Search This Blog

Loading...

Sunday, 22 January 2012

Save Your Ass!! *Reflecting on West Papua

Everybody wants to save their own ass! Kesan yang saya peroleh dari situasi politik di tanah kelahiran saya khususnya di provinsi Papua Barat ini. Sesama saudara saling menjual dan menjatuhkan, teman berubah menjadi musuh, musuh berubah menjadi sahabat karib. Semuanya dibalut yang bernama politik. Apa boleh buat, toh hukum dasar mata kuliah pengantar politik sudah jelas: Tidak ada teman dan lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Sayangnya, kepentingan abadi tak pernah jauh dari kekuasaan, wanita dan uang. Tak ada namanya hitungan nyawa manusia yang perlu dibela dan diperjuangkan haknya. Ah andai saja saya bisa mengkloning orang seperti Jokowi; walikota Solo untuk tanah ini. I’m a big fan of him. Iya, orang yang bisa membangun dengan bermartabat dan memberi nilai dari pemerintahan mereka. Ini hanya catatan lepas terkait situasi terkini tanah ini di sebuah provinsi bernama Papua Barat.

Saya bukan pengamat politik, saya juga tidak tertarik dengan urusan politik tapi saya sangat tak suka apa yang saya lihat di tanah ini. Di saat banyak pejabat politik dan juga pemerintahan menambah pundi – pundi kekayaan mereka , dengan rumah – rumah baru yang mahal dan besar, liburan ke sana – kemari dengan burung besi antar pulau, koleksi mobil dan kendaraan bermotor yang bertambah, di saat yang sama, ada banyak anak muda yang kesulitan dengan biaya pendidikan. Bukan karena uang sekolah tetapi biaya – biaya pendukung pendidikan: seragam, sepatu, tas, peralatan sekolah, uang buku, transportasi, jajan, nutrisi, biaya praktikum, biaya pungutan sana – sini yang dibebankan sekolah dan banyak lagi. Suatu kenyataan yang menyesakan dada.

Di saat ada banyak orang baru yang lahir dari kebocoran dana Otsus, makin banyak pula masyarakat asli Papua yang berakhir di rumah sakit dan meninggal karena penyakit klasik dari masa lalu: Malaria, malnutrisi, ISPA dan lain – lain. Entahlah, selama 48 tahun tanah ini dianeksasi Indonesia, saya melihat tak ada perubahan nyata dari kesan atas tanah kelahiran saya. Ya, saya memang baru lahir di tahun ke 20 aneksasi, tapi dari kecil hingga sekarang, saya melihat kehidupan asli orang Papua di sekitar rumah saya masih begitu – begitu saja, kecuali bagi mereka yang mendapat jabatan mendadak di kantor – kantor pemerintahan. Itu saja.

Statistik kemiskinan yang terus merangkak naik di bawah garis batas , banyaknya anak muda pengangguran dan balita gizi buruk dan juga meningkatnya eskalasi kekerasan dan perasaan terpinggirkan bagi orang asli Papua di daerah perkotaan yang makin menguat, entahlah ada rasa yang pecah di hati untuk hal ini. Saya memang separuh Papua, hanya separuh Papua bahkan kartu identitas pun tak bisa mencantumkan kePapuaan saya. Saya memang memakai semua fasilitas sebagai kaum pendatang di tanah ini dan selama masa orde baru pun tidak mengalami apa yang dirasakan oleh teman – teman dan saudara keluarga mama saya yang asli Papua, but this is my homeland. Tempat dimana saya lahir, besar dan ingin mati di tanah ini kelak. Saya berhutang banyak pada tanah ini, pada bumi Papua. Begitu nelangsa melihat manusia tidak bisa hidup dalam keharmonisan. Tak bisa hidup dalam pandangan kasih. Tak bisa hidup dalam pandangan kasih satu sama lain. Benar – benar merasa sesak napas.

Di tanah kelahiran saya, selalu saja bahasa penguasa yang didiktekan, dibacakan dan harus dilaksanakan apapun keputusannya, apapun konsekuensinya. Orang biasa, apalagi orang asli Papua bahkan jarang punya hak bicara. Kalaupun diberi hak bicara, selalu saja hanya kaum penjilat yang mengadopsi gaya penguasa dan lupa tentang apa yang diperjuangkan oleh kaumnya. Saya tidak bicara tentang politik kemerdekaan atau apalah. Yang saya bicarakan adalah penguasa sering lupa memberikan dan mengembalikan serta mengakui dignity alias martabat orang Papua kembali untuk menjadi manusia – manusia cultural yang menyatu dengan tanah mereka dengan alam mereka. Toh jelas sekali yang terjadi di tanah ini tak lain hanyalah perebutan sumberdaya alam. Sedangkan manusia asli Papua tak bisa hidup tanpa alam mereka karena merupakan satu paket. Sedangkan penguasa kadang melupakan hal ini dan para anana tana yang duduk di pemerintahan pun terbuai dengan banyaknya uang dan fasilitas yang masuk. Ah andai bumi ini bisa bicara dan menilai tiap orang dan tak lupa menuntut dirinya dipulihkan.

Ada banyak alasan mengapa Papua menjadi seumpama gulungan nelon yang carut marut. Karena masalah dasarnya tidak diselesaikan. Satu hal membentuk masalah lain. Intinya, bagaimana cara masyarakat asli Papua dan penguasa dalam memandang Papua berbeda. Sama – sama ingin memiliki secara utuh. Masyarakat asli Papua mengklaimnya sebagai tempat hidup mereka sejak awal, sebagai yang asli. Penguasa mengklaimnya secara de facto dan de jure lewat segala macam aturan dan mekanisme buatan manusia. Tak ada yang mau kalah. Padahal di bumi ini, tak ada satupun penduduk asli suatu tempat karena pernah di suatu masa, kita semua adalah penjelajah dan pengembara. Di bumi ini juga, tak ada satupun status de facto dan de jure yang abadi tentang keabsahan kepemilikan suatu wilayah. Yang nyata cuma satu: bumi ini, tanah ini punya suara yang enggan didengarkan: untuk menyelamatkannya sebelum terlambat. Jangan sampai ia sendiri yang berjuang karena bila saatnya tiba, jangan salahkan konsekuensi yang terjadi karena ia tak akan pandang bulu antara orang asli ataupun pendatang, antara masyarakat sipil ataupun militer. Tak akan pandang bulu!

Tanah Papua ini sudah cukup lama sakit, cukup lama dirusak. Entahlah, apakah anda bisa mendengar teriakan dan kegalauan mereka? Saya mungkin kedengaran gila tapi terkadang pada pagi tertentu, pada perjalanan saya ke luar kota, pada beberapa momen saya di alam dan juga kunjungan ke pantai, kali dan berbagai tempat: I hear its voice. Ya, saya mendengar suaranya, mendengarnya berbicara di kepala saya, mendengarnya dan meresapi pesannya dan ia tentu saja meminjamkan energinya untuk saya, untuk menjalani hidup. Mendengarnya berbicara seperti dua sahabat lama karena toh pada akhirnya kami pernah satu: dari debu tanah. Bedanya, hanyalah nenek moyang saya diberi nyawa dan kecerdasan luar biasa oleh pencipta dan mereka yang tertinggal menjadi landasan dan basis atas apapun yang tumbuh di planet ini. Entahlah, apakah anda bisa mendengarnya. Lebih sering lagi, kala tanah ini berbicara dengan saya, saya pun merasa begitu dekat dengan Yesus. Tanah ini seakan menjadi penghubung kedekatan dan bukti cinta Yesus pada saya. Tapi seperti yang tadi saya bilang, pesannya tetap sama yang dibisikan oleh alam ini: Save me, I’m dying. Save me! Entahlah …. Apakah manusia di tanah ini karena tamak dan rakus dibuai politik lokal lupa berkaca pada tugas utama mereka di planet ini: the planet keepers; para penjaga bumi. Menjaga ciptaan Tuhan untuk hidup dan berkembang sebagaimana adanya. Entahlah, mungkin kita hanya mengamini pada bagian menggunakan apa yang ada di alam ini. Entahlah!

Yang pasti, saya tahu pasti tanah ini sedang sakit parah dan butuh disembuhkan. Entahlah, adakah yang mendengar suara kesakitannya? Saya tak tahu. Yang saya tahu, saya sudah melakukan bagian saya untuk menuliskan ekstraksi apa yang diminta oleh tanah ini. Satu langkah mudah yang bisa saya bagikan adalah JANGAN MENCURI APAPUN YANG BUKAN MILIK KITA! Satu langkah mencuri kecil dapat menimbulkan kehancuran yang besar pada berbagai aspek hidup secara tidak langsung dan otomatis akan berpengaruh pada kelangsungan tanah ini. Itu saja!

(Manokwari, 170112)

0 comments: