Search This Blog

Loading...

Tuesday, 3 January 2012

Post-Xmas Story - Dari Predator hingga Garasi

Perayaan Natal baru saja berlalu. Tiap sudut jalan di Manokwari yang saya lalui bahkan juga dalam dekorasi Natal dan hiasan pohon Natal kemarin, ada saja satu sosok yang saya temukan di sana: lelaki gembul berwajah Eropa berbaju merah dengan aksentuasi warna putih dan juga janggut putih yang konon mengendarai sekelompok rusa yang salah satunya bernama Rudolph. Siapa lagi kalau bukan Santa Claus atau yang ngetop disebut Sinterklaas. Catatan kali ini memang hanya membahas pria gembul ini dan sekali lagi maafkan saya kalau setiap tahun saya pasti akan membahas tentang lelaki tua ini yang bagi saya sangat mencuri ‘makna’ natal. Anggap saja ini catatan ‘sakit hati’ saya HAHAHA. Sorry, for Sinterklaas’ lover, please back off HAHAHA.

Mungkin ini ‘catatan sakit hati’ seperti tahun – tahun sebelumnya tapi ya begitulah, saya punya alasan – alasan pribadi mengapa saya tak suka Sinterklas. Mungkin kedengaran konyol tapi bagiku pengkultusan Sinterklas apalagi dengan membuat festivalnya dan bahkan kunjungan – kunjungannya hanya membodohi anak – anak dan tidak mengajarkan inti esensi Kekristenan tentang kasih karena Sinterklas adalah makhluk pilih kasih yang hanya ‘menyukai’ anak – anak penurut. Jadi yang anak nakal, ke laut aja HAHAHA. Padahal inti natal adalah kedatangan Yesus dalam kesederhanaan untuk menebus yang berdosa dan terhilang.

Bicara tentang Sinterklas, jelas saja ia sangat ‘menjual’ banget. Santa Sales! Iya, ungkapan ini kan lebih tepat menggambarkan popularitasnya belum ditambah dengan Pit Hitam pengiringnya yang entah dicomot dari dunia mana dan kenapa juga harus eksis. Bila mengingat betapa populernya si opa gembul ini, jadi sempat bertanya, “ Memangnya seberapa banyak sih yang mau membeli aksesoris a la bayi Yesus dan kostum Timur Tengah bila ada perayaan natal?”. Lihat si pria gendut ini, dengan kostum khas Eropa berwarna eye-catching ngenjreng a la bendera Indonesia, ia berhasil menohok perhatian. Mulai dari topi kerucutnya yang bentuknya kok adaptasi dari topi Merlin si penyihir apa topi tidur hingga kostumnya yang bisa diubah bentuk mulai dari coat musim dingin bahkan hingga bikini dan lingerie cewek. Ladang bisnis yang menggemukan, bahkan lebih ngetop dari Boybands yang menjamur HAHAHA.

Anyway, catatan kali ini mungkin tidak berpanjang lebar membahas lagi pandangan – pandangan filosofisku terkait si pak tua gembul ini tapi lebih ke beberapa kisah lepas terkait si santa dalam pandangan beberapa teman dan sepengetahuanku sih. Ya hanya catatan ringan terkait si ‘opa’ ini. Just check this out! Fresh from the tungku ^_^

Beberapa minggu lalu, kala saya memilih ‘duduk kumpul –kumpul’ di ruang tamu CELD di UNIPA sana, saya dan beberapa staf CELD membahas tentang Sinterklas, kebetulan lagi marak adanya kunjungan Sinterklas dan para ‘punggawanya’ kemana – mana. Lengkap dengan iringan musik malah. Nah, saya mengulang kejadian petaka kunjungan Sinterklas tahun lalu di rumah sepupu jauh saya. Tahun lalu, anaknya yang masih berusia SD menjadi korban saat kunjungan Santa di kompleks perumahannya. Iya, karena ketakutan dikejar - kejar Pit Hitam, ia jatuh di kolam Kangkung hingga kepalanya pecah berdarah. Belum lagi tahun ini, keponakan perempuanku yang berusia 2 tahun, tiap kali mendengar lagu ‘Jingle Bells’ dan iringan kendaraan yang ramai langsung panik, menangis dan berlari mencari perlindungan. Trauma! *istilah asal.

Kejadian petaka pun bergulir dan membangkitkan kenangan masa kecil yang beraneka ragam, termasuk ‘how to deal with Sinterklas 101’ ALIAS ‘mata kuliah pengantar menghadapi Sinterklas’. Suasana hari itu memang ramai tiba – tiba. Beberapa teman berbagi pengalaman termasuk saya, mengulang kisah menanti kado, menyiapkan sepatu berisi rumput kuda untuk rusanya si Santa hingga gantungan kaos kaki ‘andalan’ yang dipasang di dekat sepatu. Benar – benar sekilas info ke masa lalu deh. Tiba – tiba teman saya, si Jimmy Karter Kirihio bergumam, “Aeh neh, anana, besok tuh, kalo sinterklas datang, jang hanya taru sepatu isi rumput dan surat, tapi taru helm bokar juga, biar sinterklas kas motor too.” Ramailah suasana ruangan. Ketawa pica lah HAHAHAH. Tiba – tiba, Si Eni Arilaha pun bertanya, “Mmmh kalo taru helm, kan dapat motor. Baru kaka, kalo taru motor toooo, tong dapat apa?”. Semua anak menanti jawaban, ‘sinterklas kas mobil…” dari mulut Jimmy . Alamak! Si Jimmy dengan cuek bilang, “Ah taru motor, ya …. biar sinterklas kas GARASI saja HAHAHA *sambil bayangkan sinterklas pikul – pikul bahan bangunan seperti semen dan kayu balok 5 – 10.^___^

Kegilaan siang itu tidak langsung hilang, karena Jimmy masih berkisah tentang kejadian kebadungan masa kecilnya kala menjadi ‘predator’ kado saudara – saudaranya. Ceritanya, di keluarga Jimmy, tiap tahun Sinterklas alias kedua orang tua teman saya ini memberikan hadiah hanya pada yang rajin pergi ibadah plus penurut. Jadi, beberapa hari sebelum hari Sinterklas, adik – adik teman saya ini sudah diwanti – wanti orang tua si Jimmy kalau, “kam nan dapa hadiah dari Sinterklas, jadi kam taru sepatu saja eee.”. Guess what? Di malam ‘bagi rezeki’, si Jimmy pun memantau yang dilakukan orang tua mereka dengan penuh rasa ‘curigation’ tingkat tinggi. Apa lagi kalau bukan siapin hadiah dengan embel – embel “from Santa” alias dari Sinterklas. Si Jimmy kecil yang badung tak tinggal akal, maka usai orang tuanya berkemas, ia dengan santainya mengendap – endap menuju tempat hadiah, membuka hadiah yang rata – rata adalah makanan ringan dan tentu saja MENYANTAPNYA! Dan melanjutkan tidur. Tak lupa ‘menghapus jejak predator’nya. Alamak, ricuh banget kejadian paginya saat adik- adiknya datang, terkejut tak melihat ada kado dan menangis. Orang tua pun tutup mulut kehabisan akal menjelaskan tentang kunjungan Sinterklas. Mo ngaku kalo mereka sudah meletakan kadonya = ngaku kalo mereka lah Sinterklas =Sinterklas TIDAK ADA. E mo ngaku kalo Sinterklas memang ada, kadonya juga tidak ada. Serba salah! Yang pasti, Jimmy kecil hanya bisa terkekeh dan tersenyum simpul di pagi itu. Predator rocks! *mungkin ini yang ada di kepala Jimmy kala itu HEHEHE.

Kisah Jimmy ini pun membuat saya teringat satu hal dalam pelaksanaan kunjungan Sinterklas tiap tahun di Manokwari. KEJUJURAN. Saya percaya sebagai orang Kristen, salah satu hal yang diinginkan Tuhan dalam hidup adalah sikap ini. Saya cuma berpikir kenapa sih orang tua lebih cenderung memberikan kado kepada anak – anak mereka khususnya anak – anak kecil dan mengatakan bahwa kado itu dari SInterklas. Sudah bayar mahal untuk kunjungan Sinterklas yang kadang ‘ngaret’nya luar biasa lama, e ternyata kado-nya juga dari orang tua. Bukankah lebih baik memberikan kado itu langsung dari orang tua sebagai ekspresi cinta ‘sa sayang ko’ kepada anak dan membuat anak – anak kecil itu sadar bahwa mereka dicintai terlepas dari bagaimana bandelnya mereka? Sebuah ekspresi cinta tanpa pilih kasih. Selain itu, bila Sinterklas selalu dipilih, wah bisa – bisa anak – anak kecil lebih menjagokan Sinterklas sebagai ‘yang baik dan tukang bagi hadiah’ dibanding si pemilik natal yang sesungguhnya: Yesus. Bukankah kita malah sudah menanamkan sebuah dasar kekristenan yang berbeda tentang prinsip Kasih Tuhan seperti dalam Yohanes 3:16, “For God loved the world so much that he gave his only Son, so that everyone who believes in him may not die but have eternal life.”

Satu yang pasti, jangan sampai kita terlena dengan Sinterklas dan membiarkannya menjadi PREDATOR makna pemberi hadiah kehidupan yang sesungguhnya. Ya semoga saja tidak!

(Manokwari, 311211; buka kembali catatan lama yang ‘ngaret’ di komposisikan)

0 comments: