PROLOG
Kutempel guratan kata milik temanku di dinding kubikel meja kerja. Tiba – tiba aku merindukan Idom; lelaki hitam manisku. Tetesan kata di dinding pun mencair, berwarna merah kental. Amis. Seperti darah dan memenuhi meja kerjaku. Membuatku terhanyut. Tenggelam.
“Ah..... Seandainya bisa mengatur mimpi apa nanti malam, pasti kupilih mimpi yang ku suka.
Ah.... Andai bisa memilih ras, warna kulit dan rambut, pasti kupilih yang ku suka” (Arie May 261011)
***
Manokwari
19 Oktober 2011; 08: 00 WPB
Manokwari sedang panas hari ini. Sejak pukul 6 pagi, matahari garang membakar kota teluk di daerah Kepala Burung. Sebuah pesan muncul di layar ponsel yang terletak di meja kerjaku. Jarum jam baru saja bertengger mesra di pukul 8 pagi. Kulihat beberapa rekan kerja sedang sibuk menyeruput kopi di kubikel kerja mereka. Sesekali suara Dee; ketua jurusan berderai dalam tawa membahas kejadian lucu di pesta kerabatnya. Ia memang periang. Itu yang kutahu.
Kusesap cappuccino-ko dalam – dalam kala kubaca pesan masuk itu. Pesan dari lelakiku di ujung lain tanah ini; Jayapura alias port Numbai. Pesan singkat itu masuk di saat aku sedang ingin mendalami tulisanku tentang analisa penanganan konflik di Tanah Papua ‘Carrot Vs Stick’. Tumpukan buku karangan Chauvel, Kingsburry, King dan Drooglever sia – sia terbuka, enggan terbaca sementara waktu.
“Rhe, sa harus pergi ke lapangan hari ini. Nih hari terakhir. I wanna be the part of history, Rhe. Untuk tong pu anak kelak. Sayang ko banyak.”
Kusesap kopiku dalam – dalam. Lagi. Galau di hatiku masih belum hilang. Perasaanku sedikit tak nyaman. Demi sejarah. Iya, demi sejarah tanah ini.
***
Lautan Pasifik barat daya
Juli 2009
Liburan!!! Akhirnya liburan juga. Kebetulan seorang teman menawariku backpacking ke ibukota provinsi Papua; Jayapura. “Ada FDS, Rhe,” ujar Nay waktu itu. Iya, Festival Danau Sentani.
Nay dan aku, dua perempuan 3G ‘generasi gado – gado’ alias peranakan Papua memang tak memasukan kata ‘takut’ dalam filosofis hidup kami. Bahkan filosofi ini terinspirasi dari pendapat seorang kenalan kami ; Jimmy Kirihio yang bekerja di pusat dokumentasi bahasa Wooi di Amban sana, “Trada satu pun ombak di dunia ini yang bikin sa takut. Yang sa takut cuma tenggelam.” Itu ungkapan Jimmy dalam perjalanannya lintas laut ke kampungnya di ujung barat pulau Yapen. Itulah sebabnya edisi ‘pikul ransel bajalan’ ini kami lalui dengan menjadi penumpang kelas ekonomi di sebuah kapal putih milik perusahaan pelayaran. Minim fasilitas, kami tak peduli. Yang penting ada tempat buang hajat yang pakai ‘privasi’. Itu sudah cukup. Mumpung kerjaan sedang sedikit, mumpung lagi libur semester. Mumpung tabungan sedang bersedia ‘dikikis’. Lajang, muda dan berpenghasilan. ‘Kenapa harus takut? Takut buat …‘, itu kata hatiku selalu.
Dek luar teratas kapal sore itu penuh dengan manusia. Beberapa mama Papua berjualan di sela – sela orang yang tidur terbujur. Fenomena umum penjualan tiket ‘lambung kapasitas’ transportasi laut di tanahku. Di kejauhan, jingga menggores langit kelabu dengan berkas – berkas lembayung. Rombongan remaja usia sekolah bersenda gurau, menyemburkan ekstrak cairan kental berwarna merah darah di pinggiran kapal. Noda – noda pinang rona merekah melekat erat di lapisan besi bergaram. Nay dan aku dengan cuek berjalan dengan kaos oblong, celana pendek ¾, sandal jepit dan noken1. Tak lupa Nay sibuk menenteng kamera SLR Nikon D90-nya. Bidik sana. Bidik sini. Mengabadikan momen gerak kapal dan jingga. Atur sana. Atur sini. Maklum, sedang belajar fotografi. Aku? Tentu saja aku kebagian rezekinya. Jadi foto model dadakan HAHAHA.
Seorang lelaki hitam manis bertopi softball, jam tangan Fossil2 dan berjaket Varsity3 merapat mendekati kami di pinggir railing kapal ‘Pasti gara – gara Nay deng de pu kameranya ni’, batinku asal tebak. Rupanya benar. Lelaki hitam manis bergigi cerah ini memperkenalkan diri. Tampangnya seperti kami. ‘Lelaki 3G? Mungkin’. Ini tebakan asal.
Dua perempuan berdiri menenteng kamera di sisi starboard4. Seorang lelaki menatap kami dan bicara. Suaranya khas ‘lelaki tanah’. Berat dan seksi. Ini pendapat pribadi tentu saja.
“Jadi, mili5, kam turun dimana?” ujarnya membuka percakapan.
“Jayapura, bro. Baru bro di?” jawab Nay cuek sambil terus mengelus kameranya.
“Jayapura, juga. Kam naik dari mana jadi?” tanyanya lagi berbasa – basi.
“Manokwari. Baru bro ko?” Nay menimpali tapi tetap memegang erat kameranya.
“Sama too. Tapi sa tra lihat kam di ruang makan ‘kelas6’ sejak dari Manokwari?” jawabnya dengan pandangan menyelidik.
Spontan aku langsung tertawa keras. ‘Tertawa tarabe7’ tentu saja sambil memandang Nay yang juga kaget dengan jawaban lelaki yang kemudian kami tahu namanya Idom. Lelaki itu hanya memandang kami dengan heran. Damainya, memangnya aku dan Nay tampang penumpang ‘kelas’ ya? Pasti ini gara – gara kamera. Karena tak enak hati telah tertawa ‘ancor’, kebetulan kami di dek paling atas, kutawarkan solusi dengan wajah merah padam guna meredakan rasa malu kami. Rasa malu-ku lebih tepatnya.
“Bro, lebe bae tong pi minum kopi di cafeteria atas suda yooo. Macam berdiri talalu lama juga sa betis ‘urat’ ya. Harga mas kawin bisa turun nih.” Tawarku getir.
Ajakanku tentu saja diiyakan Nay dan Idom.
Aku ingat pembicaraan petang menjelang malam itu menjadi momen, tepatnya sejarah perjumpaanku dengan Idom. Pengeras suara ruang atas kafe terus mengumandangkan tarikan pita suara Bob Marley, “Three Little Birds”. Iya, kami bertiga seperti tiga burung kecil yang sedang mencari makna kehidupan. Ini yang kutangkap dari pembicaraan dengan Idom. Lelaki ini baru saja diterima kerja di sebuah kantor konsultan finansial di Jayapura. Ini perjalanan pertamanya ke sana. Idom, seperti juga aku dan Nay hanyalah anak – anak ‘generasi gado – gado’ yang lahir dari pasangan beda etnis. ‘Komen peranakan’ tepatnya. Aku dan Nay masih lebih beruntung; lahir besar di Manokwari walau sempat kuliah beberapa tahun di luar Papua. Idom? Walau bapaknya memang asli Papua, tapi masa kecil hingga SMPnya habis di negeri orang, bahkan masa kecilnya pernah dilaluinya di Belanda. Ia baru belajar dan mencoba mengenal Papua lebih baik kala pindah ke Sorong semasa SMA. Sayangnya, kuliahnya pun ia lanjutkan lagi di luar tanah ini.
Pembicaraan kami malam itu berlari dari isu kamera Nay, senja di atas kapal, ekonomi kerakyatan hingga masalah sosial budaya di Papua. Tak ayal, sedikit pembahasan politik menyeruak walau kadang – kadang kami berbisik – bisik dengan bahasa Inggris.
“Itu lagi, Rhe. Tong pu posisi kadang – kadang bagaimana ee. Saat tong pu rasa cinta Papua ditentukan dari tong pu penampakan. Padahal, siooo eee, bela sa dada ini, mangkali ada pulau Papua yang tacetak di dalam. Ini sapu tanah, sa cinta mati tanah ini eee” katanya di ujung percakapan. Tentu saja usai kami bertukar nomor ponsel dan alamat jejaring sosial.
Bob Marley masih sibuk menyanyi ‘Three Little Birds’nya. Pasti si operator musik ini anggota ‘Percuma’ alias ‘Perkumpulan Cucu Marley’ HAHAHA
‘Don’t worry about the thing ‘cos every little thing is gonna be alright. Singin’ don’t worry about the thing ‘cos every little thing…. This is my message to you’
***
Manokwari
19 Oktober 2011; 15: 00 WPB
Analisa resolusi konflik Papua yang kugarap mulai kelihatan jelas. Pendapat Chauvel mulai bisa bersinergi dengan pendapat Kingsbury. Sesekali kubuka lembar – lembar tebal buku Drooglever, mencoba mencari emosi para lelaki dan perempuan kulit kopi yang terekam dalam keabadian kata dan dokumen. Mencari gurat foto bayang nenek moyangku. Kubolak – balik juga buku terbitan LIPI ‘ Papua Road Map’. Sesekali kupandang foto Idom dan diriku bersama Nay kala pertama kali berjumpa di dek kapal putih 2 tahun lalu di rak kecil atas kubikel. Kami begitu kurus dan lucu. Idom begitu mirip bapaknya. Tak seperti Nay dan aku yang lebih mirip teori pencampuran Mendel. Entah turunan filial ke berapa, pembelahan fenotip, genotip atau apalah itu. Dominansi versus resistensi. Entahlah.
Cuaca masih panas di luar dan kami, para pekerja akademik, dalam ruang tanpa penyejuk udara mulai sibuk mengipasi diri. Aroma garam tak sampai mengalir ke atas gedung kami yang pongah berdiri di atas sebuah bukit kapur. Jauh di dekat punggung kawasan konservasi Gunung Meja. Sudah lebih dari dua botol air mineral botol kecil habis dalam waktu 1 jam ini.
“Bip – bip – bip”, ponselku berbunyi.
“Rhe, sa sayang ko. Jaga diri eee. Aaaaarrrggghh”, suara Idom tiba – tiba muncul dan menghilang. Lengkap dengan jeritan kesakitan.
‘Idom kenapa?’ batinku. Aku tak tahu. Tapi perasaanku tak nyaman. Kucoba menghubunginya lagi. Tak bisa masuk. Bunyi tulalit terus bergema. Beberapa menit kemudian, suara ‘tanta Vero’ bicara. Kuingat kerabat Idom yang juga pergi ke lapangan. Kuhubungi dia. Sama saja. Tak diangkat.
***
17:00 WPB
Menit merangkak naik, bergerak sangat lambat. Sejak sejam lalu aku menangis. Bingung. Kalut. Entahlah. Dee sejak tadi mencoba menenangkanku. Nay sedang berangkat penelitian ke pedalaman. Aku tak tahu. Ada rasa yang tak bisa kujelaskan sedang berkecamuk di hati. mengiris – iris logikaku. Menyayat – nyayat emosiku. Entahlah. Itulah sebabnya aku putuskan pulang lebih awal.
Idom masih belum bisa dihubungi. Tak putus akal kuhubungi seorang sahabat lama; Arie di Jayapura yang menjadi kuli tinta. Bertanya tentang situasi terkini. Ia hanya bisa bilang dalam suara lirih. “Kongres telah selesai, putusan telah ditetapkan. Keterangan Pers telah dilakukan. Tuntas. Tak ada pembubaran Paksa, kawan. Yang ada... Penyerbuan!”
Aku makin hilang akal kala potongan berita di TV Nasional cuma menampilkan running text kejadian di lapangan Zakeus itu. Sepotong – potong. Di depan TV, kulihat beberapa pejabat tinggi negara ini tersenyum jumawa di depan kamera, bicara ini – itu tentang program baru. Seorang mantan menteri kelihatan lusuh keluar dari rumah petinggi tertinggi negara berlambang burung Garuda. Tak luput, kuperhatikan seorang lelaki berkulit kopi yang juga baru dilantik sebagai menteri. Gula – gula politik? Entahlah aku tak tahu. Yang aku tahu, tak ada Idom. Tak ada berita penyerbuan kongres. Tak ada berita!
***
20:00 WPB
Mama datang ke rumahku. Rupanya ia sudah mendengar berita seputar kericuhan kongres bangsanya di Jayapura. Ori, adik lelakiku menemaninya juga. Mataku sudah bengkak sedari tadi. Idom masih belum bisa kuhubungi. Kerabatnya juga tak bisa. Hilang jejak!
Layar TV kembali lagi menampilkan berita. Kali ini sangat jelas, gamblang. Para pria ‘daun pisang kering’ dan ‘loreng’ berlari masuk menghela, menyeret beberapa lelaki kulit kopi. Lengkap dengan tendangan. Bunyi tembakan berderu – deru. Aku tersentak. Inikah wajah lain negeri ini yang enggan muncul. Tiba – tiba ponselku berbunyi; notifikasi pesan jejaring sosialku. Sambil terus sesekali memperhatikan penggalan rekaman kejadian beberapa jam lalu di lapangan Zakeus Abepura, kubaca tulisan temanku, Arie May dalam tautan catatan yang dikirimkan lewat pesan jaringan ‘buku wajah’:
“Puluhan kata-kata mereka lontarkan.
Umpatan dan makian mereka teriakkan.
Merendahkan....
mencabik-cabik harga diri....
Tetapi para lelaki tanah itu terus berjalan dengan tenang, atau berusaha tetap tenang dan tak terpancing dengan kata-kata yang begitu menistakan mereka.
“Bodok, baru minta merdeka, sekolah dulu..!” katanya.
“Merdeka-merdeka apa? Bodok!” kata yang lain.
Ribuan orang telah meninggalkan tempat. Hanya beberapa ratus orang saja yang masih berada di tempat itu.
Mereka berlari mengitari lapangan sebagai ucapan syukur karena semua acara telah selesai, atau menjalankan tugas menjaga para lelaki yang menjadi pimpinan mereka.
Ketika sebuah mobil Avansa Silver bergerak keluar arena, para serdadu menghentikannya dengan paksa. “Turun!! Yang di dalam ayo turun !"
Perintah menghentikan mobil itu direspon berbeda oleh yang lain. Tembakan beruntun meletus ke udara. Mereka segera menangkap dan memukuli para lelaki tanah.”
Pada bagian catatan ini, aku sudah tak sanggup lagi membaca lanjutannya. Rasa yang mendera di hati terjawab sudah. “Idom, ko dimana?”, jeritku sebelum pingsan.
***
Numbai
23 Oktober 2011
Kulangkahkan lagi kakiku kembali ke kota ini. Kali ini tanpa Idom. Semuanya jelas sejak beberapa hari terakhir. Idom tak pernah lagi kembali. Tak akan pernah kembali untukku. Mereka menemukan mayatnya di gunung belakang Abe. Hampir tak dapat dikenali kecuali kawat giginya yang jelas menjadi penanda.
Kupandangi jenazahnya lagi terakhir kali sebelum ia masuk ke pelukan tanah yang dicintainya. Sayangnya, mereka yang membunuhnya tak akan pernah melihat jantungnya yang kutahu pasti bercap bendera bergambar bintang di atas pulau berbentuk ‘kasuari duduk’. Lamat – lamat kuingat kembali tulisan Arie:
“Lelaki tanah berlari kocar-kacir, berusaha menyelamatkan nyawa yang hanya sebuah.
Tak ada perlawanan sedikitpun
Yang tertangkap hanya bisa pasrah,
Pukulan dan tendangan silih berganti.
Pantat senjata laras panjang, pantat pistol dihujam berkali-kali di wajah dan kepala mereka
Dari atas dua buah baracuda, mereka membidik dengan senjatanya.
senjata meletus berulang ulang.
Dor… dor… dor….. dari pistol.
Tret…. tet….. tre…. ret…dari senjata otomatis.
Bunyi desingan timah panas itu bersahut-sahutan dan berdesingan di udara. Berdesing di samping badan dan telinga para lelaki tanah.
Para serdadu bersenjata lengkap itu, seperti kesurupan.
Terus melepaskan tembakan, pukulan, tembakan
Seolah-olah sedang berada dalam pertempuran bersenjata, mereka terus melepaskan tembakan tanpa balas, meski tak seimbang, tapi terus berlanjut!”
Derai tangis mama Idom, seorang perempuan Maluku, di pemakaman menyadarkanku; keluar dari rekaman catatan Arie.
“Sa juga sayang ko, dom. Sayang ko banyak” ujarku sebelum peti turun berkalang tanah.
***
EPILOG
Manokwari
November 2011
Mataku masih sembab tapi kupaksakan diri masuk kerja. Tumpukan berkas analisa resolusi konflik Papua masih terbujur kaku di atas meja kerja. Kali ini aku tahu, aku tak butuh analisa Drooglever, Kingsburry, Chauvel atau siapapun itu. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Papua. Saat mimpi dilarang tumbuh di tanah ini hanya karena persepsi yang berbeda. Dengan satu sentuhan lembut di papan ketik, kukirimkan abstrak artikel untuk jurnal di kampus lamaku di sebuah negara benua. Judulnya tentu saja, “Kala Garuda melawan Mambruk: Analisa metode penanganan konflik Papua a la ‘Carrot Vs Stick’”
“Untuk tong pu anak kelak” ujar Idom dalam pesan SMS terakhirnya.
Iya, kesimpulannya sudah jelas, Bukan hanya ‘Carrot Vs Stick’ dalam penanganannya. Yang tepatnya ‘Gula – gula & Peluru’. Itu yang kutahu.
Sekali lagi, tulisan Arie menari di kepalaku:
“Saya mengingat dua diantaranya. Kedua lelaki tanah itu berpelukan ketika hasil ditetapkan "Apa yang kita perjuangan, anak cucu kita yang nikmati," seraya menangis dan saling berpelukkan.
Air mataku jatuh.
Apa yang salah?
Hingga hari ini, mimpi itu masih ada.
Apa salah mereka?
Bukankah mimpi itu milik semua orang ?
Atau Para lelaki dan perempuan Tanah ini bukan manusia sehingga mimpi pun harus diatur dan jika tak berkenan, wajar saja jika mereka dikejar, dipukul, ditendang, dihajar hingga babak belur bahkan putus nyawa untuk membenarkan mimpi mereka agar sesuai dengan pemilik senjata, pistol, baracuda dan palu itu ?”
Kupandangi perutku yang membuncit 6 bulan, dan berbisik lirih pada janinku, “Tra ada salahnya bermimpi, dom. Karena itu ko pu hak ‘n I’ll fight it for you just like your dad.”
Iya, nama anakku kelak ‘Idom’, seperti nama bapaknya ‘Freedom W.P.’.
(D. Meimosaki/ Manokwari, 311011; inspired by KRP III tragedy 191011. Thanx heaps untuk pinjaman catatannya kak Arie May. Dedicated for all Papuan Women who lost their beloved ones for their dream)
CATATAN:
1. Noken (Melayu Papua) Tas rajut khas Papua, terdiri atas berbagai varian tergantung dari etnis pembuatnya.
2. Fossil (Inggris) Nama merk sebuah jam tangan asal AS. Pemakainya ditengarai kalangan menengah ke atas. Setahu penulis, harganya di Indonesia minimal 800 ribu.
3. Varsity (Inggris) sejenis jaket universitas biasanya dengan warna – warna menarik.
4. Starboard (Inggris) Bagian sisi kapal yang tidak bersebelahan dengan pelabuhan (bd: portside)
5. Mili (Melayu Papua) bentuk reduksi ungkapan khas Melayu Papua untuk kata ‘famili’ yang artinya kerabat ataupun ‘saudara’ secara umum.
6. Kelas : Merujuk pada tingkatan kelas I – III alias kelas berkamar dalam layanan kapal Pelni di Papua.
7. Tertawa Tarabe (Melayu Papua) Ungkapan untuk tertawa terbahak – bahak.
Monday, 31 October 2011
Tukang Mimpi: Kalau Dayanara bikin program Kesehatan
Petang tadi, saya dan saudara lelaki saya menonton siaran ulang acara debat kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat, kami berdua memang rekan diskusi politik lokal. Kami berdua menganalisa jawaban, tertawa terpingkal – pingkal, kadang mengiyakan jawaban beberapa calon, kadang – kadang mencemooh jawaban mereka dan kadang merenung dengan fakta statistik terbaru populasi jumlah orang Papua dan non- Papua (49% & 52 %). Mulai dari isu kesehatan, pendidikan, kesetaraan jender hingga ekonomi daerah dikulik abis. Tiba – tiba saya terkesima dengan jawaban seorang kandidat yang sangat optimis ingin dikenal sebagai “gubernur pertama yang membuat kereta api pertama di tanah Papua ada”. Saya terpesona pada pertanyaan dan jawaban itu terlepas dari realistis atau tidak. Tiba – tiba saya pun terlempar dalam momen ‘tukang mimpi’ saya.
Kalau seandainya saya menang lotre bertrilyun Rupiah, menikah dengan milyarder dunia, ataupun mungkin saja bekerja sebagai pengambil kebijakan di sebuah lembaga donor internasional ataupun katakan secara sederhana punya akses uang yang tak terbatas, kira – kira saya ingin dikenang sebagai ‘siapa’ terkait program kesehatan di kota saya, Manokwari? Ini pertanyaan bagi pemimpi seperti saya, dan dalam edisi ‘Tukang Mimpi’ kali ini, saya akan membagikan mimpi – mimpi saya. Anggap saja ini hanya catatan lepas pengangguran banyak acara yang penyakitan seperti saya. Tak usah terlalu dianggap serius walau bagi saya pribadi I took it too personal HAHAHA.
PERTAMA, saya ingin membuat sebuah yayasan kesehatan yang bertugas menyediakan layanan fasilitas peminjaman mobility service seperti yang ada di Canberra dulu. Untung – untung yayasan ini bisa juga punya unit relawan kesehatan yang bersedia paruh waktu mengurusi urusan mobilitas ini semisal mengecek kebutuhan tiap orang sakit dan juga mungkin mengajari orang sakit khususnya kaum marjinal terkait perawatan dan penggunaan alat bantu gerak ini. Saya ingin layanan yayasan saya bergerak di dua bidang yaitu pengadaan alat bantu gerak permanen dan juga bagian penyewaan kruk, tongkat jalan dan alat bantu gerak lainnya. Saya rindu di Manokwari, suatu hari nanti akan seperti di Canberra dulu. Di sana, apotek – apotek (chemist) menyewakan kruk jalan dengan berbagai bentuk dan variasi tinggi. Biaya sewanya sangat murah per bulan, hanya dengan memfotokopi ID dan uang jaminan yang akan dikembalikan, maka kita sudah dapat menyewa kruk dan tongkat jalan. Bahkan di kampus saya di ANU dulu, saya bisa menyewa sejenis alat mobil mini untuk orang cacat ataupun yang punya masalah dengan organ gerak untuk mobilitas dalam kampus dengan cukup mendaftarkan diri di unit khususnya. Jadi tak perlu repot bergerak apalagi bergantung pada orang lain.
Bila suatu hari yayasan itu hadir, saya ingin menerapkan konsep yang saya lihat dan alami dengan sistem yang baik semasa tinggal di Australia dulu. Setidaknya yayasan saya harus bisa menyediakan penyewaan ataupun peminjaman gratis kruk berbahan dasar logam ringan maupun kayu untuk orang yang membutuhkan. Tak perlu banyak. Cukup 20 pasang dulu untuk langkah awal. Saya ingin jenis kruk ini yang bisa disetel tinggi – rendahnya persis seperti yang saya lihat di Australia dulu. Selain itu, saya ingin juga bisa membuat pengadaan entah untuk dijual ataupun disewakan ataupun bisa juga untuk dihibahkan untuk kaum marjinal yang tak mampu berupa tongkat jalan, setidaknya seperti yang saya miliki. Tongkat jalan dengan pegangan lengkung dari sebuah logam ringan berlandasan karet namun kuat dan bisa diatur tinggi rendahnya dan sangat fleksibel dibawa – bawa karena bisa dilepas menjadi potongan yang lebih kecil. Harganya pun hanya $40 (tahun 2009). Bila tak memungkinkan, maka saya masih bisa menyediakan tongkat jalan dari rotan yang kuat dengan harga $5 seperti yang saya lihat dulu saat membeli tongkat saya.
Pemikiran ini juga bergerak dari pengalaman melihat wajah lelaki muda yang harus berjalan dengan setonggak ‘kayu buah’ sebagai tongkat penuntun pada saat hujan deras di daerah Pasar Tingkat Sanggeng Manokwari beberapa bulan lalu. Salah satu kakinya dibungkus perban besar. Saya juga masih ingat bagaimana rupa tetangga saya yang harus berjalan dengan kruk besar dan sekarang terpincang – pincang pergi ke kantor usai tabrakan dasyat yang mematahkan beberapa ruas tulang kaki dan tempurung lututnya. Saya sendiri pun punya masalah dengan persendian dan organ gerak sejak kecil dan sampai hari ini kadang – kadang masih memakai tongkat jalan bila kondisi kesehatan sedang drop. Saya tahu rasanya bagaimana depresinya saat tidak bisa bergerak karena masalah cacat tubuh, tabrakan, dislokasi sendi ataupun sakit parah. Bagi saya, bergerak alias mobilitas adalah hak asasi manusia dan anugerah tak terkira dari Tuhan sehingga patut disyukuri.
KEDUA, setiap tahun saya akan mengadakan acara bagi – bagi kacamata baca gratis untuk anak – anak SD – SMA dari keluarga tak mampu. Demi mimpi saya ini, bila saya punya yayasan ini pada suatu masa di hidup saya, tentu saja untuk mendapatkan data murid yang punya masalah daya akomodasi perlu konsolidasi dari berbagai pihak semisal sekolah, gereja dan Masjid Lokal dan juga badan – badan lainnya. Saya tak mau muluk – muluk, setidaknya setiap tahun ada 50 tangkai kacamata baru yang saya bagikan gratis. Bila saat ini, dengan harga Rp. 300,000 kita sudah bisa mendapatkan satu tangkai kacamata baru lengkap dengan lensanya dengan kualitas baik, maka setidaknya setahun hanya untuk pengadaan kacamata ini kita hanya perlu Rp. 15.000.000,-. Yang harus dipikirkan hanyalah biaya mendatangkan dan konsultasi dokter mata dari Sorong untuk memeriksa 50 calon penerima kacamata tersebut. Tentu saja saya juga akan berpikir untuk mencarikan orang tua asuh donatur lensa untuk tiap anak jadi bila ada masalah dengan lensa mereka semisal pecah atau ukurannya harus diganti, maka anak – anak tak mampu ini tak harus terlalu pusing memikirkan biayanya.
Ah memang ini hanya mimpi saya, yet I really wish that someday there will be a program like this in my hometown. Ini semua juga terinspirasi dari kondisi saya juga yang punya masalah dengan penglihatan dan berkacamata plus pernah terkena trakom alias radang mata pada waktu kelas 5 SD dan pernah harus tinggal dalam kondisi gelap selama sebulan (sensitif pada cahaya yang lebih besar dari nyala lilin maupun pada bunyi yang lebih besar daripada suara bisikan = tak heran pada masa kini, bila stress, migrain saya kumat HAHAHA)
KETIGA, kalau saya punya akses dana yang tak terbatas, saya akan mendirikan rumah sakit anak di kota saya yang dilengkapi dengan ruang bermain sebesar areal ‘Fun Station’, satu perpustakaan anak – anak, satu restoran makanan sehat yang termasuk menunya makanan khas Papua, satu kebun anak – anak (pasien) dan juga taman bunga. Saya ingin juga di rumah sakit anak ini, ada satu areal bioskop mini untuk pasien rawat inap yang memutar film kartun ^_^.
Rumah sakit ini tentu saja punya ruang gawat darurat yang dinding – dindingnya ada kertas wallpaper maupun tempelan dinding bergambar princesses-nya Disney, ada gambar kartun semisal Winnie the pooh, gambar hewan animasi, gambar suasana bawah laut lengkap dengan ikan badut dll. Pokoknya, saya ingin saat anak – anak sakit masuk ruangan ini, mereka tidak ketakutan atau setidaknya bisa meredakan rasa sakit mereka. Sebisa mungkin, ruang UGD ini di sudut ruangan bergantungan balon – balon warna – warni dan lantainya beraroma apel, melon ataupun bubble gum HAHAHA. Kalau memungkinkan dengan pendanaannya, saya ingin ada petugas rumah sakit penyambut tamu yang berpakaian a la badut ataupun peri ataupun malaikat. Plus, ada musik lembut yang diputar di ruang ini, mungkin suara deburan ombak lembut seperti yang saya punya. Plus di waktu malam, ada lagu lullaby alias nina-bobo yang diputar lembut, tak hanya di ruang UGD tapi juga di sudut – sudut ruangan anak.
Untuk rumah sakit ini, tentu saja pasien yang kami terima adalah pasien bayi (non- neonatal alias bukan yang baru lahir ya hehehe) hingga berusia 12 tahun. Saya ingin tiap ruang anak, tiap bangsal, tiap gedung bernuansa dunia anak. Anggap saja ini sebuah ‘taman kanak – kanak penyembuhan’. Saya ingin anak – anak kecil yang masuk RS ini, saat keluar, akan mengingat bahwa mereka baru saja selesai berlibur di rumah kesembuhan. Seperti biasa, akan ada unit – unit seperti untuk penyakit dalam, ortopedi traumatologi misalnya untuk tabrakan dan kelainan sendi, unit pasien operasi dll. Bahkan, saya bermimpi unit – unit pendukungnya seperti klinik gigi, fisioterapi, X-ray, laboratoriumnya didesain seperti ruang anak lengkap dengan warna ceria.
Tentu saja saya sangat berharap para staf dan paramedis yang bekerja di rumah sakit ini sama – sama punya passion yang sama tentang anak dan rela berbagi senyum dan layanan terbaik mereka bagi para pasien anak di rumah sakit ini kelak. Selain itu, saya ingin ada satu unit konseling di rumah sakit ini, ya untuk keluarga pasien yang mungkin butuh teman cerita, ataupun konseling untuk pasien anak yang dalam kondisi kritis, berat ataupun tak tertolong. Setidaknya, menjadi sebuah tempat cerita dan berbagi beban.
Bagaimana dengan kamar jenazah di rumah sakit ini? Mmmh, saya ingin ruangannya biasa saja, dengan cat oranye muda atau mauve ataupun coklat muda dengan gambar daun – daun musim gugur. Tak ingin bergambar muram.
Satu hal yang sempat hinggap di kepala saya adalah saya ingin rumah sakit ini dilengkapi unit pengolahan limbah rumah sakit yang baik dan tentu saja ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar areal rumah sakit. Sangat berharap gedungnya dirancang anti gempa dan termasuk ‘gedung hijau’ plus satu yang pasti, saya tak ingin popok disposable dibuang sembarangan tapi langsung ke unit pengolahan HAHAHA.
Ah ini hanya mimpi seorang pemimpi seperti saya di tengah malam seperti ini. Tak perlu dianggap serius! Namanya juga mimpi. Anggap saja ini edisi ‘tukang mimpi’ HEHEHE.
Never stop dreaming!
(Manokwari, 301011; inilah kalo ‘a fislem for a fislem business)
Kalau seandainya saya menang lotre bertrilyun Rupiah, menikah dengan milyarder dunia, ataupun mungkin saja bekerja sebagai pengambil kebijakan di sebuah lembaga donor internasional ataupun katakan secara sederhana punya akses uang yang tak terbatas, kira – kira saya ingin dikenang sebagai ‘siapa’ terkait program kesehatan di kota saya, Manokwari? Ini pertanyaan bagi pemimpi seperti saya, dan dalam edisi ‘Tukang Mimpi’ kali ini, saya akan membagikan mimpi – mimpi saya. Anggap saja ini hanya catatan lepas pengangguran banyak acara yang penyakitan seperti saya. Tak usah terlalu dianggap serius walau bagi saya pribadi I took it too personal HAHAHA.
PERTAMA, saya ingin membuat sebuah yayasan kesehatan yang bertugas menyediakan layanan fasilitas peminjaman mobility service seperti yang ada di Canberra dulu. Untung – untung yayasan ini bisa juga punya unit relawan kesehatan yang bersedia paruh waktu mengurusi urusan mobilitas ini semisal mengecek kebutuhan tiap orang sakit dan juga mungkin mengajari orang sakit khususnya kaum marjinal terkait perawatan dan penggunaan alat bantu gerak ini. Saya ingin layanan yayasan saya bergerak di dua bidang yaitu pengadaan alat bantu gerak permanen dan juga bagian penyewaan kruk, tongkat jalan dan alat bantu gerak lainnya. Saya rindu di Manokwari, suatu hari nanti akan seperti di Canberra dulu. Di sana, apotek – apotek (chemist) menyewakan kruk jalan dengan berbagai bentuk dan variasi tinggi. Biaya sewanya sangat murah per bulan, hanya dengan memfotokopi ID dan uang jaminan yang akan dikembalikan, maka kita sudah dapat menyewa kruk dan tongkat jalan. Bahkan di kampus saya di ANU dulu, saya bisa menyewa sejenis alat mobil mini untuk orang cacat ataupun yang punya masalah dengan organ gerak untuk mobilitas dalam kampus dengan cukup mendaftarkan diri di unit khususnya. Jadi tak perlu repot bergerak apalagi bergantung pada orang lain.
Bila suatu hari yayasan itu hadir, saya ingin menerapkan konsep yang saya lihat dan alami dengan sistem yang baik semasa tinggal di Australia dulu. Setidaknya yayasan saya harus bisa menyediakan penyewaan ataupun peminjaman gratis kruk berbahan dasar logam ringan maupun kayu untuk orang yang membutuhkan. Tak perlu banyak. Cukup 20 pasang dulu untuk langkah awal. Saya ingin jenis kruk ini yang bisa disetel tinggi – rendahnya persis seperti yang saya lihat di Australia dulu. Selain itu, saya ingin juga bisa membuat pengadaan entah untuk dijual ataupun disewakan ataupun bisa juga untuk dihibahkan untuk kaum marjinal yang tak mampu berupa tongkat jalan, setidaknya seperti yang saya miliki. Tongkat jalan dengan pegangan lengkung dari sebuah logam ringan berlandasan karet namun kuat dan bisa diatur tinggi rendahnya dan sangat fleksibel dibawa – bawa karena bisa dilepas menjadi potongan yang lebih kecil. Harganya pun hanya $40 (tahun 2009). Bila tak memungkinkan, maka saya masih bisa menyediakan tongkat jalan dari rotan yang kuat dengan harga $5 seperti yang saya lihat dulu saat membeli tongkat saya.
Pemikiran ini juga bergerak dari pengalaman melihat wajah lelaki muda yang harus berjalan dengan setonggak ‘kayu buah’ sebagai tongkat penuntun pada saat hujan deras di daerah Pasar Tingkat Sanggeng Manokwari beberapa bulan lalu. Salah satu kakinya dibungkus perban besar. Saya juga masih ingat bagaimana rupa tetangga saya yang harus berjalan dengan kruk besar dan sekarang terpincang – pincang pergi ke kantor usai tabrakan dasyat yang mematahkan beberapa ruas tulang kaki dan tempurung lututnya. Saya sendiri pun punya masalah dengan persendian dan organ gerak sejak kecil dan sampai hari ini kadang – kadang masih memakai tongkat jalan bila kondisi kesehatan sedang drop. Saya tahu rasanya bagaimana depresinya saat tidak bisa bergerak karena masalah cacat tubuh, tabrakan, dislokasi sendi ataupun sakit parah. Bagi saya, bergerak alias mobilitas adalah hak asasi manusia dan anugerah tak terkira dari Tuhan sehingga patut disyukuri.
KEDUA, setiap tahun saya akan mengadakan acara bagi – bagi kacamata baca gratis untuk anak – anak SD – SMA dari keluarga tak mampu. Demi mimpi saya ini, bila saya punya yayasan ini pada suatu masa di hidup saya, tentu saja untuk mendapatkan data murid yang punya masalah daya akomodasi perlu konsolidasi dari berbagai pihak semisal sekolah, gereja dan Masjid Lokal dan juga badan – badan lainnya. Saya tak mau muluk – muluk, setidaknya setiap tahun ada 50 tangkai kacamata baru yang saya bagikan gratis. Bila saat ini, dengan harga Rp. 300,000 kita sudah bisa mendapatkan satu tangkai kacamata baru lengkap dengan lensanya dengan kualitas baik, maka setidaknya setahun hanya untuk pengadaan kacamata ini kita hanya perlu Rp. 15.000.000,-. Yang harus dipikirkan hanyalah biaya mendatangkan dan konsultasi dokter mata dari Sorong untuk memeriksa 50 calon penerima kacamata tersebut. Tentu saja saya juga akan berpikir untuk mencarikan orang tua asuh donatur lensa untuk tiap anak jadi bila ada masalah dengan lensa mereka semisal pecah atau ukurannya harus diganti, maka anak – anak tak mampu ini tak harus terlalu pusing memikirkan biayanya.
Ah memang ini hanya mimpi saya, yet I really wish that someday there will be a program like this in my hometown. Ini semua juga terinspirasi dari kondisi saya juga yang punya masalah dengan penglihatan dan berkacamata plus pernah terkena trakom alias radang mata pada waktu kelas 5 SD dan pernah harus tinggal dalam kondisi gelap selama sebulan (sensitif pada cahaya yang lebih besar dari nyala lilin maupun pada bunyi yang lebih besar daripada suara bisikan = tak heran pada masa kini, bila stress, migrain saya kumat HAHAHA)
KETIGA, kalau saya punya akses dana yang tak terbatas, saya akan mendirikan rumah sakit anak di kota saya yang dilengkapi dengan ruang bermain sebesar areal ‘Fun Station’, satu perpustakaan anak – anak, satu restoran makanan sehat yang termasuk menunya makanan khas Papua, satu kebun anak – anak (pasien) dan juga taman bunga. Saya ingin juga di rumah sakit anak ini, ada satu areal bioskop mini untuk pasien rawat inap yang memutar film kartun ^_^.
Rumah sakit ini tentu saja punya ruang gawat darurat yang dinding – dindingnya ada kertas wallpaper maupun tempelan dinding bergambar princesses-nya Disney, ada gambar kartun semisal Winnie the pooh, gambar hewan animasi, gambar suasana bawah laut lengkap dengan ikan badut dll. Pokoknya, saya ingin saat anak – anak sakit masuk ruangan ini, mereka tidak ketakutan atau setidaknya bisa meredakan rasa sakit mereka. Sebisa mungkin, ruang UGD ini di sudut ruangan bergantungan balon – balon warna – warni dan lantainya beraroma apel, melon ataupun bubble gum HAHAHA. Kalau memungkinkan dengan pendanaannya, saya ingin ada petugas rumah sakit penyambut tamu yang berpakaian a la badut ataupun peri ataupun malaikat. Plus, ada musik lembut yang diputar di ruang ini, mungkin suara deburan ombak lembut seperti yang saya punya. Plus di waktu malam, ada lagu lullaby alias nina-bobo yang diputar lembut, tak hanya di ruang UGD tapi juga di sudut – sudut ruangan anak.
Untuk rumah sakit ini, tentu saja pasien yang kami terima adalah pasien bayi (non- neonatal alias bukan yang baru lahir ya hehehe) hingga berusia 12 tahun. Saya ingin tiap ruang anak, tiap bangsal, tiap gedung bernuansa dunia anak. Anggap saja ini sebuah ‘taman kanak – kanak penyembuhan’. Saya ingin anak – anak kecil yang masuk RS ini, saat keluar, akan mengingat bahwa mereka baru saja selesai berlibur di rumah kesembuhan. Seperti biasa, akan ada unit – unit seperti untuk penyakit dalam, ortopedi traumatologi misalnya untuk tabrakan dan kelainan sendi, unit pasien operasi dll. Bahkan, saya bermimpi unit – unit pendukungnya seperti klinik gigi, fisioterapi, X-ray, laboratoriumnya didesain seperti ruang anak lengkap dengan warna ceria.
Tentu saja saya sangat berharap para staf dan paramedis yang bekerja di rumah sakit ini sama – sama punya passion yang sama tentang anak dan rela berbagi senyum dan layanan terbaik mereka bagi para pasien anak di rumah sakit ini kelak. Selain itu, saya ingin ada satu unit konseling di rumah sakit ini, ya untuk keluarga pasien yang mungkin butuh teman cerita, ataupun konseling untuk pasien anak yang dalam kondisi kritis, berat ataupun tak tertolong. Setidaknya, menjadi sebuah tempat cerita dan berbagi beban.
Bagaimana dengan kamar jenazah di rumah sakit ini? Mmmh, saya ingin ruangannya biasa saja, dengan cat oranye muda atau mauve ataupun coklat muda dengan gambar daun – daun musim gugur. Tak ingin bergambar muram.
Satu hal yang sempat hinggap di kepala saya adalah saya ingin rumah sakit ini dilengkapi unit pengolahan limbah rumah sakit yang baik dan tentu saja ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar areal rumah sakit. Sangat berharap gedungnya dirancang anti gempa dan termasuk ‘gedung hijau’ plus satu yang pasti, saya tak ingin popok disposable dibuang sembarangan tapi langsung ke unit pengolahan HAHAHA.
Ah ini hanya mimpi seorang pemimpi seperti saya di tengah malam seperti ini. Tak perlu dianggap serius! Namanya juga mimpi. Anggap saja ini edisi ‘tukang mimpi’ HEHEHE.
Never stop dreaming!
(Manokwari, 301011; inilah kalo ‘a fislem for a fislem business)
Another Story of Pain
Rasa sakit adalah satu indikator bahwa kita masih hidup, masih bernafas dan sesuatu yang membuat kita menjadi sangat manusiawi; sesuatu yang membuat kita bisa bersimpati dan terlebih lagi berempati. Itu yang aku pelajari hari ini. Usai lebih dari 48 jam serangan nyeri ini kembali lagi, usai pil – pil pereda nyeri dan anti-inflamasi kutelan lagi, aku sadar, tak ada pilihan lagi selain kembali terapi, bertemu ahli penyakit ini dan bergantung lagi pada obat – obatan. Padahal obat dan kombinasi rasa nyeri dua hari ini sudah cukup membuatku depresi dan alam bawah sadarku mulai kacau kembali. Tentu saja ini kuperhalus dari ungkapan, “hampir membuatku gila dan mencuri kewarasanku”.
Entahlah, apa Tuhan akan menerima orang penyakitan sepertiku bila ku mati kelak? Entahlah, tak tahu. Secara pribadi, aku hanya ingin semuanya selesai. Biar tak sakit, tak nyeri lagi. Tak sanggup lagi menjalani hari dengan rasa nyeri seperti ini.
Semalam, saat sakit mulai mendera dan benar – benar tak sanggup lagi mengumpulkan kekuatan, kukirim pesan pada beberapa teman dan bertanya alasan “kenapa manusia harus hidup dan bertahan hidup”. Hal yang sama kulakukan lagi pagi harinya, tentu saja dengan curhat pada seorang teman lelaki. Entahlah, aku hanya sedang berada di persimpangan. Bukan marah pada Tuhan, sama sekali tidak. Aku sudah berhenti marah pada Tuhan di tahun 2001 terkait dengan kondisiku. Hanya sedikit bingung dengan maunya Tuhan dalam hidupku, dengan semua kondisi kesehatanku. Hanya sedikit merasa lelah secara mental untuk hidup. Itu saja.
Entahlah, yang kutahu, semalam saat curhat dengan dua teman, di hatiku, aku disuruh membaca Yohanes 15: 1 – 17 tentang “Jesus the Real Vine”. Ada beberapa ayat yang kurasa sangat menegurku tetapi juga menguatkanku. Entahlah … hingga malam ini, yang kutahu aku ingin menangis sangat keras dan kemudian harus tetap menulis. Ingin membuat tulisan edisi “tukang mimpi” lagi.
Berikut ini adalah ayat – ayat yang sangat menguatkan dari pembacaan tersebut:
“Remain united to me, and I will remain united to you.” (V.4)
“I love you just as the Father loves me; remain in my love.” (V.9)
“I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My commandment is this: love one another, just as I love you.” (V. 11 – 12)
“And you are my friends if you do what I command you.” (V.14)
“You did not choose me; I chose you and appointed you to go and bear fruit, the kind of fruit that endures…” (V. 16)
Entahlah, yang aku tahu, my inner circle told me to:
“Jangan lengah sama keadaan sendiri…” (RK)
“Yang pastinya tetap semangat dan coba hindari hal – hal yang menyebabkan penyakit itu bisa muncul dan jangan pernah lupa pada Tuhan.” (OS)
“Alone? I’ll be with you (Mat 28: 20), Afraid? I’ll give you strength (I Pet 5: 10), Wanna cry? I’ll comfort you (2 Cor 1: 3). From a faithful friend; Jesus Christ.” (RN)
Yang aku tahu, malam ini saat mengetikan catatan ini, suara itu di dalam diriku bilang, “So people will learn that I love you through you defection, your imperfection yet I bless you abundantly no matter your body and health status is, May. You are beautiful and I love you. Aku membuat kesempurnaan dari ketidaksempurnaan.”
Ah aku ingin belajar mempercayainya, Yesus. Yet, I have to admit that it so painful. Mungkin aku harus kembali terbiasa dengan nyerinya. No worries, God. I’ll seek for orthopedist help tomorrow.
No worries, this is my journey, right. I’ll keep searching for You, God through everything I endure, through places and process I’ve been through. Teaching me to understand that it is the only ‘process’ I have to be in.
Dear Jesus, just give me some strength, please and a shoulder to cry on. Amen.
(Manokwari, 301011; painful mood)
Entahlah, apa Tuhan akan menerima orang penyakitan sepertiku bila ku mati kelak? Entahlah, tak tahu. Secara pribadi, aku hanya ingin semuanya selesai. Biar tak sakit, tak nyeri lagi. Tak sanggup lagi menjalani hari dengan rasa nyeri seperti ini.
Semalam, saat sakit mulai mendera dan benar – benar tak sanggup lagi mengumpulkan kekuatan, kukirim pesan pada beberapa teman dan bertanya alasan “kenapa manusia harus hidup dan bertahan hidup”. Hal yang sama kulakukan lagi pagi harinya, tentu saja dengan curhat pada seorang teman lelaki. Entahlah, aku hanya sedang berada di persimpangan. Bukan marah pada Tuhan, sama sekali tidak. Aku sudah berhenti marah pada Tuhan di tahun 2001 terkait dengan kondisiku. Hanya sedikit bingung dengan maunya Tuhan dalam hidupku, dengan semua kondisi kesehatanku. Hanya sedikit merasa lelah secara mental untuk hidup. Itu saja.
Entahlah, yang kutahu, semalam saat curhat dengan dua teman, di hatiku, aku disuruh membaca Yohanes 15: 1 – 17 tentang “Jesus the Real Vine”. Ada beberapa ayat yang kurasa sangat menegurku tetapi juga menguatkanku. Entahlah … hingga malam ini, yang kutahu aku ingin menangis sangat keras dan kemudian harus tetap menulis. Ingin membuat tulisan edisi “tukang mimpi” lagi.
Berikut ini adalah ayat – ayat yang sangat menguatkan dari pembacaan tersebut:
“Remain united to me, and I will remain united to you.” (V.4)
“I love you just as the Father loves me; remain in my love.” (V.9)
“I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My commandment is this: love one another, just as I love you.” (V. 11 – 12)
“And you are my friends if you do what I command you.” (V.14)
“You did not choose me; I chose you and appointed you to go and bear fruit, the kind of fruit that endures…” (V. 16)
Entahlah, yang aku tahu, my inner circle told me to:
“Jangan lengah sama keadaan sendiri…” (RK)
“Yang pastinya tetap semangat dan coba hindari hal – hal yang menyebabkan penyakit itu bisa muncul dan jangan pernah lupa pada Tuhan.” (OS)
“Alone? I’ll be with you (Mat 28: 20), Afraid? I’ll give you strength (I Pet 5: 10), Wanna cry? I’ll comfort you (2 Cor 1: 3). From a faithful friend; Jesus Christ.” (RN)
Yang aku tahu, malam ini saat mengetikan catatan ini, suara itu di dalam diriku bilang, “So people will learn that I love you through you defection, your imperfection yet I bless you abundantly no matter your body and health status is, May. You are beautiful and I love you. Aku membuat kesempurnaan dari ketidaksempurnaan.”
Ah aku ingin belajar mempercayainya, Yesus. Yet, I have to admit that it so painful. Mungkin aku harus kembali terbiasa dengan nyerinya. No worries, God. I’ll seek for orthopedist help tomorrow.
No worries, this is my journey, right. I’ll keep searching for You, God through everything I endure, through places and process I’ve been through. Teaching me to understand that it is the only ‘process’ I have to be in.
Dear Jesus, just give me some strength, please and a shoulder to cry on. Amen.
(Manokwari, 301011; painful mood)
Galau
Entahlah, apa yang kupikirkan malam ini. Ingin menuliskan rasa yang menggumpal dalam hati dengan lancar dalam urutan kata, dalam tuturan namun semuanya mentah. Entahlah. Apakah memang ada yang salah padaku bila harus begini? Rasa yang entah tak bisa kutuliskan. Entahlah. Aku tak tahu.
Malam ini hatiku terasa sangat penuh dan bahkan tak bisa fokus menulis sesuatu yang terarah. Mungkin karena seharian sudah menulis dan mengedit beberapa catatan yang terstruktur sehingga pikiranku terasa penuh. Juga terpikir kejadian alam bawah sadarku. Belum lagi sore tadi, entah angin apa yang melandaku sehingga usai mengetik pukul 3:30 sore, aku langsung ke halaman samping kamar dan menyapu, mengatur bunga – bunga dan menyiraminya. Tak lupa membakar sampah. Tiba – tiba mendapat sebuah momen kalau ternyata bagian samping kamarku yang ada pohon nangka ternyata indah bila memposisikan diriku dari sana dan memandang kamarku. Tiba – tiba ada ide membuat para – para di bawah pohon Nangka karena sangat sejuk bila siang hari yang panas.
Entahlah, tiba – tiba berpikir malam ini, mengapa manusia harus tetap hidup dan bertahan untuk hidup? Entahlah … ada perasaan aneh yang masuk di benakku dan membuatku tak bisa fokus menulis dan hanya bisa merangkai kata kosong seperti ini. Jadinya aku memilih mengirimkan pertanyaan itu pada Q, Miss Gaul dan seorang sahabat cewek. Tak peduli dianggap ‘parasit’ malam ini. Hanya ingin dapat konfirmasi tentang jawaban itu. Entahlah …
Ada beban yang membuatku terasa penuh. Sudah harus berdoa dan curhat penuh dan mungkin harus menangis, walau tak tahu apa yang harus ditangisi. Sejak setahun ini sangat jarang menangis dan mungkin itu yang membuatku tak kuat. Menangis dan juga menulis sangat membuatku lega apalagi ditambah sebuah pelukan seperti yang pernah beberapa kali diberikan Jonathan di saat – saat seperti ini.
Entahlah …. Yang aku tahu, saat ini hatiku terasa sangat penuh namun penuh yang membuatku terus bertanya. Ingin sekali malam ini keluar, bawa motor dan menuju tepi laut mendengar bunyi ombak dan bertanya pada Tuhan malam ini, “Mengapa manusia harus hidup dan bertahan hidup?”. Entahlah … tiba – tiba aku merasa sangat lelah secara mental. Aku baik – baik saja namun pertanyaan itu tiba – tiba muncul di benakku malam ini dan mengonsumsi energiku. Entahlah …
Yang aku tahu, aku tak ingin memikirkannya tetapi pertanyaan ini terus saja berlari di otakku malam ini dan membuatku tak bisa tenang. Entahlah ……..
(Manokwari, 301011; galau: mood)
Malam ini hatiku terasa sangat penuh dan bahkan tak bisa fokus menulis sesuatu yang terarah. Mungkin karena seharian sudah menulis dan mengedit beberapa catatan yang terstruktur sehingga pikiranku terasa penuh. Juga terpikir kejadian alam bawah sadarku. Belum lagi sore tadi, entah angin apa yang melandaku sehingga usai mengetik pukul 3:30 sore, aku langsung ke halaman samping kamar dan menyapu, mengatur bunga – bunga dan menyiraminya. Tak lupa membakar sampah. Tiba – tiba mendapat sebuah momen kalau ternyata bagian samping kamarku yang ada pohon nangka ternyata indah bila memposisikan diriku dari sana dan memandang kamarku. Tiba – tiba ada ide membuat para – para di bawah pohon Nangka karena sangat sejuk bila siang hari yang panas.
Entahlah, tiba – tiba berpikir malam ini, mengapa manusia harus tetap hidup dan bertahan untuk hidup? Entahlah … ada perasaan aneh yang masuk di benakku dan membuatku tak bisa fokus menulis dan hanya bisa merangkai kata kosong seperti ini. Jadinya aku memilih mengirimkan pertanyaan itu pada Q, Miss Gaul dan seorang sahabat cewek. Tak peduli dianggap ‘parasit’ malam ini. Hanya ingin dapat konfirmasi tentang jawaban itu. Entahlah …
Ada beban yang membuatku terasa penuh. Sudah harus berdoa dan curhat penuh dan mungkin harus menangis, walau tak tahu apa yang harus ditangisi. Sejak setahun ini sangat jarang menangis dan mungkin itu yang membuatku tak kuat. Menangis dan juga menulis sangat membuatku lega apalagi ditambah sebuah pelukan seperti yang pernah beberapa kali diberikan Jonathan di saat – saat seperti ini.
Entahlah …. Yang aku tahu, saat ini hatiku terasa sangat penuh namun penuh yang membuatku terus bertanya. Ingin sekali malam ini keluar, bawa motor dan menuju tepi laut mendengar bunyi ombak dan bertanya pada Tuhan malam ini, “Mengapa manusia harus hidup dan bertahan hidup?”. Entahlah … tiba – tiba aku merasa sangat lelah secara mental. Aku baik – baik saja namun pertanyaan itu tiba – tiba muncul di benakku malam ini dan mengonsumsi energiku. Entahlah …
Yang aku tahu, aku tak ingin memikirkannya tetapi pertanyaan ini terus saja berlari di otakku malam ini dan membuatku tak bisa tenang. Entahlah ……..
(Manokwari, 301011; galau: mood)
Saturday, 29 October 2011
Kisah Pasar Sanggeng bagian 1
Pasar tradisional mungkin menjadi salah satu tempat favorit saya bila berkunjung ke sebuah kota, termasuk di kota saya. Walau harus saya akui akhir – akhir ini saya bukan pengunjung tetap pasar. Namun pengalaman kemarin sore kala pergi berbelanja membuat saya tersentil untuk menulis tentang beberapa kisah kecil komoditas, pengalaman pribadi dan hubungan etnisitas penjual dan komoditas mereka di pasar yang saya kunjungi. Kali ini yang menjadi sasaran saya adalah pasar Sanggeng. Catatan saya ini tentu saja hanyalah catatan pribadi dan pengamatan saya mungkin tidak akurat karena bukanlah sebuah penelitian ilmiah HEHEHE,
Saya menikmati kunjungan saya sore hari ke pasar Sanggeng kemarin sore karena hamparan dagangan khususnya ‘barito’ (bawang, rica, tomat) di sela – sela sayuran hijau benar – benar seperti kembang musim semi karena umumnya diletakkan tertata dalam bentuk tumpukan rapi di atas permukaan tanah. Berikut ini saya coba menampilkan apa yang saya temukan kemarin sore.
Hajar aaaaaaaaahhhhhh!!!
#Pinang (Areca catechu), Sirih(Piper betle, Linn), Kapur
Komoditas ini kadang disebut juga KPS (kapur pinang sirih) ataupun ‘obat kumur mulut’ di kalangan beberapa anak muda Manokwari. Untuk jenis dagangan ini, khususnya yang kering dan dijual kiloan, umumnya dijajakan oleh para pedagang asal Buton atau Sulawesi Tenggara. Ini asal tebak dari logat bicara mereka dan penampakan fisiognomi mereka.
Untuk buah pinang segar, pedagang suku ini pun menjadi pedagang mayoritas di pasar ini. Walaupun saya juga mendapatkan beberapa pedagang asli Papua khususnya dari suku – suku pesisir (orang pantai). Namun, bila dibandingkan jumlahnya secara kasar, dapat dikatakan bahwa di pasar Sanggeng, penjual pinang dan sirih dominan dijajakan oleh pedagang non-papua. Iseng – iseng saya bertanya pada seorang penjual, rupanya penjaja pinang ini merupakan pengepul pinang atau pedagang pengumpul dari pemilik – pemilik pohon bahkan ada yang mendatangkannya dari Wasior.
Untuk kapur makan pinang (Inggris: Lime) masih didominasi oleh para pedagang asli Papua. Harganya pun lebih murah dibandingkan sirih dan pinang. Kapur sebotol air mineral ukuran kecil hanya dijual seharga Rp.5.000,-
Ada satu hal yang cukup membuat saya miris karena umumnya penjual sirih dan buah pinang segar jongkok sambil menjajakan langsung dagangannya di atas sehelai karung tepat bersebelahan dengan kubangan lumpur dan jalur pejalan kaki yang becek itu ataupun hilir mudik kendaraan bermotor di dalam areal pasar. Dibandingkan dengan penjual yang lain, jualan pedagang ini sangat rentan terkena cipratan lumpur, bahkan di hari hujan (berdasarkan pengalaman beberapa minggu lalu kala mencari pinang untuk acara ibadah). Entahlah apa yang saya pikirkan tadi sore, tapi saya trenyuh melihat situasi ini.
#Sayur Daun Labu dan buah labu
Hari ini dan juga berdasarkan pengamatan bertahun – tahun, umumnya dagangan sayur daun labu ini hanya dijajakan oleh penjual perempuan suku besar Arfak. Sore ini saya amati volume jualan sayuran ini lumayan banyak karena lebih dari 4 penjual menjualnya dalam tumpukan besar. Penasaran rasanya? Seingat saya rasanya lunak dan terasa sedikit berbulu kala ditelan. Lumayan enak bila dimasak bening maupun disantan. Jujur, saya sudah jarang mengonsumsinya karena alasan pribadi.
Alasan ini memang sedikit sentimental, dan bukan sebuah kebenaran kolektif tentu saja. Saya ingat betul semasa melakukan penelitian skripsi S1 saya dulu di Masni dan tinggal dengan keluarga saudara laki – lakinya nenek saya dari suku ini, hampir 1 minggu lebih saya hanya makan sayur ini dari makan siang hingga makan malam. Iya, tiap hari. Jadinya bila melihat sayur ini di pasar, saya langsung membayangkan kenangan makan sayur ini semasa penelitian dulu. Itulah sebabnya saya jarang mengonsumsi daun labu.
#Sayur Garnisun (daun pepaya dan daun Petatas)
Ini mungkin salah satu sayuran khas Manokwari yang umumnya didatangkan dari kampung – kampung Pantai Utara kota ini. Umumnya dijual oleh mama – mama suku besar Arfak walaupun ada juga yang dijual oleh mama - mama Papua lainnya. Saya kurang tahu mengapa disebut sayur ‘garnisun’. Apa memang ini dulu makanannya pasukan Garnizon (satu divisi tentara)? Saya tak tahu. Yang saya tahu, sayur ini setiap sore pasti ada di kota saya sejak kecil. Paling nikmat bila diiris halus dan ditumis pedis kering. Apalagi dimakan dengan ‘aske’ alias makanan hasil kebun seperti keladi, petatas dan pisang.
#Sayur Lilin
Sayur jenis ini lumayan mahal, karena seikat kecilnya berkisar dari Rp. 5.000 – 10.000 tergantung pasokan. Sayur Lilin sebenarnya adalah inti batang sejenis ilalang yang tumbuh di bantaran kali. Usai dikupas dari selubungnya, paling lezat dimasak dengan cara disantan dan dicampur cacahan ikan asar. Kadang kala, dapat juga dibakar dan dimakan dengan sambal tomat. Biasanya yang menjualnya di pasar Sanggeng adalah mama – mama suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) ataupun juga mama – mama suku besar Arfak.
Tentang sayur ini sendiri, saya cukup mengenal sayuran ini karena pengalaman semasa kecil bila diajak orang tua dan kerabat jauh pergi ke kebun di pantai Utara sana dan harus berjalan melewati hutan, lintas aliran kali Pami. Pasti kami akan memanen sayur ini di dekat sungai dengan cara menebas batang – batang tanaman itu dan mengambil pangkal batangnya yang gembung itu dan berisikan serbuk kuning. Saya lupa itu kejadian tahun berapa karena terjadi pada masa kecil saya beberapa belas tahun lalu.
#Sayur Terong, Kacang Panjang dan Sawi
Ketiga jenis sayur ini di pasar Sanggeng dijual oleh para mama asli suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat). Umumnya mereka membudidayakan ketiga jenis sayur ini secara baik. Tampilan sayurnya cukup cantik dan terawat karena setahu saya, khususnya untuk penjual sayur dari daerah Amban, biasanya tanaman mereka disemprot pestisida dan dipupuk sehingga subur. Jangan heran, harga ketiga sayur ini tidak pernah turun dari harga Rp. 5.000,-
#Taoge (kecambah)
Di pasar Sanggeng, kecambah dari kacang hijau ataupun kadang – kadang dari kedelai umumnya dijual oleh mama- mama Papua asli suku pantai (Biak atau Serui). Saat ini dijual setumpuk Rp.5000,-. Tentu saja sedikit mahal karena mereka harus membeli kacang hijau yang harganya tak lagi murah. Setahu saya, biasanya untuk mendapatkan taoge yang baik, biasanya kacang hijau direndam dengan daun pisang kering, entah bagaimana caranya. Semasa kecil, selalu saja ada penjual taoge yang tinggal di Padarni yang selalu datang meminta daun pisang kering dari halaman rumah kami untuk proses pembuatan taoge. Itu setahu saya ^_^
#Jamur Kayu (Lentinula edodes)
Untuk jamur, biasanya yang dijual di pasar adalah jamur kayu yang tumbuh antara lain di bandar ataupun batang pohon kayu Spuit (Spathodea campanulata/Tulip Afrika) yang sudah membusuk (berdasarkan pengalaman empiris memanen jamur ini semasa kecil di hutan dekat Fanindi). Biasanya dijual oleh mama – mama asli suku besar Arfak. Umumnya jamur ini dijual seharga Rp. 3.000,- per tumpuk. Bila harus memilih, saya lebih suka memilih membeli yang masih kecil ataupun kuntumnya belum besar karena lebih lunak bila dimasak. Jamur ini sangat lezat dijadikan berbagai olahan antara lain ditumis dan suwiran ikan asar. Rasanya? Yang pasti sangat khas jamur dan lezat. Bahkan saya pernah menjadikannya bahan isian dadar sayuran.
#Rebung
Tunas muda pohon bambu atau dalam bahasa Inggris disebut ‘Bamboo Sprout’ juga enak dijadikan bahan masakan ataupun isian kue seperti lumpia dan pastel. Sayuran ini biasanya dijual dalam berbagai bentuk. PERTAMA, dijual dalam bentuk irisan tipis berbentuk lingkaran ataupun setengah lingkaran, baik yang sudah direbus maupun belum direbus. Ini cara yang paling umum. Biasanya dijual seharga Rp.3.000,-. KEDUA, dijual dalam bentuk penggalan sepanjang 15 Cm dan direbus. Biasanya merupakan jenis Rebung Cina. Harganya setahu saya lebih mahal sedikit dibanding cara pertama. KETIGA, kadang dijual dalam bentuk pokok rebung alias anakan bambu muda. Sayangnya, saya belum tahu harga pasaran saat ini karena sore tadi saya tidak melihatnya.
#Kelapa Parut
Di pasar Sanggeng, umumnya penjual kelapa parut didominasi oleh pedagang asal Buton. Kelapa yang dijual harganya bergantung pada besarnya kelapa. Biasanya dari Rp. 3000 – 5.000,-. Umumnya buah kelapa didatangkan dari pulau Numfoor. Namun, dari hasil pembicaraan dengan beberapa kenalan beberapa waktu silam (terkait catatan saya yang lain: Orang Manokwari dan Batu Bertuah), tampaknya ada penurunan pengiriman kelapa ke Manokwari terkait ‘Mutiara Kelapa’ (ini sebelum tulisan saya dibuat). Saat ini memang masih ada kelapa yang didatangkan dari pulau tersebut, tetapi juga didatangkan dari pulau –pulau dan pesisir sekitar Manokwari.
Tentang penjual kelapa parut ini, selain menjual kelapa parut. Mereka juga menjual batok kelapa untuk dijadikan arang bakar ikan. Saya kurang tahu harga pasaran saat ini, tapi dulu saya pernah membelinya Rp. 10.000, sekarung penuh. Selain arang tempurung, ada lagi satu hal menarik yaitu tentang ‘tombong’ kelapa alias bakal buah yang kerap berada di dalam buah kelapa. Biasanya, penjual kelapa parut menampungnya karena diminta oleh orang – orang yang memelihara ternak babi. Namun, beberapa minggu lalu, karena ingin sekali menyantap tombong, saya pun mengutus teman lelaki saya ke tempat parutan kelapa. Rupanya bila ingin mencari tombong yang segar, maka kami harus memesannya agar dikumpulkan dan dicarikan yang bagus. Jadinya, keesokan harinya pun saya hanya mendapatkan sekitar 3 biji tombong. Gratis pula. Awalnya si penjual tombong keheranan dan terus bertanya kala teman saya mengutarakan maksud saya dan menyodorkan uang untuk tombong pesanan kami, tapi toh akhirnya mengiyakan permintaan kami tanpa banyak tanya. Resepnya? Gampang saja. Pesan saya pada teman lelaki saya, “Ade, ko bilang saja ada ko pu kaka perem lagi hamil. Ngidam ka ini. De tra akan banyak tanya.”. Padahal nih cuma mati makan tombong usai bertahun – tahun HAHAHA
#Keladi, Petatas, Kasbi dan Pisang
Umumnya didapatkan dari penjual dari kampung – kampung dari Pantai Utara Manokwari. Biasanya dijajakan oleh mama – mama asli suku besar Arfak. Setahu saya, dari pantauan belanja bapak saya hari ini, setumpuk keladi masih Rp. 10.000,- Begitu juga dengan kasbi dan petatas. Bahkan kata bapak, bila menjelang senja, harganya bisa sedikit miring karena ada mama – mama yang hendak pulang ke rumah mereka di luar kota dan tak mau dibebani dengan membawa pulang dagangan.
Hasil kebun mungkin salah satu bahan pangan yang selalu kami pantau harganya karena pengaruh mama saya yang sudah hampir setahun tak lagi mengonsumsi nasi. Tak heran, tiap hari pasti ada saja sepiring keladi rebus ataupun pisang rebus yang terhidang di atas meja. Petatas sangat jarang kami konsumsi karena kedua orang tua dan juga saya punya masalah dengan lambung jadi makanan bergas cukup kami hindari.
Tampaknya catatan pengamatan saya hari ini harus saya akhiri dulu. Masih ada beberapa item dagangan yang perlu saya tulis esok hari seperti sayur kangkung, ganemo, daun kasbi, sayur paku, dan item lainnya. Tentu saja usai ‘ekspedisi pasar’ saya berikutnya.
Anyway, ada satu pesan lingkungan yang bisa saya bagikan terkait dengan komoditas sayuran dan pangan lokal adalah dengan lebih banyak mengonsumsi pangan lokal maka kita telah secara tidak langsung menyelamatkan lingkungan. Alasannya? Karena kita memutus rantai produksi, penggunaan penyubur tanah sintetik dan transportasi yang panjang dalam pemasaran produk tersebut dan juga mengurangi jejak karbon. Ambil contoh, bila lebih banyak mengonsumsi produk pangan luar daerah seperti sayur Kol dan wortel dari Manado, hitung saja berapa kali sayuran itu diangkut berganti moda transportasi, pembungkus kemasannya, air pencucinya dan lain – lain. Artinya semakin banyak jejak karbon yang dihasilkan sebelum makanan itu tiba di piring makan kita, bukan? Saya juga bisa menjamin mayoritas sayuran di pasar tradisional Manokwari khususnya yang hasil meramu dari hutan itu ORGANIK. Ya, anggap saja ini pesan lingkungan saya dalam catatan hari ini. HEHEHE
Ayo, belanja (dengan membawa kantong belanja sendiri) !!!
(Manokwari, 291011)
Sebuah Sore di Pasar Sanggeng
Sore ini saya mengunjungi pasar Sanggeng Manokwari khususnya Pasar Sayuran. Hendak membeli ‘daun gatal’ (Laportea Indica L./ Laportea decumana (roxb.) chew?) dan juga melihat konsep penjualannya serta beberapa informasi awal yang saya perlukan demi tulisan saya di topik ‘investigasi’ berikutnya (masih dalam tahap riset pustaka). Kebetulan sudah lebih dari dua minggu cedera bahu saya masih belum sembuh juga akibat mengetik berjam – jam plus mengendarai motor berlama – lama. Demi sebuah solusi, saya pun pergi ke pasar ini. Walau harus saya akui sejak setahun ini volume kunjungan saya ke pasar menurun. Dalam sebulan, mungkin hanya 1 – 2 kali saya menginjakkan kaki untuk belanja sore di pasar ini. Anggap saja ini catatan lepas pengunjung pasar non-reguler.
Pasar Sanggeng khususnya pasar sayuran adalah salah satu pasar utama di kota saya yang beroperasi dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 malam. Merupakan bagian integral dengan kompleks pasar Tingkat Sanggeng yang menjual barang dagangan non sayuran seperti pakaian sepatu dan unit layanan lainnya seperti jasa penjahit, pengetikan dan salon. Letak Pasar sayur tentu saja di Sanggeng dan sangat strategis karena berada di pusat kota sehingga mudah dijangkau, namun masih kurang ramai dibandingkan pasar Wosi (Mustamu, 2008). Letaknya tepat di belakang deretan pasar Tingkat (pasar berupa kios, gerai pedagang pakaian, kelontong, sembako dan berbagai jenis dagangan lainnya) dan bersebelahan dengan Terminal Sanggeng yang juga menjadi terminal penghubung menuju Pantai Utara dimana banyak kampung – kampung pemasok hasil kebun dan sayur - mayur. Itu batas daratnya. Batas lautnya adalah pinggiran pantai teluk Doreri. Luasan asli areal pasar sayur berada di dalam areal pasar yang berbatasan dengan pasar tingkat.
Bila ingin mencapai pasar sayur ini, naiklah ojek ataupun taksi dan bilang saja ‘Pasar Sanggeng’ atau kalau anda orang baru, katakan saya pasar sayur Sanggeng. Anda punya tiga pilihan untuk masuk ke dalam areal pasar ini: dari jalan masuk lewat ‘kali konto’ (dari ruas jalan Jenderal Sudirman), dari arah pasar Ikan, ataupun dari arah samping terminal Sanggeng. Apapun jalan masuk yang anda pilih, saya menjamin anda akan berhadapan dengan hiruk pikuk penjual – pengunjung khususnya sore hari. Apalagi tak dapat disangkal, sore hari menjadi saat tepat untuk berbelanja karena adanya variasi barang jualan dibandingkan pada pagi atau siang hari dan harga barang dagangan yang lebih murah. Hal ini karena beberapa faktor, antara lain karena jam berjualan yang terbatas, khususnya bagi penjual yang hendak pulang ke luar kota sehingga mereka mengharapkan barang dagangan mereka cepat terjual sebelum gelap. Selain itu, karena sore hari adanya kecenderungan banyaknya penjual yang menjual barang dagangan yang sama sehingga kompetisi membuat adanya harga dan variasi tambahan barang dagangan (bonus) yang lebih baik. Intinya, tak seorangpun mau bertahan hingga gelap demi barang jualan. Toh tak bisa disangkal, pencahayaan di tempat ini lumayan buruk. Belum lagi ditambah bila hari hujan sehingga areal jualan tak lebih dari kubangan lumpur.
Meskipun pasar ini terletak di tengah kota, ada saja masalah yang menghinggapi para penjual, salah satunya adalah keterbatasan tempat penjualan semisal meja jual yang layak. Iya, karena ketersediaan areal jualan yang beratap seng itu terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah penjual yang melebihi kapasitas tempat jualan, maka banyak juga penjual yang terpaksa menjajakan jualan mereka dengan hanya beralaskan belahan karung plastik dan juga perlak ataupun karpet plastik. Hal ini umumnya dijumpai di pinggiran ruas jalan alias di pelataran parkir deretan rumah makan ‘Kentaki’ (Kentara Kaki); sejenis rumah makan penjual nasi campur dan juga dari jalan masuk samping terminal. Banyaknya penjual yang jongkok, menggunakan kursi pendek (dingklik; bahasa Jawa) dan menghamparkan dagangan mereka langsung di atas tanah atau pelataran parkir juga disebabkan faktor al. karena adanya penjual musiman yang kadang berjualan tergantung dari hasil kebun mereka sehingga jumlah dan kepadatan penjual di pasar ini cukup fluktuatif saat hendak didata guna masukan pembangunan pasar.
Selain itu, masih ada masalah lain yang timbul saat hujan. Pasar Sanggeng tak mempunyai tempat yang layak untuk para penjual walaupun penjual dalam los pasar yang beratap maupun yang di pinggiran jalan ataupun yang menghamparkan dagangan, semuanya membayar retribusi harian yang sama. Jadinya bila turun hujan di areal pasar, maka muncul banyak comberan dan lumpur khususnya di areal depan kentaki. Tak heran, banyak mama – mama Papua khususnya yang dari Pantura yang tak mendapat tempat di areal yang beratap seng yang terpaksa menghamparkan dagangan mereka di sela – sela jalan yang berlumpur ataupun membajak parkiran semen depan warung. Tak heran, ada beberapa mama yang berinisitif menyemen sendiri lahan parkiran agar dapat tetap berjualan. Bahkan bila melhat ujung deretan penjual ikan ‘asar’ n dan juga penjual sayur yang dekat jembatan ‘Kali Konto’ kadang harus menjajakan ikan dagangan mereka hanya sekian meter dari kontainer sampah pasar yang menggunung. Saya sering trenyuh melihat bagaimana perhatian pemerintah atas masalah ini. Bahkan secara pribadi, saya masih bisa bilang areal pasar mama Papua di depan Supermarket Gelael di pusat kota Jayapura masih lebih baik daripada areal lahan di pasar Sanggeng Manokwari. Apalagi kota Manokwari mempunyai curah hujan yang cukup tinggi.
Sore tadi saya berbelanja beberapa barang dagangan selain ‘daun gatal’ yang dijual setumpuk Rp. 3.000. Saya juga melihat melimpahnya satu item barang dagangan yang menurut saya ‘jarang – jarang jatuh harga’ seperti sore ini; kerang atau dalam Melayu Papua disebut ‘bia’. Apa lagi sore ini satu jenis kerang disebut ‘bia kodok’ alias ‘bia licin’ (Corbiculidae Batissa violacea) sedang bertaburan dijajakan. Iya, kerang setumpuk besar ini dijual seharga Rp. 10.000,- berisi sekitar 17 – 20 biji. Selain itu dijual juga kerang jenis lain dengan harga sama; ‘Bia kulit Tipis’. Tak ayal saya memborong masing – masing bia setumpuk besar. Bila ‘bia kodok’ didapatkan dari distrik Masni (saat saya iseng bertanya pada penjualnya) dan diambil dari kali dengan cara ‘molo’ (menyelam), maka bia kulit tipis sedikit berbeda. Penjualnya yang saya taksir berusia 20an tahun dengan entengnya menjawab bahwa bia ini diperoleh dari pulau Numfoor. “Kaka, tong ambil dari dalam lolaro, dari dalam pecek, jadi tong cari.” ‘Lolaro’ adalah nama lain dari hutan bakau (Manggrove) ataupun’manggewa’ dalam leksem Melayu Papua lainnya. Sore tadi, seingat saya ada sekitar 5 penjual bia kodok dan bia kulit tipis. Sebenarnya bila disuruh memilih, saya lebih suka bila bia – bia ini sudah direbus, seperti sejenis kerang laut yang kadang – kadang dijual dalam bentuk rebusan. Bukannya apa, jadi lebih banyak ka ini dan tra repot lagi untuk olah HAHAHA.
Saya juga masih sempat membeli beberapa potong sagu gula kelapa bercampur gula merah, anggap saja ‘sagu karamel’ dan juga beberapa potong ‘ambal’ alias ‘sagu kasbi’ yang dicampur gula merah; ambal karamel. Hidangan ini tentu saja untuk menemani saya minum teh kala mengetik seperti sekarang ini. Sagu kelapa maupun ambal gula merah ini dipanggang dengan cetakan sagu forno dan dijual per tiga keping seharga Rp. 5.000,- Jangan tanya bagaimana hidangan seperti ini menghilang dengan cepat dari atas meja makan, dilahap keluarga saya yang memang sejak tahun ini program ‘konsumsi hasil kebun’ meningkat tajam. Saya saja hanya kebagian satu potong. Iya, sejak mama saya positif diabetes, ada ‘revolusi pangan’ di rumah saya HAHAHA.
Anyway, urusan pasar Sanggeng ternyata pernah diteliti beberapa mahasiswa UNIPA dan salah satunya seperti yang saya tampilkan di bawah ini. Ini kesimpulan dari penelitian Skripsi Astrid Grace Mustamu (2008), seorang alumni Fakultas Biologi FMIPA UNIPA yang menulis dari segi pemanfaatan etnobotani “Kajian tumbuhan yang dijual di pasar Borobudur, Sanggeng, dan Wosi di kota Manokwari”. Ada dua kesimpulan penting yang bisa saya dapatkan yaitu:
#Terkait jumlah pedagang
Dalam penelitiannya selama sebulan di pasar Sanggeng, Mustamu mencatat dari 140 pedagang yang ia teliti, pedagang Papua terdiri atas 107 orang, dan non-Papua sebanyak 33 orang. Perlu diingat bahwa jumlah pedagang Papua umumnya berfluktuatif karena tidak setiap hari berjualan; tergantung dari hasil meramu di hutan dan kebun. Dari jumlah ini terbagi lagi menjadi 73,75% sebagai petani pedagang alias mereka yang menanam sendiri hasil dagangan atau meramu hasil hutan dan kemudian menjualnya sendiri. Umumnya didominasi oleh pedagang asli Papua. Lalu ada juga petani pedagang/pedagang pengumpul yaitu mereka yang dagangannya sebagian dari hasil kebun plus dari membeli di pasar sentral Wosi dan menjualnya kembali. Sisanya ada 26,24 % yang rata – rata didominasi oleh pedagang etnis non-Papua sebagai pedagang pengumpul dan mereka adalah pedagang tetap. Dapat dikatakan, di Pasar Sanggeng, jumlah petani pedagang lebih banyak dibandingkan di Pasar Borobudur namun lebih sedikit dibandingkan di Pasar Sentral Wosi.
#Terkait Komoditas Dagangan
Mustamu mencatat bahwa komoditas dagangan yang dijual umumnya di tiga pasar di kota Manokwari termasuk pasar Sanggeng adalah sayur – sayuran, buah – buahan, umbi – umbian, tumbuhan obat, bumbu, biji – bijian dan kacang – kacangan. Dalam penelitiannya, Mustamu menyimpulkan bahwa komoditas terbanyak yang dijual adalah komoditas ‘daun – daunan’. Ia juga menambahkan bahwa yang biasanya dijual oleh etnis Papua adalah tumbuhan yang tidak membutuhkan perawatan intensif seperti daun katuk, daun pepaya, bunga pepaya, daun singkong, hasil kebun (umbi – umbian) serta beberapa tumbuhan obat seperti ‘daun gatal’. Asal komoditas ini umumnya berasal dari amban, pantura, mandopi, asai dan juga beberapa daerah sekitar Manokwari seperti distrik anggi, oransbari, ransiki, prafi, dan distrik Manokwari timur. Hal ini cukup berbeda untuk para pedagang non-Papua yang utamanya bekerja sebagai pedagang pengumpul. Komoditas dagangan mereka umumnya komoditas baik sayuran maupun biji – bijian serta bahan bumbu yang membutuhkan perawatan intensif dan dijual dalam hitungan ‘kiloan’ serta yang membutuhkan modal besar karena berasal dari luar daerah seperti dari Nabire, Manado dan Surabaya. Yang mereka jual antara lain bawang, kentang, kol, wortel, biji - bijian, kacang - kacangan, kacang tanah, bumbu, rempah – rempah (ketumbar, kemiri, kayu manis dll).
Tampaknya catatan saya tentang pasar Sanggeng harus saya akhiri dulu.
Saatnya mengonsumsi bia kodok yang tadi saya masak a la kuah asam. Hajar ahhhhh!!!
(Manokwari, 271011; wisata belanja ternyata mengasyikan juga hehehe)
Kenangan Kepiting
Malam ini usai menggosok tubuh dengan ‘daun gatal’ (Laportea Indica), sambil menyesap secangkir kopi Toraja asli, sambil mendengar lagu – lagu yang saya baru saya unduh beberapa jam lalu karena sedang tergila – gila dengan lagu – lagu ini beberapa hari terakhir (Matthew Morisson’s Summer Rain, Amos Lee’s Color, Ace of Base’s Life is a flower, James Blunt’s You Are Beautiful, Jill Scott’s Lady ( feat.Erykah Badu n India.Arie) dan tentu saja Boyz II Men’s Perfect Love Song), saya pun teringat perjumpaan dan kenangan lepas saya dengan sejenis hewan laut yang lezat; kepiting. Apalagi beberapa jam lalu, saya baru saja selesai ‘mengeksekusi’ seekor kepiting di rumah sahabat saya; Mimi.
Catatan ini tentu saja tak membahas kepiting sebagai hewan tapi lebih pada kenangan saya yang menyeruak keluar. Hanya sebuah catatan lepas. Percayalah! Tapi membuat saya bahagia kala mendengar nama hewan ini yang tentu saja sudah disajikan sebagai makanan. Satu makanan yang bisa saya daulat sebagai makanan kebangsaannya Maya.
Kepiting atau ‘karaka’ dalam Melayu Papua adalah salah satu hewan yang sangat lezat bila berubah menjadi hidangan. Ya, karena kalau dalam keadaan hidup, saya percaya tak semua orang lihai mengendalikan mereka apalagi hanya sekedar untuk ‘dijawil – jawil’. Salah – salah malah kena jepit capitnya. Itulah sebabnya saya salut pada perempuan – perempuan Papua khususnya mama – mama yang lihai mengendalikan hewan ini di lolaro ka manggewa sana. Saya punya banyak kenangan terkait hewan bercapit yang masuk famili Crustacean ini. Semuanya dimulai dari masa kecil saya, ya semasa SD dahulu, awal tahun 1990an. Seingat saya itulah pertama kali saya makan kepiting dan saat itu, saya percaya itulah salah satu kepiting terbesar yang saya makan. Kiriman seorang teman kecil bapak sewaktu dulu jadi anak asrama Brimob di Abepura. Waktu itu, seingat saya oom saya itu; oom Mawardi yang juga polisi bertugas di polsek Babo. Ia kadang – kadang mengirimkan kepiting dalam karton. Selalu 3 ekor dan besar – besar kepitingnya. Rupanya ia mengabsen jumlah anak dalam keluarga kami. Seingat saya, sebelum menikah, bila berlibur ke kota kami, ia pasti menginap di rumah. Jadinya, semasa kecil, saya selalu mengasosiasikan oom saya ini dengan kepiting dan kondisi ‘makmur’. Pasti selalu saja ada traktiran dan acara makan kepiting. Itu pertama kalinya saya terkena ‘rayuan’ kelezatan kepiting dan sampai saat ini, tak pernah bosan mengonsumsi hewan ini.
Cukup lama saya tak makan kepiting yang besar dan menggiurkan dengan capit – capitnya yang menyembunyikan daging putih empuk itu. Sewaktu SMA dan tinggal di Jayapura, yang sering saya dan keluarga Pak’de santap hanyalah kepiting berukuran sedang yang dibeli di pasar. Selalu dimasak kuah kuning ataupun kari. Tak lebih dan tak ada pengalaman yang cukup berkesan.
Kenangan tentang kepiting pun berubah sewaktu pertengahan tahun 2006 dan saya harus ikut menghadiri pernikahan sepupu dekat di Waropen, khususnya di daerah Urei Faisei (Urfas)yang terdiri dari empat kampung (Mambui, Paradoi, Nubuai, Sanggei). Saya ingat selama kurang dari seminggu kami tinggal di beberapa rumah yang berbeda, berpindah – pindah dari Nubuai, Paradoi dan Sanggei. Namun, satu hal yang tak berubah adalah saya dan rombongan keluarga dari Manokwari plus keluarga besar sepupu kandung saya dari pihak mama selalu dijamin makanan khas ‘tana pecek’. Apalagi kalau bukan Kepiting, Kerang dan saudara – saudaranya. Dari bangun pagi hingga mau tidur, masih saja makanan seafood itu terus mengisi lambung. Saya tak bisa melupakan pengalaman makan saya di sana, apalagi ini merayakan pernikahan sepupu saya.
Hingga kini, saya masih ingat salah satu pengalaman makan kepiting yang belum bisa saya lupakan. Saat itu, saya pagi – pagi bangun dan berjalan menyusuri pantai di Sanggei dan melihat cahaya mentari menjilat pantai pasir hitam, pulangnya saya dan keluarga disambut seloyang besar Papeda dan kami menyantapnya bukan dengan ikan kuah kuning. Guess what? Kami bahkan tidak disajikan piring. Yang ada hanya ‘gata – gata; sejenis sumpit dari lidi sagu yang ditekuk, seloyang kepiting yang ditumpuk dalam kuah asam dan tentu saja piring kecil penampung cangkang bekas. Saya ingat betul bagaimana saya diajar oleh keluarga Ramandei (kerabatnya seorang sepupu dekat saya) untuk memecahkan capit kepiting yang keras dengan memukulkan punggung sendok berulang kali ke capit, bagaimana membuka cangkang belakang kepiting dan memutar gumpalan papeda dan dipindahkan ke dalam cangkang kepiting. Ya seperti ‘colo’ papeda langsung ke dalam kepiting. Tak ada piring, saudara - saudara. Pengalaman yang benar – benar mengharukan khususnya bila mengenang seafood yang bertaburan. Tiba – tiba teringat Waropen *hiks. I’ll be back someday. Apalagi tempat ini sudah tak asing sejak masa remaja saya karena saudara laki - laki mama memang menikah dengan perempuan Ambon - Waropen dan oom saya sempat 10 tahun menjabat jadi camat di Waropen (waktu itu di Waropen Atas dan Waropen Bawah). Belum lagi beberapa sepupu yang menikah dengan orang Waropen jadi setidaknya ada keluarga di sana. Jadi, ya demi kepiting, mungkin saya akan kembali HEHEHE.
Pengalaman makan kepiting di Waropen mungkin adalah pengalaman elegan saya. Tapi, ternyata di tahun yang sama, beberapa bulan kemudian, ada lagi pengalaman – pengalaman lucu yang terjadi sampai – sampai saya dan seorang sahabat perempuan saya; Mia Ondy dijuluki ‘Muka Kepiting’ saking bernafsunya melihat hidangan laut ini. Mau tahu ceritanya? Let me tell you.
Saat itu sekitar bulan Oktober 2006, saya, Mia dan beberapa teman dari Manokwari diminta menjadi relawan sebuah LSM Kampanye lingkungan internasional yang bermarkas di Amsterdam. Nah proyeknya saat itu adalah latihan pemetaan digital berbasis GIS dan inventarisasi hutan. Selama seminggu kami harus tinggal di sebuah kampung di pedalaman Sorong Selatan yang tak ada listriknya dan tak ada sinyal telepon waktu itu, bahkan untuk menempuhnya kami harus naik speedboat kecepatan tinggi selama 3 jam dan jalan kaki melewati hutan lebat selama 2 jam. Nama kampung itu Manggroholo di distrik Seremuk. Kampung ini dikelilingi rawa – rawa nipah dan masih banyak buaya yang berkeliaran kadang – kadang. Waktu itu tentu saja otak petualangan saya masih 100% full apalagi sedang stress dengan rancangan skripsi saya yang masih berputar – putar untuk orang bipolar seperti saya yang sangat sulit memusatkan pikiran dan sempat break hampir dua bulan menghindari dosen pembimbing HAHAHA. Anyway, di kampung ini ternyata true color-nya saya dan Mia keluar tanpa dibendung. Apalagi kalo bukan passion kami pada daging kepiting.
Selama di kampung ini, kami nginap di rumah bapak kepala kampung. Yang tinggal bersama tuan rumah ada 6 orang. Ada Bang Bus dan Bani si cowok Filipina, keduanya dari LSM sponsor. Bas Bus ini seniornya kami anak –anak relawan. Kemudian, ada kak Yola, Mia, kak Doris dan saya. Kami semua ditempatkan sekamar yang pintu depannya ‘lurus pintu’ dengan ruang makan. Saya ingat pagi itu, mama kepala kampung sedang memasak masakan yang sangat harum, saya dan Mia sudah bangun tapi masih tetap di kamar. Bang Bus dan Bani sedang duduk mengetik dan mencatat di ruang tamu. Kak Yola dan kak Doris masih tidur. Ternyata, bang Bus Cs ditawari sarapan oleh mama kampung. Tapi karena sibuk, mereka menolak dengan halus. Karena tak enak ditawari terus, bang Bus berinisiatif menawari saya dan Mia di dalam kamar yang tiba – tiba keluar. Apalagi saat itu, saya dan Mia memang ‘anak bawang’ dalam rombongan. Saya dan Mia langsung mengecek menu yang tersaji gembira di atas meja. Seloyang besar kepiting ukuran sedang yang mengepul panas.
Kami berdua hanya bisa memandang kepiting dengan pandangan tak percaya. Bukannya apa, sudah beberapa hari ini kami hanya makan ikan sarden, supermi, ikan rawa dan tentu saja daging lau – lau serta pisang rebus. Bang Bus terus menawari kami untuk makan, dan tampaknya ia mulai tak sabar karna ia sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya. Saya ingat betul Mia dan saya sampai bertanya ‘Benar ka abang, tra rugi ka tawari tong, bukannya abang kam yang ditawari baru, masa tong yang muda – muda makan lambung kam yang tua – tua tuh.’ Ini tentu saja respon alamiah kami. Karena terus didesak, akhirnya kami setuju. Guess what? Mereka salah menawari Mia dan saya untuk makan duluan, apalagi hidangannya hanya Kepiting dan nasi. Salah banget HAHAHA. Tak sampai 20 menit, setengah loyang kepiting sudah berpindah ke perut kami. Apalagi masih pagi dan energi makan kami sangat kalap, mengingat beberapa hari ini kami selalu latihan pemetaan dan inventarisasi menyusuri hutan jadi energi banyak yang terkuras untuk pekerjaan fisik. Alamak, saat bang Bus dan Bani datang bergabung sekitar 25 – 30 menit kemudian, saya dan Mia dengan pandangan tak berdosa bisa melihat ekspresi kaget bang Bus HAHAHA. Sorry bang, itu refleks alami melihat ‘hidangan surga’!!! *alasan membenarkan ‘kerakusan’ HAHAHA. Walaupun setelah itu kami tertawa – tawa melihat ulah Bani dengan capit kepiting dan parodi ‘Mr.Crab’nya.
Lewat beberapa hari, refleks ‘rakus kepiting’ kumat lagi tanpa bisa dikontrol dan ini benar – benar refleks alami HAHAHA. Ceritanya, di sela – sela acara pemaparan pemetaan dan teknik digitasi segala macam yang dilaksanakan di dalam gedung gereja (satu – satunya gedung permanen saat itu), selalu saja ada istirahat makan siang. Nah saat itu, menu yang disajikan seperti biasa; ikan rawa, daging lau – lau, sayur – sayur dari kebun warga, nasi, hasil kebun dan tentu saja indomie. Saya ingat benar Mia dan saya termasuk urutan awal yang menimba makanan karena selesai makan kadang kami membantu mencuci piring. Kami sedang asyik makan di depan antrian ‘penimba makanan’ yang panjang karena saat itu para pesertanya utusan dari kampung Werianggi di Wondama sana, kampung Irires dari Kaimana dan juga teman – teman pekerja LSM dari Sorong plus masyarakat kampung peserta pelatihan. Nah, sedang asyik menguyah makanan, tiba – tiba seorang mama kampung datang dengan semangkuk makanan panas bersantan dan menyajikannya di atas meja, dan seorang teman yang antri makanan refleks bilang “Wow, ada kepiting!”.
OMG, radar kepiting langsung menyala. Saya lupa bagaimana tepatnya, yang saya tahu, Mia dan saya refleks sudah menerobos antrian dan berdiri tepat di depan orang pertama yang hendak menciduk makanan, lengkap dengan piring kami. Tak menghitung detik, beberapa ekor kepiting lolos ke piring kami dan kami langsung duduk manis kembali ke tempat kami dengan pandangan tak berdosa. Benar – benar lupa ingatan dengan ‘muka rakus’ kami. Kami baru sadar sekian menit kala melihat bagaimana orang – orang yang antri yang mayoritasnya laki – laki melihat kami dengan pandangan ‘ajaib’. Tak heran label ‘muka rakus kepiting’ langsung kami dapuk saat itu. Makanya saat kembali ke Sorong, teman – teman di LSM lokal yang menjadi penyelenggara lokal pelatihan tak tanggung – tanggung menyajikan kepiting saus asam manis di markas besar mereka, spesial untuk kami tentu saja HAHAHA.
Setahun kemudian, masih saja ada kenangan kepiting yang hinggap. Ceritanya di akhir Januari 2007. Saya sedang giat – giatnya menyelesaikan skripsi karena harus wisuda di akhir Februari. Tahu kan bagaimana gilanya di momen akhir seperti itu. Mana saat itu saya tinggal di kos karena mencari ketenangan padahal saya tinggal di Fanindi ST yang jarak dari rumah ke kampus hanya 5 - 7 menit naik motor (mengingat kecepatan balap saya waktu di masa silam). Saat itu, semua anggota keluarga sedang mudik ke Jawa; liburan sekalian menghadiri wisuda pascasarjana kakak saya di UGM Jogja. Sedang sibuk – sibuknya merevisi skripsi dan mengendalikan fokus dan mood eee adik lelaki saya berulang kali menelpon, “May, ko turun dulu ke rumah tempo, ini darurat. Cepat eeee. Plis”. Wah suaranya sudah memohon – mohon di ujung sana. Saya langsung khawatir, apalagi saat itu pacar adik saya sedang hamil 5 bulan dan hanya mereka berdua yang menjaga rumah. Tak tunggu lama, saya pun langsung tancap gas dengan motor F1ZR ber-velg kuning contreng lengkap dengan helm balap saya yang kalau dilihat dari jauh seperti kepala korek api. Alamak! Tiba di rumah, saya sudah membayangkan adanya tragedi atau kecelakaan yang menimpa mereka. Tebak apa yang diminta tolong adik saya? Iya, ia hanya meminta saya memasukan beberapa kepiting hidup ke dalam air mendidih karena ia percaya selama masa kehamilan pacarnya, ia tak boleh sekalipun menyakiti ataupun membunuh hewan apapun, termasuk kepiting yang hendak mereka santap. Sialnya, saya malah tak dibagi saat itu HAHAHA. Demi keponakan, apa sih yang tidak saya lakukan. HAHAHA.
Kepiting juga masih menjadi salah satu menu andalan saya sewaktu masa kuliah S2 di Canberra dulu. Bila terasa suntuk, saya pasti pergi ke supermarket dan mencari daging kepiting kalengan ataupun segar yang sudah dicampur dengan seafood lainnya dan dimasak rupa – rupa. Tentu saja dengan mengandalkan resep instan ‘buka internet browsing ka ini’. Rasanya? Yang penting bisa dimakan dan membantu saya tetap bertahan hidup HAHAHA. Walau saya pernah akui tertipu dengan satu produk daging kepiting produksi Thailand apa Vietnam yang saya beli di sebuah toko di Asian Stores. Yang ada, saya sampai mau muntah usai membuka kalengnya. Iya, saya tak tahan melihat dan membaui aroma daging kepiting yang dicampur saos kedelai dan tumbukan kacang tanah dan sangat berminyak. *Phew. Rugi dollar, man!
Anyway, satu yang pasti, saya tak akan pernah lelah dan menyerah makan daging kepiting. Saya pikir Tuhan cukup adil dengan hidup saya terkait makan, karena ia tahu saya kadang punya masalah dengan daging merah dan juga ikan. Ya kalau bukan alergi pasti semacam ‘tegang leher’ jadinya kepiting, udang dan kerang menjadi solusi yang indah. Sayangnya, mahal ya di Manokwari *hiks.
Saya berharap, bila memang satu hari nanti pesawat yang tumpangi harus jatuh ataupun saya harus tersesat di hutan atau pedalaman mana di tanah ini, ijinkan saya ‘nyasar’ di kampung yang mempunyai akses melimpah dengan hidangan ini. Hanya tak bisa hidup tanpanya.
Nothing can beat the taste of ‘karaka’. Yes, it’s true and saya sudah membuktikannya! HEHEHE *
Hidup (daging) Kepiting!
(Manokwari, 291011)
Catatan ini tentu saja tak membahas kepiting sebagai hewan tapi lebih pada kenangan saya yang menyeruak keluar. Hanya sebuah catatan lepas. Percayalah! Tapi membuat saya bahagia kala mendengar nama hewan ini yang tentu saja sudah disajikan sebagai makanan. Satu makanan yang bisa saya daulat sebagai makanan kebangsaannya Maya.
Kepiting atau ‘karaka’ dalam Melayu Papua adalah salah satu hewan yang sangat lezat bila berubah menjadi hidangan. Ya, karena kalau dalam keadaan hidup, saya percaya tak semua orang lihai mengendalikan mereka apalagi hanya sekedar untuk ‘dijawil – jawil’. Salah – salah malah kena jepit capitnya. Itulah sebabnya saya salut pada perempuan – perempuan Papua khususnya mama – mama yang lihai mengendalikan hewan ini di lolaro ka manggewa sana. Saya punya banyak kenangan terkait hewan bercapit yang masuk famili Crustacean ini. Semuanya dimulai dari masa kecil saya, ya semasa SD dahulu, awal tahun 1990an. Seingat saya itulah pertama kali saya makan kepiting dan saat itu, saya percaya itulah salah satu kepiting terbesar yang saya makan. Kiriman seorang teman kecil bapak sewaktu dulu jadi anak asrama Brimob di Abepura. Waktu itu, seingat saya oom saya itu; oom Mawardi yang juga polisi bertugas di polsek Babo. Ia kadang – kadang mengirimkan kepiting dalam karton. Selalu 3 ekor dan besar – besar kepitingnya. Rupanya ia mengabsen jumlah anak dalam keluarga kami. Seingat saya, sebelum menikah, bila berlibur ke kota kami, ia pasti menginap di rumah. Jadinya, semasa kecil, saya selalu mengasosiasikan oom saya ini dengan kepiting dan kondisi ‘makmur’. Pasti selalu saja ada traktiran dan acara makan kepiting. Itu pertama kalinya saya terkena ‘rayuan’ kelezatan kepiting dan sampai saat ini, tak pernah bosan mengonsumsi hewan ini.
Cukup lama saya tak makan kepiting yang besar dan menggiurkan dengan capit – capitnya yang menyembunyikan daging putih empuk itu. Sewaktu SMA dan tinggal di Jayapura, yang sering saya dan keluarga Pak’de santap hanyalah kepiting berukuran sedang yang dibeli di pasar. Selalu dimasak kuah kuning ataupun kari. Tak lebih dan tak ada pengalaman yang cukup berkesan.
Kenangan tentang kepiting pun berubah sewaktu pertengahan tahun 2006 dan saya harus ikut menghadiri pernikahan sepupu dekat di Waropen, khususnya di daerah Urei Faisei (Urfas)yang terdiri dari empat kampung (Mambui, Paradoi, Nubuai, Sanggei). Saya ingat selama kurang dari seminggu kami tinggal di beberapa rumah yang berbeda, berpindah – pindah dari Nubuai, Paradoi dan Sanggei. Namun, satu hal yang tak berubah adalah saya dan rombongan keluarga dari Manokwari plus keluarga besar sepupu kandung saya dari pihak mama selalu dijamin makanan khas ‘tana pecek’. Apalagi kalau bukan Kepiting, Kerang dan saudara – saudaranya. Dari bangun pagi hingga mau tidur, masih saja makanan seafood itu terus mengisi lambung. Saya tak bisa melupakan pengalaman makan saya di sana, apalagi ini merayakan pernikahan sepupu saya.
Hingga kini, saya masih ingat salah satu pengalaman makan kepiting yang belum bisa saya lupakan. Saat itu, saya pagi – pagi bangun dan berjalan menyusuri pantai di Sanggei dan melihat cahaya mentari menjilat pantai pasir hitam, pulangnya saya dan keluarga disambut seloyang besar Papeda dan kami menyantapnya bukan dengan ikan kuah kuning. Guess what? Kami bahkan tidak disajikan piring. Yang ada hanya ‘gata – gata; sejenis sumpit dari lidi sagu yang ditekuk, seloyang kepiting yang ditumpuk dalam kuah asam dan tentu saja piring kecil penampung cangkang bekas. Saya ingat betul bagaimana saya diajar oleh keluarga Ramandei (kerabatnya seorang sepupu dekat saya) untuk memecahkan capit kepiting yang keras dengan memukulkan punggung sendok berulang kali ke capit, bagaimana membuka cangkang belakang kepiting dan memutar gumpalan papeda dan dipindahkan ke dalam cangkang kepiting. Ya seperti ‘colo’ papeda langsung ke dalam kepiting. Tak ada piring, saudara - saudara. Pengalaman yang benar – benar mengharukan khususnya bila mengenang seafood yang bertaburan. Tiba – tiba teringat Waropen *hiks. I’ll be back someday. Apalagi tempat ini sudah tak asing sejak masa remaja saya karena saudara laki - laki mama memang menikah dengan perempuan Ambon - Waropen dan oom saya sempat 10 tahun menjabat jadi camat di Waropen (waktu itu di Waropen Atas dan Waropen Bawah). Belum lagi beberapa sepupu yang menikah dengan orang Waropen jadi setidaknya ada keluarga di sana. Jadi, ya demi kepiting, mungkin saya akan kembali HEHEHE.
Pengalaman makan kepiting di Waropen mungkin adalah pengalaman elegan saya. Tapi, ternyata di tahun yang sama, beberapa bulan kemudian, ada lagi pengalaman – pengalaman lucu yang terjadi sampai – sampai saya dan seorang sahabat perempuan saya; Mia Ondy dijuluki ‘Muka Kepiting’ saking bernafsunya melihat hidangan laut ini. Mau tahu ceritanya? Let me tell you.
Saat itu sekitar bulan Oktober 2006, saya, Mia dan beberapa teman dari Manokwari diminta menjadi relawan sebuah LSM Kampanye lingkungan internasional yang bermarkas di Amsterdam. Nah proyeknya saat itu adalah latihan pemetaan digital berbasis GIS dan inventarisasi hutan. Selama seminggu kami harus tinggal di sebuah kampung di pedalaman Sorong Selatan yang tak ada listriknya dan tak ada sinyal telepon waktu itu, bahkan untuk menempuhnya kami harus naik speedboat kecepatan tinggi selama 3 jam dan jalan kaki melewati hutan lebat selama 2 jam. Nama kampung itu Manggroholo di distrik Seremuk. Kampung ini dikelilingi rawa – rawa nipah dan masih banyak buaya yang berkeliaran kadang – kadang. Waktu itu tentu saja otak petualangan saya masih 100% full apalagi sedang stress dengan rancangan skripsi saya yang masih berputar – putar untuk orang bipolar seperti saya yang sangat sulit memusatkan pikiran dan sempat break hampir dua bulan menghindari dosen pembimbing HAHAHA. Anyway, di kampung ini ternyata true color-nya saya dan Mia keluar tanpa dibendung. Apalagi kalo bukan passion kami pada daging kepiting.
Selama di kampung ini, kami nginap di rumah bapak kepala kampung. Yang tinggal bersama tuan rumah ada 6 orang. Ada Bang Bus dan Bani si cowok Filipina, keduanya dari LSM sponsor. Bas Bus ini seniornya kami anak –anak relawan. Kemudian, ada kak Yola, Mia, kak Doris dan saya. Kami semua ditempatkan sekamar yang pintu depannya ‘lurus pintu’ dengan ruang makan. Saya ingat pagi itu, mama kepala kampung sedang memasak masakan yang sangat harum, saya dan Mia sudah bangun tapi masih tetap di kamar. Bang Bus dan Bani sedang duduk mengetik dan mencatat di ruang tamu. Kak Yola dan kak Doris masih tidur. Ternyata, bang Bus Cs ditawari sarapan oleh mama kampung. Tapi karena sibuk, mereka menolak dengan halus. Karena tak enak ditawari terus, bang Bus berinisiatif menawari saya dan Mia di dalam kamar yang tiba – tiba keluar. Apalagi saat itu, saya dan Mia memang ‘anak bawang’ dalam rombongan. Saya dan Mia langsung mengecek menu yang tersaji gembira di atas meja. Seloyang besar kepiting ukuran sedang yang mengepul panas.
Kami berdua hanya bisa memandang kepiting dengan pandangan tak percaya. Bukannya apa, sudah beberapa hari ini kami hanya makan ikan sarden, supermi, ikan rawa dan tentu saja daging lau – lau serta pisang rebus. Bang Bus terus menawari kami untuk makan, dan tampaknya ia mulai tak sabar karna ia sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya. Saya ingat betul Mia dan saya sampai bertanya ‘Benar ka abang, tra rugi ka tawari tong, bukannya abang kam yang ditawari baru, masa tong yang muda – muda makan lambung kam yang tua – tua tuh.’ Ini tentu saja respon alamiah kami. Karena terus didesak, akhirnya kami setuju. Guess what? Mereka salah menawari Mia dan saya untuk makan duluan, apalagi hidangannya hanya Kepiting dan nasi. Salah banget HAHAHA. Tak sampai 20 menit, setengah loyang kepiting sudah berpindah ke perut kami. Apalagi masih pagi dan energi makan kami sangat kalap, mengingat beberapa hari ini kami selalu latihan pemetaan dan inventarisasi menyusuri hutan jadi energi banyak yang terkuras untuk pekerjaan fisik. Alamak, saat bang Bus dan Bani datang bergabung sekitar 25 – 30 menit kemudian, saya dan Mia dengan pandangan tak berdosa bisa melihat ekspresi kaget bang Bus HAHAHA. Sorry bang, itu refleks alami melihat ‘hidangan surga’!!! *alasan membenarkan ‘kerakusan’ HAHAHA. Walaupun setelah itu kami tertawa – tawa melihat ulah Bani dengan capit kepiting dan parodi ‘Mr.Crab’nya.
Lewat beberapa hari, refleks ‘rakus kepiting’ kumat lagi tanpa bisa dikontrol dan ini benar – benar refleks alami HAHAHA. Ceritanya, di sela – sela acara pemaparan pemetaan dan teknik digitasi segala macam yang dilaksanakan di dalam gedung gereja (satu – satunya gedung permanen saat itu), selalu saja ada istirahat makan siang. Nah saat itu, menu yang disajikan seperti biasa; ikan rawa, daging lau – lau, sayur – sayur dari kebun warga, nasi, hasil kebun dan tentu saja indomie. Saya ingat benar Mia dan saya termasuk urutan awal yang menimba makanan karena selesai makan kadang kami membantu mencuci piring. Kami sedang asyik makan di depan antrian ‘penimba makanan’ yang panjang karena saat itu para pesertanya utusan dari kampung Werianggi di Wondama sana, kampung Irires dari Kaimana dan juga teman – teman pekerja LSM dari Sorong plus masyarakat kampung peserta pelatihan. Nah, sedang asyik menguyah makanan, tiba – tiba seorang mama kampung datang dengan semangkuk makanan panas bersantan dan menyajikannya di atas meja, dan seorang teman yang antri makanan refleks bilang “Wow, ada kepiting!”.
OMG, radar kepiting langsung menyala. Saya lupa bagaimana tepatnya, yang saya tahu, Mia dan saya refleks sudah menerobos antrian dan berdiri tepat di depan orang pertama yang hendak menciduk makanan, lengkap dengan piring kami. Tak menghitung detik, beberapa ekor kepiting lolos ke piring kami dan kami langsung duduk manis kembali ke tempat kami dengan pandangan tak berdosa. Benar – benar lupa ingatan dengan ‘muka rakus’ kami. Kami baru sadar sekian menit kala melihat bagaimana orang – orang yang antri yang mayoritasnya laki – laki melihat kami dengan pandangan ‘ajaib’. Tak heran label ‘muka rakus kepiting’ langsung kami dapuk saat itu. Makanya saat kembali ke Sorong, teman – teman di LSM lokal yang menjadi penyelenggara lokal pelatihan tak tanggung – tanggung menyajikan kepiting saus asam manis di markas besar mereka, spesial untuk kami tentu saja HAHAHA.
Setahun kemudian, masih saja ada kenangan kepiting yang hinggap. Ceritanya di akhir Januari 2007. Saya sedang giat – giatnya menyelesaikan skripsi karena harus wisuda di akhir Februari. Tahu kan bagaimana gilanya di momen akhir seperti itu. Mana saat itu saya tinggal di kos karena mencari ketenangan padahal saya tinggal di Fanindi ST yang jarak dari rumah ke kampus hanya 5 - 7 menit naik motor (mengingat kecepatan balap saya waktu di masa silam). Saat itu, semua anggota keluarga sedang mudik ke Jawa; liburan sekalian menghadiri wisuda pascasarjana kakak saya di UGM Jogja. Sedang sibuk – sibuknya merevisi skripsi dan mengendalikan fokus dan mood eee adik lelaki saya berulang kali menelpon, “May, ko turun dulu ke rumah tempo, ini darurat. Cepat eeee. Plis”. Wah suaranya sudah memohon – mohon di ujung sana. Saya langsung khawatir, apalagi saat itu pacar adik saya sedang hamil 5 bulan dan hanya mereka berdua yang menjaga rumah. Tak tunggu lama, saya pun langsung tancap gas dengan motor F1ZR ber-velg kuning contreng lengkap dengan helm balap saya yang kalau dilihat dari jauh seperti kepala korek api. Alamak! Tiba di rumah, saya sudah membayangkan adanya tragedi atau kecelakaan yang menimpa mereka. Tebak apa yang diminta tolong adik saya? Iya, ia hanya meminta saya memasukan beberapa kepiting hidup ke dalam air mendidih karena ia percaya selama masa kehamilan pacarnya, ia tak boleh sekalipun menyakiti ataupun membunuh hewan apapun, termasuk kepiting yang hendak mereka santap. Sialnya, saya malah tak dibagi saat itu HAHAHA. Demi keponakan, apa sih yang tidak saya lakukan. HAHAHA.
Kepiting juga masih menjadi salah satu menu andalan saya sewaktu masa kuliah S2 di Canberra dulu. Bila terasa suntuk, saya pasti pergi ke supermarket dan mencari daging kepiting kalengan ataupun segar yang sudah dicampur dengan seafood lainnya dan dimasak rupa – rupa. Tentu saja dengan mengandalkan resep instan ‘buka internet browsing ka ini’. Rasanya? Yang penting bisa dimakan dan membantu saya tetap bertahan hidup HAHAHA. Walau saya pernah akui tertipu dengan satu produk daging kepiting produksi Thailand apa Vietnam yang saya beli di sebuah toko di Asian Stores. Yang ada, saya sampai mau muntah usai membuka kalengnya. Iya, saya tak tahan melihat dan membaui aroma daging kepiting yang dicampur saos kedelai dan tumbukan kacang tanah dan sangat berminyak. *Phew. Rugi dollar, man!
Anyway, satu yang pasti, saya tak akan pernah lelah dan menyerah makan daging kepiting. Saya pikir Tuhan cukup adil dengan hidup saya terkait makan, karena ia tahu saya kadang punya masalah dengan daging merah dan juga ikan. Ya kalau bukan alergi pasti semacam ‘tegang leher’ jadinya kepiting, udang dan kerang menjadi solusi yang indah. Sayangnya, mahal ya di Manokwari *hiks.
Saya berharap, bila memang satu hari nanti pesawat yang tumpangi harus jatuh ataupun saya harus tersesat di hutan atau pedalaman mana di tanah ini, ijinkan saya ‘nyasar’ di kampung yang mempunyai akses melimpah dengan hidangan ini. Hanya tak bisa hidup tanpanya.
Nothing can beat the taste of ‘karaka’. Yes, it’s true and saya sudah membuktikannya! HEHEHE *
Hidup (daging) Kepiting!
(Manokwari, 291011)
Lelaki Dalam Mimpi
Hari aku bangun sangat kesiangan; jam 1 siang. Padahal aku sudah tidur dari jam 1 pagi. Usai mengetik semalam, usai semua prosesi dan ritual harian. Walau kuakui beberapa hari ini kesehatanku drop kembali. Bukan lagi nyeri di dadaku tetapi penyakit lamaku yang kembali menyapa; nyeri otot dan artritisku. Aku curiga ini ada hubungannya juga dengan fibromyalgia. Terasa nyeri dobol – dobol. Rasanya kadang ingin menangis pada Tuhan dan bertanya kenapa aku bisa punya ‘auto-immune disease’ seperti ini sejak umur 10 tahun. Jadi secara umum, sudah 18 tahun aku harus hidup dengan rasa sakit dan nyeri yang menggigit ini. Tak heran, tongkat jalanku dan pil – pil analgesik dan anti-inflamasi terus kuminum. Bila tidak, saat tidur bahkan saat bergerak dan menggeser bagian tubuhku rasanya semua saraf mengirimkan rasa sakit. Sakit gigi tak ada apa – apanya, saudara – saudara.
Dalam tidur 12 jamku itu, aku bertemu dia lagi; lelaki dalam mimpiku. Mungkin ini reaksi alam bawah sadarku bila aku sangat kesakitan dan menjadi mekanisme pertahanan tubuh untuk menghilangkan rasa sakit. Dia muncul lagi. Lelaki yang selalu membuatku merasa nyaman. Entah siapa dia, dalam mimpiku tadi malam. Kali ini, aku bisa melihatnya dengan jelas, kami berbicara bahkan aku tahu namanya. Inisialnya F. Iya, bahkan dalam settingan mimpi ini kami adalah sepasang kekasih. Aku ingat potongan adegan mimpiku dengan jelas. Sepertinya aku sedang berada di Australia berbicara dengan seorang sahabat cewek. Iya, di Australia (ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini aku bermimpi sedang berada di Canberra, Australia. Di rumah lamaku di sana). Saat itu, yang kutahu, aku harus pergi berlibur sementara ke lelaki ini. Hanya kunjungan singkat.
Aku ingat dalam mimpi itu, aku datang ke kotanya dan ia sedang sibuk memasukan barang ke shed apartemennya yang luas dan bersih. Lelaki ini tentu saja bukan lelaki Kaukasian. Yang kulihat, ia seperti diriku, lelaki Papua pernakan dengan tubuh yang tegap dan kekar seperti dua mantan pacarku terdahulu (Abel dan Lelaki Hujan). Kami berbincang, bekerja memasukan barang – barang ke shed, make love, tertawa dan bahagia. Aku seperti telah lama mengenalnya. Sangat mengenalnya. Tak bisa lupa pandangan matanya yang sangat menenangkan itu. Sayangnya, tiba- tiba ia harus keluar shed dan pergi ke bagian lain gedung dan datanglah beberapa orang dengan anak kecil yang hendak memakai shed dan kami beradu mulut dan aku bahkan tak bisa mencari lelaki ini. Ia seperti menghilang.
Aku mengingat bagaimana rasa marahku menggelegak. Marah besar. Mencarinya di seputaran gedung. Tak ketemu jadi akhirnya aku menuju ruangan beberapa teman pekerja LSM di apartemen untuk bergabung dan muncullah ia dan seorang perempuan lain yang sedang berdiri di sampingnya, menatapnya. Bahkan di dalam mimpiku, aku tahu aku sedang marah dan cemburu. Entahlah, rasa yang aneh yang tak pernah muncul di dalam mimpiku. Aku cemburu. Aneh kan? Bahkan dalam hubunganku yang nyata saja aku jarang sekali merasakan cemburu. Rasa yang benar – benar aneh.
Lelaki itu menatapku dengan pandangan bertanya dan menantiku bicara. Tapi yang kutahu aku hanya memandangnya, menuju dirinya dan menamparnya. Dan kuteriakkan kata ‘tong dua Putus’. Gosh, bahkan dalam keadaan nyata, aku tak pernah bisa melakukan hal seperti ini. Aku mengingat jelas aku berlari keluar, ke parkiran dan menangis. Ia mengejarku ingin menjelaskan, tapi tak kuacuhkan dan ia memandangku dengan pandangan sedih. Tiba – tiba aku merasa sangat kehilangan lelaki ini. Sangat kehilangan. Tiba – tiba merasa sangat mencintainya.
Sialnya ….aku terbangun dari mimpi yang sangat aneh ini. Sangat aneh. Tanpa ada kesimpulan. Tapi setidaknya aku melihat wajah dan matanya yang indah itu. Ada pandangan ‘sa sayang ko’ di dalam mata itu. Tak tahu kapan lagi bertemu lelaki ini dalam mimpiku HAHAHA
Mungkin benar lagi depresi dengan nyeri yang mendera beberapa hari jadinya alam bawah sadar menciptakan mekanisme ‘anti-stress’. Ya semoga!
(Manokwari, 291011)
Dalam tidur 12 jamku itu, aku bertemu dia lagi; lelaki dalam mimpiku. Mungkin ini reaksi alam bawah sadarku bila aku sangat kesakitan dan menjadi mekanisme pertahanan tubuh untuk menghilangkan rasa sakit. Dia muncul lagi. Lelaki yang selalu membuatku merasa nyaman. Entah siapa dia, dalam mimpiku tadi malam. Kali ini, aku bisa melihatnya dengan jelas, kami berbicara bahkan aku tahu namanya. Inisialnya F. Iya, bahkan dalam settingan mimpi ini kami adalah sepasang kekasih. Aku ingat potongan adegan mimpiku dengan jelas. Sepertinya aku sedang berada di Australia berbicara dengan seorang sahabat cewek. Iya, di Australia (ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini aku bermimpi sedang berada di Canberra, Australia. Di rumah lamaku di sana). Saat itu, yang kutahu, aku harus pergi berlibur sementara ke lelaki ini. Hanya kunjungan singkat.
Aku ingat dalam mimpi itu, aku datang ke kotanya dan ia sedang sibuk memasukan barang ke shed apartemennya yang luas dan bersih. Lelaki ini tentu saja bukan lelaki Kaukasian. Yang kulihat, ia seperti diriku, lelaki Papua pernakan dengan tubuh yang tegap dan kekar seperti dua mantan pacarku terdahulu (Abel dan Lelaki Hujan). Kami berbincang, bekerja memasukan barang – barang ke shed, make love, tertawa dan bahagia. Aku seperti telah lama mengenalnya. Sangat mengenalnya. Tak bisa lupa pandangan matanya yang sangat menenangkan itu. Sayangnya, tiba- tiba ia harus keluar shed dan pergi ke bagian lain gedung dan datanglah beberapa orang dengan anak kecil yang hendak memakai shed dan kami beradu mulut dan aku bahkan tak bisa mencari lelaki ini. Ia seperti menghilang.
Aku mengingat bagaimana rasa marahku menggelegak. Marah besar. Mencarinya di seputaran gedung. Tak ketemu jadi akhirnya aku menuju ruangan beberapa teman pekerja LSM di apartemen untuk bergabung dan muncullah ia dan seorang perempuan lain yang sedang berdiri di sampingnya, menatapnya. Bahkan di dalam mimpiku, aku tahu aku sedang marah dan cemburu. Entahlah, rasa yang aneh yang tak pernah muncul di dalam mimpiku. Aku cemburu. Aneh kan? Bahkan dalam hubunganku yang nyata saja aku jarang sekali merasakan cemburu. Rasa yang benar – benar aneh.
Lelaki itu menatapku dengan pandangan bertanya dan menantiku bicara. Tapi yang kutahu aku hanya memandangnya, menuju dirinya dan menamparnya. Dan kuteriakkan kata ‘tong dua Putus’. Gosh, bahkan dalam keadaan nyata, aku tak pernah bisa melakukan hal seperti ini. Aku mengingat jelas aku berlari keluar, ke parkiran dan menangis. Ia mengejarku ingin menjelaskan, tapi tak kuacuhkan dan ia memandangku dengan pandangan sedih. Tiba – tiba aku merasa sangat kehilangan lelaki ini. Sangat kehilangan. Tiba – tiba merasa sangat mencintainya.
Sialnya ….aku terbangun dari mimpi yang sangat aneh ini. Sangat aneh. Tanpa ada kesimpulan. Tapi setidaknya aku melihat wajah dan matanya yang indah itu. Ada pandangan ‘sa sayang ko’ di dalam mata itu. Tak tahu kapan lagi bertemu lelaki ini dalam mimpiku HAHAHA
Mungkin benar lagi depresi dengan nyeri yang mendera beberapa hari jadinya alam bawah sadar menciptakan mekanisme ‘anti-stress’. Ya semoga!
(Manokwari, 291011)
Friday, 28 October 2011
'Kreativitas' verbal Orang Manokwari terkait Sampah
Manajemen sampah yang parah di kota Manokwari ternyata banyak memunculkan kreativitas warga kota Manokwari. Salah satunya dalam menampilkan kejemuan mereka dengan perilaku sesama warga yang makin tak peduli dengan urusan ‘buang sampah’. Berikut ini beberapa gambar larangan ‘buang sampah’ di beberapa sudut kota Manokwari yang sempat membuat saya geleng – geleng Manokwari. Btw, ini mungkin hanya terjadi di kota Manokwari saja. Yang pasti, saya terus ketawa saat berburu gambar – gambar ini minggu lalu. Hajar aaaaahhh!!!
Gambar 1
Larangan ini termasuk yang sangat standar dan terdapat di Pantai Yenbebai, Pasir Putih. Ya seperti biasa, sikapnya sangat standar. Sayangnya, kenapa juga harus dipakukan ke pohon – pohon tua peneduh di pantai ini ya? *menerawang.
Gambar 2
Larangan yang terdapat di dinding pagar Toko Manokwari jalan Jendral Sudirman ini tentu saja dengan jelas mengindikasikan bahwa got itu bukan tempat sampah tapi saluran air. Mau bagaimana lagi, karena kadang ada saja yang masih nekat membuang sampah mereka ke dalam saluran air di bagian belakang toko. Parah!
Gambar 3
Wah larangan di depan kamar mayat kompleks RSUD Manokwari ini tak hanya larangan standar tapi juga sudah mulai memaki dengan mengasosiasikan pembuang sampah tak bertanggung jawab dengan seekor anjing. Mungkin karena anjing itu hewan yang gemar ‘kincing sambarang’ kapa HAHAHA. Tapi satu yang pasti, lihat pilihan kata ‘EDAN’ dan besarnya huruf yang dicat di dinding seng. Ancaman banget HAHAHA.
Gambar 4
Larangan di belakang tembok pagar SD YPK Kota ini jelas saja sudah memaki orang yang buang sampah di belakang tembok. Tapi jangan salah, karena banyak juga pelintas kendaraan (misalnya saya) yang hendak membuat jalan pintas dari arah Jalan Merdeka menuju daerah Korem, maka kami juga terimbas dengan pandangan makian di sebelah kiri. Mungkin yang menulis sudah pada tahap ‘jengkel emosi sungguh mati’ kali ya? *mikir
Gambar 5
Kalau ini, saya dapatkan kala lari sore menuruni jalan di Manggoapi, tepatnya di bawah rimbun batang pohon Matoa dekat turunan Paparisa Beta alias Bukit Doa sana. Larangannya pun ditulis sederhana dengan menggunakan antara arang kayu ataupun spidol. Eittts, hati – hati, ada satu makian yang sangat khas Papua ataupun Indonesia Timur. Entahlah mengapa juga kata ‘Pan** Lo****’ itu bisa gagah bertengger di larangan ini. Entahlah. Saya juga tak tahu. Yang saya tahu, saya malah ‘ketawa bokar – bokar’ saat pertama kali membacanya HAHAHA.
Gambar 6
Ini ancaman, saudara – saudara. Letaknya di turunan Weidema Amban Pantai,dari arah Amban terletak di sebelah kanan. Isinya jelas, “Dilarang buang sampah di tempat ini. Apabila ketahuan, mati tempat”. Larangan buang sampah versi papan ini jelas sekali dibuat dengan segenap hati karena papannya saja elit dan besar plus perhatikan juga tulisan “MATI TEMPAT”nya itu yang diukir. Mungkin kalau ada cat warna merah, mungkin sudah diukir seperti tetesan darah *analisa asal. Bukannya apa, ini kan salah satu tempat ‘angker’di kawasan ini dan beberapa kali menjadi tempat tabrakan maut ataupun jadi tempat ‘buang mayat’ beberapa pembunuhan. Ya semoga saja yang nanti ‘gedap’ buang sampah bukanlah penghuni dunia lain yang kadang mencakung di dekat tempat ini…… hiiiii*merinding.
Gambar 7
Ini mungkin versi larangan buang sampah yang suka bikin saya ketawa kalau melintasinya. Bagaimana tidak, letaknya di belakang tembok SD YPK Kota, berdampingan dengan gambar larangan nomor 4. Yang buat saya ketawa adalah gambar parang yang mirip parang ‘Salawaku’ yang mengapit ancaman buang sampah itu dan juga gambar tengkorak. Coba perhatikan baik – baik ancamannya, ada sumpah – sumpahnya segala plus petinggi pejabat lokal HAHAHA. Dangerous banget!!!
Jadi, kesimpulannya? Ya orang Manokwari ternyata sangat kreatif dalam mengekspresikan pendapat mereka walaupun kadang memakai ancaman. Mau bagaimana lagi, kesadaran buang sampah dan juga manajemen sampah di kota ini memang sangat parah. Padahal sewaktu saya masih SMP, kota ini bersih banget. Semoga di masa mendatang kala manajemen sampah sudah baik, larangan yang aneh – aneh ini sudah tak ada lagi. Kan sayang kalau sampah kena ‘sumpah’ “Z Potong Ko” hanya gara – gara sekantong sampah popok HAHAHAHA.
(Manokwari, 17 – 24 Oktober 2011; terima kasih untuk semua narasumber informasi)
Cinta Eu Cs
Cinta? Saya tak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Yang saya tahu hari ini saya jatuh cinta pada para keponakan saya. Ada saja ulah mereka beberapa hari ini yang membuat saya ketawa terus.
Beberapa hari ini si Eu, keponakan terkecil yang mini-me itu sedang tergila – gila dengan balon udaranya yang berisi gas helium. Sayangnya sudah dua hari ini saya kerap mengerjainya. Entah balonnya dibiarkan lepas di dalam rumah dan terapung – apung melayang di plafon. Ataupun saya peluk dan merebutnya dari tangannya. Sampai – sampai wajahnya begitu terasa suntuk dan marah besar dan melempar saya dengan benda yang bisa dijangkaunya. Bahkan kemarin, ia terheran – heran melihat balon burungnya terikat kabel di atas rumah. Entah siapa yang menerbangkannya. Si Echi (kakaknya Eu) dengan jelas menolak sangkaan kami kalau ia ‘pelaku kejahatannya’.
Kemarin sore, saja juga cukup iseng membawa Eu dan Echi pergi ke pantai. Tentu saja dengan ‘membajak’ mama saya memegang Eu di jok belakang sedang Echi duduk di depan. Jadi, selama saya, Eu dan Echi bermain pasir dan berenang, mama hanya menjaga barang kami. Kemarin saya, Eu, dan Echi memang tampaknya sangat gila. Saya, perempuan 28 tahun, Echi balita 4,5 tahun dan Eu si batita 2 tahun duduk di sebuah batangan kayu dan membiarkan ombak dan pasir putih menjilat – jilat kaki kami. Sesekali kami tertawa dan berteriak kala ombak menghajar kami. Apalagi si Eu tak henti – hentinya tertawa kala kami melirik ke belakang ke arah mama yang duduk di atas kain pantai. Tentu saja kami duduk usai berjalan menyusuri pesisir pantai di bawah terik mentari yang garang. Tak heran usai pulang, kulit kami ‘gosong’.
Saya menikmati acara ke pantai kemarin, walaupun si Echi ketakutan setengah mati saya bawa ke dalam laut. Si Eu malah sebaliknya. Tak henti – hentinya tertawa senang kala kami berdua berlompatan dan saya membiarkannya bergerak – gerak di dalam air. Bahkan, saat saya menitipkannya usai memandikannya dengan air dingin (ia terkaget – kaget karna selalu mandi air hangat), ia histeris memanggil saya yang berlari menuju laut untuk berenang satu lap. Tak henti – hentinya ia tertawa dan berteriak ‘Yaya’. Apalagi sepanjang perjalanan pulang, si Eu tak henti – hentinya menyanyi. Ini reaksi yang sama saat ia terus heboh melihat laut. Ia memang jarang kami bawa berjalan siang hari keluar rumah. Yet, saat saya pulang, saya kena ‘kuliah 1 bab’ dari sesama penghuni rumah karena dua makhluk kecil ini terlambat pergi acara ulang tahun dan akhirnya terpaksa ikut acara orang tuanya. Jangan tanya bagaimana rusuhnya rumah kami HAHAHA *too much debaters.
Saya juga masih ingat malam sebelum hari kami pergi ke pantai. Saya singgah sebentar di rumah kakak saya mengecek kabar keponakan saya; Ochil, yang sedang radang amandel. Hari itu saya baru saja membeli beberapa aksesoris di langganan saya jadinya ya sekalian saya bagikan gelang baru untuk para keponakan perempuan saya termasuk si kecil Eu. Jadinya saat acara kunjungan ke Ochil, sekitar jam 7 lewat, e si Muel (adiknya Ochil) sedang dihajar mamanya karena mengunyah kertas resep obat kakaknya. Tampangnya benar – benar kacau penuh dengan luapan air mata. Demi menyelamatkan situasi, saya membujuknya dan mengajaknya ke Hadi; sebuah toko besar di kota kami.
Si Muel langsung saja sibuk mematut diri, berganti jaket denim dan berdandan rapi jali. Ochil hanya bisa gigit jari. Orang tuanya pun menitipkan pesan untuk membawa Muel usai ‘jalan – jalan’ ke GOR Sanggeng karena bapaknya si Muel a.k.a. kakak tertua saya hendak mengikuti kompetisi Futsal. Muel yang rapi harum langsung cuek bergabung dengan saya ke rumah orang tua saya. Tak hanya Muel, kebetulan ada Echi di rumah kami. Demi mendengar saya mau ke Hadi, ia pun memandang saya dengan pandangan ‘muka seratus’nya itu alias pandangan memelas. Tak tahan, saya mengajaknya juga. Ia pun berlari ‘cakadidi’ ke rumah belakang, mencari pakaian perangnya. Iya, berganti rapi dan memakai jaket denim juga. Lucunya, si Eu yang sedang nonton TV saat mendengar saya dan Echy hendak pergi, langsung bergerak menyambar rompinya yang biasa dipakainya keluar rumah. Guess what? Saat saya dan Echi sedang sibuk membahas apa yang akan kami beli dan rencana jalan dengan Muel, si Eu sudah memblokir pintu belakang rumah kami yang terhubung dengan samping teras rumah Echi. Jalan ke rumah depan. Eu tak tanggung – tanggung ekspresinya. Dia memang drama Queen terbaik yang saya tahu. Apalagi ia sudah pintar meniru ekspresi emosi yang diajar adik perempuan saya (Noke) seperti menangis, tertawa, batuk, bersin, marah dan lain – lain. Benar – benar manipulator kecil.HAHAHA.
Eu; Pandangannya memelas, dengan tatapan lurus dan tangan yang terlipat menggenggam rompinya dan tentu saja tak mengijinkan kami melewati pintu. Benar – benar mini-me deh. Iya, persis kelakuan saya waktu kecil yang suka merajuk. Saat kami minta ia pindah, wah langsung saja pecah tangisannya yang keras itu. Tapi saya dan Echi tetap cuek kabur dengan sebelumnya ‘batariak’ mamanya Eu untuk mengambil paksa Eu dari depan pintu HAHAHA. Sorry, we are in mission.
Malam itu, saya, Echi dan Muel memang benar – benar partner in crime. Kacau banget. Naik ojek ke Hadi karena saya khawatir keponakan saya mengantuk saat saya bonceng. Kami benar- benar menganggap perjalanan ini sebagai petualangan. Tujuan utama kami adalah membeli susu kalsium. Alamak, belum tiba di rak susu instan, si Muel sudah mengajukan usul, “mama May, sa pu parfum habis.” Jadinya kami bertiga tiba di deretan wewangian. Si Muel, balita 4 tahun ini dengan cueknya mengajak Echi mencoba membaui aroma cologne dan l’eau de toillete yang ada. Satu persatu. Sambil masing – masing memberi pendapat. Perjanjiannya tiap anak hanya boleh memilih satu item. Jadinya mereka berdua sibuk mencoba dan saling berkomentar. Lucu sekali. Apalagi saya memberi saran dan mereka berhak memberi komentar. Kesimpulan akhir? Muel memilih wangi raspberry dan Echy memilih Kiwi Melon dari wewangian berikon Power Puff Girl. Mereka rupanya tak tahu bahwa saya juga suka memakai wewangian anak – anak bermerk sama HAHAHA.
Dari wewangian, kami sibuk melihat buku – buku. Mereka membajak saya untuk harus membelikan mereka buku tentang angka dan huruf. Juga melihat cemilan. Kelakuan mereka yang paling rusak adalah mereka dengan cueknya terus mengukur tinggi badan di dinding toko yang dipasangi poster lapis sebuah merek susu dan gambar anak kecil yang sedang mengukur tinggi badan dan yang melompat. Jadinya mereka berdua terus bergantian berdiri dan melompat berusaha memegang tangan bocah di dalam gambar itu. Benar- benar ajaib kelakuan dua balita yang cerewet ini. Apalagi saat saya mengiring mereka ke rak susu. Wow! Mereka berdua dengan hebohnya memberi pendapat tentang susu yang hendak saya pilih: Milo atau Dancow. Si Muel bersikeras kalau Milo yang terbaik, sedang Echi dengan malu – malu bilang Dancow karena ia minum susu ini. Ia menyebutnya ‘Enko’. Mudah – mudahan Muel tak memilih Milo hanya karena anjing hitamnya bernama ‘Milo’. *mikir.
Satu hal yang saya ingat malam itu adalah rayuan mereka berdua kala melewati kulkas – kulkas berisi es krim. Mati banyak!!! Tentu saja ini usai si Muel berlarian cuek menimbang badannya di timbangan barang yang tergeletak dekat kulkas. Si Muel dan Echi dengan cueknya menempel di samping kulkas dan memandang es krim Cone bergambar Spongebob dengan pandangan cinta. Sia – sia membujuk mereka dengan mengulas ulang kondisi Ochil yang radang amandel karena minum es. Mereka berdua tak gentar. Terus menempel. Akhirnya, saya luluh juga. Apalagi baru ada transferan dana cair ke rekening. Dua cone es krim rasa coklat vanilla terbang ke kasir.
Kegilaan kami belum berakhir karna usai membayar di kasir, kami bertiga duduk di depan toko, samping jalan masuk, persis berhadapan dengan orang – orang yang sedang menyantap ayam goreng KFC di gerai depan kami. Iya, Muel dan Echy memilih duduk dengan cueknya dan menjilati es krim. Saya tentu saja menolak ide makan es krim karena memang tak ingin cari masalah dengan gigiku sementara ini (gigi sensitif HAHAHA). Banyak orang lalu lalang termasuk tukang ojek yang memandang kami dengan ajaib. Apalagi kami sibuk membahas es krim termasuk rasanya. Benar – benar satu momen surga malam itu. Kami benar – benar cuek malam itu. Sangat cuek!
Ini hanya kepingan momen yang ingin saya tuliskan dalam kata – kata. Mengingat mereka; Ochil, Muel, Echi dan Eu benar – benar membuat saya merasa sangat hidup. They are definitely my jewels, my reason to survive and be a better woman. Mereka selalu sukses membuat saya tertawa. Obat stress murah meriah.
Entahlah, yang saya tahu, saya jatuh cinta pada para keponakan saya khususnya Eu. Tak sabar menunggu ulang tahun mereka bulan depan. Iya, dalam minggu yang sama, (tanggal 10, 14 dan 17 November) Muel, Eu dan Ochil ulang tahun. Hadiah apa ya tahun ini? itu yang masih saya pikirkan HAHAHA.
Yang pasti, cinta 100% tra bisa dapa tawar slalu ada untuk dong. Apalagi yang kurang bagi saya saat saya dikelilingi para malaikat kecil ini. Benar – benar hidup dan jatuh cinta. Ya, sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 271011)
Beberapa hari ini si Eu, keponakan terkecil yang mini-me itu sedang tergila – gila dengan balon udaranya yang berisi gas helium. Sayangnya sudah dua hari ini saya kerap mengerjainya. Entah balonnya dibiarkan lepas di dalam rumah dan terapung – apung melayang di plafon. Ataupun saya peluk dan merebutnya dari tangannya. Sampai – sampai wajahnya begitu terasa suntuk dan marah besar dan melempar saya dengan benda yang bisa dijangkaunya. Bahkan kemarin, ia terheran – heran melihat balon burungnya terikat kabel di atas rumah. Entah siapa yang menerbangkannya. Si Echi (kakaknya Eu) dengan jelas menolak sangkaan kami kalau ia ‘pelaku kejahatannya’.
Kemarin sore, saja juga cukup iseng membawa Eu dan Echi pergi ke pantai. Tentu saja dengan ‘membajak’ mama saya memegang Eu di jok belakang sedang Echi duduk di depan. Jadi, selama saya, Eu dan Echi bermain pasir dan berenang, mama hanya menjaga barang kami. Kemarin saya, Eu, dan Echi memang tampaknya sangat gila. Saya, perempuan 28 tahun, Echi balita 4,5 tahun dan Eu si batita 2 tahun duduk di sebuah batangan kayu dan membiarkan ombak dan pasir putih menjilat – jilat kaki kami. Sesekali kami tertawa dan berteriak kala ombak menghajar kami. Apalagi si Eu tak henti – hentinya tertawa kala kami melirik ke belakang ke arah mama yang duduk di atas kain pantai. Tentu saja kami duduk usai berjalan menyusuri pesisir pantai di bawah terik mentari yang garang. Tak heran usai pulang, kulit kami ‘gosong’.
Saya menikmati acara ke pantai kemarin, walaupun si Echi ketakutan setengah mati saya bawa ke dalam laut. Si Eu malah sebaliknya. Tak henti – hentinya tertawa senang kala kami berdua berlompatan dan saya membiarkannya bergerak – gerak di dalam air. Bahkan, saat saya menitipkannya usai memandikannya dengan air dingin (ia terkaget – kaget karna selalu mandi air hangat), ia histeris memanggil saya yang berlari menuju laut untuk berenang satu lap. Tak henti – hentinya ia tertawa dan berteriak ‘Yaya’. Apalagi sepanjang perjalanan pulang, si Eu tak henti – hentinya menyanyi. Ini reaksi yang sama saat ia terus heboh melihat laut. Ia memang jarang kami bawa berjalan siang hari keluar rumah. Yet, saat saya pulang, saya kena ‘kuliah 1 bab’ dari sesama penghuni rumah karena dua makhluk kecil ini terlambat pergi acara ulang tahun dan akhirnya terpaksa ikut acara orang tuanya. Jangan tanya bagaimana rusuhnya rumah kami HAHAHA *too much debaters.
Saya juga masih ingat malam sebelum hari kami pergi ke pantai. Saya singgah sebentar di rumah kakak saya mengecek kabar keponakan saya; Ochil, yang sedang radang amandel. Hari itu saya baru saja membeli beberapa aksesoris di langganan saya jadinya ya sekalian saya bagikan gelang baru untuk para keponakan perempuan saya termasuk si kecil Eu. Jadinya saat acara kunjungan ke Ochil, sekitar jam 7 lewat, e si Muel (adiknya Ochil) sedang dihajar mamanya karena mengunyah kertas resep obat kakaknya. Tampangnya benar – benar kacau penuh dengan luapan air mata. Demi menyelamatkan situasi, saya membujuknya dan mengajaknya ke Hadi; sebuah toko besar di kota kami.
Si Muel langsung saja sibuk mematut diri, berganti jaket denim dan berdandan rapi jali. Ochil hanya bisa gigit jari. Orang tuanya pun menitipkan pesan untuk membawa Muel usai ‘jalan – jalan’ ke GOR Sanggeng karena bapaknya si Muel a.k.a. kakak tertua saya hendak mengikuti kompetisi Futsal. Muel yang rapi harum langsung cuek bergabung dengan saya ke rumah orang tua saya. Tak hanya Muel, kebetulan ada Echi di rumah kami. Demi mendengar saya mau ke Hadi, ia pun memandang saya dengan pandangan ‘muka seratus’nya itu alias pandangan memelas. Tak tahan, saya mengajaknya juga. Ia pun berlari ‘cakadidi’ ke rumah belakang, mencari pakaian perangnya. Iya, berganti rapi dan memakai jaket denim juga. Lucunya, si Eu yang sedang nonton TV saat mendengar saya dan Echy hendak pergi, langsung bergerak menyambar rompinya yang biasa dipakainya keluar rumah. Guess what? Saat saya dan Echi sedang sibuk membahas apa yang akan kami beli dan rencana jalan dengan Muel, si Eu sudah memblokir pintu belakang rumah kami yang terhubung dengan samping teras rumah Echi. Jalan ke rumah depan. Eu tak tanggung – tanggung ekspresinya. Dia memang drama Queen terbaik yang saya tahu. Apalagi ia sudah pintar meniru ekspresi emosi yang diajar adik perempuan saya (Noke) seperti menangis, tertawa, batuk, bersin, marah dan lain – lain. Benar – benar manipulator kecil.HAHAHA.
Eu; Pandangannya memelas, dengan tatapan lurus dan tangan yang terlipat menggenggam rompinya dan tentu saja tak mengijinkan kami melewati pintu. Benar – benar mini-me deh. Iya, persis kelakuan saya waktu kecil yang suka merajuk. Saat kami minta ia pindah, wah langsung saja pecah tangisannya yang keras itu. Tapi saya dan Echi tetap cuek kabur dengan sebelumnya ‘batariak’ mamanya Eu untuk mengambil paksa Eu dari depan pintu HAHAHA. Sorry, we are in mission.
Malam itu, saya, Echi dan Muel memang benar – benar partner in crime. Kacau banget. Naik ojek ke Hadi karena saya khawatir keponakan saya mengantuk saat saya bonceng. Kami benar- benar menganggap perjalanan ini sebagai petualangan. Tujuan utama kami adalah membeli susu kalsium. Alamak, belum tiba di rak susu instan, si Muel sudah mengajukan usul, “mama May, sa pu parfum habis.” Jadinya kami bertiga tiba di deretan wewangian. Si Muel, balita 4 tahun ini dengan cueknya mengajak Echi mencoba membaui aroma cologne dan l’eau de toillete yang ada. Satu persatu. Sambil masing – masing memberi pendapat. Perjanjiannya tiap anak hanya boleh memilih satu item. Jadinya mereka berdua sibuk mencoba dan saling berkomentar. Lucu sekali. Apalagi saya memberi saran dan mereka berhak memberi komentar. Kesimpulan akhir? Muel memilih wangi raspberry dan Echy memilih Kiwi Melon dari wewangian berikon Power Puff Girl. Mereka rupanya tak tahu bahwa saya juga suka memakai wewangian anak – anak bermerk sama HAHAHA.
Dari wewangian, kami sibuk melihat buku – buku. Mereka membajak saya untuk harus membelikan mereka buku tentang angka dan huruf. Juga melihat cemilan. Kelakuan mereka yang paling rusak adalah mereka dengan cueknya terus mengukur tinggi badan di dinding toko yang dipasangi poster lapis sebuah merek susu dan gambar anak kecil yang sedang mengukur tinggi badan dan yang melompat. Jadinya mereka berdua terus bergantian berdiri dan melompat berusaha memegang tangan bocah di dalam gambar itu. Benar- benar ajaib kelakuan dua balita yang cerewet ini. Apalagi saat saya mengiring mereka ke rak susu. Wow! Mereka berdua dengan hebohnya memberi pendapat tentang susu yang hendak saya pilih: Milo atau Dancow. Si Muel bersikeras kalau Milo yang terbaik, sedang Echi dengan malu – malu bilang Dancow karena ia minum susu ini. Ia menyebutnya ‘Enko’. Mudah – mudahan Muel tak memilih Milo hanya karena anjing hitamnya bernama ‘Milo’. *mikir.
Satu hal yang saya ingat malam itu adalah rayuan mereka berdua kala melewati kulkas – kulkas berisi es krim. Mati banyak!!! Tentu saja ini usai si Muel berlarian cuek menimbang badannya di timbangan barang yang tergeletak dekat kulkas. Si Muel dan Echi dengan cueknya menempel di samping kulkas dan memandang es krim Cone bergambar Spongebob dengan pandangan cinta. Sia – sia membujuk mereka dengan mengulas ulang kondisi Ochil yang radang amandel karena minum es. Mereka berdua tak gentar. Terus menempel. Akhirnya, saya luluh juga. Apalagi baru ada transferan dana cair ke rekening. Dua cone es krim rasa coklat vanilla terbang ke kasir.
Kegilaan kami belum berakhir karna usai membayar di kasir, kami bertiga duduk di depan toko, samping jalan masuk, persis berhadapan dengan orang – orang yang sedang menyantap ayam goreng KFC di gerai depan kami. Iya, Muel dan Echy memilih duduk dengan cueknya dan menjilati es krim. Saya tentu saja menolak ide makan es krim karena memang tak ingin cari masalah dengan gigiku sementara ini (gigi sensitif HAHAHA). Banyak orang lalu lalang termasuk tukang ojek yang memandang kami dengan ajaib. Apalagi kami sibuk membahas es krim termasuk rasanya. Benar – benar satu momen surga malam itu. Kami benar – benar cuek malam itu. Sangat cuek!
Ini hanya kepingan momen yang ingin saya tuliskan dalam kata – kata. Mengingat mereka; Ochil, Muel, Echi dan Eu benar – benar membuat saya merasa sangat hidup. They are definitely my jewels, my reason to survive and be a better woman. Mereka selalu sukses membuat saya tertawa. Obat stress murah meriah.
Entahlah, yang saya tahu, saya jatuh cinta pada para keponakan saya khususnya Eu. Tak sabar menunggu ulang tahun mereka bulan depan. Iya, dalam minggu yang sama, (tanggal 10, 14 dan 17 November) Muel, Eu dan Ochil ulang tahun. Hadiah apa ya tahun ini? itu yang masih saya pikirkan HAHAHA.
Yang pasti, cinta 100% tra bisa dapa tawar slalu ada untuk dong. Apalagi yang kurang bagi saya saat saya dikelilingi para malaikat kecil ini. Benar – benar hidup dan jatuh cinta. Ya, sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 271011)
Monday, 24 October 2011
Kuliner Tikus Tanah
“Apapun bumbu dan cara eksekusinya, ini ‘barang enak’”. Kira – kira itu kesan yang saya tangkap saat mewawancara beberapa narasumber lepas yang saya ‘interogasi’ dalam berbagai kesempatan terkait olahan daging Tikus Tanah . Seperti biasa, saya menangkap ‘calon korban’ saya dengan melemparkan jurus jitu, ‘tahu dan pernah makan Tikus Tanah?’ Kalo mereka mengiyakan pertanyaan saya, maka saya tak segan mulai mengembangkan pertanyaan berbasis rumus 5WH beserta antek – anteknya semisal “kalo iya, makan di mana, kapan, bagaimana de pu rasa”, dan semua pertanyaan yang berurusan dengan urusan ‘makan’ daging Tikus Tanah. Ternyata saya sudah bisa mulai menulis buku resep masakan. HAHAHA.
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai sumber, ada beberapa model eksekusi Tikus Tanah untuk dijadikan sumber pangan, tentu saja setelah hewan ini dibunuh. MODEL PERTAMA, dengan membakar rambut tikus tanah hingga hangus dan kemudian dikikis seperti metode eksekusi anjing yang hendak dimasak RW *tau kan makanan ini?. MODEL KEDUA, dengan menyiram tikus tanah dengan air panas mendidih hingga terjadi perubahan pada kulitnya, setelah itu mengikis rambut – rambut yang menempel di badan hewan ini. *tiba – tiba saya jadi ingat ayam atau bebek yang direndam dan dicabuti bulunya. MODEL KETIGA, dengan langsung menguliti daging Tikus Tanah tanpa menjalani proses pembakaran ataupun penyiraman.
Apapun metode eksekusi, pada saat memotong hewan ini menjadi bentuk daging yang diinginkan; entah potong dadu, potong ‘panggal’, cacah halus ibarat untuk masakan RW, biasanya usai dibersihkan, Tikus Tanah dibelah dari bagian leher hingga ke pangkal paha dan semua isi perutnya (organ viseral) dibuang. Lalu usai mendapat bentuk yang diinginkan daging harus dicuci sebelum dibumbui dan dimasak. Meskipun demikian, pada temuan Winangsih1 di kampung Siwi, Manokwari, organ dalam hewan ini pun dimakan tetapi sebelumnya sudah dibersihkan, dibumbui dan dibungkus dengan daun lalu dibakar. Cara memasak secara tradisional ini pun dibenarkan oleh seorang kenalan saya, Kornela Ullo (20an tahun) yang bekerja sebagal salah satu staf di sebuah lab di UNIPA. Nela bertutur bahwa setahu dia, biasanya masyarakat Arfak memasak daging hewan ini secara sederhana dengan bumbu seperti bawang merah dan garam minus vetsin. Biasanya dibakar ataupun direbus saja.
Saya pun jadi penasaran, bagaimana dengan orang Manokwari lainnya yang juga sering mengonsumsi daging Tikus Tanah. Ternyata, usut punya usut, ada banyak ragam olahan daging hewan ini dan saya pun tiba – tiba jadi lapar. Mmmmmh it sounds ‘yummy’. Hajar aaaaahhhh!!!
Tumisan
Amos Sumbung (30 tahun), lelaki asli Toraja yang juga sahabat baik ini saat saya ‘bajak’ di pondoknya untuk berkomentar tentang hewan ini. Ia bertutur kalau ia pertama kali makan Tikus Tanah di tahun 2001. Makanan jenis baru baginya karena selama tinggal di Toraja dan Sorong, ia tak pernah mencicipi daging hewan ini. “Sa makan pas tinggal deng sapu bapa angkat (Pak Pihahey) yang orang Serui di perkam sana, May. Dong berburu akan pake anjing. Sa juga kadang masih makan kalo pi tinggal deng dong di Mandopi sana kadang – kadang.” Tapi ia juga bertutur pernah melihat hewan ini dijual dalam bentuk ‘asar’ (panggang) di Pasar Sanggeng, Manokwari beberapa waktu silam. Saat saya pancing tentang pandangannya tentang prinsip konservasi hewan ini, ia bilang, “May, barang tuh orang lain su taru di depan mata untuk makan, ya sa makan too. Barang su terlanjur dimasak, kecuali kalo dong bilang ‘tong pi berburu tikus tanah’ untuk makan ka, itu bole sa tolak. Tapi kalo su terlanjur ya, mo bagaimana lagi.” Sangat fragmatis.
Menurut Amos, daging Tikus Tanah lumayan enak, ya seperti daging ayam namun menurutnya yang ia makan sedikit keras dan berserat. Saat itu yang ia tahu, daging hewan ini hanya dimasak dengan cara ditumis. Tentu saja setelah dieksekusi dengan cara dibakar dan diiris halus. Bumbu yang dipakai antara lain bawang merah, bawang putih, rica, lengkuas dan sedikit sereh. Tentu saja dengan dibubuhi garam. Tak heran tumisan daging ini menjadi santapan lezat ditemani sepiring nasi.
Tikus Tanah yang dimasak a la Tumisan, ternyata diamini juga oleh Mina Mandosir (20 tahun) seorang mahasiswa jurusan Biologi, UNIPA. Mina yang besar di Nabire tetapi sekarang menetap di daerah Fanindi Bengkel Tan bercerita sedikit tentang hewan ini. Mina yang tinggal di Bengkel Tan, Fanindi biasanya memasaknya dengan menggunakan bumbu a la RW ataupun juga menumisnya. Biasanya, yang diolah adalah daging Tikus Tanah yang sudah diasar lalu dipotong – potong kecil. Jadi siapkan bawang merah, masako, tambahkan juga kecap. Lalu tumislah bumbu dan masukan daging yang sudah dipotong – potong. Menurut Mina, daging hewan ini lumayan enak seperti daging babi. Ia juga menambahkan kalau ia tak tahu bagaimana hewan ini diperoleh karena biasanya ia hanya diminta memasaknya, “orang kasi ke tong, kaka. Anak – anak kompleks dong,” katanya di ujung percakapan kami siang itu.
Bumbu a la ‘Babi Kecap’
Lain Amos dan Mina, lain pula pendapat keluarga sahabat saya di Fanindi. Menurut penuturan mama Betty Rumayomi (50an tahun) dan juga ditambahkan oleh mama Fenny Doirebo (30an tahun), mereka biasanya memakai model ‘siram air panas’ dan kemudian daging Tikus Tanah diiris – iris kecil, tentu saja setelah dicuci. Setelah itu, siapkan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih, garam, vetsin, lada, lengkuas, sereh, garam dan kecap. Lalu dimasak seperti cara memasak ‘babi kecap’. Mereka sepakat berkomentar bahwa daging hewan ini enak dan lembut. “Macam rasa daging babi begitu,” pungkas mereka.
Tikus tanah yang mereka dapatkan rupanya hasil buruan di belakang rumah mereka yang langsung berbatasan dengan hutan. “Ya lumayanlah, May. Dulu kan masih banyak nenas di belakang trus hutan masih lebat, jadi ya Ori (anak Ma Betty) pi pasang jerat, pake pisang raja. Tong bisa dapat 3 – 5 ekor, apalagi ada anjing yang bantu tangkap juga. Jadi, tong masukan dong di dalam drem, karena dong masih hidup. Kalo mo makan baru pi bunuh satu – satu untuk masak,” keterangan yang saya dapatkan. Rupanya sudah cukup lama keluarga sahabat saya tidak menyantap daging hewan ini.
Sup ‘Tikus Tanah’
Nah ini resep lain yang digagas oleh seorang junior saya di Fakultas Sastra UNIPA, sebut saja Edmond Pattipeilohy (23 tahun). Edmond pertama kali menyantap hidangan daging Tikus Tanah saat kelas 3 SMA di Jayapura. “Kaka, itu pas sa dan teman – teman tong pasang jerat jadi.” Menurutnya yang mereka dapatkan adalah tikus tanah yang kecil. Saat ditanya tentang rasa daging hewan ini, ia hanya bisa bertutur bahwa daging hewan ini sangat enak, begitu lembut, lunak, dan tidak banyak tulang. “Rasa seperti ayam, kaka,” tandasnya. Edmond yang besar di Jayapura ini pun berbagi resep keluarganya. Ia bercerita tentang bagaimana neneknya mengolah daging hewan ini. Biasanya usai Tikus Tanah dibersihkan dengan cara dibakar lalu dikuliti dan diiris kecil, neneknya akan menyiapkan bumbu – bumbu sederhana. Menu yang digagas adalah sup ‘Tikus Tanah’, alias ‘Tikus Tanah masak kuah’. Tak heran ada bumbu kaldu instan seperti Royco bubuk, lada, garam, dan daun sereh. Dimasak seperti sup dan disajikan dengan petatas (ubi Jalar) kuning. “Adooh kaka, bicara barang ini macam sa langsung lapar ooo,” itu komentar Edmon sebelum menutup pembicaraan kami dalam sebuah siang yang panas tepat jam makan siang*sa juga jadi ikutan ‘telan ludah’ akhirnya HEHEHE.
‘Tikus Tanah Bakar Bambu’
Saat saya melempar pertanyaan saya pada Emmanuel Tuturop (23 tahun) mahasiswa Fakultas Kehutanan yang juga seorang narasumber bahasa di unit kerja CELD (Centre of Endangered Language) UNIPA, ia dengan semangat menjelaskan pengalamannya dan tentu saja ‘resep’ pengolahan a la kampungnya. Manu, demikian ia disapa, memang asli Fak – fak, dan resep yang ia bagikan ternyata memang unik, apalagi ia sudah mengonsumsi daging hewan ini sejak berumur 10 tahun, dan umumnya ia dan keluarganya mendapatkan hewan ini dengan menggunakan jerat berumpan ‘kasbi’ (Marihot Cassava). Resepnya tentu saja sangat khas Fak – Fak. Penasaran? Mari kita kulik bocoran resepnya.
Tikus Tanah dibakar kemudian kulitnya dikikis sampai bersih, setelah itu dipotong - potong kemudian dicuci bersih. Potongan dagingnya biasanya dipotong penggal – penggal berukuran kira 3 x 5 cm. Tentu saja ini untuk daging hewan ini. Bagaimana dengan bumbunya? Gampang saja. Siapkan ‘rica’ yang digiling halus (sesuaikan dengan tingkat kepedasan yang diinginkan), garam, vetsin lalu dicampur. Karena Manu asli Fak – fak, ia dan keluarganya tak lupa menambahkan unsur utama dalam masakan mereka. Apa lagi kalau bukan ‘pala’. Iya, jadi bila musim pala, biasanya selain bumbu di atas, mereka juga menambahkan sejenis ‘sambal pala’ alias daging buah pala yang dikupas dan lalu diiris halus dan dicampur dengan bumbu lainnya. Bila sudah siap, maka tinggal menyiapkan bambunya.
Bambu yang dipakai dalam menyiapkan masakan ini tentu saja bambu seperti ‘bambu nasi’ atau yang biasanya dibuat ‘obor’ karena kulitnya tak terlalu keras dan dapat dengan mudah diisi dengan daging yang hendak dimasak. Bambu dipotong sesuai ruasnya dan biasanya dipilih bambu yang tidak terlalu tua. Bersihkan ruas dalam bambu. Biasanya, Keluarga Manu memasukan daging di ruas bambu kemudian diselipi dengan bumbu yang telah bercampur daging buah pala lalu kemudian daging lagi. Jadi tatanan dagingnya seperti berlapis – lapis antara daging dan bumbu. Bila daging dan bumbu telah bercampur di dalam bambu, kemudian tutuplah mulut bambu dengan menyumpalkan daun seperti daun pisang ataupun daun pala. Biasanya bambu kemudian dipanggang di atas api unggun selama lebih kurang 30 menit. Paling bagus dengan api sedang sehingga bumbu akan meresap merata.
Resep ini tentu saja merupakan ciri khas olahan daging bambu di keluarga Manu. Bagi Manu, rasa daging Tikus Tanah sangat enak. “Rasa macam daging babi rebus, kaka. Sedikit balemak juga,” tutur Manu. Manu juga sempat menambahkan satu hal yang cukup membuat saya tertarik, khususnya kala mereka selesai berburu Tikus Tanah, walaupun ia dan keluarganya berburu hewan ini kadang – kadang saja. “Kaka, kalo tong berburu barang ini di hutan, anjing dong kapala guling – guling ka suka barang ini de pu kotoran. Dong kas dong bulu – bulu penuh dan guling – guling di atas akan.” Apa memang ada unsur tertentu yang menggoda anjing. Mangkali anjing mo menyamar kapa, jadi nan ada Tikus Tanah yang bisa dapa tipu HAHAHA.
SIMPULAN
Jadi apapun sensasi rasanya, entah seperti daging ayam ataupun daging babi, Tikus Tanah sudah sangat berjasa menjadi sebuah pilihan pangan penyumbang protein hewani bagi masyarakat Papua selama bergenerasi. Seperti yang saya tulis di awal catatan, “Apapun bumbu dan cara eksekusinya, ini ‘barang enak’”. Ya benar. Semoga saja di masa mendatang, dengan prinsip penangkaran yang tepat dan ketersediaan pasokan hewan ini, kelak anak cucu saya tidak harus bersusah payah mendapatkan daging hewan ini dari hasil buruan langsung dari alam yang mungkin akan mengganggu kelangsungan hidup Tikus Tanah alias bandikut. Saya bermimpi, suatu hari nanti, anak cucu saya akan mengajak kami makan malam di sebuah restoran bernuansa Papua lengkap dengan ‘ladax’2 dan tentu saja seporsi besar daging hewan ini, entah diolah dengan bumbu apa dan tentu saja dengan setangkup ‘keladi tumbu’ yang ‘bantu dorong – dorong akan masuk dalam poro’ HAHAHA. Benar – benar membuat saya lapar. Itu saja.
CATATAN:
1. Winangsih, Fitriani. 2006. Karakteristik morfologi bandikut di kampung Siwi distrik Momi Waren kabupaten Manokwari. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Universitas Negeri Papua. Manokwari
2. Ladax (Melayu Papua) Lagu daerah Papua. Entah yang dinyanyikan dengan bahasa asli suku – suku di Papua ataupun dalam bahasa Indonesia ataupun Melayu Papua.
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai sumber, ada beberapa model eksekusi Tikus Tanah untuk dijadikan sumber pangan, tentu saja setelah hewan ini dibunuh. MODEL PERTAMA, dengan membakar rambut tikus tanah hingga hangus dan kemudian dikikis seperti metode eksekusi anjing yang hendak dimasak RW *tau kan makanan ini?. MODEL KEDUA, dengan menyiram tikus tanah dengan air panas mendidih hingga terjadi perubahan pada kulitnya, setelah itu mengikis rambut – rambut yang menempel di badan hewan ini. *tiba – tiba saya jadi ingat ayam atau bebek yang direndam dan dicabuti bulunya. MODEL KETIGA, dengan langsung menguliti daging Tikus Tanah tanpa menjalani proses pembakaran ataupun penyiraman.
Apapun metode eksekusi, pada saat memotong hewan ini menjadi bentuk daging yang diinginkan; entah potong dadu, potong ‘panggal’, cacah halus ibarat untuk masakan RW, biasanya usai dibersihkan, Tikus Tanah dibelah dari bagian leher hingga ke pangkal paha dan semua isi perutnya (organ viseral) dibuang. Lalu usai mendapat bentuk yang diinginkan daging harus dicuci sebelum dibumbui dan dimasak. Meskipun demikian, pada temuan Winangsih1 di kampung Siwi, Manokwari, organ dalam hewan ini pun dimakan tetapi sebelumnya sudah dibersihkan, dibumbui dan dibungkus dengan daun lalu dibakar. Cara memasak secara tradisional ini pun dibenarkan oleh seorang kenalan saya, Kornela Ullo (20an tahun) yang bekerja sebagal salah satu staf di sebuah lab di UNIPA. Nela bertutur bahwa setahu dia, biasanya masyarakat Arfak memasak daging hewan ini secara sederhana dengan bumbu seperti bawang merah dan garam minus vetsin. Biasanya dibakar ataupun direbus saja.
Saya pun jadi penasaran, bagaimana dengan orang Manokwari lainnya yang juga sering mengonsumsi daging Tikus Tanah. Ternyata, usut punya usut, ada banyak ragam olahan daging hewan ini dan saya pun tiba – tiba jadi lapar. Mmmmmh it sounds ‘yummy’. Hajar aaaaahhhh!!!
Tumisan
Amos Sumbung (30 tahun), lelaki asli Toraja yang juga sahabat baik ini saat saya ‘bajak’ di pondoknya untuk berkomentar tentang hewan ini. Ia bertutur kalau ia pertama kali makan Tikus Tanah di tahun 2001. Makanan jenis baru baginya karena selama tinggal di Toraja dan Sorong, ia tak pernah mencicipi daging hewan ini. “Sa makan pas tinggal deng sapu bapa angkat (Pak Pihahey) yang orang Serui di perkam sana, May. Dong berburu akan pake anjing. Sa juga kadang masih makan kalo pi tinggal deng dong di Mandopi sana kadang – kadang.” Tapi ia juga bertutur pernah melihat hewan ini dijual dalam bentuk ‘asar’ (panggang) di Pasar Sanggeng, Manokwari beberapa waktu silam. Saat saya pancing tentang pandangannya tentang prinsip konservasi hewan ini, ia bilang, “May, barang tuh orang lain su taru di depan mata untuk makan, ya sa makan too. Barang su terlanjur dimasak, kecuali kalo dong bilang ‘tong pi berburu tikus tanah’ untuk makan ka, itu bole sa tolak. Tapi kalo su terlanjur ya, mo bagaimana lagi.” Sangat fragmatis.
Menurut Amos, daging Tikus Tanah lumayan enak, ya seperti daging ayam namun menurutnya yang ia makan sedikit keras dan berserat. Saat itu yang ia tahu, daging hewan ini hanya dimasak dengan cara ditumis. Tentu saja setelah dieksekusi dengan cara dibakar dan diiris halus. Bumbu yang dipakai antara lain bawang merah, bawang putih, rica, lengkuas dan sedikit sereh. Tentu saja dengan dibubuhi garam. Tak heran tumisan daging ini menjadi santapan lezat ditemani sepiring nasi.
Tikus Tanah yang dimasak a la Tumisan, ternyata diamini juga oleh Mina Mandosir (20 tahun) seorang mahasiswa jurusan Biologi, UNIPA. Mina yang besar di Nabire tetapi sekarang menetap di daerah Fanindi Bengkel Tan bercerita sedikit tentang hewan ini. Mina yang tinggal di Bengkel Tan, Fanindi biasanya memasaknya dengan menggunakan bumbu a la RW ataupun juga menumisnya. Biasanya, yang diolah adalah daging Tikus Tanah yang sudah diasar lalu dipotong – potong kecil. Jadi siapkan bawang merah, masako, tambahkan juga kecap. Lalu tumislah bumbu dan masukan daging yang sudah dipotong – potong. Menurut Mina, daging hewan ini lumayan enak seperti daging babi. Ia juga menambahkan kalau ia tak tahu bagaimana hewan ini diperoleh karena biasanya ia hanya diminta memasaknya, “orang kasi ke tong, kaka. Anak – anak kompleks dong,” katanya di ujung percakapan kami siang itu.
Bumbu a la ‘Babi Kecap’
Lain Amos dan Mina, lain pula pendapat keluarga sahabat saya di Fanindi. Menurut penuturan mama Betty Rumayomi (50an tahun) dan juga ditambahkan oleh mama Fenny Doirebo (30an tahun), mereka biasanya memakai model ‘siram air panas’ dan kemudian daging Tikus Tanah diiris – iris kecil, tentu saja setelah dicuci. Setelah itu, siapkan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih, garam, vetsin, lada, lengkuas, sereh, garam dan kecap. Lalu dimasak seperti cara memasak ‘babi kecap’. Mereka sepakat berkomentar bahwa daging hewan ini enak dan lembut. “Macam rasa daging babi begitu,” pungkas mereka.
Tikus tanah yang mereka dapatkan rupanya hasil buruan di belakang rumah mereka yang langsung berbatasan dengan hutan. “Ya lumayanlah, May. Dulu kan masih banyak nenas di belakang trus hutan masih lebat, jadi ya Ori (anak Ma Betty) pi pasang jerat, pake pisang raja. Tong bisa dapat 3 – 5 ekor, apalagi ada anjing yang bantu tangkap juga. Jadi, tong masukan dong di dalam drem, karena dong masih hidup. Kalo mo makan baru pi bunuh satu – satu untuk masak,” keterangan yang saya dapatkan. Rupanya sudah cukup lama keluarga sahabat saya tidak menyantap daging hewan ini.
Sup ‘Tikus Tanah’
Nah ini resep lain yang digagas oleh seorang junior saya di Fakultas Sastra UNIPA, sebut saja Edmond Pattipeilohy (23 tahun). Edmond pertama kali menyantap hidangan daging Tikus Tanah saat kelas 3 SMA di Jayapura. “Kaka, itu pas sa dan teman – teman tong pasang jerat jadi.” Menurutnya yang mereka dapatkan adalah tikus tanah yang kecil. Saat ditanya tentang rasa daging hewan ini, ia hanya bisa bertutur bahwa daging hewan ini sangat enak, begitu lembut, lunak, dan tidak banyak tulang. “Rasa seperti ayam, kaka,” tandasnya. Edmond yang besar di Jayapura ini pun berbagi resep keluarganya. Ia bercerita tentang bagaimana neneknya mengolah daging hewan ini. Biasanya usai Tikus Tanah dibersihkan dengan cara dibakar lalu dikuliti dan diiris kecil, neneknya akan menyiapkan bumbu – bumbu sederhana. Menu yang digagas adalah sup ‘Tikus Tanah’, alias ‘Tikus Tanah masak kuah’. Tak heran ada bumbu kaldu instan seperti Royco bubuk, lada, garam, dan daun sereh. Dimasak seperti sup dan disajikan dengan petatas (ubi Jalar) kuning. “Adooh kaka, bicara barang ini macam sa langsung lapar ooo,” itu komentar Edmon sebelum menutup pembicaraan kami dalam sebuah siang yang panas tepat jam makan siang*sa juga jadi ikutan ‘telan ludah’ akhirnya HEHEHE.
‘Tikus Tanah Bakar Bambu’
Saat saya melempar pertanyaan saya pada Emmanuel Tuturop (23 tahun) mahasiswa Fakultas Kehutanan yang juga seorang narasumber bahasa di unit kerja CELD (Centre of Endangered Language) UNIPA, ia dengan semangat menjelaskan pengalamannya dan tentu saja ‘resep’ pengolahan a la kampungnya. Manu, demikian ia disapa, memang asli Fak – fak, dan resep yang ia bagikan ternyata memang unik, apalagi ia sudah mengonsumsi daging hewan ini sejak berumur 10 tahun, dan umumnya ia dan keluarganya mendapatkan hewan ini dengan menggunakan jerat berumpan ‘kasbi’ (Marihot Cassava). Resepnya tentu saja sangat khas Fak – Fak. Penasaran? Mari kita kulik bocoran resepnya.
Tikus Tanah dibakar kemudian kulitnya dikikis sampai bersih, setelah itu dipotong - potong kemudian dicuci bersih. Potongan dagingnya biasanya dipotong penggal – penggal berukuran kira 3 x 5 cm. Tentu saja ini untuk daging hewan ini. Bagaimana dengan bumbunya? Gampang saja. Siapkan ‘rica’ yang digiling halus (sesuaikan dengan tingkat kepedasan yang diinginkan), garam, vetsin lalu dicampur. Karena Manu asli Fak – fak, ia dan keluarganya tak lupa menambahkan unsur utama dalam masakan mereka. Apa lagi kalau bukan ‘pala’. Iya, jadi bila musim pala, biasanya selain bumbu di atas, mereka juga menambahkan sejenis ‘sambal pala’ alias daging buah pala yang dikupas dan lalu diiris halus dan dicampur dengan bumbu lainnya. Bila sudah siap, maka tinggal menyiapkan bambunya.
Bambu yang dipakai dalam menyiapkan masakan ini tentu saja bambu seperti ‘bambu nasi’ atau yang biasanya dibuat ‘obor’ karena kulitnya tak terlalu keras dan dapat dengan mudah diisi dengan daging yang hendak dimasak. Bambu dipotong sesuai ruasnya dan biasanya dipilih bambu yang tidak terlalu tua. Bersihkan ruas dalam bambu. Biasanya, Keluarga Manu memasukan daging di ruas bambu kemudian diselipi dengan bumbu yang telah bercampur daging buah pala lalu kemudian daging lagi. Jadi tatanan dagingnya seperti berlapis – lapis antara daging dan bumbu. Bila daging dan bumbu telah bercampur di dalam bambu, kemudian tutuplah mulut bambu dengan menyumpalkan daun seperti daun pisang ataupun daun pala. Biasanya bambu kemudian dipanggang di atas api unggun selama lebih kurang 30 menit. Paling bagus dengan api sedang sehingga bumbu akan meresap merata.
Resep ini tentu saja merupakan ciri khas olahan daging bambu di keluarga Manu. Bagi Manu, rasa daging Tikus Tanah sangat enak. “Rasa macam daging babi rebus, kaka. Sedikit balemak juga,” tutur Manu. Manu juga sempat menambahkan satu hal yang cukup membuat saya tertarik, khususnya kala mereka selesai berburu Tikus Tanah, walaupun ia dan keluarganya berburu hewan ini kadang – kadang saja. “Kaka, kalo tong berburu barang ini di hutan, anjing dong kapala guling – guling ka suka barang ini de pu kotoran. Dong kas dong bulu – bulu penuh dan guling – guling di atas akan.” Apa memang ada unsur tertentu yang menggoda anjing. Mangkali anjing mo menyamar kapa, jadi nan ada Tikus Tanah yang bisa dapa tipu HAHAHA.
SIMPULAN
Jadi apapun sensasi rasanya, entah seperti daging ayam ataupun daging babi, Tikus Tanah sudah sangat berjasa menjadi sebuah pilihan pangan penyumbang protein hewani bagi masyarakat Papua selama bergenerasi. Seperti yang saya tulis di awal catatan, “Apapun bumbu dan cara eksekusinya, ini ‘barang enak’”. Ya benar. Semoga saja di masa mendatang, dengan prinsip penangkaran yang tepat dan ketersediaan pasokan hewan ini, kelak anak cucu saya tidak harus bersusah payah mendapatkan daging hewan ini dari hasil buruan langsung dari alam yang mungkin akan mengganggu kelangsungan hidup Tikus Tanah alias bandikut. Saya bermimpi, suatu hari nanti, anak cucu saya akan mengajak kami makan malam di sebuah restoran bernuansa Papua lengkap dengan ‘ladax’2 dan tentu saja seporsi besar daging hewan ini, entah diolah dengan bumbu apa dan tentu saja dengan setangkup ‘keladi tumbu’ yang ‘bantu dorong – dorong akan masuk dalam poro’ HAHAHA. Benar – benar membuat saya lapar. Itu saja.
CATATAN:
1. Winangsih, Fitriani. 2006. Karakteristik morfologi bandikut di kampung Siwi distrik Momi Waren kabupaten Manokwari. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Universitas Negeri Papua. Manokwari
2. Ladax (Melayu Papua) Lagu daerah Papua. Entah yang dinyanyikan dengan bahasa asli suku – suku di Papua ataupun dalam bahasa Indonesia ataupun Melayu Papua.
Subscribe to:
Posts (Atom)