Search This Blog

Loading...

Sunday, 22 January 2012

Kilas Seminggu - Life as it is

Seminggu terakhir saya melihat bagaimana di dunia ini cuma ada dua tipe manusia: orang baik dan orang jahat. Tergantung kita melihatnya dari sisi yang mana. Seminggu terakhir saat berurusan dengan para oknum a priori yang saya label ‘Imelda’ (Intel melayu dah) yang memburu teman lama saya dari Australia yang sedang berlibur dan melanggar privasinya di kamar hotel dan barang – barangnya, saya melihat bahwa oknum – oknum ini punya masalah dengan rasa aman dan rasa nyaman mereka dan memilih untuk membuang sampah emosi mereka dalam bentuk tindakan aksi yang merugikan hidup orang lain dan mengurangi kebahagiaan. Padahal, mereka salah target dan tentu saja merusak liburan dan perjumpaan dua teman lama.

Seminggu terakhir, saya melihat bahwa adrenalin yang dipacu dan bertemu berbagai tipe manusia juga mendewasakan emosi saya secara utuh, tetapi pada satu sisi membuat saya bertanya tentang tahapan yang sudah saya lewati. Sebuah pencapaian! Plus juga mengurangi kadar ketahanan tubuh. Akhirnya, mengontrak resmi malaria tertiana +1. Badan melayang, dan hari sabtu sukses menjadi bukti bagaimana saya harus ambruk. Ya meriang, demam dan menggigil. Sebuah cerita indah tentang malaria.

Hidup terus berlanjut dan saya melihat apa saja yang terjadi pada manusia di sekeliling saya adalah kehidupan itu sendiri. Dalam berbagai faset. Dalam tiap keping yang berbeda tetapi berbagi ruang yang sama dalam sebuah cerita waktu. Tetangga saya yang masih sepupu jauh yang ditengarai ‘dapa bikin’ dari orang pun dan tiba – tiba sakit pun kelimpungan dan meminta anak – anak kompleks untuk menjaganya pada malam hari. Mungkin saya sudah harus membuat cerita tentang keluarganya. Semoga apa yang menimpanya sekarang bukanlah buah dari apa yang dilakukan keluarga mereka pada keluarga orang lain. ya, semacam ‘keluarga mafia’ getho. Jadi, they have rights to do’something’ to others while the others don’t have the same right. Kira – kira begitu intinya. In the end, it’s always wealth becomes the only factor of change people characters.

Anyway, saya juga melihat bagaimana rencana pernikahan seorang sahabat dekat dengan anggaran cukup besar belum berjalan dengan baik. Prinsip saya sejak pulang dari OZ adalah “If you need something, just tell me. Kalo tidak, sa juga pura – pura mati saja.” Semua orang harus bisa mengungkapkan dan menceritakan apa yang mereka inginkan. Itu saja. Dalam pesta dan perencanaannya, ya saya membantu sesuai kapasitas dan permintaan, karena tak ada permintaan tambahan. Saya hanya membantu pembuatan slideshow foto, awalnya mau bikin video. Sayangnya, software filmnya bermasalah, kurangnya waktu untuk mengumpulkan komentar dan pendapat para teman serta ucapan selamat, daftar lagu yang belum beres dari yang punya hajatan jadinya bingung mo potong lagunya dan tentu saja juga konsep apa yang diusung. Intinya, sejak tahun ini, salah satu resolusi kecil dalam hal berbagi kasih adalah “don’t give the bait, just give them the rod!” Sedikit realistis memang tapi itu yang hendak saya tempuh. Saya akan membantu sebisa mungkin. Kalo tidak bisa ya sudahlah, life must go on!
Sore ini saya juga baru saja terjebak dalam ledakan ekspresi mahasiswa muda yang belum matang emosinya. Sialnya lagi, si cewek ini sebut saja si Queen itu adiknya sahabat saya (miss Classic) dan dia bermasalah dengan pacarnya si miss gaul. Sedang miss gaul juga notabene sahabat saya dan miss classic. Nah, kekasih si miss gaul, sebut saja si Korea pokoknya beberapa tahun lalu pernah pacaran sama si Queen, dan mungkin kebablasan jauh. Tahunya, sejak tahun kemarin si Korea yang notabene mahasiswa ini pacaran dengan miss gaul yang dosen sebuah universitas dan they fall in love deeply tanpa peduli dengan beda usia dan beda agama. Nah rupanya hubungan queen dan Korea serta miss gaul tak berlangsung baik dan they want to cover it from miss Classic. Tapi sayangnya, tadi saat kami bertamu dan membahas persiapan nikahan sahabat kami yang lain, dan miss gaul ditemani sama si Korea, dan miss classic lagi sibuk nyeduh teh, drama queen pun beraksi. Jadi, si miss gaul permisi ke toilet, miss classic nyeduh teh, dan Korea dan saya duduk di ruang tamu bersebelahan. Muncullah Queen dengan bercelana pendek, kaus model jaket dan memaki – maki dan mengusir Korea dengan histeris.

Guess what? Teriakan dan makiannya saya jamin bisa membangunkan mayat HAHAHA Jelasnya lagi, saya n Korea kaget setengah mati apalagi penghuni rumah lainnya. Especially usai si Queen teriak – teriak: “KELUAR! KELUAR! KELUAR DARI SA RUMAH. POKOKNYA KELUAR! “ pada bagian ini, saya pikir dia lagi usir anjing kecil dari rumah itu. E tahunya pas di bagian “SAPA YANG SURU KO DATANG KE SINI. STELAH KO BUAT SA BEGINI, BARU KO MO DATANG KE SA RUMAH. KO KELUAR! POKOKNYA KELUAR! CEPAT KELUAR!!!”. Walah, kacau lah semua. Ortunya mengamankan si cewek yang histeris kayak orang gila mengamuk. Miss gaul lari tergopoh – gopoh dari kamar mandi, minta maaf sama miss Classic dan berteriak, “FINE. KAMI KELUAR KOK!” Saya cuma bisa melongo. Tak sampai 5 menit, saya juga numpang permisi. Tak enak saja. Yang pasti, I’ll tell miss Classic kalo saya jadi direktur HRD, saya tak akan merekrut adiknya, make me scare setengah hidup lagi, n saya cuek bilang kalau si Queen childish abis. TAPI, saya juga bilang kalau yang terjadi tak akan mempengaruhi kami untuk jadi sahabatnya miss Classic kok. We’re still friends, cuma tak akan datang main ke rumah lagi. That’s all.

Prediksi saya, ini pasti karna urusan ‘perawan pica’ kok, biasanya buntut histeris yang sering saya lihat ya seperti ini. Kalau bukan ceweknya yang setengah mati depresi, e si cewek mo bunuh diri segala. Pokoknya ya sejenis itulah. Tadi ya saya kebagian edisi yang teriak histeris kayak anak kecil direbut lollipopnya. Kacau!!!

Akhirnya, catatan ini sudah harus ditutup. Mata terasa berat. Yang pasti inilah keping hidup yang terjadi. Apa boleh buat, dari dikejar dan diburu para Imelda, berurusan dengan urusan nikahan yang tak beres, hingga ketemu Queen hysteria. What a life!

(Manokwari, 170112)

0 comments: