Search This Blog

Loading...

Friday, 17 February 2012

Saatnya telah tiba - Yeheskiel 12

Subuh tadi, sekitar jam 1 a.m. tanggal 17 Februari 2012, dalam sesi doa harian saya untuk Papua, saya diminta membaca dalam Yeheskiel 12: 1- 28. Dalam Alkitab Good News Bible saya, judulnya tertulis menjadi tiga bagian: ‘The Prophet as a refugee’, ‘The sign of the trembling prophet’ dan ‘a popular proverb and an unpopular message’. Well, ada beberapa hal yang saya dapatkan tentang pembacaan ini dan pada bagian terakhir sempat membuat saya merasa sedikit pasrah dan bilang pada diri saya, “Well God, terserah Tuhan saja suda”. Ya isinya membuat saya sedikit terkejut ya, begitulah. Anyway, dalam sesi doa saya, semua ini terkait dengan Papua.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari pembacaan ini, al:

#1. Kaum yang memberontak pada Tuhan tidak akan peduli pada apa yang diajarkan oleh Firman (Yeh 12: 2)
Dalam pembacaan Firman yang saya baca ini dengan jelas dibilang bahwa “They have eyes, but they see nothing; they have ears, but they hear nothing, because they are rebellious.”

Bagaimana dengan di Papua sendiri? Saya tak akan membawa contoh yang jauh dan tak saya kenal. Di kota saya saja, dalam minggu ini saya mendengar dan melihat banyak contoh ‘pemberontakan’ yang dilakukan oleh banyak anak muda Papua. Dari para pelaku pemerkosaan, penjambretan, pencurian dan juga kekerasan pada perempuan serta para pemabuk; semuanya adalah orang Kristen yang dibabtis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus tetapi hidup dalam ‘kegelapan’ dosa. Saya tak ingin menghakimi tapi bukankah inilah contoh dari ayat ini dalam lingkup yang saya ketahui, bukan? Well, mungkin anda punya contoh lainnya, tapi saya sudah mempunyai contoh yang saya ketahui. Beberapa dari mereka bahkan tak peduli bila dinasehatkan dengan Firman Tuhan bahkan ada juga yang teratur pergi ke tempat ibadah tetapi tidak berbuah sesuai dengan Firman yang mereka dapatkan di tempat ibadah. Bukankah inilah ciri pemberontak? Entahlah.

#2. Hukuman Tuhan akan datang dalam berbagai bentuk sebagai balasan atas pemberontakan pada-Nya. (Yes 12: 11 – 16; 19 – 20)

Pembacaan ini dengan jelas membahas apa yang akan terjadi pada orang Israel yang memberontak pada Tuhan. Mulai dari tanda bahwa mereka akan menjadi orang buangan atau pengungsi, juga akan tersebar kemana – mana, juga akan terpapar sakit penyakit. Tuhan juga mengilhami Yeheskiel pada masa itu untuk menulis bahwa orang – orangyang lolos dari pengungsian dan sampar akan mengalami masa yang sulit hingga untuk makan dan minum pun harus gemetar ketakutan. Bisa dibayangkan bahwa untuk makan dan minum pun dalam keadaan seperti itu, bagaimana mo telan makanan? Pasti susah sekali. Pastilah kesusahan yang menimpa dalam bacaan ini sangat berat, ya sangat berat.

Satu yang patut dicatat adalah semua hukuman ini akan turun untuk mengingatkan pada mereka yang memberontak agar mengakui bahwa yang berhak mereka sembah adalah Tuhan. Inilah pekerjaan Tuhan untuk menegur mereka. Seperti yang saya baca, “Then they will know that I am the LORD” dan “They will realize how disgusting their actions have been and will acknowledge that I am the LORD.” Ya seperti itu.

#3. Tuhan akan menggenapkan apapun yang Ia katakan terkait ‘prediksi/penglihatan’ yang Ia beri dan saatnya sudah dekat. (Yeh 12: 23)

Saat membaca bagian ini subuh tadi, jujur saya merasa, entahlah, sedikit kaget. Apalagi ada Firman Tuhan yang bilang begini, “The time has come and the predictions are coming true.” (GNT) ataupun dalam terjemahan LAI sebagai “Waktunya sudah dekat dan tiap penglihatan akan jadi.”

Bila dilihat dari pembacaan ini, Tuhan jelas bilang bahwa Ia tak akan menunda – nunda lagi apa yang sudah Ia nyatakan. Tak akan ada lagi penundaan. Inilah saatnya.

Well, itu yang saya dapatkan subuh tadi dalam sesi doa saya.

Segala Hormat, Kemuliaan dan Pujian menjadi milik Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen.

(Manokwari, 170212)

Catatan Lepas tentang Papua

Papua. Saya percaya saudara begitu familiar dengan kata ini. Entah merujuk pada masyarakatnya, penduduknya, kekayaan alamnya ataupun wilayah geografinya. Papua seperti sepotong kue dengan banyak rasa. Mungkin juga bisa saya gambarkan seperti salad buah. Begitu campur aduk. Begitu berwarna – warni tapi di saat yang bersamaan begitu cepat ‘busuk’ dan ‘rapuh’ dan cepat sekali dibuang. Sebuah kontradiksi antara kekayaan dan kemiskinan. Sebuah paradox. Ya, seperti itulah tanah kelahiran dimana saya dilahirkan. Sebuah tempat yang secara de facto dan de jure katanya bagian dari sebuah negara di Asia Tenggara TAPI bagi saya tanah kelahiran saya ini berada di daerah Pasifik Barat daya hehehe. Well, ini hanya catatan lepas saya terkait tanah kelahiran saya. Hanya sebuah catatan di saat saya tak bisa memaksakan diri tidur dan ya, apa lagi yang bisa saya buat selain menulis. Percayalah, hanya sebuah catatan lepas.

Bagi saya, Papua, merujuk pada Tanah Papua secara keseluruhan, adalah seperti sebuah keping surga yang jadi rebutan banyak orang. Sebuah piring makan keramik yang besar yang diperebutkan banyak ‘kanak – kanak’ di sebuah ruangan. Saking berlimpahnya makanan di dalam piring ini, para kanak – kanak ini tak ragu menggunakan cara apapun untuk mendapatkan makanan itu dan juga tentu saja juga menunjukan siapa yang berhak atas piring itu. Para kanak – kanak ini tak peduli kalau saling berebutan seperti itu hanya membuat mereka terluka, terjerembab kadang – kadang dan juga akhirnya hanya merusak piring keramik itu. Padahal tiap kanak – kanak ini sebenarnya sudah punya piring makan sendiri tapi saking terlalu bernafsu makan jadinya ya makanan mereka keburu habis. Tak ada cara lain selain meng’invasi’ piring makan ini yang konon ternyata milik seorang balita yang tertidur. Alamak, saat si balita terbangun dan ingin makan, yang ada hanyalah ia menjadi sasaran ‘tembak’ para kanak – kanak yang lebih besar dari dia. Seperti yang bisa diprediksi, kala tak ada penjaga kanak – kanak ini, si balita silahkan saja gigit jari dan menonton ‘jatah makan’nya habis sia – sia.

Saya tak tahu mau dibawa kemana nasib tanah ini. Kala bantuan dana instan mengalir dengan lancarnya ke tanah ini, Korupsi pada satu sisi juga merebak dengan mudahnya dalam tiap lini strata sosial. Korupsi yang tak mengenal warna kulit dan korban yang dirugikan pun tak kenal warna kulit dan jenis rambut. Sangat merusak tiap organisme yang disebut manusia. Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh para pelaku korupsi ini. Apakah mereka lupa bahwa korupsi adalah satu tindakan pencurian? Sebuah bentuk dosa yang merusak kehidupan banyak orang. Saya tak tahu apa yang dikejar para koruptor di tanah ini, apakah kebanggaan karena memiliki mobil mewah keluaran terbaru, rumah besar, gadget – gadget mewah, kemampuan akses kemana saja dengan layanan kenyamanan tingkat tinggi dan memakai produk – produk hi-class. Well, apalagi kalau cuma ingin diterima oleh kalangan ‘tertentu’. Saya hanya bisa bilang, “Oooops, sangat menyedihkan kalau begitu bila korupsi hanya karena alasan – alasan seperti itu. Karena bagaimanapun artinya orang tersebut punya masalah secara psikologi karena tak bisa menerima dirinya apa adanya dan merasa bahwa ia baru ‘normal’ kalau punya ini – itu. Bagi saya, itu menyedihkan.”

Saya juga tak tahu mau dibawa kemana orang asli Papua. Benar - benar tak tahu. Sesama orang Papua menjadi pengkhianat kaumnya sendiri. Demi uang, kekuasaan dan juga ‘agar dapat diterima oleh kalangan tertentu’. Padahal, kalau mau dilihat statistik, jumlah orang Papua asli tak bergerak signifikan sejak aneksasi tahun 1963. Bahkan bila ada data statistik yang lebih komprehensif, saya bisa bertaruh bahwa tingkat perkawinan interas Melayu – Melanesia cukup tinggi, baik yang sudah berlangsung dari tingkatan kakek – nenek hingga generasi muda sekarang ini. Semakin besar peran kawin campur ini maka semakin menipis pula ‘warisan budaya’ yang diwariskan apalagi bagi generasi di daerah perkotaan. Ada sebuah krisis identitas yang terjadi di tanah ini. Sebuah krisis identitas menjadi ‘Papua’.

Beberapa hari lalu, seorang sepupu kandung saya mengirimkan SMS pamit karena hendak berangkat ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya. Biaya sendiri tentu saja. Saya hanya bisa berpesan singkat selain tentu saja dukungan doa padanya, “Ade, jang pernah lupa untuk bangga menjadi ‘Orang Papua’ di sana eee.” Bagi saya, hanya itu nasehat realistis saya yang bisa saya berikan padanya. Sepupu kandung saya ini pun tak benar – benar asli Papua walaupun ia menyandang fam Papua. Semoga ia tetap ingat bahwa dimanapun ia berada, ia tetap orang Papua. Ya, tetap orang Papua.

Krisis identitas kePapuaan kita juga sempat saya lihat pada beberapa teman dan sesama anak – anak 3 G ‘generasi gado – gado’ , pun anak – anak asli Papua. Saat mereka menganggap bahwa dengan merepresentasikan diri mereka dengan ‘budaya orang lain’, well ada nilai jual tambah yang mereka usung. WOW!!! Itu kesan saya untuk mereka. Apakah seperti itu? Apa yang salah dengan ‘komen-isme’ atau ‘papuanisme’ kita? Saya teringat status seorang teman di dunia maya, sebut saja bro Rudolfo penggagas situs Yaswarau, ia menulis dalam sebuah statusnya tentang anak – anak Papua yang ber-Melayu Ambon. Well, keprihatinannya terkait krisis identitas mungkin bukan hanya miliknya sendiri. Saya pernah mengalami hal tersebut beberapa bulan lalu dengan seorang fans cowok saya yang notabene ‘laki – laki tanah’ sungguh mati dengan fam Papua dan wajah sangat ‘tanah’ tapi sioooooo eee, kalau bicara dan mengirimkan pesan pada saya, benar – benar ‘laki – laki Ambon’ seh. Saya sampai menegurnya berulang kali sampai saya sempat bilang padanya, “Bro neh, biasa saja, macam sebentar dusun sagu smua tacabut rubuh kapa nih. Hehehe. Sa saja yang dibesarkan dengan budaya campuran Jawa – Maluku – Papua saja tra sampe mo sibuk pake ‘beta – ale’ saat bercakap – cakap dengan teman Papua saya kecuali dengan keluarga besar opa – oma saya, tergantung kontekslah’. Itu cuma satu contoh kasus yang saya temukan. Entahlah, apa yang hendak dicari dan ditunjukan oleh orang – orang seperti itu. Saya tak tahu.

Banyak masalah sosial di tanah Papua, begitu juga masalah lainnya yang ada. Banyak masalah. Tapi saya bermimpi dan juga berharap bahwa apapun masalah yang terjadi di tanah ini tak akan membuat kita lupa bahwa tanah ini ibarat sebuah piring keramik besar tempat makan kita bersama. Semakin kita tak peduli dan melihat permasalahan yang ada semakin menumpuk, maka kelak piring akan terbelah dan hancur. Lalu bagaimana kita akan makan? Bukankah kita makan agar dapat bertahan hidup? Semoga kita tak pernah lupa akan hal itu.

Saya tak tahu bagaimana saudara melihat nasib tanah ini, apakah kita menjadi orang – orang apatis ataukah menjadi burung beo yang hanya menyoraki kekalahan maupun kesuksesan di tanah ini? Ataukah saudara mau menjadi bagian dalam membuat tanah ini menjadi ‘rumah’ yang nyaman bagi generasi kita di masa mendatang? Membangun rumah penuh kasih dan damai. Bukankah Tuhan sudah memberikan lahan yang begitu baik, tinggal bagaimana kita memilih material pembentuk rumah yang kokoh, aman dan nyaman untuk tempat tinggal kita. Saya tak tahu bagaimana anda melihat hal ini, tapi bagi saya, Papua adalah rumah saya dan saya akan tetap menulis bagi Papua dalam kapasitas yang saya bisa. Menulis tentang Papua dari perspektifnya saya. Menulis sebisa saya.

Bagi saya, Papua adalah rumah saya. Tempat dimana saya lahir dan mungkin juga akan mati di sini. Saya ingin yang terbaik bagi saya. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia tentu saja merupakan hal yang wajib. Sandang, pangan dan papan tentu saja. Juga masalah kesehatan dan pendidikan serta aksesnya yang murah dan meriah pastilah mimpi saya juga. Tapi yang saya herankan, di tanah saya ini, urusan kebutuhan dasar ini saja belum terpenuhi tapi kok kebutuhan pendukung yang tak terlalu penting bagi ketahanan hidup orang banyak menjamur di mana – mana. Saya tak perlu mengabsen semua kebutuhan pendukung tak penting itu, bukan? Well, cara termudah melihat tingkat pemenuhan kebutuhan dasar ya coba saja ke Manokwari dan melihat daerah miskin perkotaan yang berada di daerah teluk, ataupun daerah Sanggeng Dalam ataupun juga ke berbagai pesisir utara dan selatan. Apakah sudah terpenuhi dengan baik urusan kebutuhan dasar ini? Entahlah, bagi saya pribadi sih belum. Itulah Papua; sebuah paradox. Sebuah paradox tentu saja.

Papua akan terus bergeliat dan mungkin juga bergolak. Ada yang tak ingin tanah saya ini damai. Ya, mau dikata pun kondisi keamanan yang bergolak menjadi ajang bisnis besar bagi para pihak yang berkepentingan, bukan? Saya tak tahu bagaimana anda melihat hal ini. Bagi say, tidakkah lebih baik bila kita berhenti sejenak dari ‘kekerasan’ dan melihat ke dalam tanah ini, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tanah ini, oleh penduduk aslinya, oleh penduduk migrannya, oleh penduduknya yang bergenerasi campuran dan semua pihak yang berkepentingan di tanah ini. Duduk dan bicara! Tapi akankah itu terjadi? Saya tak tahu. Entahlah.

Saya bukan orang yang duduk di bagian pengambil keputusan, mungkin pula tak akan pernah mendapat jatah suara dalam berbicara tentang nasib tanah ini. Tapi saya hanya akan tetap bilang bahwa saya jemu dengan kekerasan yang terjadi di tanah ini, saya jemu dan muak dengan rasisme yang mengakar di tanah ini, saya capek melihat orang – orang yang korupsi di tanah ini dan saya juga benar – benar muak dengan ketidakadilan di tanah ini. Yang saya lihat, semua bentuk ‘ketidakbaikan’ ini dilakukan oleh baik orang Papua maupun non-Papua. Tak ada lagi batasan ras. Tak ada. Yang tersisa hanyalah ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ di Papua. Yang tersisa hanyalah ‘orang yang peduli Papua’ dan ‘yang tak peduli pada Papua’.

Well, saya hanya bisa bilang hari ini dari semua kesimpulan saya dalam catatan ini: LAKUKAN APA YANG ANDA BISA DENGAN KAPASITAS YANG ANDA MILIKI demi Papua plus JANGAN PERNAH MENCURI APAPUN yang bukan milik anda. Sesimpel itu. Karena bila anda dan saya setia dalam perkara kecil seperti ini, saya percaya kita bisa melakukan banyak hal besar untuk menjadikan Tanah Papua sebagai rumah yang lebih baik bagi anak cucu kita.

Keputusannya di tangan anda dan saya, bukan?

Jadi, saya peduli pada Papua. Bagaimana dengan anda?

Jawabannya hanya anda yang tahu!

Bahas Mero.

(Manokwari, 170212; sebuah subuh)

What life brings so far

Beberapa hari ini saya merasakan bagaimana Tuhan bekerja di dalam diri saya. Bekerja memperbaharui saya. Saya bersyukur untuk campur tangan Tuhan. Itu intinya.

Saya mulai merasakan bagaimana the Spirit bisa menolong menegur saya untuk mengatasi rasa marah saya dalam beberapa hal. Mulai dari mengatasi kekecewaan saya dalam menghadiri suatu acara, juga bereaksi terhadap kekerasan di depan saya. Ataupun permasalahan orang lain. Saya benar – benar berterima kasih karena masalah pengelolaan amarah bisa berlangsung dengan baik dan aman tanpa harus mencederai saya dan tak kepikiran berjam – jam. Bahkan kemarin Ia benar – benar membantu saya mengatasi kekecewaan saya terkait seorang sahabat lama. Saya makin mengerti bahwa tiap orang bereaksi berbeda dengan perhatian dan SMS penyemangat yang saya kirimkan pada mereka. Entahlah. Tapi saya bersyukur kemarin Tuhan benar – benar menghibur saya dan menguatkan saya dan yang terpenting adalah Tuhan berpesan bahwa tak ada cara lain yang bisa Ia katakan selain “Tetap mengasihi.” Saran paling rasional yang saya terima.

Beberapa hari ini kesehatan saya kembali drop total. Mungkin karena flu berat, Migrain atau juga Malaria tertiana yang timbul tenggelam. Entahlah. Tapi yang saya tahu, saya dikuatkan oleh Tuhan lewat firman-Nya. Dalam kondisi drop inipun dalam sesi doapun saya tidak dituntut lebih seperti beberapa hari silam yang berapi – api tapi lebih tenang. He really knows what I’ve been through. Itu yang saya tahu.

Har ini saja misalnya saya tidur dari jam 12 malam lebih dan baru bisa bangun jam 3 sore dengan selalu harus terbangun tiba – tiba tanpa sebab pada pukul 4/5 subuh untuk berdoa kecil dan kembali tidur. Masih mimpi yang samar dan aneh, tentang lelaki yang menikah denganku. Entahlah, alam bawah sadarku sedang crash. Hahaha. Dalam mimpiku, teman – temanku bilang itu ‘suami’ku HAHAHA. Mimpi terkacau yang pernah kutahu. HAHAHA

Anyway, Saya juga sedang tekun membaca bukunya Rick Warren “God’s Answers to Life Difficult Questions”. Sangat menguatkan saya.

Well, saya tak tahu apa yang akan ditawarkan hidup ke depan. Tapi saya mau melihat gambaran besarnya kalau saya akan baik – baik saja. Ini hanya sebuah proses dalam hidup saya. Sebuah proses yang harus saya jalani guna menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidup saya. Saya percaya Yesus tak akan membiarkan saya ‘babingung’ kelamaan, terkatung – katung. Beberapa hari ini saya sempat berdoa dan curhat pada Tuhan terkait masalah pendapatan dan Jawaban Tuhan tak pernah terlambat. Minggu depan ada beberapa kerjaan lepas yang menanti untuk saya kerjakan. Ya, walaupun kecil tapi saya bersyukur ada kerjaan lepas dan aktivitas. Saya percaya bahwa Yesus akan mencukupi apa yang saya butuhkan. Itu saja.

Saya ingin hidup saya seimbang dan oleh sebab itu, saya tak akan jemu melakukan apa yang harus saya lakukan. Itu saja.

Hidup tak akan rumit bila masalah – masalah yang berat biarkan Tuhan yang mengatasinya, setidaknya kita sudah berusaha sebaik mungkin, bukan?

Hidup hanya satu kali dan saya mau menjalaninya sebaik mungkin berdasarkan apa yang Yesus inginkan. Saya hanya ingin menjadi apa yang Ia inginkan dari hidup saya. Itu saja.

Well, enjoy life dan jangan pernah menyerah. Itu pesan saya hari ini.

Stay blessed!

(Manokwari, 160212)

Wednesday, 15 February 2012

Secangkir Kopi di Atas Meja

Subuh mungkin saat paling tepat bagi saya untuk menulis. Mungkin karena suasana yang tenang dan hanya terdengar bunyi suara serangga dari luar kamar dan tentu saja musik yang saya putar lebih terasa sensasinya. Malam ini dua albumnya Michael Bolton yang menemani saya =) Well, ada tiga hal (musik, suasana kamar yang nyaman dan juga perasaan nyaman sehabis berdoa) yang mungkin membuat mata saya tiba – tiba melihat sebuah ‘gambaran jelas di kepala saya’ saat melihat cangkir kopi (yang tentu saja berisi kopi) di depan komputer jinjing saya. So, terinspirasi dari ‘pencerahan’ yang saya dapat subuh ini, tak butuh waktu lama, saya memilih mengirimkan pesan ini pada beberapa teman :

“Subuh ini kala sa sedang mengetik, ada 1 cangkir kopi warna merah hadiah Nescafe dan berisi kopi di meja. Bikin sa ingat kalo ko seperti cangkir kopi ini. Yang temani sa, menyemangati sa, apapun jenis kopinya tapi selalu cangkir merah ini yang sa pake. Apapun kopinya tapi selalu bikin sa terinspirasi jalani hidup. Thanx 4 being my friend.”

Iya, para sahabat, teman dan orang – orang terdekat di sekitar saya bagaikan cangkir kopi merah ini. Mereka berada di sekitar hidup saya, menjadi wadah dari ‘inspirasi’ yang saya sering dapatkan dalam hidup. Kisah hidup mereka kadang saya pinjam sebagai bahan pembelajaran pribadi, cerita mereka entah keberhasilan dan kegagalan menjadi refleksi saya dan semangat mereka kadang menjadi bara api penyemangat kala saya sedang ‘down’. Mereka benar – benar seperti cangkir kopi merah yang sudah saya miliki sejak masa perkuliahan di Manado 10 tahun lalu. FYI, Saya dulu mengoleksi banyak cangkir kopi Nescafe tapi yang tersisa cuma 2 yang berwarna merah dan favorit saya ya yang warnanya merah polos seperti yang saya lihat subuh ini. hehehe. Mereka ‘ada’ dan ‘hadir’ di dalam hidup saya.

Saya percaya, tiap kita pasti mempunyai lingkaran inner-circle maupun teman jauh yang menjadi serupa cangkir kopi ini bagi diri kita. Mereka ada dan hadir dalam hidup kita. Tergantung pada intensitas persinggungan tiap orang. Tapi saya percaya, mereka adalah ‘wadah’ yang diciptakan Tuhan dan diijinkan Tuhan untuk hadir dalam hidup kita; menebarkan semangat dan inspirasi, menguarkan aroma pantang menyerah dan tentu saja juga sebagai katalisator dari persinggungan emosi kita dan mereka. Kadang mereka hanyalah tempat kopi dingin seperti iced-coffee tetapi paling sering mereka adalah wadah kopi panas. Mereka berbagi kehangatan pada kita kala ‘hujan’ deras sedang turun dalam hidup kita. Kala kita sedang ‘down’, mereka menaburkan semangat kopi dan membuat kita tertawa lagi, menyemangati dan tentu saja menciptakan banyak inspirasi yang kadang tak kita sadari.

Subuh ini, saya percaya bahwa tiap kita pun adalah cangkir berisi kopi bagi hidup orang lain. Saya percaya tiap kita berperan besar dalam membentuk rantai hidup semangat dalam diri dan kehidupan orang lain. Kadang malah membuat mereka ‘kecanduan’ dan tak bisa hidup jauh dari kita. Saya percaya, apapun intensitas yang telah anda buat, anda berarti dan bermakna dalam hidup orang lain.

Jadi, saya hanya bisa bilang: Terimakasih sudah mewarnai hidup saya, berbagi semangat, perhatian dan banyak hal yang tak dapat saya sebut satu per satu. You are wonderful! Itu yang saya tahu. Thanx for being a part of my life. May God bless you abundantly. Itu doa saya.

Enjoy life. Semangat! Itu saja.

Stay blessed!

(Manokwari, 150212; 3 a.m.)

Yeremia (lagi)

Siang tadi, seorang teman saya di Jayapura, mengirimkan sebuah pesan pendek bagi saya. Dia teman lama saya yang saya temukan minggu lalu usai hampir 10 tahunan tak ada kabar. Well, minggu lalu kami menjalin kontak lagi dan ia menjadi salah seorang yang menguatkan saya untuk balik pada panggilan saya. Kebetulan ia juga cukup peka dengan ‘panggilan’nya. Isi pesannya cukup singkat, “May, tadi sa diminta mencari orang yang biasa berdoa untuk Papua dan sa tahu ko memang berdoa untuk Papua too. Jadi ko tolong bacakan Yeremia 11: 13 dan Yeremia 10: 13 eee.”. Usai bertanya lebih lanjut tentang hal ini, ia bilang, “pokoknya sa su kasi tau eee hehehe.” Well, pembacaan yang ia beri ini benar – benar berpikir lagi. Iya, karena nyambung dengan beberapa hal yang saya dapat dalam sesi ‘doa’ saya beberapa hari ini plus juga pembacaan kitab yang lain: tentang penyembahan berhala dan hukuman Tuhan too.

Hari ini, ada dua ayat yang saya baca dan doakan, isinya begini:

Yeremia 11: 13 (GNT):
“The People of Judah have as many gods as they have cities, and the inhabitants of Jerusalem have setp up as many altars for sacrifices to that disgusting god Baal as there are streets in the city.”

Yeremia 10: 13 (GNT):
“At his command the waters above the sky roar; he brings clouds from the ends of the earth. He makes the lightning flash in the rain and sends the wind from his storeroom.”

Anyway, hari ini yang saya tahu, sesi doa tengah hari tadi benar – benar awesome, saya suka kala Tuhan memilih genre-musik etnik. It makes me feel so glad to listen to that sound. Yang pasti, sekali lagi ini tentang Papua. Saya merasakan tadi dalam pujian dan penyembahan sebelum doa itu, saya benar – benar merasakan bagaimana Tuhan mengalir dan mencurahkan kuasa pelepasan atas Papua.

Satu yang pasti, ini masa ultimatum bagi Papua: Bertobat ataukah hukuman siap menanti. Pilihannya tentu saja ada di tangan orang – orang yang ada di Papua: Komen ka Amber ka pernakan. Ini saatnya Tuhan, mari bergerak bersama-Nya. Itu saja.

Stay blessed!

(Manokwari, 140212; Thanx for Peri)

Catatan Lepas tentang Cinta

Hari ini planet ini giat mengkampanyekan ‘hari Kasih Sayang’ a.k.a. Valentine’s Day. Well, saya tidak merayakan Valentine’s Day dan juga butuh hari khusus untuk mengungkapkan cinta saya karena saya memang mudah jatuh cinta. Tapi, hari ini saya bersyukur bisa berbagi pelukan dan mengatakan “Thanx for being my friends” untuk para sahabat dan teman.

Bagi saya, ekspresi kasih sayang tak butuh hari khusus. Malam ini saat menulis catatan hari ini, saya baru saja selesai berdoa malam dan entahlah, pilihan firman yang saya baca benar – benar full of love. Menyenandungkan dan memuji Tuhan dengan nada lembut dalam kitab Mazmur 30 dan Kidung Agung 1 – 3. Sangat menghanyutkan dan membuat saya berulang kali bilang, “Jesus, I love You.” Padahal beberapa jam sebelumnya saya baru saja diserang sakit kepala hingga harus minum obat dan tidur, mimpi buruk dan juga kelelahan berat. Tapi, saat teduh saya malam ini benar – benar jadi titik balik dan saya merasa disiram cintanya Tuhan yang sangat banyak sampai – sampai saya menulis catatan ini dengan perasaan penuh cinta, muka tersenyum – senyum sendiri dan hati yang terasa penuh. Su tumpah – tumpah malah hahaha. Belum lagi pembacaan Firman diminta baca Hakim – Hakim 18: 1 – 31. Well, saya mendapat sebuah ayat penguatan di ayat ke 16, yang bilang begini, “You have nothing to worry about. The LORD is taking care of you on this journey.”

Bagaimana anda memandang cinta? Bagi saya itu energi terhebat yang bisa menggerakan satu alam semesta. Energi yang sangat kuat. Cinta membuat orang bisa melakukan apa saja. Tak bisa dikontrol, malah bikin orang gila. Kehilangannya malah bisa bikin orang patah hati, depresi ataupun bunuh diri. Sebuah energi yang saya tahu berasal dari Tuhan. Entahlah, bagi saya, cinta adalah sebuah anugerah terbesar yang pernah saya tahu dan jadi salah satu alasan saya tetap hidup sekarang ini.

Di malam ini pula, saya mengingat mereka yang menginspirasi saya. Ada banyak sekali. Mulai dari keluarga hingga sahabat jauh dan dekat. Bahkan orang – orang yang hanya saya kenal dari buku, bacaan ataupun biografi mereka. Anyway, terkait Valentine’s Day, saya mungkin hanya mengingat satu orang yang entah sekarang berada di mana; Jonathan. Dua tahun lalu saya merasakan bagaimana artinya dihargai, dipercayai dan tentu saja ditantang untuk menjadi diri saya sendiri. Dia lelaki yang membuat saya percaya bahwa saya layak bermimpi besar karena ia percaya bahwa saya bisa melakukan hal – hal besar. Andai saja ia bisa membaca catatan ini karena saya masih dan akan tetap mencintainya dengan cara seperti ini; menghidupkannya dalam tulisan – tulisan saya. He’s one of the best men I’ve ever met. Itu saja. Saya puas mencintainya dengan cara seperti ini walau mungkin ia tak akan pernah tahu.

Hidup masih panjang, masih akan berlanjut. Saya mungkin akan jatuh cinta beberapa kali, mungkin pula bertemu pasangan hidup saya kelak atau bahkan melajang seumur hidup. Saya tak lagi memikirkan itu. Yang saya tahu saya bahagia dengan kondisi saya sekarang, diliputi banyak cinta di sekeliling saya. Cinta yang lebih universal dan tak lagi hanya berupa cinta eros tetapi saya juga merasakan siraman cinta Tuhan dalam hidup saya. Merasakan banyak perhatian dan saling menguatkan dengan para orang terdekat. Menjalani hidup saya ke depan. Satu yang pasti, saya percaya saya akan baik – baik saja. Itu saja.

Malam ini saya dikuatkan oleh Tuhan dan saya percaya bahwa Firman-Nya benar, “You have nothing to worry about. The LORD is taking care of you on this journey.”

Jadi, hidup hanya perlu dijalani dan bukannya dianalisa. Itu saja.

Stay blessed!

(Manokwari, 140212; reflecting on my life)

5 Minutes 4 Women

Betapa riangnya kita membahas tentang musik yang lain ‘in’,

Betapa hebohnya kita membahas tatanan rambut, fashion, maupun make-up terbaru;

Betapa asyiknya kita membahas kematian para seniman yang menginspirasi hidup kita;

Betapa hebohnya kita membahas gol – gol cantik yang dilesatkan tim sepakbola kesayangan kita dan juga berapa banyak skor yang dibuat dan analisa pertandingan;

Betapa relanya kita begadang semalaman demi menonton pertandingan sepakbola di TV;

Betapa bersemangatnya kita membahas gosip terhangat yang menimpa orang yang tak kita sukai ataupun kita sukai;

Betapa senangnya kita berbicara tentang rencana liburan kita, perangkat gadget elektronik terbaru yang akan kita beli dan juga hal – hal berbau ‘mewah’ yang akan kita dapatkan;

Betapa riangnya kita membahas gosip para pesohor yang hidup di dalam layar kaca, jauh ribuan kilometer dari kita dan tak sekalipun mengenal nama kita;

TETAPI

Adakah waktu yang sama banyaknya dengan hal – hal di atas kita pakai untuk MEMIKIRKAN ataupun setidaknya MENDOAKAN apalagi BERUSAHA untuk para perempuan muda yang mungkin hidup dalam jangkauan 1 Km dari tempat tinggal kita? Iya, untuk mereka:

Para perempuan yang digebuki di dalam rumah mereka hingga babak belur oleh suami mereka hanya karena alasan sepele;

Para perempuan muda yang berusaha bunuh diri malam ini hanya karena merasa tak berharga karena urusan ‘perawan pica’;

Para perempuan muda tanpa ikatan pernikahan yang sedang depresi, bingung dan tak tahu harus bagaimana karena ada kehidupan yang tumbuh di janinnya;

Para perempuan muda yang ingin menjadi ‘bayangan’ dalam keramaian karena merasa bahwa mereka tak berharga dan tak ‘cantik’ dan berusaha keras menjadi ‘orang lain’;

Para perempuan muda yang sedang bertarung dengan mimpi mereka dan tampaknya harus melepaskan mimpi mereka karena ketiadaan biaya;

Para perempuan muda yang ingin menjadi ‘diri mereka sendiri’ tetapi harus memakai topeng karena tekanan budaya patriarki dan ancaman;

Para perempuan muda (maupun di rentang usia lainnya) yang menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan di kota Manokwari maupun di mana saja;

Well, saya pikir anda lebih tahu jawabannya dari saya. Yang saya tahu, catatan ini saya buat untuk mereka, untuk mengingatkan bahwa mereka berharga dan mungkin saja anda mau berkomitmen barang 5 menit dari hidup anda dalam sehari untuk mendoakan mereka. Tak banyak, setidaknya agar Tuhan bekerja dan mengubahkan hidup para perempuan ini menjadi lebih baik dan juga menguatkan mereka untuk menjalani hidup. Itu saja.

Bagi saya, perempuan adalah hal terindah yang pernah saya lihat, manusia super yang nyata dan peran mereka sebagai ibu kehidupan kadang lolos dari kilatan blits kamera. Bagi saya, mereka adalah keunikan; salah satu keajaiban yang dibuat Tuhan.

Perempuan bagi saya, seperti yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu, adalah makhluk terindah di bumi. Itu saja.

Maukah anda mendoakan mereka? Ah jawaban itu tentu saja milik anda.

Stay blessed!

(Manokwari, 130212; mengenang para perempuan kuat yang membentuk hidupku)

Always Women on His mind

Malam ini saat teduh malam terasa berbeda dibanding malam lainnya. Lebih tenang, lebih syahdu dan tentu saja selera musik yang berbeda. Jadi serasa gabung di paduan suara hehehe. Iya, pujian dan penyembahan malam ini pun terasa beda. Tak ada buku nyanyian, tak ada invasi mulut yang ada diminta menyanyikan Mazmur 25 dan kemudian dilanjutkan dengan Mazmur 27. Begitu tenang dan dalam. Apalagi memang aku ada sedikit masalah dengan ‘perasaan’ku beberapa jam sebelumnya. Jadinya, it’s so different. Tenang dan menghanyutkan. Menenangkan mungkin kata yang lebih tepat. Ya, sangat menenangkan hati yang resah.

Well, malam ini pokok doa yang Tuhan beri malam ini masih sama dengan malam kemarin, tentang perempuan muda. Bedanya, malam ini lebih pada pelepasan belenggu – belenggu yang mengikat mereka. Berdoa dengan pokok doa yang sama tetap cara penyampaian yang beda. Malam ini aku melihat bahwa Allah membuka tabir awan gelap di atas Manokwari dan Papua dan menyorotkan kuasanya ke bawah. Memberi terang. Malam ini saat berdoa, aku diberitahu oleh the Spirit kalau Yesus sedang bekerja malam ini menyentuh dengan kelembutan hati perempuan – perempuan muda di Papua, baik Papua maupun non-Papua. Yesus meminta mereka kembali pada-Nya. The Spirit bilang kalau Yesus menyanyangi para perempuan muda ini dan tak ingin mereka menyia – nyiakan hidup mereka. Ia menyatakan bahwa mereka berharga. Ia bekerja malam ini dengan kelembutan. Ia ingin mereka kembali dan merasakan kasih-Nya.

Usai berdoa, malam ini aku pun diajak untuk membuka Yeheskiel 20: 1 – 49 yang berkenaan dengan “Kehendak Allah dan Ketidaktaatan Manusia.” Membaca banyak hal. Akan kubahas di catatan lain.

Malam ini yang kutahu, Yesus memang spesialis penyembuh luka. I feel so much better untuk urusan perasaanku. Itu saja.

Segala kemuliaan, hormat dan pujian bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen

(Manokwari, 130212)

Monday, 13 February 2012

Seberapa jauh kita peduli?

Seberapa jauh kita boleh peduli dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan orang lain yang tidak kita kenal? Itu pertanyaan sedari kemarin sore yang terus saya tanyakan pada diri saya sendiri. Iya sejak kemarin sore. Hal ini membuat saya terus berpikir dan baru bisa tenang saat saya membaca Korintus 13 tentang Kasih. Tentu saja berdoa juga sangat membantu saya mengatasi emosi saya yang terasa ‘kacau’.

Pertanyaan saya ini tentu saja bermula dari pengalaman terpapar kekerasan rumah tangga secara langsung saat saya dan seorang sahabat mengunjungi teman di luar kota. Saat itu kami sedang berdiri di depan rumahnya. Tak dinyana, belum 5 menit berdiri, datanglah dua perempuan muda yang mungkin belum genap berusia 20 tahun di depan kios sebelah rumahnya. Saya dan sahabat mengenal kedua perempuan ini karena masing – masing kami masih berkerabat dengan mereka. Singkat cerita, tak lama berselang, datanglah lelaki muda berbaju hijau dan langsung bertanya kasar pada perempuan muda yang masih berkerabat dengan saya. Tak hanya itu, ia langsung menghajar, mencekik, memukul, mendorong dan pukulan bertubi – tubi serta aksi kekerasan lainnya pada perempuan muda itu di depan sebuah kios yang bersebelahan tepat dengan rumah teman saya. Siooooo, hati saya terasa miris. Saat saya melongok, saya malah dibentak. Orang – orang di sekitar tempat itu pun datang dan dibentak juga.

Well, Untunglah ada seorang laki – laki di situ yang menegur dan bilang, “kalo mo pukul maitua tuh di rumah sana. Jang pukul di tempat umum macam begini.” Si suami pemukul tak tinggal diam, ia pun pergi menantang orang yang menegurnya. Rupanya ada juga perempuan lain yang menegur suami pemukul ini dan makin marahlah si suami. Perhatiannya lengah pada istrinya yang berbadan kecil itu dan kami pun menyuruh istrinya kabur melarikan diri. Pokoknya lari segera. Singkat cerita, si istri kabur dan si suami kena bogem mentah dan tendangan dari sepasang suami isteri yang menegurnya tadi. Semua penonton puas walaupun tersisa miris untuk nasib si istri.

Saya tak tahu bagaimana pandangan anda tentang hal ini. SEBERAPA JAUH KITA BOLEH PEDULI KALA MELIHAT ORANG YANG TAK KITA KENAL DIANIAYA DI DEPAN MATA KITA? Saya tak tahu. Saat itu saya hanya menelpon saudara laki – laki saya dan meminta nomor telpon para kerabat lelaki saudara perempuan yang dianiaya ini tapi rupanya ia tak tahu. Saya hanya bisa berdoa untuk perempuan ini kala pulang. Saya tak bisa berbuat banyak saat itu untuk mengintervensi karena perempuan ini tak meminta tolong pada saya bahkan cenderung ‘malu’ pada saya. Saya mengenalnya sewaktu kecil karna memang pernah mengajarnya di Sekolah Minggu beberapa tahun silam. Jadinya saya hanya bisa menyuruhnya kabur saat suaminya lengah. Saya baru tahu kalau ia kabur ke rumah tantanya (adik bapaknya) di dekat rumah teman saya. Saat kerabatnya datang, saya hanya bertanya singkat, rupanya itu memang suaminya dan MAS KAWIN sudah LUNAS dibayar. Saya menjadi miris, inikah salah persepsi tentang konsep mas kawin sehingga melegalkan adanya kekerasan dalam rumah tangga bagi pasangan Papua khususnya pasangan muda Papua. Saya tak tahu tapi ada rasa miris di hati. Miris sekali!

Bagi saya, ada salah konsepsi tentang pemahaman mas kawin dan kekerasan. Sering disalahartikan bahwa ‘mas kawin’ adalah ‘pembeli’ perempuan dan kita jadi punya hak untuk ‘meng-apa-kan saja’ perempuan yang telah kita bayar mas kawinnya , termasuk memukul dan menganiayanya. Namun, saya percaya para leluhur kita membuat mekanisme mas kawin sebagai penghargaan atas pentingnya perempuan sebagai penyambung keturunan, sebagai ibu dari kehidupan. Dalam suku mama saya, sebuah suku pegunungan di pegunungan Arfak, mas kawin menjadi sebuah sarana reprositas dalam kaitannya keberlangsungan suku. Sebagai timbal balik pekerja. Bukan memandang perempuan sebagai ‘objek’ tetapi lebih dari itu penghargaan pada peran mereka.

Mama saya lahir dari keluarga besar. Dari keluarga poligami. Tete saya punya 12 istri dan saya keturunan dari istrinya yang ke 5. Tete saya mantan kepala suku besar. Walau kami dari keluarga besar, tetapi setiap istri punya rumah sendiri dan mempunyai bagian hak ulayat sendiri untuk anak – anaknya. Bahkan mama saya yang sejak bayi diserahkan untuk diadopsi oleh pasangan suami istri Maluku (Seram – Saparua) juga punya hal wilayah sendiri walau tak sebesar mereka yang tetap tinggal dalam komunitas suku. Tete saya mempunyai istri yang banyak dan tentu saja membayar mas kawin yang banyak karena istri –istrinya akan membantunya membuat kebun guna pasokan bahan makanan. Sebagai pemimpin suku, salah satu tugas tete saya adalah menjamin ketersediaan pangan bagi komunitas sukunya khususnya saat menjamu tamu – tamunya. Saya tak tahu seberapa banyak yang ia bayar untuk menikahi 12 perempuan ini karena mas kawin suku mama saya termasuk lumayan, bila melihat dari rinciannya. Ada kain Toba (harganya sekarang saja mencapai 30 Juta Rupiah), ada lagi kain Timor (tergantung permintaan kualitasnya), Kain cita (tergantung permintaan seberapa banyak bal yang diminta), belum lagi manik – manik, juga hewan seperti babi. Masa kini juga termasuk sejumlah uang. Semuanya tergantung pada siapa yang dinikahi.

Anyway, mas kawin saat itu diminta karena peran perempuan dalam menjamin ketersediaan makanan dalam keluarga maupun dalam suku. Itulah sebabnya mas kawin dibuat sebagai sarana reprositas dari pernikahan ini. Jadi, bila perempuan menikah dan masuk ke keluarga lain, maka otomatis akan berkurang satu pekerja dalam mempertahankan ketahanan pangan dalam keluarganya sendiri. Itulah sebabnya sistem mas kawin diadakan, agar pihak keluarga yang ditinggalkan bisa mencari pengganti ‘pekerja’ dalam keluarga mereka. Selain itu, dengan adanya mas kawin maka perempuan dihargai dan pernikahannya kelak mempererat hubungan keluarga yang menikah. Mas kawin menjadi simbol. Apalagi melihat bagaimana harga diri kedua keluarga ditentukan dalam prosesi pengantaran dan penerimaan mas kawin. Sebuah mekanisme mempertahankan ‘simbol identitas’, sebuah penghargaan pada kedua belah pihak plus sebagai sarana ‘pertemuan’ dua keluarga besar. Saya percaya bahwa MAS KAWIN BUKANLAH ‘SEBUAH LISENSI’ untuk memukul, menganiaya, ataupun menyakiti perempuan.

Kemarin sore, saya melihat bagaimana pernikahan di usia muda, ketidaksiapan mental dan juga paham bahwa ‘sa –su-beli-ko’ menjadi seumpama lingkaran setan yang mengikat perempuan muda di Papua yang terlanjur ‘menikah’ dan mengalami kekerasan. Para lelaki Papua di sekeliling perempuan muda itu sudah siap membantu andaikan saja perempuan muda itu minta tolong. Tapi ia hanya diam seribu bahasa walau sorot matanya bilang bahwa ia butuh pertolongan. Belum lagi suaminya yang terus menantang orang – orang di sekelilingnya dan bilang, “Ini sa pu urusan keluarga. Jang ikut campur.” Untunglah, seorang lelaki Papua lain, seorang mantri yang menegur dan beralihlah perhatian dari si suami pemukul ini. The rest is the history! Suaminya digebukin sampai tobat dan si istri kabur. Well, tapi tentu saja masalah ini tidak selesai karena saat pulang, pasti akan ada episode – episode lanjutan kekerasan.

Masih banyak perempuan muda di Papua yang saya lihat yang merasa bahwa mereka tak berharga, tak punya kuasa, tak berdaya kala menghadapi hal seperti ini. Padahal sudah ada pasal – pasal yang menjamin mereka khususnya terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), saya lupa pasal berapa tapi pernah beberapa kali saya tanyakan saat ‘mengurus masalah’ di Samapta Polres Manokwari. Cukup si korban membuat laporan dan bersedia memprosesnya. Ya tapi seperti biasa, ada banyak pertimbangan yang membuat si korban enggan melapor. Saya berdoa semoga suatu hari nanti mereka akan punya cukup keberanian untuk membela diri mereka sendiri. Tiap keputusan pasti punya konsekuensinya, bukan?

Saya bermimpi suatu hari nanti di Manokwari, akan ada beberapa rumah singgah untuk perempuan dan anak – anak yang dianiaya. Sejenis ‘Shelter’ atau ‘Safe House’. Setidaknya sebuah tempat berlindung sementara waktu dimana perempuan dan anak yang teraniaya bisa lari dan diamankan ke sana dan dicarikan solusi terbaik di sana. Satu hal yang pasti, rumah seperti ini wajib mempunyai sistem keamanan yang baik dan didukung oleh gereja/masjid lokal sebagai badan penasehat dan juga berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Selain itu, rumah singgah ini dilengkapi oleh fasilitas nginap dan dapur, pusat konseling dan juga perawat. Setidaknya bisa membantu para perempuan dan anak menyelamatkan diri untuk beberapa jam ataupun 1 – 2 hari hingga emosi yang meradang bisa reda sekejap. Entahlah, mungkin terasa sulit untuk tempat yang budaya patriarkinya sangat kuat tapi saya percaya suatu hari nanti, bila para perempuan saling bersatu, pasti akan ada perubahan. Saya percaya itu.

Saya hanya pemimpi tapi saya percaya bahwa bumi akan jadi tempat yang lebih baik bagi manusia. Mungkin langkah pertama yang bisa saya lakukan guna memprotes kekerasan pada perempuan adalah dengan bersuara lewat tulisan – tulisan saya, mendoakan hal ini dan tentu saja mengkampanyekan lewat berbagai hal yang saya bisa. Mungkin akan memesan kaos dengan kata – kata seperti “Stop pukul2 perem suda. Ko pikir dong karung pasir ka”. Sementara itu yang bisa saya tuliskan dulu.

Perempuan Papua, andai ko mengerti kalo ko berharga. Yang saya tahu, saya akan tetap bersuara untuk para perempuan ini karena saya tahu mereka sangat berharga. Mereka adalah para ibu kehidupan. Manusia terkuat yang saya tahu. Lakukan apapun yang kita bisa sesuai kapasitas kita untuk melawan ketidakadilan ini. Intinya, JANGAN TINGGAL DIAM dan menganggap ini hal ‘biasa’.

Saya peduli. Bagaimana dengan anda?

(Manokwari, 130212)

Enjoy small things

‘Enjoy small things’. Well, itu hampir mirip dengan pelajaran yang ada dalam film Zombie Land hehehe. Tapi hari ini saya ingin menulis tentang ungkapan ini. Tentu saja tentang menikmati hal – hal kecil di sekitar kita. Saya tak tahu bagaimana kita memandang hal – hal kecil ini tapi kadang hal – hal kecil inilah yang membuat kita bahagia atau setidaknya membuat kita bersyukur. Kalau di tangan dingin para penulis skenario Hollywood dan berhasil diramu sutradara hingga Director of Photography-nya, well, ini bisa jadi adegan romantis yang bisa bikin kita jatuh mati karena biasanya pake adegan yang melambat. CUT!

Anyway, catatan hari ini ya membahas tentang hal – hal kecil yang membuat kita bahagia. Saya pecinta hal – hal kecil yang membuat saya banyak tertawa, tersenyum dan kadang – kadang bisa bilang WOW hahaha. Well, ini hanyalah catatan lepas saya. Boleh ditertawakan, boleh juga tak dipercayai but this is the real me hehehe. Saya menyukai hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup saya karena itulah yang membuat saya bisa melakukan hal – hal besar. SMALL THINGS COMPOSE BIG THINGS =) ini hanya beberapa hal yang sering saya nikmati:

#1. Jalan kaki dan menatap ke atas melihat curah hujan yang turun saat petang atau malam hari di dekat lampu jalan berwarna kuning e.g. dekat persimpangan Makalo. Paling seksi kalau hujannya baru turun gerimis. Damn! Bagi saya itu SEKSI banget. Impian? Bisa motret momennya itu.

#2. Saat berenang di Pasir Putih sore hari di Pasir Putih saat pantai dalam keadaan bersih dan tenang terus saat lagi di dalam air, dengan air setinggi dada dan kita menatap batas cakrawala, dan tiba – tiba hujan mulai turun perlahan. Saya pernah beberapa kali mengalami hal itu dan bagi saya, tetes – tetes hujan yang turun pertama kali itu KEREN Banget. Inginnya seperti itu segera mencari ‘remote control’ dan membuat ‘adegan lambat’ HAHAHA.

#3. Saat lagi di kamar, pagi atau sore hari dan hujan turun dengan deras. Well, saya akan segera ke dapur, mencari cangkir kopi, memilih kopi yang temanya sesuai dengan hari ini, menyeduhnya dan membawanya ke kamar. Nongkrong di ambang jendela dan menatap ‘taman’ depan kamar =D

#4. Bangun pagi karena dibangunkan para keponakan kecil khususnya si Eu. Padahal para balita di rumah cuma mau memamerkan kapur ataupun pengalaman baru termasuk ‘reportase’ kakaknya Eu yang pulang sekolah. She’s a great investigator and a story teller. Hahaha.

#5. Membuka koleksi foto di komputer. Apalagi yang telah lewat beberapa tahun. Tertawa – tawa melihat penampakan yang masih ‘tak terurus’ HAHAHA.

#6. Mendapat produk kosmetik yang diidam – idamkan especially eyeline. Show time beybeh. Langsung pake bagaya di rumah =D

#7. Menikmati sunset sambil ngopi di pantai especially daerah pantai utara. Sioooooooooooooo, saya sedang berada dalam sekian detik ‘surga’ yang dipinjamkan ke Bumi.

#8. Saat saya bisa berdoa dan curhat segala macam ke Tuhan tanpa beban dan tanpa hambatan. Apa lagi yang kurang?

#9. Saat bisa mendapat pelukan sayang atau kecupan sayang dari para keponakan tanpa harus pakai acara ‘minta’ =D

#10. Saat hendak pergi dan para keponakan saya berteriak, “Mamay, mo kemana? Ikut ka?” dan mereka semua lari merubung saya, kadang sampai pake acara bertengkar dulu tentang siapa yang ikut. Tak ada yang bisa menggantikan perasaan bahwa ‘saya dicintai’ HAHAHA. Ini salah satu momen surga saya.

Well, saya punya banyak sekali hal – hal kecil yang membuat saya bahagia dan membuat saya jatuh cinta pada hidup saya, tapi tampaknya tak mungkin saya tuliskan semuanya. Satu yang pasti, jangan pernah lupa menikmati hal – hal kecil di sekitar kita karena hal – hal kecil itulah yang menyusun rangkaian panjang episode hidup kita. Enjoy life! Semangat!

Oooops ampir lupa, hal kecil lainnya yang saya nikmati adalah Menulis catatan seperti ini dan mengirimkannya pada anda. Anyway, Apa ‘hal kecilmu’ yang membuat anda bahagia?

Satu yang pasti, thanx for coloring my life, mates.

Stay blessed!
(Manokwari, 130212; 1: 24 a.m.)

V - Special for Young Women

Malam ini sekitar jam 8 malam, aku diminta berdoa peperangan jam 10 malam jadi harus siap – siap. Pembacaannya pun sudah diberi tahun di Mazmur 18, tapi baru boleh kubaca di akhir doa. Tak tahu itu tentang apa. Jadinya usai membalas pesan sejumlah teman, akhirnya jam 10 berdoa juga. Mana pake sistem dibajak segala, lagi asik menulis tapi langsung mulut su dibajak untuk nyanyi. Ada invasi mulut, sodara – sodara =D Yet, it is so much FUN. Tra menyesal hehehe. My God is so much fun.

Intinya, malam ini doa peperangan tingkat tinggi. Inti doa hari ini adalah doa peperangan dengan roh – roh yang mengikat para perempuan muda dan perempuan pada umumnya sehingga mereka tak menjadi berkat, ataupun yang membuat mereka tak bahagia. Malam ini aku melihat bagaimana dalam hatiku Tuhan bilang kalau malam ini Ia mengirimkan apinya untuk membebaskan dan membakar hati banyak orang. Malam ini Ia bilang ia mengirimkan banyak malaikat perang untuk berperang dengan roh – roh yang menawan orang – orang. Plus ia bilang ia akan menggoncangkan bumi dengan kuasanya. Well, tentu saja ada banyak hal yang kulihat malam ini, ini hal – hal yang ditaruh dalam hatiku (dan lihat juga tapi dalam versi hitam putih hehehe):
 Berdoa untuk para perempuan muda yang lagi sakit;
 Berdoa untuk para perempuan muda yang dianiaya dan dipukul ataupun mendapat kekerasan fisik;
 Berdoa untuk para perempuan yang merasa tak berharga, kesepian dan ditinggalkan atau dicampakkan oleh orang yang mereka sayangi;
 Berdoa untuk para perempuan muda yang orang terkasihnya sedang sakit khususnya anak mereka;
 Berdoa untuk para perempuan muda yang malam ini sedang memutuskan aborsi ataupun sedang melakukannya.

Yang aku tahu, malam ini berulang kali bulu kudukku meremang, berulang kali aku merasa kegelapan sedang berusaha menutupiku, tapi aku melihat bagaimana nama dan darah Yesus yang diserukan benar – benar merobek alam Roh. Jadi saat berdoa tadi, aku melihat gelap dan terang di depan mataku. Maksudku, saat menutup mata, tiba – tiba rasanya ada terang yang menyorot mata, tapi tak lama ada juga gelap yang membuat mataku terasa berat dan tertutup dan suaraku turun naik, bahkan saat mengusir itu. Tapi, yang aku tahu, aku sudah bisa mengelola hal ini dan tak terlalu ‘bagaimana’. Tak seperti kemarin – kemarin pada awalnya. Malam ini terasa WOW, God is on fire malam ini. Itu yang aku tahu. Seperti biasa, aku tiba – tiba menyerukan berulang kali bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja di Manokwari dansemua roh dan kuasa apapun tunduk di bawah kuasa Yesus. Itu saja.

Bahkan di akhir saat teduh, untuk menguatkanku ternyata Tuhan baik banget dengan memberikan pembacaan Mazmur 18: 1- 50. Lihat banyaknya ayat di akhir doa rasanya kayak “Well, OK. Sa baca hehehe”. Ternyata isinya benar – benar menguatkan sekali. Energi habis berdoa terasa terisi apalagi beberapa ayat di pasal ini ternyata mirip dengan apa yang nyanyian yang Tuhan beri di mulutku tadi. Cuma satu kalimat malam ini: My God is so much Awesome!!!

Segala hormat, kemuliaan dan kuasa hanya bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen

(Manokwari, 11.30 p.m/120212)

No Idol - Hosea 8

Siang tadi dalam saat teduhku, aku diminta membaca dalam Hosea 8: 1 – 14 yang isinya adalah tentang Tuhan mengecam Israel atas penyembahan Berhala.

Well, ini catatan pengajaranku mungkin yang kutuliskan. Saat berdoa tadi, aku diajar bahwa pasal ini berbicara tentang Papua (catatan in terkait dengan catatanku yang berjudul “Let’s dance n Fight”). Ada beberapa hal yang kudapatkan tadi saat berdoa dari pembacaan ini dan relevansinya dengan Papua. Ini ringkasannya:

#1. Jangan ingkar janji pada Tuhan (Hos 8: 1 – 3)
Dalam kisah ini, Tuhan menegur orang Israel yang ingkar janji padanya. Jadi tak sekedar ingkar janji tapi juga menentang pengajarannya. Bahkan dikatakan pula, dalam versi Alkitab Good News yang saya baca begini: “Even though they call me their God and claim that they are my people and that they know me, they have rejected what is good. Because of this their enemies will pursue them” (Walau mereka menyebutku sebagai Tuhan mereka dan mengaku bahwa mereka adalah umat-Ku dan mengenalKu tapi MEREKA MENOLAK APA YANG BAIK. Oleh karena itu, musuh – musuh mereka akan mengejar mereka.)

Well, bagaimana dengan kita para orang Kristen di Papua sendiri? Bagaimana kehidupan kita sebagai orang Kristen? Saya percaya bahwa kita bisa melihat kembali dalam hidup kita sendiri, bukan? Saya tak ingin menghakimi siapapun tapi ada beberapa kasus yang terjadi di sekitar saya dan bagi saya, bisa jadi contoh kasus dari telaah 3 ayat ini.

Alkisah, ada seorang petinggi gereja di gereja lokal saya. Keluarga ini terkenal aktif di gereja lokal. Well, hingga satu hari, katanya si kepala keluarga yang juga memegang jabatan yang lumayan di sebuah kantor pemerintah sakit keras. Ia mengaku ada yang mencoba ‘men-doti’nya. Keluarganya membawanya ke rumah sakit dan segala macam pemeriksaan, dikatakan tak ada sakit medis apapun. Walaupun istrinya juga punya jabatan di organisasi gereja khususnya untuk kaum ibu, tapi toh ia menyetujui juga dengan rencana suaminya. Guess what? Jalan keluar instan yang dipilih adalah bukan berdoa dan meminta Tuhan menyembuhkan suaminya yang mungkin prosesnya sedikit lama. NAMUN, mereka memanggil ORANG PINTAR yang konon menyembuhkan penyakitnya dalam waktu cepat. Saya tak tahu apa yang dipikirkan keluarga ini. TAPI, saya percaya bahwa bila kita mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita maka seharusnya kita lebih peka dalam hal yang berkaitan dengan ‘orang pintar’ dan lain – lain. Pertanyaannya, apakah orang pintar ini menyembuhkan dengan kuasa Yesus ataukah dengan kuasa lain? Jawabannya hanya anda yang tahu. Karena segala hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, bukan?

Yang pasti, jangan pernah ingkar janji dengan janji Iman Rasuli kita. Tak ada kuasa lain yang berkuasa selain kuasa Yesus. That’s it.

#2. Jangan Menyembah Buatan Manusia sebagai “Tuhan” (Hos 8: 4 – 7)
Saat berbicara tentang Papua, bukankah sekarang kita di Papua cenderung lupa bahwa segala hal yang kita cari sebenarnya hanyalah BUATAN MANUSIA dan lupa apa yang terpenting dalam hidup; berbagi kasih. Limpahan dana OTSUS yang mengalir lancar pun menjelma bukan menjadi hal – hal yang berbuah kasih dan kebaikan yang luas bagi sesama tapi ada oknum – oknum beragama Kristen yang malah menabung kekayaan semu dan menjadikan UANG sebagai Tuhan mereka.

Anyway, kalau saya mau jujur, pernah tidak kita melihat bahwa segala hal yang kita banggakan saat ini umumnya hanyalah pada dasarnya berbahan TANAH, bukan? Manusialah yang memberi nilai pada segala yang mereka pakai dan lihat. Ada banyak orang yang mencari uang sebanyak mungkin dengan berbagai cara termasuk dari yang bukan hasil keringat mereka demi mengejar kekayaan dan simbol kekayaan mereka, misalnya UANG, RUMAH, MOBIL dan segala macam. Padahal, uang yang diagungkan itu hanyalah lembaran kertas yang berasal dari bubur kayu dan buntut- buntutnya adalah produk dari pohon dan bila terurai pun menjadi tanah . Rumah yang dindingnya megah tetaplah berbahan dasar tanah, air dan campuran semen (semen juga bahan dasarnya ditambang). Bahkan mobil pun perangkatnya tetap diambil dari dalam tanah. Lalu, apa yang perlu kita banggakan? Ya, semuanya demi prestise dan hanya demi diterima dalam kalangan masyarakat.

Padahal, yang perlu kita sembah adalah Dia yang HIDUP. Yang bisa mengendalikan hidup dan nafas kita, yang bisa mengendalikan bumi ini, yang mengontrol apapun dalam hidup kita, yang bisa mengontrol alam. Apakah UANG, HARTA, KEKUASAAN dan segala hal itu dapat menyelamatkan nyawa kita barang sekejap saja, menambah cadangan hidup kita? Saya tak percaya itu. Saya banyak menyaksikan dengan mata saya sendiri bagaimana kekayaan yang banyak pun tak sanggup untuk memberi kita kesehatan, rasa aman, bahagia dan segala hal ‘penting’ demi kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Pengalaman tinggal di luar negeri membuat saya melihat bahwa semua hal yang kita agung – agungkan kita itupun tak sanggup mengisi KEKOSONGAN yang hanya bisa diisi oleh YESUS. Itu saja.

Jadi, pilihannya ada di tangan kita. Apakah kita mau memberikan 24 jam dari hidup kita tiap hari untuk ‘menyembah’ sesuatu yang bukan TUHAN yang HIDUP? Bukankah yang dimaksud IDOL atau berhala tak selalu patung dewa – dewi tetapi APAPUN YANG MENAHAN KITA UNTUK TAK DATANG DAN MENYEMBAH BAPA, YESUS DAN ROH KUDUS. Itu saja. Bahkan Facebook, Tweeter, olahraga dan segala macam hal yang membuat kita tak punya waktu juga bisa menjadi berhala dalam kita tanpa kita sadari. Padahal, Tuhan tidak tuntut banyak waktu kan untuk dekat dengan Dia? Jangan sampai kita kehilangan banyak waktu berharga kita demi hal yang semu. Itu saja.

#3. Penyembahan ‘Berhala’ pasti mendatangkan hukuman (Hos 8: 3, 7, 10, 13, 14)
Semua hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Jadi, selama yang kita lakukan jauh dari TUHAN, berarti siap – siap saja ada ekses negatif yang akan terjadi dalam hidup kita. Saya pikir saya tak perlu menuliskan apa saja yang akan terjadi too. Misalnya saja, jadikan Minuman Keras sebagai berhala pastilah dampaknya sudah bisa ditebak; dari masalah kesehatan, rusaknya hubungan dengan sesama dan orang terkasih hingga kehilangan nyawa.

So, kesimpulannya sudah jelas, PILIH TUHAN ATAU BERHALA? Itu saja.

(Manokwari, 120212)

V3 - Let's dance and fight

Hari ini aku bangun kesiangan, hampir jam 12 siang. Semalam memang aku tidur agak larut karena ngopi 2 gelas besar, plus energiku terkuras abis karena yang ‘kulihat’ dan juga karena saat menuliskan yang ‘kulihat’ itu aku sempat merasa ada kehadiran yang ‘lain’ di kamarku dan harus kutengking lama dengan nama Yesus dan memproteksi kamar dan rumahku dulu baru semuanya terasa ‘normal’. Apalagi sempat bulu kudukku meremang.

Anyway, saat bangun The Spirit bilang, “ayo bergegas bangun May, ko harus berdoa dulu. Cepat May.” Tapi karena bangun kumpul nyawa dan baru bilang “Thanx Jesus” dan melakukan ritual bangun pagi: ke kamar mandi, cari makanan, dan minum air putih. Tapi the Spirit tak bisa tahan melihat kelambatanku jadinya terus memaksa, “Ayo May, cepat. Cepat berdoa. Ko harus doa peperangan siang ini. Harus. Ko akan menari juga. Habis itu nan baca Hosea 8 eee. Tempo. Cepat. Segera suda.” Aku memilih mencari madu untuk mengisi energiku dulu sehabis bangun. Instan sih masalahnya. Aduuuh the Spirit tak bisa tahan juga. Ia memaksaku dengan cepat. “Cepat berdoa. Cepat”

Terburu – buru masuk kamar, energi masih sangat low dan aku masih kurang bersemangat. Iyalah masih kumpul nyawa. Jadi kuambil buku Nyanyian Rohani dan menyanyi. As usual raba nada sendiri. Karena aku masih tak bersemangat dan sedikit ogah – ogahan, the Spirit bilang, “May, angkat tangan dua – dua dan ikuti sa pu kata – kata.” Guess what? Iya, aku akhirnya ngomong begini menirukan kata – kata yang diucapkan dihatiku, ”Yesus, beri sa sukacita jadi sa bisa memuji Ko dengan layak.” Thanx God, semangat itu tiba – tiba datang, awalnya perlahan saja aku menyanyi. Tapi rupanya benar. Semangat itu balik. Walau jujur tadi sempat merasa ada yang mencoba ‘mengalihkan perhatianku’. Jadinya the Spirit memintaku fokus memandang ke depan, ke meja kerjaku agar pikiranku tak terusik. Berhasil juga sih. Bahkan di sela – sela itu, aku diminta mengusir roh pengganggu pikiran itu dengan nama Yesus.

Hari ini Yesus mau aku menari. Iya, menari dalam arti sesungguhnya. Untung tadi aku dalam kamar, tak tahu apa reaksi orang kalau melihatku dalam keadaan tadi. Awalnya aku hanya menyanyi dan menari gerakan perlahan, dari ke kiri ke kanan, hingga lompat. Aku diberi tahu kalau siang ini Tuhan menurunkan roh-nya untuk membebaskan belenggu – belenggu yang mengikat Manokwari dan Papua. Seperti itulah. Saat asyik – asyiknya seperti itu, tiba – tiba musiknya berubah dan hanya menjadi senandung nada dengan irama yang seperti berulang dan nada berbeda dan mulutku hanya keluar kata – kata berulang kali, “Yesus, kau raja dan Tuhan atas Manokwari. Yesus raja dan Tuhan atas Papua”. Gerakannya pun berubah. Aku seperti melakukan gerakan penyembahan seperti gaya bungkuknya orang Jepang, dan cepat sekali. Seperti ada tetabuhan drum di sekelilingku yang membuat tubuhku seperti trance bergerak mengikuti irama drum. Bergerak liar tapi dinamis, menari seperti menyembah dan mulutku tak berhenti – henti juga menyerukan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja. Bahkan tiap kali aku menyebut Yesus raja atas Papua atau Manokwari, maka aku dalam posisi berdiri setengah busur menyembah dan menyentuh lantai. Yang pasti, aku tak bisa mengontrol tubuhku. ‘Invasi tubuh’ tepatnya. Seperti diajak ‘senam’ HAHAHA Anyway, it is so much FUN!!! *bisa shed kilo banyak nih =D

Well, kemudian masuk dalam tahap penyembahan yang ‘tenang’, seperti biasa, pilihan senandung dan kata – katanya seperti dari Afrika atau Papua, sangat menenangkan. Merasa lepas walau apa yang kulihat dalam penyembahan itu benar – benar bikin copot jantung dan the Spirit menjelaskan apa yang kulihat. Pantasan saja dibilang ada doa peperangan. Apa yang kulihat, kutuliskan berikut ini:

Seperti aku sedang berada di tengah hutan Papua, di pinggir jalan setapak ataupun hutan yang kerapatan pohonnya tidak terlalu rapat, yang kulihat pertama adalah seorang bocah kulit gelap, mungkin berusia SD atau SMP. Dengan mata nyalang menatapku. Ia seperti sedang memakan sesuatu. Di belakangnya ada beberapa lelaki dewasa berkulit gelap juga. Di depan bawah kaki mereka, tampaknya samar – samar ada sesuatu. The Spirit told me kalau ada manusia yang mereka bunuh. Mereka sedang praktek ‘ilmu hitam’. Aku diminta melihat anak lelaki ini dengan seksama. Rambutnya panjang tak terurus. Tapi yang menjadi perhatianku adalah matanya yang nyalang, sangat menakutkan. Macam mata tatap orang deng ‘tarabe’ ka. Aku langsung diajarkan bahwa anak ini dan orang – orang ini adalah target doaku hari ini. Well, inti doanya simpel saja, “mereka bertobat atau hukuman Allah turun atas mereka.” Selama mereka mau bertobat, maka Allah akan melupakan apa yang telah mereka lakukan, dan ada pemulihan bagi mereka khususnya anak kecil tadi. Tapi, bila mereka masih melakukan kejahatan seperti ini; bersekutu dengan yang Jahat dan membunuh serta mempraktekan ilmu gaib mereka, maka tak akan ada pengampunan. Tak akan ada dan tak memandang tua muda bagi mereka.

Bagian terakhir dari saat teduhku adalah membaca firman Tuhan. Tadi rasanya aku mau loncat jauh dari tempat tidur. Yang dibaca adalah Hosea 8: 1 – 14. Guess what isinya apa? Tentang penyembahan berhala. Alamak, jadi sekarang ini pembacaan disesuaikan dengan jenis doa dan penyembahannya ya? I see. Anyway, saat ini tak ada beban lagi. Yang penting, laksanakan saja toooo. Mo bagaimana lagi, it’s my calling. Yet, I feel so much fine after praying. Tak ada beban lagi.

Kiranya semua kemuliaan, hormat, pujian menjadi milik Bapa, Yesus dan Roh Kudus . Amen.

(Manokwari, 120212)

Hagai, Papua dan Janji Berkat

Hari ini aku kembali lagi digiring untuk membaca kitab Hagai dan ini terkait dengan Papua. Sangat terkait. Jadinya, karena pembacaan ini pernah kudapatkan juga bulan Mei 2011, aku kembali menyalin catatanku saja hehehe.

Bedanya pada hari ini, Tuhan lebih menekankan hal ini:

# Tuhan memberikan jaminan bahwa Ia akan selalu bersama kita dalam pembangunan ulang Bait Allah ini (Hag 1: 13; 2: 4 – 5)

Aku suka kalimat ini dalam Alkitab Good Newsku:
“I will be with you – that is my promise.”

Meskipun demikian, tak ada salahnya kan, saya membagi catatan saya tahun lalu. Ini catatannya:

Saat merenung Firman dalam keseluruhan kitab Hagai ini, aku diajar bahwa jangan melihat perintah ini saat ini sebagai membangun “Bait Allah” yang secara fisik. Bukan untuk membangun gedung gereja dengan indah, bukan untuk membangun ulang bait Allah di Yerusalem, bukan untuk membangun sesuatu yang fisik. Karena Alkitab yang kupakai adalah versi terjemahan Good News Bible, kata – kata yang dipakai adalah “rebuild the temple” alias MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH. Aku diajar bahwa yang dimaksudkan Firman ini adalah BAIT ALLAH yang ada di dalam diri kita, alias TUBUH KITA. Jadi membangun ulang Bait Allah yang dimaksudkan dalam kitab ini adalah MEMAKAI TUBUH KITA SEBAGAI BAIT ALLAH YANG HIDUP, jadi kalau selama ini Roh Kudus tinggal di dalam tubuh yang ‘tidak sehat’ secara rohani, ya segeralah mentransformasi diri untuk menyiapkan tubuh yang sehat secara rohani dan jasmani untuk berdiamnya Roh Kudus.

Aku diajar bahwa kalau kita memakai tubuh kita sebagai alat melakukan percabulan, untuk sebagai alat mendapatkan kepuasan duniawi, untuk dipakai sebagai saluran minuman keras, terowongan asap rokok dan ganja, sebagai alat untuk menunjukan kesombongan kita dan nafsu – nafsu kedagingan kita maka tubuh kita ibarat puing – puing Bait Allah yang masih runtuh dan Roh Kudus sedih melihat hal itu karna ia sesak napas tinggal di dalam rumah seperti ini. Jadi ia menginginkan adanya ‘pembangunan ulang Bait Allah’ bagi diri-Nya, agar dapat menjadi Home Sweet Home bagi-Nya. Caranya? BERBALIK PADA YESUS, MENGAKUI DOSA DAN BERHENTI MELAKUKAN DOSA YANG TAK DIINGINKAN TUHAN. Caranya? Periksa manual hidup dalam Alkitab!!!

Dalam kitab Hagai ini, aku juga diajarkan bahwa selain perintah, ada juga janji yang Tuhan berikan, bahkan aku juga mendapatkan banyak hal, jadi aku mencoba untuk memaparkannya dalam catatan ini. Anyway, catatan ini bukan untuk menunjukan bahwa aku paham tentang Firman lebih baik dari orang lain. Tidak sama sekali!!! Aku hanya ingin membagikan apa yang diperintahkan padaku untuk membaginya dalam catatan dan mempergunakan talenta menulisku guna kepentingan Tuhan. Jadi jangan berpikir bahwa aku memakai kecerdasanku untuk mengajar sesuatu yang rohani dalam catatan ini. Karna siapa sih Maya? Bukan siapa – siapa. Please, jangan menganggap tulisan ini dibuat karna aku ingin membuatnya. Aku sekarang merasa aku ibarat menjadi ‘Baruk’ bagi Yeremia, menjadi ‘tukang tulisnya Tuhan’ dalam skala kecil yang hanya bisa membagikan lewat cara yang aku bisa. Btw, yang kudapatkan antara lain:

#1. Tuhan akan menginspirasi atau menggerakan semua orang dalam membangun Bait Allahnya (Hag 1: 14)

Allah tidak mau bekerja sendiri, ia mau kita sebagai manusia paham bahwa Ia memerlukan kerjasama walaupun Ia sangat berkuasa melakukan sesuatu sendiri. Ia ingin melihat niat kita bekerja untuk-Nya. Ia tak hanya menginginkan pemimpin politik juga pemimpin agama tetapi juga semua orang terlibat. Dan ia akan berbicara pada mereka lewat perantaraan Roh Kudus. Pertanyaannya? Sudahkah kita mendengar dan MAU melakukan perintah-Nya?

#2. Bila hasil yang diinginkan tak sebaik yang kita harapkan atau mengalami kendala, jangan pernah patah semangat, lakukan saja pekerjaan yang diperintahkan karena Allah selalu bersama – sama kita (Hag 2: 4)

Kadang saat ingin membangun ulang ‘bait Allah’ sejati yaitu tubuh kita demi kemuliaan Tuhan, akan ada tantangan dan kendala. “Jih de kan tukang mabuk, yang benar saja kalo de bertobat?”, “Jih de kan dulu suka jalan bagatal, tuh betul sadar ka cuma karna takena sedikit jadi?” ... mungkin akan ada perkataan – perkataan seperti ini yang ditujukan buat diri saudara. Tapi Tuhan bilang, jangan berhenti bekerja, tetapi tetap bekerja membangun ulang ‘Bait Allah’. Karena apapun yang terjadi Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Perintahnya kan cuma satu, “tetap bekerja membangun ulang Bait Allah”!!!

#3. Apapun yang terjadi, Tuhan tetap bersama – sama kita (Hag 2: 5)

Aku suka terjemahan dalam versi Good News Bible yang bilang begini:

“I promised that I would always be with you. I am still with you, so do not be afraid.”

Yang kalau kuterjemahkan jadinya seperti: “Aku berjanji bahwa Aku akan selalu bersama engkau. Aku tetap denganmu, jadi jangan khawatir,”

Jadi dalam usaha membangun ulang diri anda sebagai bait Allah, jangan pernah khawatir melakukan pekerjaan ini karna Allah berjanji akan selalu berada bersama kita.

#4. Bait Allah yang baru akan lebih baik dari yang lama dan Allah akan memberikan kemakmuran dan kedamaian (Hag 2: 9)

Kalau kita baca ayat ini hingga selanjutnya, Allah menjanjikan sebuah kemakmuran dan kedamaian kala kita selesai membangun bait Allah. Dalam konteks hidup kita, bila tubuh kita kita pakai demi kepentingan Tuhan. Jadi bukan hanya untuk pelayanan kekristenan, karna konteks itu terlalu sempit. Tetapi bagaimana kita memakai segala yang ada dalam kita dengan tubuh yang dipersembahkan sebagai rumah Tuhan, dan melakukan semua pekerjaan yang ditujukan buat kepentingan Tuhan; intinya yang mendatangkan kebaikan bagi sesama, yang memaksimalkan bakat yang Tuhan berikan untuk kemuliaan nama Tuhan, maka akan ada berkat – berkat yang mengalir yang lebih baik dalam hidup kita.

Jadi, meskipun saat kita membangun ulang bait Allah dalam diri kita kemudian saat itu kita tidak punya apa – apa yang tersisa, misalnya ditinggalkan keluarga kita, teman – teman pergaulan kita dan banyak hal yang tak tersisa, tetapi Tuhan bilang (Hag 2: 19) kalau dari keadaan itu hingga ke depannya, Ia akan memberkati saudara.

PERTANYAANNYA sekarang adalah “MAUKAH KITA MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH DALAM DIRI KITA dan memaksimalkan segala yang ada diri kita untuk kepentingan Tuhan?

Bukan hanya untuk menjadi pelayan Tuhan dalam lingkup gereja dan yayasan Kristen TETAPI juga dalam kehidupan pekerjaan saudara sehari – hari. Dalam apapun yang saudara dapat lakukan demi kebaikan sesama dan Tuhan!

Aku percaya, jawabannya ada di tangan saudara.

Segala kemuliaan bagi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Amen!!!

Stay blessed!

(Manokwari, 110212; direvisi dari tulisan tanggal 4 Mei 2011)

V2- Perempuan dan Senandung

WRAP-UP

CASE 4

Date : 11 Februari 2012
Time : 09.30 PM something
Venue : Kamar tidur


Saat lagi menunggu SMSan dari seorang teman di Jayapura, the Spirit memintaku untuk bersaat teduh sebelum tidur. Aku diminta untuk membaca Alkitab di semua pasal kitab Hagai (untung cuma 2 pasal hehehe). Sebelum itu, aku diminta untuk memuji Tuhan dulu. Karena menyanyi dengan lagu rohani kontemporer bukan spesialisasiku (berhubung kemampuan menyanyi yang terbatas) jadinya aku memilih menyanyi dengan menggunakan Nyanyian Rohani. Biasa, kalau dapat lagu yang aku tak paham nadanya, maka biasanya kayak dikasi ‘karaoke’ sama Tuhan alias kata – katanya kupinjam dari nyanyian itu dan nadanya nanti Tuhan yang berikan di mulutku. Jadinya ya bagian ikut saja. Pilihan Tuhan malam ini sedikit soul dan jazz. Namun, kala satu nyanyian utuh beberapa ayat di buku telah selesai. It’s SHOW time. Ternyata, roh-ku memilih genre-nya sendiri. Really a show time!


It’s so amazing. Mungkin karena sudah lama sekali tidak seperti ini karena ya begitulah, ogah saja menerima ‘this sort of gift’. Resistensi tingkat tinggi sampai tanggal 7 kemarin =D


Anyway, yang pasti, pujian mengalir macam aliran kali yang deras. Aku dalam keadaan sadar, masih dengar yang terjadi di luar kamar, HANYA tak bisa mengendalikan apa yang kunyanyikan, tubuhku ataupun gerakan tubuh. Apalagi bahasanya. It’s so amazing. Mengalir sekali. Rasanya benar – benar kayak ada beban yang hilang, tak ada kekhawatiran sama sekali. Kayak trance tapi dalam keadaan sadar. Aku tadi mendengar seperti menyanyi dengan bahasa – bahasa di Papua, nadanya bukan khas Eropa seperti yang dinyanyikan di gereja. Well, kata – katanya dan iramanya seperti musik – musik etnik. Seperti senandung. Pertama kudengar mirip suku Arfak punya tapi kemudian berubah, I don’t know dari daerah mana, entah Papua atau Afrika tapi bukan Melayu. Ketukannya beda. Hanya bisa bilang WOW!!! God is so awesome.


Saat pujian itu, tiba – tiba aku mulai berbahasa yang tak kutahu, tapi tidak seperti bahasa Roh yang pernah kudengar di KKR ataupun acara komsel. Kayak suatu ‘bahasa’ atau ‘nyanyian’ tapi sambil seperti itu, dari dalam hatiku seperti ada suara yang menjelaskan padaku arti dari kata – kata senandungku itu, al:
• Tuhan sedang mencurahkan Roh-nya malam ini, melepaskan rohNya yang akan membebaskan belenggu – belenggu yang mengikat orang – orang;
• Manokwari dan Tanah Papua milik Yesus dan Yesus adalah Tuhan dan Raja atas Manokwari dan Tanah Papua;
• Ada kelepasan karena Tuhan bekerja malam ini;
• Ada berkat – berkat rohani yang dicurahkan malam ini atas Papua;


Saat aku sedang mengalir seperti itu, tapi aku tetap sadar atas sekelilingku, tiba – tiba the Spirit told me like this: “Aku ingin kau melihat hatiku atas Papua”. Jangan tanya lagi, tiba – tiba suasana mengalir penuh sukacita itu berubah drastis, total berubah. Dari lagu ceria penuh sukacita berubah menjadi lagu ratapan tapi semuanya dalam nada dan bahasa yang tak kutahu, tapi vibrasinya sangat ‘unik’. Macam tak percaya aku bisa menyenandungkan musik seperti itu. Harusnya kurekam tadi kalau ada alat perekam. Ingin mendengarnya lagi, benar – benar cantik.


Anyway, saat diminta melihat hatinya Tuhan tentang Papua, tiba – tiba kok rasanya aku diliputi kesedihan tingkat tinggi, lebih parah daripada sewaktu dulu aku mendapat berita kematian anjingku, kematian keponakanku, ataupun berita ditinggal nikah Lelaki Hujan, sedih yang kurasakan ini memang benar – benar sedih hancur hati panggal – panggal. Aku menangis Bombay sekonyong – konyong. Tak bisa mengerem emosiku. Benar – benar sedih sekali. Tak tahu bagaimana menggambarkan rasa seperti ini.


Saat hatiku remuk seperti itu, sambil menangis kencang dan masih tetap dibimbing mengikuti nada ratapan yang mengiris hati itu, aku pun kembali ‘melihat’. Entahlah, bagaimana kau menyebutnya. Ini ringkasannya:


Aku seperti di bawah ke sebuah padang atau daerah clearing di hutan atau bukaan di hutan dimana ada padang rumput, langit luas tanpa halangan. Tepatnya open-space. Ada jalan setapak panjang yang dipinggir – pinggirnya rumput – rumput seperti di lapangan tempat angon kambing. Hutan berada di kejauhan. Saat itu seperti sore hari. Aku seperti berada di tempat yang lebih tinggi dan melihatnya. Saat itu, aku seperti berdiri di dekat seorang perempuan kulit gelap, seperti orang Papua atau Afrika. Tapi kulitnya tak terlalu gelap. Mungkin sepeti kulit a la orang Melanesia. Ia berpakaian terang, entah putih atau krem. Bajunya sudah robek – robek. Di belakang atau dekatnya ada balita kecil yang juga berjalan dengan tampang sedih dan seperti menderita. Di depan mereka ada barisan panjang para perempuan. Entahlah, sepertinya mereka mengungsi ataukah mencari tempat yang aman dan menjauh.


Yang membuat hatiku sedih adalah karena suara di dalam hatiku bilang ‘coba dengar’ dan lihat perempuan yang terdekat itu. Amati dia. Dalam keadaan hati hancur, kulihat perempuan itu sampai tersuruk – suruk di tanah dan berseru meneriakan nama Yesus meminta pertolongan. Ia, menengadah ke langit dan meminta Yesus menolong mereka. Ia dan orang – orang itu kurasakan sedang berseru meminta Yesus. Mereka mencari Yesus dan sangat putus asa. Itu yang kurasakan dan kulihat. Emosiku larut dengan apa yang kulihat dan tampaknya Tuhan mengijinkan aku melihat dan merasakan apa yang dirasakan perempuan itu, betapa mereka benar – benar membutuhkan Tuhan. Aku larut dan membuatku hanya bisa menangis sesenggukan. Aku tahu hati Tuhan merasakan hal yang sama. Aku menangis cukup lama. Usai itu, semuanya hilang dan senandungku hilang. Energi benar – benar terkuras.


Usai melihat itu, aku langsung diminta berdoa segera , tak bisa ditunda walau untuk baca Firman, harus segera. Aku diminta mendoakan agar perempuan dan anak ini serta rombongannya kiranya dilawat Tuhan dan Tuhan menolong mereka. Memastikan bahwa mereka baik – baik saja. Itu saja doaku.


Seperti biasa, saatnya diajar tentang bagian Firman dan tepatnya di dalam kitab Hagai. Saatnya menulis catatan pengajaran yang lain =)


See you in another note.


Segala hormat, kemuliaan dan pujian bagi Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus. Amen’


(Manokwari, 110212)

Saturday, 11 February 2012

Renungan Hujan

Manokwari sedang mendung dari pagi. Hari ini hari kesekian langit Manokwari berwarna kelabu. Beberapa jam lalu, sehabis saat teduh, sehabis makan siang, aku memilih bermalas – malasan di kamar dan menikmati hari dengan mendengar beberapa lagu reggae sambil tentu saja menyesap kopi hitam. Hari ini secangkir sedang kopi Arab made in Lebanon asli (biji kopinya dari Brazil) oleh – oleh Umroh seorang senior di kantor. Tiba – tiba, as usual, seperti biasa, deep down in my heart, ada yang ngomong begini, “May, lihat ke luar sana. Sedikit lagi hujan eee. Bukankah hidup itu seperti hari hujan kadang – kadang bukan?”. Well, aku mendapat pencerahan baru hari ini tentang perspektif hujan dan hidup dan membuatku mengirimkan pesan ini kepada beberapa teman, mungkin kedengarannya aku sedang melankolis padahal saat ini aku lagi berada dalam keadaan diri paling stabil dan tenang, jadinya kalau tenang ya seperti ini, selalu saja ada pelajaran dari apapun yang kudapat. Ini SMSku:

“Hari ini mendung, tampaknya mau turun hujan. Anyway, it makes me think of u. You are wonderful. Apapun yang buruk dan terjadi dalam hidup ibarat hari hujan. Tapi selalu hujan akan reda. Kalo beruntung, teh dan kopi panas akan sangat menyenangkan, apalagi bila adanya pelangi. Enjoy life! Smangat =)”

Bagi orang Manokwari, kadang hujan deras beberapa hari ini memang menjengkelkan. Mau kemana – mana dengan motor rasanya kok ribet banget ya? Jalan banjir, belum lagi celana jins yang mudah kotor. Sepatu pun kadang dikorbankan menerobos jalan berlumpur. Selalu saja ada yang tidak menyenangkan, kotor dan basah. Belum lagi bila harus berhadapan dengan comberan. Rasanya kok tidak menyenangkan ya hari hujan. Aku juga beberapa hari lalu sempat berpikiran begitu, khususnya waktu mau pergi nonton konser reggae. Well, walau nama alias-ku mengandung unsur hujan, tapi aku juga masih manusia HEHEHE. Tapi hari ini aku mendapat pelajaran berharga tentang hujan. Sebuah pencerahan hujan. Well, thanx untuk DIA yang sudah mau mengajarku beberapa jam lalu, it means a lot me. Thanx Jesus.

Aku diajar untuk melihat bahwa hal – hal buruk ataupun yang di luar rencana kita atau apapun yang menyesakkan dada, masalah ataupun benturan – benturan emosi yang menciderakan kita ibarat hujan. Ada yang cuma ibarat gerimis, rintik – rintik, hujan ingus – ingus ataupun hujan bokar, hujan deras, hujan sungguh mati dan kadang – kadang banjir. Kadang dalam posisi seperti itu, kita sebagai manusia cenderung untuk ‘marah – marah’, kesal, jengkel, dongkol ataupun berbagai reaksi negatif. Aku percaya tak banyak yang mau melihat dari sisi yang berbeda, melihat dari sisi lain. Ya, aku juga masih manusia, kadang aku juga memilih melihat dari sisi kebanyakan manusia. Tapi, hari ini aku diingatkan lagi untuk melihat dari sisi lainnya.

Well, hari hujan, walaupun sederas apapun, bahkan sampai banjir sekalipun, selalu saja ada akhirnya. Para penganut agama Samawi pasti pernah mendengar kisah Bahtera Nuh kan? Hujan dan banjir sederas itu pun saja masih ada akhirnya, bukan? Bahkan di akhir bencana itu, ada pelangi, ada sebuah awal baru kehidupan. Selalu ada yang baru! Begitu juga hujan di Manokwari ataupun masalah dalam hidup kita, tidak 24 jam bukan mendera kita? Sakit Malaria saja tidak 24 jam kita dugem (duduk gementar), ada saatnya inkubasi parasit itu turun – naik. Bahkan serangan nyeri pun tak 24 jam siap sedia menghajar kita. Jadi,apapun masalah kita, sesuatu yang berat pun, aku percaya SELALU AKAN ADA AKHIRNYA. Kalau beruntung, mmmmh kita bisa melihat pelangi di akhir hujan. Well, aku sangat menikmati pelangi di akhir hujan karena kalau super duper beruntung, akan ada pelangi kembar. Sudah berulang kali aku melihat pelangi kembar. Di Manokwari tahun lalu saja aku sudah lebih dari sekali. Belum lagi di tahun – tahun sebelumnya.

Aku sendiri percaya, saat hujan turun semakin hebat, itulah saat terbaik untuk minum kopi dan teh ataupun minuman penghangat lainnya. Tapi hati – hati dengan minuman penghangat itu, yang membuat anda terjaga ataukah yang membuat anda terlena. Pastikan dengan baik! Dalam hidup, saat kita punya masalah ataukan katakan saja ‘hari hujan’ dalam hidup kita, kita selalu cenderung mencari ‘minuman penghangat’ ini. Sedari tadi, aku diberikan pencerahan bahwa ‘minuman penghangat’ ini ibarat kehangatan perhatian dan kepedulian dari orang – orang di sekeliling kita, entah keluarga, sahabat, kekasih, teman ataupun orang asing entah konselor dan lain – lain. Jadi mereka menyirami kita dengan perhatian, meminjamkan telinga untuk mendengar kita, memberikan bahu tempat kita menangis dan kadang – kadang memeluk kita untuk menenangkan.

NAMUN, kita harus tahu seperti apa minuman penghangat yang tepat bagi kita. Salah pilih, bisa – bisa kita malah terlena dalam kemabukan, katakan saja dengan memilih ‘minuman keras’. Dalam hal ini, aku tentu saja tidak secara literal berbicara tentang miras tetapi perhatian yang didapat dari orang – orang yang ‘tidak tepat untuk masalah’ kita dan malah semakin memperkeruh jalan keluar dari masalah yang sesungguhnya. Lebih tepatnya ‘menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru’ =D Aku tak perlu menuliskan contoh deskripsinya dengan jelas tapi aku punya contoh yang pernah aku alami. Misalnya saja hubungan percintaan antara lelaki dan perempuan. Salah seorang dari mereka berpikir bahwa dengan mencari jalan keluar curhat sebanyak – banyaknya dengan orang lain akan menyelesaikan masalah. Sialnya, ia malah jatuh cinta dengan teman curhatnya itu dan malah selingkuh dan tidak menyelesaikan masalah terlebih dahulu dengan kekasihnya. See, mungkin itu satu contoh kecil yang aku bisa bagikan.

Back to topic, hari hujan secara literal kadang juga tidak menyenangkan karena suhu yang dingin, pakaian yang tidak kering – kering dan keterbatasan hang out di luar ruangan. Tapi, bila kita bukan pencinta hujan ataupun yang tak suka mandi hujan, bukankah selalu ada ruang ataupun bangunan yang menaungi kita. Selalu ada ‘rumah’ ataupun ‘shelter’ a.k.a. perlindungan, bukan? Walau aku pecinta hujan, aku juga tak mau bunuh diri 24 jam berdiri tadah hujan, selalu saja ada tempat hangat yang kutuju kala hujan; sebuah tempat beratap. Kadang sewaktu hidup kita sedang dilanda hujan deras, kita lupa bahwa sebenarnya selalu saja ada SHELTER alias tempat berlindung yang menyelamatkan kita walau saat itu kita sudah terlanjur ‘basah’. Setidaknya shelter itu membantu memberikan kesempatan pada kita untuk memulihkan suhu tubuh menjadi hangat. Aku tak tahu seperti apa anda memandang ‘shelter’ itu. Bagiku, shelter itu sangat jelas. Bagiku, SHELTER TERBAIK ADALAH TUHAN. Aku baru sadar hal itu usai kejadian beberapa hari lalu. Sebuah titik balik diriku untuk kembali ke dalam shelter-ku dan menikmati memandang hujan dari dalam ruangan.

Saat berada di dalam ‘shelter’-ku, ternyata hujan sangat menyenangkan dinikmati. Aku bisa tidur dengan nyaman karena perbedaan suhu dan hangatnya ‘rumah’. Aku juga bisa minum kopi dengan tenang, mendengarkan musik, dan tentu saja menikmati derai hujan dari jendela dan melihat refleksi tetes air yang turun dekat lampu. Aku mengubah pola pikirku tentang hujan deras. Bahkan aku melihat bagaimana ‘hujan’ itu membantu banyak hal; ada tanaman yang butuh air, ada rumah – rumah yang butuh air, dan banyak hal.

Satu yang pasti, hari ini aku kembali lagi diajak untuk mengubah pola pikirku tentang “HUJAN” dalam hidupku. Aku memilih melihatnya dari balik jendela kaca “SHELTER”ku, menikmatinya. Karena ternyata aku perlu ‘hujan’ agar aku menjadi lebih manusiawi dan lebih menghargai arti dan peran secangkir “teh” atau “kopi” ataupun “cokelat panas”, yang mungkin tak kuhargai kala hari panas. Jadi, intinya, SEDERAS APAPUN HUJAN YANG KITA ALAMI, PASTI AKAN BERHENTI JUGA.

Anyway, See you in another note of Morning Rain =)

Bahas Mero

(Manokwari, 110212; Thanx Jesus for my lesson today, without You I’m totally dying.)

Kisah lepas akhir pekan

“God’s wisdom, however, is shown to be true by its results.” Itu pelajaran hari ini yang kudapatkan dari saat teduhku hari ini. Si Arab, kakaknya si Virgo pagi tadi menelponku sejam lebih, membahas banyak hal terkait ‘our gift’ =D Menyenangkan juga ngobrol sama si Arab. Padahal dia itu jail sungguh mati, my frenemy tingkat tinggi. Entahlah, aku percaya tidak ada yang kebetulan. Tidak ada. Dia bilang padaku, terima saja, nikmati dan banyak berdoa. Ia juga bilang, “sa telpon ko nih sa ada dapat pernyataan. Sa cuma diminta untuk kuatkan ko untuk ko pu panggilan tuh saja. Nikmati saja ko pu masa pengajaran nih. Sa dikasi tahu kalo ko ada pu tugas besar yang tunggu ko jadi, sa cuma diminta kuatkan ko saja. Terima saja dan jangan lari e, May. Ko mo lari sampe ujung dunia mana juga, tetap Tuhan kejar ko. Biar mo sembunyi di lubang batu mana juga tetap ko tra bisa lari dari Tuhan”. Kami banyak berdiskusi, banyak sekali.

Anyway, si Arab dan aku tak lupa pula membahas saudaranya; si Virgo. Kami tentu juga membahas si Virgo yang rupanya kabur dari tugas dan sedang ada bikin kasus yang sedang menunggu sidang keputusan. Alamak, si jail badung ini rupanya bikin kasus parah. Jadi tadi si Arab sampai ketawa mati bilang, “adooh May, ko masih kena tipu dia. Ko su tahu kalo de tuh tukang tipu dari dulu baru HAHAHA. Pasti de cerita sebagian tooo” TAPI, si Arab bilang baguslah kalau si Virgo mo mendengar aku cerita dan memintaku untuk mendengarnya curhat jadi aku punya kesempatan menasihatinya. Sampai – sampai si Arab bilang, “ko pu tugas pelayanan tuh HAHAHA”. Si Arab bilang si Virgo sudah tak mempan ia nasehati. Ya iyalah, beda setahun mereka dua, mana mau si Virgo dengar si Arab. Si Mas juga sudah nyerah tuh HAHAHA.

Usai ditelpon si Arab, dalam saat teduhku tadi, aku curhat sama Tuhan, banyal hal yang kutanyakan. Si Arab kemampuannya supranaturalnya sih beda, malah sudah pelayanan kesana – kemari sejak dari Jogja hingga Kalimantan dan kembali ke Papua. Cuma dia tak bisa berdoa. Jadi semua hal yang ia mau doakan, ia berikan pada penopangnya; seorang pendoa syafaat. Jadi saat aku cerita apa yang kulihat, apa yang kudapatkan, ia hanya bilang aku tak boleh lari lagi dari panggilanku dan kenapa tak bikin pelayanan ka. Itu saja.

Aku memang sempat curhat pada Tuhan terkait tugasku. Karena dari penjelasan si Arab, kayaknya WOW skali. Sedang aku tidak mendapatkan instruksi untuk melayani, mengajar atau apalah. Itu saja. Saat tadi, dalam hatiku cuma bilang gini, suara dalam hatiku itu menyebut dirinya sebagai Yesus cuma bilang gini, “May, setiap orang punya hal yang berbeda dalam hidupnya. Ko tidak bisa paksa ko pu diri seperti orang lain begitu juga sebaliknya orang lain tra bisa paksa ko untuk jadi seperti mereka. Yang terpenting, Sa kenal ko dan Ko kenal sa dan ko mo percayakan ko pu hidup pada sa dan dekat sa. Ikuti saja yang ada dulu too. Ko pu tugas kan tuh lihat trus doakan, tulis dan lakukan apa yang Sa perintahkan.”

Aku disuruh membaca dari Yosua 18: 1 – 27 tentang pembagian wilayah dari 7 suku Israel setelah mereka tiba di Kanaan. Intinya sih tentang pemetaan wilayah untuk 7 suku dan juga dalam proses pemetaan itu Yosua meminta 21 anak muda Israel untuk menulis deskripsi dari wilayah yang hendak dibagi, tentu saja dengan seizin Tuhan. Saat membaca bagian Firman ini, aku diajar bahwa pasal ini berbicara terkait dengan kasusku yang kutanyakan tadi, tentang sebenarnya apa sih yang Tuhan mau dari hidupku, apa aku harus mengikuti saran mereka yang lebih rohani dariku atau tidak. Aku diberi gambaran bahwa semua orang punya bagian yang berbeda dari panggilan mereka, semua orang punya tugas yang berbeda. Itu saja. Jadi jangan berkecil hati dari apa yang kulakukan sekarang. Lakukan saja, enjoy it dan tetap dekat dan percaya pada Yesus. Itu yang terpenting.

Aku masih tetap penasaran juga, jadinya Yesus bilang, cobalah baca di sekitar Matius 12, ada pembacaan yang bisa menjawab keresahan hatimu saat ini. Bolak balik kucek ternyata dapatnya di Matius 11: 1 – 19, kisah tentang pertanyaan dari murid Yohanes Pembabtis tentang Yesus. Jadi di ayat terakhir dari pembacaan itu memang jadi bahan penguatanku hari ini, isinya sih simpel: “God’s wisdom, however, is shown to be true by its results.” (Mat 11: 19b)

Semalam juga saat lagi di kamar, Yesus sempat ngomong begini tentang apa yang ia inginkan dari gerejanya alias umatnya, kebetulan waktu itu mama baru mau pergi ke kegiatan di gereja dengan dua keponakanku dan juga adik perempuanku. Kalau tak salah ini pas usai Saat Teduh, Yesus bilang kalau ia melihat banyak gereja sekarang khususnya di Papua yang kehilangan ‘Dia’. Maksudnya ia bilang kalau mereka sekarang lebih fokus pada apa yang kelihatan, tentang tampilan gereja, tata dekorasi dan segala macam tetek bengek urusan pembangunan, apa yang dipakai. Semalam Yesus bilang kalau ia melihat mereka seumpama Martha yang sibuk melayani Yesus, sedangkan yang Yesus inginkan hanyalah umat yang seumpama Maria; datang, duduk, diam, dengarkan dan lakukan perintah dan ajaranNya. Itu saja. Simpel. Tadi malam Yesus bilang padaku kalau ia tak melarang sebenarnya dekorasi segala macam tapi jangan itu menjadi fokus utama. Yang tetap diinginkan adalah buah perbuatan dalam hidup, yang ia inginkan adalah kesederhanaan =)

Anyway, saat aku menulis catatan ini, pada bagian akhir tadi, saat lagi melongokan kepala ke luar jendela dan di depan kamar kan ada pohon Nangka too yang sarat dengan buah dan ada beberapa yang busuk. Tiba – tiba suara di dalam diriku, suara the Spirit tampaknya, dia cuma bilang begini, “May, nan bilang bapa dan mama ee, kalo pohon nangka nih de pu buah su masak smua, tolong pangkas de betul - betul. Jadi nan biarkan de tumbuh berdaun dulu banyak, trus tolong kas pupuk di bawah pohon. Pohon ini de bilang de lagi stress buah trus baru nutrisi tanah su kurang.” Glek!!! Macam sa pikir sedikit lagi end-up di Rumah Sakit Jiwa. Tapi, ya aku pikir tak ada salahnya memberitahu mama yang lagi makan di dapur. At least, demi kebaikan bersama. Tuh pohon kan buahnya sering mama jual dan paling laku di kompleks. Sekali potong nangka dan jual, dalam 15 – 20 menit sudah licin tandas dibeli orang kompleks =)

Ada banyak cerita hari ini yang kudapat termasuk yang akan kutulis dalam catatan berikutnya tadi. Anggap saja catatan orang gila. Boleh dipercaya atau tidak. Toh aku sudah tak hidup untuk membuat orang lain terkesan ataupun menyenangkan orang lain. Itu saja.

(Manokwari, 110212; catatan pas lagi tra enak bodi, jadi ogah kemana – mana)

Know HIM

Malam ini aku belajar lagi mengenalNya. Mengenal tugasku dan bekerja bersamanya. Selamat tinggal masa pelarian. Aku sudah kembali untuk tugasku. Tugas yang harus kulakukan. Tugas yang menenangkanku. Hari ini aku benar – benar dalam posisi DAMAI. Tak ada beban berat yang menggayut bebanku lagi. Sejak bangun pagi, acara ngobrolku denganNya berjalan sempurna. Perfect!

Anyway, hari ini Manokwari masih seperti biasa, hujan terus. Walaupun tadi sore sempat ada gempa kecil yang kurasakan dan tiba – tiba masuklah SMS dari seorang teman yang kuminta untuk doakan tentang Manokwari, ia juga bertanya hal yang sama. Sahabatku sejak kecil pun bilang ada gempa. Begitu pula Virgo malam ini yang mengirimkan SMS dan berdiskusi. Malam ini aku pun harus menghadiri temu alumni berupa makan malam dengan perwakilan bagian beasiswa kedutaan Australia yang ternyata stafnya adalah temanku. Reuni lagi =) Hujan masih turun dengan deras. Hari ini aku juga akhirnya berhasil kontak – kontakan dengan si Arab; kakaknya si Virgo. Kami bercerita banyak hal terkait dengan apa yang kami miliki; ‘tugas’ yang diberikan oleh DIA. Rupanya ia selama ini takut bercerita pada orang lain dan tadi ia sangat antusias menelponku dan mengirimkan pesan, sayangnya aku sudah harus berada makan malam. Jadinya pembicaraan berhenti.

Well, pulang dari dinner gathering di sebuah hotel besar tengah kota, aku masih sempat bercerita sedikit dengan mama dan adik perempuanku serta bermain sebentar dengan keponakanku; si Eu. Sekitar pukul 10, aku diminta memuji Tuhan. Tak tahu maksud Tuhan apa. Jadinya ya tak menunggu lama, kuambil buku Nyanyian Rohani dan menyanyi. Aku diminta nyanyi beberapa nyanyian yang tak kutahu dan smepat protes bilang, ‘tapi sa tra tahu de pu not lagu ya, ganti lagu ka?’ Tak dinyana mulutku otomatis menyanyi tuh lagu dengan nada yang tak kutahu dan kedengarannya bagus HAHAHA. Adooooh pembajakan mulut skali. Tapi sungguh, pujian itu pun mengalir, tak terasa beberapa lagu mengalir dengan nikmat. Perasaanku tenang. Dilanjutkan dengan nyanyian – nyanyian baru yang tak kutahu datangnya dari sebelah mana, kata – kata yang seperti sewaktu aku di Australia dulu, kata – kata dari dunia mana yang tiba – tiba pica di kepalaku. Jadinya serasa ada teleprompter besar di depan mata dan aku hanya perlu mengikuti kata – kata itu. Aku menikmati tadi menyanyi dalam nada Jazz dan soul, terasa lega padahal kata – katanya nih tak tahu asalnya dari mana. Refleks menyanyi tadi, dalam genre soul aku tiba – tiba bilang dalam pujianku, “Jesus, you are the music of my life, the music of my heart.” Entah dari mana kata itu =)

Aku menikmati pujian tadi selama 20 menitan lebih, menyanyi dengan lepas, menyanyi yang sangat menenangkan dengan pujian baru a.k.a. tra tau kata – kata dari mana yang pica di mulut, isinya mengagungkan Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Tak lama, seperti biasa, aku begitu larut dan tak bisa mengontrol apa yang hendak kuucapkan, yang keluar hanyalah kata – kata seperti “Yesus, Kau adalah musik Jiwaku, irama hidupku. Kau seperti irama jantungku yang tak boleh berhenti, karena bila musik ini berhenti maka akupun mati. Kau seperti tetes hujan yang turun, Yesus. Menenangkanku. Kau adalah musik hidupku. Kau musik jiwaku.” Usai itu masih ada pembacaan nyanyian dalam kitab Mazmur yang harus kulakukan.

Aku makin mengerti malam ini. Rupanya aku diminta untuk menyanyi lepas memuji Tuhan karena aku mau masuk dalam zona pertempuran alias doa peperangan. You knowlah, saat kau diminta Tuhan untuk berdoa pada beberapa hal tertentu yang Ia inginkan aku doakan. Kalau sudah pada bagian ini, aku tak punya kontrol atas apapun yang hendak didoakan. Ada beberapa hal yang aku doakan tadi, al:
• Malam ini Tuhan akan mencurahkan roh-Nya atas Manokwari untuk membebaskan orang – orang yang ditawan roh – roh penguasa kota;
• Tuhan melepaskan lelaki – lelaki muda dan tua yang menyakiti perempuan, anak kecil dan juga terikat dengan dosa – dosa al. korupsi, cinta uang dan kekerasan;
• Aku harus mendoakan dan berseru dalam nama Yesus dan dengan kuasa Yesus serta kesaksianku untuk Manokwari, memanggil nama Manokwari dan menyatakan bahwa kota ini kumeteraikan dalam nama Yesus bahwa hanya Yesus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat atas kota ini dan akan tiba saatnya saat orang Manokwari maupun segala ciptaan tunduk dan menyembah Yesus sebagai Raja dan Tuhan;
• Aku diberitahu kalau malam ini di RSUD Manokwari ada seorang anak kecil seperti bayi yang kritis dan sedang dipeluk mamanya, dan Tuhan katakan padaku untuk mengucapkan bahwa Yesus melawat anak kecil itu malam ini dan ia akan sembuh dan akan menjadi bukti dan kesaksian kekuasaan Tuhan;
• Sebelum menutup doa, aku diminta melihat ke atas dan berseru, “dalam nama Yesus, Alam Manokwari dengarkan perintah ini, Ikutlah kehendak Bapa di Surga walaupun itu artinya penghukuman atas kota ini, biarlah kehendak Bapa jadilah atas Manokwari.”

Ada satu kejadian teguran juga hari ini dalam saat teduhku itu. Tadi dalam doa sebelum memulai pujian, aku bilang sama Bapa begini, “Bapa, sa butuh kerjaan tetap nih. Kerjaan yang memang akan menunjang hidupku. Belum ada kerjaan nih. Kan ayat Firman bilang kalau Kau Allah yang berkuasa, Jehovah Jirreh yang menyediakan, sa minta kerjaan eee.” Ya, semacam ‘doa toki’ =D Jadinya pas di pembacaan Firman usai doa peperangan e pas buka Alkitab, langsung terbuka di Lukas 12: 22 – 31. Tentang hal kekuatiran. Dalam perikop versi Good News Bible revised Edition, judulnya “trust in God”. Pas – pas tulang dan menjawab kegalauanku dalam doa intro tadi. Ayatnya yang bilang begini, memang benar membuatku kuat, “Life is much more important than food, and the body is much important than clothes.” (Ayat 24). Apalagi ada lagi teguran lain untukku seperti ini, “If you can’t manage even such a small thing, why worry about the other things?”. Anyway, walaupun begitu, ada satu janji yang Tuhan kuatkan dalam diriku tadi lewat pembacaan ini, yaitu di ayat yang bilang begini, “Instead, be concerned with his Kingdowm, and he will provide you with these things.”

Aku belajar banyak malam ini. Apalagi usai pulang dari gereja, mama dan aku beserta adik perempuanku masih sempat ngobrol tentang Firman Tuhan dan apa yang kudoakan tadi. It’s so fantastic talking about our experience with God. Ya lebih baik begini kan daripada ngomongin yang jahat dan menakutkan. Jadi jalani saja lah. Hal yang sama yang tadi kubahas dengan si Virgo, ia mengirimkan SMS usai adik dari iparnya mengirimiku pesan dan kutanya tentang tugas sekolahnya.

Aku merasakan hari ini aku baikan. Sangat baikan dan energiku stabil apalagi emosiku.

Ini adalah perjalananku yang baru bersama-Nya di tahun ini. Mulai dari titik awal lagi tapi aku tak menyesal mengikutinya. Selalu saja ada terapi kejut dahulu untuk menyadari bahwa Yesusku itu dahsyat hehehe.

Thanx Father, Jesus & Holy Spirit. Amen.

(Manokwari, 100212)

Friday, 10 February 2012

Virgo's Story

Catatan lepas ini hanyalah sebuah catatan lepas tentang my guardian angel minggu ini yang menyelamatkanku dari situasi tidak menyenangkan saat perayaan 5 Februari kemarin. Tampaknya memang Tuhan selalu tahu ada yang tidak beres dengan Lelaki Kopi jadinya Ia selalu mengirimkanku orang untuk menjagaku setidaknya menemaniku. Anyway, sejak tanggal 5 – 8 Februari kemarin, si Virgo benar – benar jadi my guardian padahal di saat yang sama, ia juga punya masalah berat. Ia teman kecilku, tepatnya my frenemy (friend – enemy) anak sahabatnya pakdeku.

Well, si Virgo namanya memang sangat Jawa sekali, Sansekerta mati eeee. Namanya berarti ‘tujuh’. Dia anak dari temannya pakde di Jayapura dan keluarganya sudah kami anggap keluarganya bapak sejak mereka pindah ke Manokwari sewaktu aku kecil. Apalagi pakde, bapaknya Virgo dan bapakku sama – sama bekerja di korps yang sama; para aparat united HAHAHA. Sudah 10 tahun lebih tak bertemu dengannya. Panggil saja ia Virgo (karna ia lahir tanggal 2 September).

Nah rupanya si Virgo sedang cuti dari dinasnya di Jayapura sana. Pekerjaannya juga sama dengan bapak. Sebenarnya lucu juga bila mengingat hubungan keluarga kami dengan keluarganya si Virgo. Apalagi hubungan aku dan si Virgo. Waktu SD – SMP, aku akrab dengan si Virgo dan kakak lelakinya yang setahun lebih tua dariku. Ia orang Jawa – Sanger tapi beragama Kristen, dan dulunya semasa SMA orang tuaku sempat iseng bilang kalau aku mau, aku akan ditunangkan dengan salah satu anak lelaki dari keluarganya Virgo WKWKWKWKW. Waktu itu orang tuaku sangat suka pada kakak lelaki Virgo; sebut saja si Mas, karena sifatnya yang sangat ‘Jawa’ dan kerjanya juga sama dengan bapak. Beda dengan Virgo dan kakaknya; sebut saja si Arab. Iya, tampang para anak lelaki di keluarga ini seperti orang Arab atau India. Mata mereka semuanya WOW. Hritik Roshan pu mata tuh eee. Mungkin dari garis keturunan bapaknya Virgo yang memang nama dan tampangnya seperti Jawa – Arab. Apalagi ditambah dengan mamanya yang cantik itu, khas Sanger. Well, back to topic, si Virgo dan Arab kelakuannya tak ada Jawa – Jawanya deh. Kacau balau!!!

Ok, mungkin ini catatan yang didedikasikan untuk my Guardian Angel. Tanggal 5 ia membantuku bertemu Lelaki Kopi dan menjadi tempat curhat dan memaki si LK. Tanggal 6, ia menemaniku ke rumahnya Chel dan ke pantai guna memotret Chel, rupanya di sana ada gebetannya si Chel yang terlanjur tak kusuka. Malamnya itu, ia menemaniku sebentar jam 11 lewat ke tempat dimana ada kaka dan teman – temannya. Untung saja kubawa Virgo, jadi tak ada pembicaraan aneh – aneh tentang perasaan dengan si kaka. Benar – benar aman lah.

Tanggal 7 malam, si Virgo benar – benar jadi penyelamatku untuk pergi nonton konser musik reggae di GOR. Kami pulang jam 12.30 pagi, tentu saja bersama dengan sepupunya sepupuku dan temannya. Pulang itu memang aku mendapat gangguan dari ‘barang halus’ dan sekaligus di subuh itu, aku memutuskan balik total dan menyerahkan semua ego-ku pada Tuhan. Aku balik 100%, tanpa keraguan. Tanpa Yesus aku lemah dan sekarat rohani. Tak ada pilihan lain. Tak bisa berlari lari. Makanya aku ditegur dan aku pasrah balik. Serupa Yunus tooooooo HAHAHA.

Tanggal 8 itu si Virgo benar – benar ingin kami bertemu, curhat banyak hal. Entahlah, aku takut ia menyukaiku seperti dulu. Sebenarnya tak tahulah, dulu kami itu ya begitulah. Ia sangat suka menggangguku, dibanding kakak laki – lakinya, si Virgo itu yang paling getol menggangguku. Pokoknya kalau aku sudah mengendusnya dari jauh, langsung saja pasang kuda – kuda. Daripada dihajar duluan, sorry bukan dihajar tapi digebukin di tulang punggung. Brengseknya lagi, ia dengan cuek tertawa jail dan iseng. Payah banget deh jaman dulu. Benar – benar frenemy!!!

Malam penuh petir kemarin itu, sambil ngopi di balkon luar tingkat di rumah orang tuanya, aku melihatnya sebagai lelaki yang terluka, lelaki dewasa yang terluka. Tak ada lagi bayang frenemy semasa SD dan SMP yang nakal, iseng dan cuek walaupun kilat mata itu masih sama. Ia bercerita dengan luka dan suara getir tentang kehidupan rumah tangganya yang sudah berjalan 4 tahun ini dengan seorang perempuan Kei asal Timika. Mereka tak bahagia sejak menikah, semuanya tak berjalan sempurna. Aku merasa benar – benar dibawa ke dalam situasi sejenis dengan Lelaki Hujan, sampai – sampai sibuk mengirimkan SMS ke para sahabat dekat. Untungnya aku masih bisa mengatasinya. Takut terjebak!

Entahlah, aku melihatnya sangat rapuh malam itu, sangat rapuh dengan kehidupan pernikahannya, karena ia tak pernah sekalipun melihat rupa anaknya secara langsung, menggendongnya ataupun mendekapnya. Semua gajinya juga istrinya yang memegang. Ia hanya nikah secara status dengan istrinya sedang istrinya selalu minta cerai. Aku tahu Virgo memang semasa SMA paling nakal, tukang mabuk, main perempuan. Kacau tingkat tinggi. Semua hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Parahnya, Istrinya yang berinisial YR ini bilang bahwa ia akan tandatangan surat cerai bila Virgo sudah memasukan permohonan cerai di markas besarnya di Jakarta. Aku melihat mereka bagaikan dua orang asing yang saling membenci. Ya mereka seperti dua kutub, dua orang musuh. Membuatku semakin bertanya, inikah wajah lain ‘cinta’ yang tak kukenal? Entahlah, aku sedih melihat saat orang – orang di dekatku harus mengakhiri relasinya seperti ini, apalagi relasi yang dimeteraikan dengan nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Apalagi mereka berdua nikah di denominasi yang sama denganku; GKI. Denominasi kami hampir mirip Katolik, tak ada pernikahan kedua di gereja. Jangan harap ada, kecuali maut yang memisahkan.

Malam itu, aku hanya bisa bilang pada Virgo kalau aku tak bisa memberi banyak pandangan karena kisah cintaku selalu gagal; kalau bukan diselingkuhi, pastilah aku yang memutuskan hubungan karena ada hal – hal prinsipil yang tak bisa disatukan lagi. Aku hanya terus bertanya padanya “jadi, apa yang akan ko lakukan? Itu su terjadi too. Skarang, ko pu plan A, B, dan C apa?” Aku juga berbagi pandanganku bahwa kebanyakan manusia takut membuat keputusan karena tidak ingin terluka, tidak ingin rugi, tidak ingin ada dampak buruknya. Padahal, semua keputusan yang kita buat pasti ada konsekuensinya. Selalu ada. Jadinya, aku cuma berbagi filosofi hidupku kalau aku tak hidup untuk membuat orang lain terkesan atas diriku ataupun mencoba menyenangkan semua orang. Yang aku inginkan hanyalah hidup untuk melakukan apa yang kucintai. Simpelnya, do what I love and love what I do. Itu saja.

Malam itu, kami bercerita banyak hal, ia bercerita tentang banyak hal, tentang keinginan orang tuanya agar ia kembali ke Jawa, keluar saja dari korpsnya yang penting ia bahagia, tentang ancaman dari keluarga istrinya, tentang kiriman paket okultisme dan segala macam. Ia tak lagi lelaki kecil yang kukenal, lelaki super duper jail. Aku melihat wajah lainnya; lelaki dewasa yang terluka, sama seperti Lelaki Hujan jaman dahulu. Usai mendengar kisahnya, aku hanya bilang padanya agar sebaiknya ia tidak mencari pengganti istrinya dulu, karna ia masih labil dan tak stabil, nanti cuma jadi pelarian akhirnya dan akan bikin luka baru. Guess what? Sepulang dari rumahnya jam 11 lewat dan ia mengantarku pulang dalam hujan deras malam itu, kami masih ngobrol via SMS sampai jam 3 pagi. Entahlah, aku tak tahu perasaannya padaku juga, tapi ia tak lagi membalas pesan –pesanku hingga hari ini. Apa karena di SMS terakhirku aku bilang, “Ko akan baik – baik saja. Sa sayang ko sebagai sapu sodara dan sa tra mau ko begini. Sa mau ko seperti Virgo yang sa kenal, yang ceria, jail dll” Plus mengganggunya agar jangan takut menjadi ‘DUREN’ (duda keren) karena ia masih muda, ganteng.

Beberapa hari ini aku merindukan frenemy-ku ini. Malam itu usai ia curhat tentang masalah pernikahannya, ia malah menyemangatiku dan menanyakan padaku kenapa aku harus lari dari tanggungjawabku, dari ‘misi’ku. Ia tahu bagaimana keluargaku waktu kecil terkait supranatural stuffs, apalagi ia juga bercerita kalau kedua kakak lelakinya juga memiliki apa yang kumiliki, makanya ia bilang kalau aku harus bertemu si Mas dan Si Arab. Aku percaya aku diijinkan bertemu dengan Virgo karena ia menjadi Guardian Angelku teraman selama ada Lelaki Kopi dan Kaka di Manokwari. Ia juga diijinkan untuk bersamaku karena sejak tanggal 5 itu, ia selalu bertanya kenapa aku mati – matian lari dari ‘tugas’ku. Menyemangatiku untuk kembali pada Yesus. Aku melihat walaupun ia punya masalah pernikahan dan stress berat, ia lebih percaya pada Yesus. Itulah sebabnya aku tahu ia dikirim untukku bahkan mengalami kejadian ‘diganggu’ untuk meyakinkanku bahwa Yesus lebih berkuasa dan aku tak harus lari lagi.

Entahlah, aku belum jatuh cinta padanya. Belum, kok. Tapi aku merindukan pandangan matanya yang iseng jail seperti masa kecil kami, dan dalam beberapa hari kemarin terus memaksaku untuk selalu bersamanya. Padahal ia kan punya banyak teman lelaki di kota ini. Ia besar di kota ini. Entahlah, aku melihatnya sebagai adik kecil lelakiku yang wajib kulindungi. Itu saja. Saat ini, menyayanginya sebagai saudara. Aku berharap ia akan baik – baik saja.

Sebelum kututup catatan ini, aku ingat apa yang kubilang pada Virgo malam itu, bahwa sekarang kondisi rumah tangganya sudah seperti jembatan yang patah di atas sungai berair deras. Ia punya pilihan saat ini. Menyeberang sungai alias melanjutkan hidup walau ada konsekuensi yang harus dihadapi, mungkin terbawa arus, mungkin basah kuyup berenang dan kehabisan energi TAPI akhirnya akan sampai juga di seberang. Mungkin juga pakai cara lain seperti merentangkan tali, pokoknya menyeberang. Ia juga punya pilihan lain, tidak menyeberang jembatan dan berkemah di pinggir jembatan dan berharap akan datang pertolongan tapi resikonya adalah tak tahu sampai kapan ada pertolongan seperti itu, mungkin juga dimakan binatang buas ataupun jatuh sakit. Ia juga punya pilihan lain yaitu mencoba menyambung jembatan yang patah, entah dengan apa. Selalu ada pilihan dari tiap situasi dan selalu ada konsekuensi dan resiko dari tiap pilihan yang ada. Pertanyaannya adalah, SIAP TIDAK AMBIL RESIKO DAN BAYAR HARGA DARI TIAP KEPUTUSAN PILIHAN yang kita buat? Pertanyaannya aku kembalikan pada Virgo malam itu.

Aku masih mengirimkan banyak pesan penyemangat. Sangat banyak. Aku selalu percaya hidup itu seperti hari hujan. Apapun masalahnya selalu saja ada akhirnya, tak ada yang abadi selain Tuhan. Itu saja. Pertanyaannya selalu sama, siap tidak dengan perubahan ataupun berubah? Jawabannya kembali pada tiap manusia, bukan?

Aku tak bisa banyak membantu Virgo karena keputusannya tetap pilihannya. Aku akan mendoakannya selama aku bisa, mendoakan agar keluarga istrinya boleh dilembutkan hatinya dan juga agar Virgo bisa bertemu anaknya suatu hari nanti dan agar anaknya bisa memanggilnya ‘Bapa’ (Virgo curhat kalau anaknya diajarin untuk memanggilnya ‘Virgo Anjing’ tiap kali ia menelpon). Hanya itu yang bisa kulakukan PLUS mungkin aku akan menyiapkan lagi tulisan refleksi lainnya terkait pernikahan ataupun hubungan untuk kaum muda agar bisa belajar dari kasus – kasus saudara – saudaraku dan para sahabat yang gagal dalam kehidupan pernikahan mereka. Aku hanya merasa sedih kala melihat tak bahagia, kala mereka tak bisa menikmati pilihan yang mereka buat dalam hidup.

Aku hanya berterimakasih pada Yesus sudah mempertemukan seorang frenemy masa kecilku di saat yang tepat. Kiranya kasih Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus menjaga frenemy-ku ini dan membantunya melewati masa – masa sulit ini. Pasti akan ada selalu ada pelangi seusai hujan. Aku percaya itu.

Bagaimana dengan anda?

(Manokwari, 100212)