Search This Blog

Loading...

Sunday, 22 January 2012

Benang Merah

Entahlah. Bagaimana memulai catatan ini. Kali ini ditemani dengan suaranya Adele dalam lagu yang sama: “Someone like you”. Sialnya, hanya lagu ini yang sanggup menemani dan mengembalikan semangat menulis dan terapi dari kegalauan ini. Entahlah.

Entahlah, aku bingung bagaimana menaruhnya dalam kata, bagaimana mentranskripsikan apa yang sedang bergejolak di hati. Kala logika dan rasa tidak sejalan, kala kenangan masa lalu bererupsi dalam dinamika masa kini, kala alam bawah sadar masih tetap sama. Maaf, ini bukan tentang Lelaki Hujan, bukan lagi. Tapi tetap benang merahnya sama dan aku benci dengan rasa ini, sangat benci.

Ada yang bilang kalau jatuh cinta atau cinta itu menyenangkan. No, thanx. I don’t buy it! Entahlah …

Beberapa hari ini, ada hal baru yang terjadi dan aku tak bisa menulisnya dalam catatan ini. Bukan tentang cinta dan semoga memang bukan. Karna hatiku masih berdarah dan luka di dalam. Entahlah, apa memang catatan ini tentang cinta. Entahlah. Begitu bodohnya juga bila menyebutnya cinta. Mungkin kegilaan sesaat. Entahlah. Aku paling menyukai kata ini: ENTAHLAH …

Bila ada yang bertanya padaku tentang cinta, aku punya deskripsinya sendiri: CINTA ITU MAHAL. SEMAHAL LUKA! Iya, karena sewaktu kita sampai terluka, katakan saja ada irisan di tubuh kita. Yang ada, harus mencari obat untuk menyembuhkan, untuk mengobati dan paling penting untuk menghilangkan rasa sakit itu. Belum lagi harus mencari cara menghilangkan bekas luka itu walau dijamin tak akan sempurna karena sudah ada luka yang menggurat dalam lapisan – lapisan membran itu. Entah kecil, entah besar. Entah dalam, entah dangkal. Tapi terlanjur ada luka di sana. Entahlah! Dan aku tak mau ada lagi luka di hatiku karena urusan cinta. That’s enough!

Catatan ini tentang dia. Iya, dia yang bukan Lelaki Hujan dan juga bukan Lelaki Subuh. Dia yang bahkan sebenarnya memang bukan siapa – siapanya diriku. Entahlah, aku sudah memintanya untuk stay out of my life walau memang selalu diawali dengan perasaanku yang berat kala mengatakan hal itu lewat pesan – pesan pendek. Entahlah. Beberapa hari ini ia kembali datang dalam hidupku lewat pesan pendeknya yang akhir – akhir ini selalu muncul di kala hujan deras. Sial! Ya pesan singkat yang isinya cuma singkat intinya: ‘Z kangen ko’. Sh**!!!! I hate this feeling. Karna entahlah resistensiku pun luntur. Dan kami kembali mengobrol, dan selalu tentang kabarnya yang selalu ‘stress’. Allow, May, lelaki yang dekat dengan ko kan bukan hanya diam tapi entahlah kenapa juga ko selalu rentan dan tak bisa menolaknya pesannya. Atau HAPUS saja. Toh kau selalu sukses menghapus nomor ponselnya. Mencatatnya kembali. Menghapusnya! Menaruhnya kembali.

Hari ini, aku kembali merasakan bagaimana perasaanku kembali lebur dalam pertempuran logika dan perasaan, sama seperti bertahun – tahun lalu kala berhadapan dengan Lelaki Hujan. Dan jujur, aku benci bila harus kembali pada situasi itu. Sangat benci!

Benang merah pun mulai muncul. Sial! Ia begitu mirip Al. Baru menyadarinya malam kemarin dalam bincang – bincang kami. Mungkin itulah sebabnya sejak awal mengenalnya, entahlah …. Seperti mengenal sahabat lama. Sial! Itu gaya Al, gaya si Lelaki Hujan. Entahlah. Kenapa juga bisa terjebak dengan tipe yang mirip, yang sama, yang bikin resistensi runtuh. Sial! Dan selalu saja pada akhirnya berbenturan dengan tembok logika yang dibangun bertahun – tahun usai pernikahan Al: self-protection. Tembok yang kubangun sejak pertengahan 2008 bahwa nobody loves me expect God and my self. Benteng yang kubangun untuk melindungi diri sendiri. Sialnya, rasa kurang ajar ini masuk lagi kembali, rasa yang membuatnya mabuk kepayang, rasa yang membuatku tak bisa berpikir jernih. Impulsifku jelas saja kumat ditambah lagi dengan obsesiku. Damn! Aku tak ingin lagi merasakan apa yang kurasakan dengan Al dulu terulang lagi. 3 tahun lebih waktu yang cukup lama untuk melepas kenangan pahit manis itu dan aku tak ingin lagi berada di dalam situasi seperti itu. Tidak lagi!

Entahlah, aku juga tak tahu apa yang dipikirkannya kala mengirimku pesan – pesan itu. Ungkapan kesepian dan mencari hiburan? Aku tak tahu. Mungkin juga cuma iseng. Entahlah. Tiap kali pesan itu masuk selalu saja aku sedang berada dalam kondisi dimana sedikit stress dalam menjalani pilihanku untuk tetap hidup, pilihan untuk bertahan dalam realitas hidup yang sedang kutunggu dan hidup dalam pengejaran mimpiku. Entahlah. Dan satu pesan kecilku sudah cukup membuatku merasa ‘ada yang mengingatku saat ini’. Sh**!!!

Entahlah, ia selalu berhasil memunculkan dua pertentangan hatiku. Rasaku yang tak pernah bisa pakai hitung – hitungan untung rugi bila dekat dengannya, dan logika yang kencang banget mengingatkan dan memutar ulang semua rasa sakit dan luka yang mengkristal akibat satu rasa bernama cinta. Aku harus bisa mengenali perasaanku sendiri. Tak boleh ada cinta! Tak boleh.

Semalam sahabatku bilang begini: “Jatuh cintalah sayang. Ko hanya perlu orang yang sayang ko. Itu lebih berharga dari apapun. Itu juga tiket untuk let go of our past… =) “. Iya memang benar. Tapi pengalaman tahun kemarin pun mengajarkan padaku untuk berhati – hati dengan komitmen serta perasaan cinta yang kupunya, apakah itu memang cinta atau hanya nafsu dan niat menjadikan orang lain pelarian. Itu yang wajib kutahu. Tak ingin kecewa, sakit hati dan tentu saja terluka. Belum lagi investasi waktu dan kenangan serta mimpi percuma. Itu mungkin yang membuatku sedikit menutup diri pada tiap titik dimana ada respon ‘baik’ dari orang lain. Entahlah.

Di luar kamarku sekarang, langit sedang mendung. Kelabu! Entahlah, sama dengan hatiku saat ini. entahlah baris – baris kata ini bahkan tak sanggup menghiburku. Aku ingin laut hari ini, ingin pergi jauh ke pantai. Mungkin sedikit balapan. Melepas semua rasa yang membebani diri. Sialnya lagi, malariaku belum benar – benar hilang karena beberapa hari ini aku kembali lagi drop. Entahlah.

Dia yang sekarang, entahlah…. Memunculkan benang merah yang menggumpal dalam rendaman luka. Dia begitu mirip Al. Entahlah … Sial. Harusnya aku tak perlu membalas pesannya, bukan? Karena pada akhirnya aku akan selalu berada pada titik dimana aku merindukannya sangat. Dan jujur, aku tak mau merindukan siapapun kecuali keluargaku. Karena selalu ada luka yang hadir kala merindukan dengan memakai ‘rasa’ bila orang tersebut tak harusnya kita rindukan, bukan?

Aku cuma takut kalau sekarang aku mulai tak jujur pada diriku. Kata sahabatku beberapa malam lalu, ia bilang bahwa mungkin aku terlanjur mencintai ‘dia’ yang mengirimku pesan itu tetapi tak bisa mengakuinya atau memang menolaknya setengah mati hanya karena dia bukanlah tipe cowok yang kuinginkan. Entahlah. Aku memang selalu bercerita dengan sahabatku sejak SMP ini dan ia bilang bahwa aku sedang jatuh cinta tetapi setengah mati menyangkal rasa yang ada yang di hatiku. Entahlah. Ia bilang karena aku selalu bercerita dengan semangat tentang dia yang selalu membuatku ketawa dan tersenyum dengan SMSnya, entahlah.

Entahlah … cinta itu mahal, semahal luka. Bagiku, itu cukup jelas. Aku takut jatuh cinta. Itu saja. Entahlah, aku bahkan sudah tak percaya bahwa di luar sana akan ada seseorang yang benar – benar mencintaiku dengan tulus, bukan karena fisik, gengsi dan segala macam hal yang ada di dalam diriku. Ya terdengar sulit. Bahkan pacar seorang sahabat kecilku kala pertama kali bertemu aku beberapa minggu lalu bilang terus terang pada sahabatku, “May, de ‘keras’ skali eee. De harus dapat orang yang benar – benar mengerti dia.” Entahlah.

Catatan ini harus kuakhiri juga. Entahlah. Bagaimana ke depannya. Aku selalu mengatakan sesuatu padanya dan kemudian menyesali apa yang kukatakan, dan membatalkannya. Mengubah pikiranku. Entahlah. Tak lagi berani mengambil risiko. Entahlah. Dia begitu membuatku nyaman, menikmati pembicaraan kami, menikmati rasa humor yang dibuatnya, membuatku merasa feel damn good. Entahlah. TAPI, selalu saja ada rasa takut dan kecewa yang menjalar di hati. Takut salah. Takut gagal, takut harus jatuh cinta dan menjalani konsekuensi yang sama dengan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu dan pada akhinya … BANK!!! GAGAL!!! Beberapa kali menjalani komitmen dan selalu gagal berantakan memang nama lain hubungan cintaku. Entahlah.

Perasaanku sendiri padanya, entahlah …. Mungkin terlanjur sayang. Itu juga yang ditebak oleh beberapa sahabatku. Entahlah. I do care padanya, entahlah. Selalu menanyakan kabarnya pada saudara jauhku. Sometimes pray for him. Tak ingin terlalu terlihat peduli sebenarnya. Entahlah. But miss him badly. Entahlah. What do you call this feeling? Yang aku tahu, aku tak punya keberanian lagi untuk menjalaninya.

Yang pasti, aku sedang berada pada titik “Entahlah” dengan perasaan ini. Tak ingin lagi ada ‘rasa kecelakaan’ saat aku juga tak pasti dengan perasaannya padaku. Tak ingin berjudi dengan perasaan walau yang kutahu ia selalu sukses membuatku nyaman.

Entahlah!

(Manokwari, 220112; thinking about Bob, usai Saturday Night Fever)

4 comments:

Fanny Chaniago said...

Halo!! aku ga sengaja menemukan blog mu, dan tulisanmu di atas membuat aku tersenyum-senyum. Mungkin kondisi agak sama (walau sedikit berbeda alur) terjadi di sini bersamaku. And I dont know why, I just want to make contact with you, friend from Papua :) If you okay with that, could you email me to fanny.yulia88@gmail.com. Aku ga menemukan alamat emailmu di sini.
And one thing, I feel regret did not choose Papua Barat as my verification region and I gave that chance to my friend. I read your post about Voluntourism, and It's touching :)
looking forward to hearing a reply from you.
Thank you.

Anonymous said...

hm...kisah-kisah inspiratif di blog ini..aku juga baru pindah tugas ke papua barat (manokwari)..iseng2 gugling n ketemu blog ini..lumayan bikin seger n lumayan merubah cara pandangku terhadap daerah ini...

Anonymous said...

nice blog......ternyata manokwari menyimpan penulis-penulis andal...

meimosaki said...

@Fanny: mmmh setahu saya ada alamat e-mail saya kok, di dayanara9@gmail.com

@Anonim: Mungkin saja pernah ketemu hehehhe. Manokwari tetaplah kota kecil :) Salam kenal :)