Seminggu lalu, saya menulis tentang pohon dan emosi kesedihan saya yang merasa kehilangan dan memikirkan tentang pohon – pohon yang jadi korban dalam peristiwa ‘bakar dan palang 20 Desember’. Pada subuh tanggal 21 itu sebenarnya usai mengeluarkan emosi kesedihan saya yang terpendam, saya bertanya pada Tuhan tentang bagaimana Ia memandang arti pohon. Di subuh itu, dalam Saat Teduh, saya mendapat banyak hal menarik tentang pohon dan bagaimana hubungannya dengan budaya dan alam serta peran pentingnya dalam kehidupan perjalanan beberapa tokoh di Alkitab. Catatan tentang hal itu sebenarnya sudah harus saya buat tetapi karena kesibukan saya menjelang Natal maka saya baru dapatmengumpulkannya dalam catatan ini. Saya bersyukur minggu lalu diajar untuk melihat bagaimana pentingnya pohon dalam kehidupan karena Alkitab mencatat beberapa nama pohon dan peran mereka. Catatan berikut ini mungkin tidak terlalu runut dan komprehensif tapi ini adalah sebagian hal yang berhasil saya catat. Hanya sebuah catatan biasa tetapi sangat menguatkan saya bahwa saya tidak salah dalam mencintai pohon dan tidak ada salahnya bersedih semalaman untuk pohon – pohon yang ditebang itu. Anyway, ini beberapa hal yang berhasil saya dapat dari Saat Teduh saya subuh minggu lalu yang berhasil saya ambil dari coretan Saat Teduh saya:
#1. Pohon adalah sumber makanan pertama dan utama di dalam Taman terbaik di dunia: Taman Eden (Kej 2:9);
#2. Tuhan menciptakan pohon dengan fungsi – fungsi yang ajaib dan menakjubkan, al: pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Kej 2: 9, Kej 2: 16-17), pohon kehidupan (abadi?) (Kej 2:9; Kej 3: 22 – 24), serta pohon yang daun – daunnya dapat dipakai untuk menyembuhkan banyak penyakit maupun menjadi sumber makanan abadi (Yeh 47:12 -);
#3. Dalam kemarahan Tuhan dalam kisah Air Bah pun, Pohon (atau tumbuhan) tidak termasuk dalam ciptaan yang dimurkai atau disesalkan Tuhan atas terciptanya organisme ini (Kej 6: 7) tetapi bahkan menjadi sebuah indikator bahwa bumi sudah aman untuk kembali ditempati oleh manusia pasca air bah e.g. adanya daun Zaitun segar di paruh burung Merpati (Kej 8: 11);
4# Apa jadinya nasib manusia ditinjau dari kisah Alkitab kalau tak ada pohon dalam kisah bencana Air Bah. Memangnya sudah ada speedboat atau kapal selam pada masa itu? Untung ada kayu yang diambil dari pohon Gofir (Kej 6: 14);
#5. Tuhan kerap memilih hadirnya pohon sebagai sebuah simbol dari sebuah kejadian penting, al: Allah pertama kali menampakan diri pada Abraham di Kanaan dan kembali menjanjikan ‘Tanah perjanjian’ kala Abraham berhenti di sebuah pohon Tarbantin di More, dekat Sikhem (dalam terjemahan Alkitab terjemahan Good News Translation; pohon Tarbatin ini disebut sebagai salah satu pohon suci) (Kej 12: 6-7); Allah juga menampakan diri pada Abraham untuk memberikan janji tentang kelahiran anak perjanjiannya (Isak) di areal pohon Tarbantin di Mamre (Kej 18: 1);
#6. Pohon pun kerap ditanam untuk dijadikan lambang dari sebuah perjanjian, al: kala Abraham dan Abimelek mengadakan perjanjian damai antara mereka, Abraham menanam sebuah pohon Tamariska (Kej 21: 33);
#7. Tuhan memilih kayu dari pohon tertentu sebagai persembahan baginya ataupun sebagai lambang kehadirannya, al: Kayu Penaga (sejenis kayu Acacia/GNT) sebagai salah satu persembahan khusus Kemah Suci (Kel 25: 5) bahan pembuatan tabut perjanjian (Kej 25: 10) bahan meja roti sajian (Kel 25: 23); bahan papan/kerangka dalam kemah suci (Kel 26: 15, 26, 32) , bahan mezbah korban bakaran (Kel 27: 1,6), bahan mezbah pembakaran ukupan (Kel 30:1);
#8. Beberapa kejadian di dalam Alkitab khususnya di dunia Perjanjian Baru terjadi dengan melibatkan pohon, al: Ingat bagaimana si Zakeus yang berpostur pendek hendak melihat Yesus, dengan memanjat pohon Ara* (Luk 19: 4); Yesus mengutuk pohon Ara (Fig Tree) yang hanya banyak daunnya tapi tak ada buahnya (Mat 21: 18-22) ataupun menggunakannya dalam perumpaan (Luk 13: 6-9).
Anyway, tolong diperhatikan bahwa untuk pohon Ara dalam kisah Zakeus, menurut saya pribadi, saya lebih condong merujuk terjemahan pohon ini BUKAN sebagai pohon ARA seperti terjemahan LAI tetapi seperti terjemahan Good News Bible adalah pohon Sycamore (bisa diterjemahkan sebagai pohon Sikamor atau mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia ataupun nama Latinnnya). Pandangan saya sebagai seseorang yang mendalami studi terjemahan dan penerjemahan Alkitab pernah juga dipelajari dalam sebuah topik bahasan kuliah Master saya, saya lebih setuju untuk mengesampingkan terjemahan pohon ini sebagai pohon Ara yang lebih banyak merujuk pada pohon Fig yang menghasilkan buah dan lebih setuju bila melihat pohon yang dipanjat Zakeus sebagai pohon ‘Sycamore’ karena sepengetahuan saya yang pernah tinggal di negara empat musim, pohon fig itu tidak terlalu kuat dan lumayan kecil untuk menopang tubuh manusia dan sangat berbeda dengan pohon Sycamore yang lumayan besar dan kuat dan sering menjadi pohon peneduh.
#9. Yesus pernah menyuruh manusia untuk berkaca dan mengambil pelajaran dari kehidupan pohon, khususnya terkait dengan BERJAGA – JAGA (Luk 21: 29 -32);
#10. Yesus mengumpamakan dirinya sebagai ‘POHON’ dalam hal ini lebih kepada tanaman Anggur (Yoh 15: 1-17) yang walaupun bukanlah tanaman berkayu asli seperti pohon lainnya, tetapi mempunyai ciri yang sama: berdaun, berbunga dan berbuah serta menghasilkan biji. Ia juga menggarisbawahi pentingnya adanya ‘cabang yang menghasilkan BUAH’.
#11. Tuhan juga menganggap penting peran pohon karena bahkan dalam penglihatan Yohanes di kitab Wahyu (Wah 11: 4 -6), salah satu simbol dari saksi Tuhan yang diutus adalah dua buah pohon Zaitun yang berdiri di hadapan Tuhan dan mempunyai kekuatan al: mencegah adanya hujan, mengeluarkan api dari diri mereka dan juga kekuatan untuk mengubah air menjadi darah ataupun menciptakan tulah apapun dan mereka juga harus bertugas mewartakan kesaksian tentang Tuhan.
Anyway, pada bagian ini, saya melihatnya juga sebagai simbol bagi manusia yang harus menjadi seperti ‘Pohon’ Zaitun ini. Bukankah kita sebagai orang Kristen diharapkan menghasilkan buah yang ‘baik’ (buah – buah roh) dalam hidup kita? Bukankah kita diharapkan bersaksi tentang Kebaikan Tuhan dalam hidup kita? (bandingkan: Mat 28: 19-20; Maz 102: 18);
#12. Tuhan kerap memakai POHON sebagai BAHAN PERUMPAMAAN bagi manusia, misalnya untuk menggambarkan sebuah keluarga. Tentu saja ini bukan sekedar merujuk pada pohon keluarga ya hehehe. Tapi pada metafora dari garis keturunan Daud yang juga merujuk pada Yesus pada akhirnya yang diumpakan sebagai ‘pohon’ (Yes 11: 1). Dapat pula menggambarkan penghukuman Tuhan pada manusia khususnya Israel ataupun bangsa lain sebagai POHON yang ditebang ataupun dihancurkan, lihat saja ia mengumpakan Israel sebagai pohon yang dipanen (Yes 17: 6; Yer 8: 13, 11: 16), ataupun bangsa Etiopia sebagai pokok anggur (Yes 18: 5), ataupun pada bangsa – bangsa lain (Yes 24: 13; 27: 10-11). Bahkan dapat pula dipakai untuk menggambarkan manusia sendiri yang panjang umurnya (Yes 65: 21-22)
#13. Pada akhirnya, di dalam Alkitab, pohon tetaplah menjadi salah satu ELEMEN SURGA YANG PENTING (Yerusalem baru) karena tampaknya Tuhan memang pecinta pohon, coba lihat adanya pohon – pohon kehidupan di tiap sisi sungai air hidup yang mengalir di tengah jalan kota baru (Yerusalem Baru) itu (Wah 22: 2). Pohon ini daunnya dipakai sebagai penyembuh. Selain itu, perlu dicatat bahwa pohon kehidupan adalah salah satu dari UPAH atau hak untuk orang Kristen yang ‘baik’ (Wah 22: 14).
Saya bahkan mendapatkan sebuah peringatan keras dari Yohanes dalam bagian terakhir kitab Wahyu terkait peran pohon bahwa bila ada yang menyimpangkan perkataannya maka tak akan mendapat bagian dari POHON kehidupan (ada dua bagian hadiah yang diperoleh yaitu pohon kehidupan dan kota kudus) (Wah 22: 18-19);
#14. Meskipun POHON sangat penting dan banyak dicatat dalam Alkitab, TUHAN dengan jelas MELARANG manusia MENYEMBAH POHON baik dalam bentuk pohon (Yer 3: 9) maupun produk turunannya e.g. patung ukiran dari pohon (Yes 44: 13 – 20; Yer 10: 3 - 5). Ya, for me it makes sense ya HEHEHE.
Jadi, bacaan ini membuat saya teringat pada beberapa kepercayaan lokal yang pernah saya temukan terkait produk turunan pohon termasuk kertas (iya, kertas kan terbuat dari bubur kayu), misalnya yang mengatakan bahwa ‘berdosa’ menjatuhkan Alkitab ataupun juga Alkitan sebagai ‘senjata’ yang ditaruh di dekat kepala misalnya bayi atau anak kecil untuk melindungi mereka (Allow, saya tidak percaya hal ini karena bagi saya Alkitab dalam bentuk buku hanyalah sebagai media saja tetap Firman di dalamnya yang dibaca dan ‘dihidupkan’ lewat perbuatan itulah yang penting; esensinya yang penting. Alkitab saya malah seperti buku harian saya yang penuh coretan sana – sini, kertas post-it dimana – mana dan goresan stabillo).
Saya juga paling tidak suka nonton film Vampir yang menjadikan SALIB sebagai senjata atau kadang juga pendapat ini secara tersirat diyakini oleh beberapa orang Kristen yang saya kenal padahal untuk ngusir setan cuma 3 hal (Kuasa Nama dan darah Yesus serta kesaksian kita tentang hal itu).
Anyway, saya juga salah seorang yang menentang penggunaan pohon Natal sebagai salah satu elemen penting perayaan Natal yang notabene milik Kristus, yang mana selalu saja pesta natal tak bisa berlangsung tanpa adanya pohon ini. Please deh, bisa tuh pohon ini jadi simbol ulang tahun Yesus? Penggunaan pohon ini kan tak lain taktik awal perayaan natal di Eropa (kalo tak salah di Jerman) dimana penyembah agama non-Kristen di sana menyembah pohon. Aduh sebagai orang Kristen, saya tak mau kelak suatu hari nanti Tuhan bertanya seperti yang saya baca di dalam Yeremia 3: 13. Ogah lah!
HAL LEPAS LAINNYA:
Saya juga masih punya beberapa pertanyaan terkait pohon dalam Alkitab, antara lain:
#1. Apakah Yudas mati menggantung diri (bunuh diri) itu di dahan pohon atau tidak? Atau di kontruksi rumah? (Mat 27: 5). Sedikit penasaran dengan konstruksi rumah orang Yahudi di masa Yesus saat itu. I will search about it ^_^
#2. Tampaknya kehidupan Yesus sebagai manusia, sangat erat kaitannya dengan pohon (dalam hal ini merujuk pada produknya; kayu) karena sejak lahirpun ia ditempatkan pada sebuah PALUNGAN (baca: tempat makan hewan) (Luk 2: 12, 16) maupun berakhir di sebuah SALIB (Luk 23: 26-32). Pertanyaannya, Apakah palungan maupun Salib; yang dipakai untuk menyalibkan Yesus dan pada akhirnya dipakai sebagai lambang penderitaan Yesus dan Kekristenan, terbuat dari Kayu yang notabene adalah produk pohon? Indikasi pada masa itu apabila salib terbuat dari kayu maka Pasak bisa dipancangkan melewati tangan Yesus ke dalam materi salib itu sendiri (BELUM KETEMU AYATNYA, JADI INI ASUMSI);
Pada bagian ini, saya pun teringat pada hidup manusia itu sendiri, khususnya bagi orang Kristen di Papua. Saat lahir, umumnya kita dilahirkan dalam sebuah ruangan yang berunsur kayu, entah dindin ataupun tempat tidur yang dipakai, dan toh pada saat matinya kita pun, dikuburkan dalam sebuah peti dari kayu. Betapa dekatnya kita dengan pohon ^_^
Jadi, sebagai orang Kristen yang baik, bukankah tak salah bila kita mencintai pohon dan menghargainya sebagai sesama ciptaan Tuhan, bukan?
Betapa dekatnya kita dengan pohon!
(Manokwari, 281211)
Wednesday, 28 December 2011
Hujan Malam, Pernikahan, & Hubungan
Hari ini saya menghabiskan tidur hingga 14,5 jam tanpa henti. Iya, tidur pukul 2 pagi dan bangun jam 6.30 malam. Benar – benar melewatkan matahari hari ini. Saya mungkin sedang stress tanpa saya sadari sebenarnya. Reaksi tidur ini saya pikir dipicu karena saya jarang beristirahat dengan teratur dan kelelahan bersilahturahmi plus terlibat dalam urusan emosi sehingga membuat saya cepat lelah.
Belum sejam bangun, tiba – tiba ada saja yang terjadi. Saat hujan sedang deras turun di malam hari, seorang sahabat saya menelpon kalau mamanya beberapa saat lalu dipukul oleh iparnya di pinggir pantai rekreasi. Iya, ini sahabat saya sejak kecil. Walau nyawa masih setengah, tidak mandi, saya pun menerobos hujan deras dan bermantel mengendarai motor saya ke rumahnya. Mendengar cerita dan setidaknya memberikan dukungan. Guess what? Beberapa jam tadi saya berada di dalam sebuah situasi emosi dimana memposisikan diri saya sebagai pengamat dan pendengar dari kerumunan anggota keluarga yang sangat marah.
Pasti anda tak percaya apa yang saya lalui. Sekitar 1 jam dari acara berkunjung itu, dalam hujan deras, saya pun menemani sahabat saya, lengkap dengan adik lelakinya dan juga mama mereka plus nantinya disusul oleh keluarga besar mereka pergi menanyakan duduk perkara ke rumah ipar mereka itu di daerah Kampung Ambon. Intinya, pada akhirnya kejadiannya berlangsung dan berakhir sangat runyam. Saya menjadi pengamat dan hanya memantau. Sialnya, sampai di sana, saat adik lelaki sahabat saya dan mamanya hendak menanyakan duduk persoalan pada iparnya, e keluarganya mengusir rombongan ini dan semakin runyamlah acara. Yang pasti, malam itu, berbasah – basah dalam deras hujan malam, saya menyaksikan bagaimana acara ‘kunjungan’ bakalai itu bubar karena kakak si ipar mengamuk mengusir dengan parang, mama si ipar mengejar kerumunan keluarga sahabat saya ibarat mengejar anak ayam dengan payung dan sebongkah batu karang besar plus adegan ‘banting – banting panci’ dari mama sahabat saya. Tentunya ada banyak kerumunan orang yang menonton. Urusan pun dilanjutkan ke kantor polisi, tapi tak selesai karena pihak polisi pun tak berniat mencatat urusan pemukulan di pantai, pengejaran dengan parang ini dan seakan tak peduli. Sangat aneh!
Terlepas dari bagaimana kisah drama yang akan sangat panjang sekali bila diceritakan ini, saya mengambil satu kesimpulan yang sangat jelas: BERHATI – HATILAH SAAT MEMILIH JODOH.PILIHLAH YANG TAK HANYA MENJADI ‘TEMAN HIDUP KITA’ TETAPI BISA JUGA MENJADI TEMAN BAGI ANGGOTA KELUARGA KITA YANG LAIN (plus dari anggota keluarga ‘baik – baik’). Pilihlah yang bisa menerima kita apa adanya dan juga yang tak hanya terbawa nafsu. Jangan memilih pasangan hidup yang akhirnya akan menjauhkan kita dari anggota keluarga kita yang lain. Itu saja.
Saya melihat dari kisah keluarga sahabat saya ini, juga bercermin dari kehidupan keluarga kakak laki – laki saya serta juga keluarga teman saya yang lain bahwa ada banyak pasangan muda di kota saya yang sebenarnya TAK SIAP MENIKAH TETAPI MEMAKSAKAN DIRI UNTUK MENIKAH DEMI STATUS, ANAK, NAFSU DAN JUGA KENYAMANAN! Saya tahu saya tak punya hak untuk menilai hal ini tetapi dengan memantau kisah – kisah pertengkaran keluarga muda yang terpaksa melibatkan banyak anggota keluarga kedua belah pihak maka semakin menguatkan pendapat saya bahwa sebaiknya pernikahan dilakukan bila tiap individu dalam hubungan cinta itu sudah siap untuk melangkah. Tak hanya mempersiapkan kematangan fisik, seksual dan finansial TETAPI yang paling penting kematangan emosi dan kedewasaan diri untuk terikat dalam sebuah pernikahan sebagai institusi dan segala macam konsekuensi psikologi sosial ekonominya. Bagaimanapun, pernikahan di dunia timur ini bukanlah pernikahan yang individualistis seperti di negara – negara Anglo-Saxon sana. Sama sekali bukan. Pernikahan di dunia timur lebih pada pernikahan dua keluarga besar dan peran kontrol sosial sangat lekat hubungannya.
Malam ini, saya teringat pada sebuah pelajaran yang saya pelajari dari sebuah rubrik konsultasi di majalah Cosmopolitan Indonesia, “Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47). Ya, apalagi bila dikaitkan dengan urusan cinta, maka bila kedu sejoli itu menjadi baik, maka peliharalah hubungan itu ke jenjang yang lebih tinggi: Pernikahan. Bila tidak, sebaiknya jangan paksakan diri. Karena toh pada akhirnya hanya akan menyiksa diri dan pada akhirnya, tiap individu ini tidak bisa menikmati hidup itu dengan baik.
Saya jadi sedikit bingung bila melihat kehidupan pasangan – pasangan muda ini, apa yang sebenarnya mereka cari dari sebuah pernikahan? Apakah kebahagiaan? Bila iya, bagaimana mereka mendeskripsikannya? Saya hanya kasihan saja melihat nasib anak – anak dari keluarga seperti ini karena saya pernah merasakan kondisi dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis beberapa tahun lalu dan bagaimana hal yang serupa terjadi pada pasangan yang sebenarnya tak siap menikah tetapi memaksakan diri untuk menikah. Ya, mungkin hal inilah yang selalu membuat saya ragu untuk mengikatkan diri pada sebuah kontrak sosial dan institusi bernama ‘pernikahan’. Saya melihat ke dalam hidup saya sendiri bagaimana masa kecil dan remaja saya yang hanya berisi pertengkaran orang tua di rumah, kecemburuan, dan jujur sampai sekarang, saya rindu adanya keluarga yang bisa memberikan saya pelukan. Itulah sebabnya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa tiap kali punya kesempatan, saya harus selalu memeluk para keponakan saya dan meyakinkan bahwa mereka dicintai. Ya sangat sederhana tapi saya ingin mereka selalu tahu bahwa terlepas dari buruknya kehidupan orang tua mereka, akan ada saya yang bisa mencintai mereka karena saya tak mau mereka mengalami masa kecil dan remaja seperti yang pernah saya lalui dulu.
Saya tak pernah mengerti bagaimana egoisnya orang dewasa dan tak pernah menimbang perasaan anak mereka dalam sebuah pertengkaran. Dalam pertengkaran keluarga sahabat saya dan juga beberapa kali dalam pertengkaran keluarga kakak laki – laki saya, saya selalu melihat bahwa pada akhirnya para orang dewasa ini selalu mengkambinghitamkan anak mereka sebagai alasan mereka ‘terikat dalam sebuah pernikahan’. Iya, seperti itu. Menyalahkan mereka, terkadang malah anak – anak inilah yang menjadi pelampiasan kemarahan dari individu tertentu, ataupun dijadikan alasan mempertahankan hubungan ataupun dimanipulasi demi mendapatkan keinginan tertentu. Padahal, saya pikir, bukan salah para anak ini, mereka tak pernah minta dilahirkan, bukan? Mereka tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Entahlah, mungkin saya terlalu naïf, tapi bagi saya … toh pada akhirnya para anaklah yang menjadi korban dan akan punya masalah dalam perkembangan emosi dan psikologi mereka. Andai dulu saya bisa memilih ulang sekolah lagi dari awal, saya ingin sekali masuk ke jurusan psikologi klinis khusus untuk anak, memahami mereka dan membantu mereka untuk bisa melewati masa – masa seperti ini. Karena saya paham betul bagaimana rasanya bertumbuh dalam keluarga seperti ini.
Para orang tua tak pernah tahu bagaimana sakitnya perceraian ataupun ancaman perceraian yang diwarnai oleh pertengkaran berlarut – larut bertahun – tahun. Ibarat hidup di atas jerami penuh jarum pentul yang tertancap ke atas. Entahlah, mungkin ketahanan tiap orang atas masalah berbeda tapi saya percaya bahwa seorang anak seharusnya hidup dalam keluarga yang bahagia dimana mereka bisa melihat bahwa kedua orang tua mereka saling menyayangi dan juga menyayangi mereka.
Kejadian dalam hujan malam tadi dan juga melihat dalam hidup keluarga saya dan juga kehidupan keluarga kakak saya, saya semakin sadar bahwa MENIKAH ITU TIDAK MUDAH. MENIKAH BUTUH KESIAPAN YANG SANGAT KUAT, KETETAPAN HATI DAN JUGA KEMATANGAN EMOSI. Menikah juga adalah sebuah JANJI DENGAN TUHAN YANG HARUS DIJAGA MATI, bukan? TAPI yang paling penting sebenarnya adalah MENIKAHLAH bila memang sudah SIAP. Sekali lagi saya ingin bilang bahwa JANGAN PERNAH MENIKAH hanya demi status sosial, seks, alasan finansial dan kenyamanan.
Saya bukan siapa – siapa, bukan pula pakar pernikahan karena toh hubungan cinta saya kerap kandas karena saya memilih untuk mengakhirinya saat saya sendiri ragu untuk melangkah ke depan khususnya terkait pada pernikahan. Memang sakit terasa seperti itu tapi saya lebih memilih sakit seperti itu dibanding memaksakan diri terlibat jauh dalam hubungan pernikahan dan toh ternyata saya dan pasangan gagal menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama karena cuma berkelahi dan bertengkar demi mempertahankan ego diri pribadi. NAMUN, yang saya tahu dan percaya, menikahlah bila pasangan anda dan anda sendiri saling mengisi kekurangan, menerima kekurangan itu dan bersama – sama berusaha saling melengkapi. Menikahlah bila anda dan pasangan anda sama – sama dapat menghibur satu sama lain, menjadi penolong satu sama lain, menjadi seseorang yang ibarat ‘kulit kedua’ satu sama lain, menjadi charger pengisi semangat dan energi positif, menjadi tangan yang membalut ‘luka – luka kesedihan’, orang pertama yang dicari saat dalam keadaan bahagia maupun sedih. Menikahlah bila anda berdua setiap hari selalu merasakan ikatan dan cinta satu sama lain semakin menguat, tak bisa berhenti jatuh cinta pada pasangan anda dan juga semakin ‘kecanduan’ dan saling membutuhkan.
Subuh ini saat saya menuliskan catatan lepas ini, saya pun ingat di dalam Alkitab sendiri ada tercatat bahwa “People learn from one another, just as iron sharpens iron.” (Amsal 27: 17; GNT). Saya belajar banyak hal malam ini. Kejadian dalam hujan malam ini tak sia – sia mengajarkan saya tentang banyak hal. Ya, karena toh dalam perjalanan bernama hidup, pengalaman adalah guru terbaik. Sesimpel itu.
(Manokwari, 281211)
Belum sejam bangun, tiba – tiba ada saja yang terjadi. Saat hujan sedang deras turun di malam hari, seorang sahabat saya menelpon kalau mamanya beberapa saat lalu dipukul oleh iparnya di pinggir pantai rekreasi. Iya, ini sahabat saya sejak kecil. Walau nyawa masih setengah, tidak mandi, saya pun menerobos hujan deras dan bermantel mengendarai motor saya ke rumahnya. Mendengar cerita dan setidaknya memberikan dukungan. Guess what? Beberapa jam tadi saya berada di dalam sebuah situasi emosi dimana memposisikan diri saya sebagai pengamat dan pendengar dari kerumunan anggota keluarga yang sangat marah.
Pasti anda tak percaya apa yang saya lalui. Sekitar 1 jam dari acara berkunjung itu, dalam hujan deras, saya pun menemani sahabat saya, lengkap dengan adik lelakinya dan juga mama mereka plus nantinya disusul oleh keluarga besar mereka pergi menanyakan duduk perkara ke rumah ipar mereka itu di daerah Kampung Ambon. Intinya, pada akhirnya kejadiannya berlangsung dan berakhir sangat runyam. Saya menjadi pengamat dan hanya memantau. Sialnya, sampai di sana, saat adik lelaki sahabat saya dan mamanya hendak menanyakan duduk persoalan pada iparnya, e keluarganya mengusir rombongan ini dan semakin runyamlah acara. Yang pasti, malam itu, berbasah – basah dalam deras hujan malam, saya menyaksikan bagaimana acara ‘kunjungan’ bakalai itu bubar karena kakak si ipar mengamuk mengusir dengan parang, mama si ipar mengejar kerumunan keluarga sahabat saya ibarat mengejar anak ayam dengan payung dan sebongkah batu karang besar plus adegan ‘banting – banting panci’ dari mama sahabat saya. Tentunya ada banyak kerumunan orang yang menonton. Urusan pun dilanjutkan ke kantor polisi, tapi tak selesai karena pihak polisi pun tak berniat mencatat urusan pemukulan di pantai, pengejaran dengan parang ini dan seakan tak peduli. Sangat aneh!
Terlepas dari bagaimana kisah drama yang akan sangat panjang sekali bila diceritakan ini, saya mengambil satu kesimpulan yang sangat jelas: BERHATI – HATILAH SAAT MEMILIH JODOH.PILIHLAH YANG TAK HANYA MENJADI ‘TEMAN HIDUP KITA’ TETAPI BISA JUGA MENJADI TEMAN BAGI ANGGOTA KELUARGA KITA YANG LAIN (plus dari anggota keluarga ‘baik – baik’). Pilihlah yang bisa menerima kita apa adanya dan juga yang tak hanya terbawa nafsu. Jangan memilih pasangan hidup yang akhirnya akan menjauhkan kita dari anggota keluarga kita yang lain. Itu saja.
Saya melihat dari kisah keluarga sahabat saya ini, juga bercermin dari kehidupan keluarga kakak laki – laki saya serta juga keluarga teman saya yang lain bahwa ada banyak pasangan muda di kota saya yang sebenarnya TAK SIAP MENIKAH TETAPI MEMAKSAKAN DIRI UNTUK MENIKAH DEMI STATUS, ANAK, NAFSU DAN JUGA KENYAMANAN! Saya tahu saya tak punya hak untuk menilai hal ini tetapi dengan memantau kisah – kisah pertengkaran keluarga muda yang terpaksa melibatkan banyak anggota keluarga kedua belah pihak maka semakin menguatkan pendapat saya bahwa sebaiknya pernikahan dilakukan bila tiap individu dalam hubungan cinta itu sudah siap untuk melangkah. Tak hanya mempersiapkan kematangan fisik, seksual dan finansial TETAPI yang paling penting kematangan emosi dan kedewasaan diri untuk terikat dalam sebuah pernikahan sebagai institusi dan segala macam konsekuensi psikologi sosial ekonominya. Bagaimanapun, pernikahan di dunia timur ini bukanlah pernikahan yang individualistis seperti di negara – negara Anglo-Saxon sana. Sama sekali bukan. Pernikahan di dunia timur lebih pada pernikahan dua keluarga besar dan peran kontrol sosial sangat lekat hubungannya.
Malam ini, saya teringat pada sebuah pelajaran yang saya pelajari dari sebuah rubrik konsultasi di majalah Cosmopolitan Indonesia, “Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47). Ya, apalagi bila dikaitkan dengan urusan cinta, maka bila kedu sejoli itu menjadi baik, maka peliharalah hubungan itu ke jenjang yang lebih tinggi: Pernikahan. Bila tidak, sebaiknya jangan paksakan diri. Karena toh pada akhirnya hanya akan menyiksa diri dan pada akhirnya, tiap individu ini tidak bisa menikmati hidup itu dengan baik.
Saya jadi sedikit bingung bila melihat kehidupan pasangan – pasangan muda ini, apa yang sebenarnya mereka cari dari sebuah pernikahan? Apakah kebahagiaan? Bila iya, bagaimana mereka mendeskripsikannya? Saya hanya kasihan saja melihat nasib anak – anak dari keluarga seperti ini karena saya pernah merasakan kondisi dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis beberapa tahun lalu dan bagaimana hal yang serupa terjadi pada pasangan yang sebenarnya tak siap menikah tetapi memaksakan diri untuk menikah. Ya, mungkin hal inilah yang selalu membuat saya ragu untuk mengikatkan diri pada sebuah kontrak sosial dan institusi bernama ‘pernikahan’. Saya melihat ke dalam hidup saya sendiri bagaimana masa kecil dan remaja saya yang hanya berisi pertengkaran orang tua di rumah, kecemburuan, dan jujur sampai sekarang, saya rindu adanya keluarga yang bisa memberikan saya pelukan. Itulah sebabnya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa tiap kali punya kesempatan, saya harus selalu memeluk para keponakan saya dan meyakinkan bahwa mereka dicintai. Ya sangat sederhana tapi saya ingin mereka selalu tahu bahwa terlepas dari buruknya kehidupan orang tua mereka, akan ada saya yang bisa mencintai mereka karena saya tak mau mereka mengalami masa kecil dan remaja seperti yang pernah saya lalui dulu.
Saya tak pernah mengerti bagaimana egoisnya orang dewasa dan tak pernah menimbang perasaan anak mereka dalam sebuah pertengkaran. Dalam pertengkaran keluarga sahabat saya dan juga beberapa kali dalam pertengkaran keluarga kakak laki – laki saya, saya selalu melihat bahwa pada akhirnya para orang dewasa ini selalu mengkambinghitamkan anak mereka sebagai alasan mereka ‘terikat dalam sebuah pernikahan’. Iya, seperti itu. Menyalahkan mereka, terkadang malah anak – anak inilah yang menjadi pelampiasan kemarahan dari individu tertentu, ataupun dijadikan alasan mempertahankan hubungan ataupun dimanipulasi demi mendapatkan keinginan tertentu. Padahal, saya pikir, bukan salah para anak ini, mereka tak pernah minta dilahirkan, bukan? Mereka tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Entahlah, mungkin saya terlalu naïf, tapi bagi saya … toh pada akhirnya para anaklah yang menjadi korban dan akan punya masalah dalam perkembangan emosi dan psikologi mereka. Andai dulu saya bisa memilih ulang sekolah lagi dari awal, saya ingin sekali masuk ke jurusan psikologi klinis khusus untuk anak, memahami mereka dan membantu mereka untuk bisa melewati masa – masa seperti ini. Karena saya paham betul bagaimana rasanya bertumbuh dalam keluarga seperti ini.
Para orang tua tak pernah tahu bagaimana sakitnya perceraian ataupun ancaman perceraian yang diwarnai oleh pertengkaran berlarut – larut bertahun – tahun. Ibarat hidup di atas jerami penuh jarum pentul yang tertancap ke atas. Entahlah, mungkin ketahanan tiap orang atas masalah berbeda tapi saya percaya bahwa seorang anak seharusnya hidup dalam keluarga yang bahagia dimana mereka bisa melihat bahwa kedua orang tua mereka saling menyayangi dan juga menyayangi mereka.
Kejadian dalam hujan malam tadi dan juga melihat dalam hidup keluarga saya dan juga kehidupan keluarga kakak saya, saya semakin sadar bahwa MENIKAH ITU TIDAK MUDAH. MENIKAH BUTUH KESIAPAN YANG SANGAT KUAT, KETETAPAN HATI DAN JUGA KEMATANGAN EMOSI. Menikah juga adalah sebuah JANJI DENGAN TUHAN YANG HARUS DIJAGA MATI, bukan? TAPI yang paling penting sebenarnya adalah MENIKAHLAH bila memang sudah SIAP. Sekali lagi saya ingin bilang bahwa JANGAN PERNAH MENIKAH hanya demi status sosial, seks, alasan finansial dan kenyamanan.
Saya bukan siapa – siapa, bukan pula pakar pernikahan karena toh hubungan cinta saya kerap kandas karena saya memilih untuk mengakhirinya saat saya sendiri ragu untuk melangkah ke depan khususnya terkait pada pernikahan. Memang sakit terasa seperti itu tapi saya lebih memilih sakit seperti itu dibanding memaksakan diri terlibat jauh dalam hubungan pernikahan dan toh ternyata saya dan pasangan gagal menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama karena cuma berkelahi dan bertengkar demi mempertahankan ego diri pribadi. NAMUN, yang saya tahu dan percaya, menikahlah bila pasangan anda dan anda sendiri saling mengisi kekurangan, menerima kekurangan itu dan bersama – sama berusaha saling melengkapi. Menikahlah bila anda dan pasangan anda sama – sama dapat menghibur satu sama lain, menjadi penolong satu sama lain, menjadi seseorang yang ibarat ‘kulit kedua’ satu sama lain, menjadi charger pengisi semangat dan energi positif, menjadi tangan yang membalut ‘luka – luka kesedihan’, orang pertama yang dicari saat dalam keadaan bahagia maupun sedih. Menikahlah bila anda berdua setiap hari selalu merasakan ikatan dan cinta satu sama lain semakin menguat, tak bisa berhenti jatuh cinta pada pasangan anda dan juga semakin ‘kecanduan’ dan saling membutuhkan.
Subuh ini saat saya menuliskan catatan lepas ini, saya pun ingat di dalam Alkitab sendiri ada tercatat bahwa “People learn from one another, just as iron sharpens iron.” (Amsal 27: 17; GNT). Saya belajar banyak hal malam ini. Kejadian dalam hujan malam ini tak sia – sia mengajarkan saya tentang banyak hal. Ya, karena toh dalam perjalanan bernama hidup, pengalaman adalah guru terbaik. Sesimpel itu.
(Manokwari, 281211)
Dendam (dosa) itu manis!
Entahlah, bagaimana memulai catatan ini sebenarnya, malam ini saya merasa sangat berdosa pada Tuhan. Iya, sangat berdosa. Ada hal yang sebenarnya saya tahu tak boleh tapi saya masih tergoda juga. Untunglah malam ini Tuhan menegur saya lagi dan bagi saya, itu sudah cukup kuat. Ya semoga ke depannya saya bisa menolak godaan seperti ini, dosa lama yang masih sering mengintip dan sayangnya minggu ini saya sulit sekali menolaknya.
Untunglah, malam ini saya ditegur dengan baik oleh Tuhan. Usai berdoa minta ampun, saya diminta untuk membaca Yeheskiel 8: 1-18. Saya benar – benar merasa ditampar oleh Tuhan dengan Firman ini dan saya merasa bahwa saya benar –benar pembohong pada Yesus dan saya sadar bahwa ini salah dan membuat Yesus marah dan juga sedih. Entahlah … itu yang saya tahu saat ini.
Saya memilih menuliskan hal ini di catatan ini karena saya tahu saya tidak bisa berbagi mulai beberapa bulan ini dengan beberapa teman dekat karena saya tidak hanya ingin membuat mereka terbeban dengan saya, tak terlalu suka dekat dan berbagi kisah ataupun masalah saya. Entahlah, semua orang sudah cukup punya masalah, tak usah lagi berbagi hal sepele seperti ini.
Yang saya tahu, malam ini dalam hati saya, The Spirit bilang pada saya begini, “May, ko harus mulai belajar mengontrol ko diri eee. Kalo pikiran godaan berdosa itu datang lagi, ko harus tolak dengan nama Yesus dan minta darah Yesus dan Nama Yesus melindungi ko. Bagaimanapun ko tahu bahwa ko pu standar tuh Alkitab too. Jadi kontrol ko pu diri eee.”
Saya belajar banyak malam ini.
Anyway, mungkin ini memang ada hubungannya dengan si Bob juga. Entahlah, saya melihat sisi buruk saya mulai kembali menguasai saya akhir – akhir ini sejak kenal dengan lelaki ini. Entahlah, bahkan pagi kemarin sebelum pergi ke Ibadah Natal pagi, the Spirit asked me like this: “Are you sure that he didn’t put any charm on you, May? Are you sure about it?”. Sebuah pertanyaan yang membuat saya sedikit tergagap. Ada sebuah cerita yang saya pikir wajib saya bagikan di sini. Intinya, saya tak ingin lagi terlibat dalam dosa saya menjadi seorang ‘penggoda’, dan segala macam dosa bawaannya. Itu saja. Saya sudah berjanji ingin jadi orang baik berdasarkan standar kekristenan. Itu saja. Ya, saya masih jauh dari sempurna. Masih sangat jauh, tapi saya ingin berubah.
Beberapa malam lalu, tepatnya pukul 10 p.m, something di tanggal 23 Desember, Bob tiba – tiba mengirimkan pesan pendek seperti ini, “Selamat merayakan persiapan menjelang natal. Sorry mengganggu. Cuma kangen saja”. Nah karna saya sudah menghapus nomor ponselnya jadi saya hanya menebak ini pesan dari Bob. Voila, benar. SAYANGNYA, saya tergoda untuk membalas pesannya. Kami bahkan SMSan sampai subuh, dan ia mengaku kalau sedang stress. Saat itu hujan deras dan dingin dan saya tergoda benar untuk SMSan menggodanya, nah keluarlah sudah rayuannya yang mengatakan saya ‘unik’ dan lain – lain. Sialnya, otak ‘penggoda’ saya dan segala macam trik jelek sungguh mati pun keluar dari otak saya dan ditranskripkan lewat pesan – pesan pendek ke dia. Ngomong segala macam hal termasuk urusan seks, mana saya cukup terbuka ngomongin seks lagi. Belum lagi malam itu, saya tak bisa tidur karena boneka di tempat tidur (Ducky) sedang dicuci malam itu, jadinya ya sulit tidur jadi saya katakan hal itu pada Bob, e si Bob ko mulai ngomong segala macam yang intinya sih ‘de kepala besar kecil dan PD kalo misalnya de nan kalo kawin deng sa de yang nan gantikan nih boneka’ HAHAHA *muntah2 iyo. Bisa ditebak kan gimana mabuk kepayangnya nih cowok. Besok paginya kami masih SMSan tapi tak seintens malam hari. Bob cuma bilang ingin sekali mengajak saya jalan – jalan, pokoknya saya akan suka segala rencananya.
Masih ada cerita sambungannya. Sudah tanggal 24 Desember. Siang itu, apa dinyana, tiba – tiba teman lama saya, sebenarnya sih TTM lama saya, sebut saja si Dee, seorang cowok Biak yang dulu kuliah di Jogja dan pindah ke Jakarta, tiba – tiba menelpon saya hanya untuk bilang kalau dia lagi berada di kota saya dan mengajak saya ‘jalan – jalan’. Pokoknya menanyakan jadwal saya. Si Dee ini baru muncul di hidup saya pun bulan lalu, kala meminta akun FB dan juga nomor ponsel saya. Saya juga tahu ia sudah punya pacar dan pacarnya lumayan manis. Saya dan Dee pun baru ngobrol sekali bulan lalu. Pokoknya, tiba – tiba saya dia muncul di tanggal 24 itu. Nah si Dee ngajak jalan – jalan di hari Natal, jadinya ya saya ajakin saja untuk pergi ‘pegang tangan’ nanti di hari Natal mengunjungi teman saya.
Balik lagi ke Bob, nah malam natal tanggal 24 Desember itu, saya sempat mengirimkan SMS ke Bob yang bilang gini, “Just miss you”. OK, saya akui ini kesalahan saya, khilaf. Subuhnya tanggal 25, si Bob ngirim SMS yang singkat, “Happy Xmas. Love u”. Saya baru membacanya jam 8 pagi di hari Natal. Saya pun tersadar bahwa saya sudah membuat kesalahan besar, jadinya saya mengirimkan sejumlah pesan pada Bob. Isinya antara lain bahwa memang semalam saya merindukan dia sekali, saya akui kalau saya memang suka sama dia dan nyaman selama ini TAPI saya rasa ini salah dan saya tak ingin punya perasaan seperti ini. itu saja. Jadi saya minta dia untuk tidak perlu mengirimkan pesan apapun pada saya, entah mo kangen atau apalah. Pokoknya tidak boleh. Jadinya saya juga minta ia untuk menghapus nomor ponselnya saya plus saya akan melakukan hal yang sama. Saya pikir itulah akhir semuanya.
Guess what? Ternyata takdir memang beda jalannya. Siang itu, usai memasak teh rempah (yang ternyata hasilnya ditertawain anggota keluarganya saya, karena bagi mereka itu ‘percuma’ dan bisa ditebak, tehnya jadi mubazir, padahal sangat menghangatkan tubuh), jadinya jam 2 saya baru menjemput Dee yang kebetulan sedang mengantar mama adenya berangkat dengan kapal laut. Tujuan pertama otomatis tempat terjauh di rumahnya Chel di daerah pesisir luar kota sana. Kedatangan Dee ke rumah yang sering jadi tempat nongkrongnya saya otomatis jadi bahan pertanyaan, pokoknya ortu-nya Chel sudah pada meledek di dapur tentang si Dee, “paitua ka” HAHAHA. Si Dee sih stabil abis di ruang tamu. Mana dia menolak makan karena lagi diet. Iya, badannya tambah gode sekarang. Dee bekerja di sebuah perusahaan tambang khususnya di bagian survey, dan sebelumnya bekerja di Jakarta dan Kalimantan dan mulai bulan Januari akan pindah ke sebuah perusahaan tambang di wilayah kabupaten pemekaran di daerah Selatan Papua, khususnya di bagian produksi off-shore. Orang tuanya juga baru pindah ke Manokwari tahun lalu dan sementara tinggal dan membangun rumah di sebuah pulau kecil di dekat Manokwari. Jadinya si Dee jadi anak pulau. Tampangnya juga lumayan manis untuk cowok Papua dan berkulit terang plus cara bicaranya yang halus. Pokoknya bila dibandingkan dengan si Bob, jauh banget dah perbedaannya. Si Dee sih orangnya tenang dan lebih suka ngaku ‘pengangguran banyak acara’ saat ditanya. Cuma karna dasar saya juga bawaannya ‘miss Investigasi’ ya kebuka deh. Jadi dia cuma bisa pasrah saja saat kami diskusi dan ia diinterogasi HAHAHA.
So, intinya adalah Sweet Revenge. Saat saya bertamu di Chel bersama Dee, lewat 1 jam, muncullah si Bob dan rombongan teman- temannya, sekitar 12 orang, cuma ada cewek seorang dalam rombongan mereka, plus juga ada si Arc (gebetan lama HAHAHA). Si Arc, Bob dan juga Chel sekantor di sebuah instansi pemerintah. Jadi, pas mereka semua masuk, saya dan Dee memang duduk dekat pintu. Jadinya semua bersalaman dengan kami, termasuk si Bob. Ia hanya memandang saya datar tanpa ekspresi. Beda banget sama reaksinya Arc yang heboh, menjabat tangan saya dengan semangat. Jadi, saat kami semua duduk mengitari meja berisi toples – toples kue kering, si Arc berhadapan dengan saya dan Dee. Si Bob di ujung lain searah saya dan Dee. Jadi, saya dan Dee di arah jam 7, si Arc sekitar arah jam 10, nah si Bob anggap saja di arah jam 3. Alamak, saya bahkan tidak merasa ada apa – apa antara saya dan Bob, jadinya saya malah asik ngobrol dengan Dee dan juga memperkenalkannya ke Arc. Apalagi mereka sama – sama dari Jogja, mangkali saja dulu baku kenal ka ini. Sapa tau yaro.
Saya sadar benar saat itu, hanya saya, Arc dan Dee yang ngomong, mulai dari membahas tempat kuliah, dan juga saya dan Arc berbagi kabar tentang teman kami yang lagi liburan. Saya sadar bahwa si Bob mungkin sedang mengamati kami. Tak berapa lama, saya dan Dee mohon diri dan pamit. Itupun pake gaya saya yang kabur duluan ke ortunya Chel dan memanggil Dee dari tengah ruangan, tentu saja dipandangi semua teman – temannya Bob dan Dee pun manut saja ikutin instruksinya saya seakan saya ini pacarnya yang suka nyuruh – nyuruh HAHAHA. Kami pun pulang, tentu saja berpamitan garis besar pada semua.
Usai pulang, Dee tentu saja harus balik ke pulau tapi saya memang hanya mendropnya di rumah kerabatnya yang hendak ia kunjungi. Pokoknya, ia benar – benar jadi my guardian angel. Ia hanya bisa ketawa – ketawa kala saya sudah cerita kalau ia telah menolong saya dari sebuah situasi emosi yang tidak menyenangkan. Yang pasti ia bilang, “Adoooh May, ko bikin sa dalam situasi buruk saja di kota ini. Bisa – bisa sa dapa pukul sia – sia”. Ia pun bercerita tentang pengalamannya saat survey di Nabire dan berada dalam situasi seperti ini, kali ini berurusan dengan para tentara hanya karena ia ‘dipinjam’ menjadi subyek membuat pasangan cemburu HAHAHA.
Usai pulang, saya juga tak lupa mengirimkan pesan pada Chel. Tentu saja memantau bagaimana reaksi teman – temannya Bob. Guess what? Benar – benar sweet revenge, ternyata benar perkiraan saya dan Chel, selama ini Bob sudah hiperbolis bercerita kemana – mana khususnya untuk bahan ‘menaikan gengsi’ di antara sesama cowok di kantornya, kalau saya ini gebetannya dia. Ia juga sampai mengambil foto saya dari akun FB saya dan memamerkannya di notebook-nya bersama para TO (target operasi)nya di Manokwari. Padahal, saat ini tunangannya sudah tinggal di rumah orang tua Bob di Nabire sana, mana foto ceweknya sudah berada bersama saudara – saudara perempuan si Bob. FYI, saya bahkan saat meng-track percakapan dinding di laman si cewek, e si Bob malah ada kasi komen segala tentang keinginan bersama ceweknya. Benar – benar buaya darat lah.
Jadi, Chel bilang, baik via SMS maupun kunjungan saya hari ini ke rumahnya lagi bersama teman – teman jalan saya, kalau kehebohan terjadi saat saya baru saja pergi dan tiba – tiba seorang cowok amber di rombongan itu bertanya pada Chel begini, “Chel, tuh cewek siapa ka? De gaya keren skali ooo”. Saya tidak tahu bagaimana reaksi wajah Bob saat itu. Si Chel dengan cuek bilang, “Oh itu … itu yang namanya kak Maya”. Dan hebohlah seisi ruangan!!! Ibarat melempar sarang tawon, keluarlah semua lebah. Iyalah, mereka pun otomatis melihat Bob dan bilang, “ohhhhh, itu toh gebetannya Bob!!!”. Reaksi anak – anak pada hancur, Ada yang langsung mencari tempat tertawa di luar rumah untuk tertawa bokar, ada yang langsung menahan perut karena tertawa terpingkal – pingkal, ada yang langsung tiarap di lantai. Pokoknya habislah Bob diledek habis – habisan. Apalagi si Arc memang jagoan meledek. Iyalah, saya jamin kalau saya yang berada di posisinya Bob, pasti harga diri tacungkil abis plus muka mo taru dimana HAHAHA. Ya mungkin kalau saya sendiri tak jadi masalah, tapi ada Dee yang kata Chel malah kami tuh layaknya pasangan yang pacaran atau malah seperti ‘suami istri’. Mesra abis, bo HAHAHA.
Saya bisa jamin saat itu, teman – teman Bob sudah bisa membaca situasi. Biarpun seandainya Bob nunjukin SMS dari saya pun, pasti tak ada yang percaya kalau kami baru saja ber-SMSan yang heboh getho. Iyalah, saya cuekin Bob di depan teman – temannya, membawa cowok yang 100% beda banget dengan dia dan lebih dari dia, plus gaya saya yang kasual seksi siang itu. Untung saja mereka tidak bertanya Dee kerja di mana, kalau tidak, pasti saya dengan cuek bilang, “Baru pindah kerja dari perusahaan di Kalimantan ke perusahaan tambang XXX di bagian unit produksi, tapi sementara ini sudah 5 tahun menetap di Jogja dan 2 tahun menetap di Jakarta dan Kalimantan”. Sebenarnya hanya untuk meruntuhkan semangat PD dan ‘makan puji’nya Bob selama ini.
Well, itu ringkasan cerita sweet revenge saya. Yang pasti, 30 menit sebelum saya ditegur the Spirit dan berdoa, saya masih mengirimkan pesan ke Bob untuk pesan sejenis “Sweet dream, good Night” getho. Parah lah otak dosa lama saya ini. Saya malah mengirimkan pesan ke Chel dan sahabat lama saya tentang betapa bernafsunya saya untuk menyakiti Bob hanya karena ia mengingatkan saya pada para mantan buaya darat saya apalagi Lelaki Hujan.
Thanx God, malam ini saya ditegur banget untuk bisa mengendalikan nafsu saya entah mo balas dendam ataupun yang lain. Jadi memang malam ini, saya belajar banyak hal. Itu saja.
Di luar sedang hujan lebat dan saya tampaknya harus mulai menulis catatan lain ataupun nonton film pemberian dari teman saya di Jakarta. Yang pasti, saya tak ingin jadi penggoda, jadinya nomor ponsel Bob yang saya catat di agenda langsung saya hapus tadi dan semoga akan selamanya saya hapus. Bob is not my type dan saya haramkan jatuh cinta padanya. Tak rela dan tak ingin walau nyaman setengah mati. Kata sahabat lama saya, “Bisa bikin generasi rusak” dan saya setuju. No way! Saya butuh lelaki baik dan tulus plus setia dan bertampang tidak jelek yang bisa nangkring di dalam foto keluarga besar saya. Pokoknya yang bisa saya gandeng ke rumah dan ke acara – acara sosial saya. Iyalah, keluarga saya cukup selektif dalam urusan fisik, para keponakan saya lumayan manis dan bahkan punya fans kecil, masa anak saya kelak “memalukan” mereka sebagai sepupu mereka? No way lah ….
Sebenarnya sih saya tidak memilih fisik, itu urusan ke sekian. CUMA kok rasanya tangan gatal pukul cowok dan mulut gatal bamaki kalo lihat cowok yang di bawah standarnya saya, bertampang sangat biasa (atau di bawah biasa) dan talalu babikin plus tidak bersyukur sudah punya tunangan cantik tapi mo bikin cabang di mana – mana. Memang enak jadi selingkuhan dari cowok macam gini? Rasanya ya benar – benar perlu dikasi pelajaran ya? Hati panas skali ya HAHAHA.
Anyway, saya meihat Tuhan itu lebih ajaib dah. Saat lagi bingung bagaimana memberi efek jera pada Bob, e datanglah Dee tanpa diduga hanya untuk sebuah reason n season. Perfecto momento pastinya HAHAHA
Saya ingin jadi orang baik. Itu saja!
Ya itu saja!
(Manokwari, 261211)
Untunglah, malam ini saya ditegur dengan baik oleh Tuhan. Usai berdoa minta ampun, saya diminta untuk membaca Yeheskiel 8: 1-18. Saya benar – benar merasa ditampar oleh Tuhan dengan Firman ini dan saya merasa bahwa saya benar –benar pembohong pada Yesus dan saya sadar bahwa ini salah dan membuat Yesus marah dan juga sedih. Entahlah … itu yang saya tahu saat ini.
Saya memilih menuliskan hal ini di catatan ini karena saya tahu saya tidak bisa berbagi mulai beberapa bulan ini dengan beberapa teman dekat karena saya tidak hanya ingin membuat mereka terbeban dengan saya, tak terlalu suka dekat dan berbagi kisah ataupun masalah saya. Entahlah, semua orang sudah cukup punya masalah, tak usah lagi berbagi hal sepele seperti ini.
Yang saya tahu, malam ini dalam hati saya, The Spirit bilang pada saya begini, “May, ko harus mulai belajar mengontrol ko diri eee. Kalo pikiran godaan berdosa itu datang lagi, ko harus tolak dengan nama Yesus dan minta darah Yesus dan Nama Yesus melindungi ko. Bagaimanapun ko tahu bahwa ko pu standar tuh Alkitab too. Jadi kontrol ko pu diri eee.”
Saya belajar banyak malam ini.
Anyway, mungkin ini memang ada hubungannya dengan si Bob juga. Entahlah, saya melihat sisi buruk saya mulai kembali menguasai saya akhir – akhir ini sejak kenal dengan lelaki ini. Entahlah, bahkan pagi kemarin sebelum pergi ke Ibadah Natal pagi, the Spirit asked me like this: “Are you sure that he didn’t put any charm on you, May? Are you sure about it?”. Sebuah pertanyaan yang membuat saya sedikit tergagap. Ada sebuah cerita yang saya pikir wajib saya bagikan di sini. Intinya, saya tak ingin lagi terlibat dalam dosa saya menjadi seorang ‘penggoda’, dan segala macam dosa bawaannya. Itu saja. Saya sudah berjanji ingin jadi orang baik berdasarkan standar kekristenan. Itu saja. Ya, saya masih jauh dari sempurna. Masih sangat jauh, tapi saya ingin berubah.
Beberapa malam lalu, tepatnya pukul 10 p.m, something di tanggal 23 Desember, Bob tiba – tiba mengirimkan pesan pendek seperti ini, “Selamat merayakan persiapan menjelang natal. Sorry mengganggu. Cuma kangen saja”. Nah karna saya sudah menghapus nomor ponselnya jadi saya hanya menebak ini pesan dari Bob. Voila, benar. SAYANGNYA, saya tergoda untuk membalas pesannya. Kami bahkan SMSan sampai subuh, dan ia mengaku kalau sedang stress. Saat itu hujan deras dan dingin dan saya tergoda benar untuk SMSan menggodanya, nah keluarlah sudah rayuannya yang mengatakan saya ‘unik’ dan lain – lain. Sialnya, otak ‘penggoda’ saya dan segala macam trik jelek sungguh mati pun keluar dari otak saya dan ditranskripkan lewat pesan – pesan pendek ke dia. Ngomong segala macam hal termasuk urusan seks, mana saya cukup terbuka ngomongin seks lagi. Belum lagi malam itu, saya tak bisa tidur karena boneka di tempat tidur (Ducky) sedang dicuci malam itu, jadinya ya sulit tidur jadi saya katakan hal itu pada Bob, e si Bob ko mulai ngomong segala macam yang intinya sih ‘de kepala besar kecil dan PD kalo misalnya de nan kalo kawin deng sa de yang nan gantikan nih boneka’ HAHAHA *muntah2 iyo. Bisa ditebak kan gimana mabuk kepayangnya nih cowok. Besok paginya kami masih SMSan tapi tak seintens malam hari. Bob cuma bilang ingin sekali mengajak saya jalan – jalan, pokoknya saya akan suka segala rencananya.
Masih ada cerita sambungannya. Sudah tanggal 24 Desember. Siang itu, apa dinyana, tiba – tiba teman lama saya, sebenarnya sih TTM lama saya, sebut saja si Dee, seorang cowok Biak yang dulu kuliah di Jogja dan pindah ke Jakarta, tiba – tiba menelpon saya hanya untuk bilang kalau dia lagi berada di kota saya dan mengajak saya ‘jalan – jalan’. Pokoknya menanyakan jadwal saya. Si Dee ini baru muncul di hidup saya pun bulan lalu, kala meminta akun FB dan juga nomor ponsel saya. Saya juga tahu ia sudah punya pacar dan pacarnya lumayan manis. Saya dan Dee pun baru ngobrol sekali bulan lalu. Pokoknya, tiba – tiba saya dia muncul di tanggal 24 itu. Nah si Dee ngajak jalan – jalan di hari Natal, jadinya ya saya ajakin saja untuk pergi ‘pegang tangan’ nanti di hari Natal mengunjungi teman saya.
Balik lagi ke Bob, nah malam natal tanggal 24 Desember itu, saya sempat mengirimkan SMS ke Bob yang bilang gini, “Just miss you”. OK, saya akui ini kesalahan saya, khilaf. Subuhnya tanggal 25, si Bob ngirim SMS yang singkat, “Happy Xmas. Love u”. Saya baru membacanya jam 8 pagi di hari Natal. Saya pun tersadar bahwa saya sudah membuat kesalahan besar, jadinya saya mengirimkan sejumlah pesan pada Bob. Isinya antara lain bahwa memang semalam saya merindukan dia sekali, saya akui kalau saya memang suka sama dia dan nyaman selama ini TAPI saya rasa ini salah dan saya tak ingin punya perasaan seperti ini. itu saja. Jadi saya minta dia untuk tidak perlu mengirimkan pesan apapun pada saya, entah mo kangen atau apalah. Pokoknya tidak boleh. Jadinya saya juga minta ia untuk menghapus nomor ponselnya saya plus saya akan melakukan hal yang sama. Saya pikir itulah akhir semuanya.
Guess what? Ternyata takdir memang beda jalannya. Siang itu, usai memasak teh rempah (yang ternyata hasilnya ditertawain anggota keluarganya saya, karena bagi mereka itu ‘percuma’ dan bisa ditebak, tehnya jadi mubazir, padahal sangat menghangatkan tubuh), jadinya jam 2 saya baru menjemput Dee yang kebetulan sedang mengantar mama adenya berangkat dengan kapal laut. Tujuan pertama otomatis tempat terjauh di rumahnya Chel di daerah pesisir luar kota sana. Kedatangan Dee ke rumah yang sering jadi tempat nongkrongnya saya otomatis jadi bahan pertanyaan, pokoknya ortu-nya Chel sudah pada meledek di dapur tentang si Dee, “paitua ka” HAHAHA. Si Dee sih stabil abis di ruang tamu. Mana dia menolak makan karena lagi diet. Iya, badannya tambah gode sekarang. Dee bekerja di sebuah perusahaan tambang khususnya di bagian survey, dan sebelumnya bekerja di Jakarta dan Kalimantan dan mulai bulan Januari akan pindah ke sebuah perusahaan tambang di wilayah kabupaten pemekaran di daerah Selatan Papua, khususnya di bagian produksi off-shore. Orang tuanya juga baru pindah ke Manokwari tahun lalu dan sementara tinggal dan membangun rumah di sebuah pulau kecil di dekat Manokwari. Jadinya si Dee jadi anak pulau. Tampangnya juga lumayan manis untuk cowok Papua dan berkulit terang plus cara bicaranya yang halus. Pokoknya bila dibandingkan dengan si Bob, jauh banget dah perbedaannya. Si Dee sih orangnya tenang dan lebih suka ngaku ‘pengangguran banyak acara’ saat ditanya. Cuma karna dasar saya juga bawaannya ‘miss Investigasi’ ya kebuka deh. Jadi dia cuma bisa pasrah saja saat kami diskusi dan ia diinterogasi HAHAHA.
So, intinya adalah Sweet Revenge. Saat saya bertamu di Chel bersama Dee, lewat 1 jam, muncullah si Bob dan rombongan teman- temannya, sekitar 12 orang, cuma ada cewek seorang dalam rombongan mereka, plus juga ada si Arc (gebetan lama HAHAHA). Si Arc, Bob dan juga Chel sekantor di sebuah instansi pemerintah. Jadi, pas mereka semua masuk, saya dan Dee memang duduk dekat pintu. Jadinya semua bersalaman dengan kami, termasuk si Bob. Ia hanya memandang saya datar tanpa ekspresi. Beda banget sama reaksinya Arc yang heboh, menjabat tangan saya dengan semangat. Jadi, saat kami semua duduk mengitari meja berisi toples – toples kue kering, si Arc berhadapan dengan saya dan Dee. Si Bob di ujung lain searah saya dan Dee. Jadi, saya dan Dee di arah jam 7, si Arc sekitar arah jam 10, nah si Bob anggap saja di arah jam 3. Alamak, saya bahkan tidak merasa ada apa – apa antara saya dan Bob, jadinya saya malah asik ngobrol dengan Dee dan juga memperkenalkannya ke Arc. Apalagi mereka sama – sama dari Jogja, mangkali saja dulu baku kenal ka ini. Sapa tau yaro.
Saya sadar benar saat itu, hanya saya, Arc dan Dee yang ngomong, mulai dari membahas tempat kuliah, dan juga saya dan Arc berbagi kabar tentang teman kami yang lagi liburan. Saya sadar bahwa si Bob mungkin sedang mengamati kami. Tak berapa lama, saya dan Dee mohon diri dan pamit. Itupun pake gaya saya yang kabur duluan ke ortunya Chel dan memanggil Dee dari tengah ruangan, tentu saja dipandangi semua teman – temannya Bob dan Dee pun manut saja ikutin instruksinya saya seakan saya ini pacarnya yang suka nyuruh – nyuruh HAHAHA. Kami pun pulang, tentu saja berpamitan garis besar pada semua.
Usai pulang, Dee tentu saja harus balik ke pulau tapi saya memang hanya mendropnya di rumah kerabatnya yang hendak ia kunjungi. Pokoknya, ia benar – benar jadi my guardian angel. Ia hanya bisa ketawa – ketawa kala saya sudah cerita kalau ia telah menolong saya dari sebuah situasi emosi yang tidak menyenangkan. Yang pasti ia bilang, “Adoooh May, ko bikin sa dalam situasi buruk saja di kota ini. Bisa – bisa sa dapa pukul sia – sia”. Ia pun bercerita tentang pengalamannya saat survey di Nabire dan berada dalam situasi seperti ini, kali ini berurusan dengan para tentara hanya karena ia ‘dipinjam’ menjadi subyek membuat pasangan cemburu HAHAHA.
Usai pulang, saya juga tak lupa mengirimkan pesan pada Chel. Tentu saja memantau bagaimana reaksi teman – temannya Bob. Guess what? Benar – benar sweet revenge, ternyata benar perkiraan saya dan Chel, selama ini Bob sudah hiperbolis bercerita kemana – mana khususnya untuk bahan ‘menaikan gengsi’ di antara sesama cowok di kantornya, kalau saya ini gebetannya dia. Ia juga sampai mengambil foto saya dari akun FB saya dan memamerkannya di notebook-nya bersama para TO (target operasi)nya di Manokwari. Padahal, saat ini tunangannya sudah tinggal di rumah orang tua Bob di Nabire sana, mana foto ceweknya sudah berada bersama saudara – saudara perempuan si Bob. FYI, saya bahkan saat meng-track percakapan dinding di laman si cewek, e si Bob malah ada kasi komen segala tentang keinginan bersama ceweknya. Benar – benar buaya darat lah.
Jadi, Chel bilang, baik via SMS maupun kunjungan saya hari ini ke rumahnya lagi bersama teman – teman jalan saya, kalau kehebohan terjadi saat saya baru saja pergi dan tiba – tiba seorang cowok amber di rombongan itu bertanya pada Chel begini, “Chel, tuh cewek siapa ka? De gaya keren skali ooo”. Saya tidak tahu bagaimana reaksi wajah Bob saat itu. Si Chel dengan cuek bilang, “Oh itu … itu yang namanya kak Maya”. Dan hebohlah seisi ruangan!!! Ibarat melempar sarang tawon, keluarlah semua lebah. Iyalah, mereka pun otomatis melihat Bob dan bilang, “ohhhhh, itu toh gebetannya Bob!!!”. Reaksi anak – anak pada hancur, Ada yang langsung mencari tempat tertawa di luar rumah untuk tertawa bokar, ada yang langsung menahan perut karena tertawa terpingkal – pingkal, ada yang langsung tiarap di lantai. Pokoknya habislah Bob diledek habis – habisan. Apalagi si Arc memang jagoan meledek. Iyalah, saya jamin kalau saya yang berada di posisinya Bob, pasti harga diri tacungkil abis plus muka mo taru dimana HAHAHA. Ya mungkin kalau saya sendiri tak jadi masalah, tapi ada Dee yang kata Chel malah kami tuh layaknya pasangan yang pacaran atau malah seperti ‘suami istri’. Mesra abis, bo HAHAHA.
Saya bisa jamin saat itu, teman – teman Bob sudah bisa membaca situasi. Biarpun seandainya Bob nunjukin SMS dari saya pun, pasti tak ada yang percaya kalau kami baru saja ber-SMSan yang heboh getho. Iyalah, saya cuekin Bob di depan teman – temannya, membawa cowok yang 100% beda banget dengan dia dan lebih dari dia, plus gaya saya yang kasual seksi siang itu. Untung saja mereka tidak bertanya Dee kerja di mana, kalau tidak, pasti saya dengan cuek bilang, “Baru pindah kerja dari perusahaan di Kalimantan ke perusahaan tambang XXX di bagian unit produksi, tapi sementara ini sudah 5 tahun menetap di Jogja dan 2 tahun menetap di Jakarta dan Kalimantan”. Sebenarnya hanya untuk meruntuhkan semangat PD dan ‘makan puji’nya Bob selama ini.
Well, itu ringkasan cerita sweet revenge saya. Yang pasti, 30 menit sebelum saya ditegur the Spirit dan berdoa, saya masih mengirimkan pesan ke Bob untuk pesan sejenis “Sweet dream, good Night” getho. Parah lah otak dosa lama saya ini. Saya malah mengirimkan pesan ke Chel dan sahabat lama saya tentang betapa bernafsunya saya untuk menyakiti Bob hanya karena ia mengingatkan saya pada para mantan buaya darat saya apalagi Lelaki Hujan.
Thanx God, malam ini saya ditegur banget untuk bisa mengendalikan nafsu saya entah mo balas dendam ataupun yang lain. Jadi memang malam ini, saya belajar banyak hal. Itu saja.
Di luar sedang hujan lebat dan saya tampaknya harus mulai menulis catatan lain ataupun nonton film pemberian dari teman saya di Jakarta. Yang pasti, saya tak ingin jadi penggoda, jadinya nomor ponsel Bob yang saya catat di agenda langsung saya hapus tadi dan semoga akan selamanya saya hapus. Bob is not my type dan saya haramkan jatuh cinta padanya. Tak rela dan tak ingin walau nyaman setengah mati. Kata sahabat lama saya, “Bisa bikin generasi rusak” dan saya setuju. No way! Saya butuh lelaki baik dan tulus plus setia dan bertampang tidak jelek yang bisa nangkring di dalam foto keluarga besar saya. Pokoknya yang bisa saya gandeng ke rumah dan ke acara – acara sosial saya. Iyalah, keluarga saya cukup selektif dalam urusan fisik, para keponakan saya lumayan manis dan bahkan punya fans kecil, masa anak saya kelak “memalukan” mereka sebagai sepupu mereka? No way lah ….
Sebenarnya sih saya tidak memilih fisik, itu urusan ke sekian. CUMA kok rasanya tangan gatal pukul cowok dan mulut gatal bamaki kalo lihat cowok yang di bawah standarnya saya, bertampang sangat biasa (atau di bawah biasa) dan talalu babikin plus tidak bersyukur sudah punya tunangan cantik tapi mo bikin cabang di mana – mana. Memang enak jadi selingkuhan dari cowok macam gini? Rasanya ya benar – benar perlu dikasi pelajaran ya? Hati panas skali ya HAHAHA.
Anyway, saya meihat Tuhan itu lebih ajaib dah. Saat lagi bingung bagaimana memberi efek jera pada Bob, e datanglah Dee tanpa diduga hanya untuk sebuah reason n season. Perfecto momento pastinya HAHAHA
Saya ingin jadi orang baik. Itu saja!
Ya itu saja!
(Manokwari, 261211)
Thursday, 22 December 2011
Momen Surga
What’s your heavenly moment today? Itu pertanyaan yang saya berikan pada beberapa teman saya saat saya sedang ngopi sore di sela – sela waktu menulis. Kebetulan hujan deras sedang turun di Manokwari sejak siang merangkak sore dan saya memutuskan mencoba mencicipi kopi Arab made in Lebanon asli pemberian mantan dosen saya dulu. Aromanya khas banget dan bikin otak saya langsung ‘smangat’ beybeh =D. Iseng – iseng sambil duduk di ambang jendela dan ngopi, menyetel kencang lagu – lagunya Pink i.e. ‘Fucking Perfect’, ‘Raise your glass’ hingga ‘Single and very happy’-nya Oppie dan punyanya Ne-Yo ‘Miss Independent’, saya masih sempat menikmati hujan dan juga pemandangan depan jalan. Tak lupa memandang bunga – bunga serta tanaman hias plus 30 bibit pohon pinang depan kamar, yang terletak antara saya dan jalan depan rumah. Di momen surga itulah, saya mengirimkan pesan ini pada beberapa teman. Isinya sih simpel tapi saya merasa damai sekali. Isinya begini: “ Sa lagi duduk ngopi Arab di ambang jendela dan nikmati hujan jatuh di kebun kecil depan kamar dan juga pemandangan hujan depan jalan dan lihat payung – payung warna – warni. Sa sebut ini momen hujan hari ini. What’s your heavenly moment today?”
Tak dinyana, respon saya bersambut bagaikan timba sumur dilempar ke dalam sumur ‘Indonesia Raya’; sumur manual pake tali. Siap dikerek naik. Nah ini kesimpulan dari beberapa teman yang berhasil saya ciduk. Fresh from the tungku, sodara – sodara ^_^
Beberapa sahabat perempuan saya yang sedang mempersiapkan urusan domestik perayaan natal, baik dari bersih – bersih rumah hingga mempersiapkan kudapan natal, berbagi momen surga mereka hari ini. Simak saja dari pernyataan Ririe ini: “ Sementara belum ada, yang ada devilish moment coz sejak pagi z sibuk panjat – panjat dan lap segala macam di dapur. Tapi kayaknya sih (heavenly moment-red) ada, Z pu dapur keliatan romantis skali saat hujan gini… Aih pacaran di dapur suda wkwkwkkwkw”. Saya langsung senyam – senyum saja, rumahnya sudah romantis penampakannya dari luar apalagi dilatarbelakangi hutan lindung. Bisa jadi areal foto pre-wedding malah hehehe. Si Yana malah sedikit berbeda , lebih ke urusan kue tapi saya bisa membayangkan bagaimana suasana di rumahnya di Pasir II Jayapura itu ya, masalahnya langsung punya akses dekat pantai. Mau donk! Ini cerita Yana tentang momen surganya hari ini: “Kalo sa ada duduk di dapur samping jendela yang di bawahnya ada kolam ikan sambil bantu mama bikin kue nastar :D”. Wah tadi pas lagi ngopi dan baca SMSnya Yana, alamak … ngiler boooo, pasti lezat ya ngopi hujan – hujan gini, kopi Arab pula e ditemani setoples Nastar panggang hangat dari oven. Bisa tidak dibayangkan ya aroma kopi melebur bersama Nastar hangat. Alamak, saya semakin ngiler lagi saat selang beberapa menit, si Olive mengirimkan pesan serupa: “Bikin Brownis Kukus”. Yiah … hampir saya jatuh dari jendela tadi. Gosh, I call it ‘temptation’ kala hujan. Iyalah, lagi nikmat ngopi dan dikirimi rekam jejak momen surga teman – teman dalam bentuk ‘makanan’. Sapa mo blok HAHAHA.
Sahabat saya si Amos yang lagi liburan pulang kampung ke Toraja berbagi pengalaman surganya hari ini, aduuuh bikin kaki saya langsung ‘gatal’ ingin travelling, bagaimana tidak, isinya begini: “Naik turun gunung mengendarai motor. Lihat kabut awan beterbangan”. Damainya, mana beberapa waktu lalu banyak foto alam hijau yang ditautkannya ke laman jejaring sosial saya. I can remember it, iya .. kabutnya itu lho, sudah lama tak melihatnya hehehe*serasa ingat Canberra lagi HAHAHA. Lain si Amos, lain lagi dosen saya semasa kuliah dulu. Ma’am Yanti ternyata setali tiga uang dengan saya untuk momen surganya hari ini, apalagi kalau bukan sedang ‘menikmati hujan seharian ini’. Perfect!
Momen surga hari ini tak selalu diterjemahkan sebagai momen yang romantis, kadang hanya hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup teman –teman saya. Seperti bercengkrama dengan buah hati seperti yang dibagikan oleh teman saya Tisda yang sedang liburan di kampung halamannya di Sumatera Utara sana, “Baru saja selesai masak, suap Joy, cuci baju, makan siang. Nih lagi nyusui Joy habis duduk di depan rumah sambil makan kacang Bogor dan lihat kendaraan lalu lalang n yang pasti sambil pantau Joy. Hehehe tadi nyaris jatuh dari rumah (model rumah panggung papan)”. Pun seperti yang dikatakan April di Kendari, “Saya lagi terpaku liat tumpukan cucianku yang perlu diberi perhatian khusus minggu ini, karena takut saja saya gak bisa pake baju lagi kalo gak ditindak lanjuti karena cucian lainnya dicuri orang hehehe. Tambahan tugas menumpuk mampu membakar otak, trus apa ya, satu yang spesial lagi, tunggu – tunggu mama, mau ngasih kado untuk hari Ibu, semoga beliau jadi datang hari ini.” Teman saya Maria yang sedang liburan di Serui malah berbagi cerita bahwa momen surganya hari ini begini: “Kalau saya nikmati berbagai keunikan dari segudang keponakan yang sedang bermain di teras rumah.”
Momen surga bukan pula sesuatu yang harus sangat spektakuler. Toh Luna Vidya dalam sebuah perjalanan kerjanya cukup menggambarkannya dengan sempurna, “Sore dengan matahari yang suam, di teras sebuah Café di Kendari, menunggu rapat mulai. Not so heavenly ya May?”. Bahkan mungkin hanya sesimpel yang dikatakan teman saya Eni yang tinggal di Borarsi sana, “Nikmati momen tidur siang spanggal saat hujan turun.”
Ada lagi teman saya yang menerjemahkan momen surga mereka sebagai momen dimana mereka melakukan hal yang mereka cintai, semacam ekspresi hidup mereka. Lihat saja komentar dari Arie May di Jayapura, “Saya suka malam, langit terang dan berada di tempat yang gelap. Saya suka memotret bulan, meski sangat suka bintang.” Ataupun versinya si Andi a.k.a. Ibiroma yang juga tinggal di kota yang sama, tentang berbagi satu momen surganya hari ini, “Lagi cerita – cerita dengan teman tentang musik”. Ya, mereka mempunyai persepsi momen surga yang muncul dalam hal – hal kecil yang mereka lakukan.
Ada pula teman saya , Henny, yang saat ditanya tentang momen surga hari ini hanya bisa bilang bahwa ia baru saja melewati masa yang berat dan terasa ‘suck’ hari ini. Bikin badan malas skali! Ya dampak dari rapat di tempat kerjanya. Ya tapi semoga saja akhir pekan ini akan membuatnya merasakan sekeping momen surga. Itu harapan saya.
Anyway, dari berbagai komentar teman – teman saya ini, saya melihat bahwa tiap orang punya momen surga dengan gradasi yang berbeda, tapi saya tak melihat ada seorangpun yang menyinggung tentang momen surga yang harus terkait dengan memiliki uang yang banyak,harta ataupun gadget mewah . Saya melihat bagaimana mereka melihat momen surga adalah saat dimana mereka menjadi diri mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka cintai ataupun menikmati hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka hari ini. Intinya, mereka sedang menikmati ‘hidup’ mereka. Saya pun teringat dengan diskusi dengan dosen saya tadi lewat pesan – pesan pendek, dan saya sangat setuju dengan pernyataan Ma’am Yanti ini, “Yupz, small ‘trivia’ thing is beautiful indeed. Justru orang – orang yang kebanyakan duit itu yang kadang – kadang malah tra bisa merasakan ‘keindahan’ hal – hal kecil di sekitar karena yang terpampang di dong pu pikiran dan pandangan hanya duit dan sodara2nya, padahal ‘kemewahan’ saat hujan begini nih tra pernah bisa dibeli ^_^”
Oopppps, tepat saat saya ingin menutup catatan ini, si Ririe yang tinggalnya di kawasan Gunung Meja sana dan asli Maluku ini mengirimkan lagi sebuah pesan dan sangat heavenly moment versinya dia dan menggambarkan sebuah kebersamaan, simak ceritanya: “Btw, I’ve just got my heavenly moment. Pohon di seberang jalan tumbang. Trus beberapa anak Wamena datang potong dengan dibantu papa dan tetangga depan. Sekarang semua lagi ngeteh dan makan gorengan di ruang tamu.”
Akhirnya, saya hanya bisa menutup catatan ini dan berharap bahwa setiap dari kita, akan selalu menemukan keindahan dalam hal – hal kecil dalam keseharian hidup kita tiap hari. Merasakan kepingan momen surga dalam hidup kita yang biasa saja. Karna saya percaya bahwa tiap orang punya potensi luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang menakjubkan dalam sebuah perjalanan yang disebut ‘hidup’.
Ya, dan tampaknya saya masih mau melanjutkan momen surga tahap ke sekian kala hujan hari ini, apalagi kalo bukan menulis catatan baru tentang pohon dan ‘ngopi’ lagi, kali ini dengan secangkir Javabica Cafelicious ‘Mochaccino’. Tentu saja usai itu akan dilanjutkan dengan mandi berlulur kopi buatan sendiri and I call this series of activity as ‘P-A-R-A-D-I-S-E’.
Welcome to my paradise, mates! Have a very nice weekend.
(Manokwari, 221211)
Tak dinyana, respon saya bersambut bagaikan timba sumur dilempar ke dalam sumur ‘Indonesia Raya’; sumur manual pake tali. Siap dikerek naik. Nah ini kesimpulan dari beberapa teman yang berhasil saya ciduk. Fresh from the tungku, sodara – sodara ^_^
Beberapa sahabat perempuan saya yang sedang mempersiapkan urusan domestik perayaan natal, baik dari bersih – bersih rumah hingga mempersiapkan kudapan natal, berbagi momen surga mereka hari ini. Simak saja dari pernyataan Ririe ini: “ Sementara belum ada, yang ada devilish moment coz sejak pagi z sibuk panjat – panjat dan lap segala macam di dapur. Tapi kayaknya sih (heavenly moment-red) ada, Z pu dapur keliatan romantis skali saat hujan gini… Aih pacaran di dapur suda wkwkwkkwkw”. Saya langsung senyam – senyum saja, rumahnya sudah romantis penampakannya dari luar apalagi dilatarbelakangi hutan lindung. Bisa jadi areal foto pre-wedding malah hehehe. Si Yana malah sedikit berbeda , lebih ke urusan kue tapi saya bisa membayangkan bagaimana suasana di rumahnya di Pasir II Jayapura itu ya, masalahnya langsung punya akses dekat pantai. Mau donk! Ini cerita Yana tentang momen surganya hari ini: “Kalo sa ada duduk di dapur samping jendela yang di bawahnya ada kolam ikan sambil bantu mama bikin kue nastar :D”. Wah tadi pas lagi ngopi dan baca SMSnya Yana, alamak … ngiler boooo, pasti lezat ya ngopi hujan – hujan gini, kopi Arab pula e ditemani setoples Nastar panggang hangat dari oven. Bisa tidak dibayangkan ya aroma kopi melebur bersama Nastar hangat. Alamak, saya semakin ngiler lagi saat selang beberapa menit, si Olive mengirimkan pesan serupa: “Bikin Brownis Kukus”. Yiah … hampir saya jatuh dari jendela tadi. Gosh, I call it ‘temptation’ kala hujan. Iyalah, lagi nikmat ngopi dan dikirimi rekam jejak momen surga teman – teman dalam bentuk ‘makanan’. Sapa mo blok HAHAHA.
Sahabat saya si Amos yang lagi liburan pulang kampung ke Toraja berbagi pengalaman surganya hari ini, aduuuh bikin kaki saya langsung ‘gatal’ ingin travelling, bagaimana tidak, isinya begini: “Naik turun gunung mengendarai motor. Lihat kabut awan beterbangan”. Damainya, mana beberapa waktu lalu banyak foto alam hijau yang ditautkannya ke laman jejaring sosial saya. I can remember it, iya .. kabutnya itu lho, sudah lama tak melihatnya hehehe*serasa ingat Canberra lagi HAHAHA. Lain si Amos, lain lagi dosen saya semasa kuliah dulu. Ma’am Yanti ternyata setali tiga uang dengan saya untuk momen surganya hari ini, apalagi kalau bukan sedang ‘menikmati hujan seharian ini’. Perfect!
Momen surga hari ini tak selalu diterjemahkan sebagai momen yang romantis, kadang hanya hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup teman –teman saya. Seperti bercengkrama dengan buah hati seperti yang dibagikan oleh teman saya Tisda yang sedang liburan di kampung halamannya di Sumatera Utara sana, “Baru saja selesai masak, suap Joy, cuci baju, makan siang. Nih lagi nyusui Joy habis duduk di depan rumah sambil makan kacang Bogor dan lihat kendaraan lalu lalang n yang pasti sambil pantau Joy. Hehehe tadi nyaris jatuh dari rumah (model rumah panggung papan)”. Pun seperti yang dikatakan April di Kendari, “Saya lagi terpaku liat tumpukan cucianku yang perlu diberi perhatian khusus minggu ini, karena takut saja saya gak bisa pake baju lagi kalo gak ditindak lanjuti karena cucian lainnya dicuri orang hehehe. Tambahan tugas menumpuk mampu membakar otak, trus apa ya, satu yang spesial lagi, tunggu – tunggu mama, mau ngasih kado untuk hari Ibu, semoga beliau jadi datang hari ini.” Teman saya Maria yang sedang liburan di Serui malah berbagi cerita bahwa momen surganya hari ini begini: “Kalau saya nikmati berbagai keunikan dari segudang keponakan yang sedang bermain di teras rumah.”
Momen surga bukan pula sesuatu yang harus sangat spektakuler. Toh Luna Vidya dalam sebuah perjalanan kerjanya cukup menggambarkannya dengan sempurna, “Sore dengan matahari yang suam, di teras sebuah Café di Kendari, menunggu rapat mulai. Not so heavenly ya May?”. Bahkan mungkin hanya sesimpel yang dikatakan teman saya Eni yang tinggal di Borarsi sana, “Nikmati momen tidur siang spanggal saat hujan turun.”
Ada lagi teman saya yang menerjemahkan momen surga mereka sebagai momen dimana mereka melakukan hal yang mereka cintai, semacam ekspresi hidup mereka. Lihat saja komentar dari Arie May di Jayapura, “Saya suka malam, langit terang dan berada di tempat yang gelap. Saya suka memotret bulan, meski sangat suka bintang.” Ataupun versinya si Andi a.k.a. Ibiroma yang juga tinggal di kota yang sama, tentang berbagi satu momen surganya hari ini, “Lagi cerita – cerita dengan teman tentang musik”. Ya, mereka mempunyai persepsi momen surga yang muncul dalam hal – hal kecil yang mereka lakukan.
Ada pula teman saya , Henny, yang saat ditanya tentang momen surga hari ini hanya bisa bilang bahwa ia baru saja melewati masa yang berat dan terasa ‘suck’ hari ini. Bikin badan malas skali! Ya dampak dari rapat di tempat kerjanya. Ya tapi semoga saja akhir pekan ini akan membuatnya merasakan sekeping momen surga. Itu harapan saya.
Anyway, dari berbagai komentar teman – teman saya ini, saya melihat bahwa tiap orang punya momen surga dengan gradasi yang berbeda, tapi saya tak melihat ada seorangpun yang menyinggung tentang momen surga yang harus terkait dengan memiliki uang yang banyak,harta ataupun gadget mewah . Saya melihat bagaimana mereka melihat momen surga adalah saat dimana mereka menjadi diri mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka cintai ataupun menikmati hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka hari ini. Intinya, mereka sedang menikmati ‘hidup’ mereka. Saya pun teringat dengan diskusi dengan dosen saya tadi lewat pesan – pesan pendek, dan saya sangat setuju dengan pernyataan Ma’am Yanti ini, “Yupz, small ‘trivia’ thing is beautiful indeed. Justru orang – orang yang kebanyakan duit itu yang kadang – kadang malah tra bisa merasakan ‘keindahan’ hal – hal kecil di sekitar karena yang terpampang di dong pu pikiran dan pandangan hanya duit dan sodara2nya, padahal ‘kemewahan’ saat hujan begini nih tra pernah bisa dibeli ^_^”
Oopppps, tepat saat saya ingin menutup catatan ini, si Ririe yang tinggalnya di kawasan Gunung Meja sana dan asli Maluku ini mengirimkan lagi sebuah pesan dan sangat heavenly moment versinya dia dan menggambarkan sebuah kebersamaan, simak ceritanya: “Btw, I’ve just got my heavenly moment. Pohon di seberang jalan tumbang. Trus beberapa anak Wamena datang potong dengan dibantu papa dan tetangga depan. Sekarang semua lagi ngeteh dan makan gorengan di ruang tamu.”
Akhirnya, saya hanya bisa menutup catatan ini dan berharap bahwa setiap dari kita, akan selalu menemukan keindahan dalam hal – hal kecil dalam keseharian hidup kita tiap hari. Merasakan kepingan momen surga dalam hidup kita yang biasa saja. Karna saya percaya bahwa tiap orang punya potensi luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang menakjubkan dalam sebuah perjalanan yang disebut ‘hidup’.
Ya, dan tampaknya saya masih mau melanjutkan momen surga tahap ke sekian kala hujan hari ini, apalagi kalo bukan menulis catatan baru tentang pohon dan ‘ngopi’ lagi, kali ini dengan secangkir Javabica Cafelicious ‘Mochaccino’. Tentu saja usai itu akan dilanjutkan dengan mandi berlulur kopi buatan sendiri and I call this series of activity as ‘P-A-R-A-D-I-S-E’.
Welcome to my paradise, mates! Have a very nice weekend.
(Manokwari, 221211)
The tree & me
Tanah Papua, tanah yang diberkati. Tanah yang diselimuti hutan rimba. Saya percaya itu. Papua tanpa pohon adalah sebuah keniscayaan karena hutan yang menjadi salah satu aset Papua adalah identitas lain tanah ini. Banyak hutan yang masih ditumbuhi pohon – pohon ratusan tahun, banyak pula yang sudah diperkosa habis. Hutan tak hanya berisi pohon tapi juga makhluk hidup lainnya. Pohon sebagai elemen penting hutan adalah mama bagi banyak manusia kulit gelap dan pelindung para hewan. Sayangnya, di tanah saya, ada banyak sesama anak tanah kulit gelap yang tidak menghargai hutan khususnya pohon. Bahkan ada juga yang tidak dapat membedakan siapa yang salah dalam mengekspresikan kemarahan seperti yang saya lihat di kota kelahiran saya; Manokwari pada tanggal 20 Desemer 2011 kemarin. Catatan saya kali ini hanyalah ekspresi kesedihan saya mengenang banyaknya pohon yang jadi korban dalam kekacauan di Manokwari di tanggal tersebut.
Beberapa minggu lalu di kota saya, para pejabat silih berganti mempromosikan diri cinta lingkungan mereka dengan menanam pohon. Katanya, ada gerakan nasional segala. Mereka bahkan tak ragu memajang wajah mereka di mana – mana dengan slogan cinta lingkungan segala. Saya tak mengerti bagaimana ikatan emosi mereka dengan pohon – pohon yang mereka tanam, saya tak tahu. Bahkan, saya penasaran apakah mereka juga punya waktu untuk bicara ataupun menyapa pohon – pohon yang mereka tanam atau tidak. Ataukah sekedar memantau pertumbuhannya. Saya hanya penasaran saja. Anggap saja ini bagian dimana saya bertanya.
Saya tak pernah tahu bagaimana orang lain memandang pohon. Apa hanya sekedar sebagai mesin pompa air penarik air tanah ke permukaan, penghijau pandangan, ataukah sekedar pabrik oksigen? Saya tak tahu. Sekedar fakta yang bisa saya dapatkan tentang manfaat pohon, misalnya saja yang dibagi oleh majalah Reader’s Digest Indonesia beberapa tahun lalu, bahwa untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun dan untuk tiap penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Bagi saya, pohon lebih dari sekedar mesin pompa air, penghijau, ataupun pabrik oksigen. Bagi saya, sedari kecil, Pohon telah menjadi guru dan malaikat tanpa sayap bagi saya dalam memahami hidup. Memahami kehidupan dan juga mengenal Tuhan.
Catatan tak jelas ini tentu saja berangkat dari kegalauan dan kesedihan saya hari ini. Rasa kehilangan tepatnya. Sejak pagi tadi, saya mulai sedih mengenang nasib pohon – pohon besar pinggir jalan yang menjadi korban dalam acara ‘kacau – kacau’ reaksi masyarakat Arfak di Manokwari tanggal 20 Desember kemarin. Saya tak bisa mengerti saja jalan pikiran mereka yang memilih menjadikan pohon sebagai sarana pemalangan jalan. Apakah mereka hendak mengusir roh – roh di alam dengan menebang dan mencincang pohon? Saya tak rela benar melihat hal ini. Jujur saya sangat sedih hingga menangis lebih dari sejam. Saya memilih menuangkan rasa protes saya dalam cerita pendek saya terkait para ‘mega’ (pohon) yang menjadi korban. Saya tahu dalam suku mama saya, saya sebagai perempuan bahkan tak punya hak untuk bersuara yang besar, apalagi saya hanya ½ Arfak. Tapi saya geram dengan perlakuan mereka pada pohon – pohon itu, benar – benar geram. Apakah mereka tak paham bahwa mungkin saja Moncusu, Kinomu, Monghu, Meski, Amerera, Kinonsa dan roh – roh lainnya juga bersedih dengan perlakuan mereka pada alam? Sebuah pohon butuh waktu tahunan untuk bertumbuh. Bukan sesuatu yang instan dan langsung jadi besar. Ada banyak kenangan dan harapan yang dititip oleh banyak orang pada tiap pohon, entah disadari atau tidak. Saya percaya, para pohon bereaksi pada perlakuan manusia pada mereka.
Malam ini saya benar – benar sedih dan menangis, sangat nelangsa. Merasa sangat kehilangan mengenang nasib pohon – pohon besar di kota saya dan juga tanah saya Papua. Saking tak tahannya, saya mengirim pesan pada sejumlah teman tentang rasa sedih saya. Sehari sebelum kejadian ‘palang dan bakar’ di Manokwari, saya dan keluarga lengkap dengan 4 keponakan cilik pergi ke daerah ulayat keluarga mama saya; mengambil 30 pohon bibit pinang yang saya beli bulan kemarin di sebuah persemaian lokal (saat ini rumah kami resmi punya 80an pohon pinang walau sebagian besar masih setinggi 30 cm), juga membeli bibit pohon Rambutan dan Manggis serta mengambil beberapa bibit pohon Ketapang Papua. Sehari sebelum kekacauan, saya percaya akan ada tambahan pohon penghuni di dalam kota, karena rumah kami letaknya memang masih di daerah dalam kota. Namun, kemarin sore, hati saya terasa luruh kala melihat banyak pohon ditebang sia – sia demi sebuah ekspresi amarah dan sayangnya yang ditebang adalah pohon – pohon besar dan bukan sekedar bibit pohon seperti yang saya beli kemarin.
Anyway, bulan Desember ini pun, sejak beberapa tahun saya amati, ada banyak hal yang membuat saya sedikit trenyuh melihat perayaan natal di Manokwari. Selalu saja perayaan natal dengan banyaknya pohon tua ataupun pohon muda yang jadi ‘korban’. Iya, jadi korban. Pernah tidak melihat pembuatan pondok – pondok natal di Manokwari? Sangat jarang saya melihat pondok natal yang terbuat dari balok kayu permanen, ataupun dari bahan semacam fiberglass dan bahan – bahan non-rambahan hutan. Selalu saja yang saya lihat adalah pondok natal yang terbuat dari puluhan batang kayu yang adalah pohon muda. Pohon – pohon muda yang berkorban menjadi penyemarak natal dan bila telah lewat masa perayaan, mereka akan jadi kayu bakar. Sesimpel itu. Jadi, anda tinggal hitung saja berapa banyak kebutuhan pohon muda (biasanya disebut saja ‘kayu buah’) untuk tiap pondok dan anda kalikan dengan jumlah pondok hias natal di seluruh kota Manokwari. Saya berani bertaruh bahwa pohon yang ditebang umurnya > 1 tahun dan saya berani bertaruh juga, para perambah hutan untuk kayu pondok ini tak pernah menanam kembali di hutan dimana mereka ambil kayunya. Saya hanya sedih melihat keadaan hutan Manokwari khususnya pohon. Ini hanya pengamatan lepas saya, di Manokwari sendiri, daerah luasan hutan kota makin berkurang. Entah karena dirambah kayunya untuk kayu bakar dan bahan bangunan, ataukah dijadikan areal lahan pemukiman. Saya merasa sedih bila melihat adanya perayaan demi senang – senang semata tanpa melihat dampaknya pada keseluruhan hidup penghuni alam.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan sensitif dengan interrelasi alam dan manusia. Terlalu juga terkoneksi dengan pohon sejak kecil dan alam bawah sadar saya menyimpan bayang pohon. Saya baru sadar malam ini kala memandang dinding kamar yang tiap dindingnya bertabur gambar pohon dalam empat musim. Iya, sewaktu pulang kuliah S2 saya, sebelum resmi menempati kamar baru di rumah baru ini, saya ‘membabtis’ kamar ini dengan lukisan – lukisan di dinding. Saya melukis dahulu siklus pohon 4 musim, dari musim semi hingga musim gugur di tiap dindingnya. Jadi ada 4 rupa pohon di kamar saya. Malam ini, saya benar – benar tersadar dengan refleksi saya tentang hidup lewat lukisan pohon di dinding kamar. Musim semi ibarat masa kecil saya yang baru bertumbuh, kala pohon memunculkan daun dan bunga mula - mula. Musim panas adalah masa remaja saya hingga dewasa muda yang dipresentasikan dengan lebat dan hijaunya dedaunan. Musim gugur adalah masa dewasa saya, masa yang matang dan ini adalah masa dimana keindahan pohon begitu cantik dan romantis serta terefleksikan dengan sempurna. Dan kelak, di musim dingin, saya akan serupa dengan pohon – pohon kerontang meranggas tanpa daun itu. Mati. Namun kelak, sebenarnya saya hanya menunggu datangnya ‘musim semi’ dalam kehidupan yang baru di dunia lain.
Alam bawah sadar saya mungkin terlalu banyak menyimpan konsep ‘pohon’ dalam hidup saya: sebagai sahabat, pelindung dan juga penyemangat (iya, karna musim dingin adalah musim terberat bagi saya selama tinggal di negara 4 musim, karena saya emosi saya suka down karna tak melihat banyak pohon hijau). Bahkan tato terbaru saya yang ‘asal’ itu ternyata memang juga merefleksikan pohon. Mungkin karena ikatan masa kecil saya. Sewaktu saya lahir 28 tahun lalu, bapak saya menanam banyak pohon buah untuk saya (pohon Nangka, Alpukat, Langsat dan juga Rambutan) dan begitu juga sewaktu adik - adik saya lahir. Masa kecil saya pun diisi dengan bermain bersama pohon khususnya sebagai teman bicara karena saya memang punya masalah komunikasi dengan anggota keluarga saya dan pohon akhirnya menjadi teman cerita terbaik. Selain itu, saya juga ingat kejadian di tahun 2004 kala kakak lelaki saya mabuk berat dan mengejar semua anggota keluarga dengan parang, saya ingat betul bagaimana peran pohon Nangka yang ditanam bapak saya di bulan September 1983 itu. Entahlah, saat itu, saya tahu saya akan aman berada di atas pohon dan bukannya di tempat lain. Saat anggota keluarga lain dan adik perempuan saya lari sejauh mungkin ke luar halaman rumah, insting dan alam bawah sadar saya malah membuat saya memilih pergi ke halaman belakang rumah dan memanjat pohon Nangka itu dan diam hampir sejam lebih di atas sana. Mencari perlindungan yang aman. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk lari keluar halaman dan menjauh tapi tidak saya lakukan.
Malam ini, saya juga makin mengerti kenapa sejak setahun terakhir walaupun saya marahan besar dengan orang tua saya bahkan bisa sampai ‘pake acara banting – banting pintu dan baku maki’, tak sekalipun saya punya keberanian untuk lari ataupun kabur dari rumah lebih dari sehari. Selalu saja saya akan kembali ke kamar saya, mengunci pintu, dan mencari sebuah kedamaian dalam ruang 4x4 meter berdinding gambar pohon. Entahlah, mungkin karena alam bawah sadar selalu sukses merekam jejak pohon sebagai ‘tempat yang aman’ ataupun ‘tempat berlindung’.
Anyway, ada banyak kisah pribadi masa kecil saya yang sangat terkoneksi dengan pohon. Sangat banyak dan saya tak pernah kapok jatuh cinta pada pohon walau pernah 3 x jatuh dari pohon. Saya tahu saya cukup berbeda dalam merespon pohon dan alam dari saudara – saudara saya sejak kecil, ya mungkin karena intensitas saya yang cukup tinggi dengan pohon. Saya juga cukup sensitif dengan alam. Tak ada hari di masa SD – SMP saya yang bebas dari acara panjat pohon dan nongkrong berjam – jam di sana sendirian. Saya bahkan mengenal betapa bedanya saya kala kecil karena sampai harus disambit dengan batu serta diteriaki ‘gila’ dan ‘otak seno’ oleh saudara – saudara lelaki dan mama saya karena bila saya marah atau sedih, pasti saya memilih naik ke pohon dan diam di sana. Saya hanya punya masalah komunikasi sewaktu kecil dan tak bisa mengeluarkan emosi yang tepat dan memilih menuangkannya dengan cerita pada pohon sambil memandang jauh ke depan, berpikir tentang hidup dalam bentuk ‘seandainya’ dan ‘bagaimana jika…’ , dan juga melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang – orang di bawah pohon. Mungkin itulah sebabnya, hingga sekarang saya lebih suka melihat dari kacamata yang berbeda untuk banyak hal dalam hidup saya termasuk mimpi – mimpi saya yang tidak terlalu popular itu. Pohon begitu baik meminjamkan saya tempat untuk menemukan diri dan hidup saya. Itu saja.
Saya tak tahu bagaimana anda ataupun orang lain memandang pohon, entah yang buahnya dapat dimakan ataupun tidak. Saya tak tahu. Bagi saya, setiap pohon punya cerita, punya kenangan dan punya banyak hal yang bisa diajarkan. Bahkan, ini mungkin jadi salah satu alasan konyol bila dikenang. Iya, salah satu alasan saya waktu memilih kuliah di ANU Canberra dulu hanya karena senior saya bilang kalau di sana banyak pohon dan alamnya hijau. Daerah konservasi. Itu saja. Saya bahkan tidak tahu kalau waktu itu peringkat kampus ini termasuk the top 8 di Australia. HAHAHA *iyalah, baru tersadar dengan aliran tugasnya yang ‘gila’ itu.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan juga terlalu bermimpi untuk melihat bagaimana pohon diperlakukan secara layak oleh manusia di kota saya. Apalagi bermimpi akan ada ‘ahli bedah pohon’ seperti di Canberra dulu. Entahlah, saya bertumbuh dengan banyak pohon di rumah saya dan selalu saja ada rasa sakit yang muncul bila mengenang bagaimana tiap pohon harus mati demi alasan tertentu. Mungkin kelakuan saya ini serupa Idefix; anjingnya sih Obelix dalam komik Asterix yang suka melolong sedih kala sebuah pohon ditebang. Saya masih ingat beberapa rasa sakit yang pernah menjalar di hati e.g.seperti kala pohon Nangka seumuran saya yang harus kami tebang karena akarnya dirusak hama dan terlalu tinggi. Nasib yang sama juga menggerogoti pohon – pohon Alpukat. Pohon Durian di depan rumah juga baru kami tebang tahun ini karna kehadirannya yang mengancam para keponakan kecil saya yang suka bermain di bawahnya. Selalu saja ada rasa sakit yang tertancap tertinggal kala pohon – pohon itu harus mati di tangan kami. Ada banyak kenangan yang juga hilang.
Bila anda datang ke rumah saya suatu hari nanti, jangan heran dengan banyaknya pohon di halaman rumah. Kami khususnya saya memang tergila – gila pada pohon. Proyek ‘gila’ saya dan bapak saya di halaman rumah saat ini adalah mengoleksi varietas mangga, rambutan dan juga Giawas. Juga untuk mulai menjadikan puring sebagai satu – satunya tanaman pagar. Kami menyukai pohon dan pohon menjadi bagian integral dari keluarga kami. Kala satu pohon kami tebang, pasti selalu saja tanpa kami sadari, ada pohon lain yang kami tanam kembali. Itu saja.
Tulisan saya mungkin berbelit – belit. Entahlah. Saya hanya ingin bilang, bila ada waktu, ya bila anda percaya apa yang saya katakan. Ini mungkin ide gila saya yang sampai sekarang masih kadang – kadang saya lakukan. Saya suka menyentuh dan berkenalan dengan pohon – pohon di tempat baru. Di rumah saya, saya suka menempelkan tangan saya dan merasakan pohon itu. Cobalah tutup mata anda dan ucapkan terimakasih pada pohon itu. Express your love, mungkin ungkapan yang tepat. Itu yang bisa saya anjurkan karena bagaimanapun anda dan saya berhutang oksigen pada mereka; pohon – pohon di sekeliling anda.
Malam ini, saya merindukan pohon besar penaung es kelapa di tanjakan Manggoapi sana, tempat saya kerap menghabiskan hari duduk sendirian, merenung tentang hidup sambil memandang lurus jauh ke teluk sana. Tanggal 20 Desember kemarin, pohon penaung ini ditebang untuk jadi bahan palang jalan raya demi ekspresi kemarahan anggota suku mama saya. Entahlah! Ada banyak cerita di bawah pohon ini, ada banyak kenangan, ada banyak renungan dan pelajaran yang saya dapatkan. Saya mengenang bagaimana saya suka tertawa kecil mendengar desau angin yang memainkan daun – daun pohon ini kala saya menengadah ke atas kepala saya, memandang langit biru yang terselip di antara dedaunan. Tiap kali melakukan hal itu, saya teringat kenangan manis saya di Canberra Australia di bawah pohon Poplar dan melakukan hal yang sama. Pohon ini juga kerap menjadi peneduh saya kala mengagumi betapa dekatnya Tuhan bagi saya; lewat alam yang indah. Pun tak lupa mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya lahir di Manokwari; sebuah kota teluk berbukit dan gunung yang indah. Pohon yang saya tak tahu bahasa Latinnya ini memang selalu menjadi peneduh dan malaikat tanpa sayap.
Akhirnya, catatan ini harus saya tutup juga. Anyway, Please, just don’t take the trees for granted. Malam ini, saya ingin tidur dan semoga besok akan turun hujan pagi, agar sore hari dapat saya tanam bibit pohon – pohon Pinang yang baru diambil beberapa hari lalu. Tapi, saya berdoa agar semoga akan ada tunas pohon di tebangan pokok pohon di Manggoapi itu dan ada penanaman pohon baru di bekas tebangan pohon – pohon yang sempat menjadi korban.
Ah saya hanya pemimpi, tapi bagi saya, pohon lebih dari sekedar pabrik oksigen, mesin pompa air, peneduh dan perindang. Bagi saya, it’s an integral part of my life. Itu saja.
(Manokwari, 211211; menulis sebagai terapi, isn’t it? Just miss that tree)
Beberapa minggu lalu di kota saya, para pejabat silih berganti mempromosikan diri cinta lingkungan mereka dengan menanam pohon. Katanya, ada gerakan nasional segala. Mereka bahkan tak ragu memajang wajah mereka di mana – mana dengan slogan cinta lingkungan segala. Saya tak mengerti bagaimana ikatan emosi mereka dengan pohon – pohon yang mereka tanam, saya tak tahu. Bahkan, saya penasaran apakah mereka juga punya waktu untuk bicara ataupun menyapa pohon – pohon yang mereka tanam atau tidak. Ataukah sekedar memantau pertumbuhannya. Saya hanya penasaran saja. Anggap saja ini bagian dimana saya bertanya.
Saya tak pernah tahu bagaimana orang lain memandang pohon. Apa hanya sekedar sebagai mesin pompa air penarik air tanah ke permukaan, penghijau pandangan, ataukah sekedar pabrik oksigen? Saya tak tahu. Sekedar fakta yang bisa saya dapatkan tentang manfaat pohon, misalnya saja yang dibagi oleh majalah Reader’s Digest Indonesia beberapa tahun lalu, bahwa untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun dan untuk tiap penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Bagi saya, pohon lebih dari sekedar mesin pompa air, penghijau, ataupun pabrik oksigen. Bagi saya, sedari kecil, Pohon telah menjadi guru dan malaikat tanpa sayap bagi saya dalam memahami hidup. Memahami kehidupan dan juga mengenal Tuhan.
Catatan tak jelas ini tentu saja berangkat dari kegalauan dan kesedihan saya hari ini. Rasa kehilangan tepatnya. Sejak pagi tadi, saya mulai sedih mengenang nasib pohon – pohon besar pinggir jalan yang menjadi korban dalam acara ‘kacau – kacau’ reaksi masyarakat Arfak di Manokwari tanggal 20 Desember kemarin. Saya tak bisa mengerti saja jalan pikiran mereka yang memilih menjadikan pohon sebagai sarana pemalangan jalan. Apakah mereka hendak mengusir roh – roh di alam dengan menebang dan mencincang pohon? Saya tak rela benar melihat hal ini. Jujur saya sangat sedih hingga menangis lebih dari sejam. Saya memilih menuangkan rasa protes saya dalam cerita pendek saya terkait para ‘mega’ (pohon) yang menjadi korban. Saya tahu dalam suku mama saya, saya sebagai perempuan bahkan tak punya hak untuk bersuara yang besar, apalagi saya hanya ½ Arfak. Tapi saya geram dengan perlakuan mereka pada pohon – pohon itu, benar – benar geram. Apakah mereka tak paham bahwa mungkin saja Moncusu, Kinomu, Monghu, Meski, Amerera, Kinonsa dan roh – roh lainnya juga bersedih dengan perlakuan mereka pada alam? Sebuah pohon butuh waktu tahunan untuk bertumbuh. Bukan sesuatu yang instan dan langsung jadi besar. Ada banyak kenangan dan harapan yang dititip oleh banyak orang pada tiap pohon, entah disadari atau tidak. Saya percaya, para pohon bereaksi pada perlakuan manusia pada mereka.
Malam ini saya benar – benar sedih dan menangis, sangat nelangsa. Merasa sangat kehilangan mengenang nasib pohon – pohon besar di kota saya dan juga tanah saya Papua. Saking tak tahannya, saya mengirim pesan pada sejumlah teman tentang rasa sedih saya. Sehari sebelum kejadian ‘palang dan bakar’ di Manokwari, saya dan keluarga lengkap dengan 4 keponakan cilik pergi ke daerah ulayat keluarga mama saya; mengambil 30 pohon bibit pinang yang saya beli bulan kemarin di sebuah persemaian lokal (saat ini rumah kami resmi punya 80an pohon pinang walau sebagian besar masih setinggi 30 cm), juga membeli bibit pohon Rambutan dan Manggis serta mengambil beberapa bibit pohon Ketapang Papua. Sehari sebelum kekacauan, saya percaya akan ada tambahan pohon penghuni di dalam kota, karena rumah kami letaknya memang masih di daerah dalam kota. Namun, kemarin sore, hati saya terasa luruh kala melihat banyak pohon ditebang sia – sia demi sebuah ekspresi amarah dan sayangnya yang ditebang adalah pohon – pohon besar dan bukan sekedar bibit pohon seperti yang saya beli kemarin.
Anyway, bulan Desember ini pun, sejak beberapa tahun saya amati, ada banyak hal yang membuat saya sedikit trenyuh melihat perayaan natal di Manokwari. Selalu saja perayaan natal dengan banyaknya pohon tua ataupun pohon muda yang jadi ‘korban’. Iya, jadi korban. Pernah tidak melihat pembuatan pondok – pondok natal di Manokwari? Sangat jarang saya melihat pondok natal yang terbuat dari balok kayu permanen, ataupun dari bahan semacam fiberglass dan bahan – bahan non-rambahan hutan. Selalu saja yang saya lihat adalah pondok natal yang terbuat dari puluhan batang kayu yang adalah pohon muda. Pohon – pohon muda yang berkorban menjadi penyemarak natal dan bila telah lewat masa perayaan, mereka akan jadi kayu bakar. Sesimpel itu. Jadi, anda tinggal hitung saja berapa banyak kebutuhan pohon muda (biasanya disebut saja ‘kayu buah’) untuk tiap pondok dan anda kalikan dengan jumlah pondok hias natal di seluruh kota Manokwari. Saya berani bertaruh bahwa pohon yang ditebang umurnya > 1 tahun dan saya berani bertaruh juga, para perambah hutan untuk kayu pondok ini tak pernah menanam kembali di hutan dimana mereka ambil kayunya. Saya hanya sedih melihat keadaan hutan Manokwari khususnya pohon. Ini hanya pengamatan lepas saya, di Manokwari sendiri, daerah luasan hutan kota makin berkurang. Entah karena dirambah kayunya untuk kayu bakar dan bahan bangunan, ataukah dijadikan areal lahan pemukiman. Saya merasa sedih bila melihat adanya perayaan demi senang – senang semata tanpa melihat dampaknya pada keseluruhan hidup penghuni alam.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan sensitif dengan interrelasi alam dan manusia. Terlalu juga terkoneksi dengan pohon sejak kecil dan alam bawah sadar saya menyimpan bayang pohon. Saya baru sadar malam ini kala memandang dinding kamar yang tiap dindingnya bertabur gambar pohon dalam empat musim. Iya, sewaktu pulang kuliah S2 saya, sebelum resmi menempati kamar baru di rumah baru ini, saya ‘membabtis’ kamar ini dengan lukisan – lukisan di dinding. Saya melukis dahulu siklus pohon 4 musim, dari musim semi hingga musim gugur di tiap dindingnya. Jadi ada 4 rupa pohon di kamar saya. Malam ini, saya benar – benar tersadar dengan refleksi saya tentang hidup lewat lukisan pohon di dinding kamar. Musim semi ibarat masa kecil saya yang baru bertumbuh, kala pohon memunculkan daun dan bunga mula - mula. Musim panas adalah masa remaja saya hingga dewasa muda yang dipresentasikan dengan lebat dan hijaunya dedaunan. Musim gugur adalah masa dewasa saya, masa yang matang dan ini adalah masa dimana keindahan pohon begitu cantik dan romantis serta terefleksikan dengan sempurna. Dan kelak, di musim dingin, saya akan serupa dengan pohon – pohon kerontang meranggas tanpa daun itu. Mati. Namun kelak, sebenarnya saya hanya menunggu datangnya ‘musim semi’ dalam kehidupan yang baru di dunia lain.
Alam bawah sadar saya mungkin terlalu banyak menyimpan konsep ‘pohon’ dalam hidup saya: sebagai sahabat, pelindung dan juga penyemangat (iya, karna musim dingin adalah musim terberat bagi saya selama tinggal di negara 4 musim, karena saya emosi saya suka down karna tak melihat banyak pohon hijau). Bahkan tato terbaru saya yang ‘asal’ itu ternyata memang juga merefleksikan pohon. Mungkin karena ikatan masa kecil saya. Sewaktu saya lahir 28 tahun lalu, bapak saya menanam banyak pohon buah untuk saya (pohon Nangka, Alpukat, Langsat dan juga Rambutan) dan begitu juga sewaktu adik - adik saya lahir. Masa kecil saya pun diisi dengan bermain bersama pohon khususnya sebagai teman bicara karena saya memang punya masalah komunikasi dengan anggota keluarga saya dan pohon akhirnya menjadi teman cerita terbaik. Selain itu, saya juga ingat kejadian di tahun 2004 kala kakak lelaki saya mabuk berat dan mengejar semua anggota keluarga dengan parang, saya ingat betul bagaimana peran pohon Nangka yang ditanam bapak saya di bulan September 1983 itu. Entahlah, saat itu, saya tahu saya akan aman berada di atas pohon dan bukannya di tempat lain. Saat anggota keluarga lain dan adik perempuan saya lari sejauh mungkin ke luar halaman rumah, insting dan alam bawah sadar saya malah membuat saya memilih pergi ke halaman belakang rumah dan memanjat pohon Nangka itu dan diam hampir sejam lebih di atas sana. Mencari perlindungan yang aman. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk lari keluar halaman dan menjauh tapi tidak saya lakukan.
Malam ini, saya juga makin mengerti kenapa sejak setahun terakhir walaupun saya marahan besar dengan orang tua saya bahkan bisa sampai ‘pake acara banting – banting pintu dan baku maki’, tak sekalipun saya punya keberanian untuk lari ataupun kabur dari rumah lebih dari sehari. Selalu saja saya akan kembali ke kamar saya, mengunci pintu, dan mencari sebuah kedamaian dalam ruang 4x4 meter berdinding gambar pohon. Entahlah, mungkin karena alam bawah sadar selalu sukses merekam jejak pohon sebagai ‘tempat yang aman’ ataupun ‘tempat berlindung’.
Anyway, ada banyak kisah pribadi masa kecil saya yang sangat terkoneksi dengan pohon. Sangat banyak dan saya tak pernah kapok jatuh cinta pada pohon walau pernah 3 x jatuh dari pohon. Saya tahu saya cukup berbeda dalam merespon pohon dan alam dari saudara – saudara saya sejak kecil, ya mungkin karena intensitas saya yang cukup tinggi dengan pohon. Saya juga cukup sensitif dengan alam. Tak ada hari di masa SD – SMP saya yang bebas dari acara panjat pohon dan nongkrong berjam – jam di sana sendirian. Saya bahkan mengenal betapa bedanya saya kala kecil karena sampai harus disambit dengan batu serta diteriaki ‘gila’ dan ‘otak seno’ oleh saudara – saudara lelaki dan mama saya karena bila saya marah atau sedih, pasti saya memilih naik ke pohon dan diam di sana. Saya hanya punya masalah komunikasi sewaktu kecil dan tak bisa mengeluarkan emosi yang tepat dan memilih menuangkannya dengan cerita pada pohon sambil memandang jauh ke depan, berpikir tentang hidup dalam bentuk ‘seandainya’ dan ‘bagaimana jika…’ , dan juga melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang – orang di bawah pohon. Mungkin itulah sebabnya, hingga sekarang saya lebih suka melihat dari kacamata yang berbeda untuk banyak hal dalam hidup saya termasuk mimpi – mimpi saya yang tidak terlalu popular itu. Pohon begitu baik meminjamkan saya tempat untuk menemukan diri dan hidup saya. Itu saja.
Saya tak tahu bagaimana anda ataupun orang lain memandang pohon, entah yang buahnya dapat dimakan ataupun tidak. Saya tak tahu. Bagi saya, setiap pohon punya cerita, punya kenangan dan punya banyak hal yang bisa diajarkan. Bahkan, ini mungkin jadi salah satu alasan konyol bila dikenang. Iya, salah satu alasan saya waktu memilih kuliah di ANU Canberra dulu hanya karena senior saya bilang kalau di sana banyak pohon dan alamnya hijau. Daerah konservasi. Itu saja. Saya bahkan tidak tahu kalau waktu itu peringkat kampus ini termasuk the top 8 di Australia. HAHAHA *iyalah, baru tersadar dengan aliran tugasnya yang ‘gila’ itu.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan juga terlalu bermimpi untuk melihat bagaimana pohon diperlakukan secara layak oleh manusia di kota saya. Apalagi bermimpi akan ada ‘ahli bedah pohon’ seperti di Canberra dulu. Entahlah, saya bertumbuh dengan banyak pohon di rumah saya dan selalu saja ada rasa sakit yang muncul bila mengenang bagaimana tiap pohon harus mati demi alasan tertentu. Mungkin kelakuan saya ini serupa Idefix; anjingnya sih Obelix dalam komik Asterix yang suka melolong sedih kala sebuah pohon ditebang. Saya masih ingat beberapa rasa sakit yang pernah menjalar di hati e.g.seperti kala pohon Nangka seumuran saya yang harus kami tebang karena akarnya dirusak hama dan terlalu tinggi. Nasib yang sama juga menggerogoti pohon – pohon Alpukat. Pohon Durian di depan rumah juga baru kami tebang tahun ini karna kehadirannya yang mengancam para keponakan kecil saya yang suka bermain di bawahnya. Selalu saja ada rasa sakit yang tertancap tertinggal kala pohon – pohon itu harus mati di tangan kami. Ada banyak kenangan yang juga hilang.
Bila anda datang ke rumah saya suatu hari nanti, jangan heran dengan banyaknya pohon di halaman rumah. Kami khususnya saya memang tergila – gila pada pohon. Proyek ‘gila’ saya dan bapak saya di halaman rumah saat ini adalah mengoleksi varietas mangga, rambutan dan juga Giawas. Juga untuk mulai menjadikan puring sebagai satu – satunya tanaman pagar. Kami menyukai pohon dan pohon menjadi bagian integral dari keluarga kami. Kala satu pohon kami tebang, pasti selalu saja tanpa kami sadari, ada pohon lain yang kami tanam kembali. Itu saja.
Tulisan saya mungkin berbelit – belit. Entahlah. Saya hanya ingin bilang, bila ada waktu, ya bila anda percaya apa yang saya katakan. Ini mungkin ide gila saya yang sampai sekarang masih kadang – kadang saya lakukan. Saya suka menyentuh dan berkenalan dengan pohon – pohon di tempat baru. Di rumah saya, saya suka menempelkan tangan saya dan merasakan pohon itu. Cobalah tutup mata anda dan ucapkan terimakasih pada pohon itu. Express your love, mungkin ungkapan yang tepat. Itu yang bisa saya anjurkan karena bagaimanapun anda dan saya berhutang oksigen pada mereka; pohon – pohon di sekeliling anda.
Malam ini, saya merindukan pohon besar penaung es kelapa di tanjakan Manggoapi sana, tempat saya kerap menghabiskan hari duduk sendirian, merenung tentang hidup sambil memandang lurus jauh ke teluk sana. Tanggal 20 Desember kemarin, pohon penaung ini ditebang untuk jadi bahan palang jalan raya demi ekspresi kemarahan anggota suku mama saya. Entahlah! Ada banyak cerita di bawah pohon ini, ada banyak kenangan, ada banyak renungan dan pelajaran yang saya dapatkan. Saya mengenang bagaimana saya suka tertawa kecil mendengar desau angin yang memainkan daun – daun pohon ini kala saya menengadah ke atas kepala saya, memandang langit biru yang terselip di antara dedaunan. Tiap kali melakukan hal itu, saya teringat kenangan manis saya di Canberra Australia di bawah pohon Poplar dan melakukan hal yang sama. Pohon ini juga kerap menjadi peneduh saya kala mengagumi betapa dekatnya Tuhan bagi saya; lewat alam yang indah. Pun tak lupa mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya lahir di Manokwari; sebuah kota teluk berbukit dan gunung yang indah. Pohon yang saya tak tahu bahasa Latinnya ini memang selalu menjadi peneduh dan malaikat tanpa sayap.
Akhirnya, catatan ini harus saya tutup juga. Anyway, Please, just don’t take the trees for granted. Malam ini, saya ingin tidur dan semoga besok akan turun hujan pagi, agar sore hari dapat saya tanam bibit pohon – pohon Pinang yang baru diambil beberapa hari lalu. Tapi, saya berdoa agar semoga akan ada tunas pohon di tebangan pokok pohon di Manggoapi itu dan ada penanaman pohon baru di bekas tebangan pohon – pohon yang sempat menjadi korban.
Ah saya hanya pemimpi, tapi bagi saya, pohon lebih dari sekedar pabrik oksigen, mesin pompa air, peneduh dan perindang. Bagi saya, it’s an integral part of my life. Itu saja.
(Manokwari, 211211; menulis sebagai terapi, isn’t it? Just miss that tree)
Labels:
Lingkungan,
Manokwari,
Politik,
self - reflection
Wednesday, 21 December 2011
Cerpen - 20 Desember
PROLOG
Siang merangkak pelan menuju sore di Manokwari. Mendung menggayut diam di atas bentang awan. Alam tak seperti biasanya. Angin berlari diam tanpa pesan, tanpa kabar. Laut sedang berdiam diri dalam senyap. Tak ada keceriaan yang tertangkap olehku. Mereka sedang sembunyi – sembunyi berselingkuh, berbisik pelan tentang rahasia. Rahasia yang kutak tahu. Mereka sedang bermufakat. Aku penasaran! Ya pada sebuah 20 Desember.
***
Rhe
Aku dan tiga keponakan kecilku baru saja turun dari tangga luar sebuah areal permainan di sebuah pusat perbelanjaan di kota kecil ini. Aku baru saja menebus janji Natalku bermain bersama mereka di arena permainan. Ei, keponakanku yang tomboi berlari riang tanpa peduli dengan beberapa orang di tempat parkir. Dua keponakan yang lain sibuk membahas berapa banyak kupon hadiah yang mereka dapatkan. Aku sendiri sibuk memainkan tombol – tombol ponselku, mengetikan sejumlah huruf berisi pesan pada seorang lelaki di ujung kota. Bertanya kabar dan pesan tak penting. Berkomunikasi!
Beberapa tas belanjaan sukses kukepit. Celoteh Ei pada Lee dan Mu tak kugubris. Melangkah lelah ke arah sepeda motor yang kuparkirkan. Tiba – tiba, muncul tetanggaku di parkiran. Tergesa – gesa menujuku.
“Rhe, pulang tempo. Su mo kaco nih. Tempo. Su ada palang – palang. Su ada bakar – bakar ban.”
Ucapannya diperkuat dengan beberapa staf pusat perbelanjaan yang bergegas menuju tirai besi penutup kaca dan menarik benda – benda pelapis keamanan itu dengan cepat.
“Sreeet. Sreeet!!!”. Wajah- wajah pucat pasi beterbangan di depan pusat perbelanjaan.
Tak ada waktu. Tak pikir lama. Kuantar para keponakanku pulang. Tak ada waktu banyak*sambil menaikkan kecepatan sepeda motor.
***
Nay
Sore ini rencananya aku harus pergi mengambil potongan selang yang dipinjam tanpa ijin oleh mantan teman kosku yang kurang ajar itu. Iyalah, ia dengan seenaknya mengambil selangku yang kubeli sekian ratus ribu itu, tanpa ijin pula. Mesin cuciku pun sudah dirusaknya, belum lagi dengan makanan dan peralatan masakku selama kami kos. Tak heran, si janda satu anak ini bisa ditinggal suaminya. Lah kelakuannya saja se-kapitalis oportunis. Hari ini kuputuskan ia harus mengembalikan selang itu, kos baruku butuh air yang banyak dan tak ada cara lain selain mengambilnya dari sumber air yang jauh.
Kucegat ojek di ujung lorong kos baruku, dan dengan sigap melompat ke atas motor. Mas ojek hanya tersenyum simpul memandangku yang polos tanpa saputan alat rias apapun. Jilbab kuningku sudah rapi jali. Kaos lengan panjang hitam dan celana jinsku juga pun sudah ‘kena setrika’. Dompet dan segala macam gadget tempur sudah rapi masuk ranselku. Tak ada yang kurang. Hanya kurang belum bisa mengendarai sepeda motor hehehe.
Tiba – tiba di kejauhan, di sebuah persimpangan. Kepulan asap membumbung tinggi. Sangat tinggi. Bau karet terbakar dengan api berkobar garang menyambut kami. Barikade jalan menganga di ujung sana. Pria – pria bersenjata sensor dan parang berdiri tegap menjaga palang – palang darurat dari meja jualan, potongan kayu dan pohon serta batang – batang pohon.
“Kam bubar. Pulang – pulang, tra bole lewat. Tra bole”
Kuputuskan turun dari ojek. Penasaran! Tak peduli betapa berwarnanya aku dalam kerumunan itu.
Tak lama, datanglah serombongan mobil petugas berbaju cokelat. Tanpa ba-bi-bu. Mereka menendang barikade. Para penjaga barikade tak bergeming. Semuanya diam dalam amarah. Menjaga jarak.
“DOOOR! DOOR!” dan orang – orang pun berlari. Berlari kencang. Seiring nyala api yang mulai memudar.
Dan aku terjaga, tak adakah bahasa kasih diplomasi di kota ini? Apakah masyarakat sipil pembenci politik sepertiku bisa hidup tenang di tanah ini? Aku tak tahu. *sambil berlari mencari perlindungan.
***
Merei1
Kuterima beberapa pesan pendek di ponselku malam kemarin. Hatiku panas. Sangat panas. Ada dendam membara di dalam hatiku. Seperti mah-eisa2. Bagaimana bisa sebuah keadilan dibutakan oleh kecurangan? Bagaimana bisa keadilan dibayar hanya dengan 5 Milyar dalam sebuah sidang? Bagaimana bisa 300 ribu dan beberapa kilogram beras dan gula dapat menyumpal suara? Uang dan sembako bantuan korban bencana alam yang disalahalihkan demi sebuah pencitraan. Aku tergugu memandangi kopian berkas – berkas neraca keuangan dan beberapa nota. Geram dalam diam. Emosiku membuncah dalam titik kulminasi.
Kulihat wajah para pembeli keadilan ini. Oh bukan! Mereka bukan pembeli, mereka tukang sablon. Tukang tambal, tukang sumpal. Tukang ‘bikin taprop3’ keadilan. Penyumbat! Tiba – tiba wajah – wajah mereka berubah ibarat ‘mes’4 tapi tentu saja bukan seperti ‘tibiyai’5. Bukan! Hanya serupa anjing buduk Kaskado6 yang kerap kulihat di ujung lorong. Kulihat wajah – wajah mereka. Kulihat wajah keluarga mereka, kulihat gambar rumah – rumah mereka. Kulihat semuanya. Sayup – sayup kudengar suara mereka dalam kepalaku, sekilas dalam percakapan – percakapan tak penting. Baik dalam bentang koar – koar program ataupun ucapan basa – basi penuh rayu.
Kubentangkan gambar denah sebuah rumah di pinggir laut. Mempelajarinya dengan seksama. Beberapa nomor pun mulai kukontak. Mengatur strategi. Aku ingin tarian mah-eisa di hatiku keluar, keluar ke rumah ini. Jangan tanya bagaimana kudapatkan semua ini. Jangan tanya. Aku berbisnis informasi. Itu saja yang perlu kau tahu.
***
Mewka7
Hari ini tampaknya hujan akan turun. Iya, kubaui aroma hujan yang mulai menggumpal di atas sana. Awan cumulus mulai menari dalam ikatan dan simpul, membentuk rentetan – rentetan rangkaian kondensasi udara beku. Memaksa mof, si angin, untuk tertawa geli bercanda. Kupandangi tubuhku yang mulai membengkak seiring waktu, semakin ‘gode’, semakin menarik bagiku.
Pakaianku dari masa mudaku selalu begini, berbaju coklat dan berkain hijau. Aku tahu aku dilahirkan untuk sebuah misi. Misi mulia melayani para manusia ini. Aku menyaksikan banyak hal terjadi di depan mataku dalam diam. Mengamati, menangis dan kadang – kadang juga trenyuh. Tiap muka baru di kota ini kukenal kala mereka melintas di depanku dalam mobil – mobil baru keluaran pabrik luar negeri. Kukenal juga para orang kaya baru yang berkeliaran mengantar para kerabat dan keluarga mereka berlibur dengan burung besi ke luar kota ini. Aku sering melihat mereka.
Aku juga melihat banyak sisi modernitas tanpa kejelasan yang terpampang di depan biji mataku. Seperti patung perunggu lelaki di depan jalan, dekat tubuhku. Lelaki yang konon didapuk sebagai seorang penginjil di masa lalu. Lelaki dari negara kincir angin, nun jauh di Eropa sana. Mereka membangun sosok lelaki ini kemudian meninggalkannya. Tak ada satupun peneduh alami di sana. Lelaki perunggu itu kerap berteriak padaku. Menjerit mengaduh. Kesepian dan sedih melihat beberapa orang berasyik masyuk melepas sperma di bawah kakinya tengah malam ataupun rombongan pemabuk menyanyi sumbang di bawahnya dalam malam – malam tertentu. Malam tanpa hujan, bintang dan bulan.
Kau pasti mengenalku. Tiap musim tertentu di tiap tahun, banyak anak kecil yang bermain di bawahku, tertawa riang bermain bersamaku. Kadang – kadang aku menggendong mereka dan kami pun tertawa bersama dibuai angin. Iya, tapi tidak hari ini.
Sore ini, aku merasa ada yang salah kala kulihat beberapa lelaki kulit gelap itu berlari kencang menujuku. Mereka memegang sesuatu yang sangat kutakuti seumur hidupku. Rentetan gigi besi sensor mengaum – ngaum bagai suara singa. Aku takut. Sangat takut! Lelaki perunggu di depanku hanya memandangku dalam diam; tak bisa membantu. Jauh di depanku, layar – layar billboard TV tertawa mencemoohku dalam potret pembangunan bagai di surga ke tujuh. Aku takut, sangat takut sore ini.
***
Gerry
Panggil saja aku Gerry. Iya, biar gaul, biar terkenal, biar populer. Aku mengenal banyak orang terkenal di kota ini, mengenal banyak orang apalagi kalangan akademisi. Aku juga mengenal para pencari Tuhan yang gemar bernyanyi itu, ataupun kanak – kanak kecil pembaca pelantun ayat – ayat suci. Aku mengenal mereka.
Tiap siang dalam sepanjang hidupku, aku bertemu banyak orang yang berdiri dekat tubuhku. Mereka menyukaiku, kurasa. Lelaki – lelaki bermotor pun kerap tertawa riang bercanda dekatku kala menunggu ban – ban sepeda motor mereka yang gembos diterjang paku.
Sore ini, entahlah, aku sangat takut. Sangat takut. Kulihat logam – logam tajam itu berlari menujuku. Apakah ini mautku? Aku takut. Inikah tebusan dari budi muliaku selama ini pada bumi, pada manusia, pada sesama? Entahlah. Aku takut. Begitu sakit! Di sebelahku, tugu ‘Manokwari Kota Injil’berdiri pongah, dan papan kepemilikan tanah adat tertawa senang diangkut sebagai bahan palang. Aku tak tahu bagaimana rupa darah. Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu tahun ini aku tak akan lagi mendengar kidung natal dan dentang lonceng tanggal 25 Besok. Tak akan lagi. Ya, karena tubuhku sudah terbentang patah di jalan – jalan lengkap dengan buah – buahku yang merah ranum kecil. Andai saja aku masih bisa menikmati lagi dentang deru mesin tertahan lampu merah. Andai saja!
***
EPILOG
Hari ini aku menangis kencang, sangat kencang. Beberapa jam lalu angin dan laut berselingkuh di belakangku, menyembunyikan rahasia. Beberapa jam lalu, aku menangis dalam diam, tak ada air mata yang keluar. Kulihat mah-eisa, si api yang menyala itu menari riang di sebuah rumah. Aku tak menangis untuk tarian api itu. Sama sekali tidak. Aku menangis untuk Mewka, si pohon Mangga dan para ‘mega’8 atau pohon yang harus mati hari ini. Sama seperti keadilan yang sudah lama mati di tanah ini. Ya, sudah lama mati.
Aku terkejut dengan keserakahan manusia, kelicikan dan juga tipudaya mereka. Mereka saling menipu, berseteru, memperebutkan kekuasaan dan pengakuan dengan berbagai cara. Membuang uang bermilyar – milyar rupiah entah dalam sogokan maupun penghilangan bukti, mereka rela membakar duit tiap malam di kota ini, mereka rela membuang banyak peluru yang dibayar dari uang rakyat yang didapat juga dari menjual diriku kepada para pemerkosa.
Hari ini aku menangis untuk Manokwari. Aku menangis untuk fakta bahwa di sebuah rumah ada 30 motor dan 9 mobil tetapi di sebelah rumah itu, masih banyak anak kecil kulit hitam yang kurang gizi dan menahan lapar. Aku menangis untuk fakta bahwa ada perseteruan para manusia tetapi pohon – pohon yang bercerita pada diriku tiap hari selama bertahun – tahun harus mati ditebas dalam sebuah amarah mereka. Aku menangis untuk fakta bahwa sebuah seragam dan peluru yang dibayar dengan uang pajak rakyat harus menyebar kesombongan dan keangkuhan di tengah kerumunan masyarakat. Aku menangis bahwa diplomasi tidak dianut di kota ini, tetapi yang ada hanyalah bahasa senjata dan alat tajam. Aku menangis untuk sebuah fakta bahwa paru – paruku diracuni lagi dengan gas bakaran ban – ban bekas.
Aku ingin menangis lagi pada hari ini, pada sebuah 20 Desember di Manokwari, karena aku ‘MEBI’9, sang bumi akan mengingat hari ini.
Aku ingin menangis lagi hari ini, untuk Manokwari!
(Manokwari, 211211; reflecting on Manokwari’s riot 20 December 2011 performed by the Arfak People especially the Meyahs)
Catatan:
1. Merei (Meyah) Gila
2. Mah-Eisa (Meyah) api yang menyala
3. Taprop (Melayu Papua) Menyumbat, mampet, macet
4. Mes (Meyah) Anjing
5. Tibiyai (Meyah) Tokoh mitologi suku Meyah, Arfak yang berbentuk anjing. Dipercaya merupakan salah satu moyang suku Meyah.
6. Kaskado (Melayu Papua) Penyakit kulit. Kata ini berasal dari serapan bahasa Portugis ‘De cascado’.
7. Mewka (Meyah) Mangga
8. Mega (Meyah) pohon
9. Mebi (Meyah) Bumi
Siang merangkak pelan menuju sore di Manokwari. Mendung menggayut diam di atas bentang awan. Alam tak seperti biasanya. Angin berlari diam tanpa pesan, tanpa kabar. Laut sedang berdiam diri dalam senyap. Tak ada keceriaan yang tertangkap olehku. Mereka sedang sembunyi – sembunyi berselingkuh, berbisik pelan tentang rahasia. Rahasia yang kutak tahu. Mereka sedang bermufakat. Aku penasaran! Ya pada sebuah 20 Desember.
***
Rhe
Aku dan tiga keponakan kecilku baru saja turun dari tangga luar sebuah areal permainan di sebuah pusat perbelanjaan di kota kecil ini. Aku baru saja menebus janji Natalku bermain bersama mereka di arena permainan. Ei, keponakanku yang tomboi berlari riang tanpa peduli dengan beberapa orang di tempat parkir. Dua keponakan yang lain sibuk membahas berapa banyak kupon hadiah yang mereka dapatkan. Aku sendiri sibuk memainkan tombol – tombol ponselku, mengetikan sejumlah huruf berisi pesan pada seorang lelaki di ujung kota. Bertanya kabar dan pesan tak penting. Berkomunikasi!
Beberapa tas belanjaan sukses kukepit. Celoteh Ei pada Lee dan Mu tak kugubris. Melangkah lelah ke arah sepeda motor yang kuparkirkan. Tiba – tiba, muncul tetanggaku di parkiran. Tergesa – gesa menujuku.
“Rhe, pulang tempo. Su mo kaco nih. Tempo. Su ada palang – palang. Su ada bakar – bakar ban.”
Ucapannya diperkuat dengan beberapa staf pusat perbelanjaan yang bergegas menuju tirai besi penutup kaca dan menarik benda – benda pelapis keamanan itu dengan cepat.
“Sreeet. Sreeet!!!”. Wajah- wajah pucat pasi beterbangan di depan pusat perbelanjaan.
Tak ada waktu. Tak pikir lama. Kuantar para keponakanku pulang. Tak ada waktu banyak*sambil menaikkan kecepatan sepeda motor.
***
Nay
Sore ini rencananya aku harus pergi mengambil potongan selang yang dipinjam tanpa ijin oleh mantan teman kosku yang kurang ajar itu. Iyalah, ia dengan seenaknya mengambil selangku yang kubeli sekian ratus ribu itu, tanpa ijin pula. Mesin cuciku pun sudah dirusaknya, belum lagi dengan makanan dan peralatan masakku selama kami kos. Tak heran, si janda satu anak ini bisa ditinggal suaminya. Lah kelakuannya saja se-kapitalis oportunis. Hari ini kuputuskan ia harus mengembalikan selang itu, kos baruku butuh air yang banyak dan tak ada cara lain selain mengambilnya dari sumber air yang jauh.
Kucegat ojek di ujung lorong kos baruku, dan dengan sigap melompat ke atas motor. Mas ojek hanya tersenyum simpul memandangku yang polos tanpa saputan alat rias apapun. Jilbab kuningku sudah rapi jali. Kaos lengan panjang hitam dan celana jinsku juga pun sudah ‘kena setrika’. Dompet dan segala macam gadget tempur sudah rapi masuk ranselku. Tak ada yang kurang. Hanya kurang belum bisa mengendarai sepeda motor hehehe.
Tiba – tiba di kejauhan, di sebuah persimpangan. Kepulan asap membumbung tinggi. Sangat tinggi. Bau karet terbakar dengan api berkobar garang menyambut kami. Barikade jalan menganga di ujung sana. Pria – pria bersenjata sensor dan parang berdiri tegap menjaga palang – palang darurat dari meja jualan, potongan kayu dan pohon serta batang – batang pohon.
“Kam bubar. Pulang – pulang, tra bole lewat. Tra bole”
Kuputuskan turun dari ojek. Penasaran! Tak peduli betapa berwarnanya aku dalam kerumunan itu.
Tak lama, datanglah serombongan mobil petugas berbaju cokelat. Tanpa ba-bi-bu. Mereka menendang barikade. Para penjaga barikade tak bergeming. Semuanya diam dalam amarah. Menjaga jarak.
“DOOOR! DOOR!” dan orang – orang pun berlari. Berlari kencang. Seiring nyala api yang mulai memudar.
Dan aku terjaga, tak adakah bahasa kasih diplomasi di kota ini? Apakah masyarakat sipil pembenci politik sepertiku bisa hidup tenang di tanah ini? Aku tak tahu. *sambil berlari mencari perlindungan.
***
Merei1
Kuterima beberapa pesan pendek di ponselku malam kemarin. Hatiku panas. Sangat panas. Ada dendam membara di dalam hatiku. Seperti mah-eisa2. Bagaimana bisa sebuah keadilan dibutakan oleh kecurangan? Bagaimana bisa keadilan dibayar hanya dengan 5 Milyar dalam sebuah sidang? Bagaimana bisa 300 ribu dan beberapa kilogram beras dan gula dapat menyumpal suara? Uang dan sembako bantuan korban bencana alam yang disalahalihkan demi sebuah pencitraan. Aku tergugu memandangi kopian berkas – berkas neraca keuangan dan beberapa nota. Geram dalam diam. Emosiku membuncah dalam titik kulminasi.
Kulihat wajah para pembeli keadilan ini. Oh bukan! Mereka bukan pembeli, mereka tukang sablon. Tukang tambal, tukang sumpal. Tukang ‘bikin taprop3’ keadilan. Penyumbat! Tiba – tiba wajah – wajah mereka berubah ibarat ‘mes’4 tapi tentu saja bukan seperti ‘tibiyai’5. Bukan! Hanya serupa anjing buduk Kaskado6 yang kerap kulihat di ujung lorong. Kulihat wajah – wajah mereka. Kulihat wajah keluarga mereka, kulihat gambar rumah – rumah mereka. Kulihat semuanya. Sayup – sayup kudengar suara mereka dalam kepalaku, sekilas dalam percakapan – percakapan tak penting. Baik dalam bentang koar – koar program ataupun ucapan basa – basi penuh rayu.
Kubentangkan gambar denah sebuah rumah di pinggir laut. Mempelajarinya dengan seksama. Beberapa nomor pun mulai kukontak. Mengatur strategi. Aku ingin tarian mah-eisa di hatiku keluar, keluar ke rumah ini. Jangan tanya bagaimana kudapatkan semua ini. Jangan tanya. Aku berbisnis informasi. Itu saja yang perlu kau tahu.
***
Mewka7
Hari ini tampaknya hujan akan turun. Iya, kubaui aroma hujan yang mulai menggumpal di atas sana. Awan cumulus mulai menari dalam ikatan dan simpul, membentuk rentetan – rentetan rangkaian kondensasi udara beku. Memaksa mof, si angin, untuk tertawa geli bercanda. Kupandangi tubuhku yang mulai membengkak seiring waktu, semakin ‘gode’, semakin menarik bagiku.
Pakaianku dari masa mudaku selalu begini, berbaju coklat dan berkain hijau. Aku tahu aku dilahirkan untuk sebuah misi. Misi mulia melayani para manusia ini. Aku menyaksikan banyak hal terjadi di depan mataku dalam diam. Mengamati, menangis dan kadang – kadang juga trenyuh. Tiap muka baru di kota ini kukenal kala mereka melintas di depanku dalam mobil – mobil baru keluaran pabrik luar negeri. Kukenal juga para orang kaya baru yang berkeliaran mengantar para kerabat dan keluarga mereka berlibur dengan burung besi ke luar kota ini. Aku sering melihat mereka.
Aku juga melihat banyak sisi modernitas tanpa kejelasan yang terpampang di depan biji mataku. Seperti patung perunggu lelaki di depan jalan, dekat tubuhku. Lelaki yang konon didapuk sebagai seorang penginjil di masa lalu. Lelaki dari negara kincir angin, nun jauh di Eropa sana. Mereka membangun sosok lelaki ini kemudian meninggalkannya. Tak ada satupun peneduh alami di sana. Lelaki perunggu itu kerap berteriak padaku. Menjerit mengaduh. Kesepian dan sedih melihat beberapa orang berasyik masyuk melepas sperma di bawah kakinya tengah malam ataupun rombongan pemabuk menyanyi sumbang di bawahnya dalam malam – malam tertentu. Malam tanpa hujan, bintang dan bulan.
Kau pasti mengenalku. Tiap musim tertentu di tiap tahun, banyak anak kecil yang bermain di bawahku, tertawa riang bermain bersamaku. Kadang – kadang aku menggendong mereka dan kami pun tertawa bersama dibuai angin. Iya, tapi tidak hari ini.
Sore ini, aku merasa ada yang salah kala kulihat beberapa lelaki kulit gelap itu berlari kencang menujuku. Mereka memegang sesuatu yang sangat kutakuti seumur hidupku. Rentetan gigi besi sensor mengaum – ngaum bagai suara singa. Aku takut. Sangat takut! Lelaki perunggu di depanku hanya memandangku dalam diam; tak bisa membantu. Jauh di depanku, layar – layar billboard TV tertawa mencemoohku dalam potret pembangunan bagai di surga ke tujuh. Aku takut, sangat takut sore ini.
***
Gerry
Panggil saja aku Gerry. Iya, biar gaul, biar terkenal, biar populer. Aku mengenal banyak orang terkenal di kota ini, mengenal banyak orang apalagi kalangan akademisi. Aku juga mengenal para pencari Tuhan yang gemar bernyanyi itu, ataupun kanak – kanak kecil pembaca pelantun ayat – ayat suci. Aku mengenal mereka.
Tiap siang dalam sepanjang hidupku, aku bertemu banyak orang yang berdiri dekat tubuhku. Mereka menyukaiku, kurasa. Lelaki – lelaki bermotor pun kerap tertawa riang bercanda dekatku kala menunggu ban – ban sepeda motor mereka yang gembos diterjang paku.
Sore ini, entahlah, aku sangat takut. Sangat takut. Kulihat logam – logam tajam itu berlari menujuku. Apakah ini mautku? Aku takut. Inikah tebusan dari budi muliaku selama ini pada bumi, pada manusia, pada sesama? Entahlah. Aku takut. Begitu sakit! Di sebelahku, tugu ‘Manokwari Kota Injil’berdiri pongah, dan papan kepemilikan tanah adat tertawa senang diangkut sebagai bahan palang. Aku tak tahu bagaimana rupa darah. Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu tahun ini aku tak akan lagi mendengar kidung natal dan dentang lonceng tanggal 25 Besok. Tak akan lagi. Ya, karena tubuhku sudah terbentang patah di jalan – jalan lengkap dengan buah – buahku yang merah ranum kecil. Andai saja aku masih bisa menikmati lagi dentang deru mesin tertahan lampu merah. Andai saja!
***
EPILOG
Hari ini aku menangis kencang, sangat kencang. Beberapa jam lalu angin dan laut berselingkuh di belakangku, menyembunyikan rahasia. Beberapa jam lalu, aku menangis dalam diam, tak ada air mata yang keluar. Kulihat mah-eisa, si api yang menyala itu menari riang di sebuah rumah. Aku tak menangis untuk tarian api itu. Sama sekali tidak. Aku menangis untuk Mewka, si pohon Mangga dan para ‘mega’8 atau pohon yang harus mati hari ini. Sama seperti keadilan yang sudah lama mati di tanah ini. Ya, sudah lama mati.
Aku terkejut dengan keserakahan manusia, kelicikan dan juga tipudaya mereka. Mereka saling menipu, berseteru, memperebutkan kekuasaan dan pengakuan dengan berbagai cara. Membuang uang bermilyar – milyar rupiah entah dalam sogokan maupun penghilangan bukti, mereka rela membakar duit tiap malam di kota ini, mereka rela membuang banyak peluru yang dibayar dari uang rakyat yang didapat juga dari menjual diriku kepada para pemerkosa.
Hari ini aku menangis untuk Manokwari. Aku menangis untuk fakta bahwa di sebuah rumah ada 30 motor dan 9 mobil tetapi di sebelah rumah itu, masih banyak anak kecil kulit hitam yang kurang gizi dan menahan lapar. Aku menangis untuk fakta bahwa ada perseteruan para manusia tetapi pohon – pohon yang bercerita pada diriku tiap hari selama bertahun – tahun harus mati ditebas dalam sebuah amarah mereka. Aku menangis untuk fakta bahwa sebuah seragam dan peluru yang dibayar dengan uang pajak rakyat harus menyebar kesombongan dan keangkuhan di tengah kerumunan masyarakat. Aku menangis bahwa diplomasi tidak dianut di kota ini, tetapi yang ada hanyalah bahasa senjata dan alat tajam. Aku menangis untuk sebuah fakta bahwa paru – paruku diracuni lagi dengan gas bakaran ban – ban bekas.
Aku ingin menangis lagi pada hari ini, pada sebuah 20 Desember di Manokwari, karena aku ‘MEBI’9, sang bumi akan mengingat hari ini.
Aku ingin menangis lagi hari ini, untuk Manokwari!
(Manokwari, 211211; reflecting on Manokwari’s riot 20 December 2011 performed by the Arfak People especially the Meyahs)
Catatan:
1. Merei (Meyah) Gila
2. Mah-Eisa (Meyah) api yang menyala
3. Taprop (Melayu Papua) Menyumbat, mampet, macet
4. Mes (Meyah) Anjing
5. Tibiyai (Meyah) Tokoh mitologi suku Meyah, Arfak yang berbentuk anjing. Dipercaya merupakan salah satu moyang suku Meyah.
6. Kaskado (Melayu Papua) Penyakit kulit. Kata ini berasal dari serapan bahasa Portugis ‘De cascado’.
7. Mewka (Meyah) Mangga
8. Mega (Meyah) pohon
9. Mebi (Meyah) Bumi
Perjamuan Kudus & Tato
Malam ini, saya baru saja usai memperbaharui janji dan komitmen saya pada Yesus dalam sebuah Perjamuan Kudus di gereja lokal saya. Iya, sebuah janji pada Tuhan. Apalagi sejak mewawancarai narasumber saya terkait daerah Sanggeng, saya merasa malu pada diri saya yang tidak bisa meluangkan waktu barang 2 jam seminggu untuk bersekutu di rumah Tuhan bersama orang percaya lainnya. Jadi, malam ini, usai hampir 2 bulan lebih tidak pernah pergi ibadah di gereja, saya muncul untuk sebuah commitment renewal dalam bentuk mengakui peran tubuh dan darah Kristus. Iya, sesimpel itu.
Malam ini saya juga baru saja selesai membuat tato temporer di tubuh saya. Ini ketiga kalinya saya membuat tato: pertama tahun 2008, kedua tahun 2009, dan ketiga ya tahun ini hehehe. Kali ini, hanya 3 tato dengan desain yang berbeda. Tato pertama, di punggung tangan kiri, sebuah tato sedang berisi simbol nama saya yang sudah saya ciptakan logonya sejak tahun 2002 di Manado. Ya, sebuah simbol RH34 dalam gambar kotak dan huruf. Simbol ini merupakan dari representasi saya sewaktu kecil tentang diri saya yang tidak bisa menyebutkan nama kedua saya dengan huruf ‘I’ tetapi dengan ‘E’. Plus penyebutannya menjadi ucapan nama seorang dewi dalam mitologi Yunani. Ibu kehidupan a.k.a. Rhea.
Saya juga memutuskan membuat tato kedua saya, berada di atas payudara kiri, bertuliskan nama panggilannya saya dalam penulisan bahasa Inggris: MYA. Tulisan ini sudah saya adopsi sejak tahun 2000 kalau tidak salah. Jadinya tidak merujuk pada sebutan nama saya versi India. Saya punya alasan penting memakai nama saya di tempat yang cukup terlindung . Faktor budaya suku mama saya: Meyah, Arfak. Dalam keluarga besar mama saya yang berasal dari keluarga ‘big man’ alias kepala suku turun – temurun, setahu saya, saya keturunan ke 7 dari trah dinasti kami, dan ke empat dari keturunan Byak. Semua saudara perempuan mama saya punya tato, entah di wajah atau tangan. Bahkan ada yang memiliki keduanya. Hanya mama saya yang tidak memilikinya karena ia sejak lahir diadopsi pasangan Maluku ( Amahai, Seram - Paperu, Saparua). Di masa lalu, perempuan suku Meyah rata – rata bertato, entah dalam bentuk titik, garis atau apalah. Tapi harus. Tato yang saya tahu menurut penuturan saudara – saudara perempuan mama adalah simbol yang menyatakan bahwa kami ‘milik’ atau berasal dari keluarga X atau suku X.
Anyway, Seiring dengan dikenalnya huruf Latin, maka kerabatnya mama pun berganti simbol dengan lebih banyak menggunakan inisial nama. Suku besar mama adalah suku petarung yang suka berperang dan salah satu suku pegunungan Arfak. Bahkan juga punya mekanisme kontrol sosial; suanggi. Kehidupan yang keras di pegunungan dan juga nilai perempuan yang tinggi menjadikan tato sebagai alat identifikasi sejak kecil. Iyalah, kasus penculikan dan pembunuhan sering terjadi dan perempuan sangat rentan dalam kondisi seperti ini. Itulah sebabnya, saudara perempuan mama punya tato di wajah dan tangan mereka, sebagai penanda. Hal inilah yang membuat saya memutuskan membuat tato temporer di badan saya, dan semoga masih tetap bisa bertahan ke depannya. Toh, sekarang saya sudah bisa membuatnya sendiri. Saya fobia dengan insersi jarum di tubuh saya dan juga cepat bosan, makanya masih tidak berani membuat tato permanen. Itu saja.
Tato ketiga saya berada di betis kanan, lumayan besar. Gambarnya adalah sebuah guci yang menuangkan air yang meluap. Desainnya saya adaptasi dari versi yang saya lihat di internet tetapi kemudian saya modifikasi sesuai dengan filosofi saya. Saya suka air dan menjadi representasi nama lain saya yang mengandung unsur ‘air’. Dalam bahasa suku mama saya, air disebut ‘Mei’ dan hujan disebut ‘Mos’, itulah sebabnya saya memakai nama ‘meimosaki’, arti literal karangan saya sendiri sih ‘(air) hujan di pagi hari’. Nah, tato ini sendiri punya dua makna bagi saya. Selain simbol air, guci yang dipakai menampung air aliran air memuat simbol dua huruf M tumpang tindih, satu merujuk pada nama panggilan saya sejak kecil dan dua pada nama Meimosaki. Air yang mengalir tidak lagi dalam bentuk air tapi saya buat dalam representasi pohon dalam mitologi India. Sedikit tampak seperti batik juga sih. Ataupun manusia abstrak. Ya, merepresentasikan budaya Jawa yang sarat dengan konsep ‘gunungan’ itu tapi ini merujuk pada air dan pohon dalam bentuk kehidupan. Saya suka keduanya dan saya bersyukur tato buatan saya kali ini benar – benar the real me dan saya puas.
Saya tidak peduli apa pandangan orang tentang tato saya. Entah dibilang ‘kaco’, ‘nakal’ atau ‘sesat’, I just don’t give a damn on it. Bagi saya, saya akan bertato demi sebuah filosofi dan bukannya tren. Saya tidak akan bertato dengan simbol tertentu yang sedang tren atau diinginkan orang lain. Selain itu, saya juga berkomitmen sejak akhir – akhir ini untuk mulai menghayati 50% darah Papua saya termasuk aturan keluarga besar saya yang tidak boleh menyantap daging anjing karena legenda keluarga kami; kami berasal dari anjing betina. Ya, saya mulai sedikit bisa mengadopsinya karena memang sudah bermasalah dengan RW plus mulai memelihara Autumn (anjing kecil saya yang saya serahkan untuk si Eu). Janji kecil tepatnya.
Anyway, saya mulai menulis yang tidak penting tampaknya. Ini hidup saya dan ya, saya hanya ingin jujur pada diri saya sendiri. Saya sedang dalam perjalanan saya ‘back to my root(s). Itu saja.
(Manokwari, 191211; 2 a.m.)
Malam ini saya juga baru saja selesai membuat tato temporer di tubuh saya. Ini ketiga kalinya saya membuat tato: pertama tahun 2008, kedua tahun 2009, dan ketiga ya tahun ini hehehe. Kali ini, hanya 3 tato dengan desain yang berbeda. Tato pertama, di punggung tangan kiri, sebuah tato sedang berisi simbol nama saya yang sudah saya ciptakan logonya sejak tahun 2002 di Manado. Ya, sebuah simbol RH34 dalam gambar kotak dan huruf. Simbol ini merupakan dari representasi saya sewaktu kecil tentang diri saya yang tidak bisa menyebutkan nama kedua saya dengan huruf ‘I’ tetapi dengan ‘E’. Plus penyebutannya menjadi ucapan nama seorang dewi dalam mitologi Yunani. Ibu kehidupan a.k.a. Rhea.
Saya juga memutuskan membuat tato kedua saya, berada di atas payudara kiri, bertuliskan nama panggilannya saya dalam penulisan bahasa Inggris: MYA. Tulisan ini sudah saya adopsi sejak tahun 2000 kalau tidak salah. Jadinya tidak merujuk pada sebutan nama saya versi India. Saya punya alasan penting memakai nama saya di tempat yang cukup terlindung . Faktor budaya suku mama saya: Meyah, Arfak. Dalam keluarga besar mama saya yang berasal dari keluarga ‘big man’ alias kepala suku turun – temurun, setahu saya, saya keturunan ke 7 dari trah dinasti kami, dan ke empat dari keturunan Byak. Semua saudara perempuan mama saya punya tato, entah di wajah atau tangan. Bahkan ada yang memiliki keduanya. Hanya mama saya yang tidak memilikinya karena ia sejak lahir diadopsi pasangan Maluku ( Amahai, Seram - Paperu, Saparua). Di masa lalu, perempuan suku Meyah rata – rata bertato, entah dalam bentuk titik, garis atau apalah. Tapi harus. Tato yang saya tahu menurut penuturan saudara – saudara perempuan mama adalah simbol yang menyatakan bahwa kami ‘milik’ atau berasal dari keluarga X atau suku X.
Anyway, Seiring dengan dikenalnya huruf Latin, maka kerabatnya mama pun berganti simbol dengan lebih banyak menggunakan inisial nama. Suku besar mama adalah suku petarung yang suka berperang dan salah satu suku pegunungan Arfak. Bahkan juga punya mekanisme kontrol sosial; suanggi. Kehidupan yang keras di pegunungan dan juga nilai perempuan yang tinggi menjadikan tato sebagai alat identifikasi sejak kecil. Iyalah, kasus penculikan dan pembunuhan sering terjadi dan perempuan sangat rentan dalam kondisi seperti ini. Itulah sebabnya, saudara perempuan mama punya tato di wajah dan tangan mereka, sebagai penanda. Hal inilah yang membuat saya memutuskan membuat tato temporer di badan saya, dan semoga masih tetap bisa bertahan ke depannya. Toh, sekarang saya sudah bisa membuatnya sendiri. Saya fobia dengan insersi jarum di tubuh saya dan juga cepat bosan, makanya masih tidak berani membuat tato permanen. Itu saja.
Tato ketiga saya berada di betis kanan, lumayan besar. Gambarnya adalah sebuah guci yang menuangkan air yang meluap. Desainnya saya adaptasi dari versi yang saya lihat di internet tetapi kemudian saya modifikasi sesuai dengan filosofi saya. Saya suka air dan menjadi representasi nama lain saya yang mengandung unsur ‘air’. Dalam bahasa suku mama saya, air disebut ‘Mei’ dan hujan disebut ‘Mos’, itulah sebabnya saya memakai nama ‘meimosaki’, arti literal karangan saya sendiri sih ‘(air) hujan di pagi hari’. Nah, tato ini sendiri punya dua makna bagi saya. Selain simbol air, guci yang dipakai menampung air aliran air memuat simbol dua huruf M tumpang tindih, satu merujuk pada nama panggilan saya sejak kecil dan dua pada nama Meimosaki. Air yang mengalir tidak lagi dalam bentuk air tapi saya buat dalam representasi pohon dalam mitologi India. Sedikit tampak seperti batik juga sih. Ataupun manusia abstrak. Ya, merepresentasikan budaya Jawa yang sarat dengan konsep ‘gunungan’ itu tapi ini merujuk pada air dan pohon dalam bentuk kehidupan. Saya suka keduanya dan saya bersyukur tato buatan saya kali ini benar – benar the real me dan saya puas.
Saya tidak peduli apa pandangan orang tentang tato saya. Entah dibilang ‘kaco’, ‘nakal’ atau ‘sesat’, I just don’t give a damn on it. Bagi saya, saya akan bertato demi sebuah filosofi dan bukannya tren. Saya tidak akan bertato dengan simbol tertentu yang sedang tren atau diinginkan orang lain. Selain itu, saya juga berkomitmen sejak akhir – akhir ini untuk mulai menghayati 50% darah Papua saya termasuk aturan keluarga besar saya yang tidak boleh menyantap daging anjing karena legenda keluarga kami; kami berasal dari anjing betina. Ya, saya mulai sedikit bisa mengadopsinya karena memang sudah bermasalah dengan RW plus mulai memelihara Autumn (anjing kecil saya yang saya serahkan untuk si Eu). Janji kecil tepatnya.
Anyway, saya mulai menulis yang tidak penting tampaknya. Ini hidup saya dan ya, saya hanya ingin jujur pada diri saya sendiri. Saya sedang dalam perjalanan saya ‘back to my root(s). Itu saja.
(Manokwari, 191211; 2 a.m.)
Artikel favorit - Back to school
Beberapa bulan lalu, sa baca artikel refleksi ini di sapu milis uni lama di Australia (ANU). Kebetulan yang tulis itu wartawati senior The Jakarta Post (Ati Nurbaiti) yang sedang lanjut kuliah lagi di umur 50 tahun di sa pu kampus lama. Tiap baca artikel ini sa masih suka ketawa – ketawa dan mengenang masa manis kuliah plus juga memicu sa untuk tetap belajar tanpa henti walau su selesai sa pu Master. Mungkin mace pu cerita ini bisa menginspirasi kam, karena tiap kali sa baca sa masih tetap terpompa semangat juga hehehe. Sa ada sertakan de pu terjemahan bebas dalam Melayu Papua di bagian bawah. Selamat menikmati! Fresh from the tungku ^_^
Tabea,
D.M.
=============
Versi Melayu – Papua
http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/18/back-school-50.htmlBack to School at 50
WEEKENDER | Thu, 08/18/2011 11:06 AM |
Pace profesor ko pegang gambarnya Henry Kissinger dan tanya smua orang dalam kelas sapa tahu ada yang tahu ini gambarnya sapa. Sa bisa jawab pertanyaan itu tapi macam mahasiswa – mahasiswa lain yang muda – muda nih dong pandangan kosong ka ini.
Tapi macam langsung akan jadi barang lucu yang kas ingat sa, kalo sa su umur 50 tahun, mangkali su talalu tua untuk kembali kuliah, kali ini di satu universitas di Australia.
Waktu sa bilang sama sapu anana kalo sa lagi coba cari beasiswa, sa pu anana dong ‘rata’ e karna bayangkan sa duduk belajar satu kelas deng anana yang seumuran dong. Iyo, sa harus akui kalo ini memang macam lucu ya, sa di sana deng rambut putih smua baru muncul di kelas yang diajar oleh profesor muda yang pangaruh skali.
Sa pu anana perem dong tinggal tertawa bayangkan dong pu mama ini nan coba tidur di asrama dengan mahasiswa – mahasiswa yang kapala baribut. Dong juga bilang sa harus kas bagus sa pu selera busana, ya dong pu harapan yang mungkin susah sa buat tuh – walau ya setidaknya sa tra muncul di kelas deng pake sandal jepit kamar (di Australia dong bilang ‘Thongs’) macam anana lain hanya karna dong pu kelas tuh ada dekat depan dong pu asrama.
“Mama, macam ko pake barang yang dari gaul ke tra gaul e skarang gaul lagi!” sapu anak pertama bilang sa. Jadi, artinya sa pu barang – barang lama akan gaul lagi ka?
Akhirnya semester pertama yang bikin badan malas ko lewat juga, tapi macam tra jelas ka untuk sa bagaimana hubungannya umur deng pekerjaan kuliah nih. Iyo, sa kapala lupa jadwal kuliah satu atau dua kelas, dan kapala tersesat satu atau dua kali, mmmh ka banyak kali ee. Tapi sa tra pernah bisa bayangkan sa pu nilai akan lebih rendah dari anana mahasiswa yang muda – muda ini, yeskooon, bikin malu skali eee kalo sa tra bisa lebih baik dari dong yang macam asing deng mog yang ada pace Kissinger yang terkenal itu!
Tua dan muda
Sa pu frustasi macam mirip juga deng beberapa anana mahasiswa yang muda – muda tuh – macam rasa tatinggal jauh e dalam bacaan dan pengetahuan dasar (memalukan skali untuk wartawati berpengalaman macam sa!). Sa dulu bayangkan karna sa tuh su terbiasa kejar deadline tulisan di kantor lama jadi nan mungkin kali ini bisa frei juga dan gampang untuk kas masuk tugas – tugas .. neh macam sa pu harapan salah ka – karna tetap sama saja, kejar deadline.
Tapi macamnya memang faktor umur juga yang pengaruh dan akan hubungan deng tantangan fisik karna macam badan ko mo kram – kram ka mengetik lama, belum lagi rambut putih yang tumbuh tempo skali di bulan – bulan pertama trus juga tra bisa bagadang sampe lat ( adooh kenapa sa lagi bikin barang ini – sa pikir sa kan lai liburan kerja toooo?)
Ok, tong smua tahu tong pu kebiasaan mengetik yang ergonomis tuh, tapi tong akan cenderung lupa tentang barang itu waktu su takena deng buku – buku yang banyak, macam tong taheran – heran juga bisa trada untuk cerna akan smua dalam menit – menit tasisa sebelum deadline ka ini.
Sa harap sa bisa atur sa pu waktu di semester depan lebe bae daripada semester ini. Tapi sa cuma bisa bilang macamnya ini bagus untuk anana masa skarang yang su lebih cepat sadar kalo kebutuhan untuk pendidikan tinggi tuh daripada sa dulu – begitu banyak – Jadi dong juga harus diingatkan untuk cari kerja dan pengalaman hidup di luar kampus sebelum lanjut deng kuliah – kuliah pascasarjana nih.
Sa su lewati masa taputar kuliah di kampus dulu hanya untuk selesaikan S1 tuh yang talalu lama. Sa macam ingat kata – katanya jurnalis veteran satu ( sa lupa de nama) yang bilang kalo wartawan yang diharapkan bisa jalin hubungan baik deng orang – orang akan mulai ambil jarak dari masyarakat umum kalo dong mulai kejar pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dong akan talalu ‘gaul’ dan tra terjangkau lagi. (Di masa lalu, trada barang yang disebut gelar sarjana jurnalistik. Beberapa nama terkenal dalam jurnalistik tuh biasanya lulusan SMA setelah dong terbiasa jadi tukang bantu – bantuk di kantor ka tukang antar – antar begitu).
Karena tra rela buang waktu banyak untuk belajar malah bikin tong pu alasan yang sempurna untuk bilang ,”sa sibuk”, “sa pu anana masih butuh sa” dll – dan kenapa tra baca buku saja di sapu waktu frei too? Mmmmh, mungkin karna sa pu daftar buku yang sa beli dan belum tabaca di sa pu waktu frei itu juga masih banyak, karna biasanya sa pulang kerja tuh langsung taslep di sofa. Teman – teman dan rekan kerja tinggal kas tahu sa kalo ini waktu yang tepat untuk ‘recharge’ sa pu hidup tapi bukan deng skolah ya. Tapi tetap sa bikin juga, masih taheran – heran juga kalo di masa ini yang lain – lain dong ada sibuk urus dong pu kuliah ka bagi waktu deng kerja dan dong pu anana.
Skarang nih banyak universitas yang kembangkan program ‘coursework’ untuk orang – orang yang kerja, jadi sa pilih yang jenis ini, ya tentu saja – trada tesis dan semuanya cuma 1 tahun saja. Oooops, tapi macam akan jadi program yang padat eee dan tuntut penguasaan teknologi untuk setidaknya bisa ka masuk 3 tugas yang deadline bersama – sama. Karna sa belum kuasai teknik macam begini, jadi ya sa coba bikin sebisa mungkin yang terbaik saja ka ini, tapi dengan macam rambut – rambut putih yang tinggal keluar dalam kelas ka ini.
Tentu saja nih kesempatan besar untuk balik kuliah setelah berpuluh tahun, pada umur 50 tahun! Tapi kali ini, sa juga butuh sedikit peralatan ekstra untuk bisa lewati musim dingin yang hancur di Canberra sini – tangan yang ekstra kuat, hidung yang anti flu, lebih banyak kopi dan juga mata yang lebih mantap untuk pantau kalender kampus di sapu di dinding kamar – yang saat ini tatutup sa pu mantel – mantel yang tra gaul ini.
***
ENGLISH VERSION:
The university professor holds up a picture of Henry Kissinger, and asks if anyone in the class knows who it is. I can answer, but the younger students’ faces are blank.
Yet another amusing reminder of how, at the age of 50, I am quite possibly too old to be back at school, this time an Australian university.
When I announced that I was trying to get a scholarship, my children giggled at the thought of me in class with their peers. I have to confession it is rather funny, me there with my gray hairs on display in classrooms run by extraordinarily young professors.
My girls chuckled over the prospect of their mom trying to sleep in a dorm with rowdy students. They demanded that I sharpen my fashion sense, a hopeless expectation – although at least I don’t turn up in thongs (that’s Australian for “flip-flops”) like some students simply because classes are only a short stumble from their dorms.
“Mama, you wear stuff that went from fashionable to outdated to fashionable again!” my eldest said. So that means all my vintage stuff is OK?
But as the first grueling semester rolled on, finally reaching an end, it was no clearer to me just what age has to do with student performance. Sure, I did forget the schedule for one or two classes, and I might have lost the way once or twice or, well, a few times. But I never expected I’d achieve less than the other, younger students; indeed, it would be embarrassing if I couldn’t do better than those young kids who are strangers to Kissinger’s famous mug!
Young and Old
My frustration was likely similar to that of some of the younger students – feeling I was falling behind in the readings and short on background knowledge (shameful for an experienced journalist!). Expectations that, far from the rush of the newsroom, I would have more time to ponder assignments proved completely false – it’s been chasing deadlines just the same.
But perhaps it is the age factor at play when it comes to the physical challenge of overcoming laptop arm and shoulder cramps, rapid white hair growth in the first months and not being able to stay up all night (why would I – I thought I was on holiday from work?).
Sure, we all know about ergonomic typing habits, but you just tend to forget about them when poring over books, wondering if it’s possible to digest them in the remaining minutes before the deadline hits.
I hope I’ll manage the next semester better than the first. But at any rate it’s good that young people today seem to realize the need for further education much faster than I did – so much so that they need to be reminded to get a job and some off-campus life experience before continuing on to postgraduate classes.
I had already found hanging around campus to complete an undergraduate degree was too long. A memorable line from a veteran journalist (I forget who) was that journalists, who are expected to relate well to people, are increasingly distanced from the public as they pursue higher and higher education. They get too posh. (Back in the day, there was no such thing as a journalism degree. Noted names in journalism came straight from high school after a stint as delivery boy or newsroom office help.)
Not willing to spend more time studying seemed to form the perfect excuse, apart from “I’m busy”, “My kids still need me”, etc. – and why not just read books in my spare time? Um, possibly because the growing rows of unread books bought in that spare time remain unread, as I usually just crash on the couch when I get home from work. Friends and colleagues repeatedly reminded me it was high time to “recharge” by not merely hanging out at campus. So finally I did, wondering at the same time how others do it juggling their studies with managing kids and work.
Universities have developed “coursework” programs for working people, so I headed for this one, with – yeah! –no thesis and all done in only one year. Oops, it turns out it’s a packed program demanding clone technology to manage at least three deadlines all at once. Since I have no access to such techniques, I’ll just manage as best as possible, with more gray hairs spiking out in class.
Of course, it has been a great opportunity to be back on campus decades after the last time, and at 50! But this time around, I also need a bit of extra equipment to get me through the dreaded Canberra winter – extra strong arms, an anti-flu nose, more coffee and a closer eye on the wall campus calendar – which is now covered by not very fashionable coats. + Ati Nurbaiti
Tabea,
D.M.
=============
Versi Melayu – Papua
http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/18/back-school-50.htmlBack to School at 50
WEEKENDER | Thu, 08/18/2011 11:06 AM |
Pace profesor ko pegang gambarnya Henry Kissinger dan tanya smua orang dalam kelas sapa tahu ada yang tahu ini gambarnya sapa. Sa bisa jawab pertanyaan itu tapi macam mahasiswa – mahasiswa lain yang muda – muda nih dong pandangan kosong ka ini.
Tapi macam langsung akan jadi barang lucu yang kas ingat sa, kalo sa su umur 50 tahun, mangkali su talalu tua untuk kembali kuliah, kali ini di satu universitas di Australia.
Waktu sa bilang sama sapu anana kalo sa lagi coba cari beasiswa, sa pu anana dong ‘rata’ e karna bayangkan sa duduk belajar satu kelas deng anana yang seumuran dong. Iyo, sa harus akui kalo ini memang macam lucu ya, sa di sana deng rambut putih smua baru muncul di kelas yang diajar oleh profesor muda yang pangaruh skali.
Sa pu anana perem dong tinggal tertawa bayangkan dong pu mama ini nan coba tidur di asrama dengan mahasiswa – mahasiswa yang kapala baribut. Dong juga bilang sa harus kas bagus sa pu selera busana, ya dong pu harapan yang mungkin susah sa buat tuh – walau ya setidaknya sa tra muncul di kelas deng pake sandal jepit kamar (di Australia dong bilang ‘Thongs’) macam anana lain hanya karna dong pu kelas tuh ada dekat depan dong pu asrama.
“Mama, macam ko pake barang yang dari gaul ke tra gaul e skarang gaul lagi!” sapu anak pertama bilang sa. Jadi, artinya sa pu barang – barang lama akan gaul lagi ka?
Akhirnya semester pertama yang bikin badan malas ko lewat juga, tapi macam tra jelas ka untuk sa bagaimana hubungannya umur deng pekerjaan kuliah nih. Iyo, sa kapala lupa jadwal kuliah satu atau dua kelas, dan kapala tersesat satu atau dua kali, mmmh ka banyak kali ee. Tapi sa tra pernah bisa bayangkan sa pu nilai akan lebih rendah dari anana mahasiswa yang muda – muda ini, yeskooon, bikin malu skali eee kalo sa tra bisa lebih baik dari dong yang macam asing deng mog yang ada pace Kissinger yang terkenal itu!
Tua dan muda
Sa pu frustasi macam mirip juga deng beberapa anana mahasiswa yang muda – muda tuh – macam rasa tatinggal jauh e dalam bacaan dan pengetahuan dasar (memalukan skali untuk wartawati berpengalaman macam sa!). Sa dulu bayangkan karna sa tuh su terbiasa kejar deadline tulisan di kantor lama jadi nan mungkin kali ini bisa frei juga dan gampang untuk kas masuk tugas – tugas .. neh macam sa pu harapan salah ka – karna tetap sama saja, kejar deadline.
Tapi macamnya memang faktor umur juga yang pengaruh dan akan hubungan deng tantangan fisik karna macam badan ko mo kram – kram ka mengetik lama, belum lagi rambut putih yang tumbuh tempo skali di bulan – bulan pertama trus juga tra bisa bagadang sampe lat ( adooh kenapa sa lagi bikin barang ini – sa pikir sa kan lai liburan kerja toooo?)
Ok, tong smua tahu tong pu kebiasaan mengetik yang ergonomis tuh, tapi tong akan cenderung lupa tentang barang itu waktu su takena deng buku – buku yang banyak, macam tong taheran – heran juga bisa trada untuk cerna akan smua dalam menit – menit tasisa sebelum deadline ka ini.
Sa harap sa bisa atur sa pu waktu di semester depan lebe bae daripada semester ini. Tapi sa cuma bisa bilang macamnya ini bagus untuk anana masa skarang yang su lebih cepat sadar kalo kebutuhan untuk pendidikan tinggi tuh daripada sa dulu – begitu banyak – Jadi dong juga harus diingatkan untuk cari kerja dan pengalaman hidup di luar kampus sebelum lanjut deng kuliah – kuliah pascasarjana nih.
Sa su lewati masa taputar kuliah di kampus dulu hanya untuk selesaikan S1 tuh yang talalu lama. Sa macam ingat kata – katanya jurnalis veteran satu ( sa lupa de nama) yang bilang kalo wartawan yang diharapkan bisa jalin hubungan baik deng orang – orang akan mulai ambil jarak dari masyarakat umum kalo dong mulai kejar pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dong akan talalu ‘gaul’ dan tra terjangkau lagi. (Di masa lalu, trada barang yang disebut gelar sarjana jurnalistik. Beberapa nama terkenal dalam jurnalistik tuh biasanya lulusan SMA setelah dong terbiasa jadi tukang bantu – bantuk di kantor ka tukang antar – antar begitu).
Karena tra rela buang waktu banyak untuk belajar malah bikin tong pu alasan yang sempurna untuk bilang ,”sa sibuk”, “sa pu anana masih butuh sa” dll – dan kenapa tra baca buku saja di sapu waktu frei too? Mmmmh, mungkin karna sa pu daftar buku yang sa beli dan belum tabaca di sa pu waktu frei itu juga masih banyak, karna biasanya sa pulang kerja tuh langsung taslep di sofa. Teman – teman dan rekan kerja tinggal kas tahu sa kalo ini waktu yang tepat untuk ‘recharge’ sa pu hidup tapi bukan deng skolah ya. Tapi tetap sa bikin juga, masih taheran – heran juga kalo di masa ini yang lain – lain dong ada sibuk urus dong pu kuliah ka bagi waktu deng kerja dan dong pu anana.
Skarang nih banyak universitas yang kembangkan program ‘coursework’ untuk orang – orang yang kerja, jadi sa pilih yang jenis ini, ya tentu saja – trada tesis dan semuanya cuma 1 tahun saja. Oooops, tapi macam akan jadi program yang padat eee dan tuntut penguasaan teknologi untuk setidaknya bisa ka masuk 3 tugas yang deadline bersama – sama. Karna sa belum kuasai teknik macam begini, jadi ya sa coba bikin sebisa mungkin yang terbaik saja ka ini, tapi dengan macam rambut – rambut putih yang tinggal keluar dalam kelas ka ini.
Tentu saja nih kesempatan besar untuk balik kuliah setelah berpuluh tahun, pada umur 50 tahun! Tapi kali ini, sa juga butuh sedikit peralatan ekstra untuk bisa lewati musim dingin yang hancur di Canberra sini – tangan yang ekstra kuat, hidung yang anti flu, lebih banyak kopi dan juga mata yang lebih mantap untuk pantau kalender kampus di sapu di dinding kamar – yang saat ini tatutup sa pu mantel – mantel yang tra gaul ini.
***
ENGLISH VERSION:
The university professor holds up a picture of Henry Kissinger, and asks if anyone in the class knows who it is. I can answer, but the younger students’ faces are blank.
Yet another amusing reminder of how, at the age of 50, I am quite possibly too old to be back at school, this time an Australian university.
When I announced that I was trying to get a scholarship, my children giggled at the thought of me in class with their peers. I have to confession it is rather funny, me there with my gray hairs on display in classrooms run by extraordinarily young professors.
My girls chuckled over the prospect of their mom trying to sleep in a dorm with rowdy students. They demanded that I sharpen my fashion sense, a hopeless expectation – although at least I don’t turn up in thongs (that’s Australian for “flip-flops”) like some students simply because classes are only a short stumble from their dorms.
“Mama, you wear stuff that went from fashionable to outdated to fashionable again!” my eldest said. So that means all my vintage stuff is OK?
But as the first grueling semester rolled on, finally reaching an end, it was no clearer to me just what age has to do with student performance. Sure, I did forget the schedule for one or two classes, and I might have lost the way once or twice or, well, a few times. But I never expected I’d achieve less than the other, younger students; indeed, it would be embarrassing if I couldn’t do better than those young kids who are strangers to Kissinger’s famous mug!
Young and Old
My frustration was likely similar to that of some of the younger students – feeling I was falling behind in the readings and short on background knowledge (shameful for an experienced journalist!). Expectations that, far from the rush of the newsroom, I would have more time to ponder assignments proved completely false – it’s been chasing deadlines just the same.
But perhaps it is the age factor at play when it comes to the physical challenge of overcoming laptop arm and shoulder cramps, rapid white hair growth in the first months and not being able to stay up all night (why would I – I thought I was on holiday from work?).
Sure, we all know about ergonomic typing habits, but you just tend to forget about them when poring over books, wondering if it’s possible to digest them in the remaining minutes before the deadline hits.
I hope I’ll manage the next semester better than the first. But at any rate it’s good that young people today seem to realize the need for further education much faster than I did – so much so that they need to be reminded to get a job and some off-campus life experience before continuing on to postgraduate classes.
I had already found hanging around campus to complete an undergraduate degree was too long. A memorable line from a veteran journalist (I forget who) was that journalists, who are expected to relate well to people, are increasingly distanced from the public as they pursue higher and higher education. They get too posh. (Back in the day, there was no such thing as a journalism degree. Noted names in journalism came straight from high school after a stint as delivery boy or newsroom office help.)
Not willing to spend more time studying seemed to form the perfect excuse, apart from “I’m busy”, “My kids still need me”, etc. – and why not just read books in my spare time? Um, possibly because the growing rows of unread books bought in that spare time remain unread, as I usually just crash on the couch when I get home from work. Friends and colleagues repeatedly reminded me it was high time to “recharge” by not merely hanging out at campus. So finally I did, wondering at the same time how others do it juggling their studies with managing kids and work.
Universities have developed “coursework” programs for working people, so I headed for this one, with – yeah! –no thesis and all done in only one year. Oops, it turns out it’s a packed program demanding clone technology to manage at least three deadlines all at once. Since I have no access to such techniques, I’ll just manage as best as possible, with more gray hairs spiking out in class.
Of course, it has been a great opportunity to be back on campus decades after the last time, and at 50! But this time around, I also need a bit of extra equipment to get me through the dreaded Canberra winter – extra strong arms, an anti-flu nose, more coffee and a closer eye on the wall campus calendar – which is now covered by not very fashionable coats. + Ati Nurbaiti
Friday, 16 December 2011
Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Masa Pemerintahan Belanda tahun 1961 - 1963 - Kisah Keluarga Rumbino
PENGANTAR
Saya harus jujur pada diri sendiri bahwa catatan ini adalah topik favorit saya: Kesehatan Ibu dan Anak di masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963, khususnya terkait persalinan di rumah sakit dan juga layanan pasca persalinan. Iya, selama proses wawancara tanggal 13 Desember 2011 jam 10 pagi itu, saya bahkan sampai berimajinasi tentang kehidupan di masa itu dan seakan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh narasumber saya: Nene Albertina Rumbino/Faidiban. Cerita ini bukan untuk sekedar mengenang masa manis di masa lalu tapi ingin menunjukan bahwa ada bagian sejarah yang dapat kita adaptasi demi perbaikan kesehatan perempuan di masa kini, khususnya saat adanya kucuran dana OTSUS yang melimpah ruah. Ya semoga kita sebagai generasi Papua masa kini dapat berkaca pada manisnya sebuah layanan kesehatan di masa lampau. Simak catatan saya berikut ini. Tentu saja saya jamin Fresh from the tungku HEHEHE
LAYANAN DI RUMAH SAKIT
Gambaran umum
Pada tahun 1961, anak pertama keluarga Rumbino dilahirkan di Manokwari. Seorang anak perempuan; Thea. Waktu itu, persalinan dilakukan di Rumah Sakit Umum Manokwari, satu – satunya rumah sakit di masa itu. Keluarga Rumbino yang tinggal di Barak Kakatua – Sanggeng ini tentu saja pergi ke rumah sakit. Suasana di rumah sakit pada masa itu cukup berbeda dengan masa kini. Salah satunya adalah peran pengantar dan pengunjung serta pembesuk yang tidak boleh berada lama di sana. Saat itu, dalam proses persalinan itupun tete Rumbino hanya boleh berkunjung tidak terlalu lama dan hanya boleh dilakukan sesuai jam berkunjung yang terpampang di papan pengumuman. Biasanya pada pukul 5 sore, semua tamu sudah diminta untuk pulang. Bila pengunjung terlalu lama di rumah sakit, maka pihak rumah sakit dalam hal ini akan menegur secara sopan para tamu untuk segera pulang, biasanya mereka akan menyapa seperti ini, “Tuan/nyonya, jam bezuuk sudah selesai.”
Selama menginap di rumah sakit, nene Rumbino mengingat jelas bagaimana pembagian kamar pasien. Ada kamar tertentu untuk pasien Belanda dan Indo-Kaukasian. Ada juga beberapa kamar untuk orang Papua dan Maluku. Pada masa itu, nene Rumbino dan beberapa ibu – ibu Papuan lainnya termasuk beberapa perempuan asli pegunungan Arfak ditempatkan dalam sebuah ruangan (zaal) yang terdiri atas 20 tempat tidur. Tiap deret terdiri atas 10 tempat tidur yang saling berhadapan. Para bayi ditempatkan di ruang terpisah. Jangan takut resiko bayi mereka tertukar karena tiap bayi diberi plester bertuliskan nama ibu di lengan mungil mereka misalnya ‘nyonya Rumbino’. Saya juga perlu menambahkan pada masa itu belum ada proses kelahiran dengan operasi sehingga tak ada ruangan untuk pasien pasca operasi
Selain ruangan yang teratur, pada masa itu kebersihan rumah sakit juga sangat terjamin. Jangan harap ada noda ludah pinang yang dibuang sembarangan. Pada masa itu, pinang tidak dipasarkan secara massal seperti masa kini dan biasanya orang – orang Papua menanamnya hanya untuk konsumsi sendiri. Sehingga tidak ada para tamu rumah sakit yang membuang ludah sembarangan. Tidak dijumpai juga sampah yang dibuang sembarangan. Dimana – mana pada masa itu yang ada hanyalah bau karbol rumah sakit.
Para pasien khususnya ibu yang baru melahirkan di masa itu tak perlu khawatir dengan layanan rumah sakit karena para tenaga medis khususnya para dokter , suster dan mantri menunggu pasien dengan sabar dan memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Mereka bekerja dengan sangat keras dan disiplin serta berdedikasi tinggi. Di masa itu, tenaga medis di rumah sakit ini terdiri atas paramedis Belanda dan paramedis asli Papua. Misalnya saja, suster yang menolong persalinan pertama dari nene Rumbino adalah Ibu Yosina Marani/Yoku. By the way, salah satu bukti layanan yang baik yang diingat nene Rumbino adalah tiap beberapa jam, para suster akan membawa para bayi mungil ini ke ibu mereka untuk disusui selama 30 menit. Usai itu, mereka diantar kembali ke ruang bayi. Tentu saja para suster selalu memantau para bayi ini untuk mengecek kondisi mereka. Termasuk memandikan dan mengganti popok. Selain itu, para suster sangat disiplin dalam mengotrol para ibu, biasanya para ibu sudah dibangunkan pukul 6 pagi untuk mandi.
Fasilitas Gratis: Pakaian, Makanan, transportasi
Perlu dicatat bahwa pada masa itu, semua layanan rumah sakit itu GRATIS. Pemerintah Belanda menyediakan fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Tiap ibu yang bersalin tak perlu khawatir dengan pakaian yang akan dikenakan selama di rumah sakit karena kebutuhan dasar bayi dan ibu dalam proses persalinan disediakan oleh pihak rumah sakit. Tiap ibu hanya membawa pakaian yang akan dipakai pulang. Kebutuhan pakaian seperti selimut, pakaian bayi, loyor, gurita, sarung tangan dan kaki, pakaian untuk ibu dan peralatan mandi, bahkan juga ‘dug’ (softex) disiapkan oleh pihak rumah sakit. Untuk pakaian bayi baik berupa gurita, loyor dll serta pakaian ibu umumnya merupakan pinjaman dari pihak rumah sakit dan akan dikembalikan usai pasien selesai menjalani perawatan. Tentu saja ada jasa laundry gratis yang disiapkan rumah sakit. Meskipun demikian, pihak rumah sakit juga memberikan bonus 1 stel pakaian bayi gratis saat bayi pulang.
Saat saya singgung tentang layanan makanan selama pasca melahirkan, Nene Rumbino pun menerawang mengingat bagaimana sajian makanan pada masa itu. “Cucu, yang masak orang Belanda jadi kami jarang makan ikan. Paling sering daging,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa makanan yang tersaji di atas nampan – nampan itu diantar dengan menggunakan kereta dorong sejenis troli. Biasanya produk daging untuk makan pagi berupa bubur dengan irisan daging ‘smak’ goreng (daging babi kalengan/Ma Ling). Biasanya sekaleng daging smak diberikan untuk 4 orang. Produk makanan kalengan ini umumnya buatan Singapura. Anyway, Pada pukul 10, pasien diberi makan pisang. Jam makan siang sendiri baru berlangsung pada pukul 1 siang berupa nasi dengan daging babi non-kalengan. Pada jam makan malam, menu yang diberikan adalah nasi dan sayuran serta kadang – kadang disertai ikan goreng. Satu hal yang masih diingat baik oleh nene Rumbino adalah peran koki; seorang perempuan Belanda bercelemek yang datang ke tiap zaal dan bertanya langsung pada pasien tentang kualitas makanan yang disajikan khususnya di jam makan ‘besar’ (siang atau malam). Cerita yang cukup menarik!
Fasilitas peminjaman pakaian bagi pasien dan bayi bukan satu – satunya fasilitas yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Pada masa itu, semua biaya rawat inap dan persalinan serta obat – obatan digratiskan. Tak ada tuntutan pembayaran dari rumah sakit. Bahkan, nene Rumbino bertutur bahwa di masa itu, ibu yang melahirkan harus tinggal selama 7 hari di rumah sakit. Selama 7 hari itu, dokter akan memantau kondisi ibu dan meresepkan sejumlah obat. “Cucu, obat yang kami minum itu bikin gigi hitam – hitam,” tuturnya sambil tertawa kecil. Usai dokter menilai keadaan ibu sudah kuat dan ‘darah nifas’ yang keluar mulai berkurang maka pasien diijinkan pulang.
Sewaktu pulang pun, pasien tidak boleh pulang sendiri tetapi harus diantar oleh mobil rumah sakit sampai tiba di rumah, terlepas di mana letak rumah pasien. Tentu saja layanan ini gratis! Proses pengantaran ibu dan bayi ini pun tidak boleh digabung antar satu pasien dengan pasien yang lain. Nene Rumbino mengingat jelas saat ia dan bayinya diantar pulang di masa itu, ia harus menunggu pihak rumah sakit mengantar dahulu ‘Nyonya’ Meidodga dan bayinya ke Pasir Putih, setelah itu baru gilirannya diantar pulang ke Sanggeng.
Saya cukup salut dengan kebijakan rumah sakit ini mengingat pada masa itu, tidak tersedia layanan transportasi untuk masyarakat umum. Saya tak bisa membayangkan rasanya bila ibu muda yang baru selesai melahirkan seminggu lalu ini harus berjalan pulang membopong bayinya dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Tentu saja hal yang sangat berat. Sebuah layanan yang mungkin dapat diadaptasi pada masa kini. Two thumbs!!!
LAYANAN PASCA PERSALINAN
Usai melahirkan bukan berarti pihak rumah sakit menyepelekan para ibu ini khususnya para ibu muda. Tiap hari Senin sejak keluarnya pasien dari rumah sakit, akan ada kunjungan ke rumah – rumah eks-pasien untuk mengontrol perkembangan ibu dan bayi. Biasanya kunjungan dilakukan oleh dua orang suster yang terdiri atas 1 orang suster Belanda dan 1 orang suster Papua. Mereka berkeliling menggunakan mobil. Kontrol kesehatan ibu dan anak tiap minggu ini berlangsung hingga bayi berumur 3 bulan.
Pada waktu bayi menginjak umur 3 bulan, kedua suster ini akan datang untuk mengajarkan para ibu muda di rumah tentang cara memberi makan bayi mereka. Biasanya mereka telah memberitahukan jadwal kunjungan mereka sebelumnya dan juga bahan – bahan yang harus disiapkan oleh tiap ibu. Nene Rumbino mengingat jelas bagaimana ia harus menyiapkan satu buah pisang Ambon masak, tomat masak, satu buah lemon nipis dan juga garpu. Para suster ini kemudian mengajarkan bagaimana cara menghancurkan pisang menjadi bubur halus dengan menggunakan garpu. Tomat masak juga mengalami hal yang sama. Setelah itu, bubur pisang ini dicampur dengan beberapa tetes tomat masak yang sudah lumat dan ditambahi 2 – 3 tetes lemon nipis. Saat itu, para suster langsung mempraktekan cara pemberian makanan ini secara langsung pada bayi. Tentu saja si bayi sudah dipasangkan serbet HEHEHE. Makanan ini kemudian dianjurkan untuk diberikan tiap hari hingga bayi berumur 4 bulan dan setelah itu bayi dapat diberikan jenis bubur lainnya.
Selain itu, nene Rumbino mengingat bagaimana para suster ini juga masih datang dan mengingatkan nene untuk membawa bayinya melakukan penimbangan tiap hari Senin. Biasanya dilakukan tiap 2 minggu sekali di sejenis ‘posyandu’ dekat Barak Kakatua (masa kini: Tempat penitipan anak Sanggeng). Dalam penimbangan ini terkadang bayi juga diberikan vitamin secara oral.
Inilah sepenggal kenangan yang berhasil saya jaring dari nene Rumbino terkait isu kesehatan ibu dan anak di masa lampau.
SIMPULAN
Layanan kesehatan ibu dan anak khususnya terkait persalinan yang dialami oleh nene Albertina Rumbino/Faidiban dapat menjadi sebuah cermin dalam melihat bagaimana sejarah pelayanan kesehatan di Manokwari pada masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963. Semoga dapat menginspirasi para generasi muda Papua di masa kini khususnya yang mempunyai kapasitas untuk melakukan hal serupa ataupun perubahan yang lebih baik di dalam bidang kesehatan maupun dalam perencanaan pembangunan. Di masa lampau, orang Belanda yang jelas – jelas berbeda ras dengan orang Papua dapat melakukan tindakan berdedikasi penuh kasih untuk kaum kita, bukankah lebih bijak bila di masa kini, kitalah yang dapat melakukan hal terbaik untuk kaum kita sendiri? Jawabannya hanya anda yang tahu!
Selamat pagi, Manokwari!!! *sambil membayangkan the life in Manokwari around 1960s
(Manokwari, 161211; pada sebuah subuh)
Saya harus jujur pada diri sendiri bahwa catatan ini adalah topik favorit saya: Kesehatan Ibu dan Anak di masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963, khususnya terkait persalinan di rumah sakit dan juga layanan pasca persalinan. Iya, selama proses wawancara tanggal 13 Desember 2011 jam 10 pagi itu, saya bahkan sampai berimajinasi tentang kehidupan di masa itu dan seakan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh narasumber saya: Nene Albertina Rumbino/Faidiban. Cerita ini bukan untuk sekedar mengenang masa manis di masa lalu tapi ingin menunjukan bahwa ada bagian sejarah yang dapat kita adaptasi demi perbaikan kesehatan perempuan di masa kini, khususnya saat adanya kucuran dana OTSUS yang melimpah ruah. Ya semoga kita sebagai generasi Papua masa kini dapat berkaca pada manisnya sebuah layanan kesehatan di masa lampau. Simak catatan saya berikut ini. Tentu saja saya jamin Fresh from the tungku HEHEHE
LAYANAN DI RUMAH SAKIT
Gambaran umum
Pada tahun 1961, anak pertama keluarga Rumbino dilahirkan di Manokwari. Seorang anak perempuan; Thea. Waktu itu, persalinan dilakukan di Rumah Sakit Umum Manokwari, satu – satunya rumah sakit di masa itu. Keluarga Rumbino yang tinggal di Barak Kakatua – Sanggeng ini tentu saja pergi ke rumah sakit. Suasana di rumah sakit pada masa itu cukup berbeda dengan masa kini. Salah satunya adalah peran pengantar dan pengunjung serta pembesuk yang tidak boleh berada lama di sana. Saat itu, dalam proses persalinan itupun tete Rumbino hanya boleh berkunjung tidak terlalu lama dan hanya boleh dilakukan sesuai jam berkunjung yang terpampang di papan pengumuman. Biasanya pada pukul 5 sore, semua tamu sudah diminta untuk pulang. Bila pengunjung terlalu lama di rumah sakit, maka pihak rumah sakit dalam hal ini akan menegur secara sopan para tamu untuk segera pulang, biasanya mereka akan menyapa seperti ini, “Tuan/nyonya, jam bezuuk sudah selesai.”
Selama menginap di rumah sakit, nene Rumbino mengingat jelas bagaimana pembagian kamar pasien. Ada kamar tertentu untuk pasien Belanda dan Indo-Kaukasian. Ada juga beberapa kamar untuk orang Papua dan Maluku. Pada masa itu, nene Rumbino dan beberapa ibu – ibu Papuan lainnya termasuk beberapa perempuan asli pegunungan Arfak ditempatkan dalam sebuah ruangan (zaal) yang terdiri atas 20 tempat tidur. Tiap deret terdiri atas 10 tempat tidur yang saling berhadapan. Para bayi ditempatkan di ruang terpisah. Jangan takut resiko bayi mereka tertukar karena tiap bayi diberi plester bertuliskan nama ibu di lengan mungil mereka misalnya ‘nyonya Rumbino’. Saya juga perlu menambahkan pada masa itu belum ada proses kelahiran dengan operasi sehingga tak ada ruangan untuk pasien pasca operasi
Selain ruangan yang teratur, pada masa itu kebersihan rumah sakit juga sangat terjamin. Jangan harap ada noda ludah pinang yang dibuang sembarangan. Pada masa itu, pinang tidak dipasarkan secara massal seperti masa kini dan biasanya orang – orang Papua menanamnya hanya untuk konsumsi sendiri. Sehingga tidak ada para tamu rumah sakit yang membuang ludah sembarangan. Tidak dijumpai juga sampah yang dibuang sembarangan. Dimana – mana pada masa itu yang ada hanyalah bau karbol rumah sakit.
Para pasien khususnya ibu yang baru melahirkan di masa itu tak perlu khawatir dengan layanan rumah sakit karena para tenaga medis khususnya para dokter , suster dan mantri menunggu pasien dengan sabar dan memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Mereka bekerja dengan sangat keras dan disiplin serta berdedikasi tinggi. Di masa itu, tenaga medis di rumah sakit ini terdiri atas paramedis Belanda dan paramedis asli Papua. Misalnya saja, suster yang menolong persalinan pertama dari nene Rumbino adalah Ibu Yosina Marani/Yoku. By the way, salah satu bukti layanan yang baik yang diingat nene Rumbino adalah tiap beberapa jam, para suster akan membawa para bayi mungil ini ke ibu mereka untuk disusui selama 30 menit. Usai itu, mereka diantar kembali ke ruang bayi. Tentu saja para suster selalu memantau para bayi ini untuk mengecek kondisi mereka. Termasuk memandikan dan mengganti popok. Selain itu, para suster sangat disiplin dalam mengotrol para ibu, biasanya para ibu sudah dibangunkan pukul 6 pagi untuk mandi.
Fasilitas Gratis: Pakaian, Makanan, transportasi
Perlu dicatat bahwa pada masa itu, semua layanan rumah sakit itu GRATIS. Pemerintah Belanda menyediakan fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Tiap ibu yang bersalin tak perlu khawatir dengan pakaian yang akan dikenakan selama di rumah sakit karena kebutuhan dasar bayi dan ibu dalam proses persalinan disediakan oleh pihak rumah sakit. Tiap ibu hanya membawa pakaian yang akan dipakai pulang. Kebutuhan pakaian seperti selimut, pakaian bayi, loyor, gurita, sarung tangan dan kaki, pakaian untuk ibu dan peralatan mandi, bahkan juga ‘dug’ (softex) disiapkan oleh pihak rumah sakit. Untuk pakaian bayi baik berupa gurita, loyor dll serta pakaian ibu umumnya merupakan pinjaman dari pihak rumah sakit dan akan dikembalikan usai pasien selesai menjalani perawatan. Tentu saja ada jasa laundry gratis yang disiapkan rumah sakit. Meskipun demikian, pihak rumah sakit juga memberikan bonus 1 stel pakaian bayi gratis saat bayi pulang.
Saat saya singgung tentang layanan makanan selama pasca melahirkan, Nene Rumbino pun menerawang mengingat bagaimana sajian makanan pada masa itu. “Cucu, yang masak orang Belanda jadi kami jarang makan ikan. Paling sering daging,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa makanan yang tersaji di atas nampan – nampan itu diantar dengan menggunakan kereta dorong sejenis troli. Biasanya produk daging untuk makan pagi berupa bubur dengan irisan daging ‘smak’ goreng (daging babi kalengan/Ma Ling). Biasanya sekaleng daging smak diberikan untuk 4 orang. Produk makanan kalengan ini umumnya buatan Singapura. Anyway, Pada pukul 10, pasien diberi makan pisang. Jam makan siang sendiri baru berlangsung pada pukul 1 siang berupa nasi dengan daging babi non-kalengan. Pada jam makan malam, menu yang diberikan adalah nasi dan sayuran serta kadang – kadang disertai ikan goreng. Satu hal yang masih diingat baik oleh nene Rumbino adalah peran koki; seorang perempuan Belanda bercelemek yang datang ke tiap zaal dan bertanya langsung pada pasien tentang kualitas makanan yang disajikan khususnya di jam makan ‘besar’ (siang atau malam). Cerita yang cukup menarik!
Fasilitas peminjaman pakaian bagi pasien dan bayi bukan satu – satunya fasilitas yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Pada masa itu, semua biaya rawat inap dan persalinan serta obat – obatan digratiskan. Tak ada tuntutan pembayaran dari rumah sakit. Bahkan, nene Rumbino bertutur bahwa di masa itu, ibu yang melahirkan harus tinggal selama 7 hari di rumah sakit. Selama 7 hari itu, dokter akan memantau kondisi ibu dan meresepkan sejumlah obat. “Cucu, obat yang kami minum itu bikin gigi hitam – hitam,” tuturnya sambil tertawa kecil. Usai dokter menilai keadaan ibu sudah kuat dan ‘darah nifas’ yang keluar mulai berkurang maka pasien diijinkan pulang.
Sewaktu pulang pun, pasien tidak boleh pulang sendiri tetapi harus diantar oleh mobil rumah sakit sampai tiba di rumah, terlepas di mana letak rumah pasien. Tentu saja layanan ini gratis! Proses pengantaran ibu dan bayi ini pun tidak boleh digabung antar satu pasien dengan pasien yang lain. Nene Rumbino mengingat jelas saat ia dan bayinya diantar pulang di masa itu, ia harus menunggu pihak rumah sakit mengantar dahulu ‘Nyonya’ Meidodga dan bayinya ke Pasir Putih, setelah itu baru gilirannya diantar pulang ke Sanggeng.
Saya cukup salut dengan kebijakan rumah sakit ini mengingat pada masa itu, tidak tersedia layanan transportasi untuk masyarakat umum. Saya tak bisa membayangkan rasanya bila ibu muda yang baru selesai melahirkan seminggu lalu ini harus berjalan pulang membopong bayinya dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Tentu saja hal yang sangat berat. Sebuah layanan yang mungkin dapat diadaptasi pada masa kini. Two thumbs!!!
LAYANAN PASCA PERSALINAN
Usai melahirkan bukan berarti pihak rumah sakit menyepelekan para ibu ini khususnya para ibu muda. Tiap hari Senin sejak keluarnya pasien dari rumah sakit, akan ada kunjungan ke rumah – rumah eks-pasien untuk mengontrol perkembangan ibu dan bayi. Biasanya kunjungan dilakukan oleh dua orang suster yang terdiri atas 1 orang suster Belanda dan 1 orang suster Papua. Mereka berkeliling menggunakan mobil. Kontrol kesehatan ibu dan anak tiap minggu ini berlangsung hingga bayi berumur 3 bulan.
Pada waktu bayi menginjak umur 3 bulan, kedua suster ini akan datang untuk mengajarkan para ibu muda di rumah tentang cara memberi makan bayi mereka. Biasanya mereka telah memberitahukan jadwal kunjungan mereka sebelumnya dan juga bahan – bahan yang harus disiapkan oleh tiap ibu. Nene Rumbino mengingat jelas bagaimana ia harus menyiapkan satu buah pisang Ambon masak, tomat masak, satu buah lemon nipis dan juga garpu. Para suster ini kemudian mengajarkan bagaimana cara menghancurkan pisang menjadi bubur halus dengan menggunakan garpu. Tomat masak juga mengalami hal yang sama. Setelah itu, bubur pisang ini dicampur dengan beberapa tetes tomat masak yang sudah lumat dan ditambahi 2 – 3 tetes lemon nipis. Saat itu, para suster langsung mempraktekan cara pemberian makanan ini secara langsung pada bayi. Tentu saja si bayi sudah dipasangkan serbet HEHEHE. Makanan ini kemudian dianjurkan untuk diberikan tiap hari hingga bayi berumur 4 bulan dan setelah itu bayi dapat diberikan jenis bubur lainnya.
Selain itu, nene Rumbino mengingat bagaimana para suster ini juga masih datang dan mengingatkan nene untuk membawa bayinya melakukan penimbangan tiap hari Senin. Biasanya dilakukan tiap 2 minggu sekali di sejenis ‘posyandu’ dekat Barak Kakatua (masa kini: Tempat penitipan anak Sanggeng). Dalam penimbangan ini terkadang bayi juga diberikan vitamin secara oral.
Inilah sepenggal kenangan yang berhasil saya jaring dari nene Rumbino terkait isu kesehatan ibu dan anak di masa lampau.
SIMPULAN
Layanan kesehatan ibu dan anak khususnya terkait persalinan yang dialami oleh nene Albertina Rumbino/Faidiban dapat menjadi sebuah cermin dalam melihat bagaimana sejarah pelayanan kesehatan di Manokwari pada masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963. Semoga dapat menginspirasi para generasi muda Papua di masa kini khususnya yang mempunyai kapasitas untuk melakukan hal serupa ataupun perubahan yang lebih baik di dalam bidang kesehatan maupun dalam perencanaan pembangunan. Di masa lampau, orang Belanda yang jelas – jelas berbeda ras dengan orang Papua dapat melakukan tindakan berdedikasi penuh kasih untuk kaum kita, bukankah lebih bijak bila di masa kini, kitalah yang dapat melakukan hal terbaik untuk kaum kita sendiri? Jawabannya hanya anda yang tahu!
Selamat pagi, Manokwari!!! *sambil membayangkan the life in Manokwari around 1960s
(Manokwari, 161211; pada sebuah subuh)
Subscribe to:
Posts (Atom)