PENGANTAR
Beberapa minggu lalu, pada sebuah sore, saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang berkelebat di benak saya, ya seperti biasa, sejenis pertanyaan filosofis yang hinggap. Pertanyaan itu sangat simpel dan membuat saya sempat tergeragap sendiri. Iseng – iseng, saya berbagi pertanyaan itu pada beberapa teman, dan ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan. Pertanyaan yang saya kirimkan adalah bagaimana mereka bereaksi bila dihadapkan pada situasi:
Jika hari ini anda tahu kalau hanya tersisa 3 jam untuk anda hidup, apa yang akan anda lakukan? Kondisinya adalah anda punya akses untuk kemana saja dengan pintu ajaib Doraemon, kartu debit tanpa limit. Bagikan ide anda!
Ya ini hanya acara ‘imajinasi lepas’. Toh saya berani melakukannya karena mengutip kata teman lama saya, Nia R.S., “pak polisi dong tra akan tangkap ko juga mo.” Ini rangkuman dari tanggapan teman – teman saya.
KONTEMPLASI
Beberapa teman saya memilih mengisi 3 jam tersisa itu dengan tidak melakukan apa – apa selain merenung di tempat yang ingin mereka pergi ataupun ‘do nothing’. ‘Cuma 3 jam juga’, mungkin itu yang ada di kepala mereka ya. Simak saja katanya Amos Sumbung, “Sayang banget cuman 3 jam, dengan pintu ajaib bisa kemana saja mengunjungi tempat yang belum dikunjungi terakhir tinggal 3 jam jadi mending merenungi perjalanan hidup, lumayan bisa bernostalgia sekaligus buat pengakuan dosa sebelum over LOL”. Hal yang sama juga dikatakan oleh Febry WD, “Kalau menurut saya, mending tidak usah (bikin apa – apa dan kemana – mana) karena hanya 3 jam. Kalau setahun bole, biar dipuas – puasin. Kalo cuma 3 jam, gak terasa oooo…”
I’M SORRY
Permohonan maaf di 3 jam terakhir juga dipikirkan oleh beberapa teman lain. Mereka sepakat untuk menggunakan 3 jam terakhir ini untuk menyelesaikan urusan ‘salah’ di dunia. Dari yang simpel hingga yang sedikit ekstrem, tetapi intinya sih tetap ‘pemberesan masalah’. Lihat saja Hasana Lakehu yang ingin 3 jam sisa itu untuk “Pergunakan untuk meminta maaf ke ortu. Aku banyak dosa nich …”, ataupun seperti kata Yani Sawaki yang maunya “pingin temui semua orang untuk minta maaf trus kalo ingin memberi apa saja bagi siapa yang membutuhkan.” Atau yang versi berbeda tapi sedikit ekstrem a la Vera Inggamer kala saya tanya dalam sebuah acara makan siang: “Selesaikan urusan dengan musuh – musuh lama, sa pukul dong yang tasalah dulu. Sampe puas. Trus abis itu sa minta maaf sama dong dan orang – orang yang salah. Sa juga mo babtis selam deh, biar lengkap ka ini.” Ya, ia cukup jujur dengan dirinya.
RELATION MATTERS & TRAVELLING
Manusia sebagai makhluk sosial terefleksi dalam jawaban beberapa teman yang ingin 3 jam tersisa dari hidup mereka dihabiskan dengan mereka yang terkasih dalam hidup mereka. Entah orang tua, entah sahabat, entah kekasih. Tak hanya itu, mereka ingin mengisinya dengan berbagai kegiatan di berbagai tempat. Saya melihat bagaimana hubungan emosional dengan yang terkasih sangat berarti dalam hidup teman – teman saya ini.
Tri, sahabat saya sejak SMP ingin 3 jam yang tersisa itu diisi dengan “make my family happy. Go out with them, jalan2.”. Hal yang sama juga ingin dilakukan oleh Evert Merani, teman saya di Mamberamo sana, “Z akan langsung ketemu orang- orang yang sa sayang hehehe”. Setali tiga uang, Icha Warami menambahkan bahwa ia ingin untuk memakai 3 jam itu untuk “menggunakan kebersamaan bersama dia yang amat kita sayangi.”
Dalam acara ‘imajinasi’ ini, saya memberikan dua akses bagi teman – teman saya yaitu ‘pintu ke mana saja’ dan juga’kartu debit unlimited’, rupanya ‘dimanfaatkan’ oleh para teman. Intip saja jawaban Arie May yang ingin – jalan sambil menemani yang terkasih, “menemani mama ke tempat yang dia mau. Yang sa tau, mama ingin ke New York dan Yerusalem. Berarti kami akan ke sana :D”. Bila Arie May ingin menemani mamanya jalan – jalan ke luar negeri, si Adnan, teman saya di Bintuni, hanya ingin “saya mau ketemu mama saya, belikan dia apapun yang dia inginkan, bahagiakan dia sebelum waktuku habis.” Ada juga teman saya yang protes karena saya hanya memberikan ‘konteks 3 jam’ dalam acara imajinasi ini, jadinya Eny Arilaha, mantan teman kuliah S1 ini pun awalnya sempat protes. Namun, keluar juga jawabannya, apalagi kalau bukan, “ 3 jam? Aeeee…3 hari ka :D Ok, kalau hanya 3 jam, ajak keluarga/teman – teman ke tempat yang punya view bagus, trus foto – foto + makan di tempat yang punya kuliner yang enak :D”.
Masih ada lagi jawaban lain yang tak kalah ‘ajaib’nya dari teman – teman saya yang lain. Rupanya sudah ada rencana dalam pikiran mereka. Lihat saja rincian apa yang akan dilakukan oleh Titien Liwutang, pekerja bank Mandiri di Manado sana, “Kalo kita akan pake 3 jam itu untuk: 1 jam kumpul sama keluarga, 1 jam pake pintu kemana saja untuk ke Yerusalem, 1 jam ke Grame, beli smua komik, buku, n novel pake kartu debit.” Atau juga kulik jawaban Ririe Angganita yang mengembangkan fitur ‘pintu ajaib’ dan menyulapnya jadi ide romantis untuk 3 jam tersisa, “Hmmmm dengan pintu ajaib z akan ke masa depan bertemu dengan pria yang jadi z pu belahan jiwa, lalu dengan kartu kredit tanpa limit itu z akan beli kembang api yang paling mahal dan megah. I’ll spend that last 3 hours sitting with him, holding him n watching the fireworks.” WOW!!! Kayaknya saya ingin juga bergabung di sana HEHEHE tapi gabung – gabung nonton kembang api sambil ngopi =D
Anyway, masih ada lagi jawaban dari dua teman lainnya yang juga ingin memakai 3 jam tersisa ini dengan perjalanan. Dari beberapa jawaban teman saya ini, tak hanya tempat wisata yang menarik atau sentimental tetapi rupanya konsep ‘Tanah Suci’ itu juga membekas di hati mereka. Jadinya sebagai penganut agama Sawawi, mereka rupanya terilhami untuk juga pergi berkunjung ke tempat – tempat tersebut. Simak saja kata Sherly Rumngewur, “Jika z punya waktu hanya 3 jam, hal pertama z ingin ke Belanda dan Roma Vatikan bertemu bapa Paus. Setelah itu ketemu Ian Kabes (pemain Persipura) berfoto dengannya biar diabadikan smile … Pada bagian ini, saya mau bilang sama kak Sherly, ‘sampaikan sa salam untuk Ian Kabes juga eee, de ganteng jadi HEHEHE’.
Sahabat saya, Riana Karubuy, tak mau kalah dengan imajinasi ekstrimnya yang feminis campur liberal itu hehehe. Dia bilang, “Cuma 3 jam? Cari orang yang berkualitas buat bikin LSM buat perem – perem muda dan brainwash dong pu otak tentang urusan dignity Vs Pe**. Pastikan anak – anak korban perang di Afganistan dan Palestina have better life and future. Terakhir sa mau ke makam Rasul dan meninggal di sana dalam keadaan bertasbih . Tambah lagi, sebelum ke makam Rasul, sa mau ke Vatikan n merit sama Jes di sana :D”. Ekstrem pemimpi tingkat tinggi!!! HAHAHA. *dilarang protes.
HOW ABOUT ME?
Well, entahlah, bila saya sendiri yang dihadapkan dalam situasi 3 jam terakhir dengan konteks lengkap dengan ‘pintu kemana saja’ dan ‘kartu debit unlimited’, mungkin yang saya lakukan adalah selain membuat penawaran pada ‘yang punya napas’ kalau saya ingin meninggal menjelang senja di Manokwari pada musim panas jadinya ya waktu saya hanya tersisa dari pukul 3 – 6 sore:
“Jam pertama, Pergi ke pusat perdagangan emas entah di mana, beli emas batangan 10 KG, dan investasikan di bank lokal dalam bentuk tabungan deposito emas dengan rincian 8 KG atas nama 4 keponakan saya guna menunjang pendidikan mereka di masa depan dan 2 KG nya untuk 2 yayasan pendidikan anak dan perempuan di Tanah Papua; Jam kedua, mengajak 4 keponakan saya dan keluarga pergi ke Canberra dan mengunjungi kampus saya dan berfoto di beberapa landmark Canberra, Sydney, Melbourne dan tak lupa kampus saya. Hal ini demi memompa semangat para keponakan untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengejar mimpi mereka. Jam ke tiga, membeli setermos kopi panas dan cokelat panas dari gerai kopi terkenal entah dari negara mana dan beberapa potong sagu karamel, duduk di tepi pantai utara khususnya di pantai yang menjadi hak ulayat keluarga mama, beralaskan tikar dan memeluk para keponakan kecil dan menikmati kopi dan cokelat panas bersama mereka serta keluarga yang menemani dari kejauhan dan kami menanti datangnya senja. Tak lupa juga ada acara foto bersama HEHEHE.”
SIMPULAN
Ada banyak hal yang hendak dilakukan, diimpikan oleh saya dan para teman bila dihadapkan pada situasi 3 jam yang saya beri. Apapun yang mereka tulis dan bagikan pada saya adalah sesuatu yang membuat mereka merasa bahagia dan mengajarkan serta menunjukan faset – faset kehidupan mereka sebagai manusia. Yang saya tahu, hidup penuh misteri dan begitu singkat serta tak pernah dapat diprediksi hasil akhirnya. Konteks 3 jam hanyalah konteks imajinasi yang saya beri, di dunia nyata kadang kita bahkan tak pernah tahu kapan waktu terakhir kita. Yang bisa saya pelajari dan ambil dari komentar teman – teman saya ini dapat saya simpulkan sebagai berikut: NIKMATILAH HIDUP SELAMA KITA MASIH HIDUP, BAGIKAN KASIH PADA YANG KITA CINTAI SELAMA MASIH ADA WAKTU dan BERUSAHA BERBUAT KEBAIKAN SELAMA NAFAS MASIH ADA karena hidup adalah misteri.
Saya pun teringat sebuah perkataan dalam bahasa Inggris, “Work like you don’t need money. Love like nobody has ever hurt you. Dance like nobody is watching. Sing like nobody is listening. Live as if this was paradise on Earth.” Itu saja.
Bahas mero.
(Manokwari, 300112)
0 comments:
Post a Comment