, itu toh gebetannya Bob!!!”. Reaksi anak – anak pada hancur, Ada yang langsung mencari tempat tertawa di luar rumah untuk tertawa bokar, ada yang langsung menahan perut karena tertawa terpingkal – pingkal, ada yang langsung tiarap di lantai. Pokoknya habislah Bob diledek habis – habisan. Apalagi si Arc memang jagoan meledek. Iyalah, saya jamin kalau saya yang berada di posisinya Bob, pasti harga diri tacungkil abis plus muka mo taru dimana HAHAHA. Ya mungkin kalau saya sendiri tak jadi masalah, tapi ada Dee yang kata Chel malah kami tuh layaknya pasangan yang pacaran atau malah seperti ‘suami istri’. Mesra abis, bo HAHAHA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa jamin saat itu, teman – teman Bob sudah bisa membaca situasi. Biarpun seandainya Bob nunjukin SMS dari saya pun, pasti tak ada yang percaya kalau kami baru saja ber-SMSan yang heboh getho. Iyalah, saya cuekin Bob di depan teman – temannya, membawa cowok yang 100% beda banget dengan dia dan lebih dari dia, plus gaya saya yang kasual seksi siang itu. Untung saja mereka tidak bertanya Dee kerja di mana, kalau tidak, pasti saya dengan cuek bilang, “Baru pindah kerja dari perusahaan di Kalimantan ke perusahaan tambang XXX di bagian unit produksi, tapi sementara ini sudah 5 tahun menetap di Jogja dan 2 tahun menetap di Jakarta dan Kalimantan”.  Sebenarnya hanya untuk meruntuhkan semangat PD dan ‘makan puji’nya Bob selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itu ringkasan cerita sweet revenge saya. Yang pasti, 30 menit sebelum saya ditegur the Spirit dan berdoa, saya masih mengirimkan pesan ke Bob untuk pesan sejenis “Sweet dream, good Night” getho. Parah lah otak dosa lama saya ini. Saya malah mengirimkan pesan ke Chel dan sahabat lama saya tentang betapa bernafsunya saya untuk menyakiti Bob hanya karena ia mengingatkan saya pada para mantan buaya darat saya apalagi Lelaki Hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanx God, malam ini saya ditegur banget untuk bisa mengendalikan nafsu saya entah mo balas dendam ataupun yang lain. Jadi memang malam ini, saya belajar banyak hal. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sedang hujan lebat dan saya tampaknya harus mulai menulis catatan lain ataupun nonton film pemberian dari teman saya di Jakarta. Yang pasti, saya tak ingin jadi penggoda, jadinya nomor ponsel Bob yang saya catat di agenda langsung saya hapus tadi dan semoga akan selamanya saya hapus. Bob is not my type dan saya haramkan jatuh cinta padanya. Tak rela dan tak ingin walau nyaman setengah mati. Kata sahabat lama saya, “Bisa bikin generasi rusak” dan saya setuju. No way! Saya butuh lelaki baik dan tulus plus setia dan bertampang tidak jelek yang bisa nangkring di dalam foto keluarga besar saya. Pokoknya yang bisa saya gandeng ke rumah dan ke acara – acara sosial saya. Iyalah, keluarga saya cukup selektif dalam urusan fisik, para keponakan saya lumayan manis dan bahkan punya fans kecil, masa anak saya kelak “memalukan” mereka sebagai sepupu mereka? No way lah …. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sih saya tidak memilih fisik, itu urusan ke sekian. CUMA kok rasanya tangan gatal pukul cowok dan mulut gatal bamaki kalo lihat cowok yang di bawah standarnya saya, bertampang sangat biasa (atau di bawah biasa) dan talalu babikin plus tidak bersyukur sudah punya tunangan cantik tapi mo bikin cabang di mana – mana. Memang enak jadi selingkuhan dari cowok macam gini? Rasanya ya benar – benar perlu dikasi pelajaran ya? Hati panas skali ya HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saya meihat Tuhan itu lebih ajaib dah. Saat lagi bingung bagaimana memberi efek jera pada Bob, e datanglah Dee tanpa diduga hanya untuk sebuah reason n season. Perfecto momento pastinya HAHAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin jadi orang baik. Itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 261211)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-2295936096666415909?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/2295936096666415909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=2295936096666415909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2295936096666415909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/2295936096666415909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/dendam-dosa-itu-manis.html' title='Dendam (dosa) itu manis!'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-5897734651035521452</id><published>2011-12-22T22:11:00.001+10:00</published><updated>2011-12-22T22:11:55.452+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><title type='text'>Momen Surga</title><content type='html'>What’s your heavenly moment today? Itu pertanyaan yang saya berikan pada beberapa teman saya saat saya sedang ngopi sore di sela – sela waktu menulis. Kebetulan hujan deras sedang turun di Manokwari sejak siang merangkak sore dan saya memutuskan mencoba mencicipi kopi Arab made in Lebanon asli pemberian mantan dosen saya dulu. Aromanya khas banget dan bikin otak saya langsung ‘smangat’ beybeh =D. Iseng – iseng sambil duduk di ambang jendela dan ngopi, menyetel kencang lagu – lagunya Pink i.e.  ‘Fucking Perfect’, ‘Raise your glass’ hingga ‘Single and very happy’-nya Oppie dan punyanya Ne-Yo ‘Miss Independent’,  saya masih sempat menikmati hujan dan juga pemandangan depan jalan. Tak lupa memandang  bunga – bunga serta tanaman hias plus 30 bibit pohon pinang depan kamar, yang terletak antara saya dan jalan depan rumah. Di momen surga itulah,  saya mengirimkan pesan ini pada beberapa teman. Isinya sih simpel tapi saya merasa damai sekali. Isinya begini: “ Sa lagi duduk ngopi Arab di ambang jendela dan nikmati hujan jatuh di kebun kecil depan kamar dan juga pemandangan hujan depan jalan dan lihat payung – payung warna – warni. Sa sebut ini momen hujan hari ini. What’s your heavenly moment today?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, respon saya bersambut bagaikan timba sumur dilempar ke dalam sumur ‘Indonesia Raya’; sumur manual pake tali. Siap dikerek naik. Nah ini kesimpulan dari beberapa teman yang berhasil saya ciduk. Fresh from the tungku, sodara – sodara ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sahabat perempuan saya yang sedang mempersiapkan urusan domestik perayaan natal, baik dari bersih – bersih rumah hingga mempersiapkan kudapan natal, berbagi momen surga mereka hari ini. Simak saja dari pernyataan Ririe  ini: “ Sementara belum ada, yang ada devilish moment  coz sejak pagi z sibuk panjat – panjat dan lap segala macam di dapur. Tapi kayaknya sih (heavenly moment-red) ada, Z pu dapur keliatan romantis skali saat hujan gini… Aih pacaran di dapur suda wkwkwkkwkw”. Saya langsung senyam – senyum saja, rumahnya sudah romantis penampakannya dari luar apalagi dilatarbelakangi hutan lindung. Bisa jadi areal foto pre-wedding malah hehehe.  Si Yana malah sedikit berbeda , lebih ke urusan kue tapi saya bisa membayangkan bagaimana suasana di rumahnya di Pasir II Jayapura itu ya, masalahnya langsung punya akses dekat pantai. Mau donk! Ini cerita Yana tentang momen surganya hari ini: “Kalo sa ada duduk di dapur samping jendela yang di bawahnya ada kolam ikan sambil bantu mama bikin kue  nastar :D”. Wah tadi pas lagi ngopi dan baca SMSnya Yana, alamak … ngiler boooo, pasti lezat ya ngopi hujan – hujan gini, kopi Arab pula e ditemani setoples Nastar panggang hangat dari oven. Bisa tidak dibayangkan ya aroma kopi melebur bersama Nastar hangat. Alamak, saya semakin ngiler lagi saat selang beberapa menit, si Olive mengirimkan pesan serupa: “Bikin Brownis Kukus”. Yiah … hampir saya jatuh dari jendela tadi. Gosh, I call it ‘temptation’ kala hujan. Iyalah, lagi nikmat ngopi dan dikirimi rekam jejak momen surga teman – teman dalam bentuk ‘makanan’. Sapa mo blok  HAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sahabat saya si Amos yang lagi liburan pulang kampung ke Toraja berbagi pengalaman surganya hari ini, aduuuh bikin kaki saya langsung ‘gatal’ ingin travelling, bagaimana tidak, isinya begini:  “Naik turun gunung mengendarai motor. Lihat kabut awan beterbangan”. Damainya, mana beberapa waktu lalu banyak foto alam hijau yang ditautkannya ke laman jejaring sosial saya. I can remember it, iya .. kabutnya itu lho, sudah lama tak melihatnya hehehe*serasa ingat Canberra lagi HAHAHA. Lain si Amos, lain lagi dosen saya semasa kuliah dulu. Ma’am Yanti ternyata setali tiga uang dengan saya untuk momen surganya hari ini, apalagi kalau bukan sedang ‘menikmati hujan seharian ini’. Perfect!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen surga hari ini tak selalu diterjemahkan sebagai momen yang romantis, kadang hanya hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup teman –teman saya. Seperti bercengkrama dengan buah hati seperti yang dibagikan oleh teman saya Tisda yang sedang liburan di kampung halamannya di Sumatera Utara sana, “Baru saja selesai masak, suap Joy, cuci baju, makan siang. Nih lagi nyusui Joy habis duduk di depan rumah sambil makan kacang Bogor dan lihat kendaraan lalu lalang n yang pasti sambil pantau Joy. Hehehe tadi nyaris jatuh dari rumah (model rumah panggung papan)”. Pun seperti yang dikatakan April di Kendari, “Saya lagi terpaku liat tumpukan cucianku yang perlu diberi perhatian khusus minggu ini, karena takut saja saya gak bisa pake baju lagi kalo gak ditindak lanjuti karena cucian lainnya dicuri orang hehehe. Tambahan tugas menumpuk mampu membakar otak, trus apa ya, satu yang spesial lagi, tunggu – tunggu mama, mau ngasih kado untuk hari Ibu, semoga beliau jadi datang hari ini.” Teman saya Maria yang sedang liburan di Serui malah berbagi cerita bahwa momen surganya hari ini begini: “Kalau saya nikmati  berbagai keunikan dari segudang keponakan yang sedang bermain di  teras rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen surga bukan pula sesuatu yang harus sangat spektakuler. Toh Luna Vidya dalam sebuah perjalanan kerjanya cukup menggambarkannya dengan sempurna, “Sore dengan matahari yang suam, di teras sebuah Café di Kendari, menunggu rapat mulai. Not so heavenly ya May?”. Bahkan mungkin hanya sesimpel yang dikatakan teman saya Eni yang tinggal di Borarsi sana, “Nikmati momen tidur siang spanggal saat hujan turun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi teman saya yang menerjemahkan momen surga mereka sebagai momen dimana mereka melakukan hal yang mereka cintai, semacam ekspresi hidup mereka. Lihat saja komentar dari Arie May di Jayapura, “Saya suka malam, langit terang dan berada di tempat yang gelap. Saya suka memotret bulan, meski sangat suka bintang.” Ataupun versinya si Andi a.k.a. Ibiroma yang juga tinggal di kota yang sama, tentang berbagi satu momen surganya hari ini, “Lagi cerita – cerita dengan teman tentang musik”. Ya, mereka mempunyai persepsi momen surga yang muncul dalam hal – hal kecil yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula teman saya , Henny, yang saat ditanya tentang momen surga hari ini hanya bisa bilang bahwa ia baru saja melewati masa yang berat dan terasa ‘suck’ hari ini. Bikin badan malas skali! Ya dampak dari rapat di tempat kerjanya. Ya tapi semoga saja akhir pekan ini akan membuatnya merasakan sekeping momen surga. Itu harapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, dari berbagai komentar teman – teman saya ini, saya melihat bahwa tiap orang punya momen surga dengan gradasi yang berbeda, tapi saya tak melihat ada seorangpun yang menyinggung tentang momen surga yang harus terkait dengan memiliki uang yang banyak,harta ataupun gadget mewah . Saya melihat bagaimana mereka melihat momen surga adalah saat dimana mereka menjadi diri mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka cintai ataupun menikmati hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka hari ini. Intinya, mereka sedang menikmati ‘hidup’ mereka. Saya pun teringat dengan diskusi dengan dosen saya tadi lewat pesan – pesan pendek, dan saya sangat setuju dengan pernyataan Ma’am Yanti ini, “Yupz, small ‘trivia’ thing is beautiful indeed. Justru orang – orang yang kebanyakan duit itu yang kadang – kadang malah tra bisa merasakan ‘keindahan’ hal – hal kecil di sekitar karena yang terpampang di dong pu pikiran dan pandangan hanya duit dan sodara2nya, padahal ‘kemewahan’ saat hujan begini nih tra pernah bisa dibeli ^_^”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oopppps, tepat saat saya ingin menutup catatan ini, si Ririe yang tinggalnya di kawasan Gunung Meja sana dan asli Maluku ini mengirimkan lagi  sebuah pesan dan sangat heavenly moment versinya dia dan menggambarkan sebuah kebersamaan, simak ceritanya: “Btw, I’ve just got my heavenly moment. Pohon di seberang jalan tumbang. Trus beberapa anak Wamena datang potong dengan dibantu papa dan tetangga depan. Sekarang semua lagi ngeteh dan makan gorengan di ruang tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya hanya bisa menutup catatan ini dan berharap bahwa setiap dari kita, akan selalu menemukan keindahan dalam hal – hal kecil dalam keseharian hidup kita tiap hari. Merasakan kepingan momen surga dalam hidup kita yang biasa saja. Karna saya percaya bahwa tiap orang punya potensi luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang menakjubkan dalam sebuah perjalanan yang disebut ‘hidup’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan tampaknya saya masih mau melanjutkan momen surga tahap ke sekian kala hujan hari ini, apalagi kalo bukan menulis catatan baru tentang pohon dan ‘ngopi’ lagi, kali ini dengan secangkir Javabica Cafelicious ‘Mochaccino’. Tentu saja usai itu akan dilanjutkan dengan mandi berlulur kopi buatan sendiri and I call this series of activity as ‘P-A-R-A-D-I-S-E’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcome to my paradise, mates! Have a very nice weekend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 221211)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-5897734651035521452?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/5897734651035521452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=5897734651035521452' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5897734651035521452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/5897734651035521452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/momen-surga_22.html' title='Momen Surga'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-8354897714157154389</id><published>2011-12-22T22:08:00.002+10:00</published><updated>2011-12-22T22:09:34.488+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self - reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><title type='text'>The tree &amp; me</title><content type='html'>Tanah Papua, tanah yang diberkati. Tanah yang diselimuti hutan rimba. Saya percaya itu. Papua tanpa pohon adalah sebuah keniscayaan karena hutan yang menjadi salah satu aset Papua adalah identitas lain tanah ini. Banyak hutan yang masih ditumbuhi pohon – pohon ratusan tahun, banyak pula yang sudah diperkosa habis. Hutan tak hanya berisi pohon tapi juga makhluk hidup lainnya.  Pohon sebagai elemen penting hutan adalah mama bagi banyak manusia kulit gelap dan pelindung para hewan. Sayangnya, di tanah saya, ada banyak sesama anak tanah kulit gelap yang tidak menghargai hutan khususnya pohon. Bahkan ada juga yang tidak dapat membedakan siapa yang salah dalam mengekspresikan kemarahan seperti yang saya lihat di kota kelahiran saya; Manokwari pada tanggal 20 Desemer 2011 kemarin. Catatan saya kali ini hanyalah ekspresi kesedihan saya mengenang banyaknya pohon yang jadi korban dalam kekacauan di Manokwari di tanggal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu di kota saya, para pejabat silih berganti mempromosikan diri cinta lingkungan mereka dengan menanam pohon. Katanya, ada gerakan nasional segala. Mereka bahkan tak ragu memajang wajah mereka di mana – mana dengan slogan cinta lingkungan segala. Saya tak mengerti bagaimana ikatan emosi mereka dengan pohon – pohon yang mereka tanam, saya tak tahu. Bahkan, saya penasaran apakah mereka juga punya waktu untuk bicara ataupun menyapa pohon – pohon yang mereka tanam atau tidak. Ataukah sekedar memantau pertumbuhannya. Saya hanya penasaran saja. Anggap saja ini bagian dimana saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah tahu bagaimana orang lain memandang pohon. Apa hanya sekedar sebagai mesin pompa air penarik air tanah ke permukaan, penghijau pandangan, ataukah sekedar pabrik oksigen? Saya tak tahu. Sekedar fakta yang bisa saya dapatkan tentang manfaat pohon, misalnya saja yang dibagi oleh majalah Reader’s Digest Indonesia beberapa tahun lalu, bahwa  untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun dan untuk tiap penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Bagi saya, pohon lebih dari sekedar mesin pompa air, penghijau, ataupun pabrik oksigen. Bagi saya, sedari kecil, Pohon telah menjadi guru dan malaikat tanpa sayap bagi saya dalam memahami hidup.  Memahami kehidupan dan juga mengenal Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan tak jelas ini tentu saja berangkat dari kegalauan dan kesedihan saya hari ini. Rasa kehilangan tepatnya. Sejak pagi tadi,  saya mulai sedih mengenang nasib pohon – pohon besar pinggir jalan yang menjadi korban dalam acara ‘kacau – kacau’ reaksi masyarakat Arfak di Manokwari tanggal 20 Desember kemarin. Saya tak bisa mengerti saja jalan pikiran mereka yang memilih menjadikan pohon sebagai sarana pemalangan jalan. Apakah mereka hendak mengusir roh – roh di alam dengan menebang dan mencincang pohon? Saya tak rela benar melihat hal ini. Jujur saya sangat sedih hingga menangis lebih dari sejam. Saya memilih menuangkan rasa protes saya dalam cerita pendek saya terkait para ‘mega’ (pohon) yang menjadi korban. Saya tahu dalam suku mama saya, saya sebagai perempuan bahkan tak punya hak untuk bersuara yang besar, apalagi saya hanya ½ Arfak. Tapi saya geram dengan perlakuan mereka pada pohon – pohon itu, benar – benar geram. Apakah mereka tak paham bahwa mungkin saja Moncusu, Kinomu, Monghu, Meski, Amerera, Kinonsa dan roh – roh lainnya juga bersedih dengan perlakuan mereka pada alam? Sebuah pohon butuh waktu tahunan untuk bertumbuh. Bukan sesuatu yang instan dan langsung jadi besar. Ada banyak kenangan dan harapan yang dititip oleh banyak orang pada tiap pohon, entah disadari atau tidak. Saya percaya, para pohon bereaksi pada perlakuan manusia pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya benar – benar sedih dan menangis, sangat nelangsa. Merasa sangat kehilangan mengenang nasib pohon – pohon besar di kota saya dan juga tanah saya Papua. Saking tak tahannya, saya mengirim pesan pada sejumlah teman tentang rasa sedih saya. Sehari sebelum kejadian ‘palang dan bakar’ di Manokwari, saya dan keluarga lengkap dengan 4 keponakan cilik  pergi ke daerah ulayat keluarga mama saya; mengambil 30 pohon bibit pinang yang saya beli bulan kemarin di sebuah persemaian lokal (saat ini rumah kami resmi punya 80an pohon pinang walau sebagian besar masih setinggi 30 cm), juga membeli bibit pohon Rambutan dan Manggis serta mengambil beberapa bibit pohon Ketapang Papua. Sehari sebelum kekacauan, saya percaya akan ada tambahan pohon penghuni di dalam kota, karena rumah kami letaknya memang masih di daerah dalam kota. Namun, kemarin sore, hati saya terasa luruh kala melihat banyak pohon ditebang sia – sia demi sebuah ekspresi amarah dan sayangnya yang ditebang adalah pohon – pohon besar dan bukan sekedar bibit pohon seperti yang saya beli kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, bulan Desember ini pun, sejak beberapa tahun saya amati, ada banyak hal yang membuat saya sedikit trenyuh melihat perayaan natal di Manokwari. Selalu saja perayaan natal dengan banyaknya pohon tua ataupun pohon muda yang jadi ‘korban’. Iya, jadi korban. Pernah tidak melihat pembuatan pondok – pondok natal di Manokwari? Sangat jarang saya melihat pondok natal yang terbuat dari balok kayu permanen, ataupun dari bahan semacam fiberglass dan bahan – bahan non-rambahan hutan. Selalu saja yang saya lihat adalah pondok natal yang terbuat dari puluhan batang kayu yang adalah pohon muda. Pohon – pohon muda yang berkorban menjadi penyemarak natal dan bila telah lewat masa perayaan, mereka akan jadi kayu bakar. Sesimpel itu. Jadi, anda tinggal hitung saja berapa banyak kebutuhan pohon muda (biasanya disebut saja ‘kayu buah’) untuk tiap pondok dan anda kalikan dengan jumlah pondok hias natal di seluruh kota Manokwari. Saya berani bertaruh bahwa pohon yang ditebang umurnya &gt; 1 tahun dan saya berani bertaruh juga, para perambah hutan untuk kayu pondok ini tak pernah menanam kembali di hutan dimana mereka ambil kayunya. Saya hanya sedih melihat keadaan hutan Manokwari khususnya pohon. Ini hanya pengamatan lepas saya, di Manokwari sendiri, daerah luasan hutan kota makin berkurang. Entah karena dirambah kayunya untuk kayu bakar dan bahan bangunan, ataukah dijadikan areal lahan pemukiman. Saya merasa sedih bila melihat adanya perayaan demi senang – senang semata tanpa melihat dampaknya pada keseluruhan hidup penghuni alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan sensitif dengan interrelasi alam dan manusia. Terlalu juga terkoneksi dengan pohon sejak kecil dan alam bawah sadar saya menyimpan bayang pohon. Saya baru sadar malam ini kala memandang dinding kamar yang tiap dindingnya bertabur gambar pohon dalam empat musim. Iya, sewaktu pulang kuliah S2 saya, sebelum resmi menempati kamar baru di rumah baru ini, saya ‘membabtis’ kamar ini dengan lukisan – lukisan di dinding. Saya melukis dahulu siklus pohon 4 musim, dari musim semi hingga musim gugur di tiap dindingnya. Jadi ada 4 rupa pohon di kamar saya. Malam ini, saya benar – benar tersadar dengan refleksi saya tentang hidup  lewat lukisan pohon di dinding kamar. Musim semi ibarat masa kecil saya yang baru bertumbuh, kala pohon memunculkan daun dan bunga mula - mula. Musim panas adalah masa remaja saya hingga dewasa muda yang dipresentasikan dengan lebat dan hijaunya dedaunan. Musim gugur adalah masa dewasa saya, masa yang matang dan ini adalah masa dimana keindahan pohon begitu cantik dan romantis serta terefleksikan dengan sempurna. Dan kelak, di musim dingin, saya akan serupa dengan pohon – pohon kerontang meranggas tanpa daun itu. Mati. Namun kelak, sebenarnya saya hanya menunggu datangnya ‘musim semi’ dalam kehidupan yang baru di dunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam bawah sadar saya mungkin terlalu banyak menyimpan konsep ‘pohon’ dalam hidup saya: sebagai sahabat, pelindung dan juga penyemangat (iya, karna musim dingin adalah musim terberat bagi saya selama tinggal di negara 4 musim, karena saya emosi saya suka down karna tak melihat banyak pohon hijau). Bahkan tato terbaru saya yang ‘asal’ itu ternyata memang juga merefleksikan pohon. Mungkin karena ikatan masa kecil saya. Sewaktu saya lahir 28 tahun lalu, bapak saya menanam banyak pohon buah untuk saya (pohon Nangka, Alpukat, Langsat dan juga Rambutan) dan begitu juga sewaktu adik  - adik saya lahir. Masa kecil saya pun diisi dengan bermain bersama pohon khususnya sebagai teman bicara karena saya memang punya masalah komunikasi dengan anggota keluarga saya dan pohon akhirnya menjadi teman cerita terbaik.  Selain itu, saya juga ingat kejadian di tahun 2004 kala kakak lelaki saya mabuk berat dan mengejar semua anggota keluarga dengan parang, saya ingat betul bagaimana peran pohon Nangka yang ditanam bapak saya di bulan September 1983 itu. Entahlah, saat itu, saya tahu saya akan aman berada di atas pohon dan bukannya di tempat lain. Saat anggota keluarga lain dan adik perempuan saya lari sejauh mungkin ke luar halaman rumah, insting dan alam bawah sadar saya malah membuat saya memilih pergi ke halaman belakang rumah dan memanjat pohon Nangka itu dan diam hampir sejam lebih di atas sana. Mencari perlindungan yang aman. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk lari keluar halaman dan menjauh tapi tidak saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saya juga makin mengerti kenapa sejak setahun terakhir walaupun saya marahan besar dengan orang tua saya bahkan bisa sampai ‘pake acara banting – banting pintu dan baku maki’, tak sekalipun saya punya keberanian untuk lari ataupun kabur dari rumah lebih dari sehari. Selalu saja saya akan kembali ke kamar saya, mengunci pintu,  dan mencari sebuah kedamaian dalam  ruang 4x4 meter berdinding gambar pohon. Entahlah, mungkin karena alam bawah sadar selalu sukses merekam jejak pohon sebagai ‘tempat yang aman’ ataupun ‘tempat berlindung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anyway, ada banyak kisah pribadi masa kecil saya yang sangat terkoneksi dengan pohon. Sangat banyak dan saya tak pernah kapok jatuh cinta pada pohon walau pernah 3 x jatuh dari pohon.  Saya tahu saya cukup berbeda dalam merespon pohon dan alam dari saudara – saudara saya sejak kecil, ya mungkin karena intensitas saya yang cukup tinggi dengan pohon. Saya juga cukup sensitif dengan alam. Tak ada hari di masa SD – SMP saya yang bebas dari acara panjat pohon dan nongkrong berjam – jam di sana sendirian. Saya bahkan mengenal betapa bedanya saya kala kecil karena sampai harus disambit dengan batu serta diteriaki ‘gila’ dan ‘otak seno’  oleh saudara – saudara lelaki dan mama saya karena bila saya marah atau sedih, pasti saya memilih naik ke pohon dan diam di sana. Saya hanya punya masalah komunikasi sewaktu kecil dan tak bisa mengeluarkan emosi yang tepat dan memilih menuangkannya dengan cerita pada pohon sambil memandang jauh ke depan, berpikir tentang  hidup dalam bentuk ‘seandainya’ dan ‘bagaimana jika…’ , dan juga melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang – orang di bawah pohon. Mungkin itulah sebabnya, hingga sekarang saya lebih suka melihat dari kacamata yang berbeda untuk banyak hal dalam hidup saya termasuk mimpi – mimpi saya yang tidak terlalu popular itu. Pohon begitu baik meminjamkan saya tempat untuk menemukan diri dan hidup saya.  Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu bagaimana anda ataupun orang lain memandang pohon, entah yang buahnya dapat dimakan ataupun tidak. Saya tak tahu. Bagi saya, setiap pohon punya cerita, punya kenangan dan punya banyak hal yang bisa diajarkan.  Bahkan, ini mungkin jadi salah satu alasan konyol bila dikenang. Iya, salah satu alasan saya waktu memilih kuliah di ANU Canberra dulu hanya karena senior saya bilang kalau di sana banyak pohon dan alamnya hijau. Daerah konservasi. Itu saja. Saya bahkan tidak tahu kalau waktu itu peringkat kampus ini termasuk the top 8 di Australia. HAHAHA *iyalah, baru tersadar dengan aliran tugasnya yang ‘gila’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan juga terlalu bermimpi untuk melihat bagaimana pohon diperlakukan secara layak oleh manusia di kota saya. Apalagi bermimpi akan ada ‘ahli bedah pohon’ seperti di Canberra dulu. Entahlah, saya bertumbuh dengan banyak pohon di rumah saya dan selalu saja ada rasa sakit yang muncul bila mengenang bagaimana tiap pohon harus mati demi alasan tertentu. Mungkin kelakuan saya ini serupa Idefix; anjingnya sih Obelix dalam komik Asterix yang suka melolong sedih kala sebuah pohon ditebang. Saya masih ingat beberapa rasa sakit yang pernah menjalar di hati e.g.seperti kala pohon Nangka seumuran saya yang harus kami tebang karena akarnya dirusak hama dan terlalu tinggi. Nasib yang sama juga menggerogoti pohon – pohon Alpukat. Pohon Durian di depan rumah juga baru kami tebang tahun ini karna kehadirannya yang mengancam para keponakan kecil saya yang suka bermain di bawahnya. Selalu saja ada rasa sakit yang tertancap tertinggal kala pohon – pohon itu harus mati di tangan kami. Ada banyak kenangan yang juga hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda datang ke rumah saya suatu hari nanti, jangan heran dengan banyaknya pohon di halaman rumah. Kami khususnya saya memang tergila – gila pada pohon. Proyek ‘gila’ saya dan bapak saya di halaman rumah saat ini adalah mengoleksi varietas mangga, rambutan dan juga Giawas. Juga untuk mulai menjadikan puring sebagai satu – satunya tanaman pagar. Kami menyukai pohon dan pohon menjadi bagian integral dari keluarga kami. Kala satu pohon kami tebang, pasti selalu saja tanpa kami sadari, ada pohon lain yang kami tanam kembali.  Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan saya mungkin berbelit – belit. Entahlah. Saya hanya ingin bilang, bila ada waktu, ya bila anda percaya apa yang saya katakan. Ini mungkin ide gila saya yang sampai sekarang masih kadang – kadang saya lakukan. Saya suka menyentuh dan berkenalan dengan pohon – pohon di tempat baru. Di rumah saya, saya suka menempelkan tangan saya dan merasakan pohon itu. Cobalah tutup mata anda dan ucapkan terimakasih pada pohon itu. Express your love, mungkin ungkapan yang tepat. Itu yang bisa saya anjurkan karena bagaimanapun anda dan saya berhutang oksigen pada mereka; pohon – pohon di sekeliling anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saya merindukan pohon besar penaung es kelapa di tanjakan Manggoapi sana, tempat saya kerap menghabiskan hari duduk sendirian, merenung tentang hidup sambil memandang lurus jauh ke teluk sana. Tanggal 20 Desember kemarin, pohon penaung ini ditebang untuk jadi bahan palang jalan raya demi ekspresi kemarahan anggota suku mama saya. Entahlah! Ada banyak cerita di bawah pohon ini, ada banyak kenangan, ada banyak renungan dan pelajaran yang saya dapatkan. Saya mengenang bagaimana saya suka tertawa kecil mendengar desau angin yang memainkan daun – daun pohon ini kala saya menengadah ke atas kepala saya, memandang langit biru yang terselip di antara dedaunan. Tiap kali melakukan hal itu, saya teringat kenangan manis saya di Canberra Australia di bawah pohon Poplar dan melakukan hal yang sama. Pohon ini juga kerap menjadi peneduh saya kala mengagumi betapa dekatnya Tuhan bagi saya; lewat alam yang indah. Pun tak lupa mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya lahir di Manokwari; sebuah kota teluk berbukit dan gunung yang indah. Pohon yang saya tak tahu bahasa Latinnya ini memang selalu menjadi peneduh dan malaikat tanpa sayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, catatan ini harus saya tutup juga. Anyway, Please, just don’t take the trees for granted. Malam ini, saya ingin tidur dan semoga besok akan turun hujan pagi, agar sore hari dapat saya tanam bibit pohon – pohon Pinang yang baru diambil beberapa hari lalu. Tapi, saya berdoa agar semoga akan ada tunas  pohon  di tebangan pokok pohon di Manggoapi itu dan ada penanaman pohon baru di bekas tebangan pohon – pohon yang sempat menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah saya hanya pemimpi, tapi bagi saya, pohon lebih dari sekedar pabrik oksigen, mesin pompa air, peneduh dan perindang. Bagi saya, it’s an integral part of my life. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 211211; menulis sebagai terapi, isn’t it? Just miss that tree)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-8354897714157154389?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/8354897714157154389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=8354897714157154389' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8354897714157154389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/8354897714157154389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/tree-me.html' title='The tree &amp; me'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-1019477242507123882</id><published>2011-12-21T23:08:00.001+10:00</published><updated>2011-12-21T23:10:11.617+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manokwari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen - 20 Desember</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PROLOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siang  merangkak pelan menuju sore di Manokwari. Mendung menggayut diam di atas bentang awan. Alam tak seperti biasanya. Angin berlari diam tanpa pesan, tanpa kabar. Laut sedang berdiam diri dalam senyap. Tak ada keceriaan yang tertangkap olehku. Mereka sedang sembunyi – sembunyi berselingkuh, berbisik pelan tentang rahasia. Rahasia yang kutak tahu. Mereka sedang bermufakat. Aku penasaran! Ya pada sebuah 20 Desember. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rhe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku dan tiga keponakan kecilku baru saja turun dari tangga luar sebuah areal permainan di sebuah pusat perbelanjaan di kota kecil ini. Aku baru saja menebus janji Natalku bermain bersama mereka di arena permainan. Ei, keponakanku yang tomboi berlari riang tanpa peduli dengan beberapa orang di tempat parkir. Dua keponakan yang lain sibuk membahas berapa banyak kupon hadiah yang mereka dapatkan. Aku sendiri sibuk memainkan tombol – tombol ponselku, mengetikan sejumlah huruf berisi pesan pada seorang lelaki di ujung kota. Bertanya kabar dan pesan tak penting. Berkomunikasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tas belanjaan sukses kukepit. Celoteh Ei pada Lee dan Mu tak kugubris. Melangkah lelah ke arah sepeda motor yang kuparkirkan. Tiba – tiba, muncul tetanggaku di parkiran. Tergesa – gesa menujuku. &lt;br /&gt;“Rhe, pulang tempo. Su mo kaco nih. Tempo. Su ada palang – palang. Su ada bakar – bakar ban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapannya diperkuat dengan beberapa staf pusat perbelanjaan yang bergegas menuju tirai besi penutup kaca dan menarik benda – benda pelapis keamanan itu dengan cepat.&lt;br /&gt;“Sreeet. Sreeet!!!”. Wajah- wajah pucat pasi beterbangan di depan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada waktu. Tak pikir lama. Kuantar para keponakanku pulang. Tak ada waktu banyak*sambil menaikkan kecepatan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nay&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini rencananya aku harus pergi mengambil potongan selang yang dipinjam tanpa ijin oleh mantan teman kosku yang kurang ajar itu. Iyalah, ia dengan seenaknya mengambil selangku yang kubeli sekian ratus ribu itu, tanpa ijin pula. Mesin cuciku pun sudah dirusaknya, belum lagi dengan makanan dan peralatan masakku selama kami kos. Tak heran, si janda satu anak ini bisa ditinggal suaminya. Lah kelakuannya saja se-kapitalis oportunis. Hari ini kuputuskan ia harus mengembalikan selang itu, kos baruku butuh air yang banyak dan tak ada cara lain selain mengambilnya dari sumber air yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucegat ojek di ujung lorong kos baruku, dan dengan sigap melompat ke atas motor. Mas ojek hanya tersenyum simpul memandangku yang polos tanpa saputan alat rias apapun. Jilbab kuningku sudah rapi jali. Kaos lengan panjang hitam dan celana jinsku juga pun sudah ‘kena setrika’. Dompet dan segala macam gadget tempur sudah rapi masuk ranselku. Tak ada yang kurang. Hanya kurang belum bisa mengendarai sepeda motor hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba – tiba di kejauhan, di sebuah persimpangan. Kepulan asap membumbung tinggi. Sangat tinggi. Bau karet terbakar dengan api berkobar garang menyambut kami. Barikade jalan menganga di ujung sana. Pria – pria bersenjata sensor dan parang berdiri tegap menjaga palang – palang darurat dari meja jualan, potongan kayu dan pohon serta batang – batang pohon.&lt;br /&gt;“Kam bubar. Pulang – pulang, tra bole lewat. Tra bole”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan turun dari ojek. Penasaran! Tak peduli betapa berwarnanya aku dalam kerumunan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, datanglah serombongan mobil petugas berbaju cokelat. Tanpa ba-bi-bu. Mereka menendang barikade. Para penjaga barikade tak bergeming. Semuanya diam dalam amarah. Menjaga jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DOOOR! DOOR!” dan orang – orang pun berlari. Berlari kencang. Seiring nyala api yang mulai memudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku terjaga, tak adakah bahasa kasih diplomasi di kota ini? Apakah masyarakat sipil pembenci politik sepertiku bisa hidup tenang di tanah ini? Aku tak tahu. *sambil berlari mencari perlindungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merei1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuterima beberapa pesan pendek di ponselku malam kemarin. Hatiku panas. Sangat panas. Ada dendam membara di dalam hatiku. Seperti mah-eisa2.  Bagaimana bisa sebuah keadilan dibutakan oleh kecurangan? Bagaimana bisa keadilan dibayar hanya dengan 5 Milyar dalam sebuah sidang? Bagaimana bisa 300 ribu dan beberapa kilogram beras dan gula dapat menyumpal suara? Uang dan sembako bantuan korban bencana alam yang disalahalihkan demi sebuah pencitraan. Aku tergugu memandangi kopian berkas – berkas neraca keuangan dan beberapa nota.  Geram dalam diam. Emosiku membuncah dalam titik kulminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat wajah para pembeli keadilan ini. Oh bukan! Mereka bukan pembeli, mereka tukang sablon. Tukang tambal, tukang sumpal. Tukang ‘bikin taprop3’ keadilan. Penyumbat! Tiba – tiba wajah – wajah mereka berubah ibarat ‘mes’4 tapi tentu saja bukan seperti ‘tibiyai’5. Bukan! Hanya serupa anjing buduk Kaskado6 yang kerap kulihat di ujung lorong. Kulihat wajah – wajah mereka. Kulihat wajah keluarga mereka, kulihat gambar rumah – rumah mereka. Kulihat semuanya. Sayup – sayup kudengar suara mereka dalam kepalaku, sekilas dalam percakapan – percakapan tak penting. Baik dalam bentang koar – koar program ataupun ucapan basa – basi penuh rayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubentangkan gambar denah sebuah rumah di pinggir laut. Mempelajarinya dengan seksama. Beberapa nomor pun mulai kukontak. Mengatur strategi.  Aku ingin tarian mah-eisa di hatiku keluar, keluar ke rumah ini.  Jangan tanya bagaimana kudapatkan semua ini. Jangan tanya. Aku berbisnis informasi. Itu saja yang perlu kau tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mewka7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tampaknya hujan akan turun. Iya, kubaui aroma hujan yang mulai menggumpal di atas sana. Awan cumulus mulai menari dalam ikatan dan simpul, membentuk rentetan – rentetan rangkaian kondensasi udara beku. Memaksa mof, si angin, untuk tertawa geli bercanda. Kupandangi tubuhku yang mulai membengkak seiring waktu, semakin ‘gode’, semakin menarik bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaianku dari masa mudaku selalu begini, berbaju coklat dan berkain hijau. Aku tahu aku dilahirkan untuk sebuah misi. Misi mulia melayani para manusia ini. Aku menyaksikan banyak hal terjadi di depan mataku dalam diam. Mengamati, menangis dan kadang – kadang juga trenyuh. Tiap muka baru di kota ini kukenal kala mereka melintas di depanku dalam mobil – mobil baru keluaran pabrik luar negeri. Kukenal juga para orang kaya baru yang berkeliaran mengantar para kerabat dan keluarga mereka berlibur dengan burung besi ke luar kota ini. Aku sering melihat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga melihat banyak sisi modernitas tanpa kejelasan yang terpampang di depan biji mataku. Seperti patung perunggu lelaki di depan jalan, dekat tubuhku. Lelaki yang konon didapuk sebagai seorang penginjil di masa lalu. Lelaki dari negara kincir angin, nun jauh di Eropa sana.  Mereka membangun sosok lelaki ini kemudian meninggalkannya. Tak ada satupun peneduh alami di sana.  Lelaki perunggu itu kerap berteriak padaku. Menjerit mengaduh. Kesepian dan sedih melihat beberapa orang berasyik masyuk melepas sperma di bawah kakinya tengah malam ataupun rombongan pemabuk menyanyi sumbang di bawahnya dalam malam – malam tertentu. Malam tanpa hujan, bintang dan bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pasti mengenalku. Tiap musim tertentu di tiap tahun, banyak anak kecil yang bermain di bawahku, tertawa riang bermain bersamaku. Kadang – kadang aku menggendong mereka dan kami pun tertawa bersama dibuai angin. Iya, tapi tidak hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, aku merasa ada yang salah kala kulihat beberapa lelaki kulit gelap itu berlari kencang menujuku. Mereka memegang sesuatu yang sangat kutakuti seumur hidupku. Rentetan gigi besi sensor mengaum – ngaum bagai suara singa. Aku takut. Sangat takut! Lelaki perunggu di depanku hanya memandangku dalam diam; tak bisa membantu. Jauh di depanku, layar – layar billboard TV tertawa mencemoohku dalam potret pembangunan bagai di surga ke tujuh. Aku takut, sangat takut sore ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gerry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggil saja aku Gerry. Iya, biar gaul, biar terkenal, biar populer. Aku mengenal banyak orang terkenal di kota ini, mengenal banyak orang apalagi kalangan akademisi. Aku juga mengenal para pencari Tuhan yang gemar bernyanyi itu, ataupun kanak – kanak kecil pembaca pelantun  ayat – ayat suci. Aku mengenal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap siang dalam sepanjang hidupku, aku bertemu banyak orang yang berdiri dekat tubuhku. Mereka menyukaiku, kurasa. Lelaki – lelaki bermotor pun kerap tertawa riang bercanda dekatku kala menunggu ban – ban sepeda motor mereka yang gembos diterjang paku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, entahlah, aku sangat takut. Sangat takut. Kulihat logam – logam tajam itu berlari menujuku. Apakah ini mautku? Aku takut. Inikah tebusan dari budi muliaku selama ini pada bumi, pada manusia, pada sesama? Entahlah. Aku takut. Begitu sakit! Di sebelahku, tugu ‘Manokwari Kota Injil’berdiri pongah, dan papan kepemilikan tanah adat tertawa senang diangkut sebagai bahan palang. Aku tak tahu bagaimana rupa darah.  Aku  sungguh tak tahu. Aku hanya tahu tahun ini aku tak akan lagi mendengar kidung natal dan dentang lonceng tanggal 25 Besok. Tak akan lagi. Ya, karena tubuhku sudah terbentang patah di jalan – jalan lengkap dengan buah – buahku yang merah ranum kecil. Andai saja aku masih bisa menikmati lagi dentang deru mesin tertahan lampu merah. Andai saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;EPILOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku menangis kencang, sangat kencang. Beberapa jam lalu angin dan laut berselingkuh di belakangku, menyembunyikan rahasia. Beberapa jam lalu, aku menangis dalam diam, tak ada air mata yang keluar. Kulihat mah-eisa, si api yang menyala itu menari riang di sebuah rumah. Aku tak menangis untuk tarian api itu. Sama sekali tidak. Aku menangis untuk Mewka, si pohon Mangga dan para ‘mega’8 atau pohon yang harus mati hari ini. Sama seperti keadilan yang sudah lama mati di tanah ini. Ya, sudah lama mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut dengan keserakahan manusia, kelicikan dan juga tipudaya mereka. Mereka saling menipu, berseteru, memperebutkan kekuasaan dan pengakuan dengan berbagai cara. Membuang uang bermilyar – milyar rupiah entah dalam sogokan maupun penghilangan bukti, mereka rela membakar duit tiap malam di kota ini, mereka rela membuang banyak peluru yang dibayar dari uang rakyat yang didapat juga dari menjual diriku kepada para pemerkosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku menangis untuk Manokwari.  Aku menangis untuk fakta bahwa di sebuah rumah ada 30 motor dan 9 mobil tetapi di sebelah rumah itu, masih banyak anak kecil kulit hitam yang kurang gizi dan menahan lapar. Aku menangis untuk fakta bahwa ada perseteruan para manusia  tetapi pohon – pohon yang bercerita pada diriku tiap hari selama bertahun – tahun  harus mati ditebas dalam sebuah amarah mereka. Aku menangis untuk fakta bahwa sebuah seragam dan peluru yang dibayar dengan uang pajak rakyat harus menyebar kesombongan dan keangkuhan di tengah kerumunan masyarakat. Aku menangis bahwa diplomasi tidak dianut di kota ini, tetapi yang ada hanyalah bahasa senjata dan alat tajam. Aku menangis untuk sebuah fakta bahwa paru – paruku diracuni lagi dengan gas bakaran ban – ban bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menangis lagi pada hari ini, pada sebuah 20 Desember di Manokwari, karena aku ‘MEBI’9, sang bumi akan mengingat hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menangis lagi hari ini, untuk Manokwari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Manokwari, 211211; reflecting on Manokwari’s riot 20 December 2011 performed by the Arfak People especially the Meyahs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Merei (Meyah) Gila&lt;br /&gt;2. Mah-Eisa (Meyah) api yang menyala&lt;br /&gt;3. Taprop (Melayu Papua) Menyumbat, mampet, macet&lt;br /&gt;4. Mes (Meyah) Anjing&lt;br /&gt;5. Tibiyai (Meyah) Tokoh mitologi suku Meyah, Arfak yang berbentuk anjing. Dipercaya merupakan salah satu moyang suku Meyah.&lt;br /&gt;6. Kaskado (Melayu Papua) Penyakit kulit. Kata ini berasal dari serapan bahasa Portugis ‘De cascado’.&lt;br /&gt;7. Mewka (Meyah) Mangga&lt;br /&gt;8. Mega (Meyah) pohon&lt;br /&gt;9. Mebi (Meyah) Bumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956755328664793824-1019477242507123882?l=kisahhujanpagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/feeds/1019477242507123882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7956755328664793824&amp;postID=1019477242507123882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1019477242507123882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956755328664793824/posts/default/1019477242507123882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2011/12/cerpen-20-desember.html' title='Cerpen - 20 Desember'/><author><name>meimosaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04517392461504701075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956755328664793824.post-3716308878564720946</id><published>2011-12-21T23:02:00.000+10:00</published><updated>2011-12-21T23:03:31.257+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Woman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arfak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal comment'/><title type='text'>Perjamuan Kudus &amp; Tato</title><content type='html'>Malam ini, saya baru saja usai memperbaharui janji dan komitmen saya pada Yesus dalam sebuah Perjamuan Kudus di gereja lokal saya. Iya, sebuah janji pada Tuhan. Apalagi sejak mewawancarai narasumber saya terkait daerah Sanggeng, saya merasa malu pada diri saya yang tidak bisa meluangkan waktu barang 2 jam seminggu untuk bersekutu di rumah Tuhan bersama orang percaya lainnya. Jadi, malam ini, usai hampir 2 bulan lebih tidak pernah pergi ibadah di gereja, saya muncul untuk sebuah commitment renewal dalam bentuk mengakui peran tubuh dan darah Kristus. Iya, sesimpel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya juga baru saja selesai membuat tato temporer di tubuh saya. Ini ketiga kalinya saya membuat tato: pertama tahun 2008, kedua tahun 2009, dan ketiga ya tahun ini hehehe. Kali ini, hanya 3 tato dengan desain yang berbeda.  Tato pertama, di punggung tangan kiri, sebuah tato sedang berisi simbol nama saya yang sudah saya ciptakan logonya sejak tahun 2002 di Manado. Ya, sebuah simbol RH34 dalam gambar kotak dan huruf. Simbol ini merupakan dari representasi saya sewaktu kecil  tentang diri saya yang tidak bisa menyebutkan nama kedua saya dengan huruf ‘I’ tetapi dengan ‘E’. Plus penyebutannya menjadi ucapan nama  seorang dewi dalam mitologi Yunani. Ibu kehidupan a.k.a. Rhea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga memutuskan membuat tato kedua saya, berada di atas payudara kiri, bertuliskan nama panggilannya saya dalam penulisan bahasa Inggris: MYA.  Tulisan ini sudah saya adopsi sejak tahun 2000 kalau tidak salah. Jadinya tidak merujuk pada sebutan nama saya versi India. Saya punya alasan penting memakai nama saya di tempat yang cukup terlindung . Faktor budaya suku mama saya: Meyah, Arfak. Dalam keluarga besar mama saya yang berasal dari keluarga ‘big man’ alias kepala suku turun – temurun, setahu saya, saya keturunan ke 7 dari trah dinasti kami, dan ke empat dari keturunan Byak. Semua saudara perempuan mama saya punya tato, entah di wajah atau tangan. Bahkan ada yang memiliki keduanya. Hanya mama saya yang tidak memilikinya karena ia sejak lahir diadopsi pasangan Maluku ( Amahai, Seram -  Paperu, Saparua). Di masa lalu, perempuan suku Meyah rata – rata bertato, entah dalam bentuk titik, garis atau apalah. Tapi harus. Tato yang saya tahu menurut penuturan saudara – saudara perempuan mama adalah simbol yang menyatakan bahwa kami ‘milik’ atau berasal dari keluarga X atau suku X. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, Seiring dengan dikenalnya huruf Latin, maka kerabatnya mama pun berganti simbol dengan lebih banyak menggunakan inisial nama. Suku besar mama adalah suku petarung yang suka berperang dan salah satu suku pegunungan Arfak. Bahkan juga punya mekanisme kontrol sosial; suanggi. Kehidupan yang keras di pegunungan dan juga nilai perempuan yang tinggi menjadikan tato sebagai alat identifikasi sejak kecil. Iyalah, kasus penculikan dan pembunuhan sering terjadi dan perempuan sangat rentan dalam kondisi seperti ini. Itulah sebabnya, saudara perempuan mama punya tato di wajah dan tangan mereka, sebagai penanda. Hal inilah yang membuat saya memutuskan membuat tato temporer di badan saya, dan semoga masih tetap bisa bertahan ke depannya. Toh, sekarang saya sudah bisa membuatnya sendiri. Saya fobia dengan insersi jarum di tubuh saya dan juga cepat bosan, makanya masih tidak berani membuat tato permanen. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato ketiga saya berada di betis kanan, lumayan besar. Gambarnya adalah sebuah guci yang menuangkan air yang meluap. Desainnya saya adaptasi dari versi yang saya lihat di internet tetapi kemudian saya modifikasi sesuai dengan filosofi saya. Saya suka air dan menjadi representasi nama lain saya yang mengandung unsur ‘air’. Dalam bahasa suku mama saya, air disebut ‘Mei’ dan hujan disebut ‘Mos’, itulah sebabnya saya memakai nama ‘meimosaki’, arti literal karangan saya sendiri sih ‘(air) hujan di pagi hari’. Nah, tato ini sendiri punya dua makna bagi saya. Selain simbol air, guci yang dipakai menampung air aliran air memuat simbol dua huruf M tumpang tindih, satu merujuk pada nama panggilan saya sejak kecil dan dua pada nama Meimosaki. Air yang mengalir tidak lagi dalam bentuk air tapi saya buat dalam representasi pohon dalam mitologi India. Sedikit tampak seperti batik juga sih. Ataupun manusia abstrak.  Ya, merepresentasikan budaya Jawa yang sarat dengan konsep ‘gunungan’ itu tapi ini merujuk pada air dan pohon dalam bentuk kehidupan. Saya suka keduanya dan saya bersyukur tato buatan saya kali ini benar – benar the real me dan saya puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak peduli apa pandangan orang tentang tato saya. Entah dibilang ‘kaco’, ‘na
