We always have the nice view from this spot either in the sunny day or cloudy day. Yet, we haven’t had any idea who will either ‘pop up’ in the edge of the sight or go down to the bay. What remain is the nice view of the bay, mountain, and the sky. That’s it! *lesson from the edge of ‘Es Kelapa’ Manggoapi (131111)
Pelajaran itu yang saya dapatkan kala duduk dalam sebuah siang dua mingguan lalu. Kala saya menikmati pencapaian saya mewawancarai narasumber tulisan di Amban. Nah saat itu seperti biasa, saya memilih singgah sebentar di sebuah lapak penjual es kelapa di Manggoapi yang kebetulan tempat jualannya sangat sempurna pemandangannya. Saya suka duduk di sini dan menikmati pemandangan teluk, pegunungan dan juga sekaligus merenung tentang hidup. Salah satu tempat dimana saya merasa inilah alasan saya harus berada di kota ini karena kota ini cantik dan dapat mengajarkan banyak hal tentang hidup, cinta dan bagaimana menikmatinya. Saya melihat pelajaran dari tempat ini adalah apapun yang terjadi dalam hidup, hanyalah hal – hal kecil yang datang dan melihat tetapi esensinya adalah hidup kita tetap ‘cantik’. Hanya perlu melihat ‘gambaran besar’nya saja. Intinya sih mungkin “Don’t lose sight of the forest because the trees”. Jadi memang butuh ‘ganti kacamata’ saja ya HEHEHE.
Saya percaya tiap orang punya jenis pencapaian dan standar hidup serta filosofi yang berbeda. Setiap orang punya standar kesuksesan dan kebahagiaan sendiri. Ada yang merasa baru bisa bahagia dan terasa sukses bila sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri ataupun berganti – ganti gadget terbaru. Ada yang baru bisa mencapai rasa bahagia bila merasa sudah mengikuti tren busana terbaru, juga bisa nongkrong di tempat gaul di kota saya, ataupun sekedar mengoleksi tren kosmetik buatan luar negeri. Ada juga yang sepakat bahwa kalau berjalan – jalan dan berwisata ke luar pulau ataupun ke luar negeri adalah standar kesuksesan dan kebahagiaan. Ada yang bilang harus memiliki ‘banyak’ uang di rekening bank. Apapun yang dipercayai oleh tiap orang ini adalah pilihan mereka. Bagi saya, itu sah – sah saja karena itu pendapat mereka. Selama mereka bahagia asalkan jangan sampai tidak bahagia dan merasa jadi orang termalang di dunia kala tidak bisa mencapainya. Kalau tidak, maka perlu dipertanyakan kembali apa yang kita cari sebenarnya. Apakah itu kebahagiaan ataukah sekedar standar obsesi kita untuk dapat ‘diterima’ oleh orang lain dan mendapatkan sebuah ‘pengakuan’? Entahlah … saya bukan pikolog ataupun filsuf piawai yang pandai merangkai makna hidup.
Anyway, dalam salah satu bacaan wajib saya tiap bulan (Majalah Cosmopolitan Indonesia), saya mendapatkan beberapa kutipan yang sangat menarik dan bagi saya sangat menguatkan diri saya; seorang lajang pengangguran banyak acara berusia 28 tahun. Saya suka pengertian sukses a la Sophie Ellis Bextor ini, “Sukses berarti bisa mengendalikan diri sendiri, bisa terus berusaha dan berkarya tanpa henti, sembari bertahan menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup.” (Sophie Ellis Bextor in Cosmopolitan Indonesia edisi November 2011). Saat saya membaca kutipan ini, saya langsung bilang dan berteriak di depan cermin karena kebetulan saya membacanya di atas tempat tidur Queen Size yang berhadapan dengan cermin lemari. Saya hanya berteriak, “Hey, that’s my line!!!!” Iya, itu yang saya pikirkan selama ini khususnya pada poin ‘bisa terus berusaha dan berkarya tanpa henti’. Kutipan ini sangat menguatkan saya.
Saya juga mendapatkan kutipan lainnya dari Nia Dinata, dan saya sangat merekomendasikannya pada para perempuan. “Bagi perempuan, pastikan dulu apa passion anda. Bagi saya itu memerlukan proses. Expose so many possibilities and don’t be afraid to try. Saat sudah yakin dengan pilihan anda, jangan ragu untuk menekuninya. Tapi yang anda harus ingat, saat ternyata hal itu tak cocok untuk anda, jangan pernah ragu untuk berhenti dan memulai dengan yang lain.” (Nia Dinata in Cosmopolitan Indonesia edisi November 2011).
Entahlah, kata – kata Nia ini resounds di kepala saya dan saya bilang, ‘sa tahu apa yang sa mau’. Saya ingin tetap menulis karena saya cinta menulis, saya ingin menulis menjadi salah satu ciri saya saya untuk bisa bahagia. Saya bahagia dan merasa sukses kala saya bisa menyelesaikan sebuah tulisan yang jujur tentang sesuatu, sekonyol apapun itu di mata orang lain. Saya menemukan passion saya dalam hal ini, karena sewaktu menulis saya menjadi jujur dengan diri saya, saya tak perlu jadi orang lain, saya menjadi diri saya sendiri.
Saya akhir – akhir ini juga mulai semakin jujur dengan gaya saya. Saya ingin jujur dengan fashion dan pakaian ataupun aksesoris yang saya kenakan karena bagi saya, ‘style reflects personality’. Kepribadian saya tercermin dalam gaya saya. Saya cinta kebebasan, saya cinta alam, saya cinta beragam warna, saya suka manik – manik, saya suka sesuatu bergaya etnik. Bagi saya, saya ingin memakai apa yang saya suka walaupun itu bukanlah sesuatu yang sedang trend saat ini. Saya bukan perempuan yang suka mengikuti trend fashion yang bukan ‘saya’. Sejak kecil saya bisa merancang dan membuat desain fashion saya sendiri. Itulah sebabnya saya paling tak ingin mengikuti apa kata orang lain tentang fashion. Saya ingin kelihatan cantik walaupun mungkin tubuh saya sedang sangat ‘ba-lemak’, sedang tak ‘cantik’ menurut para ahli kebugaran. Saya tak peduli.
Saya hidup di sebuah kota kecil yang baru ‘kaget pembangunan’ dan saya tetap ingin jadi diri saya sendiri. Saya tak peduli dengan gerai busana dan sepatu yang menjamur di kota saya, karena saya ingin gaya dan tulisan saya jujur tentang diri saya. Itu saja.
Bagi saya, inilah yang saya sebut BAHAGIA dan SUKSES kala saya “Bisa melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya lakukan!” Sesimpel itu sebenarnya.
Dan pendapat orang di luar sana tak akan membuat saya berhenti menjadi diri saya sendiri walau mungkin saya hanya punya sedikit uang untuk bertahan hidup.
Bagi saya, ini panggilan hidup. Itu saja!
(Manokwari, 281111)
Monday, 28 November 2011
Teh, Bolton dan Hubungan
Seminggu terakhir, saya sedang menyukai dua hal yang berbeda; Mendengarkan suaranya Michael Bolton tengah malam sambil menyesap Teh Gopek dingin sebelum tidur. Entahlah saya juga tak tahu bagaimana menjabarkan hubungan antara keduanya tetapi rasa teh yang khas rupanya sama persis dengan suara si bapak ganteng ini. Jelasnya, saya sedang jatuh cinta pada keduanya, apalagi bila lagu “To Love Somebody”nya melayang – layang lepas di kamar saya HAHAHA.
Saya mungkin punya keterikatan emosi dengan teh yang saya minum seminggu ini. Padahal biasanya saya hanya minum teh Sari Wangi. Karena teh herbal saya yang saya bawa pulang dari liburan di RRC (Linjiang, Yunnan) setahun lalu pun masih awet banyak. Entahlah. Teh non-kantong beraroma khas dari kabupaten Slawi, yang saya minum ini kalau tidak salah namanya ‘teh Gopek’. Rasanya sedikit sepat di lidah. Kebetulan nama Slawi itu ‘rings a bell’ di kepala saya. Ya alasannya sih sedikit sentimental karena saya pernah berkunjung di daerah ini dan kerabat saya dari pihak bapak banyak tinggal di daerah sini, khususnya di dekat areal pabrik teh. Apa boleh buat, kakek saya dari pihak Bapak memang aslinya berasal dari Slawi tetapi pindah ke Tegal (atau sebaliknya?). Toh jarak Slawi dan Tegal tak jauh. Saya teringat aroma teh dari pabrik – pabrik teh saat saya, adik lelaki, keponakan yang sudah meninggal dan pak’lik saya naik pedati ke rumah pak’de saya di daerah luar kota Slawi sepuluh tahun lalu.
Rasa teh yang sangat kental membuat saya terhubung dengan berbagai kenangan lepas yang telah berlalu plus juga menjadi sebuah pengingat. Sedikit konyol juga sih kalau mengingat hubungan antara teh gopek ini dengan topik tulisan ini yang sebenarnya ingin membahas tentang ‘hubungan’ sepasang kekasih ataupun pertalian kasih. Tapi toh tak salah bila saya coba bagi kisah konyol saya ini. Toh ini hanya catatan pribadi saya. Ceritanya, saya membeli ‘teh gopek’ kala menunggu janji ‘ketemuan’ dengan teman lelaki teman saya yang terpesona dengan foto diri saya di notebook teman saya. Jadinya, karena menunggu janji yang rada ‘ngaret’, saat itu saya sudah benar – benar ‘bete tingkat tinggi’ jadinya berputar – putar di sebuah toko bernama tanaman Epifit di kota saya, yang kebetulan di lantai dasarnya ada sebuah resto keluarga bertajuk ‘Kayu Manis’ versi Inggris yang harus jadi tempat ‘kopi darat’. Jadi, sambil bĂȘte e ketemu teh ini. Mata saya langsung kontan ‘berwarna’ kala melihat tagline teh ini, “asli Slawi” HEHEHE. Ya, semacam menemukan sebuah koneksi dengan para kerabat di sana ataukah para leluhur yang telah berpulang. Karena saya percaya mereka mungkin juga pernah meminum teh yang sama *analisa asal HAHAHA.
Singkat cerita, si lelaki temannya teman saya, sebut saja dia Bob seperti tokoh dalam cerpen saya ‘SMS’ yang terinspirasi dari kisah pertalian saya dengan lelaki ini selama seminggu ini, ternyata masuk kategori ‘buaya darat’ tetapi ‘tergila – gila’ pada saya(atau memang sedang pasang jurus ‘rayuan tingkat tinggi’ HAHAHA). Jangan tanya bagaimana cara kerja saya yang kadang menurut beberapa teman terlalu ‘investigatif’ dan ‘googling’. Yang pastinya, saya mendapatkan banyak fakta tentang lelaki ini dan bagi saya ia masuk kategori ‘lelaki buaya darat’ HAHAHA. Jadinya beberapa hari lalu saya pun ‘menegur’ dia dengan banyak pesan singkat tentang gayanya yang ‘memurnikan’ status hubungan cintanya itu sebagai ‘lajang tanpa pacar’. Usut punya usut, ia menabur saham di mana – mana HAHAHA Tak hanya mem-PDKT saya tetapi juga beberapa perempuan lain. Anyway, kami hanya teman kok karena bagaimanapun saya sudah bertobat dari ‘being a seducer’ sejak tahun ini. Ya mau bagaimana lagi, untuk budaya saya, perempuan seperti saya punya kans untuk jadi penggoda dan saya memang mengakui sexual appeal saya yang lumayan cukup HAHAHA.
Saya ingat perkataan saya pada Bob hari Kamis kemarin terkait cinta. Saya bilang, “Sa heran kenapa ko masih bisa lemon sa, padahal ko pu cewek itu cantik skali lho. Lebih cantik dari sa malahan. Sa cuma rasa ko aneh saja. Cinta itu mahal lho, semahal luka.” Pokoknya banyak bertanya dan berbagi tentang pengalaman saya bertemu banyak cowok ‘brengsek’ yang mungkin hanyalah orang yang tidak tepat bagi saya. Saya ingat saya juga sempat bilang pada Bob, “Saya percaya ko dan cewekmu akan baik – baik saja dalam kam pu hubungan karena sa percaya bahwa tiap orang pu potensi untuk jadi manusia yang lebih baik ke depan, selama tong mo berusaha dan berkomunikasi dan percaya bahwa tong memang bisa jadi lebih baik. Itu saja. Sa percaya kam dua akan baik – baik saja. Satu yang pasti, tolong jaga ko perem pu perasaan ka eee, karena sa percaya trada perem yang rela pasangannya berbagi ‘perasaan’ dengan perempuan lain. Bob, ko tahu, sa akan rela untuk berikan semua sa pu uang dan kehilangan semua talenta yang sa miliki untuk bisa jatuh cinta yang dalam lagi yang mungkin seperti yang ko miliki sekarang dengan ko pu perem lho. Cinta itu mahal, semahal Luka!”
Saya mungkin sedikit sensitif dengan isu hubungan yang diwarnai pengkhianatan apalagi ‘buaya darat’ karena pengalaman masa lalu yang kerap dikhianati para mantan pacar. Padahal sekarang bila saya lihat lagi ke belakang, saya menemukan alasannya yang tepat agar tidak lagi menyesali yang pernah terjadi, apalagi bila membaca sebuah kutipan pembahasan di sebuah rubrik konsultasi di majalah kesayangan saya ‘Cosmopolitan’. Saya jadi punya alasan untuk semakin menikmati masa lajang saya yang entah kapan berakhir HAHAHA. Ini kutipan yang saya dapatkan beberapa jam lalu kala hendak tidur di sebuah Minggu Subuh:
“Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47)”
Membaca kutipan bapak ini, saya merasa ada sebuah bel besar yang berdentang kencang di otak saya dan saya merasa bahagia. Ada pelajaran baru yang saya dapatkan. Saya pun jadi semangat dan mensyukuri hidup saya bahwa saya berpisah dengan semua mantan pacar saya karena saya memang harus berpisah dan itu bagi kebaikan kami. Mereka bukanlah orang ‘brengsek’ tetapi hanyalah mereka ‘tidak tepat’ bagi saya dan bila dipaksakan maka kami tak akan bisa menjadi manusia yang lebih baik. Ibaratnya kami adalah pasangan voltase listrik dan perangkat elektronik berbeda voltase. Bila terus dipaksakan bersama, yang ada hanya kemungkinan konslet ataupun rusaknya salah satu perangkat. Sesimpel itu saja sih sebenarnya. Kutipan di atas tak lupa saya bagikan pada beberapa teman termasuk si Bob itu. Semoga saja bermanfaat bagi mereka. Tak ayal balasan pesan dari salah satu sahabat saya yang juga sesama lajang dan pesannya seakan menjadi ramifikasi penjelasan dari pendapatnya pak Alex itu. Saya suka pesan dari sahabat saya ini:
“Itu su lama juga sa pikirkan. Coz 2 orang itu saling menolong, mendampingi, mengingatkan, menegur, memperbaiki, melengkapi. Jadi itu akan meningkatkan kualitas kedua – duanya.” (Ririe Namserna, 271111)
Malam ini saya mendapat banyak pelajaran berharga terkait hubungan dan saya pun teringat hubungan abadi saya dengan kekasih jiwa saya a.k.a Yesus apalagi bila mengingat perkataannya kemarin pagi dalam sesi saat teduh. Sampai saat ini memang saya masih belum menemukan lelaki yang bisa mengisi sempurna apa yang saya butuhkan dari sebuah hubungan. Mungkin karena saya sedikit perfeksionis tapi entahlah sejauh ini saya masih nyaman saja. Memang saya masih mudah jatuh cinta yang kata seorang teman lelaki, ‘membuat saya menjadi kelihatan murahan’ tapi entahlah, saya memang lebih suka jujur pada perasaan saya. Saya merasa ‘baik – baik saja’. Anyway, terkait kekasih jiwa saya, saya teringat pesan kiriman dari teman saya di Manado; Titien Liwutang, isinya begini:
“Jesus does not have a Blackberry or an iPhone but He’s my ‘favorite contact’. He doesn’t have Facebook but He’s my ‘Best Friend’. He doesn’t have Twitter but I ‘follow Him.’ He doesn’t have the Internet but I’m ‘Connected’ to Him.”
Malam ini saya sadar bahwa saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya masih menunggu belahan jiwa saya bila memang ia ada, masih tetap mudah jatuh cinta (tetapi mudah bosan juga), masih tetap juga tak tahan rayuan dan bujukan para keponakan saya yang ingin ‘ikut jalan – jalan belanja’ padahal ujung – ujungnya mereka minta dibelikan ini – itu termasuk aksesoris, es krim dan wewangian anak. Saya masih perempuan lajang umur 28 yang juga suka menulis tentang topik lepas tak jelas seperti ini HAHAHA.
Satu yang pasti, saya ingin menjadi manusia yang lebih baik bagi Yesus dan sesama terlepas apakah saya akan dapat kembali jatuh cinta dalam dan punya hubungan yang dalam dengan lelaki lagi di masa mendatang ataupun tidak.
The most important thing is saya ingin punya relasi yang lebih baik dengan kekasih jiwa saya (Yesus) dan mudah - mudahan terasa kental seperti teh Gopek yang sedang saya nikmati tetes terakhirnya malam ini, ataupun seseksi suara Michael Bolton dan tentu saja punya HUBUNGAN yang dalam lagi dan lagi di setiap detik hidup saya.
Saya (sadar) sedang jatuh cinta (bratz) pada hidup saya malam ini dan ini adalah sebuah HUBUNGAN!!!
Terima kasih Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kam tra kosong!!! Amen!
(Manokwari, 271111; refleksi subuh)
Saya mungkin punya keterikatan emosi dengan teh yang saya minum seminggu ini. Padahal biasanya saya hanya minum teh Sari Wangi. Karena teh herbal saya yang saya bawa pulang dari liburan di RRC (Linjiang, Yunnan) setahun lalu pun masih awet banyak. Entahlah. Teh non-kantong beraroma khas dari kabupaten Slawi, yang saya minum ini kalau tidak salah namanya ‘teh Gopek’. Rasanya sedikit sepat di lidah. Kebetulan nama Slawi itu ‘rings a bell’ di kepala saya. Ya alasannya sih sedikit sentimental karena saya pernah berkunjung di daerah ini dan kerabat saya dari pihak bapak banyak tinggal di daerah sini, khususnya di dekat areal pabrik teh. Apa boleh buat, kakek saya dari pihak Bapak memang aslinya berasal dari Slawi tetapi pindah ke Tegal (atau sebaliknya?). Toh jarak Slawi dan Tegal tak jauh. Saya teringat aroma teh dari pabrik – pabrik teh saat saya, adik lelaki, keponakan yang sudah meninggal dan pak’lik saya naik pedati ke rumah pak’de saya di daerah luar kota Slawi sepuluh tahun lalu.
Rasa teh yang sangat kental membuat saya terhubung dengan berbagai kenangan lepas yang telah berlalu plus juga menjadi sebuah pengingat. Sedikit konyol juga sih kalau mengingat hubungan antara teh gopek ini dengan topik tulisan ini yang sebenarnya ingin membahas tentang ‘hubungan’ sepasang kekasih ataupun pertalian kasih. Tapi toh tak salah bila saya coba bagi kisah konyol saya ini. Toh ini hanya catatan pribadi saya. Ceritanya, saya membeli ‘teh gopek’ kala menunggu janji ‘ketemuan’ dengan teman lelaki teman saya yang terpesona dengan foto diri saya di notebook teman saya. Jadinya, karena menunggu janji yang rada ‘ngaret’, saat itu saya sudah benar – benar ‘bete tingkat tinggi’ jadinya berputar – putar di sebuah toko bernama tanaman Epifit di kota saya, yang kebetulan di lantai dasarnya ada sebuah resto keluarga bertajuk ‘Kayu Manis’ versi Inggris yang harus jadi tempat ‘kopi darat’. Jadi, sambil bĂȘte e ketemu teh ini. Mata saya langsung kontan ‘berwarna’ kala melihat tagline teh ini, “asli Slawi” HEHEHE. Ya, semacam menemukan sebuah koneksi dengan para kerabat di sana ataukah para leluhur yang telah berpulang. Karena saya percaya mereka mungkin juga pernah meminum teh yang sama *analisa asal HAHAHA.
Singkat cerita, si lelaki temannya teman saya, sebut saja dia Bob seperti tokoh dalam cerpen saya ‘SMS’ yang terinspirasi dari kisah pertalian saya dengan lelaki ini selama seminggu ini, ternyata masuk kategori ‘buaya darat’ tetapi ‘tergila – gila’ pada saya(atau memang sedang pasang jurus ‘rayuan tingkat tinggi’ HAHAHA). Jangan tanya bagaimana cara kerja saya yang kadang menurut beberapa teman terlalu ‘investigatif’ dan ‘googling’. Yang pastinya, saya mendapatkan banyak fakta tentang lelaki ini dan bagi saya ia masuk kategori ‘lelaki buaya darat’ HAHAHA. Jadinya beberapa hari lalu saya pun ‘menegur’ dia dengan banyak pesan singkat tentang gayanya yang ‘memurnikan’ status hubungan cintanya itu sebagai ‘lajang tanpa pacar’. Usut punya usut, ia menabur saham di mana – mana HAHAHA Tak hanya mem-PDKT saya tetapi juga beberapa perempuan lain. Anyway, kami hanya teman kok karena bagaimanapun saya sudah bertobat dari ‘being a seducer’ sejak tahun ini. Ya mau bagaimana lagi, untuk budaya saya, perempuan seperti saya punya kans untuk jadi penggoda dan saya memang mengakui sexual appeal saya yang lumayan cukup HAHAHA.
Saya ingat perkataan saya pada Bob hari Kamis kemarin terkait cinta. Saya bilang, “Sa heran kenapa ko masih bisa lemon sa, padahal ko pu cewek itu cantik skali lho. Lebih cantik dari sa malahan. Sa cuma rasa ko aneh saja. Cinta itu mahal lho, semahal luka.” Pokoknya banyak bertanya dan berbagi tentang pengalaman saya bertemu banyak cowok ‘brengsek’ yang mungkin hanyalah orang yang tidak tepat bagi saya. Saya ingat saya juga sempat bilang pada Bob, “Saya percaya ko dan cewekmu akan baik – baik saja dalam kam pu hubungan karena sa percaya bahwa tiap orang pu potensi untuk jadi manusia yang lebih baik ke depan, selama tong mo berusaha dan berkomunikasi dan percaya bahwa tong memang bisa jadi lebih baik. Itu saja. Sa percaya kam dua akan baik – baik saja. Satu yang pasti, tolong jaga ko perem pu perasaan ka eee, karena sa percaya trada perem yang rela pasangannya berbagi ‘perasaan’ dengan perempuan lain. Bob, ko tahu, sa akan rela untuk berikan semua sa pu uang dan kehilangan semua talenta yang sa miliki untuk bisa jatuh cinta yang dalam lagi yang mungkin seperti yang ko miliki sekarang dengan ko pu perem lho. Cinta itu mahal, semahal Luka!”
Saya mungkin sedikit sensitif dengan isu hubungan yang diwarnai pengkhianatan apalagi ‘buaya darat’ karena pengalaman masa lalu yang kerap dikhianati para mantan pacar. Padahal sekarang bila saya lihat lagi ke belakang, saya menemukan alasannya yang tepat agar tidak lagi menyesali yang pernah terjadi, apalagi bila membaca sebuah kutipan pembahasan di sebuah rubrik konsultasi di majalah kesayangan saya ‘Cosmopolitan’. Saya jadi punya alasan untuk semakin menikmati masa lajang saya yang entah kapan berakhir HAHAHA. Ini kutipan yang saya dapatkan beberapa jam lalu kala hendak tidur di sebuah Minggu Subuh:
“Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47)”
Membaca kutipan bapak ini, saya merasa ada sebuah bel besar yang berdentang kencang di otak saya dan saya merasa bahagia. Ada pelajaran baru yang saya dapatkan. Saya pun jadi semangat dan mensyukuri hidup saya bahwa saya berpisah dengan semua mantan pacar saya karena saya memang harus berpisah dan itu bagi kebaikan kami. Mereka bukanlah orang ‘brengsek’ tetapi hanyalah mereka ‘tidak tepat’ bagi saya dan bila dipaksakan maka kami tak akan bisa menjadi manusia yang lebih baik. Ibaratnya kami adalah pasangan voltase listrik dan perangkat elektronik berbeda voltase. Bila terus dipaksakan bersama, yang ada hanya kemungkinan konslet ataupun rusaknya salah satu perangkat. Sesimpel itu saja sih sebenarnya. Kutipan di atas tak lupa saya bagikan pada beberapa teman termasuk si Bob itu. Semoga saja bermanfaat bagi mereka. Tak ayal balasan pesan dari salah satu sahabat saya yang juga sesama lajang dan pesannya seakan menjadi ramifikasi penjelasan dari pendapatnya pak Alex itu. Saya suka pesan dari sahabat saya ini:
“Itu su lama juga sa pikirkan. Coz 2 orang itu saling menolong, mendampingi, mengingatkan, menegur, memperbaiki, melengkapi. Jadi itu akan meningkatkan kualitas kedua – duanya.” (Ririe Namserna, 271111)
Malam ini saya mendapat banyak pelajaran berharga terkait hubungan dan saya pun teringat hubungan abadi saya dengan kekasih jiwa saya a.k.a Yesus apalagi bila mengingat perkataannya kemarin pagi dalam sesi saat teduh. Sampai saat ini memang saya masih belum menemukan lelaki yang bisa mengisi sempurna apa yang saya butuhkan dari sebuah hubungan. Mungkin karena saya sedikit perfeksionis tapi entahlah sejauh ini saya masih nyaman saja. Memang saya masih mudah jatuh cinta yang kata seorang teman lelaki, ‘membuat saya menjadi kelihatan murahan’ tapi entahlah, saya memang lebih suka jujur pada perasaan saya. Saya merasa ‘baik – baik saja’. Anyway, terkait kekasih jiwa saya, saya teringat pesan kiriman dari teman saya di Manado; Titien Liwutang, isinya begini:
“Jesus does not have a Blackberry or an iPhone but He’s my ‘favorite contact’. He doesn’t have Facebook but He’s my ‘Best Friend’. He doesn’t have Twitter but I ‘follow Him.’ He doesn’t have the Internet but I’m ‘Connected’ to Him.”
Malam ini saya sadar bahwa saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya masih menunggu belahan jiwa saya bila memang ia ada, masih tetap mudah jatuh cinta (tetapi mudah bosan juga), masih tetap juga tak tahan rayuan dan bujukan para keponakan saya yang ingin ‘ikut jalan – jalan belanja’ padahal ujung – ujungnya mereka minta dibelikan ini – itu termasuk aksesoris, es krim dan wewangian anak. Saya masih perempuan lajang umur 28 yang juga suka menulis tentang topik lepas tak jelas seperti ini HAHAHA.
Satu yang pasti, saya ingin menjadi manusia yang lebih baik bagi Yesus dan sesama terlepas apakah saya akan dapat kembali jatuh cinta dalam dan punya hubungan yang dalam dengan lelaki lagi di masa mendatang ataupun tidak.
The most important thing is saya ingin punya relasi yang lebih baik dengan kekasih jiwa saya (Yesus) dan mudah - mudahan terasa kental seperti teh Gopek yang sedang saya nikmati tetes terakhirnya malam ini, ataupun seseksi suara Michael Bolton dan tentu saja punya HUBUNGAN yang dalam lagi dan lagi di setiap detik hidup saya.
Saya (sadar) sedang jatuh cinta (bratz) pada hidup saya malam ini dan ini adalah sebuah HUBUNGAN!!!
Terima kasih Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kam tra kosong!!! Amen!
(Manokwari, 271111; refleksi subuh)
Friday, 25 November 2011
Aku baik - baik saja
Sudah seminggu lebih aku tak menuliskan kisahku. Terlalu banyak beban yang menumpuk di benakku, mengkristal dan harus kukeluarkan. Iya, terlalu banyak.
Mulai dari pekerjaan survey di Pantai Utara Manokwari, keberangkatan ke Makassar dan bertemu beberapa teman hingga pertemuan dengan lelaki baru yang memujaku. Sayangnya, ia salah slag karna sudah punya ‘tunangan’. Entahlah, ada banyak hal yang terjadi. Belum lagi minggu lalu aku bertengkar hebat dengan orang tuaku hanya karena gayaku yang dianggap memalukan dan tak ‘baik’ ada kata mereka yang membuatku sangat sesak. Sangat sesak!
Minggu lalu, aku dan orang tuaku bertengkar hanya karena masalah potongan rambutku. Aku tak masalah bila mereka mencela apapun potongan rambutku karena sejak kecil aku terbiasa dengan celaan mereka. Sangat terbiasa! Yang aku sesalkan dan membuatku down semalaman dan mata bengkak hingga pagi adalah mereka bahkan tidak ‘membelaku’. Ceritanya sih karena survey yang harus kulakukan ke kampung – kampung di Pantura yang harus kutempuh dengan balap motor dengan kecepatan 80 KM antara 45 menit – 1 jam, kan siang hari sangat panas dan lokasinya di pinggir pantai, jadinya ya hari itu rambutku terasa sangat panas. Tak pikir panjang, aku memutuskan ke salon dan memotong pendek rambutku. Ya, biar sedikit lebih adem dan terawat. Apalagi ujung rambut juga sudah banyak yang pada pecah. Daripada semakin rusak, kuputuskan memotong rambutku. Jadinya, rambutku pendek dan sangat pirang. Iya, karna ini kan tahun ‘mewarnai’ rambut!
Aku ingat malam itu, aku dan sahabatku pergi ke toko besar di Manokwari dan membeli lipstik yang memang kunantikan untuk kubeli dari uang honorku. Jadinya ketemu. Nah saat kami pergi ke lantai bawah toko itu, ya ampun ternyata aku sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari penjaga toko pria yang mengikuti kami dan mengganggu kami menggunakan lirik lagu yang diputar tapi kata – katanya sih ‘sorry, sorry … rambut. Rambut, rambut’. Karena sahabatku yang mendengarnya tak suka, ia langsung membalasnya dengan tertawa ‘sorry, sorry, UDIIIIIIIIIIIIK. UDIIIIIIIIIIIIIIIK’. Aku sih cuek bebek tak peduli. Nah pulang dari toko dan usai mengantar sahabatku pulang, aku bercerita pada mama dan papa di ruang TV. Ternyata, respon mereka sangat berbeda dengan apa yang kuharapkan. Aku hanya ingin berbagi cerita saja, tak lebih. Tak mengharapkan pujian sama sekali. Tapi yang kudapatkan malah makian dan celaan tanpa henti. Aku terus terang langsung down dan masuk kamar usai bertengkar dan berdebat dengan mereka.
Aku ingat awalnya mama hanya bilang, “Itu ko yang salah, sadar diri too sapa suru mo potong rambut dan kas warna seperti itu. Jadi kalo orang ganggu, jang bicara banyak ka marah toooo, sapa suru aneh.” Aku pun mendebat mama dengan bilang, “Tapi ini di toko, Ma. Kalo di luar, sa cuek. Tapi kalo di toko itu kan ada aturan dimana penjaga tuh harusnya melayani pengunjung bukannya membuat pengunjung merasa tidak nyaman dalam berbelanja.”. Tapi ternyata pernyataanku malah jadi pemicu pertengkaran yang lebih besar dan membara malam itu. Aku benar – benar tak tahan kala papa bergabung dan mulai menyinggung dengan berkata, “sapa suru mati jadi bule eee. Su pulang Indonesia juga mo. Nih bukan di Australia sana.”. Mama mengiyakan dan mulai lagi membahas gayaku yang memakai celana pendek, rambutku dan segala macam hal. Pokoknya, aku harus mengikuti norma apa yang ada di kotaku, gaya standar dan segala macam hal. Aku tak tahan jadi aku mendepak pernyataan mereka, “Kalo sa cuma ikut apa yang kam bilang dan apa yang dipercayai banyak orang di kota ini, sa pasti tra akan pernah bisa pi kuliah ke Australia dan raih sa mimpi – mimpi. Sa cuma akan kawin tempo, pu anak banyak – banyak saja kapa, dan berakhir seperti kam yang begini – begini saja dari dulu.” Dan aku pun langsung membanting pintu kamar dan memutuskan menangis sepanjang malam. Jangan tanya bagaimana mataku yang bengkak.
Entahlah, aku merasa sangat sendiri. Aku hanya mengirim pesan pada sahabat perempuanku. Meminta pendapat, entahlah. Akhir – akhir ini aku merasa bahwa pada akhirnya yang memahamiku hanyalah aku dan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa mengerti bahwa aku sedang melakukan apa yang kucintai dan mencintai apa yang kulakukan. Itu saja. Entahlah!!! Aku merasa semakin jauh dari orang tua dan keluargaku terkecuali dengan para keponakanku. Aku ingat pesan sahabatku malam itu, “Style reflects personality, May”. Iya, dia benar. Gayaku merefleksikan kepribadianku., itu yang kutahu dan aku hanya tak bisa memakai pakaian dan gaya yang bukan diriku. Rasanya seperti mengkhianati diriku. Rasanya ada bagian diriku yang hilang dan diperkosa saat aku tak bisa memakai apa yang ingin kupakai. Aku suka fashion sejak kecil sayangnya jalan hidupku berubah dan tak sanggup masuk sekolah menjahit masa SMK ataupun sekolah fashion design karena tak ada ketiadaan biaya. Jalan satu – satunya adalah memakai apa yang ingin kupakai dan kurefleksikan. Itu saja.
Aku suka kebebasan, ingin bebas berekspresi, ingin jadi apa yang kuinginkan, mengejar mimpi – mimpiku. Ini terefleksi juga dalam gayaku bila berhadapan dengan musik. Pasti badanku akan bergoyang seirama lagu atau musik yang kudengar. Seperti di depan Gedung Kesenian Makassar minggu lalu, aku cuek saja bergoyang bersama temanku mengikuti hentakan musik Jazz, Reggae dan pop. Sangat hidup menikmati musik live lengkap dengan alunan suara saxophone. Aku bahagia! Padahal banyak sekali orang yang memelototi kami karena ada puluhan orang dan hanya kami yang bergoyang dan kadang menyanyi bersama para pemain musik itu. Sampai – sampai ada yang merekam kami dan tak sadar saat HP sudah di depan mata. Iyalah, menari sepenuh hati HAHAHA.
Aku ingin menikmati tiap detik kecil dari hidupku, menikmatinya dan jadi diriku sendiri. Tak peduli apa kata orang toh selama ini aku baik – baik saja. Aku pasti melawan bila ada tindakan berlebihan yang dilakukan pada diriku, itu prinsipku.
Tentang cinta? Ah seminggu ini aku dekat dengan seorang lelaki Waropen yang bekerja di instansi pemerintah urusan bikin jalan raya, panggil saja ia Bob. Gara – gara ia aku sampai membuat satu cerpen tentang dirinya tapi akhirnya ternyata beda dan lebih versi fiksinya HAHAHA. Jadi kejadiannya terkait dengan pelatihan surveiku di Makassar, saat itu ternyata ia melihat fotoku di pinggir jalan raya bersama Chel; temanku di notebook-nya Chel. Nah ia terpesona atau mungkin sedikit ‘tagila – gila’. Jadinya, ia langsung mengirimku pesan dan itulah awal perkenalan kami. Entahlah, aku nyaman bercerita dengan dirinya. Sangat nyaman. Ia terus berusaha meyakinkan diriku kalau ia lajang tanpa pacar. Jadinya, aku pun melacak dirinya, guess what? Ia sudah punya pacar yang cantik di Ambon sana.
Kemarin aku mendampratnya karena 3 kali kutanya, ia selalu mengaku lajang dan bahkan bilang, “May, sa jelek kok, mana ada perem yang mau sama sa ka”. Aku juga baru tahu kalau ia ngaku pada Chel kalau ia ingin menutup akun FBnya agar aku tak curiga. Sayangnya, ia telat banyak. Jangan panggil aku miss Investigasi dan googling kalau tidak bisa mendapatkan informasi tentangnya. Ya iyalah, tak hanya Chel yang kuwawancara tapi juga si Arc yang satu kantor dengannya. HAHAHA dan tentu saja Google di internet. Ia dan pacarnya tak memproteksi akun FB mereka jadinya ya mudah terbuka dan kubaca dengan bebas belum termasuk foto – foto mesra mereka. Bob benar – benar salah menantangku beberapa hari lalu dengan bilang, “lacak sa status suda, May. Kalo tra percaya. Sa single n tra pu pacar kok!” dan aku membuktikan bahwa aku cocok jadi INTEL HAHAHAHA. Untung aku tak ada otak psiko untuk mengacak – acak FB mereka atau mencuri foto mereka dan kujadikan sasaran iseng di dunia maya, ya semisal membuat blog atau akun palsu bertema prostitusi atau gigolo HAHAHAHA, atau juga kujebak untuk semisal bukti kejahatan. Aku masih ingin jadi malaikat HAHAHA.
Jadinya, kemarin aku menegur Bob habis – habisan. Jujur, aku trauma dengan lelaki hujan dulu. Jadinya takut kejadiannya akan terulang kembali, belum lagi miss Gaul dan Rie sahabatku plus miss M telah wanti – wanti untuk ‘jaga jarak’. Intinya, mereka bilang Bob tergila – gila denganku. Tampangnya sungguh mati biasa eeeeeeeeeee, dan aku sampai bilang padanya, “Ko Aneh! Ko pu pacar tuh cantik skali tapi ko masih bisa kirim SMS mesra – mesra ke sa.”. Iya, malah membalas pesanku dengan pesan – pesan yang membuatku mo pingsan, iya ia mengaku suka padaku sejak melihat fotoku. Freak!!! Apalagi ia mengaku sejak mengenal diriku seminggu ini ia merasa sangat klop dan nyaman dan bisa bercerita apa saja dan bilang bahwa ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Aku ingat SMSnya yang begini: “Sa juga bingung, May. Sejak lihat ko foto dan ketemo ko dan cerita dengan ko, sa rasa klop sekali dan nyaman. Cuma ko yang bisa bikin sa nyaman sekali. Jang marah ka kalo sa SMS2 ko eee. Sa tra bisa tipu sa perasaan saja.”. Payah!!!! Kan ceweknya sudah mau datang dalam minggu ini dari Ambon.
Yang pasti, ada satu hal lucu yang kudengar dari pernyataan Bob ke Chel yang adalah tetangganya, katanya wajahku ‘bule’, belum lagi gaya bicaraku dan juga sikapku dan kemungkinan gaya hidupku. Aku hanya bisa ketawa ‘bokar – bokar’, pasti pengaruh rambutku yang kucat pirang dan mataku yang memang coklat terang abis. Masa sih aku harus operasi mata agar kelihatan Jawa - Papua. Salahkan nenekku yang orang Cirebon itu HAHAHA. Kemarin aku sampai bilang pada Chel begini, “Untung sa pu hidung dan tinggi badan sama seperti sa bapa, sa pasti su jalan tipu – tipu laki – laki. Su genit hancur HAHAHAHA”. Ini hanya catatan lepasku, abisnya sejak beberapa minggu terakhir aku merasa terlalu banyak mata yang menempel di badanku karena rambut. Padahal aku hanya akan mewarnai rambutku hingga akhir tahun ini. Tanggal 1 besok aku akan menggantinya dengan warna hitam dan kembali ke gayaku. Cukup 6 bulan saja aku menikmati pewarnaan rambut. Berikutnya mungkin aku akan melihat apa yang ingin kulakukan dengan rambutku ini.
Lain si Bob, lain lagi si Q. Aku sudah menghapus nomor ponselnya sejak sebulan lalu dan menetralisir perasaanku. E di hari yang sama dimana aku sukses mengunggah foto – foto baruku dengan rambut pendek pirang di FB, e ia mengirimkan SMS basa – basi hingga 3 x, isinya sih seperti “Ciao”, “Semangat”, “Kapan lanjutkan pembahasan sirene Fasharkan chapter II, sa tunggu lho”. Jadi kucek lagi nomor ponselnya yang kutulis di buku lain, untuk pastikan apa benar ini dia. Dua malam lalu jadi titik balik komunikasi kami walau hari ini aku menghapus lagi nomor ponselnya HAHAHA
Q masih tetap aneh dengan perasaannya. Aku juga sudah berhasil menetralisir perasaanku, dan cuek saja bercerita tentang Bob dan si Arc (baru tahu kalo ternyata si Arc dulu pernah suka padaku tapi karena ia tak enak hati dengan sahabatku yang ternyata menyukaiku juga, ia memilih mundur.) Aku sempat tertawa tadi malam mendengar reaksi Q saat aku bilang kalau aku sudah tak menghubunginya sejak bulan lalu karena aku menghapus nomor ponselnya. Nada suaranya sangat marah, “Sa salah apa ka, sampe kaka ko hapus sa nomor. Sa salah apa?” Pertanyaan yang berulang – ulang. Aku hanya bilang agar aku tak kecanduan dan menghubunginya, itu saja. Untung ia tak tahu bahwa aku juga selalu menempelkan kertas post-it penuh makian padanya dan memakinya di dinding meja kerjaku, mulai dari “ Q babingung, Q sontong, Sontong belanda, nyali pecek, babingung taslep”. Pokoknya ekspresi emosiku semuanya dan ternyata itu sangat membantu diriku. Iya, sangat membantu melepaskan emosi tanpa harus kecanduan padanya. Aku hanya tak ingin menutup diriku untuk jatuh cinta lagi pada orang lain. Itu saja! Ternyata SUKSES karena dua hari ini aku bisa sukses memaki – maki dia via SMS sampai – sampai ia enggan membalas pesanku abis de terlalu makan puji jadi.
Aku memang merasa sedikit jahat (walau kemarin aku sudah minta maaf). Karena Q terlalu ‘makan puji, Jadinya aku membuka kartu AS-ku, “Q, jang talalu pede ka. Sa memang dulu kejar2 ko, tapi tuh dulu dan sa juga cuma kejar2 saja, sa tra niat jadikan ko sa pacar. Ko tahu itu. Sa kan cuma ungkapkan sa perasaan ke ko TAPI sa tra pernah niat jadikan ko sa pacar, ko bukan sa target mo. Ko tuh cuma enak dikejar – kejar, tapi tidak enak dipacarin, ko mulut talalu babisa. Lagian sa tra pernah minta ko jadi sa pacar too, apa sa pernah minta ko jadi sa pacar, tidak pernah too. Lagian sekarang sa su tahap bosan mooooooo makanya sa juga su tra hubungi ko lagi. Su trada rasa untuk ko skarang. Rasa yang sa rasa dulu sama ko su trada juga. Jadi terserah kalo mo bilang sa kejar2 ko ke orang lain, sa teman – teman dekat dong juga tahu sa penyakit yang mudah jatuh cinta tapi juga mudah bosan. Jadi jang talalu percaya diri tingkat tinggi eee.” Langsung de SUNYI!!!! Entahlah, sekarang aku lebih ekspresif saja mengeluarkan pikiranku. Toh aku tak hidup untuk membuat orang lain terkesan ataupun membuat semua orang bahagia. Titik!
Ah hari ini aku bercerita terlalu banyak. Itu saja.
Satu yang pasti, aku sedang tergila – gila dengan menulis dan juga meneliti.
Tak peduli dengan orang lain usai mendengar apa kata Tuhan pagi ini di saat teduhku yang penuh tangisan bahwa banyak orang tak bisa memahamiku dan mengerti diriku karena Ia menciptakanku spesial, dan tiba – tiba selalu ada perkataan begini, “Karena orang seperti ko cuma 10% dari populasi, May”. Ia banyak berbicara dan menyemangatiku pagi tadi, banyak kata cintanya dan aku bahagia. Apalagi Ia bilang, “May, yang paling penting berbagi kasih. Toh ko kerja sebentar siang jadi relawan penerjemah di kuliah umum untuk mahasiswa Biologi tuh kan pelayanan dan bukti kasih, trus ko temani Chel dan bantu acara pembayaran mas Kawinnya keluarga miss M itu juga pelayanan. Jadi jang merasa tertekan belum melakukan hal – hal luar biasa. Ko sangat spesial dan unik dan Aku menciptakanmu begitu karena aku tahu kau salah satu dari keajaiban yang kubuat. Jadi semangat eee.”
Selamat datang dunia!!!!
Thanx Father, Jesus & Holy Spirit. Amen
(Manokwari, 251111; usai disiram cinta Tuhan)
-
Mulai dari pekerjaan survey di Pantai Utara Manokwari, keberangkatan ke Makassar dan bertemu beberapa teman hingga pertemuan dengan lelaki baru yang memujaku. Sayangnya, ia salah slag karna sudah punya ‘tunangan’. Entahlah, ada banyak hal yang terjadi. Belum lagi minggu lalu aku bertengkar hebat dengan orang tuaku hanya karena gayaku yang dianggap memalukan dan tak ‘baik’ ada kata mereka yang membuatku sangat sesak. Sangat sesak!
Minggu lalu, aku dan orang tuaku bertengkar hanya karena masalah potongan rambutku. Aku tak masalah bila mereka mencela apapun potongan rambutku karena sejak kecil aku terbiasa dengan celaan mereka. Sangat terbiasa! Yang aku sesalkan dan membuatku down semalaman dan mata bengkak hingga pagi adalah mereka bahkan tidak ‘membelaku’. Ceritanya sih karena survey yang harus kulakukan ke kampung – kampung di Pantura yang harus kutempuh dengan balap motor dengan kecepatan 80 KM antara 45 menit – 1 jam, kan siang hari sangat panas dan lokasinya di pinggir pantai, jadinya ya hari itu rambutku terasa sangat panas. Tak pikir panjang, aku memutuskan ke salon dan memotong pendek rambutku. Ya, biar sedikit lebih adem dan terawat. Apalagi ujung rambut juga sudah banyak yang pada pecah. Daripada semakin rusak, kuputuskan memotong rambutku. Jadinya, rambutku pendek dan sangat pirang. Iya, karna ini kan tahun ‘mewarnai’ rambut!
Aku ingat malam itu, aku dan sahabatku pergi ke toko besar di Manokwari dan membeli lipstik yang memang kunantikan untuk kubeli dari uang honorku. Jadinya ketemu. Nah saat kami pergi ke lantai bawah toko itu, ya ampun ternyata aku sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari penjaga toko pria yang mengikuti kami dan mengganggu kami menggunakan lirik lagu yang diputar tapi kata – katanya sih ‘sorry, sorry … rambut. Rambut, rambut’. Karena sahabatku yang mendengarnya tak suka, ia langsung membalasnya dengan tertawa ‘sorry, sorry, UDIIIIIIIIIIIIK. UDIIIIIIIIIIIIIIIK’. Aku sih cuek bebek tak peduli. Nah pulang dari toko dan usai mengantar sahabatku pulang, aku bercerita pada mama dan papa di ruang TV. Ternyata, respon mereka sangat berbeda dengan apa yang kuharapkan. Aku hanya ingin berbagi cerita saja, tak lebih. Tak mengharapkan pujian sama sekali. Tapi yang kudapatkan malah makian dan celaan tanpa henti. Aku terus terang langsung down dan masuk kamar usai bertengkar dan berdebat dengan mereka.
Aku ingat awalnya mama hanya bilang, “Itu ko yang salah, sadar diri too sapa suru mo potong rambut dan kas warna seperti itu. Jadi kalo orang ganggu, jang bicara banyak ka marah toooo, sapa suru aneh.” Aku pun mendebat mama dengan bilang, “Tapi ini di toko, Ma. Kalo di luar, sa cuek. Tapi kalo di toko itu kan ada aturan dimana penjaga tuh harusnya melayani pengunjung bukannya membuat pengunjung merasa tidak nyaman dalam berbelanja.”. Tapi ternyata pernyataanku malah jadi pemicu pertengkaran yang lebih besar dan membara malam itu. Aku benar – benar tak tahan kala papa bergabung dan mulai menyinggung dengan berkata, “sapa suru mati jadi bule eee. Su pulang Indonesia juga mo. Nih bukan di Australia sana.”. Mama mengiyakan dan mulai lagi membahas gayaku yang memakai celana pendek, rambutku dan segala macam hal. Pokoknya, aku harus mengikuti norma apa yang ada di kotaku, gaya standar dan segala macam hal. Aku tak tahan jadi aku mendepak pernyataan mereka, “Kalo sa cuma ikut apa yang kam bilang dan apa yang dipercayai banyak orang di kota ini, sa pasti tra akan pernah bisa pi kuliah ke Australia dan raih sa mimpi – mimpi. Sa cuma akan kawin tempo, pu anak banyak – banyak saja kapa, dan berakhir seperti kam yang begini – begini saja dari dulu.” Dan aku pun langsung membanting pintu kamar dan memutuskan menangis sepanjang malam. Jangan tanya bagaimana mataku yang bengkak.
Entahlah, aku merasa sangat sendiri. Aku hanya mengirim pesan pada sahabat perempuanku. Meminta pendapat, entahlah. Akhir – akhir ini aku merasa bahwa pada akhirnya yang memahamiku hanyalah aku dan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa mengerti bahwa aku sedang melakukan apa yang kucintai dan mencintai apa yang kulakukan. Itu saja. Entahlah!!! Aku merasa semakin jauh dari orang tua dan keluargaku terkecuali dengan para keponakanku. Aku ingat pesan sahabatku malam itu, “Style reflects personality, May”. Iya, dia benar. Gayaku merefleksikan kepribadianku., itu yang kutahu dan aku hanya tak bisa memakai pakaian dan gaya yang bukan diriku. Rasanya seperti mengkhianati diriku. Rasanya ada bagian diriku yang hilang dan diperkosa saat aku tak bisa memakai apa yang ingin kupakai. Aku suka fashion sejak kecil sayangnya jalan hidupku berubah dan tak sanggup masuk sekolah menjahit masa SMK ataupun sekolah fashion design karena tak ada ketiadaan biaya. Jalan satu – satunya adalah memakai apa yang ingin kupakai dan kurefleksikan. Itu saja.
Aku suka kebebasan, ingin bebas berekspresi, ingin jadi apa yang kuinginkan, mengejar mimpi – mimpiku. Ini terefleksi juga dalam gayaku bila berhadapan dengan musik. Pasti badanku akan bergoyang seirama lagu atau musik yang kudengar. Seperti di depan Gedung Kesenian Makassar minggu lalu, aku cuek saja bergoyang bersama temanku mengikuti hentakan musik Jazz, Reggae dan pop. Sangat hidup menikmati musik live lengkap dengan alunan suara saxophone. Aku bahagia! Padahal banyak sekali orang yang memelototi kami karena ada puluhan orang dan hanya kami yang bergoyang dan kadang menyanyi bersama para pemain musik itu. Sampai – sampai ada yang merekam kami dan tak sadar saat HP sudah di depan mata. Iyalah, menari sepenuh hati HAHAHA.
Aku ingin menikmati tiap detik kecil dari hidupku, menikmatinya dan jadi diriku sendiri. Tak peduli apa kata orang toh selama ini aku baik – baik saja. Aku pasti melawan bila ada tindakan berlebihan yang dilakukan pada diriku, itu prinsipku.
Tentang cinta? Ah seminggu ini aku dekat dengan seorang lelaki Waropen yang bekerja di instansi pemerintah urusan bikin jalan raya, panggil saja ia Bob. Gara – gara ia aku sampai membuat satu cerpen tentang dirinya tapi akhirnya ternyata beda dan lebih versi fiksinya HAHAHA. Jadi kejadiannya terkait dengan pelatihan surveiku di Makassar, saat itu ternyata ia melihat fotoku di pinggir jalan raya bersama Chel; temanku di notebook-nya Chel. Nah ia terpesona atau mungkin sedikit ‘tagila – gila’. Jadinya, ia langsung mengirimku pesan dan itulah awal perkenalan kami. Entahlah, aku nyaman bercerita dengan dirinya. Sangat nyaman. Ia terus berusaha meyakinkan diriku kalau ia lajang tanpa pacar. Jadinya, aku pun melacak dirinya, guess what? Ia sudah punya pacar yang cantik di Ambon sana.
Kemarin aku mendampratnya karena 3 kali kutanya, ia selalu mengaku lajang dan bahkan bilang, “May, sa jelek kok, mana ada perem yang mau sama sa ka”. Aku juga baru tahu kalau ia ngaku pada Chel kalau ia ingin menutup akun FBnya agar aku tak curiga. Sayangnya, ia telat banyak. Jangan panggil aku miss Investigasi dan googling kalau tidak bisa mendapatkan informasi tentangnya. Ya iyalah, tak hanya Chel yang kuwawancara tapi juga si Arc yang satu kantor dengannya. HAHAHA dan tentu saja Google di internet. Ia dan pacarnya tak memproteksi akun FB mereka jadinya ya mudah terbuka dan kubaca dengan bebas belum termasuk foto – foto mesra mereka. Bob benar – benar salah menantangku beberapa hari lalu dengan bilang, “lacak sa status suda, May. Kalo tra percaya. Sa single n tra pu pacar kok!” dan aku membuktikan bahwa aku cocok jadi INTEL HAHAHAHA. Untung aku tak ada otak psiko untuk mengacak – acak FB mereka atau mencuri foto mereka dan kujadikan sasaran iseng di dunia maya, ya semisal membuat blog atau akun palsu bertema prostitusi atau gigolo HAHAHAHA, atau juga kujebak untuk semisal bukti kejahatan. Aku masih ingin jadi malaikat HAHAHA.
Jadinya, kemarin aku menegur Bob habis – habisan. Jujur, aku trauma dengan lelaki hujan dulu. Jadinya takut kejadiannya akan terulang kembali, belum lagi miss Gaul dan Rie sahabatku plus miss M telah wanti – wanti untuk ‘jaga jarak’. Intinya, mereka bilang Bob tergila – gila denganku. Tampangnya sungguh mati biasa eeeeeeeeeee, dan aku sampai bilang padanya, “Ko Aneh! Ko pu pacar tuh cantik skali tapi ko masih bisa kirim SMS mesra – mesra ke sa.”. Iya, malah membalas pesanku dengan pesan – pesan yang membuatku mo pingsan, iya ia mengaku suka padaku sejak melihat fotoku. Freak!!! Apalagi ia mengaku sejak mengenal diriku seminggu ini ia merasa sangat klop dan nyaman dan bisa bercerita apa saja dan bilang bahwa ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Aku ingat SMSnya yang begini: “Sa juga bingung, May. Sejak lihat ko foto dan ketemo ko dan cerita dengan ko, sa rasa klop sekali dan nyaman. Cuma ko yang bisa bikin sa nyaman sekali. Jang marah ka kalo sa SMS2 ko eee. Sa tra bisa tipu sa perasaan saja.”. Payah!!!! Kan ceweknya sudah mau datang dalam minggu ini dari Ambon.
Yang pasti, ada satu hal lucu yang kudengar dari pernyataan Bob ke Chel yang adalah tetangganya, katanya wajahku ‘bule’, belum lagi gaya bicaraku dan juga sikapku dan kemungkinan gaya hidupku. Aku hanya bisa ketawa ‘bokar – bokar’, pasti pengaruh rambutku yang kucat pirang dan mataku yang memang coklat terang abis. Masa sih aku harus operasi mata agar kelihatan Jawa - Papua. Salahkan nenekku yang orang Cirebon itu HAHAHA. Kemarin aku sampai bilang pada Chel begini, “Untung sa pu hidung dan tinggi badan sama seperti sa bapa, sa pasti su jalan tipu – tipu laki – laki. Su genit hancur HAHAHAHA”. Ini hanya catatan lepasku, abisnya sejak beberapa minggu terakhir aku merasa terlalu banyak mata yang menempel di badanku karena rambut. Padahal aku hanya akan mewarnai rambutku hingga akhir tahun ini. Tanggal 1 besok aku akan menggantinya dengan warna hitam dan kembali ke gayaku. Cukup 6 bulan saja aku menikmati pewarnaan rambut. Berikutnya mungkin aku akan melihat apa yang ingin kulakukan dengan rambutku ini.
Lain si Bob, lain lagi si Q. Aku sudah menghapus nomor ponselnya sejak sebulan lalu dan menetralisir perasaanku. E di hari yang sama dimana aku sukses mengunggah foto – foto baruku dengan rambut pendek pirang di FB, e ia mengirimkan SMS basa – basi hingga 3 x, isinya sih seperti “Ciao”, “Semangat”, “Kapan lanjutkan pembahasan sirene Fasharkan chapter II, sa tunggu lho”. Jadi kucek lagi nomor ponselnya yang kutulis di buku lain, untuk pastikan apa benar ini dia. Dua malam lalu jadi titik balik komunikasi kami walau hari ini aku menghapus lagi nomor ponselnya HAHAHA
Q masih tetap aneh dengan perasaannya. Aku juga sudah berhasil menetralisir perasaanku, dan cuek saja bercerita tentang Bob dan si Arc (baru tahu kalo ternyata si Arc dulu pernah suka padaku tapi karena ia tak enak hati dengan sahabatku yang ternyata menyukaiku juga, ia memilih mundur.) Aku sempat tertawa tadi malam mendengar reaksi Q saat aku bilang kalau aku sudah tak menghubunginya sejak bulan lalu karena aku menghapus nomor ponselnya. Nada suaranya sangat marah, “Sa salah apa ka, sampe kaka ko hapus sa nomor. Sa salah apa?” Pertanyaan yang berulang – ulang. Aku hanya bilang agar aku tak kecanduan dan menghubunginya, itu saja. Untung ia tak tahu bahwa aku juga selalu menempelkan kertas post-it penuh makian padanya dan memakinya di dinding meja kerjaku, mulai dari “ Q babingung, Q sontong, Sontong belanda, nyali pecek, babingung taslep”. Pokoknya ekspresi emosiku semuanya dan ternyata itu sangat membantu diriku. Iya, sangat membantu melepaskan emosi tanpa harus kecanduan padanya. Aku hanya tak ingin menutup diriku untuk jatuh cinta lagi pada orang lain. Itu saja! Ternyata SUKSES karena dua hari ini aku bisa sukses memaki – maki dia via SMS sampai – sampai ia enggan membalas pesanku abis de terlalu makan puji jadi.
Aku memang merasa sedikit jahat (walau kemarin aku sudah minta maaf). Karena Q terlalu ‘makan puji, Jadinya aku membuka kartu AS-ku, “Q, jang talalu pede ka. Sa memang dulu kejar2 ko, tapi tuh dulu dan sa juga cuma kejar2 saja, sa tra niat jadikan ko sa pacar. Ko tahu itu. Sa kan cuma ungkapkan sa perasaan ke ko TAPI sa tra pernah niat jadikan ko sa pacar, ko bukan sa target mo. Ko tuh cuma enak dikejar – kejar, tapi tidak enak dipacarin, ko mulut talalu babisa. Lagian sa tra pernah minta ko jadi sa pacar too, apa sa pernah minta ko jadi sa pacar, tidak pernah too. Lagian sekarang sa su tahap bosan mooooooo makanya sa juga su tra hubungi ko lagi. Su trada rasa untuk ko skarang. Rasa yang sa rasa dulu sama ko su trada juga. Jadi terserah kalo mo bilang sa kejar2 ko ke orang lain, sa teman – teman dekat dong juga tahu sa penyakit yang mudah jatuh cinta tapi juga mudah bosan. Jadi jang talalu percaya diri tingkat tinggi eee.” Langsung de SUNYI!!!! Entahlah, sekarang aku lebih ekspresif saja mengeluarkan pikiranku. Toh aku tak hidup untuk membuat orang lain terkesan ataupun membuat semua orang bahagia. Titik!
Ah hari ini aku bercerita terlalu banyak. Itu saja.
Satu yang pasti, aku sedang tergila – gila dengan menulis dan juga meneliti.
Tak peduli dengan orang lain usai mendengar apa kata Tuhan pagi ini di saat teduhku yang penuh tangisan bahwa banyak orang tak bisa memahamiku dan mengerti diriku karena Ia menciptakanku spesial, dan tiba – tiba selalu ada perkataan begini, “Karena orang seperti ko cuma 10% dari populasi, May”. Ia banyak berbicara dan menyemangatiku pagi tadi, banyak kata cintanya dan aku bahagia. Apalagi Ia bilang, “May, yang paling penting berbagi kasih. Toh ko kerja sebentar siang jadi relawan penerjemah di kuliah umum untuk mahasiswa Biologi tuh kan pelayanan dan bukti kasih, trus ko temani Chel dan bantu acara pembayaran mas Kawinnya keluarga miss M itu juga pelayanan. Jadi jang merasa tertekan belum melakukan hal – hal luar biasa. Ko sangat spesial dan unik dan Aku menciptakanmu begitu karena aku tahu kau salah satu dari keajaiban yang kubuat. Jadi semangat eee.”
Selamat datang dunia!!!!
Thanx Father, Jesus & Holy Spirit. Amen
(Manokwari, 251111; usai disiram cinta Tuhan)
-
Cerpen - SMS
PROLOG
Ia tak pernah tahu ia berurusan dengan siapa. Ia tak perlu tahu. Yang ia perlu tahu hanyalah ia salah memainkan ‘kartu’nya, salah memainkan hati, dan tentu saja salah berurusan dengan diriku. Tentu saja aku menikmati permainan ini. Sangat menikmati selingan di sela – sela kesibukanku ‘berbisnis informasi’ di tanah ini HAHAHA Dan aku sangat benci PENIPU!!!
***
Makassar, 3 November 2011
Pak Donny baru saja selesai menerangkan rangkaian pembahasan pengisian sampel acak dari blok sensus yang akan kami garap dalam survei minggu depan. Beberapa rekan mulai mengeluh tentang pembagian wilayah, aku tak luput juga dalam kelompok ini. Kami tepatnya meminta pergantian wilayah sensus. Tak sanggup saja rasanya harus bekerja hanya 3 hari di tempat yang terisolir untuk mewawancarai 10 responden, plus harus mengurus perijinan di tiga instansi yang berbeda. Alamak, asuransi kesehatanku tak cukup kuat menanggung biaya opname jangka panjangku usai survei HAHAHA.
“Bip – Bip – Bip,” sebuah SMS masuk dari nomor ponsel baru tepat pukul 5 sore kala penjelasan baru saja kelar. Kulirik teman setim-ku yang sedang sibuk membuat coretan nomor kontak dan segala macam tetek bengek dari catatan penjelasan tadi.
‘Hai, ini Day ya?’, bunyi pesan siluman itu.
‘Iya, siapa nih?’ tanyaku cuek dalam barisan huruf pembentuk makna.
‘Nih dari Bob’, jawab si ‘siluman SMS’ itu.
‘Bob siapa eee’, balasku.
‘Temannya Chel,’ jelasnya.
Singkatnya, pembicaraan untuk nongkrong di pantai Losari bersama beberapa kenalan dan merasakan Pisang Epe on the spot di Makassar pun berbaur dengan balasan pesan silih berganti dari ponselku yang sudah layak dipakai melempar anjing saking uzurnya. Menghabiskan pulsa gratis dari sebuah operator pesan plus mengusir galau menghirup udara yang cukup tak ramah di paru – paruku. Sesak napas! Aku percaya saat itu di atas langit sana pesan – pesan singkatku untuk siluman SMS bernama Bob sedang balapan ramai di lapisan Ionosfer dengan ratusan SMS. Entah apa ada Polantas-nya di sana atau tidak. Entah menabrak malaikat pembawa pesan Tuhan dan pengantar doa, entah berjibaku dengan kilatan petir dan butir es, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku sedang memakai satu bukti teknologi hasil karya manusia yang mungkin hanyalah mimpi – mimpi senyap tulang belulang leluhurku beribu ataupun beratus tahun silam.
***
Gerombolan anak kecil berkaki telanjang sibuk memainkan gitar mini dan menyanyi dengan suara cempreng, berlarian mengejar aku, El dan Dee di salah satu landmark kota Makassar. Jarum jam baru saja merayap cantik di pukul 7 malam. Pantai Losari tetap saja ramai. Lampu taman berpendar tajam membiaskan, tepatnya membalut hembusan debu yang beterbangan. Para remaja hilir mudik mencari areal berfoto. Ada yang sumringah menebar senyum dalam kamera. Ada yang memasang mulut monyong, entah meniru ekspresi orang ‘mati berak’ atau memang sedang terkena penyakit ‘Bell’s palsy’. Entahlah! Bukan urusanku.
Beberapa pesan pendek masuk lagi di ponsel ‘anti peluru-ku’. Bertanya ini – itu. Si siluman pesan ini ternyata terlalu gigih mengirimkan SMS. Jadi penasaran, kucoba bertanya pada Chel via pesan pendek. Rupanya foto petaka yang membuat si siluman SMS muncul HAHAHA. Hanya karena beberapa digit kilobyte rekam jejak wajahku yang berambut pirang asli cat sendiri dengan celana pendek bersama Chel, si siluman jadinya menghabiskan pulsa untuk bertanya ini – itu sok penting padaku. Sok perhatian!!!
Malam itu, pesan siluman tak terlalu kugubris. Ini malam pesta aku, El dan Dee. Benar – benar menikmati alunan musik Jazz dan reggae di depan gedung kesenian Makassar. Surga untuk diriku yang sudah setahun lebih dipaksa mendengar rekaman Mp3 dan bukannya live music yang sangat ‘Day’ banget. Tak tahan rasanya bila tak bergoyang, sampai – sampai aku ingin meng-kargokan pemain saxophone-nya. Entahlah itu sax jenis sopran atau alto. Telingaku kurang peka HAHAHA. ‘Para – para nasi kuning’ jadi saksi saat telinga kami dibuai alunan suara penyanyi Jazz itu. Tak lupa syaraf tawaku sejak tadi sudah terlanjur lumer dihajar ‘mop’nya Dee. Mop tentang singa dan Gajah.
Sekali lagi tarikan nafas si penyanyi cewek menghiburku, sebelum keburu dipotong suara perusak mimpi – mimpi nada surgawi dari si bapak pejabat tinggi kota ini. Gosh, mendingan cepat kabur sebelum impresi musik indah ini terlanjur diramu tantrum nada tanpa nama dan judul. Rintik – rintik hujan mulai turun dan pesan si siluman masih masuk ke ponsel uzur-ku. Kubalas singkat dan padat. Tanpa emosi!!!
***
Manokwari , 10 November 2011
Mereka bilang ini ‘hari pahlawan’. Siapa juga mereka itu yang dengan santainya mendapuk ini ‘hari pahlawan’. Maaf, emosi nasionalismeku sudah larut sejak beberapa tahun terakhir. Bukannya sok liberal. Hanya tak percaya bahwa Pahlawan haruslah mereka yang berbaju kemeja hijau dan bertopi lucu dan tentu saja bersepatu kulit beralas besi. Persis seperti yang diusung oleh patung empat lelaki di dekat sebuah Jembatan di kotaku. Ini hanya pikiran lepasku melihat spanduk – spanduk bergambar tugu lelaki baju hijau yang bertebaran di kotaku. Penuh basa – basi. Aku ingin ‘patung guru’, aku ingin ‘patung dokter atau tenaga medis’, aku ingin patung yang lain. Tak perlu insersi ideologi berlebihan di otak. ‘Apa tak cukup patung lelaki bertopi baja lengkap dengan harimau di areal pelabuhan?’ batinku.
Masih teringat bayang mas – mas bernama Yos Sudarso di Taman Imbi Jayapura sana. Bertakhta pongah di atas para makhluk pribumi. Padahal seingatku lewat catatan seorang teman di Makassar a.k.a. Luna Vidya, di sana pernah ada sebatang pohon Matoa yang ditanam saat ulang tahun kota Jayapura berpuluh tahun silam tetapi harus ditebang demi mas ini. Ya pohon kerap disepelekan fungsinya dibandingkan lelaki beton bernama pahlawan itu. Patung mati! Padahal sebatang pohon berusia sepuluh tahun sanggup memompa Oksigen untuk dua orang sepanjang hayatnya. Ini masalah kepentingan! Tak ada yang menganggap si pohon Matoa yang endemik Papua itu lebih penting daripada si mas – mas bercat emas itu, yang konon anggaran pengecatan ulangnya sanggup memberi makan orang satu RT di Jayapura selama seminggu. Ironis!!!
Patung pahlawan dekat jembatan pun jadi bahan pembicaraan tepatnya ‘perdebatan’ sengit dengan si siluman SMS lewat pesan – pesan pendek minus ‘tanta Veronica’. Rupanya ia salah satu lelaki yang bertanggungjawab atas hadirnya si patung bapak – bapak berbaju hijau dan cokelat di kotaku.
“Aeh ko deng ko teman – teman cuma bisa protes mo, tra bikin apa – apa. Biar tooh ada patung itu, kenapa juga. Epen ka,” jawabnya di ujung perdebatan kami.
“Mendingan tugu jam, lebih ada guna. Apa tuh, pace baju coklat tuh makhluk dari mana ka? Tong tra kenal dia. Lebe bae patung guru ka dokter, masih ada guna. Makna simbol tra sampe moooo. Apa lagi de pu tifa tuh, maksudnya? Biar dong kelihatan berdiri di Papua dan jadi lambang supremasi? Nene moyang. Kam bikin tuh co lihat de pu ukiran dulu ka, ukirannya bukan Papua mooo, macam dari Kalimantan ka ini. Perhatikan de motif bunga ka, pliz HAHAHA. Sa pu mulut mo, sa mo bicara juga ko ganas ka. Pi kopeng tembok sana HAHAHA,” ujarku tak kalah cuek.
Pertengkaran kami tak berhenti juga. Pesan – pesan singkat kami saling meyikut, ‘baku pukul di udara, tabanting – banting di tanah, saling baku sepak’. Tepatnya, saling berdebat. Berlari ke arah impian dan liberalisme pikiran. Saat ia dengan mental oportunisnya menyindir kerjaanku yang serabutan di mana – mana, dengan cuek-nya aku bilang,:
“HAHAHA Sorry, sa pemimpi. Sa cuma 10% dari populasi. At least so far sa su lebih banyak bajalan ke berbagai tempat dibanding ko. CATAT! Dibayar untuk bajalan dan GRATIS! Plus setidaknya sa lakukan apa yang sa cintai dan cintai apa yang sa lakukan. Sisanya, epen ka? Kalo ganas, ya silahkan ganas, tacukur di jalan aspal sana HAHAHA. Epen ka!”
***
Bob masih sering mengirim pesan. Selalu menyangkal pekerjaannya dan selalu mengaku hanya pengangguran padahal rangkuman informanku dengan jelas memberi tahu pekerjaan dan deskripsi kerja Bob. Ia juga selalu menyangkal hubungannya. Ia selalu mengaku lajang tanpa pacar, memurnikan hubungannya tanpa cela.
Lebih dari seminggu pun aku belum bertemu dirinya. Penasaran dengan penampakan si siluman ini HAHAHA. Akhirnya, dari urus sana – sini, atur sana – sini. Voila …. Kami bertemu di sebuah tempat bernama ‘Kayu Manis’. Gosh, he’s not totally not my type. Jadi penasaran dengan si siluman yang bisa sepercaya diri itu.
Ia masih tetap sama. “Ba’gedi” atau “Lemon” alias too much flirting deh. Ia pikir aku tipe perempuan yang terpesona dengan digit tabungannya. No way!!!
Pesannya masuk lagi malam ini kala laporan survey telah beres sejak sore. It’s my free time! Kami tertawa membahas hal – hal kecil. Tertawa garing lewat simbol – simbol emotikon a la “HAHAHA, hehehe, =D, :D,” ataupun sekedar Mr Smiley dalam berbagai pose. Tak luput dengan larian susunan kata a la ROFL ataupun LOL. SMSnya pun tak kalah gombal-nya, entah apa yang ia pikirkan kala merespon pesanku tentang rencanaku ke luar kota mengangkut pulang bibit pohon yang sudah kubeli di persemaian petani lokal. Yang aku tahu ia pasti pikir aku akan percaya 100% pada lelaki seperti dia padahal di dalam hatiku aku masih tetap beberapa persen mengadopsi paham bahwa lelaki gombal ataupun buaya darat hanyalah “segumpal daging tanpa otak”. Sorry, masih sedikit feminis (garis keras) HAHAHA
“Day, masa ko mo trus ajak ko sahabat Ray sih, skali – skali ajak sa juga eee. Kalo sa, sa janji kerja rodi untuk ko HAHAHA”, jawabnya.
Pesan – pesan gombalnya selalu kupatahkan dengan menjebaknya lagi dalam pernyataan yang sama,:
“Stop lemon ya. Nan ko maitua kas sa mata masak!.”
Ia masih tetap tak peduli. Selalu mengirimkan pesan gombalnya yang entah dicabutnya dari buku siapa, ataukah memang ini kelakuan khas lelaki dari pulau kecil di teluk Cenderawasih itu. ‘Abuleke’ tinggi!!!
“Day, sa tra bisa tidur nih. Masih terbayang tadi ketemu bidadari di resto.”
Atau juga pesan lainnya sejenis:
“Malam Day, su tidur ka? Adooh kangen SMSmu ini. Met tidur ya!”
***
Jujur, aku menikmati SMSnya. Menikmati pesannya. Menikmati ia memainkan emosiku sambil berharap ini hanya akan jadi hiburan bagiku. Walau aku sangat benci berhadapan dengan lelaki ‘buaya darat’. Bob selalu memasang tampang alim bersih cewek. Bahkan rela memintaku mengorbankan 1 menit waktuku untuk bertemu dengannya di pinggir jalan yang searah dengan rumah Chel di luar kota sana. Entahlah, saat itu aku hanya kasihan padanya yang terlanjur menunggu.
Bob tak pernah tahu bahwa aku sudah memasang jaringan kerjaku di mana – mana termasuk di rekan – rekan kerjanya. Aku tahu ia sudah mempunyai tunangan. Perempuan dari negeri seribu pulau yang sama dengan opa – omaku. Perempuan yang sangat cantik menurutku. Entah apa yang berkelebat di otak lelaki siluman pesan ini hingga bisa sukses mengirimkan pesan ‘lemon’nya padaku. Tak tahu. Aku hanya benci penipu saja dalam hidupku. Dalam bisnis informasiku, aku benci penipu. Musuh nomor satuku dalam tim kerjaku adalah pembohong ataupun kaum ‘muka dua’ dan ‘double agent’. A big NO untuk mereka!!! Biasanya, kuberi pelajaran yang tak akan mereka lupakan. Jangan panggil namaku ‘Day Nemesis’ kalau penipu di dekatku tak kuberi pelajaran.
Entahlah. Aku tak mengerti apa yang ia lihat padaku hingga selalu ‘ber-lemon’ dengan ungkapan, “U r perfect, Day. Makanya banyak cowok yang tagila – gila ko.” Ia salah besar! Aku tak pernah bisa ‘sempurna’!!! Karena aku mengenal hidupku (dengan baik). Begitu juga perasaanku!
***
Akhir November 2011
Kusiapkan cetakan foto – foto Bob dan tunangannya dalam amplop. Ia begitu bodoh tak memproteksi jejaring sosialnya hingga foto – fotonya mudah kucuri. Samaran namanya tak mempan di jejaring itu karena aku punya ‘mata’ dan ‘telinga dimana – mana’ apalagi seorang perempuan cantik di pulau lain berbagi informasi denganku. Foto – foto itu selalu kubawa. Berjaga – jaga bila ia terlalu gombal. Berjaga – jaga untuk momen ‘hari pembalasan’. Aku mulai bosan dengan permainan ini. Sangat bosan! Ingin lepas. Padahal masih ada sebulan aku di kota ini.
“Hai Day, bikin apa?,” tanya Bob sekali lagi.
Aku tak peduli dengan pesan itu.
“Bisa ketemu ka? Sa yang traktir makan nanti. Ko di mana? Sa ke situ eee. ”ajaknya lagi.
Aku tak peduli.
Sebuah pesan baru masuk ke ponselku. Pesan yang kutunggu. Seorang lelaki yang kerap kurindukan aroma tubuhnya!
“Beib, Z su di Manokwari. Jadi makan malam toooo? Mau di mana?,” tanya lelaki pengirim pesan itu.
“Di tempat biasa, 30 menit lagi eee”, balasku.
Kukirimkan pesan lain pada Bob. Bertemu di resto kayu manis, tak boleh lebih dari 15 menit dan ia wajib ada di sana.
***
Bob muncul rapi jali lengkap dengan parfum andalannya yang katanya buatan Swedia. Lumayan meningkatkan penampilan fisiknya yang sangat biasa.
Kusiapkan amplop fotonya. Tersimpan rapi tanpa cacat dalam tas tanganku.
Kami memesan minuman. Tertawa lepas. Kupancing lagi tentang status hubungannya yang katanya lajang itu. Ia meyakinkan diriku lagi, “Sa jelek, Day, Perem mana yang mau sama sa ka. Lacak suda kalo tra percaya HAHAHA,” tuturnya. Kuingat catatan kiriman “Lv u, hon” dari Blackberry-nya di dinding jejaring sosial perempuannya 5 hari lalu. Kadang kuanggap mereka berdua benar – benar gagap teknologi hingga tak memproteksi akun mereka. Ia pikir ia penipu (perasaan) yang lihai. Mungkin ia pikir ia anak buahnya ‘Simon Petrus’; si penyangkal HAHAHA.
Kulihat seorang lelaki muda mulai masuk ke areal restoran. Si kulit kopi itu mulai sibuk menebar pesonanya dengan tampang jail-nya. Tampang jail yang selalu sukses merebut hatiku, membuatku menggelepar tanpa nafas tiap kali ia harus pergi untuk kunjungan medisnya di pedalaman berminggu – minggu. Kaos polonya rapi lengkap dengan topi baseball dan sebuah kotak kado besar.
Langkahnya tegap dan stabil seiring dengan topinya yang dibuka menampilkan potongan rambut crew-cut.
“Happy birthday, Love. Sa sayang ko,”jawabnya langsung menuju kursiku lengkap dengan pelukan dan ciuman di kening. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di resto.
Bob Terpana. Giginya menggeretak!!!!
Tak menunggu lama, aku dengan cuek-nya mengeluarkan amplop putih dari tas dan mengangsurkan pada Bob, lengkap dengan pesan pendek:
“Bob, lain kali kalo mo lemon ka gedi cewek, pastikan target deng baik eee. Sa kasihan ko cewek!”, ujarku.
Max dan aku pun melangkah keluar resto. Meninggalkan Bob yang masih memandangku dengan pandangan tak percaya.
Bob salah karena aku tak pernah ‘Perfect’. Tak akan pernah ‘perfect’ karena kelemahanku adalah memainkan hati para buaya darat kala Max bertugas di pedalaman.
Kukirim pesan pada sebuah nomor ponsel di daftar kontakku:
“Siz, sa su kas kam 2 pu koleksi foto ke ko pu paitua tuh. Mudah – mudahan de tobat eee. De macam –macam lagi deng sa, nan sa bilang sa pu rekan kerja lipa dia bae – bae. Thanx lagi su libatkan sa eee. Good luck deng ko pu hubungan.”
***
EPILOG
Di pinggiran sebuah dermaga yang temaram, ditemani nyala lilin yang membias wajah dan senyum lepas orang ‘mabuk cinta’ kubuka kotak kadoku.
“Moga ko suka, Day. Bagus untuk ko kerjaan. Lensa tele-nya bagus tuh. Hehehe”, kata Max yang masih menatapku dengan pandangan cinta.
Kami tak peduli dengan pesan masuk dari Bob yang singkat, pendek, dan jelas:
“Dasar perem anjing. Sa bunuh ko!”.
Aku dan Max hanya bisa tertawa lepas. Tak bisa membayangkan bagaimana wajah Bob besok sore bila selesai dihajar rekan – rekan timku. Ia tak tahu aku pemimpin tim ‘SWAT a.k.a. Swanggi Terlatih’.
Ciao, buaya darat! GAME OVER!!! *sambil memegang erat kamera hadiah tunanganku.
(Manokwari, 241111; inspired by a true story. Maunya sih akhir ceritanya begini HAHAHA*otak nangka sungguh mati)
Ia tak pernah tahu ia berurusan dengan siapa. Ia tak perlu tahu. Yang ia perlu tahu hanyalah ia salah memainkan ‘kartu’nya, salah memainkan hati, dan tentu saja salah berurusan dengan diriku. Tentu saja aku menikmati permainan ini. Sangat menikmati selingan di sela – sela kesibukanku ‘berbisnis informasi’ di tanah ini HAHAHA Dan aku sangat benci PENIPU!!!
***
Makassar, 3 November 2011
Pak Donny baru saja selesai menerangkan rangkaian pembahasan pengisian sampel acak dari blok sensus yang akan kami garap dalam survei minggu depan. Beberapa rekan mulai mengeluh tentang pembagian wilayah, aku tak luput juga dalam kelompok ini. Kami tepatnya meminta pergantian wilayah sensus. Tak sanggup saja rasanya harus bekerja hanya 3 hari di tempat yang terisolir untuk mewawancarai 10 responden, plus harus mengurus perijinan di tiga instansi yang berbeda. Alamak, asuransi kesehatanku tak cukup kuat menanggung biaya opname jangka panjangku usai survei HAHAHA.
“Bip – Bip – Bip,” sebuah SMS masuk dari nomor ponsel baru tepat pukul 5 sore kala penjelasan baru saja kelar. Kulirik teman setim-ku yang sedang sibuk membuat coretan nomor kontak dan segala macam tetek bengek dari catatan penjelasan tadi.
‘Hai, ini Day ya?’, bunyi pesan siluman itu.
‘Iya, siapa nih?’ tanyaku cuek dalam barisan huruf pembentuk makna.
‘Nih dari Bob’, jawab si ‘siluman SMS’ itu.
‘Bob siapa eee’, balasku.
‘Temannya Chel,’ jelasnya.
Singkatnya, pembicaraan untuk nongkrong di pantai Losari bersama beberapa kenalan dan merasakan Pisang Epe on the spot di Makassar pun berbaur dengan balasan pesan silih berganti dari ponselku yang sudah layak dipakai melempar anjing saking uzurnya. Menghabiskan pulsa gratis dari sebuah operator pesan plus mengusir galau menghirup udara yang cukup tak ramah di paru – paruku. Sesak napas! Aku percaya saat itu di atas langit sana pesan – pesan singkatku untuk siluman SMS bernama Bob sedang balapan ramai di lapisan Ionosfer dengan ratusan SMS. Entah apa ada Polantas-nya di sana atau tidak. Entah menabrak malaikat pembawa pesan Tuhan dan pengantar doa, entah berjibaku dengan kilatan petir dan butir es, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku sedang memakai satu bukti teknologi hasil karya manusia yang mungkin hanyalah mimpi – mimpi senyap tulang belulang leluhurku beribu ataupun beratus tahun silam.
***
Gerombolan anak kecil berkaki telanjang sibuk memainkan gitar mini dan menyanyi dengan suara cempreng, berlarian mengejar aku, El dan Dee di salah satu landmark kota Makassar. Jarum jam baru saja merayap cantik di pukul 7 malam. Pantai Losari tetap saja ramai. Lampu taman berpendar tajam membiaskan, tepatnya membalut hembusan debu yang beterbangan. Para remaja hilir mudik mencari areal berfoto. Ada yang sumringah menebar senyum dalam kamera. Ada yang memasang mulut monyong, entah meniru ekspresi orang ‘mati berak’ atau memang sedang terkena penyakit ‘Bell’s palsy’. Entahlah! Bukan urusanku.
Beberapa pesan pendek masuk lagi di ponsel ‘anti peluru-ku’. Bertanya ini – itu. Si siluman pesan ini ternyata terlalu gigih mengirimkan SMS. Jadi penasaran, kucoba bertanya pada Chel via pesan pendek. Rupanya foto petaka yang membuat si siluman SMS muncul HAHAHA. Hanya karena beberapa digit kilobyte rekam jejak wajahku yang berambut pirang asli cat sendiri dengan celana pendek bersama Chel, si siluman jadinya menghabiskan pulsa untuk bertanya ini – itu sok penting padaku. Sok perhatian!!!
Malam itu, pesan siluman tak terlalu kugubris. Ini malam pesta aku, El dan Dee. Benar – benar menikmati alunan musik Jazz dan reggae di depan gedung kesenian Makassar. Surga untuk diriku yang sudah setahun lebih dipaksa mendengar rekaman Mp3 dan bukannya live music yang sangat ‘Day’ banget. Tak tahan rasanya bila tak bergoyang, sampai – sampai aku ingin meng-kargokan pemain saxophone-nya. Entahlah itu sax jenis sopran atau alto. Telingaku kurang peka HAHAHA. ‘Para – para nasi kuning’ jadi saksi saat telinga kami dibuai alunan suara penyanyi Jazz itu. Tak lupa syaraf tawaku sejak tadi sudah terlanjur lumer dihajar ‘mop’nya Dee. Mop tentang singa dan Gajah.
Sekali lagi tarikan nafas si penyanyi cewek menghiburku, sebelum keburu dipotong suara perusak mimpi – mimpi nada surgawi dari si bapak pejabat tinggi kota ini. Gosh, mendingan cepat kabur sebelum impresi musik indah ini terlanjur diramu tantrum nada tanpa nama dan judul. Rintik – rintik hujan mulai turun dan pesan si siluman masih masuk ke ponsel uzur-ku. Kubalas singkat dan padat. Tanpa emosi!!!
***
Manokwari , 10 November 2011
Mereka bilang ini ‘hari pahlawan’. Siapa juga mereka itu yang dengan santainya mendapuk ini ‘hari pahlawan’. Maaf, emosi nasionalismeku sudah larut sejak beberapa tahun terakhir. Bukannya sok liberal. Hanya tak percaya bahwa Pahlawan haruslah mereka yang berbaju kemeja hijau dan bertopi lucu dan tentu saja bersepatu kulit beralas besi. Persis seperti yang diusung oleh patung empat lelaki di dekat sebuah Jembatan di kotaku. Ini hanya pikiran lepasku melihat spanduk – spanduk bergambar tugu lelaki baju hijau yang bertebaran di kotaku. Penuh basa – basi. Aku ingin ‘patung guru’, aku ingin ‘patung dokter atau tenaga medis’, aku ingin patung yang lain. Tak perlu insersi ideologi berlebihan di otak. ‘Apa tak cukup patung lelaki bertopi baja lengkap dengan harimau di areal pelabuhan?’ batinku.
Masih teringat bayang mas – mas bernama Yos Sudarso di Taman Imbi Jayapura sana. Bertakhta pongah di atas para makhluk pribumi. Padahal seingatku lewat catatan seorang teman di Makassar a.k.a. Luna Vidya, di sana pernah ada sebatang pohon Matoa yang ditanam saat ulang tahun kota Jayapura berpuluh tahun silam tetapi harus ditebang demi mas ini. Ya pohon kerap disepelekan fungsinya dibandingkan lelaki beton bernama pahlawan itu. Patung mati! Padahal sebatang pohon berusia sepuluh tahun sanggup memompa Oksigen untuk dua orang sepanjang hayatnya. Ini masalah kepentingan! Tak ada yang menganggap si pohon Matoa yang endemik Papua itu lebih penting daripada si mas – mas bercat emas itu, yang konon anggaran pengecatan ulangnya sanggup memberi makan orang satu RT di Jayapura selama seminggu. Ironis!!!
Patung pahlawan dekat jembatan pun jadi bahan pembicaraan tepatnya ‘perdebatan’ sengit dengan si siluman SMS lewat pesan – pesan pendek minus ‘tanta Veronica’. Rupanya ia salah satu lelaki yang bertanggungjawab atas hadirnya si patung bapak – bapak berbaju hijau dan cokelat di kotaku.
“Aeh ko deng ko teman – teman cuma bisa protes mo, tra bikin apa – apa. Biar tooh ada patung itu, kenapa juga. Epen ka,” jawabnya di ujung perdebatan kami.
“Mendingan tugu jam, lebih ada guna. Apa tuh, pace baju coklat tuh makhluk dari mana ka? Tong tra kenal dia. Lebe bae patung guru ka dokter, masih ada guna. Makna simbol tra sampe moooo. Apa lagi de pu tifa tuh, maksudnya? Biar dong kelihatan berdiri di Papua dan jadi lambang supremasi? Nene moyang. Kam bikin tuh co lihat de pu ukiran dulu ka, ukirannya bukan Papua mooo, macam dari Kalimantan ka ini. Perhatikan de motif bunga ka, pliz HAHAHA. Sa pu mulut mo, sa mo bicara juga ko ganas ka. Pi kopeng tembok sana HAHAHA,” ujarku tak kalah cuek.
Pertengkaran kami tak berhenti juga. Pesan – pesan singkat kami saling meyikut, ‘baku pukul di udara, tabanting – banting di tanah, saling baku sepak’. Tepatnya, saling berdebat. Berlari ke arah impian dan liberalisme pikiran. Saat ia dengan mental oportunisnya menyindir kerjaanku yang serabutan di mana – mana, dengan cuek-nya aku bilang,:
“HAHAHA Sorry, sa pemimpi. Sa cuma 10% dari populasi. At least so far sa su lebih banyak bajalan ke berbagai tempat dibanding ko. CATAT! Dibayar untuk bajalan dan GRATIS! Plus setidaknya sa lakukan apa yang sa cintai dan cintai apa yang sa lakukan. Sisanya, epen ka? Kalo ganas, ya silahkan ganas, tacukur di jalan aspal sana HAHAHA. Epen ka!”
***
Bob masih sering mengirim pesan. Selalu menyangkal pekerjaannya dan selalu mengaku hanya pengangguran padahal rangkuman informanku dengan jelas memberi tahu pekerjaan dan deskripsi kerja Bob. Ia juga selalu menyangkal hubungannya. Ia selalu mengaku lajang tanpa pacar, memurnikan hubungannya tanpa cela.
Lebih dari seminggu pun aku belum bertemu dirinya. Penasaran dengan penampakan si siluman ini HAHAHA. Akhirnya, dari urus sana – sini, atur sana – sini. Voila …. Kami bertemu di sebuah tempat bernama ‘Kayu Manis’. Gosh, he’s not totally not my type. Jadi penasaran dengan si siluman yang bisa sepercaya diri itu.
Ia masih tetap sama. “Ba’gedi” atau “Lemon” alias too much flirting deh. Ia pikir aku tipe perempuan yang terpesona dengan digit tabungannya. No way!!!
Pesannya masuk lagi malam ini kala laporan survey telah beres sejak sore. It’s my free time! Kami tertawa membahas hal – hal kecil. Tertawa garing lewat simbol – simbol emotikon a la “HAHAHA, hehehe, =D, :D,” ataupun sekedar Mr Smiley dalam berbagai pose. Tak luput dengan larian susunan kata a la ROFL ataupun LOL. SMSnya pun tak kalah gombal-nya, entah apa yang ia pikirkan kala merespon pesanku tentang rencanaku ke luar kota mengangkut pulang bibit pohon yang sudah kubeli di persemaian petani lokal. Yang aku tahu ia pasti pikir aku akan percaya 100% pada lelaki seperti dia padahal di dalam hatiku aku masih tetap beberapa persen mengadopsi paham bahwa lelaki gombal ataupun buaya darat hanyalah “segumpal daging tanpa otak”. Sorry, masih sedikit feminis (garis keras) HAHAHA
“Day, masa ko mo trus ajak ko sahabat Ray sih, skali – skali ajak sa juga eee. Kalo sa, sa janji kerja rodi untuk ko HAHAHA”, jawabnya.
Pesan – pesan gombalnya selalu kupatahkan dengan menjebaknya lagi dalam pernyataan yang sama,:
“Stop lemon ya. Nan ko maitua kas sa mata masak!.”
Ia masih tetap tak peduli. Selalu mengirimkan pesan gombalnya yang entah dicabutnya dari buku siapa, ataukah memang ini kelakuan khas lelaki dari pulau kecil di teluk Cenderawasih itu. ‘Abuleke’ tinggi!!!
“Day, sa tra bisa tidur nih. Masih terbayang tadi ketemu bidadari di resto.”
Atau juga pesan lainnya sejenis:
“Malam Day, su tidur ka? Adooh kangen SMSmu ini. Met tidur ya!”
***
Jujur, aku menikmati SMSnya. Menikmati pesannya. Menikmati ia memainkan emosiku sambil berharap ini hanya akan jadi hiburan bagiku. Walau aku sangat benci berhadapan dengan lelaki ‘buaya darat’. Bob selalu memasang tampang alim bersih cewek. Bahkan rela memintaku mengorbankan 1 menit waktuku untuk bertemu dengannya di pinggir jalan yang searah dengan rumah Chel di luar kota sana. Entahlah, saat itu aku hanya kasihan padanya yang terlanjur menunggu.
Bob tak pernah tahu bahwa aku sudah memasang jaringan kerjaku di mana – mana termasuk di rekan – rekan kerjanya. Aku tahu ia sudah mempunyai tunangan. Perempuan dari negeri seribu pulau yang sama dengan opa – omaku. Perempuan yang sangat cantik menurutku. Entah apa yang berkelebat di otak lelaki siluman pesan ini hingga bisa sukses mengirimkan pesan ‘lemon’nya padaku. Tak tahu. Aku hanya benci penipu saja dalam hidupku. Dalam bisnis informasiku, aku benci penipu. Musuh nomor satuku dalam tim kerjaku adalah pembohong ataupun kaum ‘muka dua’ dan ‘double agent’. A big NO untuk mereka!!! Biasanya, kuberi pelajaran yang tak akan mereka lupakan. Jangan panggil namaku ‘Day Nemesis’ kalau penipu di dekatku tak kuberi pelajaran.
Entahlah. Aku tak mengerti apa yang ia lihat padaku hingga selalu ‘ber-lemon’ dengan ungkapan, “U r perfect, Day. Makanya banyak cowok yang tagila – gila ko.” Ia salah besar! Aku tak pernah bisa ‘sempurna’!!! Karena aku mengenal hidupku (dengan baik). Begitu juga perasaanku!
***
Akhir November 2011
Kusiapkan cetakan foto – foto Bob dan tunangannya dalam amplop. Ia begitu bodoh tak memproteksi jejaring sosialnya hingga foto – fotonya mudah kucuri. Samaran namanya tak mempan di jejaring itu karena aku punya ‘mata’ dan ‘telinga dimana – mana’ apalagi seorang perempuan cantik di pulau lain berbagi informasi denganku. Foto – foto itu selalu kubawa. Berjaga – jaga bila ia terlalu gombal. Berjaga – jaga untuk momen ‘hari pembalasan’. Aku mulai bosan dengan permainan ini. Sangat bosan! Ingin lepas. Padahal masih ada sebulan aku di kota ini.
“Hai Day, bikin apa?,” tanya Bob sekali lagi.
Aku tak peduli dengan pesan itu.
“Bisa ketemu ka? Sa yang traktir makan nanti. Ko di mana? Sa ke situ eee. ”ajaknya lagi.
Aku tak peduli.
Sebuah pesan baru masuk ke ponselku. Pesan yang kutunggu. Seorang lelaki yang kerap kurindukan aroma tubuhnya!
“Beib, Z su di Manokwari. Jadi makan malam toooo? Mau di mana?,” tanya lelaki pengirim pesan itu.
“Di tempat biasa, 30 menit lagi eee”, balasku.
Kukirimkan pesan lain pada Bob. Bertemu di resto kayu manis, tak boleh lebih dari 15 menit dan ia wajib ada di sana.
***
Bob muncul rapi jali lengkap dengan parfum andalannya yang katanya buatan Swedia. Lumayan meningkatkan penampilan fisiknya yang sangat biasa.
Kusiapkan amplop fotonya. Tersimpan rapi tanpa cacat dalam tas tanganku.
Kami memesan minuman. Tertawa lepas. Kupancing lagi tentang status hubungannya yang katanya lajang itu. Ia meyakinkan diriku lagi, “Sa jelek, Day, Perem mana yang mau sama sa ka. Lacak suda kalo tra percaya HAHAHA,” tuturnya. Kuingat catatan kiriman “Lv u, hon” dari Blackberry-nya di dinding jejaring sosial perempuannya 5 hari lalu. Kadang kuanggap mereka berdua benar – benar gagap teknologi hingga tak memproteksi akun mereka. Ia pikir ia penipu (perasaan) yang lihai. Mungkin ia pikir ia anak buahnya ‘Simon Petrus’; si penyangkal HAHAHA.
Kulihat seorang lelaki muda mulai masuk ke areal restoran. Si kulit kopi itu mulai sibuk menebar pesonanya dengan tampang jail-nya. Tampang jail yang selalu sukses merebut hatiku, membuatku menggelepar tanpa nafas tiap kali ia harus pergi untuk kunjungan medisnya di pedalaman berminggu – minggu. Kaos polonya rapi lengkap dengan topi baseball dan sebuah kotak kado besar.
Langkahnya tegap dan stabil seiring dengan topinya yang dibuka menampilkan potongan rambut crew-cut.
“Happy birthday, Love. Sa sayang ko,”jawabnya langsung menuju kursiku lengkap dengan pelukan dan ciuman di kening. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di resto.
Bob Terpana. Giginya menggeretak!!!!
Tak menunggu lama, aku dengan cuek-nya mengeluarkan amplop putih dari tas dan mengangsurkan pada Bob, lengkap dengan pesan pendek:
“Bob, lain kali kalo mo lemon ka gedi cewek, pastikan target deng baik eee. Sa kasihan ko cewek!”, ujarku.
Max dan aku pun melangkah keluar resto. Meninggalkan Bob yang masih memandangku dengan pandangan tak percaya.
Bob salah karena aku tak pernah ‘Perfect’. Tak akan pernah ‘perfect’ karena kelemahanku adalah memainkan hati para buaya darat kala Max bertugas di pedalaman.
Kukirim pesan pada sebuah nomor ponsel di daftar kontakku:
“Siz, sa su kas kam 2 pu koleksi foto ke ko pu paitua tuh. Mudah – mudahan de tobat eee. De macam –macam lagi deng sa, nan sa bilang sa pu rekan kerja lipa dia bae – bae. Thanx lagi su libatkan sa eee. Good luck deng ko pu hubungan.”
***
EPILOG
Di pinggiran sebuah dermaga yang temaram, ditemani nyala lilin yang membias wajah dan senyum lepas orang ‘mabuk cinta’ kubuka kotak kadoku.
“Moga ko suka, Day. Bagus untuk ko kerjaan. Lensa tele-nya bagus tuh. Hehehe”, kata Max yang masih menatapku dengan pandangan cinta.
Kami tak peduli dengan pesan masuk dari Bob yang singkat, pendek, dan jelas:
“Dasar perem anjing. Sa bunuh ko!”.
Aku dan Max hanya bisa tertawa lepas. Tak bisa membayangkan bagaimana wajah Bob besok sore bila selesai dihajar rekan – rekan timku. Ia tak tahu aku pemimpin tim ‘SWAT a.k.a. Swanggi Terlatih’.
Ciao, buaya darat! GAME OVER!!! *sambil memegang erat kamera hadiah tunanganku.
(Manokwari, 241111; inspired by a true story. Maunya sih akhir ceritanya begini HAHAHA*otak nangka sungguh mati)
Cerpen - Jingga
PROLOG
Ini bukan persoalan ‘menjadi’ tetapi ‘ada’. Meninggalkan jejak eksistensi yang nyata. Yang ia inginkan hanya jujur pada dirinya. Menjadi dirinya sendiri. Tiba – tiba aku merindukan perempuan itu. Perempuan bernama Jingga. Lamat – lamat kudengar suaranya kembali terulang di dalam kepalaku, “Tong tra bisa pilih lahir di keluarga mana, Rhe. Tapi tong bisa pilih jadi siapa dalam hidup ini. Dan sa pilih jadi sa diri sendiri. Sekonyol apapun itu. Andai saja dong bisa terima sa apa adanya. Cinta itu ternyata mahal ya?”
***
Malam telah beberapa jam membelah langit Manokwari. Perempuan lajang 28 tahun itu baru saja pulang dari acara belanja. Dilangkahkan kakinya cepat – cepat masuk ke dalam ruang keluarga. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya. Bibirnya dipoles gincu merah muda lembut dan tipis. Ia merasa sangat cantik dan bahagia dengan hidupnya.
“Ma, kam bikin?” suaranya berseru dari luar.
Seorang perempuan paruh baya pun keluar menatapnya. Pandangannya datar.
“Ma, liat sa pu rambut baru. Sa potong pendek. Abis panas tadi jadi,” serunya dengan semangat.
Perempuan itu hanya memandang sekilas.
“Sa juga baru beli lipstik baru. Sa suka de warna skali,” jawabnya lagi dengan nada ceria.
Perempuan tua itu hanya memandangnya datar. Tanpa komentar.
Ia melanjutkan ceritanya sambil menyibakan rambut keritingnya yang dipotong bob pendek. Rambutnya yang suka berganti warna. Kali ini coklat kepirangan.
“Ma, tadi toh sa deng Anna pi belanja. Damainya, sa pu rambut aneh ka? Adoh tadi ada pelayan yang liat tong deng muka bagaimana ka begitu, baru de sindir – sindir tong khususnya sa rambut. Anna ko ganas jadi de langsung tindis bicara besar – besar ‘udik’. Sa tadi tra dengar jadi, kalo sa dengar, sa mo lapor ke dong pengawas. Masa tong belanja baru pelayan toko macam begitu. Tong tra bikin apa – apa baru dapa perlakuan begitu,” Jingga pun bersuara berkeluh kesah.
Pandangan mamanya yang semula datar pun berubah menjadi pisau tajam, mengejewantah lewat muntahan kata – kata tajam tanpa nama.
“Makanya, bagaya tuh yang biasa – biasa saja. Yang normal – normal saja to. Kalo bikin rambut begitu ya sadar resiko too. Orang bicara ya cuekin saja to. Untuk apa balas. Bikin masalah saja,”desisnya dengan nada menghakimi.
“Tapi ma, nih kan dalam toko. Sa belanja, sa bayar. Sa kan tra minta de pu sindiran, ma. Kalo di luar ruangan, sa cuek. Tapi kan ini masalah layanan too. Masa tong belanja ada pelayan yang begitu. Jadi untung tadi sa tra dengar jelas. Kalo iya, sa pasti lapor supervisornya,” suara Jingga mulai naik 1 oktaf.
“Ko tahu apa, ko yang salah mo. Sapa suru mo bikin rambut begitu. Baju juga sapa suru pake celana pendek begitu. Makanya tahu tempatkan diri di mana. Ini Manokwari. Kalo kas warna ya tahu diri resikonya. Diam saja kenapa ka?”, jawab perempuan yang adalah mamanya Jingga.
“Jih mama, tapi kalo tong tra bela tong diri, bisa – bisa tong diinjak – injak trus. Sa tra komentar dong pu muka ka gaya yang begitu mo, kenapa dong harus sibuk ka sindir orang lain besar – besar,” sahut Jingga tak mau kalah.
“Sapa suru mo gaya mati jadi bule ka. Untuk apa juga ko basibuk kas pirang rambut, pake baju yang begitu. Pancing keadaan skali. Tra bisa normal sedikit ka,” sahut bapaknya tak mau kalah.
“Iya, gaya tuh yang normal – normal saja ka. Sapa suru. Tuh ko pu salah too,” jawab mamanya lagi.
Jingga tak dapat lagi menahan beban yang mulai terasa sesak di dadanya. Semuanya terasa sesak. Ia tak sadar mengeluarkan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya semakin meradang:
“Ma, kalo sa ikut kam pu pola berpikir yang macam begini. Sa percaya sa pasti tra akan pernah pi Australia untuk sa pu S2, tra akan bisa tamat dari uni yang bagus, tra bisa lulus S1 deng nilai bagus, tra bisa dapat kerjaan lepas yang masih bisa kas makan sa diri sendiri. Bisa – bisa sa hidup hanya untuk bautang terus menerus dan tra bisa jadi apa yang sa mau dalam hidup.”
Perkataannya selesai lengkap dengan gebrakan pintu kamarnya. Lengkap dengan bunyi “klik” di lubang kunci.
***
Aku mengenalnya sejak lama. Sangat mengenalnya. Mungkin ia sebaya denganku. Perkenalan kami begitu biasa, hanya kenalan di sebuah kegiatan organisasi pemuda di kotaku. Lama – lama, si pirang kribo ini kerap menjadi penyemangatku dan teman cerita. Pertalian persaudaraan yang kasat mata. Ataukah cinta? Entahlah disebut apa hubungan ini. Kami jarang bertemu. Tapi, aku banyak mendengar ceritanya lewat pesan – pesan pendeknya. Ia orang yang ceria sayangnya aku tak pernah sekalipun mendengarnya menyanyi lepas dengan pandangan bahagia kecuali kala dalam acara saat teduhnya yang pernah tak sengaja kudengar. Ada satu kisah yang sering membuatku bertanya mengapa ia tak pernah suka menyanyi ataupun menikmati menyanyi. Hingga tak sengaja dalam sebuah malam, ia mengirimkan pesan – pesan pendek bernada lirih.
“Kak, su tidur. Sa bole curhat ka?”, isi pesan pertamanya, seperti SMS yang lain. Selalu berupa ijin. Selalu bertanya.
“Ah trada ade, kenapa jadi? SMS saja, tra papa kok.” Jawabku singkat.
Ia pun mengalirkan keluh kesahnya seperti kawah kepundan. Berasap. Menggelegak.
Ia ingat dengan jelas, sedari kecil tiap kali ia ingin menyanyi, mamanya dengan cepat berseru, “Tra usah nyanyi. Ko suara jelek.” Dan Jingga kecil memutuskan untuk diam. Tetapi beberapa tahun kemudian, kala adik perempuannya didorong untuk menyanyi oleh mamanya, ia pun bertanya tentang suaranya dalam hati, “Mungkin ada yang salah di dalam sa pu pita suara”, jawabnya menghibur diri tiap kali didera pernyataan yang sama. Ia mengingat jelas pula bagaimana di masa liburan SMAnya di kota ini, saat harus mengurus sebuah persyaratan di sebuah kantor pemerintah dan ia bersenandung kecil di ruang tunggu. Hanya ia dan bapaknya saat itu. Ia mengingat jelas ia diadili orang tuanya dan dianggap memalukan dan gila. Sejak saat itu ia berhenti menyanyi di depan orang tuanya dan juga orang lain. Menutup mulut dengan rapat.
Itulah sebabnya aku tahu mengapa ia jatuh cinta pada Greenday, pada India.Arie. Karena mereka bisa menyanyikan sebuah protes yang tak pernah bisa ia nyanyikan. Itulah sebabnya ia paling tak suka dipaksa untuk menyanyi. Itulah sebabnya ia begitu ekspresif menyembah Tuhannya karena ia tahu orang tuanya tak akan pernah tahu apa yang ia ceritakan pada Tuhannya. Aku kadang sedih melihat bagaimana Jingga tiap hari harus bersitegang dengan mamanya. Kalau bukan tentang masalah taman bunga di depan rumahnya, pasti tentang dekorasi kamarnya. Kalau bukan tentang gaya berpakaian, pasti tentang hal lain.
Ah aku merindukannya malam ini.
***
EPILOG
Lama sudah aku tak mendengar kabarnya, mendengar kisahnya. Akun jejaring sosialnya hanya berisi pesan dari teman – temannya dan segala macam iklan. Aku merindukannya malam ini. Kukirim pesanku pada ponselnya tapi tak pernah ada balasan. ‘Mungkin lagi ke pedalaman,’ batinku.
Aku ingat pagi tadi kala mengecek newsfeed jejaring sosialku, sebuah pesan muncul di layar Jingga yang terefleksi di laman-ku.
“Ga, kenapa ko tega skali ka. Kenapa? Sa akan rindu ko sungguh mati. Ko tega. Kenapa tra cerita ka. Sa sayang ko. Kenapa Ga? Ko tega tinggalkan sa tuh!!!”.
Pesan dari sahabatnya Jingga.
Aku hanya bisa menangis, terasa berat di dada.
Entahlah, aku gagal sebagai teman. Sangat gagal kala membaca pesan sahabatnya Jingga dan komentar – komentar dari berbagai teman dekatnya.
Yang aku tahu, Jingga tak akan pernah kembali lagi. Terlalu banyak darahnya yang terbuang usai sayatan di nadinya. Itu penjelasan via pesan pendek yang dikirimkan sahabat dekatnya padaku.
Ah aku merindukannya hari ini. Merindukan Jingga yang selalu ingin jadi dirinya sendiri termasuk menentukan akhir hidupnya.
“You are beautiful dan maafkan sa karna tra pernah bilang langsung ke ko kalo sa terlanjur sayang ko”, itu yang ingin kubilang padanya, bila besok aku tiba kembali di kota ini demi pemakamannya.
Kau benar, Ga, cinta itu ternyata mahal ya? Semahal darah yang mengalir lepas.
(Manokwari, 251111; a chunk of memory indeed)
Ini bukan persoalan ‘menjadi’ tetapi ‘ada’. Meninggalkan jejak eksistensi yang nyata. Yang ia inginkan hanya jujur pada dirinya. Menjadi dirinya sendiri. Tiba – tiba aku merindukan perempuan itu. Perempuan bernama Jingga. Lamat – lamat kudengar suaranya kembali terulang di dalam kepalaku, “Tong tra bisa pilih lahir di keluarga mana, Rhe. Tapi tong bisa pilih jadi siapa dalam hidup ini. Dan sa pilih jadi sa diri sendiri. Sekonyol apapun itu. Andai saja dong bisa terima sa apa adanya. Cinta itu ternyata mahal ya?”
***
Malam telah beberapa jam membelah langit Manokwari. Perempuan lajang 28 tahun itu baru saja pulang dari acara belanja. Dilangkahkan kakinya cepat – cepat masuk ke dalam ruang keluarga. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya. Bibirnya dipoles gincu merah muda lembut dan tipis. Ia merasa sangat cantik dan bahagia dengan hidupnya.
“Ma, kam bikin?” suaranya berseru dari luar.
Seorang perempuan paruh baya pun keluar menatapnya. Pandangannya datar.
“Ma, liat sa pu rambut baru. Sa potong pendek. Abis panas tadi jadi,” serunya dengan semangat.
Perempuan itu hanya memandang sekilas.
“Sa juga baru beli lipstik baru. Sa suka de warna skali,” jawabnya lagi dengan nada ceria.
Perempuan tua itu hanya memandangnya datar. Tanpa komentar.
Ia melanjutkan ceritanya sambil menyibakan rambut keritingnya yang dipotong bob pendek. Rambutnya yang suka berganti warna. Kali ini coklat kepirangan.
“Ma, tadi toh sa deng Anna pi belanja. Damainya, sa pu rambut aneh ka? Adoh tadi ada pelayan yang liat tong deng muka bagaimana ka begitu, baru de sindir – sindir tong khususnya sa rambut. Anna ko ganas jadi de langsung tindis bicara besar – besar ‘udik’. Sa tadi tra dengar jadi, kalo sa dengar, sa mo lapor ke dong pengawas. Masa tong belanja baru pelayan toko macam begitu. Tong tra bikin apa – apa baru dapa perlakuan begitu,” Jingga pun bersuara berkeluh kesah.
Pandangan mamanya yang semula datar pun berubah menjadi pisau tajam, mengejewantah lewat muntahan kata – kata tajam tanpa nama.
“Makanya, bagaya tuh yang biasa – biasa saja. Yang normal – normal saja to. Kalo bikin rambut begitu ya sadar resiko too. Orang bicara ya cuekin saja to. Untuk apa balas. Bikin masalah saja,”desisnya dengan nada menghakimi.
“Tapi ma, nih kan dalam toko. Sa belanja, sa bayar. Sa kan tra minta de pu sindiran, ma. Kalo di luar ruangan, sa cuek. Tapi kan ini masalah layanan too. Masa tong belanja ada pelayan yang begitu. Jadi untung tadi sa tra dengar jelas. Kalo iya, sa pasti lapor supervisornya,” suara Jingga mulai naik 1 oktaf.
“Ko tahu apa, ko yang salah mo. Sapa suru mo bikin rambut begitu. Baju juga sapa suru pake celana pendek begitu. Makanya tahu tempatkan diri di mana. Ini Manokwari. Kalo kas warna ya tahu diri resikonya. Diam saja kenapa ka?”, jawab perempuan yang adalah mamanya Jingga.
“Jih mama, tapi kalo tong tra bela tong diri, bisa – bisa tong diinjak – injak trus. Sa tra komentar dong pu muka ka gaya yang begitu mo, kenapa dong harus sibuk ka sindir orang lain besar – besar,” sahut Jingga tak mau kalah.
“Sapa suru mo gaya mati jadi bule ka. Untuk apa juga ko basibuk kas pirang rambut, pake baju yang begitu. Pancing keadaan skali. Tra bisa normal sedikit ka,” sahut bapaknya tak mau kalah.
“Iya, gaya tuh yang normal – normal saja ka. Sapa suru. Tuh ko pu salah too,” jawab mamanya lagi.
Jingga tak dapat lagi menahan beban yang mulai terasa sesak di dadanya. Semuanya terasa sesak. Ia tak sadar mengeluarkan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya semakin meradang:
“Ma, kalo sa ikut kam pu pola berpikir yang macam begini. Sa percaya sa pasti tra akan pernah pi Australia untuk sa pu S2, tra akan bisa tamat dari uni yang bagus, tra bisa lulus S1 deng nilai bagus, tra bisa dapat kerjaan lepas yang masih bisa kas makan sa diri sendiri. Bisa – bisa sa hidup hanya untuk bautang terus menerus dan tra bisa jadi apa yang sa mau dalam hidup.”
Perkataannya selesai lengkap dengan gebrakan pintu kamarnya. Lengkap dengan bunyi “klik” di lubang kunci.
***
Aku mengenalnya sejak lama. Sangat mengenalnya. Mungkin ia sebaya denganku. Perkenalan kami begitu biasa, hanya kenalan di sebuah kegiatan organisasi pemuda di kotaku. Lama – lama, si pirang kribo ini kerap menjadi penyemangatku dan teman cerita. Pertalian persaudaraan yang kasat mata. Ataukah cinta? Entahlah disebut apa hubungan ini. Kami jarang bertemu. Tapi, aku banyak mendengar ceritanya lewat pesan – pesan pendeknya. Ia orang yang ceria sayangnya aku tak pernah sekalipun mendengarnya menyanyi lepas dengan pandangan bahagia kecuali kala dalam acara saat teduhnya yang pernah tak sengaja kudengar. Ada satu kisah yang sering membuatku bertanya mengapa ia tak pernah suka menyanyi ataupun menikmati menyanyi. Hingga tak sengaja dalam sebuah malam, ia mengirimkan pesan – pesan pendek bernada lirih.
“Kak, su tidur. Sa bole curhat ka?”, isi pesan pertamanya, seperti SMS yang lain. Selalu berupa ijin. Selalu bertanya.
“Ah trada ade, kenapa jadi? SMS saja, tra papa kok.” Jawabku singkat.
Ia pun mengalirkan keluh kesahnya seperti kawah kepundan. Berasap. Menggelegak.
Ia ingat dengan jelas, sedari kecil tiap kali ia ingin menyanyi, mamanya dengan cepat berseru, “Tra usah nyanyi. Ko suara jelek.” Dan Jingga kecil memutuskan untuk diam. Tetapi beberapa tahun kemudian, kala adik perempuannya didorong untuk menyanyi oleh mamanya, ia pun bertanya tentang suaranya dalam hati, “Mungkin ada yang salah di dalam sa pu pita suara”, jawabnya menghibur diri tiap kali didera pernyataan yang sama. Ia mengingat jelas pula bagaimana di masa liburan SMAnya di kota ini, saat harus mengurus sebuah persyaratan di sebuah kantor pemerintah dan ia bersenandung kecil di ruang tunggu. Hanya ia dan bapaknya saat itu. Ia mengingat jelas ia diadili orang tuanya dan dianggap memalukan dan gila. Sejak saat itu ia berhenti menyanyi di depan orang tuanya dan juga orang lain. Menutup mulut dengan rapat.
Itulah sebabnya aku tahu mengapa ia jatuh cinta pada Greenday, pada India.Arie. Karena mereka bisa menyanyikan sebuah protes yang tak pernah bisa ia nyanyikan. Itulah sebabnya ia paling tak suka dipaksa untuk menyanyi. Itulah sebabnya ia begitu ekspresif menyembah Tuhannya karena ia tahu orang tuanya tak akan pernah tahu apa yang ia ceritakan pada Tuhannya. Aku kadang sedih melihat bagaimana Jingga tiap hari harus bersitegang dengan mamanya. Kalau bukan tentang masalah taman bunga di depan rumahnya, pasti tentang dekorasi kamarnya. Kalau bukan tentang gaya berpakaian, pasti tentang hal lain.
Ah aku merindukannya malam ini.
***
EPILOG
Lama sudah aku tak mendengar kabarnya, mendengar kisahnya. Akun jejaring sosialnya hanya berisi pesan dari teman – temannya dan segala macam iklan. Aku merindukannya malam ini. Kukirim pesanku pada ponselnya tapi tak pernah ada balasan. ‘Mungkin lagi ke pedalaman,’ batinku.
Aku ingat pagi tadi kala mengecek newsfeed jejaring sosialku, sebuah pesan muncul di layar Jingga yang terefleksi di laman-ku.
“Ga, kenapa ko tega skali ka. Kenapa? Sa akan rindu ko sungguh mati. Ko tega. Kenapa tra cerita ka. Sa sayang ko. Kenapa Ga? Ko tega tinggalkan sa tuh!!!”.
Pesan dari sahabatnya Jingga.
Aku hanya bisa menangis, terasa berat di dada.
Entahlah, aku gagal sebagai teman. Sangat gagal kala membaca pesan sahabatnya Jingga dan komentar – komentar dari berbagai teman dekatnya.
Yang aku tahu, Jingga tak akan pernah kembali lagi. Terlalu banyak darahnya yang terbuang usai sayatan di nadinya. Itu penjelasan via pesan pendek yang dikirimkan sahabat dekatnya padaku.
Ah aku merindukannya hari ini. Merindukan Jingga yang selalu ingin jadi dirinya sendiri termasuk menentukan akhir hidupnya.
“You are beautiful dan maafkan sa karna tra pernah bilang langsung ke ko kalo sa terlanjur sayang ko”, itu yang ingin kubilang padanya, bila besok aku tiba kembali di kota ini demi pemakamannya.
Kau benar, Ga, cinta itu ternyata mahal ya? Semahal darah yang mengalir lepas.
(Manokwari, 251111; a chunk of memory indeed)
Monday, 14 November 2011
Tak ada ‘Counterpain’, Daul Gatal pun jadi: kisah pereda nyeri otot khas Papua
Bila ada teka – teki tentang ‘daun apa yang terkenal di tanah Papua’? Mungkin jawabannya ada 5. Kalau bukan ‘daun suanggi’, ‘daun bungkus’, ‘daun perempuan’ ‘daun isap darah mati’, maka jawabannya pasti ‘daun gatal’. Catatan ini akan membahas salah satu daun yang umum dipasarkan di pasar – pasar tradisional Manokwari sebagai tanaman obat khususnya sebagai pereda nyeri otot; daun gatal. Walau di pasar tradisional daun ini dijual berlembar – lembar secara bertumpuk namun jangan pernah mencoba mengira ini bumbu dan mencoba memakannya. Dijamin lidah anda akan segera ‘bergoyang’ (menahan gatal)!
Daun gatal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional dan dipasarkan di pasar tradisional Manokwari adalah daun dari tanaman perdu famili Urticaceae yang terdiri atas beberapa spesies. Meskipun demikian, daun gatal yang umumnya dijual di pasar – pasar tradisional kota Manokwari berasal dari spesies Laportea decumana (roxb.) chew. “Spesies ini juga punya nama lain atau sinonim, tergantung aturan taksonomi mana yang kita ikuti, bisa juga disebut Laportea Indica”, demikian tutur Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si; yang kerap disapa ibu Rita, seorang dosen taksonomi tumbuhan jurusan Biologi UNIPA. Ibu Rita juga menambahkan bahwa ada lagi yang namanya daun gatal spesies lain yang tengah batang daunnya berwarna putih (Dendronicde Sp) ataupun yang kecil (Laportea interupta) walau pemanfaatannya cukup berbeda. Info lengkap mengenal jenis – jenis daun gatal dapat ditemukan dalam buku PROSEA volume I – III, sebuah buku yang memuat tanaman obat di Asia Tenggara. Sepengetahuan ibu Rita, pemanfaatan tradisional tanaman ini tak hanya di Manokwari, tetapi juga di Jayapura dan Maluku. Pemanfaatannya di Manokwari pun tak lagi milik orang asli Papua tetapi kadang juga dimanfaatkan oleh warga non-Papua.
Menurut ibu Rita yang kerap melakukan penelitian etnobotani dan menjadi pembimbing mahasiswa jurusan Biologi yang tertarik melakukan penelitian skripsi terkait tanaman obat di Papua, daun gatal mengandung asam formiat (formic acid) atau yang kerap disebut asam semut. Tumbuhan famili Urticaceae umumnya memang memiliki kandungan kimiawi seperti monoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, asam formiat dan authraguinones. Asam semut ini sendiri terkandung di dalam kelenjar ‘duri’ pada permukaan daun. Saat ‘duri’ tersebut mengenai tubuh, asam semut dalam kelenjar itu terlepaskan dan mempengaruhi terjadinya pelebaran pori – pori tubuh. Pelebaran pori – pori ini rupanya meransang peredaran darah. Itulah sebabnya pemanfaat daun gatal umumnya merasa pegal – pegal mereka lenyap ataupun merasa lebih baik. Saat dikonfirmasi mengenai kemungkinan ekstraksi ataupun pemakaian daun gatal dalam bentuk non-segar di masa mendatang demi alasan kepraktisan misalnya dibuat ekstraksi dalam bentuk salep, sepengetahuan ibu Rita hingga saat ini belum ada.
Pemanfaatan daun gatal di Manokwari rupanya tak hanya dipakai oleh masyarakat yang tinggal di kampung tetapi juga dimanfaatkan oleh kalangan akademisi UNIPA. Tengok saja cerita dari Yafet Syufi ( 39 tahun), Dekan Fakultas Sastra UNIPA yang asli kabupaten Tambrauw ini. Ia sudah merasakan manfaat tanaman ini sejak kanak – kanak , “Su pakai sejak sekitar umur 5 tahun, tahun 1976 ka begitu. Waktu itu orang tua di kampung yang ajar pake.” Syufi mengakui awalnya ia sempat menangis dan kaget dengan efek pemakaian tanaman ini. Proses transfer pengetahuan dari orang tuanya pun berlangsung dengan berbagai proses yang berbeda. Kadang sewaktu mereka berjalan di hutan dan ia dikenalkan dengan tanaman perdu ini, kadang juga sewaktu sakit dan melihat langsung pemanfaatannya. Yang pasti Syufi tak lupa menjelaskan sensasi rasa gatal saat menggosokan daun ini pada bagian tubuh yang pegal, “Nanti rasa gatal macam ingin bagaruk badan, tapi cuma sekitar 3 – 4 menit begitu. Tra lama trus hilang, yang ada cuma bentol – bentol merah seperti terkena ulat bulu dan rasa hangat yang menjalar di bagian tubuh yang digosok”.
Pak Syufi tak lupa bercerita bagaimana keluarganya memanfaatkan daun gatal, “Tra hanya pas jalan dan cape saja, tapi kadang waktu sakit misalnya panas, tong juga pake.” Daun gatal dipakai dengan cara menggosokan daun gatal secara langsung pada bagian tubuh yang terasa pegal dan lelah. Bahkan ia tak lupa menambahkan bahwa kadang di komunitas sukunya, daun ini juga digunakan sebagai medium ‘baca’ alias ritual magis terkait kepercayaan lokal. Ia juga secara pribadi pernah menggunakannya sebagai obat sakit kepala. Saat itu beberapa kerabatnya memakaikannya daun gatal dengan cara membungkuskannya di kening dan kepalanya. Biasanya daun akan dilepas usai sakit kepalanya terasa lebih ringan. Satu hal yang cukup menarik yang ditambahkan pak Syufi adalah tentang peran daun gatal yang kadang multifungsi sebagai pembungkus makanan bila tak ada lagi daun lebar lainnya. Tak heran karena fungsinya yang banyak, daun gatal sering menjadi barang bawaan selain bekal dalam ‘noken’ anggota sukunya dalam perjalanan jauh.
Pak Syufi tak lupa menambahkan informasi tentang jenis daun gatal yang ia ketahui. Sepengetahuannya ada tiga jenis daun gatal berdasarkan tempat tumbuh: dataran tinggi dan dataran rendah. Menurutnya, daun gatal yang tumbuh di dataran tinggi daunnya relatif sangat lebar dan biasanya sensasi rasa gatalnya pun lebih ‘menggigit’ dibandingkan dengan daun gatal yang tumbuh di dataran rendah. Daun gatal yang tumbuh di dataran rendah lebih pendek dan ada yang daunnya agak kecil dan memanjang bentuk daunnya.
Pengalaman memanfaatkan daun gatal juga dibagi beberapa mahasiswa UNIPA yang saya temui dalam berbagai kesempatan. Kimu Wanma (23 tahun), mahasiswi jurusan Biologi UNIPA yang saya wawancara di ruang perpustakaan jurusan Biologi (27/10/11) mengaku pertama kali memakai daun gatal kala pertama kali tinggal di kota ini. Sebelumnya ia penghuni pulau Numfoor. “Sekitar tahun 2007, kaka. Di Numfoor sana sa tra pernah pake. Sa pake karena waktu itu sa tinggal deng famili di Sowi, yang kebetulan kawin deng orang Arfak. Tong beli daun itu di pasar Wosi.” Saat saya tanya tentang bagaimana rasanya saat memakai daun ini, Kimu mengaku, “pas sa gosok badan, macam rasa gatal trus bintul – bintul merah muncul. Sa pu famili dong bilang yang muncul di badan tuh rasa sakit yang keluar. Tapi abis itu, macam rasa sakit yang di badan tuh smua hilang.” Namun di ujung percakapan, Kimu menambahkan bahwa ia jarang memakai daun gatal.
Setali tiga uang dengan Kimu, Anita Ndiken (23 tahun), mahasiswi Jurusan Biologi UNIPA yang tinggal di Asbet Amban yang saya temui pada kesempatan sama juga berbagi pengalamannya terkait pemanfaatan ‘daun gatal’. Ia pertama kali menggunakan daun gatal sekitar antara tahun 2007 atau 2008. “Dulu waktu liburan ke nene di Biak, nene yang ajar pake.” Ia bercerita kalau tanaman perdu ini ditanam dan dibudidayakan neneknya di halaman rumah. Saat saya pancing tentang pengalamannya memakai daun ini selama di Manokwari. Ia mengaku membelinya di pasar. “Kalo pas badan cape saja, kaka. Jadi kalo su pake, macam tangan dan kaki yang cape tuh hilang.” Ia mengaku selama ini ia tak pernah punya masalah dengan kulit ataupun kesehatannya terkait pemanfaatan daun gatal.
Maria Ondy (23 tahun), mahasiswi Fakultas Kehutanan UNIPA yang sedang sibuk meneliti tanaman obat di kampung Aipiri sebagai bahan tugas akhirnya bertutur bahwa ia juga pernah menggunakan daun gatal. “Baru pake saja, kaka. Akhir PKL tahun ini (2011 – red). Sa pake di daerah Anggori sana,” tuturnya. Daun gatal yang diperoleh pun ‘on the spot’ alias di habitat alaminya. Maria menuturkan, saat itu ia dan beberapa teman pulang PKL dan harus berjalan 2 KM. Karena lelah, kebetulan tanaman perdu ini berada dalam track mereka. “Jadi, sa teman – teman dong yang bantu gosok ke sapu betis. Pengalaman pertama jadi.” Saat saya tanya bagaimana rasanya, Maria spontan menjawab, “macam rasa dapa setrum begitu. Agak pedis. Tapi tra bertahan lama. Sekitar 5 – 8 menit. Tapi setelah itu, rasa segar trus macam otot tegang de hilang. Jadi tra perlu urut ka ini.” Ia juga tak lupa menceritakan bagaimana penampakan kulitnya dimana timbul bentol – bentol kecil, “seperti bengkak kecil – kecil begitu,” pungkasnya di ujung percakapan.
Pemanfaatan daun gatal yang dilakukan oleh pak Syufi dan beberapa mahasiswi UNIPA ini hanyalah satu contoh kecil pemanfaatan tanaman ini. Di daerah Kepala Burung tanaman ini rupanya daun gatal dimanfaatkan berbagai suku Papua yang ada. Hal ini dibuktikan dengan temuan – temuan penelitian etnobotani dalam skripsi beberapa mahasiswa UNIPA . Misalnya, Daun gatal sebagai pereda nyeri dan penghilang pegal digunakan oleh Suku Meyah di distrik Masni, Manokwari (penelitian Johanis Paulus Kilmaskossu) dan suku Maybrat di distrik Mare, Sorong (penelitian Frengki Hara) yang menyebutnya ‘Afa ati’. Bahkan pada suku Meyah, Daun gatal yang disebut ‘meciwi’ ini dapat digunakan dalam proses persalinan sebagai obat penghilang nyeri pada ibu yang akan melahirkan. Umumnya dengan menumbuk halus daun ini dan membalurkan pada beberapa bagian tubuh. Selain itu berdasarkan penelitian Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si, daun gatal spesies Dendronicde Sp dimanfaatkan oleh suku Hatam di Manokwari sebagai tumbuhan untuk melatih peningkatan penciuman anjing berburu. Biasanya, batang tengah daun gatal dipotong menjadi potongan kecil dan memasukannya ke hidung anjing yang hendak dijadikan anjing berburu, diusahakan hingga anjing tersebut bersin ataupun hidungnya berdarah. Setelah itu, anjing diciumkan dengan bau daging ataupun buruan tertentu. Niscaya, hidung anjing berburu menjadi sangat peka dengan bau mangsa buruan.
Daun gatal sebagai komoditas barang dagangan di pasar tradisional di Manokwari pun harganya bervariasi. Umumnya dijual sebanyak 7 – 10 lembar per tumpuk dengan harga antara Rp 3.000 – 5.000,- tergantung dari pasokan daun gatal saat itu. Daun gatal di pasar Manokwari umumnya dijual oleh penjual asli Papua dari suku besar Arfak ataupun Maybrat. Tanaman ini biasanya didapatkan dengan dua cara; memanen langsung dari alam ataupun dari hasil budidaya. Bila membeli langsung daun gatal yang dibudidayakan di tempatnya, harganya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan juga kualitas daunnya lebih segar. “Beli di sana tuh segar karna langsung petik. Lain deng di pasar tuh biasanya su kena matahari jadi agak layu sedikit,” ujar Pak Syufi yang kemudian bercerita tentang beberapa pembudidaya tanaman ini di sekitar kampus UNIPA.
Prospek budidaya tanaman ini rupanya dibenarkan juga oleh Ibu Rita karena bagaimanapun saat ini pemanfaatan daun gatal masih terkait dengan kebutuhan di lapangan, baik untuk menghilangkan pegal karena berjalan jauh maupun sekedar menghilangkan pegal usai bermain sepakbola. Penanamannya pun tak sulit dan tak membutuhkan perawatan yang intensif. Hal ini dikemukakan oleh seorang pembudidaya tanaman ini kala saya bertamu di rumahnya di daerah kampus UNIPA. Anna Isir (17 tahun) menjelaskan secara singkat tentang tanaman daun gatal yang ditanam keluarganya di halaman belakang rumah. Di bawah rumpun tanaman ‘daun tikar’ dan beberapa pohon, tanaman yang bibitnya didapatkan dari kerabatnya ini tumbuh subur dengan tinggi berkisar antara 75 – 180 Cm. Kualitas daun yang saya dapatkan pun lebih segar apalagi kuantitasnya. Dengan harga Rp.5.000, - saya berhasil membawa pulang sekitar 25 lembar daun gatal. Anna berujar bahwa tidak setiap hari orang datang membeli langsung di rumah. “Hanya yang tahu saja, kaka. Kalo tahu baru dong datang beli di sini,” tambahnya. Daun gatal yang saya beli tentu saja akan saya dan keluarga manfaatkan khususnya untuk adik lelaki saya yang sedang mengikuti pelatihan prajabatan PNS. Setiap hari ia harus pulang di senja hari dan daun gatal ini sangat membantu untuk menghilangkan pegal dan nyeri ototnya usai melakukan beberapa kegiatan fisik sepanjang hari.
Daun gatal memang bermanfaat dan menjadi salah satu dagangan tanaman obat tradisional di pasar tradisional Manokwari. Namun, jangan sampai suatu hari nanti, apabila ada sedang berjalan – jalan di hutan dan salah asal pakai ‘daun gatal’ untuk menghilangkan pegal tubuh. Salah – salah malah bisa demam dan merasakan gatal yang panas dan menyiksa, seperti bila tersentuh daun gatal babi atau daun gatal lainnya (semisal Laportea Interupta). Bila terlanjur tersentuh, pak Syufi berbagi tips masyarakat kampungnya, “Kalo tong terlanjur kena gigit daun gatal babi, harus cepat ambil tanah dan gosok ke bagian tubuh yang kena daun itu. Biasanya langsung hilang. Kalo tidak, bisa berhari – hari rasa gatal skali,” cerita lelaki ini. Tanah yang diambil pun jangan terlalu kering ataupun terlalu basah. Niscaya, rasa gatal itu akan lenyap segera.
Daun gatal sebagai tanaman obat khas Papua rupanya bermanfaat bagi komunitas masyarakat suku di Manokwari maupun suku – suku lainnya. Semoga kelak tanaman ini terus dibudidayakan dan bisa menembus masuk supermarket besar dan tak hanya terhampar di atas – atas lapak tanah pasar tradisional. Di kota saya Manokwari, tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada ‘Counterpain’, daun gatal pun jadi. Saya bermimpi suatu hari nanti, di semua pertandingan resmi sepakbola di tanah ini tak hanya perusahaan dan lembaga besar yang memasang baliho dan spanduk mereka sebagai sponsor resmi, tapi di sebuah sudut lapangan, akan ada spanduk besar bertuliskan: “Daun Gatal: Sponsor Resmi tim X ”. Ini mimpi saya. Itu saja!
(Manokwari, 131111. Thanx heaps untuk semua narasumber termasuk staf perpustakaan Biologi UNIPA)
Daun gatal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional dan dipasarkan di pasar tradisional Manokwari adalah daun dari tanaman perdu famili Urticaceae yang terdiri atas beberapa spesies. Meskipun demikian, daun gatal yang umumnya dijual di pasar – pasar tradisional kota Manokwari berasal dari spesies Laportea decumana (roxb.) chew. “Spesies ini juga punya nama lain atau sinonim, tergantung aturan taksonomi mana yang kita ikuti, bisa juga disebut Laportea Indica”, demikian tutur Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si; yang kerap disapa ibu Rita, seorang dosen taksonomi tumbuhan jurusan Biologi UNIPA. Ibu Rita juga menambahkan bahwa ada lagi yang namanya daun gatal spesies lain yang tengah batang daunnya berwarna putih (Dendronicde Sp) ataupun yang kecil (Laportea interupta) walau pemanfaatannya cukup berbeda. Info lengkap mengenal jenis – jenis daun gatal dapat ditemukan dalam buku PROSEA volume I – III, sebuah buku yang memuat tanaman obat di Asia Tenggara. Sepengetahuan ibu Rita, pemanfaatan tradisional tanaman ini tak hanya di Manokwari, tetapi juga di Jayapura dan Maluku. Pemanfaatannya di Manokwari pun tak lagi milik orang asli Papua tetapi kadang juga dimanfaatkan oleh warga non-Papua.
Menurut ibu Rita yang kerap melakukan penelitian etnobotani dan menjadi pembimbing mahasiswa jurusan Biologi yang tertarik melakukan penelitian skripsi terkait tanaman obat di Papua, daun gatal mengandung asam formiat (formic acid) atau yang kerap disebut asam semut. Tumbuhan famili Urticaceae umumnya memang memiliki kandungan kimiawi seperti monoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, asam formiat dan authraguinones. Asam semut ini sendiri terkandung di dalam kelenjar ‘duri’ pada permukaan daun. Saat ‘duri’ tersebut mengenai tubuh, asam semut dalam kelenjar itu terlepaskan dan mempengaruhi terjadinya pelebaran pori – pori tubuh. Pelebaran pori – pori ini rupanya meransang peredaran darah. Itulah sebabnya pemanfaat daun gatal umumnya merasa pegal – pegal mereka lenyap ataupun merasa lebih baik. Saat dikonfirmasi mengenai kemungkinan ekstraksi ataupun pemakaian daun gatal dalam bentuk non-segar di masa mendatang demi alasan kepraktisan misalnya dibuat ekstraksi dalam bentuk salep, sepengetahuan ibu Rita hingga saat ini belum ada.
Pemanfaatan daun gatal di Manokwari rupanya tak hanya dipakai oleh masyarakat yang tinggal di kampung tetapi juga dimanfaatkan oleh kalangan akademisi UNIPA. Tengok saja cerita dari Yafet Syufi ( 39 tahun), Dekan Fakultas Sastra UNIPA yang asli kabupaten Tambrauw ini. Ia sudah merasakan manfaat tanaman ini sejak kanak – kanak , “Su pakai sejak sekitar umur 5 tahun, tahun 1976 ka begitu. Waktu itu orang tua di kampung yang ajar pake.” Syufi mengakui awalnya ia sempat menangis dan kaget dengan efek pemakaian tanaman ini. Proses transfer pengetahuan dari orang tuanya pun berlangsung dengan berbagai proses yang berbeda. Kadang sewaktu mereka berjalan di hutan dan ia dikenalkan dengan tanaman perdu ini, kadang juga sewaktu sakit dan melihat langsung pemanfaatannya. Yang pasti Syufi tak lupa menjelaskan sensasi rasa gatal saat menggosokan daun ini pada bagian tubuh yang pegal, “Nanti rasa gatal macam ingin bagaruk badan, tapi cuma sekitar 3 – 4 menit begitu. Tra lama trus hilang, yang ada cuma bentol – bentol merah seperti terkena ulat bulu dan rasa hangat yang menjalar di bagian tubuh yang digosok”.
Pak Syufi tak lupa bercerita bagaimana keluarganya memanfaatkan daun gatal, “Tra hanya pas jalan dan cape saja, tapi kadang waktu sakit misalnya panas, tong juga pake.” Daun gatal dipakai dengan cara menggosokan daun gatal secara langsung pada bagian tubuh yang terasa pegal dan lelah. Bahkan ia tak lupa menambahkan bahwa kadang di komunitas sukunya, daun ini juga digunakan sebagai medium ‘baca’ alias ritual magis terkait kepercayaan lokal. Ia juga secara pribadi pernah menggunakannya sebagai obat sakit kepala. Saat itu beberapa kerabatnya memakaikannya daun gatal dengan cara membungkuskannya di kening dan kepalanya. Biasanya daun akan dilepas usai sakit kepalanya terasa lebih ringan. Satu hal yang cukup menarik yang ditambahkan pak Syufi adalah tentang peran daun gatal yang kadang multifungsi sebagai pembungkus makanan bila tak ada lagi daun lebar lainnya. Tak heran karena fungsinya yang banyak, daun gatal sering menjadi barang bawaan selain bekal dalam ‘noken’ anggota sukunya dalam perjalanan jauh.
Pak Syufi tak lupa menambahkan informasi tentang jenis daun gatal yang ia ketahui. Sepengetahuannya ada tiga jenis daun gatal berdasarkan tempat tumbuh: dataran tinggi dan dataran rendah. Menurutnya, daun gatal yang tumbuh di dataran tinggi daunnya relatif sangat lebar dan biasanya sensasi rasa gatalnya pun lebih ‘menggigit’ dibandingkan dengan daun gatal yang tumbuh di dataran rendah. Daun gatal yang tumbuh di dataran rendah lebih pendek dan ada yang daunnya agak kecil dan memanjang bentuk daunnya.
Pengalaman memanfaatkan daun gatal juga dibagi beberapa mahasiswa UNIPA yang saya temui dalam berbagai kesempatan. Kimu Wanma (23 tahun), mahasiswi jurusan Biologi UNIPA yang saya wawancara di ruang perpustakaan jurusan Biologi (27/10/11) mengaku pertama kali memakai daun gatal kala pertama kali tinggal di kota ini. Sebelumnya ia penghuni pulau Numfoor. “Sekitar tahun 2007, kaka. Di Numfoor sana sa tra pernah pake. Sa pake karena waktu itu sa tinggal deng famili di Sowi, yang kebetulan kawin deng orang Arfak. Tong beli daun itu di pasar Wosi.” Saat saya tanya tentang bagaimana rasanya saat memakai daun ini, Kimu mengaku, “pas sa gosok badan, macam rasa gatal trus bintul – bintul merah muncul. Sa pu famili dong bilang yang muncul di badan tuh rasa sakit yang keluar. Tapi abis itu, macam rasa sakit yang di badan tuh smua hilang.” Namun di ujung percakapan, Kimu menambahkan bahwa ia jarang memakai daun gatal.
Setali tiga uang dengan Kimu, Anita Ndiken (23 tahun), mahasiswi Jurusan Biologi UNIPA yang tinggal di Asbet Amban yang saya temui pada kesempatan sama juga berbagi pengalamannya terkait pemanfaatan ‘daun gatal’. Ia pertama kali menggunakan daun gatal sekitar antara tahun 2007 atau 2008. “Dulu waktu liburan ke nene di Biak, nene yang ajar pake.” Ia bercerita kalau tanaman perdu ini ditanam dan dibudidayakan neneknya di halaman rumah. Saat saya pancing tentang pengalamannya memakai daun ini selama di Manokwari. Ia mengaku membelinya di pasar. “Kalo pas badan cape saja, kaka. Jadi kalo su pake, macam tangan dan kaki yang cape tuh hilang.” Ia mengaku selama ini ia tak pernah punya masalah dengan kulit ataupun kesehatannya terkait pemanfaatan daun gatal.
Maria Ondy (23 tahun), mahasiswi Fakultas Kehutanan UNIPA yang sedang sibuk meneliti tanaman obat di kampung Aipiri sebagai bahan tugas akhirnya bertutur bahwa ia juga pernah menggunakan daun gatal. “Baru pake saja, kaka. Akhir PKL tahun ini (2011 – red). Sa pake di daerah Anggori sana,” tuturnya. Daun gatal yang diperoleh pun ‘on the spot’ alias di habitat alaminya. Maria menuturkan, saat itu ia dan beberapa teman pulang PKL dan harus berjalan 2 KM. Karena lelah, kebetulan tanaman perdu ini berada dalam track mereka. “Jadi, sa teman – teman dong yang bantu gosok ke sapu betis. Pengalaman pertama jadi.” Saat saya tanya bagaimana rasanya, Maria spontan menjawab, “macam rasa dapa setrum begitu. Agak pedis. Tapi tra bertahan lama. Sekitar 5 – 8 menit. Tapi setelah itu, rasa segar trus macam otot tegang de hilang. Jadi tra perlu urut ka ini.” Ia juga tak lupa menceritakan bagaimana penampakan kulitnya dimana timbul bentol – bentol kecil, “seperti bengkak kecil – kecil begitu,” pungkasnya di ujung percakapan.
Pemanfaatan daun gatal yang dilakukan oleh pak Syufi dan beberapa mahasiswi UNIPA ini hanyalah satu contoh kecil pemanfaatan tanaman ini. Di daerah Kepala Burung tanaman ini rupanya daun gatal dimanfaatkan berbagai suku Papua yang ada. Hal ini dibuktikan dengan temuan – temuan penelitian etnobotani dalam skripsi beberapa mahasiswa UNIPA . Misalnya, Daun gatal sebagai pereda nyeri dan penghilang pegal digunakan oleh Suku Meyah di distrik Masni, Manokwari (penelitian Johanis Paulus Kilmaskossu) dan suku Maybrat di distrik Mare, Sorong (penelitian Frengki Hara) yang menyebutnya ‘Afa ati’. Bahkan pada suku Meyah, Daun gatal yang disebut ‘meciwi’ ini dapat digunakan dalam proses persalinan sebagai obat penghilang nyeri pada ibu yang akan melahirkan. Umumnya dengan menumbuk halus daun ini dan membalurkan pada beberapa bagian tubuh. Selain itu berdasarkan penelitian Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si, daun gatal spesies Dendronicde Sp dimanfaatkan oleh suku Hatam di Manokwari sebagai tumbuhan untuk melatih peningkatan penciuman anjing berburu. Biasanya, batang tengah daun gatal dipotong menjadi potongan kecil dan memasukannya ke hidung anjing yang hendak dijadikan anjing berburu, diusahakan hingga anjing tersebut bersin ataupun hidungnya berdarah. Setelah itu, anjing diciumkan dengan bau daging ataupun buruan tertentu. Niscaya, hidung anjing berburu menjadi sangat peka dengan bau mangsa buruan.
Daun gatal sebagai komoditas barang dagangan di pasar tradisional di Manokwari pun harganya bervariasi. Umumnya dijual sebanyak 7 – 10 lembar per tumpuk dengan harga antara Rp 3.000 – 5.000,- tergantung dari pasokan daun gatal saat itu. Daun gatal di pasar Manokwari umumnya dijual oleh penjual asli Papua dari suku besar Arfak ataupun Maybrat. Tanaman ini biasanya didapatkan dengan dua cara; memanen langsung dari alam ataupun dari hasil budidaya. Bila membeli langsung daun gatal yang dibudidayakan di tempatnya, harganya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan juga kualitas daunnya lebih segar. “Beli di sana tuh segar karna langsung petik. Lain deng di pasar tuh biasanya su kena matahari jadi agak layu sedikit,” ujar Pak Syufi yang kemudian bercerita tentang beberapa pembudidaya tanaman ini di sekitar kampus UNIPA.
Prospek budidaya tanaman ini rupanya dibenarkan juga oleh Ibu Rita karena bagaimanapun saat ini pemanfaatan daun gatal masih terkait dengan kebutuhan di lapangan, baik untuk menghilangkan pegal karena berjalan jauh maupun sekedar menghilangkan pegal usai bermain sepakbola. Penanamannya pun tak sulit dan tak membutuhkan perawatan yang intensif. Hal ini dikemukakan oleh seorang pembudidaya tanaman ini kala saya bertamu di rumahnya di daerah kampus UNIPA. Anna Isir (17 tahun) menjelaskan secara singkat tentang tanaman daun gatal yang ditanam keluarganya di halaman belakang rumah. Di bawah rumpun tanaman ‘daun tikar’ dan beberapa pohon, tanaman yang bibitnya didapatkan dari kerabatnya ini tumbuh subur dengan tinggi berkisar antara 75 – 180 Cm. Kualitas daun yang saya dapatkan pun lebih segar apalagi kuantitasnya. Dengan harga Rp.5.000, - saya berhasil membawa pulang sekitar 25 lembar daun gatal. Anna berujar bahwa tidak setiap hari orang datang membeli langsung di rumah. “Hanya yang tahu saja, kaka. Kalo tahu baru dong datang beli di sini,” tambahnya. Daun gatal yang saya beli tentu saja akan saya dan keluarga manfaatkan khususnya untuk adik lelaki saya yang sedang mengikuti pelatihan prajabatan PNS. Setiap hari ia harus pulang di senja hari dan daun gatal ini sangat membantu untuk menghilangkan pegal dan nyeri ototnya usai melakukan beberapa kegiatan fisik sepanjang hari.
Daun gatal memang bermanfaat dan menjadi salah satu dagangan tanaman obat tradisional di pasar tradisional Manokwari. Namun, jangan sampai suatu hari nanti, apabila ada sedang berjalan – jalan di hutan dan salah asal pakai ‘daun gatal’ untuk menghilangkan pegal tubuh. Salah – salah malah bisa demam dan merasakan gatal yang panas dan menyiksa, seperti bila tersentuh daun gatal babi atau daun gatal lainnya (semisal Laportea Interupta). Bila terlanjur tersentuh, pak Syufi berbagi tips masyarakat kampungnya, “Kalo tong terlanjur kena gigit daun gatal babi, harus cepat ambil tanah dan gosok ke bagian tubuh yang kena daun itu. Biasanya langsung hilang. Kalo tidak, bisa berhari – hari rasa gatal skali,” cerita lelaki ini. Tanah yang diambil pun jangan terlalu kering ataupun terlalu basah. Niscaya, rasa gatal itu akan lenyap segera.
Daun gatal sebagai tanaman obat khas Papua rupanya bermanfaat bagi komunitas masyarakat suku di Manokwari maupun suku – suku lainnya. Semoga kelak tanaman ini terus dibudidayakan dan bisa menembus masuk supermarket besar dan tak hanya terhampar di atas – atas lapak tanah pasar tradisional. Di kota saya Manokwari, tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada ‘Counterpain’, daun gatal pun jadi. Saya bermimpi suatu hari nanti, di semua pertandingan resmi sepakbola di tanah ini tak hanya perusahaan dan lembaga besar yang memasang baliho dan spanduk mereka sebagai sponsor resmi, tapi di sebuah sudut lapangan, akan ada spanduk besar bertuliskan: “Daun Gatal: Sponsor Resmi tim X ”. Ini mimpi saya. Itu saja!
(Manokwari, 131111. Thanx heaps untuk semua narasumber termasuk staf perpustakaan Biologi UNIPA)
Labels:
budaya,
Lingkungan,
Manokwari,
Papua,
Tanaman Obat
Orang Manokwari dan Sirene Fasharkan
“NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUIIIIIIIIIINNNNNNGG!!! NGUUUUUUUUUUUUUUUUUIIING!!!”
“Maku, tuh barang apa yang bunyi ka?” tanya Joni di suatu pagi beberapa tahun silam pada sepupunya yang tinggal di daerah Fanindi. Ini pagi pertama Joni di kota Manokwari karena ia baru saja diterima sebagai mahasiswa sebuah universitas negeri lokal di daerah Amban dan bunyi sirene pagi yang membahana keras dari arah sebuah teluk membuatnya terkaget – kaget. Apalagi dari sebelah rumah Maku, beberapa mama sibuk menyuruh anak mereka pergi sekolah. “Woi, tempo. Sirene su bunyi tuh. Kam tunggu jam berapa baru pi skolah ka?”, teriak seorang mama dari samping jendela. Joni semakin terkaget – kaget melihat anak – anak sekolah bereaksi terhadap sirene.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang bernostalgia dan mengunjungi Manokwari, Maku terkaget – kaget dengan suara - suara di kota Manokwari. Ada yang hilang dari ruang dengarnya kala tinggal dengan kerabatnya di Fanindi, ada pula suara baru yang bertambah dan ia pun terus bertanya, “Kenapa suara sirene itu sudah tak lagi terdengar jelas ya? Sebenarnya tuh sirene apa ya? Sejak kapan ada di kota Manokwari?” Dan beberapa pertanyaan lain yang muncul terus.
Cerita di atas tentu rekaan semata. Namun, apa yang ditanyakan oleh Joni itu persis sama yang ditanyakan oleh teman saya Nunang May (27 tahun) seorang dosen Fakultas Kehutanan UNIPA saat kami bertemu di sebuah warung makan dekat kampus UNIPA beberapa minggu silam. Saya dan Nunang sama – sama anak Manokwari yang lahir – besar di kota ini dan beredar di seputaran Fanindi. Kebetulan Nunang baru saja menyelesaikan studi pascasarjananya selama 2 tahun di Bogor jadi ia penasaran dengan bunyi yang lumayan membuatnya rindu Manokwari. Pertanyaan Nunang ini langsung menyentil pikiran saya, “iyo eee, sa juga su lama tra terlalu jelas dengar barang ini, padahal ini barang yang sa dari kecil dengar akan baru. Adooh apalagi sa memang juga makhluk nokturnal jadi su jarang – jarang dengar akan ka ini karna jam tidur lambung jam sirene bunyi jadi.”
Terinspirasi dengan permintaan teman saya Nunang untuk menulis tentang bunyi sirene ini walau masih saya cicil HEHEHE. Saya pun inginmelakukan riset kecil terkait ‘bunyi khas’ kota Manokwari dan kaitannya dengan kenangan historis ataupun indikator waktu serta peran sosialnya. Tulisan ini tentu saja seakan membawa saya kembali mengingat pengalaman tinggal beberapa tahun silam di ibukota Australia; Canberra yang mana dari rumah saya yang arealnya dekat dengan danau tiap saban tengah hari dan sore hari pasti mendengar alunan musik klasik dari sebuah pulau buatan, tepatnya dari National Carillon. Anggap saja saya sedang membayangkan ikon bunyi Sirene ini ibarat bunyi dentang Big Ben bagi penduduk London sana HEHEHE.
KATA ORANG MANOKWARI
Pada bagian pertama catatan ini, saya ingin membahas apa sih pendapat orang Manokwari terkait bunyi sirene ini dan bagaimana kaitan bunyi sirene ini dengan hidup mereka. Saya mencoba memaparkannya dari sudut pandang warga Manokwari ditinjau dari segi etnis mereka. Baik dari pandangan orang Manokwari yang asli Papua maupun non-Papua. Ini hasil ‘tangkapan’ informasi saya:
Okky Sahetapy (25 tahun), seorang teman yang tinggal di daerah Jalan Nusantara Wosi tetapi sekarang bertugas di kabupaten lain saat dihubungi via pesan pendek bertutur bahwa ia sewaktu masih tinggal di Manokwari juga mendengar sirene ini. Menurutnya, sirene itu sangat penting untuk menunjukan waktu, walau ia tak tahu tepatnya itu pukul berapa. “Tapi sekarang udah mulai - mulai berkurang bunyinya di karenakan aktivitas kendaraan yang beraktivitas pagi hari.” Karena sewaktu SMA ia bersekolah di SMAN 2 di daerah Wosi dalam, ia mengatakan bahwa dirinya masih bisa mendengar bunyi sirene itu dari areal sekolah.
Indah Ratna Ningtyas (20 tahun) seorang mahasiswi jurusan Biologi UNIPA yang besar di Manokwari dan tinggal di daerah Reremi Lurus berkisah ia juga kerap mendengar sirene ini walau ia tak begitu yakin jam berapa sirene ini berbunyi tepatnya. “Kayaknya ada 3 kali sehari ka, kaka. Ada yang jam 7 pagi, macam yang jam 9 ka begitu, trus ada yang sore. Cuma kaka cek lagi ee waktunya, pokoknya pagi dan sore ka”. Menurutnya, sirene pagi mengingatkannya pada pengingat proses pergi ke sekolah.
Lain lagi cerita Maria Ondy (23 tahun), mahasiswa Fakultas Kehutanan UNIPA yang sedari kecil tinggal di Wosi AMD Manokwari bertutur bahwa ia mendengar bunyi sirene ini sejak masih SD hingga SMA. Menurutnya, sirene berbunyi dua kali. Pertama, pada pukul 6.30 pagi dan kedua, pada pukul 7 pagi. Saat ini, ia jarang mendengar sirene. “Abis sa juga skarang bangun pagi su di atas jam 7 jadi, mungkin akan masih bunyi ka. Tapi kadang – kadang sa bangun pagi tapi su tra dengar ka ini.” Menurut perempuan Sentani pernakan Serui ini, peran sirena cukup membawa kenangan masa kecilnya muncul kembali. “Kalo sirene pertama yang jam setengah tujuh pagi tuh, sa ingat akan jadi tanda untuk jam mandi persiapan pi sekolah. Nan kalo sirene kedua, artinya sa su harus jalan pi sekolah, kaka.”
Saat saya tanya tentang kira – kira ia tahu letaknya lokasi sirene ini. Mia, demikian ia akrab disapa mengiyakan. Menurutnya, sirene ini terletak pada sebuah tower atau menara di gedung yang bentuknya mirip huruf T. “Tapi letak persisnya sa tra tau ee, kaka. Tapi sa pernah main ke areal sana dulu eee,” jelasnya.
Mitha (28 tahun) sahabat saya yang tinggal di daerah seputaran Reremi Pemancar yang juga sahabat saya bercerita tentang sirene ini di kiosnya (02/11/11). Menurutnya, sewaktu belum pindah ke Reremi dan masih tinggal di Fanindi ST, ia dan saudara – saudaranya punya kenangan khusus terkait sirene ini pada masa kecil. Sirene ini berbunyi tiga kali sehari: pukul 06.30 dan 7 pagi serta pukul 3 sore. Sepengetahuannya, asal sirene ini dari daerah Angkatan Laut sana (Fasharkan). Ia mulai mengerti tentang sirene ini sejak tahun 1989, semasa kelas 1 SD karena sirene ini terkait dengan ‘urusan sekolah’. “Adooh May, kalo sirene su bunyi pertama tuh, sa deng sapu sodara – sodara tong su lari baku rebut kamar mandi ka ini. Tong su baku taru mandi karna su mo skolah ka ini. Jadi pasti rame di rumah.” Baginya, sirene ini menjadi sebuah indikator waktu dan ‘pengingat’ pergi ke sekolah.
Hal ini rupanya masih berlanjut hingga masa kini sewaktu bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah laboratorium Dinas Perikanan. “Kalo sa deng teman – teman su dengar sirene sore yang jam 3 tuh, macam tong langsung rasa lapar skali eee, karna tong tahu su sore ya, macam kerja langsung gerakan karna tong su mo pulang.” Namun, sahabat saya ini menambahkan kalau suara sirene yang ia dengar ini tak terlalu besar. Hal ini rupanya dibenarkan oleh adik lelaki Mitha; Elly. Elly (23 tahun) berpendapat kalau penyebabnya mungkin karena arus lalu lintas yang ramai di Manokwari sehingga suaranya tak sejelas di masa kecil. “Kendaraan su rame too kaka, apalagi pas pagi dan sore tuh. Jadi mangkali de pu suara tatutup kapa jadi su tra jelas skali di sini,” kilahnya.
Bagaimana pandangan antropolog terkait sirene ini. Saya berhasil menjaring pendapat Adolf Ronsumbre (31 tahun), dosen Antropologi Fakultas Sastra UNIPA yang kebetulan tumbuh besar di kawasan perumahan Angkatan Laut Sanggeng, tempat asal bunyi sirene. Pak Olof, begitu ia akrab disapa, berbagi pendapat pada sebuah siang (02/11/11). Menurutnya, Sirene ini berbunyi tiga kali: 6.30 dan 6.45 pagi serta jam 3 sore. Ia mendengar dari almarhum bapaknya yang pegawai sipil di Fasharkan kalau bunyi sirene itu mengindikasikan tentang persiapan apel, jam kerja dan jam pulang kerja. Itulah sebabnya pada sirene kedua, ada jeda sekitar 15 menit untuk tanda apel pagi bagi anggota militer dan karyawan sipil di instansi ini. Sepengetahuannya, sirene itu dibunyikan oleh anggota piket Fasharkan yang terdiri atas anggota militer dan sipil. “Sa lupa tepatnya komposisi anggota piket itu, May. Dulu setahu sa, dari cerita sa pu almarhum bapa, ada 2 dari sipil, sisanya dari militer,tapi setiap 8 jam” ungkapnya. Selain mengindikasikan jam kerja, sirene ini juga selalu dibunyikan pada pergantian tahun yang sering disebut “Kunci Tahun” di Manokwari. Saat itu, tepat pukul 12 malam, sirene akan berbunyi 3 kali. Secara pribadi, Ronsumbre ini bertutur bahwa bunyi sirene ini menjadi sebuah tanda untuk bersiap – siap dan pergi ke sekolah.
Ditinjau dari sisi antropologi, Ronsumbre yang menyelesaikan S2 Antropologinya di UGM ini berpendapat pada sirene Fasharkan ini telah menjelma menjadi simbol dalam kehidupan masyarakat kota Manokwari. Hal ini karena sirene ini mempunyai banyak representasi arti dari bunyi sirene itu sendiri. Tak hanya bagi pegawai dan anggota militer Fasharkan sebagai ‘pemilik’ suara sirene tetapi juga berbagai kalangan orang Manokwari yang mendengar bunyi sirene ini. Bagi anak sekolah, ini menjadi sebuah penanda pergi ataupun pengingat ke sekolah. Bagi beberapa kalangan masyarakat nelayan di seputaran perairan Sanggeng, sirene sore menjadi penanda waktu. “Kadang – kadang, orang – orang yang pi mincing ikan ka melaut di sekitar perairan sini sampe ke PKN sana kalo su dengar sirene sore, dong su tahu tuh jam 3. Jadi kadang ada yang mo pi sembayang sore, dong gerakan pulang ka ini. Biar tra bawa jam juga dong tahu waktu karena dengar sirene jadi, ” akunya. Hal seperti inilah yang mendasari alasan ia berpendapat bahwa sirene telah menjadi salah satu representasi simbol di kota ini.
SIMPULAN
Sirene fasharkan menjadi sebuah simbol yang menyuarakan pesan yang berbeda di kota saya Manokwari. Ada yang menganggapnya sebagai ‘jam alarm’ pergi ke sekolah, ada yang menjadi pengingat jam kerja. Ada pula yang menjadikannya sebuah indikator pulang. Apapun pesan yang disebarkan oleh sirene ini, semoga saja di masa mendatang bunyi sirene ini akan tetap ada walau lambat laun akan tertelan oleh polusi bunyi di kota ini. Bagi saya, sirene ini memainkan sebuah kepingan kenangan masa kecil yang manis, kala sekolah adalah sebuah surga belajar yang menyenangkan.
(Manokwari, 141111; thanx untuk semua narasumber)
“Maku, tuh barang apa yang bunyi ka?” tanya Joni di suatu pagi beberapa tahun silam pada sepupunya yang tinggal di daerah Fanindi. Ini pagi pertama Joni di kota Manokwari karena ia baru saja diterima sebagai mahasiswa sebuah universitas negeri lokal di daerah Amban dan bunyi sirene pagi yang membahana keras dari arah sebuah teluk membuatnya terkaget – kaget. Apalagi dari sebelah rumah Maku, beberapa mama sibuk menyuruh anak mereka pergi sekolah. “Woi, tempo. Sirene su bunyi tuh. Kam tunggu jam berapa baru pi skolah ka?”, teriak seorang mama dari samping jendela. Joni semakin terkaget – kaget melihat anak – anak sekolah bereaksi terhadap sirene.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang bernostalgia dan mengunjungi Manokwari, Maku terkaget – kaget dengan suara - suara di kota Manokwari. Ada yang hilang dari ruang dengarnya kala tinggal dengan kerabatnya di Fanindi, ada pula suara baru yang bertambah dan ia pun terus bertanya, “Kenapa suara sirene itu sudah tak lagi terdengar jelas ya? Sebenarnya tuh sirene apa ya? Sejak kapan ada di kota Manokwari?” Dan beberapa pertanyaan lain yang muncul terus.
Cerita di atas tentu rekaan semata. Namun, apa yang ditanyakan oleh Joni itu persis sama yang ditanyakan oleh teman saya Nunang May (27 tahun) seorang dosen Fakultas Kehutanan UNIPA saat kami bertemu di sebuah warung makan dekat kampus UNIPA beberapa minggu silam. Saya dan Nunang sama – sama anak Manokwari yang lahir – besar di kota ini dan beredar di seputaran Fanindi. Kebetulan Nunang baru saja menyelesaikan studi pascasarjananya selama 2 tahun di Bogor jadi ia penasaran dengan bunyi yang lumayan membuatnya rindu Manokwari. Pertanyaan Nunang ini langsung menyentil pikiran saya, “iyo eee, sa juga su lama tra terlalu jelas dengar barang ini, padahal ini barang yang sa dari kecil dengar akan baru. Adooh apalagi sa memang juga makhluk nokturnal jadi su jarang – jarang dengar akan ka ini karna jam tidur lambung jam sirene bunyi jadi.”
Terinspirasi dengan permintaan teman saya Nunang untuk menulis tentang bunyi sirene ini walau masih saya cicil HEHEHE. Saya pun inginmelakukan riset kecil terkait ‘bunyi khas’ kota Manokwari dan kaitannya dengan kenangan historis ataupun indikator waktu serta peran sosialnya. Tulisan ini tentu saja seakan membawa saya kembali mengingat pengalaman tinggal beberapa tahun silam di ibukota Australia; Canberra yang mana dari rumah saya yang arealnya dekat dengan danau tiap saban tengah hari dan sore hari pasti mendengar alunan musik klasik dari sebuah pulau buatan, tepatnya dari National Carillon. Anggap saja saya sedang membayangkan ikon bunyi Sirene ini ibarat bunyi dentang Big Ben bagi penduduk London sana HEHEHE.
KATA ORANG MANOKWARI
Pada bagian pertama catatan ini, saya ingin membahas apa sih pendapat orang Manokwari terkait bunyi sirene ini dan bagaimana kaitan bunyi sirene ini dengan hidup mereka. Saya mencoba memaparkannya dari sudut pandang warga Manokwari ditinjau dari segi etnis mereka. Baik dari pandangan orang Manokwari yang asli Papua maupun non-Papua. Ini hasil ‘tangkapan’ informasi saya:
Okky Sahetapy (25 tahun), seorang teman yang tinggal di daerah Jalan Nusantara Wosi tetapi sekarang bertugas di kabupaten lain saat dihubungi via pesan pendek bertutur bahwa ia sewaktu masih tinggal di Manokwari juga mendengar sirene ini. Menurutnya, sirene itu sangat penting untuk menunjukan waktu, walau ia tak tahu tepatnya itu pukul berapa. “Tapi sekarang udah mulai - mulai berkurang bunyinya di karenakan aktivitas kendaraan yang beraktivitas pagi hari.” Karena sewaktu SMA ia bersekolah di SMAN 2 di daerah Wosi dalam, ia mengatakan bahwa dirinya masih bisa mendengar bunyi sirene itu dari areal sekolah.
Indah Ratna Ningtyas (20 tahun) seorang mahasiswi jurusan Biologi UNIPA yang besar di Manokwari dan tinggal di daerah Reremi Lurus berkisah ia juga kerap mendengar sirene ini walau ia tak begitu yakin jam berapa sirene ini berbunyi tepatnya. “Kayaknya ada 3 kali sehari ka, kaka. Ada yang jam 7 pagi, macam yang jam 9 ka begitu, trus ada yang sore. Cuma kaka cek lagi ee waktunya, pokoknya pagi dan sore ka”. Menurutnya, sirene pagi mengingatkannya pada pengingat proses pergi ke sekolah.
Lain lagi cerita Maria Ondy (23 tahun), mahasiswa Fakultas Kehutanan UNIPA yang sedari kecil tinggal di Wosi AMD Manokwari bertutur bahwa ia mendengar bunyi sirene ini sejak masih SD hingga SMA. Menurutnya, sirene berbunyi dua kali. Pertama, pada pukul 6.30 pagi dan kedua, pada pukul 7 pagi. Saat ini, ia jarang mendengar sirene. “Abis sa juga skarang bangun pagi su di atas jam 7 jadi, mungkin akan masih bunyi ka. Tapi kadang – kadang sa bangun pagi tapi su tra dengar ka ini.” Menurut perempuan Sentani pernakan Serui ini, peran sirena cukup membawa kenangan masa kecilnya muncul kembali. “Kalo sirene pertama yang jam setengah tujuh pagi tuh, sa ingat akan jadi tanda untuk jam mandi persiapan pi sekolah. Nan kalo sirene kedua, artinya sa su harus jalan pi sekolah, kaka.”
Saat saya tanya tentang kira – kira ia tahu letaknya lokasi sirene ini. Mia, demikian ia akrab disapa mengiyakan. Menurutnya, sirene ini terletak pada sebuah tower atau menara di gedung yang bentuknya mirip huruf T. “Tapi letak persisnya sa tra tau ee, kaka. Tapi sa pernah main ke areal sana dulu eee,” jelasnya.
Mitha (28 tahun) sahabat saya yang tinggal di daerah seputaran Reremi Pemancar yang juga sahabat saya bercerita tentang sirene ini di kiosnya (02/11/11). Menurutnya, sewaktu belum pindah ke Reremi dan masih tinggal di Fanindi ST, ia dan saudara – saudaranya punya kenangan khusus terkait sirene ini pada masa kecil. Sirene ini berbunyi tiga kali sehari: pukul 06.30 dan 7 pagi serta pukul 3 sore. Sepengetahuannya, asal sirene ini dari daerah Angkatan Laut sana (Fasharkan). Ia mulai mengerti tentang sirene ini sejak tahun 1989, semasa kelas 1 SD karena sirene ini terkait dengan ‘urusan sekolah’. “Adooh May, kalo sirene su bunyi pertama tuh, sa deng sapu sodara – sodara tong su lari baku rebut kamar mandi ka ini. Tong su baku taru mandi karna su mo skolah ka ini. Jadi pasti rame di rumah.” Baginya, sirene ini menjadi sebuah indikator waktu dan ‘pengingat’ pergi ke sekolah.
Hal ini rupanya masih berlanjut hingga masa kini sewaktu bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah laboratorium Dinas Perikanan. “Kalo sa deng teman – teman su dengar sirene sore yang jam 3 tuh, macam tong langsung rasa lapar skali eee, karna tong tahu su sore ya, macam kerja langsung gerakan karna tong su mo pulang.” Namun, sahabat saya ini menambahkan kalau suara sirene yang ia dengar ini tak terlalu besar. Hal ini rupanya dibenarkan oleh adik lelaki Mitha; Elly. Elly (23 tahun) berpendapat kalau penyebabnya mungkin karena arus lalu lintas yang ramai di Manokwari sehingga suaranya tak sejelas di masa kecil. “Kendaraan su rame too kaka, apalagi pas pagi dan sore tuh. Jadi mangkali de pu suara tatutup kapa jadi su tra jelas skali di sini,” kilahnya.
Bagaimana pandangan antropolog terkait sirene ini. Saya berhasil menjaring pendapat Adolf Ronsumbre (31 tahun), dosen Antropologi Fakultas Sastra UNIPA yang kebetulan tumbuh besar di kawasan perumahan Angkatan Laut Sanggeng, tempat asal bunyi sirene. Pak Olof, begitu ia akrab disapa, berbagi pendapat pada sebuah siang (02/11/11). Menurutnya, Sirene ini berbunyi tiga kali: 6.30 dan 6.45 pagi serta jam 3 sore. Ia mendengar dari almarhum bapaknya yang pegawai sipil di Fasharkan kalau bunyi sirene itu mengindikasikan tentang persiapan apel, jam kerja dan jam pulang kerja. Itulah sebabnya pada sirene kedua, ada jeda sekitar 15 menit untuk tanda apel pagi bagi anggota militer dan karyawan sipil di instansi ini. Sepengetahuannya, sirene itu dibunyikan oleh anggota piket Fasharkan yang terdiri atas anggota militer dan sipil. “Sa lupa tepatnya komposisi anggota piket itu, May. Dulu setahu sa, dari cerita sa pu almarhum bapa, ada 2 dari sipil, sisanya dari militer,tapi setiap 8 jam” ungkapnya. Selain mengindikasikan jam kerja, sirene ini juga selalu dibunyikan pada pergantian tahun yang sering disebut “Kunci Tahun” di Manokwari. Saat itu, tepat pukul 12 malam, sirene akan berbunyi 3 kali. Secara pribadi, Ronsumbre ini bertutur bahwa bunyi sirene ini menjadi sebuah tanda untuk bersiap – siap dan pergi ke sekolah.
Ditinjau dari sisi antropologi, Ronsumbre yang menyelesaikan S2 Antropologinya di UGM ini berpendapat pada sirene Fasharkan ini telah menjelma menjadi simbol dalam kehidupan masyarakat kota Manokwari. Hal ini karena sirene ini mempunyai banyak representasi arti dari bunyi sirene itu sendiri. Tak hanya bagi pegawai dan anggota militer Fasharkan sebagai ‘pemilik’ suara sirene tetapi juga berbagai kalangan orang Manokwari yang mendengar bunyi sirene ini. Bagi anak sekolah, ini menjadi sebuah penanda pergi ataupun pengingat ke sekolah. Bagi beberapa kalangan masyarakat nelayan di seputaran perairan Sanggeng, sirene sore menjadi penanda waktu. “Kadang – kadang, orang – orang yang pi mincing ikan ka melaut di sekitar perairan sini sampe ke PKN sana kalo su dengar sirene sore, dong su tahu tuh jam 3. Jadi kadang ada yang mo pi sembayang sore, dong gerakan pulang ka ini. Biar tra bawa jam juga dong tahu waktu karena dengar sirene jadi, ” akunya. Hal seperti inilah yang mendasari alasan ia berpendapat bahwa sirene telah menjadi salah satu representasi simbol di kota ini.
SIMPULAN
Sirene fasharkan menjadi sebuah simbol yang menyuarakan pesan yang berbeda di kota saya Manokwari. Ada yang menganggapnya sebagai ‘jam alarm’ pergi ke sekolah, ada yang menjadi pengingat jam kerja. Ada pula yang menjadikannya sebuah indikator pulang. Apapun pesan yang disebarkan oleh sirene ini, semoga saja di masa mendatang bunyi sirene ini akan tetap ada walau lambat laun akan tertelan oleh polusi bunyi di kota ini. Bagi saya, sirene ini memainkan sebuah kepingan kenangan masa kecil yang manis, kala sekolah adalah sebuah surga belajar yang menyenangkan.
(Manokwari, 141111; thanx untuk semua narasumber)
Saturday, 12 November 2011
Cerpen - Melamar Tuhan
PROLOG
Ada yang bilang Tuhan itu sedekat doa, sedekat hati. Ada yang bilang Tuhan itu tak tampak. Tapi yang kutahu, kadang Tuhan yang dikenal oleh beberapa orang – orang sebangsaku bukanlah Tuhan yang sesungguhnya karena ternyata mereka sedang memasung Tuhan yang asli, memasangkannya topeng besi seperti lelaki dalam film “the Man in the Iron Mask”. Menyembunyikannya. Itu yang kutahu!
Segelas susu Dancow masuk dengan nikmatnya ke dalam mulutku. Tak peduli akan gemuk karena lemak susunya. Tak peduli. Aku lebih peduli dengan laporan seorang sahabat dari kota kelahiranku; Manokwari. Lebih peduli dengan prosesi ‘melamar Tuhan’. Iya, banyak orang sedang melamar Tuhan di kotaku.
Itulah sebabnya aku memutuskan terbang pulang hari ini. Ingin melihat prosesi melamar Tuhan.
***
Manokwari, Oktober 2011
Lelaki berkulit kopi berperut gembul itu berjalan sumringah, keluar dari tempat karaoke di sebuah sudut kota. Beberapa lelaki lain mengikutinya, memegang tas. Ada yang hanya berjalan diam. Sesekali lelaki gembul itu tertawa dan bicara dengan seseorang di ujung telpon.
“Suda bapa, tuh aman saja. Sa su tempatkan orang – orang di pos – pos pemenangan. Nan sa servis dong, jang takut. Sa bisa janjikan kemenangan 100% di sana.”
Lelaki gembul dan pria – pria itu berjalan keluar. Sesekali aroma alkohol menyeruak dari desah nafas mereka. Beberapa pria itu pun ada yang belum menarik ritsleting mereka yang sedikit terbuka. Belum lagi bekas kecupan bibir berlipstik yang tersisa di ujung kemeja.
Di pojok kota yang lain, beberapa lelaki lain duduk mengelilingi seorang lelaki. Berdiskusi, membahas, dan tertawa. Mata mereka mereka dengan lihai menatap rancangan tulisan di sebuah selebaran. Mata mereka tertawa menatap angka yang akan diusung dua lelaki. Beberapa kata yang menistakan dua lelaki dalam gambar itu pun bertaburan keluar. Seseorang sibuk menghitung biaya perbanyakan tulisan dan berpesan pada temannya,:
“Pace, nan takser su gelap baru ko bagi eeee. Masukan lewat celah – celah pintu saja ka, ko bayar ojek untuk sebarkan ke kompleks – kompleks luar kota eee. Bilang saja ada yang titip. Main pelan saja eee.”
***
Lapangan Borarsi, akhir Oktober 2011
Kerumunan massa datang dari berbagai sudut kota. Lelaki, perempuan, anak kecil. Datang tumpah ruah di lapangan. Datang dengan wajah cerah. Beberapa lelaki di sudut lapangan sibuk menyelipkan beberapa lembar uang di saku pengunjung, berbisik hal yang sama, “tahan sampe pulang eee. Nan ada tong siapkan makan eee”.
Aku baru saja hendak mengucapkan salam di depan rumah seorang sahabat yang tinggal di Borarsi kala gegap gempita suara pengeras suara membunyikan janji – janji surga.
“Sa tra tipu, kalo bapa, ibu, famili dong pilih sa, sa akan bangun pelabuhan besar di kam pu pelosok –pelosok pulau. Jadi tra harus panggayuh jauh – jauh ke seberang. Nan biar ada kapal kayu yang lewat, jadi famili dong bisa angkat hasil pulau ke kota besar. Sa tra tipu, untuk kota ini sendiri, sa akan kasi kesejahteraan penuh. Sa janji. Tong akan bikin kota ini terkenal di mata dunia. Tra akan pake waktu lama. I promise”.
Suara lelaki itu membahana diiringi bunyi suara tepuk tangan yang riuh. Tepat lelaki itu sedang berkicau tentang programnya di masa mendatang, seorang lelaki buta dengan banyak sapu lidi dan kemonceng penghilang debu turun di mata jalan dekat rumah temanku. Kukenali ia sebagai lelaki yang sering duduk di depan sebuah toko di kota ini. Seorang anak kecil menyambut lelaki itu dan membawanya pergi entah kemana. Kutunggu lelaki berpengeras suara itu bicara tentang lelaki buta ini. Tapi hingga pisang goreng dan teh manis yang disediakan sahabatku tandas dalam perut, tak sekalipun kudengar ia berbicara tentang nasib orang seperti lelaki ini ataupun pelayanan kesehatan. Tak ada!
Sebelum kupergi, kudengar tarikan suara lewat pengeras suara yang diberi redaksi ‘artis ibu kota’ bernyanyi dan mengajak penonton bergoyang. “Ayooooooooooooooo gooooooooooooyang, Manokwari. Pilih nomor kami. Yuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!”
***
8 November 2011
Tuhan merupa dalam banyak bentuk, dalam berbagai rupa. Manusia di kota ini menyembah bermacam – macam Tuhan. Ada yang menyembah Tuhan yang berbentuk cairan. Ada yang menyembah Tuhan dalam berbagai kenikmatan khususnya kenikmatan yang berlendir. Ada yang menyembah Tuhan dalam timbunan emas dan permata dan lembar digit tabungan dan deposito. Semuanya mencari, memuja dan menjilat Tuhan yang bernama empat huruf itu. Tak banyak yang mau terus menanti Tuhan yang sedang dipasung itu. Tak banyak!!!
“Bip- bip – bip” bunyi pesan notifikasi jejaring sosialku di ponselku. Pesan dari sahabatku. Kubaca pesan itu diam – diam, sambil menahas nafas:
Dear Neme,
Co ko cek info di oom Yakob dong eee, kayaknya tadi sa pu informan kas tahu nih, kam pu kompleks lagi ditarget tuh sama pasangan kandidat X, dong su siapkan 100 juta untuk kam pu areal, satu orang nan dapa 300 ribu per orang. Terserah kam. Sa pu pesan sih gampang: terima saja dong pu uang dan barang, tapi pilih sesuai kam hati nurani too. Epen ka. Sapa suru mo bagi – bagi uang. Kalo ko mau dapa data ini untuk ko tulisan, ko tunggu sebentar pas subuh eee,jang tidur ya eee. Ka ko pi tidur di oom Yakob pu rumah eee. Pasti ko lihat nanti. Lucu skali eee.
Salam,
Milo
***
Ini hari penentuan. Sedari subuh kompleks tempat tinggalku riuh. Riuh di depan pintu rumah dengan orang – orang yang memanggul beras 20 KG dan lembaran – lembaran uang beserta stiker. Manusia – manusia yang tak peduli dengan Tuhan yang terpasung,; mereka yang menjual suara maupun membeli suara. Tawa kecil dan senyum kilas mengisi rumah tiap penduduk yang mau ikut transaksi. Tak peduli.
Beberapa jam lagi, Tuhan akan dilamar. Dilamar dalam proses tusuk gambar dan cap stempel. Dilamar suaranya. Beberapa pria yang sudah melebur dalam tanah di Mediterania sana berabad – abad lalu bilang: Fox Dei Fox Populus. Iya, suara rakyat adalah suara Tuhan. Itu kata mereka. Di kotaku dan kota – kota sekitarnya, Tuhan sedang dilamar, dilamar suaranya. Tepatnya ada juga yang membeli suaranya.
Para pelamar Tuhan tak main – main. Mereka sangat serius. Tuhan berubah menjadi perempuan cantik yang hendak dikawini. Entah nanti untuk jadi istri pertama, istri kedua, budak pemuas nafsu, aku tak tahu. Para pelamar Tuhan sibuk memamerkan wajah mereka di pinggir – pinggir jalan. Memamerkan senyum terbaik, memberi banyak ‘dupa’ agar Tuhan berpaling pada mereka. Dupa dalam bentuk janji surga, barang, jasa bahkan uang.
Beberapa hari lalu, kuingat kunjungan ke seorang narasumber riset bahasaku di dekat asrama mahasiswa tertentu. Saat melewati asrama itu, di depannya, ada banyak karung beras sumbangan, unit televisi dan beberapa peralatan elektronik baru. “Kaka boo, ko jang kaget ka. Biasa, pace X dong pu orang – orang yang datang kasi, dong tra minta banyak. Cuma pilih dong saja ka ini besok eee.”, ujar seorang lelaki berusia awal 20an padaku. Ada rasa yang tiba – tiba pecah di hatiku.
Ingatanku pecah dan kembali lagi pada agenda kerjaku hari ini. Usai lamaran Tuhan, aku harus bertemu Milo, sahabatku dan juga calon suamiku. Jam 1 siang. Iya, jam makan siang nanti di sebuah restoran di kotaku.
***
Di berbagai sudut kota, Tuhan sedang dilamar. Mereka yang datang murni untuk menyembah Tuhan yang benar, ataukah sedang menjual suara mereka. Beberapa lelaki sibuk menghitung jumlah daftar pemilih tetap yang sudah menjalankan hak mereka. Beberapa saksi sibuk duduk memantau, bercerita dan kadang tak peduli.
Di sudut – sudut tempat pemungutan suara, beberapa lelaki berdiri dan mencegat calon pemilih dengan bujuk rayu dan ancaman, “Neh sa cuma mo bilang eee, kalo kam tra pilih pace X, jang harap kam tinggal di kompleks sini eeee.”. Ada pula yang berkoar – koar, “aeeeh kam pilh pace Y tuh yang nan kam siap angkat kaki dari tempat ini, kam su lihat de pu keyakinan macam bagaimana, macam - macam kam begini siap – siap kam cari jalan saja eee. Jadi mari tong pikir bae – bae sapa yang akan bawa kebaikan untuk kam.” Mereka sibuk berbagi opini dan merayu calon pemilih. Tak peduli pace X tak pernah setia pada istrinya, tak peduli ia tak pernah terbukti membawa kesejahteraan, tak peduli ia pernah tersandung kasus korupsi namun melenggang lolos tanpa banyak proses lama. Bagi para perayu, yang penting ada dana banyak yang akan didapat bila pace X terpilih. Itu saja. Masa bodoh dengan siapa pace X atau apa yang akan ia lakukan kalau ia terpilih.
Milo menjemputku di rumah dan mengajakku makan siang di sebuah restoran ayam goreng di kota ini. Minggu depan aku harus kembali lagi ke kota studiku. Anggap saja ini makan siang kami yang terbaik usai melihat prosesi melamar Tuhan.
Ayam goreng di restoran ini lumayan enak walau bukan hidangan khas Papua. Tiba – tiba di sela – sela makanku, aku teringat ponselku yang tertinggal dalam saku belakang kursi Milo. Dalam perjalanan menuju restoran, aku duduk di jok tengah karena Milo tadi harus sekalian mengantarkan kerabatnya yang tinggal searah dengan restoran plus aku memang lagi ingin mengistirahatkan kakiku barang sejenak.
Berbekal kunci mobil pemberian Milo, aku bergegas ke parkiran; mengambil ponsel. Kubuka pintu mobil, meraih ponsel dengan segera. Sayangnya, sepercik aroma yang sangat khas tiba – tiba merasuk hidungku dengan cepat. Rasa penasaran membuatku melongok ke bagasi belakang mobil. Sebotol pemutih pakaian ukuran besar , satu gelas kosong, dan beberapa jeruk nipis bekas dipakai tergeletak di sana, di dalam sebuah karton tanpa tutup. Tak lupa sehelai kain berwarna ungu bekas tinta stempel.
Aku tiba – tiba pusing. Sangat pusing. Bayang wajah Milo menari di kepalaku. Bayang ia mencelupkan bekas tinta di jarinya, membersihkanya. Entah dengan siapa ia mencuci bekas ia terlibat dalam prosesi ini. Tiba – tiba bayangnya menari – nari liar. Sayup – sayup kudengar suara lelaki lewat pengeras suara tertawa di dalam benakku, tertawa sangat keras. Keras sekali! Dan kurasa tiba – tiba Tuhan bernama empat huruf itu menari kegirangan serupa bocah taman kanak – kanak, bersama – sama Milo tentu saja.
***
EPILOG
Mereka tertawa karena berhasil melamar Tuhan. Entah untuk disembah atau untuk digagahi demi Tuhan mereka; si empat huruf itu. Entahlah, yang aku tahu, mereka sudah berhasil mendapatkan Tuhan itu, dan tak lama lagi akan lahir anak – anak mereka yang bernama korupsi, kerakusan, ketamakan, nafsu kekuasaan. Tak akan ada lagi koar – koar peduli kesehatan apalagi untuk lelaki buta yang pernah kutemui.
Aku harus pulang hari ini. Tak ada lagi Tuhan yang hendak kutemukan dalam wajah manusia – manusia ini. Tak ada. Milo berutang penjelasan besar padaku, sangat besar. Khususnya mengingat hadiah ulangtahunnya untukku bulan lalu lewat seorang teman yang dititipinya; kamera SLR Nikon D90 lengkap dengan berbagai lensa makro, tele, dan mikronya termasuk lagi tripod dan light diffuser dan beberapa buku fotografi impor.
Sesaat aku pun sadar, bagi mereka, para pelamar Tuhan itu, mereka tak peduli dengan suara rakyat yang adalah suara Tuhan, bagi mereka cuma satu Tuhan yang mereka sembah dan namanya cuma satu:
U-A-N-G!
Ya, nama Tuhan mereka adalah UANG! Itu yang kutahu. Itu saja.
(Manokwari, 111111; inspired by West Papua public election)
Ada yang bilang Tuhan itu sedekat doa, sedekat hati. Ada yang bilang Tuhan itu tak tampak. Tapi yang kutahu, kadang Tuhan yang dikenal oleh beberapa orang – orang sebangsaku bukanlah Tuhan yang sesungguhnya karena ternyata mereka sedang memasung Tuhan yang asli, memasangkannya topeng besi seperti lelaki dalam film “the Man in the Iron Mask”. Menyembunyikannya. Itu yang kutahu!
Segelas susu Dancow masuk dengan nikmatnya ke dalam mulutku. Tak peduli akan gemuk karena lemak susunya. Tak peduli. Aku lebih peduli dengan laporan seorang sahabat dari kota kelahiranku; Manokwari. Lebih peduli dengan prosesi ‘melamar Tuhan’. Iya, banyak orang sedang melamar Tuhan di kotaku.
Itulah sebabnya aku memutuskan terbang pulang hari ini. Ingin melihat prosesi melamar Tuhan.
***
Manokwari, Oktober 2011
Lelaki berkulit kopi berperut gembul itu berjalan sumringah, keluar dari tempat karaoke di sebuah sudut kota. Beberapa lelaki lain mengikutinya, memegang tas. Ada yang hanya berjalan diam. Sesekali lelaki gembul itu tertawa dan bicara dengan seseorang di ujung telpon.
“Suda bapa, tuh aman saja. Sa su tempatkan orang – orang di pos – pos pemenangan. Nan sa servis dong, jang takut. Sa bisa janjikan kemenangan 100% di sana.”
Lelaki gembul dan pria – pria itu berjalan keluar. Sesekali aroma alkohol menyeruak dari desah nafas mereka. Beberapa pria itu pun ada yang belum menarik ritsleting mereka yang sedikit terbuka. Belum lagi bekas kecupan bibir berlipstik yang tersisa di ujung kemeja.
Di pojok kota yang lain, beberapa lelaki lain duduk mengelilingi seorang lelaki. Berdiskusi, membahas, dan tertawa. Mata mereka mereka dengan lihai menatap rancangan tulisan di sebuah selebaran. Mata mereka tertawa menatap angka yang akan diusung dua lelaki. Beberapa kata yang menistakan dua lelaki dalam gambar itu pun bertaburan keluar. Seseorang sibuk menghitung biaya perbanyakan tulisan dan berpesan pada temannya,:
“Pace, nan takser su gelap baru ko bagi eeee. Masukan lewat celah – celah pintu saja ka, ko bayar ojek untuk sebarkan ke kompleks – kompleks luar kota eee. Bilang saja ada yang titip. Main pelan saja eee.”
***
Lapangan Borarsi, akhir Oktober 2011
Kerumunan massa datang dari berbagai sudut kota. Lelaki, perempuan, anak kecil. Datang tumpah ruah di lapangan. Datang dengan wajah cerah. Beberapa lelaki di sudut lapangan sibuk menyelipkan beberapa lembar uang di saku pengunjung, berbisik hal yang sama, “tahan sampe pulang eee. Nan ada tong siapkan makan eee”.
Aku baru saja hendak mengucapkan salam di depan rumah seorang sahabat yang tinggal di Borarsi kala gegap gempita suara pengeras suara membunyikan janji – janji surga.
“Sa tra tipu, kalo bapa, ibu, famili dong pilih sa, sa akan bangun pelabuhan besar di kam pu pelosok –pelosok pulau. Jadi tra harus panggayuh jauh – jauh ke seberang. Nan biar ada kapal kayu yang lewat, jadi famili dong bisa angkat hasil pulau ke kota besar. Sa tra tipu, untuk kota ini sendiri, sa akan kasi kesejahteraan penuh. Sa janji. Tong akan bikin kota ini terkenal di mata dunia. Tra akan pake waktu lama. I promise”.
Suara lelaki itu membahana diiringi bunyi suara tepuk tangan yang riuh. Tepat lelaki itu sedang berkicau tentang programnya di masa mendatang, seorang lelaki buta dengan banyak sapu lidi dan kemonceng penghilang debu turun di mata jalan dekat rumah temanku. Kukenali ia sebagai lelaki yang sering duduk di depan sebuah toko di kota ini. Seorang anak kecil menyambut lelaki itu dan membawanya pergi entah kemana. Kutunggu lelaki berpengeras suara itu bicara tentang lelaki buta ini. Tapi hingga pisang goreng dan teh manis yang disediakan sahabatku tandas dalam perut, tak sekalipun kudengar ia berbicara tentang nasib orang seperti lelaki ini ataupun pelayanan kesehatan. Tak ada!
Sebelum kupergi, kudengar tarikan suara lewat pengeras suara yang diberi redaksi ‘artis ibu kota’ bernyanyi dan mengajak penonton bergoyang. “Ayooooooooooooooo gooooooooooooyang, Manokwari. Pilih nomor kami. Yuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!”
***
8 November 2011
Tuhan merupa dalam banyak bentuk, dalam berbagai rupa. Manusia di kota ini menyembah bermacam – macam Tuhan. Ada yang menyembah Tuhan yang berbentuk cairan. Ada yang menyembah Tuhan dalam berbagai kenikmatan khususnya kenikmatan yang berlendir. Ada yang menyembah Tuhan dalam timbunan emas dan permata dan lembar digit tabungan dan deposito. Semuanya mencari, memuja dan menjilat Tuhan yang bernama empat huruf itu. Tak banyak yang mau terus menanti Tuhan yang sedang dipasung itu. Tak banyak!!!
“Bip- bip – bip” bunyi pesan notifikasi jejaring sosialku di ponselku. Pesan dari sahabatku. Kubaca pesan itu diam – diam, sambil menahas nafas:
Dear Neme,
Co ko cek info di oom Yakob dong eee, kayaknya tadi sa pu informan kas tahu nih, kam pu kompleks lagi ditarget tuh sama pasangan kandidat X, dong su siapkan 100 juta untuk kam pu areal, satu orang nan dapa 300 ribu per orang. Terserah kam. Sa pu pesan sih gampang: terima saja dong pu uang dan barang, tapi pilih sesuai kam hati nurani too. Epen ka. Sapa suru mo bagi – bagi uang. Kalo ko mau dapa data ini untuk ko tulisan, ko tunggu sebentar pas subuh eee,jang tidur ya eee. Ka ko pi tidur di oom Yakob pu rumah eee. Pasti ko lihat nanti. Lucu skali eee.
Salam,
Milo
***
Ini hari penentuan. Sedari subuh kompleks tempat tinggalku riuh. Riuh di depan pintu rumah dengan orang – orang yang memanggul beras 20 KG dan lembaran – lembaran uang beserta stiker. Manusia – manusia yang tak peduli dengan Tuhan yang terpasung,; mereka yang menjual suara maupun membeli suara. Tawa kecil dan senyum kilas mengisi rumah tiap penduduk yang mau ikut transaksi. Tak peduli.
Beberapa jam lagi, Tuhan akan dilamar. Dilamar dalam proses tusuk gambar dan cap stempel. Dilamar suaranya. Beberapa pria yang sudah melebur dalam tanah di Mediterania sana berabad – abad lalu bilang: Fox Dei Fox Populus. Iya, suara rakyat adalah suara Tuhan. Itu kata mereka. Di kotaku dan kota – kota sekitarnya, Tuhan sedang dilamar, dilamar suaranya. Tepatnya ada juga yang membeli suaranya.
Para pelamar Tuhan tak main – main. Mereka sangat serius. Tuhan berubah menjadi perempuan cantik yang hendak dikawini. Entah nanti untuk jadi istri pertama, istri kedua, budak pemuas nafsu, aku tak tahu. Para pelamar Tuhan sibuk memamerkan wajah mereka di pinggir – pinggir jalan. Memamerkan senyum terbaik, memberi banyak ‘dupa’ agar Tuhan berpaling pada mereka. Dupa dalam bentuk janji surga, barang, jasa bahkan uang.
Beberapa hari lalu, kuingat kunjungan ke seorang narasumber riset bahasaku di dekat asrama mahasiswa tertentu. Saat melewati asrama itu, di depannya, ada banyak karung beras sumbangan, unit televisi dan beberapa peralatan elektronik baru. “Kaka boo, ko jang kaget ka. Biasa, pace X dong pu orang – orang yang datang kasi, dong tra minta banyak. Cuma pilih dong saja ka ini besok eee.”, ujar seorang lelaki berusia awal 20an padaku. Ada rasa yang tiba – tiba pecah di hatiku.
Ingatanku pecah dan kembali lagi pada agenda kerjaku hari ini. Usai lamaran Tuhan, aku harus bertemu Milo, sahabatku dan juga calon suamiku. Jam 1 siang. Iya, jam makan siang nanti di sebuah restoran di kotaku.
***
Di berbagai sudut kota, Tuhan sedang dilamar. Mereka yang datang murni untuk menyembah Tuhan yang benar, ataukah sedang menjual suara mereka. Beberapa lelaki sibuk menghitung jumlah daftar pemilih tetap yang sudah menjalankan hak mereka. Beberapa saksi sibuk duduk memantau, bercerita dan kadang tak peduli.
Di sudut – sudut tempat pemungutan suara, beberapa lelaki berdiri dan mencegat calon pemilih dengan bujuk rayu dan ancaman, “Neh sa cuma mo bilang eee, kalo kam tra pilih pace X, jang harap kam tinggal di kompleks sini eeee.”. Ada pula yang berkoar – koar, “aeeeh kam pilh pace Y tuh yang nan kam siap angkat kaki dari tempat ini, kam su lihat de pu keyakinan macam bagaimana, macam - macam kam begini siap – siap kam cari jalan saja eee. Jadi mari tong pikir bae – bae sapa yang akan bawa kebaikan untuk kam.” Mereka sibuk berbagi opini dan merayu calon pemilih. Tak peduli pace X tak pernah setia pada istrinya, tak peduli ia tak pernah terbukti membawa kesejahteraan, tak peduli ia pernah tersandung kasus korupsi namun melenggang lolos tanpa banyak proses lama. Bagi para perayu, yang penting ada dana banyak yang akan didapat bila pace X terpilih. Itu saja. Masa bodoh dengan siapa pace X atau apa yang akan ia lakukan kalau ia terpilih.
Milo menjemputku di rumah dan mengajakku makan siang di sebuah restoran ayam goreng di kota ini. Minggu depan aku harus kembali lagi ke kota studiku. Anggap saja ini makan siang kami yang terbaik usai melihat prosesi melamar Tuhan.
Ayam goreng di restoran ini lumayan enak walau bukan hidangan khas Papua. Tiba – tiba di sela – sela makanku, aku teringat ponselku yang tertinggal dalam saku belakang kursi Milo. Dalam perjalanan menuju restoran, aku duduk di jok tengah karena Milo tadi harus sekalian mengantarkan kerabatnya yang tinggal searah dengan restoran plus aku memang lagi ingin mengistirahatkan kakiku barang sejenak.
Berbekal kunci mobil pemberian Milo, aku bergegas ke parkiran; mengambil ponsel. Kubuka pintu mobil, meraih ponsel dengan segera. Sayangnya, sepercik aroma yang sangat khas tiba – tiba merasuk hidungku dengan cepat. Rasa penasaran membuatku melongok ke bagasi belakang mobil. Sebotol pemutih pakaian ukuran besar , satu gelas kosong, dan beberapa jeruk nipis bekas dipakai tergeletak di sana, di dalam sebuah karton tanpa tutup. Tak lupa sehelai kain berwarna ungu bekas tinta stempel.
Aku tiba – tiba pusing. Sangat pusing. Bayang wajah Milo menari di kepalaku. Bayang ia mencelupkan bekas tinta di jarinya, membersihkanya. Entah dengan siapa ia mencuci bekas ia terlibat dalam prosesi ini. Tiba – tiba bayangnya menari – nari liar. Sayup – sayup kudengar suara lelaki lewat pengeras suara tertawa di dalam benakku, tertawa sangat keras. Keras sekali! Dan kurasa tiba – tiba Tuhan bernama empat huruf itu menari kegirangan serupa bocah taman kanak – kanak, bersama – sama Milo tentu saja.
***
EPILOG
Mereka tertawa karena berhasil melamar Tuhan. Entah untuk disembah atau untuk digagahi demi Tuhan mereka; si empat huruf itu. Entahlah, yang aku tahu, mereka sudah berhasil mendapatkan Tuhan itu, dan tak lama lagi akan lahir anak – anak mereka yang bernama korupsi, kerakusan, ketamakan, nafsu kekuasaan. Tak akan ada lagi koar – koar peduli kesehatan apalagi untuk lelaki buta yang pernah kutemui.
Aku harus pulang hari ini. Tak ada lagi Tuhan yang hendak kutemukan dalam wajah manusia – manusia ini. Tak ada. Milo berutang penjelasan besar padaku, sangat besar. Khususnya mengingat hadiah ulangtahunnya untukku bulan lalu lewat seorang teman yang dititipinya; kamera SLR Nikon D90 lengkap dengan berbagai lensa makro, tele, dan mikronya termasuk lagi tripod dan light diffuser dan beberapa buku fotografi impor.
Sesaat aku pun sadar, bagi mereka, para pelamar Tuhan itu, mereka tak peduli dengan suara rakyat yang adalah suara Tuhan, bagi mereka cuma satu Tuhan yang mereka sembah dan namanya cuma satu:
U-A-N-G!
Ya, nama Tuhan mereka adalah UANG! Itu yang kutahu. Itu saja.
(Manokwari, 111111; inspired by West Papua public election)
Manokwari dan Hujan
Bila Bogor didapuk sebagai kota Hujan, Melbourne sebagai kota ‘four seasons in a day’ maka Manokwari layak menyandang gelar ‘kota hujan lokal’ selain gelar kota buah – buahan dan kota Injil. Ini tentu saja pendapat pribadi saya. Semuanya berawal dari curah hujan di kota Manokwari yang cukup tinggi bahkan turun hujannya yang sesuka hati ini mematahkan prediksi badan BKMG lokal beberapa bulan lalu yang mendapuk datangnya musim panas di sejak bulan September. Sayangnya, prediksi itu tinggal prediksi karena hujan di kota saya masih saja datang sesuka hati.
Di kota saya, hujan lokal memang datangnya sesuka hati. Saya pernah punya pengalaman ‘salah kostum’. Rumah saya di Fanindi ST jadi kalau hendak pergi ke areal kampus UNIPA di Amban sana, kadang di kompleks saya, hujannya sudah deras sekali, tahu – tahunya saat mendekat pertengahan jalan mendekati kampus, jalannya itu benar – benar kering bahkan orang – orang berjalan kaki dengan santainya karena tak ada hujan. Jadinya saya yang memakai mantel dan basah menjadi pemandangan yang menggelikan. TAPI, saat mendekati ruas jalan masuk gapura, e tiba – tiba jalannya sudah basah lagi dan hujannya sama dengan di kompleks saya, padahal kompleks saya dan daerah kampus itu letaknya tidak linear alias seakan di timur dan barat, kompleks saya di dekat teluk dan kampus di areal bukit yang jauh. Belum lagi terlanjur memakai pakaian hari hujan lengkap dengan jaket tebal atau sweater. Padahal beberapa jam kemudian, cuacanya berubah jadi sangat panas. Ini bukan pengalaman satu – satunya yang saya alami. Kadang juga di areal teluk Doreri terjadi turun hujan lokal. Misalnya di Kota (areal sisi teluk teluk dekat pelabuhan) hujannya turun deras, tapi di Sanggeng (areal teluk yang berseberangan), panasnya menggigit. Begitu juga di Wosi, bisa saja di Sanggeng lagi hujan, e di Wosi malah cuma panas ataupun mendung. Tak heran, jangan lupa selalu menyiapkan payung dan mantel hujan adalah saran terbaik yang bisa kita lakukan di Manokwari. Sangat tak menyenangkan sedang naik motor dan tiba – tiba disambut hujan deras di tengah deras, ataupun hujan yang ‘lari’ (awan hujannya terbawa angin).
Beberapa bulan ini kota saya juga beberapa kali dikunjungi efek badai tropis Pasifik barat daya. Saya lupa sudah beberapa kali surat lokal memuat berita ini. Dampak badai lokal yang berimbas pada cuaca Manokwari ya biasanya seperti ini: guruh besar yang seperti ‘orang langit lagi latihan drum’ atau ‘ada sepasang suami istri yang sedang berkelahi dan banting – banting piring’, kilat keriting yang berlari terus – menerus, mungkin lengkap dengan anak petirnya, dan tentu saja angin besar yang bisa dipakai menerbangkan ratusan layang – layang setinggi mungkin. Tak lupa hujan deras yang turun terus menerus. Bukan hal baru di Manokwari untuk punya hari hujan selama berhari – hari. Pemandangan biasa bagi saya, apalagi hujan paginya. Benar – benar sangat biasa bagi saya.
Manokwari dan hujan bukan hal baru sejak kecil bagi saya. Apa mungkin karena letak kota Manokwari yang benar- benar ‘terjepit’ ya? Maksud saya berada di pinggiran laut dan sedikit berbukit – bukit tetapi juga langsung berbatasan dengan dearah pegunungan yang tingginya hingga 3.000an meter di atas permukaan laut sana ya. Mungkin harus saya cari tahu di BMKG suatu hari nanti. Anyway, satu hal yang selalu membuat saya rindu pada Manokwari ya karena cuacanya ini dan bagaimana orang Manokwari merespon hujan di kota saya.
Saya sebagai anak Manokwari bisa dengan bangga bilang kalau Orang Manokwari khususnya anak =- anak dan kaum mudanya pecinta hujan. Tak percaya? Coba luangkan waktu saat hujan deras turun beberapa hari khususnya pada sore hari. Di saat seperti itu, di pinggir – pinggir jalan perumahan hingga jalan – jalan protokol, anak – anak kecil dan kaum mudanya berlarian dan berjalan sambil bermandian hujan. Ada yang bahkan membeli shampoo untuk keramas di bawah rinai hujan. Ada yang berlarian dan bermain sambil berjalan dari satu kompleks yang lain. Bahkan saya pernah melihat anak – anak dan remaja di kompleks pesisir laut memutuskan ‘mandi hujan’ alias ‘hujan – hujanan’ ke pantai dan diakhiri dengan ‘mandi – mandi’ (berenang dan bermain air). Tradisi ‘mandi hujan’ inilah yang membuat saya sangat rindu Manokwari bila berada di kota lain bahkan sewaktu di Australia.
Bagi saya hujan di Manokwari berbeda, sedikit hangat dan rasanya beda. Apalagi usai hujan, aroma tanah di Manokwari bagi saya terasa beda, sedikit harus khas tanah segar. Percayalah, saya pernah ‘mandi hujan’ sewaktu tinggal di Jakarta, Manado, Jayapura dan Canberra, ataupun menikmati jalan – jalan dalam hujan dengan berpayung sewaktu liburan di Biak, Padang, Melbourne dan Apollo Bay. Tak ada yang bisa menggantikan aroma tanah usai hujan di Manokwari atau hangatnya air hujan apalagi pendaran lampu jalan. Terasa sangat khas tropis dan basah namun segar. Bau hutan!
Satu yang pasti, bagi saya bila menyebut Manokwari tanpa hujan rasanya tak lengkap. Bagi saya, hujan adalah satu berkat Tuhan bagi orang Manokwari. Itu saja.
(Manokwari, 111111)
Di kota saya, hujan lokal memang datangnya sesuka hati. Saya pernah punya pengalaman ‘salah kostum’. Rumah saya di Fanindi ST jadi kalau hendak pergi ke areal kampus UNIPA di Amban sana, kadang di kompleks saya, hujannya sudah deras sekali, tahu – tahunya saat mendekat pertengahan jalan mendekati kampus, jalannya itu benar – benar kering bahkan orang – orang berjalan kaki dengan santainya karena tak ada hujan. Jadinya saya yang memakai mantel dan basah menjadi pemandangan yang menggelikan. TAPI, saat mendekati ruas jalan masuk gapura, e tiba – tiba jalannya sudah basah lagi dan hujannya sama dengan di kompleks saya, padahal kompleks saya dan daerah kampus itu letaknya tidak linear alias seakan di timur dan barat, kompleks saya di dekat teluk dan kampus di areal bukit yang jauh. Belum lagi terlanjur memakai pakaian hari hujan lengkap dengan jaket tebal atau sweater. Padahal beberapa jam kemudian, cuacanya berubah jadi sangat panas. Ini bukan pengalaman satu – satunya yang saya alami. Kadang juga di areal teluk Doreri terjadi turun hujan lokal. Misalnya di Kota (areal sisi teluk teluk dekat pelabuhan) hujannya turun deras, tapi di Sanggeng (areal teluk yang berseberangan), panasnya menggigit. Begitu juga di Wosi, bisa saja di Sanggeng lagi hujan, e di Wosi malah cuma panas ataupun mendung. Tak heran, jangan lupa selalu menyiapkan payung dan mantel hujan adalah saran terbaik yang bisa kita lakukan di Manokwari. Sangat tak menyenangkan sedang naik motor dan tiba – tiba disambut hujan deras di tengah deras, ataupun hujan yang ‘lari’ (awan hujannya terbawa angin).
Beberapa bulan ini kota saya juga beberapa kali dikunjungi efek badai tropis Pasifik barat daya. Saya lupa sudah beberapa kali surat lokal memuat berita ini. Dampak badai lokal yang berimbas pada cuaca Manokwari ya biasanya seperti ini: guruh besar yang seperti ‘orang langit lagi latihan drum’ atau ‘ada sepasang suami istri yang sedang berkelahi dan banting – banting piring’, kilat keriting yang berlari terus – menerus, mungkin lengkap dengan anak petirnya, dan tentu saja angin besar yang bisa dipakai menerbangkan ratusan layang – layang setinggi mungkin. Tak lupa hujan deras yang turun terus menerus. Bukan hal baru di Manokwari untuk punya hari hujan selama berhari – hari. Pemandangan biasa bagi saya, apalagi hujan paginya. Benar – benar sangat biasa bagi saya.
Manokwari dan hujan bukan hal baru sejak kecil bagi saya. Apa mungkin karena letak kota Manokwari yang benar- benar ‘terjepit’ ya? Maksud saya berada di pinggiran laut dan sedikit berbukit – bukit tetapi juga langsung berbatasan dengan dearah pegunungan yang tingginya hingga 3.000an meter di atas permukaan laut sana ya. Mungkin harus saya cari tahu di BMKG suatu hari nanti. Anyway, satu hal yang selalu membuat saya rindu pada Manokwari ya karena cuacanya ini dan bagaimana orang Manokwari merespon hujan di kota saya.
Saya sebagai anak Manokwari bisa dengan bangga bilang kalau Orang Manokwari khususnya anak =- anak dan kaum mudanya pecinta hujan. Tak percaya? Coba luangkan waktu saat hujan deras turun beberapa hari khususnya pada sore hari. Di saat seperti itu, di pinggir – pinggir jalan perumahan hingga jalan – jalan protokol, anak – anak kecil dan kaum mudanya berlarian dan berjalan sambil bermandian hujan. Ada yang bahkan membeli shampoo untuk keramas di bawah rinai hujan. Ada yang berlarian dan bermain sambil berjalan dari satu kompleks yang lain. Bahkan saya pernah melihat anak – anak dan remaja di kompleks pesisir laut memutuskan ‘mandi hujan’ alias ‘hujan – hujanan’ ke pantai dan diakhiri dengan ‘mandi – mandi’ (berenang dan bermain air). Tradisi ‘mandi hujan’ inilah yang membuat saya sangat rindu Manokwari bila berada di kota lain bahkan sewaktu di Australia.
Bagi saya hujan di Manokwari berbeda, sedikit hangat dan rasanya beda. Apalagi usai hujan, aroma tanah di Manokwari bagi saya terasa beda, sedikit harus khas tanah segar. Percayalah, saya pernah ‘mandi hujan’ sewaktu tinggal di Jakarta, Manado, Jayapura dan Canberra, ataupun menikmati jalan – jalan dalam hujan dengan berpayung sewaktu liburan di Biak, Padang, Melbourne dan Apollo Bay. Tak ada yang bisa menggantikan aroma tanah usai hujan di Manokwari atau hangatnya air hujan apalagi pendaran lampu jalan. Terasa sangat khas tropis dan basah namun segar. Bau hutan!
Satu yang pasti, bagi saya bila menyebut Manokwari tanpa hujan rasanya tak lengkap. Bagi saya, hujan adalah satu berkat Tuhan bagi orang Manokwari. Itu saja.
(Manokwari, 111111)
untitled
Aku sadar hari ini aku mulai diserang fase depresiku. Iya, sangat sadar. Karena rasa hampa ini mulai mengonsumsiku, rasa malas yang mendera dan kehilangan semangat. Apalagi aku tahu dari keinginanku untuk tidak bertemu orang lain ataupun para sahabatku. Entahlah.
Beberapa hari ini walau kuakui hubunganku dengan para keponakanku lumayan baik, namun hari ini entahlah. Bahkan Eu hari ini sempar marah denganku. Iya, kami marahan karena ia tak mau menurut perintahku. Malah sibuk menjadi buaya di lantai dan mengepel lantai dengan pakaiannya. Jangan salahkan bila ia kena sedikit ‘pukulan kecil’ di betisnya. Sayangnya, ia sangat keras kepala seperti diriku, jadi ia dengan cuek memasang tampang ‘marah’ padaku. Bahkan sempat memukulku. Padahal 3 hari lagi ia baru 2 tahun.
Beberapa hari lalu, mama dan 4 keponakan kecil ini menikmati acara menikmati alam mereka dengan mengelilingi api unggun kecil yang mama buat. Aku kebagian tugas menjaga api dan mencari ranting. Tempatnya di halaman rumah. Karena halaman kami cukup luas, jadinya kami mengkhayal sedang di alam. bahkan kami punya rencana untuk bikin barbeque di halaman rumah. Mungkin minggu depan. Jadinya harus mencari arang kelapa, ranting. Menunya ya mungkin pisang bakar, petatas bakar, dan membuat sate ataupun bakar ikan. Masih harus berkoordinasi dengan orangtua empat keponakan ini. Walau sempat was – was karena si Echi wajahnya sempat kena percikan bara api kemarin karena ulah si Muel yang iseng. Mereka memang jarang sekali akur. Sangat jarang akur. Tampaknya hanya Eu yang bisa bermain dengan mereka semua. Ochil sahabatan dengan Echi karena hanya beda 6 bulan dan sama – sama perempuan, Muel dan Ochil suka bertengkar padahal saudara kandung. Si Muel suka musuhan dengan Echi. Jadinya kalau Muel dan Ochil bertengkar, pasti Echi jadi sekutunya Ochil dan menghajar Muel. Sangat kacau tapi lucu HAHAHA.
Aku bahagia sebenarnya dikelilingi oleh 4 makhluk kecil ini. Sangat bahagia.
Semoga rasa hampa ini bisa kuatasi. Hanya butuh istirahat dan berdoa. Itu yang kutahu. Apalagi semalam saat berdoa dan membaca kitab Daniel 12, entahlah ada yang baru yang Tuhan tambahkan di hatiku. Entahlah. Yang pasti aku tahu aku harus banyak berdoa, harus banyak dekat pada Tuhan. Apalagi sejak kemarin pagi, aku diingatkan kalau tak ada teman yang begitu setia dan tak akan pernah mengkhianatiku selain Tuhan.
Semoga fase depresi ini cepat menghilang. Ya semoga!
(Manokwari, 111111)
Beberapa hari ini walau kuakui hubunganku dengan para keponakanku lumayan baik, namun hari ini entahlah. Bahkan Eu hari ini sempar marah denganku. Iya, kami marahan karena ia tak mau menurut perintahku. Malah sibuk menjadi buaya di lantai dan mengepel lantai dengan pakaiannya. Jangan salahkan bila ia kena sedikit ‘pukulan kecil’ di betisnya. Sayangnya, ia sangat keras kepala seperti diriku, jadi ia dengan cuek memasang tampang ‘marah’ padaku. Bahkan sempat memukulku. Padahal 3 hari lagi ia baru 2 tahun.
Beberapa hari lalu, mama dan 4 keponakan kecil ini menikmati acara menikmati alam mereka dengan mengelilingi api unggun kecil yang mama buat. Aku kebagian tugas menjaga api dan mencari ranting. Tempatnya di halaman rumah. Karena halaman kami cukup luas, jadinya kami mengkhayal sedang di alam. bahkan kami punya rencana untuk bikin barbeque di halaman rumah. Mungkin minggu depan. Jadinya harus mencari arang kelapa, ranting. Menunya ya mungkin pisang bakar, petatas bakar, dan membuat sate ataupun bakar ikan. Masih harus berkoordinasi dengan orangtua empat keponakan ini. Walau sempat was – was karena si Echi wajahnya sempat kena percikan bara api kemarin karena ulah si Muel yang iseng. Mereka memang jarang sekali akur. Sangat jarang akur. Tampaknya hanya Eu yang bisa bermain dengan mereka semua. Ochil sahabatan dengan Echi karena hanya beda 6 bulan dan sama – sama perempuan, Muel dan Ochil suka bertengkar padahal saudara kandung. Si Muel suka musuhan dengan Echi. Jadinya kalau Muel dan Ochil bertengkar, pasti Echi jadi sekutunya Ochil dan menghajar Muel. Sangat kacau tapi lucu HAHAHA.
Aku bahagia sebenarnya dikelilingi oleh 4 makhluk kecil ini. Sangat bahagia.
Semoga rasa hampa ini bisa kuatasi. Hanya butuh istirahat dan berdoa. Itu yang kutahu. Apalagi semalam saat berdoa dan membaca kitab Daniel 12, entahlah ada yang baru yang Tuhan tambahkan di hatiku. Entahlah. Yang pasti aku tahu aku harus banyak berdoa, harus banyak dekat pada Tuhan. Apalagi sejak kemarin pagi, aku diingatkan kalau tak ada teman yang begitu setia dan tak akan pernah mengkhianatiku selain Tuhan.
Semoga fase depresi ini cepat menghilang. Ya semoga!
(Manokwari, 111111)
Refleksi Seminggu
Kusesap kopi susu, ditemani hujan yang turun dengan deras sejak tadi, suara Des’ree dalam album ‘Supernatural’ dan kuputuskan menulis refleksi mingguanku.
Beberapa hari ini aku sempat mengalami kekeringan rohani, hilangnya semangat untuk dekat pada Tuhan. Saat teduhku berantakan. Tapi, thanx God, 2 hari terakhir, ada panggilan darurat dalam diri untuk kembali mengisi energiku karna jujur aku merasa sangat kosong, hampa dan tak punya kekuatan untuk hidupku. Ada yang hilang, dan aku tahu aku merindukan Tuhan.
Aku lupa, dua hari kemarin saat benar – benar bingung dengan hidupku, aku diingatkan untuk membaca satu pembacaan Firman. Malam itu, dalam hatiku bilang begini, “May, baca I Samuel 20 eeee”. Tak tahu itu pembacaannya tentang apa, kubuka Alkitab. Tentu saja usai berdoa. Nah ternyata kisahnya tentang pesahabatan Daud dan Jonathan. Aku belajar banyak hal dari cerita ini, bagaimana Jonathan bisa “mengkhianati” ayahnya si Saul demi sahabatnya. Bagaimana mereka berjanji untuk saling setia sebagai sahabat dan menjaga janji suci mereka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka harus berpisah dalam tangis. Pasti berat sekali. Mungkin itu pula yang jadi pertemuan terakhir mereka. Seharusnya ada cerita yang dibuat tentang persahabatan ini. Usai membaca kisah ini, aku diingatkan untuk bisa melihat hubunganku dengan Tuhan ibarat antara Daud dan Jonathan ini. Sebuah persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Benar – benar diingatkan malam itu.
Hari ini, aku bangun kesiangan karena memang terbuai dengan hujan yang turun sejak pagi. Hujan deras tanpa henti. Benar – benar jadi lullaby! Anyway, saat bangun aku diserang rasa rindu yang sangat besar pada Tuhan, sangat besar sekali. Hari ini bahkan aku merasakan kerinduan untuk menyanyi untuk Tuhan, menyanyikan rasa ini. Rasa yang tak dapat kujelaskan. Rasa yang membuatku merasa sangat jatuh cinta. Iya, sangat jatuh cinta pada Tuhan. Jadi usai ritual pagi segala macam, Kuputuskan mengambil Alkitabku dan berdoa. Pembacaan yang terbuka bagiku secara acak hari ini di Mazmur 51 “A prayer for forgiveness”. Benar – benar Tuhan tahu apa yang tepat pagi ini bagiku. Lirik puisi doa ini benar – benar apa yang kurasakan. Satu yang pasti, aku tahu bahwa Tuhan sangat baik bagi hidupku. Sangat baik!
Karena catatan ini tentang refleksi seminggu ini, aku bisa bilang bahwa Tuhan sangat baik dalam hidupku. Sangat baik!
Cinta? Ah aku bahkan sudah kehilangan sensasi rasa cintaku pada manusia. Bahkan respon Q pada fotoku dan seorang kerabat jauh tak membuatku merasa ‘bagaimana’ walaupun makin sadar bahwa laki – laki ini persis seperti ‘sontong’ =D Benar – benar tak layak berdekatan lagi dengannya. Untungnya memang aku sudah menjaga kontak dan bahkan menghapus nomor ponselnya sejak seminggu terakhir jadi perkataannya ke saudaraku terkait foto di BBMnya tak terlalu membuatku merasa ‘bagaimana getho’. Anyway, Aku harus membuat pengakuan. Seminggu ini aku bahkan tak terlalu memikirkan lelaki untuk kujadikan pacar walau masih tetap suka mengganggu teman – temanku dengan frasa “carikan sa pacar ka?” HAHAHA. I just enjoy to say those words. Walau dalam hati, harus kuakui saat ini aku bahkan tidak merasakan sebuah passion untuk punya pacar, punya seseorang untuk berbagi karena isi dalam otakku dan hatiku sedang penuh sejak aku menemukan gairah baru dalam menulis. Apalagi selama dua hari besok, aku dilibatkan sebagai pemateri dalam sebuah workshop menulis di fakultas Sastra. Berbagi cerita tentang menulis ‘blog’ dan travel writing. Sebuah kegiatan yang memungkinkan aku berinteraksi dengan banyak orang. Iya, sebuah kegiatan yang membuat aku merasa ‘hidup’. Menulis mungkin passion terbesar yang kupunya sejak lama. Iya, karena bila ditarik garis ke belakang, aku baru sadar kalau aku sudah menulis sejak SMP, walau saat itu dalam bentuk surat. Aku memang gemar korespondensi sejak SMP dan punya beberapa sahabat di luar Papua. Pada mereka, aku kerap berbagi kabar, bercerita tentang Papua, bercerita tentang hidup. Sayangnya, aku sudah tak tahu alamat mereka sekarang. Aku berutang banyak pada mereka yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. Ini utangku, aku harus menulis sebuah catatan yang kudedikasikan untuk mereka. Iya, itu janjiku.
Persahabatan? Wah ini topik menarik. Aku merasakan persahabatan sedang bagus minggu ini, baik hubungan dengan miss gaul Cs, sahabat lamaku bahkan dengan miss Internet. Termasuk dengan kerabat jauhku yang sekarang kami jadi teman curhat HAHAHA. Semuanya baik – baik saja. Tak ada masalah. Aku hanya ingin jadi sahabat yang baik tapi tak ingin terlibat secara emosi terlalu dalam dengan mereka. Jadinya ya aman – aman saja. Apalagi mengingat makan malam antara diriku, miss gaul dan miss perfect tadi malam di kafe kayu manis. Benar – benar perfect. Lajang, muda dan punya banyak ide. Kami tertawa berbagi kisah cinta, visi dan konsep hubungan. Benar – benar girl talk. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di sekeliling kami yang melihat paduan wajah kami yang berbeda. Ada miss gaul yang berjilbab tapi pacarnya cowok yang lebih muda 8 tahun dan ketua kaum muda Katolik *inilah ajaibnya sahabat – sahabatku. Juga si miss Perfect yang tak ada celah, wajah nilai 9, tubuh seanggun Jennifer Lopez tapi jangan pernah coba kekuatan mulutnya, bagaimanapun ia tetap cewek Maluku HAHAHA. Sedang aku, memakai baju off semi-off shoulder, berambut keriting mekar warna pirang coklat dan celana pendek. Kami memang cuek. Yang pasti, mereka memang sahabat – sahabat yang bisa kukirim SMS apapun, tengah malam pula. Hubungan dengan sahabat masa kecilku masih berjalan aman – aman. Si Angel cewek Jawa sahabat sejak SMP ini anaknya lagi ulang tahun kemarin, dan sore ini aku harus mengantar kadonya dan anaknya. Kami jarang bertemu sekarang, tapi ia akan tetap menjadi penyemangatku. Aku hanya tak mau mengganggu saja. Untuk semua persahabatan yang kumiliki, aku hanya bisa bilang, ‘I do enjoy this sort of feeling’. Thanx Jesus.
Tentang cinta terbesar dalam hidupku, minggu ini aku juga dihibur para keponakan – keponakanku yang ajaib. Aku merasa sangat bahagia diberi para keponakan yang membuatku banyak tertawa, terhibur dan tentu saja merasa sangat hidup. Apalagi keponakan andalanku si Eu. Eu memang batita cerdas. Itu yang kutahu. Aku merasakan sebuah keajaiban yang berlari di depan mataku, yang harus kuakui. Dia sedang gemar menghubungkan, mengasosiasikan antara kata dan makna. Aku suka sekali mengenalkannya dengan kata baru khususnya kata benda. Jadi bila ia memegang sesuatu, maka akan kusebutkan nama benda itu. Dan ia mengikutinya. Kadang – kadang kami membuatnya menjadi permainan dan guess what, ia yang jadi inisiatornya. Ia akan cepat – cepat memegang tiap benda di dekatnya dan aku harus cepat – cepat menyebutkan nama benda itu. Aku yakin, ia mewarisi otakku yang cerdas sama seperti si Ochil yang akan genap lima tahun usianya bulan ini.
Echi minggu ini sedang ingin mogok sekolah. Sudah 2 hari ia mangkir, kemarin ia juga malah menangis dalam kelas minta pulang. Sejak bapaknya ikut prajabatan minggu ini, Echi kehilangan semangat belajarnya. Ia sangat dekat dengan adik lelakiku apalagi adikku yang memang staf pengajar di sebuah SMK ini setiap malam harus membimbing anak perempuannya ini belajar, seperti menarik garis, menulis angka dan huruf. Bahkan lebih parahnya, Echi memang didapuk sebagai anak andalannya si ‘bapa Nyong’ panggilan khasnya adikku.
Si Muel alias keponakan lelakiku, anak kakakku malah lagi tergila – gila dengan boneka singanya. Padahal boneka anjingnya sudah kusembunyikan. Kami hanya takut ia jadi sedikit ‘nona manis’, walau harus kuakui kalau kedua saudara laki – lakiku awalnya juga begitu sewaktu kecil. Namun, guna meminimalisir hal tersebut, tak ada salahnya mulai melakukan langkah preventif, bukan. Padahal si Echi tuh sangat tomboy sungguh mati.
Ochil minggu ini juga baru sembuh sakit jadinya ya sangat kurus dan rambutnya juga dipotong pendek. Tak ada lagi rambut sarang burung itu HAHAHA.
Anyway, minggu ini aku juga baru saja mem-bleach rambutku menjadi pirang kecoklatan. Lagi bosan dengan warna rambutku HAHAHA Hanya ingin sesuatu yang beda sementara waktu. Bagiku, membuat rambut pirang tak ada bedanya dengan para orang tua yang mengecat hitam uban mereka ataupun mereka yang meluruskan rambut. I am not my hair, seperti katanya India.Arie.
Tampaknya catatan ini harus kututup. Sudah banyak rencana gila yang bertebaran di kepalaku. Sangat banyak. Masa hipomania? Mungkin HAHAHA.
Thanx Jesus for my life. Amen
(Manokwari, 061111)
Beberapa hari ini aku sempat mengalami kekeringan rohani, hilangnya semangat untuk dekat pada Tuhan. Saat teduhku berantakan. Tapi, thanx God, 2 hari terakhir, ada panggilan darurat dalam diri untuk kembali mengisi energiku karna jujur aku merasa sangat kosong, hampa dan tak punya kekuatan untuk hidupku. Ada yang hilang, dan aku tahu aku merindukan Tuhan.
Aku lupa, dua hari kemarin saat benar – benar bingung dengan hidupku, aku diingatkan untuk membaca satu pembacaan Firman. Malam itu, dalam hatiku bilang begini, “May, baca I Samuel 20 eeee”. Tak tahu itu pembacaannya tentang apa, kubuka Alkitab. Tentu saja usai berdoa. Nah ternyata kisahnya tentang pesahabatan Daud dan Jonathan. Aku belajar banyak hal dari cerita ini, bagaimana Jonathan bisa “mengkhianati” ayahnya si Saul demi sahabatnya. Bagaimana mereka berjanji untuk saling setia sebagai sahabat dan menjaga janji suci mereka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka harus berpisah dalam tangis. Pasti berat sekali. Mungkin itu pula yang jadi pertemuan terakhir mereka. Seharusnya ada cerita yang dibuat tentang persahabatan ini. Usai membaca kisah ini, aku diingatkan untuk bisa melihat hubunganku dengan Tuhan ibarat antara Daud dan Jonathan ini. Sebuah persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Benar – benar diingatkan malam itu.
Hari ini, aku bangun kesiangan karena memang terbuai dengan hujan yang turun sejak pagi. Hujan deras tanpa henti. Benar – benar jadi lullaby! Anyway, saat bangun aku diserang rasa rindu yang sangat besar pada Tuhan, sangat besar sekali. Hari ini bahkan aku merasakan kerinduan untuk menyanyi untuk Tuhan, menyanyikan rasa ini. Rasa yang tak dapat kujelaskan. Rasa yang membuatku merasa sangat jatuh cinta. Iya, sangat jatuh cinta pada Tuhan. Jadi usai ritual pagi segala macam, Kuputuskan mengambil Alkitabku dan berdoa. Pembacaan yang terbuka bagiku secara acak hari ini di Mazmur 51 “A prayer for forgiveness”. Benar – benar Tuhan tahu apa yang tepat pagi ini bagiku. Lirik puisi doa ini benar – benar apa yang kurasakan. Satu yang pasti, aku tahu bahwa Tuhan sangat baik bagi hidupku. Sangat baik!
Karena catatan ini tentang refleksi seminggu ini, aku bisa bilang bahwa Tuhan sangat baik dalam hidupku. Sangat baik!
Cinta? Ah aku bahkan sudah kehilangan sensasi rasa cintaku pada manusia. Bahkan respon Q pada fotoku dan seorang kerabat jauh tak membuatku merasa ‘bagaimana’ walaupun makin sadar bahwa laki – laki ini persis seperti ‘sontong’ =D Benar – benar tak layak berdekatan lagi dengannya. Untungnya memang aku sudah menjaga kontak dan bahkan menghapus nomor ponselnya sejak seminggu terakhir jadi perkataannya ke saudaraku terkait foto di BBMnya tak terlalu membuatku merasa ‘bagaimana getho’. Anyway, Aku harus membuat pengakuan. Seminggu ini aku bahkan tak terlalu memikirkan lelaki untuk kujadikan pacar walau masih tetap suka mengganggu teman – temanku dengan frasa “carikan sa pacar ka?” HAHAHA. I just enjoy to say those words. Walau dalam hati, harus kuakui saat ini aku bahkan tidak merasakan sebuah passion untuk punya pacar, punya seseorang untuk berbagi karena isi dalam otakku dan hatiku sedang penuh sejak aku menemukan gairah baru dalam menulis. Apalagi selama dua hari besok, aku dilibatkan sebagai pemateri dalam sebuah workshop menulis di fakultas Sastra. Berbagi cerita tentang menulis ‘blog’ dan travel writing. Sebuah kegiatan yang memungkinkan aku berinteraksi dengan banyak orang. Iya, sebuah kegiatan yang membuat aku merasa ‘hidup’. Menulis mungkin passion terbesar yang kupunya sejak lama. Iya, karena bila ditarik garis ke belakang, aku baru sadar kalau aku sudah menulis sejak SMP, walau saat itu dalam bentuk surat. Aku memang gemar korespondensi sejak SMP dan punya beberapa sahabat di luar Papua. Pada mereka, aku kerap berbagi kabar, bercerita tentang Papua, bercerita tentang hidup. Sayangnya, aku sudah tak tahu alamat mereka sekarang. Aku berutang banyak pada mereka yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. Ini utangku, aku harus menulis sebuah catatan yang kudedikasikan untuk mereka. Iya, itu janjiku.
Persahabatan? Wah ini topik menarik. Aku merasakan persahabatan sedang bagus minggu ini, baik hubungan dengan miss gaul Cs, sahabat lamaku bahkan dengan miss Internet. Termasuk dengan kerabat jauhku yang sekarang kami jadi teman curhat HAHAHA. Semuanya baik – baik saja. Tak ada masalah. Aku hanya ingin jadi sahabat yang baik tapi tak ingin terlibat secara emosi terlalu dalam dengan mereka. Jadinya ya aman – aman saja. Apalagi mengingat makan malam antara diriku, miss gaul dan miss perfect tadi malam di kafe kayu manis. Benar – benar perfect. Lajang, muda dan punya banyak ide. Kami tertawa berbagi kisah cinta, visi dan konsep hubungan. Benar – benar girl talk. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di sekeliling kami yang melihat paduan wajah kami yang berbeda. Ada miss gaul yang berjilbab tapi pacarnya cowok yang lebih muda 8 tahun dan ketua kaum muda Katolik *inilah ajaibnya sahabat – sahabatku. Juga si miss Perfect yang tak ada celah, wajah nilai 9, tubuh seanggun Jennifer Lopez tapi jangan pernah coba kekuatan mulutnya, bagaimanapun ia tetap cewek Maluku HAHAHA. Sedang aku, memakai baju off semi-off shoulder, berambut keriting mekar warna pirang coklat dan celana pendek. Kami memang cuek. Yang pasti, mereka memang sahabat – sahabat yang bisa kukirim SMS apapun, tengah malam pula. Hubungan dengan sahabat masa kecilku masih berjalan aman – aman. Si Angel cewek Jawa sahabat sejak SMP ini anaknya lagi ulang tahun kemarin, dan sore ini aku harus mengantar kadonya dan anaknya. Kami jarang bertemu sekarang, tapi ia akan tetap menjadi penyemangatku. Aku hanya tak mau mengganggu saja. Untuk semua persahabatan yang kumiliki, aku hanya bisa bilang, ‘I do enjoy this sort of feeling’. Thanx Jesus.
Tentang cinta terbesar dalam hidupku, minggu ini aku juga dihibur para keponakan – keponakanku yang ajaib. Aku merasa sangat bahagia diberi para keponakan yang membuatku banyak tertawa, terhibur dan tentu saja merasa sangat hidup. Apalagi keponakan andalanku si Eu. Eu memang batita cerdas. Itu yang kutahu. Aku merasakan sebuah keajaiban yang berlari di depan mataku, yang harus kuakui. Dia sedang gemar menghubungkan, mengasosiasikan antara kata dan makna. Aku suka sekali mengenalkannya dengan kata baru khususnya kata benda. Jadi bila ia memegang sesuatu, maka akan kusebutkan nama benda itu. Dan ia mengikutinya. Kadang – kadang kami membuatnya menjadi permainan dan guess what, ia yang jadi inisiatornya. Ia akan cepat – cepat memegang tiap benda di dekatnya dan aku harus cepat – cepat menyebutkan nama benda itu. Aku yakin, ia mewarisi otakku yang cerdas sama seperti si Ochil yang akan genap lima tahun usianya bulan ini.
Echi minggu ini sedang ingin mogok sekolah. Sudah 2 hari ia mangkir, kemarin ia juga malah menangis dalam kelas minta pulang. Sejak bapaknya ikut prajabatan minggu ini, Echi kehilangan semangat belajarnya. Ia sangat dekat dengan adik lelakiku apalagi adikku yang memang staf pengajar di sebuah SMK ini setiap malam harus membimbing anak perempuannya ini belajar, seperti menarik garis, menulis angka dan huruf. Bahkan lebih parahnya, Echi memang didapuk sebagai anak andalannya si ‘bapa Nyong’ panggilan khasnya adikku.
Si Muel alias keponakan lelakiku, anak kakakku malah lagi tergila – gila dengan boneka singanya. Padahal boneka anjingnya sudah kusembunyikan. Kami hanya takut ia jadi sedikit ‘nona manis’, walau harus kuakui kalau kedua saudara laki – lakiku awalnya juga begitu sewaktu kecil. Namun, guna meminimalisir hal tersebut, tak ada salahnya mulai melakukan langkah preventif, bukan. Padahal si Echi tuh sangat tomboy sungguh mati.
Ochil minggu ini juga baru sembuh sakit jadinya ya sangat kurus dan rambutnya juga dipotong pendek. Tak ada lagi rambut sarang burung itu HAHAHA.
Anyway, minggu ini aku juga baru saja mem-bleach rambutku menjadi pirang kecoklatan. Lagi bosan dengan warna rambutku HAHAHA Hanya ingin sesuatu yang beda sementara waktu. Bagiku, membuat rambut pirang tak ada bedanya dengan para orang tua yang mengecat hitam uban mereka ataupun mereka yang meluruskan rambut. I am not my hair, seperti katanya India.Arie.
Tampaknya catatan ini harus kututup. Sudah banyak rencana gila yang bertebaran di kepalaku. Sangat banyak. Masa hipomania? Mungkin HAHAHA.
Thanx Jesus for my life. Amen
(Manokwari, 061111)
Subscribe to:
Posts (Atom)