Kadang kita tak tahu dimana dan pada apa rasa sayang itu tumbuh, kita tak pernah tahu kapan rasa itu ada, kita tak pernah sadar kapan rasa itu berkembang cepat ibarat pembelahan virus. Kita tak benar – benar tahu bagaimana Feromon berselingkuh dengan Oksitosin dan mengajak Adrenalin turut serta dalam sensasinya. Kala semua rasa itu hampir usai, kita tak pernah pula tahu kapan si Kortisol mengendap perlahan …. Dan BUM!!!! Kita patah hati, kebingungan, mencoba meraih tali pengaman untuk bergelantungan karena kita terlalu jauh jatuh cinta dan rasa ini mengiris hati. Lebih pahit dari tumbukan kopi pertama panenan, lebih asam dan perih dari perasan lemon suanggi di luka.
Ah cinta itu mahal. Semahal luka! Benar begitu kan? Entahlah.
Aku kembali lagi jatuh cinta padanya, pada si Lelaki Kopi ini. Ia punya banyak nama yang pernah kutuliskan. Ah ia memang selalu seperti kopi bagiku. Kami bertemu pertama kali beberapa bulan lalu di sebuah kedai beraroma kayu manis, kala kuhirup secangkir kopi susu dan membeli sekotak teh Gopek asli Slawi. Ia datang saat itu dan kami berbincang manis tentang sejenis kayu harum-manis langka penyembuh penyakit bernama Mersinggouw yang khas pegunungan Arfak. Kami berbincang hangat saat itu, berbincang tentang jalan raya, tentang pohon – pohon, tentang apa saja dan juga deskripsi rasa segar, berbicara tentang Persipura hingga rekan – rekan kerjanya. Entahlah, malam itu ia sukses membuatku tersenyum, tertawa dan merasa nyaman.
Seperti biasa, ia pun datang dan pergi usai kuminta. Selalu saja tiap beberapa minggu, kala hujan turun dengan deras, ia pun datang kembali dengan kata – kata rindunya yang tak bisa kutepis. Ya, tak bisa kutepis. Dan kembali lagi logika dan perasaanku bersinggungan lagi, friksi terjadi dan …. Mereka berkelahi dan membuatku merasa bersalah. It’s not the life I want, not anymore please ….
Lelaki kopiku pun kembali lagi. Ia berkulit kopi khas suku Teluk di tanah ini, dan ia ibarat kopi yang selalu membuatku segar, semangat, kreatif TAPI tak bisa kusesap lebih dari segelas per hari. Bisa bikin lambungku kesakitan dan jantungku berdetak tak sempurna serta dadaku sesak kembali. Entahlah, aku membutuhkan dia karena ia selalu menjadi penyemangat hidup, membuatku banyak tertawa, membuatku kreatif TAPI selalu saja ia kembali menjadi ibarat kopi. Aku intoleran pada kopi sejak tahun 2009. Kafein pernah dengan sukses membuatku terjun tiarap kesakitan tak bisa bernapas di kamar, di ruang kuliah dan di beberapa tempat. Ya, aku punya serangan refluks oseofagitis tiap kali menyesap kopi. Jangan heran, tiap minum kopi aku tahu konsekuensi yang kupunya. Itulah sebabnya aku mengurangi konsumsi kopi hitam apalagi cappuccino espresso atau kopi Italia lainnya, tak ingin menggadaikan nyawaku. Jadinya ya, hingga sekarang aku hanya boleh minum secangkir kopi tapi diikuti dengan minum obat sejenis Ezomeprazole magnesium 40 Mg ataupun omeprazole 40 Mg. Demi sebuah kenikmatan surga!
Aku menyayangi Lelaki Kopi ini, entahlah … belum pada tahap cinta TETAPI hanya merasa ingin membuatnya bahagia, tertawa dan tidak stress. Melindunginya! Mungkin itu kata yang tepat. Aku melihatnya rapuh di dalam, ada luka yang disembunyikannya. Dan aku ingin menyembuhkannya. Entahlah …. Sejak pertama kali bertemu dan bercerita dengannya di bulan November kemarin hingga sekarang, aku serasa mengenal sahabat lama, mungkin karena ia punya beberapa fitur yang mirip Lelaki Hujan. Entahlah.
Aku masih suka kopi dan akan tetap cinta mati kopi dan itu pula yang kukatakan padanya hari ini. Untuk menjaga jarak lagi karena aku tahu ia seperti timbangan yang masih bingung tak bisa menentukan pilihan. Benar – benar cowok Libra, benar – benar tak tegas. Jadinya ya aku membuat ketegasan sendiri dari hubungan kami yang tak jelas ini: Pacar? Bukan. Teman? Lebih dari itu. Selingkuhan? Mungkin. 1 minggu ini sudah cukup bagiku untuk mengambil sikap. Ia membuatku tertawa, dan aku membuatnya nyaman dan tertawa. TAPI, selalu saja ada batasan untuk kopi, demikian juga untuk Lelaki Kopi.
Ini jalan terbaik memang. Aku bilang padanya semalam, “Kalo mo jalan deng sa serius, lepaskan semua ikatan cinta di masa lalu maupun kini yang mengikat dan sa juga akan lupakan dan tra akan bahas lelaki lain. Intinya, lepaskan apapun yang tra bisa bikin ko perasaan utuh jalan deng sa. Kalo tidak ya, selamat tinggal. Sa sayang ko tapi sa ingin lihat ko juga bahagia dan tidak kayak begini, karena nan tong dua sama – sama akan terluka pada akhirnya.”
Dan ia hanya bisa menjawab seperti yang kuprediksi sebelumnya: “Pagi May, sebenarnya z juga suka ko dari awal ketemu, dan lama – lama semakin suka ko, cuma z lagi bingung. Sorry …”
Entahlah, aku hanya bilang padanya bahwa aku sayang padanya, akan tetap mendoakannya, dan juga segala macam nasihat untuk jangan stress, enjoy his life segala macam. Entahlah … hanya ingin memastikannya baik – baik saja kala aku menjaga jarak darinya. Menyelamatkan hatiku juga agar jangan patah hati terlalu dalam bila saatnya memang tiba. Aku juga bilang padanya untuk jangan mengkhawatirkan diriku karena aku akan baik – baik saja, karena sudah terbiasa patah hati sejak dulu. Hal ini tak akan membuatku terpuruk lagi. Saat yang berat telah lewat jadinya ya I’m get used to it.
Hari ini, aku kembali lagi meresapi puisinya Nova Riyanti Yusuf ‘Rasa dan Masa’dalam novelnya ‘Mahadewa Mahadewi’ yang isinya begini:
Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari
Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya
Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan
Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.
Ya, itu saja. Yang pasti aku tak menyesali perasaan sayangku dan segala macam yang terlewati dengan Lelaki Kopi ini. I enjoy every second of it. HANYA, selalu harus ada batasan bagi asupan ‘kopi’ dalam hidupku. Sesimpel itu. Jadinya ya ini masa hibernasi kami dan tentu saja artinya aku kembali lagi dengan hobi lamaku: mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang bertaburan dimana – mana itu HAHAHAHAHA
Entahlah, aku akan baik – baik saja. Aku pahami itu dan sudah mengganti pola pikir alam bawah sadarku bahwa ‘aku bukan korban’ dari apapun dan ‘aku punya kontrol’ atas apapun yang terjadi atas hidupku agar bisa mengembalikan ritme moodku. Saat ini tinggal memilih sisi alter ego manaku yang hendak kuaktifkan, tentu saja usai beberapa jam menenangkan diri di alam, mungkin ke pantai atau perjalanan ke pinggir muara. Intinya, membuang energi negatif ke alam dan mencari Tuhan. Entah si Psycho Samantha, si Mellow May ataukah si Dayanara Meimosaki. Yang pasti, aku sayang Lelaki Kopi ini dan berharap ia baik – baik saja.
I (do) enjoy my life. Itu yang kutahu. Mungkin ini cara terbaik untuk menyayanginya, dengan menjaga jarak dan memantaunya dari jauh.
How about Psycho Samantha saja ya untuk hari ini? HAHAHAHA. Wahai lelaki – lelaki ganteng dan ‘hot’, Come to mama HAHAHA* kumat gatal iyo =D
(Manokwari, 260112; an overture indeed, gonna miss my Bob)
0 comments:
Post a Comment