Setiap orang pasti pernah bermimpi. Aku lupa di mana letak mimpi, apa di tahap REM (rapid eye movement) atau Non-REM? Bagiku itu tak penting. Yang kerap aku pikirkan adalah mimpiku bila menyinggung 3 tema (mimpi terkait dengan bayi, pakaian, ML ataupun digigit/ular atau anjing hitam). Bukan karena aku percaya ramalan mimpi, entahlah …. Tapi biasanya karena bila mimpi dengan tema tertentu, maka selalu saja ada kejadian – kejadian tertentu yang terjadi beberapa hari kemudian. Apalagi tadi subuh, aku bermimpi tentang sebuah tema yang sudah lama tak kumimpikan. Ya mimpi bila mendapat atau membeli atau diberi pakaian baru (baca: baju). Subuh tadi, aku bermimpi lagi.
Mimpiku subuh tadi, aku berada di sebuah pusat perbelanjaan dan di sana banyak perempuan yang membeli pakaian baru. Suasananya seperti di dalam Big W atau Target di Canberra atau di Liverpool dulu. Aku ingat baju yang mereka pakai berjenis terusan. Seperti terusan A-Line sewaktu di OZ yang biasa kupakai dengan legging dan dipadupadankan dengan boot kala musim gugur. Seperti yang dijahitkan mama Ipa untuk acara menyanyi. Aku lihat warna – warna terusan ini berwarna hijau tosca, ungu, putih dan abu – abu, krem. Warna – warna pastel. Aku ingat betul bagaimana memandang takjub pakaian – pakaian ini.
Saking tergodanya, kuputuskan untuk membeli pakaian juga. Pakaian baru, terusan berwarna pastel. Sayangnya di rak tak ada yang berwarna ungu muda, tapi aku tetap membeli 3 pasang terusan baru; warna hijau, krem dan aku lupa yang satunya, apa warna mauve atau pink ya? Yang pasti tak ada warna gelap.
Mudah – mudahan mimpi tadi hanya bunga tidur dan hanyalah ekstraksi alam bawah sadarku. Walau aku tahu selama beberapa tahun ini, bila bermimpi mendapat pakaian, membeli atau diberi pakaian, artinya aku akan mendapat seorang kekasih, pacar. Biasanya, bila pakaiannya baru, berarti orangnya sama sekali baru bagiku. Sedangkan kalau pakaian lama atau pakaian bekas, biasanya mantan pacar, mantan fans yang kembali lagi dalam hidupku. Dulu seperti kala bertemu lelaki hujan usai istrinya kabur ke kota lain, aku diberi pakaian lama oleh seorang teman. E tahunya ketemu si lelaki hujan di pantai dan akhirnya tatongkah lagi.
Mudah – mudahan mimpi kali ini artinya baik, toh hanya mimpi. Dan bila benar artinya pula, semoga bukan tentang si adek cowok manis kecil yang bekerja untuk aku dan klienku di Wasior sana, adek cowok yang fam mamanya sama dengan fam omaku … abis adek cowok berusia awal 20an tahun ini terlalu ‘rajin’ mengirimkan pesan padaku usai kepulanganku ke Manokwari HAHAHA. Mana Ia jelaskan kalo ia belum bertemu seseorang yang cocok dengannya, apalagi yang sempat membuatku kaget, ia bilang kalau ia mendapatkan seseorang yang bisa terima dirinya apa adanya, ia akan menjadikan perempuan itu istrinya. Gosh, anak muda sekarang sudah lebih siap menikah ya? *terheran – heran (membandingkan dengan. diri sendiri yang masih RAGU apa memang mo menikah). SMS terakhirnya cukup lucu bila dibaca, ia bertanya padaku apa aku sudah punya pacar atau belum segala dan dijawabnya sendiri , ‘pasti sudah toh’. Sayangnya usai kukatakan bahwa aku single and very happy plus baru beberapa bulan ‘memecat’ tunanganku, plus mengabsen sifat cepat bosanku, eeee si adek cowok ini pun langsung SUNYI tak ada kabar HAHAHA. Benar – benar adek cowok yang lucu. Sayang masih muda HAHAHA padahal tampangnya manis banget wkwkwkwkwkwkkw. Yet, he’s not my type =D
Entah cinta apa yang kan muncul, yang aku tahu, beberapa minggu ke depan, sudah saatnya buckle up dan merenung apa yang kuinginkan dalam hidup. Masih tetap berdoa untuk pekerjaan tetapku, semoga tawaran kerja di Jayapura ini benar – benar for real, kata temanku sih semuanya akan dibahas usai lebaran dan ia bilang ya 75% ia yakin. Aku sih karna sudah pernah 4 kali ketahan2 dengan tawaran kerja ini ya sudah cuek sebenarnya. Tapi kalo memang Tuhan mo kasi ini sebagai hadiah ultahku yang ke 28, ya sa tra tolak juga. Nothing to lose ya sebenarnya.
Masih tetap berdoa untuk tawaran ini, rencananya sih kerja di bagian communication and public outreach di sebuah lembaga lingkungan. Ya mudah – mudahan benar saja. Kalo tidak ya aku sedang memikirkan untuk menerima tawaran kembali ke Teluk Wondama untuk persiapan menjadi penerjemah survey biomassa untuk program hutan karbonnya pemerintah provinsi. Ya itung – itung menghemat biaya ekspedisi dan dibayar pula, cuma masih pikir – pikir, apa fisikku masih sekuat dulu trekking sana – sini. Karna seingatku, Oktober 2010 kemarin saja, baru jalan 15 menit di Mokwan untuk ngecek si Echidna ‘Babi duri’ itu saja aku sudah hampir pingsan naik gunung dengan lereng 45 derajat. Jadi kayaknya tak sanggup banget 2 minggu jalan naik turun gunung, takutnya malah menyusahkan anggota tim yang lain.
Btw, hidup terus berlanjut dan mungkin sudah saatnya mengesampingkan pikiran – pikiran yang tidak nyata walau tak ada ruginya sih bila jatuh cinta lagi HAHAHA. Saatnya buckle up dan mematangkan rencana untuk menyambut ulang tahunku bulan September ini. Ada sederet rencana yang sedang kugagas akhir – akhir ini seperti mo beli gitar untuk belajar main musik, mo sewa perahu dan panggayuh menyusuri kali Pami ke kepala air, mo pinjam tendanya teman untuk bermalam di pantai Mandopi sambil tungguin matahari terbit di hari ulang tahunku. Umur 28 kan tanda kedewasaan matang ka ini, umur yang tepat untuk menikah pula (katanya, karna sudah stabil HAHAHA)
Entahlah … yang pasti, satu yang kutahu … I love every inch of my life!!! Saatnya keluar dari zona nyaman. Buckle up, beibeh HAHAHA
(Manokwari, 290811; feel so much relieved)
Monday, 29 August 2011
Janji Tuhan di Yeremia
Subuh tadi, sekitar pukul 4: 15 – 4: 40, bumi guruh dan kilat benar – benar mengguncang Manokwari, hingga aku terbangun. Apalagi saat mengecek keadaan rumah adikku yang 75% materialnya dari kayu, rumahnya kebanjiran total karena kapasitas talang air yang tidak sanggup menahan laju curah hujan. Benar – benar disaster subuh tadi. Batitanya terpaksa kami ungsikan ke rumah kami di bagian depan wlau ia sebenarnya ketekutan dari sorot matanya. Petir dan guruhnya benar – benar membuatku sedikit ‘tahan hati dan keep praying’ apalagi mengingat bacaan Alkitabku beberapa jam sebelumnya.
Nah pagi ini dalam doa pagiku, karna bangun telat jam 9 pagi, usai pergi padam lampu di rumah Amban, usai mengantar undangan, usai minum kopi dan sarapan, aku memutuskan berdoa dan membaca Firman sebelum bekerja. Ya ritualku mungkin sedikit berbeda dengan banyak orang yang kerap membaca Firman usai buka mata pagi – pagi. Kadang aku seperti mereka, kadang cuma doa singkat dulu mengucap syukur, tapi terkadang ya seperti pagi ini, acara baca Firmannya kucicil pas sebelum bekerja, sekalian minta tuntunan bekerja agar pikiran bisa fokus ke kerjaan. Anyway, pembacaan pagi ini tak jauh – jauh dari Yeremia lagi.
Bila tadi pagi pembacaannya tentang hukuman, nah pagi ini aku bertemu dengan janji Tuhan di Yeremia 30: 1 – 24. Lagi – lagi di hatiku bilang begini, “May, ini tentang Papua, bacakan dengan keras ya ayat 8nya, itu tentang tanah ini.” Jadi isinya seperti ini:
“When that day comes, I will break the yoke that is around their neck and remove their chains, and they will no longer be the slaves of foreigners.” Entahlah saat membaca Firman ini, aku merasa lega bahwa Allahku tetapkan Tuhan yang peduli sungguh mati sama umat-Nya. Ia memberi hukuman untuk mengubah sikap dan hati yang keras TAPI Ia tetap peduli. Keep wondering ya kenapa umat-Nya ini masih tetap otak keras sungguh mati seh … padahal kalo dong mo lihat, apa lagi sih yang dong mau dalam hidup. Kalo merasa su tertindas sungguh mati secara fisik ya bebaskan diri secara mental dan jang taikat mati deng barang – barang yang bikin tambah susah diri ka ini.
Apalagi dalam sekilas tayangan acara TV Kristen yang kunonton di U Channel tadi pagi mengumpakan dosa itu ibarat ular sanca. Waktu kecil pace satu bisa bawa ular ko mandi sama – sama di bak mandi, masih bisa pace de kendalikan. Tapi pas akan smakin besar, aleeee bukan pace ko yang bisa kendalikan ular ko dalam bak mandi, tapi ular ko su kas penuh bak mandi deng de pu badan, su begitu de yang bisa kontrol pace ko ka ini. Nah dosa juag seperti itu, tong pelihara akan dari kecil, lama – lama de kendalikan tong pu hidup dan bikin tong tenggelam. Jadi ingat kejadian pagi ini yang sa bapa cerita tentang satu sepupu dari pihak mama yang su seminggu mendekam di penjara. Ya iyalah, karen tra bisa lepas diri dari miras, e pace ko nekat pancuri uang dari dalam mobil temannya. Akhirnya ya dilaporkan dan masuk sel selama seminggu toooo.
Ya andai saja semua orang sadar kalau Tuhan su terlalu baik dalam hidup. Sa bilang begini bukan karena sa mo bilang sa su suci eee, trada … sa bilang nih karna sa tahu sa pendosa dan butuh Yesus sungguh mati eee, karna kalo trada Yesus, sa mungkin pasti tambah rusak sapu diri, sapu masa depan, sa pu hidup dan mungkin su ada nyali untuk hal – hal gila seperti bunuh diri. So far, masih ada Yesus yang su baik yang kapala bisik sa pas sa lagi down, untuk bilang sa jang bunuh diri karna ada rencana – rencana besar di dalam sa hidup. Pokoknya kas smangat sa, walau teman – teman tra balas sa SMS curhat de el el.
Pagi ini sa merasa di-recharge energinya sama Yesus.
Sungguh eee, Tuhan itu baik. Amen.
(Manokwari, 290811; 12.17 p.m.; usai badai besar)
Nah pagi ini dalam doa pagiku, karna bangun telat jam 9 pagi, usai pergi padam lampu di rumah Amban, usai mengantar undangan, usai minum kopi dan sarapan, aku memutuskan berdoa dan membaca Firman sebelum bekerja. Ya ritualku mungkin sedikit berbeda dengan banyak orang yang kerap membaca Firman usai buka mata pagi – pagi. Kadang aku seperti mereka, kadang cuma doa singkat dulu mengucap syukur, tapi terkadang ya seperti pagi ini, acara baca Firmannya kucicil pas sebelum bekerja, sekalian minta tuntunan bekerja agar pikiran bisa fokus ke kerjaan. Anyway, pembacaan pagi ini tak jauh – jauh dari Yeremia lagi.
Bila tadi pagi pembacaannya tentang hukuman, nah pagi ini aku bertemu dengan janji Tuhan di Yeremia 30: 1 – 24. Lagi – lagi di hatiku bilang begini, “May, ini tentang Papua, bacakan dengan keras ya ayat 8nya, itu tentang tanah ini.” Jadi isinya seperti ini:
“When that day comes, I will break the yoke that is around their neck and remove their chains, and they will no longer be the slaves of foreigners.” Entahlah saat membaca Firman ini, aku merasa lega bahwa Allahku tetapkan Tuhan yang peduli sungguh mati sama umat-Nya. Ia memberi hukuman untuk mengubah sikap dan hati yang keras TAPI Ia tetap peduli. Keep wondering ya kenapa umat-Nya ini masih tetap otak keras sungguh mati seh … padahal kalo dong mo lihat, apa lagi sih yang dong mau dalam hidup. Kalo merasa su tertindas sungguh mati secara fisik ya bebaskan diri secara mental dan jang taikat mati deng barang – barang yang bikin tambah susah diri ka ini.
Apalagi dalam sekilas tayangan acara TV Kristen yang kunonton di U Channel tadi pagi mengumpakan dosa itu ibarat ular sanca. Waktu kecil pace satu bisa bawa ular ko mandi sama – sama di bak mandi, masih bisa pace de kendalikan. Tapi pas akan smakin besar, aleeee bukan pace ko yang bisa kendalikan ular ko dalam bak mandi, tapi ular ko su kas penuh bak mandi deng de pu badan, su begitu de yang bisa kontrol pace ko ka ini. Nah dosa juag seperti itu, tong pelihara akan dari kecil, lama – lama de kendalikan tong pu hidup dan bikin tong tenggelam. Jadi ingat kejadian pagi ini yang sa bapa cerita tentang satu sepupu dari pihak mama yang su seminggu mendekam di penjara. Ya iyalah, karen tra bisa lepas diri dari miras, e pace ko nekat pancuri uang dari dalam mobil temannya. Akhirnya ya dilaporkan dan masuk sel selama seminggu toooo.
Ya andai saja semua orang sadar kalau Tuhan su terlalu baik dalam hidup. Sa bilang begini bukan karena sa mo bilang sa su suci eee, trada … sa bilang nih karna sa tahu sa pendosa dan butuh Yesus sungguh mati eee, karna kalo trada Yesus, sa mungkin pasti tambah rusak sapu diri, sapu masa depan, sa pu hidup dan mungkin su ada nyali untuk hal – hal gila seperti bunuh diri. So far, masih ada Yesus yang su baik yang kapala bisik sa pas sa lagi down, untuk bilang sa jang bunuh diri karna ada rencana – rencana besar di dalam sa hidup. Pokoknya kas smangat sa, walau teman – teman tra balas sa SMS curhat de el el.
Pagi ini sa merasa di-recharge energinya sama Yesus.
Sungguh eee, Tuhan itu baik. Amen.
(Manokwari, 290811; 12.17 p.m.; usai badai besar)
Antara Yeremia, Papua dan Uang
Tadi pagi, sekitar pukul 1 a.m, aku baru saja menyelesaikan rangkuman catatan kerja tahap 1 untuk pekerjaan penerjemah proyek perdagangan karbon selama 2 hari di Wasior agar dapat kukirimkan sebentar malam. Karna terlampau lelah, aku berpikir untuk ‘reciting small prayer’ dan tidur. Rupanya, apa yang diinginkan Tuhan berbeda tadi pagi. Pas mo berdoa, di dalam hatiku ada yang bilang begini, “Booo, ambil Alkitab n baca May, ada yang mo sa bagikan nih.” Dan saat suara itu datang, semua rasa lelah dan capai pun lenyap, yang ada malah bacaan yang kubaca bukan hanya 1 pasal tapi berlanjut hingga pasal – pasal berikutnya, dan menjadi seakan membaca novel. Sangat menyenangkan!
Tadi pagi, aku diajar tentang apa yang sedang direncanakan Tuhan atas Papua. Tentang sebuah sanksi, sebuah hukuman. Saat membacanya, entahlah … aku merasa Tuhan sudah terlalu menahan hati selama ini melihat hal ini; masalah ketidakjujuran dalam keuangan. Aku merasa tadi pagi itu Tuhan sedang geram dengan korupsi dan perilaku keuangan yang tidak jujur di atas tanah ini. Entahlah … apa Tuhan juga sedang ‘meninjau’ aplikasi dana Otsus dari atas sana? Entahlah … aku tak tahu.
Adapun pasal yang diminta agar kubaca terdapat di Yeremia 6: 9 – 15. Ada beberapa ayat yang dibahas dan diajarkan padaku dalam acara ‘bincang – bincang’ tadi pagi. Intisarinya seperti ini:
#1. Rescue everyone (selagi masih ada waktu) (Yer 6: 9)
Hukuman Allah sudah di depan mata, tak ada waktu menunggu karena saat hukuman itu datang, Allah tak akan menaruh belas kasihan sementara waktu. Yang Allah inginkan saat ini, kita harus berbagi kabar keselamatan dan ajakan bertobat pada siapa saja. Kata yang dipakai adalah ‘rescue’ alias menyelamatkan. Kata ini merujuk pada tindakan pertolongan dari keadaan yang genting, sulit dan penuh bahaya. Bahkan ada keterangan mendasar yang kudapat, yaitu ‘selagi masih ada waktu’. Bila kesempatannya sudah hilang, maka semua upaya akan sia – sia.
#2. Tuhan tidak suka ketidakjujuran keuangan (Yer 6: 13)
Dalam pembacaan ini jelas sekali disinggung tentang sikap Tuhan terhadap orang – orang yang tidak jujur dalam masalah keuangan. Bahkan ayat ini merujuk jelas bahwa bahkan tindakan korupsi tidak hanya dilakukan oleh orang biasa tetapi para rohaniwan. Tadi pagi jujur aku sedikit merasa merinding to some extent saat membaca ayat berikut dari Alkitab Good News-ku.
“I am going to punish the people of this land. Everyone, great and small, tries to make money DISHONESTLY; even prophets and priests cheat the people. They act as if my people’s wounds were only scratches. ‘All is well,’ they say when all is not well.” (Yer 6: 12b – 14)
Pagi tadi yang kutahu, saatnya sudah dekat, sangat dekat. Ada urgensi yang kurasakan untuk membagikan catatan ini di beberapa tempat yang kubisa. Saatnya mulai jujur dengan keuangan dan pendapatan yang kudapatkan.
Saat suara di hatiku menjelaskan bahwa ini tentang Papua, aku sadar bahwa ya memang itulah keadaan Papua saat ini. Saat di tempat – tempat yang masyarakatnya memerlukan bantuan, e dana – dana mereka malah diselewengkan. Ini bukan hanya dari hasil kunjunganku di Wasior beberapa hari silam, tetapi dari pantauanku selama ini. Entahlah … aku selalu bingung melihat bagaimana orang – orang di kotaku, di tanahku, di negara ini terbuai dengan banyaknya digit rupiah mereka. Sebenarnya, berapa banyak yang mereka butuhkan dalam hidup, sebanyak apakah uang yang mereka perlukan?
Program Otsus yang dirancang pemerintah hanya menyuburkan kelahiran orang – orang kaya baru yang entahlah berapa penghasilan sebulan mereka hingga bisa membeli mobil baru apalagi yang keluaran Amerika dalam hitungan bulan saat menjadi PNS, ataupun perpindahan jabatan dan posisi. Belum lagi acara sunat dana sana – sini. Aku semakin heran dan kerap bertanya, sebenarnya, berapa banyak sih uang yang dibutuhkan untuk bertahan hidup? Untuk bisa disebut manusia? Bukankah kebutuhan kita sebenarnya terbatas saja dan tak memerlukan banyak dana? Bukankah yang kita lakukan selama ini hanyalah MEMBELI KENYAMANAN dalam hidup kita? Bukankah apapun yang terjadi, sesederhana apapun yang kita miliki, kehidupan akan terus berlanjut?
Aku tidak memprotes mereka yang punya mobil baru, mobil mewah, rumah baru, rumah mewah, peralatan elektronik baru dan lain – lain. Itu HAK mereka selama mereka mendapatkannya dengan cara yang JUJUR! Semua orang berhak memperjuangkan hak mereka, berhak untuk menikmati hasil kekayaan mereka. toh di Alkitab tokoh – tokoh bangsa Israel BUKANLAH orang yang miskin papa. Lihat saja kekayaan Abraham, Isak, Yakub hingga Yusuf? Mereka bukan orang miskin. Sama sekali bukan. Tapi yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang kaya baru yang kutemukan di tanahku adalah para bapa bangsa Israel ini bekerja keras dan tentu saja mewarisi sifat dasar orang Yahudi yang perhitungan dan irit banget dalam berusaha, menciptakan komunitas dan rantai ketergantungan antar diri mereka sendiri, memajukan tak hanya diri mereka sendiri tapi klan, suku dan komunitas mereka. Ya mirip – mirip sifat dagangnya sebuah etnis dari Asia Timur, dan itu tidak salah. Mereka mendapatkan apa yang mereka usahakan sendiri dan bukan dari hasil KORUPSI, KOLUSI apalagi NEPOTISME!
Aku sangat terbeban dengan tanah ini, dengan kota ini, dengan masalah pendidikan perempuan, anak dan keadilan sosial di tanah ini dan aku percaya salah satu masalah mengapa urusan dan permasalahan di bidang ini terus terjadi karena HAK mereka dikorupsi, diambil dan dirampas oleh orang – orang yang tidak berhak dengan sistem yang manis, rapi terjalin tetapi jahat sungguh mati. Karena ada para pencuri – pencuri besar kecil yang berkemeja rapi, memakan dana – dana untuk perempuan,dan anak serta kaum marjinal di tanah ini.
Seandainya saja, para pencuri uang dan orang – orang tidak jujur ini mau berkaca pada pertanyaan sederhana, “Sebenarnya, berapa banyak sih UANG yang anda butuhkan untuk menjalankan hidup?” Bagaimana bila anda berada pada posisi orang yang anda curi uangnya? Entahlah … mungkin seperti kata Tuhan di ayat 15 dari pasal ini, “Were they ashamed because they did these disgusting things? No, they were not at all ashamed; they don’t even know how to blush.”
Pagi ini yang aku tahu, saatnya mengubah cara hidup khususnya mengenai uang, termasuk mengenai persepuluhan pada Tuhan, karena bila tak memberinya sama saja aku sudah mencuri milik Tuhan. Terima kasih Bapa, Yesus dan Roh Kudus, setidaknya bulan ini Kau berbaik hati memberi berkat dobol – dobol yang jumlahnya lebih dari yang kubutuhkan sebagai lajang.
Biarlah apa yang Tuhan pandang baik terjadi atas tanah ini, atas kota ini. Segala yang terjadi biarlah terjadi menurut kehendak Bapa di surga. Saatnya bersiap – siap! Amen.
(Manokwari, 290811; 11 a.m.)
Tadi pagi, aku diajar tentang apa yang sedang direncanakan Tuhan atas Papua. Tentang sebuah sanksi, sebuah hukuman. Saat membacanya, entahlah … aku merasa Tuhan sudah terlalu menahan hati selama ini melihat hal ini; masalah ketidakjujuran dalam keuangan. Aku merasa tadi pagi itu Tuhan sedang geram dengan korupsi dan perilaku keuangan yang tidak jujur di atas tanah ini. Entahlah … apa Tuhan juga sedang ‘meninjau’ aplikasi dana Otsus dari atas sana? Entahlah … aku tak tahu.
Adapun pasal yang diminta agar kubaca terdapat di Yeremia 6: 9 – 15. Ada beberapa ayat yang dibahas dan diajarkan padaku dalam acara ‘bincang – bincang’ tadi pagi. Intisarinya seperti ini:
#1. Rescue everyone (selagi masih ada waktu) (Yer 6: 9)
Hukuman Allah sudah di depan mata, tak ada waktu menunggu karena saat hukuman itu datang, Allah tak akan menaruh belas kasihan sementara waktu. Yang Allah inginkan saat ini, kita harus berbagi kabar keselamatan dan ajakan bertobat pada siapa saja. Kata yang dipakai adalah ‘rescue’ alias menyelamatkan. Kata ini merujuk pada tindakan pertolongan dari keadaan yang genting, sulit dan penuh bahaya. Bahkan ada keterangan mendasar yang kudapat, yaitu ‘selagi masih ada waktu’. Bila kesempatannya sudah hilang, maka semua upaya akan sia – sia.
#2. Tuhan tidak suka ketidakjujuran keuangan (Yer 6: 13)
Dalam pembacaan ini jelas sekali disinggung tentang sikap Tuhan terhadap orang – orang yang tidak jujur dalam masalah keuangan. Bahkan ayat ini merujuk jelas bahwa bahkan tindakan korupsi tidak hanya dilakukan oleh orang biasa tetapi para rohaniwan. Tadi pagi jujur aku sedikit merasa merinding to some extent saat membaca ayat berikut dari Alkitab Good News-ku.
“I am going to punish the people of this land. Everyone, great and small, tries to make money DISHONESTLY; even prophets and priests cheat the people. They act as if my people’s wounds were only scratches. ‘All is well,’ they say when all is not well.” (Yer 6: 12b – 14)
Pagi tadi yang kutahu, saatnya sudah dekat, sangat dekat. Ada urgensi yang kurasakan untuk membagikan catatan ini di beberapa tempat yang kubisa. Saatnya mulai jujur dengan keuangan dan pendapatan yang kudapatkan.
Saat suara di hatiku menjelaskan bahwa ini tentang Papua, aku sadar bahwa ya memang itulah keadaan Papua saat ini. Saat di tempat – tempat yang masyarakatnya memerlukan bantuan, e dana – dana mereka malah diselewengkan. Ini bukan hanya dari hasil kunjunganku di Wasior beberapa hari silam, tetapi dari pantauanku selama ini. Entahlah … aku selalu bingung melihat bagaimana orang – orang di kotaku, di tanahku, di negara ini terbuai dengan banyaknya digit rupiah mereka. Sebenarnya, berapa banyak yang mereka butuhkan dalam hidup, sebanyak apakah uang yang mereka perlukan?
Program Otsus yang dirancang pemerintah hanya menyuburkan kelahiran orang – orang kaya baru yang entahlah berapa penghasilan sebulan mereka hingga bisa membeli mobil baru apalagi yang keluaran Amerika dalam hitungan bulan saat menjadi PNS, ataupun perpindahan jabatan dan posisi. Belum lagi acara sunat dana sana – sini. Aku semakin heran dan kerap bertanya, sebenarnya, berapa banyak sih uang yang dibutuhkan untuk bertahan hidup? Untuk bisa disebut manusia? Bukankah kebutuhan kita sebenarnya terbatas saja dan tak memerlukan banyak dana? Bukankah yang kita lakukan selama ini hanyalah MEMBELI KENYAMANAN dalam hidup kita? Bukankah apapun yang terjadi, sesederhana apapun yang kita miliki, kehidupan akan terus berlanjut?
Aku tidak memprotes mereka yang punya mobil baru, mobil mewah, rumah baru, rumah mewah, peralatan elektronik baru dan lain – lain. Itu HAK mereka selama mereka mendapatkannya dengan cara yang JUJUR! Semua orang berhak memperjuangkan hak mereka, berhak untuk menikmati hasil kekayaan mereka. toh di Alkitab tokoh – tokoh bangsa Israel BUKANLAH orang yang miskin papa. Lihat saja kekayaan Abraham, Isak, Yakub hingga Yusuf? Mereka bukan orang miskin. Sama sekali bukan. Tapi yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang kaya baru yang kutemukan di tanahku adalah para bapa bangsa Israel ini bekerja keras dan tentu saja mewarisi sifat dasar orang Yahudi yang perhitungan dan irit banget dalam berusaha, menciptakan komunitas dan rantai ketergantungan antar diri mereka sendiri, memajukan tak hanya diri mereka sendiri tapi klan, suku dan komunitas mereka. Ya mirip – mirip sifat dagangnya sebuah etnis dari Asia Timur, dan itu tidak salah. Mereka mendapatkan apa yang mereka usahakan sendiri dan bukan dari hasil KORUPSI, KOLUSI apalagi NEPOTISME!
Aku sangat terbeban dengan tanah ini, dengan kota ini, dengan masalah pendidikan perempuan, anak dan keadilan sosial di tanah ini dan aku percaya salah satu masalah mengapa urusan dan permasalahan di bidang ini terus terjadi karena HAK mereka dikorupsi, diambil dan dirampas oleh orang – orang yang tidak berhak dengan sistem yang manis, rapi terjalin tetapi jahat sungguh mati. Karena ada para pencuri – pencuri besar kecil yang berkemeja rapi, memakan dana – dana untuk perempuan,dan anak serta kaum marjinal di tanah ini.
Seandainya saja, para pencuri uang dan orang – orang tidak jujur ini mau berkaca pada pertanyaan sederhana, “Sebenarnya, berapa banyak sih UANG yang anda butuhkan untuk menjalankan hidup?” Bagaimana bila anda berada pada posisi orang yang anda curi uangnya? Entahlah … mungkin seperti kata Tuhan di ayat 15 dari pasal ini, “Were they ashamed because they did these disgusting things? No, they were not at all ashamed; they don’t even know how to blush.”
Pagi ini yang aku tahu, saatnya mengubah cara hidup khususnya mengenai uang, termasuk mengenai persepuluhan pada Tuhan, karena bila tak memberinya sama saja aku sudah mencuri milik Tuhan. Terima kasih Bapa, Yesus dan Roh Kudus, setidaknya bulan ini Kau berbaik hati memberi berkat dobol – dobol yang jumlahnya lebih dari yang kubutuhkan sebagai lajang.
Biarlah apa yang Tuhan pandang baik terjadi atas tanah ini, atas kota ini. Segala yang terjadi biarlah terjadi menurut kehendak Bapa di surga. Saatnya bersiap – siap! Amen.
(Manokwari, 290811; 11 a.m.)
Itulah sebabnya saya menulis!
Malam ini saya memutuskan menulis lagi. Menulis yang bagiku seperti terapi bagi pikiran –pikiran yang berlarian ke sana kemari dan tak stabil seperti pikiran anak 3 tahun (playgroup kid) *itu kata psikologku dulu di Australia. Menulis yang mungkin hasilnya membosankan untuk dibaca, tapi malam ini saya mendapat sebuah alasan untuk menulis, untuk terus menulis dan untuk tetap percaya bahwa saya dilahirkan untuk menulis. Menulis tentang apa saja, menulis tentang siapa saja dan menulis tentang hidup. Hari ini saya belajar banyak tentang menulis dan entahlah mengapa semua yang terjadi hari ini, tanggal 26 Agustus 2011, menuntunku pada suatu aktivitas yang bernama MENULIS!
Sore tadi sesuai kesepakatan dengan seorang teman yang bekerja di sebuah LSM lingkungan, saya berkunjung ke sebuah areal teluk di Manokwari, yang kebetulan mayoritas penduduknya dari kaum marjinal (mayoritas bekerja sebagai nelayan, buruh pelabuhan, dan tenaga kasar). Ada kegiatan pendampingan masyarakat khususnya program pendidikan alternatif untuk anak – anak di sana. Sore tadi hanya memantau apa yang bisa saya lakukan dan sekaligus melihat apa yang dapat diamati sebagai bahan masukan ataupun pertimbangan bagi program temanku. Sore tadi, anak – anak yang datang ke tempat yang dipakai (kantor Lurah) hampir 20 orang. Bocah – bocah asli Papua berusia kurang dari 8 tahun itu datang dengan keceriaan dan kadang kebandelan mereka masing – masing. Berlarian sana – sini, berteriak, menjerit dan ‘baku ganggu’ tak henti – hentinya. Hingga saat kami belajar dimulai dan saya pun menemukan alasan mengapa saya harus berada di tempat ini.
Guess what? Ternyata ada hampir 5 anak sore itu yang berumur hampir 8 tahun dan masih kesulitan mengidentifikasikan huruf apalagi merangkai dua-huruf lebih, dan mereka bocah – bocah perempuan. Sore tadi, saya meminta mereka dipisahkan di meja tersendiri dan saya mulai mengajar dan menguji kemampuan mereka. Lebih dari 30 menit kucoba melihat kemampuan baca-tulis mereka dan menemukan bahwa seseorang dari mereka, bocah perempuan di kelas dua SD yang kemungkinan besar mempunyai kesulitan baca-tulis sejenis ‘dyslexia’ alias ‘unable to recognize letters’. Bukan karena ia tak tahu apa itu huruf atau kemampuan ingatan yang lemah. Sama sekali bukan. Saya mengujinya hampir sejam lebih bersama teman – temannya yang lain. 4 bocah lainnya bisa mengikuti simulasi pergerakan coretan huruf – huruf yang kutulis dengan mudah walau tak sempurna, sedang si bocah ini berulang kali kuminta ia mengikutiku membentuk huruf semudah ‘K’ tetapi ia selalu salah menarik garis, bahkan huruf ‘e’ perlu diulang lebih dari 10 kali, hanya agar ia tak menulisnya seperti ‘ɕ’ ataupun ‘ə’, itupun masih jauh dari apa yang kuharapkan. Huruf ‘T’ dan ‘t’ pun mengalami hal yang sama, selalu terbalik ataupun miring, kadang seperti melihat refleksinya di dalam cermin.
Sore tadi, saya samar – samar mengingat perkataan dalam sebuah film yang menginspirasiku akhir – akhir ini, sebuah film India yang dibintangi Amir Khan pada tahun 2007 “Taare Zameen par”. Dalam film itu Amir Khan yang berperan sebagai ‘Ram Shankar Nikumbh’ berkata bahwa “Agar dapat membaca dan menulis, sangat penting untuk menghubungkan bunyi dengan simbol guna mengetahui arti dari kata”. Itulah yang kudapatkan sore tadi, bagaimana melihat perjuangan keras kelima bocah perempuan tadi berusaha sebisa mungkin menghubungkan simbol yang tertera di kertas mereka dengan bunyi yang dikeluarkan pita suara mereka. Saya tak akan menyerah untuk hal ini, pasti ada sebuah cara untuk mengenalkan huruf dan bagaimana merangkaikan huruf membentuk kata, membentuk bunyi, membentuk arti; Bagaimana mempersepsikan simbol dalam rangkaian bunyi. Saya pasti menemukannya untuk mereka! Pasti!!!
Melihat mereka, saya seakan terlempar ribuan mil jauhnya ke belakang, melihat perjalanan hidup saya sendiri, dengan perihal baca-tulis. Saya merasa bersyukur untuk hidupku, untuk semua kebaikan yang kuterima, sebuah anugerah dan persepsi yang cepat untuk selalu cepat mengenali simbol huruf Latin dan menghubungkannya dengan bunyi di dalam bahasa ibu, karena bagaimanapun saya jauh lebih beruntung dibanding para bocah perempuan ini karena sudah lancar membaca sejak sebelum masuk TK. Sewaktu TK, sebuah majalah Bobo sudah bisa saya tamatkan kurang dari sehari, dan seiring dengan usia sebelum tamat SD, bacaanku pun mulai bervariasi dari Majalah Intisari, koleksian buku Balai Pustaka, komik Donald Bebek, Trigan, Nina hingga novel Kho Ping Ho yang semuanya milik tetangga, dari cerita mini biografi tokoh – tokoh dunia hingga koleksi ensiklopedia. Bahkan saking hausnya pada bahan bacaan, saya kerap memungut lembaran koran bekas pisang goreng yang kumakan sebagai bahan bacaan ataupun majalah yang dibuang di tempat sampah. Menikmati tarian huruf – huruf yang lincah beterbangan di benakku, mengajakku masuk dalam realme makna. Sayangnya, sampai sekarang, saya tak pernah suka menilik buku lebih dari selembar apalagi membaca novel karya Fredy S. HAHAHA.
Malam ini, saya disadarkan bahwa kemampuan bisa mengenali simbol dalam hal ini huruf dan membunyikannya, merangkainya dalam makna apalagi dalam beberapa varian bahasa sebagai sesuatu hal yang HARUS kusyukuri. Yang tak boleh hanya sekedar saya syukuri tetapi sebisa mungkin membaginya pada mereka yang lain; yang mungkin membutuhkannya. Saya merasa bersyukur pula, saat ini, saat anda mulai membaca catatan ini, anda sedang melihat sebuah keajaiban, anda sedang turut dalam sebuah keajaiban yang mungkin hanya ada anggap hal biasa, ‘a miracle taken for granted’! Anda bisa membaca huruf Latin khususnya dalam bahasa Indonesia. Sebuah pencapaian dibanding beberapa juta orang di negara ini yang tak bisa membaca, apalagi mengakses piranti elektronik penyedia tulisan ini.
Di saat anda bisa membaca dan menulis, anda sedang melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah anda sendiri. Sesuatu yang mungkin tak dapat dilakukan oleh beberapa generasi nenek moyang sebelum anda. Sesuatu yang membuat apa yang anda lakukan mendapat legitimasi dan pengesahan. Sesuatu yang kata para sejahrawan, memasuki jaman ‘sejarah’. You have just made your own history, mate!!!
Malam ini, entahlah mengapa saya harus menonton pula film yang dibintangi Denzel Washington, “The Hurricane”; salah satu film yang sekarang akan menjadi salah satu film yang menginspirasi saya seperti juga film Denzel lainnya (saya selalu tergila – gila dengan film – filmnya). Saya ingat perkataan Rubin ‘Hurricane’ Carter yang diperankan Denzell kepada soerang remaja bernama Lesra yang kelak menjadi salah satu sahabat dan penyemangatnya, “Writing is a miracle and it is greater than a weapon. That is why, I learn to read and write.” Ya, dari hidupnya, saya belajar bahwa menulis, dengan menuangkan apa yang subtil dalam alam bawah sadar kita; yang berlarian dalam otak kita, kita sedang membuat sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang menjadi salah satu dasar warisan kita kepada generasi berikutnya, sebuah warisan yang bisa kita wariskan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja.
Saya percaya, hidup kita hanya sekali, hanya sekali saja, saudara – saudari. Kita mungkin tak bisa mewariskan emas yang sangat banyak bagi anak cucu kita kelak, perhiasan, tanah ataupun kekayaan – kekayaan fisik. Tapi bukankah kita, manusia – manusia yang diisi dan ditempa oleh hidup, yang sering dipermainkan nasib, yang sering patah hati, jatuh cinta, dilanda kesepian dan disirami kebahagiaan dan mempunyai banyak kegembiraan hidup mempunyai kisah – kisah yang dapat mengilhami, memberi inspirasi ataupun sekedar menghibur mereka yang kelak menjadi anak cucu kita? Bukankah hidup kita adalah rentetan – rentetan episode – episode hidup yang lebih dahsyat, romantis, heboh, tragis ataupun sedih melebihi film produksi Hollywood, Bollywood ataupun bokep? Bukankah kita, tiap kita, adalah karakter – karakter yang aktingnya lebih natural dibanding pemain film manapun?
Malam ini, sekali lagi saya merasakan such invisible hands menuntun saya untuk menemukan beberapa hal lainnya yang lagi – lagi bicara tentang ‘menulis’ sebagaimana yang saya temukan dalam sebuah bacaan Alkitab saya malam ini di Mazmur 102: 18, yang berbunyi: ”Write down for the coming generation what the LORD has done, so that people not yet born will praise Him.” Ataupun mengingat pembicaraan beberapa jam lalu dengan sahabat saya; Amos, di pondoknya tentang proyek blog kami masing – masing, tentang gaya menulisnya yang segar dan tertawa membahas tulisan kami. Tiba – tiba saya tahu bahwa saya akan tetap menulis, dan terus menulis. Menulis untuk menertawakan hidup saya, menangisi ataupun meratapi nasib ataupun sekedar mengasihani diri sendiri, dan juga menguatkan saya. Karena saya tahu, itulah sebabnya saya menulis.
Malam ini, saya tahu, saya hanya orang biasa dengan mimpi – mimpi dan pikiran – pikiran kanak – kanak yang masih terperangkap dalam tubuh perempuan yang hampir berusia 28 tahun tiga minggu lagi. Saya tahu saya akan tetap menulis, karna itulah satu – satunya warisan yang bisa saya bagikan dan wariskan kelak pada anak cucu saya, pada keponakan – keponakan saya bila kelak saya tak bersama – sama mereka lagi. Mewariskan kisah – kisah kebodohan yang pernah saya jalani, mewariskan mimpi – mimpi saya, mewariskan pencapaian, ketololan ataupun kejujuran dari versinya saya sendiri. Berharap mereka akan mengenang dan mengenal saya lewat apa yang saya tuliskan beberapa tahun silam.
Saya ingin hidup bagi mereka dalam tulisan – tulisan saya, saya ingin tetap menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka walau hanya lewat tulisan. Mungkin pada saat ini saya ingin menjadi sentimental seperti ‘Tina’ yang diperankan Rani Mukerjee dalam Kuch – Kuch Hota Hai yang mewariskan surat – surat panjang untuk anaknya Anjali. Entahlah … malam ini saya berjanji bahwa saya tak akan berhenti menulis karena menulis yang membuat saya merasa merdeka, di mana tak ada satupun yang dapat mengikat dan memenjarakan saya seperti yang saya pelajari dari Rubin Carter dalam film tadi. Sama seperti kata J.K. Rowling dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey, “For my mental health, I will keep writing”.
Itulah sebabnya saya menulis!
Bagaimana dengan anda?
(Manokwari, 270811; ekstrasi momen tentang ‘menulis’. Betapa leganya!)
Sore tadi sesuai kesepakatan dengan seorang teman yang bekerja di sebuah LSM lingkungan, saya berkunjung ke sebuah areal teluk di Manokwari, yang kebetulan mayoritas penduduknya dari kaum marjinal (mayoritas bekerja sebagai nelayan, buruh pelabuhan, dan tenaga kasar). Ada kegiatan pendampingan masyarakat khususnya program pendidikan alternatif untuk anak – anak di sana. Sore tadi hanya memantau apa yang bisa saya lakukan dan sekaligus melihat apa yang dapat diamati sebagai bahan masukan ataupun pertimbangan bagi program temanku. Sore tadi, anak – anak yang datang ke tempat yang dipakai (kantor Lurah) hampir 20 orang. Bocah – bocah asli Papua berusia kurang dari 8 tahun itu datang dengan keceriaan dan kadang kebandelan mereka masing – masing. Berlarian sana – sini, berteriak, menjerit dan ‘baku ganggu’ tak henti – hentinya. Hingga saat kami belajar dimulai dan saya pun menemukan alasan mengapa saya harus berada di tempat ini.
Guess what? Ternyata ada hampir 5 anak sore itu yang berumur hampir 8 tahun dan masih kesulitan mengidentifikasikan huruf apalagi merangkai dua-huruf lebih, dan mereka bocah – bocah perempuan. Sore tadi, saya meminta mereka dipisahkan di meja tersendiri dan saya mulai mengajar dan menguji kemampuan mereka. Lebih dari 30 menit kucoba melihat kemampuan baca-tulis mereka dan menemukan bahwa seseorang dari mereka, bocah perempuan di kelas dua SD yang kemungkinan besar mempunyai kesulitan baca-tulis sejenis ‘dyslexia’ alias ‘unable to recognize letters’. Bukan karena ia tak tahu apa itu huruf atau kemampuan ingatan yang lemah. Sama sekali bukan. Saya mengujinya hampir sejam lebih bersama teman – temannya yang lain. 4 bocah lainnya bisa mengikuti simulasi pergerakan coretan huruf – huruf yang kutulis dengan mudah walau tak sempurna, sedang si bocah ini berulang kali kuminta ia mengikutiku membentuk huruf semudah ‘K’ tetapi ia selalu salah menarik garis, bahkan huruf ‘e’ perlu diulang lebih dari 10 kali, hanya agar ia tak menulisnya seperti ‘ɕ’ ataupun ‘ə’, itupun masih jauh dari apa yang kuharapkan. Huruf ‘T’ dan ‘t’ pun mengalami hal yang sama, selalu terbalik ataupun miring, kadang seperti melihat refleksinya di dalam cermin.
Sore tadi, saya samar – samar mengingat perkataan dalam sebuah film yang menginspirasiku akhir – akhir ini, sebuah film India yang dibintangi Amir Khan pada tahun 2007 “Taare Zameen par”. Dalam film itu Amir Khan yang berperan sebagai ‘Ram Shankar Nikumbh’ berkata bahwa “Agar dapat membaca dan menulis, sangat penting untuk menghubungkan bunyi dengan simbol guna mengetahui arti dari kata”. Itulah yang kudapatkan sore tadi, bagaimana melihat perjuangan keras kelima bocah perempuan tadi berusaha sebisa mungkin menghubungkan simbol yang tertera di kertas mereka dengan bunyi yang dikeluarkan pita suara mereka. Saya tak akan menyerah untuk hal ini, pasti ada sebuah cara untuk mengenalkan huruf dan bagaimana merangkaikan huruf membentuk kata, membentuk bunyi, membentuk arti; Bagaimana mempersepsikan simbol dalam rangkaian bunyi. Saya pasti menemukannya untuk mereka! Pasti!!!
Melihat mereka, saya seakan terlempar ribuan mil jauhnya ke belakang, melihat perjalanan hidup saya sendiri, dengan perihal baca-tulis. Saya merasa bersyukur untuk hidupku, untuk semua kebaikan yang kuterima, sebuah anugerah dan persepsi yang cepat untuk selalu cepat mengenali simbol huruf Latin dan menghubungkannya dengan bunyi di dalam bahasa ibu, karena bagaimanapun saya jauh lebih beruntung dibanding para bocah perempuan ini karena sudah lancar membaca sejak sebelum masuk TK. Sewaktu TK, sebuah majalah Bobo sudah bisa saya tamatkan kurang dari sehari, dan seiring dengan usia sebelum tamat SD, bacaanku pun mulai bervariasi dari Majalah Intisari, koleksian buku Balai Pustaka, komik Donald Bebek, Trigan, Nina hingga novel Kho Ping Ho yang semuanya milik tetangga, dari cerita mini biografi tokoh – tokoh dunia hingga koleksi ensiklopedia. Bahkan saking hausnya pada bahan bacaan, saya kerap memungut lembaran koran bekas pisang goreng yang kumakan sebagai bahan bacaan ataupun majalah yang dibuang di tempat sampah. Menikmati tarian huruf – huruf yang lincah beterbangan di benakku, mengajakku masuk dalam realme makna. Sayangnya, sampai sekarang, saya tak pernah suka menilik buku lebih dari selembar apalagi membaca novel karya Fredy S. HAHAHA.
Malam ini, saya disadarkan bahwa kemampuan bisa mengenali simbol dalam hal ini huruf dan membunyikannya, merangkainya dalam makna apalagi dalam beberapa varian bahasa sebagai sesuatu hal yang HARUS kusyukuri. Yang tak boleh hanya sekedar saya syukuri tetapi sebisa mungkin membaginya pada mereka yang lain; yang mungkin membutuhkannya. Saya merasa bersyukur pula, saat ini, saat anda mulai membaca catatan ini, anda sedang melihat sebuah keajaiban, anda sedang turut dalam sebuah keajaiban yang mungkin hanya ada anggap hal biasa, ‘a miracle taken for granted’! Anda bisa membaca huruf Latin khususnya dalam bahasa Indonesia. Sebuah pencapaian dibanding beberapa juta orang di negara ini yang tak bisa membaca, apalagi mengakses piranti elektronik penyedia tulisan ini.
Di saat anda bisa membaca dan menulis, anda sedang melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah anda sendiri. Sesuatu yang mungkin tak dapat dilakukan oleh beberapa generasi nenek moyang sebelum anda. Sesuatu yang membuat apa yang anda lakukan mendapat legitimasi dan pengesahan. Sesuatu yang kata para sejahrawan, memasuki jaman ‘sejarah’. You have just made your own history, mate!!!
Malam ini, entahlah mengapa saya harus menonton pula film yang dibintangi Denzel Washington, “The Hurricane”; salah satu film yang sekarang akan menjadi salah satu film yang menginspirasi saya seperti juga film Denzel lainnya (saya selalu tergila – gila dengan film – filmnya). Saya ingat perkataan Rubin ‘Hurricane’ Carter yang diperankan Denzell kepada soerang remaja bernama Lesra yang kelak menjadi salah satu sahabat dan penyemangatnya, “Writing is a miracle and it is greater than a weapon. That is why, I learn to read and write.” Ya, dari hidupnya, saya belajar bahwa menulis, dengan menuangkan apa yang subtil dalam alam bawah sadar kita; yang berlarian dalam otak kita, kita sedang membuat sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang menjadi salah satu dasar warisan kita kepada generasi berikutnya, sebuah warisan yang bisa kita wariskan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja.
Saya percaya, hidup kita hanya sekali, hanya sekali saja, saudara – saudari. Kita mungkin tak bisa mewariskan emas yang sangat banyak bagi anak cucu kita kelak, perhiasan, tanah ataupun kekayaan – kekayaan fisik. Tapi bukankah kita, manusia – manusia yang diisi dan ditempa oleh hidup, yang sering dipermainkan nasib, yang sering patah hati, jatuh cinta, dilanda kesepian dan disirami kebahagiaan dan mempunyai banyak kegembiraan hidup mempunyai kisah – kisah yang dapat mengilhami, memberi inspirasi ataupun sekedar menghibur mereka yang kelak menjadi anak cucu kita? Bukankah hidup kita adalah rentetan – rentetan episode – episode hidup yang lebih dahsyat, romantis, heboh, tragis ataupun sedih melebihi film produksi Hollywood, Bollywood ataupun bokep? Bukankah kita, tiap kita, adalah karakter – karakter yang aktingnya lebih natural dibanding pemain film manapun?
Malam ini, sekali lagi saya merasakan such invisible hands menuntun saya untuk menemukan beberapa hal lainnya yang lagi – lagi bicara tentang ‘menulis’ sebagaimana yang saya temukan dalam sebuah bacaan Alkitab saya malam ini di Mazmur 102: 18, yang berbunyi: ”Write down for the coming generation what the LORD has done, so that people not yet born will praise Him.” Ataupun mengingat pembicaraan beberapa jam lalu dengan sahabat saya; Amos, di pondoknya tentang proyek blog kami masing – masing, tentang gaya menulisnya yang segar dan tertawa membahas tulisan kami. Tiba – tiba saya tahu bahwa saya akan tetap menulis, dan terus menulis. Menulis untuk menertawakan hidup saya, menangisi ataupun meratapi nasib ataupun sekedar mengasihani diri sendiri, dan juga menguatkan saya. Karena saya tahu, itulah sebabnya saya menulis.
Malam ini, saya tahu, saya hanya orang biasa dengan mimpi – mimpi dan pikiran – pikiran kanak – kanak yang masih terperangkap dalam tubuh perempuan yang hampir berusia 28 tahun tiga minggu lagi. Saya tahu saya akan tetap menulis, karna itulah satu – satunya warisan yang bisa saya bagikan dan wariskan kelak pada anak cucu saya, pada keponakan – keponakan saya bila kelak saya tak bersama – sama mereka lagi. Mewariskan kisah – kisah kebodohan yang pernah saya jalani, mewariskan mimpi – mimpi saya, mewariskan pencapaian, ketololan ataupun kejujuran dari versinya saya sendiri. Berharap mereka akan mengenang dan mengenal saya lewat apa yang saya tuliskan beberapa tahun silam.
Saya ingin hidup bagi mereka dalam tulisan – tulisan saya, saya ingin tetap menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka walau hanya lewat tulisan. Mungkin pada saat ini saya ingin menjadi sentimental seperti ‘Tina’ yang diperankan Rani Mukerjee dalam Kuch – Kuch Hota Hai yang mewariskan surat – surat panjang untuk anaknya Anjali. Entahlah … malam ini saya berjanji bahwa saya tak akan berhenti menulis karena menulis yang membuat saya merasa merdeka, di mana tak ada satupun yang dapat mengikat dan memenjarakan saya seperti yang saya pelajari dari Rubin Carter dalam film tadi. Sama seperti kata J.K. Rowling dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey, “For my mental health, I will keep writing”.
Itulah sebabnya saya menulis!
Bagaimana dengan anda?
(Manokwari, 270811; ekstrasi momen tentang ‘menulis’. Betapa leganya!)
Tuesday, 23 August 2011
Pagi, Kopi dan Sepotong Firman
Pagi yang panas. Bangun terlambat, sekitar pukul 8.30 a.m. Kelelahan sekali, sisa dari jogging dua hari lalu putar satu gunung, kerja, bajalan sana – sini plus kejar orderan terjemahan. Satu kata untuk semua; LELAH!!!!
Mood pagi ini jujur sedikit mellow. Mungkin lagi masuk masa transisi kembali. Tapi aku tahu jelas alasannya. Bukan karena cinta. Bukan sama sekali. Itulah sebabnya aku memilih ngopi pagi – pagi, dengan kopi jenis Arabica. Mereka bilang ‘kopi Toraja’. Entahlah … aku butuh penyemangat. Setidaknya kopi bisa membantuku. Tak lupa aku memilih membaca Firman pagi ini. Mungkin pendeta jemaatku dalam khotbah minggu kemarin memang benar, kadang orang Kristen hanya menganggap Tuhan sebagai ‘Apotik’ dan Alkitab sebagai konkordansi pecari resep obat. Entahlah … pagi ini, yang aku tahu aku butuh Tuhan. Untuk menjawab kegundahan hatiku, mencoba menelikung semangat yang mulai redup ini.
Kopi kusesap perlahan, mulus melewati tenggorokan. Tak peduli dengan asam lambung yang mungkin menggelegak. Semalam … ah semalam, pembicaraan kami seperti biasa, ada fakta – fakta kecil yang selalu membuatku sedikit kaget. Ya, masalah bagaimana sikap orang tua melihat pembagian “hak” kami sebagai anak, apalagi yang berkaitan dengan nilai nominal Rupiah. Lagi – lagi karena aku perempuan. Bukan masalah besaran Rupiahnya yang kupermasalahkan, tapi karena masalahnya cara pembagiannya hanyalah karena aku lajang dan perempuan. As simple as that. Gender-based keputusannya. Miris!!!
Pagi ini jujur tak terlalu menyenangkan moodku, tapi karna di dalam hatiku diingatkan untuk baca Firman, e ketemu Yosua 1: 10 – 18. Ternyata akubelajar tentang janji Tuhan di sana, belajar tentang sikap yang benar menyingkapi apa yang menjadi hakku. Aku belajar banyak dari Firman ini. Belajar bahwa selama ini Tuhan tak ingin aku menerima sesuatu for granted dari siapapun, tapi Ia ingin aku bekerja keras untuk memperolehnya, merebutnya untuk diriku sendiri dan tidak menjadi pemalas yang berharap pada orang lain. Jadi hanya aku dan Dia yang berperkara. Aku berusaha dan Ia yang melihat usahaku dan memberikan sesuai dengan kemurahan-Nya.
Ada 3 pokok yang kudapatkan tentang sikap yang harus kubuat sesuai dengan kitab Yosua ini, apalagi terkait dengan pemikiranku akhir – akhir ini untuk kabur atau pergi menerima kerjaan di tempat lain di luar Manokwari, ya pokoknya kabur dari Manokwari dengan alasan jelas.
#1. Harus berani CROSS OVER alias menyeberang ke tempat yang penuh tantangan (Yosua 1: 14)
Cerita tentang tentara Israel yang melengkapi diri mereka untuk pergi menyeberang Yordan guna menaklukan daerah baru itu sama seperti hidup ini. Masalah, tantangan pasti ada. Sudah saatnya aku keluar dari zona nyaman perlindungan selama ini, melengkapi diriku dan pergi. Bukan untuk kalah, tapi untuk menjadi pemenang, menjalani panggilan dan tantanganku. Menjadi apa yang diminta Tuhan. Jadi saatnya mulai berpikir dan memberanikan diri untuk CROSS OVER batasan.
Pagi ini aku teringat pada beberapa tawaran kerja di luar Manokwari, dan aku tahu kalau aku sudha harus mulai memikirkannya. Aku juga diingatkan dengan mood mellow dan kondisi moody-ku, sudah saatnya cross over it. Aku tak mau sia – sia depresi karna barang bodok ini. setidaknya aku memilih berdoa dan ngopi ‘n forget about it. That’s all.
Yang pasti, saat ini aku sedang mencari second opinion tentang tempat yang ingin kutuju termasuk dari Q. Ya, mungkin sementara itu dulu.
#2. DO & GO (Yosua 1: 16)
Ini tentu saja bukan iklan plesetan dari Dolce and Gabanna alias D & G, tapi sikap bangsa Israel sewaktu di-briefing sama Yosua. Mereka bilang begini (versi Good News Bible), “We will DO everything you have told us and will GO wherever you send us.”
Itu sikap yang ingin kuadopsi saat ini. Kerelaan menerima sebuah keputusan dan perintah dan kesediaan untuk melaksanakannya termasuk PERGI kemanapun kita ditempatkan.
Aku hanya merasa ayat ini menjadi penguatku yang esok hari akan mengunjungi tempat baru demi kerjaanku dan akan balik ke Manokwari, padahal ada tes penting yang harus kulakukan. Entahlah, tapi aku merasa aku harus pergi. Plus ada juga tawaran untuk pergi ke tempat lain. Aku akan melakukannya. We’ll wait and see. Yang pasti, I will do and go!!!
#3. Be DETERMINED & CONFIDENT (Yosua 1: 18)
Ini sikap lain yang harus kuadopsi. Dalam bacaan Firmanku pagi ini, aku belajar bahwa keteguhan hati dan kepercayaan diri adalah hal yang penting. Jadi lebih merujuk pada kesiapan pribadi dan mental. Kalo Do & Go merujuk pada aksi atau tindakan secara fisik yang bisa dilihat, maka Keteguhan hati dan kepercayaan diri adalah sikap mental.
Dari pembacaan pagi ini aku belajar banyak tentang hidupku. Jadi sewaktu dihadapkan dengan sebuah tantangan, aku harus CROSS OVER it dilengkapi dengan kerelaan untuk DO atau melakukan perintah dan kesediaan untuk GO atau pergi ke tempat – tempat yang harus kukunjungi guna meraih kemenanganm yang tentu saja dengan sikap penuh keteguhan hati alias DETERMINED dan percaya diri atau CONFIDENCE.
Thanx Bapa, Yesus, Roh Kudus untuk pelajaran di pagi yang panas ini. Amen.
(Manokwari, 230811; learn a lot)
Mood pagi ini jujur sedikit mellow. Mungkin lagi masuk masa transisi kembali. Tapi aku tahu jelas alasannya. Bukan karena cinta. Bukan sama sekali. Itulah sebabnya aku memilih ngopi pagi – pagi, dengan kopi jenis Arabica. Mereka bilang ‘kopi Toraja’. Entahlah … aku butuh penyemangat. Setidaknya kopi bisa membantuku. Tak lupa aku memilih membaca Firman pagi ini. Mungkin pendeta jemaatku dalam khotbah minggu kemarin memang benar, kadang orang Kristen hanya menganggap Tuhan sebagai ‘Apotik’ dan Alkitab sebagai konkordansi pecari resep obat. Entahlah … pagi ini, yang aku tahu aku butuh Tuhan. Untuk menjawab kegundahan hatiku, mencoba menelikung semangat yang mulai redup ini.
Kopi kusesap perlahan, mulus melewati tenggorokan. Tak peduli dengan asam lambung yang mungkin menggelegak. Semalam … ah semalam, pembicaraan kami seperti biasa, ada fakta – fakta kecil yang selalu membuatku sedikit kaget. Ya, masalah bagaimana sikap orang tua melihat pembagian “hak” kami sebagai anak, apalagi yang berkaitan dengan nilai nominal Rupiah. Lagi – lagi karena aku perempuan. Bukan masalah besaran Rupiahnya yang kupermasalahkan, tapi karena masalahnya cara pembagiannya hanyalah karena aku lajang dan perempuan. As simple as that. Gender-based keputusannya. Miris!!!
Pagi ini jujur tak terlalu menyenangkan moodku, tapi karna di dalam hatiku diingatkan untuk baca Firman, e ketemu Yosua 1: 10 – 18. Ternyata akubelajar tentang janji Tuhan di sana, belajar tentang sikap yang benar menyingkapi apa yang menjadi hakku. Aku belajar banyak dari Firman ini. Belajar bahwa selama ini Tuhan tak ingin aku menerima sesuatu for granted dari siapapun, tapi Ia ingin aku bekerja keras untuk memperolehnya, merebutnya untuk diriku sendiri dan tidak menjadi pemalas yang berharap pada orang lain. Jadi hanya aku dan Dia yang berperkara. Aku berusaha dan Ia yang melihat usahaku dan memberikan sesuai dengan kemurahan-Nya.
Ada 3 pokok yang kudapatkan tentang sikap yang harus kubuat sesuai dengan kitab Yosua ini, apalagi terkait dengan pemikiranku akhir – akhir ini untuk kabur atau pergi menerima kerjaan di tempat lain di luar Manokwari, ya pokoknya kabur dari Manokwari dengan alasan jelas.
#1. Harus berani CROSS OVER alias menyeberang ke tempat yang penuh tantangan (Yosua 1: 14)
Cerita tentang tentara Israel yang melengkapi diri mereka untuk pergi menyeberang Yordan guna menaklukan daerah baru itu sama seperti hidup ini. Masalah, tantangan pasti ada. Sudah saatnya aku keluar dari zona nyaman perlindungan selama ini, melengkapi diriku dan pergi. Bukan untuk kalah, tapi untuk menjadi pemenang, menjalani panggilan dan tantanganku. Menjadi apa yang diminta Tuhan. Jadi saatnya mulai berpikir dan memberanikan diri untuk CROSS OVER batasan.
Pagi ini aku teringat pada beberapa tawaran kerja di luar Manokwari, dan aku tahu kalau aku sudha harus mulai memikirkannya. Aku juga diingatkan dengan mood mellow dan kondisi moody-ku, sudah saatnya cross over it. Aku tak mau sia – sia depresi karna barang bodok ini. setidaknya aku memilih berdoa dan ngopi ‘n forget about it. That’s all.
Yang pasti, saat ini aku sedang mencari second opinion tentang tempat yang ingin kutuju termasuk dari Q. Ya, mungkin sementara itu dulu.
#2. DO & GO (Yosua 1: 16)
Ini tentu saja bukan iklan plesetan dari Dolce and Gabanna alias D & G, tapi sikap bangsa Israel sewaktu di-briefing sama Yosua. Mereka bilang begini (versi Good News Bible), “We will DO everything you have told us and will GO wherever you send us.”
Itu sikap yang ingin kuadopsi saat ini. Kerelaan menerima sebuah keputusan dan perintah dan kesediaan untuk melaksanakannya termasuk PERGI kemanapun kita ditempatkan.
Aku hanya merasa ayat ini menjadi penguatku yang esok hari akan mengunjungi tempat baru demi kerjaanku dan akan balik ke Manokwari, padahal ada tes penting yang harus kulakukan. Entahlah, tapi aku merasa aku harus pergi. Plus ada juga tawaran untuk pergi ke tempat lain. Aku akan melakukannya. We’ll wait and see. Yang pasti, I will do and go!!!
#3. Be DETERMINED & CONFIDENT (Yosua 1: 18)
Ini sikap lain yang harus kuadopsi. Dalam bacaan Firmanku pagi ini, aku belajar bahwa keteguhan hati dan kepercayaan diri adalah hal yang penting. Jadi lebih merujuk pada kesiapan pribadi dan mental. Kalo Do & Go merujuk pada aksi atau tindakan secara fisik yang bisa dilihat, maka Keteguhan hati dan kepercayaan diri adalah sikap mental.
Dari pembacaan pagi ini aku belajar banyak tentang hidupku. Jadi sewaktu dihadapkan dengan sebuah tantangan, aku harus CROSS OVER it dilengkapi dengan kerelaan untuk DO atau melakukan perintah dan kesediaan untuk GO atau pergi ke tempat – tempat yang harus kukunjungi guna meraih kemenanganm yang tentu saja dengan sikap penuh keteguhan hati alias DETERMINED dan percaya diri atau CONFIDENCE.
Thanx Bapa, Yesus, Roh Kudus untuk pelajaran di pagi yang panas ini. Amen.
(Manokwari, 230811; learn a lot)
Q Return
Entah malam ini malam ke berapa aku melakukan proses detoksifikasi perasaan. Entahlah, mungkin karena dikejar pekerjaan plus sudah ada rutinitas, pikiran ke Q sudah tak seintens biasanya WALAU memang kadang masih kepikiran tapi bebannya tak seperti biasa.
Guess what? Malam minggu kemarin, usai pulang menggosip di rumah sahabatku, sudah jam 12 malam kurang, si Q mengirimiku SMS. Entahlah de takena apa begitu … padahal sejak acara ungkap bin ungkap, suasana pun sunyi. Aman, terkendali …. Tertib!! Jadi SMS si Q di tengah malam benar – benar mengubah mood-ku. Jujur malam itu aku mo ketawa. Kena apa si nih anak? SMSnya standar banget, “Selamat malam minggu buat kuli pena”. Kayak mo ketawa beneran … Mudah – mudahan ini bukan karena status FBku yang memang lagi terkena euforia ‘mas ganteng’, ya iyalah … dengan jelas kutulis, “Ah hidup ini indah, seindah tampang mas ganteng ….”.
Entah apa yang dipikirkan Q malam itu. Awalnya hanya dari selamat malam, e menjalar ke jenis SMS pedenya yang kadang bikin ‘ganas’ seperti malam itu dengan pedenya ia bilang, “sa tahu dirimu pasti sedang memikirkanku hehehe”. Kepedean banget deh … padahal malam itu salah satu malam free-ku dan malam itu yang kupikirkan malah kejadian insiden SMA Oik karena tawurannya terjadi di depan mataku, kala melihat orang digebukin seperti anjing yang digigit ramai – ramai. Jadi masih kepikiran.
Malam itu si Q terang – terangan bilang ia tak percaya aku mengidap bipolar, ia bilang sikapku terlalu dibuat – buat dan juga ia bilang sikapku yang aneh karena terlalu banyak membaca. Ketika aku menyindirnya tentang sikapnya tentang bipolarku, karena kurang baca tetapi lebih suka nonton bokep … e ia bilang nonton bokep lebih bijak dan nyata dibandingkan imajinasiku dan dunia khayalanku yang aneh. Terang saja ada yang menggelegak di dada dan langsung saja, kuberi nasehat satu bab, termasuk dengan perkataan andalanku, “hahaha setidaknya sa lebih tahu sapu diri lebih baik dari ko. Itu saja. Lagian kalo sa bipolar, kenapa juga? Setidaknya sa masih bisa kontrol diri tra bunuh diri saat fase depresinya.” Dan pembicaraan kami pun SUNYI!!! Trada balasan. De tra tau ka kalo sa suka debat, apalagi kalo su tra pake perasaan. Pasti jadinya sinis!!!
Besok paginya, niat isengku kumat. Balasan nih, karna ulahnya semalam yang mengubah moodku. Jadi paginya sebelum ibadah, iseng – iseng kukirimkan SMS yang dikirim juniorku, “Cintailah seseorang cukup dengan HATI, tidak dengan JIWA. Supaya suatu saat nanti jika kita kehilangan dia, cukup SAKIT HATI, dan tidak SAKIT JIWA hahaha *pagi ini baru z pikir ko =D”. Rupanya ia terpancing juga. Ia penasaran kenapa aku memikirkannya. Yang kujawab hanya dengan ‘hahaha’ di balasan pesanku. Mungkin tak mau ketinggalan momen, ia membalas dengan pesan, “besok kayaknya kita berdua harus punya foto – foto pribadi ne ..”. yang kujawab dengan tandas, “No comment. Sa lagi mo siap pi ibadah. Happy Sunday”. Masih tak menyerah ia melanjutkan dengan informasi kalau ia juga mau pergi ibadah, tetapi dengan embel – embel, “kalau saya ke Manokwari, ajak sa jalan2 eee hehehe”. Ah dasar si anak mama nih. Pulang ibadah memang kami masih saling berkirim pesan, cuma jawabku rada cuek dengan penuh “hahahaha” atau “whatever” plus mengganggunya “si anak mama dan manja” jadi jangan merepotkan acara jalan – jalanku. Ya iyalah, aku sudah mengabsen kegiatanku.
Satu yang pasti, semua perkataan sahabatku si M benar tentang lelaki bertipe seperti Q. Susah dihilangin dari hidup, plin – plan, biar dikasi clue sampe bagaimanapun, masih peragu. Sialnya … sulit banget lepas dari mereka. Apalagi si M penggemar acara baca zodiak, diabsen banget sikapnya Q yang konon berasi Libra. Timbangan, rutuk si M yang fansnya juga berkelakuan sama dengan Q dan sialnya lebih muda 3 tahun juga dari M. Nasib banget!!! Semakin kita menjauh, e mereka mendekat. Semakin kita mendekat, e mereka cuek. Capek deh …!!!
Intinya, beberapa hari ini aku bahkan tak punya pikiran selain kerja, kerja dan kerja. Mana ada pekerjaan ke luar kota beberapa hari mendatang, plus ada tes TOEFL lagi. Ditambah lagi sepupu jauhku mau menikah. Lengkaplah sudah!!!! Bukannya apa, karna si lelaki hujan juga sobatan mati dengan calon iparku dan sepupuku … saatnya balas dendam dengan memakai a dress to kill … dandan secantik – cantiknya ka ini sambil bawa cowok baru. Sayangnya, karna tak ada cowok, ya miss M yang kubawa, apalagi ia kerap menjadi teman jalan untuk kondangan. Kalo tidak ya si El, adik lelakinya yang makin kerap disangka sebagai pacarku, padahal si El itu benar – benar gossiper sepertiku HAHAHA. Bisa kena maki tuh orang – orang!!!
Anyway, aku mau menikmati ‘kencan berbayar’ beberapa hari ini dengan Alex, si bule Amrik ganteng ini. Lumayanlah dibayar sebagai penerjemah (walau rate-nya tak sebesar klienku yang lain) ke sebuah kota pemekaran ngurusin urusan sosialisasi program perdagangan karbon, menikmati suasana baru dan bepergian … at least, dengar – dengar si Q lo datang liburan untuk wisuda adiknya plus liburan lebaran di Manokwari. Jadi di tanggal momen itu aku sedang tak di Manokwari. Benar – benar proses bajalan ukur jalan forever.
Ah hidup itu indah. Thanx Bapa, Yesus, Roh Kudus. Amen
(Manokwari, 220811; hidup itu indah? Iyo too)
Guess what? Malam minggu kemarin, usai pulang menggosip di rumah sahabatku, sudah jam 12 malam kurang, si Q mengirimiku SMS. Entahlah de takena apa begitu … padahal sejak acara ungkap bin ungkap, suasana pun sunyi. Aman, terkendali …. Tertib!! Jadi SMS si Q di tengah malam benar – benar mengubah mood-ku. Jujur malam itu aku mo ketawa. Kena apa si nih anak? SMSnya standar banget, “Selamat malam minggu buat kuli pena”. Kayak mo ketawa beneran … Mudah – mudahan ini bukan karena status FBku yang memang lagi terkena euforia ‘mas ganteng’, ya iyalah … dengan jelas kutulis, “Ah hidup ini indah, seindah tampang mas ganteng ….”.
Entah apa yang dipikirkan Q malam itu. Awalnya hanya dari selamat malam, e menjalar ke jenis SMS pedenya yang kadang bikin ‘ganas’ seperti malam itu dengan pedenya ia bilang, “sa tahu dirimu pasti sedang memikirkanku hehehe”. Kepedean banget deh … padahal malam itu salah satu malam free-ku dan malam itu yang kupikirkan malah kejadian insiden SMA Oik karena tawurannya terjadi di depan mataku, kala melihat orang digebukin seperti anjing yang digigit ramai – ramai. Jadi masih kepikiran.
Malam itu si Q terang – terangan bilang ia tak percaya aku mengidap bipolar, ia bilang sikapku terlalu dibuat – buat dan juga ia bilang sikapku yang aneh karena terlalu banyak membaca. Ketika aku menyindirnya tentang sikapnya tentang bipolarku, karena kurang baca tetapi lebih suka nonton bokep … e ia bilang nonton bokep lebih bijak dan nyata dibandingkan imajinasiku dan dunia khayalanku yang aneh. Terang saja ada yang menggelegak di dada dan langsung saja, kuberi nasehat satu bab, termasuk dengan perkataan andalanku, “hahaha setidaknya sa lebih tahu sapu diri lebih baik dari ko. Itu saja. Lagian kalo sa bipolar, kenapa juga? Setidaknya sa masih bisa kontrol diri tra bunuh diri saat fase depresinya.” Dan pembicaraan kami pun SUNYI!!! Trada balasan. De tra tau ka kalo sa suka debat, apalagi kalo su tra pake perasaan. Pasti jadinya sinis!!!
Besok paginya, niat isengku kumat. Balasan nih, karna ulahnya semalam yang mengubah moodku. Jadi paginya sebelum ibadah, iseng – iseng kukirimkan SMS yang dikirim juniorku, “Cintailah seseorang cukup dengan HATI, tidak dengan JIWA. Supaya suatu saat nanti jika kita kehilangan dia, cukup SAKIT HATI, dan tidak SAKIT JIWA hahaha *pagi ini baru z pikir ko =D”. Rupanya ia terpancing juga. Ia penasaran kenapa aku memikirkannya. Yang kujawab hanya dengan ‘hahaha’ di balasan pesanku. Mungkin tak mau ketinggalan momen, ia membalas dengan pesan, “besok kayaknya kita berdua harus punya foto – foto pribadi ne ..”. yang kujawab dengan tandas, “No comment. Sa lagi mo siap pi ibadah. Happy Sunday”. Masih tak menyerah ia melanjutkan dengan informasi kalau ia juga mau pergi ibadah, tetapi dengan embel – embel, “kalau saya ke Manokwari, ajak sa jalan2 eee hehehe”. Ah dasar si anak mama nih. Pulang ibadah memang kami masih saling berkirim pesan, cuma jawabku rada cuek dengan penuh “hahahaha” atau “whatever” plus mengganggunya “si anak mama dan manja” jadi jangan merepotkan acara jalan – jalanku. Ya iyalah, aku sudah mengabsen kegiatanku.
Satu yang pasti, semua perkataan sahabatku si M benar tentang lelaki bertipe seperti Q. Susah dihilangin dari hidup, plin – plan, biar dikasi clue sampe bagaimanapun, masih peragu. Sialnya … sulit banget lepas dari mereka. Apalagi si M penggemar acara baca zodiak, diabsen banget sikapnya Q yang konon berasi Libra. Timbangan, rutuk si M yang fansnya juga berkelakuan sama dengan Q dan sialnya lebih muda 3 tahun juga dari M. Nasib banget!!! Semakin kita menjauh, e mereka mendekat. Semakin kita mendekat, e mereka cuek. Capek deh …!!!
Intinya, beberapa hari ini aku bahkan tak punya pikiran selain kerja, kerja dan kerja. Mana ada pekerjaan ke luar kota beberapa hari mendatang, plus ada tes TOEFL lagi. Ditambah lagi sepupu jauhku mau menikah. Lengkaplah sudah!!!! Bukannya apa, karna si lelaki hujan juga sobatan mati dengan calon iparku dan sepupuku … saatnya balas dendam dengan memakai a dress to kill … dandan secantik – cantiknya ka ini sambil bawa cowok baru. Sayangnya, karna tak ada cowok, ya miss M yang kubawa, apalagi ia kerap menjadi teman jalan untuk kondangan. Kalo tidak ya si El, adik lelakinya yang makin kerap disangka sebagai pacarku, padahal si El itu benar – benar gossiper sepertiku HAHAHA. Bisa kena maki tuh orang – orang!!!
Anyway, aku mau menikmati ‘kencan berbayar’ beberapa hari ini dengan Alex, si bule Amrik ganteng ini. Lumayanlah dibayar sebagai penerjemah (walau rate-nya tak sebesar klienku yang lain) ke sebuah kota pemekaran ngurusin urusan sosialisasi program perdagangan karbon, menikmati suasana baru dan bepergian … at least, dengar – dengar si Q lo datang liburan untuk wisuda adiknya plus liburan lebaran di Manokwari. Jadi di tanggal momen itu aku sedang tak di Manokwari. Benar – benar proses bajalan ukur jalan forever.
Ah hidup itu indah. Thanx Bapa, Yesus, Roh Kudus. Amen
(Manokwari, 220811; hidup itu indah? Iyo too)
Ekstraksi Momen
Andrea Bocelli dengan ‘Canto della terra’ alias ‘nyanyian bumi’nya membelah malam, kala jemariku kuketuk – ketukan di atas simbol – simbol penangkap bunyi papan ketik. Bunyi – bunyi yang berlari ini menyeretku pada beberapa ekstrasi kejadian minggu ini. Mungkin malam minggu tepat menjadi hari perenungan tentang apa saja yang terjadi dalam hidupku dan bagaimana Yesus masih menjaga hidupku. Ya, saat yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi sejauh ini dalam hidupku.
Minggu ini ada beberapa kejadian yang membuatku terseret secara emosi. Beberapa ekstrasi yang mungkin layak kucatat, al.:
JANGAN PERNAH TERPERANGKAP DENGAN DOSA MASA LALU
Hari minggu kemarin, seorang junior perempuan datang ke rumah, alasannya ia hanya ingin pinjam buku. Tak dinyana, si cewek Jawa – Papua ini ternyata mengaku baru saja berkelahi dengan lelakinya dan menangis di kamarku bilang ingin bunuh diri. Jangan tanya bagaimana ia curhat dan terluka plus rentan sekali. Rapuh mungkin kata yang tepat. Apalagi menyingkapi hubungannya yang sudah sangat jauh. Toh aku tak punya hak untuk menghakimi. Melihat ia yang rapuh, entahlah, seakan kenangan lama bersama lelaki hujan terputar di otakku dan aku pun bilang dalam hati, “please, May. Kuatkan adek ini, jangan kayak ko dulu yang bingung, hilang arah, dan benar – benar rapuh.”
Akhirnya, mendengar curhatnya yang penuh air mata, hingga berlembar – lembar tisu berubah menjadi limbah. Aku tak punya banyak kat a- kata manis, karna toh aku bukan tipe cewek yang suka menghibur dengan kata manis. Yang bisa kulakukan saat itu hanya merangkulnya, mendengar ceritanya dan menguatkan dengan bercerita tentang beberapa perempuan yang kukenal, kisahku dan beberapa teman lain yang pernah hancur – hancuran dengan masa lalu kami.
Bukan hanya isu keperawanan yang menjadi bahan pembicaraan patah hatinya tetapi rasa tidak berharganya, rasa bersalah dan juga malu. Siang itu, aku ingat betul bagaimana aku mengabsen perempuan – perempuan tangguh yang kukenal dan ia kenal, berbagi kisah mereka, berbagi perjuangan mereka, dan meyakinkannya bahwa ia tak sendiri. Satu hal yang kubilang padanya, “Jangan takut merasa jujur untuk diri sendiri, katakan yang ko mau, katakan apa yang ko rasakan. Kalo toh nantinya ada orang yang tra senang, ya itu dong pu pilihan, begitu juga ini ko pu pilihan. Toh ko cuma hidup hanya satu kali. Jadi, ko tra perlu hidup hanya untuk pake topeng, hanya untuk bikin senang orang lain pu hati apalagi bikin orang lain terkesan, sedang ko sendiri menderita tahan hati”.
Bagiku yang sangat liberal, aku hanya bilang padanya, “Intinya kalo ko takut laki – laki tra mau karna ko su perawan pica ka itu, neh sa cuma mo bilang, sa pu teman bilang dan sa percaya adalah JANDA SAJA MASIH LAKU baru kenapa ko takut tra dapat pacar lagi ka? Jadi kalo memang de tra mo terima ko, artinya ya de memang bukan untuk ko toh. Titik. Abis perkara!! Kalo de sayang ko, de akan terima ko pu masa lalu dan kebodohan2 di masa lalu, dan tra akan ungkit.”
Di akhir percakapan kami, aku hanya bilang padanya, “Apapun ko pu keputusan, termasuk mo balik deng ko pu paitua, itu ko pu pilihan dan sa akan dukung. Yang pasti, jang pernah coba untuk bunuh diri karna ko masih muda, masih cantik. Hidup cuma satu kali. Ko lihat sa yang bipolar saja ada berjuang untuk hidup, untuk tetap percaya bahwa sa layak untuk hidup, masih berjuang tiap hari kala bangun pagi untuk temukan alasan untuk tetap hidup. Masa ko mo menyerah?”
Lewat beberapa hari, usai SMSku tiap hari menanyakan progress-nya, ia bilang keadaannya sudah membaik, sudah berani mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan dan inginkan pada kekasihnya, serta pandangannya tentang dirinya sudah mulai berubah. Ah aku bahagia ia mulai percaya kalau ia cantik, karena bagiku ia begitu muda, cantik dan punya potensi besar menggapai mimpi – mimpinya di masa mendatang.
***
KEKERASAN TIDAK AKAN PERNAH MENYELESAIKAN MASALAH
Ini pelajaran yang kudapatkan hari ini kala terlibat dan terjebak dalam tawuran di kompleks depan rumah. Tak berniat melibatkan diri sebenarnya, tapi toh akhirnya ikut juga dalam momen seperti itu; sebagai pelerai dan saksi mata.
Ceritanya berawal dari seorang sepupu perempuan yang masih SMP digoda oleh anak SMA lokal di kompleksku. Sayangnya, saat itu melintas si oom adik sepupuku plus seorang sepupuku yang dalam pengaruh miras. Ujung – ujungnya mereka berdua memukul si anak SMA yang juga di bawah pengaruh miras. Buntutnya jadi panjang karena teman – teman si anak SMA membela teman mereka, dan tawuran pun terjadi. Tak hanya itu, itu insiden pertama. Karena insiden keduanya, sepupuku yang lain lagi yang tahu masalahnya, lewat sepulang sekolah dengan seragam SMA dan digebuki dengan batangan bambu. Tak terima, ia pulang dan melaporkan insiden 2 ini pada keluarga besar mamaku yang kebetulan tinggal di bagian dalam kompleks kami. Jadilah acara ‘rame – rame’. Tak pelak, ada insiden 3 dan 4 yang juga saling terkait. Dan sialnya, beberapa anggota keluarga yang datang sedang mabuk. Jadilah kekacauan. Untunglah tak sampai parah. Tapi sayangnya, ada tukang ojek yang ‘mata masak’ padahal tak tahu apa – apa.
Intinya dari peristiwa tadi, dalam merespon hal apapun yang terjadi di sekeliling kita, lihatlah dulu letak persoalannya, dilihat secara keseluruhan dan bukan dari tindakan impulsif apalagi yang berbau kekerasan. Selain itu, mengonsumsi minuman keras bukan pada tempatnya HANYA akan bikin masalah baru.
Jujur sampai malam hari, emosiku sempat terbawa dan terbeban. Euforia mode: ON!!!
Benar – benar minggu yang melelahkan.
(Manokwari, 200811; euforia?)
Minggu ini ada beberapa kejadian yang membuatku terseret secara emosi. Beberapa ekstrasi yang mungkin layak kucatat, al.:
JANGAN PERNAH TERPERANGKAP DENGAN DOSA MASA LALU
Hari minggu kemarin, seorang junior perempuan datang ke rumah, alasannya ia hanya ingin pinjam buku. Tak dinyana, si cewek Jawa – Papua ini ternyata mengaku baru saja berkelahi dengan lelakinya dan menangis di kamarku bilang ingin bunuh diri. Jangan tanya bagaimana ia curhat dan terluka plus rentan sekali. Rapuh mungkin kata yang tepat. Apalagi menyingkapi hubungannya yang sudah sangat jauh. Toh aku tak punya hak untuk menghakimi. Melihat ia yang rapuh, entahlah, seakan kenangan lama bersama lelaki hujan terputar di otakku dan aku pun bilang dalam hati, “please, May. Kuatkan adek ini, jangan kayak ko dulu yang bingung, hilang arah, dan benar – benar rapuh.”
Akhirnya, mendengar curhatnya yang penuh air mata, hingga berlembar – lembar tisu berubah menjadi limbah. Aku tak punya banyak kat a- kata manis, karna toh aku bukan tipe cewek yang suka menghibur dengan kata manis. Yang bisa kulakukan saat itu hanya merangkulnya, mendengar ceritanya dan menguatkan dengan bercerita tentang beberapa perempuan yang kukenal, kisahku dan beberapa teman lain yang pernah hancur – hancuran dengan masa lalu kami.
Bukan hanya isu keperawanan yang menjadi bahan pembicaraan patah hatinya tetapi rasa tidak berharganya, rasa bersalah dan juga malu. Siang itu, aku ingat betul bagaimana aku mengabsen perempuan – perempuan tangguh yang kukenal dan ia kenal, berbagi kisah mereka, berbagi perjuangan mereka, dan meyakinkannya bahwa ia tak sendiri. Satu hal yang kubilang padanya, “Jangan takut merasa jujur untuk diri sendiri, katakan yang ko mau, katakan apa yang ko rasakan. Kalo toh nantinya ada orang yang tra senang, ya itu dong pu pilihan, begitu juga ini ko pu pilihan. Toh ko cuma hidup hanya satu kali. Jadi, ko tra perlu hidup hanya untuk pake topeng, hanya untuk bikin senang orang lain pu hati apalagi bikin orang lain terkesan, sedang ko sendiri menderita tahan hati”.
Bagiku yang sangat liberal, aku hanya bilang padanya, “Intinya kalo ko takut laki – laki tra mau karna ko su perawan pica ka itu, neh sa cuma mo bilang, sa pu teman bilang dan sa percaya adalah JANDA SAJA MASIH LAKU baru kenapa ko takut tra dapat pacar lagi ka? Jadi kalo memang de tra mo terima ko, artinya ya de memang bukan untuk ko toh. Titik. Abis perkara!! Kalo de sayang ko, de akan terima ko pu masa lalu dan kebodohan2 di masa lalu, dan tra akan ungkit.”
Di akhir percakapan kami, aku hanya bilang padanya, “Apapun ko pu keputusan, termasuk mo balik deng ko pu paitua, itu ko pu pilihan dan sa akan dukung. Yang pasti, jang pernah coba untuk bunuh diri karna ko masih muda, masih cantik. Hidup cuma satu kali. Ko lihat sa yang bipolar saja ada berjuang untuk hidup, untuk tetap percaya bahwa sa layak untuk hidup, masih berjuang tiap hari kala bangun pagi untuk temukan alasan untuk tetap hidup. Masa ko mo menyerah?”
Lewat beberapa hari, usai SMSku tiap hari menanyakan progress-nya, ia bilang keadaannya sudah membaik, sudah berani mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan dan inginkan pada kekasihnya, serta pandangannya tentang dirinya sudah mulai berubah. Ah aku bahagia ia mulai percaya kalau ia cantik, karena bagiku ia begitu muda, cantik dan punya potensi besar menggapai mimpi – mimpinya di masa mendatang.
***
KEKERASAN TIDAK AKAN PERNAH MENYELESAIKAN MASALAH
Ini pelajaran yang kudapatkan hari ini kala terlibat dan terjebak dalam tawuran di kompleks depan rumah. Tak berniat melibatkan diri sebenarnya, tapi toh akhirnya ikut juga dalam momen seperti itu; sebagai pelerai dan saksi mata.
Ceritanya berawal dari seorang sepupu perempuan yang masih SMP digoda oleh anak SMA lokal di kompleksku. Sayangnya, saat itu melintas si oom adik sepupuku plus seorang sepupuku yang dalam pengaruh miras. Ujung – ujungnya mereka berdua memukul si anak SMA yang juga di bawah pengaruh miras. Buntutnya jadi panjang karena teman – teman si anak SMA membela teman mereka, dan tawuran pun terjadi. Tak hanya itu, itu insiden pertama. Karena insiden keduanya, sepupuku yang lain lagi yang tahu masalahnya, lewat sepulang sekolah dengan seragam SMA dan digebuki dengan batangan bambu. Tak terima, ia pulang dan melaporkan insiden 2 ini pada keluarga besar mamaku yang kebetulan tinggal di bagian dalam kompleks kami. Jadilah acara ‘rame – rame’. Tak pelak, ada insiden 3 dan 4 yang juga saling terkait. Dan sialnya, beberapa anggota keluarga yang datang sedang mabuk. Jadilah kekacauan. Untunglah tak sampai parah. Tapi sayangnya, ada tukang ojek yang ‘mata masak’ padahal tak tahu apa – apa.
Intinya dari peristiwa tadi, dalam merespon hal apapun yang terjadi di sekeliling kita, lihatlah dulu letak persoalannya, dilihat secara keseluruhan dan bukan dari tindakan impulsif apalagi yang berbau kekerasan. Selain itu, mengonsumsi minuman keras bukan pada tempatnya HANYA akan bikin masalah baru.
Jujur sampai malam hari, emosiku sempat terbawa dan terbeban. Euforia mode: ON!!!
Benar – benar minggu yang melelahkan.
(Manokwari, 200811; euforia?)
Saturday, 20 August 2011
Detox 'n mas Ganteng
Hari ini proses detox tampaknya berjalan baik. Q tak selalu hadir dalam ingatanku. Bahkan aku masih bisa sukses ‘ngecenging’ lelaki manis yang kutemui di kantor pos Kota. Ya iyalah, bagaimana tak melihatnya, lelaki amber ganteng dan keren itu dengan tinggi di atas 175 cm dan berbadan tegap dengan rambut cepak menjadi ‘penyegar’ di sore yang panas, sekitar pukul 3 sore, selama 30 menit lebih. Dengan dandanan etnik dengan baju berbahan kain ‘bali’ berwarna kuning kari dan berpotongan V, aku masuk lengkap dengan aksesoris kalung oranye, anting manik oranye panjang dan tentu saja noken rajut oranye kenang - kenangan dari almarhum tete di Masni. Dan si mas ganteng terus memandangku takjub. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin karena tampang anehku (mudah – mudahan BUKAN karena ia menganggapku ‘ada campuran bule’ seperti TUDUHAN beberapa orang yang baru mengenalku sebulan terakhir, ya iyalah rambutku sudah aneh e ditambah dengan mataku yang sangat coklat bila ditimpa cahaya, warisan nenekku yang Sunda dengan keturunan Cina di beberapa generasi di atasnya). Apalagi aku sibuk bertanya tentang koleksi kartu pos ‘endemik’ untuk oleh – oleh beberapa teman yang hendak berangkat ke luar negeri, dengan nada suara yang sangat non-melayu Papua. *efek spontan kalo berhadapan dengan lawan bicara yang non-Papua; teori akomodasi banget deh =D
Bagaimana aku tak memandang si mas ganteng, lah ia terus mencuri pandang menatapku. Mungkin karena dandananku yang terlalu bermain dengan warna kuat plus rambutku yang sekarang sedang berwarna coklat-pirang-toska-biri tua-putih-hitam (lagi gado – gado). Belum lagi ada acara gosip dengan tante (atau mamade-nya) Q. iya dunia itu kecil, aku juga baru tahu fakta itu. Fakta bahwa tantenya Q tuh ternyata yang menjadi ‘pacar’ apa pasangannya oom kandungnya sepupu kandungku. Jadi ya, aku cukup mengenal tantenya Q, apalagi ia pernah curhat dengan mata berkaca – kaca tentang sikap oom-nya sepupuku. Bagaimana tak curhat, hubungan mereka terkatung – katung sepuluh tahun tanpa kejelasan, bukan TTM, bukan istri. Tak jelas. Padahal tantenya Q lumayan cantik.
Nah saat tantenya Q, sebut saja Usken (I used to call her like that), sedang menanyakan kapan aku nikah, dengan cueknya aku bilang, “adooh pacar saja trada ka tra jelas nih mo” hehehe. E si mas ganteng terus memantau dan malah tak melihat si mas penerima berkas resi listrik yang tepat di depannya. Toh si mas ganteng berdiri hanya 1,5 meter di sebelahku. Iya, kami berdiri berderet di depan gerai tanpa pembatas kantor pos. Aku menikmati pandangan si mas ganteng. Lumayanlah menatap pandangan matanya yang bersirobok beberapa kali dengan mataku, tapi jangan tanya tampang cuekku, I’m the best liar kalo lagi serius ngecengin cowok, kecuali kalo lagi clubbing HAHAHA. Tahu kan rasanya siang – siang panas, belum makan siang, baru abis memaki layanan jaringan internet yang rada macet, verifikasi PIN yang kacau eeeeee tiba – tiba muncullah mas ganteng di depan mata. Cewek normal mana juga sih yang tidak merasa ‘segar’? Anggap saja blessing in disguise. Iya, karna tadi aku ke bank lain untuk membayar listrik dan loketnya tutup. Padahal itu kunjunganku yang kedua hari ini. E ternyata, di kantor pos, ada mas ganteng.
Heran juga kenapa mas ganteng ini masih kepikiran, walau sempat mencatat bahwa rambut belakangnya yang dicepaki sedikit tak rapi potongannya, mungkin ia pakai alat cukur elektrik yang bisa dilakukan sendiri tapi hasilnya malah tak rapi. Pengamatan kilatku, tak ada cincin manis yang melingkar di tangannya. Mungkin si mas ganteng dengan tampang manis ini terekam dengan baik karena otakku sekarang mencatat pandangan baru di luar Q. Ini bukan tentang rasa tapi lebih ke fokus. Walau memang hatiku sedang kutata ulang. Terlanjur jatuh cinta sih HAHAHA.
Ngomong – ngomong, sejak pulang kampung, aku biasanya tidak pernah naksir atau terpesona lelaki non-Melanesia atau non-Indonesia Timur ataupun lelaki berkulit ‘terang’. Tapi entahlah … si mas ganteng berbodi tegap ini pengecualian HAHAHA. Benar – benar tipeku banget. Tinggi, tegap, berbobot proposional dan berkulit sawo matang, iya kulitnya tak ‘putih’ tapi lebih tanning getho. Tapi yang kusuka adalah pandangannya, benar – benar WOW …. Entahlah, matanya bagus HAHAHA. *Iyalah … kami berpandangan terus =D *itchy bitchy? HAHAHA
Mungkin detox hari ini berhasil dengan baik karena efek jadwal kerja yang padat, cuaca yang panas dan juga tentu saja peluncuran self-project blog baruku (KISAH MANOKWARI – Manokwari Ujung Pukul Ujung; http://kisahmanokwari.wordpress.com); bukti cintaku untuk kotaku, bagian perlawananku untuk stigma negatif tanah dan kotaku, dan juga mungkin upaya melupakan hati yang remuk dihajar cinta bertepuk sebelah tangan.
Entahlah, mungkin karena aku manusia musim gugur. Aku lebih produktif kala patah hati, kala putus cinta dan kala sedih. Anyway, that’s me.
Mungkin memang aku manusia bipolar yang tak bisa setia pada perasaanku, pada fokus dan perhatianku. Toh aku bersyukur karena aku masih bisa menikmati acara ‘ngeceng’ dengan mas ganteng tadi. Mungkin juga efek dari tiap malam ketemu dan nongkrong kerja relawan jadi editor tamu dengan teman – teman wartawan yang notabene lelaki semua di ruang redaksi sebuah koran lokal di kotaku. Apalagi tadi sore dalam sebuah kesempatan mengajar sepupuku dan seorang anak kerabatnya di asrama Polisi, aku sempat bercanda dengan tanta pemilik rumah (yang juga adalah pangkat nenek sepupuku; sepupuku ini yang oom kandung dari pihak mamanya adalah ‘pasangan’nya si Usken). Ya apa lagi kalau bukan ‘tolong carikan sa pacar ka?”. Bagaimana tanta tra semangat, dulu kan si lelaki hujan yang jelas – jelas anak angkatnya sempat curhat – curhatan tentang diriku dan sering ke rumah itu dan dulu ia berharap aku yang menikah dengan si lelaki hujan. Jadi operasi ‘pacar 2011’ is activated. HAHAHA *ketawa Rahwana
Dasar BIPOLAR … tapi mo bagaimana lagi, hidupkan harus terus berlanjut. Masa mo tapaku dengan Q yang jelas – jelas cuma anggap sa TEMAN saja, bisa – bisa nan sa nasib sama deng Usken. Usken saja curhat tadi kalo de su ambil sikap mo pindah ka mutasi ke Wamena sana demi menenangkan pikiran dan melanjutkan hidup. Masa sa trada? Anyway, semoga mas ganteng tadi bisa dikecengin lagi someday, plus ‘sorokan’ calon dari tanta asrama polisi.
Ah hidup itu indah, seindah tampang mas ganteng. Ada facebooknya gak ya? HAHAHA!!! *mata keranjang mode:ON
(Manokwari, 190811; mengenang kisah hari ini)
Bagaimana aku tak memandang si mas ganteng, lah ia terus mencuri pandang menatapku. Mungkin karena dandananku yang terlalu bermain dengan warna kuat plus rambutku yang sekarang sedang berwarna coklat-pirang-toska-biri tua-putih-hitam (lagi gado – gado). Belum lagi ada acara gosip dengan tante (atau mamade-nya) Q. iya dunia itu kecil, aku juga baru tahu fakta itu. Fakta bahwa tantenya Q tuh ternyata yang menjadi ‘pacar’ apa pasangannya oom kandungnya sepupu kandungku. Jadi ya, aku cukup mengenal tantenya Q, apalagi ia pernah curhat dengan mata berkaca – kaca tentang sikap oom-nya sepupuku. Bagaimana tak curhat, hubungan mereka terkatung – katung sepuluh tahun tanpa kejelasan, bukan TTM, bukan istri. Tak jelas. Padahal tantenya Q lumayan cantik.
Nah saat tantenya Q, sebut saja Usken (I used to call her like that), sedang menanyakan kapan aku nikah, dengan cueknya aku bilang, “adooh pacar saja trada ka tra jelas nih mo” hehehe. E si mas ganteng terus memantau dan malah tak melihat si mas penerima berkas resi listrik yang tepat di depannya. Toh si mas ganteng berdiri hanya 1,5 meter di sebelahku. Iya, kami berdiri berderet di depan gerai tanpa pembatas kantor pos. Aku menikmati pandangan si mas ganteng. Lumayanlah menatap pandangan matanya yang bersirobok beberapa kali dengan mataku, tapi jangan tanya tampang cuekku, I’m the best liar kalo lagi serius ngecengin cowok, kecuali kalo lagi clubbing HAHAHA. Tahu kan rasanya siang – siang panas, belum makan siang, baru abis memaki layanan jaringan internet yang rada macet, verifikasi PIN yang kacau eeeeee tiba – tiba muncullah mas ganteng di depan mata. Cewek normal mana juga sih yang tidak merasa ‘segar’? Anggap saja blessing in disguise. Iya, karna tadi aku ke bank lain untuk membayar listrik dan loketnya tutup. Padahal itu kunjunganku yang kedua hari ini. E ternyata, di kantor pos, ada mas ganteng.
Heran juga kenapa mas ganteng ini masih kepikiran, walau sempat mencatat bahwa rambut belakangnya yang dicepaki sedikit tak rapi potongannya, mungkin ia pakai alat cukur elektrik yang bisa dilakukan sendiri tapi hasilnya malah tak rapi. Pengamatan kilatku, tak ada cincin manis yang melingkar di tangannya. Mungkin si mas ganteng dengan tampang manis ini terekam dengan baik karena otakku sekarang mencatat pandangan baru di luar Q. Ini bukan tentang rasa tapi lebih ke fokus. Walau memang hatiku sedang kutata ulang. Terlanjur jatuh cinta sih HAHAHA.
Ngomong – ngomong, sejak pulang kampung, aku biasanya tidak pernah naksir atau terpesona lelaki non-Melanesia atau non-Indonesia Timur ataupun lelaki berkulit ‘terang’. Tapi entahlah … si mas ganteng berbodi tegap ini pengecualian HAHAHA. Benar – benar tipeku banget. Tinggi, tegap, berbobot proposional dan berkulit sawo matang, iya kulitnya tak ‘putih’ tapi lebih tanning getho. Tapi yang kusuka adalah pandangannya, benar – benar WOW …. Entahlah, matanya bagus HAHAHA. *Iyalah … kami berpandangan terus =D *itchy bitchy? HAHAHA
Mungkin detox hari ini berhasil dengan baik karena efek jadwal kerja yang padat, cuaca yang panas dan juga tentu saja peluncuran self-project blog baruku (KISAH MANOKWARI – Manokwari Ujung Pukul Ujung; http://kisahmanokwari.wordpress.com); bukti cintaku untuk kotaku, bagian perlawananku untuk stigma negatif tanah dan kotaku, dan juga mungkin upaya melupakan hati yang remuk dihajar cinta bertepuk sebelah tangan.
Entahlah, mungkin karena aku manusia musim gugur. Aku lebih produktif kala patah hati, kala putus cinta dan kala sedih. Anyway, that’s me.
Mungkin memang aku manusia bipolar yang tak bisa setia pada perasaanku, pada fokus dan perhatianku. Toh aku bersyukur karena aku masih bisa menikmati acara ‘ngeceng’ dengan mas ganteng tadi. Mungkin juga efek dari tiap malam ketemu dan nongkrong kerja relawan jadi editor tamu dengan teman – teman wartawan yang notabene lelaki semua di ruang redaksi sebuah koran lokal di kotaku. Apalagi tadi sore dalam sebuah kesempatan mengajar sepupuku dan seorang anak kerabatnya di asrama Polisi, aku sempat bercanda dengan tanta pemilik rumah (yang juga adalah pangkat nenek sepupuku; sepupuku ini yang oom kandung dari pihak mamanya adalah ‘pasangan’nya si Usken). Ya apa lagi kalau bukan ‘tolong carikan sa pacar ka?”. Bagaimana tanta tra semangat, dulu kan si lelaki hujan yang jelas – jelas anak angkatnya sempat curhat – curhatan tentang diriku dan sering ke rumah itu dan dulu ia berharap aku yang menikah dengan si lelaki hujan. Jadi operasi ‘pacar 2011’ is activated. HAHAHA *ketawa Rahwana
Dasar BIPOLAR … tapi mo bagaimana lagi, hidupkan harus terus berlanjut. Masa mo tapaku dengan Q yang jelas – jelas cuma anggap sa TEMAN saja, bisa – bisa nan sa nasib sama deng Usken. Usken saja curhat tadi kalo de su ambil sikap mo pindah ka mutasi ke Wamena sana demi menenangkan pikiran dan melanjutkan hidup. Masa sa trada? Anyway, semoga mas ganteng tadi bisa dikecengin lagi someday, plus ‘sorokan’ calon dari tanta asrama polisi.
Ah hidup itu indah, seindah tampang mas ganteng. Ada facebooknya gak ya? HAHAHA!!! *mata keranjang mode:ON
(Manokwari, 190811; mengenang kisah hari ini)
Antara Q, Bee dan Bro J
Tiba – tiba tersadar … mengapa aku cepat merasa nyaman dengan sikapnya Q, tepatnya kecanduan!!!!
Entahlah …. Sialnya, ia mengingatkanku untuk para lelaki lain yang pernah hadir dalam hidupku, pernah jatuh cinta beratz yang sangat dalam tapi tak PD dan memutuskan menyimpan rasa dengan rapi, ataupun memutuskan menjauhkan diri. Minder!!!
Benar – benar bodoh tak menyadari hal ini. Tentang kemiripan sifat dan karakter ketiga lelaki ini, dan sialnya Q yang menjadi kombinasi antara sifat dua lelaki sebelumnya. Iya, antara si Q, Bee, dan Jei.
Aku baru sadar, dulu si Bee seperti Q, selalu jail, lucu, suka memaki – maki karena kami selalu ‘baku maki’ dan ‘baku ganggu’, kalo ketemu bawaannya mo ketawa dna baku tumbu tapi tetap baku sayang. Bee juga sangat keren, gaya mengkilat dan tentu saja … teman curhat sungguh mati. Lelaki pertama yang mengenalkanku untuk keluarganya dan memintaku berkunjung ke rumah mereka di Biak, berkenalan dengan orang tuanya. Sialnya … kami jadian kurang dari 12 jam. Iya, aku memutuskan mundur dari hubungan. Tak sanggup saja. Bee terlalu KEREN!!! Dan aku minder bratz ….. that’s all. Walau setelah putus, kami masih kontak – kontakan tapi too semuanya bubar jalan. Dan ia membenciku hingga sekarang.
Sedang sifat Q yang lain adalah representasi bro J. Jail mungkin ciri khas yang mirip. Entahlah … selalu saja ada sifat – sifatnya yang mirip.
UNFINISHED ….
(Manokwari, 180811)
Entahlah …. Sialnya, ia mengingatkanku untuk para lelaki lain yang pernah hadir dalam hidupku, pernah jatuh cinta beratz yang sangat dalam tapi tak PD dan memutuskan menyimpan rasa dengan rapi, ataupun memutuskan menjauhkan diri. Minder!!!
Benar – benar bodoh tak menyadari hal ini. Tentang kemiripan sifat dan karakter ketiga lelaki ini, dan sialnya Q yang menjadi kombinasi antara sifat dua lelaki sebelumnya. Iya, antara si Q, Bee, dan Jei.
Aku baru sadar, dulu si Bee seperti Q, selalu jail, lucu, suka memaki – maki karena kami selalu ‘baku maki’ dan ‘baku ganggu’, kalo ketemu bawaannya mo ketawa dna baku tumbu tapi tetap baku sayang. Bee juga sangat keren, gaya mengkilat dan tentu saja … teman curhat sungguh mati. Lelaki pertama yang mengenalkanku untuk keluarganya dan memintaku berkunjung ke rumah mereka di Biak, berkenalan dengan orang tuanya. Sialnya … kami jadian kurang dari 12 jam. Iya, aku memutuskan mundur dari hubungan. Tak sanggup saja. Bee terlalu KEREN!!! Dan aku minder bratz ….. that’s all. Walau setelah putus, kami masih kontak – kontakan tapi too semuanya bubar jalan. Dan ia membenciku hingga sekarang.
Sedang sifat Q yang lain adalah representasi bro J. Jail mungkin ciri khas yang mirip. Entahlah … selalu saja ada sifat – sifatnya yang mirip.
UNFINISHED ….
(Manokwari, 180811)
detox
Bagian terberat dari masa patah hati adalah saat bangun pagi dan mau tidur. Serasa berat, enggan membuka mata, ataupun menutup mata. Itu saat terberat yang kucatat. Rasanya seakan ada bongkahanbatu berkati – kati yang menggantung memberati mata. Rasa yang sangat enggan kujalani sebenarnya. Proses detoksifikasi hati tepatnya.
Sebenarnya proses ini bisa saja kulewati, kuacuhkan atau entahlah … ditiadakan. Caranya? Terus berpura – pura dan menikmati permainan pesan, tanpa perlu terbeban. Tapi toh I am a sentimental fool. Hanya tak suka sesuatu yang terlalu berlarut – larut. That’s my bad side. Jadi, memilih untuk jujur pada akhirnya dan it’s over. Kembali lagi dengan proses detoksifikasi dari candu cinta. Rasanya seperti terapi internet dulu. Sakit dan sakaw … Setahun lalu, 1 bulan sebelum pulang ke Indonesia, yang kulakukan adalah berhenti dari semua akses internet. Bayangkan sakawnya diriku, yang biasanya 20 jam sehari di depan internet, apalagi Facebook tiba – tiba berhenti. Kayak mau mati, bingung, kehilangan orientasi. TAPI … efeknya sekarang? Aku hanya tahan 1 – 2 jam di depan koneksi internet dan punya banyak waktu untuk hobiku, bersosialisasi, menikmati alam, berpetualangan dan tentu saja mataku kemampuannya lebih baik. Not the Internet freak anymore!!!
Hari ini proses detoksifikasi masuk hari ke 2 dan rasanya …. Mmh masih seperti ikan poro bibi yang dipaksa keluar dari air dalam jangka waktu lama, masih megap – megap sih sebenarnya. Toh lama – lama akan terbiasa dan berevolusi. Apa iya? Mungkin saja toh kali ini bukan putus cinta dari sebuah hubungan. Hanya sejenis cinta bertepuk sebelah tangan lah …. Itu interpretasiku terlepas dari SMS – SMS Q selama ini. Intinya, selama tak ada konfirmasi langsung secara eksplisit, bagiku itu CINTA SEPIHAK dari diriku dan it’s OVER!!!! Hidup harus terus berlanjut, bukan?
Saat seperti ini sebenarnya paling nikmat dinikmati bersama teman – teman dekat. Sayangnya, beberapa temanku telah menemukan lingkungan mereka yang baru, kesibukan yang baru dan mungkin rasanya seperti mereka juga sibuk dengan kegiatan mereka masing – masing dan tampaknya aku hanya akan jadi beban kalau mau curhat pada mereka , untuk urusan yang mungkin bagi mereka hanya perlu kulupakan dan kujalani. Jadi ya, tak ada cara yang lebih baik selain menulis dan beberapa jam lagi pergi ke pantai, berenang ataupun merenung. Ingin sekali balapan ke Pantai Utara Manokwari seperti biasa, ingin sekali pergi ke teluk di Asai sana, seperti biasanya saat lagi stress … Tapi kayaknya untuk cuaca semendung ini plus harus kerja malam sebagai editor tamu sebuah surat kabar lokal, rasanya tak mungkin. Mana besok pagi harus ada wawancara untuk feature tokoh yang sudah dipesan redaksi media lokal dan juga mengecek pembimbingan tulisan seorang klienku yang hendak ikut pertukaran pelajar ke Kanada. Rasanya padat sedang di satu sisi, proses detoksifikasi perasaan ketergantungan pada Q harus kulalui sendiri. Tapi bukankah ini yang disebut sebagai ‘hidup’?
Aku pikir Q pasti baik – baik saja. Ia kukenal cuek dan cenderung mematikan emosinya untuk hal – hal sentimental seperti ini, tergambar betul dengan pilihan musiknya. Iya, dia penggemar L’arc en ciel … Kadang bila mendengar ia menggambarkan ia menyukai band Jepang bernama ‘Pelangi’ ini, kadang sedikit merasa aneh antara kami berdua. Aku suka sesuatu yang berbau hujan termasuk penyanyi Korea bernama ‘Rain’ *Gosh, Ninja Assasin-nya bikin kapala sakit stress pikir gantengnya wkwkwkwkwkkw. Sedang Q pecinta band ‘pelangi’ ini. tapi toh, anggap saja ini pendapat orang yang sedang menjalani proses detoksifikasi perasaan, jadi kerap membuat asosiasi untuk hal – hal yang sebenarnya tak ada hubungannya. Walau memang aku dan Q punya beberapa kesamaan. Sama – sama berdarah A, tempat favorit kami ternyata sama; sebuah teluk di Asai sana, daerah Pantura Manokwari, beberapa lagu dari Greenday ternyata sama esp. “Wake me up when September ends”.
Entahlah …. Proses detoksifikasi ini berat tapi aku percaya bisa melaluinya. Apalagi masih ada beberapa teman anana pondok yang setidaknya bisa menerimaku. What a life!!
(Manokwari, 170811; detox hari ke 2)
Sebenarnya proses ini bisa saja kulewati, kuacuhkan atau entahlah … ditiadakan. Caranya? Terus berpura – pura dan menikmati permainan pesan, tanpa perlu terbeban. Tapi toh I am a sentimental fool. Hanya tak suka sesuatu yang terlalu berlarut – larut. That’s my bad side. Jadi, memilih untuk jujur pada akhirnya dan it’s over. Kembali lagi dengan proses detoksifikasi dari candu cinta. Rasanya seperti terapi internet dulu. Sakit dan sakaw … Setahun lalu, 1 bulan sebelum pulang ke Indonesia, yang kulakukan adalah berhenti dari semua akses internet. Bayangkan sakawnya diriku, yang biasanya 20 jam sehari di depan internet, apalagi Facebook tiba – tiba berhenti. Kayak mau mati, bingung, kehilangan orientasi. TAPI … efeknya sekarang? Aku hanya tahan 1 – 2 jam di depan koneksi internet dan punya banyak waktu untuk hobiku, bersosialisasi, menikmati alam, berpetualangan dan tentu saja mataku kemampuannya lebih baik. Not the Internet freak anymore!!!
Hari ini proses detoksifikasi masuk hari ke 2 dan rasanya …. Mmh masih seperti ikan poro bibi yang dipaksa keluar dari air dalam jangka waktu lama, masih megap – megap sih sebenarnya. Toh lama – lama akan terbiasa dan berevolusi. Apa iya? Mungkin saja toh kali ini bukan putus cinta dari sebuah hubungan. Hanya sejenis cinta bertepuk sebelah tangan lah …. Itu interpretasiku terlepas dari SMS – SMS Q selama ini. Intinya, selama tak ada konfirmasi langsung secara eksplisit, bagiku itu CINTA SEPIHAK dari diriku dan it’s OVER!!!! Hidup harus terus berlanjut, bukan?
Saat seperti ini sebenarnya paling nikmat dinikmati bersama teman – teman dekat. Sayangnya, beberapa temanku telah menemukan lingkungan mereka yang baru, kesibukan yang baru dan mungkin rasanya seperti mereka juga sibuk dengan kegiatan mereka masing – masing dan tampaknya aku hanya akan jadi beban kalau mau curhat pada mereka , untuk urusan yang mungkin bagi mereka hanya perlu kulupakan dan kujalani. Jadi ya, tak ada cara yang lebih baik selain menulis dan beberapa jam lagi pergi ke pantai, berenang ataupun merenung. Ingin sekali balapan ke Pantai Utara Manokwari seperti biasa, ingin sekali pergi ke teluk di Asai sana, seperti biasanya saat lagi stress … Tapi kayaknya untuk cuaca semendung ini plus harus kerja malam sebagai editor tamu sebuah surat kabar lokal, rasanya tak mungkin. Mana besok pagi harus ada wawancara untuk feature tokoh yang sudah dipesan redaksi media lokal dan juga mengecek pembimbingan tulisan seorang klienku yang hendak ikut pertukaran pelajar ke Kanada. Rasanya padat sedang di satu sisi, proses detoksifikasi perasaan ketergantungan pada Q harus kulalui sendiri. Tapi bukankah ini yang disebut sebagai ‘hidup’?
Aku pikir Q pasti baik – baik saja. Ia kukenal cuek dan cenderung mematikan emosinya untuk hal – hal sentimental seperti ini, tergambar betul dengan pilihan musiknya. Iya, dia penggemar L’arc en ciel … Kadang bila mendengar ia menggambarkan ia menyukai band Jepang bernama ‘Pelangi’ ini, kadang sedikit merasa aneh antara kami berdua. Aku suka sesuatu yang berbau hujan termasuk penyanyi Korea bernama ‘Rain’ *Gosh, Ninja Assasin-nya bikin kapala sakit stress pikir gantengnya wkwkwkwkwkkw. Sedang Q pecinta band ‘pelangi’ ini. tapi toh, anggap saja ini pendapat orang yang sedang menjalani proses detoksifikasi perasaan, jadi kerap membuat asosiasi untuk hal – hal yang sebenarnya tak ada hubungannya. Walau memang aku dan Q punya beberapa kesamaan. Sama – sama berdarah A, tempat favorit kami ternyata sama; sebuah teluk di Asai sana, daerah Pantura Manokwari, beberapa lagu dari Greenday ternyata sama esp. “Wake me up when September ends”.
Entahlah …. Proses detoksifikasi ini berat tapi aku percaya bisa melaluinya. Apalagi masih ada beberapa teman anana pondok yang setidaknya bisa menerimaku. What a life!!
(Manokwari, 170811; detox hari ke 2)
Thursday, 18 August 2011
Remember when it rains
Di luar kamarku, hujan sedang bergemuruh deras menampar atap rumah dari bahan logam. Curahan hujan dari talang air juga berubah menjadi seperti tumpahan cair dari langit. Beberapa lagu menemaniku khususnya ‘something more’-nya ‘Second Serenade’. Entahlah … malam ini aku merindukannya. Merindukan Q. Rasa ini masih ada, ini baru hari ke 2 detox dan ia masih begitu lekat dalam ingatan, tawanya, candaannya …. Feel like in a deep sh**!!!
Sore tadi aku sudah berusaha bergabung dengan teman – teman di pondok, pada mereka aku tak bisa berbohong kalau aku sedang jatuh cinta yang juga patah hati. Sahabat cowokku sih sudah maklum jadi ia mengajakku pergi ke Pantura dan berenang. Menenangkan otak, katanya. Toh yang lain penasaran. Bahkan si kakak yang pendiam juga ikut – ikutan bertanya, “patah hati dengan siapa?”. Tumben!!! Guest what? Jam 5 kurang kami semua tiba di Mandopi, walau sempat nongkrong sebentar di jembatan Pami. Sore tadi, yang ada aku sudah berani menceburkan diri ke kali dengan cara melompat dari ketinggian dan melompat ke dalam kali yang dalam; sekitar 3,5 meter lah. Airnya lumayan dingin tapi menyegarkan. Pertama melompat, aku sedikit takut dan sempat mengalami panik. Tapi toh semuanya bisa kulalui dan bersenang – senang.
Sepulang dari sana dengan berkendara kencang, menyanyikan lirik “Pupus”nya Dewa di sepanjang jalan, setidaknya hatiku sedikit lebih lega walau … saat memandang mentari yang terbenam di ujung pantai sana, tiba – tiba ada rasa yang pecah di hati. Entahlah …. Mungkin benar. Kita baru merasakan arti kehadiran seseorang saat orang tersebut tak ada lagi. Dalam kasusku, ya tak ada lagi Q yang pasti mendengar curhat tak pentingku saat ini, semisal bercerita tentang mentari terbenam dan pengalaman mandi di kali yang FUN tadi … entahlah, I just lost a good guy I’ve ever known. Just totally miss him mungkin ungkapan yang tepat, entahlah apa aku masih pantas merindukannya? Tak tahu.
(Manokwari, 170811, 11:30 p.m.; mengingat Q … I just miss him)
Sore tadi aku sudah berusaha bergabung dengan teman – teman di pondok, pada mereka aku tak bisa berbohong kalau aku sedang jatuh cinta yang juga patah hati. Sahabat cowokku sih sudah maklum jadi ia mengajakku pergi ke Pantura dan berenang. Menenangkan otak, katanya. Toh yang lain penasaran. Bahkan si kakak yang pendiam juga ikut – ikutan bertanya, “patah hati dengan siapa?”. Tumben!!! Guest what? Jam 5 kurang kami semua tiba di Mandopi, walau sempat nongkrong sebentar di jembatan Pami. Sore tadi, yang ada aku sudah berani menceburkan diri ke kali dengan cara melompat dari ketinggian dan melompat ke dalam kali yang dalam; sekitar 3,5 meter lah. Airnya lumayan dingin tapi menyegarkan. Pertama melompat, aku sedikit takut dan sempat mengalami panik. Tapi toh semuanya bisa kulalui dan bersenang – senang.
Sepulang dari sana dengan berkendara kencang, menyanyikan lirik “Pupus”nya Dewa di sepanjang jalan, setidaknya hatiku sedikit lebih lega walau … saat memandang mentari yang terbenam di ujung pantai sana, tiba – tiba ada rasa yang pecah di hati. Entahlah …. Mungkin benar. Kita baru merasakan arti kehadiran seseorang saat orang tersebut tak ada lagi. Dalam kasusku, ya tak ada lagi Q yang pasti mendengar curhat tak pentingku saat ini, semisal bercerita tentang mentari terbenam dan pengalaman mandi di kali yang FUN tadi … entahlah, I just lost a good guy I’ve ever known. Just totally miss him mungkin ungkapan yang tepat, entahlah apa aku masih pantas merindukannya? Tak tahu.
(Manokwari, 170811, 11:30 p.m.; mengingat Q … I just miss him)
Akhir cerita Q
Hari ini adalah hari di mana aku mendapatkan sebuah kelegaan dari sebuah rasa yang mengikat dan membuat tak bisa tidur nyenyak walau sempat ada yang hilang dari hati; sosok Q. Sahabatku sejak kelas 1 SMP, sebut saja Mados, sempat berkata, “Day, jang ko bilang dan ungkap deng jujur, karna sa tahu ko sejak dulu, once you tell him, you’ll lose your feeling on him. Ko akan kehilangan ko pu sensasi cinta itu, dan sa cuma takut, kalo akhirnya ko jadian deng dia, ko malah membuat ko terperangkap lagi. Ko tuh mudah bosan. Sa hafal ko deh!!!”. Ah dan lagi – lagi ia benar. Semua sensasi rasa itu mulai lenyap, bukan cinta sebenarnya, tetapi sensasi rindu dan semua yang selama ini kupendam … lumer, larut seiring dengan hujan yang turun tadi.
Iya, kemarin malam, aku memberanikan mengirim beberapa pesan singkat ke Q, hanya untuk jujur tentang apa yang kurasakan untuk dia. SMS – SMS itupun kukirim usai pukul 12 malam, dengan asumsi ia sudah tidur dan tak perlu membalas seketika itu juga. Setidaknya aku sudah menyiapkan hatiku dengan mood patah hati sejak beberapa hari lalu. Jadi kalo memang the worst scenario-nya ia marah, ya setidaknya aku sudah siap. Apalagi sejak kemarin, lagu “Pupus” miliknya Dewa yang liriknya entahlah …. Sangat aku banget sudah menyanyi kencang, tiba – tiba teringat lagu ini yang pernah dinyanyikan seorang cowok di Manado untuk temanku *ini cerita keburukanku yang lain, ya sejenis “ungkap-pada-cowok-via-surat-dan-kabur-melarikan-diri-tanpa-peduli-dengan-reaksi-lelaki-tersebut-walau-orang-lain-yang-kena-efek-dan-dampak-buruknya” HAHAHA.
Aku tak tahu reaksi Q bagaimana, dan mungkin sekarang sudah tak memikirkan reaksi tersebut. Setidaknya kata beberapa sahabat usai curhat lewat SMS dan juga ngobrol langsung, aku sudah lebih berani sekarang, berani berkata yang kupikirkan dan kurasakan, dan setidaknya aku memilih membuat jalanku sendiri. Ada 4 pesan yang kukirimkan pada Q kemarin malam, yang mungkin kedengarannya terlalu sentimental dan mengasihani diri, tapi toh aku tak peduli. Bahkan aku memang sudah tak peduli kalau jadi bahan ‘mop’ di antara beberapa teman Q. Walau memang mengirimkan pesan – pesan ini membuatku tak bisa lelap dengan baik dan sempat menangis untuk mengeluarkan emosi yang tersisa. Hasilnya ternyata … berhasil. Rasa yang menggantungku selama ini lenyap dan aku merasa lega. Beban berat itu lenyap. Bisa fokus dengan hidupku lagi.
Aku tak bilang bahwa aku tak serius dengan apa yang kukatakan padanya lewat 4 pesan itu. Bukan pula berarti bahwa yang kurasakan kemarin itu hanya efek Bipolarku, atau aku hanya menjadikannya luapan emosiku. Sama sekali tidak. Aku jujur JATUH CINTA padanya TAPI aku hanya mau menjadikannya sebagai ungkapan jatuh cintaku yang lebih.. entahlah …bagaimana kau mengatakan dan mendeskripsikannya, tak tahu kau menyebutnya apa, PLATONIS? Entahlah … mungkin. Apa karena aku pengagum Gibran? Tak tahu. Rasa cinta yang sama seperti dengan kala aku selalu jatuh cinta pada hujan apalagi di pagi hari, sama seperti aku mencintai laut dan terumbu karang yang sehat, sama seperti perasaan cintaku pada hutan hijau yang tegap menantang ataupun pegunungan Arfak di kotaku, ataupun senja dan mentari terbit di pagi hari yang kerap kupantau saat duduk dari jendela kamar yang kubuka sambil bergantung a la kernet bis kota dengan secangkir kopi di pagi hari seperti kemarin pagi. Iya, cinta yang bagiku tak ingin mengikat atau terikat dalam sebuah ikatan dan komitmen. Rasa cinta yang membuatku merasa bebas, nyaman dan bahagia dan juga tenang, pada satu sisi. Hanya seperti luapan perasaan cinta. Seperti itu saja!!! Tak tahu bagaimana kau mendeskripsikan cinta seperti itu. Walau memang ada kerinduan akan suaranya yang kadang – kadang masih ingin kudengar. Toh aku sudah cukup lega pada tahap ini.
Adapun pesan – pesan yang kukirimkan padanya, entahlah … mungkin terlalu cengeng, aku tak peduli. Ini pengalaman pertamaku bilang dengan jujur tentang ‘perasaan cinta’ dan bukan seperti permainan jaman duluku yang cuma ingin have fun dengan sensasi suka belaka. Mungkin aku sudah berhasil melewati satu tahap pencapaian diri menjelang usia ke 28, ya semacam ada sinyal di otak yang bilang, “sudah saatnya berhenti bermain – main dengan sensasi rasa” dan mungkin ini ungkapan cinta tergila yang pernah kubuat, karna kubuat dengan jujur dan memang tidak mengharapkan apa – apa. Jadi aku tak suka menyebutnya dengan “nembak cowok” ataupun ungkapan lain seperti itu. Aku lebih suka bilang, ini ‘tindakan jujur pada diriku sendiri dan memberi tahu orang lain apa yang kurasakan”. Itu saja. Tapi toh setiap orang punya penilaian masing – masing atas tindakan orang lain.
Ini bunyi pesan – pesan yang kukirimkan, mungkin terdengar sangat lucu. Tapi toh karna aku memang seorang “sentimental fool” yang kerap jatuh cinta tanpa pakai tali pengaman rasa, ya it’s me. Welcome to my life lah.
#1. “Malam Q, ini SMS serius dan sa tra bercanda dan bukan karena sapu bipolar. Sa minta maaf e harus bilang walau mungkin abis ini ko pasti ketawakan sa. Tapi sa harus berani bilang daripada sa + tra bisa tidur terus. Jujur, sa terlanjur JATUH CINTA sama ko dan itu alasan utama sa harus menjauh dari ko karena selama ini sa entahlah, sa tipu sa perasaan sendiri.”
#2. “Sa dulu memang cuma anggap ko sebagai teman, tapi entahlah lama – lama rasa itu ada dan menyiksa. Sa memang kagum sekali sama kaka target yang cool itu, tapi entahlah, ko pu kejailan dan sense of humor lama – lama mengikis kaka pu pesona dan sa malah kecanduan ko pu kelakukan yang ‘asal’ skali tuh. Sorry sa telat bilang. Sa minta maaf saja e terlanjur jatuh cinta bratz sedangkan ko hanya anggap sa teman.”
#3. “Sa tahu pasti ko ada ketawa mati sa karena SMS – SMS ini. Entahlah, sa capek saja merasionalisasikan sa pu hati dan otak yang lagi tra sejalan. Sa tidak bermaksud ‘bilang’ apalagi ‘minta’ ko jadi sa pacar. Tidak, sa cuma ingin bilang sa nyaman selama ini dekat dengan ko, nyaman cerita, curhat, baku maki. Tapi sa merasa jadi jahat karena seperti memanfaatkan ko jadi sa pu teman cerita dan curhat – curhat dan saat rasa itu berubah, sa tahu sa jahat skali sama ko.”
#4. “Sa tahu ko pasti lagi ketawa to? Sa cuma mo bilang, kalo ada waktu ko bisa kunjungi sa blog di (http://kisahhujanpagi.blogspot.com), cari saja yang tag-nya ‘cinta’ or ‘Q’. Sa cuma ingin jujur dengan sa perasaan akhir – akhir ini walau mungkin yang sa tulis tuh dari versinya sa.Btw, sa cukup tahu diri kok, jadi sa tra akan ganggu ko hidup lagi. Wish you all the best. Sa tra PD ngomong urusan begini jadi jangan telpon sa apalagi mo diskusikan tanya barang ini, karena sa tra akan angkat telpon. Sa lagi suka dengar lagu ‘PUPUS’nya Dewa karena liriknya lebih mewakili sa perasaan saat ini. Thanx”
Entahlah, usai mengirim pesan ini, ada kelegaan besar yang hadir. Paginya, Q membalas pesanku, dan aku membacanya dengan lega … at least dia tidak memakiku HAHAHA
“Thanx kaka. Welcome to real life (let’s break away, chains are unlocking. You have so many ways). Saranku, coba dengar lagu – lagunya Vamps yang merupakan self –project vocalist dari Laruku. Judul lagunya MEMORY, Angel TRIP, DUET PIANO, REVOLUTION n HORIZON, GlAmorous SKy . Mungkin ini bisa menjadi hiburan untukmu.”
Catatan ini mungkin terdengar cengeng, entahlah …. Aku tak peduli, walau ada rasa kehilangan yang cukup besar, seperti lirik lagunya Greenday yang ‘Restless heart syndrome’ tapi toh hidup harus selalu berlanjut ke depan. Pasti aku akan jatuh cinta lagi seperti ini, entahlah … apa di saat nanti, aku mau terikat ataukah memilih jatuh cinta seperti gaya ini, jatuh cinta yang entahlah … tanpa nama, tanpa ikatan, tanpa komitmen. Seperti aku mencintai alam, laut, hujan dan bau tanah, mungkin seperti itu perasaanku saat ini kepada Q. Cinta yang entahlah namanya.
Entahlah … mungkin tepat seperti yang dikatakan Yukako, tokoh rekaan Nova R. Yusuf dalam novelnya ‘Mahadewa Mahadewi’, pada bagian puisi ‘Rasa dan Masa’:
“Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.“
Malam ini, yang aku tahu … aku mendapat sayap – sayap kebebasanku kembali. Sayap – sayap yang membuatku lega, dan tak terikat pada labirin perasaan. Entahlah … aku merasa nyaman dengan rasa cinta seperti ini, walau hanya dari satu pihak. Setidaknya aku belajar jujur dengan diriku sendiri, belajar untuk bisa menjadi aku yang sesungguhnya. Toh seperti biasa, motto harianku masih terus berkibar, “I am Single and Very Happy”.
Aku memang masih akan terus jatuh cinta, karna aku sangat mudah jatuh cinta, walau mungkin tiap kali aku jatuh cinta, rasanya akan bervariasi, dengan bentuk cinta yang berbeda untuk tiap lelaki yang kutemukan dalam hidup. Walau jujur, di dalam hidupku sepulang dari Australia, ada role model yang selalu kulihat dan kuimpikan, seseorang seperti bro J yang menyemangatiku, peduli dan tentu saja yang percaya pada mimpi – mimpiku. Aku masih tetap mencari seorang pemimpi seperti bro J, seseorang untuk menemaniku melangkah ke depan, walau mungkin tak akan pernah kutemukan, toh aku akan menunggu. Walau mungkin akan melewati banyak proses jatuh cinta dan patah hati … toh aku akan tetap mencoba dan menunggu, karena bagaimanapun bro J pernah menjadi salah satu lelaki yang sampai kini aku menyesal mati tak pernah bilang padanya kalau aku JATUH CINTA BRATZ padanya, pada semua yang ada di dirinya.
Mungkin pengalaman dengan bro J yang membuatku lebih berani untuk bilang pada Q tentang perasaanku, tak ingin berbohong dan menyesal di kemudian hari, walau memang tak mengharapkan apapun apalagi komitmen. Dia tak akan pernah menjadi bro J, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua punya sisi unik masing – masing dan tak akan pernah dan tak boleh dibandingkan. Walau kadang – kadang, alam bawah sadarku menangkap sosok bro J dalam percakapan – percakapanku dengan Q. Dan itu yang mungkin salah satu faktor merasa nyaman yang buntut – buntutnya membuatku jatuh cinta pada Q, seperti menemukan seorang teman lama dalam diri orang lain, menemukan keping – keping yang pernah kita kenal. Entahlah … sejenis déjà vu dalam bentuk lain kukira.
Bro J sangat jail (mengingat aksinya menyodorkan urine Koala di Kenneth River ATAU membuatku mabuk untuk pertama kali dan difotonya HAHAHA, dan juga setelahnya, menarik – narik hood jumperku yang saat itu sedang berjalan melayang karena efek minum bir pertama kali di down town Melbourne tetapi kupaksakan diri berjalan tergesa - gesa menuju bis yang akan pulang ke Canbee; balap – balap sambil mengacungkan jari F-word ke kamera di jembatan penyeberangan di dekat Geelong), lucu (‘mengerjainku’ menerobos pagar rumah kosong dengan banyak pohon Apel di belakang rumah, mengecek apel – apel ranum dan Blackberries sambil berfoto dan ketawa walau akhirnya kabur ngacir HAHAHA), romantis (membuatkanku sarapan pagi dan makan malamku; mengajakku melompat pagar properti yang baru dibelinya menuju bukit kosong yang menghadap teluk di bagian bawah dan bercerita dalam sebuah senja bahwa di sinilah rumah masa depannya akan berdiri, di sana ia akan menanam pohon – pohon dll, sangat romantis!!!!), peduli pada perempuan (memelukku yang super duper the best hug I’ve ever had kala menemukanku ketiduran di sofa beranda belakang, menyemangatiku kala mendengar visaku ditolak karena alasan kesehatan dan menawarkan memberikanku referensi),
Bro J mungkin lelaki terlengkap yang pernah kukenal, sangat baik. Ia menghargai perempuan, punya gaya hidup hijau, hobi berkebun, pria rumahan, kakak pertama yang sangat bertanggung jawab atas keluarga dan saudara – saudaranya, seseorang yang penuh kejutan (menyiapkan pesta kejutan untukku di sebuah sore penuh hujan di Melbourne), peduli pada orang lain (Bersamanya berhenti di sebuah news agency dan dengan wajah peduli menelpon seorang teman lelakinya yang anak remajanya tabrakan frontal dan harus dioperasi, menawarkan bantuan dan mendengar dengan seksama dan terus menyemangati dan memotivasi sahabatnya) tapi yang paling kusuka dari bro J adalah idealismenya untuk menggabungkan antara perhargaannya pada HAM dan seni. Plus bro J punya selera musik yang tidak seperti kebanyakan orang … dan ia yang membuatku tertarik untuk melihat musik dari sisi yang berbeda, mencari apa yang kumau dan nyaman.*tertawa mengingat bagaimana ia mengajarku menyanyi dan bergerak di dalam mobil mengikuti hentakan musik berbahasa Portugis. Hingga kini, aku masih tak tahu kabarnya … kadang masih merindukannya, tapi toh seperti Q … ada lelaki yang memang aku hanya bisa jatuh cinta pada mereka dari jauh tanpa niat apapun. Bagiku, bro J seperti bintang yang akan selalu kurindukan kadang – kadang, jauh tapi terasa dekat di hati. A role model dalam mencari kekasih!!!!
Lamat - lamat kuingat pertanyaan Bro J saat kami berada di dalam mobil dan be-rollercoaster di jalan Great Ocean Road, kala ia bilang seharusnya aku sudah mulai memikirkan untuk membuat rumah di pantai seperti di pinggiran GOR, dan pertanyaannya yang membuatku sempat terdiam lama, sebelum menjawabnya, pertanyaan yang selalu kuingat dari bro J, “So, when will you marry?” Saat itu, aku hanya menjawabnya, mengangkat bahu, gelengan kepala dan jawaban yang kupikir sangat jujur, “I don’t know. Have no idea. Haven’t planned it yet. Still stick on my vision. I’m just afraid when I marry then I can’t fulfill my dreams. You know, it’s hard in my culture. You visited West Papua and you know, it’s hard when I marry and have to travel to the interior land or to the remote area, I’m afraid that my future husband will not agree with that idea. So, I still have no idea, anyway, I’m single now so don’t wanna bother with this stuff for a while.”
Akhirnya, malam ini, aku tetap percaya ….di ujung sana … usai hujan, di ujung pelangi, someday, someway, somehow, akan kutemukan lelaki pelangiku, seseorang yang entah siapa, mungkin bukan Q dan mungkin juga bukan bro J TETAPI yang mempunyai sifat – sifat mereka. Semoga saat itu, aku sudah siap berkomitmen. Entahlah … malam ini aku bahagia. Aku jatuh cinta, jatuh cinta lebih dalam pada hidupku.
Ya, welcome to the real life ….!!!
(Manokwari, 170811; pada sebuah subuh, dan mengingat mereka; bentuk ‘cinta’ yang menyemangati dan memotivasi tapi enggan kumiliki karena terlalu shining)
Iya, kemarin malam, aku memberanikan mengirim beberapa pesan singkat ke Q, hanya untuk jujur tentang apa yang kurasakan untuk dia. SMS – SMS itupun kukirim usai pukul 12 malam, dengan asumsi ia sudah tidur dan tak perlu membalas seketika itu juga. Setidaknya aku sudah menyiapkan hatiku dengan mood patah hati sejak beberapa hari lalu. Jadi kalo memang the worst scenario-nya ia marah, ya setidaknya aku sudah siap. Apalagi sejak kemarin, lagu “Pupus” miliknya Dewa yang liriknya entahlah …. Sangat aku banget sudah menyanyi kencang, tiba – tiba teringat lagu ini yang pernah dinyanyikan seorang cowok di Manado untuk temanku *ini cerita keburukanku yang lain, ya sejenis “ungkap-pada-cowok-via-surat-dan-kabur-melarikan-diri-tanpa-peduli-dengan-reaksi-lelaki-tersebut-walau-orang-lain-yang-kena-efek-dan-dampak-buruknya” HAHAHA.
Aku tak tahu reaksi Q bagaimana, dan mungkin sekarang sudah tak memikirkan reaksi tersebut. Setidaknya kata beberapa sahabat usai curhat lewat SMS dan juga ngobrol langsung, aku sudah lebih berani sekarang, berani berkata yang kupikirkan dan kurasakan, dan setidaknya aku memilih membuat jalanku sendiri. Ada 4 pesan yang kukirimkan pada Q kemarin malam, yang mungkin kedengarannya terlalu sentimental dan mengasihani diri, tapi toh aku tak peduli. Bahkan aku memang sudah tak peduli kalau jadi bahan ‘mop’ di antara beberapa teman Q. Walau memang mengirimkan pesan – pesan ini membuatku tak bisa lelap dengan baik dan sempat menangis untuk mengeluarkan emosi yang tersisa. Hasilnya ternyata … berhasil. Rasa yang menggantungku selama ini lenyap dan aku merasa lega. Beban berat itu lenyap. Bisa fokus dengan hidupku lagi.
Aku tak bilang bahwa aku tak serius dengan apa yang kukatakan padanya lewat 4 pesan itu. Bukan pula berarti bahwa yang kurasakan kemarin itu hanya efek Bipolarku, atau aku hanya menjadikannya luapan emosiku. Sama sekali tidak. Aku jujur JATUH CINTA padanya TAPI aku hanya mau menjadikannya sebagai ungkapan jatuh cintaku yang lebih.. entahlah …bagaimana kau mengatakan dan mendeskripsikannya, tak tahu kau menyebutnya apa, PLATONIS? Entahlah … mungkin. Apa karena aku pengagum Gibran? Tak tahu. Rasa cinta yang sama seperti dengan kala aku selalu jatuh cinta pada hujan apalagi di pagi hari, sama seperti aku mencintai laut dan terumbu karang yang sehat, sama seperti perasaan cintaku pada hutan hijau yang tegap menantang ataupun pegunungan Arfak di kotaku, ataupun senja dan mentari terbit di pagi hari yang kerap kupantau saat duduk dari jendela kamar yang kubuka sambil bergantung a la kernet bis kota dengan secangkir kopi di pagi hari seperti kemarin pagi. Iya, cinta yang bagiku tak ingin mengikat atau terikat dalam sebuah ikatan dan komitmen. Rasa cinta yang membuatku merasa bebas, nyaman dan bahagia dan juga tenang, pada satu sisi. Hanya seperti luapan perasaan cinta. Seperti itu saja!!! Tak tahu bagaimana kau mendeskripsikan cinta seperti itu. Walau memang ada kerinduan akan suaranya yang kadang – kadang masih ingin kudengar. Toh aku sudah cukup lega pada tahap ini.
Adapun pesan – pesan yang kukirimkan padanya, entahlah … mungkin terlalu cengeng, aku tak peduli. Ini pengalaman pertamaku bilang dengan jujur tentang ‘perasaan cinta’ dan bukan seperti permainan jaman duluku yang cuma ingin have fun dengan sensasi suka belaka. Mungkin aku sudah berhasil melewati satu tahap pencapaian diri menjelang usia ke 28, ya semacam ada sinyal di otak yang bilang, “sudah saatnya berhenti bermain – main dengan sensasi rasa” dan mungkin ini ungkapan cinta tergila yang pernah kubuat, karna kubuat dengan jujur dan memang tidak mengharapkan apa – apa. Jadi aku tak suka menyebutnya dengan “nembak cowok” ataupun ungkapan lain seperti itu. Aku lebih suka bilang, ini ‘tindakan jujur pada diriku sendiri dan memberi tahu orang lain apa yang kurasakan”. Itu saja. Tapi toh setiap orang punya penilaian masing – masing atas tindakan orang lain.
Ini bunyi pesan – pesan yang kukirimkan, mungkin terdengar sangat lucu. Tapi toh karna aku memang seorang “sentimental fool” yang kerap jatuh cinta tanpa pakai tali pengaman rasa, ya it’s me. Welcome to my life lah.
#1. “Malam Q, ini SMS serius dan sa tra bercanda dan bukan karena sapu bipolar. Sa minta maaf e harus bilang walau mungkin abis ini ko pasti ketawakan sa. Tapi sa harus berani bilang daripada sa + tra bisa tidur terus. Jujur, sa terlanjur JATUH CINTA sama ko dan itu alasan utama sa harus menjauh dari ko karena selama ini sa entahlah, sa tipu sa perasaan sendiri.”
#2. “Sa dulu memang cuma anggap ko sebagai teman, tapi entahlah lama – lama rasa itu ada dan menyiksa. Sa memang kagum sekali sama kaka target yang cool itu, tapi entahlah, ko pu kejailan dan sense of humor lama – lama mengikis kaka pu pesona dan sa malah kecanduan ko pu kelakukan yang ‘asal’ skali tuh. Sorry sa telat bilang. Sa minta maaf saja e terlanjur jatuh cinta bratz sedangkan ko hanya anggap sa teman.”
#3. “Sa tahu pasti ko ada ketawa mati sa karena SMS – SMS ini. Entahlah, sa capek saja merasionalisasikan sa pu hati dan otak yang lagi tra sejalan. Sa tidak bermaksud ‘bilang’ apalagi ‘minta’ ko jadi sa pacar. Tidak, sa cuma ingin bilang sa nyaman selama ini dekat dengan ko, nyaman cerita, curhat, baku maki. Tapi sa merasa jadi jahat karena seperti memanfaatkan ko jadi sa pu teman cerita dan curhat – curhat dan saat rasa itu berubah, sa tahu sa jahat skali sama ko.”
#4. “Sa tahu ko pasti lagi ketawa to? Sa cuma mo bilang, kalo ada waktu ko bisa kunjungi sa blog di (http://kisahhujanpagi.blogspot.com), cari saja yang tag-nya ‘cinta’ or ‘Q’. Sa cuma ingin jujur dengan sa perasaan akhir – akhir ini walau mungkin yang sa tulis tuh dari versinya sa.Btw, sa cukup tahu diri kok, jadi sa tra akan ganggu ko hidup lagi. Wish you all the best. Sa tra PD ngomong urusan begini jadi jangan telpon sa apalagi mo diskusikan tanya barang ini, karena sa tra akan angkat telpon. Sa lagi suka dengar lagu ‘PUPUS’nya Dewa karena liriknya lebih mewakili sa perasaan saat ini. Thanx”
Entahlah, usai mengirim pesan ini, ada kelegaan besar yang hadir. Paginya, Q membalas pesanku, dan aku membacanya dengan lega … at least dia tidak memakiku HAHAHA
“Thanx kaka. Welcome to real life (let’s break away, chains are unlocking. You have so many ways). Saranku, coba dengar lagu – lagunya Vamps yang merupakan self –project vocalist dari Laruku. Judul lagunya MEMORY, Angel TRIP, DUET PIANO, REVOLUTION n HORIZON, GlAmorous SKy . Mungkin ini bisa menjadi hiburan untukmu.”
Catatan ini mungkin terdengar cengeng, entahlah …. Aku tak peduli, walau ada rasa kehilangan yang cukup besar, seperti lirik lagunya Greenday yang ‘Restless heart syndrome’ tapi toh hidup harus selalu berlanjut ke depan. Pasti aku akan jatuh cinta lagi seperti ini, entahlah … apa di saat nanti, aku mau terikat ataukah memilih jatuh cinta seperti gaya ini, jatuh cinta yang entahlah … tanpa nama, tanpa ikatan, tanpa komitmen. Seperti aku mencintai alam, laut, hujan dan bau tanah, mungkin seperti itu perasaanku saat ini kepada Q. Cinta yang entahlah namanya.
Entahlah … mungkin tepat seperti yang dikatakan Yukako, tokoh rekaan Nova R. Yusuf dalam novelnya ‘Mahadewa Mahadewi’, pada bagian puisi ‘Rasa dan Masa’:
“Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.“
Malam ini, yang aku tahu … aku mendapat sayap – sayap kebebasanku kembali. Sayap – sayap yang membuatku lega, dan tak terikat pada labirin perasaan. Entahlah … aku merasa nyaman dengan rasa cinta seperti ini, walau hanya dari satu pihak. Setidaknya aku belajar jujur dengan diriku sendiri, belajar untuk bisa menjadi aku yang sesungguhnya. Toh seperti biasa, motto harianku masih terus berkibar, “I am Single and Very Happy”.
Aku memang masih akan terus jatuh cinta, karna aku sangat mudah jatuh cinta, walau mungkin tiap kali aku jatuh cinta, rasanya akan bervariasi, dengan bentuk cinta yang berbeda untuk tiap lelaki yang kutemukan dalam hidup. Walau jujur, di dalam hidupku sepulang dari Australia, ada role model yang selalu kulihat dan kuimpikan, seseorang seperti bro J yang menyemangatiku, peduli dan tentu saja yang percaya pada mimpi – mimpiku. Aku masih tetap mencari seorang pemimpi seperti bro J, seseorang untuk menemaniku melangkah ke depan, walau mungkin tak akan pernah kutemukan, toh aku akan menunggu. Walau mungkin akan melewati banyak proses jatuh cinta dan patah hati … toh aku akan tetap mencoba dan menunggu, karena bagaimanapun bro J pernah menjadi salah satu lelaki yang sampai kini aku menyesal mati tak pernah bilang padanya kalau aku JATUH CINTA BRATZ padanya, pada semua yang ada di dirinya.
Mungkin pengalaman dengan bro J yang membuatku lebih berani untuk bilang pada Q tentang perasaanku, tak ingin berbohong dan menyesal di kemudian hari, walau memang tak mengharapkan apapun apalagi komitmen. Dia tak akan pernah menjadi bro J, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua punya sisi unik masing – masing dan tak akan pernah dan tak boleh dibandingkan. Walau kadang – kadang, alam bawah sadarku menangkap sosok bro J dalam percakapan – percakapanku dengan Q. Dan itu yang mungkin salah satu faktor merasa nyaman yang buntut – buntutnya membuatku jatuh cinta pada Q, seperti menemukan seorang teman lama dalam diri orang lain, menemukan keping – keping yang pernah kita kenal. Entahlah … sejenis déjà vu dalam bentuk lain kukira.
Bro J sangat jail (mengingat aksinya menyodorkan urine Koala di Kenneth River ATAU membuatku mabuk untuk pertama kali dan difotonya HAHAHA, dan juga setelahnya, menarik – narik hood jumperku yang saat itu sedang berjalan melayang karena efek minum bir pertama kali di down town Melbourne tetapi kupaksakan diri berjalan tergesa - gesa menuju bis yang akan pulang ke Canbee; balap – balap sambil mengacungkan jari F-word ke kamera di jembatan penyeberangan di dekat Geelong), lucu (‘mengerjainku’ menerobos pagar rumah kosong dengan banyak pohon Apel di belakang rumah, mengecek apel – apel ranum dan Blackberries sambil berfoto dan ketawa walau akhirnya kabur ngacir HAHAHA), romantis (membuatkanku sarapan pagi dan makan malamku; mengajakku melompat pagar properti yang baru dibelinya menuju bukit kosong yang menghadap teluk di bagian bawah dan bercerita dalam sebuah senja bahwa di sinilah rumah masa depannya akan berdiri, di sana ia akan menanam pohon – pohon dll, sangat romantis!!!!), peduli pada perempuan (memelukku yang super duper the best hug I’ve ever had kala menemukanku ketiduran di sofa beranda belakang, menyemangatiku kala mendengar visaku ditolak karena alasan kesehatan dan menawarkan memberikanku referensi),
Bro J mungkin lelaki terlengkap yang pernah kukenal, sangat baik. Ia menghargai perempuan, punya gaya hidup hijau, hobi berkebun, pria rumahan, kakak pertama yang sangat bertanggung jawab atas keluarga dan saudara – saudaranya, seseorang yang penuh kejutan (menyiapkan pesta kejutan untukku di sebuah sore penuh hujan di Melbourne), peduli pada orang lain (Bersamanya berhenti di sebuah news agency dan dengan wajah peduli menelpon seorang teman lelakinya yang anak remajanya tabrakan frontal dan harus dioperasi, menawarkan bantuan dan mendengar dengan seksama dan terus menyemangati dan memotivasi sahabatnya) tapi yang paling kusuka dari bro J adalah idealismenya untuk menggabungkan antara perhargaannya pada HAM dan seni. Plus bro J punya selera musik yang tidak seperti kebanyakan orang … dan ia yang membuatku tertarik untuk melihat musik dari sisi yang berbeda, mencari apa yang kumau dan nyaman.*tertawa mengingat bagaimana ia mengajarku menyanyi dan bergerak di dalam mobil mengikuti hentakan musik berbahasa Portugis. Hingga kini, aku masih tak tahu kabarnya … kadang masih merindukannya, tapi toh seperti Q … ada lelaki yang memang aku hanya bisa jatuh cinta pada mereka dari jauh tanpa niat apapun. Bagiku, bro J seperti bintang yang akan selalu kurindukan kadang – kadang, jauh tapi terasa dekat di hati. A role model dalam mencari kekasih!!!!
Lamat - lamat kuingat pertanyaan Bro J saat kami berada di dalam mobil dan be-rollercoaster di jalan Great Ocean Road, kala ia bilang seharusnya aku sudah mulai memikirkan untuk membuat rumah di pantai seperti di pinggiran GOR, dan pertanyaannya yang membuatku sempat terdiam lama, sebelum menjawabnya, pertanyaan yang selalu kuingat dari bro J, “So, when will you marry?” Saat itu, aku hanya menjawabnya, mengangkat bahu, gelengan kepala dan jawaban yang kupikir sangat jujur, “I don’t know. Have no idea. Haven’t planned it yet. Still stick on my vision. I’m just afraid when I marry then I can’t fulfill my dreams. You know, it’s hard in my culture. You visited West Papua and you know, it’s hard when I marry and have to travel to the interior land or to the remote area, I’m afraid that my future husband will not agree with that idea. So, I still have no idea, anyway, I’m single now so don’t wanna bother with this stuff for a while.”
Akhirnya, malam ini, aku tetap percaya ….di ujung sana … usai hujan, di ujung pelangi, someday, someway, somehow, akan kutemukan lelaki pelangiku, seseorang yang entah siapa, mungkin bukan Q dan mungkin juga bukan bro J TETAPI yang mempunyai sifat – sifat mereka. Semoga saat itu, aku sudah siap berkomitmen. Entahlah … malam ini aku bahagia. Aku jatuh cinta, jatuh cinta lebih dalam pada hidupku.
Ya, welcome to the real life ….!!!
(Manokwari, 170811; pada sebuah subuh, dan mengingat mereka; bentuk ‘cinta’ yang menyemangati dan memotivasi tapi enggan kumiliki karena terlalu shining)
poem - Mercy
I am leaving
You’re done
Cut the chord
I will bare my heart
Make sure it’s sharp
Make it quick
Flash your will against me
Relieve this red smear
Smother thebeating
Dull the pulse
Show mercy
Spare it from your side
And I will rip
What was yours, what was living in me
And return it to you.
Do it while our hearts
Are still intact
Before they rot in each other’s care
Before they become riddled with bitterness
Choked by the stinking seeds
Of resentment.
(Jewel Kilcher in “A Night without Armor”)
You’re done
Cut the chord
I will bare my heart
Make sure it’s sharp
Make it quick
Flash your will against me
Relieve this red smear
Smother thebeating
Dull the pulse
Show mercy
Spare it from your side
And I will rip
What was yours, what was living in me
And return it to you.
Do it while our hearts
Are still intact
Before they rot in each other’s care
Before they become riddled with bitterness
Choked by the stinking seeds
Of resentment.
(Jewel Kilcher in “A Night without Armor”)
poem - sometimes
Sometimes
I feel
My heart
Fall
To vague depths
Between
Words there
Are such
Spaces that
I can’t help
But feel
My heart
Fall
Between
The pregnant pause
Of all you will
not say
and all
I can
Not ask
(Jewel Kilcher in “A night without armor”. )
I feel
My heart
Fall
To vague depths
Between
Words there
Are such
Spaces that
I can’t help
But feel
My heart
Fall
Between
The pregnant pause
Of all you will
not say
and all
I can
Not ask
(Jewel Kilcher in “A night without armor”. )
Monday, 15 August 2011
Poem - Gather yourself
Catatan untuk Q:
Gather yourself at the seashore
And I will love you there
Assemble yourself with wild things
With songs of the sparrow and sea foam
Let mad beauty collect itself
In your eyes and it will shine, calling me
For I long for a man
With nests of wild things in his hair
A man who will kiss the flame
(Jewel Kilcher in ‘A night withour armor’)
Gather yourself at the seashore
And I will love you there
Assemble yourself with wild things
With songs of the sparrow and sea foam
Let mad beauty collect itself
In your eyes and it will shine, calling me
For I long for a man
With nests of wild things in his hair
A man who will kiss the flame
(Jewel Kilcher in ‘A night withour armor’)
Last story?
Entahlah .. tulisan ini akan mengarah ke mana, yang aku tahu aku sedang galau. Kami tak lagi kontak sejak Sabtu kemarin, dan SMSnya dua hari lalu benar – benar mengubah semuanya. Aku sudah berusaha menjauh, menjauh agar bisa merasionalisasikan rasa ini, rasa yang seharusnya tidak ada, rasa yang akan menuju malam – malam panjang menahan rindu, rasa yang akan membunuhku pelan – pelan.
Iya, aku terlanjur jatuh cinta padanya, pada Q. Itu yang kusadari akhir – akhir ini. Tak seharusnya ada. Walau memang aku nyaman bercerita dengannya tapi toh rasa ini tetap salah. Tak boleh ada. Jangan pernah ‘take other people for granted’ walau mungkin ia memang hanya menganggapku teman dan kakak. Entahlah … mungkin satu – satunya cara terbaik adalah menjauhinya. No more pelarian!!! Itu yang kupelajari sejak lama.
Dulu usai putus dengan cinta pertamaku, aku bertemu beberapa kenalan. Tapi akhirnya usai hampir 2 tahun aku bertemu Abel dan saat itu rasa itu bukan lagi pelarian karna aku sudah siap jatuh cinta. Toh kami putus baik – baik karena alasan prinsip dan hingga kini aku dan istrinya berteman. Sayangnya, putus dari Abel sempat membuatku goncang karena ia sempat menjadi ‘lelaki terindah dalam hidupku’.
Akhirnya sejarah pelarian pun terjadi. Kembali ke mantan pacar pertama hanya agar tak merasa kesepian, toh usai 2 bulanan kami bubaran kali ini dengan ‘tanpa rasa’. Kembali lagi dekat dengan Abel tapi toh bubar lagi dalam hitungan bulan, kami berdua – berdua sama – sama kehilangan dan mencari bentuk, masih tak rela sebenarnya kala itu. Tak heran ia yang sempat bertunangan dengan seorang suster membatalkan pertunangan tetapi akhirnya mendapatkan istrinya yang sekarang dan mereka bahagia dengan seorang putri kecil. Abel lelaki yang cukup gentle, karena sebelum menikah, ia menelponku mengabarkan dan bercerita. Ia jugalah yang masih sempat sehabis putus, menghubungiku beberapa kali mengingatkan untuk jangan mencari lelaki yang hanya memandangku dari fisik, harus mencari yang benar – benar menyayangiku. Aku bahagia ia bertemu istrinya yang sekarang, perempuan yang akan menjaganya lebih baik dari aku.
Usai bertemu Abel, datanglah Lelaki hujan sebagai pelarian. Awalnya kami berdua hanya sama – sama mencari pelarian, toooh waktu berjalan dan kami berdua larut dalam cinta. Cinta terlarang sebenarnya saat itu. Perjalanan nasib membuat hidup kami berdua selama 3 tahun tak jelas. Putus sambung dikejar perasaan mengambang dan rindu – rindu yang tak terkatakan dan direstui. Toh semuanya harus berakhir. Lelaki hujan mungkin lelaki yang paling banyak menguras energi, cinta, dan biaya. Lelaki yang membuatku mencintai hingga terluka. Dua tahun lalu, putusnya hubungan kami secara parsial membuatku dekat dengan beberapa lelaki. Seorang teman di Australia yang sudah bertunangan menjadi teman curhat toh kami hanya berteman. Karena terlalu banyak sorotan dari teman – teman lain, padahal yang kami perbincangkan adalah masalah iman, pandangan hidup .. ah ia seorang teman dan saudara lelaki yang baik. Toh karena tak tahan dengan gunjingan teman – teman , aku memintanya untuk jangan menghubungiku lagi karena statusnya. Benar – benar tak nyaman padahal aku hanya ingin punya seorang teman lelaki yang murni sebagai teman dan saudara lelaki.
Dan aku kembali mencari pelarian dengan seorang psiko di Manokwari, lelaki yang menerorku dengan kata – kata cabulnya, hingga membuatku menutup akun facebookku. Seorang sex addicted. Untungnya kami putus usai 3 bulan pacaran. Hingga sekarang aku belum pernah bertemunya lagi. Ia mungkin pelarian. Ya, seorang pelarian. Aku hanya mengingatnya sebagai lelaki yang memanggilku bidadari.
Dan kembali lagi ke Manokwari, bertemu dengan lelaki hujan dan ya … kami sama – sama mencari rasa yang masih tersisa dan membereskan rasa yang pernah ada. Toh semuanya sudah diakhiri 2 bulan sejak aku pulang ke Manokwari. Tak ada lagi cinta yang tersisa, yang ada hanya luka dan kecewa. Tapi itulah hidup dan aku belajar banyak dan berjanji untuk menjaga cinta kelak, menjaga hati. Mencari yang menawarkan pernikahan.
Kaka di Jayapura pun masuk sebagai kekasih, walau sudah kukenal beberapa tahun sebelumnya. Dan sayangnya, awalnya aku menerimanya karena ia berjanji mau serius dengan hubungan, menuju pernikahan. Toh semuanya janji tinggal janji. Kami berdua hanyalah sesama pencari pembunuh sepi. Dan seperti biasa, kami berpisah baik – baik, walau aku sebenarnya tak ingin terlalu sering lagi berurusan dengannya. Terlalu menguras energi menghadapinya. Hubungan inilah yang paling membuatku menjadi lebih berani ngomong ke orang tuaku, toh usai ‘berkoar – koar’ e putus juga. Tak bisa menjaga rahasia.
Dan …. Datanglah Q. Teman curhat, joker dan orang yang selalu membuatku tertawa walau kadang membuat emosiku naik turun seakan sedang naik rollercoaster. Aku tak tahu perasaannya padaku, apalagi berdasarkan ‘riset’ dan ‘survei kecil – kecilan’ dari beberapa teman, mereka sedikit ragu dengan Q karena gayanya yang suka TTM, karena katanya dulu semasa kuliah ia pernah seperti itu pada seorang teman perempuannya. Gosipnya sih, versinya Q, ceweknya yang mengejar – ngejar Q sedang Qnya cool abis. Entahlah … tapi bagaimanapun juga, Q dulu pernah menolongku menghadapi pandangan kaka yang menyelidik karena acara pulang larut malam gara – gara reuni dengan Q dan Na di pantai. Sejak saat itu, Q sering menjadi tempat curhat. Apalagi aku sudah kenal dia sejak tahun 2003 karena ia sahabat teman sekelasku dan suka bergabung dalam acara himpunan kami; ya .. ia yang kerap menjadi fotografer kami.
Q yang lucu dan jail plus cerewet perlahan masuk dalam hidupku. Usai berbulan – bulan aku tersadar bahwa rasa yang aku punya tak lagi murni, rasa yang bukan untuk seorang teman, terlanjur suka. Terlanjur cinta mungkin. Terlanjur bergantung pada kehadirannya, tawanya dan candaannya. Kecanduan mungkin kata yang tepat. Dan aku tak ingin menjadikannya pelarianku. Itu saja! Walau mungkin aku sendiri hanya dianggapnya TEMAN. Tak lebih. Jadi sebenarnya lebih baik mundur daripada sakit. Kau tahu, rasanya seperti menjadi Tantalus dalam mitologi Yunani yang karna saking rakus makan dan mencuri Ambrosia – makanan para dewa, ia dihukum dibuang ke tempatnya Hades di neraka sana. Hukumannya tak hanya itu, di atas kepalanya, melayang – layang semua jenis makanan yang disukanya, tiap kali ia hendak menelan makanan – makanan itu …. ‘PLUP’, ‘BUZZ’ Hilang … dan melongolah Tantalus. Nah saat ini, aku merasa seperti Tantalus. I am like in deep shit banget deh! Tahu kan rasanya? Hahaha *sambil mendengar lagu ‘Pupus’nya Dewa.
Dia terlalu baik, terlalu baik untuk disakiti nantinya. Aku belajar dari semua hubungan yang pernah terjadi bahwa aku mempunya potensi merusak apapun yang kusentuh, semua rasa yang kujamah, dan semuanya tak pernah berakhir baik. Ada Nemesis dalam diriku yang jelas - - jelas tak punya sentuhan Midas. Entahlah … kemarin kami ‘bertengkar’ tepatnya. Bukan dengan kata – kata kasar. Tampaknya ia hanya tak terima kala aku memintanya untuk tidak mengontakku atau dekat lagi denganku. Begitu juga malam ini, kami bertengkar lagi walau ia sempat menelponku usai kami berkirim pesan, dan tiba – tiba ia pun membahas kenapa aku mengirim pesan seperti kemarin malam. Sayangnya, I am speechless .. dan reaksi spontanku adalah menutup telpon.
Jujur, sa nyali pecek kalo ditanya urusan begini. Padahal beberapa menit sebelumnya kami tertawa membicarakan selera musiknya si Arc yang cewek banget; AB Three boooo!!! Telpon yang terputus direspon Q dengan sebuah SMS yang singkat tapi menohok, “I HATE YOU”. Aku merasa bersalah!!!! Tentu saja kurespon dengan rangkaian SMS alasan dan lain – lain termasuk memberitahu bahwa sebuah catatan berjudul “Pulai, ‘wake me up when September ends’” sebenarnya untuk dia plus beberapa catatan di blog ini, walau aku tak yakin ia tahu alamat blogku *hehehe. At least sudah kuberitahu. Guess what? Ternyata aku juga baru tahu kalau ia juga suka lagu yang sama denganku untuk lagunya Greenday ‘Wake me up when September ends’, tak heran usai SMS – SMSku yang panjang lebar itu, ia cuma membalas kalo aku ingin bermain gitar (aku sempat keceplosan ngomong pas ditelpn kalo aku sedang belajar main gitar beberapa bulan ini, demi Greenday, demi pencapaian ultahku ke 28 bulan depan, demi lagu – lagunya India Arie), pakai saja chord gitar yang mudah untuk lagu itu.
SMS – SMS panjang dan berliku – liku itu sebenarnya tak bisa mencakup semua yang kurasakan. Sebenarnya kalau ada nyali (sayangnya, masih tak ada hihihihi) sa ingin bilang begini sama Q, baik lewat SMS ka telpon,, “Well, sebenarnya sa jatuh cinta sama ko, dan ini bukannya sa nembak ko sebagai sa pacar e apalagi calon suami, sa belum berpikiran ke sana, sa cuma mo bilang sa jatuh cinta bratz sama ko. Sa tra tau ko perasaan sebenarnya ke sa tuh bagaimana, jadi daripada nan tahu ko cuma anggap sa sebagai teman saja yang otomatis kalo sa dengar pasti sa akan sedikit emotionally breaking down, jadi lebih baik begini saja …sa menjauh saja ka ini dan mengagumi ko dari jauh. Plus sa juga tetap minder kalo memang jadian deng ko, ko terlalu shining begitu, talalu mengkilat. Sa macam berasa jadi Upik Abu deh n tra layak dapatkan ko. Entahlah …. Sa cuma merasa ko tuh seperti matahari yang terlalu bersinar cerah … sedang sa mungkin cuma anak burung hantu yang tra boleh dekat – dekat deng matahari dan lebih suka bergerak di kegelapan, orang belakang layar-lah untuk urusan perasaan. Tapi jujur …. Sa su terlanjur jatuh cinta dan rasa ini membunuhku.”
Sayangnya, sa bukan orang yang bisa ngomong tentang perasaan dengan baik. Ekspresi wajah di depan cowok yang sa suka saja sering sa tutupi mati mo ….. Jadi walaupun sa orangnya ekspresif, kalo urusan perasaan … I’m the best LIAR!!! Tra heran dulu sa suka mata kuliah drama, termasuk kapala susun skrip untuk pementasan. Call me a liar!!! Malunya itu lhooooo kalo sampai ketahuan. Tra bisa bayangkan. (Walau masalah ini pun dimulai karena salah kirim SMS tentang curhat perasaannya sa ke Q ke seorang sahabat dan nyasarnya ke Q, anjriiiiiiitttt!!! Untung sa tra bilang ‘cinta’ di SMS itu hahahaha, makanya sa menghindar terus dikonfirmasi sama dia, sa cuma SMS bilang, “ko hapus SMS yang tadi suda e, anggap saja trada. Itu untuk sa pu sahabat.” Bagaimana de tra penasaran, lah de pu nama ada pica di SMS itu hahahaha *malu pica skali eeeee).
Padahal jujur dalam hati, aku tahu aku sedang menipu perasaanku sendiri. Menipu rasa yang kupunya. Semuanya karena tak ada konfirmasi. Takut hanya berharap pada bayangan sedang racun candu memabukan terlanjur masuk. Tak ingin terluka sebenarnya.
Aku berani bilang pesan – pesan pendeknya sedikit bernada tegas kemarin, bahkan ada yang sempat membuatku kaget, kesediaannya untuk mendengar uneg – unegku face-to-face ataupun pada momen yang sangat personal yang aku tahu memang tak akan bisa membohonginya nanti karena aku tipe orang berkepribadian ENFJ kalau sampai face-to-face ditanyain, pada bagian ini, paling susah berbohong. Selama tidak dikejar pertanyaan, I’m the best LIAR in expressing my feeling.
Tapi urusan logika dan perasaan memang kadang tak sejalan dan aku memilih menggunakan logikaku dibanding mempertimbangkan perasaanku. Demi sebuah ego, sebuah harga diri dan juga tentu saja demi tindakan preventif dari racun cinta yang memabukkan. Aku sudah kerap kali patah hati dan kali ini aku memilih mempercepat prosesnya biar nanti tidak kronis di dalam benakku, menghemat rasa sakit, mengurangi nyeri perasaan. Intinya, mengosongkan rasa. Tapi ini sangat menyakitkan, sangat sakit.
Aku orang yang mudah jatuh cinta, sangat mudah. Dan Q benar – benar membuatku jatuh cinta. Padahal kupikir aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi terikat pada hubungan yang berbau cinta. Entahlah .. ia candu yang memabukkan. Perlahan masuk dalam hidupku tetapi sangat sulit dilupakan. Membuatku teringat lirik lagu Greenday “restless heart syndrome” dan lagu ini plus ‘Wake me up when September ends’ menemaniku selama 2 hari ini.
“I've got a really bad disease
It's got me begging on my hands and knees
So, take me to emergency
Cause something seems to be missing
Somebody take the pain away
It's like an ulcer bleeding in my brain
So send me to the pharmacy so I can lose my memory”
Andai saja dia tahu kalau aku terlanjur cinta … dan cinta ini sangat membunuhku!!!
(Manokwari, 140811; dikejar deadline, terjebak dalam labirin bipolar dan cinta ini membunuhku …. Sangat!!!)
Iya, aku terlanjur jatuh cinta padanya, pada Q. Itu yang kusadari akhir – akhir ini. Tak seharusnya ada. Walau memang aku nyaman bercerita dengannya tapi toh rasa ini tetap salah. Tak boleh ada. Jangan pernah ‘take other people for granted’ walau mungkin ia memang hanya menganggapku teman dan kakak. Entahlah … mungkin satu – satunya cara terbaik adalah menjauhinya. No more pelarian!!! Itu yang kupelajari sejak lama.
Dulu usai putus dengan cinta pertamaku, aku bertemu beberapa kenalan. Tapi akhirnya usai hampir 2 tahun aku bertemu Abel dan saat itu rasa itu bukan lagi pelarian karna aku sudah siap jatuh cinta. Toh kami putus baik – baik karena alasan prinsip dan hingga kini aku dan istrinya berteman. Sayangnya, putus dari Abel sempat membuatku goncang karena ia sempat menjadi ‘lelaki terindah dalam hidupku’.
Akhirnya sejarah pelarian pun terjadi. Kembali ke mantan pacar pertama hanya agar tak merasa kesepian, toh usai 2 bulanan kami bubaran kali ini dengan ‘tanpa rasa’. Kembali lagi dekat dengan Abel tapi toh bubar lagi dalam hitungan bulan, kami berdua – berdua sama – sama kehilangan dan mencari bentuk, masih tak rela sebenarnya kala itu. Tak heran ia yang sempat bertunangan dengan seorang suster membatalkan pertunangan tetapi akhirnya mendapatkan istrinya yang sekarang dan mereka bahagia dengan seorang putri kecil. Abel lelaki yang cukup gentle, karena sebelum menikah, ia menelponku mengabarkan dan bercerita. Ia jugalah yang masih sempat sehabis putus, menghubungiku beberapa kali mengingatkan untuk jangan mencari lelaki yang hanya memandangku dari fisik, harus mencari yang benar – benar menyayangiku. Aku bahagia ia bertemu istrinya yang sekarang, perempuan yang akan menjaganya lebih baik dari aku.
Usai bertemu Abel, datanglah Lelaki hujan sebagai pelarian. Awalnya kami berdua hanya sama – sama mencari pelarian, toooh waktu berjalan dan kami berdua larut dalam cinta. Cinta terlarang sebenarnya saat itu. Perjalanan nasib membuat hidup kami berdua selama 3 tahun tak jelas. Putus sambung dikejar perasaan mengambang dan rindu – rindu yang tak terkatakan dan direstui. Toh semuanya harus berakhir. Lelaki hujan mungkin lelaki yang paling banyak menguras energi, cinta, dan biaya. Lelaki yang membuatku mencintai hingga terluka. Dua tahun lalu, putusnya hubungan kami secara parsial membuatku dekat dengan beberapa lelaki. Seorang teman di Australia yang sudah bertunangan menjadi teman curhat toh kami hanya berteman. Karena terlalu banyak sorotan dari teman – teman lain, padahal yang kami perbincangkan adalah masalah iman, pandangan hidup .. ah ia seorang teman dan saudara lelaki yang baik. Toh karena tak tahan dengan gunjingan teman – teman , aku memintanya untuk jangan menghubungiku lagi karena statusnya. Benar – benar tak nyaman padahal aku hanya ingin punya seorang teman lelaki yang murni sebagai teman dan saudara lelaki.
Dan aku kembali mencari pelarian dengan seorang psiko di Manokwari, lelaki yang menerorku dengan kata – kata cabulnya, hingga membuatku menutup akun facebookku. Seorang sex addicted. Untungnya kami putus usai 3 bulan pacaran. Hingga sekarang aku belum pernah bertemunya lagi. Ia mungkin pelarian. Ya, seorang pelarian. Aku hanya mengingatnya sebagai lelaki yang memanggilku bidadari.
Dan kembali lagi ke Manokwari, bertemu dengan lelaki hujan dan ya … kami sama – sama mencari rasa yang masih tersisa dan membereskan rasa yang pernah ada. Toh semuanya sudah diakhiri 2 bulan sejak aku pulang ke Manokwari. Tak ada lagi cinta yang tersisa, yang ada hanya luka dan kecewa. Tapi itulah hidup dan aku belajar banyak dan berjanji untuk menjaga cinta kelak, menjaga hati. Mencari yang menawarkan pernikahan.
Kaka di Jayapura pun masuk sebagai kekasih, walau sudah kukenal beberapa tahun sebelumnya. Dan sayangnya, awalnya aku menerimanya karena ia berjanji mau serius dengan hubungan, menuju pernikahan. Toh semuanya janji tinggal janji. Kami berdua hanyalah sesama pencari pembunuh sepi. Dan seperti biasa, kami berpisah baik – baik, walau aku sebenarnya tak ingin terlalu sering lagi berurusan dengannya. Terlalu menguras energi menghadapinya. Hubungan inilah yang paling membuatku menjadi lebih berani ngomong ke orang tuaku, toh usai ‘berkoar – koar’ e putus juga. Tak bisa menjaga rahasia.
Dan …. Datanglah Q. Teman curhat, joker dan orang yang selalu membuatku tertawa walau kadang membuat emosiku naik turun seakan sedang naik rollercoaster. Aku tak tahu perasaannya padaku, apalagi berdasarkan ‘riset’ dan ‘survei kecil – kecilan’ dari beberapa teman, mereka sedikit ragu dengan Q karena gayanya yang suka TTM, karena katanya dulu semasa kuliah ia pernah seperti itu pada seorang teman perempuannya. Gosipnya sih, versinya Q, ceweknya yang mengejar – ngejar Q sedang Qnya cool abis. Entahlah … tapi bagaimanapun juga, Q dulu pernah menolongku menghadapi pandangan kaka yang menyelidik karena acara pulang larut malam gara – gara reuni dengan Q dan Na di pantai. Sejak saat itu, Q sering menjadi tempat curhat. Apalagi aku sudah kenal dia sejak tahun 2003 karena ia sahabat teman sekelasku dan suka bergabung dalam acara himpunan kami; ya .. ia yang kerap menjadi fotografer kami.
Q yang lucu dan jail plus cerewet perlahan masuk dalam hidupku. Usai berbulan – bulan aku tersadar bahwa rasa yang aku punya tak lagi murni, rasa yang bukan untuk seorang teman, terlanjur suka. Terlanjur cinta mungkin. Terlanjur bergantung pada kehadirannya, tawanya dan candaannya. Kecanduan mungkin kata yang tepat. Dan aku tak ingin menjadikannya pelarianku. Itu saja! Walau mungkin aku sendiri hanya dianggapnya TEMAN. Tak lebih. Jadi sebenarnya lebih baik mundur daripada sakit. Kau tahu, rasanya seperti menjadi Tantalus dalam mitologi Yunani yang karna saking rakus makan dan mencuri Ambrosia – makanan para dewa, ia dihukum dibuang ke tempatnya Hades di neraka sana. Hukumannya tak hanya itu, di atas kepalanya, melayang – layang semua jenis makanan yang disukanya, tiap kali ia hendak menelan makanan – makanan itu …. ‘PLUP’, ‘BUZZ’ Hilang … dan melongolah Tantalus. Nah saat ini, aku merasa seperti Tantalus. I am like in deep shit banget deh! Tahu kan rasanya? Hahaha *sambil mendengar lagu ‘Pupus’nya Dewa.
Dia terlalu baik, terlalu baik untuk disakiti nantinya. Aku belajar dari semua hubungan yang pernah terjadi bahwa aku mempunya potensi merusak apapun yang kusentuh, semua rasa yang kujamah, dan semuanya tak pernah berakhir baik. Ada Nemesis dalam diriku yang jelas - - jelas tak punya sentuhan Midas. Entahlah … kemarin kami ‘bertengkar’ tepatnya. Bukan dengan kata – kata kasar. Tampaknya ia hanya tak terima kala aku memintanya untuk tidak mengontakku atau dekat lagi denganku. Begitu juga malam ini, kami bertengkar lagi walau ia sempat menelponku usai kami berkirim pesan, dan tiba – tiba ia pun membahas kenapa aku mengirim pesan seperti kemarin malam. Sayangnya, I am speechless .. dan reaksi spontanku adalah menutup telpon.
Jujur, sa nyali pecek kalo ditanya urusan begini. Padahal beberapa menit sebelumnya kami tertawa membicarakan selera musiknya si Arc yang cewek banget; AB Three boooo!!! Telpon yang terputus direspon Q dengan sebuah SMS yang singkat tapi menohok, “I HATE YOU”. Aku merasa bersalah!!!! Tentu saja kurespon dengan rangkaian SMS alasan dan lain – lain termasuk memberitahu bahwa sebuah catatan berjudul “Pulai, ‘wake me up when September ends’” sebenarnya untuk dia plus beberapa catatan di blog ini, walau aku tak yakin ia tahu alamat blogku *hehehe. At least sudah kuberitahu. Guess what? Ternyata aku juga baru tahu kalau ia juga suka lagu yang sama denganku untuk lagunya Greenday ‘Wake me up when September ends’, tak heran usai SMS – SMSku yang panjang lebar itu, ia cuma membalas kalo aku ingin bermain gitar (aku sempat keceplosan ngomong pas ditelpn kalo aku sedang belajar main gitar beberapa bulan ini, demi Greenday, demi pencapaian ultahku ke 28 bulan depan, demi lagu – lagunya India Arie), pakai saja chord gitar yang mudah untuk lagu itu.
SMS – SMS panjang dan berliku – liku itu sebenarnya tak bisa mencakup semua yang kurasakan. Sebenarnya kalau ada nyali (sayangnya, masih tak ada hihihihi) sa ingin bilang begini sama Q, baik lewat SMS ka telpon,, “Well, sebenarnya sa jatuh cinta sama ko, dan ini bukannya sa nembak ko sebagai sa pacar e apalagi calon suami, sa belum berpikiran ke sana, sa cuma mo bilang sa jatuh cinta bratz sama ko. Sa tra tau ko perasaan sebenarnya ke sa tuh bagaimana, jadi daripada nan tahu ko cuma anggap sa sebagai teman saja yang otomatis kalo sa dengar pasti sa akan sedikit emotionally breaking down, jadi lebih baik begini saja …sa menjauh saja ka ini dan mengagumi ko dari jauh. Plus sa juga tetap minder kalo memang jadian deng ko, ko terlalu shining begitu, talalu mengkilat. Sa macam berasa jadi Upik Abu deh n tra layak dapatkan ko. Entahlah …. Sa cuma merasa ko tuh seperti matahari yang terlalu bersinar cerah … sedang sa mungkin cuma anak burung hantu yang tra boleh dekat – dekat deng matahari dan lebih suka bergerak di kegelapan, orang belakang layar-lah untuk urusan perasaan. Tapi jujur …. Sa su terlanjur jatuh cinta dan rasa ini membunuhku.”
Sayangnya, sa bukan orang yang bisa ngomong tentang perasaan dengan baik. Ekspresi wajah di depan cowok yang sa suka saja sering sa tutupi mati mo ….. Jadi walaupun sa orangnya ekspresif, kalo urusan perasaan … I’m the best LIAR!!! Tra heran dulu sa suka mata kuliah drama, termasuk kapala susun skrip untuk pementasan. Call me a liar!!! Malunya itu lhooooo kalo sampai ketahuan. Tra bisa bayangkan. (Walau masalah ini pun dimulai karena salah kirim SMS tentang curhat perasaannya sa ke Q ke seorang sahabat dan nyasarnya ke Q, anjriiiiiiitttt!!! Untung sa tra bilang ‘cinta’ di SMS itu hahahaha, makanya sa menghindar terus dikonfirmasi sama dia, sa cuma SMS bilang, “ko hapus SMS yang tadi suda e, anggap saja trada. Itu untuk sa pu sahabat.” Bagaimana de tra penasaran, lah de pu nama ada pica di SMS itu hahahaha *malu pica skali eeeee).
Padahal jujur dalam hati, aku tahu aku sedang menipu perasaanku sendiri. Menipu rasa yang kupunya. Semuanya karena tak ada konfirmasi. Takut hanya berharap pada bayangan sedang racun candu memabukan terlanjur masuk. Tak ingin terluka sebenarnya.
Aku berani bilang pesan – pesan pendeknya sedikit bernada tegas kemarin, bahkan ada yang sempat membuatku kaget, kesediaannya untuk mendengar uneg – unegku face-to-face ataupun pada momen yang sangat personal yang aku tahu memang tak akan bisa membohonginya nanti karena aku tipe orang berkepribadian ENFJ kalau sampai face-to-face ditanyain, pada bagian ini, paling susah berbohong. Selama tidak dikejar pertanyaan, I’m the best LIAR in expressing my feeling.
Tapi urusan logika dan perasaan memang kadang tak sejalan dan aku memilih menggunakan logikaku dibanding mempertimbangkan perasaanku. Demi sebuah ego, sebuah harga diri dan juga tentu saja demi tindakan preventif dari racun cinta yang memabukkan. Aku sudah kerap kali patah hati dan kali ini aku memilih mempercepat prosesnya biar nanti tidak kronis di dalam benakku, menghemat rasa sakit, mengurangi nyeri perasaan. Intinya, mengosongkan rasa. Tapi ini sangat menyakitkan, sangat sakit.
Aku orang yang mudah jatuh cinta, sangat mudah. Dan Q benar – benar membuatku jatuh cinta. Padahal kupikir aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi terikat pada hubungan yang berbau cinta. Entahlah .. ia candu yang memabukkan. Perlahan masuk dalam hidupku tetapi sangat sulit dilupakan. Membuatku teringat lirik lagu Greenday “restless heart syndrome” dan lagu ini plus ‘Wake me up when September ends’ menemaniku selama 2 hari ini.
“I've got a really bad disease
It's got me begging on my hands and knees
So, take me to emergency
Cause something seems to be missing
Somebody take the pain away
It's like an ulcer bleeding in my brain
So send me to the pharmacy so I can lose my memory”
Andai saja dia tahu kalau aku terlanjur cinta … dan cinta ini sangat membunuhku!!!
(Manokwari, 140811; dikejar deadline, terjebak dalam labirin bipolar dan cinta ini membunuhku …. Sangat!!!)
Friday, 12 August 2011
Pulai, "Wake me up when September ends"
Sebuah Catatan untuk Q ...
Akhir – akhir ini saya sedang tergila – tergila dengan beberapa kutipan, baik fiksi, faktual maupun lirik lagu yang pernah saya baca dan dengar beberapa tahun lalu, dari karya Gibran hingga Neruda, dari Eliza Handayani hingga Nova R. Yusuf, bahkan punyanya Natalia Imbruglia. Sering kali kutipan – kutipan ini muncul di saat – saat tertentu, yang mengingatkan saya pada sebuah momen, kejadian, ataupun orang- orang. Kala mengingat larik – larik kutipan ini, entahlah … ada kepingan, faset – faset hidup yang tercerabut keluar, sama dengan aroma bunga Alstonia Scholaris Sp. ‘Pohon kayu susu’ atau ‘Pulai’ yang sedang sibuk mekar di musim ini. Membuat bau tanah segar sehabis hujan bergelut dalam tarian minyak atsiri terpompa masuk ke dalam paru tanpa perlawanan. Memabukkan dan tentu saja … ah ada yang kembali pecah di hati. Entahlah … disebut apa rasa ini!
Mungkin si Yukako, tokoh ciptaan Nova Rianti Yusuf dalam novelnya “Mahadewa – Mahadewi’ yang dulu dikenalkan oleh seorang dosen saya sewaktu di Unipa; Ms Yanti, benar – benar tahu apa yang sedang saya rasakan akhir – akhir ini. Si tokoh berdarah Jepang yang berkuliah di Perth ini meringkas pikirannya dalam satu puisi berjudul “rasa dan masa”, seperti ini:
Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari
Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya
Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan
Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.
Kemarin saat hujan turun dengan deras di sore hari, kubiarkan titiknya menjilat kulitku dan dibalur aroma Pulai yang terbang, menemaniku perjalananku di ketinggian yang cukup untuk memandang teluk yang sendu. Entahlah ... tiba – tiba larik – larik kata Pablo Neruda dalam Sonetnya menari – nari dalam bayang hujan, seperti ia bernyanyi untukku dengan kata – kata yang tak teratur lagi :
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Karena hanya itulah cara yang kutahu untuk mencintaimu. Hingga kala kau tertidur, pelupuk matakulah yang tertutup.“
Tapi toh karna saya masih hidup di Manokwari yang sedang bergeliat bangkit menghancurkan benih – benih bumi yang tertanam di hutan - hutannya, seakan serenade kata sore penuh hujan itu hendak saya balas dengan deretan argumentasi cerdas Eliza V. Handayani lewat tokohnya di novel yang lagi – lagi diperkenalkan oleh dosen saya dulu, “Area X“ :
“Aku merasakan segala hal indah bersamamu. Tapi kurasa, aku takut untuk percaya bahwa semua ini nyata. Aku takut jika ternyata aku hanya sedang berkhayal. Aku takut untuk percaya kau nyata, padahal sebenarnya tidak. “
Hari ini saya kembali menekuri lembar – lembar kosong ini ditemani salah satu lagu favorit sejak masa remaja, “Torn“ milik Natalia Imbruglia , lagu yang dulu sempat membuatku sedikit tahu tentang Australia karena penasaran dengan mace ini, beberapa kutipan liriknya benar – benar seperti yang saya ingin percayai saat ini :
“ I’m all out of faith ... Illusion never changed into something real ... Now I can see the perfect sky is torn .... Inspiration has run dry ................ This is how I feel“
Akhirnya sor e ini saya harus kembali pada dunia nyata dan teringat dengan kutipan tanpa nama yang pernah saya temukan dalam kiriman surat elektronik:
“True love is not loving a perfect person but loving an imperfect person perfectly“
Dan saya tersadar benar bahwa saya sedang jatuh cinta, pada diri saya, pada hidup saya, dengan cara yang berbeda kali ini, seiring dengan musim kembang pulai setahun sekali. Kata – kata Kahlil Gibran entah di bagian mana karyanya seakan beresonansi di kepala saya, kata – kata yang juga membuat saya tersadar, ini hidup saya dan satunya – satunya hidup yang saya punya:
“Di musim gugur aku mengumpulkan semua kesedihanku dan menguburnya dalam kebunku.
Dan ketika April menjelang dan musim semi datang untuk menikahi bumi, tumbuh dalam kebunku bunga – bunga indah yang berbeda dengan bunga – bunga lain.
Dan para tetanggaku datang untuk menonton, dan mereka semua berkata kepadaku, “Ketika musim gugur datang lagi, pada saat penyemaian, maukah kamu memberi kami benih bunga – bunga ini agar kami memilikinya dalam kebun – kebun kami?““
Saya tak tahu apa yang Gibran pikirkan kala penanya menggoreskan larik – larik di atas. Saya juga tak peduli sebenarnya. Saya cuma ingin merenung apa yang dipikirkan tetangga – tetangganya Gibran dalam kutipan di atas bila mereka tahu asal ‘bunga – bunga indah‘ itu. Toh seperti kata Kathleen Hall Jamieson dan Paul Waldman dalam buku pengantar jurnalisme yang saya baca:
“In wartime, truth is so precious that she should always be attended by a bodyguard of lies“
Dan kembali lagi saya tersadar ... saya sedang berperang, berperang dengan hati saya sendiri, berperang dengan apa yang saya percayai, dengan rasa yang datang dan pergi ini, walaupun mungkin dalam tahap ini saya sebenarnya hanya sedang menutup ‘benih – benih bunga‘ diam – diam.
Entahlah .... yang saya tahu, saya ingin menyanyi satu lagu dari Greenday, “Wake me up when September ends“ kala musim gugur menyapa belahan bumi utara planet ini, kala 28 tahun akan saya jelang, dan pulai mungkin tak bersemi lagi, di sebuah kota bernama Manokwari.
Ya ... wake me up when September ends!!!
(Manokwari; 121108; dalam labirin bipolar)
Akhir – akhir ini saya sedang tergila – tergila dengan beberapa kutipan, baik fiksi, faktual maupun lirik lagu yang pernah saya baca dan dengar beberapa tahun lalu, dari karya Gibran hingga Neruda, dari Eliza Handayani hingga Nova R. Yusuf, bahkan punyanya Natalia Imbruglia. Sering kali kutipan – kutipan ini muncul di saat – saat tertentu, yang mengingatkan saya pada sebuah momen, kejadian, ataupun orang- orang. Kala mengingat larik – larik kutipan ini, entahlah … ada kepingan, faset – faset hidup yang tercerabut keluar, sama dengan aroma bunga Alstonia Scholaris Sp. ‘Pohon kayu susu’ atau ‘Pulai’ yang sedang sibuk mekar di musim ini. Membuat bau tanah segar sehabis hujan bergelut dalam tarian minyak atsiri terpompa masuk ke dalam paru tanpa perlawanan. Memabukkan dan tentu saja … ah ada yang kembali pecah di hati. Entahlah … disebut apa rasa ini!
Mungkin si Yukako, tokoh ciptaan Nova Rianti Yusuf dalam novelnya “Mahadewa – Mahadewi’ yang dulu dikenalkan oleh seorang dosen saya sewaktu di Unipa; Ms Yanti, benar – benar tahu apa yang sedang saya rasakan akhir – akhir ini. Si tokoh berdarah Jepang yang berkuliah di Perth ini meringkas pikirannya dalam satu puisi berjudul “rasa dan masa”, seperti ini:
Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari
Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya
Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan
Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.
Kemarin saat hujan turun dengan deras di sore hari, kubiarkan titiknya menjilat kulitku dan dibalur aroma Pulai yang terbang, menemaniku perjalananku di ketinggian yang cukup untuk memandang teluk yang sendu. Entahlah ... tiba – tiba larik – larik kata Pablo Neruda dalam Sonetnya menari – nari dalam bayang hujan, seperti ia bernyanyi untukku dengan kata – kata yang tak teratur lagi :
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Karena hanya itulah cara yang kutahu untuk mencintaimu. Hingga kala kau tertidur, pelupuk matakulah yang tertutup.“
Tapi toh karna saya masih hidup di Manokwari yang sedang bergeliat bangkit menghancurkan benih – benih bumi yang tertanam di hutan - hutannya, seakan serenade kata sore penuh hujan itu hendak saya balas dengan deretan argumentasi cerdas Eliza V. Handayani lewat tokohnya di novel yang lagi – lagi diperkenalkan oleh dosen saya dulu, “Area X“ :
“Aku merasakan segala hal indah bersamamu. Tapi kurasa, aku takut untuk percaya bahwa semua ini nyata. Aku takut jika ternyata aku hanya sedang berkhayal. Aku takut untuk percaya kau nyata, padahal sebenarnya tidak. “
Hari ini saya kembali menekuri lembar – lembar kosong ini ditemani salah satu lagu favorit sejak masa remaja, “Torn“ milik Natalia Imbruglia , lagu yang dulu sempat membuatku sedikit tahu tentang Australia karena penasaran dengan mace ini, beberapa kutipan liriknya benar – benar seperti yang saya ingin percayai saat ini :
“ I’m all out of faith ... Illusion never changed into something real ... Now I can see the perfect sky is torn .... Inspiration has run dry ................ This is how I feel“
Akhirnya sor e ini saya harus kembali pada dunia nyata dan teringat dengan kutipan tanpa nama yang pernah saya temukan dalam kiriman surat elektronik:
“True love is not loving a perfect person but loving an imperfect person perfectly“
Dan saya tersadar benar bahwa saya sedang jatuh cinta, pada diri saya, pada hidup saya, dengan cara yang berbeda kali ini, seiring dengan musim kembang pulai setahun sekali. Kata – kata Kahlil Gibran entah di bagian mana karyanya seakan beresonansi di kepala saya, kata – kata yang juga membuat saya tersadar, ini hidup saya dan satunya – satunya hidup yang saya punya:
“Di musim gugur aku mengumpulkan semua kesedihanku dan menguburnya dalam kebunku.
Dan ketika April menjelang dan musim semi datang untuk menikahi bumi, tumbuh dalam kebunku bunga – bunga indah yang berbeda dengan bunga – bunga lain.
Dan para tetanggaku datang untuk menonton, dan mereka semua berkata kepadaku, “Ketika musim gugur datang lagi, pada saat penyemaian, maukah kamu memberi kami benih bunga – bunga ini agar kami memilikinya dalam kebun – kebun kami?““
Saya tak tahu apa yang Gibran pikirkan kala penanya menggoreskan larik – larik di atas. Saya juga tak peduli sebenarnya. Saya cuma ingin merenung apa yang dipikirkan tetangga – tetangganya Gibran dalam kutipan di atas bila mereka tahu asal ‘bunga – bunga indah‘ itu. Toh seperti kata Kathleen Hall Jamieson dan Paul Waldman dalam buku pengantar jurnalisme yang saya baca:
“In wartime, truth is so precious that she should always be attended by a bodyguard of lies“
Dan kembali lagi saya tersadar ... saya sedang berperang, berperang dengan hati saya sendiri, berperang dengan apa yang saya percayai, dengan rasa yang datang dan pergi ini, walaupun mungkin dalam tahap ini saya sebenarnya hanya sedang menutup ‘benih – benih bunga‘ diam – diam.
Entahlah .... yang saya tahu, saya ingin menyanyi satu lagu dari Greenday, “Wake me up when September ends“ kala musim gugur menyapa belahan bumi utara planet ini, kala 28 tahun akan saya jelang, dan pulai mungkin tak bersemi lagi, di sebuah kota bernama Manokwari.
Ya ... wake me up when September ends!!!
(Manokwari; 121108; dalam labirin bipolar)
Wednesday, 10 August 2011
Jalan Tikus Menuju 'Surga'
Andai William Shakespeare lahir di abad 21 di mana penggunaan bahan peledak temuan Alfred Novel beranak cucu, mungkin kisah cinta Romeo dan Juliet tidak diakhiri dengan eksekusi mati bunuh diri sepasang kekasih ini dengan minum racun. Mungkin mereka malah jadi pelaku bom bunuh diri di rumah keluarga Motague atau Capulet di Verona sana. Begitu pula nasib si Ophelia yang tak harus tewas menenggelamkan diri dalam karya tete Shakespeare yang lain; Hamlet. Tindakan bunuh diri sebagai tiket ekspres mencuri hak eksklusivitas Tuhan dalam hal mencabut nyawa bukan barang baru dalam sejarah bahkan kerap dijadikan bumbu tragedi dan pemanis dalam roman maupun karya fiksi dan film yang bertujuan menguras air mata pembaca. Iya, menangis di atas kenestapaan orang lain.
Tindakan bunuh diri yang diyakini oleh banyak agama dan juga kepercayaan sebagai tindakan bodoh, sesat dan masuk ‘neraka’ punya banyak kajian di abad modern ini. Mulai dikaji penyebabnya dari masalah klasik seperti urusan cinta yang tak beres, hingga faktor ekonomi, tekanan hidup modern ataupun sekedar ekspresi gejala depresi tingkat tinggi. Bahkan implikasinya pun punya banyak ramifikasi, dari menyebabkan kerugian negara misalnya di Jepang yang pelaku bunuh diri di jalur kereta menghambat laju perekonomian, ataupun stabilitas keamanan yang terganggu seperti ulah kasus bom bunuh diri di Norwegia ataupun yang ditengarai sekedar menjadi ‘virus bunuh diri’ karena beritanya yang rinci disebarkan melalui media baik cetak maupun elektronik mempengaruhi orang lain.
Beberapa hari lalu, dalam sebuah “imajinasi” liarku, aku penasaran, bagaimana sebuah kematian yang disebabkan bunuh diri dikemas dalam pencitraan sensori saraf. Tentu saja bukan untuk menyaingi tampilan proses Euthanasia, sama sekali bukan. Aku hanya penasaran, sebagaimana aku juga terobsesi pada kematian sejak lama, yang sayangnya kematian tampaknya masih jauh dari diriku. Rasa penasaran mungkin musuh dalam selimut bagiku.
Beberapa pesan singkat akhirnya kukirimkan kepada beberapa teman dengan latar belakang yang berbeda, guna melihat variasi jawaban yang muncul. Bagiku, pertanyaan – pertanyaan yang meransang pemikiran untuk ‘think outside the box’ adalah pertanyaan yang dapat membuatku mengerti tentang pola pikir orang lain. Mungkin seorang teman di Australia akan bilang bahwa pertanyaan seperti itu bisa masuk kategori ‘self-interest crime’, walaupun murni tujuan pertanyaan ini bukan untuk memanipulasi atau memperdaya orang lain. Hanya untuk menjaring jawaban dari pertanyaan yang menumpuk di benak.
Bunuh diri yang kulabel sebagai “jalan Tikus menuju ‘surga’” memang dapat memunculkan persepsi yang berbeda antar tiap orang. Ada yang meresponnya sebagai topik yang menakutkan. Ada yang mengatakan topik seperti ini bisa memunculkan rasa iba ataupun sebaliknya mengecam pelaku bunuh diri, yang jelas – jelas orang yang mengakhiri hidupnya bukanlah ‘korban’ tetapi ‘pelaku’, walaupun ia mungkin ‘korban’ dari berbagai situasi dan kondisi. Pertanyaan – pertanyaan yang kulontarkan pada teman – temanku mencakup pengetahuan mereka tentang metode bunuh diri yang paling sering muncul di Manokwari, juga metode apa yang menurut mereka sangat cepat dan minim rasa sakit plus sebisa mungkin meninggalkan jenazah yang ‘utuh’.
Mungkin pada bagian ini jujur aku pengagum sebuah ungkapan dari serial horor remaja favoritku ‘Eerie Indiana’ jaman baheula di TVRI. Pada sebuah episoda, seorang tokoh remaja laki – laki nekat bunuh diri dengan menabrakan diri demi menyumbangkan jantungnya bagi cewek yang diincarnya. Konon dikisahkan, cewek incaran mengidap kelainan jantung parah. Dalam adegan terakhir episode itu, jantung cowok nekat ini yang terlanjur berpindah di rongga dada perempuan itu berdegup kencang cemburu kala si perempuan didekati cowok lain. Tapi yang menjadi slogan dari adegan ini dan mempengaruhiku bertahun – tahun adalah ungkapan si remaja nekat ini, “Mati muda meninggalkan mayat yang cantik”. Freaky but interesting!!!
Banyak metode memang yang bisa diterapkan dalam upaya ‘menghabisi diri sendiri’. Mulai dari cara ekstrem yang membahayakan orang lain semisal bom bunuh diri di tempat ramai demi alasan tertentu, menembak diri hingga cara kontemporer minim rasa sakit semisal menggunakan suntikan intravena yang mengandung Pancuronium bromide ataupun Pottasium chloride. Di Manokwari sendiri malah banyak metode konservatif yang masih sering dipraktekan semisal penyalahgunaan tablet anti Malaria, racun serangga, gantung diri hingga yang berdarah – darah ala ‘iris nadi’. Sejauh ini alasan bunuh diri di kotaku juga masih berkisar pada beberapa masalah klasik, belum sampai pada tahap ekstrem yang melibatkan ideologi dan politik yang mengorbankan banyak orang. Semoga saja hal seperti ini tidak akan terjadi di masa mendatang.
Dampak tindakan bunuh diri mungkin bervariasi pada keluarga yang ditinggalkan tapi yang pasti ada label berbau ‘bunuh diri’ yang tetap tertancap pada keluarga ‘pelaku’. Pasti saja ada label ‘bunuh diri’ yang tak hilang. Bagaimanapun juga itu sebuah tragedi; kisah sedih yang terlanjur terjadi . Selain itu, tindakan dan respon masyarakat akan beragam. Toh masyarakat memang cenderung bertindak sebagai ‘penonton yang selalu lebih pintar’ tanpa sadar bahwa ada banyak alasan mengapa mereka yang ‘berpulang’ cenderung memilih melakukan tindakan menghabisi diri sendiri. Lihat saja tindakan para ahli Yahudi dalam kitab suci umat Kristen, bahkan Si Yudas Iskariot, si ‘penjual’ Yesus yang mati bunuh diri, enggan dikuburkan di pemakaman umum. Terpaksa pace Yudas ‘pu uang jual de pu big boss ‘ dipakai membeli tanah untuk dijadikan pemakamannya dengan label ‘Hakal Dama’ atau ‘Tanah darah’ yang notabene di kemudian hari menjadi pemakaman untuk mereka yang terkucilkan, bunuh diri ataupun orang asing. Tengok juga nasib si Weh dalam buku Edensor, sebuah bagian tetralogi Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata, yang kematiannya sempat tak dihiraukan masyarakat kampung. Meskipun demikian, masih banyak juga komunitas yang tetap menghargai kematian seorang manusia, terlepas dari cara apa yang ditempuhnya dalam ‘mencari jalan pulang’, dengan prosesi terhormat pemakaman, yang dilabel seorang temanku sebagai “the Black Parade”.
Bunuh diri sebagai suatu tindakan juga kadang menimbulkan dampak yang bisa bikin geleng – gelang kepala baik karena rasa miris ataupun rasa lucu. Kisah seorang perempuan muda yang membakar diri di kamar pacarnya di sebuah asrama perguruan tinggi negeri di kotaku mungkin menjadi kisah tragis yang sempat membuatku berpikir betapa rapuhnya hati saat badai cinta melanda. Hal yang sama bahkan pernah terjadi di kamar seorang teman SMAku di Jayapura, kala seorang saudara jauhnya ‘meminjam’ kamarnya yang ternyata dipakai untuk membakar diri. Kalau tak salah, kekasih si pelaku juga menyusul bunuh diri. Tak ayal, kisah mereka sampai sempat dilabel kisah ‘Romeo dan Juliet tahun 2000’.
Terlepas dari rasa haru biru, ada juga tindakan usaha bunuh diri yang memicu tawa dan menggelitik hati bila diingat - ingat. Tengok saja kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kos di kampus Unipa, konon usai diputuskan pacarnya, seorang perempuan muda nekat menelan setabung pembersih wajah bermerk B (berikon bulan sabit buatan Jepang) dan sayangnya ia gagal dan berakhir di ruang gawat darurat rumah sakit lokal. Gosipnya sih efeknya juga berimbas pada ‘perut yang terlampau cerewet’. Semoga bukan karena ia gagap baca tak bisa melihat tulisan ‘pembersih wajah’yang salah dipersepsikan dengan ‘pembersih nyawa’. Kisah yang mirip juga terjadi pada seorang perempuan yang kebetulan kukenal yang konon, lagi – lagi, menelan pil kina dalam jumlah besar karena mantan pacarnya sudah punya cewek baru. Sayangnya, usaha perempuan muda bersuara cempreng ini ‘gatot’ alias ‘gagal total’ dan ia terpaksa harus opname di UGD. Ujung – ujungnya, sampai sekarang bila berpapasan di jalan, aku lebih suka melabelnya ‘Miss Kina 20’.
Masih banyak cerita lucu lainnya terkait perkara bunuh diri, tapi favoritku adalah kisah yang kudengar kemarin malam dari kakak sahabatku yang bekerja sebagai pendamping program pengentasan kemiskinan di luar kota Manokwari. Kisah yang menunjukan bagaimana peristiwa bunuh diri mempengaruhi persepsi keluarga besar ‘pelaku’. Di sebuah kampung, usai kematian seorang perempuan yang bunuh diri karena menggunakan sebotol pemutih pakaian yang mereknya berinisial B, kios penjual pemutih pakaian itu hampir dibakar massa. Seperti biasa, harus ada ‘kambing hitam’ dari sebuah peristiwa. Sejak saat itu, jangan harap bisa membeli pemutih cucian di kios - kios di beberapa kampung di distrik itu. ‘Mo jalan sampe mata merah ketok kios juga, tra akan dapat’, ujar kakak narasumber. Semuanya terinspirasi dari acara ‘trauma teror bakar’ karena sebotol pemutih cucian. Moral ceritanya sih, ‘yakinkan yang akan anda minum itu ‘air putih’ dan bukannya ‘pemutih air’!!! Mungkin anda juga pernah mendengar ungkapan bernada candaan, “gantung diri di pohon sambal”. Ayam goreng seh hahahaha!!! *tertawa di atas ke’dodol’an orang lain?
Tindakan menghabisi diri sendiri memang harus dikaji dua sisi agar tak sekedar melabel mereka yang berpulang sebagai ‘pengecut’ yang tak sanggup menjalani hidup, sebagai ‘orang lemah’ yang tak bisa menghadapi kenyataan, ataupun ‘orang yang kurang pendidikan agama dll’ dan tak bisa melihat kebenaran. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, tapi satu yang kutahu, mereka yang berpikir ataupun pernah mencoba untuk bunuh diri yang bukan ekstremis, yang bukan untuk alasan politik ataupun ideologi tertentu yang melibatkan banyak korban selain diri sendiri, tak lebih adalah ‘orang yang sakit’; ada yang ‘salah’ dengan reaksi kimiawi otak mereka dan mereka butuh terapi dan pompaan semangat dari lingkungan sekitar mereka. Toh, seperti hasil studi dan artikel yang sering kubaca tentang kasus bunuh diri, apalagi yang dipicu oleh depresi yang terakumulasi, umumnya pelaku bunuh diri tidak terdeteksi dari perilakunya. Bahkan ditengarai semakin kreatif seseorang khususnya dalam bidang seni, semakin besar potensinya di kemudian hari untuk ‘bunuh diri’. Mmmmh …. *thinking-mode-ON.
Aku bermimpi suatu hari nanti, di Manokwari akan berdiri fasilitas – fasilitas sosial penyedia layanan konsultasi dan juga hotline service jaringan telepon 24 jam untuk menampung keluhan dan tempat curahan hati mereka yang sedang galau dan mungkin rentan bunuh diri. Setidaknya tempat cerita dan mungkin juga para konselornya tak hanya orang yang penuh empati, bisa menjaga rahasia klien ataupun penelpon tetapi juga para tukang mop professional yang tak lelah berbagi keahlian mereka. That’s one of my dreams ^__^ Dan semoga urusan konsultasi seperti ini bukan lagi urusan dan tanggung jawab ‘lembaga – lembaga keagamaan’ tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama.
Pertanyaannya, sudahkah kita menerapkan konsep sederhana gerakan “R U OKAY?” untuk orang – orang di sekitar kita? Jawabannya hanya anda yang tahu. Anyway, PLUS jangan lupa mengucap syukur untuk orang – orang yang masih tetap mengingat kita dalam daftar kiriman SMS, e-mail ataupun sapaan terlebih lagi doa harian mereka, it means that ‘YOU ARE SO LUCKY”.
Aku punya beberapa sahabat dan teman, baik yang berada di Manokwari maupun di luar Manokwari yang memang super duper superheroes di dalam hidupku, yang rajin mengirimku ataupun membalas SMSku, menelponku dan juga menyapaku lewat layar FB ataupun e-mail. They’re so fantastic dan saat ini aku ingin bilang sama mereka, “I hope you are always OKAY!!!”. That’s my prayer.
Akhirnya … aku berharap kita semua masih mau tetap hidup untuk “live the life we love to its fullest” walaupun kadang akan ada titik – titik terendah yang muncul tiba – tiba, dan di momen seperti itu, aku berharap anda akan selalu mengingat frasa dalam adegan film “3 Idiots”, salah satu film India favoritku , “ALL IS WELL”!!! *sambil menirukan mimik si Aamir ‘Rancho’ Khan.
Congratulation!!! Pada bagian akhir ini, anda masih hidup …. Let’s celebrate life!!!
(Manokwari, 090811; yang selalu terobsesi dengan kematian dan bunuh diri; how does it look like? *wonder)
Tindakan bunuh diri yang diyakini oleh banyak agama dan juga kepercayaan sebagai tindakan bodoh, sesat dan masuk ‘neraka’ punya banyak kajian di abad modern ini. Mulai dikaji penyebabnya dari masalah klasik seperti urusan cinta yang tak beres, hingga faktor ekonomi, tekanan hidup modern ataupun sekedar ekspresi gejala depresi tingkat tinggi. Bahkan implikasinya pun punya banyak ramifikasi, dari menyebabkan kerugian negara misalnya di Jepang yang pelaku bunuh diri di jalur kereta menghambat laju perekonomian, ataupun stabilitas keamanan yang terganggu seperti ulah kasus bom bunuh diri di Norwegia ataupun yang ditengarai sekedar menjadi ‘virus bunuh diri’ karena beritanya yang rinci disebarkan melalui media baik cetak maupun elektronik mempengaruhi orang lain.
Beberapa hari lalu, dalam sebuah “imajinasi” liarku, aku penasaran, bagaimana sebuah kematian yang disebabkan bunuh diri dikemas dalam pencitraan sensori saraf. Tentu saja bukan untuk menyaingi tampilan proses Euthanasia, sama sekali bukan. Aku hanya penasaran, sebagaimana aku juga terobsesi pada kematian sejak lama, yang sayangnya kematian tampaknya masih jauh dari diriku. Rasa penasaran mungkin musuh dalam selimut bagiku.
Beberapa pesan singkat akhirnya kukirimkan kepada beberapa teman dengan latar belakang yang berbeda, guna melihat variasi jawaban yang muncul. Bagiku, pertanyaan – pertanyaan yang meransang pemikiran untuk ‘think outside the box’ adalah pertanyaan yang dapat membuatku mengerti tentang pola pikir orang lain. Mungkin seorang teman di Australia akan bilang bahwa pertanyaan seperti itu bisa masuk kategori ‘self-interest crime’, walaupun murni tujuan pertanyaan ini bukan untuk memanipulasi atau memperdaya orang lain. Hanya untuk menjaring jawaban dari pertanyaan yang menumpuk di benak.
Bunuh diri yang kulabel sebagai “jalan Tikus menuju ‘surga’” memang dapat memunculkan persepsi yang berbeda antar tiap orang. Ada yang meresponnya sebagai topik yang menakutkan. Ada yang mengatakan topik seperti ini bisa memunculkan rasa iba ataupun sebaliknya mengecam pelaku bunuh diri, yang jelas – jelas orang yang mengakhiri hidupnya bukanlah ‘korban’ tetapi ‘pelaku’, walaupun ia mungkin ‘korban’ dari berbagai situasi dan kondisi. Pertanyaan – pertanyaan yang kulontarkan pada teman – temanku mencakup pengetahuan mereka tentang metode bunuh diri yang paling sering muncul di Manokwari, juga metode apa yang menurut mereka sangat cepat dan minim rasa sakit plus sebisa mungkin meninggalkan jenazah yang ‘utuh’.
Mungkin pada bagian ini jujur aku pengagum sebuah ungkapan dari serial horor remaja favoritku ‘Eerie Indiana’ jaman baheula di TVRI. Pada sebuah episoda, seorang tokoh remaja laki – laki nekat bunuh diri dengan menabrakan diri demi menyumbangkan jantungnya bagi cewek yang diincarnya. Konon dikisahkan, cewek incaran mengidap kelainan jantung parah. Dalam adegan terakhir episode itu, jantung cowok nekat ini yang terlanjur berpindah di rongga dada perempuan itu berdegup kencang cemburu kala si perempuan didekati cowok lain. Tapi yang menjadi slogan dari adegan ini dan mempengaruhiku bertahun – tahun adalah ungkapan si remaja nekat ini, “Mati muda meninggalkan mayat yang cantik”. Freaky but interesting!!!
Banyak metode memang yang bisa diterapkan dalam upaya ‘menghabisi diri sendiri’. Mulai dari cara ekstrem yang membahayakan orang lain semisal bom bunuh diri di tempat ramai demi alasan tertentu, menembak diri hingga cara kontemporer minim rasa sakit semisal menggunakan suntikan intravena yang mengandung Pancuronium bromide ataupun Pottasium chloride. Di Manokwari sendiri malah banyak metode konservatif yang masih sering dipraktekan semisal penyalahgunaan tablet anti Malaria, racun serangga, gantung diri hingga yang berdarah – darah ala ‘iris nadi’. Sejauh ini alasan bunuh diri di kotaku juga masih berkisar pada beberapa masalah klasik, belum sampai pada tahap ekstrem yang melibatkan ideologi dan politik yang mengorbankan banyak orang. Semoga saja hal seperti ini tidak akan terjadi di masa mendatang.
Dampak tindakan bunuh diri mungkin bervariasi pada keluarga yang ditinggalkan tapi yang pasti ada label berbau ‘bunuh diri’ yang tetap tertancap pada keluarga ‘pelaku’. Pasti saja ada label ‘bunuh diri’ yang tak hilang. Bagaimanapun juga itu sebuah tragedi; kisah sedih yang terlanjur terjadi . Selain itu, tindakan dan respon masyarakat akan beragam. Toh masyarakat memang cenderung bertindak sebagai ‘penonton yang selalu lebih pintar’ tanpa sadar bahwa ada banyak alasan mengapa mereka yang ‘berpulang’ cenderung memilih melakukan tindakan menghabisi diri sendiri. Lihat saja tindakan para ahli Yahudi dalam kitab suci umat Kristen, bahkan Si Yudas Iskariot, si ‘penjual’ Yesus yang mati bunuh diri, enggan dikuburkan di pemakaman umum. Terpaksa pace Yudas ‘pu uang jual de pu big boss ‘ dipakai membeli tanah untuk dijadikan pemakamannya dengan label ‘Hakal Dama’ atau ‘Tanah darah’ yang notabene di kemudian hari menjadi pemakaman untuk mereka yang terkucilkan, bunuh diri ataupun orang asing. Tengok juga nasib si Weh dalam buku Edensor, sebuah bagian tetralogi Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata, yang kematiannya sempat tak dihiraukan masyarakat kampung. Meskipun demikian, masih banyak juga komunitas yang tetap menghargai kematian seorang manusia, terlepas dari cara apa yang ditempuhnya dalam ‘mencari jalan pulang’, dengan prosesi terhormat pemakaman, yang dilabel seorang temanku sebagai “the Black Parade”.
Bunuh diri sebagai suatu tindakan juga kadang menimbulkan dampak yang bisa bikin geleng – gelang kepala baik karena rasa miris ataupun rasa lucu. Kisah seorang perempuan muda yang membakar diri di kamar pacarnya di sebuah asrama perguruan tinggi negeri di kotaku mungkin menjadi kisah tragis yang sempat membuatku berpikir betapa rapuhnya hati saat badai cinta melanda. Hal yang sama bahkan pernah terjadi di kamar seorang teman SMAku di Jayapura, kala seorang saudara jauhnya ‘meminjam’ kamarnya yang ternyata dipakai untuk membakar diri. Kalau tak salah, kekasih si pelaku juga menyusul bunuh diri. Tak ayal, kisah mereka sampai sempat dilabel kisah ‘Romeo dan Juliet tahun 2000’.
Terlepas dari rasa haru biru, ada juga tindakan usaha bunuh diri yang memicu tawa dan menggelitik hati bila diingat - ingat. Tengok saja kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kos di kampus Unipa, konon usai diputuskan pacarnya, seorang perempuan muda nekat menelan setabung pembersih wajah bermerk B (berikon bulan sabit buatan Jepang) dan sayangnya ia gagal dan berakhir di ruang gawat darurat rumah sakit lokal. Gosipnya sih efeknya juga berimbas pada ‘perut yang terlampau cerewet’. Semoga bukan karena ia gagap baca tak bisa melihat tulisan ‘pembersih wajah’yang salah dipersepsikan dengan ‘pembersih nyawa’. Kisah yang mirip juga terjadi pada seorang perempuan yang kebetulan kukenal yang konon, lagi – lagi, menelan pil kina dalam jumlah besar karena mantan pacarnya sudah punya cewek baru. Sayangnya, usaha perempuan muda bersuara cempreng ini ‘gatot’ alias ‘gagal total’ dan ia terpaksa harus opname di UGD. Ujung – ujungnya, sampai sekarang bila berpapasan di jalan, aku lebih suka melabelnya ‘Miss Kina 20’.
Masih banyak cerita lucu lainnya terkait perkara bunuh diri, tapi favoritku adalah kisah yang kudengar kemarin malam dari kakak sahabatku yang bekerja sebagai pendamping program pengentasan kemiskinan di luar kota Manokwari. Kisah yang menunjukan bagaimana peristiwa bunuh diri mempengaruhi persepsi keluarga besar ‘pelaku’. Di sebuah kampung, usai kematian seorang perempuan yang bunuh diri karena menggunakan sebotol pemutih pakaian yang mereknya berinisial B, kios penjual pemutih pakaian itu hampir dibakar massa. Seperti biasa, harus ada ‘kambing hitam’ dari sebuah peristiwa. Sejak saat itu, jangan harap bisa membeli pemutih cucian di kios - kios di beberapa kampung di distrik itu. ‘Mo jalan sampe mata merah ketok kios juga, tra akan dapat’, ujar kakak narasumber. Semuanya terinspirasi dari acara ‘trauma teror bakar’ karena sebotol pemutih cucian. Moral ceritanya sih, ‘yakinkan yang akan anda minum itu ‘air putih’ dan bukannya ‘pemutih air’!!! Mungkin anda juga pernah mendengar ungkapan bernada candaan, “gantung diri di pohon sambal”. Ayam goreng seh hahahaha!!! *tertawa di atas ke’dodol’an orang lain?
Tindakan menghabisi diri sendiri memang harus dikaji dua sisi agar tak sekedar melabel mereka yang berpulang sebagai ‘pengecut’ yang tak sanggup menjalani hidup, sebagai ‘orang lemah’ yang tak bisa menghadapi kenyataan, ataupun ‘orang yang kurang pendidikan agama dll’ dan tak bisa melihat kebenaran. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, tapi satu yang kutahu, mereka yang berpikir ataupun pernah mencoba untuk bunuh diri yang bukan ekstremis, yang bukan untuk alasan politik ataupun ideologi tertentu yang melibatkan banyak korban selain diri sendiri, tak lebih adalah ‘orang yang sakit’; ada yang ‘salah’ dengan reaksi kimiawi otak mereka dan mereka butuh terapi dan pompaan semangat dari lingkungan sekitar mereka. Toh, seperti hasil studi dan artikel yang sering kubaca tentang kasus bunuh diri, apalagi yang dipicu oleh depresi yang terakumulasi, umumnya pelaku bunuh diri tidak terdeteksi dari perilakunya. Bahkan ditengarai semakin kreatif seseorang khususnya dalam bidang seni, semakin besar potensinya di kemudian hari untuk ‘bunuh diri’. Mmmmh …. *thinking-mode-ON.
Aku bermimpi suatu hari nanti, di Manokwari akan berdiri fasilitas – fasilitas sosial penyedia layanan konsultasi dan juga hotline service jaringan telepon 24 jam untuk menampung keluhan dan tempat curahan hati mereka yang sedang galau dan mungkin rentan bunuh diri. Setidaknya tempat cerita dan mungkin juga para konselornya tak hanya orang yang penuh empati, bisa menjaga rahasia klien ataupun penelpon tetapi juga para tukang mop professional yang tak lelah berbagi keahlian mereka. That’s one of my dreams ^__^ Dan semoga urusan konsultasi seperti ini bukan lagi urusan dan tanggung jawab ‘lembaga – lembaga keagamaan’ tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama.
Pertanyaannya, sudahkah kita menerapkan konsep sederhana gerakan “R U OKAY?” untuk orang – orang di sekitar kita? Jawabannya hanya anda yang tahu. Anyway, PLUS jangan lupa mengucap syukur untuk orang – orang yang masih tetap mengingat kita dalam daftar kiriman SMS, e-mail ataupun sapaan terlebih lagi doa harian mereka, it means that ‘YOU ARE SO LUCKY”.
Aku punya beberapa sahabat dan teman, baik yang berada di Manokwari maupun di luar Manokwari yang memang super duper superheroes di dalam hidupku, yang rajin mengirimku ataupun membalas SMSku, menelponku dan juga menyapaku lewat layar FB ataupun e-mail. They’re so fantastic dan saat ini aku ingin bilang sama mereka, “I hope you are always OKAY!!!”. That’s my prayer.
Akhirnya … aku berharap kita semua masih mau tetap hidup untuk “live the life we love to its fullest” walaupun kadang akan ada titik – titik terendah yang muncul tiba – tiba, dan di momen seperti itu, aku berharap anda akan selalu mengingat frasa dalam adegan film “3 Idiots”, salah satu film India favoritku , “ALL IS WELL”!!! *sambil menirukan mimik si Aamir ‘Rancho’ Khan.
Congratulation!!! Pada bagian akhir ini, anda masih hidup …. Let’s celebrate life!!!
(Manokwari, 090811; yang selalu terobsesi dengan kematian dan bunuh diri; how does it look like? *wonder)
Subscribe to:
Posts (Atom)