Sebagai pengangguran banyak acara, tiap hari, pekerjaan rutin saya adalah memantau berita televisi , surat kabar dan juga kadang – kadang di internet, walau saya akui, sejak pulang dari Australia, saya makin kritis melihat berita, tak percaya 100 persen dan tetap mempertanyakan tentang “kebenaran” walau entah apakah yang disebut kebenaran itu. Tak pernah seharipun saya melihat pemberitaan yang lolos dari berita yang menyangkut kekerasan, entah skala kecil, entah skala besar, belum lagi perang dan konflik. Dari berita kekerasan yang mungkin masuk kategori bad taste1 hingga yang bernada politis. Semuanya saya rangkum karena toh alasan saya menonton televisi adalah menonton berita, itu alasan pertama, selebihnya untuk nonton acara dokumenter, diskusi, dan kemudian film. Terdengar terlalu serius mungkin, apalagi saya bukan pengagum acara ‘gosip artis’; acara yang tak terlalu berdampak bagi kelangsungan hidup saya.
Ada satu titik dari pemberitaan ini khususnya berkaitan dengan teror khususnya teror psikologis yang kadang muncul walau jarang dilacak sempurna karena umumnya media hanya membahas dan melaporkan dampak dan akibat fisik dari sebuah teror, entah pemboman, peledakan ataupun tembak – tembakan. Dibanding membahas tentang isu teror psikologis, dampak dan bagaimana mengatasi rasa khawatir yang muncul itu. Setidaknya bagaimana berpikir positif menghadapi serangan teror psikologis ini.
Berita dan tayangan kekerasan ini khususnya yang mengenai teror, to some extent, saya terpengaruh. Bukan hanya dari apa yang saya baca dan lihat di berita televisi, tetapi dari apa yang saya lihat dan rasakan setiap hari karena saya tinggal di salah satu tempat yang dikategorikan sebagai salah satu tempat dengan jumlah pengamanan tertinggi di negara ini dengan rasa aman yang semu. Alasan politik, tentu saja.
Di tanah saya, teror yang terkait kekerasan bukan barang baru. Mungkin juga jadi bagian dari hidup sehari – hari. Saya tahu, di masa lalu daerah saya adalah daerah operasi militer. Toh katanya usai kejatuhan Orde Baru semuanya telah berubah. Tapi saya tidak percaya. Karena apa yang saya lihat dan rasakan, lebih terasa sebagai sebuah ‘ketakutan kolektif’2 yang mendarahdaging, entah kepada siapa. Ambil contoh kecil saja, beberapa hari ini saja orang – orang di lingkungan tempat tinggal saya, khususnya orang asli Papua, heboh dengan SMS berisikan peringatan dan ancaman untuk anak muda Papua untuk jangan keluar larut malam karena isu penculikan dan mutilasi, entah dilakukan oleh siapa. Juga untuk waspada menjaga anak kecil mereka karena rumor penculikan organ dan anggota keluarga di kota lain (Serui) oleh orang – orang bertopeng. Isu penculikan, yang sayangnya memang sempat terjadi beberapa kali tahun lalu pada beberapa tetangga di lingkungan saya, yang notabene korbannya perempuan.
Sejak saya kecil, saya diajar di dalam lingkungan tempat saya tumbuh untuk takut pada berbagai bentuk teror khususnya teror psikologis. Mulai dari jangan bermain terlalu jauh dari rumah karena penculikan ‘potong leher’ alias potle3 yang gemar menculik anak kecil untuk dipenggal kepalanya guna tumbal pembangunan jembatan. Kami juga diajar untuk takut dengan isu teror seperti MK4, Klaarce5, kuntilanak yang beroperasi hingga beberapa dedengkot suanggi6 yang berkeliaran mencari anak kecil yang entah benar atau tidak bila dilihat pada konteks sekarang dan membuat acara ‘bulan terang’ tak seelok seperti yang saya rasakan di masa dewasa karena kami tak boleh berkeliaran sesuka hati.
Semasa remaja dan dewasa ini, sejak setahun lalu saya kembali, saya semakin sadar bahwa saya hidup di tanah yang penuh teror fisik maupun psikologis. Pendapat saya bila saya kemukakan dengan jujur salah – salah akan jadi bumerang bagi diri saya ataupun keluarga. Kemungkinan teror dan dampak buruk dari berpendapat jujur bukan barang baru, tentu saja. Misalnya saja, sudah ada beberapa contoh yang terjadi di tanah ini, ataupun di negara ini:
Bila saya mengatakan suku X atau suku Y dengan label derogatif ataupun dengan nada sedikit jujur tentang sikap mereka, saya wajib menanggung resiko, walau yang saya kemukakan mungkin jujur untuk kasus-per-kasus dan bukan membuat sebuah generalisasi tapi toh berbahaya juga. Apalagi bila dikaitkan dengan konsep neo-tribalisme. Bukan hanya rumah yang bisa jadi abu, tapi salah – salah nyawa pun naik kereta ekspres ke dunia lain.
Bila saya mengatakan pendapat saya tentang kebijakan sosial dan politik yang terkait agama atau kepercayaan X atau Y dengan nada berbeda dan sedikit liberal, saya bisa mendapat pandangan mencibir seakan saya seekor anjing buduk Kaskado7. Ataupun salah – salah saya dicap Ateis.
Bila saya mengatakan pandangan politik beberapa orang sebagai hak mereka, salah – salah saya akan dicap sebagai simpatisan politik dari kelompok tertentu oleh oposan kelompok tertentu dan hak hidup saya berkeliaran dengan bebas akan terlacak, terpantau dan salah – salah nyawa saya bisa jadi taruhannya.
Bila saya mengatakan dan juga mencatat apa yang saya rasakan, apa yang orang lain rasakan, apa yang dilakukan oleh orang – orang X terhadap orang – orang Y apabila terkait dengan pembunuhan ataupun pembantaian atas nama ‘pandangan yang benar’ dan mendokumentasikannya serta menyebarkannya di media, saya percaya nama saya pasti sudah masuk dalam daftar hitam dengan tiket ekspres secepat mungkin bertemu Hades di Neraka sana.
Sayangnya, sampai saat ini, saya masih seorang yang hanya bisa mencatat seperti ini, memakai kacamata saya sendiri, merekam apa yang bisa saya rekam dan membuat sejumlah “fiksi – fiksi faktual8” yang tentu saja tak sanggup bersaing dengan milik mereka yang “memfiksikan fakta – fakta9”.
Sayangnya, saya masih hidup di negeri yang penuh ‘teror’ baik fisik dan psikologis. Saat menuliskan catatan ini, saya pun teringat sebuah kisah karangan Shakespeare berjudul ‘Othello’ yang pernah juga difilmkan versi modern. Bagaimana kebohongan bisa menjadi sebuah teror. Bukankah saat ini, mereka yang menyebarkan, merencanakan dan mengeksekusi teror berupa kebohongan, rumor dan hal – hal terkait ancaman kekerasan, entah terkait dengan politik ataupun ekonomi tak lain adalah para ‘teroris’? Mereka mencuri rasa aman orang lain.
“Why do people have to hurt and kill each other?” itu pertanyaan saya malam ini. Sama seperti pertanyaan saya yang lainnya, “Kenapa harus ada perang, bila damai bisa dilakukan?”.
Pertanyaan – pertanyaan yang sangat naïf, mungkin. Tapi tetap saya pertanyakan. Mungkin memang sedari dulu saya tidak pernah bisa dewasa di dalam melihat teror dalam kaitannya dengan konflik khususnya konflik bersenjata yang berbau kekerasan. Walau saya tahu teror sebagai alat dalam konflik, mempunyai siginifikansi di dalam mendorong konsekuensi positif dari sebuah perang. Misalnya saja, dengan adanya perang, maka di sebuah bagian negara X, akan ada tambahan pekerjaan di pabrik senjata, akan ada tambahan pesanan kerjaan di pabrik pengemasan makanan, konveksi, farmasi dan lain – lain. Mungkin saja para penjual makanan keliling, orang – orang kecil di dekat pabrik diuntungkan, begitu pula para pemilik pabrik dan lain – lain dan silahkan membayangkan siklus dan rotasi siapa yang diuntungkan. Sayangnya, semua keuntungan yang diukur dalam hitungan digit mata uang itu tampaknya dijarah dari banyaknya keringat, darah dan air mata dari jiwa – jiwa lain dan tentu saja, dari rasa aman orang lain.
Entahlah … catatan kali ini harus saya tutup juga. Toh saya tetap bertanya, apa memang kita menjadi terbiasa melihat teror sebagai wajah kita, hidup kita?
Mungkin saya naïf, entahlah. Tapi yang jelas, saya menentang penggunaan teror untuk membuat orang lain mengikuti apa yang kita percaya.
Yang pasti, ‘in the name of terror’?
Hell, No!!!10
(Manokwari, 300711)
Catatan:
1. Bad taste, istilah dalam jurnalisme merujuk pada pemberitaan berita yang memualkan perut, yang berkaitan dengan kekerasan yang sering dihindari dalam penulisan berita, misalnya menggambarkan dengan pilihan kata vulgar untuk menggambarkan kakek yang memerkosa cucu, perampok yang membacok korban, atau korban penculikan yang genitalnya dipotong – potong dll. Istilah didapatkan dari buku SGA ‘Trilogi Insiden’.
2. Ketakutan kolektif, mensintesa istilah teman saya, Ancilla Irwan ‘Amnesia Kolektif’.
3. Potle (Melayu Papua) Istilah di Manokwari pada tahun 1990an merujuk pada orang – orang tak dikenal yang menculik anak – anak kecil untuk dimasukan ke karung dan akan dipotong kepalanya sebagai tumbal pembangunan jembatan. Terkait erat dengan urban legend di Manokwari untuk ‘mayat penahan’ seperti ditengarai terdapat di Dok Fasharkan dan lokasi PKN (sekarang menjadi BLK).
4. MK, merujuk pada inisial nama seorang perempuan di Manokwari; Maria K. pada beberapa tahun lalu yang ditengarai sebagai seorang suanggi, semacam urban legend.
5. Klaarce, merujuk pada nama seorang perempuan yang menjadi semacam urban legend di Manokwari tentang seorang perempuan suanggi.
6. Suanggi (Melayu Papua) orang yang mempraktekan ilmu sihir, entah yang suka menenung, menyantet ataupun sekedar untuk mencari pelampiasan seksual dari korban. Mempunyai peran sosial yang bervariasi salah satunya sebagai alat kontrol e.g. sebagai pembunuh bayaran.
7. Kaskado (Melayu Papua) serapan dari bahasa Portugis, merujuk pada penyakit kulit yang ganas.
8. Meminjam istilahnya Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.
9. Meminjam istilahnya Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.
10. Meminjam ekspresinya Oprah Winfrey dalam film “Color Purple” (1984).
Saturday, 30 July 2011
Perasaan tanpa wajah
Malam ini sebenarnya saya sudah harus tidur. Pil – pil anti malaria sudah saya minum sejak tadi walau efek Malaria belum terasa begitu mengganggu karena hari ini saya masih bisa kerja rodi cuci pakaian dan membersihkan kamar (walau hasil periksa darah saya di klinik pagi tadi sudah +Malaria Tertiana). Sudah selesai pula bercengkrama dengan keponakan saya yang baru 1 tahun 8 bulan sejak tadi. Semua ritual sebelum tidur di masa penyembuhan telah saya lakukan. Doa pun sudah saya lakukan sejak pukul 8 malam tadi. Tapi sekali lagi, entahlah … mata saya, otak saya dan segala perangkat tubuh masih tak mau tidur. Dan saya tahu, semuanya karena rasa ini, bukan cinta tentu saja. Tapi rasa yang selalu saya punya sejak beberapa tahun terakhir, rasa yang membuat saya selalu harus waspada, rasa yang membuat saya merasa harus tetap ‘buka mata, buka telinga’. Sebuah rasa yang bila saya terjemahkan menjadi seperti ‘be alert’. Seperti siaga 1 atau code red, ataupun pemancar radar saya sedang meraung – raung dengan bunyi sirene dan tak ada pilihan lain selain berdoa dan menuliskannya. Entahlah … setidaknya beban ini berkurang.
Berita – berita, isu – isu yang entah dari siapa, semuanya mengisi pembicaraan di lingkungan saya akhir – akhir ini. Dari isu penculikan anggota – anggota keluarga yang kadang dibarengi dengan hilangnya organ tubuh yang konon dilakukan oleh orang – orang bertopeng di Serui, hingga rumor meningkatnya kuantitas ikan di Muara Kali Pami hingga jumlah pemancing meningkat drastis (yang kata teman saya, Amos; kemungkinan karena pola migrasi beberapa jenis ikan tertentu). Belum lagi rumor tentang beberapa peselam bule yang keluar dari perairan pulau Kaki di Pantura Manokwari yang terpaksa harus dikirim ke UGD RSUD Manokwari karena mengalami kulit yang melepuh. Yang mungkin saja karena serangan Physalia; sejenis ubur – ubur (lagi – lagi penjelasan teman saya).
Selain itu, rumor yang beredar bahwa beberapa dapur rumah penduduk asli Papua di Pasirido yang disatroni orang – orang tak dikenal. Tentu saja juga adanya SMS, entah benar atau tidak berisi peringatan untuk anak muda Papua untuk tidak berkeliaran malam – malam karena isu penculikan dan mutilasi yang sadis dan brutal yang dilakukan oleh orang – orang tak dikenal dengan nomor mobil sekian – sekian. Semua rumor, semua isu, semua informasi, Semuanya dapat diperoleh dengan mudah dari bisik – bisik kompleks, gosip usai ibadah di lingkungan rumah ataupun acara batukar kabar. Dan sayangnya, kadang tak dicakup dalam tulisan – tulisan dua sisi, benar atau tidak, entahlah.
Sudah lama saya kehilangan rasa yang saya miliki sewaktu tinggal dan berkuliah di Australia. Rasa AMAN plus juga kenyamanan hidup dan tentu saja sebuah jaminan bahwa setidaknya suara saya akan DIDENGAR bila terjadi sesuatu karena pendapat saya. Rasa aman mungkin salah satu hal yang saya rindukan saat ini. Bukan karena saya penakut ataupun tidak mau mengambil resiko. Sama sekali tidak. Tapi saya merindukan hal itu untuk para keponakan saya yang masih balita. Entah apakah mereka akan pernah menyadari bahwa mereka hidup di tanah yang mendapat label merah di negara ini dimana banyak orang – orang tak bertanggungjawab yang mencari untung dari rasa tidak aman seseorang dan derita orang lain, ataukah mereka terbuai dengan rasa aman dan kenyamanan semu tanpa harus mempertanyakan, saya tidak tahu. Saya merindukan rasa AMAN di mana saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, bisa berbicara dan berpendapat tanpa takut bahwa yang saya utarakan tidak akan berdampak negatif bagi diri saya, keluarga saya ataupun teman – teman saya khususnya terkait keselamatan jiwa.
Malam ini, saya sempat mengirimkan beberapa SMS pada beberapa teman dan kenalan, mencari secercah pengertian dan pemahaman tentang ‘perdamaian’ dan ‘keadilan sosial’ dan beberapa hal terkait , namun jawaban yang bervariasi dan mengambang membuat saya berpikir bahwa hal – hal absurd seperti ini kadang sulit kita jabarkan. Dan mungkin catatan ini pun tak akan menjabarkan apapun. Toh bukan sebuah catatan deskriptif.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada tanah ini, pada kota saya, pada hidup saya. Entah akan ada bencana alam, entah akan ada konflik berdarah ataukah akan ada stabilitas sosial politik yang terjadi, saya tidak tahu. Yang saya tahu, malam ini saya merasa tidak nyaman. Bukan karena malaria saya, bukan karena status saya yang pengangguran ON – OFF (walau minggu depan akan kembali lagi aktif bekerja), bukan karena hal – hal dalam keluarga saya. Saya merasa tidak nyaman karena entahlah … karena rasa itu kembali lagi. Rasa yang sempat saya buang dan sangkal pada musim dingin tahun lalu. Rasa yang mengonsumsi akal sehat saya dan membuat saya takut untuk hidup, merasa ‘dikutuk’ oleh sesuatu, untuk sesuatu.
Rasa yang sama, sudah dimulai sejak jam 8 malam saat saya sedang berdoa, rasa tak nyaman yang saya lihat. Saya melihat wajah seorang perempuan yang menginvasi benak saya. Saya pakai kata ‘invasi’ karena selama 5 menit lebih, ia muncul di dalam benak saya. Seorang perempuan muda Papua dengan rambut yang dianyam kulit kepala kecil – kecil, tampaknya dari suku pesisir pantai. Saya tidak mengenalnya. Dan ia menatap saya dengan ekspresi yang membingungkan saya walau terasa sendu dari pandangan matanya, dan saya enggan menatapnya, entahlah. Bukan takut, bukan sedih tapi tak mau menatapnya. Ia menginvasi kepala saya, benak saya dan membuat saya ‘diam babingung’. Dan kemudian hilang. Saya bahkan belum pernah bertemu dia, tak mengenalnya. Dan yang bisa saya lakukan hanya berdoa untuk dia dan juga diri saya sendiri.
Saya tak suka rasa tadi, kala benak saya diinvasi sebuah bayangan yang hendak saya hapus seketika tapi tak bisa. Seperti merasa tubuh saya ditelanjangi dan tidak ada kemampuan melawan. Rasa seperti itu. Seperti merasa ‘dikutuk’, menurut pandangan saya.
Entahlah … apa yang akan ditawarkan esok, saya hanya ingin menjalani hidup saya seperti biasanya. Menikmati hari dengan menjadi apa yang saya inginkan, setidaknya memiliki kekuatan untuk mengontrol apa yang saya pikirkan. Semoga tak ada lagi ‘invasi’ seperti tahun lalu.
Saya hanya ingin kembali dengan catatan saya yang penuh kata ganti ‘aku’ karena biasanya saya merasa jadi diri saya yang sangat ‘normal’ walau tak ada kejelasan tentang apa yang dimaksud dengan ‘normal’.
Yang saya tahu, malam ini saya sekali lagi disadarkan bahwa sudah setahun lebih saya kehilangan rasa ‘aman’ yang pernah saya miliki.
Welcome to Papua, May!!!
(Manokwari, 300711; struck by such feeling ….)
Berita – berita, isu – isu yang entah dari siapa, semuanya mengisi pembicaraan di lingkungan saya akhir – akhir ini. Dari isu penculikan anggota – anggota keluarga yang kadang dibarengi dengan hilangnya organ tubuh yang konon dilakukan oleh orang – orang bertopeng di Serui, hingga rumor meningkatnya kuantitas ikan di Muara Kali Pami hingga jumlah pemancing meningkat drastis (yang kata teman saya, Amos; kemungkinan karena pola migrasi beberapa jenis ikan tertentu). Belum lagi rumor tentang beberapa peselam bule yang keluar dari perairan pulau Kaki di Pantura Manokwari yang terpaksa harus dikirim ke UGD RSUD Manokwari karena mengalami kulit yang melepuh. Yang mungkin saja karena serangan Physalia; sejenis ubur – ubur (lagi – lagi penjelasan teman saya).
Selain itu, rumor yang beredar bahwa beberapa dapur rumah penduduk asli Papua di Pasirido yang disatroni orang – orang tak dikenal. Tentu saja juga adanya SMS, entah benar atau tidak berisi peringatan untuk anak muda Papua untuk tidak berkeliaran malam – malam karena isu penculikan dan mutilasi yang sadis dan brutal yang dilakukan oleh orang – orang tak dikenal dengan nomor mobil sekian – sekian. Semua rumor, semua isu, semua informasi, Semuanya dapat diperoleh dengan mudah dari bisik – bisik kompleks, gosip usai ibadah di lingkungan rumah ataupun acara batukar kabar. Dan sayangnya, kadang tak dicakup dalam tulisan – tulisan dua sisi, benar atau tidak, entahlah.
Sudah lama saya kehilangan rasa yang saya miliki sewaktu tinggal dan berkuliah di Australia. Rasa AMAN plus juga kenyamanan hidup dan tentu saja sebuah jaminan bahwa setidaknya suara saya akan DIDENGAR bila terjadi sesuatu karena pendapat saya. Rasa aman mungkin salah satu hal yang saya rindukan saat ini. Bukan karena saya penakut ataupun tidak mau mengambil resiko. Sama sekali tidak. Tapi saya merindukan hal itu untuk para keponakan saya yang masih balita. Entah apakah mereka akan pernah menyadari bahwa mereka hidup di tanah yang mendapat label merah di negara ini dimana banyak orang – orang tak bertanggungjawab yang mencari untung dari rasa tidak aman seseorang dan derita orang lain, ataukah mereka terbuai dengan rasa aman dan kenyamanan semu tanpa harus mempertanyakan, saya tidak tahu. Saya merindukan rasa AMAN di mana saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, bisa berbicara dan berpendapat tanpa takut bahwa yang saya utarakan tidak akan berdampak negatif bagi diri saya, keluarga saya ataupun teman – teman saya khususnya terkait keselamatan jiwa.
Malam ini, saya sempat mengirimkan beberapa SMS pada beberapa teman dan kenalan, mencari secercah pengertian dan pemahaman tentang ‘perdamaian’ dan ‘keadilan sosial’ dan beberapa hal terkait , namun jawaban yang bervariasi dan mengambang membuat saya berpikir bahwa hal – hal absurd seperti ini kadang sulit kita jabarkan. Dan mungkin catatan ini pun tak akan menjabarkan apapun. Toh bukan sebuah catatan deskriptif.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada tanah ini, pada kota saya, pada hidup saya. Entah akan ada bencana alam, entah akan ada konflik berdarah ataukah akan ada stabilitas sosial politik yang terjadi, saya tidak tahu. Yang saya tahu, malam ini saya merasa tidak nyaman. Bukan karena malaria saya, bukan karena status saya yang pengangguran ON – OFF (walau minggu depan akan kembali lagi aktif bekerja), bukan karena hal – hal dalam keluarga saya. Saya merasa tidak nyaman karena entahlah … karena rasa itu kembali lagi. Rasa yang sempat saya buang dan sangkal pada musim dingin tahun lalu. Rasa yang mengonsumsi akal sehat saya dan membuat saya takut untuk hidup, merasa ‘dikutuk’ oleh sesuatu, untuk sesuatu.
Rasa yang sama, sudah dimulai sejak jam 8 malam saat saya sedang berdoa, rasa tak nyaman yang saya lihat. Saya melihat wajah seorang perempuan yang menginvasi benak saya. Saya pakai kata ‘invasi’ karena selama 5 menit lebih, ia muncul di dalam benak saya. Seorang perempuan muda Papua dengan rambut yang dianyam kulit kepala kecil – kecil, tampaknya dari suku pesisir pantai. Saya tidak mengenalnya. Dan ia menatap saya dengan ekspresi yang membingungkan saya walau terasa sendu dari pandangan matanya, dan saya enggan menatapnya, entahlah. Bukan takut, bukan sedih tapi tak mau menatapnya. Ia menginvasi kepala saya, benak saya dan membuat saya ‘diam babingung’. Dan kemudian hilang. Saya bahkan belum pernah bertemu dia, tak mengenalnya. Dan yang bisa saya lakukan hanya berdoa untuk dia dan juga diri saya sendiri.
Saya tak suka rasa tadi, kala benak saya diinvasi sebuah bayangan yang hendak saya hapus seketika tapi tak bisa. Seperti merasa tubuh saya ditelanjangi dan tidak ada kemampuan melawan. Rasa seperti itu. Seperti merasa ‘dikutuk’, menurut pandangan saya.
Entahlah … apa yang akan ditawarkan esok, saya hanya ingin menjalani hidup saya seperti biasanya. Menikmati hari dengan menjadi apa yang saya inginkan, setidaknya memiliki kekuatan untuk mengontrol apa yang saya pikirkan. Semoga tak ada lagi ‘invasi’ seperti tahun lalu.
Saya hanya ingin kembali dengan catatan saya yang penuh kata ganti ‘aku’ karena biasanya saya merasa jadi diri saya yang sangat ‘normal’ walau tak ada kejelasan tentang apa yang dimaksud dengan ‘normal’.
Yang saya tahu, malam ini saya sekali lagi disadarkan bahwa sudah setahun lebih saya kehilangan rasa ‘aman’ yang pernah saya miliki.
Welcome to Papua, May!!!
(Manokwari, 300711; struck by such feeling ….)
Perempuan dalam benak
Merenung dalam diam. Memikirkanmu. Tentu saja. Entah kau mendengarku malam ini atau tidak. Aku tak tahu.
Tapi aku memikirkanmu.
Aku tak mengenalmu. Tak pernah berjumpa denganmu. Mungkin hanya wajah tanpa nama yang pernah kulihat, kusapa ataupun sekedar berpapasan.
Entahlah. Aku mengingat wajahmu dengan jelas malam ini.
Siapa engkau? Aku tak tahu.
Mengapa harus melihat wajahmu? Aku tak tahu.
Entahlah … apa pengaruh malaria? Aku tak tahu.
Yang aku tahu, in my prayer, I saw your face, jelas, menghujam dan membuatku terdiam lama … I’ll just can pray for you, sista.
(Manokwari, 290711; thinking about the ‘penampakan’ on my mind, how to kick thing out of one’s mind?)
Tapi aku memikirkanmu.
Aku tak mengenalmu. Tak pernah berjumpa denganmu. Mungkin hanya wajah tanpa nama yang pernah kulihat, kusapa ataupun sekedar berpapasan.
Entahlah. Aku mengingat wajahmu dengan jelas malam ini.
Siapa engkau? Aku tak tahu.
Mengapa harus melihat wajahmu? Aku tak tahu.
Entahlah … apa pengaruh malaria? Aku tak tahu.
Yang aku tahu, in my prayer, I saw your face, jelas, menghujam dan membuatku terdiam lama … I’ll just can pray for you, sista.
(Manokwari, 290711; thinking about the ‘penampakan’ on my mind, how to kick thing out of one’s mind?)
Q dan catatan tak penting
Hari ini mungkin agak bikin badan malas sih. Tadi pi periksa darah di klinik, e ada Malaria Tertiana. Su begitu harus minum obat satu minggu, abis sa juga panakut suntik. Tepatnya fobia. Kalo tra terpaksa, jang harap sa mau disuntik. Mungkin karena trauma sejak kecil jadi. Jadi ya, semua kegiatan dijadwal ulang, termasuk pi batal cari makanan babi (daun keladi cs), ngajar keponakan – keponakan perempuan, batal pi kongkow di rumah teman dan lain – lain. Capek deh si malaria babingung nih. Walau tetap ada sisi positifnya ka ini, ya at least, sa jadi pu banyak waktu istirahat. Padahal tadi pagi usai pi klinik, sa pulang tetap stavel cuci pakaian dan kas bersih kamar dan jemur kasus. Lelah!!!
Ternyata . .. kamar jelek badaki dan badebu ini kalo ditata de bikin sa mood berubah jadi positif ka ini. Pengaruhnya karena sa ganti taplak meja belajar deng kain Bali motif rodanya Ashoka, trus jejeran buku diatur ulang dan disortir dan kerjaan yang tra perlu sa karton-kan. Jadi lebih rapi dan segar ka ini.
Btw, kemarin tuh sebenarnya sa lagi mengalami rekstrukturisasi otak hahaha. Ceritanya karena sa bosan brat, jadi sa pi kabur ke pantai. Lengkap deng perlengkapan perang ka ini. niat mo berenang, e karena ombak dan juga pantai ancur, jadi pas lihat pohon kelapa sedang, sa langsung bentang kain oleh2 Mama Ipa dari Vanuatu, langsung beachbum sejati deh. Bikin tidur siang, di pantai. Nikmat skali. Jadi, dengar suara ombak, kaki sebagian tiba di pasir dan dengar musik pantai dari pondok pinggir pantai. Trada obat. Sa cuek brats deng pengunjung pantai yang lain, epen banget deh. Tong masuk juga gratis moooo. Benar – benar tidur siang selama lebih dari 30 menit bikin sa energi dan otak positif skali. Apalagi pas balik liat ke atas tuh langit biru dan ujung – ujung pohon kelapa kecil. Siooooo, Pasifik seh.
Pulangnya, sa masih sibuk jalan baronda lewat belakang Amban alias lewat Susweni sana eeee. Sempat nolong ibu muda dengan dua anak balita yang mo numpang ke Sanggeng cuma ya karena sa mo pi Amban, jadi sa tawarkan ke Amban saja baru dong nan naik taksi. Abis di daerah dekat Litbang sana, trada transportasi ya, ojek saja hitung berjam – jaman, angkot apalagi, pasti su penuh dari Ayambori ka Susweni, kondisinya beda jauh deng daerah Pantura skali eeee. Tapi entahlah … sa merasa bahagia bisa bantu tuh ibu muda. Just can’t imagine kalo harus begitu kelak bawa anak dan jalan kaki. Berat banget untuk orang fislem macam sa.
Jadi, abis itu sa nongkrong di pondoknya teman. Ah ada kaka target hehehe. Biasa, sa sih su stabil skarang kalo ketemu si kaka. Malah bisa cuekin, abis pengaruh pesonanya si Q sih. Nah si kaka walau dicuekin ternyata bisa juga bikin gerakan bergabung deng diskusi sa deng sapu sobat. Jadi ya getho, berpandangan saja hahaha. Tapi suer, sa su agak stabil kok. Abis sejak Minggu sa sama Q pu diskusi lebih intens sih. Iya, intens bamaki dan baganggu tingkat tinggi.
Buktinya sampe malam juga, sampe jam 12 lewat, sa dan Q ada baku SMS baku ganggu ancur skali. Biasa, sa biasa ganggu dia tuh, apa de yakin kalo de tra gay. Anak pasti emosi bratz hahaha. Jadi pasti su langsung bilang, sa harus uji dia. De pu jawaban ini yang bikin sa niat ganggu lebih gencar ka ini, “Hahaha makax dicoba dulu baru berikan komentar.” Dan “Hahaha makanya dcoba dulu, itu kata kuncinya. Contoh makanan. Terlihat dari luar atau yang masak jelek, n kita yakin kurang enak, tp sebelum memberi komentar dicicipi dahulu”. E giliran sa bilang, “jadi ko mo apanya yang dicoba?” langsung sms balasan isinya cuma, “adoh su malam nih. Sa tidur dulu eee”. He’s so cute yang bisa bikin orang kas makan de sandal jepit =D
Belum lagi kemarin malam tuh anak memang rada – rada aneh. Otak error parah dan kacau nih tapi memang bikin ketawa trus ka ini. Menghibur! Benar – benar jadi joker skali eee. Abis tong dua sms’an dari yang lagi nonton bola, trus lanjut sa bilang sa lagi nonton film “I am number four” jadi de juga bilang, “Yup2. Sa ada nonton film bokep. Antisipasi kalau anda menyerangku hahaha”. Yang pastinya sa langsung balas, “ogah …. Tra tertarik pada gay wkwkwkkwkwkw”. Dan selanjutnya SMSnya rada nakal walau pasti buntutnya cuma untuk pake bahan becanda sampe ketawa – ketawa. Entahlah …. He just makes me feel so comfy … nyaman saja.
Entahlah … what future might bring, yang pasti nih anak memang cukup bikin sa ketawa ancor beberapa hari ini. Ya de su lolos salah satu syarat utama jadi sa pacar sih, ‘yang bisa bikin sa ketawa terus kalo dekat deng dia’.
Q seh …. Walau kadang – kadang bikin hati Qmai seh wkwkwkwkkwkw.
(Manokwari, 290711)
Ternyata . .. kamar jelek badaki dan badebu ini kalo ditata de bikin sa mood berubah jadi positif ka ini. Pengaruhnya karena sa ganti taplak meja belajar deng kain Bali motif rodanya Ashoka, trus jejeran buku diatur ulang dan disortir dan kerjaan yang tra perlu sa karton-kan. Jadi lebih rapi dan segar ka ini.
Btw, kemarin tuh sebenarnya sa lagi mengalami rekstrukturisasi otak hahaha. Ceritanya karena sa bosan brat, jadi sa pi kabur ke pantai. Lengkap deng perlengkapan perang ka ini. niat mo berenang, e karena ombak dan juga pantai ancur, jadi pas lihat pohon kelapa sedang, sa langsung bentang kain oleh2 Mama Ipa dari Vanuatu, langsung beachbum sejati deh. Bikin tidur siang, di pantai. Nikmat skali. Jadi, dengar suara ombak, kaki sebagian tiba di pasir dan dengar musik pantai dari pondok pinggir pantai. Trada obat. Sa cuek brats deng pengunjung pantai yang lain, epen banget deh. Tong masuk juga gratis moooo. Benar – benar tidur siang selama lebih dari 30 menit bikin sa energi dan otak positif skali. Apalagi pas balik liat ke atas tuh langit biru dan ujung – ujung pohon kelapa kecil. Siooooo, Pasifik seh.
Pulangnya, sa masih sibuk jalan baronda lewat belakang Amban alias lewat Susweni sana eeee. Sempat nolong ibu muda dengan dua anak balita yang mo numpang ke Sanggeng cuma ya karena sa mo pi Amban, jadi sa tawarkan ke Amban saja baru dong nan naik taksi. Abis di daerah dekat Litbang sana, trada transportasi ya, ojek saja hitung berjam – jaman, angkot apalagi, pasti su penuh dari Ayambori ka Susweni, kondisinya beda jauh deng daerah Pantura skali eeee. Tapi entahlah … sa merasa bahagia bisa bantu tuh ibu muda. Just can’t imagine kalo harus begitu kelak bawa anak dan jalan kaki. Berat banget untuk orang fislem macam sa.
Jadi, abis itu sa nongkrong di pondoknya teman. Ah ada kaka target hehehe. Biasa, sa sih su stabil skarang kalo ketemu si kaka. Malah bisa cuekin, abis pengaruh pesonanya si Q sih. Nah si kaka walau dicuekin ternyata bisa juga bikin gerakan bergabung deng diskusi sa deng sapu sobat. Jadi ya getho, berpandangan saja hahaha. Tapi suer, sa su agak stabil kok. Abis sejak Minggu sa sama Q pu diskusi lebih intens sih. Iya, intens bamaki dan baganggu tingkat tinggi.
Buktinya sampe malam juga, sampe jam 12 lewat, sa dan Q ada baku SMS baku ganggu ancur skali. Biasa, sa biasa ganggu dia tuh, apa de yakin kalo de tra gay. Anak pasti emosi bratz hahaha. Jadi pasti su langsung bilang, sa harus uji dia. De pu jawaban ini yang bikin sa niat ganggu lebih gencar ka ini, “Hahaha makax dicoba dulu baru berikan komentar.” Dan “Hahaha makanya dcoba dulu, itu kata kuncinya. Contoh makanan. Terlihat dari luar atau yang masak jelek, n kita yakin kurang enak, tp sebelum memberi komentar dicicipi dahulu”. E giliran sa bilang, “jadi ko mo apanya yang dicoba?” langsung sms balasan isinya cuma, “adoh su malam nih. Sa tidur dulu eee”. He’s so cute yang bisa bikin orang kas makan de sandal jepit =D
Belum lagi kemarin malam tuh anak memang rada – rada aneh. Otak error parah dan kacau nih tapi memang bikin ketawa trus ka ini. Menghibur! Benar – benar jadi joker skali eee. Abis tong dua sms’an dari yang lagi nonton bola, trus lanjut sa bilang sa lagi nonton film “I am number four” jadi de juga bilang, “Yup2. Sa ada nonton film bokep. Antisipasi kalau anda menyerangku hahaha”. Yang pastinya sa langsung balas, “ogah …. Tra tertarik pada gay wkwkwkkwkwkw”. Dan selanjutnya SMSnya rada nakal walau pasti buntutnya cuma untuk pake bahan becanda sampe ketawa – ketawa. Entahlah …. He just makes me feel so comfy … nyaman saja.
Entahlah … what future might bring, yang pasti nih anak memang cukup bikin sa ketawa ancor beberapa hari ini. Ya de su lolos salah satu syarat utama jadi sa pacar sih, ‘yang bisa bikin sa ketawa terus kalo dekat deng dia’.
Q seh …. Walau kadang – kadang bikin hati Qmai seh wkwkwkwkkwkw.
(Manokwari, 290711)
Q dodol
Catatan ini mungkin hanya berupa curhat pribadi tentang seorang lelaki hitam manis yang beberapa hari ini membuatku sedikit menertawakan hidup dan juga sempat membuat hati sedikit warna – warni. Tentu saja terserah mau dibilang terlalu sentimental ataupun cengeng, entahlah. Hanya mau menuliskan apa yang terjadi beberapa hari terakhir. Toh catatan ini memang bukan untuk konsumsi umum yang membutuhkan pendapat pribadi. Setidaknya masih dipasang pada blog pribadi hahaha. Anggap saja jadi rahasia umum tanpa harus dipublikasikan. Hanya ingin jujur dengan perasaan sendiri.
Q, ya catatan ini memang tentang lelaki hitam manis yang suka main gitar ini tapi sayangnya mulut dan frasa serta tingkahnya kadang bikin sakit kepala ingin melemparnya dengan sepasang sandal jepit saking terlalu ‘babikin diri’. Lelaki yang ‘paling makan puji’ dan ‘narsis’ yang pernah kukenal.
Pertemanan kami yang rada aneh, karena sewaktu kuliah S1 dulu tak akrab dan baru saja akrab di akhir Januari tahun ini gara – gara kejadian ketemuaan dan baku maki di studio foto (yang tentu saja diselesaikan dengan banyaknya foto kami berdua di sana) hahaha.
Hari minggu kemarin, usai pulang nonton pawai anak – anak pemuda PAM Biak di depan sebuah gereja di Manokwari, waktu itu aku memang sedikit rada demam dan radang tenggorokan atau mau batuk. Pulang sore – sore, langsung demam tinggi. Nah karna sudah makan malam sejak petang, dan reaksi obat mulai bekerja, tak biasanya tidur begitu awal tapi kok tak bisa tidur – tidur juga, jadi kusempatkan mengirim SMS ke Q, hanya ngajakin ngobrol.
Si laki – laki dodol ini ternyata lagi nonton, dia kan kerjanya di sebuah kabupaten pemekaran yang nama tempatnya saja sudah mengindikasikan sebuah tantangan bagi jiwa – jiwa petualangan. Entahlah si anak mama ini bisa bertahan hidup atau tidak nih. Jadi SMS kami pun mengalir, sambil baganggu tentu saja, yang pasti penuh makian tingkat tinggi. Iseng – iseng karena si Q terlalu baganggu, langsung kutanya, “Btw, ko kan anti cewek tampaknya, dari dulu kan tra ada tanda – tanda pu cewek.?, dibalasnya dengan kata – kata pembelaan diri, “siapa yang anti cewek??????” tanda tanyanya banyak skali di pesan itu. Trus karena lagi demam dan tak sedikit konek, cuek saja kubilang, “Alah … yang benar saja. Iya kan memang anti cewek. Btw, ko tra gay kan, Q?*tes toooo wkwkwkwkkwk” … dan jadi suda, lain su tabakar sampe bilang ‘ayo kaka, tes sa saja toooo’ . Acara baganggu yang penuh makian dan baganggu sampe poro sakit hahaha.
E pembicaraan belum berakhir, karena ternyata entahlah …. Mungkin karena pengaruh sakit, jadi ungkapan sms jadi terasa lebih jujur, jadi aku cuek saja SMS bilang sama si Q kalo sudah sebulan terakhir naksir dia, ya naksir gaya ngomongnya yang lucu walau kadang nyebelin getho … ale, pace ko cuma balas berkali – kali deng kata – kata “wkwkwkwkw pengakuan paling tipu …..” dan juga beberapa sms yang menganggap itu sebuah lelucon. Bagaimana tidak, smsku memang rada kacau juga, isinya ya intinya “tenang saja, ade. Itu kan cuma naksir kok, bukan nembak ko jadi sapu pacar apalagi calon suami kok. Jadi relaks. Sa pu mood su berubah kok, jadi sa tra akan apa – apakan ko mo wkwkkkkw”.
Bagaimana si Q tak menganggapnya candaan, hari sebelumnya sa baru kirim sms – sms curhat tentang si kaka target wkkwkwkkw. Iyalah, tiap kali ada perkembangan terkini antara sa dan kaka target, pasti sa su bahas deng Q, dia sih jadi teman curhat saja, alias bantu dengar. Cuma ya … sialnya de pu nasehat2 tuh yang tidak bikin sa bisa dekat deng kaka target alias pokoknya sa harus secuek dan senetral mungkin deng kaka target, tra bole kasi tunjuk indikasi suka dll … kapan bisa dapat kaka target kalo gini wkkwkwkkwkw
Entahlah … kemarin juga kami berdiskusi sore - malam sampai ramai, biasa …. Membahas kejadian antara kaka target dan me, dan kali ini si Q tampaknya sudah mulai ambil jalan yang lebih jelas menjelaskan posisi dirinya. Lah bagaimana tidak, de dengan pedenya bilang kalo de bisa jadi laki – laki yang bisa mengalihkan sapu perhatian dari kaka target, kalo seandainya dipertemukan dengan kaka target, aku dan beberapa teman, alias jadi centre of attention-nya sa. Macam mo maki – maki dia eeee.
Sore ini juga, Q ternyata beda …. Mulai perhatian walau dengan cara yang aneh dan bikin sa naik darah …. Bagaimana tidak, bangun tidur sore, e si Q sms, katanya usai lihat sa pu status di FB, isinya gini: “Lagi flu brat ka hahahaha makanya jangan bajalan tabrak angin trus hehehe” . jadi kubalas dengan menjelaskan bahwa I’m fine getho, kan lagian pake jaket, e sialnya tuh makhluk dodol balas SMS sampe 2 kali, hanya bilang ‘kenapa gak mampus or mati skalian hahahhaa’. Ya ampun, naik darah sudah mo, mulai dari makian ‘anjrit’ dan sodara2nya keluar, sampe terakhir pake ancaman, “e kalo cuma mo SMS bakutuk, sebaiknya tra usah SMS sa. Dasar dodol nih!”, yang kemudian dibalasnya dengan SMS, “hahhaa saya kan baca status di FB … ya baganggu dikit too”. Memang makluk banget nih anak!!!!
Entahlah … kalo diingat – ingat perkataannya si Q beberapa bulan lalu, kayaknya memang sa yang lebih banyak memaki nih cowok, mulai dari sebutannya ‘si jelek’, ‘dodol’, ‘tete’ hingga ‘panta tai’ dan lain – lain. Entahlah … sikapnya kadang mengingatkan sa tentang seseorang di masa lalu, si Bee. Si Bee dulu juga bergaul dan ngomong dengan cara yang sama, walau kuakui si Q lebih perhatian dan merespon.
Entahlah …. Si dodol ini memang sanggup membuatku tertawa beberapa hari ini mengingatnya, cuma takut seperti yang ia bilang di smsnya, “awas jangan sampe tambah jatuh cinta sama sa lagi wkkwkwkwkw”. Babingung taslep banget deh!!! Wkwkkwkw
Memang seh …. Q seh ….!!!
(Manokwari, 270711; thinking about my recent joker wkwwkkkwk)
Q, ya catatan ini memang tentang lelaki hitam manis yang suka main gitar ini tapi sayangnya mulut dan frasa serta tingkahnya kadang bikin sakit kepala ingin melemparnya dengan sepasang sandal jepit saking terlalu ‘babikin diri’. Lelaki yang ‘paling makan puji’ dan ‘narsis’ yang pernah kukenal.
Pertemanan kami yang rada aneh, karena sewaktu kuliah S1 dulu tak akrab dan baru saja akrab di akhir Januari tahun ini gara – gara kejadian ketemuaan dan baku maki di studio foto (yang tentu saja diselesaikan dengan banyaknya foto kami berdua di sana) hahaha.
Hari minggu kemarin, usai pulang nonton pawai anak – anak pemuda PAM Biak di depan sebuah gereja di Manokwari, waktu itu aku memang sedikit rada demam dan radang tenggorokan atau mau batuk. Pulang sore – sore, langsung demam tinggi. Nah karna sudah makan malam sejak petang, dan reaksi obat mulai bekerja, tak biasanya tidur begitu awal tapi kok tak bisa tidur – tidur juga, jadi kusempatkan mengirim SMS ke Q, hanya ngajakin ngobrol.
Si laki – laki dodol ini ternyata lagi nonton, dia kan kerjanya di sebuah kabupaten pemekaran yang nama tempatnya saja sudah mengindikasikan sebuah tantangan bagi jiwa – jiwa petualangan. Entahlah si anak mama ini bisa bertahan hidup atau tidak nih. Jadi SMS kami pun mengalir, sambil baganggu tentu saja, yang pasti penuh makian tingkat tinggi. Iseng – iseng karena si Q terlalu baganggu, langsung kutanya, “Btw, ko kan anti cewek tampaknya, dari dulu kan tra ada tanda – tanda pu cewek.?, dibalasnya dengan kata – kata pembelaan diri, “siapa yang anti cewek??????” tanda tanyanya banyak skali di pesan itu. Trus karena lagi demam dan tak sedikit konek, cuek saja kubilang, “Alah … yang benar saja. Iya kan memang anti cewek. Btw, ko tra gay kan, Q?*tes toooo wkwkwkwkkwk” … dan jadi suda, lain su tabakar sampe bilang ‘ayo kaka, tes sa saja toooo’ . Acara baganggu yang penuh makian dan baganggu sampe poro sakit hahaha.
E pembicaraan belum berakhir, karena ternyata entahlah …. Mungkin karena pengaruh sakit, jadi ungkapan sms jadi terasa lebih jujur, jadi aku cuek saja SMS bilang sama si Q kalo sudah sebulan terakhir naksir dia, ya naksir gaya ngomongnya yang lucu walau kadang nyebelin getho … ale, pace ko cuma balas berkali – kali deng kata – kata “wkwkwkwkw pengakuan paling tipu …..” dan juga beberapa sms yang menganggap itu sebuah lelucon. Bagaimana tidak, smsku memang rada kacau juga, isinya ya intinya “tenang saja, ade. Itu kan cuma naksir kok, bukan nembak ko jadi sapu pacar apalagi calon suami kok. Jadi relaks. Sa pu mood su berubah kok, jadi sa tra akan apa – apakan ko mo wkwkkkkw”.
Bagaimana si Q tak menganggapnya candaan, hari sebelumnya sa baru kirim sms – sms curhat tentang si kaka target wkkwkwkkw. Iyalah, tiap kali ada perkembangan terkini antara sa dan kaka target, pasti sa su bahas deng Q, dia sih jadi teman curhat saja, alias bantu dengar. Cuma ya … sialnya de pu nasehat2 tuh yang tidak bikin sa bisa dekat deng kaka target alias pokoknya sa harus secuek dan senetral mungkin deng kaka target, tra bole kasi tunjuk indikasi suka dll … kapan bisa dapat kaka target kalo gini wkkwkwkkwkw
Entahlah … kemarin juga kami berdiskusi sore - malam sampai ramai, biasa …. Membahas kejadian antara kaka target dan me, dan kali ini si Q tampaknya sudah mulai ambil jalan yang lebih jelas menjelaskan posisi dirinya. Lah bagaimana tidak, de dengan pedenya bilang kalo de bisa jadi laki – laki yang bisa mengalihkan sapu perhatian dari kaka target, kalo seandainya dipertemukan dengan kaka target, aku dan beberapa teman, alias jadi centre of attention-nya sa. Macam mo maki – maki dia eeee.
Sore ini juga, Q ternyata beda …. Mulai perhatian walau dengan cara yang aneh dan bikin sa naik darah …. Bagaimana tidak, bangun tidur sore, e si Q sms, katanya usai lihat sa pu status di FB, isinya gini: “Lagi flu brat ka hahahaha makanya jangan bajalan tabrak angin trus hehehe” . jadi kubalas dengan menjelaskan bahwa I’m fine getho, kan lagian pake jaket, e sialnya tuh makhluk dodol balas SMS sampe 2 kali, hanya bilang ‘kenapa gak mampus or mati skalian hahahhaa’. Ya ampun, naik darah sudah mo, mulai dari makian ‘anjrit’ dan sodara2nya keluar, sampe terakhir pake ancaman, “e kalo cuma mo SMS bakutuk, sebaiknya tra usah SMS sa. Dasar dodol nih!”, yang kemudian dibalasnya dengan SMS, “hahhaa saya kan baca status di FB … ya baganggu dikit too”. Memang makluk banget nih anak!!!!
Entahlah … kalo diingat – ingat perkataannya si Q beberapa bulan lalu, kayaknya memang sa yang lebih banyak memaki nih cowok, mulai dari sebutannya ‘si jelek’, ‘dodol’, ‘tete’ hingga ‘panta tai’ dan lain – lain. Entahlah … sikapnya kadang mengingatkan sa tentang seseorang di masa lalu, si Bee. Si Bee dulu juga bergaul dan ngomong dengan cara yang sama, walau kuakui si Q lebih perhatian dan merespon.
Entahlah …. Si dodol ini memang sanggup membuatku tertawa beberapa hari ini mengingatnya, cuma takut seperti yang ia bilang di smsnya, “awas jangan sampe tambah jatuh cinta sama sa lagi wkkwkwkwkw”. Babingung taslep banget deh!!! Wkwkkwkw
Memang seh …. Q seh ….!!!
(Manokwari, 270711; thinking about my recent joker wkwwkkkwk)
Tuesday, 26 July 2011
Cerpen: Antara Rhea, Pua dan diriku
Prolog
Hari ini hari terakhir ujian sekolah yang kupimpin dan juga tanggal dimana aku resmi bergabung tiga tahun di sekolah ini; sebuah sekolah yayasan swasta di sebuah kampung pesisir di luar kota. Aku kadang tak percaya kalau kanak – kanak kecil ini sekarang telah bertumbuh menjadi remaja tanggung yang akan segera mengganti rok lipit dan celana pendek merah mereka dengan seragam berwarna putih dan biru tua. Aku tak percaya kalau mereka akan tetap bermain lompat tali dan gici – gici1kelak. Entahlah … kanak – kanak selalu bertumbuh dengan cepat. Selalu … dan waktu terasa mengalir cepat seperti jatuhan pasir dari jemariku.
***
Sudah 2 minggu ujian terakhir kelas VI, masih sekitar 2 – 3 minggu lagi hasil kelulusan mereka akan mereka dengar. Rumah dinasku di kawasan sekolah hari ini dikunjungi beberapa murid kelas VI yang hendak membantu pekerjaan domestik khususnya mempersiapkan kamar untuk anak bungsuku. Anak bungsuku – Rhea - tak lama lagi akan mengunjungiku usai libur semesternya dan ia bilang ingin menghabiskan beberapa minggu denganku di sini; sebuah kampung pesisir di luar kota. Sayang rasanya bila kamar tamu di rumah ini tidak dimanfaatkan, walau sesekali juga ada anak muridku yang menginap.
Aku hanya seorang perempuan tua berkulit kopi di pertengahan usia 50an. Aku bersyukur bapakku, seorang mantri kesehatan didikan Belanda di sebuah kampung di teluk Saireri cukup berpikiran demokratis pada masanya dan mengijinkan dan berusaha agar aku sekolah hingga tingkat sarjana. Seperti juga ia mengijinkan aku menikah dalam usia muda. “Nona, tu ko pu pilihan, kalo ko rasa bahagia, bapa tra larang.”, ucapnya di masa silam. Dua anakku sudah menikah dan bekerja, salah seorang mengabdikan diri sebagai staf pengembangan masyarakat (community development) di sebuah perusahaan tambang terbesar di tanah ini, dan hanya tinggal seorang yang sedang kuliah, katanya jurusan sosiologi di sebuah universitas di tanah Jawa. Sedang suamiku sudah lama meninggal sejak anak pertamaku remaja; Gagal ginjal , kata dokter . Kadang terasa berat memikirkan beban yang pernah kupikul, tapi aku bersyukur masa – masa berat itu telah lama terlewati walau kadang menjadi orang tua tunggal tidak menyenangkan. Banyak godaan dan cibiran untuk statusku yang janda. Apalagi saat itu usiaku baru 35 tahun, tapi aku bersyukur menikah semasih kuliah apalagi anak – anakku sejak kecil cukup mandiri dan mengerti dengan keadaan keluarga.
Lamunanku tentang saat – saat sulit di masa lalu merembes hilang kala datang tiga bocah perempuan berkepang pita dan dengan rambut yang dianyam ‘kulit kepala’2 persis seorang penyanyi Latin di saluran TV musik, aku ingat namanya Jennifer Lopez3; itu kata anak bungsuku. Martina, Pua dan Kori, tiga bocah yang tinggal di kampung sebelah datang dengan wajah berseri – seri. Seakan tak ada beban untuk hasil ujian mereka kelak. Mereka memang suka membantuku membersihkan rumah, juga menemaniku menjahit. Sebagai gantinya aku memberikan pelajaran ekstra untuk mereka, mulai dari mengajar mereka berhitung, membaca dan kadang – kadang mengajarkan mereka menjahit dan menyulam serta baru – baru ini Pua kuberi modal berjualan pinang di depan rumahnya. Karna ia sering tak punya uang untuk jajan ataupun membeli perlengkapan dan peralatan sekolah.
***
Kurang seminggu hasil ujian kan keluar. Rhea pun sudah menemaniku beberapa hari ini. Pagi tadi, dalam sebuah acara sarapan kami yang berisikan rebusan pisang raja matang dan seteko teh manis, ia bercerita tentang gagasan penelitian skripsinya semester depan tentang peran perempuan dalam ekonomi keluarga, yang tak hanya menyangkut peran mencari uang tetapi juga penebus utang ataupun sebagai komoditas ‘jualan’. Diskusi kami cukup panjang dalam pagi yang penuh hujan itu.
Rhea, ah ia terlalu bersemangat dalam usia mudanya. Ia satu – satunya anak perempuanku. Perempuan berkulit kopi sepertiku ini mengingatkanku untuk masa mudaku yang telah lama hilang. Ia terus mengutip pendapat beberapa tokoh feminis, yang entah didapatnya dari buku – buku kuliahnya ataukah karena pekerjaan sampingannya di sebuah komunitas pendampingan perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga binaan sebuah LSM Perempuan di kotanya. Aku ingat pagi ini ia berbicara tentang metafora pernikahan untuk menggambarkan hubungan patriarki dengan kapitalisme, sebuah kontrak katanya, milik Eisenstein4. Entahlah … aku hanya kuatir ia takut menikah kelak karena sikapnya yang kadang menimbang – nimbang peran reprositas perempuan dan lelaki. Terlalu banyak berpikir dan menganalisa. Perempuan modern, mungkin. Entahlah … mungkin karena efek pertukaran pelajarnya ke Amerika tahun kemarin. Anggap saja ini kekhawatiran seorang perempuan tua sepertiku untuk anak perempuannya.
Hujan masih saja turun, tapi tetesnya mulai melemah siang ini. Tiba – tiba seorang penawar jasa angkutan berhelm kuning datang mengetuk pintu rumahku. Kukenal ia dengan nama pace5 Korinus, seorang pemuka tokoh masyarakat di kampung sebelah. Dihampirinya aku di teras.
“Siang mama guru, ada mo kas tahu nih. Bapa kapala suku di kampung sebelah ada bikin acara jadi, makan malam ka ini, pengucapan syukur begitu. Jadi bapa de minta mama guru dong mungkin bisa datang bergabung ka, acara nanti jam 6 sore ka ini. Itu saja.”
“Ok, terima kasih lagi e bapa. Iyo, nan sa deng sapu anak perempuan datang. Nan tolong bilang beliau terima kasih lagi atas undangannya eee. Terimakasih.”
Percakapan kami berakhir dengan basa – basi sejenak. Tak biasanya bapak kepala suku di kampung sebelah mengundangku, mungkin saja skala acaranya kali ini lumayan besar. Entahlah … apa ia baru mendapat ‘uang gugat tanah’6 yang lumayan banyak, ataukah baru saja mendapat rejeki ibarat durian runtuh. Aku sempat mengenalnya dekat beberapa tahun terakhir karena lelaki yang sudah hampir 60 tahun ini pernah menitipkan anak lelakinya yang terkecil, dari istri kedua atau ketiganya, untuk belajar berhitung di rumahku 2 kali seminggu tahun lalu.
***
Hujan sudah tak turun. Rhea menemaniku ke kampung sebelah. Lembayung senja menggurat langit, berselingkuh dengan awan – awan mendung yang tersisa, menghalangi pancaran matahari yang malu – malu masih tampak. Sepeda motor buatan Jepang yang dikemudikannya berjalan mulus menembus kampung - kampung pesisir kami yang langsung berbatasan dengan perbukitan di belakang tiap kampung. Kampung – kampung yang mulai menampakan kemajemukannya. Penghuninya tak hanya orang – orang yang bermoyang pesisir tetapi juga saudara – saudara serasku yang datang dari pegunungan dan juga para pendatang dari daerah luar Papua. Walau memang belum seramai seperti di kota.
Sabua7 sudah dipasang dengan hiasan janur kuning dan tenda biru. Kursi – kursi dan bangku – bangku panjang ditata rapi. Meja makanan diletakan di pinggir sabua. Dekorasi a la kampung pasisir. Rhea dengan pandangan bertanya menarik jemariku menunjuk ke depan; sebuah kursi pelaminan yang ditata rapi ibarat peraduan para raja dan ratu sehari, lengkap dengan ucapan ‘selamat menempuh hidup baru’ di atasnya. Siapa yang menikah? Aku tak tahu.
Kebisuan kami pecah kala tiba – tiba pembawa acara mengupas tanda tanya kami, saat mempersilahkan kepala suku masuk ke dalam areal pelaminan. Seorang lelaki tua yang beda beberapa umur denganku, berjalan masuk dengan jas hitam, yang mungkin disewanya entah dari siapa. Berjalan dengan senyum jumawa, memamerkan gigi – giginya yang tak lagi utuh dan putih. Di belakangnya menguntit seorang perempuan yang belum menjadi wanita dewasa, entah indung telurnya telah melepaskan sejumlah sel telur melewati tuba falopii-nya, aku tak tahu. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Pandangannya malu bercampur takut, berjalan pelan, tertunduk dalam wajah penuh pupur tebal dan perona pipi warna merah muda. Ada yang pecah dan luruh di hatiku sama seperti yang terekam dalam wajah Rhea yang kulihat. PUUUUUUUUUUA??? Kenapa?
***
Epilogue
Ia lulus dengan nilai yang lumayan tinggi. Kala ijazahnya diambil, kutahan ia beberapa menit di dalam ruanganku. Pandangan penuh tanyaku memecah kabut bening yang ada di matanya. Dengan terisak, ia hanya bilang:
“Mama guru, begitu suda … Bapa dan kaka dong mau begitu jadi, sa ikut saja. Tra bisa bikin apa – apa. Untuk bayar tanah ka utang begitu.”
Lututku lemas! Ada bening cair yang pecah di mata dan hatiku.
Aku pun teringat kata – kata Rhea sebelum ia pergi menginap di rumah kami di kota, “Di seluruh budaya … sumber dari legitimasi atas kekuasaan yang berlebihan terletak pada laki – laki karena aktivitas laki – laki merupakan tempat penentuan nilai budaya. Hal ini karena laki – laki mempertahankan jarak dari lingkup domestik.”8.
Entahlah … sekali lagi, ada yang pecah di hatiku.
(Manokwari, 260711; inspired by a true story in Manokwari last month when a girl in sixth grade has to marry an old man for the sake of ‘dowry’ and ‘reimbursement’ as well as to maintain her family domain.)
Catatan:
1. Gici – gici (Melayu Papua) sebuah permainan anak – anak khususnya anak perempuan, yang berupa gambar kotak – kotak di tanah dan menggunakan sekeping batu tipis ataupun pecahan genteng atau ubin sebagai ‘pion’ bermain yang dilemparkan sebagai indikator melompat dengan berbagai gaya. Gambar di tanah dalam permainan ini mempunyai banyak bentuk, ada yang menyerupai salib, kincir angin hingga manusia.
2. ‘Anyam kulit kepala’ (Melayu Papua) Istilah Melayu Papua di Manokwari untuk merujuk anyaman rambut keriting yang simpul eratnya menempel di batok kepala dan tidak terurai langsung. Dalam bahasa Inggris disebut ‘corn rows’. Paling tepat diaplikasikan pada rambut keriting kecil (frizzy hair) karena ikatan simpulnya yang lebih rapi dan kuat. Pola anyaman ini dapat dibentuk menjadi pola tertentu, misalnya jarring laba – laba, hingga simbol mata uang Dollar seperti $.
3. Jennifer Lopez, yang lebih dikenal dengan nama J-Lo, seorang pemain film dan penyanyi pop Amerika keturunan Amerika Latin yang melejit dengan single perdana ‘My love don’t cost a thing’.
4. Zillah R. Eisenstein. Seorang teoritisi politik Amerika yang menulis buku ‘Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism’ (1979) dan juga ‘Radical Future of Liberal Feminism’ (1981). Kutipan di atas di ambil dari bukunya yang terbit tahun 1979. Penulis berkenalan dengannya awalnya saat melihat namanya di sebuah ensiklopedia feminis beberapa tahun lalu.
5. Pace (Melayu Papua) Sapaan umum yang dipakai untuk menyebut ataupun memanggil lelaki dewasa dimana lebih bersifat sapaan umum. Asal katanya tidak diketahui, apakah bentuk reduksi fonologis dari kata Melayu ‘Pakcik’ atau ‘Pakci’’ ataukah dari sapaan Belanda ‘papa tje/papa’ce’ (harafiah, Bapa sayang; menurut seorang teman’ JT. Weohau)
6. ‘Uang gugat tanah’ merujuk pada fenomena sosial ekonomi di Manokwari usai kejatuhan Orde Baru. Dimana beberapa pihak yang mengatasnamakan keistimewaan hak ulayat mengklaim ulang ataupun menggugat kepemilikan tanah, entah yang memang belum terselesaikan dengan pemerintah ataupun yang sudah diselesaikan secara finansial oleh pemerintah maupun individual. Pembahasan fenomena ini belum disosialisasikan dengan jelas, khususnya terkait dengan hukum adat dan positif dari motif ekonomi fenomena ini. Selain itu, sepengetahuan penulis, belum ada indikator jelas tentang nominal perhitungan yang dipakai didalam membuat assessment nilai tanah yang digugat, apalagi terhadap tanah yang telah jatuh pada tangan kedua dan ketiga yang telah melalui proses pembayaran yang sah menurut hukum positif.
7. Sabua (Melayu Papua) Istilah yang merujuk pada tenda ataupun kerangka tenda, baik beratapkan seng, terpal ataupun dedaunan dengan dinding – dinding kosong yang digunakan sebagai tempat peneduh suatu kegiatan. Skala masif dari bivak.
8. Pendapat ini dikutip dari pendapatnya Rosaldo dan Lamphere dalam Maggie Humm’s ‘Ensiklopedia Feminisme’, edisi terjemahan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru). Hal. 358.
Hari ini hari terakhir ujian sekolah yang kupimpin dan juga tanggal dimana aku resmi bergabung tiga tahun di sekolah ini; sebuah sekolah yayasan swasta di sebuah kampung pesisir di luar kota. Aku kadang tak percaya kalau kanak – kanak kecil ini sekarang telah bertumbuh menjadi remaja tanggung yang akan segera mengganti rok lipit dan celana pendek merah mereka dengan seragam berwarna putih dan biru tua. Aku tak percaya kalau mereka akan tetap bermain lompat tali dan gici – gici1kelak. Entahlah … kanak – kanak selalu bertumbuh dengan cepat. Selalu … dan waktu terasa mengalir cepat seperti jatuhan pasir dari jemariku.
***
Sudah 2 minggu ujian terakhir kelas VI, masih sekitar 2 – 3 minggu lagi hasil kelulusan mereka akan mereka dengar. Rumah dinasku di kawasan sekolah hari ini dikunjungi beberapa murid kelas VI yang hendak membantu pekerjaan domestik khususnya mempersiapkan kamar untuk anak bungsuku. Anak bungsuku – Rhea - tak lama lagi akan mengunjungiku usai libur semesternya dan ia bilang ingin menghabiskan beberapa minggu denganku di sini; sebuah kampung pesisir di luar kota. Sayang rasanya bila kamar tamu di rumah ini tidak dimanfaatkan, walau sesekali juga ada anak muridku yang menginap.
Aku hanya seorang perempuan tua berkulit kopi di pertengahan usia 50an. Aku bersyukur bapakku, seorang mantri kesehatan didikan Belanda di sebuah kampung di teluk Saireri cukup berpikiran demokratis pada masanya dan mengijinkan dan berusaha agar aku sekolah hingga tingkat sarjana. Seperti juga ia mengijinkan aku menikah dalam usia muda. “Nona, tu ko pu pilihan, kalo ko rasa bahagia, bapa tra larang.”, ucapnya di masa silam. Dua anakku sudah menikah dan bekerja, salah seorang mengabdikan diri sebagai staf pengembangan masyarakat (community development) di sebuah perusahaan tambang terbesar di tanah ini, dan hanya tinggal seorang yang sedang kuliah, katanya jurusan sosiologi di sebuah universitas di tanah Jawa. Sedang suamiku sudah lama meninggal sejak anak pertamaku remaja; Gagal ginjal , kata dokter . Kadang terasa berat memikirkan beban yang pernah kupikul, tapi aku bersyukur masa – masa berat itu telah lama terlewati walau kadang menjadi orang tua tunggal tidak menyenangkan. Banyak godaan dan cibiran untuk statusku yang janda. Apalagi saat itu usiaku baru 35 tahun, tapi aku bersyukur menikah semasih kuliah apalagi anak – anakku sejak kecil cukup mandiri dan mengerti dengan keadaan keluarga.
Lamunanku tentang saat – saat sulit di masa lalu merembes hilang kala datang tiga bocah perempuan berkepang pita dan dengan rambut yang dianyam ‘kulit kepala’2 persis seorang penyanyi Latin di saluran TV musik, aku ingat namanya Jennifer Lopez3; itu kata anak bungsuku. Martina, Pua dan Kori, tiga bocah yang tinggal di kampung sebelah datang dengan wajah berseri – seri. Seakan tak ada beban untuk hasil ujian mereka kelak. Mereka memang suka membantuku membersihkan rumah, juga menemaniku menjahit. Sebagai gantinya aku memberikan pelajaran ekstra untuk mereka, mulai dari mengajar mereka berhitung, membaca dan kadang – kadang mengajarkan mereka menjahit dan menyulam serta baru – baru ini Pua kuberi modal berjualan pinang di depan rumahnya. Karna ia sering tak punya uang untuk jajan ataupun membeli perlengkapan dan peralatan sekolah.
***
Kurang seminggu hasil ujian kan keluar. Rhea pun sudah menemaniku beberapa hari ini. Pagi tadi, dalam sebuah acara sarapan kami yang berisikan rebusan pisang raja matang dan seteko teh manis, ia bercerita tentang gagasan penelitian skripsinya semester depan tentang peran perempuan dalam ekonomi keluarga, yang tak hanya menyangkut peran mencari uang tetapi juga penebus utang ataupun sebagai komoditas ‘jualan’. Diskusi kami cukup panjang dalam pagi yang penuh hujan itu.
Rhea, ah ia terlalu bersemangat dalam usia mudanya. Ia satu – satunya anak perempuanku. Perempuan berkulit kopi sepertiku ini mengingatkanku untuk masa mudaku yang telah lama hilang. Ia terus mengutip pendapat beberapa tokoh feminis, yang entah didapatnya dari buku – buku kuliahnya ataukah karena pekerjaan sampingannya di sebuah komunitas pendampingan perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga binaan sebuah LSM Perempuan di kotanya. Aku ingat pagi ini ia berbicara tentang metafora pernikahan untuk menggambarkan hubungan patriarki dengan kapitalisme, sebuah kontrak katanya, milik Eisenstein4. Entahlah … aku hanya kuatir ia takut menikah kelak karena sikapnya yang kadang menimbang – nimbang peran reprositas perempuan dan lelaki. Terlalu banyak berpikir dan menganalisa. Perempuan modern, mungkin. Entahlah … mungkin karena efek pertukaran pelajarnya ke Amerika tahun kemarin. Anggap saja ini kekhawatiran seorang perempuan tua sepertiku untuk anak perempuannya.
Hujan masih saja turun, tapi tetesnya mulai melemah siang ini. Tiba – tiba seorang penawar jasa angkutan berhelm kuning datang mengetuk pintu rumahku. Kukenal ia dengan nama pace5 Korinus, seorang pemuka tokoh masyarakat di kampung sebelah. Dihampirinya aku di teras.
“Siang mama guru, ada mo kas tahu nih. Bapa kapala suku di kampung sebelah ada bikin acara jadi, makan malam ka ini, pengucapan syukur begitu. Jadi bapa de minta mama guru dong mungkin bisa datang bergabung ka, acara nanti jam 6 sore ka ini. Itu saja.”
“Ok, terima kasih lagi e bapa. Iyo, nan sa deng sapu anak perempuan datang. Nan tolong bilang beliau terima kasih lagi atas undangannya eee. Terimakasih.”
Percakapan kami berakhir dengan basa – basi sejenak. Tak biasanya bapak kepala suku di kampung sebelah mengundangku, mungkin saja skala acaranya kali ini lumayan besar. Entahlah … apa ia baru mendapat ‘uang gugat tanah’6 yang lumayan banyak, ataukah baru saja mendapat rejeki ibarat durian runtuh. Aku sempat mengenalnya dekat beberapa tahun terakhir karena lelaki yang sudah hampir 60 tahun ini pernah menitipkan anak lelakinya yang terkecil, dari istri kedua atau ketiganya, untuk belajar berhitung di rumahku 2 kali seminggu tahun lalu.
***
Hujan sudah tak turun. Rhea menemaniku ke kampung sebelah. Lembayung senja menggurat langit, berselingkuh dengan awan – awan mendung yang tersisa, menghalangi pancaran matahari yang malu – malu masih tampak. Sepeda motor buatan Jepang yang dikemudikannya berjalan mulus menembus kampung - kampung pesisir kami yang langsung berbatasan dengan perbukitan di belakang tiap kampung. Kampung – kampung yang mulai menampakan kemajemukannya. Penghuninya tak hanya orang – orang yang bermoyang pesisir tetapi juga saudara – saudara serasku yang datang dari pegunungan dan juga para pendatang dari daerah luar Papua. Walau memang belum seramai seperti di kota.
Sabua7 sudah dipasang dengan hiasan janur kuning dan tenda biru. Kursi – kursi dan bangku – bangku panjang ditata rapi. Meja makanan diletakan di pinggir sabua. Dekorasi a la kampung pasisir. Rhea dengan pandangan bertanya menarik jemariku menunjuk ke depan; sebuah kursi pelaminan yang ditata rapi ibarat peraduan para raja dan ratu sehari, lengkap dengan ucapan ‘selamat menempuh hidup baru’ di atasnya. Siapa yang menikah? Aku tak tahu.
Kebisuan kami pecah kala tiba – tiba pembawa acara mengupas tanda tanya kami, saat mempersilahkan kepala suku masuk ke dalam areal pelaminan. Seorang lelaki tua yang beda beberapa umur denganku, berjalan masuk dengan jas hitam, yang mungkin disewanya entah dari siapa. Berjalan dengan senyum jumawa, memamerkan gigi – giginya yang tak lagi utuh dan putih. Di belakangnya menguntit seorang perempuan yang belum menjadi wanita dewasa, entah indung telurnya telah melepaskan sejumlah sel telur melewati tuba falopii-nya, aku tak tahu. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Pandangannya malu bercampur takut, berjalan pelan, tertunduk dalam wajah penuh pupur tebal dan perona pipi warna merah muda. Ada yang pecah dan luruh di hatiku sama seperti yang terekam dalam wajah Rhea yang kulihat. PUUUUUUUUUUA??? Kenapa?
***
Epilogue
Ia lulus dengan nilai yang lumayan tinggi. Kala ijazahnya diambil, kutahan ia beberapa menit di dalam ruanganku. Pandangan penuh tanyaku memecah kabut bening yang ada di matanya. Dengan terisak, ia hanya bilang:
“Mama guru, begitu suda … Bapa dan kaka dong mau begitu jadi, sa ikut saja. Tra bisa bikin apa – apa. Untuk bayar tanah ka utang begitu.”
Lututku lemas! Ada bening cair yang pecah di mata dan hatiku.
Aku pun teringat kata – kata Rhea sebelum ia pergi menginap di rumah kami di kota, “Di seluruh budaya … sumber dari legitimasi atas kekuasaan yang berlebihan terletak pada laki – laki karena aktivitas laki – laki merupakan tempat penentuan nilai budaya. Hal ini karena laki – laki mempertahankan jarak dari lingkup domestik.”8.
Entahlah … sekali lagi, ada yang pecah di hatiku.
(Manokwari, 260711; inspired by a true story in Manokwari last month when a girl in sixth grade has to marry an old man for the sake of ‘dowry’ and ‘reimbursement’ as well as to maintain her family domain.)
Catatan:
1. Gici – gici (Melayu Papua) sebuah permainan anak – anak khususnya anak perempuan, yang berupa gambar kotak – kotak di tanah dan menggunakan sekeping batu tipis ataupun pecahan genteng atau ubin sebagai ‘pion’ bermain yang dilemparkan sebagai indikator melompat dengan berbagai gaya. Gambar di tanah dalam permainan ini mempunyai banyak bentuk, ada yang menyerupai salib, kincir angin hingga manusia.
2. ‘Anyam kulit kepala’ (Melayu Papua) Istilah Melayu Papua di Manokwari untuk merujuk anyaman rambut keriting yang simpul eratnya menempel di batok kepala dan tidak terurai langsung. Dalam bahasa Inggris disebut ‘corn rows’. Paling tepat diaplikasikan pada rambut keriting kecil (frizzy hair) karena ikatan simpulnya yang lebih rapi dan kuat. Pola anyaman ini dapat dibentuk menjadi pola tertentu, misalnya jarring laba – laba, hingga simbol mata uang Dollar seperti $.
3. Jennifer Lopez, yang lebih dikenal dengan nama J-Lo, seorang pemain film dan penyanyi pop Amerika keturunan Amerika Latin yang melejit dengan single perdana ‘My love don’t cost a thing’.
4. Zillah R. Eisenstein. Seorang teoritisi politik Amerika yang menulis buku ‘Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism’ (1979) dan juga ‘Radical Future of Liberal Feminism’ (1981). Kutipan di atas di ambil dari bukunya yang terbit tahun 1979. Penulis berkenalan dengannya awalnya saat melihat namanya di sebuah ensiklopedia feminis beberapa tahun lalu.
5. Pace (Melayu Papua) Sapaan umum yang dipakai untuk menyebut ataupun memanggil lelaki dewasa dimana lebih bersifat sapaan umum. Asal katanya tidak diketahui, apakah bentuk reduksi fonologis dari kata Melayu ‘Pakcik’ atau ‘Pakci’’ ataukah dari sapaan Belanda ‘papa tje/papa’ce’ (harafiah, Bapa sayang; menurut seorang teman’ JT. Weohau)
6. ‘Uang gugat tanah’ merujuk pada fenomena sosial ekonomi di Manokwari usai kejatuhan Orde Baru. Dimana beberapa pihak yang mengatasnamakan keistimewaan hak ulayat mengklaim ulang ataupun menggugat kepemilikan tanah, entah yang memang belum terselesaikan dengan pemerintah ataupun yang sudah diselesaikan secara finansial oleh pemerintah maupun individual. Pembahasan fenomena ini belum disosialisasikan dengan jelas, khususnya terkait dengan hukum adat dan positif dari motif ekonomi fenomena ini. Selain itu, sepengetahuan penulis, belum ada indikator jelas tentang nominal perhitungan yang dipakai didalam membuat assessment nilai tanah yang digugat, apalagi terhadap tanah yang telah jatuh pada tangan kedua dan ketiga yang telah melalui proses pembayaran yang sah menurut hukum positif.
7. Sabua (Melayu Papua) Istilah yang merujuk pada tenda ataupun kerangka tenda, baik beratapkan seng, terpal ataupun dedaunan dengan dinding – dinding kosong yang digunakan sebagai tempat peneduh suatu kegiatan. Skala masif dari bivak.
8. Pendapat ini dikutip dari pendapatnya Rosaldo dan Lamphere dalam Maggie Humm’s ‘Ensiklopedia Feminisme’, edisi terjemahan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru). Hal. 358.
Monday, 25 July 2011
cerpen - Kemeja
Mega – mega lembayung menari riang di balik kanvas abu – abu langit. Pendar cahya keemasannya memaksa beberapa anak kecil menghentikan tanding bola di lapangan berdebu penuh rumput kering bekas cabikan pisau mesin rumput. Seorang bocah cilik yang baru saja membereskan bola kulit tuanya yang lelah ditendang, lari meninggalkan kerumunannya. Bocah berkulit gelap dengan dada telanjang dan kulit penuh peluh berlari ke sebuah rumah berhalaman luas dengan satu dua pohon sukun di halaman dan jejeran pohon pinang. Mencari seseorang.
“Sore, oom Tinuuuuuuuus! Oom Tinuuuuuuuuus”, panggilnya.
Tak lama keluarlah orang yang dicarinya. Seorang lelaki berkulit kopi, berumur awal 30an, yang sedang mengunyah pinang. Sesekali didengarnya apa yang disampaikan bocah kecil itu, sambil diselingi dengan cipratan ludah berwarna merah ke halaman. Percakapan pun berakhir kala si bocah lari ke blok rumah sebelah. Menghilang di balik bayang – bayang pondok pinang seberang jalan.
***
30 menit melewati pukul 7 malam. Seorang perempuan tua berambut putih keriting baru saja pulang dari ibadah keluarga di rayon1nya. Terheran – heran dilihatnya anak lelakinya baru saja habis mandi dan sedang merapikan kemeja dan sepatu kulitnya. Kemeja itu seingatnya adalah hadiah Natal tahun kemarin dari saudaranya di Port Numbay. Salah satu kemeja terbaik berwarna cerah yang dimiliki anak lelakinya. Tak urung menahan rasa penasaran, ia pun bertanya.
“Tinus, ada acara apa ka? Macam ko rapi sekali.”
“Trada mama, kebetulan tadi Maikel titip pesan di de pu keponakan, bilang katanya ada ‘acara goyang2’ di Martina dong pu rumah jadi, Martina ulang tahun ka ini. Jadi nan sdikit lagi dong datang jemput sa.”
“Iyo, kam pi acara tuh pi acara eee, tapi jang ‘minum’3 talalu, jang sampe dong kas racun kam lagi. Ko ingat oom Yakob dulu tuh eee”
“Iyo mama, jang takut”
Pesta ini bagi lelaki bernama Tinus lumayan penting. Bukan karena ‘acara goyang’nya, bukan pula karena akan ada pesta Balo4,tapi karena ulang tahun Martina. Sudah lama ia menaruh perasaan pada Martina, adik perempuan seorang teman di ujung komplek perumahan bekas pensiunan pekerja perusahaan kayu jaman Belanda. Jarak rumah mereka tak begitu jauh karena mereka tinggal di blok – blok perumahan yang dibangun pada jaman kolonial dulu. Ditimbang – timbang gayanya di depan kaca, semoga pujaan hatinya sudi berdansa sebentar dengannya, batinnya dalam hati.
***
Maikel datang bersama 2 teman lain yang dikenal Tinus sebagai Yason dan Toni. Keempatnya pun berjalan menyusuri kompleks pemukiman yang di sepanjangnya banyak ditemukan penjaja pinang di pondok – pondok jualan dan jejeran pohon sukun. Daerah pemukiman ini mayoritasnya hanya dihuni oleh orang – orang berkulit gelap dari pulau – pulau di teluk Saireri hingga budaya makan pinang menjadi ciri khas yang mudah ditemukan.
Pesta telah dimulai. Jam merambat naik dengan cepat. Opereter5 sibuk memainkan lagu dengan irama cepat hingga perlahan. Muda – mudi turun ke lantai dansa berganti – ganti. Tak lupa aroma keras minuman keras membaur di antara wewangian Fambo6, keringat dan percak – percik ludah pinang. Beberapa muda – mudi berjanji diam – diam dengan lirikan mata dan sentuhan; sebuah transaksi gratis cinta-satu-malam. Entah celana siapa yang kan jatuh malam ini.
Martina sedang larut dengan percakapan dengan seorang lelaki yang tak dikenal Tinus. Lalu lalang Tinus di depan mereka, mondar – mandir seperti setrika namun tak sekalipun Martina melirik, apalagi menyapanya. Sedikit putus asa, dilihatnya Maikel dan beberapa lelaki sedang duduk mengelilingi beberapa botol air mineral berwarna keruh. Ia pun bergabung dalam ‘perjamuan kudus7’ yang minim Yanti8 dan Yance9.
Musik masih berdentam – dentam dari susunan pengeras suara rakitan dari ban mobil. Pandangan Tinus mulai terasa goyang, ini gelas ketiganya. Tak sengaja seorang lelaki di sebelahnya menyenggolnya dan mereka pun terlibat ‘baku maki’. Saling tak mau kalah. Apalagi Martina menampakan muka cemberut untuk para pembuka botol yang berbuat onar di pestanya. Lelaki ini pun mulai meneriakan nama beberap temannya dan petualangan malam ini pun dimulai.
Tinus tak dapat berkata – kata saat mereka mulai memukulnya. Tendangan dan sepakan masuk silih berganti di wajahnya, menyisakan rasa sakit. Mereka berubah bagai kawanan anjing Afrika yang kelaparan, berebut sekerat tulang sisa. Kepalan – kepalan tinju di sela – sela aroma fermentasi air beras mengisi udara di tengah – tengah dentaman lagu ‘Black Eyed Peas’; I’ve got a feeling10.
Maikel tak tinggal diam, dilarikannya temannya cepat – cepat ke jalan sebelah, berlari dan terus berlari, menerobos halaman rumah orang. Menuju tempat perlindungan. Nun di belakang sana, rombongan pemburu mabuk itu mengejar mereka.
***
Wajah Tinus kocar – kacir, ada lebam biru di bawah matanya. Tapi ia baik – baik saja. Maikel menuntunnya hati – hati. Kemejanya keluar dari ikat pinggangnya, tak ada lagi ‘buang dalam11’. Sepatu kulitnya pun masih terikat dengan rapi. Sedikit – sedikit aroma balo keluar dari mulutnya. Tapi ia hanya minum 3 gelas tadi. Tak lebih.
Pos penjagaan itu berdiri dengan tegap di ujung lampu jalan. Sempat terbersit ragu di mata Tinus tapi ini tempat perlindungan yang sempurna, setidaknya pemburu mereka tak akan berani datang ke kawasan ini. Setidaknya mungkin mereka yang berjaga mengenal Tinus, ‘bukankah Tinus bekerja sebagai Office Boy di tempat ini?’, pikir Maikel dalam hati. Mereka berjalan bersisian dalam diam menuju sebuah pos kecil dengan beberapa pria bersenjata di dalamnya. Pelan – pelan Maikel mendudukan Tinus di luar pos.
“Malam bapa, sa bisa minta tolong ka, mo amankan sapu teman. Tadi tong pi acara dan minum sedikit, trus de dapat pukul ancur dan ada dapa kejar dari beberapa orang mabuk, jadi sa bole titip sa pu teman di sini sebentar saja ka. De OB di kantor dalam”, kata Maikel sambil mengisyaratkan sebuah gedung di dalam kawasan itu.
“Maksud saudara?”, tanya seorang lelaki berambut cepak dengan nada tinggi.
“Sa minta tolong, bapa. Ada orang – orang yang kejar de jadi, sa takut de ….”.
‘Buuuk, prak …’, belum sempat Maikel menjelaskan ulang, sebuah pukulan telah bersarang di hidungnya, berdarah. Ia terjengkang mundur ke belakang. Sedikit pusing. Diliriknya Tinus yang sudah diseret ke dalam.
“Maikeeeeeeeeeeeeeeellll!! Aaarrggghh”, seru Tinus.
Jeritan Tinus langsung hilang di udara kala beberapa tinju, sepakan, tendangan dan pukulan – pukulan benda tumpul bersarang di tubuh dan kepalanya. Ia terjatuh. Darah membanjir deras dari kepalanya, berlari ke dalam kemejanya, kulitnya, mewarnai keramik putih itu, persis seperti corak ikan Koi yang menari lincah di kolam. Dan semuanya gelap dan diam! Tanpa suara.
***
EPILOGUE
2 malam lalu adalah malam terpanjang bagi perempuan tua berambut keriting putih itu. Malam di mana Maikel berlari seperti kesetanan penuh darah ke rumahnya, menuturkan kisah malam. Tak perlu waktu lama, mereka bergegas.
Semuanya bersih, sangat bersih. Yang ada hanya beberapa ember air, aroma karbol dan got berwarna merah.
Tanpa penjelasan. Mereka pun pulang. Menunggu dengan cemas. 2 jam berlalu. Tiba - tiba bunyi sirene mobil rumah sakit tiba dengan lampu – lampu berwarna kemilau. Sesosok tubuh kaku diturunkan. Tanpa basa - basi. Hanya sebuah laporan kematian. ‘Ditemukan jatuh dan tewas dengan kadar alkohol tinggi di dalam darah , di kawasan dekat pos’, bunyi ringkasan laporan.
Perempuan tua itu hanya menatap tajam pada tubuh anak lelakinya yang kaku. Setengah telanjang dengan selembar celana panjang. Di mana kemeja dan sepatunya?
Ia pun bertanya dan terus bertanya.
(Manokwari, 240711; Inspired by a true story 2 weeks ago, just wait and see, whether the witness will survive, I dunno. As Seno Gumira Ajidarma says “Sewaktu Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.)
Catatan:
1. Rayon, merujuk pada pembagian wilayah warga jemaat gereja yang dilayani, khususnya di beberapa gereja GKI di Tanah Papua di Manokwari. Biasanya dihitung dari jumlah Kepala keluarga ataupun luasan wilayah. Sering disebut juga dengan wilayah.
2. Acara goyang (Melayu Papua) Slang di Manokwari khususnya di daerah Fanindi, merujuk pada pesta dansa yang sejenis dengan ‘rave party’.
3. Minum (Melayu Papua) Slang di Manokwari, merujuk pada tindakan minum minuman keras dan terkadang juga diasosiasikan dengan pesta minuman keras.
4. Balo, sejenis minuman keras lokal yang dibuat dari fermentasi air cucian beras, ditengarai merupakan minuman keras yang berasal dari sebuah daerah di Sulawesi. Merupakan pilihan alternatif minuman keras yang lagi ‘in’ dan murah di Manokwari beberapa tahun terakhir karena dapat diproduksi dengan skala rumahan di daerah pesisir Manokwari.
5. Perjamuan kudus (Melayu Papua) Slang di Manokwari yang merujuk pada sebuah pesta jamuan minuman keras dimana para peminum duduk mengelilingi botol minuman dan memakai gelas yang sama, prosesi cupping ini mirip dengan yang diadakan oleh beberapa gereja lokal di Manokwari.
6. Fambo, nama sejenis merk minyak wangi, kadang juga diasosiasikan dengan minyak wangi yang diberikan pada jenazah.
7. Yanti, slang Melayu Papua di Manokwari yang didapatkan dari akronim ‘YANg’ TInggi’ merujuk pada botol minuman merk Whiskey Robinson a.k.a. WIRO (Thanx for my eldest bro ‘kaka black’ for his explanation). Istilah ini didapat penulis saat mendengar khotbah ibu Pdt. Marlissa di bulan Juli 2011.
8. Yance, slang Melayu Papua di Manokwari yang didapatkan dari akronim ‘YANg’ CEper’ merujuk pada botol minuman merk Mansion House ataupun Vodka Robinson (Thanx for my eldest bro ‘kaka black’ for his explanation). Istilah ini didapat penulis saat mendengar khotbah ibu Pdt. Marlissa di bulan Juli 2011.
9. Opereter (Melayu Papua) serapan dari bahasa Inggris ‘operator’, merujuk pada orang yang bertugas menangani bagian musik dari sebuah pesta dansa. Setara dengan peran DJ di diskotik.
10. Lagu dari kelompok musik ini mengingatkan penulis untuk sebuah kenangan clubbing di klub MooseHead 2 tahun lalu.
11. Buang dalam (Melayu Papua) Sebuah istilah Melayu Papua di Manokwari, yang mempunyai makna ganda. #1 (fashion), merujuk pada cara memasukan kemeja atau baju, khususnya pada pria, untuk tidak membiarkan kemeja tergantung di luar celana panjang/pendek. #2 (seks), merujuk pada tindakan ejakulasi di dalam organ genital perempuan. Dalam cerita ini merujuk pada definisi #1.
“Sore, oom Tinuuuuuuuus! Oom Tinuuuuuuuuus”, panggilnya.
Tak lama keluarlah orang yang dicarinya. Seorang lelaki berkulit kopi, berumur awal 30an, yang sedang mengunyah pinang. Sesekali didengarnya apa yang disampaikan bocah kecil itu, sambil diselingi dengan cipratan ludah berwarna merah ke halaman. Percakapan pun berakhir kala si bocah lari ke blok rumah sebelah. Menghilang di balik bayang – bayang pondok pinang seberang jalan.
***
30 menit melewati pukul 7 malam. Seorang perempuan tua berambut putih keriting baru saja pulang dari ibadah keluarga di rayon1nya. Terheran – heran dilihatnya anak lelakinya baru saja habis mandi dan sedang merapikan kemeja dan sepatu kulitnya. Kemeja itu seingatnya adalah hadiah Natal tahun kemarin dari saudaranya di Port Numbay. Salah satu kemeja terbaik berwarna cerah yang dimiliki anak lelakinya. Tak urung menahan rasa penasaran, ia pun bertanya.
“Tinus, ada acara apa ka? Macam ko rapi sekali.”
“Trada mama, kebetulan tadi Maikel titip pesan di de pu keponakan, bilang katanya ada ‘acara goyang2’ di Martina dong pu rumah jadi, Martina ulang tahun ka ini. Jadi nan sdikit lagi dong datang jemput sa.”
“Iyo, kam pi acara tuh pi acara eee, tapi jang ‘minum’3 talalu, jang sampe dong kas racun kam lagi. Ko ingat oom Yakob dulu tuh eee”
“Iyo mama, jang takut”
Pesta ini bagi lelaki bernama Tinus lumayan penting. Bukan karena ‘acara goyang’nya, bukan pula karena akan ada pesta Balo4,tapi karena ulang tahun Martina. Sudah lama ia menaruh perasaan pada Martina, adik perempuan seorang teman di ujung komplek perumahan bekas pensiunan pekerja perusahaan kayu jaman Belanda. Jarak rumah mereka tak begitu jauh karena mereka tinggal di blok – blok perumahan yang dibangun pada jaman kolonial dulu. Ditimbang – timbang gayanya di depan kaca, semoga pujaan hatinya sudi berdansa sebentar dengannya, batinnya dalam hati.
***
Maikel datang bersama 2 teman lain yang dikenal Tinus sebagai Yason dan Toni. Keempatnya pun berjalan menyusuri kompleks pemukiman yang di sepanjangnya banyak ditemukan penjaja pinang di pondok – pondok jualan dan jejeran pohon sukun. Daerah pemukiman ini mayoritasnya hanya dihuni oleh orang – orang berkulit gelap dari pulau – pulau di teluk Saireri hingga budaya makan pinang menjadi ciri khas yang mudah ditemukan.
Pesta telah dimulai. Jam merambat naik dengan cepat. Opereter5 sibuk memainkan lagu dengan irama cepat hingga perlahan. Muda – mudi turun ke lantai dansa berganti – ganti. Tak lupa aroma keras minuman keras membaur di antara wewangian Fambo6, keringat dan percak – percik ludah pinang. Beberapa muda – mudi berjanji diam – diam dengan lirikan mata dan sentuhan; sebuah transaksi gratis cinta-satu-malam. Entah celana siapa yang kan jatuh malam ini.
Martina sedang larut dengan percakapan dengan seorang lelaki yang tak dikenal Tinus. Lalu lalang Tinus di depan mereka, mondar – mandir seperti setrika namun tak sekalipun Martina melirik, apalagi menyapanya. Sedikit putus asa, dilihatnya Maikel dan beberapa lelaki sedang duduk mengelilingi beberapa botol air mineral berwarna keruh. Ia pun bergabung dalam ‘perjamuan kudus7’ yang minim Yanti8 dan Yance9.
Musik masih berdentam – dentam dari susunan pengeras suara rakitan dari ban mobil. Pandangan Tinus mulai terasa goyang, ini gelas ketiganya. Tak sengaja seorang lelaki di sebelahnya menyenggolnya dan mereka pun terlibat ‘baku maki’. Saling tak mau kalah. Apalagi Martina menampakan muka cemberut untuk para pembuka botol yang berbuat onar di pestanya. Lelaki ini pun mulai meneriakan nama beberap temannya dan petualangan malam ini pun dimulai.
Tinus tak dapat berkata – kata saat mereka mulai memukulnya. Tendangan dan sepakan masuk silih berganti di wajahnya, menyisakan rasa sakit. Mereka berubah bagai kawanan anjing Afrika yang kelaparan, berebut sekerat tulang sisa. Kepalan – kepalan tinju di sela – sela aroma fermentasi air beras mengisi udara di tengah – tengah dentaman lagu ‘Black Eyed Peas’; I’ve got a feeling10.
Maikel tak tinggal diam, dilarikannya temannya cepat – cepat ke jalan sebelah, berlari dan terus berlari, menerobos halaman rumah orang. Menuju tempat perlindungan. Nun di belakang sana, rombongan pemburu mabuk itu mengejar mereka.
***
Wajah Tinus kocar – kacir, ada lebam biru di bawah matanya. Tapi ia baik – baik saja. Maikel menuntunnya hati – hati. Kemejanya keluar dari ikat pinggangnya, tak ada lagi ‘buang dalam11’. Sepatu kulitnya pun masih terikat dengan rapi. Sedikit – sedikit aroma balo keluar dari mulutnya. Tapi ia hanya minum 3 gelas tadi. Tak lebih.
Pos penjagaan itu berdiri dengan tegap di ujung lampu jalan. Sempat terbersit ragu di mata Tinus tapi ini tempat perlindungan yang sempurna, setidaknya pemburu mereka tak akan berani datang ke kawasan ini. Setidaknya mungkin mereka yang berjaga mengenal Tinus, ‘bukankah Tinus bekerja sebagai Office Boy di tempat ini?’, pikir Maikel dalam hati. Mereka berjalan bersisian dalam diam menuju sebuah pos kecil dengan beberapa pria bersenjata di dalamnya. Pelan – pelan Maikel mendudukan Tinus di luar pos.
“Malam bapa, sa bisa minta tolong ka, mo amankan sapu teman. Tadi tong pi acara dan minum sedikit, trus de dapat pukul ancur dan ada dapa kejar dari beberapa orang mabuk, jadi sa bole titip sa pu teman di sini sebentar saja ka. De OB di kantor dalam”, kata Maikel sambil mengisyaratkan sebuah gedung di dalam kawasan itu.
“Maksud saudara?”, tanya seorang lelaki berambut cepak dengan nada tinggi.
“Sa minta tolong, bapa. Ada orang – orang yang kejar de jadi, sa takut de ….”.
‘Buuuk, prak …’, belum sempat Maikel menjelaskan ulang, sebuah pukulan telah bersarang di hidungnya, berdarah. Ia terjengkang mundur ke belakang. Sedikit pusing. Diliriknya Tinus yang sudah diseret ke dalam.
“Maikeeeeeeeeeeeeeeellll!! Aaarrggghh”, seru Tinus.
Jeritan Tinus langsung hilang di udara kala beberapa tinju, sepakan, tendangan dan pukulan – pukulan benda tumpul bersarang di tubuh dan kepalanya. Ia terjatuh. Darah membanjir deras dari kepalanya, berlari ke dalam kemejanya, kulitnya, mewarnai keramik putih itu, persis seperti corak ikan Koi yang menari lincah di kolam. Dan semuanya gelap dan diam! Tanpa suara.
***
EPILOGUE
2 malam lalu adalah malam terpanjang bagi perempuan tua berambut keriting putih itu. Malam di mana Maikel berlari seperti kesetanan penuh darah ke rumahnya, menuturkan kisah malam. Tak perlu waktu lama, mereka bergegas.
Semuanya bersih, sangat bersih. Yang ada hanya beberapa ember air, aroma karbol dan got berwarna merah.
Tanpa penjelasan. Mereka pun pulang. Menunggu dengan cemas. 2 jam berlalu. Tiba - tiba bunyi sirene mobil rumah sakit tiba dengan lampu – lampu berwarna kemilau. Sesosok tubuh kaku diturunkan. Tanpa basa - basi. Hanya sebuah laporan kematian. ‘Ditemukan jatuh dan tewas dengan kadar alkohol tinggi di dalam darah , di kawasan dekat pos’, bunyi ringkasan laporan.
Perempuan tua itu hanya menatap tajam pada tubuh anak lelakinya yang kaku. Setengah telanjang dengan selembar celana panjang. Di mana kemeja dan sepatunya?
Ia pun bertanya dan terus bertanya.
(Manokwari, 240711; Inspired by a true story 2 weeks ago, just wait and see, whether the witness will survive, I dunno. As Seno Gumira Ajidarma says “Sewaktu Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.)
Catatan:
1. Rayon, merujuk pada pembagian wilayah warga jemaat gereja yang dilayani, khususnya di beberapa gereja GKI di Tanah Papua di Manokwari. Biasanya dihitung dari jumlah Kepala keluarga ataupun luasan wilayah. Sering disebut juga dengan wilayah.
2. Acara goyang (Melayu Papua) Slang di Manokwari khususnya di daerah Fanindi, merujuk pada pesta dansa yang sejenis dengan ‘rave party’.
3. Minum (Melayu Papua) Slang di Manokwari, merujuk pada tindakan minum minuman keras dan terkadang juga diasosiasikan dengan pesta minuman keras.
4. Balo, sejenis minuman keras lokal yang dibuat dari fermentasi air cucian beras, ditengarai merupakan minuman keras yang berasal dari sebuah daerah di Sulawesi. Merupakan pilihan alternatif minuman keras yang lagi ‘in’ dan murah di Manokwari beberapa tahun terakhir karena dapat diproduksi dengan skala rumahan di daerah pesisir Manokwari.
5. Perjamuan kudus (Melayu Papua) Slang di Manokwari yang merujuk pada sebuah pesta jamuan minuman keras dimana para peminum duduk mengelilingi botol minuman dan memakai gelas yang sama, prosesi cupping ini mirip dengan yang diadakan oleh beberapa gereja lokal di Manokwari.
6. Fambo, nama sejenis merk minyak wangi, kadang juga diasosiasikan dengan minyak wangi yang diberikan pada jenazah.
7. Yanti, slang Melayu Papua di Manokwari yang didapatkan dari akronim ‘YANg’ TInggi’ merujuk pada botol minuman merk Whiskey Robinson a.k.a. WIRO (Thanx for my eldest bro ‘kaka black’ for his explanation). Istilah ini didapat penulis saat mendengar khotbah ibu Pdt. Marlissa di bulan Juli 2011.
8. Yance, slang Melayu Papua di Manokwari yang didapatkan dari akronim ‘YANg’ CEper’ merujuk pada botol minuman merk Mansion House ataupun Vodka Robinson (Thanx for my eldest bro ‘kaka black’ for his explanation). Istilah ini didapat penulis saat mendengar khotbah ibu Pdt. Marlissa di bulan Juli 2011.
9. Opereter (Melayu Papua) serapan dari bahasa Inggris ‘operator’, merujuk pada orang yang bertugas menangani bagian musik dari sebuah pesta dansa. Setara dengan peran DJ di diskotik.
10. Lagu dari kelompok musik ini mengingatkan penulis untuk sebuah kenangan clubbing di klub MooseHead 2 tahun lalu.
11. Buang dalam (Melayu Papua) Sebuah istilah Melayu Papua di Manokwari, yang mempunyai makna ganda. #1 (fashion), merujuk pada cara memasukan kemeja atau baju, khususnya pada pria, untuk tidak membiarkan kemeja tergantung di luar celana panjang/pendek. #2 (seks), merujuk pada tindakan ejakulasi di dalam organ genital perempuan. Dalam cerita ini merujuk pada definisi #1.
Cerpen - Celana
Dei
Cengkareng
Juli 2010
Kutarik koperku tergesa – gesa keluar dari shuttle bus kuning milik bandara ini tapi sayangnya koperku terjatuh berdebam di lantai. Jam tangan Fossil1-ku menunjukan pukul 8 malam. ‘Shoooot!2’, makiku geram. Jadwal penerbangan berikutku semakin mendekat sedang aku belum juga melapor ke maskapai domestik itu. Pasti gara – gara terlambat mengurus barang – barangku di imigrasi plus karena Qantas3 yang kutumpangi terlambat mendarat karena badai di atas langit Jakarta yang berpolusi ini.
Lapar becampur kesal ditambah lagi perbedaan suhu yang cukup ekstrem dari musim dingin di Australia dan udara gerah berbau keringat dan asam khas Jakarta semakin menaikan kadar kemarahanku. Masih belum lengkap penderitaanku, ternyata proses metabolismeku enggan bertanggung jawab. “Natural calling4 memang tak ada matinya”, gerutuku lagi. Tergopoh – gopoh menyeret koperku yang berbobot 20 KG plus sebuah tas ransel berisikan notebook, kuarahkah langkah kaki berderap bagai prajurit siap perang menuju toilet umum. ‘Ou-em-Ji’!!! Aroma dan beceknya langsung membuyarkan semangat untuk bergabung di dalamnya. “lebi baik sa afek5 dulu suda .... mangkali nan di pesawat saja su”, kataku pada diri sendiri.
Saking jengkelnya bercampur lapar, aku menjadi tak awas. “Bruk ..gedebam gedebum”, suara tubuh jatuh bercampur koper yang terbanting dan aku menatap langsung wajah seorang lelaki yang menyorongkan tangannya ke arahku. “Baik – baik saja, bu?”, tanyanya. Dan aku hanya bisa meringis. Malu!!!
***
Bon
Jakarta
September 2010
Hari ini aku dan Jim bersama beberapa teman berencana menghabiskan malam panjang akhir pekan dengan clubbing6 semalam suntuk di sebuah diskotik di pusat kota Jakarta. Lumayan mahal sih harga masuknya tapi demi sebuah kesenangan membunuh waktu aku rela menghamburkan uang. Lajang, muda, bertampang menarik dan financially safe, aku tak punya banyak hal yang harus kupikirkan. Apalagi siang tadi pak James, manager baru di unit kerjaku telah memberikan proposal rencana pemindahan kerjaku ke sebuah kantor di wilayah ujung timur negara ini 1 bulan mendatang. Bukan pindah permanen hanya berupa kunjungan pendampingan selama dua bulan pada sebuah BUMN di tempat itu. Rencana kerja ini enggan kulakukan sebenarnya, apa daya hanya aku yang direkomendasikan. Ada sedikit rasa tak nyaman mendengar nama kota itu. Reseptor otakku membisikan sinyal merah bertuliskan B-A-H-A-Y-A!!!
Rencana kerja ini membuatku gerah. Faktor X aku terpilih pun sangat klasik; karena aku keturunan orang Indonesia Timur. Titik!!! Ingin rasanya menolak. Bukan karena tak profesional tapi berdasarkan laporan teman yang pernah ke sana, tak ada hiburan bagi para lajang muda. Tak ada tempat dugem, tak ada classy restaurant ataupun café apalagi minuman beralkohol. Aku siap – siap gila saja!!!
***
Dei
Manokwari
Oktober 2010
Sudah tiga bulan aku di tempat ini. Masih sulit melepaskan pesona Australia. Aku baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan a la Herkules6; menghapus dan mengeliminasi benturan budayaku. Aku telah melewatkan banyak tahun di tempat lain di luar kota kelahiranku dan saat ini aku harus kembali tinggal di kota ini demi sebuah janji pribadi pada oma. Ya sebuah janji; janji menjaga makam kedua orang tuaku.
Sudah hampir 13 tahun aku tak tinggal di kota ini. Sudah lama tak mencium aroma udara bercampur garam yang kerap tak bersahabat dengan rongga oseofagusku. Sudah lama tak mendengar deru laju kendaraan bermotor yang tumpang tindih dengan bunyi teriak suara orang di jalan. Usai kematian orang tuaku dalam sebuah kecelakaan tragis di kota ini 13 tahun lalu, aku memutuskan pindah ke kota lain dan tinggal bersama keluarga oomku. Statusku sebagai anak tunggal membuatku menjadi lebih mandiri dan berusaha sebisa mungkin melupakan kejadian tragis itu walaupun kecelakaan itu terjadi tepat di saat aku baru saja menerima hasil kelulusanku dari SMA. Tepat di depan mataku! Ingatan itu masih basah ... kadang – kadang.
Kepulanganku kali ini demi melihat dan menjaga makam orang tuaku ditambah lagi pekerjaan baruku di sebuah LSM internasional yang bergerak dibidang pemberantasan kemiskinan di wilayah ini. 17 tahun hidupku pernah kuhabiskan di kota ini dan semua ingatan tentang kota ini masih kental di benakku. Semuanya!!
***
Bon
Manokwari
Oktober 2010
Seminggu sudah aku di kota ini. Sebuah kota kecil yang sedang berganti rupa menjadi ibukota provinsi baru hasil pemekaran wilayah. Entah karena alasan gula – gula politik ataukah karena memang harus dimekarkan. Aku pernah berada di kota ini dalam sebuah liburan sekolah. Ingatanku sudah kabur. Apakah dua, lima atau sepuluh tahun lalu, entahlah. Aku tak ingat lagi!
Menyesuaikan diri dengan kota kecil seperti ini membuatku seakan terhempas balik beberapa dekade ke belahan dunia lain. Terlalu sunyi bagiku!!! Untunglah pekerjaan baruku dan bertemu banyak orang baru membuatku sedikit kelelahan dan tak punya banyak waktu memikirkan sisi minus tinggal di kota dengan koneksi internet yang lambat dan harga barang yang berlipat ganda dari harga normal di Jakarta. Apa boleh buat, aku terlanjur ada di sini.
***
Hujan menari dengan deras di sore akhir pekan ini, seakan menggigit kesepian yang tersembunyi manis dalam ego lajangku. Kanak – kanak kecil berlarian riang di luar halaman kontrakan. Hilir mudik mereka saling bercanda memainkan busa sabun dan shampoo yang terserabut keluar dari kepala mereka. Bau hujan dan tanah basah seakan menyedotku ke sebuah pusaran air kenangan berwarna kelabu dan kelam. Seakan sel – sel kelabu otakku sedang memainkan tombol – tombol fast-forward dan rewind. Bunyi tapak kaki berlarian, bau darah segar, aroma semak – semak yang lembab dan jerit riuh rendah seakan sedang berburu. Juga sarung kotak – kotak. Berkelebat di benakku. Nyata!!!
“Praang!!!” Larutan kenanganku pun buyar kala kulit bundar bola menembus kaca jendela ruang tamu. Kanak – kanak kecil berlarian ketakutan saat kupungut bola yang sukses membuat satu helai kaca berubah bentuk menjadi serpihan – serpihan halus transparan. “Oi, kenapa kabur?”, teriakku kencang dan marah.
Aku marah! Bukan karena kaca yang pecah. Bukan karena anak – anak kecil yang kabur. Tapi aku marah karena serpihan kenangan yang tercerabut keluar. Aku ingat semuanya!!! Jelas dan nyata!
***
Pasir Putih, Manokwari, November 2010
Dei
Minggu ini bisa dibilang kerjaanku sebagai penyelia proyek di kantorku sedikit berkurang. Laporan telah kukirimkan ke kantor di Jakarta sejak pagi tadi. Aku juga sempat menghubungi oma menanyakan keadaan beliau. Sebagai lajang, aku tak punya banyak beban yang perlu kupikirkan selain kerja, kerja dan kerja. Mungkin kematian orang tuaku di usia mudaku membuatku sedikit takut untuk menikah dan punya anak. Ada ketakutan tersendiri di benakku. Ketakutan meninggalkan kesan peti hitam penuh bunga untuk bocah – bocah kecil bermata polos.
Hari ini kuputuskan pulang lebih awal. Dengan sigap berganti pakaian, makan siang dan membawa semua peralatan snorkeling7 dan berenang. Kuputuskan untuk tak pergi ke pulau di kota ini; pulau yang namanya pernah kupertanyakan karena terdengar unik; Lemon. Ternyata berdasarkan cerita teman yang bekerja di LSM lingkungan, nama Lemon berasal dari sejenis bakau yang buahnya berwarna kuning dan pernah menjadi penghuni pulau ini. Sayangnya bakau ‘lemon’ sudah sangat jarang ditemukan di pulau kecil berpasir putih itu. Hari cerah seperti ini seharusnya kuhabiskan di pulau Lemon, sayangnya teman – teman lamaku dan juga di unit kerjaku sedang sibuk mengejar laporan kerja. Tak ada pilihan, Pasir Putih menjadi pilihan terakhir.
Semua camilan, pakaian ganti, peralatan mandi, krim anti-UV hingga sebuah stik besi untuk membela diri pemberian seorang teman kumasukan di tas punggungku. Hari aku harus melaksanakan nazarku kalau berhasil menyelesaikan laporan; menjadi beachbum8 sehari! Boardie9 dan bikini tentu saja wajib hukumnya *jail.
***
Bon
Mumet! Bosan! Lelah! Kata teman sekantor, berenang di pantai Pasir Putih bisa menghilangkan mumet. ‘Grrrrrrhhh’ .. rasa tak enak ini mengonsumsiku sejak hujan bulan lalu. Sungguh … benar – benar mengonsumsiku.
Berkendara dengan motor kantor, kulewati deretan rumah – rumah abadi pinggir pantai penuh ornamen. Ada yang pecah di hatiku. Entahlah …. Kenangan itu merayap kembali. Basah dan lengket …. Enggan mengering. Mungkin memang perlu pendingin untuk membekukannya ataupun pengering, agar tak tersisa.
Pasir putih, masih sama hanya sedikit berubah di daerah pemukimannya, dibanding ingatanku beberapa tahun silam. Pantainya masih tetap sama. Ombak yang sama, air biru toska yang lembut dan matahari yang melimpah. Sunblock lotion10 sibuk berlari di kulitku, menggeliat, larut dan luruh.
Dan kulihat dia, di sana …. Di ujung pantai. Cukup manis … batinku. Khas ukuran tanah ini. Sendiri? Semoga…. I’ll watch over you, lady!!!*senyum nakalku dalam hati.
***
Dei
Nyaman!!! Sehelai kain tipis menjadi alas tidur, kaca mata di atas kepala dan alunan musik ombak menari lincah di reseptor otak. Tengkurap membaca edisi baru Cosmo11 bulan ini. ‘Wuih ….. ada posisi baru lagi, mo coba yang mana ya hihihihi’ *tawa kecil sedikit nakal. Fantasi oh fantasi hohohoho …
Ada yang datang menghampiri, kala bayangan tegap muncul di depan mukaku!!!
“Nona ….” Panggilnya lembut.
‘AAAAARRRRRGGGGHHHHH ….!!!’ Jeritku sekuat hati *usai berbalik dan mengangkat wajah.
***
EPILOGUE
Bon
Orang – orang berlari ke arah perempuan muda itu. Dan aku lupa mengapa aku di pantai ini. Yang aku tahu, ia pasti tak akan lagi mau berbaring di pasir membelakangi pantai. Tentu saja tak pernah mau lagi. Usai pameran ‘solo’ku tadi di depan wajahnya *sambil cepat – cepat menarik ritsleting celana dan berlari ke sepeda motor.
(Manokwari, started since 3 months ago, finally finished on 230711; suddenly change my idea from such tragic story into ‘a jerk story’. Bunuh penjahatnya!!!! hahaha)
Catatan:
1. Fossil, sebuah merk jam tangan produksi luar negeri yang membidik kalangan anak muda dan dewasa muda.
2. Shoot, merupakan sebuah deviasi istilah slang dari makian Inggris ‘shit’, padanan dalam Melayu Papua seperti ‘Kimai/cukimai’.
3. Qantas, merupakan nama maskapai penerbangan besar milik Australia, setara kelasnya di Indonesia dengan Garuda Indonesia.
4. ‘Natural Calling’ (Inggris), idiolek yang sering digagas penulis untuk eufemisme dari ‘BAK/BAB’
5. Afek (Melayu Papua) Idiolek penulis dan saudara – saudaranya dan juga beberapa anak muda di Fanindi ST, untuk merujuk pada suatu tindakan/kata kerja yang menggambarkan ‘mundur’ atau ‘menunda’.
6. Terilhami pekerjaan berat yang harus dilakukan Herakles a.k.a. Herkules dalam mitologi Yunani, al: melawan hydra, medusa dan lain – lain. Dipakai dalam ungkapan bahasa Inggris untuk ‘melakukan pekerjaan yang berat dan hampir mustahil’.
7. Snorkeling (Inggris) Tindakan melihat – lihat ikan dan terumbu karang dengan memakai peralatan seperti kacamata molo dan selang udara yang terhubung ke mulut dan minus tabung oksigen, dan kadang – kadang juga dengan disertai peralatan seperti coral boot ataupun fins (kaki katak). Kadang dipadukan dengan teknik duck dive (menyelam seperti bebek dengan dua kaki berada di atas/ keluar permukaan air dan kepala di dalam air, dan penyelam menahan nafas).
8. Beachbum (Inggris) Istilah untuk orang yang suka ataupun sering bermalas – malasan di pantai, tanpa melakukan apa – apa, termasuk antaranya yang hanya tidur – tiduran ataupun berjemur.
9. Boardie (Inggris) Istilah Bahasa Inggris khususnya di Australia untuk celana pendek di pantai yang biasanya terbuat dari bahan nelon yang cepat kering. Mempunyai ciri dan variasi potongan yang berbeda untuk perempuan dan lelaki. Awalnya merujuk pada celana yang dipakai oleh para peselancar laki – laki, tetapi kemudian berkembang menjadi bagian dari fashion. Di Indonesia umumnya bermotif ‘Hawaii’.
10. Sunblock lotion (Inggris) krim anti UV, biasanya di Indonesia di atas 24 SPF. Berguna melindungi kulit dari radiasi UV berlebihan.
11. Cosmo, merupakan kependekan dari majalah gaya hidup modern berjudul ‘Cosmopolitan’, yang segmen pasarnya adalah kalangan menengah ke atas. Isinya mencakup gaya hidup wanita modern, fashion, hingga seks.
Cengkareng
Juli 2010
Kutarik koperku tergesa – gesa keluar dari shuttle bus kuning milik bandara ini tapi sayangnya koperku terjatuh berdebam di lantai. Jam tangan Fossil1-ku menunjukan pukul 8 malam. ‘Shoooot!2’, makiku geram. Jadwal penerbangan berikutku semakin mendekat sedang aku belum juga melapor ke maskapai domestik itu. Pasti gara – gara terlambat mengurus barang – barangku di imigrasi plus karena Qantas3 yang kutumpangi terlambat mendarat karena badai di atas langit Jakarta yang berpolusi ini.
Lapar becampur kesal ditambah lagi perbedaan suhu yang cukup ekstrem dari musim dingin di Australia dan udara gerah berbau keringat dan asam khas Jakarta semakin menaikan kadar kemarahanku. Masih belum lengkap penderitaanku, ternyata proses metabolismeku enggan bertanggung jawab. “Natural calling4 memang tak ada matinya”, gerutuku lagi. Tergopoh – gopoh menyeret koperku yang berbobot 20 KG plus sebuah tas ransel berisikan notebook, kuarahkah langkah kaki berderap bagai prajurit siap perang menuju toilet umum. ‘Ou-em-Ji’!!! Aroma dan beceknya langsung membuyarkan semangat untuk bergabung di dalamnya. “lebi baik sa afek5 dulu suda .... mangkali nan di pesawat saja su”, kataku pada diri sendiri.
Saking jengkelnya bercampur lapar, aku menjadi tak awas. “Bruk ..gedebam gedebum”, suara tubuh jatuh bercampur koper yang terbanting dan aku menatap langsung wajah seorang lelaki yang menyorongkan tangannya ke arahku. “Baik – baik saja, bu?”, tanyanya. Dan aku hanya bisa meringis. Malu!!!
***
Bon
Jakarta
September 2010
Hari ini aku dan Jim bersama beberapa teman berencana menghabiskan malam panjang akhir pekan dengan clubbing6 semalam suntuk di sebuah diskotik di pusat kota Jakarta. Lumayan mahal sih harga masuknya tapi demi sebuah kesenangan membunuh waktu aku rela menghamburkan uang. Lajang, muda, bertampang menarik dan financially safe, aku tak punya banyak hal yang harus kupikirkan. Apalagi siang tadi pak James, manager baru di unit kerjaku telah memberikan proposal rencana pemindahan kerjaku ke sebuah kantor di wilayah ujung timur negara ini 1 bulan mendatang. Bukan pindah permanen hanya berupa kunjungan pendampingan selama dua bulan pada sebuah BUMN di tempat itu. Rencana kerja ini enggan kulakukan sebenarnya, apa daya hanya aku yang direkomendasikan. Ada sedikit rasa tak nyaman mendengar nama kota itu. Reseptor otakku membisikan sinyal merah bertuliskan B-A-H-A-Y-A!!!
Rencana kerja ini membuatku gerah. Faktor X aku terpilih pun sangat klasik; karena aku keturunan orang Indonesia Timur. Titik!!! Ingin rasanya menolak. Bukan karena tak profesional tapi berdasarkan laporan teman yang pernah ke sana, tak ada hiburan bagi para lajang muda. Tak ada tempat dugem, tak ada classy restaurant ataupun café apalagi minuman beralkohol. Aku siap – siap gila saja!!!
***
Dei
Manokwari
Oktober 2010
Sudah tiga bulan aku di tempat ini. Masih sulit melepaskan pesona Australia. Aku baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan a la Herkules6; menghapus dan mengeliminasi benturan budayaku. Aku telah melewatkan banyak tahun di tempat lain di luar kota kelahiranku dan saat ini aku harus kembali tinggal di kota ini demi sebuah janji pribadi pada oma. Ya sebuah janji; janji menjaga makam kedua orang tuaku.
Sudah hampir 13 tahun aku tak tinggal di kota ini. Sudah lama tak mencium aroma udara bercampur garam yang kerap tak bersahabat dengan rongga oseofagusku. Sudah lama tak mendengar deru laju kendaraan bermotor yang tumpang tindih dengan bunyi teriak suara orang di jalan. Usai kematian orang tuaku dalam sebuah kecelakaan tragis di kota ini 13 tahun lalu, aku memutuskan pindah ke kota lain dan tinggal bersama keluarga oomku. Statusku sebagai anak tunggal membuatku menjadi lebih mandiri dan berusaha sebisa mungkin melupakan kejadian tragis itu walaupun kecelakaan itu terjadi tepat di saat aku baru saja menerima hasil kelulusanku dari SMA. Tepat di depan mataku! Ingatan itu masih basah ... kadang – kadang.
Kepulanganku kali ini demi melihat dan menjaga makam orang tuaku ditambah lagi pekerjaan baruku di sebuah LSM internasional yang bergerak dibidang pemberantasan kemiskinan di wilayah ini. 17 tahun hidupku pernah kuhabiskan di kota ini dan semua ingatan tentang kota ini masih kental di benakku. Semuanya!!
***
Bon
Manokwari
Oktober 2010
Seminggu sudah aku di kota ini. Sebuah kota kecil yang sedang berganti rupa menjadi ibukota provinsi baru hasil pemekaran wilayah. Entah karena alasan gula – gula politik ataukah karena memang harus dimekarkan. Aku pernah berada di kota ini dalam sebuah liburan sekolah. Ingatanku sudah kabur. Apakah dua, lima atau sepuluh tahun lalu, entahlah. Aku tak ingat lagi!
Menyesuaikan diri dengan kota kecil seperti ini membuatku seakan terhempas balik beberapa dekade ke belahan dunia lain. Terlalu sunyi bagiku!!! Untunglah pekerjaan baruku dan bertemu banyak orang baru membuatku sedikit kelelahan dan tak punya banyak waktu memikirkan sisi minus tinggal di kota dengan koneksi internet yang lambat dan harga barang yang berlipat ganda dari harga normal di Jakarta. Apa boleh buat, aku terlanjur ada di sini.
***
Hujan menari dengan deras di sore akhir pekan ini, seakan menggigit kesepian yang tersembunyi manis dalam ego lajangku. Kanak – kanak kecil berlarian riang di luar halaman kontrakan. Hilir mudik mereka saling bercanda memainkan busa sabun dan shampoo yang terserabut keluar dari kepala mereka. Bau hujan dan tanah basah seakan menyedotku ke sebuah pusaran air kenangan berwarna kelabu dan kelam. Seakan sel – sel kelabu otakku sedang memainkan tombol – tombol fast-forward dan rewind. Bunyi tapak kaki berlarian, bau darah segar, aroma semak – semak yang lembab dan jerit riuh rendah seakan sedang berburu. Juga sarung kotak – kotak. Berkelebat di benakku. Nyata!!!
“Praang!!!” Larutan kenanganku pun buyar kala kulit bundar bola menembus kaca jendela ruang tamu. Kanak – kanak kecil berlarian ketakutan saat kupungut bola yang sukses membuat satu helai kaca berubah bentuk menjadi serpihan – serpihan halus transparan. “Oi, kenapa kabur?”, teriakku kencang dan marah.
Aku marah! Bukan karena kaca yang pecah. Bukan karena anak – anak kecil yang kabur. Tapi aku marah karena serpihan kenangan yang tercerabut keluar. Aku ingat semuanya!!! Jelas dan nyata!
***
Pasir Putih, Manokwari, November 2010
Dei
Minggu ini bisa dibilang kerjaanku sebagai penyelia proyek di kantorku sedikit berkurang. Laporan telah kukirimkan ke kantor di Jakarta sejak pagi tadi. Aku juga sempat menghubungi oma menanyakan keadaan beliau. Sebagai lajang, aku tak punya banyak beban yang perlu kupikirkan selain kerja, kerja dan kerja. Mungkin kematian orang tuaku di usia mudaku membuatku sedikit takut untuk menikah dan punya anak. Ada ketakutan tersendiri di benakku. Ketakutan meninggalkan kesan peti hitam penuh bunga untuk bocah – bocah kecil bermata polos.
Hari ini kuputuskan pulang lebih awal. Dengan sigap berganti pakaian, makan siang dan membawa semua peralatan snorkeling7 dan berenang. Kuputuskan untuk tak pergi ke pulau di kota ini; pulau yang namanya pernah kupertanyakan karena terdengar unik; Lemon. Ternyata berdasarkan cerita teman yang bekerja di LSM lingkungan, nama Lemon berasal dari sejenis bakau yang buahnya berwarna kuning dan pernah menjadi penghuni pulau ini. Sayangnya bakau ‘lemon’ sudah sangat jarang ditemukan di pulau kecil berpasir putih itu. Hari cerah seperti ini seharusnya kuhabiskan di pulau Lemon, sayangnya teman – teman lamaku dan juga di unit kerjaku sedang sibuk mengejar laporan kerja. Tak ada pilihan, Pasir Putih menjadi pilihan terakhir.
Semua camilan, pakaian ganti, peralatan mandi, krim anti-UV hingga sebuah stik besi untuk membela diri pemberian seorang teman kumasukan di tas punggungku. Hari aku harus melaksanakan nazarku kalau berhasil menyelesaikan laporan; menjadi beachbum8 sehari! Boardie9 dan bikini tentu saja wajib hukumnya *jail.
***
Bon
Mumet! Bosan! Lelah! Kata teman sekantor, berenang di pantai Pasir Putih bisa menghilangkan mumet. ‘Grrrrrrhhh’ .. rasa tak enak ini mengonsumsiku sejak hujan bulan lalu. Sungguh … benar – benar mengonsumsiku.
Berkendara dengan motor kantor, kulewati deretan rumah – rumah abadi pinggir pantai penuh ornamen. Ada yang pecah di hatiku. Entahlah …. Kenangan itu merayap kembali. Basah dan lengket …. Enggan mengering. Mungkin memang perlu pendingin untuk membekukannya ataupun pengering, agar tak tersisa.
Pasir putih, masih sama hanya sedikit berubah di daerah pemukimannya, dibanding ingatanku beberapa tahun silam. Pantainya masih tetap sama. Ombak yang sama, air biru toska yang lembut dan matahari yang melimpah. Sunblock lotion10 sibuk berlari di kulitku, menggeliat, larut dan luruh.
Dan kulihat dia, di sana …. Di ujung pantai. Cukup manis … batinku. Khas ukuran tanah ini. Sendiri? Semoga…. I’ll watch over you, lady!!!*senyum nakalku dalam hati.
***
Dei
Nyaman!!! Sehelai kain tipis menjadi alas tidur, kaca mata di atas kepala dan alunan musik ombak menari lincah di reseptor otak. Tengkurap membaca edisi baru Cosmo11 bulan ini. ‘Wuih ….. ada posisi baru lagi, mo coba yang mana ya hihihihi’ *tawa kecil sedikit nakal. Fantasi oh fantasi hohohoho …
Ada yang datang menghampiri, kala bayangan tegap muncul di depan mukaku!!!
“Nona ….” Panggilnya lembut.
‘AAAAARRRRRGGGGHHHHH ….!!!’ Jeritku sekuat hati *usai berbalik dan mengangkat wajah.
***
EPILOGUE
Bon
Orang – orang berlari ke arah perempuan muda itu. Dan aku lupa mengapa aku di pantai ini. Yang aku tahu, ia pasti tak akan lagi mau berbaring di pasir membelakangi pantai. Tentu saja tak pernah mau lagi. Usai pameran ‘solo’ku tadi di depan wajahnya *sambil cepat – cepat menarik ritsleting celana dan berlari ke sepeda motor.
(Manokwari, started since 3 months ago, finally finished on 230711; suddenly change my idea from such tragic story into ‘a jerk story’. Bunuh penjahatnya!!!! hahaha)
Catatan:
1. Fossil, sebuah merk jam tangan produksi luar negeri yang membidik kalangan anak muda dan dewasa muda.
2. Shoot, merupakan sebuah deviasi istilah slang dari makian Inggris ‘shit’, padanan dalam Melayu Papua seperti ‘Kimai/cukimai’.
3. Qantas, merupakan nama maskapai penerbangan besar milik Australia, setara kelasnya di Indonesia dengan Garuda Indonesia.
4. ‘Natural Calling’ (Inggris), idiolek yang sering digagas penulis untuk eufemisme dari ‘BAK/BAB’
5. Afek (Melayu Papua) Idiolek penulis dan saudara – saudaranya dan juga beberapa anak muda di Fanindi ST, untuk merujuk pada suatu tindakan/kata kerja yang menggambarkan ‘mundur’ atau ‘menunda’.
6. Terilhami pekerjaan berat yang harus dilakukan Herakles a.k.a. Herkules dalam mitologi Yunani, al: melawan hydra, medusa dan lain – lain. Dipakai dalam ungkapan bahasa Inggris untuk ‘melakukan pekerjaan yang berat dan hampir mustahil’.
7. Snorkeling (Inggris) Tindakan melihat – lihat ikan dan terumbu karang dengan memakai peralatan seperti kacamata molo dan selang udara yang terhubung ke mulut dan minus tabung oksigen, dan kadang – kadang juga dengan disertai peralatan seperti coral boot ataupun fins (kaki katak). Kadang dipadukan dengan teknik duck dive (menyelam seperti bebek dengan dua kaki berada di atas/ keluar permukaan air dan kepala di dalam air, dan penyelam menahan nafas).
8. Beachbum (Inggris) Istilah untuk orang yang suka ataupun sering bermalas – malasan di pantai, tanpa melakukan apa – apa, termasuk antaranya yang hanya tidur – tiduran ataupun berjemur.
9. Boardie (Inggris) Istilah Bahasa Inggris khususnya di Australia untuk celana pendek di pantai yang biasanya terbuat dari bahan nelon yang cepat kering. Mempunyai ciri dan variasi potongan yang berbeda untuk perempuan dan lelaki. Awalnya merujuk pada celana yang dipakai oleh para peselancar laki – laki, tetapi kemudian berkembang menjadi bagian dari fashion. Di Indonesia umumnya bermotif ‘Hawaii’.
10. Sunblock lotion (Inggris) krim anti UV, biasanya di Indonesia di atas 24 SPF. Berguna melindungi kulit dari radiasi UV berlebihan.
11. Cosmo, merupakan kependekan dari majalah gaya hidup modern berjudul ‘Cosmopolitan’, yang segmen pasarnya adalah kalangan menengah ke atas. Isinya mencakup gaya hidup wanita modern, fashion, hingga seks.
Euforia Seno
“Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta – fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan ………….. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.” 1
Kata – kata Seno Gumira Ajidarma di atas, khususnya yang kucabut paksa dari buku ‘Trilogi Insiden’nya seakan mampu menjawab kegundahan hatiku beberapa bulan terakhir, kala membaca berita di koran – koran lokal demi memantau peristiwa tertentu di tanah ini. Buku yang memuat tiga karya berbeda (kumpulan cerita pendek, novel dan kumpulan esai) semuanya berbau Timor Lorosae, seakan membuatku berkaca pada air yang mengalir. Entahlah … terasa begitu dekat, terasa begitu hidup dan seakan apa yang menumpuk di hati sedikit mendapat celah untuk keluar. Ada kemiripan yang kulihat antara setting buku ini dengan apa yang sedang kugumuli akhir – akhir ini.
Karya SGA (sebagaimana Ia menuliskan namanya dalam beberapa pengantar di buku ini) secara lengkap seperti ini baru kubaca sekarang, walau telah beberapa tahun mengenalnya lewat esai – esai perjalanan dan juga karya fotografinya di rubrik ‘Esai foto’ majalah Intisari. Semoga saja bukunya tidak semakin membuatku semakin ‘seno’2 menulis walau kutahu … tak ada pekerjaan positif yang dapat kulakukan kala malam memeluk bumi apalagi saat hujan turun selain menulis dan menulis … hingga kata lelah berselingkuh dengan lembar catatan putih elektronik ini.
Catatan ini hanya sebuah curhat pribadi yang mungkin juga bukan sesuatu yang spektakuler , boleh dibuang, disimpan pun tak apa. Anggap saja catatan seorang pengangguran yang tak bisa tidur cepat. Mungkin sebuah lullaby alias penina bobo sebelum sel – sel kelabu otak mengambil jeda barang sejenak.
Ada beberapa peristiwa yang kudengar langsung, ada pula yang kusaksikan dan ada juga disalurkan untuk kudengar dalam acara obrolan sore dengan beberapa teman. Kami bukan pengamat, hanya tak bisa saja melihat sesuatu terjadi di depan mata tanpa dibicarakan dan dikupas, tentu saja bukan dengan silet ataupun cutter, toh kami tak lihai mengolahnya. Kami hanya bisa memakai kata dan ekspresi kami, sebuah alat yang mungkin akan hilang kalau kami mati ataupun kehilangan lidah dan tangan.
Malam ini yang pasti, aku akan kembali menulis, toh seperti yang kukatakan lagi di atas dan juga terekspresikan dalam beberapa catatan harianku beberapa hari lalu, aku masih marah yang tersimpan jauh di dalam hati, marah yang harus ditranskripsikan keluar, akan berubah menjadi huruf, sebuah simbol yang memindahkan rasa dan makna. Entah akankah berselingkuh menjadi sebuah tafsiran yang dimaknai politis, ataupun sekedar uneg – uneg … aku tak tahu. Yang pasti aku hanya ingin menuliskan beban. Seperti juga sedang terbuai kutipan dari Seno Gumira Ajidarma ini:
“Seberapa jauh pembantaian orang – orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apapun dari sebuah lembaga manapun? Saya ingin mendengar jawaban.3”
Ya …. Akupun ingin mendengar jawaban!!!
(Manokwari, 230711; tengah malam dalam diam dan emosi yang naik turun)
Catatan:
1. Ajidarma, Seno Gumira. "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara." Ajidarma, Seno Gumira. Trilogi Insiden. Yogyakarta: Bentang, 2010. 325.
2. Seno (Melayu Papua) Gila, sinting, kehilangan akal sehat dan perilaku 'normal'
3. Entah ini dari halaman berapa, yang pasti dari buku 'Trilogi Insiden'nya Seno Gumira Ajidarma.
Kata – kata Seno Gumira Ajidarma di atas, khususnya yang kucabut paksa dari buku ‘Trilogi Insiden’nya seakan mampu menjawab kegundahan hatiku beberapa bulan terakhir, kala membaca berita di koran – koran lokal demi memantau peristiwa tertentu di tanah ini. Buku yang memuat tiga karya berbeda (kumpulan cerita pendek, novel dan kumpulan esai) semuanya berbau Timor Lorosae, seakan membuatku berkaca pada air yang mengalir. Entahlah … terasa begitu dekat, terasa begitu hidup dan seakan apa yang menumpuk di hati sedikit mendapat celah untuk keluar. Ada kemiripan yang kulihat antara setting buku ini dengan apa yang sedang kugumuli akhir – akhir ini.
Karya SGA (sebagaimana Ia menuliskan namanya dalam beberapa pengantar di buku ini) secara lengkap seperti ini baru kubaca sekarang, walau telah beberapa tahun mengenalnya lewat esai – esai perjalanan dan juga karya fotografinya di rubrik ‘Esai foto’ majalah Intisari. Semoga saja bukunya tidak semakin membuatku semakin ‘seno’2 menulis walau kutahu … tak ada pekerjaan positif yang dapat kulakukan kala malam memeluk bumi apalagi saat hujan turun selain menulis dan menulis … hingga kata lelah berselingkuh dengan lembar catatan putih elektronik ini.
Catatan ini hanya sebuah curhat pribadi yang mungkin juga bukan sesuatu yang spektakuler , boleh dibuang, disimpan pun tak apa. Anggap saja catatan seorang pengangguran yang tak bisa tidur cepat. Mungkin sebuah lullaby alias penina bobo sebelum sel – sel kelabu otak mengambil jeda barang sejenak.
Ada beberapa peristiwa yang kudengar langsung, ada pula yang kusaksikan dan ada juga disalurkan untuk kudengar dalam acara obrolan sore dengan beberapa teman. Kami bukan pengamat, hanya tak bisa saja melihat sesuatu terjadi di depan mata tanpa dibicarakan dan dikupas, tentu saja bukan dengan silet ataupun cutter, toh kami tak lihai mengolahnya. Kami hanya bisa memakai kata dan ekspresi kami, sebuah alat yang mungkin akan hilang kalau kami mati ataupun kehilangan lidah dan tangan.
Malam ini yang pasti, aku akan kembali menulis, toh seperti yang kukatakan lagi di atas dan juga terekspresikan dalam beberapa catatan harianku beberapa hari lalu, aku masih marah yang tersimpan jauh di dalam hati, marah yang harus ditranskripsikan keluar, akan berubah menjadi huruf, sebuah simbol yang memindahkan rasa dan makna. Entah akankah berselingkuh menjadi sebuah tafsiran yang dimaknai politis, ataupun sekedar uneg – uneg … aku tak tahu. Yang pasti aku hanya ingin menuliskan beban. Seperti juga sedang terbuai kutipan dari Seno Gumira Ajidarma ini:
“Seberapa jauh pembantaian orang – orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apapun dari sebuah lembaga manapun? Saya ingin mendengar jawaban.3”
Ya …. Akupun ingin mendengar jawaban!!!
(Manokwari, 230711; tengah malam dalam diam dan emosi yang naik turun)
Catatan:
1. Ajidarma, Seno Gumira. "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara." Ajidarma, Seno Gumira. Trilogi Insiden. Yogyakarta: Bentang, 2010. 325.
2. Seno (Melayu Papua) Gila, sinting, kehilangan akal sehat dan perilaku 'normal'
3. Entah ini dari halaman berapa, yang pasti dari buku 'Trilogi Insiden'nya Seno Gumira Ajidarma.
Returning
Malam ini aku belajar tentang teguran dari Dia yang sangat kukasihi. Beberapa minggu terakhir kondisi rohaniku mulai gersang dan aku bahkan tidak menyadarinya. Saat hubungan relasiku dengan Yesus berkurang, komunikasi yang buruk dan tentu saja aku yang menjauh. Padahal dalam beberapa minggu terakhir Ia pernah melakukan sesuatu yang sangat spektakuler untukku namun tak kuceritakan pada siapapun. Sekitar 2 minggu lalu, aku tertidur larut sejak sore di kamar dengan beberapa buku bacaan, ketiduran istilahnya. Lampu kamar tentu saja menyala, padahal kebiasaan tidurku atau keluar kamar pasti lampu kupadamkan. Sekitar pukul 11 malam, aku terbangun tiba – tiba dan seperti mendengar bisikan seseorang untuk bangun dan memeriksa jendela. Betapa kagetnya … saat kuangkat wajah memperhatikan jendela kayu 4 bilah ternyata ada sebuah yang tidak terkunci dan itu tepat di atas kepalaku. Pasti terlihat jelas dari luar kamar karena bilah cahayanya menerobos keluar.
Anyway, beberapa minggu ini memang aku merasa sedikit hampa, sedikit kosong dan ada yang hilang. Merasa kehilangan tanpa tahu itu apa. Dan malam ini tersadar kalau aku kehilangan hubungan yang baik dengan Yesus, saat ceritaku berkurang, apalagi kemarin malam … benar – benar menangis rindukan Dia.
Malam ini usai nonton tivi dan mau tidur, ada yang ingatkan di dalam hati untuk berdoa, untuk baca Firman dan tiba – tiba semuanya terasa ringan kala usai doa, baca Firman dan tentu saja mendengar musik rohani yang mengagungkan Yesus. Benar – benar terasa beban lepas sekali, tak lagi uring – uringan, tak lagi rasa sangat hampa seperti tadi dan kemarin – kemarin. Feel much better. Apalagi usai ditegur dengan sebuah ayat Firman dari Daniel 8: 12, sebuah teguran untukku untuk return to Jesus against other interests e.g. nonton tivi kelamaan, bermalas – malasan dan tentu saja baca buku yang bukan untuk menambah asupan pemahaman jiwa.
Ayat 12 dari Daniel 8 bilang gini:
“People sinned there instead of offering the proper daily sacrifices, and true religion was thrown to the ground. The horn was successful in everything it did.”
Benar – benar terasa ditegur oleh Yesus, karena ayat ini berada dalam pembacaan yang menyinggung tentang Bait Allah. Bait Allah benar – benar menyinggung tubuhku sebagai Bait Allah yang hidup dimana aku jarang menaikan pujian syukur dan relasi harian (‘daily sacrifices’) yang sesuai alias ‘tepat’ alias proper.
Benar – benar bersyukur malam ini aku ditegur sama Tuhan lewat cara yang unik.
Aku pendosa, itulah sebabnya aku selalu butuh Yesus dalam hidupku karena kalau tak ada Dia, pasti aku sudah lama mati. Entahlah … bagaimana mo jelaskan, tanpa-Nya, aku kosong dan hampa. Tak mau munafik, aku benar – benar butuh Dia. Ingin teriak ‘Jesus is my drug’ …. Karena kalo tak ada Dia, aku merasa sakit, ada yang kurang ….
Mungkin itulah yang dirasakan seperti ungkapan India.Arie dalam ‘He Heals me’ …
Cuma mo bilang, Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus, ampuni aku yang masih suka malawan, bandel dan keras kepala … tapi suer …jauh dari Ko, sa stress dan kosong.
Really miss U, God
Xoxo
(Manokwari, 230711; what a relief to find my way out; in Jesus alone)
Anyway, beberapa minggu ini memang aku merasa sedikit hampa, sedikit kosong dan ada yang hilang. Merasa kehilangan tanpa tahu itu apa. Dan malam ini tersadar kalau aku kehilangan hubungan yang baik dengan Yesus, saat ceritaku berkurang, apalagi kemarin malam … benar – benar menangis rindukan Dia.
Malam ini usai nonton tivi dan mau tidur, ada yang ingatkan di dalam hati untuk berdoa, untuk baca Firman dan tiba – tiba semuanya terasa ringan kala usai doa, baca Firman dan tentu saja mendengar musik rohani yang mengagungkan Yesus. Benar – benar terasa beban lepas sekali, tak lagi uring – uringan, tak lagi rasa sangat hampa seperti tadi dan kemarin – kemarin. Feel much better. Apalagi usai ditegur dengan sebuah ayat Firman dari Daniel 8: 12, sebuah teguran untukku untuk return to Jesus against other interests e.g. nonton tivi kelamaan, bermalas – malasan dan tentu saja baca buku yang bukan untuk menambah asupan pemahaman jiwa.
Ayat 12 dari Daniel 8 bilang gini:
“People sinned there instead of offering the proper daily sacrifices, and true religion was thrown to the ground. The horn was successful in everything it did.”
Benar – benar terasa ditegur oleh Yesus, karena ayat ini berada dalam pembacaan yang menyinggung tentang Bait Allah. Bait Allah benar – benar menyinggung tubuhku sebagai Bait Allah yang hidup dimana aku jarang menaikan pujian syukur dan relasi harian (‘daily sacrifices’) yang sesuai alias ‘tepat’ alias proper.
Benar – benar bersyukur malam ini aku ditegur sama Tuhan lewat cara yang unik.
Aku pendosa, itulah sebabnya aku selalu butuh Yesus dalam hidupku karena kalau tak ada Dia, pasti aku sudah lama mati. Entahlah … bagaimana mo jelaskan, tanpa-Nya, aku kosong dan hampa. Tak mau munafik, aku benar – benar butuh Dia. Ingin teriak ‘Jesus is my drug’ …. Karena kalo tak ada Dia, aku merasa sakit, ada yang kurang ….
Mungkin itulah yang dirasakan seperti ungkapan India.Arie dalam ‘He Heals me’ …
Cuma mo bilang, Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus, ampuni aku yang masih suka malawan, bandel dan keras kepala … tapi suer …jauh dari Ko, sa stress dan kosong.
Really miss U, God
Xoxo
(Manokwari, 230711; what a relief to find my way out; in Jesus alone)
Dear God
Dear God,
The one whom I know never ever leave me …
You are so wonderful, inspiring, understand, comprehend, and never let me be alone, always stand by my side, hug me when I need such comfort in the desert of life…
You are full of inspiration like the deep sea always hides wonderful precious jewels in its womb, that’s what You are to me.
I feel my whole life is filled with wonders for You deliberately show me that You have control in my life. Your tender unconditional love have wrapped my softly in my crib of life, never let the death to touch me so far, for You have invested great plans in my life.
I owe you heaps of thanx, love and hug … Miss U so much, God. Xoxo.
(Manokwari, 230711; river of Joy flows from my heart tonight)
The one whom I know never ever leave me …
You are so wonderful, inspiring, understand, comprehend, and never let me be alone, always stand by my side, hug me when I need such comfort in the desert of life…
You are full of inspiration like the deep sea always hides wonderful precious jewels in its womb, that’s what You are to me.
I feel my whole life is filled with wonders for You deliberately show me that You have control in my life. Your tender unconditional love have wrapped my softly in my crib of life, never let the death to touch me so far, for You have invested great plans in my life.
I owe you heaps of thanx, love and hug … Miss U so much, God. Xoxo.
(Manokwari, 230711; river of Joy flows from my heart tonight)
Antara Ia dan Dia
Malam dingin, hujan turun dan aku tercabik antara dua lelaki. Bukan cinta!!! Tentu saja bukan cinta.
Suka?
Mungkin saja.
Kagum?
Mungkin benar.
Entahlah saat bersama dia, aku merindukan ia yang lain. Saat bertukar kabar dengan ia, kurindu dia. Ia dan dia menjadi topik bulak – balikku antara ia dan dia.
Kusuka ia, yang menjadi teman curhatku, membuatku tertawa dan kadang marah, tapi bisa kuandalkan untuk teman cerita. Kusuka dan kukagumi dia, karena begitu dekat, menikmati kulit coklatnya yang kadang terpanggang matahari dengan senyum dan mata coklat hangat mengerjakan proyek seninya. Aku jadi sedikit mengerti mengapa para seniman kerap mendapatkan perempuan dengan mudah, mungkin karena perempuan – perempuan itu jatuh cinta pada karya mereka hingga menghalalkan hubungan dengan pencipta karya. Entahlah, hanya asumsi pribadi.
Aku tahu ini bukan cinta. Sama sekali bukan cinta! Karna cintaku yang terbalut kagum dan suka terlanjur kutinggalkan di sebuah benua kering penuh marsupial sedang cintaku yang hanya satu kali utuh terlanjur kutanam lebur dalam ‘Lelaki Hujan’. Yang ada hanya cinta di sisa hati yang kelak akan kuberikan pada lelaki yang menjadi suamiku, yang entah adalah ayah dari anak – anakku kelak ataukan hanya seorang penemani sepi di sisa hidup. Tak tahu!
Dia dan ia, sama – sama berkulit cokelat dengan mata yang indah yang berbeda sorot. Kulihat hangatnya hidup dan tatapan lembut di mata dia, kala memandangnya malu – malu dari sudut pintu. Kulihat tantangan dan pandangan penuh tawa dari mata ia, kala menerawang kenangan dan lembar gambar bertorehkan wajahnya.
Sial … rasa ini menghantuku malam ini. Membuatku tak bisa tidur di malam penuh hujan, malam yang merobek – robek jiwaku, menunggu balasan pesan dari ia tentang dia, sambil merasakan rasa yang menyelusup masuk dalam akal sehatku.
Entahlah … sepertinya sudah wajib mencari lelaki lain yang bisa mengusir wajah ia dan dia.
(Manokwari, 210711; thinking about Q ‘n A … hati tokai sekali oooo)
Suka?
Mungkin saja.
Kagum?
Mungkin benar.
Entahlah saat bersama dia, aku merindukan ia yang lain. Saat bertukar kabar dengan ia, kurindu dia. Ia dan dia menjadi topik bulak – balikku antara ia dan dia.
Kusuka ia, yang menjadi teman curhatku, membuatku tertawa dan kadang marah, tapi bisa kuandalkan untuk teman cerita. Kusuka dan kukagumi dia, karena begitu dekat, menikmati kulit coklatnya yang kadang terpanggang matahari dengan senyum dan mata coklat hangat mengerjakan proyek seninya. Aku jadi sedikit mengerti mengapa para seniman kerap mendapatkan perempuan dengan mudah, mungkin karena perempuan – perempuan itu jatuh cinta pada karya mereka hingga menghalalkan hubungan dengan pencipta karya. Entahlah, hanya asumsi pribadi.
Aku tahu ini bukan cinta. Sama sekali bukan cinta! Karna cintaku yang terbalut kagum dan suka terlanjur kutinggalkan di sebuah benua kering penuh marsupial sedang cintaku yang hanya satu kali utuh terlanjur kutanam lebur dalam ‘Lelaki Hujan’. Yang ada hanya cinta di sisa hati yang kelak akan kuberikan pada lelaki yang menjadi suamiku, yang entah adalah ayah dari anak – anakku kelak ataukan hanya seorang penemani sepi di sisa hidup. Tak tahu!
Dia dan ia, sama – sama berkulit cokelat dengan mata yang indah yang berbeda sorot. Kulihat hangatnya hidup dan tatapan lembut di mata dia, kala memandangnya malu – malu dari sudut pintu. Kulihat tantangan dan pandangan penuh tawa dari mata ia, kala menerawang kenangan dan lembar gambar bertorehkan wajahnya.
Sial … rasa ini menghantuku malam ini. Membuatku tak bisa tidur di malam penuh hujan, malam yang merobek – robek jiwaku, menunggu balasan pesan dari ia tentang dia, sambil merasakan rasa yang menyelusup masuk dalam akal sehatku.
Entahlah … sepertinya sudah wajib mencari lelaki lain yang bisa mengusir wajah ia dan dia.
(Manokwari, 210711; thinking about Q ‘n A … hati tokai sekali oooo)
Thursday, 21 July 2011
Cerpen - Kampung Pasisir
Dengan langkah perlahan, diletakkannya keranjang cucian penuh pakaian basah di samping gubuknya. Seorang bocah kecil berambut keriting mengekornya dari belakang, memegang rok yang disampirkan di atas dadanya pengganti sarung mandi. Mereka baru saja pulang dari kali belakang rumah. Mencuci.
Dilihatnya pintu gubuk sedikit terbuka, ‘mungkin ia telah pulang, semoga’, gumamnya dalam hati. Bocah kecilnya sekarang beralih pada tumpukan pasir di dekat jemuran berbatang bambu mereka. Ia sama sekali tak peduli dengan beberapa sisa tai anjing ataupun semut merah yang berkerumun, juga pantatnya yang telanjang menyapa butir – butir pasir di bawahnya. Hingga perempuan itu berteriak padanya dan meninggalkan jemuran.
“Yustus, ko berdiri. Stop main pasir suda. Daripada sa kas ko kapala bunyi yoooo.” Diiringi bunyi ‘plak – plak – plak’ di pantat hitam kecil itu.
Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian – pakaian basah. Tak dipedulikannya nyamuk – nyamuk yang menggerayangi betisnya, berusaha menyedot darah – darah yang masih tersisa dari tubuh kurusnya, berikhtiar merampok nutrisi untuk janin yang sedang berdenyut di dalam rahimnya. Sambil menjemur pakaian, ia mendendangkan sebuah lagu lama, karangan seorang penginjil dari Belanda, yang diajarkan neneknya yang sudah meninggal beberapa tahun silam. Mungkin karena neneknya memang berasal dari sebuah pulau bertajuk karang panas.
Kampung pasisir yang kaya benar:
Kampung pasisir yang kaya benar
sago dan ikan dan k’lapa kelimpahan
kampung pasisir yang saya gemar1
Sembari memeras dan membalik lembar – lembar kain yang sering dibelinya di sebuah pasar pakaian bekas, buangan orang – orang bermata sipit di utara samudera depan kampungnya, otaknya berpikir tentang pekerjaan yang masih menumpuk dalam pikiran. Mencari sayur di kebun dekat rumah untuk makan malam, bertemu ibu bidan di ujung kampung dan tentu saja mengecek berita tentang suaminya di bapade 2 Yako di dekat rumah kepala kampung. Anaknya Yustus sudah berganti pakaian memakai sebuah celana tali kecil, hidungnya tak henti – hentinya mengucurkan ingus kuning kental kehijauan ibarat tetesan susu kental manis kadaluwarsa. Tapi tak dipedulikannya. Bukan pertama kali. Cucian sudah beres, saatnya berganti pakaian dan pergi ke kebun.
Matahari tepat berada di atas kepalanya kala ia dan Yustus berjalan perlahan keluar pagar gubuk kayunya yang dindingnya sebagian sudah harus diganti, kala tiba – tiba mereka - serombongan orang yang tak dikenalnya - datang mencegatnya.
“Permisi Mama, kita bisa bicara sebentar di dalam ka?”, tanya seseorang berambut hitam cepak. Mengisyaratkan dengan anggukan kepala ke arah halaman rumahnya.
“Iya, mari suda”, ujarnya sambil menuntun Yustus kembali ke dalam kintal3 rumah mereka.
Dan percakapan pun bergulir jelas, percakapan yang lebih pada acara tanya – jawab, interogasi penuh kepastian. Ia mengingat jelas dalam ruang gubuk kecil mereka yang sedikit pengap.
“Suamimu dimana sekarang?”
“Su lama tra pulang. Tra tau”
“Jangan bohong!”
“Betul, bapa. Sa tra tau. Nih juga mo pi cek berita”
“Jangan bohong! Ada informasi suamimu pulang ke kampung sini!!!”, bentaknya.
“Betul, sa tra tau”, ia mulai menjawab dengan nada takut.
Ia mulai tak bisa memroses pertanyaan dengan baik, kala rasa lapar di perutnya berdemonstrasi seiring dengan dilihatnya tangan Yustus dipuntir seseorang yang berada di ujung ruangan, dilihatnya pula Yustus tak dapat berbicara karena mulutnya sedang dibekap.
“Bapa, tong tra tau apa – apa. Betul …”, ujarnya dengan nada memelas.
Tapi semuanya menjadi sia – sia saat semua aliran informasi diputar ulang dari mulut seorang berambut cepak. Tentang kain bergambar bintang yang berdiri tegak di ujung sebuah tiang tengah kota, wajah suaminya yang terekam lembaran gambar berwarna di dekat tiang, pun foto suaminya berdiri gagah dengan parang buatan kamasan4 di tengah kerumunan lelaki berambut hitam keriting.
Ia bahkan makin kehilangan kesadaran kala dirasakan seseorang memaksa tubuh dan perut buncitnya terlentang mengangkang, dengan rok kain yang terlucuti turun. Turun naik dadanya kesakitan tergesek, apalagi sebuah kulit sepatu, entah asli atau palsu, mencium kepalanya. Tak lama … usai semua jeritan minim ‘oh yes …’ ataupun desah nikmat berbau sperma, pelan – pelan tubuh bawahnya terasa hangat. Sehangat darah segar yang mengalir deras keluar dari selangkangannya. Basah, hangat dan lembab. Amis!!!
Sayup – sayup tak didengarnya lagi suara Yustus. Hanya suara neneknya yang menyanyikan bait terakhir ‘Kampung pasisir’
Apakah gunanya mau berkelahi?
Apakah gunanya mau berkelahi?
Tiap manusia rindukan tanahnya;
Tanah kelahiran tentu permai.5
(Manokwari, 210711; thinking about Papuan women in rural areas who endures such pain. Be brave!!! Thanx also for Seno Gumira Ajidarma for his such inspiring ‘Trilogi Insiden esp. a collection of “Ketika Jurnalisme Dibungkam, sastra harus bicara”; a very recommended book)
Catatan:
1. Bait pertama lagu ‘Kampung Pasisir’. Lagu urutan no 21 dalam buku ‘Seruling Emas’ yang liriknya merupakan gubahan I.S. Kijne, seorang penginjil pendidik Belanda di Tanah Papua pada era 1900an. Buku nyanyian ini semasa Orde Baru mendapat pembredelan.
2. Bapade (Melayu Papua). Bentuk reduksi fonologis dari frasa ‘bapa ade’ atau paman yang lebih muda dari ayah kita. Mempunyai padanan dalam bahasa Jawa seperti ‘pak lik’.
3. Kintal (Melayu Papua). Serapan dari kata ‘quintal’ dalam bahasa Portugis yang berarti ‘halaman rumah’.
4. Kamasan (Byak) Tukang besi di kampung. Kalau tidak salah, merupakan istilah dalam bahasa Byak, sepengetahuan penulis merupakan salah satu figur penting di kampung – kampung tradisional karena merupakan pengrajin sekaligus pendukung kejayaan sebuah kampung karena kemampuannya mengolah logam * Just suddenly remember this guy’s role in shaping my great grandfather’s destiny.
5. Bait terakhir (bait ke V) lagu ‘kampung Pasisir’ karangan I.S. Kijne.
Dilihatnya pintu gubuk sedikit terbuka, ‘mungkin ia telah pulang, semoga’, gumamnya dalam hati. Bocah kecilnya sekarang beralih pada tumpukan pasir di dekat jemuran berbatang bambu mereka. Ia sama sekali tak peduli dengan beberapa sisa tai anjing ataupun semut merah yang berkerumun, juga pantatnya yang telanjang menyapa butir – butir pasir di bawahnya. Hingga perempuan itu berteriak padanya dan meninggalkan jemuran.
“Yustus, ko berdiri. Stop main pasir suda. Daripada sa kas ko kapala bunyi yoooo.” Diiringi bunyi ‘plak – plak – plak’ di pantat hitam kecil itu.
Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian – pakaian basah. Tak dipedulikannya nyamuk – nyamuk yang menggerayangi betisnya, berusaha menyedot darah – darah yang masih tersisa dari tubuh kurusnya, berikhtiar merampok nutrisi untuk janin yang sedang berdenyut di dalam rahimnya. Sambil menjemur pakaian, ia mendendangkan sebuah lagu lama, karangan seorang penginjil dari Belanda, yang diajarkan neneknya yang sudah meninggal beberapa tahun silam. Mungkin karena neneknya memang berasal dari sebuah pulau bertajuk karang panas.
Kampung pasisir yang kaya benar:
Kampung pasisir yang kaya benar
sago dan ikan dan k’lapa kelimpahan
kampung pasisir yang saya gemar1
Sembari memeras dan membalik lembar – lembar kain yang sering dibelinya di sebuah pasar pakaian bekas, buangan orang – orang bermata sipit di utara samudera depan kampungnya, otaknya berpikir tentang pekerjaan yang masih menumpuk dalam pikiran. Mencari sayur di kebun dekat rumah untuk makan malam, bertemu ibu bidan di ujung kampung dan tentu saja mengecek berita tentang suaminya di bapade 2 Yako di dekat rumah kepala kampung. Anaknya Yustus sudah berganti pakaian memakai sebuah celana tali kecil, hidungnya tak henti – hentinya mengucurkan ingus kuning kental kehijauan ibarat tetesan susu kental manis kadaluwarsa. Tapi tak dipedulikannya. Bukan pertama kali. Cucian sudah beres, saatnya berganti pakaian dan pergi ke kebun.
Matahari tepat berada di atas kepalanya kala ia dan Yustus berjalan perlahan keluar pagar gubuk kayunya yang dindingnya sebagian sudah harus diganti, kala tiba – tiba mereka - serombongan orang yang tak dikenalnya - datang mencegatnya.
“Permisi Mama, kita bisa bicara sebentar di dalam ka?”, tanya seseorang berambut hitam cepak. Mengisyaratkan dengan anggukan kepala ke arah halaman rumahnya.
“Iya, mari suda”, ujarnya sambil menuntun Yustus kembali ke dalam kintal3 rumah mereka.
Dan percakapan pun bergulir jelas, percakapan yang lebih pada acara tanya – jawab, interogasi penuh kepastian. Ia mengingat jelas dalam ruang gubuk kecil mereka yang sedikit pengap.
“Suamimu dimana sekarang?”
“Su lama tra pulang. Tra tau”
“Jangan bohong!”
“Betul, bapa. Sa tra tau. Nih juga mo pi cek berita”
“Jangan bohong! Ada informasi suamimu pulang ke kampung sini!!!”, bentaknya.
“Betul, sa tra tau”, ia mulai menjawab dengan nada takut.
Ia mulai tak bisa memroses pertanyaan dengan baik, kala rasa lapar di perutnya berdemonstrasi seiring dengan dilihatnya tangan Yustus dipuntir seseorang yang berada di ujung ruangan, dilihatnya pula Yustus tak dapat berbicara karena mulutnya sedang dibekap.
“Bapa, tong tra tau apa – apa. Betul …”, ujarnya dengan nada memelas.
Tapi semuanya menjadi sia – sia saat semua aliran informasi diputar ulang dari mulut seorang berambut cepak. Tentang kain bergambar bintang yang berdiri tegak di ujung sebuah tiang tengah kota, wajah suaminya yang terekam lembaran gambar berwarna di dekat tiang, pun foto suaminya berdiri gagah dengan parang buatan kamasan4 di tengah kerumunan lelaki berambut hitam keriting.
Ia bahkan makin kehilangan kesadaran kala dirasakan seseorang memaksa tubuh dan perut buncitnya terlentang mengangkang, dengan rok kain yang terlucuti turun. Turun naik dadanya kesakitan tergesek, apalagi sebuah kulit sepatu, entah asli atau palsu, mencium kepalanya. Tak lama … usai semua jeritan minim ‘oh yes …’ ataupun desah nikmat berbau sperma, pelan – pelan tubuh bawahnya terasa hangat. Sehangat darah segar yang mengalir deras keluar dari selangkangannya. Basah, hangat dan lembab. Amis!!!
Sayup – sayup tak didengarnya lagi suara Yustus. Hanya suara neneknya yang menyanyikan bait terakhir ‘Kampung pasisir’
Apakah gunanya mau berkelahi?
Apakah gunanya mau berkelahi?
Tiap manusia rindukan tanahnya;
Tanah kelahiran tentu permai.5
(Manokwari, 210711; thinking about Papuan women in rural areas who endures such pain. Be brave!!! Thanx also for Seno Gumira Ajidarma for his such inspiring ‘Trilogi Insiden esp. a collection of “Ketika Jurnalisme Dibungkam, sastra harus bicara”; a very recommended book)
Catatan:
1. Bait pertama lagu ‘Kampung Pasisir’. Lagu urutan no 21 dalam buku ‘Seruling Emas’ yang liriknya merupakan gubahan I.S. Kijne, seorang penginjil pendidik Belanda di Tanah Papua pada era 1900an. Buku nyanyian ini semasa Orde Baru mendapat pembredelan.
2. Bapade (Melayu Papua). Bentuk reduksi fonologis dari frasa ‘bapa ade’ atau paman yang lebih muda dari ayah kita. Mempunyai padanan dalam bahasa Jawa seperti ‘pak lik’.
3. Kintal (Melayu Papua). Serapan dari kata ‘quintal’ dalam bahasa Portugis yang berarti ‘halaman rumah’.
4. Kamasan (Byak) Tukang besi di kampung. Kalau tidak salah, merupakan istilah dalam bahasa Byak, sepengetahuan penulis merupakan salah satu figur penting di kampung – kampung tradisional karena merupakan pengrajin sekaligus pendukung kejayaan sebuah kampung karena kemampuannya mengolah logam * Just suddenly remember this guy’s role in shaping my great grandfather’s destiny.
5. Bait terakhir (bait ke V) lagu ‘kampung Pasisir’ karangan I.S. Kijne.
Let's Ungkap
Andai Romeo dulu lahir di Papua, aku tak tahu apa yang akan dipakainya untuk merayu dan mengungkapkan perasaannya pada Juliet. Mungkin pula namanya pun berganti menjadi Romi ataupun pujaannya dipanggil dengan nama Yuli, entah lengkapnya dituliskan sebagai Yuliana, Yuliance atau mungkin hanya Yulia. Tentu saja dengan nama gaul yang mungkin berganti Yulex. Mungkin sepotong kasbi* bakar atau kelapa bakar bisa menjadi pengganti lusinan batang coklat ungkapan cinta. Tak ada mawar pun mungkin kembang Bougenvil baduri bisa jadi perantara cinta, ataupun kiriman sagu beberapa tumang* jadi sogokan ungkapan perasaan cinta apalagi ditambah beberapa ekor lau – lau asar*. Urusan perasaan, khususnya urusan ‘pengungkapan perasaan’ dari sebuah cinta yang sebut saja cinta Eros yang terjadi antara lelaki dan perempuan, memang jadi tema sentral dari abad ke abad. Terekam dalam banyak tulisan fiksi bahkan laris manis jadi tema sentral musik abad ini. Hitung saja berapa banyak kanak – kanak sekarang yang mungkin lebih paham lagu cinta berisi ungkapan hati apa yang lagi top di TV dibanding lagu kebangsaan bernada patriotik.
Urusan pengungkapan perasaan pada lawan jenis ataupun sejenis yang disukai, punya banyak cara dan media kerap sukses membalutnya jadi bahan jualan. Beberapa tahun lalu, sebuah acara show televisi mendukung para ‘pasukan berani mati’ yang mereka danai untuk melaksanakan misi ‘kamikaze’ bunuh diri perasaan di layar kaca; sebut saja acara ‘Katakan Cinta’. Belum lagi judul – judul lagu seperti ‘Jadikan Aku Pacarmu’ milik SO7 ataupun senandung KrisDayanti dalam ‘pilihlah aku jadi pacarmu’. Semuanya mengumbar perasaan dan untung – untung bisa jadi ajang ‘unjuk diri’ sebagai target dan kandidat potensial pendamping hati target.
Pengungkapan perasaan memang agak sulit diterjemahkan. Tak ada rumus pasti dalam tahap eksekusi. “Lain lubuk, lain ikannya”, kata sebuah pepatah Melayu. Tentu saja yang dibahas para cowok di sebuah bar di film ‘the Good Guys’ tak bisa diterapkan di sebuah acara goyang a la rave Party di Manokwari. Ada yang harus pakai ‘air kata – kata*’ agar bisa ngoceh dan aspirasi cinta tersalurkan. Ada yang cinta setengah mati tapi perasaannya ditekan sekuat mungkin dan menampilkan tampang cuek, padahal perasaannya diungkap pada sejumlah teman dan kenalan si target, sampai – sampai si target kerap diganggu sebagai Mrs XXX *mengutip famnya si ‘penaruh hati’. Ada yang nekat menjadi cowok yang dibenci setengah hidup oleh si target karena selalu menjadi manusia biang c***mai penyebab naiknya tensi darah balapan. Toh semuanya hanya karena urusan ‘perasaan cinta’ yang hendak diungkapkan. Ataupun yang mengumbar rasa penuh senyum jumawa walau sih target jijik setengah mati dalam hati menolaknya.
Seorang teman pernah bilang padaku, “Neh jang pernah ungkap ke cowok, May. Itu hal terbodoh yang dilakukan, apalagi ko kan cewek”. Tapi, seorang teman yang lain, bilang dan mengutip slogan provinsi Papua Barat, “Beh kalo bukan sekarang, kapan lagi. Kalo bukan ko, masa sa? Nih su emansipasi!”. Entahlah menurutku, sah – sah saja pendapat mereka, toh semuanya disesuaikan dengan si target. Kadang kalau targetnya memang ‘otak kras’ karena ‘tra bisa kopeng sinyal bagus, mangkali memang SMS tra mempan, jadi mungkin harus miskol perasaan kapa eee’ alias nembak langsung. Atau seperti yang pernah diceritakan seorang teman dekat dengan mengkonfirmasi langsung pada yang bersangkutan, “Kaka, sa mo tanya, tuh maksudnya anana panggil sa deng nama ibu X*(famnya si bersangkutan) tuh apa eee?” Yang dijawab si bersangkutan, sebut saja Mr X dengan ujaran singkat, “Ah mangkali dong salah orang kapa…” Padahal si cewek mendapat banyak ‘ungkapan’ laporan dari berbagai pihak tentang perasaan si Mr X kepadanya. Mungkin saja sinyalnya atau nyalinya kurang kuat ya!!!*mikir.
Mungkin saja kelak satu hari nanti, aku akan punya cukup keberanian seperti teman dekatku untuk bertanya langsung pada si target. Toh mungkin itu pilihan terakhir karna bagiku urusan perasaan itu seperti mood alias suasana hati yang kerap berubah. Dibanding pusing menanggung konsekuensinya nanti, lebih baik menikmati rasa nyaman di hati untuk konsumsi diri pribadi tanpa terbeban dalam sebuah status untuk beberapa saat. Mungkin juga karena “gengsi nembak duluan”. Atau mungkin seperti parodi slogan provinsi ini yang kerap dikumandangkan adik lelakiku yang biang bikin istilah baru, “kalo bukan sekarang, ya …. Besok too. Kalo bukan kitorang, ya orang lain saja too. Susah sampe ….!!!”
Akhirnya, seperti yang beberapa kali kuutarakan pada sahabat – sahabatku tentang urusan pengungkapan perasaan, “Aeh kalo memang cowoknya tra jelas kasi sinyal, tra bicara …. Ya suda … epen ka artinya memang nyalpex alias nyali pecek!!!”. Ragu – ragu mundur saja …!!! *sambil mendendangkan lagunya si Oppie ‘I am single and very happy!’
Menurut anda?
(Manokwari, 200711; inspired by bunch of texts)
Catatan:
Air kata – kata: (Melayu Papua) Slang untuk minuman keras khususnya buatan lokal alias minuman yang dapat
Asar (Melayu Papua: sejenis proses pengolahan makanan dengan mengasapi dengan asap dari bara api.
Kasbi: (Melayu Papua): Singkong
Lau – Lau: (Melayu Papua): Wallabi.
Tumang: (Melayu Papua) Wadah penyimpan sari pati pohon sagu yang terbuat dari anyaman daun pohon sagu. Sering dijadikan sebagai satuan penghitung tepung sagu.
Urusan pengungkapan perasaan pada lawan jenis ataupun sejenis yang disukai, punya banyak cara dan media kerap sukses membalutnya jadi bahan jualan. Beberapa tahun lalu, sebuah acara show televisi mendukung para ‘pasukan berani mati’ yang mereka danai untuk melaksanakan misi ‘kamikaze’ bunuh diri perasaan di layar kaca; sebut saja acara ‘Katakan Cinta’. Belum lagi judul – judul lagu seperti ‘Jadikan Aku Pacarmu’ milik SO7 ataupun senandung KrisDayanti dalam ‘pilihlah aku jadi pacarmu’. Semuanya mengumbar perasaan dan untung – untung bisa jadi ajang ‘unjuk diri’ sebagai target dan kandidat potensial pendamping hati target.
Pengungkapan perasaan memang agak sulit diterjemahkan. Tak ada rumus pasti dalam tahap eksekusi. “Lain lubuk, lain ikannya”, kata sebuah pepatah Melayu. Tentu saja yang dibahas para cowok di sebuah bar di film ‘the Good Guys’ tak bisa diterapkan di sebuah acara goyang a la rave Party di Manokwari. Ada yang harus pakai ‘air kata – kata*’ agar bisa ngoceh dan aspirasi cinta tersalurkan. Ada yang cinta setengah mati tapi perasaannya ditekan sekuat mungkin dan menampilkan tampang cuek, padahal perasaannya diungkap pada sejumlah teman dan kenalan si target, sampai – sampai si target kerap diganggu sebagai Mrs XXX *mengutip famnya si ‘penaruh hati’. Ada yang nekat menjadi cowok yang dibenci setengah hidup oleh si target karena selalu menjadi manusia biang c***mai penyebab naiknya tensi darah balapan. Toh semuanya hanya karena urusan ‘perasaan cinta’ yang hendak diungkapkan. Ataupun yang mengumbar rasa penuh senyum jumawa walau sih target jijik setengah mati dalam hati menolaknya.
Seorang teman pernah bilang padaku, “Neh jang pernah ungkap ke cowok, May. Itu hal terbodoh yang dilakukan, apalagi ko kan cewek”. Tapi, seorang teman yang lain, bilang dan mengutip slogan provinsi Papua Barat, “Beh kalo bukan sekarang, kapan lagi. Kalo bukan ko, masa sa? Nih su emansipasi!”. Entahlah menurutku, sah – sah saja pendapat mereka, toh semuanya disesuaikan dengan si target. Kadang kalau targetnya memang ‘otak kras’ karena ‘tra bisa kopeng sinyal bagus, mangkali memang SMS tra mempan, jadi mungkin harus miskol perasaan kapa eee’ alias nembak langsung. Atau seperti yang pernah diceritakan seorang teman dekat dengan mengkonfirmasi langsung pada yang bersangkutan, “Kaka, sa mo tanya, tuh maksudnya anana panggil sa deng nama ibu X*(famnya si bersangkutan) tuh apa eee?” Yang dijawab si bersangkutan, sebut saja Mr X dengan ujaran singkat, “Ah mangkali dong salah orang kapa…” Padahal si cewek mendapat banyak ‘ungkapan’ laporan dari berbagai pihak tentang perasaan si Mr X kepadanya. Mungkin saja sinyalnya atau nyalinya kurang kuat ya!!!*mikir.
Mungkin saja kelak satu hari nanti, aku akan punya cukup keberanian seperti teman dekatku untuk bertanya langsung pada si target. Toh mungkin itu pilihan terakhir karna bagiku urusan perasaan itu seperti mood alias suasana hati yang kerap berubah. Dibanding pusing menanggung konsekuensinya nanti, lebih baik menikmati rasa nyaman di hati untuk konsumsi diri pribadi tanpa terbeban dalam sebuah status untuk beberapa saat. Mungkin juga karena “gengsi nembak duluan”. Atau mungkin seperti parodi slogan provinsi ini yang kerap dikumandangkan adik lelakiku yang biang bikin istilah baru, “kalo bukan sekarang, ya …. Besok too. Kalo bukan kitorang, ya orang lain saja too. Susah sampe ….!!!”
Akhirnya, seperti yang beberapa kali kuutarakan pada sahabat – sahabatku tentang urusan pengungkapan perasaan, “Aeh kalo memang cowoknya tra jelas kasi sinyal, tra bicara …. Ya suda … epen ka artinya memang nyalpex alias nyali pecek!!!”. Ragu – ragu mundur saja …!!! *sambil mendendangkan lagunya si Oppie ‘I am single and very happy!’
Menurut anda?
(Manokwari, 200711; inspired by bunch of texts)
Catatan:
Air kata – kata: (Melayu Papua) Slang untuk minuman keras khususnya buatan lokal alias minuman yang dapat
Asar (Melayu Papua: sejenis proses pengolahan makanan dengan mengasapi dengan asap dari bara api.
Kasbi: (Melayu Papua): Singkong
Lau – Lau: (Melayu Papua): Wallabi.
Tumang: (Melayu Papua) Wadah penyimpan sari pati pohon sagu yang terbuat dari anyaman daun pohon sagu. Sering dijadikan sebagai satuan penghitung tepung sagu.
Urusan 'daging spanggal'
“Kontrol laki – laki terhadap reproduksi dan seksualitas tubuh perempuan merupakan aktivitas utama patriarki” (Mitchel in Humm’s feminist dictionary)
Kubuka lembar – lembar lama sebuah buku teori feminis yang kubeli beberapa tahun lalu sambil merenungkan baris – baris kata di atas. Sedikit menarik napas berat kala membaca bagaimana kadang di belahan dunia timur ini perempuan bahkan mempunyai kontrol yang sangat sedikit atas tubuh mereka sendiri, atas urusan seksualitas mereka. Catatan ini bukan untuk mendiskreditkan kaum lelaki, sama sekali tidak, karna di luar sana aku percaya masih banyak lelaki yang bertanggung jawab untuk urusan seksualitas. Tapi toh, tetap saja ada juga para lelaki yang sama sekali tak peduli urusan seksualitas yang melibatkan perempuan.
Beberapa bulan terakhir, ada rasa yang sering pecah di hati - campuran rasa sedih, kecewa dan juga miris - kala mendengar beberapa kerabat, teman, bahkan sekedar kenalan jauh yang mengalami benturan bahkan masalah sosial terkait urusan seksualitas dan reproduksi mereka. Bukan terkait dengan kemampuan bereproduksi tapi lebih ke masalah sosial yang mereka hadapi terkait dengan urusan ‘daging sepanggal’ itu. Anggap saja tulisan ke depan ini tak akan terstruktur. Hanya sebuah catatan lepas. Dan jelas … bukan catatan seorang malaikat!!!
Case #1
Ei, sebut saja ia begitu, tentu saja nama samaran. Aku memang tak mengenalnya secara dekat, hanya sambil lalu, namun terkadang mengamatinya diam – diam. Perempuan muda ini berasal dari keluarga yang cukup menopang hidupnya sebagai mahasiswi di kota kelahiranku. Setidaknya biaya jajan dan gaul dapat terpenuhi tanpa harus berpikir keras mencari tambahan dari luar. Apalagi ia juga sama sepertiku, perempuan yang lahir di kota buah – buahan ini. Ia mungkin bukanlah target tulisanku karena selama ini kuperhatikan ia tampaknya baik – baik saja.
Akhir – akhir ini, dari sumber informasi yang terpercaya, ia berbenturan dengan masalah urusan ‘daging spanggal’ ini. Usut punya usut, ternyata karena urusan ML alias ‘make love’ satu malam alias bercinta, there’s a baby-wannabe in her womb alias hamil. Catatan ini bukan untuk menghakimi si Ei, yang ingin kugarisbawahi adalah peran lelaki pencetak bayi ini yang mangkir dari tanggungjawab. Ini pertama kalinya si Ei khilaf, kehilangan keperawanan dan voila … dia hamil. Saat si calon ayah bayi dikonfirmasi, ia dengan cueknya bilang: “gugurkan saja, sa juga tra kasi ‘masuk’ mo … cuma di luar juga mo!”. Jawaban klise entah untuk membenarkan acara petting*-nya ataupun penetrasinya tapi faktanya si Ei yang naïf dan polos terlanjur hamil. Si Ei, pontang – panting ngurusin emosinya, sahabat – sahabatnya ikutan pusing dan si calon bapak cuek banget. Menghilang beberapa saat. Tak lama, si calon bapak datang lagi via sebuah pesan, yang ujung – ujungnya hanya ‘ngajak tidur’. What a life!!!
Aku tak tahu apa yang akan dipilih Ei, menggugurkan janinnya atau membiarkan anaknya tetap hidup. Aku tak tahu dan tak mau menghakimi. Whatever happen, semoga si Ei baik – baik saja dan semoga kemungkinannya bukan menikah HANYA demi si bayi. Bagiku pribadi, itu hanya sebuah kisah klasik dan mungkin perulangan kisah klasik tak bahagia yang dialami beberapa orang dekat yang kukenal sebut saja seperti dalam kasus berikut. Hanya tak ingin melihat si Ei yang manis menderita seperti beberapa perempuan lain yang kukenal!!!
Case #2
Er, panggil saja ia begitu. Kisah perempuan muda ini merupakan sintesa dari beberapa kisah perempuan lainnya seperti Tee dan Chi. Tiga perempuan muda ini mempunyai kemiripan kisah. Mulai dari terlanjur hamil, pendidikan berantakan dan menikah demi sebuah status anak mereka. Hasil akhirnya, ketiganya berhasil mengikat bapak si bayi dalam pernikahan, tapi toh tak menjamin hati lelaki terikat pada mereka. ‘Hanya untuk coba – coba’, kilah lelaki mereka. Selama pernikahan mereka seumur jagung, ketiganya punya masalah dengan relasi mereka dengan para bapak. Para bapak punya perempuan lain bahkan beberapa nekat mengajukan cerai padahal anak mereka belum lepas tiga tahun. Aku tak tahu apa yang dipikirkan para perempuan ini, tak tahu sebesar apa kesabaran mereka . Demi anak, mereka rela kehilangan masa muda, kesempatan pendidikan dan juga mengembangkan diri. Sedang lelakinya cuek saja ‘menjatuhkan celana’ perempuan lain yang kadang berbuntut kehamilan. Grrrrrrrr*ekspresi marah
Aku tak tahu apa yang dipikirkan ketiga perempuan ini, benar – benar tak habis mengerti , bagiku mereka masih punya pilihan lain, masih banyak jalan lain. Mungkin pada bagian ini aku sedikit menghakimi. Entahlah … Tak lama ini, aku mendengar, mereka bertiga sudah hamil lagi. Anak kedua mereka dengan lelaki yang sama; para lelaki yang suka berselingkuh dan tak ambil pusing akan tanggung jawab mereka. Mungkin seperti yang pernah kudengar dari seorang teman, katanya: “Anak pertama MBA* itu anak ‘kecelakaan’, kalo anak kedua tuh ‘anak pake ikat hubungan’”. Aku tak tahu, apakah mereka bertiga menganut juga paham ini. Aku tak tahu, itu pilihan mereka. Yang pasti, aku kadang menahan napas melihat bagaimana mereka curhat urusan anak dan juga tertatih – tatih mengerjakan pekerjaan mereka, bahkan berkendara dengan seperangkat perlengkapan calon bayi kedua sendirian sambil menjaga anak pertama. Saat mereka sedang pusing urusan kehamilan dan mengasuh anak, aku memantau suami mereka sedang asyik online di sebuah jejaring sosial mengumbar nafsu pada perempuan lain yang dipanggil ‘beib’, ada yang sibuk jalan nongkrong seperti bujang mencolek tangan mantan pacar mereka dengan pandangan mesra dan yang lainnya hanya ongkang – ongkang kaki cuek. What a life!!!
Case #3
Panggil saja Ia Twin. Perempuan Papua berusia 25 tahun bersuara lembut ini kukenal sejak setahun terakhir. Ia masih muda dan cantik. Tak banyak yang tahu ia mempunyai kisah kelam masa lalunya. Terlepas dari kisahnya, ia salah satu perempuan muda yang menginspirasiku akhir – akhir ini. Perempuan yang tak malu dengan kisah masa lalunya.
Aku mendengar kisah dari beberapa teman lama, kalau si Twin sudah hamil semasa remaja, baru tamat SMP kalau tak salah. Tapi ia memilih mempertahankan kandungannya dan lahirlah si bayi lelaki. Aku tak tahu bagaimana reaksi orangtuanya saat itu, karna memang tak dekat dengan si keluarga si Twin. Tapi aku salut pada suatu ketika di tahun lalu, saat aku bertemu ia dan seorang anak lelaki berusia SD, saat kutanya Twin, siapa bocah lelaki itu, Si Twin dengan pede dan semangatnya bilang, “She’s my SON” alias anak lelakinya. Dan anak lelakinya ramah menjabat tanganku.
Twin masih tetap ramah dan cantik, ibu muda … dengar – dengar ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki muda dari tanah ini pula. Entah lelaki itu adalah bapak si bocah, aku tak tahu. Yang aku tahu, Twin perempuan yang kuat, yang tak melepaskan pendidikannya hanya karena hamil di masa remaja dan tentu saja, tak mengikatkan diri di dalam pernikahan yang mungkin tak akan membuatnya bahagia saat itu. Dan juga …. Tak melepaskan janinnya di klinik aborsi hanya demi gengsi dan nama baik keluarga walau kutahu jelas, Twin berasal dari keluarga terpandang.
She’s so inspiring, tough, strong dan tentu saja … aku berharap Ei dan beberapa perempuan lainnya bisa berkenalan dengan Twin. Really a woman indeed!!!
Catatan tak penting ini mungkin akan berlanjut dengan kisah lain namun aku tiba – tiba teringat dengan sebuah pesan berisi pertanyaan ke beberapa teman, tentang ‘Bagaimana kita dapat tahu bahwa seorang cewek/cowok itu HOT di ranjang dan menggairahkan secara seksual TANPA HARUS melakukan kontak seksual dahulu?’ … Most of them bilang, tak ada cara lain … selain ‘uji dulu’ alias ‘having sex’. Well, kalau memang tak ada cara lain untuk mengidentifikasikan dan memang tak bisa nahan nafsu, untuk para lelaki, let’s express your Love (or LUST) with ‘rubber*’ alias SAFE SEX alias berhubungan seks pakai pelindung … Kasihan ceweknya! Derita dobol – dobol donk … walaupun seorang teman pernah bilang, ‘sapa suru mo kas turun celana, tahan nafsu tooo’. Well, sekali lagi, tak semua orang bisa nahan nafsu, tak semua orang bebas godaan dan almost semua orang pernah bikin kesalahan … dan tentu saja aku tak punya hak menghakimi.
Bagian ini tentu saja bukan untuk mereka yang bisa nahan nafsu, bisa bebas godaan dan so far masih perawan or perjaka ataupun yang berkelakuan malaikat .. Yang pasti, pada bagian ini pikirkan bagaimana dampak bila kapasitas tawar perempuan rendah atas aspek seksualitas mereka, alih – alih minta cowoknya pake pelindung, bisa – bisa cewek yang disalahkan kalau si cowok tertular Gonore* or Infeksi menular lainnya. Padahal kita tak pernah tahu seberapa banyak si cowok tidur sama siapa saja tak pakai pelindung alias kondom. Bahkan dari beberapa kasus yang ditemukan, pas si cewek minta pasangannya pakai ‘pelindung’ e si cowok berkilah, “nanti tra enak lah, tra nikmat lah blah blah blah” dan alasan – alasan lainnya yang menempatkan cewek dalam posisi tawar seksual yang rendah plus kadang pakai ancaman, “tong dua putus eee”. Kesimpulan akhirnya, tak ada pengaman ataupun pelindung seksual.
Tiba – tiba jadi teringat perkataanku tahun lalu pada beberapa rekan dan senior di unit kerja tentang sebuah paket kondom yang pernah kubawa - bawa di dompet karna merupakan paket yang kuterima sebagai mahasiswi baru di sebuah universitas di Australia (iya, paket mahasiswa baru termasuk paket kondon dan pelumas). Dalam candaan kubilang saja, itu untuk jaga – jaga, jangan sampe jalan – jalan or travelling trus dicegat pemerkosa, yang sudah berusaha dilawan eee tetap niat jahat juga. Kubilang saja dalam candaan, “Ya, kalo memang tra bisa melawan, sodorin tuh kondom saja, at least ko perkosa suda, tapi pake kondom, jadi sa kemungkinan kecil tertular IMS, ka HIV dan setidaknya sa jang sampe hamil saja.” ‘Kan tra enak pu anak muka sama deng orang yang perkotek tong lagi xixixixi’. Jadi setidaknya cukup sa cuma alami trauma psikis dan setidaknya jang sampe ada efek jangka panjang ke sa pu fisik. Setidaknya dari semua bahaya, tidak begitu jatuh dan tertimpa tangga. Anyway, ini hanyalah jalan keluar kecil dari skenario terburuk dan semoga tak pernah terjadi.
Urusan seksualitas dan kontrol perempuan atas tubuh mereka memang tak akan pernah habis dibahas. Tapi setidaknya, mari kita berpikir apa yang bisa kita buat bagi perempuan muda di sekitar kita. Mungkin kalau kelak kupunya anak, pendidikan seks sudah jelas masuk dalam kurikulum keluarga, kalau perlu, mereka akan kubekali : sepaket kondom, penyemprot cologne mini, pisau saku, dan tentu saja kudaftarkan sejak kecil ikut bela diri =D. Sekurang – kurangnya mengurangi beban ‘kepala sakit’ sebagai orang tua kelak. Quite a practical person indeed!!!
Terasa lebih ringan sekarang beban di hati usai tulisan ini kutranskripsikan. Untuk yang tak bisa tahan nafsu, let’s express your love with ‘rubber’!!!*Dilarang tersinggung =D
(Manokwari, 200711; thinking about young women who struggle against moral prejudices and social pressure, you r still BEAUTIFUL indeed!)
Catatan:
MBA (Inggris): Singkatan dari ‘married by accident’ alias menikah karena si perempuan terlanjur hamil.
Petting (Inggris) Istilah untuk hubungan seksual tanpa penetrasi, yang hanya merupakan persentuhan genital lelaki di luar vagina.
Rubber (Inggris). Rubber artinya ‘karet’ dan merupakan slang untuk ‘kondom’.
Kubuka lembar – lembar lama sebuah buku teori feminis yang kubeli beberapa tahun lalu sambil merenungkan baris – baris kata di atas. Sedikit menarik napas berat kala membaca bagaimana kadang di belahan dunia timur ini perempuan bahkan mempunyai kontrol yang sangat sedikit atas tubuh mereka sendiri, atas urusan seksualitas mereka. Catatan ini bukan untuk mendiskreditkan kaum lelaki, sama sekali tidak, karna di luar sana aku percaya masih banyak lelaki yang bertanggung jawab untuk urusan seksualitas. Tapi toh, tetap saja ada juga para lelaki yang sama sekali tak peduli urusan seksualitas yang melibatkan perempuan.
Beberapa bulan terakhir, ada rasa yang sering pecah di hati - campuran rasa sedih, kecewa dan juga miris - kala mendengar beberapa kerabat, teman, bahkan sekedar kenalan jauh yang mengalami benturan bahkan masalah sosial terkait urusan seksualitas dan reproduksi mereka. Bukan terkait dengan kemampuan bereproduksi tapi lebih ke masalah sosial yang mereka hadapi terkait dengan urusan ‘daging sepanggal’ itu. Anggap saja tulisan ke depan ini tak akan terstruktur. Hanya sebuah catatan lepas. Dan jelas … bukan catatan seorang malaikat!!!
Case #1
Ei, sebut saja ia begitu, tentu saja nama samaran. Aku memang tak mengenalnya secara dekat, hanya sambil lalu, namun terkadang mengamatinya diam – diam. Perempuan muda ini berasal dari keluarga yang cukup menopang hidupnya sebagai mahasiswi di kota kelahiranku. Setidaknya biaya jajan dan gaul dapat terpenuhi tanpa harus berpikir keras mencari tambahan dari luar. Apalagi ia juga sama sepertiku, perempuan yang lahir di kota buah – buahan ini. Ia mungkin bukanlah target tulisanku karena selama ini kuperhatikan ia tampaknya baik – baik saja.
Akhir – akhir ini, dari sumber informasi yang terpercaya, ia berbenturan dengan masalah urusan ‘daging spanggal’ ini. Usut punya usut, ternyata karena urusan ML alias ‘make love’ satu malam alias bercinta, there’s a baby-wannabe in her womb alias hamil. Catatan ini bukan untuk menghakimi si Ei, yang ingin kugarisbawahi adalah peran lelaki pencetak bayi ini yang mangkir dari tanggungjawab. Ini pertama kalinya si Ei khilaf, kehilangan keperawanan dan voila … dia hamil. Saat si calon ayah bayi dikonfirmasi, ia dengan cueknya bilang: “gugurkan saja, sa juga tra kasi ‘masuk’ mo … cuma di luar juga mo!”. Jawaban klise entah untuk membenarkan acara petting*-nya ataupun penetrasinya tapi faktanya si Ei yang naïf dan polos terlanjur hamil. Si Ei, pontang – panting ngurusin emosinya, sahabat – sahabatnya ikutan pusing dan si calon bapak cuek banget. Menghilang beberapa saat. Tak lama, si calon bapak datang lagi via sebuah pesan, yang ujung – ujungnya hanya ‘ngajak tidur’. What a life!!!
Aku tak tahu apa yang akan dipilih Ei, menggugurkan janinnya atau membiarkan anaknya tetap hidup. Aku tak tahu dan tak mau menghakimi. Whatever happen, semoga si Ei baik – baik saja dan semoga kemungkinannya bukan menikah HANYA demi si bayi. Bagiku pribadi, itu hanya sebuah kisah klasik dan mungkin perulangan kisah klasik tak bahagia yang dialami beberapa orang dekat yang kukenal sebut saja seperti dalam kasus berikut. Hanya tak ingin melihat si Ei yang manis menderita seperti beberapa perempuan lain yang kukenal!!!
Case #2
Er, panggil saja ia begitu. Kisah perempuan muda ini merupakan sintesa dari beberapa kisah perempuan lainnya seperti Tee dan Chi. Tiga perempuan muda ini mempunyai kemiripan kisah. Mulai dari terlanjur hamil, pendidikan berantakan dan menikah demi sebuah status anak mereka. Hasil akhirnya, ketiganya berhasil mengikat bapak si bayi dalam pernikahan, tapi toh tak menjamin hati lelaki terikat pada mereka. ‘Hanya untuk coba – coba’, kilah lelaki mereka. Selama pernikahan mereka seumur jagung, ketiganya punya masalah dengan relasi mereka dengan para bapak. Para bapak punya perempuan lain bahkan beberapa nekat mengajukan cerai padahal anak mereka belum lepas tiga tahun. Aku tak tahu apa yang dipikirkan para perempuan ini, tak tahu sebesar apa kesabaran mereka . Demi anak, mereka rela kehilangan masa muda, kesempatan pendidikan dan juga mengembangkan diri. Sedang lelakinya cuek saja ‘menjatuhkan celana’ perempuan lain yang kadang berbuntut kehamilan. Grrrrrrrr*ekspresi marah
Aku tak tahu apa yang dipikirkan ketiga perempuan ini, benar – benar tak habis mengerti , bagiku mereka masih punya pilihan lain, masih banyak jalan lain. Mungkin pada bagian ini aku sedikit menghakimi. Entahlah … Tak lama ini, aku mendengar, mereka bertiga sudah hamil lagi. Anak kedua mereka dengan lelaki yang sama; para lelaki yang suka berselingkuh dan tak ambil pusing akan tanggung jawab mereka. Mungkin seperti yang pernah kudengar dari seorang teman, katanya: “Anak pertama MBA* itu anak ‘kecelakaan’, kalo anak kedua tuh ‘anak pake ikat hubungan’”. Aku tak tahu, apakah mereka bertiga menganut juga paham ini. Aku tak tahu, itu pilihan mereka. Yang pasti, aku kadang menahan napas melihat bagaimana mereka curhat urusan anak dan juga tertatih – tatih mengerjakan pekerjaan mereka, bahkan berkendara dengan seperangkat perlengkapan calon bayi kedua sendirian sambil menjaga anak pertama. Saat mereka sedang pusing urusan kehamilan dan mengasuh anak, aku memantau suami mereka sedang asyik online di sebuah jejaring sosial mengumbar nafsu pada perempuan lain yang dipanggil ‘beib’, ada yang sibuk jalan nongkrong seperti bujang mencolek tangan mantan pacar mereka dengan pandangan mesra dan yang lainnya hanya ongkang – ongkang kaki cuek. What a life!!!
Case #3
Panggil saja Ia Twin. Perempuan Papua berusia 25 tahun bersuara lembut ini kukenal sejak setahun terakhir. Ia masih muda dan cantik. Tak banyak yang tahu ia mempunyai kisah kelam masa lalunya. Terlepas dari kisahnya, ia salah satu perempuan muda yang menginspirasiku akhir – akhir ini. Perempuan yang tak malu dengan kisah masa lalunya.
Aku mendengar kisah dari beberapa teman lama, kalau si Twin sudah hamil semasa remaja, baru tamat SMP kalau tak salah. Tapi ia memilih mempertahankan kandungannya dan lahirlah si bayi lelaki. Aku tak tahu bagaimana reaksi orangtuanya saat itu, karna memang tak dekat dengan si keluarga si Twin. Tapi aku salut pada suatu ketika di tahun lalu, saat aku bertemu ia dan seorang anak lelaki berusia SD, saat kutanya Twin, siapa bocah lelaki itu, Si Twin dengan pede dan semangatnya bilang, “She’s my SON” alias anak lelakinya. Dan anak lelakinya ramah menjabat tanganku.
Twin masih tetap ramah dan cantik, ibu muda … dengar – dengar ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki muda dari tanah ini pula. Entah lelaki itu adalah bapak si bocah, aku tak tahu. Yang aku tahu, Twin perempuan yang kuat, yang tak melepaskan pendidikannya hanya karena hamil di masa remaja dan tentu saja, tak mengikatkan diri di dalam pernikahan yang mungkin tak akan membuatnya bahagia saat itu. Dan juga …. Tak melepaskan janinnya di klinik aborsi hanya demi gengsi dan nama baik keluarga walau kutahu jelas, Twin berasal dari keluarga terpandang.
She’s so inspiring, tough, strong dan tentu saja … aku berharap Ei dan beberapa perempuan lainnya bisa berkenalan dengan Twin. Really a woman indeed!!!
Catatan tak penting ini mungkin akan berlanjut dengan kisah lain namun aku tiba – tiba teringat dengan sebuah pesan berisi pertanyaan ke beberapa teman, tentang ‘Bagaimana kita dapat tahu bahwa seorang cewek/cowok itu HOT di ranjang dan menggairahkan secara seksual TANPA HARUS melakukan kontak seksual dahulu?’ … Most of them bilang, tak ada cara lain … selain ‘uji dulu’ alias ‘having sex’. Well, kalau memang tak ada cara lain untuk mengidentifikasikan dan memang tak bisa nahan nafsu, untuk para lelaki, let’s express your Love (or LUST) with ‘rubber*’ alias SAFE SEX alias berhubungan seks pakai pelindung … Kasihan ceweknya! Derita dobol – dobol donk … walaupun seorang teman pernah bilang, ‘sapa suru mo kas turun celana, tahan nafsu tooo’. Well, sekali lagi, tak semua orang bisa nahan nafsu, tak semua orang bebas godaan dan almost semua orang pernah bikin kesalahan … dan tentu saja aku tak punya hak menghakimi.
Bagian ini tentu saja bukan untuk mereka yang bisa nahan nafsu, bisa bebas godaan dan so far masih perawan or perjaka ataupun yang berkelakuan malaikat .. Yang pasti, pada bagian ini pikirkan bagaimana dampak bila kapasitas tawar perempuan rendah atas aspek seksualitas mereka, alih – alih minta cowoknya pake pelindung, bisa – bisa cewek yang disalahkan kalau si cowok tertular Gonore* or Infeksi menular lainnya. Padahal kita tak pernah tahu seberapa banyak si cowok tidur sama siapa saja tak pakai pelindung alias kondom. Bahkan dari beberapa kasus yang ditemukan, pas si cewek minta pasangannya pakai ‘pelindung’ e si cowok berkilah, “nanti tra enak lah, tra nikmat lah blah blah blah” dan alasan – alasan lainnya yang menempatkan cewek dalam posisi tawar seksual yang rendah plus kadang pakai ancaman, “tong dua putus eee”. Kesimpulan akhirnya, tak ada pengaman ataupun pelindung seksual.
Tiba – tiba jadi teringat perkataanku tahun lalu pada beberapa rekan dan senior di unit kerja tentang sebuah paket kondom yang pernah kubawa - bawa di dompet karna merupakan paket yang kuterima sebagai mahasiswi baru di sebuah universitas di Australia (iya, paket mahasiswa baru termasuk paket kondon dan pelumas). Dalam candaan kubilang saja, itu untuk jaga – jaga, jangan sampe jalan – jalan or travelling trus dicegat pemerkosa, yang sudah berusaha dilawan eee tetap niat jahat juga. Kubilang saja dalam candaan, “Ya, kalo memang tra bisa melawan, sodorin tuh kondom saja, at least ko perkosa suda, tapi pake kondom, jadi sa kemungkinan kecil tertular IMS, ka HIV dan setidaknya sa jang sampe hamil saja.” ‘Kan tra enak pu anak muka sama deng orang yang perkotek tong lagi xixixixi’. Jadi setidaknya cukup sa cuma alami trauma psikis dan setidaknya jang sampe ada efek jangka panjang ke sa pu fisik. Setidaknya dari semua bahaya, tidak begitu jatuh dan tertimpa tangga. Anyway, ini hanyalah jalan keluar kecil dari skenario terburuk dan semoga tak pernah terjadi.
Urusan seksualitas dan kontrol perempuan atas tubuh mereka memang tak akan pernah habis dibahas. Tapi setidaknya, mari kita berpikir apa yang bisa kita buat bagi perempuan muda di sekitar kita. Mungkin kalau kelak kupunya anak, pendidikan seks sudah jelas masuk dalam kurikulum keluarga, kalau perlu, mereka akan kubekali : sepaket kondom, penyemprot cologne mini, pisau saku, dan tentu saja kudaftarkan sejak kecil ikut bela diri =D. Sekurang – kurangnya mengurangi beban ‘kepala sakit’ sebagai orang tua kelak. Quite a practical person indeed!!!
Terasa lebih ringan sekarang beban di hati usai tulisan ini kutranskripsikan. Untuk yang tak bisa tahan nafsu, let’s express your love with ‘rubber’!!!*Dilarang tersinggung =D
(Manokwari, 200711; thinking about young women who struggle against moral prejudices and social pressure, you r still BEAUTIFUL indeed!)
Catatan:
MBA (Inggris): Singkatan dari ‘married by accident’ alias menikah karena si perempuan terlanjur hamil.
Petting (Inggris) Istilah untuk hubungan seksual tanpa penetrasi, yang hanya merupakan persentuhan genital lelaki di luar vagina.
Rubber (Inggris). Rubber artinya ‘karet’ dan merupakan slang untuk ‘kondom’.
Q lagi ...
Setangkup keladi tumbu*, sebotol Aqua dan tentu saja selembar perangkat perekam catatan. Mengingat ada yang tercerabut keluar dari benakku. Iya, cuaca Manokwari yang terus hujan 2 hari ini plus mimpi buruk di sore hari dan juga baiknya hubungan aku dan Q. Entahlah … sms – sms dengan Q membuatku tertawa. Memang dia lelaki yang bisa membuat emosiku naik turun ibarat naik Roller Coaster. Selalu ada saja yang dapat kami tertawakan, ataupun saling memaki.
Q, entahlah … hubungan kami hanya sebagai teman. Mungkin sejauh ini itu yang dapat kukatakan. Tapi ketidakhadiran pesannya kadang membuatku sedikit bertanya dalam hati tentang apa yang sedang dikerjakannya. Sebenarnya bukan karena rindu, tapi entahlah … dia teman SMSan yang lucu, yang membalas dengan cepat dan penuh kejutan. Itu saja!! Sejauh ini ia bisa membuatku tertawa, memaki – maki dan juga mogok kontak dengannya.
Entahlah … bagaimana mendeskripsikan dia. Lelaki itam manis yang lebih muda 2 tahun dariku ini, yang kerap memanggilku ‘kaka bucuk’ tetapi suaranya seksi banget, dan sangat ‘makan puji’ plus narsis tingkat tinggi selalu mampu membuatku ketawa kalau lama tak ada kontak. Dia terlalu cool, atau cuek, terkadang.
Q, mungkin memang salah satu teman gila yang kukenal. Apalagi dari obrolan kami via pesan singkat, ternyata kami mempunyai tempat nongkrong favorit yang sama, sebuah kampung dengan pantai pasir hitam di Pantai Utara Manokwari; kampung Asai. Q kadang tidak dapat ditebak pikirannya, seperti ia melabel rencanaku dan teman – teman ekspedisi ke pulau Numfoor bulan depan dengan membawa motor menumpangi kapal feri. Ia bilang itu namanya “Angel Trip” dan ia enggan menjelaskan mengapa ia label rencana perjalanan ini sebagai ‘AT’. Entahlah …
Entahlah …. Malam ini yang pasti aku merindukan suaranya. Too much sexy to be missed … Andai saja ia tahu … He’s just too complicated. Just can’t wait for our next chat and, definitely, makian xixixixi. Just totally miss him. Q seh …. *ampir menjadi Qmai seh.
(Manokwari, 180711; after two-day reconciliation with Q)
Q, entahlah … hubungan kami hanya sebagai teman. Mungkin sejauh ini itu yang dapat kukatakan. Tapi ketidakhadiran pesannya kadang membuatku sedikit bertanya dalam hati tentang apa yang sedang dikerjakannya. Sebenarnya bukan karena rindu, tapi entahlah … dia teman SMSan yang lucu, yang membalas dengan cepat dan penuh kejutan. Itu saja!! Sejauh ini ia bisa membuatku tertawa, memaki – maki dan juga mogok kontak dengannya.
Entahlah … bagaimana mendeskripsikan dia. Lelaki itam manis yang lebih muda 2 tahun dariku ini, yang kerap memanggilku ‘kaka bucuk’ tetapi suaranya seksi banget, dan sangat ‘makan puji’ plus narsis tingkat tinggi selalu mampu membuatku ketawa kalau lama tak ada kontak. Dia terlalu cool, atau cuek, terkadang.
Q, mungkin memang salah satu teman gila yang kukenal. Apalagi dari obrolan kami via pesan singkat, ternyata kami mempunyai tempat nongkrong favorit yang sama, sebuah kampung dengan pantai pasir hitam di Pantai Utara Manokwari; kampung Asai. Q kadang tidak dapat ditebak pikirannya, seperti ia melabel rencanaku dan teman – teman ekspedisi ke pulau Numfoor bulan depan dengan membawa motor menumpangi kapal feri. Ia bilang itu namanya “Angel Trip” dan ia enggan menjelaskan mengapa ia label rencana perjalanan ini sebagai ‘AT’. Entahlah …
Entahlah …. Malam ini yang pasti aku merindukan suaranya. Too much sexy to be missed … Andai saja ia tahu … He’s just too complicated. Just can’t wait for our next chat and, definitely, makian xixixixi. Just totally miss him. Q seh …. *ampir menjadi Qmai seh.
(Manokwari, 180711; after two-day reconciliation with Q)
Saturday, 16 July 2011
cerpen - dermaga
PROLOG
Bilah – bilah cahaya mentari menjilati kulitku kala pantulan semburatnya terekam dalam lembar digital kameraku, usai tripod penyangga kuarahkan ke bentang laut yang mencumbu kaki – kaki pegunungan. Lelaki berkulit sawo matang yang terjebak di sebuah dermaga kayu kota kecil bertajuk ‘kampung lama’, berjuang menangkap tarian fajar baru, untuk oleh – oleh pulang ke Jakarta. Dermaga kayu sunyi tanpa bunyi burung pagi dan seorang perempuan berambut gerai yang berjalan diam di tepian. ‘Penangkap fajar sepertiku’, kilahku dalam hati.
***
Perjalananku ke tanah ini mungkin yang kesekian kali, walau lebih sering kulakukan di Jayapura. Tapi perjalananku kali ini membawaku pada kota pemerintahan tertua di tanah ini; Manokwari. Kota kecil yang sedang bermetaforsa dengan banyaknya ruko yang sedang dibangun, merobek pemandangan hutan hujan tropis di sela – sela kota penuh teluk. Kantorku, sebuah perusahaan konsultan, seperti biasanya, mendapat beberapa proyek evaluasi independen maupun penelitian hingga perjalanan ke bagian Indonesia Timur bukanlah hal baru bagi tiap peneliti di kantor kami. Seperti seminggu ini, kegiatanku hanya bertemu beberapa penghubung guna membantu pekerjaanku sebagai pemantau independen proses kekisruhan pelaksanaan pemilukada di provinsi ini.
Pagi tadi, seorang penghubung, sebut saja pak Dani menelponku, hanya untuk memberitahu masalah transportasi yang kami hadapi di dalam menjangkau daerah – daerah pedalaman di ibukota provinsi . Sia – sia saja aku meyakinkannya mencarikan jalan mendapat helikopter sewaan di dalam minggu ini, karena toh jawabnya ringkas dan padat, “su tra bisa, bapa. Su ada yang carter akan, kalo mau tong pake ranger* saja”. Jawabannya membuatku semakin pusing memikirkan deadline laporan pemantauanku. Sebaiknya aku harus mulai berpikir tentang apa yang dapat kulakukan guna mengisi otakku selain pekerjaan pemantauan proses ini. Snorkeling, diving dan olahraga air lainnya atau trekking, hiking, bird watching adalah beberapa kegiatan yang dapat kulakukan di Manokwari selain bekerja. Tapi semburat langit senja membuatku berpikir dalam tentang mencuri bayang fajar di dermaga kecil yang kulihat usai pulang snorkeling bersama pak Dani dan beberapa teman baru beberapa hari lalu.
***
Kutenteng Nikon D90 ku beserta tripod ke arah dermaga kayu kecil. Tak sia – sia kupesan seorang ojek di depan hotel untuk menungguku pukul 4.30 pagi di depan lobi. Sebungkus roti pisang dan se-mug kopi Toraja kental meluncur dengan gampangnya ke dalam lambungku tanpa banyak diskusi saat kupersiapkan peralatan penangkap bayang bilah – bilah matahari. Dermaga ini seakan berubah menjadi tempat paling sakral pagi ini untukku, tentu saja. Menunggu tawa lebar tarian warna di langit, kulirik di ujung dermaga, seorang perempuan berdiri tegak menatap langit membelakangiku. Dermaga kayu berbentuk T ini sukses menyembunyikan wajah perempuan ini. Berbaju bunga – bunga cerah ala summer dress ia tegak dalam diam. Sedikit membuatku penasaran untuk menangkap siluetnya dengan kamera, namun buru – buru kutepiskan ide itu, takut menyinggungnya.
Dalam diam dan sunyi, lukisan langit selesai berpindah ke dalam lembar – lembar digital. Masih belum maksimal dan sepertinya aku harus kembali beberapa hari lagi, mungkin spot terbaik memang dari sisi dermaga tempat perempuan tadi. Tiba – tiba, aku sadar kalau perempuan tadi sudah pergi. Datang tak diundang, benar – benar pulang ‘tra stoom – stoom* macam kapal kayu’ meminjam ungkapan yang sering dilontarkan pak Dani untuk orang yang tak suka memberi salam ataupun datang-pergi sesuka hati tanpa pemberitahuan. ‘Epen ka*’, kataku lagi dalam hati, meniru ucapan remaja – remaja yang kerap kutemukan di areal bilyar hotel.
***
Pekerjaanku masih membuatku mumet jadi kuputuskan subuh ini pergi lagi ke dermaga kayu. Obed, tukang ojek langgananku, malah menyarankan aku membawa sebungkus rokok dan sekantong kecil peralatan ‘makan pinang’; untuk bahan kontak pembicaraan dengan kenalan baru, katanya. Ia tak tahu kalau aku tak merokok. Toh anjurannya tetap kubawa, siapa tahu berguna.
Menunggu langit pica* dengan semburat jingga memang harus sabar. Pagi ini, aku memilih mengeksplorasi sisi lain dermaga, tempat perempuan dengan rambut tergerai berdiri di hari silam. Larut memandangi langit dengan setermos kecil kopi di tangan membuatku tak sadar bunyi langkah – langkah kaki di sisiku.
“Mo foto matahari terbit ka?”, tanyanya perlahan. Kuperhatikan wajah penanyaku sebelum mengiyakan. Seorang perempuan berumur pertengahan 20an dengan rambut ikal bergelombang dan kulit berwarna susu kental manis rasa vanilla dengan tatapan sendu menatap ke langit. Kami pun sekali lagi larut dalam diam. Aku sibuk menangkap cahaya dan ia berjalan perlahan ke tepi lain dermaga memainkan sebuah irama lagu Papua yang pernah diterjemahkan pak Dani untukku. Sebuah kebetulan dalam lautan pantulan cahya keemasan.
***
Sore ini, hujan turun dengan deras hingga malam menjelang. Kukirimkan sebuah pesan untuk Obed untuk menjemputku subuh nanti, s’moga hujannya tlah usai. Aku penasaran bagaimana pagi datang di dermaga dalam subuh yang kelabu. Apakah mentarinya akan sama, ataukah tabir kabut yang kan menyapa? Aku tak tahu. Dan mungkin juga aku ingin melihat dia. Apakah perempuan itu akan datang? Entahlah….
Alarm ponselku meraung – raung membunuh mimpi subuhku. Cepat – cepat menyiapkan peralatan, sarapanku dan tentu saja tak lupa seperangkat jas hujan dan payung. Obed sudah menunggu di lobi hotel.
“Pak Ray, yakin ka? Macam mendung ka ini. Trus jang sendiri – sendiri neh di dermaga. Tempat tra baik ka ini”, katanya. Ia tak seperti biasanya. Aku memang tak pernah bercerita tentang siapa saja yang kutemui ataupun kegiatanku di kota ini, bagiku semakin sedikit informasi apa yang kulakukan di kota ini terbagi dengan orang lokal yang tak begitu kukenal, semakin baik pemantauanku.
Hari ini, dermaga terasa lain. Mungkin karena kabut tipis yang sedang merangkak naik dari laut, berusaha mencium kaki – kaki pengunjung dermaga. Kulihat perempuan yang menyenandungkan lagu Binyedi* di pertemuan silam berdiri diam menatap jauh ke depan. Gaunnya telah berganti putih. Hari ini ia begitu harum di pagi berkabut ini. Aroma white musk, tebakku dalam hati. Kopi kentalku kusesap dalam diam sambil sesekali mengatur letak tripod dan mengganti lensa tele-ku. Mungkin saatnya berbincang sebentar dengan dia di ujung dermaga.
“Permisi ade nona, mau roti”, kataku berusaha membuka percakapan. Diliriknya mataku dalam – dalam, dan tanpa banyak bicara, diambilnya sepotong besar roti pisangku. Tak lepas – lepas matanya memandang ke depan, ke batas cakrawala. Usai menguyah sepotong besar, tiba – tiba ia bertanya padaku, “oom, wartawan ka?”, tanyanya pelan. Pertanyaannya hanya kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Dan ia pun kembali diam dan berjalan menjauh dariku, menuju tepi lain dengan senandung irama ‘Binyedi’. Seperti biasa, ia pergi tanpa pamit, tanpa suara, tanpa tanda – tanda.
***
Pekerjaanku di kota ini tinggal beberapa hari. Walau terhambat beberapa masalah teknis, tapi pemantauanku berlangsung baik. Saatnya kembali ke dermaga dan merangkum beberapa gambar terakhir. Lumayan buat oleh – oleh. Siapa tahu Winnie suka, kataku dalam hati membayangkan senyum pacarku.
Hari terakhir, aku harus bisa menangkap langit dan laut berkilau keemasan dan juga siluet perempuan penyenandung. Mungkin akan kuberi judul album fotoku kelak, ‘langit laut dalam tatap perempuan di dermaga’. Tak terlalu puitis, kukira. Tapi lumayanlah dibanding harus melabelnya ‘pembunuh sepi’ atau ‘killing the time’. Asyik dengan pikiranku sendiri, kulihat perempuan muda itu muncul kembali, gaunnya tak sama dengan yang terakhir silam, dalam pagi kabut, tanpa aroma white musk. Wajahnya sedikit sendu pagi ini. Kulihat ia berdiri diam menatap horizon di kejauhan, tak peduli dengan bayang pegunungan di sisi yang lain. Rintik gerimis yang turun perlahan menemani tapak – tapak kaki telanjangnya berjalan dalam diam, menuju tepi lain, sepenggal senandung Binyedi-nya lebih keras dibanding yang lalu.
‘Ro, ro, kankunnesine yalo fasis naya kara. Kuker swaruser, ayena, binyedi. Yaswarau au kaku. Ro, ro, kankunnesine kuker swaruser yenaiwara. Yaswarau binayedi imbape yabor yaberari**’
Dalam diam, tanpa bunyi shutter yang mengganggu, cepat – cepat kuarahkan kamera menangkap bayangannya. Belum sempat kuperhatikan hasilnya, hujan tiba – tiba turun dengan deras. Benar – benas hujan khas Manokwari yang ‘tra pernah stoom – stoom’. Sial! Jangan tanya seberapa cepat kecepatanku mengepak peralatan kameraku. Mungkin bisa menyaingi kecepatan Paparazzi berburu artis, tawaku dalam hati sambil tetap merutuk hujan deras. Tiba – tiba aku sadar, perempuan tadi sudah tak ada. Padahal aku belum tahu namanya.
***
EPILOGUE
Ini malam terakhirku di Manokwari. Pak Dani mengajakku dan beberapa kenalan baru pergi berkaraoke di sebuah lounge hotel berbintang di kota kecil ini. Sambil menunggu pesanan koktailku yang diramu bartender, kubuka oleh – oleh dari masyarakat lokal di pedalaman untukku yangdititipkan lewat pak Dani; setumpuk kulit kayu Akuai* yang dibungkus selembar koran lokal lama. Lembar depannya memasang wajah perempuan dalam bisu, diam dan pucat. Wajah yang cukup kukenal beberapa hari ini. Tanpa sadar kukeluarkan kameraku memeriksa hasil foto pagi tadi di dermaga.
Segelas koktail yang disodorkan bartender, kutenggak dalam – dalam, tak cukup menghilangkan tegaknya bulu kudukku, kala berlembar – lembar foto siluet perempuan tadi semuanya menampilkan bayang kaki yang tak menjejak jelas di papan dermaga. Melayang!!!
Sayup – sayup nada Binyedi bergema pelan di telingaku saat membaca headline berita bergambar perempuan pucat tadi.
‘KEKASIH HILANG DI LAUT, PEREMPUAN MUDA BUNUH DIRI DI DERMAGA’
Aku pun melayang dalam pucat pasi bersama larutan koktail yang semakin banyak mengisi lambungku.
(Manokwari, 160711; inspired by recent local news of missing people in Manokwari’s southern coast. Btw, I don’t wanna make a freaky story full of common ghost stereotypes, I want the ghost in my story can eat, sing and make sounding steps, n maybe next time will dance HAHAHA)
Catatan:
Akuai: (Meyah?Hatam?Sough?Moile?) Nama sejenis pohon kecil yang tumbuh di daerah pegunungan Arfak khususnya di sekitar distrik Anggi dan Sururey. Penggunaannya merujuk pada kulit ataupun ekstraksi kulit yang sering diseduh seperti teh yang dipercaya sebagai afrodisiak (tanaman pembangkit/penguat daya seksual) ataupun juga pemberi stamina seperti menguatkan napas pelari dll. Penggunaannya secara tradisional hanya pada kaum lelaki karena dapat menghambat siklus haid perempuan. Penulis semasa remaja pernah beberapa kali mengonsumsinya dan rasanya sangat pedas di tenggorokan walau efek kinerjanya dalam ketahanan fisik benar – benar teruji saat itu alias ‘bikin napas tra hosa kalo lari’ hahaha.
‘Epen ka’: (Melayu Papua) ungkapan yang berarti ‘apakah sesuatu/seseorang itu penting?’ ataupun juga dapat berarti ‘saya tidak peduli’. Dipendekan dari ‘emang penting ka’. Setara dengan’ EGP’ dalam Jakarta-Indonesia ataupun ‘who cares?’ataupun ‘whatever’ dalam bahasa Inggris.
Pica: (Melayu Papua) Pecah. Dalam cerita ini merujuk pada ‘timbul, muncul’.
Ranger: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Inggris. Artinya mobil bertipe semi-pick up yang dapat dipakai untuk offroad ke daerah – daerah pedalaman dengan topografi sulit dan kondisi jalan yang rusak parah.
Stoom: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Belanda. Artinya bunyi peluit kapal.
** Lirik Binyedi: (terjemahan bebas; thanx u/ Tia Warwe)
“Dalam Tangisan dan Kesendirianku ini
Ku duduk terdiam sendiri sambil mengenang kekasihku, ku sayang padamu.”
Bilah – bilah cahaya mentari menjilati kulitku kala pantulan semburatnya terekam dalam lembar digital kameraku, usai tripod penyangga kuarahkan ke bentang laut yang mencumbu kaki – kaki pegunungan. Lelaki berkulit sawo matang yang terjebak di sebuah dermaga kayu kota kecil bertajuk ‘kampung lama’, berjuang menangkap tarian fajar baru, untuk oleh – oleh pulang ke Jakarta. Dermaga kayu sunyi tanpa bunyi burung pagi dan seorang perempuan berambut gerai yang berjalan diam di tepian. ‘Penangkap fajar sepertiku’, kilahku dalam hati.
***
Perjalananku ke tanah ini mungkin yang kesekian kali, walau lebih sering kulakukan di Jayapura. Tapi perjalananku kali ini membawaku pada kota pemerintahan tertua di tanah ini; Manokwari. Kota kecil yang sedang bermetaforsa dengan banyaknya ruko yang sedang dibangun, merobek pemandangan hutan hujan tropis di sela – sela kota penuh teluk. Kantorku, sebuah perusahaan konsultan, seperti biasanya, mendapat beberapa proyek evaluasi independen maupun penelitian hingga perjalanan ke bagian Indonesia Timur bukanlah hal baru bagi tiap peneliti di kantor kami. Seperti seminggu ini, kegiatanku hanya bertemu beberapa penghubung guna membantu pekerjaanku sebagai pemantau independen proses kekisruhan pelaksanaan pemilukada di provinsi ini.
Pagi tadi, seorang penghubung, sebut saja pak Dani menelponku, hanya untuk memberitahu masalah transportasi yang kami hadapi di dalam menjangkau daerah – daerah pedalaman di ibukota provinsi . Sia – sia saja aku meyakinkannya mencarikan jalan mendapat helikopter sewaan di dalam minggu ini, karena toh jawabnya ringkas dan padat, “su tra bisa, bapa. Su ada yang carter akan, kalo mau tong pake ranger* saja”. Jawabannya membuatku semakin pusing memikirkan deadline laporan pemantauanku. Sebaiknya aku harus mulai berpikir tentang apa yang dapat kulakukan guna mengisi otakku selain pekerjaan pemantauan proses ini. Snorkeling, diving dan olahraga air lainnya atau trekking, hiking, bird watching adalah beberapa kegiatan yang dapat kulakukan di Manokwari selain bekerja. Tapi semburat langit senja membuatku berpikir dalam tentang mencuri bayang fajar di dermaga kecil yang kulihat usai pulang snorkeling bersama pak Dani dan beberapa teman baru beberapa hari lalu.
***
Kutenteng Nikon D90 ku beserta tripod ke arah dermaga kayu kecil. Tak sia – sia kupesan seorang ojek di depan hotel untuk menungguku pukul 4.30 pagi di depan lobi. Sebungkus roti pisang dan se-mug kopi Toraja kental meluncur dengan gampangnya ke dalam lambungku tanpa banyak diskusi saat kupersiapkan peralatan penangkap bayang bilah – bilah matahari. Dermaga ini seakan berubah menjadi tempat paling sakral pagi ini untukku, tentu saja. Menunggu tawa lebar tarian warna di langit, kulirik di ujung dermaga, seorang perempuan berdiri tegak menatap langit membelakangiku. Dermaga kayu berbentuk T ini sukses menyembunyikan wajah perempuan ini. Berbaju bunga – bunga cerah ala summer dress ia tegak dalam diam. Sedikit membuatku penasaran untuk menangkap siluetnya dengan kamera, namun buru – buru kutepiskan ide itu, takut menyinggungnya.
Dalam diam dan sunyi, lukisan langit selesai berpindah ke dalam lembar – lembar digital. Masih belum maksimal dan sepertinya aku harus kembali beberapa hari lagi, mungkin spot terbaik memang dari sisi dermaga tempat perempuan tadi. Tiba – tiba, aku sadar kalau perempuan tadi sudah pergi. Datang tak diundang, benar – benar pulang ‘tra stoom – stoom* macam kapal kayu’ meminjam ungkapan yang sering dilontarkan pak Dani untuk orang yang tak suka memberi salam ataupun datang-pergi sesuka hati tanpa pemberitahuan. ‘Epen ka*’, kataku lagi dalam hati, meniru ucapan remaja – remaja yang kerap kutemukan di areal bilyar hotel.
***
Pekerjaanku masih membuatku mumet jadi kuputuskan subuh ini pergi lagi ke dermaga kayu. Obed, tukang ojek langgananku, malah menyarankan aku membawa sebungkus rokok dan sekantong kecil peralatan ‘makan pinang’; untuk bahan kontak pembicaraan dengan kenalan baru, katanya. Ia tak tahu kalau aku tak merokok. Toh anjurannya tetap kubawa, siapa tahu berguna.
Menunggu langit pica* dengan semburat jingga memang harus sabar. Pagi ini, aku memilih mengeksplorasi sisi lain dermaga, tempat perempuan dengan rambut tergerai berdiri di hari silam. Larut memandangi langit dengan setermos kecil kopi di tangan membuatku tak sadar bunyi langkah – langkah kaki di sisiku.
“Mo foto matahari terbit ka?”, tanyanya perlahan. Kuperhatikan wajah penanyaku sebelum mengiyakan. Seorang perempuan berumur pertengahan 20an dengan rambut ikal bergelombang dan kulit berwarna susu kental manis rasa vanilla dengan tatapan sendu menatap ke langit. Kami pun sekali lagi larut dalam diam. Aku sibuk menangkap cahaya dan ia berjalan perlahan ke tepi lain dermaga memainkan sebuah irama lagu Papua yang pernah diterjemahkan pak Dani untukku. Sebuah kebetulan dalam lautan pantulan cahya keemasan.
***
Sore ini, hujan turun dengan deras hingga malam menjelang. Kukirimkan sebuah pesan untuk Obed untuk menjemputku subuh nanti, s’moga hujannya tlah usai. Aku penasaran bagaimana pagi datang di dermaga dalam subuh yang kelabu. Apakah mentarinya akan sama, ataukah tabir kabut yang kan menyapa? Aku tak tahu. Dan mungkin juga aku ingin melihat dia. Apakah perempuan itu akan datang? Entahlah….
Alarm ponselku meraung – raung membunuh mimpi subuhku. Cepat – cepat menyiapkan peralatan, sarapanku dan tentu saja tak lupa seperangkat jas hujan dan payung. Obed sudah menunggu di lobi hotel.
“Pak Ray, yakin ka? Macam mendung ka ini. Trus jang sendiri – sendiri neh di dermaga. Tempat tra baik ka ini”, katanya. Ia tak seperti biasanya. Aku memang tak pernah bercerita tentang siapa saja yang kutemui ataupun kegiatanku di kota ini, bagiku semakin sedikit informasi apa yang kulakukan di kota ini terbagi dengan orang lokal yang tak begitu kukenal, semakin baik pemantauanku.
Hari ini, dermaga terasa lain. Mungkin karena kabut tipis yang sedang merangkak naik dari laut, berusaha mencium kaki – kaki pengunjung dermaga. Kulihat perempuan yang menyenandungkan lagu Binyedi* di pertemuan silam berdiri diam menatap jauh ke depan. Gaunnya telah berganti putih. Hari ini ia begitu harum di pagi berkabut ini. Aroma white musk, tebakku dalam hati. Kopi kentalku kusesap dalam diam sambil sesekali mengatur letak tripod dan mengganti lensa tele-ku. Mungkin saatnya berbincang sebentar dengan dia di ujung dermaga.
“Permisi ade nona, mau roti”, kataku berusaha membuka percakapan. Diliriknya mataku dalam – dalam, dan tanpa banyak bicara, diambilnya sepotong besar roti pisangku. Tak lepas – lepas matanya memandang ke depan, ke batas cakrawala. Usai menguyah sepotong besar, tiba – tiba ia bertanya padaku, “oom, wartawan ka?”, tanyanya pelan. Pertanyaannya hanya kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Dan ia pun kembali diam dan berjalan menjauh dariku, menuju tepi lain dengan senandung irama ‘Binyedi’. Seperti biasa, ia pergi tanpa pamit, tanpa suara, tanpa tanda – tanda.
***
Pekerjaanku di kota ini tinggal beberapa hari. Walau terhambat beberapa masalah teknis, tapi pemantauanku berlangsung baik. Saatnya kembali ke dermaga dan merangkum beberapa gambar terakhir. Lumayan buat oleh – oleh. Siapa tahu Winnie suka, kataku dalam hati membayangkan senyum pacarku.
Hari terakhir, aku harus bisa menangkap langit dan laut berkilau keemasan dan juga siluet perempuan penyenandung. Mungkin akan kuberi judul album fotoku kelak, ‘langit laut dalam tatap perempuan di dermaga’. Tak terlalu puitis, kukira. Tapi lumayanlah dibanding harus melabelnya ‘pembunuh sepi’ atau ‘killing the time’. Asyik dengan pikiranku sendiri, kulihat perempuan muda itu muncul kembali, gaunnya tak sama dengan yang terakhir silam, dalam pagi kabut, tanpa aroma white musk. Wajahnya sedikit sendu pagi ini. Kulihat ia berdiri diam menatap horizon di kejauhan, tak peduli dengan bayang pegunungan di sisi yang lain. Rintik gerimis yang turun perlahan menemani tapak – tapak kaki telanjangnya berjalan dalam diam, menuju tepi lain, sepenggal senandung Binyedi-nya lebih keras dibanding yang lalu.
‘Ro, ro, kankunnesine yalo fasis naya kara. Kuker swaruser, ayena, binyedi. Yaswarau au kaku. Ro, ro, kankunnesine kuker swaruser yenaiwara. Yaswarau binayedi imbape yabor yaberari**’
Dalam diam, tanpa bunyi shutter yang mengganggu, cepat – cepat kuarahkan kamera menangkap bayangannya. Belum sempat kuperhatikan hasilnya, hujan tiba – tiba turun dengan deras. Benar – benas hujan khas Manokwari yang ‘tra pernah stoom – stoom’. Sial! Jangan tanya seberapa cepat kecepatanku mengepak peralatan kameraku. Mungkin bisa menyaingi kecepatan Paparazzi berburu artis, tawaku dalam hati sambil tetap merutuk hujan deras. Tiba – tiba aku sadar, perempuan tadi sudah tak ada. Padahal aku belum tahu namanya.
***
EPILOGUE
Ini malam terakhirku di Manokwari. Pak Dani mengajakku dan beberapa kenalan baru pergi berkaraoke di sebuah lounge hotel berbintang di kota kecil ini. Sambil menunggu pesanan koktailku yang diramu bartender, kubuka oleh – oleh dari masyarakat lokal di pedalaman untukku yangdititipkan lewat pak Dani; setumpuk kulit kayu Akuai* yang dibungkus selembar koran lokal lama. Lembar depannya memasang wajah perempuan dalam bisu, diam dan pucat. Wajah yang cukup kukenal beberapa hari ini. Tanpa sadar kukeluarkan kameraku memeriksa hasil foto pagi tadi di dermaga.
Segelas koktail yang disodorkan bartender, kutenggak dalam – dalam, tak cukup menghilangkan tegaknya bulu kudukku, kala berlembar – lembar foto siluet perempuan tadi semuanya menampilkan bayang kaki yang tak menjejak jelas di papan dermaga. Melayang!!!
Sayup – sayup nada Binyedi bergema pelan di telingaku saat membaca headline berita bergambar perempuan pucat tadi.
‘KEKASIH HILANG DI LAUT, PEREMPUAN MUDA BUNUH DIRI DI DERMAGA’
Aku pun melayang dalam pucat pasi bersama larutan koktail yang semakin banyak mengisi lambungku.
(Manokwari, 160711; inspired by recent local news of missing people in Manokwari’s southern coast. Btw, I don’t wanna make a freaky story full of common ghost stereotypes, I want the ghost in my story can eat, sing and make sounding steps, n maybe next time will dance HAHAHA)
Catatan:
Akuai: (Meyah?Hatam?Sough?Moile?) Nama sejenis pohon kecil yang tumbuh di daerah pegunungan Arfak khususnya di sekitar distrik Anggi dan Sururey. Penggunaannya merujuk pada kulit ataupun ekstraksi kulit yang sering diseduh seperti teh yang dipercaya sebagai afrodisiak (tanaman pembangkit/penguat daya seksual) ataupun juga pemberi stamina seperti menguatkan napas pelari dll. Penggunaannya secara tradisional hanya pada kaum lelaki karena dapat menghambat siklus haid perempuan. Penulis semasa remaja pernah beberapa kali mengonsumsinya dan rasanya sangat pedas di tenggorokan walau efek kinerjanya dalam ketahanan fisik benar – benar teruji saat itu alias ‘bikin napas tra hosa kalo lari’ hahaha.
‘Epen ka’: (Melayu Papua) ungkapan yang berarti ‘apakah sesuatu/seseorang itu penting?’ ataupun juga dapat berarti ‘saya tidak peduli’. Dipendekan dari ‘emang penting ka’. Setara dengan’ EGP’ dalam Jakarta-Indonesia ataupun ‘who cares?’ataupun ‘whatever’ dalam bahasa Inggris.
Pica: (Melayu Papua) Pecah. Dalam cerita ini merujuk pada ‘timbul, muncul’.
Ranger: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Inggris. Artinya mobil bertipe semi-pick up yang dapat dipakai untuk offroad ke daerah – daerah pedalaman dengan topografi sulit dan kondisi jalan yang rusak parah.
Stoom: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Belanda. Artinya bunyi peluit kapal.
** Lirik Binyedi: (terjemahan bebas; thanx u/ Tia Warwe)
“Dalam Tangisan dan Kesendirianku ini
Ku duduk terdiam sendiri sambil mengenang kekasihku, ku sayang padamu.”
Subscribe to:
Posts (Atom)