Search This Blog

Loading...

Sunday, 22 January 2012

Rambut Kus - Kus: Fenomena Rambut Anak Muda Manokwari di Musim Libur Sekolah

PENGANTAR
Siapa yang tidak kenal dengan hewan Kus – Kus; salah satu hewan endemik Papua. Hewan berkantung dengan ekor seperti cincin yang piawai bergayut di ranting pepohonan dan bermata khas bulat ini memang bukan ‘barang baru’ di tanah ini. Warnanya pun bervariasi, dari totol kehitaman, hingga keemasan maupun ‘pirang’. Di kota saya Manokwari, beberapa tahun terakhir, tiap bulan desember hingga awal Januari, warna ‘kus – kus’ ini pun hadir menyemarakkan tren gaya anak muda usia sekolah khususnya anak laki - laki. Jangan langsung berpikir bahwa hewan ini dipakai sebagai penyemarak kemeriahan pesta, selebrasi pergantian tahun dan acara berbagi tawa dan sukacita. Tentu saja yang saya maksud tak lain adalah tatanan warna rambut anak muda khususnya anak muda Papua dalam mengekspresikan diri mereka. Sebut saja saja tren mengecat pirang rambut mereka a la orang Eropa Barat. Bila di Jepang ada afiliasi gaya rambut a la anak muda Harajuku yang terkenal suka mewarnai rambut mereka dengan warna – warna menyala termasuk pirang, maka di Manokwari, ada pula tren rambut ‘kus – kus’ tiap liburan sekolah khususnya bulan Desember.

RAMBUT ‘KUS-KUS’: Tren, ekspresi dan aktivitas komunal
Mambri Imburi (12 tahun), seorang anak SD yang saya temui di depan rumahnya bersama beberapa temannya di Fanindi ST mengaku mewarnai pirang rambutnya di minggu kedua bulan Desember silam. Ia dan teman – temannya mengerjakan sendiri pewarnaaan ini dengan membeli bubuk bleach bermerek tertentu di pasar Sanggeng (harga sekitar Rp. 10,000,- Red) dan mengaplikasikan sendiri di depan kaca ataupun bergantian. Saat ditanya tentang alasan mewarnai rambut, ia dan teman – temannya hanya berujar, “Kaka, liburan jadi tong kas pirang rambut. Nan kalo su mo masuk sekolah, baru tong kas hitam kembali pake Tancho atau Top Lady.” Mereka tak menyebutkan alasan jelas mereka mewarnai rambut. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Natan Woria (11 tahun), bocah yang tinggal di kawasan yang sama, ia mengaku membeli ‘bubuk pirang’ bermerk Sasha dengan beberapa temannya di Sanggeng sedang bubuk penghitam rambut cukup dibelinya di toko di kawasan Fanindi. “Kas pirang – pirang rambut saja, kaka. Liburan natal jadi,” alasannya. Setali tiga uang pula dengan alasan seorang remaja asli Papua kelas I SMP yang saya tanya di daerah Arowi. Remaja yang enggan menyebutkan namanya ini hanya mengaku, “Liburan jadi kaka, makanya sa ikut teman – teman tong kas pirang rambut.”

Alasan mewarnai rambut pirang dapat pula sebagai sebuah ekspresi identitas pembeda dan menjual daya tarik diri. Itu yang dapat saya tangkap dari serombongan remaja laki – laki yang saya tanya saat mereka sedang bermain bola di lapangan bulu tangkis POM, Kota. Simon Krey (15 tahun), remaja yang tinggal di Asrama Pelayaran Borarsi dan teman – temannya ini mempunyai alasan mewarnai rambut dengan pola tertentu a la ‘kus-kus’. “Biar tong tambah ganteng, trus lebih gaul, dan perem dong naksir tong. Sama biar tong penampilan beda ka ini,” jawab mereka kompak. Umumnya, para bocah lelaki ini hanya mewarnai rambut di bagian tengah potongan ‘Gomez’nya. Potongan rambut ‘Gomez’ adalah sebutan lokal di Manokwari untuk potongan rambut Mohawk yang terinspirasi dari potongan rambut pemain sepak bola asal Amerika Latin.
Rambut ‘kus – kus’ dapat pula dipandang sebagai tindakan komunal anak muda Papua dalam komunitas kecil karena saat mengaplikasikan bubuk pirang (bleach), kegiatan ini dilakukan bersama – sama. Mereka umumnya mengakui bahwa mereka hanya menggunakan alat bantu kantung plastik kecil untuk melindungi tangan saat melumuri rambut teman mereka. Begitu pula kala menghitamkan rambut kembali. Simon dan teman – teman remajanya mengaku memilih mengerjakan sendiri pewarnaan rambut karena ketiadaan dana untuk pergi ke salon demi meminta tenaga professional dalam pengerjaan rambut. Terlepas dari bagaimana proses pewarnaan, hal ini tidak selalu bebas perkara karena beberapa anak yang saya tanya khususnya para remaja mengakui bahwa kadang orang tua mereka memarahi mereka tapi kerap tidak mereka pedulikan. Sebuah ekspresi ‘resistensi’.

Anak muda usia sekolah di Manokwari yang umumnya mewarnai pirang rambut adalah anak dan remaja laki – laki dalam sebuah kegiatan komunal massif. Ekspresi ini dapat pula ditinjau sebagai ekspresi pencarian identitas dan pembeda. Yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa anak dan remaja laki – laki lebih responsif secara massif terhadap perubahan ataupun ‘pemberontakan’ gaya rambut ini dibanding perempuan? Tentu saja butuh penelitian mendalam yang mungkin dapat dikaitkan dengan budaya patriarki di Papua ataupun stigma lain yang tercipta bila perempuan mewarnai pirang rambut. Meskipun demikian, peran rekan sebaya dalam komunitas dalam membentuk kesadaran anak muda dan bagaimana sikap orang lain terhadap mereka khususnya lawan jenis mempengaruhi bagaimana anak muda merepresentasikan diri dan hal ini dapat menjadi faktor – faktor yang tidak dapat disepelekan.

Dua pakar psikologi perkembangan: Erik Erikson dan James Marcia dalam buku ‘Pathway to Psychology’ tulisan Robert J. Sternberg (1997) membahas tentang perkembangan emosi sosial remaja. Erikson berpendapat bahwa para remaja menghadapi krisis identitas versus kebingungan mereka tentang peran mereka dalam masyarakat. Tak ayal, mereka mencoba mencari tahu siapa diri mereka, nilai apa yang mereka anut dan bila besar mereka ingin jadi siapa sehingga mereka mencoba mengintegrasikan aspek – aspek intelektual, sosial, etika dan aspek lainnya guna membentuk sebuah identitas diri terpadu. Sedangkan Marcia lebih menekankan pada bagaimana para remaja membangun konsep identitas pribadi mereka dan menunjukannya dengan cara pola – pola ‘meng-kopi’ sebagai cara yang dapat dianut menuju kedewasaan. Meskipun demikian, Stenberg dalam bukunya menyimpulkan bahwa baik Erikson dan Marcia sepakat bahwa para anak muda juga mempertimbangkan bahwa nilai, kepercayaan, pikiran dan sikap mereka sangat penting dalam memahami siapa diri mereka dan juga sama pentingnya bagaimana orang lain memandang mereka. Sehingga disimpulkan oleh Sternberg bahwa persahabatan dan relasi anak muda dengan teman sebaya mereka penting guna bagaimana mereka dapat menghabiskan waktu bersama dan bagaimana mereka saling menilai diri.

MENTALITAS NILAI: Tradisional Vs Modern
Tren mewarnai pirang rambut a la Kus – Kus bila dikaji dari sisi budaya dapat dikategorikan sebagai budaya ‘hibrid’ anak muda Papua di kota Manokwari yang tumbuh beberapa tahun terakhir. Kala konsep budaya ‘tradisional’ Papua bertemu dengan konsep ‘modern’ efek globalisasi dan mencari bentuk tersendiri. Bila ditilik dari masa pengecatan rambut yang biasanya terjadi di masa liburan sekolah, dapat diasumsikan merupakan salah satu ekspresi ‘pemberontakan’ atau resistensi gaya anak sekolah yang notabene selama masa bersekolah harus menjaga gaya dan warna rambut mereka.

Seorang antropolog budaya UNIPA: Adolf Ronsumre, S.Sos, MA dengan gamblang menggambarkan ‘rambut kus – kus’ sebagai ekspresi modernitas anak muda. Bagaimana anak muda Papua mencoba menggambarkan konsep mentalitas mereka yang ‘modern’ dan mengikuti ‘tren’ masa kini. Ronsumre yang juga penulis buku “Mentalitas Orang Papua: Tradisional Vs Modern” terbitan Galang Press ini menambahkan bahwa tren mewarnai rambut ini harus ditinjau dari ekspresi mentalitas nilai mereka. Pada dasarnya, orang Papua dikenal sebagai masyarakat peramu (food-gathered people) yang menganut sistem nilai tradisional dimana penggunaan suatu benda disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan. Namun, dengan adanya fenomena rambut ‘kus - kus’ seperti ini menggambarkan bentuk transisi dari mentalitas nilai tradisional menuju masyarakat ‘modern’ dengan mengacu pada adaptasi standar nilai modern. Konsep standar ‘modern’ yang dianut adalah yang merujuk pada ‘ Eropa dan Amerika’. Ronsumre tidak lupa berasumsi bahwa fenomena pewarnaan rambut ini umumnya muncul tiap liburan Natal dan Ia melihatnya sebagai sebuah bentuk hegemoni budaya natal Eropa. Tak hanya sekedar adopsi pohon Natal, pesta natal, maupun parade Sinterklas, tetapi bahkan ke tatanan rambut pirang.

Ronsumre juga menilai fenomena ini sebagai ekspresi transisi menuju konsep nilai masyarakat konsumtif dimana penggunaaan suatu barang tak lagi berdasarkan fungsi ataupun pemenuhan kebutuhan tetapi lebih pada pemenuhan gaya hidup, gengsi ataupun kebutuhan bersosialisasi. Hal ini tentu saja terimbas dari seberapa jauh para penganut gaya ini terkena perubahan kontak budaya; entah dari media, figur tertentu ataupun teman sebaya. Yang pasti, Ronsumre menilai tingkat adopsi budayanya hanya terjadi pada tatanan artefak dimana sebatas ide budaya saja yang ditiru tetapi nilai dari standar nilai yang dirujuk tidak diambil. Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak muda penganut paham ini sekedar mengikuti euforia perayaan Natal yang merujuk pada budaya Eropa tetapi tetap mempertahankan ideologi tradisional mereka. Hal ini dapat dilihat dari salah satu indikator dimana anak muda yang mewarnai rambut mereka umumnya tidak dapat memberikan alasan logis mereka mewarnai rambut mereka. Sekedar ‘ikut rame’ mungkin ungkapan yang tepat.

PENUTUP
Fenomena ‘rambut kus – kus’ sebagai budaya hibrid anak muda Papua di Manokwari menjadi salah satu penyemarak perayaan Natal hingga awal Januari tiap tahun. Entah akan berganti , memudar ataukah makin menguat, hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan anak muda Papua dari produk – produk pewarna rambut yang tidak aman dan tidak sehat bagi diri mereka, karena toh apapun zat kimia yang terpapar pada diri kita pasti akan berdampak pada tubuh. Meninjau budaya hibrid ini dan juga bagaimana alasan yang dipaparkan oleh beberapa anak dan remaja di Manokwari, tidak serta merta menjadi sebuah temuan valid karena masih dibutuhkan sebuah studi mendalam tentang fenomena ini. Hal ini sebagaimana pernah dikemukakan oleh psikolog Amir dan Sharon dalam tulisan mereka “Are social-psychologial laws cross-culturally valid?” (1987), “setiap budaya mempunyai konteks yang berbeda untuk pemikiran, perasaan maupun tindakan mereka sehingga kita tidak bisa serta merta membuat overgeneralisasi temuan dari suatu budaya dengan budaya lainnya.”

Menurut anda?

(Manokwari, 050112)

0 comments: