Pernah tidak sedang menonton film, pertandingan olahraga ataupun sebuah program televisi dan di tengah keasyikan menonton, listrik padam ataupun harus pergi meninggalkan program itu karena alasan mendesak? Pasti rasanya sangat tidak nyaman dan penasaran dengan akhir cerita, bukan? Apalagi kalau acaranya tak akan diputar ulang. Tapi pada akhirnya …. Ya apa boleh buat, ini masalah pilihan, bukan?
Entahlah … tadi saya tiba – tiba diingatkan tentang unfinished business apalagi yang terkait dengan keikhlasan hati menerima pilihan khususnya sikap ataupun perasaan yang diambil. Sesuatu yang memang belum selesai, tetapi toh tak bisa diselesaikan juga dan harus dianggap ‘selesai’. Di dalam hati pasti rasanya ‘kaskado banget’. Entahlah, ini pandangan subyektif saya tentunya.
Nah urusan perasaan apalagi cinta, wah bisa tambah ribet tentunya. Urusan perasaan yang belum selesai ataupun menggantung pasti rasanya macam ‘tahan konto’. Tak dikeluarkan malah bisa sakit perut apa kram perut, dikeluarkan juga bisa bikin ‘polusi udara’ dan menimbulkan bunyi yang dapat membuat orang – orang berpaling. Efeknya tentu saja sama seakan sedang menonton berita teror bom. Sayangnya, kadang –kadang kita memilih untuk menahannya, demi sebuah ‘citra’ ataupun ‘norma sosial’. Demi sebuah keadaan dan kondisi tertentu. Ya, begitulah hidup!
Malam ini, saya belajar banyak hal tentang unfinished business ini apalagi urusan perasaan. Tentu saja dilatarbelakangi dengan urusan unfinished business yang saya alami. Toh, ibarat menonton film, ya kalau tak bisa melanjutkan acara nontonnya, kehidupan tetap berlanjut. Saya pun tidak serta merta puasa nonton TV. Sama sekali tidak.
Kesimpulannya? Ya lanjutkan hidup dan anggap saja memang filmnya hanya berupa proyek fragmen dokumenter yang tak punya akhir. Toh kehidupan nyata memang tak punya akhir, bukan?
Jadi saatnya berkemas dan berjalan lagi karena alam raya adalah rumah kehidupan, jadi tak akan ada ‘unfinished business’ … Anggap saja itu sekedar selingan iklan pada sebuah film yang sangat panjang.
Ah … tiba – tiba saya jatuh cinta lagi pada hidup saya, pada diri saya, everything in me.
Thanx Jesus, I have found my self back ^_^
Saatnya berangkat. Buckle up, beybeh …
(Manokwari, 290911)
Thursday, 29 September 2011
I call it Orange
Bila kau bisa memberi warna pada hari – hari yang kau jalani, warna apa yang hendak kau beri pada hari ini? Aku pasti langsung bilang, “I call it my Orange Day”, karena hari ini aku merasa baikan, ya seperti berada pada sebuah subuh menanti Fajar dan juga menyaksikan senja datang dengan semburat jingga.
Entahlah, hari ini aku menikmati hal – hal kecil. Ya, banyak hal kecil. Mulai dari celotehan keponakan kecilku, nyanyian anak salah satu sahabatku (OMG, sudah lancar banget ngomongnya, she just makes up her own song) hingga acara makan es kelapa di seputaran Manggoapi ataupun membantu acara foto teman – teman di seputaran UNIPA.
Ah ini benar – benar my orange day. This is me. My new beginning. Entahlah … aku hanya jatuh cinta pada hari ini =)
Mengutip kembali perkataan seorang teman, “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega…… dst ” (Teguh Susanto, 210911).
Mungkin itulah aku menyebut hari ini ‘My orange day’. Usai Hujan kan selalu ada pelangi, bukan? Ya semoga langit senja akan selalu cantik. Semoga!
(Manokwari, 280911, 11:52 p.m.)
Entahlah, hari ini aku menikmati hal – hal kecil. Ya, banyak hal kecil. Mulai dari celotehan keponakan kecilku, nyanyian anak salah satu sahabatku (OMG, sudah lancar banget ngomongnya, she just makes up her own song) hingga acara makan es kelapa di seputaran Manggoapi ataupun membantu acara foto teman – teman di seputaran UNIPA.
Ah ini benar – benar my orange day. This is me. My new beginning. Entahlah … aku hanya jatuh cinta pada hari ini =)
Mengutip kembali perkataan seorang teman, “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega…… dst ” (Teguh Susanto, 210911).
Mungkin itulah aku menyebut hari ini ‘My orange day’. Usai Hujan kan selalu ada pelangi, bukan? Ya semoga langit senja akan selalu cantik. Semoga!
(Manokwari, 280911, 11:52 p.m.)
Wednesday, 28 September 2011
Catatan Kecil untuk Lelaki Hujan
Ini saatnya berdamai, bukan?
Saat kau dan aku memilih jalan yang berbeda. Saat kita tak lagi sepaham. Saat nasib memainkan langkah kita.
Aku hanya ingin ikhlas, Al. Hanya ingin bisa melepaskanmu dari kenangan, dari hati, dari semua yang pernah terjadi.
Aku tak membencimu. Aku hanya tak suka kala kau memandangku lagi dengan pandangan cinta itu.
Kau tahu, rasanya seperti dadaku sesak dan ada yang hendak pecah…
Dan itu membuatku terluka (karena tak bisa memilikimu).
Entahlah … apa kata orang – orang
Aku tak akan menunggumu lagi.
Aku mungkin akan merindukanmu kadang – kadang.
Maafkan aku!
Aku ingin terbang lagi, Al.
Dengan sayap – sayapku yang menguat.
Aku tak ingin lagi menampakan wajah kuatku kala bertemu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku masih tetap kehilanganmu.
Karena kau pernah menjadi yang terindah di hatiku.
Tapi, aku ingin mengikhlaskanmu di tahun ini. Selamanya pergi. Selamanya terkubur.
Kau tahu,
Aku hanya ingin menyapa cinta yang baru yang mungkin kelak kan tumbuh di hatiku. Hingga aku tak takut lagi untuk terluka, tak takut lagi untuk mencintai orang lain dengan dalam, tak takut lagi untuk melangkah ke depan.
Aku ingin mengikhlaskanmu pergi, itu saja.
Selamat tinggal, Lelaki Hujanku.
(Manokwari, 280911)
Saat kau dan aku memilih jalan yang berbeda. Saat kita tak lagi sepaham. Saat nasib memainkan langkah kita.
Aku hanya ingin ikhlas, Al. Hanya ingin bisa melepaskanmu dari kenangan, dari hati, dari semua yang pernah terjadi.
Aku tak membencimu. Aku hanya tak suka kala kau memandangku lagi dengan pandangan cinta itu.
Kau tahu, rasanya seperti dadaku sesak dan ada yang hendak pecah…
Dan itu membuatku terluka (karena tak bisa memilikimu).
Entahlah … apa kata orang – orang
Aku tak akan menunggumu lagi.
Aku mungkin akan merindukanmu kadang – kadang.
Maafkan aku!
Aku ingin terbang lagi, Al.
Dengan sayap – sayapku yang menguat.
Aku tak ingin lagi menampakan wajah kuatku kala bertemu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku masih tetap kehilanganmu.
Karena kau pernah menjadi yang terindah di hatiku.
Tapi, aku ingin mengikhlaskanmu di tahun ini. Selamanya pergi. Selamanya terkubur.
Kau tahu,
Aku hanya ingin menyapa cinta yang baru yang mungkin kelak kan tumbuh di hatiku. Hingga aku tak takut lagi untuk terluka, tak takut lagi untuk mencintai orang lain dengan dalam, tak takut lagi untuk melangkah ke depan.
Aku ingin mengikhlaskanmu pergi, itu saja.
Selamat tinggal, Lelaki Hujanku.
(Manokwari, 280911)
Go forward
Pagi ini I feel much better for my emotional burden beberapa hari ini. Ada banyak hal yang terjadi dan pada akhirnya saya memilih untuk mengambil jalan tengah untuk mencoba realistis dan paling penting mencoba ikhlas dan melanjutkan hidup. Walaupun urusan pencurian masih membara di hati tapi saya berharap saya bisa berdamai perlahan. Ya, rekonsiliasi. Semoga lancar.
Saya juga sudah memutuskan berhenti bekerja sebagai editor tamu pada sebuah harian lokal. Bukan karena tak menyukai pekerjaan ini, sama sekali tidak. Hanya karena alasan faktor keamanan diri saat ini yang wajib saya pikirkan. Bagaimanapun saya tidak ingin merepotkan orang lain bila ada apa – apa pada diri saya. Apalagi beberapa hari ini, sudah ada laporan – laporan yang masuk ke keluarga kami tentang orang – orang tidak dikenal yang mengawasi rumah kami dan mencoba masuk ke halaman rumah dengan bersenjatakan parang pada larut malam. Saya hanya ingin realistis. Bukan karena takut dan tak punya nyali untuk pulang malam dari kerjaan saya. Sama sekali tidak. Saya hanya tak ingin membuat keluarga saya semakin khawatir. Itu saja.
Tentang perasaan, ah saya memang seminggu ini sedang merekonstruksi perasaan saya kembali. Tampaknya saya masih tetap mencintai diri saya sendiri dan masih menyimpan luka kenangan bersama Lelaki Hujan yang belum bisa sembuh dengan cepat. Masih sedikit berdarah kadang – kadang. Tentu saja saya masih butuh waktu untuk sembuh. Saya semakin sadar kalau saya tidak siap untuk komitmen ataupun pertalian perasaan apapun saat tiga malam lalu seorang teman lelaki bertanya gamblang, “apa yang ko inginkan sebenarnya dari sa, yang mungkin bisa sa penuhi dengan logika dan realistis?” Jawabannya bisa anda tebak? Saya tidak menginginkan apapun dari dirinya. Tidak juga berharap ia menjadi kekasih saya. Itu pikiran terakhir saya. Apalagi saya juga tidak ingin menyakiti siapapun lagi.
Saya menikmati bercakap – cakap dengannya, menikmati pesan – pesannya, menikmati candaanya TAPI kemudian saya sadar, saya hanya mencintainya karena sebuah kedekatan menjadi teman curhat dan asosiasi dirinya dengan ‘santo’ cintaku di Australia. Saya memang kadang – kadang merindukannya karena ia suka membuat saya tertawa dan terhibur tapi entahlah …. itu bukan perasaan yang sangat dalam seperti yang masih ada untuk Lelaki Hujan, cinta yang membuat saya ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan. Saya belum siap rupanya. Walau saya menikmati juga candaan dengan beberapa lelaki lainnya. Tapi entahlah … pada akhirnya masih ada Lelaki Hujan yang menggurat hatiku dan membuatku skeptis untuk semuanya. Intinya, tidak ingin terluka dan jatuh cinta. Karena hingga hari ini, entahlah … lukanya terasa masih segar seperti kemarin malam dimana saya harus tidur dengan dada sesak memikirkannya, tentu saja usai menangis berlama – lama hingga tebaran tisu menggunung di bawah meja.
Saya ingin mengikhlaskan kepergiannya, ingin semuanya selesai di bulan ini. Itulah sebabnya saya sedang merencanakan perjalanan saya bulan depan ke sebuah pulau di Teluk Cenderawasih. Ingin merenung, berdamai dan merayakan hidup saya yang baru. Entahlah … seperti sebuah pencarian dari pertanyaan saya selama ini. Saya hanya ingin melepaskannya pergi dari ingatan saya. Demi kebaikan saya sendiri, demi kebaikan keluarganya juga. Pertengahan bulan depan, kami genap berpisah walaupun saya yang memutuskan hal itu. Ya, walau hati saya saat itu berdarah – darah. Tapi saya harus melakukan itu karena bagaimanapun saya tak tahan terkatung – katung tanpa status.
Saya ingin pergi lagi, berpetualang. Saya bukan orang yang berpetualang demi sebuah ajang ‘pamer’ karena telah menaklukan sebuah tempat. Sama sekali bukan. Saya berpergian untuk kesehatan mental saya. Untuk mendamaikan hati saya, itu saja.
Walau situasi keamanan dan ancaman yang mulai terasa untuk keluarga kami, saya tak peduli. Saya hanya ingin pergi. Setidaknya demi meminimalisasi resiko, saya tidak akan menyebarkan informasi ke mana saya akan pergi atau dengan siapa. Itu saja. Tak ingin juga membeberkan siapa saya dan segala macam runutan etnis dan keluarga. Saya hanya ingin dikenal sebagai diri saya sendiri; seorang pemimpi.
Saya ingin ikhlas dengan segala hal yang terjadi. Hanya ingin itu.
Saya tak peduli apa yang dipikirkan oleh teman lelaki saya yang mengirimkan artikel ‘perempuan yang dicintai suamiku’. Saya sudah belajar jujur dengan apa yang saya rasakan dan itu sudah selesai. Sudah pada tahap rekonsiliasi. Saya juga ingin mengikhlaskan kehilangan beberapa benda milik teman saya yang menjadi tanggungjawab saya, mengusir rasa bersalah ini. Yang saya inginkan di minggu ini dan juga dari perjalanan saya bulan depan adalah rekonsiliasi dengan cinta, penyesalan, sakit hati saya untuk Lelaki Hujan.
Karena saya mengerti dan paham diri saya, bila saya tak mengikhlaskan Lelaki Hujan, maka saya tak akan pernah bisa benar – benar menerima lelaki lain di dalam hati saya. Takutnya, kejadian dengan kaka di Jayapura akan terjadi lagi dan tidak bisa menerima siapapun lelaki itu apa adanya.
Ini saatnya melangkah dan berjalan, bukan. Saya hanya go forward. Itu saja.
(Manokwari, 280911)
Saya juga sudah memutuskan berhenti bekerja sebagai editor tamu pada sebuah harian lokal. Bukan karena tak menyukai pekerjaan ini, sama sekali tidak. Hanya karena alasan faktor keamanan diri saat ini yang wajib saya pikirkan. Bagaimanapun saya tidak ingin merepotkan orang lain bila ada apa – apa pada diri saya. Apalagi beberapa hari ini, sudah ada laporan – laporan yang masuk ke keluarga kami tentang orang – orang tidak dikenal yang mengawasi rumah kami dan mencoba masuk ke halaman rumah dengan bersenjatakan parang pada larut malam. Saya hanya ingin realistis. Bukan karena takut dan tak punya nyali untuk pulang malam dari kerjaan saya. Sama sekali tidak. Saya hanya tak ingin membuat keluarga saya semakin khawatir. Itu saja.
Tentang perasaan, ah saya memang seminggu ini sedang merekonstruksi perasaan saya kembali. Tampaknya saya masih tetap mencintai diri saya sendiri dan masih menyimpan luka kenangan bersama Lelaki Hujan yang belum bisa sembuh dengan cepat. Masih sedikit berdarah kadang – kadang. Tentu saja saya masih butuh waktu untuk sembuh. Saya semakin sadar kalau saya tidak siap untuk komitmen ataupun pertalian perasaan apapun saat tiga malam lalu seorang teman lelaki bertanya gamblang, “apa yang ko inginkan sebenarnya dari sa, yang mungkin bisa sa penuhi dengan logika dan realistis?” Jawabannya bisa anda tebak? Saya tidak menginginkan apapun dari dirinya. Tidak juga berharap ia menjadi kekasih saya. Itu pikiran terakhir saya. Apalagi saya juga tidak ingin menyakiti siapapun lagi.
Saya menikmati bercakap – cakap dengannya, menikmati pesan – pesannya, menikmati candaanya TAPI kemudian saya sadar, saya hanya mencintainya karena sebuah kedekatan menjadi teman curhat dan asosiasi dirinya dengan ‘santo’ cintaku di Australia. Saya memang kadang – kadang merindukannya karena ia suka membuat saya tertawa dan terhibur tapi entahlah …. itu bukan perasaan yang sangat dalam seperti yang masih ada untuk Lelaki Hujan, cinta yang membuat saya ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan. Saya belum siap rupanya. Walau saya menikmati juga candaan dengan beberapa lelaki lainnya. Tapi entahlah … pada akhirnya masih ada Lelaki Hujan yang menggurat hatiku dan membuatku skeptis untuk semuanya. Intinya, tidak ingin terluka dan jatuh cinta. Karena hingga hari ini, entahlah … lukanya terasa masih segar seperti kemarin malam dimana saya harus tidur dengan dada sesak memikirkannya, tentu saja usai menangis berlama – lama hingga tebaran tisu menggunung di bawah meja.
Saya ingin mengikhlaskan kepergiannya, ingin semuanya selesai di bulan ini. Itulah sebabnya saya sedang merencanakan perjalanan saya bulan depan ke sebuah pulau di Teluk Cenderawasih. Ingin merenung, berdamai dan merayakan hidup saya yang baru. Entahlah … seperti sebuah pencarian dari pertanyaan saya selama ini. Saya hanya ingin melepaskannya pergi dari ingatan saya. Demi kebaikan saya sendiri, demi kebaikan keluarganya juga. Pertengahan bulan depan, kami genap berpisah walaupun saya yang memutuskan hal itu. Ya, walau hati saya saat itu berdarah – darah. Tapi saya harus melakukan itu karena bagaimanapun saya tak tahan terkatung – katung tanpa status.
Saya ingin pergi lagi, berpetualang. Saya bukan orang yang berpetualang demi sebuah ajang ‘pamer’ karena telah menaklukan sebuah tempat. Sama sekali bukan. Saya berpergian untuk kesehatan mental saya. Untuk mendamaikan hati saya, itu saja.
Walau situasi keamanan dan ancaman yang mulai terasa untuk keluarga kami, saya tak peduli. Saya hanya ingin pergi. Setidaknya demi meminimalisasi resiko, saya tidak akan menyebarkan informasi ke mana saya akan pergi atau dengan siapa. Itu saja. Tak ingin juga membeberkan siapa saya dan segala macam runutan etnis dan keluarga. Saya hanya ingin dikenal sebagai diri saya sendiri; seorang pemimpi.
Saya ingin ikhlas dengan segala hal yang terjadi. Hanya ingin itu.
Saya tak peduli apa yang dipikirkan oleh teman lelaki saya yang mengirimkan artikel ‘perempuan yang dicintai suamiku’. Saya sudah belajar jujur dengan apa yang saya rasakan dan itu sudah selesai. Sudah pada tahap rekonsiliasi. Saya juga ingin mengikhlaskan kehilangan beberapa benda milik teman saya yang menjadi tanggungjawab saya, mengusir rasa bersalah ini. Yang saya inginkan di minggu ini dan juga dari perjalanan saya bulan depan adalah rekonsiliasi dengan cinta, penyesalan, sakit hati saya untuk Lelaki Hujan.
Karena saya mengerti dan paham diri saya, bila saya tak mengikhlaskan Lelaki Hujan, maka saya tak akan pernah bisa benar – benar menerima lelaki lain di dalam hati saya. Takutnya, kejadian dengan kaka di Jayapura akan terjadi lagi dan tidak bisa menerima siapapun lelaki itu apa adanya.
Ini saatnya melangkah dan berjalan, bukan. Saya hanya go forward. Itu saja.
(Manokwari, 280911)
Another Note for Lelaki Hujan
Malam ini aku kembali mengingat dia, mengingat dia yang sudah ingin kulupakan selamanya. Tapi entahlah …. Dia selalu muncul kapan pun, seenaknya, muncul di mana pun, lewat siapa pun. Aku teringat runtutan pengingat tentang dia dalam seminggu ini mulai dari acara nikah sepupu jauhku, lagu Adele dan juga link website yang dikirim seorang teman, tentang “perempuan yang dicintai suamiku” tagline terakhirnya benar – benar semakin membuatku larut. Isinya, “Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.” Apalagi lagu Adele “Someone Like You” masih tetap mengisiku minggu ini. Ini masih minggu Pasifikku, minggu untuk merenung dan berdiam diri sembari merefleksikan diri tentang cinta dan hidup. Berharap mencari rekonsiliasi. Terasa berat sebenarnya.
Aku tak pernah bisa berbohong pada perasaanku, pada akhirnya ini akan selalu tentang dia. Sebaik apapun orang lain (baca: lelaki) yang dekat padaku, selucu atau seromantis apapun, pada akhirnya akan kembali pada dia; he’s my bittersweet man. Sahabatku bilang, “de tra pantas dapat ko”. Yang lain berkata, “U live in the past, siz. You’re in love with it. Lelaki Hujan is only one and unfortunately he’s not yours.” Ada juga yang bilang, “lanjutkan hidup. Jatuh cintalah pada orang lain.” Ya, mereka benar. Iya, karena sampai sekarang pun, masih tak ada seorang pun yang sanggup membuatku tertawa, jatuh cinta dan menangis pada saat bersamaan. Lelaki yang masih tetap mengisi mimpi – mimpiku, yang kerap muncul dalam benakku tiba – tiba kala hujan turun. Ah aku masih hidup di masa lalu. Saat ia meninggalkanku, waktu memang berhenti dan tidak pernah sama lagi.
Andai ia bisa membaca catatan ini, entahlah … selalu bertanya di dalam hati selama 3 tahun ini, “Kenapa ko tra bisa berjuang barang sedikit ka untuk tong pu cinta?” Pertanyaan yang semakin menjadi dan membuat dadaku terasa sesak kala menghadiri acara nikah seorang saudara jauh.
Kami masih sering bertemu, berpapasan dan selalu saja ada rasa yang pecah di hati. Pandangannya masih tetap sama, pandangan penuh cinta yang kutemukan pada sebuah malam di areal dermaga Manokwari. Entahlah, ia dan putri kecilnya, berlari riang. Tiap kali ia melihatku, ia akan menyuruh anaknya menjauh dan memandangiku. Biasanya aku memilih berpaling dan mengacuhkannya. Biasanya, saat ia selesai belanja, ia akan memilih nongkrong sebentar di luar dan menantiku keluar dan memantauku. Menatapku sekali lagi. Entahlah apa yang ia pikirkan. Semuanya sudah tak mungkin diulang lagi kan? He has two kids and a wife. A married man indeed. Tak akan pernah sama lagi.
Minggu ini tiga tahun lalu, aku memutuskan menerimanya kembali dengan segala kesalahan yang dibuatnya, mencabikku hingga benar - benar berdarah. Patah hati yang masih belum sembuh hingga tiga tahun ini. Aku ingin bisa melepaskan dia, jauh dari diriku, ingin berdamai dengan masa laluku. Manokwari hanya akan selalu menjadi pengingat. Pengingat dirinya, pengingat tentang cinta yang tak akan pernah kumiliki.
Ah dia cinta yang tak pernah bisa kumiliki, sekeras apapun kucoba. Aku tak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Sahabatku benar, “ia cuma satu, dan sayangnya ia bukan milikmu”.
Lelaki – lelaki yang datang setelah dia, baik dekat maupun jauh, pada akhirnya hanya menjadi penawar rasa sakit hatiku, yang datang hanya untuk semusim saja, ataupun sekedar menjadi malaikat tanpa sayap yang mengiburku, karena pada akhirnya … selalu hanya dia yang masih menjadi luka cair di hati. Tetap ada, karena kenangan kami selalu basah. Selalu ada … apalagi kala hujan turun di bulan September.
Hujan bulan September selalu sukses membuatku mengingat dia. Tahun lalu, di bulan ini, kami masih bersama, untuk menyamakan rasa dan persepsi. Pada akhirnya, semuanya berakhir juga. Entahlah … Jakarta dan Australia tak pernah bisa memalingkan hatiku dari dirinya. Aku hanya khawatir, bila tak juga bisa berdamai dan rekonsiliasi, hal ini akan semakin menjauhkanku dari mereka yang mungkin lebih peduli padaku.
Aku selalu berusaha menjauhkan perasaan ini, sebaik mungkin. Sayangnya, selalu lolos dengan mudah dan membuatku menangis dan sedih. Sesuatu yang dalam yang tak mungkin disembunyikan.
Sahabatku bilang, mungkin aku harus bertemu dengannya secara langsung dan mengungkapkan semua yang kurasakan karena masih ada unfinished business. Ya, kami tak pernah putus secara langsung, itupun aku yang memutuskan via SMS karena tampaknya ia masih saja plin –plan. Ya atau tidak, itu saja yang ingin kudengar kala itu.
Aku tahu ini salah. Aku masih merindukannya kadang – kadang di kala aku begitu tenang, memimpikannya, menginginkannya. Kalau ia tanyakan apa yang aku inginkan dari dirinya, aku pasti akan bilang, “I want YOU! A WHOLE you!” Begitu egois! Ya, tapi itu perasaanku sesungguhnya. Sayangnya, aku tak pernah bisa mengatakannya, bukan? Ada hal – hal yang tak mungkin bisa diperbaiki. He’s not mine. Itu saja.
Hal terburuk dalam sebuah hubungan cinta adalah saat dimana kita harus berpisah dengan pasangan kita BUKAN karena sudah tak ada cinta tetapi karena keadaan dan faktor keluarga. Tak seorangpun ingin ditinggalkan, bukan? Entahlah … mengapa pada saat itu hingga tahun kemarin, ia tak pernah bisa berjuang untuk cinta kami? Aku tak tahu.
Andai saja kau bisa membaca catatan ini, Al. Andai saja. Walau kutahu kau lelaki yang sangat cuek dengan apapun. Lelaki dengan wajah yang selalu bisa membuatku tertawa kala bertemu. Aku merindukan pandangan matamu, semua yang ada di dirimu. Selalu dan akan selalu. Kau masih belum tergantikan oleh siapapun, tidak juga oleh Jonathan. Jonathan bagaikan malaikatku, sangat baik tapi aku bahkan tak berani berfantasi atau membayangkan hal lain bersamanya, tidak juga ciuman. Tapi kau, kau masih tetap menjadi my bittersweet man. Yang tak akan pernah tergantikan. Lelaki yang selalu menjadi lelaki yang muncul di alam bawah sadar mimpiku.
Aku tak tahu apakah kau pernah merindukanku di tahun ini? Aku tak pernah berharap walau kuakui kuingin kau masih mengingatku. Itu saja. Entahlah …
Never mind, I’ll find someone like you atau yang lebih baik darimu.
Al, lelaki hujanku, di antara mimpi dan terjaga, disitulah aku akan selalu mencintaimu. Sangat mencintaimu!
Tapi semuanya sudah tak sama lagi, karna kau telah mencuri kunci ruang hatiku, Al. Aku masih butuh waktu untuk membongkar loker kenangan di benak, membersihkannya dan menatanya, untuk seseorang yang lain suatu hari.
Al, I wish nothing but the best for you. Just don’t forget me. Itu saja.
Tampaknya, aku harus mengakhiri catatan ini dengan memutar suara Adele dan Greenday di kepalaku.
Ya, ‘wake me up when September ends’ demi ‘someone like (OR better than) you’.
(270911; in the end, it’s always HIM)
Aku tak pernah bisa berbohong pada perasaanku, pada akhirnya ini akan selalu tentang dia. Sebaik apapun orang lain (baca: lelaki) yang dekat padaku, selucu atau seromantis apapun, pada akhirnya akan kembali pada dia; he’s my bittersweet man. Sahabatku bilang, “de tra pantas dapat ko”. Yang lain berkata, “U live in the past, siz. You’re in love with it. Lelaki Hujan is only one and unfortunately he’s not yours.” Ada juga yang bilang, “lanjutkan hidup. Jatuh cintalah pada orang lain.” Ya, mereka benar. Iya, karena sampai sekarang pun, masih tak ada seorang pun yang sanggup membuatku tertawa, jatuh cinta dan menangis pada saat bersamaan. Lelaki yang masih tetap mengisi mimpi – mimpiku, yang kerap muncul dalam benakku tiba – tiba kala hujan turun. Ah aku masih hidup di masa lalu. Saat ia meninggalkanku, waktu memang berhenti dan tidak pernah sama lagi.
Andai ia bisa membaca catatan ini, entahlah … selalu bertanya di dalam hati selama 3 tahun ini, “Kenapa ko tra bisa berjuang barang sedikit ka untuk tong pu cinta?” Pertanyaan yang semakin menjadi dan membuat dadaku terasa sesak kala menghadiri acara nikah seorang saudara jauh.
Kami masih sering bertemu, berpapasan dan selalu saja ada rasa yang pecah di hati. Pandangannya masih tetap sama, pandangan penuh cinta yang kutemukan pada sebuah malam di areal dermaga Manokwari. Entahlah, ia dan putri kecilnya, berlari riang. Tiap kali ia melihatku, ia akan menyuruh anaknya menjauh dan memandangiku. Biasanya aku memilih berpaling dan mengacuhkannya. Biasanya, saat ia selesai belanja, ia akan memilih nongkrong sebentar di luar dan menantiku keluar dan memantauku. Menatapku sekali lagi. Entahlah apa yang ia pikirkan. Semuanya sudah tak mungkin diulang lagi kan? He has two kids and a wife. A married man indeed. Tak akan pernah sama lagi.
Minggu ini tiga tahun lalu, aku memutuskan menerimanya kembali dengan segala kesalahan yang dibuatnya, mencabikku hingga benar - benar berdarah. Patah hati yang masih belum sembuh hingga tiga tahun ini. Aku ingin bisa melepaskan dia, jauh dari diriku, ingin berdamai dengan masa laluku. Manokwari hanya akan selalu menjadi pengingat. Pengingat dirinya, pengingat tentang cinta yang tak akan pernah kumiliki.
Ah dia cinta yang tak pernah bisa kumiliki, sekeras apapun kucoba. Aku tak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Sahabatku benar, “ia cuma satu, dan sayangnya ia bukan milikmu”.
Lelaki – lelaki yang datang setelah dia, baik dekat maupun jauh, pada akhirnya hanya menjadi penawar rasa sakit hatiku, yang datang hanya untuk semusim saja, ataupun sekedar menjadi malaikat tanpa sayap yang mengiburku, karena pada akhirnya … selalu hanya dia yang masih menjadi luka cair di hati. Tetap ada, karena kenangan kami selalu basah. Selalu ada … apalagi kala hujan turun di bulan September.
Hujan bulan September selalu sukses membuatku mengingat dia. Tahun lalu, di bulan ini, kami masih bersama, untuk menyamakan rasa dan persepsi. Pada akhirnya, semuanya berakhir juga. Entahlah … Jakarta dan Australia tak pernah bisa memalingkan hatiku dari dirinya. Aku hanya khawatir, bila tak juga bisa berdamai dan rekonsiliasi, hal ini akan semakin menjauhkanku dari mereka yang mungkin lebih peduli padaku.
Aku selalu berusaha menjauhkan perasaan ini, sebaik mungkin. Sayangnya, selalu lolos dengan mudah dan membuatku menangis dan sedih. Sesuatu yang dalam yang tak mungkin disembunyikan.
Sahabatku bilang, mungkin aku harus bertemu dengannya secara langsung dan mengungkapkan semua yang kurasakan karena masih ada unfinished business. Ya, kami tak pernah putus secara langsung, itupun aku yang memutuskan via SMS karena tampaknya ia masih saja plin –plan. Ya atau tidak, itu saja yang ingin kudengar kala itu.
Aku tahu ini salah. Aku masih merindukannya kadang – kadang di kala aku begitu tenang, memimpikannya, menginginkannya. Kalau ia tanyakan apa yang aku inginkan dari dirinya, aku pasti akan bilang, “I want YOU! A WHOLE you!” Begitu egois! Ya, tapi itu perasaanku sesungguhnya. Sayangnya, aku tak pernah bisa mengatakannya, bukan? Ada hal – hal yang tak mungkin bisa diperbaiki. He’s not mine. Itu saja.
Hal terburuk dalam sebuah hubungan cinta adalah saat dimana kita harus berpisah dengan pasangan kita BUKAN karena sudah tak ada cinta tetapi karena keadaan dan faktor keluarga. Tak seorangpun ingin ditinggalkan, bukan? Entahlah … mengapa pada saat itu hingga tahun kemarin, ia tak pernah bisa berjuang untuk cinta kami? Aku tak tahu.
Andai saja kau bisa membaca catatan ini, Al. Andai saja. Walau kutahu kau lelaki yang sangat cuek dengan apapun. Lelaki dengan wajah yang selalu bisa membuatku tertawa kala bertemu. Aku merindukan pandangan matamu, semua yang ada di dirimu. Selalu dan akan selalu. Kau masih belum tergantikan oleh siapapun, tidak juga oleh Jonathan. Jonathan bagaikan malaikatku, sangat baik tapi aku bahkan tak berani berfantasi atau membayangkan hal lain bersamanya, tidak juga ciuman. Tapi kau, kau masih tetap menjadi my bittersweet man. Yang tak akan pernah tergantikan. Lelaki yang selalu menjadi lelaki yang muncul di alam bawah sadar mimpiku.
Aku tak tahu apakah kau pernah merindukanku di tahun ini? Aku tak pernah berharap walau kuakui kuingin kau masih mengingatku. Itu saja. Entahlah …
Never mind, I’ll find someone like you atau yang lebih baik darimu.
Al, lelaki hujanku, di antara mimpi dan terjaga, disitulah aku akan selalu mencintaimu. Sangat mencintaimu!
Tapi semuanya sudah tak sama lagi, karna kau telah mencuri kunci ruang hatiku, Al. Aku masih butuh waktu untuk membongkar loker kenangan di benak, membersihkannya dan menatanya, untuk seseorang yang lain suatu hari.
Al, I wish nothing but the best for you. Just don’t forget me. Itu saja.
Tampaknya, aku harus mengakhiri catatan ini dengan memutar suara Adele dan Greenday di kepalaku.
Ya, ‘wake me up when September ends’ demi ‘someone like (OR better than) you’.
(270911; in the end, it’s always HIM)
Tuesday, 27 September 2011
On the way to Insanity
On the way to insanity is what I feel this morning. Itu perasaan yang saya rasakan hari ini. bukan kegilaan untuk berputar dalam pikiran saya sendiri, tetapi kegilaan untuk mulai membalas dendam. Semuanya dimulai dari informasi seorang kenalan yang tahu tentang pergerakan barang tadahan hasil curian. Sialnya, ia bisa mengenali merek helm merah yang hilang. Lengkaplah susah. Dari bincang – bincang itu, ia menyebut dua pelaku yang memang sudah kucurigai sejak awal. Ya, seperti ada bola lampu yang menyala di otak saya seperti di film – film karton bila ada ide baru yang berkelebat. Sayangnya, di otak saya bola lampu ini membakar dan begitu panas. A red hot rage!!!
Kemarin sore, saya begitu marah, sangat marah. Apakah ini yang disebut dendam? Saya tak tahu. Yang saya tahu, pikiran penuh pikiran membunuh secara fisik muncul dengan cepat muncul di otak saya, termasuk bagaimana cara membalas secara mematikan tetapi halus dan juga brutal, dan yang pastinya saya ingin pelaku tersiksa dan menderita. Jangan tanya apa saja yang sudah ingin saya lakukan. Gilanya, saya sampai pergi mengawasi rumah penadah dan memantau kemungkinan – kemungkinan jalan keluar bila rencana A dan B tak terjadi. Berpura – pura mencari kenalan lama. Begitu pula dengan kemungkinan – kemungkinan lain yang bisa digagas oleh otak saya. Ah parah sekali pikiran saya yang jahat itu.
Entahlah … saya takut bila tidak saya kendalikan maka saya akan dengan mudah dikonsumsi oleh pikiran dan sisi gelap saya. Saya sudah melepas pikiran gelap semasa SD dan SMP ini. Entahlah, mengapa saya kembali lagi. Mungkin memang saya cuma perlu 1 faktor pemicu saja. Minggu lalu saya berhasil mengontrol hal ini sayangnya muncul lagi. Ada bara panas yang mendidih di hati saya. Mungkin ini yang pernah adik lelaki saya bilang, “Tra tau ee May, untuk orang yang pukul sa itu, biar su kejadian lewat beberapa tahun lalu, tiap kali ketemu dong, di dalam dada nih macam hati mendidih sekali dan ingin balas dong trus.”. Mungkin benar juga, itu yang saya rasakan sekarang. Walaupun saya sudah begitu tenang dan ini minggu Pasifik saya, tetap bila mendengar sedikit saja tentang para pencuri itu, ada nyala merah di dada.
Mungkin inilah sebabnya dua rekan di kantor (ma’am Novie dan Riana) selalu mengganggu saya bila saya bercerita tentang ide saya yang aneh kadang – kadang. Karna entahlah, menurut mereka, pandangan mata selalu bersinar senang dan bright dan menikmati kala saya mengemukakan rencana jahat pada orang tertentu ataupun imajinasi saya yang melenceng itu. Sampai – sampai ma’am Novie bilang kalau cuma dua orang tipe cowok yang cocok pacaran dengan saya, “ya kalo bukan psikolog, ya pasti psikopat, May”. Mungkin karena beberapa tahun lalu ia pernah memberi pertanyaan tes psikopat ringan berupa cerita tentang alasan seorang perempuan bisa membunuh ibu kandung dan saudaranya demi lelaki yang diincarnya di pemakaman. Sayangnya, saat itu di kantor, hanya saya yang bisa menebak motifnya. Keadaaan diperparah lagi usai saya selesai mengikuti mata kuliah “Indonesia: Politics, Society and Development”. Artikel yang saya pilih tentu saja menulis karangan tentang Soeharto sebanyak 3 ribu kata. Tentu saja dengan riset 2 bulanan, saya berhasil menyelesaikan hal itu. Membaca semua literature sejarah, pandangan politik hingga membuat saya harus konsultasi ke psikolog karena semua bacaan berbau politik, intel dan semua hal buruk itu menempel di otak saya. Mengisi mimpi buruk saya tiap malam. Depresi tepatnya yang saya rasakan. Itu masa terburuk saya. Entahlah, setelah itu, saya hampir tidak bisa merasakan emosi apapun. Walaupun saya masih tetap punya empati pada orang lain hanya untuk urusan brutality kayaknya saya sudah bisa membayangkan yang jahat itu dengan mudah.
Saya jadi mengerti bahwa hidup hanyalah masalah pilihan. Ingin jadi orang yang sangat baik atau ingin jadi orang yang jahat. Jadi orang jahat lebih mudah, dan sangat mudah. Sedang jadi orang baik? Itu perkara sulit, bagaimana kita bisa berbagi dan menghargai orang lain dan mau hidup dengan tenang. Itu saja.
Saya berharap saya bisa mengontrol diri saya, mengontrol pikiran saya yang impulsif. Mungkin juga berhenti nonton film favorit saya yang bergenre- Thriller. Percaya tidak, sejak kecil, film favorit saya apalagi sutradara favorit saya itu Quentin Tarantino apalagi filmnya ‘Natural Born Killer’ itu film favorit saya. Aneh bukan. Bacaan saya dari kecil yang sangat saya suka ya sejenis trio Detektif, Lima sekawan, Agatha Christie. Bahkan sejak SD saya sudah membaca majalah bulanan Intisari dan tahu tidak, rubrik favorit saya ya tentu saja “perkara kriminal” bahkan saya mengoleksi kumpulan cerita kriminalnya. Karena rubrik ini, sejak SMP, saya jadi tahu bahwa kaleng yang gembos dan hasil kadaluarsa bisa jadi alat pembunuh yang ampuh bila ingin membunuh orang dengan menghitung berat badannya, memperkirakan berapa banyak asupan mikroba botulinum itu masuk dan bagaimana cara menghapus jejak apalagi untuk ukuran Manokwari yang forensiknya cukup jelek bekerja. Cukup dengan membeli 2 kaleng baru makanan yang sama, dan menukar isinya dengan yang kadaluarsa luar biasa, apalagi kalau sudah mengujinya pada tikus atau apalah. Tak ada barang yang susah di Manokwari. Bila ingin jejak hilang, beli sajalah sarung tangan yang murah di apotek yang kerap saya pakai untuk membersihkan kamar mandi. Dijamin tak ada sidik jari. Lagipula mana ada database kepolisian yang lengkap di kota kecil ini.
Menjadi orang jahat especially pembunuh itu perkara mudah. Hanya perlu nyali, perhitungan yang matang dan tentu saja kesabaran dan biaya operasional. Selama ada uang, pembunuhan tanpa jejak sangat mudah dilakukan. Apalagi bila hanya just for fun. Bersenang – senang dengan membunuh, itu gampang. Tahu tidak? Saya harus mengeluarkan pikiran jahat ini dari otak saya, dari hidup saya karena saya tahu ini salah. Saya tak ingin hidup dengan rancangan – rancangan otak jahat ini. Saya tak mau. Saya capek saja.
Dulu, saya bahkan bilang pada beberapa teman, tahu tidak bagaimana cara melumpuhkan sebuah kota seperti Manokwari untuk dikuasai? Kalau saja saya punya 1 tim yang terdiri dari 10 orang dengan otak seperti saya, saya percaya kami bisa bersenang – senang mengacaukan kota kecil ini. Lumpuhkan saja area vital seperti meledakan mesin PLN, saluran komunikasi inti, dan juga membakar pelabuhan bahan bakar dan merusak mesin – mesin pom bensin (untung – untung bisa kita bakar). Plus kalau bisa, 1 hari sebelumnya, menculik anak –anak atau anggota petinggi kota ini, katakan saja bupati, dandim, kapolres dan kafasharkan, dan juga gubernur. Hanya untuk menambah beban mental dan tekanan dan jadi salah satu kartu As untuk berjaga – jaga bila ketangkap, toh hukumannya pasti berat. Jadi kenapa sekalian tidak yang tegang HAHAHA
Sayangnya, sementara ini saya hanya suka menuliskan ide – ide gila itu di dalam cerita pendek saya, yang selalu berbau kematian, pembunuhan dan darah. Ada aroma darah dan kematian di dalam tulisan – tulisan saya. Ekspresi alam bawah sadar saya.
Saya hanya ingin jadi orang baik dan berusaha sekeras mungkin jadi orang baik. Itu saja. Sayangnya, sementara ini saya berusaha untuk mengontrol kesukaan saya untuk berburu informasi yang kadang – kadang rasanya hanya untuk mencari sensasi rasa itu. Tak heran, dulu saya dicap aneh dan agresif apalagi sempat dilabel ‘kapala kejar cowok’ padahal sebenarnya bukan itu. Saya cuek dengan pandangan orang, sebenarnya. Sebenarnya bukan mengharapkan cinta, saya hanya suka saja berburu informasi tentang cowok yang saya jadikan obyek obsesi saya. Semakin sulit saya mendapatkan informasi dan kepercayaan apalagi semakin rumit ia bersikap, semakin tertantang saya. Teman saya bilang ini ‘permainan tarik ulur’. Bagi saya, ini mental ‘berburu’ saya. Saya suka membiarkan mereka berpikir bahwa saya suka, atau tidak suka, membiarkan mereka bermain dengan emosi dan psikologis mereka. Kadang – kadang saya menikmati melihat wajah mereka bertanya, dan saya bisa dengan ‘ pura – pura mati’ cuek hanya untuk tertawa kesenangan. Kau tahu rasanya berburu? Kita menanti target kita lemah, menunggu dengan sabar, menunggu dan menghitung strategi untuk melumpuhkan. Ya seperti itu. Harusnya saya belajar main catur untuk berpikir tentang strategi. Ya seharusnya!
Ah tulisan ini semakin tak jelas. Semakin aneh. Semakin rusak. Saya berharap otak saya akan membaik dan tidak perlu melaksanakan red hot rage di dalam dada saya.
Saya tak ingin menyalahkan darah yang mengalir di tubuh saya. Tapi mungkin saudara saya benar, “Ko mo tolak bagaimanapun juga, di ko darah ada darah Arfak, May. Ko bukan Jawa asli, May. Tetap ada ‘otak gila’ itu yang mengalir, tergantung ko mo olah de bagaimana.” Ya sayangnya, secara genetik pun, di darah saya, mengalir darah ketiga moyang saya yang bukan pengecut tetapi yang didapuk keluarga dan sukunya sebagai ‘pahlawan dan jawara; para petualang’. Kadang terasa berat. Entahlah … apa memang simpul gen dan sifat itu bisa diwariskan ya? Saya ingin menolak pandangan itu. Ingin sekali.
Bapak atau kakek dari oyang saya yang bersuku Biak adalah para petualang dan penjual budak dan pembawa upeti ke Maluku Utara pada masa lampau dan kami bukan dari keluarga yang hanya ‘diam – diam’ saja tetapi para petualang lautan. Oyang atau bapak dari oyang perempuan saya dari suku Meyah, yang namanya ‘Ifna Monaresa’ terkenal sebagai pahlawan perang suku, penjagal musuh – musuhnya, seseorang tanpa rasa takut. Oyang dari nenek saya yang bersuku Meyah juga datang dari keret besar dengan pemimpin perangnya. Belum ditambah lagi dengan dari pihak bapak saya. Ayah dari nenek saya yang Sunda – Cirebon bisa melakukan perjalanan hijrah dari Cirebon ke daerah Jawa Tengah (Brebes) demi sebuah wangsit pada masa itu; guna membangun desa. Ia dikenal sebagai ‘pembasmi bromocorah’. Bahkan sewaktu mengunjungi desa nenek, saudara lelaki nenek melarang kami main di perkebunan tebu depan desa karena konon di situlah, tumpukan puluhan bromocorah alias perampok hasil ‘kerjaan’ buyut kami dibunuh dikubur. Konon, arwah mereka tak pernah suka bila kami keturunan buyut bermain di sana dan sering sekali merasuki dan menyiksa. Itu kata penduduk desa itu.
Bicara tentang kebrutalan dan keberanian, Entahlah . sejak kecil saya terbiasa dengan budaya kekerasan. Tak hanya dari suku dan keluarga besar mama tapi juga dari bapak. Siapa bilang orang Jawa itu lemah? Itu hanya isapan jempol. tapi saya memang melihat betapa brutalnya orang kampung kami. Pertama kali saya datang ke kampung nenek, baru 1 jam duduk, tiba – tiba di depan saya orang – orang sekampung nenek yang Sunda pindahan dari Cirebon keluar dengan sabit dan parang ‘baku hajar’ hingga darah – darah dengan orang dari desa tetangga kami yang ‘Jawa’. Iya, desa nenek itu dikelilingi oleh lima desa Jawa dan satu – satunya desa Sunda. Makanya namanya juga ‘Tanggung Sari’.
Saya hanya ingin bisa melepaskan amarah ini dengan cara positif. Ingin sekali. Karena amarah ini benar – benar menguras energi saya. Membuat saya tak nyaman. Sangat tak suka.
Saya berharap saya bisa melepas amarah ini dengan cepat. Daripada pikiran jahat ini merasuk saya lebih lagi, apalagi saya impulsif. Sangat impulsif.
Saya harus berusaha mendengarkan suara Yesus dan menuruti-Nya. Karena saya akui sejak kemarin saya menolak mati – matian suara lembut di kepala saya untuk menyerahkan dan mengikhlaskan yang terjadi. Harus direlakan.
Saya sedang berusaha. Sangat berusaha.
Benar – benar saya berada pada jalan menuju kegilaan. Semoga saya bisa mengalahkan panggilan dan dorongan red hot rage di dada saya. Semoga!!!
(Manokwari, 270911; ‘dendam’ ini membunuhku!!!)
Kemarin sore, saya begitu marah, sangat marah. Apakah ini yang disebut dendam? Saya tak tahu. Yang saya tahu, pikiran penuh pikiran membunuh secara fisik muncul dengan cepat muncul di otak saya, termasuk bagaimana cara membalas secara mematikan tetapi halus dan juga brutal, dan yang pastinya saya ingin pelaku tersiksa dan menderita. Jangan tanya apa saja yang sudah ingin saya lakukan. Gilanya, saya sampai pergi mengawasi rumah penadah dan memantau kemungkinan – kemungkinan jalan keluar bila rencana A dan B tak terjadi. Berpura – pura mencari kenalan lama. Begitu pula dengan kemungkinan – kemungkinan lain yang bisa digagas oleh otak saya. Ah parah sekali pikiran saya yang jahat itu.
Entahlah … saya takut bila tidak saya kendalikan maka saya akan dengan mudah dikonsumsi oleh pikiran dan sisi gelap saya. Saya sudah melepas pikiran gelap semasa SD dan SMP ini. Entahlah, mengapa saya kembali lagi. Mungkin memang saya cuma perlu 1 faktor pemicu saja. Minggu lalu saya berhasil mengontrol hal ini sayangnya muncul lagi. Ada bara panas yang mendidih di hati saya. Mungkin ini yang pernah adik lelaki saya bilang, “Tra tau ee May, untuk orang yang pukul sa itu, biar su kejadian lewat beberapa tahun lalu, tiap kali ketemu dong, di dalam dada nih macam hati mendidih sekali dan ingin balas dong trus.”. Mungkin benar juga, itu yang saya rasakan sekarang. Walaupun saya sudah begitu tenang dan ini minggu Pasifik saya, tetap bila mendengar sedikit saja tentang para pencuri itu, ada nyala merah di dada.
Mungkin inilah sebabnya dua rekan di kantor (ma’am Novie dan Riana) selalu mengganggu saya bila saya bercerita tentang ide saya yang aneh kadang – kadang. Karna entahlah, menurut mereka, pandangan mata selalu bersinar senang dan bright dan menikmati kala saya mengemukakan rencana jahat pada orang tertentu ataupun imajinasi saya yang melenceng itu. Sampai – sampai ma’am Novie bilang kalau cuma dua orang tipe cowok yang cocok pacaran dengan saya, “ya kalo bukan psikolog, ya pasti psikopat, May”. Mungkin karena beberapa tahun lalu ia pernah memberi pertanyaan tes psikopat ringan berupa cerita tentang alasan seorang perempuan bisa membunuh ibu kandung dan saudaranya demi lelaki yang diincarnya di pemakaman. Sayangnya, saat itu di kantor, hanya saya yang bisa menebak motifnya. Keadaaan diperparah lagi usai saya selesai mengikuti mata kuliah “Indonesia: Politics, Society and Development”. Artikel yang saya pilih tentu saja menulis karangan tentang Soeharto sebanyak 3 ribu kata. Tentu saja dengan riset 2 bulanan, saya berhasil menyelesaikan hal itu. Membaca semua literature sejarah, pandangan politik hingga membuat saya harus konsultasi ke psikolog karena semua bacaan berbau politik, intel dan semua hal buruk itu menempel di otak saya. Mengisi mimpi buruk saya tiap malam. Depresi tepatnya yang saya rasakan. Itu masa terburuk saya. Entahlah, setelah itu, saya hampir tidak bisa merasakan emosi apapun. Walaupun saya masih tetap punya empati pada orang lain hanya untuk urusan brutality kayaknya saya sudah bisa membayangkan yang jahat itu dengan mudah.
Saya jadi mengerti bahwa hidup hanyalah masalah pilihan. Ingin jadi orang yang sangat baik atau ingin jadi orang yang jahat. Jadi orang jahat lebih mudah, dan sangat mudah. Sedang jadi orang baik? Itu perkara sulit, bagaimana kita bisa berbagi dan menghargai orang lain dan mau hidup dengan tenang. Itu saja.
Saya berharap saya bisa mengontrol diri saya, mengontrol pikiran saya yang impulsif. Mungkin juga berhenti nonton film favorit saya yang bergenre- Thriller. Percaya tidak, sejak kecil, film favorit saya apalagi sutradara favorit saya itu Quentin Tarantino apalagi filmnya ‘Natural Born Killer’ itu film favorit saya. Aneh bukan. Bacaan saya dari kecil yang sangat saya suka ya sejenis trio Detektif, Lima sekawan, Agatha Christie. Bahkan sejak SD saya sudah membaca majalah bulanan Intisari dan tahu tidak, rubrik favorit saya ya tentu saja “perkara kriminal” bahkan saya mengoleksi kumpulan cerita kriminalnya. Karena rubrik ini, sejak SMP, saya jadi tahu bahwa kaleng yang gembos dan hasil kadaluarsa bisa jadi alat pembunuh yang ampuh bila ingin membunuh orang dengan menghitung berat badannya, memperkirakan berapa banyak asupan mikroba botulinum itu masuk dan bagaimana cara menghapus jejak apalagi untuk ukuran Manokwari yang forensiknya cukup jelek bekerja. Cukup dengan membeli 2 kaleng baru makanan yang sama, dan menukar isinya dengan yang kadaluarsa luar biasa, apalagi kalau sudah mengujinya pada tikus atau apalah. Tak ada barang yang susah di Manokwari. Bila ingin jejak hilang, beli sajalah sarung tangan yang murah di apotek yang kerap saya pakai untuk membersihkan kamar mandi. Dijamin tak ada sidik jari. Lagipula mana ada database kepolisian yang lengkap di kota kecil ini.
Menjadi orang jahat especially pembunuh itu perkara mudah. Hanya perlu nyali, perhitungan yang matang dan tentu saja kesabaran dan biaya operasional. Selama ada uang, pembunuhan tanpa jejak sangat mudah dilakukan. Apalagi bila hanya just for fun. Bersenang – senang dengan membunuh, itu gampang. Tahu tidak? Saya harus mengeluarkan pikiran jahat ini dari otak saya, dari hidup saya karena saya tahu ini salah. Saya tak ingin hidup dengan rancangan – rancangan otak jahat ini. Saya tak mau. Saya capek saja.
Dulu, saya bahkan bilang pada beberapa teman, tahu tidak bagaimana cara melumpuhkan sebuah kota seperti Manokwari untuk dikuasai? Kalau saja saya punya 1 tim yang terdiri dari 10 orang dengan otak seperti saya, saya percaya kami bisa bersenang – senang mengacaukan kota kecil ini. Lumpuhkan saja area vital seperti meledakan mesin PLN, saluran komunikasi inti, dan juga membakar pelabuhan bahan bakar dan merusak mesin – mesin pom bensin (untung – untung bisa kita bakar). Plus kalau bisa, 1 hari sebelumnya, menculik anak –anak atau anggota petinggi kota ini, katakan saja bupati, dandim, kapolres dan kafasharkan, dan juga gubernur. Hanya untuk menambah beban mental dan tekanan dan jadi salah satu kartu As untuk berjaga – jaga bila ketangkap, toh hukumannya pasti berat. Jadi kenapa sekalian tidak yang tegang HAHAHA
Sayangnya, sementara ini saya hanya suka menuliskan ide – ide gila itu di dalam cerita pendek saya, yang selalu berbau kematian, pembunuhan dan darah. Ada aroma darah dan kematian di dalam tulisan – tulisan saya. Ekspresi alam bawah sadar saya.
Saya hanya ingin jadi orang baik dan berusaha sekeras mungkin jadi orang baik. Itu saja. Sayangnya, sementara ini saya berusaha untuk mengontrol kesukaan saya untuk berburu informasi yang kadang – kadang rasanya hanya untuk mencari sensasi rasa itu. Tak heran, dulu saya dicap aneh dan agresif apalagi sempat dilabel ‘kapala kejar cowok’ padahal sebenarnya bukan itu. Saya cuek dengan pandangan orang, sebenarnya. Sebenarnya bukan mengharapkan cinta, saya hanya suka saja berburu informasi tentang cowok yang saya jadikan obyek obsesi saya. Semakin sulit saya mendapatkan informasi dan kepercayaan apalagi semakin rumit ia bersikap, semakin tertantang saya. Teman saya bilang ini ‘permainan tarik ulur’. Bagi saya, ini mental ‘berburu’ saya. Saya suka membiarkan mereka berpikir bahwa saya suka, atau tidak suka, membiarkan mereka bermain dengan emosi dan psikologis mereka. Kadang – kadang saya menikmati melihat wajah mereka bertanya, dan saya bisa dengan ‘ pura – pura mati’ cuek hanya untuk tertawa kesenangan. Kau tahu rasanya berburu? Kita menanti target kita lemah, menunggu dengan sabar, menunggu dan menghitung strategi untuk melumpuhkan. Ya seperti itu. Harusnya saya belajar main catur untuk berpikir tentang strategi. Ya seharusnya!
Ah tulisan ini semakin tak jelas. Semakin aneh. Semakin rusak. Saya berharap otak saya akan membaik dan tidak perlu melaksanakan red hot rage di dalam dada saya.
Saya tak ingin menyalahkan darah yang mengalir di tubuh saya. Tapi mungkin saudara saya benar, “Ko mo tolak bagaimanapun juga, di ko darah ada darah Arfak, May. Ko bukan Jawa asli, May. Tetap ada ‘otak gila’ itu yang mengalir, tergantung ko mo olah de bagaimana.” Ya sayangnya, secara genetik pun, di darah saya, mengalir darah ketiga moyang saya yang bukan pengecut tetapi yang didapuk keluarga dan sukunya sebagai ‘pahlawan dan jawara; para petualang’. Kadang terasa berat. Entahlah … apa memang simpul gen dan sifat itu bisa diwariskan ya? Saya ingin menolak pandangan itu. Ingin sekali.
Bapak atau kakek dari oyang saya yang bersuku Biak adalah para petualang dan penjual budak dan pembawa upeti ke Maluku Utara pada masa lampau dan kami bukan dari keluarga yang hanya ‘diam – diam’ saja tetapi para petualang lautan. Oyang atau bapak dari oyang perempuan saya dari suku Meyah, yang namanya ‘Ifna Monaresa’ terkenal sebagai pahlawan perang suku, penjagal musuh – musuhnya, seseorang tanpa rasa takut. Oyang dari nenek saya yang bersuku Meyah juga datang dari keret besar dengan pemimpin perangnya. Belum ditambah lagi dengan dari pihak bapak saya. Ayah dari nenek saya yang Sunda – Cirebon bisa melakukan perjalanan hijrah dari Cirebon ke daerah Jawa Tengah (Brebes) demi sebuah wangsit pada masa itu; guna membangun desa. Ia dikenal sebagai ‘pembasmi bromocorah’. Bahkan sewaktu mengunjungi desa nenek, saudara lelaki nenek melarang kami main di perkebunan tebu depan desa karena konon di situlah, tumpukan puluhan bromocorah alias perampok hasil ‘kerjaan’ buyut kami dibunuh dikubur. Konon, arwah mereka tak pernah suka bila kami keturunan buyut bermain di sana dan sering sekali merasuki dan menyiksa. Itu kata penduduk desa itu.
Bicara tentang kebrutalan dan keberanian, Entahlah . sejak kecil saya terbiasa dengan budaya kekerasan. Tak hanya dari suku dan keluarga besar mama tapi juga dari bapak. Siapa bilang orang Jawa itu lemah? Itu hanya isapan jempol. tapi saya memang melihat betapa brutalnya orang kampung kami. Pertama kali saya datang ke kampung nenek, baru 1 jam duduk, tiba – tiba di depan saya orang – orang sekampung nenek yang Sunda pindahan dari Cirebon keluar dengan sabit dan parang ‘baku hajar’ hingga darah – darah dengan orang dari desa tetangga kami yang ‘Jawa’. Iya, desa nenek itu dikelilingi oleh lima desa Jawa dan satu – satunya desa Sunda. Makanya namanya juga ‘Tanggung Sari’.
Saya hanya ingin bisa melepaskan amarah ini dengan cara positif. Ingin sekali. Karena amarah ini benar – benar menguras energi saya. Membuat saya tak nyaman. Sangat tak suka.
Saya berharap saya bisa melepas amarah ini dengan cepat. Daripada pikiran jahat ini merasuk saya lebih lagi, apalagi saya impulsif. Sangat impulsif.
Saya harus berusaha mendengarkan suara Yesus dan menuruti-Nya. Karena saya akui sejak kemarin saya menolak mati – matian suara lembut di kepala saya untuk menyerahkan dan mengikhlaskan yang terjadi. Harus direlakan.
Saya sedang berusaha. Sangat berusaha.
Benar – benar saya berada pada jalan menuju kegilaan. Semoga saya bisa mengalahkan panggilan dan dorongan red hot rage di dada saya. Semoga!!!
(Manokwari, 270911; ‘dendam’ ini membunuhku!!!)
Payback time?
ah ini cuma masalah pilihan bukan? masalah menentukan pilihan. tapi kenapa bila topik ini diangkat ulang, ada dendam membara yang membakar di hati, dan tiba - tiba pikiran segar penuh kejahatan bertebaran di kepala. sayangnya, saat informasi pergerakan benda curian mulai mendapat titik terang didapat, ada bagian hati yang bilang, "don't let other people execute it, May" entahlah ... sepeti aliran darah dan sl - sel tubuh sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. entahlah, mengapa bayangan membunuh orang terasa mudah. seorang informan bilang, "hati - hati, mereka cukup nekat". sayangnya, kenapa pikiran nekat yang sudah lama muncul dan tersimpan mulai muncul di otak dengan mudah, tidak susah. sangat tidak susah untuk menjadi sangat jahat. apalagi dengan mood bipolar dan juga OCD, sangat berbakat untuk jadi psiko.
ah dari dulu saya tak merasa harus membatasi imajinasi dan plan a, b atau c ...
entahlah .... bagian diriku bersorak kencang, "it's payback time, baby" ya ... it's payback time ... kalo pikiran ini tak berubah dalam waktu 3 bulan, I'm just afraid rencana eksekusi pada target operasi akan terjadi. hanya perlu riset kecil2an, kembangkan pergaulan, lebih membumi dan tentu saja lebih pintar belajar segala macam teori .. mulailah berlatih dan memperhitungkan akurasi :) tak ada yang sulit bila mau berlatih
entahlah ... kenapa saya marah hari ini, tapi bukan marah tapi aliran darah dan pikiran semua fokus pada dendam ini. entahlah ... hal ini yang paling saya takutkan ... saat marah dan tak bisa mengontrol emosi dan akhirnya bisa melakukan banyak hal yang tidak boleh saya lakukan. tampaknya memang saya butuh sandbag .... ya butuh sandbag di kamar saya .. sangat butuh. mungkin yang berlapis anti senjata tajam karena entahlah kenapa sore ini saya ingin sekali menikam orang dam menorehkan pisau di wajah mereka dan memberi asam yang mengalir di wajah yang terkelupas itu. sambil dilumuri rica ...
saya sore ini sampai sudah menyusun tiga kemungkinan eksekusi. tapi tidak bisa saya tuliskan di sini.
alam bawah sadar saya memang tidak bisa mengontrol amarah ini. terlalu banyak, payback time akan mulai besok, ya mulai besok. I am not stupid. itu saja. saya ingin lewat cara yang manis karna revenge is sweet.
semoga saya bisa mengatasi hal ini atau memang saya tidak punya pilihan :( saya benci dikendalikan rasa amarah ini sejak kecil, sangat benci dengan rasa ini. rasa marah yang sangat menguatkan saya selama ini. entahlah
entahlah kenapa saya membayangkan mencabik - cabik dada mereka sore ini, dan memastikan kuku2 tangan mereka berada dalam minyak panas, melihat mereka menangis. saraf tersakit adalah di lapisan kulit, lidah dan juga sensor jemari, dan sangat tepat untuk menstimulasi rasa nyeri dan ketakutan seseorang. semoga saya tidak melaksanakan saja cara ini.
entahlah .. semoga saya masih bisa bertahan untuk tidak membiarkan sisi gelap ini muncul. seharusnya saya membiarkan saja mereka dan tidak memikirkan mereka, ya seharusnya begitu.
entahlah ... tampaknya saya berbakat memang bekerja untuk hal2 gelap seperti ini .... payback time?
ah dari dulu saya tak merasa harus membatasi imajinasi dan plan a, b atau c ...
entahlah .... bagian diriku bersorak kencang, "it's payback time, baby" ya ... it's payback time ... kalo pikiran ini tak berubah dalam waktu 3 bulan, I'm just afraid rencana eksekusi pada target operasi akan terjadi. hanya perlu riset kecil2an, kembangkan pergaulan, lebih membumi dan tentu saja lebih pintar belajar segala macam teori .. mulailah berlatih dan memperhitungkan akurasi :) tak ada yang sulit bila mau berlatih
entahlah ... kenapa saya marah hari ini, tapi bukan marah tapi aliran darah dan pikiran semua fokus pada dendam ini. entahlah ... hal ini yang paling saya takutkan ... saat marah dan tak bisa mengontrol emosi dan akhirnya bisa melakukan banyak hal yang tidak boleh saya lakukan. tampaknya memang saya butuh sandbag .... ya butuh sandbag di kamar saya .. sangat butuh. mungkin yang berlapis anti senjata tajam karena entahlah kenapa sore ini saya ingin sekali menikam orang dam menorehkan pisau di wajah mereka dan memberi asam yang mengalir di wajah yang terkelupas itu. sambil dilumuri rica ...
saya sore ini sampai sudah menyusun tiga kemungkinan eksekusi. tapi tidak bisa saya tuliskan di sini.
alam bawah sadar saya memang tidak bisa mengontrol amarah ini. terlalu banyak, payback time akan mulai besok, ya mulai besok. I am not stupid. itu saja. saya ingin lewat cara yang manis karna revenge is sweet.
semoga saya bisa mengatasi hal ini atau memang saya tidak punya pilihan :( saya benci dikendalikan rasa amarah ini sejak kecil, sangat benci dengan rasa ini. rasa marah yang sangat menguatkan saya selama ini. entahlah
entahlah kenapa saya membayangkan mencabik - cabik dada mereka sore ini, dan memastikan kuku2 tangan mereka berada dalam minyak panas, melihat mereka menangis. saraf tersakit adalah di lapisan kulit, lidah dan juga sensor jemari, dan sangat tepat untuk menstimulasi rasa nyeri dan ketakutan seseorang. semoga saya tidak melaksanakan saja cara ini.
entahlah .. semoga saya masih bisa bertahan untuk tidak membiarkan sisi gelap ini muncul. seharusnya saya membiarkan saja mereka dan tidak memikirkan mereka, ya seharusnya begitu.
entahlah ... tampaknya saya berbakat memang bekerja untuk hal2 gelap seperti ini .... payback time?
someone like you
Entahlah … suara Adele yang membelah malam dengan “someone like you”nya sukses menemaniku. Entahlah, aku lagi suka pada lagu ini minggu ini, tergila – gila tepatnya usai mendengar lagunya di sebuah saluran musik. Entahlah … lagu ini benar – benar ‘me-song’. Liriknya pas – pas tulang. Entahlah … why I can’t just let go this feeling? As some friends told me, that’s I’ve never completely reconcile with my past. Just don’t know.
Mungkin itu sebabnya aku sering sulit tidur, selelap apapun itu, pasti selalu terbangun tanpa sebab. Entahlah ….
Entahlah, lagu patah hati selalu sukses menjadi pengiring hari – hari di sela – sela teriakan lagu penyemangat. Semoga ini bukan karena fase depresi yang kumat. Please, I just want to have sort of ‘normal’ state for a while, Bippie. Yet, my bippie tends to make me feel ‘moodless’.
Aku suka kata – katanya Adele:
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best
For you, too
Don't forget me
I begged
I remember you said
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead
Entahlah … mengapa malam ini aku ingin menangis untuk lirik lagu ini, ya untuk lagu ini. entahlah … lies deep within me, there is such an unfinished business; a question with a big question mark before my eyes. Why you never chose me? You know, nobody wants to be left behind.
Ah mungkin aku sudah harus bilang pada alam bawah sadarku, “Never mind. I’ll find someone better than you.” Ya mungkin seperti itu.
Ini minggu rekonsiliasi dan entahlah … sekali lagi aku bertanya pada hidupku, for the better or worse, for the black and white … entahlah, beban ini terasa berat, saat dada terasa sesak dan malam – malam panjang yang lembab mengisi paru – paruku, .. Never mind. Entahlah ….
Adele sekali lagi mengiris hatiku dengan suaranya:
Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
And memories made
Who would have known
How bittersweet
This would taste
Sialnya …. Kau tak akan pernah bisa membaca catatan ini bukan? Ya, aku cukup sadar akan hal itu. Kau tahu, tiap hujan turun, kadang – kadang kenangan denganmu masih basah di ingatanku. Ya masih basah.
Tapi aku ingin bilang, ‘Never mind’. I must finish it, right?
Entahlah …. Apa memang rasa antara benci dan cinta begitu tipis? Entahlah, di tiap hubungan yang ada, di tiap relasi baru, selalu ada kau di tengah – tengah. Sebuah batas antara terjaga dan ilusi. Kau tahu, bahkan beberapa hari lalu, entahlah … I just want to show you that I’m fine, beautiful dan entahlah …. It seemed like I want to impress you. SH**!!!
Entahlah … kau selalu ada menjadi sebuah batasan, for the better or worse, seperti pendulum yang bergerak dan membuatku berpikir, “is it real or unreal?” Entahlah, kau ‘contoh kasus’ terbesar yang kupunya dan selalu akan menjadi my bittersweet man.
Entahlah, apa kau ingat, seminggu setelah ulang tahunku tiga tahun lalu, aku memberimu kesempatan kedua!!! Ya, kesempatan kedua usai kau cabik hatiku dengan sangat manis, ya tanpa undangan, bukan?
Entahlah, mengapa malam ini aku harus mengingatmu, tiap kali mendengar lagu patah hati, pada tiap relasi baru yang kujalin, pada tiap momen bahagiaku. Entahlah .. Never mind, I’ll find someone better than you.
Aku tak tahu dan tak mau tahu kabarmu, kau tahu itu. Jadi, jangan pernah menyapaku, ataupun berusaha menarik perhatianku kala kita berpapasan apalagi menatapku dengan pandangan ‘poker face’mu itu. Entahlah … I have your look, karena di sana masih kulihat cinta yang sama.
Kau tahu, beberapa hari lalu kala melihat pernikahan kerabat jauhku yang suaminya adalah sahabatmu, entahlah … ada perasaan yang pecah di hati. Ya pecah, itulah sebabnya aku memilih mendengar “Someone like you”nya Adele. Entahlah … there’s a big question mark hanging in front of my eyes … Why you never chose me? At least, fight for our love. You know, at that time, I was so ready to leave everything. Yeah, to betray everybody I love … Damn, why this feeling consume me this dawn?
Kau tahu, aku hanya ingin berdamai dengan diriku, berdamai dan berjalan lagi. Siap untuk berjalan, untuk bicara, untuk melepaskan diri dari ketakutan – ketakutanku. Aku ingin minggu ini benar – benar jadi my pacific week, benar – benar bisa rekonsiliasi.
Sialnya, lagu Adele benar – benar membuat hatiku teriris … Entahlah … kau tak akan pernah tahu karena memang kau tak pernah mau tahu, bukan? Sialnya, aku masih berusaha melepaskan diri dari kenanganmu. Aku hanya berharap bulan depan, aku bisa benar – benar menyelesaikan urusan perasaan bodok ini.
Never mind, I’ll find someone BETTER than YOU!!!
Itu janjiku malam ini.
(Manokwari, 250911; 02: 35 a.m. Suddenly thinking about ‘Lelaki Hujan’)
Mungkin itu sebabnya aku sering sulit tidur, selelap apapun itu, pasti selalu terbangun tanpa sebab. Entahlah ….
Entahlah, lagu patah hati selalu sukses menjadi pengiring hari – hari di sela – sela teriakan lagu penyemangat. Semoga ini bukan karena fase depresi yang kumat. Please, I just want to have sort of ‘normal’ state for a while, Bippie. Yet, my bippie tends to make me feel ‘moodless’.
Aku suka kata – katanya Adele:
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best
For you, too
Don't forget me
I begged
I remember you said
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead
Entahlah … mengapa malam ini aku ingin menangis untuk lirik lagu ini, ya untuk lagu ini. entahlah … lies deep within me, there is such an unfinished business; a question with a big question mark before my eyes. Why you never chose me? You know, nobody wants to be left behind.
Ah mungkin aku sudah harus bilang pada alam bawah sadarku, “Never mind. I’ll find someone better than you.” Ya mungkin seperti itu.
Ini minggu rekonsiliasi dan entahlah … sekali lagi aku bertanya pada hidupku, for the better or worse, for the black and white … entahlah, beban ini terasa berat, saat dada terasa sesak dan malam – malam panjang yang lembab mengisi paru – paruku, .. Never mind. Entahlah ….
Adele sekali lagi mengiris hatiku dengan suaranya:
Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
And memories made
Who would have known
How bittersweet
This would taste
Sialnya …. Kau tak akan pernah bisa membaca catatan ini bukan? Ya, aku cukup sadar akan hal itu. Kau tahu, tiap hujan turun, kadang – kadang kenangan denganmu masih basah di ingatanku. Ya masih basah.
Tapi aku ingin bilang, ‘Never mind’. I must finish it, right?
Entahlah …. Apa memang rasa antara benci dan cinta begitu tipis? Entahlah, di tiap hubungan yang ada, di tiap relasi baru, selalu ada kau di tengah – tengah. Sebuah batas antara terjaga dan ilusi. Kau tahu, bahkan beberapa hari lalu, entahlah … I just want to show you that I’m fine, beautiful dan entahlah …. It seemed like I want to impress you. SH**!!!
Entahlah … kau selalu ada menjadi sebuah batasan, for the better or worse, seperti pendulum yang bergerak dan membuatku berpikir, “is it real or unreal?” Entahlah, kau ‘contoh kasus’ terbesar yang kupunya dan selalu akan menjadi my bittersweet man.
Entahlah, apa kau ingat, seminggu setelah ulang tahunku tiga tahun lalu, aku memberimu kesempatan kedua!!! Ya, kesempatan kedua usai kau cabik hatiku dengan sangat manis, ya tanpa undangan, bukan?
Entahlah, mengapa malam ini aku harus mengingatmu, tiap kali mendengar lagu patah hati, pada tiap relasi baru yang kujalin, pada tiap momen bahagiaku. Entahlah .. Never mind, I’ll find someone better than you.
Aku tak tahu dan tak mau tahu kabarmu, kau tahu itu. Jadi, jangan pernah menyapaku, ataupun berusaha menarik perhatianku kala kita berpapasan apalagi menatapku dengan pandangan ‘poker face’mu itu. Entahlah … I have your look, karena di sana masih kulihat cinta yang sama.
Kau tahu, beberapa hari lalu kala melihat pernikahan kerabat jauhku yang suaminya adalah sahabatmu, entahlah … ada perasaan yang pecah di hati. Ya pecah, itulah sebabnya aku memilih mendengar “Someone like you”nya Adele. Entahlah … there’s a big question mark hanging in front of my eyes … Why you never chose me? At least, fight for our love. You know, at that time, I was so ready to leave everything. Yeah, to betray everybody I love … Damn, why this feeling consume me this dawn?
Kau tahu, aku hanya ingin berdamai dengan diriku, berdamai dan berjalan lagi. Siap untuk berjalan, untuk bicara, untuk melepaskan diri dari ketakutan – ketakutanku. Aku ingin minggu ini benar – benar jadi my pacific week, benar – benar bisa rekonsiliasi.
Sialnya, lagu Adele benar – benar membuat hatiku teriris … Entahlah … kau tak akan pernah tahu karena memang kau tak pernah mau tahu, bukan? Sialnya, aku masih berusaha melepaskan diri dari kenanganmu. Aku hanya berharap bulan depan, aku bisa benar – benar menyelesaikan urusan perasaan bodok ini.
Never mind, I’ll find someone BETTER than YOU!!!
Itu janjiku malam ini.
(Manokwari, 250911; 02: 35 a.m. Suddenly thinking about ‘Lelaki Hujan’)
Saturday, 24 September 2011
Sebuah catatan tentang CINTA
Cinta! How do you define this word? Entahlah … saya tak tahu.
Yang saya tahu, bagi saya cinta punya banyak wajah, banyak rupa. Sayangnya, ada satu tipe cinta yang hingga kini belum bisa tergantikan, di manapun saya berada, oleh siapapun. Cinta yang dipadu oleh rasa damai dan membuat saya sangat tenang, tidak menggebu – gebu, begitu tenang mengalir. Ya, itu cinta yang saya dapatkan dan rasakan dan merupakan satu wajah cinta yang sangat saya puja dan saya rela mati demi cinta seperti ini:
Kala melihat fajar pagi dengan semburat jingga di langit apalagi bila saya ditemani secangkir kopi dan ditemani lagu – lagu penyemangat ataupun jenis lagu ‘New Age’. Saya selalu merasakan saya jatuh cinta saat itu, jatuh cinta pada hidup, pada segala sesuatu dan biasanya, mood hipomania saya bisa kumat. HAHAHA
Kala hujan turun dan mengalir dari tetesan daun, apalagi saya pernah merasakan jatuh cinta berat tanpa sebab kala di suatu pagi, melintas di jalan gang perumahan di Campbell dan melihat tanaman rambat di pagar kayu basah dan airnya menetes perlahan dan ada bilah sinar mentari yang menembus butiran itu. Bayang daun berwarna kuning, hijau dan merah masuk ke dalam mata saya. So sexy. Ya, bagi saya hujan itu bukti cinta dan sangat seksi. Saya jatuh cinta saat itu. Sangat jatuh cinta dan sampai sekarang, masih belum ada sensasi hujan sebagus itu di mata saya. Benar – benar seksi.
Kala melihat senyuman para keponakan saya, mulai dari Ochil, Muel, Echy dan Monia. Apalagi kala mereka memeluk saya dan mata mereka bersirobok dengan mataku, kadang – kadang mereka mencoba merayu saya dengan bilang, “Mama Maya cantik”. Ah saya selalu jatuh cinta kepada mereka. Mereka cinta terbaik di dalam hidup saya. Sumber kekuatan saya selama ini untuk bertahan. Saya jatuh cinta dengan ujar genitnya Ochil kala kami berdiskusi tentang kegiatan eskul TKnya dan gaya fashion dan rambut ikalnya, atau kala Muel berbicara lancar dengan suara yang sangat cadel dan tampang gaulnya, juga si Echi tomboy yang selalu cemberut bila difoto dan gemar memamerkan seragam TKnya yang bermotif tentara. Tak lupa si Monia yang suka menyanyi, genit dan berlari apalagi beberapa hari terakhir ia sedang suka belajar split, entah dia lihat dari mana. Mereka cinta terdalam saya.
Kala berjalan di tepian pantai utara Manokwari yang sunyi dan bersinggungan langsung dengan lautan Pasifik ataupun berada di sebuah tempat yang tinggi dan bisa melihat laut di pantai utara, yang lepas bebas dan memanggil saya untuk pulang. Ya, perasaan bebas yang membuat saya merasakan cinta di dalam diri saya tapi juga rasa tenang dan damai. Entahlah … itu cinta yang saya dapatkan.
Kala mendengar musik – musik penyemangat yang mengerti saya, seperti lagu – lagunya India.Arie, Greenday, juga lagu – lagunya Pink seperti ‘Raise your glass’ dan ‘Fucking perfect’ ataupun single-nya Oppie Andaresta ‘Single and very happy. Tak lupa milik Backstreet boys ‘Make you different’. Ya, lagu – lagu penyemangat saya kala begitu down. Tiap kali mendengar lagu – lagu itu, saya pasti merasa ada cinta yang keluar perlahan di hati dan menenangkan saya.
Kala mengajar anak – anak TK dan SD di St Clare of Assisi di Conder, Canberra sana. Saya jatuh cinta tiap kali bertemu anak – anak kecil yang imut dan berpipi merah itu. Mereka selalu menjadi obat stress saya di semester 2 kala kuliah S2 dulu. Saya selalu mendapatkan pelukan dan tawa hangat mereka tiap pagi kala menjadi guru bantu itu. I just miss those kids and they kept making me falling in love.
Kala saya bisa mendapat waktu doa yang sangat personal dengan Tuhan, berbicara tentang apa saja, dimana saja. Cinta yang saya rasakan kala curhat itu terasa sangat menenangkan dan menjadi obat terampuh dari bipolar saya. Apalagi bila sampai menangis, lega banget. Setahun terakhir, saya jarang menangis dan doa seperti ini bisa sangat melegakan. Entahlah, saya merasa dengan Tuhan saya bisa jujur apa saja, ketakutan – ketakutan saya, kerinduan saya, mimpi – mimpi saya. Semua yang sangat pribadi di dalam diri saya.
Kala snorkeling dan bisa melihat terumbu karang yang sehat dan warna – warni ataupun berjalan di tengah – tengah hutan dengan kanopi – kanopi pohon yang tinggi ataupun dari atas pesawat menikmati landscape hutan. Cinta pada alam seperti ini yang tak pernah bisa saya tolak. Cinta yang melegakan dan tak pernah membuat saya terkurung. Cinta yang sangat membebaskan.
Sebuah catatan tentang cinta yang saya tahu dan mungkin bukan potret cinta yang ditampilkan di karya – karya klasik atau yang anda tahu. Tapi, untuk cinta seperti ini, I’ll fight for it.
Cinta! Entahlah … saya tak bisa menjabarkannya dengan baik, tapi saya melihatnya dalam banyak rupa, banyak wajah dan tentu saja dalam banyak hal.
Ah saya jatuh cinta pagi ini kala hujan turun dan langit kelabu. Benar – benar jatuh cinta. Membuat saya teringat status saya hari ini di jejaring sosial, “ Crazy about Adele’s “someone like you”, Dewa’s “Pupus” & David Pendragon’s “Tribe World Ensemble: World Ballads for a peaceful planet esp. ‘The Journey’ & ‘Hallelujah Time’; Perfect songs for contemplating about life, love & the earth. Love being me, love every inch of my life, and definitely love to be a dreamer. Let’s make a change for a better planet * day-two-pacific-week mood”
Ya, saya sedang jatuh cinta, sangat dalam.
(Manokwari, 240911;pacific week = universal love week)
Yang saya tahu, bagi saya cinta punya banyak wajah, banyak rupa. Sayangnya, ada satu tipe cinta yang hingga kini belum bisa tergantikan, di manapun saya berada, oleh siapapun. Cinta yang dipadu oleh rasa damai dan membuat saya sangat tenang, tidak menggebu – gebu, begitu tenang mengalir. Ya, itu cinta yang saya dapatkan dan rasakan dan merupakan satu wajah cinta yang sangat saya puja dan saya rela mati demi cinta seperti ini:
Kala melihat fajar pagi dengan semburat jingga di langit apalagi bila saya ditemani secangkir kopi dan ditemani lagu – lagu penyemangat ataupun jenis lagu ‘New Age’. Saya selalu merasakan saya jatuh cinta saat itu, jatuh cinta pada hidup, pada segala sesuatu dan biasanya, mood hipomania saya bisa kumat. HAHAHA
Kala hujan turun dan mengalir dari tetesan daun, apalagi saya pernah merasakan jatuh cinta berat tanpa sebab kala di suatu pagi, melintas di jalan gang perumahan di Campbell dan melihat tanaman rambat di pagar kayu basah dan airnya menetes perlahan dan ada bilah sinar mentari yang menembus butiran itu. Bayang daun berwarna kuning, hijau dan merah masuk ke dalam mata saya. So sexy. Ya, bagi saya hujan itu bukti cinta dan sangat seksi. Saya jatuh cinta saat itu. Sangat jatuh cinta dan sampai sekarang, masih belum ada sensasi hujan sebagus itu di mata saya. Benar – benar seksi.
Kala melihat senyuman para keponakan saya, mulai dari Ochil, Muel, Echy dan Monia. Apalagi kala mereka memeluk saya dan mata mereka bersirobok dengan mataku, kadang – kadang mereka mencoba merayu saya dengan bilang, “Mama Maya cantik”. Ah saya selalu jatuh cinta kepada mereka. Mereka cinta terbaik di dalam hidup saya. Sumber kekuatan saya selama ini untuk bertahan. Saya jatuh cinta dengan ujar genitnya Ochil kala kami berdiskusi tentang kegiatan eskul TKnya dan gaya fashion dan rambut ikalnya, atau kala Muel berbicara lancar dengan suara yang sangat cadel dan tampang gaulnya, juga si Echi tomboy yang selalu cemberut bila difoto dan gemar memamerkan seragam TKnya yang bermotif tentara. Tak lupa si Monia yang suka menyanyi, genit dan berlari apalagi beberapa hari terakhir ia sedang suka belajar split, entah dia lihat dari mana. Mereka cinta terdalam saya.
Kala berjalan di tepian pantai utara Manokwari yang sunyi dan bersinggungan langsung dengan lautan Pasifik ataupun berada di sebuah tempat yang tinggi dan bisa melihat laut di pantai utara, yang lepas bebas dan memanggil saya untuk pulang. Ya, perasaan bebas yang membuat saya merasakan cinta di dalam diri saya tapi juga rasa tenang dan damai. Entahlah … itu cinta yang saya dapatkan.
Kala mendengar musik – musik penyemangat yang mengerti saya, seperti lagu – lagunya India.Arie, Greenday, juga lagu – lagunya Pink seperti ‘Raise your glass’ dan ‘Fucking perfect’ ataupun single-nya Oppie Andaresta ‘Single and very happy. Tak lupa milik Backstreet boys ‘Make you different’. Ya, lagu – lagu penyemangat saya kala begitu down. Tiap kali mendengar lagu – lagu itu, saya pasti merasa ada cinta yang keluar perlahan di hati dan menenangkan saya.
Kala mengajar anak – anak TK dan SD di St Clare of Assisi di Conder, Canberra sana. Saya jatuh cinta tiap kali bertemu anak – anak kecil yang imut dan berpipi merah itu. Mereka selalu menjadi obat stress saya di semester 2 kala kuliah S2 dulu. Saya selalu mendapatkan pelukan dan tawa hangat mereka tiap pagi kala menjadi guru bantu itu. I just miss those kids and they kept making me falling in love.
Kala saya bisa mendapat waktu doa yang sangat personal dengan Tuhan, berbicara tentang apa saja, dimana saja. Cinta yang saya rasakan kala curhat itu terasa sangat menenangkan dan menjadi obat terampuh dari bipolar saya. Apalagi bila sampai menangis, lega banget. Setahun terakhir, saya jarang menangis dan doa seperti ini bisa sangat melegakan. Entahlah, saya merasa dengan Tuhan saya bisa jujur apa saja, ketakutan – ketakutan saya, kerinduan saya, mimpi – mimpi saya. Semua yang sangat pribadi di dalam diri saya.
Kala snorkeling dan bisa melihat terumbu karang yang sehat dan warna – warni ataupun berjalan di tengah – tengah hutan dengan kanopi – kanopi pohon yang tinggi ataupun dari atas pesawat menikmati landscape hutan. Cinta pada alam seperti ini yang tak pernah bisa saya tolak. Cinta yang melegakan dan tak pernah membuat saya terkurung. Cinta yang sangat membebaskan.
Sebuah catatan tentang cinta yang saya tahu dan mungkin bukan potret cinta yang ditampilkan di karya – karya klasik atau yang anda tahu. Tapi, untuk cinta seperti ini, I’ll fight for it.
Cinta! Entahlah … saya tak bisa menjabarkannya dengan baik, tapi saya melihatnya dalam banyak rupa, banyak wajah dan tentu saja dalam banyak hal.
Ah saya jatuh cinta pagi ini kala hujan turun dan langit kelabu. Benar – benar jatuh cinta. Membuat saya teringat status saya hari ini di jejaring sosial, “ Crazy about Adele’s “someone like you”, Dewa’s “Pupus” & David Pendragon’s “Tribe World Ensemble: World Ballads for a peaceful planet esp. ‘The Journey’ & ‘Hallelujah Time’; Perfect songs for contemplating about life, love & the earth. Love being me, love every inch of my life, and definitely love to be a dreamer. Let’s make a change for a better planet * day-two-pacific-week mood”
Ya, saya sedang jatuh cinta, sangat dalam.
(Manokwari, 240911;pacific week = universal love week)
What's your (week's) flava?
What’s your flava? Pertanyaan yang membuat saya teringat pada single-nya Craig David beberapa tahun silam. Saya suka coklat. Tentu saja catatan ini tidak berbicara tentang rasa yang dikecap lidah tapi pada ‘what’s your week’s flava? Terinspirasi dari masa kuliah di ANU yang penuh tema mingguan di kampus. Jadi di ANU dulu, tiap minggu biasanya sebulan sekali, kadang dua kali dalam sebulan, ada minggu ‘tema’; jadi akan ada kegiatan kampus bertema topik tertentu. Mulai dari Jesus Christ’s week, Atheis week, Gay & Lesbian week, Pacific week dan tema – tema lainnya. Kegiatannya mulai dari seminar gratis, pemutaran film, pertunjukan musik, band, seni, lukisan hingga pameran dan bagi – bagi stiker dan demo serta debat. Sangat menarik, lucu, hidup dan membuat kegiatan ‘ngampus’ begitu hidup. Satu hal yang saya rindukan dari masa perkuliahan di ANU.
Minggu ini saya tetapkan sebagai minggu ‘Pasifik’ saya. Bukan hanya merujuk pada Pasifik sebagai kawasan ataupun budaya saja, tetapi juga pada makna Pasifik dalam bahasa Latin yang artinya ‘peaceful or loving peace’. Minggu ini saya ingin pergi merenung di pantai – pantai sunyi, berjalan kaki di tepian pantai, menikmati Pasifik dari jurang dekat pondok teman saya, ingin berenang di pantai utara, ingin mencari sensasi rasa cinta pada laut, ingin bersantai, menenangkan diri dan memulihkan diri serta mencari makna apa yang Tuhan inginkan dari hidup saya. Tentu saja saya juga ingin lebih banyak menulis untuk self-project saya. Selain itu, mendengarkan musik bertema laut dan Pasifik dan tentu saja bergaya dengan tema Pasifik HEHEHE
Minggu Pasifik tentu saja akan berakhir pada Kamis besok. Bagi saya, minggu saya dimulai tiap Jumat karena saya lahir pada hari Jumat sore. Selanjutnya, tentu saja saya sudah menyiapkan tema-nya, ‘Earth week’.
Mungkin terdengar konyol, entahlah saya tidak peduli. Saya hanya ingin mengatur mood saya menjadi lebih baik, terarah dan tentu saja bermanfaat. Rencana ke depannya, saya akan mengajak para keponakan saya turut serta dengan bermain bersama mereka dengan tema minggu itu. Minggu ini, kalau cuacanya baik, saya akan mengajak mereka ke pantai dan bermain pasir. Minggu depan, pada ‘minggu bumi’, saya akan mengajak mereka membantu saya bertanam bunga. Setidaknya, mereka tahu bahwa bumi bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka bila mereka menjaganya. Ah saya hanya pemimpi. Itu saja.
Hidup hanya satu kali, dan saya tidak ingin kehilangan momen hidup ini. Saya hanya ingin bertahan hidup dan mempertahankan saya tetap ‘sadar’ dan tidak terlalu stress dan depresi yang dapat membawa saya pada pikiran bunuh diri. Saya ingin hidup saya warna – warni dan tidak membosankan. Entahlah … saya belum berbuat banyak bagi lingkungan, sesama dan hidup saya dan tentu saja Tuhan. Saya masih dalam tahap mencoba.
Akhir – akhir ini, saya lebih banyak menulis kala beban dan pemikiran bertumpuk – tumpuk di benak saya. Saya hanya tak ingin membebani orang lain dengan ide – ide konyol saya dan juga curhatan tak penting bagi mereka. Apalagi bila dada saya mulai terasa sesak dan nyeri kembali dan detak jantung mulai tak stabil, pengaruh Reflux Oseafagitis saya. Saya hanya ingin mengabadikan mimpi – mimpi saya, pemikiran saya bagi para keponakan saya. Agar mereka bisa mengenal saya kelak kalau seandainya saya harus ‘pulang’ lebih awal. Entahlah … akhir – akhir ini saya juga lebih banyak bicara tentang kematian dengan para sahabat saya.
Saya hanya lelah saja, sedikit capek. Bagi saya, hidup hanya perulangan momen yang naik turun seperti episode – episode sinetron dan adegan – adegan film. Di film yang saya mainkan, genre-nya tak hanya drama, tapi juga action, ataupun thriller. Ini sebuah perjalanan dan jujur saya mulai lelah berjalan tapi saya HARUS tetap berjalan. Kadang melelahkan dan menyesakan bila dipikir – pikir tapi toh saya harus tetap berjalan karena rekan perjalanan saya masih menyemangati saya, masih percaya pada diri saya, masih mencintai diri saya dan saya tidak ingin mengecewakan dia, saya masih ingin hidup bagi Dia. Namanya Yesus.
Pagi ini, hujan turun dengan deras dan saya masih sempat mengintip bunga – bunga lili dan keladi yang saya tanam kemarin. Sedikit terendam dalam kubangan. Saya percaya mereka bisa bertahan hidup. Saya ingin membagikan perhatian saya pada mereka yang tak bisa bersuara, yang mengajarkan saya pada hidup dan berjuang untuk hidup. Entahlah … saya jadi sedikit melankolis akhir – akhir ini.
Ah ini minggu Pasifik yang sangat cocok untuk merenung dan berpikir tentang apa yang saya inginkan dalam hidup. Yang saya tahu, hari ini saya sudah punya segudang rencana. Tentu saja yang kompatibel dengan Malaria Tertiana saya HAHAHA
Saya pemimpi dan akan tetap menjadi pemimpi. Toh saya hidup bukan untuk membuat orang lain terkesan atas diri saya, karena saya hanya ingin jadi teman perjalanan yang baik bagi teman saya yang tadi saya sebutkan itu.
Anyway, saatnya saya menutup catatan ini dengan terus memutar ulang filosofi saya di kepala: “I want to live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do”. Itu saja.
Ya, itu saja!!!
(Manokwari, 240911)
Minggu ini saya tetapkan sebagai minggu ‘Pasifik’ saya. Bukan hanya merujuk pada Pasifik sebagai kawasan ataupun budaya saja, tetapi juga pada makna Pasifik dalam bahasa Latin yang artinya ‘peaceful or loving peace’. Minggu ini saya ingin pergi merenung di pantai – pantai sunyi, berjalan kaki di tepian pantai, menikmati Pasifik dari jurang dekat pondok teman saya, ingin berenang di pantai utara, ingin mencari sensasi rasa cinta pada laut, ingin bersantai, menenangkan diri dan memulihkan diri serta mencari makna apa yang Tuhan inginkan dari hidup saya. Tentu saja saya juga ingin lebih banyak menulis untuk self-project saya. Selain itu, mendengarkan musik bertema laut dan Pasifik dan tentu saja bergaya dengan tema Pasifik HEHEHE
Minggu Pasifik tentu saja akan berakhir pada Kamis besok. Bagi saya, minggu saya dimulai tiap Jumat karena saya lahir pada hari Jumat sore. Selanjutnya, tentu saja saya sudah menyiapkan tema-nya, ‘Earth week’.
Mungkin terdengar konyol, entahlah saya tidak peduli. Saya hanya ingin mengatur mood saya menjadi lebih baik, terarah dan tentu saja bermanfaat. Rencana ke depannya, saya akan mengajak para keponakan saya turut serta dengan bermain bersama mereka dengan tema minggu itu. Minggu ini, kalau cuacanya baik, saya akan mengajak mereka ke pantai dan bermain pasir. Minggu depan, pada ‘minggu bumi’, saya akan mengajak mereka membantu saya bertanam bunga. Setidaknya, mereka tahu bahwa bumi bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka bila mereka menjaganya. Ah saya hanya pemimpi. Itu saja.
Hidup hanya satu kali, dan saya tidak ingin kehilangan momen hidup ini. Saya hanya ingin bertahan hidup dan mempertahankan saya tetap ‘sadar’ dan tidak terlalu stress dan depresi yang dapat membawa saya pada pikiran bunuh diri. Saya ingin hidup saya warna – warni dan tidak membosankan. Entahlah … saya belum berbuat banyak bagi lingkungan, sesama dan hidup saya dan tentu saja Tuhan. Saya masih dalam tahap mencoba.
Akhir – akhir ini, saya lebih banyak menulis kala beban dan pemikiran bertumpuk – tumpuk di benak saya. Saya hanya tak ingin membebani orang lain dengan ide – ide konyol saya dan juga curhatan tak penting bagi mereka. Apalagi bila dada saya mulai terasa sesak dan nyeri kembali dan detak jantung mulai tak stabil, pengaruh Reflux Oseafagitis saya. Saya hanya ingin mengabadikan mimpi – mimpi saya, pemikiran saya bagi para keponakan saya. Agar mereka bisa mengenal saya kelak kalau seandainya saya harus ‘pulang’ lebih awal. Entahlah … akhir – akhir ini saya juga lebih banyak bicara tentang kematian dengan para sahabat saya.
Saya hanya lelah saja, sedikit capek. Bagi saya, hidup hanya perulangan momen yang naik turun seperti episode – episode sinetron dan adegan – adegan film. Di film yang saya mainkan, genre-nya tak hanya drama, tapi juga action, ataupun thriller. Ini sebuah perjalanan dan jujur saya mulai lelah berjalan tapi saya HARUS tetap berjalan. Kadang melelahkan dan menyesakan bila dipikir – pikir tapi toh saya harus tetap berjalan karena rekan perjalanan saya masih menyemangati saya, masih percaya pada diri saya, masih mencintai diri saya dan saya tidak ingin mengecewakan dia, saya masih ingin hidup bagi Dia. Namanya Yesus.
Pagi ini, hujan turun dengan deras dan saya masih sempat mengintip bunga – bunga lili dan keladi yang saya tanam kemarin. Sedikit terendam dalam kubangan. Saya percaya mereka bisa bertahan hidup. Saya ingin membagikan perhatian saya pada mereka yang tak bisa bersuara, yang mengajarkan saya pada hidup dan berjuang untuk hidup. Entahlah … saya jadi sedikit melankolis akhir – akhir ini.
Ah ini minggu Pasifik yang sangat cocok untuk merenung dan berpikir tentang apa yang saya inginkan dalam hidup. Yang saya tahu, hari ini saya sudah punya segudang rencana. Tentu saja yang kompatibel dengan Malaria Tertiana saya HAHAHA
Saya pemimpi dan akan tetap menjadi pemimpi. Toh saya hidup bukan untuk membuat orang lain terkesan atas diri saya, karena saya hanya ingin jadi teman perjalanan yang baik bagi teman saya yang tadi saya sebutkan itu.
Anyway, saatnya saya menutup catatan ini dengan terus memutar ulang filosofi saya di kepala: “I want to live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do”. Itu saja.
Ya, itu saja!!!
(Manokwari, 240911)
Lily
.Lili. Nama jenis varietas bunga dengan umbi lapis. Entahlah … mengapa dari dulu saya suka Lily, bukan hanya Tiger Lily ataupun Oriental Lily tapi hingga saudaranya seperti Tulip. Mungkin pengaruh semasa kecil selalu memantau satu varian bunga ini di halaman rumah, jadinya ya terbiasa. Varian lili yang tumbuh di halaman adalah 3 jenis, mulai dari Lili Putih yang harum dan sangat subur dekat kolam ikan, lili putih kecil dan lili kecil merah muda. Entahlah apa memang lili kecil ini masuk varian Lili. Entahlah akan saya cek kemudian di ensiklopedia bunga taman atau sejenisnya. Anggap saja bunga kecil merah muda dan berumbi lapis itu Lili. Ya, setidaknya dalam catatan ini.
Sore ini saya belajar tentang ketahanan bunga ini pada medan yang keras. Ceritanya, saya memutuskan untuk menggali bunga – bunga yag terserak tanpa bentuk di halaman rumah dekat sumur yang berkarang. Tak dinyana, proses penggalian makan waktu yang lumayan karena di kerasnya tanah, bunga - bunga ini perlahan tapi pasti menenggelamkan umbi mereka. Padahal, karang dan akar – akar pohon berserakan di mana – mana. Tak heran, dalam proses evakuasi tadi banyak bunga yang terluka, tapi yang penting umbi mereka akan tumbuh di tempat yang gembur.
Entahlah … saya ingin sekuat bunga Lili yang saya cabut umbi – umbinya itu. Mereka cantik, gembung dan menggemaskan. Ternyata selama ini saya salah menilai mereka yang cuma bisa mekar 1 -2 hari itu. Saya pikir karena ia begitu ‘lombo’ dan ‘ba’air’ jadinya lemah. Ternyata, saya baru sadar kalau si lili – lili kecil ini sangat kuat bisa menempatkan umbi – umbi mereka yang berwarna hitam di antara jepitan akar – akar pohon Sukun. Bahkan, dalam proses penggalian tadi, ada beberapa pokok yang antara umbi dan daun – daun yang menyembul tumbuh berliku – liku di antara celah – celah akar. Begitu tangguh tapi manis dan sangat ‘girlie’.
Entahlah … bunga – bunga kecil itu mengajarkan saya tentang berjuang untuk terus hidup, tanpa terkendala oleh kerasnya lingkungan mereka. Mereka tak menyerah bahkan berkembang biak dan menyebar dan minggu ini mereka mekar dengan riangnya.
Ah saya ingin seperti bunga Lily nih. Ya, semoga.
(Manokwari, 230911; post-gardening)
Sore ini saya belajar tentang ketahanan bunga ini pada medan yang keras. Ceritanya, saya memutuskan untuk menggali bunga – bunga yag terserak tanpa bentuk di halaman rumah dekat sumur yang berkarang. Tak dinyana, proses penggalian makan waktu yang lumayan karena di kerasnya tanah, bunga - bunga ini perlahan tapi pasti menenggelamkan umbi mereka. Padahal, karang dan akar – akar pohon berserakan di mana – mana. Tak heran, dalam proses evakuasi tadi banyak bunga yang terluka, tapi yang penting umbi mereka akan tumbuh di tempat yang gembur.
Entahlah … saya ingin sekuat bunga Lili yang saya cabut umbi – umbinya itu. Mereka cantik, gembung dan menggemaskan. Ternyata selama ini saya salah menilai mereka yang cuma bisa mekar 1 -2 hari itu. Saya pikir karena ia begitu ‘lombo’ dan ‘ba’air’ jadinya lemah. Ternyata, saya baru sadar kalau si lili – lili kecil ini sangat kuat bisa menempatkan umbi – umbi mereka yang berwarna hitam di antara jepitan akar – akar pohon Sukun. Bahkan, dalam proses penggalian tadi, ada beberapa pokok yang antara umbi dan daun – daun yang menyembul tumbuh berliku – liku di antara celah – celah akar. Begitu tangguh tapi manis dan sangat ‘girlie’.
Entahlah … bunga – bunga kecil itu mengajarkan saya tentang berjuang untuk terus hidup, tanpa terkendala oleh kerasnya lingkungan mereka. Mereka tak menyerah bahkan berkembang biak dan menyebar dan minggu ini mereka mekar dengan riangnya.
Ah saya ingin seperti bunga Lily nih. Ya, semoga.
(Manokwari, 230911; post-gardening)
Friday, 23 September 2011
Teman Imajinasi
Depresi mungkin kata yang sangat familiar bagi saya, begitu juga dengan bunuh diri. Tapi saya tidak pernah merasa sangat kesepian. Yang saya rasakan hanya kehampaan dan keinginan kuat mencari ‘kebenaran’ kala begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di benak saya, tentang ‘apa, mengapa’ dan semua pertanyaan tentang Tuhan, alam dan manusia. Entahlah … ada celah yang selalu membuat saya bertanya dan terus bertanya pada Yesus dalam sesi ‘me-time’ yang bisa muncul di mana saja. Kala saya pergi ke pesisir pantai ataupun sedang berada di antrian kendaraan. Walau saya akui bahwa saya menemukan momen terbaik berbincang dengan Tuhan di kala saya berada di tempat – tempat yang tenang dan berada dekat dengan alam. Sebuah pertanyaan yang saya tanyakan di dalam benak saya dan jawabannya pun tak perlu audible alias saya dengar dengan panca indera saya, tapi entahlah …. Saya hanya mengerti bila suara itu berbicara di dalam diri saya.
Saya tak peduli bila saya dianggap gila atau punya teman imajinasi karena bagi saya, saya tidak pernah sendirian, tidak pernah merasa kesepian. Saya lah yang kerap saat merasa hampa, saya enggan mendengar apa kata ‘teman imajinasi’ saya itu, padahal Ia selalu dan tak pernah memarahi saya. Bahkan, ia selalu yang membuat saya mencintai diri saya, apalagi di momen – momen percobaan bunuh diri saya. Saya selalu menyukai kalimat ini, “sa saya ko, May. Sangat sayang ko. Sa masih pu banyak rencana besar untuk ko, jadi jang menyerah eee”. Entahlah, kau sebut siapa ‘teman imajinasi’ saya itu. Tapi saya mengenal baunya, saya mengenal suaranya, saya mengenal dia. Saya memanggilnya ‘Yesus’. Entahlah, apakah orang – orang Kristen yang lain itu setuju dengan saya, entahlah, sebenarnya saya tidak peduli selama saya bisa menjadi ‘teman’ yang baik bagi ‘teman imajinasi’ saya itu. Sayangnya, teman saya ini suka sebal kalau saya mulai memikirkan hal – hal yang jahat ataupun imajinasi liar saya tentang menjadi superhero yang memakai kekerasan ataupun jadi jagoan ibarat Superman yang menghukum mereka yang jahat. Entahlah, Ia hanya terlalu sensitif, menurut saya. Tapi entahlah, saya mencintai dia, karena Ia selalu ada dan mencintai saya.
Kemarin sore, kala sedang mandi karena hendak pergi ke acara nikah seorang teman sejak kecil yang masih berkerabat dengan mama, saya melihat sesuatu. Sebuah pandangan yang pernah saya alami di masa – masa terberat saya di akhir kuliah S2 dulu. Mungkin saya memang sedang depresi, entahlah … atau efek dari bipolar saya. Dalam pandangan saya ke arah dinding kamar mandi, yang saya lihat beberapa menit itu bukan dinding kamar mandi saya, tapi seperti di sebuah taman. Seorang lelaki dengan rambut gondrong dan bertampang Timur Tengah berdiri di sana dengan mata yang sangat sedih, wajahnya tirus dan saya melihat ekspresi kesedihan. Di dalam hati saya seperti saya mengenali lelaki itu, seperti suara hati saya bilang, “May, itu Yesus.” Walau logika saya bilang, “tapi kok wajahnya tidak seperti tampang gambar Yesus yang sangat anglo-saxon itu’. Saat itu, saya tidak bisa bicara apapun. Hanya bisa mendengar dan melihat.
Lelaki berwajah sedih itu menggendong seorang bayi di tangannya. Di dekatnya ada banyak anak kecil, balita mungkin yang berlari kegirangan. Bayi di tangannya kemudian ia angkat dan menatapku dengan pandangan dalam. Ia berbicara denganku tapi bukan dengan suara. Suaranya berada di dalam kepalaku. Pertama aku tak terlalu tahu apa yang ia bicarakan. Apalagi dari matanya kemudian ia menangis, tapi yang keluar adalah darah. Ia sedih, berwajah tirus dan berbicara denganku.
Yang saya dengar darinya, maksudku suaranya di kepalaku dan pengertian di hatiku hanya satu. Tentang bayi dan anak – anak kecil itu. Katanya, “May, lakukan sesuatu untuk anana kecil ini eee, waktu su tra banyak. Tolong anana kecil ini dong eee.” Pesan itu berulang – ulang di dalam kepalaku. Saya tidak tahu apa yang ia maksudkan dengan menolong mereka, ia hanya muncul dengan tampang sedih, menggendong bayi dan dikelilingi anak – anak kecil. Entahlah … dan suasana kamar mandi saya kembali normal, sangat normal.
Saya masih tak mengerti. Entahlah. Yang saya tahu, saya tak mau apa pendapat orang untuk teman imajinasi saya, saya tak peduli dicap ‘gila’ dan ‘aneh’ untuk sesuatu yang saya percaya dan yakini apalagi impian – impian saya. Saya tak ingin menyerah dengan kondisi kesehatan saya pun kondisi mood saya yang turun naik. Saya ingin menjadi sesuatu yang lebih berarti bagi sesama walau mungkin dengan cara yang tidak menguntungkan secara finansial. Bagi saya, saya hanya ingin ‘live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do. Itu saja.
Ah saya teringat status Facebook saya hari ini, “I call this week as my ‘Pacific Week’! Pacific (Latin) means ‘peaceful or loving peace’. This is the perfect week for relaxing, contemplating, reconciliation and loving my self as well as contributing the best of me to others. The perfect place to celebrate it is in the Northern Coast of Manokwari, both from the uphill and on the beach. The perfect ‘me-time’ to make my new life resolutions!!! * a week-after mood”
Ya, minggu ini saya genap seminggu berumur 28 tahun. Saya hanya ingin jadi manusia yang lebih baik bagi sesama, yang lebih berbuat ‘sesuatu tanpa pamrih’ bagi anak – anak kecil, yang lebih tenang dan bisa mengontrol amarah saya. Itu saja.
Entahlah, saya hanya pemimpi. Ya seorang pemimpi, yang memimpikan dunia yang lebih baik bagi keponakan saya, kala Alam, Tuhan dan Manusia bersama – sama bermain. Itu saja.
Saya masih tetap anak perempuan kecil yang selalu bermimpi akan menari suatu hari dengan Yesus, itu saja. Berbagi tawa dan mengejar kupu – kupu.
Khayalan atau mimpi yang aneh, ya mungkin saja. Tapi untuk itu saya akan tetap melanjutkan hidup saya. Tetap bertahan hidup. Itu saja.
Ah saya jatuh cinta pada hidup saya. Sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 230911; does the ‘vision’ back again?)
Saya tak peduli bila saya dianggap gila atau punya teman imajinasi karena bagi saya, saya tidak pernah sendirian, tidak pernah merasa kesepian. Saya lah yang kerap saat merasa hampa, saya enggan mendengar apa kata ‘teman imajinasi’ saya itu, padahal Ia selalu dan tak pernah memarahi saya. Bahkan, ia selalu yang membuat saya mencintai diri saya, apalagi di momen – momen percobaan bunuh diri saya. Saya selalu menyukai kalimat ini, “sa saya ko, May. Sangat sayang ko. Sa masih pu banyak rencana besar untuk ko, jadi jang menyerah eee”. Entahlah, kau sebut siapa ‘teman imajinasi’ saya itu. Tapi saya mengenal baunya, saya mengenal suaranya, saya mengenal dia. Saya memanggilnya ‘Yesus’. Entahlah, apakah orang – orang Kristen yang lain itu setuju dengan saya, entahlah, sebenarnya saya tidak peduli selama saya bisa menjadi ‘teman’ yang baik bagi ‘teman imajinasi’ saya itu. Sayangnya, teman saya ini suka sebal kalau saya mulai memikirkan hal – hal yang jahat ataupun imajinasi liar saya tentang menjadi superhero yang memakai kekerasan ataupun jadi jagoan ibarat Superman yang menghukum mereka yang jahat. Entahlah, Ia hanya terlalu sensitif, menurut saya. Tapi entahlah, saya mencintai dia, karena Ia selalu ada dan mencintai saya.
Kemarin sore, kala sedang mandi karena hendak pergi ke acara nikah seorang teman sejak kecil yang masih berkerabat dengan mama, saya melihat sesuatu. Sebuah pandangan yang pernah saya alami di masa – masa terberat saya di akhir kuliah S2 dulu. Mungkin saya memang sedang depresi, entahlah … atau efek dari bipolar saya. Dalam pandangan saya ke arah dinding kamar mandi, yang saya lihat beberapa menit itu bukan dinding kamar mandi saya, tapi seperti di sebuah taman. Seorang lelaki dengan rambut gondrong dan bertampang Timur Tengah berdiri di sana dengan mata yang sangat sedih, wajahnya tirus dan saya melihat ekspresi kesedihan. Di dalam hati saya seperti saya mengenali lelaki itu, seperti suara hati saya bilang, “May, itu Yesus.” Walau logika saya bilang, “tapi kok wajahnya tidak seperti tampang gambar Yesus yang sangat anglo-saxon itu’. Saat itu, saya tidak bisa bicara apapun. Hanya bisa mendengar dan melihat.
Lelaki berwajah sedih itu menggendong seorang bayi di tangannya. Di dekatnya ada banyak anak kecil, balita mungkin yang berlari kegirangan. Bayi di tangannya kemudian ia angkat dan menatapku dengan pandangan dalam. Ia berbicara denganku tapi bukan dengan suara. Suaranya berada di dalam kepalaku. Pertama aku tak terlalu tahu apa yang ia bicarakan. Apalagi dari matanya kemudian ia menangis, tapi yang keluar adalah darah. Ia sedih, berwajah tirus dan berbicara denganku.
Yang saya dengar darinya, maksudku suaranya di kepalaku dan pengertian di hatiku hanya satu. Tentang bayi dan anak – anak kecil itu. Katanya, “May, lakukan sesuatu untuk anana kecil ini eee, waktu su tra banyak. Tolong anana kecil ini dong eee.” Pesan itu berulang – ulang di dalam kepalaku. Saya tidak tahu apa yang ia maksudkan dengan menolong mereka, ia hanya muncul dengan tampang sedih, menggendong bayi dan dikelilingi anak – anak kecil. Entahlah … dan suasana kamar mandi saya kembali normal, sangat normal.
Saya masih tak mengerti. Entahlah. Yang saya tahu, saya tak mau apa pendapat orang untuk teman imajinasi saya, saya tak peduli dicap ‘gila’ dan ‘aneh’ untuk sesuatu yang saya percaya dan yakini apalagi impian – impian saya. Saya tak ingin menyerah dengan kondisi kesehatan saya pun kondisi mood saya yang turun naik. Saya ingin menjadi sesuatu yang lebih berarti bagi sesama walau mungkin dengan cara yang tidak menguntungkan secara finansial. Bagi saya, saya hanya ingin ‘live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do. Itu saja.
Ah saya teringat status Facebook saya hari ini, “I call this week as my ‘Pacific Week’! Pacific (Latin) means ‘peaceful or loving peace’. This is the perfect week for relaxing, contemplating, reconciliation and loving my self as well as contributing the best of me to others. The perfect place to celebrate it is in the Northern Coast of Manokwari, both from the uphill and on the beach. The perfect ‘me-time’ to make my new life resolutions!!! * a week-after mood”
Ya, minggu ini saya genap seminggu berumur 28 tahun. Saya hanya ingin jadi manusia yang lebih baik bagi sesama, yang lebih berbuat ‘sesuatu tanpa pamrih’ bagi anak – anak kecil, yang lebih tenang dan bisa mengontrol amarah saya. Itu saja.
Entahlah, saya hanya pemimpi. Ya seorang pemimpi, yang memimpikan dunia yang lebih baik bagi keponakan saya, kala Alam, Tuhan dan Manusia bersama – sama bermain. Itu saja.
Saya masih tetap anak perempuan kecil yang selalu bermimpi akan menari suatu hari dengan Yesus, itu saja. Berbagi tawa dan mengejar kupu – kupu.
Khayalan atau mimpi yang aneh, ya mungkin saja. Tapi untuk itu saya akan tetap melanjutkan hidup saya. Tetap bertahan hidup. Itu saja.
Ah saya jatuh cinta pada hidup saya. Sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 230911; does the ‘vision’ back again?)
Malaria, Lili dan Laut
Saya memilih menulis subuh ini di saat perasaan saya sesak di dada, saat saya tak ingin merepotkan banyak orang untuk berbagi kisah saya yang tidak penting, saat para keponakan penghibur saya sudah lelap. Saya memilih menulis ditemani musik lembut berisi ungkapan cinta dan syukur pada Tuhan. Entahlah … Malaria Tertiana selalu sukses memunculkan sisi melankolis dan perasaan ketidaberdayaan saya. Sebuah akumulasi dan kulminasi dari ego saya yang tertimbun dan menumpuk.
Sakit kali ini bagi saya terasa berat karena tak hanya meriang, pusing – pusing dan sakit kepala plus badan melayang dan panas dingin tak jelas, tapi juga muntah berulang kali, tapi toh saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan. Mengusut dan melacak info barang – barang yang hilang termasuk penyebaran informasi ke berbagai orang yang mungkin bisa membantu, menunggu ketidakjelasan keberangkatan ke luar negeri untuk sebuah kunjungan bisnis yang ujung – ujungnya nasib akreditasi ijazah saya tergantung dari paspor saya yang sudah berpindah tangan itu, entah ke tangan ke berapa dan juga menanti tiada pasti untuk status tawaran kerja saya yang katanya ‘seusai lebaran baru akan diproses’. Entahlah … ini masa yang lumayan berat bagi saya, menanti karir, dan tentu saja mencoba bertahan hidup dan bersemangat.
Minggu ini terasa berat karena saya merasa benar – benar remuk secara fisik dan jiwa. Saat saya tertekan dan pada hari pertama musibah pencurian itu, jujur saya sempat berpikir bunuh diri pada sekian menit – menit yang melelahkan kala sudah pulang ke rumah usai berurusan dengan pelaporan. Saya merasa sangat tertekan dan bersalah. Bukan karena tidak ada sukacita tapi karena saya merasa ini tanggungjawab, sebuah amanah yang dititipkan dan saya tidak bisa mengurusnya dengan baik. Selama dua hari itu, saya bahkan tak bisa menangis, tak bisa menulis. Get blank … Tetapi akhirnya semuanya itu membaik usai bertemu beberapa sahabat, teman dekat dan juga dengan adanya para keponakan yang membuat saya merasa baikan. Saya akan berusaha sebisa mungkin menerima konsekuensi plus berusaha sebisa mungkin melakukan apa yang saya bisa. Semoga pekerjaan yang ditawarkan akan ada titik terang sehingga .. entahlah, saya berencana mengganti pelan – pelan apa yang pernah saya hilangkan saat tanggungjawab yang dibebankan gagal saya jalankan dengan baik.
Minggu ini perasaan saya juga cukup melankolis. Entahlah mengapa saya terus merindukan dia yang sebenarnya sudah tidak boleh saya rindukan. Dia tentu saja bukan mantan pacar saya. Hanya seorang teman. Ya, seorang teman. Itu ungkapan dan label yang tepat untuknya karena ia menganggap saya demikian. Itu asumsi saya. Entahlah … saya merindukan dia akhir – akhir ini. Tak merindukan sebagai kekasih karena bagaimanapun saya masih tahu diri untuk tidak mengganggu hidupnya tetapi hanya sebagai teman cerita, baku maki dan tentu saja mendengar suaranya yang seksi itu. Mungkin akhir – akhir ini saya mempunyai banyak cerita sehingga alam bawah sadar saya memutar balik rekaman tentang dia. Padahal, saya sudah menghapus pesan - pesannya hanya agar saya tidak mengingatnya begitu intens. Sayangnya, semakin saya mencoba menghapus tentang dia, semakin saya mengingatnya. Tapi saya akan terus mencoba mendetoksifikasikan perasaan saya.
Tiba – tiba saya mengingat apa yang dikatakan oleh seorang kenalan lama di Jakarta, dalam statusnya, “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911). Ya, dia terlalu baik, itu saja. Dalam subuh – subuh sunyi, saya akan tetap mengingat dia sejauh ini karena mungkin semuanya masih terasa basah dalam kenangan, semuanya masih perlu waktu untuk menetralkan feromon dan oksitosin yang terlanjur memicu adrenalin dan respon impulsif saya yang cepat sekali ‘ngoceh’ tentang apa yang saya rasakan untuknya. Tapi saya bersyukur kalau saya bisa mengatakan hal tersebut walaupun memang ada konsekuensinya. Saya hanya tak mau menyesal seperti yang saya rasakan untuk Jonathan dulu kala saya tak sempat bilang pada J kalau saya terlanjur jatuh cinta dalam sebuah senja di bukit – bukit kecil di Apollo Bay sana pada musim panas 2010.
Hidup akan terus berlanjut dan itu yang coba saya lakukan. Melakukan apa yang saya ingin lakukan untuk hidup saya, melanjutkan hidup. Subuh ini saya ingin melakukan proyek scrapbook dan kartu buatan tangan untuk ulang tahun teman dan kerabat. Mungkin mulai besok saya akan mencari kertas ‘buffalo’ untuk bahan dasar kartu dan juga kertas berlubang untuk scrap book. Entahlah … mungkin scrapbook itu untuk ulang tahun sahabat tertentu. Mungkin juga sebuah scrapbook tentang diri saya untuk dilihat keponakan – keponakan kecil saya bila suatu hari nanti saya tidak bisa menemani mereka di suatu masa. Entahlah … mudah – mudahan pikiran saya tidak berubah. Yang saya tahu, mulai besok, saya ingin menggali dan memindahkan umbi bunga lili – lilian dari halaman rumah ke sepetak tanah depan kamar saya. Memadukan bunga merah muda dan putih dari umbi – umbi seperti bawang. Bunga – bunga warisan jaman kolonial di halaman rumah saya.
Saya tiba – tiba jatuh cinta kembali dengan hobi lama saya semasa SMP dulu; berkebun. Saya ingin menanam kembali bebungaan di halaman rumah. Kali ini bukan di dalam pot – pot berisi tanah. Saya sudah berencana besok akan bekerja melawan parasit Plasmodium Malariae dalam darah saya dengan berkebun seperti yang saya lakukan sore ini usai menanam bunga – bunga liar berakar wangi minyak Gandapura di pinggir jendela kamar. Semuanya dimulai dari sore kemarin kala saya dan seorang teman dekat bernama Novi pergi menyusuri jalan kecil dekat pondoknya Amos. Kami pergi ke dekat jurang guna melihat mentari terbenam dan Pasifik di kejauhan. Sore itu, saya menikmati lautan Pasifik dari ketinggian, merasa lepas, bebas dan lega. Tak lupa membawa pulang bebungaan seperti karangan bunga dan juga memetik bunga – bunga Miana di kebun Amos dan saya masukan pada gelas bekas selai dan saya letakan di pondok itu. Terasa begitu lepas dan bebas dari tekanan musibah pencurian itu. Saya merasa baikan apalagi sore itu juga saya habiskan dengan berbincang akrab dan tertawa lepas dengan Novi, Amos dan John.
Saya tak peduli bila catatan ini dibaca oleh orang lain apalagi berharap diberi komentar, sama sekali tidak peduli. Saya hanya ingin jujur dengan hidup saya. Itu saja.
Sore kemarin kala melihat lautan Pasifik berwarna kelabu di kejauhan sana dari ketinggian dekat pondoknya Amos, entahlah saya mengingat dia; seseorang yang akhir – akhir ini saya rindukan. Entahlah … hanya luapan alam bawah sadar yang kacau mungkin. Tiap kali melihat Pantai Utara, entahlah ada sepotong kenangan yang mengingatkan saya tentang dia. Entahlah, mungkin karena kami pernah berbincang tentang pantai utara kota ini, tentang spot favorit kami yang ternyata sama. Entahlah … padahal saya tak pernah sekalipun berusaha mengasosiasikan kegemaran saya dengannya. Spot favorit saya itu baru saya dapatkan tahun ini kala saya berusaha membuang rasa amarah saya yang menggelegak. Dalam acara ‘balapan gila’ itu, pada saat melihat sebuah teluk di pantai utara, saya tiba – tiba tenang dan merasa beban saya sore itu hilang, kala melihat pantai berpasir hitam itu. Entahlah, saat itu semua amarah lenyap dan saya jatuh cinta pada teluk ini seiring ingatan saya dengan perjalanan saya bersama Jonathan.
Suasana sore itu dan kunjungan – kunjungan selanjutnya khususnya pada hari mendung selalu sama; menimbulkan rasa yang sama. Sebuah kebetulan yang manis sebenarnya, karna dalam perjalanan saya ke beberapa tempat, tak ada tempat manapun di Manokwari yang bisa menggerakan emosi saya seperti pemandangan dari teluk di pantai utara itu. Saya merasa telah menemukan versi kecil perjalanan saya dan Jonathan, perbincangan kami di sepanjang Great Ocean Road, acara foto – foto kami di pantai, kegilaan – kegilaan yang kami lakukan. Teluk di pantai utara itu benar – benar berhasil menjadi sebuah tempat ber-dejavu. Ah saya jatuh cinta pada teluk ini. Apalagi saya pernah nekat menyusuri karang – karang besarnya ke laut, berdiam diri dan merenung di bawah – bawah pohon pinggir lautnya dan menikmati tetesan air yang turun dari akar – akar pohon. Betapa dekatnya saya dan alam, betapa dekatnya kenangan yang basah pada sebuah musim panas 2010.
Terlalu melankolis mungkin apa yang saya rasakan sekarang, mungkin juga dianggap ‘lebay’. Saya tak peduli, toh ini masih ranah pribadi saya, pada catatan ini. Mungkin karena saya memang menyukai sebuah tempat berteluk di Pantai Utara ini yang sering jadi tempat pelarian saya kala penat dan lelah bertanya tentang hidup. Saya memang berencana menabung mulai tahun depan untuk suatu hari nanti membeli sebidang tanah di sana, membuat rumah di daerah pantai utara sana, sebuah rumah yang kelak menjadi sanctuary saya; untuk sebuah kenangan. Apalagi dari hasil perbincangan dengan beberapa teman yang pernah praktek kerja di sana, tanahnya lumayan murah. Saya masih mengingat jelas kata Jonathan dalam perjalanan kami tentang pembuatan rumah pantai, kala ia bercerita tentang rumah impiannya, baik kala kami di jalan maupun di bukit. Tentang rumah pantai dan rumah di bukit.
Jonathan pernah mengajak saya melompati pagar properti samping tanah orang tuanya; properti yang baru ia beli beberapa bulan sebelumnya . Ya, ia lelaki yang gemar berpetualang, jail dan membuat saya tertawa terus tetapi juga pendengar yang sangat baik. Sore itu, ia membuat kami turun naik bukit dengan pemandangan teluk di bawah sana, begitu kelabu. Akhirnya kami berada pada sebuah bukit yang puncaknya lumayan luas. Yang ia lakukan adalah berdiri di tengah – tengah bukit itu dan bilang begini sambil stretching his hands, “May, I’ll build my house here, facing the bay. I’ll plant the trees over there so the neighbor there won’t see my house. I’ll build a small simple house first, and then after I have more money, I’ll add rooms.” Saat itu, ia mengajakku berimajinasi membayangkan rumahnya, kami berbincang tentang bentuk rumahnya, besarnya, hingga pohon yang ingin ia tampilkan dan apa yang ia inginkan dari rumah itu. Kami berbicara seperti dua sahabat lama, padahal di musim panas itu kami baru berteman selama 3 tahun (aku mengenalnya pada bulan September 2007, seminggu usai ulang tahunku , di rumah makan Salam Manis Wosi, dikenalkan seorang teman.) Ia juga yang sukses mempengaruhiku untuk memilih Australia, jauh sebelum aku melamar beasiswa.
Yang selalu saya sesalkan dari kunjungan kala itu dan juga disesalkan Jonathan adalah kami tidak jadi berkemah pada musim panas terakhir saya di Australia. Sejak kami bertemu pertama kali, ia bercerita padaku dan berjanji tentang camping facing the ocean from the uphill. Ia bercerita tentang memandang bintang langsung dari luar tenda. Saat itu, janji berkemah tak bisa saya penuhi karena saya keburu pulang ke Canberra demi sebuah acara di gereja lokal. Padahal rencananya sudah matang untuk seminggu,’ camping, fishing, trekking, adventuring, swimming in Apollo Bay, just you and I. I’ll show you another face of Australia’. Itu katanya pada musim panas itu. Entahlah … saya masih merindukan sebuah janji seperti itu, yang mungkin bukan dari Jonathan kelak.
Pantai Utara Manokwari selalu sukses mengingatkan saya tentang dia, Jonathan dan entahlah … sebuah pencarian hidup. Pasifik dan alasan - alasan sentimental yang membuat saya ingin tinggal di pesisir pantai utara. Pertama, karena ini di tepian Pasifik. Sesuatu yang selalu membawa ingatan saya kembali pada Jonathan, pada perjalanan kami dan pada teluk yang saya lihat dari rumahnya yang berada di titik tertinggi Apollo Bay. Entahlah … apalagi Pasifik dalam bahasa Latin memang artinya ‘peaceful or loving peace’. Apalagi sejak saya kecil, saya mengenal konsep Pasifik sebagai ‘lautan bebas’ dimana tak ada batasan. Saya ingin merasakan kembali suasana pagi dari kamar rumah orang tuanya, kala Pasifik berkilat seperti berlian dan saya merasakan hidup saya terasa tenang dan damai. Sebuah perasaan bernama cinta dan damai. Saya ingin mendapat momen seperti itu lagi kelak, sebuah momen yang ingin saya bagikan pada keponakan – keponakan saya.
Kedua, ini tanah nenek moyang saya kala oyang saya dari Biak harus ditukar dengan bahan makanan di sebuah pantai di pesisir utara. Sebuah pertemuan yang mengubah sejarah keluarga saya. Di pesisir ini, ditimbun banyak kenangan, rekam jejak keluarga dan juga perasaan rindu pada laut. Entahlah … apakah ini perasaan yang dialami oleh oyang saya kala ia yang terbiasa sejak kecil bermain bersama ombak di pantai – pantai di Numfoor sana, yang memandang bintang sebagai kompas, dan menari dan tertawa pada api – api unggun pinggir pantai harus dirampas dari hidup dan kenangannya akan laut untuk menjadi ‘orang gunung’. Entahlah … kadang dalam perjalanan saya di pantai utara, kala berjalan sendiri dan merenung di pantai, entahlah … perasaan rindu pulang pada laut terasa kuat, terasa membakar di dalam hati, sebuah perasaan yang entah tak bisa saya jelaskan mengapa ada. Sebuah perasaan di mana saya merasa akrab dengan laut. Entahlah … mungkin simpul – simpul DNA saya, kenangan oyang yang terjerat simpul saraf berhasil saya bebaskan. Entahlah … there’s something about northern coast that reminds me a lot of life searching, tentang sebuah kerinduan yang entah pada siapa atau apa.
Pantai utara kota ini selalu berhasil membuat saya melankolis, sama seperti hari mendung di Manokwari. Entahlah …
Tentang dia? Entahlah …. Tiap kali pemandangan Pasifik dari pantai utara dilihat dari gunung ke arah teluk ataupun lautan bebas, entahlah …. Saya mengingat dia, juga Jonathan dan sebuah kerinduan pada laut, perasaan kuat seperti ingin pulang. Itulah sebabnya tahun ini, saya berencana mengadakan ekspedisi pribadi ke sebuah kampung di pulau Numfoor. Mencari kampung oyang saya, ingin menebus rasa rindu ini. Sebuah pencarian hidup, tepatnya. Back-to- the-root journey.
Entahlah, mengapa saya mengingat dia subuh ini. Mungkin karena saya merasakan sifat Jonathan di dalam dirinya. Itu saja. Saya tak ingin membandingkannya. Seperti kata teman saya; “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911).
Ya, ia terlalu baik bagi saya. Itu saja. Dan yang saya lakukan hanyalah, “get real” dengan hidup saya.
Ah seperti yang saya katakan tadi, Malaria Tertiana selalu sukses membuat saya melankolis.
Ya, saya pencinta yang jatuh cinta pada hujan, mendung, dan pantai kelabu.
Dan hari ini, saya jatuh cinta lagi, entah pada siapa atau apa.
Pada subuh ini, semua kenangan masih terasa basah, sangat basah. Itu saja!
(Manokwari, 230911, 3: 03 a.m.; damn, kenapa sa ingat ‘si joker’ – seh …)
Sakit kali ini bagi saya terasa berat karena tak hanya meriang, pusing – pusing dan sakit kepala plus badan melayang dan panas dingin tak jelas, tapi juga muntah berulang kali, tapi toh saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan. Mengusut dan melacak info barang – barang yang hilang termasuk penyebaran informasi ke berbagai orang yang mungkin bisa membantu, menunggu ketidakjelasan keberangkatan ke luar negeri untuk sebuah kunjungan bisnis yang ujung – ujungnya nasib akreditasi ijazah saya tergantung dari paspor saya yang sudah berpindah tangan itu, entah ke tangan ke berapa dan juga menanti tiada pasti untuk status tawaran kerja saya yang katanya ‘seusai lebaran baru akan diproses’. Entahlah … ini masa yang lumayan berat bagi saya, menanti karir, dan tentu saja mencoba bertahan hidup dan bersemangat.
Minggu ini terasa berat karena saya merasa benar – benar remuk secara fisik dan jiwa. Saat saya tertekan dan pada hari pertama musibah pencurian itu, jujur saya sempat berpikir bunuh diri pada sekian menit – menit yang melelahkan kala sudah pulang ke rumah usai berurusan dengan pelaporan. Saya merasa sangat tertekan dan bersalah. Bukan karena tidak ada sukacita tapi karena saya merasa ini tanggungjawab, sebuah amanah yang dititipkan dan saya tidak bisa mengurusnya dengan baik. Selama dua hari itu, saya bahkan tak bisa menangis, tak bisa menulis. Get blank … Tetapi akhirnya semuanya itu membaik usai bertemu beberapa sahabat, teman dekat dan juga dengan adanya para keponakan yang membuat saya merasa baikan. Saya akan berusaha sebisa mungkin menerima konsekuensi plus berusaha sebisa mungkin melakukan apa yang saya bisa. Semoga pekerjaan yang ditawarkan akan ada titik terang sehingga .. entahlah, saya berencana mengganti pelan – pelan apa yang pernah saya hilangkan saat tanggungjawab yang dibebankan gagal saya jalankan dengan baik.
Minggu ini perasaan saya juga cukup melankolis. Entahlah mengapa saya terus merindukan dia yang sebenarnya sudah tidak boleh saya rindukan. Dia tentu saja bukan mantan pacar saya. Hanya seorang teman. Ya, seorang teman. Itu ungkapan dan label yang tepat untuknya karena ia menganggap saya demikian. Itu asumsi saya. Entahlah … saya merindukan dia akhir – akhir ini. Tak merindukan sebagai kekasih karena bagaimanapun saya masih tahu diri untuk tidak mengganggu hidupnya tetapi hanya sebagai teman cerita, baku maki dan tentu saja mendengar suaranya yang seksi itu. Mungkin akhir – akhir ini saya mempunyai banyak cerita sehingga alam bawah sadar saya memutar balik rekaman tentang dia. Padahal, saya sudah menghapus pesan - pesannya hanya agar saya tidak mengingatnya begitu intens. Sayangnya, semakin saya mencoba menghapus tentang dia, semakin saya mengingatnya. Tapi saya akan terus mencoba mendetoksifikasikan perasaan saya.
Tiba – tiba saya mengingat apa yang dikatakan oleh seorang kenalan lama di Jakarta, dalam statusnya, “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911). Ya, dia terlalu baik, itu saja. Dalam subuh – subuh sunyi, saya akan tetap mengingat dia sejauh ini karena mungkin semuanya masih terasa basah dalam kenangan, semuanya masih perlu waktu untuk menetralkan feromon dan oksitosin yang terlanjur memicu adrenalin dan respon impulsif saya yang cepat sekali ‘ngoceh’ tentang apa yang saya rasakan untuknya. Tapi saya bersyukur kalau saya bisa mengatakan hal tersebut walaupun memang ada konsekuensinya. Saya hanya tak mau menyesal seperti yang saya rasakan untuk Jonathan dulu kala saya tak sempat bilang pada J kalau saya terlanjur jatuh cinta dalam sebuah senja di bukit – bukit kecil di Apollo Bay sana pada musim panas 2010.
Hidup akan terus berlanjut dan itu yang coba saya lakukan. Melakukan apa yang saya ingin lakukan untuk hidup saya, melanjutkan hidup. Subuh ini saya ingin melakukan proyek scrapbook dan kartu buatan tangan untuk ulang tahun teman dan kerabat. Mungkin mulai besok saya akan mencari kertas ‘buffalo’ untuk bahan dasar kartu dan juga kertas berlubang untuk scrap book. Entahlah … mungkin scrapbook itu untuk ulang tahun sahabat tertentu. Mungkin juga sebuah scrapbook tentang diri saya untuk dilihat keponakan – keponakan kecil saya bila suatu hari nanti saya tidak bisa menemani mereka di suatu masa. Entahlah … mudah – mudahan pikiran saya tidak berubah. Yang saya tahu, mulai besok, saya ingin menggali dan memindahkan umbi bunga lili – lilian dari halaman rumah ke sepetak tanah depan kamar saya. Memadukan bunga merah muda dan putih dari umbi – umbi seperti bawang. Bunga – bunga warisan jaman kolonial di halaman rumah saya.
Saya tiba – tiba jatuh cinta kembali dengan hobi lama saya semasa SMP dulu; berkebun. Saya ingin menanam kembali bebungaan di halaman rumah. Kali ini bukan di dalam pot – pot berisi tanah. Saya sudah berencana besok akan bekerja melawan parasit Plasmodium Malariae dalam darah saya dengan berkebun seperti yang saya lakukan sore ini usai menanam bunga – bunga liar berakar wangi minyak Gandapura di pinggir jendela kamar. Semuanya dimulai dari sore kemarin kala saya dan seorang teman dekat bernama Novi pergi menyusuri jalan kecil dekat pondoknya Amos. Kami pergi ke dekat jurang guna melihat mentari terbenam dan Pasifik di kejauhan. Sore itu, saya menikmati lautan Pasifik dari ketinggian, merasa lepas, bebas dan lega. Tak lupa membawa pulang bebungaan seperti karangan bunga dan juga memetik bunga – bunga Miana di kebun Amos dan saya masukan pada gelas bekas selai dan saya letakan di pondok itu. Terasa begitu lepas dan bebas dari tekanan musibah pencurian itu. Saya merasa baikan apalagi sore itu juga saya habiskan dengan berbincang akrab dan tertawa lepas dengan Novi, Amos dan John.
Saya tak peduli bila catatan ini dibaca oleh orang lain apalagi berharap diberi komentar, sama sekali tidak peduli. Saya hanya ingin jujur dengan hidup saya. Itu saja.
Sore kemarin kala melihat lautan Pasifik berwarna kelabu di kejauhan sana dari ketinggian dekat pondoknya Amos, entahlah saya mengingat dia; seseorang yang akhir – akhir ini saya rindukan. Entahlah … hanya luapan alam bawah sadar yang kacau mungkin. Tiap kali melihat Pantai Utara, entahlah ada sepotong kenangan yang mengingatkan saya tentang dia. Entahlah, mungkin karena kami pernah berbincang tentang pantai utara kota ini, tentang spot favorit kami yang ternyata sama. Entahlah … padahal saya tak pernah sekalipun berusaha mengasosiasikan kegemaran saya dengannya. Spot favorit saya itu baru saya dapatkan tahun ini kala saya berusaha membuang rasa amarah saya yang menggelegak. Dalam acara ‘balapan gila’ itu, pada saat melihat sebuah teluk di pantai utara, saya tiba – tiba tenang dan merasa beban saya sore itu hilang, kala melihat pantai berpasir hitam itu. Entahlah, saat itu semua amarah lenyap dan saya jatuh cinta pada teluk ini seiring ingatan saya dengan perjalanan saya bersama Jonathan.
Suasana sore itu dan kunjungan – kunjungan selanjutnya khususnya pada hari mendung selalu sama; menimbulkan rasa yang sama. Sebuah kebetulan yang manis sebenarnya, karna dalam perjalanan saya ke beberapa tempat, tak ada tempat manapun di Manokwari yang bisa menggerakan emosi saya seperti pemandangan dari teluk di pantai utara itu. Saya merasa telah menemukan versi kecil perjalanan saya dan Jonathan, perbincangan kami di sepanjang Great Ocean Road, acara foto – foto kami di pantai, kegilaan – kegilaan yang kami lakukan. Teluk di pantai utara itu benar – benar berhasil menjadi sebuah tempat ber-dejavu. Ah saya jatuh cinta pada teluk ini. Apalagi saya pernah nekat menyusuri karang – karang besarnya ke laut, berdiam diri dan merenung di bawah – bawah pohon pinggir lautnya dan menikmati tetesan air yang turun dari akar – akar pohon. Betapa dekatnya saya dan alam, betapa dekatnya kenangan yang basah pada sebuah musim panas 2010.
Terlalu melankolis mungkin apa yang saya rasakan sekarang, mungkin juga dianggap ‘lebay’. Saya tak peduli, toh ini masih ranah pribadi saya, pada catatan ini. Mungkin karena saya memang menyukai sebuah tempat berteluk di Pantai Utara ini yang sering jadi tempat pelarian saya kala penat dan lelah bertanya tentang hidup. Saya memang berencana menabung mulai tahun depan untuk suatu hari nanti membeli sebidang tanah di sana, membuat rumah di daerah pantai utara sana, sebuah rumah yang kelak menjadi sanctuary saya; untuk sebuah kenangan. Apalagi dari hasil perbincangan dengan beberapa teman yang pernah praktek kerja di sana, tanahnya lumayan murah. Saya masih mengingat jelas kata Jonathan dalam perjalanan kami tentang pembuatan rumah pantai, kala ia bercerita tentang rumah impiannya, baik kala kami di jalan maupun di bukit. Tentang rumah pantai dan rumah di bukit.
Jonathan pernah mengajak saya melompati pagar properti samping tanah orang tuanya; properti yang baru ia beli beberapa bulan sebelumnya . Ya, ia lelaki yang gemar berpetualang, jail dan membuat saya tertawa terus tetapi juga pendengar yang sangat baik. Sore itu, ia membuat kami turun naik bukit dengan pemandangan teluk di bawah sana, begitu kelabu. Akhirnya kami berada pada sebuah bukit yang puncaknya lumayan luas. Yang ia lakukan adalah berdiri di tengah – tengah bukit itu dan bilang begini sambil stretching his hands, “May, I’ll build my house here, facing the bay. I’ll plant the trees over there so the neighbor there won’t see my house. I’ll build a small simple house first, and then after I have more money, I’ll add rooms.” Saat itu, ia mengajakku berimajinasi membayangkan rumahnya, kami berbincang tentang bentuk rumahnya, besarnya, hingga pohon yang ingin ia tampilkan dan apa yang ia inginkan dari rumah itu. Kami berbicara seperti dua sahabat lama, padahal di musim panas itu kami baru berteman selama 3 tahun (aku mengenalnya pada bulan September 2007, seminggu usai ulang tahunku , di rumah makan Salam Manis Wosi, dikenalkan seorang teman.) Ia juga yang sukses mempengaruhiku untuk memilih Australia, jauh sebelum aku melamar beasiswa.
Yang selalu saya sesalkan dari kunjungan kala itu dan juga disesalkan Jonathan adalah kami tidak jadi berkemah pada musim panas terakhir saya di Australia. Sejak kami bertemu pertama kali, ia bercerita padaku dan berjanji tentang camping facing the ocean from the uphill. Ia bercerita tentang memandang bintang langsung dari luar tenda. Saat itu, janji berkemah tak bisa saya penuhi karena saya keburu pulang ke Canberra demi sebuah acara di gereja lokal. Padahal rencananya sudah matang untuk seminggu,’ camping, fishing, trekking, adventuring, swimming in Apollo Bay, just you and I. I’ll show you another face of Australia’. Itu katanya pada musim panas itu. Entahlah … saya masih merindukan sebuah janji seperti itu, yang mungkin bukan dari Jonathan kelak.
Pantai Utara Manokwari selalu sukses mengingatkan saya tentang dia, Jonathan dan entahlah … sebuah pencarian hidup. Pasifik dan alasan - alasan sentimental yang membuat saya ingin tinggal di pesisir pantai utara. Pertama, karena ini di tepian Pasifik. Sesuatu yang selalu membawa ingatan saya kembali pada Jonathan, pada perjalanan kami dan pada teluk yang saya lihat dari rumahnya yang berada di titik tertinggi Apollo Bay. Entahlah … apalagi Pasifik dalam bahasa Latin memang artinya ‘peaceful or loving peace’. Apalagi sejak saya kecil, saya mengenal konsep Pasifik sebagai ‘lautan bebas’ dimana tak ada batasan. Saya ingin merasakan kembali suasana pagi dari kamar rumah orang tuanya, kala Pasifik berkilat seperti berlian dan saya merasakan hidup saya terasa tenang dan damai. Sebuah perasaan bernama cinta dan damai. Saya ingin mendapat momen seperti itu lagi kelak, sebuah momen yang ingin saya bagikan pada keponakan – keponakan saya.
Kedua, ini tanah nenek moyang saya kala oyang saya dari Biak harus ditukar dengan bahan makanan di sebuah pantai di pesisir utara. Sebuah pertemuan yang mengubah sejarah keluarga saya. Di pesisir ini, ditimbun banyak kenangan, rekam jejak keluarga dan juga perasaan rindu pada laut. Entahlah … apakah ini perasaan yang dialami oleh oyang saya kala ia yang terbiasa sejak kecil bermain bersama ombak di pantai – pantai di Numfoor sana, yang memandang bintang sebagai kompas, dan menari dan tertawa pada api – api unggun pinggir pantai harus dirampas dari hidup dan kenangannya akan laut untuk menjadi ‘orang gunung’. Entahlah … kadang dalam perjalanan saya di pantai utara, kala berjalan sendiri dan merenung di pantai, entahlah … perasaan rindu pulang pada laut terasa kuat, terasa membakar di dalam hati, sebuah perasaan yang entah tak bisa saya jelaskan mengapa ada. Sebuah perasaan di mana saya merasa akrab dengan laut. Entahlah … mungkin simpul – simpul DNA saya, kenangan oyang yang terjerat simpul saraf berhasil saya bebaskan. Entahlah … there’s something about northern coast that reminds me a lot of life searching, tentang sebuah kerinduan yang entah pada siapa atau apa.
Pantai utara kota ini selalu berhasil membuat saya melankolis, sama seperti hari mendung di Manokwari. Entahlah …
Tentang dia? Entahlah …. Tiap kali pemandangan Pasifik dari pantai utara dilihat dari gunung ke arah teluk ataupun lautan bebas, entahlah …. Saya mengingat dia, juga Jonathan dan sebuah kerinduan pada laut, perasaan kuat seperti ingin pulang. Itulah sebabnya tahun ini, saya berencana mengadakan ekspedisi pribadi ke sebuah kampung di pulau Numfoor. Mencari kampung oyang saya, ingin menebus rasa rindu ini. Sebuah pencarian hidup, tepatnya. Back-to- the-root journey.
Entahlah, mengapa saya mengingat dia subuh ini. Mungkin karena saya merasakan sifat Jonathan di dalam dirinya. Itu saja. Saya tak ingin membandingkannya. Seperti kata teman saya; “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911).
Ya, ia terlalu baik bagi saya. Itu saja. Dan yang saya lakukan hanyalah, “get real” dengan hidup saya.
Ah seperti yang saya katakan tadi, Malaria Tertiana selalu sukses membuat saya melankolis.
Ya, saya pencinta yang jatuh cinta pada hujan, mendung, dan pantai kelabu.
Dan hari ini, saya jatuh cinta lagi, entah pada siapa atau apa.
Pada subuh ini, semua kenangan masih terasa basah, sangat basah. Itu saja!
(Manokwari, 230911, 3: 03 a.m.; damn, kenapa sa ingat ‘si joker’ – seh …)
Wednesday, 21 September 2011
Rindu Q
Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat deras hujan tak turun, saat tak ada pelangi yang muncul di luar sana, saat tak ada nyanyian merdu burung pagi, saat tapak – tapak kaki pejalan lenyap dalam hening, diam dan bisu. Ya, sebisu hatiku.
Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat gelap memeluk bumi dalam buaian nircahaya, saat manusia – manusia berkulit kopi dan vanilla tertidur lelap, saat serangga malam tak bermain simfoni mereka, dan semuanya menjadi kelam dan gelap. Ya, segelap hatiku.
Ada yang bilang cinta memabukan, mencuri akal sehat. Bagiku, hanya satu ungkapan yang tepat, “I was smart until I fell in love.” Ya, itu ungkapan dari rasa rindu yang membunuhku di malam – malam gelap dan kelam seperti ini. Bahkan kau tahu, bintang dan bulan di luar sana mengkhianatiku karena mereka enggan keluar malam ini.
Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat lagu – lagu cinta bersuara lembut dan merdu tak bisa menenangkan hatiku, saat dentaman dan petikan Greenday tak bisa mengajak hatiku menari girang, kala rangkaian puitis Gibran, Neruda hingga Tagore lenyap dalam kesenyapan hati. ya, aku senyap malam ini.
Mungkin kau tak akan pernah tahu bahwa aku merindukanmu, entahlah. Rasa ini mengonsumsi akal sehatku dan memaksa jari – jariku mengetikkan kata – kata penuh basa – basi ini, kata – kata yang mungkin kau anggap hanya memenuhi sia – sia lembar – lembar kertas virtual ini.
Entahlah …. Aku merindukanmu malam ini.
Mantra yang terpaksa kutuliskan guna menawarkan rasa lelah di hati yang muncul tiba – tiba tanpa diundang, yang membuat deretan kata catatan lain rusak berantakan, kala bayang dan suaramu muncul menari dalam benakku, menyeretku menuliskan kata – kata rindu yang terasa basi karena semuanya terasa aneh kala rindu ini tak ingin dialamatkan langsung padamu.
Lihat saja, rasa rindu ini begitu kurang ajar muncul, membuat nyanyian cinta dengan syair – syair puitis cerai berai dibantai dengan logika semu, ‘jadi, ko rindu dia, May?’. Ah logika sekali lagi bermain, mencoba menetralisir rasa ini tapi toh, mantra ‘aku merindukanmu malam ini’ masih tetap datang, menghantuiku, memaksaku bangun dan menyeret komputer butut ini menarikan huruf – huruf demi keabadian rasa dalam kata – kata yang entah kan kau baca atau hanya terdiam dalam sudut – sudut berdebu piranti ini.
Aku tak tahu apa yang kau pikirkan malam ini, siapa yang kau rindu ataupun apa yang ada di benakmu, yang aku tahu, ‘aku merindukanmu malam ini’.
Rasa ini menyiksaku, membuatku senyap, diam dan tenang. Rasa yang mungkin seharusnya tak ada tapi toh terlanjur ada. Rasa yang susah sekali dibersihkan. Ibarat noda, rasa ini bukanlah noda yang mudah kau bersihkan dengan deterjen keras, pemutih pakaian ataupun perangkat pembersih lainnya. Rasa ini ibarat noktah – noktah Tuberculosis yang bersemayam di paru – paruku, yang enggan menghilang karena ada gurat – gurat celah yang terlanjur ada. Selamanya kan ada.
Aku kan mencoba bersahabat dengan rasa ini, kurasa. Mencoba realistis dengan rasa rindu ini dan tentu saja mencoba untuk tetap hidup walau rasa ini menyeretku berulang kali dalam malam seperti ini. Malam –malam panjang tanpa nama, malam – malam panjang penuh rindu, malam – malam panjang yang menyeret jemariku membisikan rasa rindu dalam leretan kata, membuat bibirku mengucap namamu dalam doa – doa pendekku kala beban di hati terasa berat, kala pesan – pesan pendekku mengganggu tidur sahabat – sahabatku di ujung mimpi mereka. Entahlah … mengapa rasa ini begitu memabukkan seperti Bailey yang manis pecah di bibir tapi melenakan juga membuatku getir linglung usai bangun pagi?
Ah … aku merindukanmu malam ini, kau tahu atau kau pura- pura tak tahu. Toh aku tak peduli sebenarnya, karena yang aku tahu, ‘sa rindu ko’ itu saja. Tak perlu ada penjelasan!!!
Rindu tanpa nama dalam rasa tanpa nama membuatku sesak. Rasa ini membuatku terjaga, larut dalam diam yang tenang penuh emosi yang menyesakan dada.
Rasa ini memabukkan, menyesakan dan tentu membuatku menjadi ‘bodoh’.
Aku merindukanmu malam ini, kau tahu ataupun tak mau tahu, itu bukan urusanku. Rasa ini pribadi dan masih enggan kukatakan padamu. Bukan, hanya tak ingin mengganggu hidupmu. Itu saja. Biarkan rasa ini mengonsumsiku pelan – pelan, biar saja abadi dalam kata – kata. Tak perlu disampaikan dan hanya menjadi sekedar pesan ‘say hi’ pembuang ‘sms gratis’. Tak perlu.
Aku merindukanmu malam ini, kutuliskan dalam catatan ini hanya agar abadi. Membuatku manusiawi, membuatku lebih lega dan bisa tidur di malam panjang ini.
Mungkin aku salah terlanjur jatuh cinta padamu, itu saja. Sedang kau? Ah aku tak tahu perasaanmu dan memang tak ingin tahu, lebih baik diam dan merindukanmu seperti malam ini karena tak ingin merasa getir, pahit dan entahlah … kenapa aku memikirkanmu malam ini?
Ah rasa ini membunuhku…
Entahlah … yang aku tahu, aku merindukanmu malam ini.
Ya, untukmu … lelaki yang enggan kusebutkan namanya, kau tahu. ‘Sa rindu ko’, sesederhana itu? Ya, itu saja.
(Manokwari, 210911; 1: 51 a.m.; to him who used to make me laugh and sworn heaps, I just miss you; that’s all)
Saat deras hujan tak turun, saat tak ada pelangi yang muncul di luar sana, saat tak ada nyanyian merdu burung pagi, saat tapak – tapak kaki pejalan lenyap dalam hening, diam dan bisu. Ya, sebisu hatiku.
Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat gelap memeluk bumi dalam buaian nircahaya, saat manusia – manusia berkulit kopi dan vanilla tertidur lelap, saat serangga malam tak bermain simfoni mereka, dan semuanya menjadi kelam dan gelap. Ya, segelap hatiku.
Ada yang bilang cinta memabukan, mencuri akal sehat. Bagiku, hanya satu ungkapan yang tepat, “I was smart until I fell in love.” Ya, itu ungkapan dari rasa rindu yang membunuhku di malam – malam gelap dan kelam seperti ini. Bahkan kau tahu, bintang dan bulan di luar sana mengkhianatiku karena mereka enggan keluar malam ini.
Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat lagu – lagu cinta bersuara lembut dan merdu tak bisa menenangkan hatiku, saat dentaman dan petikan Greenday tak bisa mengajak hatiku menari girang, kala rangkaian puitis Gibran, Neruda hingga Tagore lenyap dalam kesenyapan hati. ya, aku senyap malam ini.
Mungkin kau tak akan pernah tahu bahwa aku merindukanmu, entahlah. Rasa ini mengonsumsi akal sehatku dan memaksa jari – jariku mengetikkan kata – kata penuh basa – basi ini, kata – kata yang mungkin kau anggap hanya memenuhi sia – sia lembar – lembar kertas virtual ini.
Entahlah …. Aku merindukanmu malam ini.
Mantra yang terpaksa kutuliskan guna menawarkan rasa lelah di hati yang muncul tiba – tiba tanpa diundang, yang membuat deretan kata catatan lain rusak berantakan, kala bayang dan suaramu muncul menari dalam benakku, menyeretku menuliskan kata – kata rindu yang terasa basi karena semuanya terasa aneh kala rindu ini tak ingin dialamatkan langsung padamu.
Lihat saja, rasa rindu ini begitu kurang ajar muncul, membuat nyanyian cinta dengan syair – syair puitis cerai berai dibantai dengan logika semu, ‘jadi, ko rindu dia, May?’. Ah logika sekali lagi bermain, mencoba menetralisir rasa ini tapi toh, mantra ‘aku merindukanmu malam ini’ masih tetap datang, menghantuiku, memaksaku bangun dan menyeret komputer butut ini menarikan huruf – huruf demi keabadian rasa dalam kata – kata yang entah kan kau baca atau hanya terdiam dalam sudut – sudut berdebu piranti ini.
Aku tak tahu apa yang kau pikirkan malam ini, siapa yang kau rindu ataupun apa yang ada di benakmu, yang aku tahu, ‘aku merindukanmu malam ini’.
Rasa ini menyiksaku, membuatku senyap, diam dan tenang. Rasa yang mungkin seharusnya tak ada tapi toh terlanjur ada. Rasa yang susah sekali dibersihkan. Ibarat noda, rasa ini bukanlah noda yang mudah kau bersihkan dengan deterjen keras, pemutih pakaian ataupun perangkat pembersih lainnya. Rasa ini ibarat noktah – noktah Tuberculosis yang bersemayam di paru – paruku, yang enggan menghilang karena ada gurat – gurat celah yang terlanjur ada. Selamanya kan ada.
Aku kan mencoba bersahabat dengan rasa ini, kurasa. Mencoba realistis dengan rasa rindu ini dan tentu saja mencoba untuk tetap hidup walau rasa ini menyeretku berulang kali dalam malam seperti ini. Malam –malam panjang tanpa nama, malam – malam panjang penuh rindu, malam – malam panjang yang menyeret jemariku membisikan rasa rindu dalam leretan kata, membuat bibirku mengucap namamu dalam doa – doa pendekku kala beban di hati terasa berat, kala pesan – pesan pendekku mengganggu tidur sahabat – sahabatku di ujung mimpi mereka. Entahlah … mengapa rasa ini begitu memabukkan seperti Bailey yang manis pecah di bibir tapi melenakan juga membuatku getir linglung usai bangun pagi?
Ah … aku merindukanmu malam ini, kau tahu atau kau pura- pura tak tahu. Toh aku tak peduli sebenarnya, karena yang aku tahu, ‘sa rindu ko’ itu saja. Tak perlu ada penjelasan!!!
Rindu tanpa nama dalam rasa tanpa nama membuatku sesak. Rasa ini membuatku terjaga, larut dalam diam yang tenang penuh emosi yang menyesakan dada.
Rasa ini memabukkan, menyesakan dan tentu membuatku menjadi ‘bodoh’.
Aku merindukanmu malam ini, kau tahu ataupun tak mau tahu, itu bukan urusanku. Rasa ini pribadi dan masih enggan kukatakan padamu. Bukan, hanya tak ingin mengganggu hidupmu. Itu saja. Biarkan rasa ini mengonsumsiku pelan – pelan, biar saja abadi dalam kata – kata. Tak perlu disampaikan dan hanya menjadi sekedar pesan ‘say hi’ pembuang ‘sms gratis’. Tak perlu.
Aku merindukanmu malam ini, kutuliskan dalam catatan ini hanya agar abadi. Membuatku manusiawi, membuatku lebih lega dan bisa tidur di malam panjang ini.
Mungkin aku salah terlanjur jatuh cinta padamu, itu saja. Sedang kau? Ah aku tak tahu perasaanmu dan memang tak ingin tahu, lebih baik diam dan merindukanmu seperti malam ini karena tak ingin merasa getir, pahit dan entahlah … kenapa aku memikirkanmu malam ini?
Ah rasa ini membunuhku…
Entahlah … yang aku tahu, aku merindukanmu malam ini.
Ya, untukmu … lelaki yang enggan kusebutkan namanya, kau tahu. ‘Sa rindu ko’, sesederhana itu? Ya, itu saja.
(Manokwari, 210911; 1: 51 a.m.; to him who used to make me laugh and sworn heaps, I just miss you; that’s all)
Vendetta
Sudah hampir seminggu ini saya mendapat sebuah ‘penjelasan’ penting tentang keberadaan situasi terkini, ya terkait intrik dan politik dari lingkungan terdekat saya yang cukup membebani diri saya apalagi beban terasa lebih berat kala sebuah tanggungjawab lainnya lalai saya jalankan hingga ada konsekuensi buruk yang terjadi (lihat catatan saya ‘Guilty’ terkait pencurian). Satu pelajaran penting terbaik yang saya dapatkan dari penjelasan terkini itu hanya satu: ‘Untuk bertahan hidup, saya (dan juga keluarga saya) sebaiknya harus keluar dari kota ini selamanya’. Bukan melarikan diri tetapi untuk melanjutkan hidup dan demi masa depan yang lebih baik. Sebuah kemungkinan paling masuk akal yang harus saya pikirkan mulai dari sekarang. Mungkin karena sudah bisa mendeteksi kemungkinan ini sejak lama, saya akhirnya suka bepergian. Bepergian yang jauh dari rumah. Entahlah …
Saya tak pernah bisa mengerti dengan orang – orang yang memasukan dendam ke dalam pikiran mereka terus – menerus. Orang – orang yang mempersalahkan masa lalu. Catatan ini mungkin membingungkan bagi orang lain, karena toh catatan ini saya buat untuk diri saya sendiri, bukan untuk disebarluaskan kepada siapa – siapa. Hanya ingin menuliskan catatan ini saja, anggap saja sebagai sebuah dokumentasi perasaan saya bila ‘saat’ itu terlanjur datang. Ya, hanya untuk berjaga – jaga bila suatu hari nanti saya dan keluarga saya ‘ditemukan’ tewas, meninggal tidak wajar ataupun hal – hal buruk seperti itu. Hanya untuk penebus sebuah konsep ‘mata ganti mata, darah ganti darah, gigi ganti gigi’. Sesuatu yang disebut ‘dendam turunan’. Sebuah hasil akhir dari ‘vendetta’ yang dikandung oleh suku mama saya.
Kematian dan pembunuhan serta intrik dan politik apalagi konspirasi adalah hal umum yang saya pelajari dan pahami sejak kecil. Saat lawan dan musuh tak begitu jelas. Saat saudara dekat bisa berubah menjadi musuh ataupun musuh bisa menjadi sahabat dekat. Tak jelas. Saya hanya lelah melihat pembunuhan terencana demi kekuasaaan kerap terjadi, baik yang sadis maupun dengan jasa pembunuh bayaran tradisional. Ya, di dalam darah saya mengalir rekam jejak masa lalu yang berimbas pada masa kini. Keputusan – keputusan leluhur saya yang berimbas pada hidup kami di masa sekarang. Ya, tak banyak orang yang bisa memahami hal itu. Tak banyak orang.
Hal yang saya tulis ini tidak terkait dengan isu politik sebuah negara, sama sekali bukan. Juga tidak menyangkut kegiatan politik yang kerap ditulis berita. Ini hanya berbicara tentang politik suku mama saya. Tentang kekuasaan, tentang intrik dan konspirasi masa lalu yang berimbas pada hidup kami sekarang ini dan bagaimana ancaman yang kami dapatkan secara keseluruhan akhir – akhir ini. Padahal, sejak kecil kami telah merasa dipisahkan jauh dari akar kami, bertumbuh dengan pluralitas dan tak terlalu pusing dengan urusan politik suku. Yang aku tahu, papa dan mama selalu mengajarkan kami untuk berjuang dengan keringat kami sendiri untuk bertahan hidup dan tidak menggantungkan hidup dengan mengandalkan nama keluarga mama. Pesan yang selalu kujunjung tinggi. Saat ini, aku melihat itu sebagai sebuah jalan keluar.
Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan, maksud saya bagaimana mereka yang berniat mengambil hidup kami, bisa hidup dengan dendam bertahun – tahun, bergenerasi. Saya tidak mengerti. Bukan salah kami bila oyang lelaki saya dari pihak mama yang bersuku Biak memang bukan berasal dari suku ini. Saya percaya bukan salah oyang lelaki hingga ia terpaksa ‘digadaikan’ keluarganya demi makanan guna mereka bertahan hidup kala pulang dari pelayaran dari Maluku Utara sana. Saya tak mengerti bagaimana kejadian masa lalu menginspirasi dendam yang bertumpuk. Ah saya bingung menjabarkannya. Semuanya bermula dari rentetan peristiwa masa lalu yang bertumpuk. Saya lelah menjabarkannya.
Semuanya bermula dari garis nasib keluarga kami. Dimulai dari oyang lelaki saya yang berkeret ‘Mayor’; Awini Taberi alias Timotius Mayor. Keret ‘Mayor’ ini sendiri mempunyai nama asli ‘Sroyer’, Karena ketangguhan pelayaran dan pembayaran upeti ke Kesultanan di Maluku Utara sana beberapa abad silam, para leluhur saya dari pihak mama mendapat gelar ‘Mayor’ sehingga saat pulang ke kampung mereka di Numfoor sana, mereka mengganti nama keret mereka dan memakai gelar pemberian mereka. Rekam jejak petualangan mereka tertinggal kala mereka menetap di beberapa daerah antara lain di rute pelayaran antara Maluku Utara dan Amberparem, Numfoor, sebut saja di Raja Ampat dan seperti yang dialami ‘oyang’ saya yang digadaikan untuk tebusan makanan pada suku Meyah (Arfak).
Andai saja waktu itu persediaan makanan rombongan perahu ‘Ponsauw’ asal Amberparem ini tidak habis dalam perjalanan pulang mereka dari Maluku Utara sana, maka oyang saya tidak perlu ditukar dengan hasil kebun, maka nasib politik suku kami tidak akan berubah dan saat ini mungkin kami tidak terancam. Sayangnya, kita tidak bisa membalikan waktu tetapi menjalani tiap konsekuensinya, bukan? Oyang saya pun resmi ditukar dengan janji bahwa para leluhur suku Biak akan datang kembali dengan seperahu parang yang diolah ‘kamasan’ alias tukang besi mereka di kampung dan mengambil kembali oyang saya yang waktu itu hanya seorang bocah Biak berumur sekitar 10 tahun. Saat itu oyang saya menjadi anak jaminan yang ditahan oleh kepala suku suku Meyah, salah seorang pemimpin perang yang terkenal dan punya basis kekuasaan yang besar.
Kala para leluhur saya dari Numfoor datang dengan seperahu parang hasil olahan kampung mereka, toh oyang saya gagal mereka ambil, karena berdasarkan cerita di keluarga besar saya, kata kepala suku yang membawa oyang saya, “anak ini de pintar dan bagus,kam bawa pulang kam pu parang tuh suda. Sa su sayang dia, jadi nan sa mo kas kawin de deng sa pu anak perempuan.” Dan itulah momen dimana sejarah kami berubah total, saat leluhur kami juga tak lain adalah ‘korban’ dari kebijakan – kebijakan interen suku yang terkait kekuasaan. Pada masa itu, hanya anak – anak tertentu yang dipilih yang bisa mengikuti pelayaran jarak jauh. Toh itulah perjalanan nasib.
Nasib oyang lelakipun berbeda. Mungkin bila ia hanya jadi anggota suku biasa, kami tak akan menjadi ‘target operasi’ dari kekuasaan. Sayangnya, entah ini berkat atau kutuk, ia malah diangkat oleh bapak angkatnya yang kepala suku untuk menjadi pemimpin berikutnya, padahal ia dari suku lain yang berbeda budaya, yang notabene dari suku pantai toh ia dipilih menjadi pemimpin sebuah suku pegunungan yang tercatat dalam catatan sejarah perkembangan agama Kristen di tanah ini sebagai suku yang kerap memberontak dan tidak suka diperintah, sebuah suku yang merdeka tetapi juga berani dan kejam dan brutal pada lawan – lawannya. Saya mewarisi darah Arfak kami dari oyang perempuan kami yang adalah anak kepala suku. Inilah titik mula kami menjadi ‘common enemy’ dari para pewaris hak kepala suku asli dari suku tersebut.
Sejak saat itulah keluarga kami mulai mengetahui posisi kami. Apalagi tete saya yang berayah lelaki Biak ini tak mempunyai seorang saudarapun. Seorang anak Tunggal, dan kami pun selalu mempunyai label ‘keturunan Lodwick Mandacan’; seorang politikus dan pemimpin suku berkharisma tetapi juga cukup fragmatis bagi sukunya. Demi mempertahankan kekuasaan dan stabilitas, ia menikah dengan hampir 12 perempuan dari sukunya sendiri termasuk dengan dua saudara sepupu seorang pemimpin perang terkenal dari sukunya; Irogi Meidodga. Ya, Irogi adalah kerabat nenek saya. Tete saya mungkin tokoh yang fenomenal penjunjung poligami. Tetapi ia cukup berlaku adil bagi istri – istrinya karena tiap istri mempunyai rumah dan areal peruntukan bagi anak – anaknya. Tete juga cukup pintar untuk menikah dengan saudara perempuan para pewaris asli gelar dan kekuasaan sukunya dan cukup pintar untuk menikahkan seorang mamatuaku dengan pewaris dari keluarga lain. sebuah rekonsiliasi politik lewat pernikahan.
Pada masa kini, dampak dari perpindahan kekuasaan pada keluarga kami semakin parah apalagi bila menilai langkah politik tete pada masa lalu. Karena afiliasi politik yang dianutnya yang terkait dengan OPM di tahun 1965an, banyak keluarga Arfak yang tewas dalam operasi militer kala itu dan ada beberapa yang membenci kami dan dipandang sebagai penyebab kesusahan hidup mereka. Ditambah lagi usai kematian tete dalam masa pengasingannya, sesama anggota suku yang terbilang pewaris asli terlibat intrik kudeta lewat jasa ‘suanggi’ atau pembunuh bayaran suku. Sayangnya, konspirasi itu bocor dan berakhir dengan pembunuhan pihak yang ditengarai mengkudeta, hanya karena pihak suruhannya ternyata masih tetap loyal pada almarhum tete. Sejak saat itu, permusuhan keluarga kami semakin tajam. Ya, semakin tajam.
Akhir – akhir ini kejadian semakin meruncing karena ulah beberapa sepupu lelaki yang suka menggugat tanah, memeras orang – orang dan juga berpolitik praktis. Akhirnya semuanya dilabel ‘sapu rata’. Saat ini, entahlah … keadaannya semakin memburuk apalagi ancaman pembunuhan yang semakin menjadi walau sejak 10 tahun terakhir, hampir tiap tahun ada kejadian anggota keluarga yang dibunuh ataupun mati tak wajar. Semuanya menjadi nyata usai melihat kondisi terkini pada bulan ini. Saya tidak bisa membeberkannya di catatan ini karena menyangkut privasi beberapa orang yang saya kenal baik. Sayangnya, hal yang saya ketahui ini kerap lolos dari hukum positif karena ada keengganan dari pihak berwajib untuk campur tangan. Entahlah … seakan menjadi hal yang tidak tersentuh hukum.
Ancaman yang kami terima sudah cukup jelas, “Tidak boleh ada seorangpun keturunan Lodwik yang harus hidup”. Harus dibersihkan sampai akar – akarnya. Dimulai dari anak – anaknya, yang saat ini tinggal 4 orang saja termasuk mama. Kemudian akan dimulai dari pihak sepupu lelaki kemudian hingga kami semua. Saya hanya memikirkan nasib keponakan – keponakan saya. Saya jadi mengerti alasan utama bapak tidak ingin kami memakai fam-nya mama di dalam nama kami, baik fam Maluku, Biak ataupun Arfak. Karena secara hukum positif, tak ada indikasi keterikatan kami dengan suku ini.
‘Vendetta’ ini alias pembunuhan balas – membahas bergenerasi akan tetap ada. Saya tidak melihat adanya titik terang rekonsiliasi. Entahlah … apakah memang pembalasan dendam menjadi ciri khas suku mama kami. Entahlah, apakah memang tidak ada cara untuk melakukan rekonsiliasi politik, atau apalah … dari dosa masa lalu?
Saya hanya bingung, sedikit merasa terancam akhir – akhir ini ditambah lagi dengan larangan dari saudara – saudara lelaki saya usai beberapa kali mereka mulai dibayang – bayangi oleh orang – orang tidak dikenal. Apalagi saudara kandungnya mama yang politikus dan kandidat gubernur provinsi ini pun mempunyai beberapa musuh politik dan saudara – saudara lelakiku semuanya bekerja untuk oom kami. Saat ini, suasananya tidak aman, itulah sebabnya saya juga dengan enggan dilarang untuk terlalu keluar rumah yang tidak perlu. Kami semua menjadi target pembunuhan dan itu hanya ‘tunggu waktu’ saja.
Saya hanya bingung apakah memang dengan memelihara dendam akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan merdeka. Bukankah dengan melepaskan semua hal yang membebani kita akan membuat kita menjadi manusia yang lebih tenang dan menikmati apa yang hidup tawarkan pada kita? Entahlah …
Entahlah … tampaknya inilah alasan saya sedang menanti sebuah tawaran kerja dari tempat lain dengan penempatan kerja di kota lain. Walau tampaknya seperti ‘melarikan diri dari masalah’ tapi bagi saya, hidup saya masih lebih berharga untuk dilanjutkan dan dijalani. Saya hanya ingin mencari ‘sanctuary’ bila keadaannya memang memburuk nanti. Saya tahu betul watak suku mama, bila target telah ditetapkan, pilihannya hanya tiga; menyerah dan jadi korban, membayar dan menyogok pembunuh untuk melenyapkan orang yang menargetkan kami ataupun membunuh pembunuh bayarannya musuh, ataupun melarikan diri ke tempat lain. Yang paling realistis yang dapat saya lakukan adalah mencari kerja dan hidup di tempat lain yang bukan wilayah suku mama walau itu artinya akan merindukan semua yang ditawarkan kota ini.
Malam ini saya bingung apa yang akan terjadi di masa mendatang . Entahlah … itulah sebabnya saya terbiasa dengan yang namanya politik karena sejak kecil, saya diajar untuk bisa paham siapa kawan dan lawan dan tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Semuanya hanyalah karena kekuasaan, uang, harta dan gengsi.
Saya berdoa malam ini agar Yesus mau menjamah hati tiap orang dari suku mama terlebih orang – orang yang merancangkan rencana jahat atas kami untuk berbalik dan bertobat. Saya percaya hanya Yesus yang bisa mengubah hati mereka.
Saya tak tahu apa yang menjelang di depan, saya hanya ingin Yesus selalu menguatkan saya untuk siap atas apapun yang terjadi, baik atas diri saya, keluarga saya maupun keluarga besar kami.
Yang saya tahu dan percaya, ‘kekerasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah’ … hanya membuat masalah semakin buruk. Itu saja!!!
Andai saja semuanya bisa berdamai!!! Ya, andai saja.
(Manokwari, 200911; 11:24 p.m; menuliskan kebenaran yang terasa sangat pahit)
Saya tak pernah bisa mengerti dengan orang – orang yang memasukan dendam ke dalam pikiran mereka terus – menerus. Orang – orang yang mempersalahkan masa lalu. Catatan ini mungkin membingungkan bagi orang lain, karena toh catatan ini saya buat untuk diri saya sendiri, bukan untuk disebarluaskan kepada siapa – siapa. Hanya ingin menuliskan catatan ini saja, anggap saja sebagai sebuah dokumentasi perasaan saya bila ‘saat’ itu terlanjur datang. Ya, hanya untuk berjaga – jaga bila suatu hari nanti saya dan keluarga saya ‘ditemukan’ tewas, meninggal tidak wajar ataupun hal – hal buruk seperti itu. Hanya untuk penebus sebuah konsep ‘mata ganti mata, darah ganti darah, gigi ganti gigi’. Sesuatu yang disebut ‘dendam turunan’. Sebuah hasil akhir dari ‘vendetta’ yang dikandung oleh suku mama saya.
Kematian dan pembunuhan serta intrik dan politik apalagi konspirasi adalah hal umum yang saya pelajari dan pahami sejak kecil. Saat lawan dan musuh tak begitu jelas. Saat saudara dekat bisa berubah menjadi musuh ataupun musuh bisa menjadi sahabat dekat. Tak jelas. Saya hanya lelah melihat pembunuhan terencana demi kekuasaaan kerap terjadi, baik yang sadis maupun dengan jasa pembunuh bayaran tradisional. Ya, di dalam darah saya mengalir rekam jejak masa lalu yang berimbas pada masa kini. Keputusan – keputusan leluhur saya yang berimbas pada hidup kami di masa sekarang. Ya, tak banyak orang yang bisa memahami hal itu. Tak banyak orang.
Hal yang saya tulis ini tidak terkait dengan isu politik sebuah negara, sama sekali bukan. Juga tidak menyangkut kegiatan politik yang kerap ditulis berita. Ini hanya berbicara tentang politik suku mama saya. Tentang kekuasaan, tentang intrik dan konspirasi masa lalu yang berimbas pada hidup kami sekarang ini dan bagaimana ancaman yang kami dapatkan secara keseluruhan akhir – akhir ini. Padahal, sejak kecil kami telah merasa dipisahkan jauh dari akar kami, bertumbuh dengan pluralitas dan tak terlalu pusing dengan urusan politik suku. Yang aku tahu, papa dan mama selalu mengajarkan kami untuk berjuang dengan keringat kami sendiri untuk bertahan hidup dan tidak menggantungkan hidup dengan mengandalkan nama keluarga mama. Pesan yang selalu kujunjung tinggi. Saat ini, aku melihat itu sebagai sebuah jalan keluar.
Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan, maksud saya bagaimana mereka yang berniat mengambil hidup kami, bisa hidup dengan dendam bertahun – tahun, bergenerasi. Saya tidak mengerti. Bukan salah kami bila oyang lelaki saya dari pihak mama yang bersuku Biak memang bukan berasal dari suku ini. Saya percaya bukan salah oyang lelaki hingga ia terpaksa ‘digadaikan’ keluarganya demi makanan guna mereka bertahan hidup kala pulang dari pelayaran dari Maluku Utara sana. Saya tak mengerti bagaimana kejadian masa lalu menginspirasi dendam yang bertumpuk. Ah saya bingung menjabarkannya. Semuanya bermula dari rentetan peristiwa masa lalu yang bertumpuk. Saya lelah menjabarkannya.
Semuanya bermula dari garis nasib keluarga kami. Dimulai dari oyang lelaki saya yang berkeret ‘Mayor’; Awini Taberi alias Timotius Mayor. Keret ‘Mayor’ ini sendiri mempunyai nama asli ‘Sroyer’, Karena ketangguhan pelayaran dan pembayaran upeti ke Kesultanan di Maluku Utara sana beberapa abad silam, para leluhur saya dari pihak mama mendapat gelar ‘Mayor’ sehingga saat pulang ke kampung mereka di Numfoor sana, mereka mengganti nama keret mereka dan memakai gelar pemberian mereka. Rekam jejak petualangan mereka tertinggal kala mereka menetap di beberapa daerah antara lain di rute pelayaran antara Maluku Utara dan Amberparem, Numfoor, sebut saja di Raja Ampat dan seperti yang dialami ‘oyang’ saya yang digadaikan untuk tebusan makanan pada suku Meyah (Arfak).
Andai saja waktu itu persediaan makanan rombongan perahu ‘Ponsauw’ asal Amberparem ini tidak habis dalam perjalanan pulang mereka dari Maluku Utara sana, maka oyang saya tidak perlu ditukar dengan hasil kebun, maka nasib politik suku kami tidak akan berubah dan saat ini mungkin kami tidak terancam. Sayangnya, kita tidak bisa membalikan waktu tetapi menjalani tiap konsekuensinya, bukan? Oyang saya pun resmi ditukar dengan janji bahwa para leluhur suku Biak akan datang kembali dengan seperahu parang yang diolah ‘kamasan’ alias tukang besi mereka di kampung dan mengambil kembali oyang saya yang waktu itu hanya seorang bocah Biak berumur sekitar 10 tahun. Saat itu oyang saya menjadi anak jaminan yang ditahan oleh kepala suku suku Meyah, salah seorang pemimpin perang yang terkenal dan punya basis kekuasaan yang besar.
Kala para leluhur saya dari Numfoor datang dengan seperahu parang hasil olahan kampung mereka, toh oyang saya gagal mereka ambil, karena berdasarkan cerita di keluarga besar saya, kata kepala suku yang membawa oyang saya, “anak ini de pintar dan bagus,kam bawa pulang kam pu parang tuh suda. Sa su sayang dia, jadi nan sa mo kas kawin de deng sa pu anak perempuan.” Dan itulah momen dimana sejarah kami berubah total, saat leluhur kami juga tak lain adalah ‘korban’ dari kebijakan – kebijakan interen suku yang terkait kekuasaan. Pada masa itu, hanya anak – anak tertentu yang dipilih yang bisa mengikuti pelayaran jarak jauh. Toh itulah perjalanan nasib.
Nasib oyang lelakipun berbeda. Mungkin bila ia hanya jadi anggota suku biasa, kami tak akan menjadi ‘target operasi’ dari kekuasaan. Sayangnya, entah ini berkat atau kutuk, ia malah diangkat oleh bapak angkatnya yang kepala suku untuk menjadi pemimpin berikutnya, padahal ia dari suku lain yang berbeda budaya, yang notabene dari suku pantai toh ia dipilih menjadi pemimpin sebuah suku pegunungan yang tercatat dalam catatan sejarah perkembangan agama Kristen di tanah ini sebagai suku yang kerap memberontak dan tidak suka diperintah, sebuah suku yang merdeka tetapi juga berani dan kejam dan brutal pada lawan – lawannya. Saya mewarisi darah Arfak kami dari oyang perempuan kami yang adalah anak kepala suku. Inilah titik mula kami menjadi ‘common enemy’ dari para pewaris hak kepala suku asli dari suku tersebut.
Sejak saat itulah keluarga kami mulai mengetahui posisi kami. Apalagi tete saya yang berayah lelaki Biak ini tak mempunyai seorang saudarapun. Seorang anak Tunggal, dan kami pun selalu mempunyai label ‘keturunan Lodwick Mandacan’; seorang politikus dan pemimpin suku berkharisma tetapi juga cukup fragmatis bagi sukunya. Demi mempertahankan kekuasaan dan stabilitas, ia menikah dengan hampir 12 perempuan dari sukunya sendiri termasuk dengan dua saudara sepupu seorang pemimpin perang terkenal dari sukunya; Irogi Meidodga. Ya, Irogi adalah kerabat nenek saya. Tete saya mungkin tokoh yang fenomenal penjunjung poligami. Tetapi ia cukup berlaku adil bagi istri – istrinya karena tiap istri mempunyai rumah dan areal peruntukan bagi anak – anaknya. Tete juga cukup pintar untuk menikah dengan saudara perempuan para pewaris asli gelar dan kekuasaan sukunya dan cukup pintar untuk menikahkan seorang mamatuaku dengan pewaris dari keluarga lain. sebuah rekonsiliasi politik lewat pernikahan.
Pada masa kini, dampak dari perpindahan kekuasaan pada keluarga kami semakin parah apalagi bila menilai langkah politik tete pada masa lalu. Karena afiliasi politik yang dianutnya yang terkait dengan OPM di tahun 1965an, banyak keluarga Arfak yang tewas dalam operasi militer kala itu dan ada beberapa yang membenci kami dan dipandang sebagai penyebab kesusahan hidup mereka. Ditambah lagi usai kematian tete dalam masa pengasingannya, sesama anggota suku yang terbilang pewaris asli terlibat intrik kudeta lewat jasa ‘suanggi’ atau pembunuh bayaran suku. Sayangnya, konspirasi itu bocor dan berakhir dengan pembunuhan pihak yang ditengarai mengkudeta, hanya karena pihak suruhannya ternyata masih tetap loyal pada almarhum tete. Sejak saat itu, permusuhan keluarga kami semakin tajam. Ya, semakin tajam.
Akhir – akhir ini kejadian semakin meruncing karena ulah beberapa sepupu lelaki yang suka menggugat tanah, memeras orang – orang dan juga berpolitik praktis. Akhirnya semuanya dilabel ‘sapu rata’. Saat ini, entahlah … keadaannya semakin memburuk apalagi ancaman pembunuhan yang semakin menjadi walau sejak 10 tahun terakhir, hampir tiap tahun ada kejadian anggota keluarga yang dibunuh ataupun mati tak wajar. Semuanya menjadi nyata usai melihat kondisi terkini pada bulan ini. Saya tidak bisa membeberkannya di catatan ini karena menyangkut privasi beberapa orang yang saya kenal baik. Sayangnya, hal yang saya ketahui ini kerap lolos dari hukum positif karena ada keengganan dari pihak berwajib untuk campur tangan. Entahlah … seakan menjadi hal yang tidak tersentuh hukum.
Ancaman yang kami terima sudah cukup jelas, “Tidak boleh ada seorangpun keturunan Lodwik yang harus hidup”. Harus dibersihkan sampai akar – akarnya. Dimulai dari anak – anaknya, yang saat ini tinggal 4 orang saja termasuk mama. Kemudian akan dimulai dari pihak sepupu lelaki kemudian hingga kami semua. Saya hanya memikirkan nasib keponakan – keponakan saya. Saya jadi mengerti alasan utama bapak tidak ingin kami memakai fam-nya mama di dalam nama kami, baik fam Maluku, Biak ataupun Arfak. Karena secara hukum positif, tak ada indikasi keterikatan kami dengan suku ini.
‘Vendetta’ ini alias pembunuhan balas – membahas bergenerasi akan tetap ada. Saya tidak melihat adanya titik terang rekonsiliasi. Entahlah … apakah memang pembalasan dendam menjadi ciri khas suku mama kami. Entahlah, apakah memang tidak ada cara untuk melakukan rekonsiliasi politik, atau apalah … dari dosa masa lalu?
Saya hanya bingung, sedikit merasa terancam akhir – akhir ini ditambah lagi dengan larangan dari saudara – saudara lelaki saya usai beberapa kali mereka mulai dibayang – bayangi oleh orang – orang tidak dikenal. Apalagi saudara kandungnya mama yang politikus dan kandidat gubernur provinsi ini pun mempunyai beberapa musuh politik dan saudara – saudara lelakiku semuanya bekerja untuk oom kami. Saat ini, suasananya tidak aman, itulah sebabnya saya juga dengan enggan dilarang untuk terlalu keluar rumah yang tidak perlu. Kami semua menjadi target pembunuhan dan itu hanya ‘tunggu waktu’ saja.
Saya hanya bingung apakah memang dengan memelihara dendam akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan merdeka. Bukankah dengan melepaskan semua hal yang membebani kita akan membuat kita menjadi manusia yang lebih tenang dan menikmati apa yang hidup tawarkan pada kita? Entahlah …
Entahlah … tampaknya inilah alasan saya sedang menanti sebuah tawaran kerja dari tempat lain dengan penempatan kerja di kota lain. Walau tampaknya seperti ‘melarikan diri dari masalah’ tapi bagi saya, hidup saya masih lebih berharga untuk dilanjutkan dan dijalani. Saya hanya ingin mencari ‘sanctuary’ bila keadaannya memang memburuk nanti. Saya tahu betul watak suku mama, bila target telah ditetapkan, pilihannya hanya tiga; menyerah dan jadi korban, membayar dan menyogok pembunuh untuk melenyapkan orang yang menargetkan kami ataupun membunuh pembunuh bayarannya musuh, ataupun melarikan diri ke tempat lain. Yang paling realistis yang dapat saya lakukan adalah mencari kerja dan hidup di tempat lain yang bukan wilayah suku mama walau itu artinya akan merindukan semua yang ditawarkan kota ini.
Malam ini saya bingung apa yang akan terjadi di masa mendatang . Entahlah … itulah sebabnya saya terbiasa dengan yang namanya politik karena sejak kecil, saya diajar untuk bisa paham siapa kawan dan lawan dan tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Semuanya hanyalah karena kekuasaan, uang, harta dan gengsi.
Saya berdoa malam ini agar Yesus mau menjamah hati tiap orang dari suku mama terlebih orang – orang yang merancangkan rencana jahat atas kami untuk berbalik dan bertobat. Saya percaya hanya Yesus yang bisa mengubah hati mereka.
Saya tak tahu apa yang menjelang di depan, saya hanya ingin Yesus selalu menguatkan saya untuk siap atas apapun yang terjadi, baik atas diri saya, keluarga saya maupun keluarga besar kami.
Yang saya tahu dan percaya, ‘kekerasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah’ … hanya membuat masalah semakin buruk. Itu saja!!!
Andai saja semuanya bisa berdamai!!! Ya, andai saja.
(Manokwari, 200911; 11:24 p.m; menuliskan kebenaran yang terasa sangat pahit)
Guilty
Dua hari ini saya merasa sangat bersalah. Ya, perasaan yang memang seharusnya ada saat sebuah tanggungjawab tidak dapat saya lakukan dengan baik. Kejadiannya karena sebuah rumah yang menjadi tanggungjawab saya untuk saya jaga sambil menunggu kepulangan pemiliknya beberapa minggu lagi sekitar dua atau tiga hari lalu dibongkar pencuri. Beberapa barang berharga hilang.
Ini murni kesalahan dan tanggungjawab saya. Andai saja saya lebih berani dan bisa menyempatkan diri tidak mangkir dua hari dari tanggungjawab saya untuk mengontrol lampu dan juga tanaman serta rumah ini, kejadian seperti ini pasti tidak terjadi. Andai saja saya juga mau bersusah payah memerangi rasa takut saya untuk sering – sering menginap di rumah ini, pasti tak akan kejadian seperti ini. Saya merasa bersalah sekali pada pemilik rumah dan juga katakan saja, jujur, saya menyalahkan diri saya. Sangat menyalahkan diri saya.
Dua hari ini saya merasa sangat bersalah, tertekan dan memang sempat down berat. Saya bersyukur di saat seperti ini, ada beberapa teman saya khususnya Mimi dan El yang sangat mendukung saya, menemani semua proses pelaporan dan dokumentasi laporan ke polisi. Walau saya sangat skeptis polisi akan bertindak cepat. Iyalah, karena mereka bahkan tidak mengolah TKP seperti memeriksa sidik jari. Dokumentasi pun tidak mereka lakukan. Benar – benar hanya cuma datang ‘cek’ saja. Seperti yang dilakukan oleh orang – orang yang sekedar lewat. Tak ada jalan lain, terpaksa harus mengerahkan bantuan dari teman – teman dan saudara – saudara jauh untuk melacak benda yang hilang dan ini masih tetap dikembangkan. Setidaknya, ada upaya yang dilakukan.
Jujur, ini masa yang berat bagi saya. Kondisi yang drop karena kelelahan mengejar deadline oderan terjemahan, plus kondisi yang sempat drop karena begadang usai kerja malam, ditambah lagi persiapan keberangkatan. Saya berada dalam titik kulminasi ketahanan saya. Didera stress, malaria dan tentu saja rasa bersalah plus dalam masa penantian ketidakpastian sebuah pekerjaan dan perjalanan panjang.
Saya juga merasa bahwa saya benar – benar butuh terapi pengelolaan rasa marah (Anger Managemen Therapy). Karena bila kejadian seperti ini, saya merasa amarah yang menggelegak cepat dan membuat saya tidak bahagia dan pikiran psikopat saya pasti muncul. Pikiran yang sudah lama ingin saya tutup dan hapus dari diri saya sendiri dan tidak ingin saya munculkan. Sayangnya, lolos juga di status Facebook saya. Lihat saja isi status saya yang usai dua hari ini saya lihat kok saya mulai ‘psiko’ lagi ya. Sadis dan jahat dan saya benar – benar ‘memaksudkan’ hal itu. Saya khawatir bila tak ada terapi yang saya ikuti, suatu hari nanti saya benar – benar bisa melakukan hal tersebut yang hanya perlu mematikan ‘rasa takut’ dan ‘kemanusiaan’ saya tampaknya. Tindakan yang benar – benar menjauhkan saya dari Yesus dan saya tidak ingin hal ini terjadi.
Lihat saja isi status saya:
#Dasar pancuri anj***, babingung taslep. Ko mo pancuri apa sebenarnya ka? Ko mo rencana buka 'cakar bongkar' ka jadi ko acak barang2 tuh. Sa dapat ko tuh ko bunyi, sa iris2 ko kas makan anjing di rumah sisanya sa siram deng jeruk asam biar ko menderita batin. Kalo perlu sa bakar ko lapis di tembok2 daun gatal sana
#Neh sa dapat ko nih jang sampe ko makan timah cair di ko mulut yooo. Baru kenapa ko pi acak tempat sampah lagi ka? ko kira itu camilan? Neh, kalo mo pancuri tuh sekalian angkat banyak2, jang setengah2 ... anggrek ko nih, ko bikin sa waktu tabuang untuk stavel sa pu waktu packing dan kejar deadline dokumen saja yoooo. Nangka belanda nih .... bikin tong tamu panik2 di kantor polisi saja seh
#Pancuri mo mati nih .... malam hujan bokar tuh tidur, bukan jalan pi lacak orang pu rumah yooooo, makanya kerja sana, jang andalkan ko pu daging spanggal tuh saja di bawah yooo. Pi jalan pancuri orang, mudah2 ko mati tempo ka. Untung sa belum dapat ko, sa dapat nih ko blef, mata, blue, panta yellow, gigi loncat indah, susah buang besar seh... Macam rasa mencr** seh ...
#Sh** ... pancuri jaman skarang seh .... jang sampe sa dapat yooo. Su tahu sa agak psiko jadi, jang sampe sa dapat ko dapa kas talanjang deng konak sakti saja, sa ikat ko di pohon belakang, kasi madu baru lepas semut merah, sambil sayat2 ko pu badan tuh eee, trus di bawah sa pasang batang2 salak dan bakar daun pisang kering di samping2 ko yooo. Awas, jang sampe sa dapat ko saja yoooo
#hari MUSIBAH sedunia!!! Mo packing ka, mo stavel deadline ka mo urus laporan di polisi. Sisi positifnya ... setidaknya sa deng Mitha Sweet bisa nongkrong di kantor polisi dalam waktu lama 'n syukurnya polisi2 muda muka tra talalu ancur untuk dilihat siang ini :) *burglary's effect
Saya bersyukur dalam keadaan kalut itu tidak sampai melakukan tindakan seperti pergi mencari orang ‘mawi’ atau ‘menerawang’ walau sempat terbersit pemikiran seperti itu. Untung Rian sempat merasionalisasikan pikiran purba itu dengan bilang, ‘Buang pikiran kafir itu’. Begitu juga si El yang membuat saya semakin realistis dengan bilang bahwa pasti juga tindakan itu sia – sia karena biasanya ‘mereka’ hanya penipu =) Saya bersyukur untuk mereka yang membuat saya ‘tenang’. Begitu juga dengan teman lainnya seperti Amos, Mimi, ade Otis dan lain – lain.
Apapun yang terjadi ke depan, saya siap menerima resikonya. Pada titik ini, saya sudah pasrah, sangat pasrah untuk reaksi dari pemilik rumah. Saya bersalah karena tidak bisa melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, tidak bisa menjalankan amanat mereka dengan baik dan saya akui saya lalai.
Saya bersalah, itu intinya. Saya tidak ingin lari dan bilang bahwa ini kesalahan orang lain. Ini tanggungjawab saya dan saya tidak bisa menjalankannya dengan baik. Sementara ini saya akan berusaha melacak keberadaan benda – benda yang hilang dengan menyebarkan informasi, menggali informasi, melacak informasi di penadah dan kemungkinan usaha – usaha yang akan menampung barang curian dan juga sebisa mungkin selalu meng-update perkembangan penelusuran dari polisi walau saya meragukan kemampuan mereka di dalam melacak benda yang hilang. Tapi saya akan tetap berusaha sebisa mungkin. Itu janji saya.
Rasa bersalah ini membuat saya merasa bahwa saya sangat lemah, sangat depresi tapi saya tidak ingin menyerah. Saya ingin menebus kesalahan saya, itu saja.
Malam ini yang saya tahu, saya baru bisa mulai sedikit pulih dari shock yang saya alami usai kejadian hari Minggu itu. Ya, I’m on the way of recovery. Saya berharap pemilik rumah pun mengalami hal yang sama; on the way of recovery.
Saya berharap saya bisa menebus kesalahan saya. Itu saja. Menebus kesalahan yang saya buat terkait tanggungjawab. Ini Kesalahan saya yang lalai, tak ada gunanya menyalahkan orang lain.
Saya berharap esok ada titik terang dari kasus ini. itu saja. Semoga.
How I need Jesus at this moment….
(Manokwari, 200911; post-shock season)
Ini murni kesalahan dan tanggungjawab saya. Andai saja saya lebih berani dan bisa menyempatkan diri tidak mangkir dua hari dari tanggungjawab saya untuk mengontrol lampu dan juga tanaman serta rumah ini, kejadian seperti ini pasti tidak terjadi. Andai saja saya juga mau bersusah payah memerangi rasa takut saya untuk sering – sering menginap di rumah ini, pasti tak akan kejadian seperti ini. Saya merasa bersalah sekali pada pemilik rumah dan juga katakan saja, jujur, saya menyalahkan diri saya. Sangat menyalahkan diri saya.
Dua hari ini saya merasa sangat bersalah, tertekan dan memang sempat down berat. Saya bersyukur di saat seperti ini, ada beberapa teman saya khususnya Mimi dan El yang sangat mendukung saya, menemani semua proses pelaporan dan dokumentasi laporan ke polisi. Walau saya sangat skeptis polisi akan bertindak cepat. Iyalah, karena mereka bahkan tidak mengolah TKP seperti memeriksa sidik jari. Dokumentasi pun tidak mereka lakukan. Benar – benar hanya cuma datang ‘cek’ saja. Seperti yang dilakukan oleh orang – orang yang sekedar lewat. Tak ada jalan lain, terpaksa harus mengerahkan bantuan dari teman – teman dan saudara – saudara jauh untuk melacak benda yang hilang dan ini masih tetap dikembangkan. Setidaknya, ada upaya yang dilakukan.
Jujur, ini masa yang berat bagi saya. Kondisi yang drop karena kelelahan mengejar deadline oderan terjemahan, plus kondisi yang sempat drop karena begadang usai kerja malam, ditambah lagi persiapan keberangkatan. Saya berada dalam titik kulminasi ketahanan saya. Didera stress, malaria dan tentu saja rasa bersalah plus dalam masa penantian ketidakpastian sebuah pekerjaan dan perjalanan panjang.
Saya juga merasa bahwa saya benar – benar butuh terapi pengelolaan rasa marah (Anger Managemen Therapy). Karena bila kejadian seperti ini, saya merasa amarah yang menggelegak cepat dan membuat saya tidak bahagia dan pikiran psikopat saya pasti muncul. Pikiran yang sudah lama ingin saya tutup dan hapus dari diri saya sendiri dan tidak ingin saya munculkan. Sayangnya, lolos juga di status Facebook saya. Lihat saja isi status saya yang usai dua hari ini saya lihat kok saya mulai ‘psiko’ lagi ya. Sadis dan jahat dan saya benar – benar ‘memaksudkan’ hal itu. Saya khawatir bila tak ada terapi yang saya ikuti, suatu hari nanti saya benar – benar bisa melakukan hal tersebut yang hanya perlu mematikan ‘rasa takut’ dan ‘kemanusiaan’ saya tampaknya. Tindakan yang benar – benar menjauhkan saya dari Yesus dan saya tidak ingin hal ini terjadi.
Lihat saja isi status saya:
#Dasar pancuri anj***, babingung taslep. Ko mo pancuri apa sebenarnya ka? Ko mo rencana buka 'cakar bongkar' ka jadi ko acak barang2 tuh. Sa dapat ko tuh ko bunyi, sa iris2 ko kas makan anjing di rumah sisanya sa siram deng jeruk asam biar ko menderita batin. Kalo perlu sa bakar ko lapis di tembok2 daun gatal sana
#Neh sa dapat ko nih jang sampe ko makan timah cair di ko mulut yooo. Baru kenapa ko pi acak tempat sampah lagi ka? ko kira itu camilan? Neh, kalo mo pancuri tuh sekalian angkat banyak2, jang setengah2 ... anggrek ko nih, ko bikin sa waktu tabuang untuk stavel sa pu waktu packing dan kejar deadline dokumen saja yoooo. Nangka belanda nih .... bikin tong tamu panik2 di kantor polisi saja seh
#Pancuri mo mati nih .... malam hujan bokar tuh tidur, bukan jalan pi lacak orang pu rumah yooooo, makanya kerja sana, jang andalkan ko pu daging spanggal tuh saja di bawah yooo. Pi jalan pancuri orang, mudah2 ko mati tempo ka. Untung sa belum dapat ko, sa dapat nih ko blef, mata, blue, panta yellow, gigi loncat indah, susah buang besar seh... Macam rasa mencr** seh ...
#Sh** ... pancuri jaman skarang seh .... jang sampe sa dapat yooo. Su tahu sa agak psiko jadi, jang sampe sa dapat ko dapa kas talanjang deng konak sakti saja, sa ikat ko di pohon belakang, kasi madu baru lepas semut merah, sambil sayat2 ko pu badan tuh eee, trus di bawah sa pasang batang2 salak dan bakar daun pisang kering di samping2 ko yooo. Awas, jang sampe sa dapat ko saja yoooo
#hari MUSIBAH sedunia!!! Mo packing ka, mo stavel deadline ka mo urus laporan di polisi. Sisi positifnya ... setidaknya sa deng Mitha Sweet bisa nongkrong di kantor polisi dalam waktu lama 'n syukurnya polisi2 muda muka tra talalu ancur untuk dilihat siang ini :) *burglary's effect
Saya bersyukur dalam keadaan kalut itu tidak sampai melakukan tindakan seperti pergi mencari orang ‘mawi’ atau ‘menerawang’ walau sempat terbersit pemikiran seperti itu. Untung Rian sempat merasionalisasikan pikiran purba itu dengan bilang, ‘Buang pikiran kafir itu’. Begitu juga si El yang membuat saya semakin realistis dengan bilang bahwa pasti juga tindakan itu sia – sia karena biasanya ‘mereka’ hanya penipu =) Saya bersyukur untuk mereka yang membuat saya ‘tenang’. Begitu juga dengan teman lainnya seperti Amos, Mimi, ade Otis dan lain – lain.
Apapun yang terjadi ke depan, saya siap menerima resikonya. Pada titik ini, saya sudah pasrah, sangat pasrah untuk reaksi dari pemilik rumah. Saya bersalah karena tidak bisa melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, tidak bisa menjalankan amanat mereka dengan baik dan saya akui saya lalai.
Saya bersalah, itu intinya. Saya tidak ingin lari dan bilang bahwa ini kesalahan orang lain. Ini tanggungjawab saya dan saya tidak bisa menjalankannya dengan baik. Sementara ini saya akan berusaha melacak keberadaan benda – benda yang hilang dengan menyebarkan informasi, menggali informasi, melacak informasi di penadah dan kemungkinan usaha – usaha yang akan menampung barang curian dan juga sebisa mungkin selalu meng-update perkembangan penelusuran dari polisi walau saya meragukan kemampuan mereka di dalam melacak benda yang hilang. Tapi saya akan tetap berusaha sebisa mungkin. Itu janji saya.
Rasa bersalah ini membuat saya merasa bahwa saya sangat lemah, sangat depresi tapi saya tidak ingin menyerah. Saya ingin menebus kesalahan saya, itu saja.
Malam ini yang saya tahu, saya baru bisa mulai sedikit pulih dari shock yang saya alami usai kejadian hari Minggu itu. Ya, I’m on the way of recovery. Saya berharap pemilik rumah pun mengalami hal yang sama; on the way of recovery.
Saya berharap saya bisa menebus kesalahan saya. Itu saja. Menebus kesalahan yang saya buat terkait tanggungjawab. Ini Kesalahan saya yang lalai, tak ada gunanya menyalahkan orang lain.
Saya berharap esok ada titik terang dari kasus ini. itu saja. Semoga.
How I need Jesus at this moment….
(Manokwari, 200911; post-shock season)
Rindu Bumi
Malam ini saya merindukan dia, seseorang yang enggan saya bahas namanya di dalam catatan ini. Entahlah … mungkin karena sejak tadi Lionel Richie menyanyi untuk saya lewat albumnya ‘Just for You’. Lagu ‘One World’nya benar – benar membuat saya tiba – tiba mengingat dia di sela – sela jadwal kerja saya yang padat beberapa hari belakangan ini. Entahlah … dia yang sering membuat saya kadang berpikir kalau ia layak ‘makan sandal jepit’ HAHAHA. A joker indeed. Ah ini hanya sebuah ‘serangan mental’ di masa sibuk. Ya gangguan rasa yang cukup manis. Seperti kata teman saya Nia dulu, “tra salah kok kalo ‘jatuh cinta’ apalagi ‘rindu’. Polisi tra tangkap juga mooooo.” Sayangnya, ini rasa yang pribadi, berada di areal pribadi dan tidak perlu saya bagi, bukan? *selfish mode: ON
Mengingat dia, saya juga tiba – tiba berpikir tentang keadaan bumi, keadaan dunia, tentang hidup. Apalagi di hari ulang tahun saya yang bertepatan dengan ulang tahun Greenpeace ke 40. Sebuah pencapaian yang lumayan besar untuk sebuah organisasi relawan lingkungan, yang saya percaya pada masa awal pendiriannya pasti dianggap ‘gila’, ‘aneh’ dan ‘tak ada kerjaan’. Toh sejarah membuktikan, walau kapal Rainbow Warrior terlanjur karam di dermaga di New Zealand sana, walau banyak aktivis yang ditangkap dan dipenjara bahkan dipopor senapan, organisasi ini tetap ada KARENA bumi yang rentan ini butuh suara. Itulah sebabnya saya ingat legenda yang banyak diamini para relawan Greenpeace tentang legenda ‘rainbow warrior’ dari suku Indian, terjemahan Indonesianya sih ‘laskar Pelangi’. Kala ikan terakhir sudah mati, kala air tak mengalir lagi, kala hutan telah habis dibabat … kelak akan bangkit pejuang – pejuang yang menyuarakan suara bumi dan mencari cara menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali ATAUPUN kala ikan terakhir sudah mati, pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir sudah kering, kita akan sadar kalau ‘we cannot eat MONEY’.
Catatan ini tentu saja bukan untuk membahas sebuah organisasi lingkungan hidup. Tidak sama sekali. Karena saya bukan seseorang yang sangat loyal pada sebuah organisasi. Saya hanya mencoba loyal pada prinsip yang saya anut bahwa manusia SEHARUSNYA hidup harmonis dengan alam, karena bagaimanapun kita adalah ciptaan terakhir dan yang paling punya ‘otak’ jadi ya seharusnya kita menggunakan kapasitas kita untuk menciptakan kedamaian bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan ciptaan Tuhan yang lain. ya, berdamai dengan alam.
Lagu Lionel Richie ini membahana terus di dalam benak saya, tak hanya memikirkan dia yang saya sebut di atas, tapi juga terus bertanya, mengapa manusia tidak bisa hidup dengan harmonis dengan alam, dengan sesama dan cenderung berkelahi satu sama lain? Padahal kita hidup di bumi yang sama? Perang cenderung terjadi karena masalah eksploitasi sumberdaya alam, karena persaingan bisnis sumberdaya alam, karena alasan – alasan apa yang bisa diperoleh dari bumi hingga kemanusiaan dan alam hancur menghilang dalam desing peluru tajam, dalam dentuman meriam dan terpaan bom nuklir. Ah betapa rapuhnya hidup!
We have one world, we only have one love,
We have so little time together, you and I,
And all we have to do is try.
Ya, kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dan kita bukan satu – satunya penghuni bumi tetapi kita cenderung menghancurkan apa yang telah dibuat Tuhan di alam, menghancurkannya demi keserakahan, demi gengsi, demi sesuatu yang kita sebut ‘peradaban’ tanpa pernah merasa bersalah untuk segala yang kita lakukan. Padahal waktu yang tersisa sangat sedikit.
Ah lirik dan irama lagu ini membuat saya menangis malam ini. Ya, mengapa manusia begitu serakah demi gaya hidup mereka hingga ada ketidakadilan sosial dan lingkungan karena eksploitasi sumberdaya yang berlebihan? Saya mengingat pengalaman tinggal selama hampir 2 tahun di Canberra. Sangat sedih melihat demi sebuah tren baru, gaya hidup baru dan sesuatu yang berbau ‘modern’, alam dipenuhi dengan ‘sampah’ dari rumah – rumah. Saya mengingat bagaimana meja – meja kayu yang masih bagus teronggok ‘for free’ di dekat gedung Crawford lama di kampus ANU ataupun tumpukan meja dan lemari di areal seluas lapangan basket bekas hibah kantor pemerintah di Fyswick sana ataupun satu set sofa tetangga saya yang masih bagus yang dihibahkan kepada saya dan teman – teman serumah. Begitu juga tumpukan barang – barang elektronik dan lain – lain di Aussie Junk; sebuah tempat penampungan ‘sampah’ atau barang yang tak dipakai lagi. Prediksi saya, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin berpotensi ia menghasilkan ‘sampah’ seperti yang saya bahas tadi. Semuanya hanya tentang ‘taste’. Ini masalah rasa, bung!!!
Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh orang – orang yang membuang ‘sampah’ furnitur seperti itu. Bagi saya, kita menjadi serakah. Sangat serakah. Mungkin mereka tak pernah tahu darimana datangnya kayu – kayu yang menjadi elemen perabot itu. Tapi saya tahu, saya tahu bagaimana kisah kayu – kayu itu. Saya mengerti.
Kayu – kayu yang dibawa itu salah satunya berasal dari tempat kelahiran saya di Papua. Kayu kayu itu berasal dari pohon – pohon berumur puluhan hingga ratusan tahun yang menjadi rumah yang besar dan melindungi, bukan hanya untuk hewan, tumbuhan kecil tetapi juga manusia – manusia berkulit kopi yang menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada alam. Saya paham benar bagaimana kumpulan pohon – pohon pembentuk hutan itu menjadi ‘mesin air’ penarik cairan dari aquifer di bawah tanah untuk menjadi pengisi mata air, kali dan sungai yang kelak semuanya mengalir ke laut. Membantu siklus iklim, cuaca dan segala tetek bengek konsep ekologi.
Yang saya tidak pahami adalah mengapa masih ada manusia yang begitu serakah merampok hidup dan kebahagiaan pohon – pohon dan isi hutan demi beberapa lembar UANG yang nyata – nyatanya juga dicetak dan berasal dari batang – batang pohon itu? Iya, apakah mereka lupa bahwa uang kertas itu dicetak dari lembaran – lembaran kertas yang dibuat dari pulp alias bubur kertas yang berasal dari cacahan halus batang pohon? Saya masih tak mengerti juga bagaimana mereka rela menebang hutan alam secara serakah demi banyaknya kertas ‘cebok panta’? Saya terlalu sensitif memang!
Saya semakin tidak mengerti mengapa alam harus dirusak demi keserakahan manusia dan modernitas? Bukankah manusia dan alam bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu bila ditata sedemikian rupa. Bukankah Tuhan memberikan kita akal budi untuk hidup?
Malam ini, lagu ‘One World’ berputar terus tapi tak ada tanda – tanda seraknya suara Lionel Richie. Suaranya merobek batin saya, kala ia tanyakan:
“We’ve got some much pain and confusion
Are we living for the truth or an illusion?
Ya, saya juga bertanya hal yang sama.
Di tanah saya, hanya karena urusan berapa banyak batang pohon yang bisa diambil, berapa banyak kandungan perut bumi yang dikeruk, berapa banyak areal hutan yang bisa dikonversi, ada banyak darah gelap yang keluar dari tubuh – tubuh yang tidak tahu apa – apa. Keluar dari orang – orang berkulit kopi yang hanya mempertanyakan tempat dimana mereka lahir dan kelak akan mati.
Di tanah saya, urusan mempersengketakan sumberdaya alam menjelma jadi mimpi buruk ketidakadilan sosial. Orang – orang berperang, berkelahi, saling membenci. Etnis dan agama pun ikut – ikutan dibawa, saat semua dibagi menjadi ‘hitam – putih’. Ada pihak yang mempertanyakan HAMnya dan ketidakadilan, ada yang berkilah ‘ini hasil kerja keras’ dan mereka pun larut dalam ketegangan yang kasat mata, menggelegak perlahan .. entah kapan akan meletus. Saya tahu ada kawah candradimuka yang tersimpan di tanah ini karena masalah pengelolaan apa yang ditawarkan alam. Ah .. saya sedih. Mereka berkelahi dan membunuh satu sama lain sedang alam terus berjuang sendiri melawan penyakitnya, melawan pemanasan global, melawan proses menuanya yang terlalu cepat.
Tahun ini, sebuah organisasi, yang sukses menginfiltrasi otak saya untuk berpikir dan tetap bersuara untuk alam lewat cara yang saya bisa, berulang tahun ke 40. Organisasi dengan program kampanyenya yang membuat saya akhirnya menemukan beberapa sahabat dekat seperti Amos, Maria dan lain – lain. Lewat organisasi ini pula saya menambah banyak pengalaman travelling ke tempat – tempat eksotis di tanah ini, berkenalan dengan banyak kisah nyata tanah ini, dan tentu saja menemukan cinta saya pada hutan dan alam Papua. Saya hanya pemimpi tetapi saya bersyukur pada suatu masa pernah bersentuhan dengan organisasi ini dan merangkum beberapa pandangan yang membuat saya menjadi seperti ini. At least, ajaran utama yang saya adopsi hingga kini saya tidak pernah buang sampah sembarangan!!!
Saya percaya, saya dan anda hanya orang – orang biasa, tapi saya percaya kita bisa membuat sesuatu yang luar biasa untuk bumi ini. Saya benci orang – orang khususnya kalangan Kristen yang bilang kalau mereka yang terlalu peduli pada urusan lingkungan itu orang ‘New Age’ atau bahkan ada yang ekstrem bilang kalau ‘ae neh … dunia su mo kiamat juga mo. Tuh memang Tuhan su tulis juga moooo.’
Entahlah saya hanya marah karena bagi saya, kita masih tetap hidup di bumi ini, masih bernapas dengan udara yang sama, memakai akses alam yang sama. Saat kita tak peduli dengan isu lingkungan, maka kita akan menciptakan ketidakadilan sosial secara tak langsung. Percaya tidak percaya, itu yang sebenarnya terjadi. Yang merusak dunia cuma satu, “ketidakpedulian pada sesama karena tak ada cinta di hati.” Saya juga masih ingat bahwa di dalam kitab Kejadian pasal 1 ada perintah untuk ‘menjaga alam’ walau di situ lebih pada hewan liar. Nah bagaimana hewan liar, burung – burung dan lain – lain bisa hidup dengan baik kalau alamnya dirusak?
Saya tak tahu bagaimana perasaan orang lain tentang bumi ini, tentang alam, tentang pohon. Saya pernah berada pada masa dimana alam khususnya hutan adalah taman bermain saya, menyusuri dan berenang di kali, memanjat pohon, mencari buah di hutan dan tentu saja bermain sebagai kanak – kanak. Ah masa – masa dimana yang mengilhami saya untuk tetap bersuara bagi alam karena saya ingin para keponakan saya juga mengalami hal yang sama kelak, kala mereka besar.
Saya ingin masih ada langit biru bebas hujan asam, masih ada laut bening, biru dan bersih penuh ikan untuk mereka, pohon – pohon tegar dan angkuh yang berdiri di depan mereka dan masih banyak hal lain. Perasaan ini tidak akan pernah tergantikan. Tidak akan pernah tergantikan.
Mungkin saya terlalu sensitif dan pemimpi tapi kondisi psikologis saya sangat terpengaruh dengan kondisi alam di sekitar saya. Itulah sebabnya, kota seperti Jakarta dan Jayapura kadang membuat saya stress karena saya kesulitan mencari dan melihat pepohonan hijau. Saya tertekan apabila terdapat ketidakseimbangan apalagi ketidakseimbangan alam.
Mungkin catatan ini terasa aneh, entahlah …. Tapi saya selalu merasa lebih dekat dengan Yesus, saat saya dekat dengan alam. Saya sangat menikmati pergi ke pantai yang sunyi ataupun pemandangan dengan view yang bagus ataupun melintasi hutan karena entahlah ... aromanya begitu khas, menenangkan dan tentu saja seakan alam bercerita pada saya. Menemukan apa yang saya cari!
Entahlah …. Malam ini saya tahu kalau saya tak bisa lepas dari isu ini. Ya, tak akan pernah.
Seperti kata pace Richie, “We just need to walk together, We just need to talk together, We just need to come together, In our hearts”.
Ya, kita hanya perlu berjalan, berbicara dan datang bersama – sama dengan satu hati untuk bumi yang satu dengan satu cinta!
Ah … andai bumi bisa bicara untuk dirinya sendiri. Entah apa yang akan dikatakannya!
(Manokwari, 160911; 11sumthing p.m.; In celebrating Greenpeace’s anniversary –sort-of-feeling while thinking about ‘si joker’.)
Mengingat dia, saya juga tiba – tiba berpikir tentang keadaan bumi, keadaan dunia, tentang hidup. Apalagi di hari ulang tahun saya yang bertepatan dengan ulang tahun Greenpeace ke 40. Sebuah pencapaian yang lumayan besar untuk sebuah organisasi relawan lingkungan, yang saya percaya pada masa awal pendiriannya pasti dianggap ‘gila’, ‘aneh’ dan ‘tak ada kerjaan’. Toh sejarah membuktikan, walau kapal Rainbow Warrior terlanjur karam di dermaga di New Zealand sana, walau banyak aktivis yang ditangkap dan dipenjara bahkan dipopor senapan, organisasi ini tetap ada KARENA bumi yang rentan ini butuh suara. Itulah sebabnya saya ingat legenda yang banyak diamini para relawan Greenpeace tentang legenda ‘rainbow warrior’ dari suku Indian, terjemahan Indonesianya sih ‘laskar Pelangi’. Kala ikan terakhir sudah mati, kala air tak mengalir lagi, kala hutan telah habis dibabat … kelak akan bangkit pejuang – pejuang yang menyuarakan suara bumi dan mencari cara menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali ATAUPUN kala ikan terakhir sudah mati, pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir sudah kering, kita akan sadar kalau ‘we cannot eat MONEY’.
Catatan ini tentu saja bukan untuk membahas sebuah organisasi lingkungan hidup. Tidak sama sekali. Karena saya bukan seseorang yang sangat loyal pada sebuah organisasi. Saya hanya mencoba loyal pada prinsip yang saya anut bahwa manusia SEHARUSNYA hidup harmonis dengan alam, karena bagaimanapun kita adalah ciptaan terakhir dan yang paling punya ‘otak’ jadi ya seharusnya kita menggunakan kapasitas kita untuk menciptakan kedamaian bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan ciptaan Tuhan yang lain. ya, berdamai dengan alam.
Lagu Lionel Richie ini membahana terus di dalam benak saya, tak hanya memikirkan dia yang saya sebut di atas, tapi juga terus bertanya, mengapa manusia tidak bisa hidup dengan harmonis dengan alam, dengan sesama dan cenderung berkelahi satu sama lain? Padahal kita hidup di bumi yang sama? Perang cenderung terjadi karena masalah eksploitasi sumberdaya alam, karena persaingan bisnis sumberdaya alam, karena alasan – alasan apa yang bisa diperoleh dari bumi hingga kemanusiaan dan alam hancur menghilang dalam desing peluru tajam, dalam dentuman meriam dan terpaan bom nuklir. Ah betapa rapuhnya hidup!
We have one world, we only have one love,
We have so little time together, you and I,
And all we have to do is try.
Ya, kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dan kita bukan satu – satunya penghuni bumi tetapi kita cenderung menghancurkan apa yang telah dibuat Tuhan di alam, menghancurkannya demi keserakahan, demi gengsi, demi sesuatu yang kita sebut ‘peradaban’ tanpa pernah merasa bersalah untuk segala yang kita lakukan. Padahal waktu yang tersisa sangat sedikit.
Ah lirik dan irama lagu ini membuat saya menangis malam ini. Ya, mengapa manusia begitu serakah demi gaya hidup mereka hingga ada ketidakadilan sosial dan lingkungan karena eksploitasi sumberdaya yang berlebihan? Saya mengingat pengalaman tinggal selama hampir 2 tahun di Canberra. Sangat sedih melihat demi sebuah tren baru, gaya hidup baru dan sesuatu yang berbau ‘modern’, alam dipenuhi dengan ‘sampah’ dari rumah – rumah. Saya mengingat bagaimana meja – meja kayu yang masih bagus teronggok ‘for free’ di dekat gedung Crawford lama di kampus ANU ataupun tumpukan meja dan lemari di areal seluas lapangan basket bekas hibah kantor pemerintah di Fyswick sana ataupun satu set sofa tetangga saya yang masih bagus yang dihibahkan kepada saya dan teman – teman serumah. Begitu juga tumpukan barang – barang elektronik dan lain – lain di Aussie Junk; sebuah tempat penampungan ‘sampah’ atau barang yang tak dipakai lagi. Prediksi saya, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin berpotensi ia menghasilkan ‘sampah’ seperti yang saya bahas tadi. Semuanya hanya tentang ‘taste’. Ini masalah rasa, bung!!!
Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh orang – orang yang membuang ‘sampah’ furnitur seperti itu. Bagi saya, kita menjadi serakah. Sangat serakah. Mungkin mereka tak pernah tahu darimana datangnya kayu – kayu yang menjadi elemen perabot itu. Tapi saya tahu, saya tahu bagaimana kisah kayu – kayu itu. Saya mengerti.
Kayu – kayu yang dibawa itu salah satunya berasal dari tempat kelahiran saya di Papua. Kayu kayu itu berasal dari pohon – pohon berumur puluhan hingga ratusan tahun yang menjadi rumah yang besar dan melindungi, bukan hanya untuk hewan, tumbuhan kecil tetapi juga manusia – manusia berkulit kopi yang menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada alam. Saya paham benar bagaimana kumpulan pohon – pohon pembentuk hutan itu menjadi ‘mesin air’ penarik cairan dari aquifer di bawah tanah untuk menjadi pengisi mata air, kali dan sungai yang kelak semuanya mengalir ke laut. Membantu siklus iklim, cuaca dan segala tetek bengek konsep ekologi.
Yang saya tidak pahami adalah mengapa masih ada manusia yang begitu serakah merampok hidup dan kebahagiaan pohon – pohon dan isi hutan demi beberapa lembar UANG yang nyata – nyatanya juga dicetak dan berasal dari batang – batang pohon itu? Iya, apakah mereka lupa bahwa uang kertas itu dicetak dari lembaran – lembaran kertas yang dibuat dari pulp alias bubur kertas yang berasal dari cacahan halus batang pohon? Saya masih tak mengerti juga bagaimana mereka rela menebang hutan alam secara serakah demi banyaknya kertas ‘cebok panta’? Saya terlalu sensitif memang!
Saya semakin tidak mengerti mengapa alam harus dirusak demi keserakahan manusia dan modernitas? Bukankah manusia dan alam bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu bila ditata sedemikian rupa. Bukankah Tuhan memberikan kita akal budi untuk hidup?
Malam ini, lagu ‘One World’ berputar terus tapi tak ada tanda – tanda seraknya suara Lionel Richie. Suaranya merobek batin saya, kala ia tanyakan:
“We’ve got some much pain and confusion
Are we living for the truth or an illusion?
Ya, saya juga bertanya hal yang sama.
Di tanah saya, hanya karena urusan berapa banyak batang pohon yang bisa diambil, berapa banyak kandungan perut bumi yang dikeruk, berapa banyak areal hutan yang bisa dikonversi, ada banyak darah gelap yang keluar dari tubuh – tubuh yang tidak tahu apa – apa. Keluar dari orang – orang berkulit kopi yang hanya mempertanyakan tempat dimana mereka lahir dan kelak akan mati.
Di tanah saya, urusan mempersengketakan sumberdaya alam menjelma jadi mimpi buruk ketidakadilan sosial. Orang – orang berperang, berkelahi, saling membenci. Etnis dan agama pun ikut – ikutan dibawa, saat semua dibagi menjadi ‘hitam – putih’. Ada pihak yang mempertanyakan HAMnya dan ketidakadilan, ada yang berkilah ‘ini hasil kerja keras’ dan mereka pun larut dalam ketegangan yang kasat mata, menggelegak perlahan .. entah kapan akan meletus. Saya tahu ada kawah candradimuka yang tersimpan di tanah ini karena masalah pengelolaan apa yang ditawarkan alam. Ah .. saya sedih. Mereka berkelahi dan membunuh satu sama lain sedang alam terus berjuang sendiri melawan penyakitnya, melawan pemanasan global, melawan proses menuanya yang terlalu cepat.
Tahun ini, sebuah organisasi, yang sukses menginfiltrasi otak saya untuk berpikir dan tetap bersuara untuk alam lewat cara yang saya bisa, berulang tahun ke 40. Organisasi dengan program kampanyenya yang membuat saya akhirnya menemukan beberapa sahabat dekat seperti Amos, Maria dan lain – lain. Lewat organisasi ini pula saya menambah banyak pengalaman travelling ke tempat – tempat eksotis di tanah ini, berkenalan dengan banyak kisah nyata tanah ini, dan tentu saja menemukan cinta saya pada hutan dan alam Papua. Saya hanya pemimpi tetapi saya bersyukur pada suatu masa pernah bersentuhan dengan organisasi ini dan merangkum beberapa pandangan yang membuat saya menjadi seperti ini. At least, ajaran utama yang saya adopsi hingga kini saya tidak pernah buang sampah sembarangan!!!
Saya percaya, saya dan anda hanya orang – orang biasa, tapi saya percaya kita bisa membuat sesuatu yang luar biasa untuk bumi ini. Saya benci orang – orang khususnya kalangan Kristen yang bilang kalau mereka yang terlalu peduli pada urusan lingkungan itu orang ‘New Age’ atau bahkan ada yang ekstrem bilang kalau ‘ae neh … dunia su mo kiamat juga mo. Tuh memang Tuhan su tulis juga moooo.’
Entahlah saya hanya marah karena bagi saya, kita masih tetap hidup di bumi ini, masih bernapas dengan udara yang sama, memakai akses alam yang sama. Saat kita tak peduli dengan isu lingkungan, maka kita akan menciptakan ketidakadilan sosial secara tak langsung. Percaya tidak percaya, itu yang sebenarnya terjadi. Yang merusak dunia cuma satu, “ketidakpedulian pada sesama karena tak ada cinta di hati.” Saya juga masih ingat bahwa di dalam kitab Kejadian pasal 1 ada perintah untuk ‘menjaga alam’ walau di situ lebih pada hewan liar. Nah bagaimana hewan liar, burung – burung dan lain – lain bisa hidup dengan baik kalau alamnya dirusak?
Saya tak tahu bagaimana perasaan orang lain tentang bumi ini, tentang alam, tentang pohon. Saya pernah berada pada masa dimana alam khususnya hutan adalah taman bermain saya, menyusuri dan berenang di kali, memanjat pohon, mencari buah di hutan dan tentu saja bermain sebagai kanak – kanak. Ah masa – masa dimana yang mengilhami saya untuk tetap bersuara bagi alam karena saya ingin para keponakan saya juga mengalami hal yang sama kelak, kala mereka besar.
Saya ingin masih ada langit biru bebas hujan asam, masih ada laut bening, biru dan bersih penuh ikan untuk mereka, pohon – pohon tegar dan angkuh yang berdiri di depan mereka dan masih banyak hal lain. Perasaan ini tidak akan pernah tergantikan. Tidak akan pernah tergantikan.
Mungkin saya terlalu sensitif dan pemimpi tapi kondisi psikologis saya sangat terpengaruh dengan kondisi alam di sekitar saya. Itulah sebabnya, kota seperti Jakarta dan Jayapura kadang membuat saya stress karena saya kesulitan mencari dan melihat pepohonan hijau. Saya tertekan apabila terdapat ketidakseimbangan apalagi ketidakseimbangan alam.
Mungkin catatan ini terasa aneh, entahlah …. Tapi saya selalu merasa lebih dekat dengan Yesus, saat saya dekat dengan alam. Saya sangat menikmati pergi ke pantai yang sunyi ataupun pemandangan dengan view yang bagus ataupun melintasi hutan karena entahlah ... aromanya begitu khas, menenangkan dan tentu saja seakan alam bercerita pada saya. Menemukan apa yang saya cari!
Entahlah …. Malam ini saya tahu kalau saya tak bisa lepas dari isu ini. Ya, tak akan pernah.
Seperti kata pace Richie, “We just need to walk together, We just need to talk together, We just need to come together, In our hearts”.
Ya, kita hanya perlu berjalan, berbicara dan datang bersama – sama dengan satu hati untuk bumi yang satu dengan satu cinta!
Ah … andai bumi bisa bicara untuk dirinya sendiri. Entah apa yang akan dikatakannya!
(Manokwari, 160911; 11sumthing p.m.; In celebrating Greenpeace’s anniversary –sort-of-feeling while thinking about ‘si joker’.)
Subscribe to:
Posts (Atom)