Kata orang, saudara adalah mereka yang sedarah dengan kita, karna toh berasal dari bentuk reduksi bunyi dari ‘satu darah’ atau ‘sedarah’. Bagiku, saudara tak hanya ditentukan oleh sebuah pertalian DNA yang terjalin dalam simpul – simpul genom yang dipetakan dalam rumus – rumus dan simbol kimia. Bagiku, mereka yang mengerti, memberi waktu barang sejenak, bahkan hanya sambil lalu dan memahami kehadiranku adalah mereka yang kupanggil sebagai teman, sahabat, dan bahkan saudara; para malaikat tanpa sayap.
Malam ini yang kurasakan adalah aku dikelilingi oleh banyak ‘malaikat tanpa sayap’ku yang selalu hadir, baik untuk sebuah masa, sebuah alasan ataupun di sepanjang hidupku. Aku mungkin tak menulis tentang siapa mereka, bahkan secara spesifik bahkan mungkin tak termasuk dalam daftar tautan catatan ini tetapi aku ingin bilang, “You mean a lot to me so far … sebagai salah satu keping yang mungkin pernah, sedang ada, dan akan terus ada di dalam hidupku” .. and I say “Thanx heaps and may God bless you abundantly”.
Beberapa tahun terakhir, aku dikelilingi oleh banyak orang – orang biasa yang mungkin tak paham bahwa mereka adalah orang – orang menakjubkan dan luar biasa yang sedang disiapkan Tuhan untuk menjadi ‘pasukan elit penolong’ di planet bernama bumi ini. Mereka kadang tak menyadari bahwa satu hal kecil yang mereka buat bermakna banyak untuk orang lain, salah satunya aku yang menerima anugerah itu.
Aku teringat beberapa teman kuliah S1, baik semasa di Unsrat Manado maupun di UNIPA, yang selalu menjadi “partner-in-crime”ku. Urusan ngerjain cowok, kuliah bahkan hal – hal gila lainnya, ataupun menjadi sekedar teman curhat dan merespon pertanyaan ‘basi’ seperti, “Boo carikan sa pacar ka?” Ataupun merespon pertanyaan seperti, “kalo sa mati nanti, kam ingat sa ka trada?”. Mereka ibarat lilin – lilin kecil ataupun minyak kelapa di piring kaleng bersumbu kapas yang tak peduli listrik PLN lagi ‘byar – peet’ dan tetap bersinar. Merelakan diri mereka terbakar dan hangus berasap demi menerangi hati – hati rapuh sepertiku yang butuh dukungan, sugesti dan perhatian. Sayang beberapa dari mereka adalah teman – teman untuk semusim karena adanya ruang dan waktu yang memisahkan. Toh mereka kan kukenang sebagai para superhero semasa kuliah termasuk saat dikejar anjing di dekat kos dulu ataupun saat surat kaleng berbuntut urusan panjang. You’re the best I have ever had!!!
Waktu berlalu dan aku kerap jatuh cinta dalam tanpa tali pengaman, menjadi seorang sentimental fool, yet I have to let my heart ‘dipadamkan’ dengan paksa. Tetapi di tengah derai air mata dan sakit hati plus kekecewaan yang ada, beberapa ‘malaikat tanpa sayap’ singgah dan membantu meminjamkan ‘sapu tangan’ mereka untuk kupakai. Pulsa ponsel, menjawab SMS tak pentingku, membantu memeriahkan ladang hati yang sedang habis dibajak. Mereka adalah para superhero yang tak perlu memakai jubah, kostum keren ataupun gadget canggih keluaran lab terbaru dengan rekening rahasia bank Swiss. Mereka adalah para pahlawan super yang sedang dalam misi rahasia yang kadang tak mereka sadari, dan selalu berkata, “semuanya akan baik – baik saja, May.” Para pahlawan super ini membantuku menyimak hujan di hatiku untuk seorang lelaki yang bahkan tak pernah tahu ada hujan di hatiku, membantuku mendendang usai mengajarku menghitung seberapa lama aku boleh bersedih dan harus melanjutkan hidup. You’re the best!!!
Lalu aku pun pergi jauh ke sebuah benua kering, di sebuah surga burung yang langitnya sebiru laut. Di sana, di tengah – tengah invasi lidah beraneka macam dan kejaran tumpukan bacaan buku teks ibarat mimpi buruk, aku pun bertemu mereka lagi; para malaikat tanpa sayap. Mereka dengan latar belakang yang berbeda, dengan visi, ideologi politik, bahkan gaya hidup yang berbeda, membantuku bertahan melewati beberapa musim penuh serangan sleeping disorder, arthritis, reflux oesephagitis, proscratination dan depresi. Para malaikat tanpa sayap ini menyapaku dalam bentuk lelaki dan perempuan, tua dan muda, dalam bentuk postur tubuh yang berbeda, baik di kampus, gereja ataupun bahkan di sebuah suburb bernama Downer ataupun lewat layar jejaring sosial. Mereka menjelma menjadi mereka yang kerap mengajarku memasak dan membuat kue, yang kerap menghibur dengan suara mereka ataupun yang mengingatkanku bahwa “semuanya akan baik – baik saja” ataupun yang sering menemaniku curhat ataupun berbagi masakannya yang lezat di asrama.
Waktu berlalu dan aku teringat bahwa selama ini, baik para malaikat yang ada untuk semusim, ataupun sebuah alasan, ada juga mereka yang selama beberapa tahun terakhir ada untukku dan akhir – akhir ini kerap kuganggu dengan urusan curhat tak pentingku, ataupun urusan lainnya yang mengganjal di otakku. Para malaikat tanpa sayap ini kerap berwujud lelaki maupun perempuan dengan sejuta potensi diri. Ada yang tak pernah lelah percaya perlu adanya sebuah bumi hijau dan berusaha menjadi apa yang ia inginkan, ada yang selalu tampil cantik walau hatinya berulang kali dilukai tetapi tetap tegar dan juga yang sekedar berbagi cerita, humor maupun hal – hal kecil yang membuatku hidup ataupun menemaniku dan mendengarku bercerita. Mereka adalah orang – orang terdekat yang seharusnya menempati sebuah kompartemen kecil di dekat jantungku agar tiap kali jantungku berdegup, maka aku akan mengingat mereka lekat seperti tarikan napasku yang belum berhenti.
Mengingat para malaikat tanpa sayap yang datang dan pergi dari hidupku, tiba – tiba kuteringat catatanku beberapa tahun lalu dengan perihal yang sama, para malaikat tanpa sayap yang dekat seperti saudara dan lebih dari sekedar sahabat; degup jantungku yang lain. Mereka ibarat charger ponsel, notebook ataupun perangkat elektronik lain, yang selalu dicari dan satu paket dengan gadget. Para peri yang bukan Barbie ini pun kerap menjelma menjadi thermometer yang memantau tiap titik terendah dan tertinggiku atapun menjadi Air Con yang menyejukan udara panas yang melewati mukosa pernapasan dan kulit dan juga pemanas ruangan yang membuatku tak kedinginan dalam terpaan udara dingin hidup. Mungkin mereka memang haruslah kusebut juga ‘para bunga matahari’ku berwarna kuning yang selalu muncul dengan bentuknya yang spektakuler tetapi multifungsi; pemberi keindahan tetapi menghasilkan minyak nabati serba guna rendah kolesterol jahat.
Yang pasti, mereka, termasuk anda yang membaca catatan ini adalah pecahan surga yang tersembunyi yang kerap tidak anda sadari; para malaikat tanpa sayap, yang ada entah untuk sebuah musim, sebuah alasan ataupun sepanjang hidupku. You mean a lot to me and as I said, “May God bless you abundantly”.
(Manokwari, 270611; after an unidentified mental shock ^__^)
Tuesday, 28 June 2011
A sudden sorrow
Menjadi pemimpi mungkin salah satu kegiatan yang selalu kulakukan sejak kecil. Awalnya bukan hanya karena suka berimajinasi tetapi juga sebagai upaya melarikan diri dari kenyataan hidup. Awalnya hanya rentetan mimpi, tetapi kemudian menjelma menjadi sebuah visi dan tujuan walau tetap kedengaran bodoh bagi beberapa orang yang tak pernah bisa mengerti dan mungkin tak mau mengerti.
Apa mimpi (atau mimpi – mimpi) terbesarmu? Apa yang hendak kau capai pada titik terakhir hidupmu kelak? Apakah hidup yang kau jalani saat ini adalah perwujudan mimpi dari sekian tahun silam ataukah terjadi tanpa sebuah skema jelas yang kau susun yang kau percaya hanya sebagai ‘kebetulan’ dan ‘mengalir’ saja? Aku tak tahu karena bukan aku yang menjalaninya. Hidupku sendiri sejauh ini terdiri atas dari kumpulan keping mimpi yang terpenuhi dan yang tak terpenuhi dan sejauh ini, aku masih bersyukur bisa hidup.
Saat menulis catatan ini tiba – tiba dadaku terasa sesak, seakan ada beban besar yang menghimpit dan sebuah panggilan untuk berdoa tapi tanpa kutahu jelas untuk apa berdoa. Dari dalam diriku, hanya diminta untuk berdoa dan membaca Alkitab dan katanya mendoakan orang – orang sepertiku yang malam ini sedang punya masalah. Entah apa. Aku berusaha memutar lagu rohani berirama riang dari Hillsong tapi beban itu masih saja ada.
Kubuka Alkitab dan terpapar dengan kitab Ayub 3: 1 – 26 tentang keluh kesah AYub yang bahkan sampai mengutuk kelahirannya sendiri. Intinya si Ayub sampai mengeluh pada Tuhan tentang hidupnya. Dan usai membaca kitab ini aku masih tak paham hingga dituntun untuk membuka kitab lainnya di Yesaya 44: 1 – 8. Dua pembacaan ini ibarat sebuah percakapan. Saat ada keluhan yang keluar, Tuhan member sebuah jawaban yang menenangkan hati. Alkitabku versi Good News Bible menulis di ayat 2, sangat menenangkan hatiku, “I am the Lord who created you; from the time you were born, I have helped you. Do not be afraid; you are my servant, my chosen people whom I love.”
Rasa sesak ini masih ada namun intensitasnya sudah jauh berkurang usai berdoa dan membaca kitab plus dihibur lagu gospel.
Entahlah … apakah ini sebuah kegilaan sesaat malam ini, aku tak tahu. Yang aku tahu … yang dapat kulakukan malam ini adalah berdoa dan meminta dukungan doa dari beberapa teman dekat; para malaikat tanpa sayapku.
Thanx Jesus 4 them in my life. Amen
(Manokwari, 270611)
Apa mimpi (atau mimpi – mimpi) terbesarmu? Apa yang hendak kau capai pada titik terakhir hidupmu kelak? Apakah hidup yang kau jalani saat ini adalah perwujudan mimpi dari sekian tahun silam ataukah terjadi tanpa sebuah skema jelas yang kau susun yang kau percaya hanya sebagai ‘kebetulan’ dan ‘mengalir’ saja? Aku tak tahu karena bukan aku yang menjalaninya. Hidupku sendiri sejauh ini terdiri atas dari kumpulan keping mimpi yang terpenuhi dan yang tak terpenuhi dan sejauh ini, aku masih bersyukur bisa hidup.
Saat menulis catatan ini tiba – tiba dadaku terasa sesak, seakan ada beban besar yang menghimpit dan sebuah panggilan untuk berdoa tapi tanpa kutahu jelas untuk apa berdoa. Dari dalam diriku, hanya diminta untuk berdoa dan membaca Alkitab dan katanya mendoakan orang – orang sepertiku yang malam ini sedang punya masalah. Entah apa. Aku berusaha memutar lagu rohani berirama riang dari Hillsong tapi beban itu masih saja ada.
Kubuka Alkitab dan terpapar dengan kitab Ayub 3: 1 – 26 tentang keluh kesah AYub yang bahkan sampai mengutuk kelahirannya sendiri. Intinya si Ayub sampai mengeluh pada Tuhan tentang hidupnya. Dan usai membaca kitab ini aku masih tak paham hingga dituntun untuk membuka kitab lainnya di Yesaya 44: 1 – 8. Dua pembacaan ini ibarat sebuah percakapan. Saat ada keluhan yang keluar, Tuhan member sebuah jawaban yang menenangkan hati. Alkitabku versi Good News Bible menulis di ayat 2, sangat menenangkan hatiku, “I am the Lord who created you; from the time you were born, I have helped you. Do not be afraid; you are my servant, my chosen people whom I love.”
Rasa sesak ini masih ada namun intensitasnya sudah jauh berkurang usai berdoa dan membaca kitab plus dihibur lagu gospel.
Entahlah … apakah ini sebuah kegilaan sesaat malam ini, aku tak tahu. Yang aku tahu … yang dapat kulakukan malam ini adalah berdoa dan meminta dukungan doa dari beberapa teman dekat; para malaikat tanpa sayapku.
Thanx Jesus 4 them in my life. Amen
(Manokwari, 270611)
Monday, 27 June 2011
Catatan kematian
Subuh ini di sela – sela kerjaan, aku tiba – tiba teringat bahwa akhir – akhir ini aku terpapar dengan banyaknya berita kematian dan bukannya kelahiran. Mulai dari kematian beberapa ‘mama tua’, pelukis yang kupesan lukisannya, hingga beberapa kerabat lainnya yang berusia muda. Bahkan di area rumahku, kematian sedang berdiam karena tiap minggu pasti ada 1 - 2 orang yang berpulang, baik dengan cara yang nyaman maupun tak nyaman. Mengingat semua prosesi, rasa sesak dan sedih yang sempat hinggap membuatku sedikit berkhayal tentang apa yang sebenarnya kuinginkan dari sebuah kematianku; maksudku bagaimana prosesi pemakaman yang kuinginkan kelak. Aku tak pernah menganggap kematian sebagai hal yang menakutkan melainkan sebuah kelepasan. Kadang aku iri dengan mereka yang berpulang lebih awal dariku.
Kematian mungkin hal yang sering kerap muncul dalam pembicaraanku. Tak heran bahkan dalam fiksi yang kutulis, aku sangat menikmati melihat kematian menjadi sebuah tema ataupun numpang mampir. Mungkin karena pengalamanku sewaktu berumur 4 tahun dan melihat bagaimana opaku meninggal dan kami para cucu bermain dan berdiri sambil berbincang tanpa tangisan di samping peti mati yang terbuka dengan melihat jenazah opa. Saat itu, dari kumpulan kenangan yang bisa kuambil subuh ini, yang masih kuingat adalah seorang lelaki tua dengan rambut putih tertidur damai dalam sebuah peti mati. Aku tak punya banyak ingatan masa kecilku tentang opa, hanya masih samar kuingat bagaimana ia mengejar anak – anak kecil nakal dengan rotan pari di seputaran pohon mangga di halaman rumah dulu. Selebihnya hanyalah bayangannya tertidur pulas dalam peti. Tak banyak prosedur dan ritual yang kuingat.
Kematian dan pemakaman haruslah tak terpisahkan karena pemakamanlah saat kita memberi sebuah arti dan rasa penghormatan terakhir kepada mereka yang pernah hidup. Walau kuakui banyak sekali yang berpulang tidak diberi penghormatan yang layak, misalnya saja mereka yang dikubur tanpa sebuah prosesi atau ritual karena masalah politik ataupun juga karena bencana alam atau bencana berskala masif, ataupun hilang tanpa pernah ditemukan. Bagiku, rasa ucap syukur harus tetap ada kala keluarga yang ditinggalkan masih dapat melihat jenazah yang berpulang, masih bisa menguburkan dengan layak dan masih bisa mendapat kejelasan tentang kematian ataupun setidaknya mengetahui dengan pasti status kematian. Aku sering mendapat cerita bagaimana keluarga – keluarga yang bingung mencari status anggota keluarga yang hilang, entah mati atau hidup, entah masih bernapas ataukah telah berpulang. Mencari sebuah kepastian!!!
Dalam keluarga besarku pun, kematian bukanlah sebuah hal yang baru karena hanyalah peristiwa yang terus dan terus terjadi karena rata – rata kerabatku tak ada yang hidup lebih dari 60 tahun. Bahkan hampir dapat kukatakan kalau aku bahkan tak mengenal dengan baik siapa 6 orang yang kupanggil kakek, opa dan tete plus nenek, oma dan neneku. Mereka kukenal hanya lewat lembaran hitam putih yang tak lagi nyata. Kukenal mereka dari tuturan orang tuaku. Mengenal mereka dari putaran kisah klasik yang tak usang. Belajar lebih dalam tentang mereka dan apa yang mereka percaya dan perjuangkan.
Kita wajib bersyukur saat ini bila orang – orang dekat kita yang telah berpulang mempunyai kepastian tempat dikubur ataupun setidaknya dapat diziarahi ataupun meninggal dengan cara yang normal; dalam usia tua ataupun karena faktor generatif. Setidaknya keluarga yang ditinggalkan mendapat kepastian dan merawat ataupun memberikan penghargaan yang layak bahkan mempunyai akses berziarah. Hal ini yang kadang membuatku tak lengkap karena tak pernah sekalipun berziarah ke makam teteku di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Manokwari ataupun berziarah ke makam neneku. Karena memang mama dan keluargaku tak tahu dimana nene dikuburkan. Saat itu mama masih kecil dan diadopsi oleh sepasang suami istri Maluku sedang keluarga tete mengungsi menghindar dari operasi penyisiran militer. Yang kudengar dari keluarga besar, nene meninggal bersama dengan balitanya di hutan dan dikuburkan di hutan, di daerah pegunungan Arfak karena kondisinya drop. Sedang tete pun pada akhir hidupnya harus meninggal pula dalam pengasingan di Entrop, Jayapura, walau dengan berbagai versi kematian yang masih terus beredar. Entah sakit, entah diracun, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu, Ia malah dimakamkan di TMP; demi sebuah pembelaan politik atau alasan lain, aku tak tahu.
Kisah yang sama pun berlaku untuk nenek dan kakekku dari pihak bapa. Yang kukenal hanyalah makam nenek di perbatasan Cirebon – Brebes. Itupun usai 6 tahun kematiannya. Sedang kakek, jangankan makam, wajahnya saja pun tak kukenal. Mungkin makam yang kukenal hanyalah makam opa dan omaku; kedua orang tua angkat mama.
Kepastian sebuah kematian dan pemakaman mungkin terasa sebagai hal yang biasa, tetapi bukan bagi mereka yang masih menanti kabar. Beberapa tahun lalu, aku bahkan pernah tergeragap melihat sebuah fakta bahwa di tanah tempatku dilahirkan ada banyak keluarga yang hingga kini masih tetap mencari jawaban tentang kematian dan kehilangan keluarga mereka. Mulai dari mereka yang bertanya tentang penyebab kematian hingga yang mencari kepastian kehidupan ataupun kepastian makam. Bukan sebuah penantian yang menyenangkan!!!
Aku teringat bagaimana sebuah pementasan tarian Papua sebuah grup dari Manokwari di dalam sebuah kongres rakyat Papua harus berujung tuduhan Makar dan para penari dan penyusun naskah diteror di tahun 2008. Padahal mereka hanya mengisahkan sebuah realita kematian yang terjadi di Biak khususnya terkait kasus Biak Berdarah di bulan Juli 2008. Kisahnya sederhana, tentang seorang bocah lelaki yang bertanya pada ibunya tentang ayahnya. Ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya tersembunyi di tanjung,laut ataupun di mana saja. Sebuah penjelasan yang mengambang. Tetapi seiring waktu, sang bocah tetap bertanya alasan Ayah mereka pergi. Tak ada jalan lain selain bercerita bahwa ayahnya mati demi sebuah ideologi yang dianut; yang digambarkan dalam tarian dengan membawa sebuah bendera Bintang Kejora. Sebuah penggambaran realita kematian yang manis namun salah dipersepsikan oleh mereka yang sangat ketakutan bahwa otoritas mereka dipertanyakan. Padahal sampai saat ini, bila saja mereka mau bertanya, ada banyak tempat tidur yang diisi tangisan, tanda tanya ataupun kehampaan.
Kematian – kematian seperti ini pernah ada, masih ada dan mungkin akan tetap ada. Kematian tanpa ritual, prosesi dan pemakaman. Bahkan bila menilik ke belakang, di Tanah ini, entah berapa banyak belulang yang termakan tanah tanpa sebuah nama. Berapa banyak jasad yang lolos dari usapan sayang anggota keluarga terkasih untuk sebuah perpisahan yang layak. Entah berapa banyak tangisan tersembunyi yang keluar dari sudut mata dalam malam – malam sepi. Aku tak tahu berapa jumlahnya, tapi aku bisa merasakannya subuh ini. Saat harus berpulang tanpa ditemani yang terkasih, saat harus berpulang tanpa kepastian dimana akan terbaring dipeluk bumi, saat harus berpulang dengan cara yang pernah terpikirkan. Padahal, bukankah sebuah pemakaman pada akhirnya adalah sebuah pembuktian bahwa kita layak menyandang gelar ‘manusia’.
Semoga mereka yang membuat banyak keluarga menunggu tanpa kepastian dapat berhenti barang sejenak dan melihat ke belakang, melihat ke dalam diri mereka, melihat jauh ke dalam hati mereka dan belajar menghargai tiap kehidupan yang ada dan belajar menghargai kehidupan yang berpulang. Menunggu dalam ketidak pastian apalagi menunggu kepastian kehidupan bukanlah hal yang indah. Sangat menyakitkan!!! Aku tak punya banyak solusi, yang aku tahu, aku hanya akan mendoakan mereka yang kerap membuat banyak keluarga menangis sedih untuk melihat jauh ke dalam diri mereka; melihat bagaimana kehidupan layak dihargai bahkan hingga ia meninggal.
Akhirnya aku pun berpikir apa yang kuinginkan bila ku mati kelak. Mungkin tak banyak dan mungkin juga untuk saat ini tak banyak yang bisa dilakukan di Manokwari. Aku hanya tak ingin merepotkan bila mati kelak. Mungkin menabung untuk biaya pemakaman dari peti, malam penghiburan hingga transportasi dan lain – lain. Andai saja Manokwari seperti di OZ di mana ada asuransi untuk pemakaman hingga keluarga yang ditinggalkan tak begitu repot dan terbeban.
Saat kumati kelak, jujur sebenarnya aku ingin ada organ – organ tubuhku yang masih baik yang disumbangkan ke orang yang membutuhkan dibandingkan harus membusuk bersama tulang belulang, toh yang terpenting adalah rohku yang bertemu Yesus kelak. Selain itu, aku lebih suka bila sisa jenazah yang telah diambil organ yang berguna langsung saja dikremasi supaya dengan cepat membaur dengan tanah dan tak memakan banyak luasan tempat penguburan dan dikuburkan di sebuah pemakaman seperti yang kulihat di Canberra, di bawah rindang pohon dan rerumputan hijau dan penuh dengan bebungaan sehingga tak menakutkan dan seperti taman. Sayang di Manokwari belum ada.
Di upacara pemakamanku, aku ingin sebelum upacara pemakaman on-the-spot, akan ada yang menyanyikan lagu – lagu kegemaranku baik dari Boyz II Men seperti ‘I will get there’, India.Arie “He heals me”, CeCe Winans “He’s concern” ataupun Brian McKnight “Still” atau bahkan Andrea Bocelli, “Can’t help falling in love”. Mungkin sudah saatnya menyusun daftar lagu pemakamanku. Yang pasti, satu hal yang kuinginkan kala orang – orang datang ke pemakamanku adalah mereka terhibur dan tak harus bersedih lama karena toh aku sudah mengalami kelepasan dari beban menjalankan hidup sebagai manusia dan aku sudah bersama-Nya. Jadi tak boleh ada air mata yang terbuang percuma lagi. Cukup mengenangku, syukur – syukur sebagai orang yang layak disebut teman. Selebihnya … silahkan lanjutkan hidup dan tetap berjuang untuk hidup karena bagaimanapun hidup adalah anugerah.
Entahlah …. Subuh ini yang kutahu, aku tiba – tiba merasa damai menulis tentang kematian, pemakaman dan hal – hal seputar kedua hal ini. Bagiku, kematian adalah sebuah pelepasan dari dunia ke tempat abadi yang damai, dan pemakaman adalah sebuah penghargaan tertinggi pada yang berpulang. Toh yang kadang kita takutkan dari kematian sebenarnya hanyalah rasa sakit dan sensasi nyeri dan beban untuk mereka yang ditinggalkan.
Entah aku akan pergi dengan cara apa, entah dimakamkan atau tidak, entah mendapat kepastian atau tidak, entah normal atau tidak, SATU YANG PASTI, yang aku pedulikan hanyalah TUJUANku kala pergi kelak. Impian terbesar kala pergi kelak hanyalah bertemu dengan Yesus dan menari bersama … suatu hari nanti.
(Manokwari, 260611; yang-selalu-terobsesi-pada-kematian)
Kematian mungkin hal yang sering kerap muncul dalam pembicaraanku. Tak heran bahkan dalam fiksi yang kutulis, aku sangat menikmati melihat kematian menjadi sebuah tema ataupun numpang mampir. Mungkin karena pengalamanku sewaktu berumur 4 tahun dan melihat bagaimana opaku meninggal dan kami para cucu bermain dan berdiri sambil berbincang tanpa tangisan di samping peti mati yang terbuka dengan melihat jenazah opa. Saat itu, dari kumpulan kenangan yang bisa kuambil subuh ini, yang masih kuingat adalah seorang lelaki tua dengan rambut putih tertidur damai dalam sebuah peti mati. Aku tak punya banyak ingatan masa kecilku tentang opa, hanya masih samar kuingat bagaimana ia mengejar anak – anak kecil nakal dengan rotan pari di seputaran pohon mangga di halaman rumah dulu. Selebihnya hanyalah bayangannya tertidur pulas dalam peti. Tak banyak prosedur dan ritual yang kuingat.
Kematian dan pemakaman haruslah tak terpisahkan karena pemakamanlah saat kita memberi sebuah arti dan rasa penghormatan terakhir kepada mereka yang pernah hidup. Walau kuakui banyak sekali yang berpulang tidak diberi penghormatan yang layak, misalnya saja mereka yang dikubur tanpa sebuah prosesi atau ritual karena masalah politik ataupun juga karena bencana alam atau bencana berskala masif, ataupun hilang tanpa pernah ditemukan. Bagiku, rasa ucap syukur harus tetap ada kala keluarga yang ditinggalkan masih dapat melihat jenazah yang berpulang, masih bisa menguburkan dengan layak dan masih bisa mendapat kejelasan tentang kematian ataupun setidaknya mengetahui dengan pasti status kematian. Aku sering mendapat cerita bagaimana keluarga – keluarga yang bingung mencari status anggota keluarga yang hilang, entah mati atau hidup, entah masih bernapas ataukah telah berpulang. Mencari sebuah kepastian!!!
Dalam keluarga besarku pun, kematian bukanlah sebuah hal yang baru karena hanyalah peristiwa yang terus dan terus terjadi karena rata – rata kerabatku tak ada yang hidup lebih dari 60 tahun. Bahkan hampir dapat kukatakan kalau aku bahkan tak mengenal dengan baik siapa 6 orang yang kupanggil kakek, opa dan tete plus nenek, oma dan neneku. Mereka kukenal hanya lewat lembaran hitam putih yang tak lagi nyata. Kukenal mereka dari tuturan orang tuaku. Mengenal mereka dari putaran kisah klasik yang tak usang. Belajar lebih dalam tentang mereka dan apa yang mereka percaya dan perjuangkan.
Kita wajib bersyukur saat ini bila orang – orang dekat kita yang telah berpulang mempunyai kepastian tempat dikubur ataupun setidaknya dapat diziarahi ataupun meninggal dengan cara yang normal; dalam usia tua ataupun karena faktor generatif. Setidaknya keluarga yang ditinggalkan mendapat kepastian dan merawat ataupun memberikan penghargaan yang layak bahkan mempunyai akses berziarah. Hal ini yang kadang membuatku tak lengkap karena tak pernah sekalipun berziarah ke makam teteku di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Manokwari ataupun berziarah ke makam neneku. Karena memang mama dan keluargaku tak tahu dimana nene dikuburkan. Saat itu mama masih kecil dan diadopsi oleh sepasang suami istri Maluku sedang keluarga tete mengungsi menghindar dari operasi penyisiran militer. Yang kudengar dari keluarga besar, nene meninggal bersama dengan balitanya di hutan dan dikuburkan di hutan, di daerah pegunungan Arfak karena kondisinya drop. Sedang tete pun pada akhir hidupnya harus meninggal pula dalam pengasingan di Entrop, Jayapura, walau dengan berbagai versi kematian yang masih terus beredar. Entah sakit, entah diracun, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu, Ia malah dimakamkan di TMP; demi sebuah pembelaan politik atau alasan lain, aku tak tahu.
Kisah yang sama pun berlaku untuk nenek dan kakekku dari pihak bapa. Yang kukenal hanyalah makam nenek di perbatasan Cirebon – Brebes. Itupun usai 6 tahun kematiannya. Sedang kakek, jangankan makam, wajahnya saja pun tak kukenal. Mungkin makam yang kukenal hanyalah makam opa dan omaku; kedua orang tua angkat mama.
Kepastian sebuah kematian dan pemakaman mungkin terasa sebagai hal yang biasa, tetapi bukan bagi mereka yang masih menanti kabar. Beberapa tahun lalu, aku bahkan pernah tergeragap melihat sebuah fakta bahwa di tanah tempatku dilahirkan ada banyak keluarga yang hingga kini masih tetap mencari jawaban tentang kematian dan kehilangan keluarga mereka. Mulai dari mereka yang bertanya tentang penyebab kematian hingga yang mencari kepastian kehidupan ataupun kepastian makam. Bukan sebuah penantian yang menyenangkan!!!
Aku teringat bagaimana sebuah pementasan tarian Papua sebuah grup dari Manokwari di dalam sebuah kongres rakyat Papua harus berujung tuduhan Makar dan para penari dan penyusun naskah diteror di tahun 2008. Padahal mereka hanya mengisahkan sebuah realita kematian yang terjadi di Biak khususnya terkait kasus Biak Berdarah di bulan Juli 2008. Kisahnya sederhana, tentang seorang bocah lelaki yang bertanya pada ibunya tentang ayahnya. Ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya tersembunyi di tanjung,laut ataupun di mana saja. Sebuah penjelasan yang mengambang. Tetapi seiring waktu, sang bocah tetap bertanya alasan Ayah mereka pergi. Tak ada jalan lain selain bercerita bahwa ayahnya mati demi sebuah ideologi yang dianut; yang digambarkan dalam tarian dengan membawa sebuah bendera Bintang Kejora. Sebuah penggambaran realita kematian yang manis namun salah dipersepsikan oleh mereka yang sangat ketakutan bahwa otoritas mereka dipertanyakan. Padahal sampai saat ini, bila saja mereka mau bertanya, ada banyak tempat tidur yang diisi tangisan, tanda tanya ataupun kehampaan.
Kematian – kematian seperti ini pernah ada, masih ada dan mungkin akan tetap ada. Kematian tanpa ritual, prosesi dan pemakaman. Bahkan bila menilik ke belakang, di Tanah ini, entah berapa banyak belulang yang termakan tanah tanpa sebuah nama. Berapa banyak jasad yang lolos dari usapan sayang anggota keluarga terkasih untuk sebuah perpisahan yang layak. Entah berapa banyak tangisan tersembunyi yang keluar dari sudut mata dalam malam – malam sepi. Aku tak tahu berapa jumlahnya, tapi aku bisa merasakannya subuh ini. Saat harus berpulang tanpa ditemani yang terkasih, saat harus berpulang tanpa kepastian dimana akan terbaring dipeluk bumi, saat harus berpulang dengan cara yang pernah terpikirkan. Padahal, bukankah sebuah pemakaman pada akhirnya adalah sebuah pembuktian bahwa kita layak menyandang gelar ‘manusia’.
Semoga mereka yang membuat banyak keluarga menunggu tanpa kepastian dapat berhenti barang sejenak dan melihat ke belakang, melihat ke dalam diri mereka, melihat jauh ke dalam hati mereka dan belajar menghargai tiap kehidupan yang ada dan belajar menghargai kehidupan yang berpulang. Menunggu dalam ketidak pastian apalagi menunggu kepastian kehidupan bukanlah hal yang indah. Sangat menyakitkan!!! Aku tak punya banyak solusi, yang aku tahu, aku hanya akan mendoakan mereka yang kerap membuat banyak keluarga menangis sedih untuk melihat jauh ke dalam diri mereka; melihat bagaimana kehidupan layak dihargai bahkan hingga ia meninggal.
Akhirnya aku pun berpikir apa yang kuinginkan bila ku mati kelak. Mungkin tak banyak dan mungkin juga untuk saat ini tak banyak yang bisa dilakukan di Manokwari. Aku hanya tak ingin merepotkan bila mati kelak. Mungkin menabung untuk biaya pemakaman dari peti, malam penghiburan hingga transportasi dan lain – lain. Andai saja Manokwari seperti di OZ di mana ada asuransi untuk pemakaman hingga keluarga yang ditinggalkan tak begitu repot dan terbeban.
Saat kumati kelak, jujur sebenarnya aku ingin ada organ – organ tubuhku yang masih baik yang disumbangkan ke orang yang membutuhkan dibandingkan harus membusuk bersama tulang belulang, toh yang terpenting adalah rohku yang bertemu Yesus kelak. Selain itu, aku lebih suka bila sisa jenazah yang telah diambil organ yang berguna langsung saja dikremasi supaya dengan cepat membaur dengan tanah dan tak memakan banyak luasan tempat penguburan dan dikuburkan di sebuah pemakaman seperti yang kulihat di Canberra, di bawah rindang pohon dan rerumputan hijau dan penuh dengan bebungaan sehingga tak menakutkan dan seperti taman. Sayang di Manokwari belum ada.
Di upacara pemakamanku, aku ingin sebelum upacara pemakaman on-the-spot, akan ada yang menyanyikan lagu – lagu kegemaranku baik dari Boyz II Men seperti ‘I will get there’, India.Arie “He heals me”, CeCe Winans “He’s concern” ataupun Brian McKnight “Still” atau bahkan Andrea Bocelli, “Can’t help falling in love”. Mungkin sudah saatnya menyusun daftar lagu pemakamanku. Yang pasti, satu hal yang kuinginkan kala orang – orang datang ke pemakamanku adalah mereka terhibur dan tak harus bersedih lama karena toh aku sudah mengalami kelepasan dari beban menjalankan hidup sebagai manusia dan aku sudah bersama-Nya. Jadi tak boleh ada air mata yang terbuang percuma lagi. Cukup mengenangku, syukur – syukur sebagai orang yang layak disebut teman. Selebihnya … silahkan lanjutkan hidup dan tetap berjuang untuk hidup karena bagaimanapun hidup adalah anugerah.
Entahlah …. Subuh ini yang kutahu, aku tiba – tiba merasa damai menulis tentang kematian, pemakaman dan hal – hal seputar kedua hal ini. Bagiku, kematian adalah sebuah pelepasan dari dunia ke tempat abadi yang damai, dan pemakaman adalah sebuah penghargaan tertinggi pada yang berpulang. Toh yang kadang kita takutkan dari kematian sebenarnya hanyalah rasa sakit dan sensasi nyeri dan beban untuk mereka yang ditinggalkan.
Entah aku akan pergi dengan cara apa, entah dimakamkan atau tidak, entah mendapat kepastian atau tidak, entah normal atau tidak, SATU YANG PASTI, yang aku pedulikan hanyalah TUJUANku kala pergi kelak. Impian terbesar kala pergi kelak hanyalah bertemu dengan Yesus dan menari bersama … suatu hari nanti.
(Manokwari, 260611; yang-selalu-terobsesi-pada-kematian)
I'm fine anyway
Subuh ini tak bisa tidur lebih cepat karena hujan sesorean membuatku tidur petang dari sore hingga malam hari. Lebih dari 3 film kunonton dan masih punya energi ekstra untuk bekerja beberapa lembar terjemahan yang nyatanya hanya sebuah kerja relawan untuk sebuah pelayanan Kristen yang bagaimanapun tetap saja kunikmati.
Dihibur beberapa lagu, tiba – tiba aku merasa sedikit bahagia walau beberapa hari ini ada rasa sepi yang menjalar di hati. Rasa sepi yang menyapa dan bertanya: kemana akan melangkah tahun ini? Bagaimana masa depan? Dan secuil ragu TAPI toh bagaimanapun beberapa hari ini yang kudapat kala berdoa hanyalah “JALANI saja”, tak usah terlau banyak dianalisa karena toh aku akan baik – baik saja. Dalam hatiku kalimat afirmasi itu selalu muncul, “Jangan khawatir, May. Ko akan baik – baik saja. Jang khawatir!”.
1 musim lagi aku akan berumur 28 tahun dan aku bahkan belum berpikir untuk melihat jelas ke depan, masih tetap berbagi mimpi, mencari uang sampingan untuk membayar tagihan dan sejumlah hal lainnya. Walau kuakui aku tak sampai berada pada kondisi mengenaskan. Kesehatanku baik – baik saja, kondisi keuanganku masih bisa menunjang apa yang kuinginkan sejauh ini walau memang tak berlimpah seperti teman – temanku yang lain yang tampaknya punya penghasilan tetap yang banyak. Walau demikian, kuakui Bapa Surgawi memeliharaku sejauh ini dan aku bersyukur untuk hal ini.
Hubunganku dengan beberapa teman juga makin membaik walau aku sudah tak ingin memposisikan hubunganku dalam hubungan emosi orang lain. Maksudku melibatkan diri dalam sesuatu yang hanya akan membebaniku.
Bicara tentang beban, entahlah … yang pasti aku sangat terkait pada unsur air dan kelembaban plus udara. Benar seperti yang pernah kubaca tentang geopsikologi atau psikogeography, entahlah aku lupa istilah yang tepat; bagaimana cuaca dan unsur alam mempengaruhi mood seseorang. Yang pasti, dua hari kemarin sempat sedikit moody karena mesin air utama untuk ke tanki air rusak tersumbat lumpur karang jadi bak kamar mandi kosong, mana belum dikuras. Jadi bawaannya sedikit tak nyaman. Perasaan ini jugalah yang dulu sempat kualami kala ada masalah dengan komputer. Walau sekarang urusan komputer sudah tak seperti dulu.
Subuh ini yang pasti aku bersyukur pada Bapa, Yesus dan Roh Kudus kalau aku masih dipelihara dan tak ada banyak masalah berarti. Doa gerbang masih berjalan dengan lancar walau kadang – kadang kalau kondisi tubuhku tak mengijinkan maka kulakukan dari rumah. Aku bersyukur Roh Kudus kerap mengingatkanku untuk juga berdoa untuk kompleks sekitar rumahku dan hal – hal lainnya.
Anyway, bulan depan aku harus membeli sebuah gitar karena panggilan bernyanyi dan menyembah sering muncul walau aku tak pernah PD menyanyi. Mungkin karena bawaan perkataan mama sejak kecil yang membuatku tak pernah PD, ia kerap bilang bahwa “ko pu suara tidak bagus, jadi jang menyanyi”. Mungkin itulah sebabnya hingga kuliah S1, satu hal yang kubenci adalah menyanyi dan didengar orang lain. KELEMAHAN kecilku. Bagiku, menyanyi dengan nada dan lirik baru sejak kecil adalah sebuah peristiwa rahasia antara diriku dan what lies deep inside of me. Seperti sebuah kegiatan spiritual kadang – kadang dan masih sering kurasakan. Apalagi sejak di OZ, tiap kali menyanyi dengan nyanyian baru itu tak pernah bisa menyusun kata tentang cinta dll tetapi hanya bisa menyanyi untuk Tuhan bercerita tentang apa yang kurasakan untuk Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.
Akhir – akhir ini aku percaya bahwa mungkin karena sedari kecil aku pemalu tetapi yang akhir – akhir ini sedang mencoba bersembunyi dengan rasa PDku, hingga tak banyak yang tahu bahwa aku tetap masih mengusung sifat gadis kecil pemalu itu. Percayalah … tak sia – sia aku mengambil kelas drama semasa kuliah.
Tentang cinta, mmmmh beberapa hari ini entahlah … rasa kagumku pada si Arc membaik apalagi komunikasi kami ternyata lebih baik dibanding sebelumnya. Perasaanku juga lebih terkontrol, sudah tak mengalami euforia. Jujur, ada perkembangan berarti di mana aku bisa ngobrol dengan lebih terbuka dan mulai bisa menganggapnya teman. Karena aku memang tak bisa melihat cowok yang terlalu diam atau tertutup, ada sisi diriku yang selalu waspada, tapi juga membuatku penasaran setengah mati. TAPI sekarang …. Ah aku bersyukur punya teman baru. That’s all.
Aku mungkin tak akan punya hidup yang lama ataupun banyak TAPI aku ingin hidupku berkualitas dan aku dapat melakukan apa yang Yesus inginkan dari hidupku. Aku hanya orang biasa namun aku berharap jauh sebelum matiku, Yesus ijinkan aku melakukan hal – hal yang Ia inginkan dari hidupku. Sesuatu yang bermanfaat. Aku sedang berpikir tentang apakah di Manokwari sudah ada fasilitas untuk mendonorkan organ – organ tubuhku kala mati nanti. Aku pikir masih banyak organ tubuhku yang berguna kala mati nanti dibanding hanya membusuk di dalam tanah. Bahkan kalau memang ada, ingin sekali kala meninggal nanti, dikremasi biar cepat larut dengan bumi dan tak menyusahkan orang tua untuk ukuran kuburan yang besar ataupu prosesi yang merepotkan banyak orang. Entahlah … mungkin suatu hari nanti.
Subuh ini yang pasti, aku hanya ingin tidur subuh dan bangun di jam 8 guna bersiap pergi ibadah pagi. Subuh ini, yang aku tahu, aku lagi jatuh cinta pada hidupku dan juga pada Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.
Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen
(Manokwari, 260611)
Dihibur beberapa lagu, tiba – tiba aku merasa sedikit bahagia walau beberapa hari ini ada rasa sepi yang menjalar di hati. Rasa sepi yang menyapa dan bertanya: kemana akan melangkah tahun ini? Bagaimana masa depan? Dan secuil ragu TAPI toh bagaimanapun beberapa hari ini yang kudapat kala berdoa hanyalah “JALANI saja”, tak usah terlau banyak dianalisa karena toh aku akan baik – baik saja. Dalam hatiku kalimat afirmasi itu selalu muncul, “Jangan khawatir, May. Ko akan baik – baik saja. Jang khawatir!”.
1 musim lagi aku akan berumur 28 tahun dan aku bahkan belum berpikir untuk melihat jelas ke depan, masih tetap berbagi mimpi, mencari uang sampingan untuk membayar tagihan dan sejumlah hal lainnya. Walau kuakui aku tak sampai berada pada kondisi mengenaskan. Kesehatanku baik – baik saja, kondisi keuanganku masih bisa menunjang apa yang kuinginkan sejauh ini walau memang tak berlimpah seperti teman – temanku yang lain yang tampaknya punya penghasilan tetap yang banyak. Walau demikian, kuakui Bapa Surgawi memeliharaku sejauh ini dan aku bersyukur untuk hal ini.
Hubunganku dengan beberapa teman juga makin membaik walau aku sudah tak ingin memposisikan hubunganku dalam hubungan emosi orang lain. Maksudku melibatkan diri dalam sesuatu yang hanya akan membebaniku.
Bicara tentang beban, entahlah … yang pasti aku sangat terkait pada unsur air dan kelembaban plus udara. Benar seperti yang pernah kubaca tentang geopsikologi atau psikogeography, entahlah aku lupa istilah yang tepat; bagaimana cuaca dan unsur alam mempengaruhi mood seseorang. Yang pasti, dua hari kemarin sempat sedikit moody karena mesin air utama untuk ke tanki air rusak tersumbat lumpur karang jadi bak kamar mandi kosong, mana belum dikuras. Jadi bawaannya sedikit tak nyaman. Perasaan ini jugalah yang dulu sempat kualami kala ada masalah dengan komputer. Walau sekarang urusan komputer sudah tak seperti dulu.
Subuh ini yang pasti aku bersyukur pada Bapa, Yesus dan Roh Kudus kalau aku masih dipelihara dan tak ada banyak masalah berarti. Doa gerbang masih berjalan dengan lancar walau kadang – kadang kalau kondisi tubuhku tak mengijinkan maka kulakukan dari rumah. Aku bersyukur Roh Kudus kerap mengingatkanku untuk juga berdoa untuk kompleks sekitar rumahku dan hal – hal lainnya.
Anyway, bulan depan aku harus membeli sebuah gitar karena panggilan bernyanyi dan menyembah sering muncul walau aku tak pernah PD menyanyi. Mungkin karena bawaan perkataan mama sejak kecil yang membuatku tak pernah PD, ia kerap bilang bahwa “ko pu suara tidak bagus, jadi jang menyanyi”. Mungkin itulah sebabnya hingga kuliah S1, satu hal yang kubenci adalah menyanyi dan didengar orang lain. KELEMAHAN kecilku. Bagiku, menyanyi dengan nada dan lirik baru sejak kecil adalah sebuah peristiwa rahasia antara diriku dan what lies deep inside of me. Seperti sebuah kegiatan spiritual kadang – kadang dan masih sering kurasakan. Apalagi sejak di OZ, tiap kali menyanyi dengan nyanyian baru itu tak pernah bisa menyusun kata tentang cinta dll tetapi hanya bisa menyanyi untuk Tuhan bercerita tentang apa yang kurasakan untuk Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.
Akhir – akhir ini aku percaya bahwa mungkin karena sedari kecil aku pemalu tetapi yang akhir – akhir ini sedang mencoba bersembunyi dengan rasa PDku, hingga tak banyak yang tahu bahwa aku tetap masih mengusung sifat gadis kecil pemalu itu. Percayalah … tak sia – sia aku mengambil kelas drama semasa kuliah.
Tentang cinta, mmmmh beberapa hari ini entahlah … rasa kagumku pada si Arc membaik apalagi komunikasi kami ternyata lebih baik dibanding sebelumnya. Perasaanku juga lebih terkontrol, sudah tak mengalami euforia. Jujur, ada perkembangan berarti di mana aku bisa ngobrol dengan lebih terbuka dan mulai bisa menganggapnya teman. Karena aku memang tak bisa melihat cowok yang terlalu diam atau tertutup, ada sisi diriku yang selalu waspada, tapi juga membuatku penasaran setengah mati. TAPI sekarang …. Ah aku bersyukur punya teman baru. That’s all.
Aku mungkin tak akan punya hidup yang lama ataupun banyak TAPI aku ingin hidupku berkualitas dan aku dapat melakukan apa yang Yesus inginkan dari hidupku. Aku hanya orang biasa namun aku berharap jauh sebelum matiku, Yesus ijinkan aku melakukan hal – hal yang Ia inginkan dari hidupku. Sesuatu yang bermanfaat. Aku sedang berpikir tentang apakah di Manokwari sudah ada fasilitas untuk mendonorkan organ – organ tubuhku kala mati nanti. Aku pikir masih banyak organ tubuhku yang berguna kala mati nanti dibanding hanya membusuk di dalam tanah. Bahkan kalau memang ada, ingin sekali kala meninggal nanti, dikremasi biar cepat larut dengan bumi dan tak menyusahkan orang tua untuk ukuran kuburan yang besar ataupu prosesi yang merepotkan banyak orang. Entahlah … mungkin suatu hari nanti.
Subuh ini yang pasti, aku hanya ingin tidur subuh dan bangun di jam 8 guna bersiap pergi ibadah pagi. Subuh ini, yang aku tahu, aku lagi jatuh cinta pada hidupku dan juga pada Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.
Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen
(Manokwari, 260611)
Thursday, 23 June 2011
Tukang Mimpi: Kalau Dayanara bikin kedai
Subuh ini masih tak bisa tidur karena campuran efek minum kopi (don’t care with my damn reflux oesoephagitis) , makan kacang bawang (despite its effect on my face … ouch!!!) sehingga kembung, dan tentu saja berkendara kencang menembus hujan sore tadi (EPZ banget for the effect on my bronchus tissue). Karena keadaan tubuh yang enggan tidur, kuisi dengan membaca sebuah edisi Khusus majalah Intisari, tapi karena suasana dingin usai hujan akhirnya membuat sebersit impian beberapa tahun belakangan yang kerap muncul dan pernah kuceritakan kepada beberapa teman, keluar dengan suksesnya dari perbendaharaan otakku dan memaksaku menghidupkan komputer jinjingku yang telah setengah jam tewas usai mengerjakan lembar – lembar terjemahan.
Mungkin ini hanya sebuah impian kecil yang sempat hinggap di benakku yang akhir – akhir ini tak tahan berhujan – hujan, dan sayang bila tak kutulis. Anggap saja hanya tulisan EDISI TUKANG MIMPI seperti biasanya. Walau tetap berharap suatu hari akan ada yang seperti kutuliskan ini, setidaknya sambil mengetik catatan ini, aku sedang mengaktifkan belahan otakku untuk berimajinasi dan tersenyum – senyum mengenyahkan rasa tidak nyaman tubuh.
Manokwari, kota hujan yang selalu membuatku jatuh cinta. Bukan karena aku menyukai tanah cair yang kerap melumuri motorku ibarat ‘lulur’ ataupun ‘masker lumpur’. Tapi karena aroma tanah usai hujan yang kadang menggeliat mesra masuk paru – paruku, belum lagi suhu yang kerap turun kala malam dan membuatku dapat merasakan keheningan malam. Bagiku malam terasa lebih seksi kala suhu sedang meregang nyawa menjemput titik bawah. Mungkin karena saat itu, kita benar – benar merasa kesepian dan merasakan bahwa Tuhan sengaja menciptakan malam agar ada hati dan orang – orang yang kita rindukan, agar Tuhan terasa lebih dekat dalam kelamnya malam dan api sebagai salah satu keajaiban yang terasa seksi di mataku (P.S. Tampaknya aku ada bakat menjadi arsonis ^_^).
Omongan tanpa arah ini tampaknya harus segera kujelaskan dengan lebih gamblang sebelum anda yang membaca segera mengganti tampilan tulisan ini dengan tampilan lain yang lebih variatif dan hidup plus jelas. Karena sedari tadi kukatakan bahwa ini hanyalah salah satu edisi mimpiku maka anggap saja seperti biasanya, aku hanya seorang pemimpi yang tersesat dalam labirin realita dan sedang berusaha menuliskan dengan runut walau masih tak mampu.
Impianku akhir – akhir ini hanyalah mempunyai sebuah kedai minuman hangat dan makanan kecil dengan unsur Papua yang kental walau tak menafikan bahwa ada rempah – rempah dan elemen budaya lain yang akan kucampurkan dan tentu saja dengan sebuah tampilan suasana yang bisa menjadi tempat menonton hujan dengan seksi. Sebuah tempat yang sebenarnya kurancang hanya untuk orang – orang sepertiku yang senang menonton tarian hujan sambil membaca ataupun browsing ditemani musik lembut bernuansa hujan ataupun alam ataupun sekedar ngobrol dan menulis. Sejenis sanctuary atau tempat perlindungan dari hujan.
Rumah minuman hangat dan makanan kecil ini akan kuberi nama “My Mos” yang secara literal berarti ‘hujanku = sa pu hujan = my rain’. Sebenarnya karena nama panggilanku berbunyi mirip dengan ‘My’ dan juga karena dalam bahasa suku mamaku, kata ‘air’ kerap disebut ‘Mei’. Sedangkan kata ‘Mos’ berarti ‘Hujan’ dalam bahasa yang sama. Selain itu, aku suka lafal ‘Mos’ yang sama dengan kata ‘Moss’ dalam bahasa Inggris yang artinya ‘lumut’. Sehingga semua kata rujukannya bermakna ‘basah, air, lembab’. Belum lagi ditambah dengan lafal keseluruhan dari “My Mos” yang sangat mirip dengan pengucapan “air yang ada di pagi hari” tetapi kerap kuterjemahkan menjadi ‘hujan pagi’ dalam bahasa yang sama.
Aku membayangkan saat masuk ke dalam kedai ini di tengah hujan deras dan disambut pelayan yang berbicara dengan Melayu Papua (walau akan kulatih berbahasa Inggris dasar untuk pelayanan) menawarkan tempat menaruh payung dalam bak – bak kayu kotak beralas plastik berdasar kulit kerang kering dan biji – bijian liar tepi pantai yang tergeletak di sudut – sudut pintu masuk kedai. Pelayan di kedai ini rata – rata adalah anak – anak Papua putus sekolah yang dilatih untuk bekerja dalam industry hospitality seperti ini. Kuperhatikan pelayan perempuan berambut anyaman corn rows berpola unik mengatur payung – payung di kotak kayu. Selain itu kedai ini dilengkapi dengan rak titipan buatan sendiri dari bilah – bilah bambu belah ibarat lantai rumah yang dipernis rapi guna meletakan jaket ataupun helm pengunjung. Pelayan ini tak lupa menawarkan informasi bila ingin membasuh rambut yang basah dengan handuk kecil di kamar kecil ataupun sekedar membasuh kaki.
Kulangkahkan kakiku masuk dan disambut dengan aroma harum potpourri ataupun aroma minyak esensial khususnya kopi dari tungku – tungku bakar kecil di beberapa pojok ruangan. Kadang – kadang tempat ini juga menyajikan aroma kasbi bakar ataupun seduhan kopi kental sebagai arang pengganti aromaterapi esensial. Ditambah lagi ditemani musik bersuasana hujan ataupun alam, ataupun aliran air plus lagu Papua. Yang pasti, lagu berbahasa Biak “Kobesise Sisye Kwaro” ataupun sejenis “nyanyian Sunyi” dan ‘Mambo simbo’ pasti ada. Kulihat meja kayu yang dibentuk ibarat peti kemas sisa pengepak sayuran yang sudah dipoles, tergetak manis di atas lantai berubin kasar kedai berwarna gelap ditemani kursi taman bersandar untuk satu orang dengan dudukan lembut. Mejanya dirancang dengan sebuah stop kontak di bawah supaya mereka yang ingin browsing tak harus repot kebingungan kala mencari pasokan daya, apalagi tiap menu minuman dan makanan dilengkapi voucher gratis Wi-fi selama 30 menit dan dapat diperpanjang dengan membeli kupon voucher wi-fi seperti di warnet tetapi tentu saja dengan tambahan harga kenyamanan.
Mataku tak luput pula memandang sudut pojokan kedai yang dibatasi oleh pintu kaca dan langsung bersinggungan dengan udara luar yang diperuntukan bagi para perokok. Ruangan pojok itu dipenuhi dengan beberapa tanaman hijau dan dinding penuh tanaman rambatan dengan gantungan lucu bertuliskan, “ooops, sa hosa … uhuk … uhuk!!!”.
Kulihat lagi beberapa pengunjung lain masuk dan memilih duduk di kursi – kursi sofa nyaman bermotif batik Papua dilengkapi meja kopi rendah di sudut lain ditemani pilahan bacaan dari sebuah rak kecil berisi majalah gaya hidup hingga kesehatan. Lampunya yang sedikit terang dibanding di bagian meja peta kemas yang bernuasa hangat membuatku teringat beberapa kafe baca yang pernah kusinggahi. Semua meja yang kemungkinan diisi pengunjung mempunyai stop kontak listrik. Tentu saja hal ini terinspirasi dari meja belajar di kampus ANU jaman kuliah dulu.
Pelan - pelan kutilik daftar menu minuman dan makanan kecil yang terlipat rapi seperti buku agenda kecil bermantel cokelat bertuliskan nama – nama menu dan deskripsinya yang membawa kenangan Papuaku membelah diri dalam piranti otak. Menu kedai ini mungkin hanya menu biasa – biasa saja yang tercuri dari beberapa kenangan masa kecil, masa remaja dan juga pengalaman ‘ukur jalanku’ yang belum seberapa. Apalagi kedai ini dengan bangganya mengaku bahwa 75% dari bahan baku makanan di kedai ini datang dari petani lokal plus dari hasil kebun pemberdayaan kelompok tani perempuan di kota ini dan daerah sekitarnya. Sekali lagi kulirik daftar menu dengan nama – nama yang membuatku mengenang beberapa keping memori yang pernah kental dan lengket, seperti:
Ketumbar (Keladi Tumbu Bakar) – mengingatkanku akan Keladi Tumbu buatan mamanya Mia apalagi yang kusukai adalah yang beraroma sedikit gosong, sangat khas di hidungku. Apalagi ‘Ketumbar’ ini punya banyak varian rasa. Mulai dari yang standar seperti santan. Ada juga yang gula aren, mentega, keju, cacahan kacang tanah, kenari hingga coklat chip. Bahkan kulirik meja seorang pengunjung di sebelahku yang menyantap ‘keladi tumbu’ dengan lumuran coklat cair berbentuk bintang. Jangan heran, di kedai ini, keladi tumbunya dikemas kecil seukuran kaset tape recorder, berbentuk bendera bergaris – garis dengan cap bintang yang dominan, apalagi variannya ditentukan dari topping bendera tersebut, entah keju, kacang atau yang lainnya.
Split Taro – alias keladi PNG yang dibelah dan dikukus dengan isian gula ataupun kelapa berkaramel ditemani dengan parutan kelapa mengkal bercampur sedikit garam. Apalagi keladi ini direbus dengan daun pandan.
KashMeer – Tentu saja ini bukan makanan dari dataran India utara yang mempunyai basis pemberontak, tetapi hanyalah rebusan singkong hangat dengan saus buah merah kukus. Karena singkong disebut ‘kasbi’ di lidah Melayu Papuaku dan mengingatkanku pada pengalaman bersentuhan dengan buah pandan ini hampir dua puluh tahun silam dalam kunjungan menginap di rumah kerabat di daerah Jin Buang Anak, maka kuberi nama ‘KASbi saus buah MERah’. Santapan ini pun berbentuk sama dengan ‘Ketumbar’, yang tentu saja penuh dengan kandungan karbohidrat dan antioksidan dan tentu saja kadar beta-karoten yang tak diragukan lagi.
Sagoo– alias sagu forno dan ditemani dengan saudara – saudaranya dengan banyak varian rasa, mulai dari yang dibakar dan dicampur dengan kelapa dan kacang hingga yang diletakan dalam ikatan daun kakao ataupun bilah bambu dan dibakar. Ataupun yang cukup eksotis dari kedai ini; sagu buah hitam dari daerah teluk Saireri.
Popsi (Puding Petatas Seksi) – puding agar – agar yang dicampur dengan kukusan petatas dan karamel dalam wadah cetakan ice tray berbentuk perempuan seksi berbikini. Puding ini kadang – kadang divariasikan dengan puding labu ataupun puding tape.
Sukses (Sukun Seksi Sekali) – cacahan kukusan sukun yang digulung dalam kulit dadar dan diberi campuran ikan asar tumis pedas dengan saus sambal cair yang disajikan dalam wadah terpisah.
Pisang Rebus – ditemani dengan berbagai macam saus dampingan. Apalagi spesialis kedai ini adalah pisang tanduk khas pegunungan Arfak.
Kolak – Mulai dari kolak kasbi, keladi, pisang maupun olahan sagu.
Menu – menu diatas dapat pula ditemani dengan hidangan side-dish seperti sepiring kecil ikan asar tumis pedis, bunga papaya dan kangkung tumis pedis yang diisi dalam kulit dadar ataupun irisan kombrof asar (gurita asap) dan bia kering.
Tak lupa beberapa penganan yang jarang kumakan beberapa tahun ini pun hadir juga, sebut saja bila anda tertarik dengan KELAPA BAKAR, KASBI KABAR, KELADI BAKAR, PISANG BAKAR, dengan varian saus yang berbeda, mulai dari sambal hingga saus panggang dan saus buah merah. Selain itu, Tak lupa pula adanya sinole dengan berbagai varian rasa ditambah penganan khas Indonesia Timur lainnya seperti kue serut dan bagea dari Maluku. Ooops, aku bahkan hampir melewatkan acara mengintipku kalau tak menyebutkan adanya swami, dan ambal (sejenis olahan singkong yang dibakar seperti sagu forno dengan isian kelapa karamel). Bagi yang ingin mendapat olahan inipun dapat membeli di outlet take-away untuk dibawa pulang khususnya untuk penganan kering kedai kami.
Bila sambil nongkrong anda ingin merasakan asinan, jangan pernah lupakan porsi kecil kemasan kecil RICA GARAM dengan pilihan buah seperti GIAWAS, MANGGA, TOMI – TOMI, LONGGA – LONGGA, KEDONDONG, PEPAYA, MENGKUDU dan LEMON CINA.
Kedai ini pun menyajikan minuman yang rata – rata hangat dan panas mengingat kondisi cuaca Manokwari yang seperti Melbourne di Australia alias tak stabil dan kerap berganti sesuka hati. Minumannya memang berkisar hanya pada 4 jenis. Mulai dari aneka kopi, teh, cokelat, susu, sari buah maupun minuman tradisional yang dikemas khusus (baca: air wati, seperti kava dari Fiji). Kalau kopi, kedai ini tak terlalu mengusahakan yang mahal dan tak mau yang terlalu western’s style walau kuakui aku pernah menjadi salah seorang penikmat kopi a la barat dengan gaya cupping yang khas dan kerap mengecengi barista keren di kafe. Tapi untuk kopi mungkin aku tetap suka gaya tradisional yang tak ada espresso dan granula topping segala macam yang ditambahkan, walau penyajiannya akan tetap elegan. Bagaimanapun mungkin Kopi Toraja dan produksi lokal dari Pegunungan Tengah Papua akan kupilih. Selain itu, mungkin karena 6 tahun lalu aku jatuh cinta pada kopi Arab yang kaya rempah, aku ingin akan ada racikan kopi rempah khusus yang disajikan di kedai ini. Karna aku keturunan Arfak, aku berpikir untuk meracik kopi rempah dengan tambahan kikisan kulit kayu Akuai yang khusus disajikan untuk kaum lelaki, apalagi sangat cocok bagi cuaca dingin.
Teh mungkin salah satu hal yang mulai kusuka 2 tahun belakangan ini, walau aku tahu tak mungkin punya rumah teh lengkap seperti di Canberra misalnya seperti yang kulihat di “Chai Tea House”. Tapi apapun teh yang disajikan kelak, akan ada teh rempah hangat pengiring acara ngobrol. Entah teh kental bercampur gula aren dan kayu manis, teh gado – gado yang pernah kubuat pengusir dingin kala di Canberra yang berisi racikan bumbu dari lemari semisal jahe, pala, dan cengkeh. Teh lemon sudah pasti ada di dalam menu yang disajikan. Bahkan bila ada yang menyukai teh susu a la gaya Inggris (aku terbiasa akhirnya karena acara Arvo tea yang kerap kuikuti dengan para oma tetangga) pasti akan disajikan *pada bagian ini aku tersenyum – senyum mengingat bagaimana teh susu pesanan Ellen dan Vivie yang susu cairnya di teko kecil kerap kuembat abis di Pajenka’s. Tentu saja seperti Kopi, Teh Akuai sudah jelas akan ada hehehe.
Susu, cokelat panas dan sari buah khususnya yang hangat mungkin hanya pelengkap saja. Tentu saja ditambah lagi dengan sajian minuman tradisional seperti air wati atau kava dengan dosis rendah.
Sambil menikmati lagi segelas tes kayu manis yang kupesan dengan seiris KashMeer dan mendaratkan tubuhku di kursi kayu, tiba – tiba alarm ponselku berbunyi … dan BUYAR SUDAH IMPIAN TINGKAT TINGGI ini apalagi kepala makin pusing usai dampak minum kopi tadi sore wkwkwkww.
I’ll make this kedai someday!!!! *dalam-mimpi-statement
(Manokwari, 230611)
Mungkin ini hanya sebuah impian kecil yang sempat hinggap di benakku yang akhir – akhir ini tak tahan berhujan – hujan, dan sayang bila tak kutulis. Anggap saja hanya tulisan EDISI TUKANG MIMPI seperti biasanya. Walau tetap berharap suatu hari akan ada yang seperti kutuliskan ini, setidaknya sambil mengetik catatan ini, aku sedang mengaktifkan belahan otakku untuk berimajinasi dan tersenyum – senyum mengenyahkan rasa tidak nyaman tubuh.
Manokwari, kota hujan yang selalu membuatku jatuh cinta. Bukan karena aku menyukai tanah cair yang kerap melumuri motorku ibarat ‘lulur’ ataupun ‘masker lumpur’. Tapi karena aroma tanah usai hujan yang kadang menggeliat mesra masuk paru – paruku, belum lagi suhu yang kerap turun kala malam dan membuatku dapat merasakan keheningan malam. Bagiku malam terasa lebih seksi kala suhu sedang meregang nyawa menjemput titik bawah. Mungkin karena saat itu, kita benar – benar merasa kesepian dan merasakan bahwa Tuhan sengaja menciptakan malam agar ada hati dan orang – orang yang kita rindukan, agar Tuhan terasa lebih dekat dalam kelamnya malam dan api sebagai salah satu keajaiban yang terasa seksi di mataku (P.S. Tampaknya aku ada bakat menjadi arsonis ^_^).
Omongan tanpa arah ini tampaknya harus segera kujelaskan dengan lebih gamblang sebelum anda yang membaca segera mengganti tampilan tulisan ini dengan tampilan lain yang lebih variatif dan hidup plus jelas. Karena sedari tadi kukatakan bahwa ini hanyalah salah satu edisi mimpiku maka anggap saja seperti biasanya, aku hanya seorang pemimpi yang tersesat dalam labirin realita dan sedang berusaha menuliskan dengan runut walau masih tak mampu.
Impianku akhir – akhir ini hanyalah mempunyai sebuah kedai minuman hangat dan makanan kecil dengan unsur Papua yang kental walau tak menafikan bahwa ada rempah – rempah dan elemen budaya lain yang akan kucampurkan dan tentu saja dengan sebuah tampilan suasana yang bisa menjadi tempat menonton hujan dengan seksi. Sebuah tempat yang sebenarnya kurancang hanya untuk orang – orang sepertiku yang senang menonton tarian hujan sambil membaca ataupun browsing ditemani musik lembut bernuansa hujan ataupun alam ataupun sekedar ngobrol dan menulis. Sejenis sanctuary atau tempat perlindungan dari hujan.
Rumah minuman hangat dan makanan kecil ini akan kuberi nama “My Mos” yang secara literal berarti ‘hujanku = sa pu hujan = my rain’. Sebenarnya karena nama panggilanku berbunyi mirip dengan ‘My’ dan juga karena dalam bahasa suku mamaku, kata ‘air’ kerap disebut ‘Mei’. Sedangkan kata ‘Mos’ berarti ‘Hujan’ dalam bahasa yang sama. Selain itu, aku suka lafal ‘Mos’ yang sama dengan kata ‘Moss’ dalam bahasa Inggris yang artinya ‘lumut’. Sehingga semua kata rujukannya bermakna ‘basah, air, lembab’. Belum lagi ditambah dengan lafal keseluruhan dari “My Mos” yang sangat mirip dengan pengucapan “air yang ada di pagi hari” tetapi kerap kuterjemahkan menjadi ‘hujan pagi’ dalam bahasa yang sama.
Aku membayangkan saat masuk ke dalam kedai ini di tengah hujan deras dan disambut pelayan yang berbicara dengan Melayu Papua (walau akan kulatih berbahasa Inggris dasar untuk pelayanan) menawarkan tempat menaruh payung dalam bak – bak kayu kotak beralas plastik berdasar kulit kerang kering dan biji – bijian liar tepi pantai yang tergeletak di sudut – sudut pintu masuk kedai. Pelayan di kedai ini rata – rata adalah anak – anak Papua putus sekolah yang dilatih untuk bekerja dalam industry hospitality seperti ini. Kuperhatikan pelayan perempuan berambut anyaman corn rows berpola unik mengatur payung – payung di kotak kayu. Selain itu kedai ini dilengkapi dengan rak titipan buatan sendiri dari bilah – bilah bambu belah ibarat lantai rumah yang dipernis rapi guna meletakan jaket ataupun helm pengunjung. Pelayan ini tak lupa menawarkan informasi bila ingin membasuh rambut yang basah dengan handuk kecil di kamar kecil ataupun sekedar membasuh kaki.
Kulangkahkan kakiku masuk dan disambut dengan aroma harum potpourri ataupun aroma minyak esensial khususnya kopi dari tungku – tungku bakar kecil di beberapa pojok ruangan. Kadang – kadang tempat ini juga menyajikan aroma kasbi bakar ataupun seduhan kopi kental sebagai arang pengganti aromaterapi esensial. Ditambah lagi ditemani musik bersuasana hujan ataupun alam, ataupun aliran air plus lagu Papua. Yang pasti, lagu berbahasa Biak “Kobesise Sisye Kwaro” ataupun sejenis “nyanyian Sunyi” dan ‘Mambo simbo’ pasti ada. Kulihat meja kayu yang dibentuk ibarat peti kemas sisa pengepak sayuran yang sudah dipoles, tergetak manis di atas lantai berubin kasar kedai berwarna gelap ditemani kursi taman bersandar untuk satu orang dengan dudukan lembut. Mejanya dirancang dengan sebuah stop kontak di bawah supaya mereka yang ingin browsing tak harus repot kebingungan kala mencari pasokan daya, apalagi tiap menu minuman dan makanan dilengkapi voucher gratis Wi-fi selama 30 menit dan dapat diperpanjang dengan membeli kupon voucher wi-fi seperti di warnet tetapi tentu saja dengan tambahan harga kenyamanan.
Mataku tak luput pula memandang sudut pojokan kedai yang dibatasi oleh pintu kaca dan langsung bersinggungan dengan udara luar yang diperuntukan bagi para perokok. Ruangan pojok itu dipenuhi dengan beberapa tanaman hijau dan dinding penuh tanaman rambatan dengan gantungan lucu bertuliskan, “ooops, sa hosa … uhuk … uhuk!!!”.
Kulihat lagi beberapa pengunjung lain masuk dan memilih duduk di kursi – kursi sofa nyaman bermotif batik Papua dilengkapi meja kopi rendah di sudut lain ditemani pilahan bacaan dari sebuah rak kecil berisi majalah gaya hidup hingga kesehatan. Lampunya yang sedikit terang dibanding di bagian meja peta kemas yang bernuasa hangat membuatku teringat beberapa kafe baca yang pernah kusinggahi. Semua meja yang kemungkinan diisi pengunjung mempunyai stop kontak listrik. Tentu saja hal ini terinspirasi dari meja belajar di kampus ANU jaman kuliah dulu.
Pelan - pelan kutilik daftar menu minuman dan makanan kecil yang terlipat rapi seperti buku agenda kecil bermantel cokelat bertuliskan nama – nama menu dan deskripsinya yang membawa kenangan Papuaku membelah diri dalam piranti otak. Menu kedai ini mungkin hanya menu biasa – biasa saja yang tercuri dari beberapa kenangan masa kecil, masa remaja dan juga pengalaman ‘ukur jalanku’ yang belum seberapa. Apalagi kedai ini dengan bangganya mengaku bahwa 75% dari bahan baku makanan di kedai ini datang dari petani lokal plus dari hasil kebun pemberdayaan kelompok tani perempuan di kota ini dan daerah sekitarnya. Sekali lagi kulirik daftar menu dengan nama – nama yang membuatku mengenang beberapa keping memori yang pernah kental dan lengket, seperti:
Ketumbar (Keladi Tumbu Bakar) – mengingatkanku akan Keladi Tumbu buatan mamanya Mia apalagi yang kusukai adalah yang beraroma sedikit gosong, sangat khas di hidungku. Apalagi ‘Ketumbar’ ini punya banyak varian rasa. Mulai dari yang standar seperti santan. Ada juga yang gula aren, mentega, keju, cacahan kacang tanah, kenari hingga coklat chip. Bahkan kulirik meja seorang pengunjung di sebelahku yang menyantap ‘keladi tumbu’ dengan lumuran coklat cair berbentuk bintang. Jangan heran, di kedai ini, keladi tumbunya dikemas kecil seukuran kaset tape recorder, berbentuk bendera bergaris – garis dengan cap bintang yang dominan, apalagi variannya ditentukan dari topping bendera tersebut, entah keju, kacang atau yang lainnya.
Split Taro – alias keladi PNG yang dibelah dan dikukus dengan isian gula ataupun kelapa berkaramel ditemani dengan parutan kelapa mengkal bercampur sedikit garam. Apalagi keladi ini direbus dengan daun pandan.
KashMeer – Tentu saja ini bukan makanan dari dataran India utara yang mempunyai basis pemberontak, tetapi hanyalah rebusan singkong hangat dengan saus buah merah kukus. Karena singkong disebut ‘kasbi’ di lidah Melayu Papuaku dan mengingatkanku pada pengalaman bersentuhan dengan buah pandan ini hampir dua puluh tahun silam dalam kunjungan menginap di rumah kerabat di daerah Jin Buang Anak, maka kuberi nama ‘KASbi saus buah MERah’. Santapan ini pun berbentuk sama dengan ‘Ketumbar’, yang tentu saja penuh dengan kandungan karbohidrat dan antioksidan dan tentu saja kadar beta-karoten yang tak diragukan lagi.
Sagoo– alias sagu forno dan ditemani dengan saudara – saudaranya dengan banyak varian rasa, mulai dari yang dibakar dan dicampur dengan kelapa dan kacang hingga yang diletakan dalam ikatan daun kakao ataupun bilah bambu dan dibakar. Ataupun yang cukup eksotis dari kedai ini; sagu buah hitam dari daerah teluk Saireri.
Popsi (Puding Petatas Seksi) – puding agar – agar yang dicampur dengan kukusan petatas dan karamel dalam wadah cetakan ice tray berbentuk perempuan seksi berbikini. Puding ini kadang – kadang divariasikan dengan puding labu ataupun puding tape.
Sukses (Sukun Seksi Sekali) – cacahan kukusan sukun yang digulung dalam kulit dadar dan diberi campuran ikan asar tumis pedas dengan saus sambal cair yang disajikan dalam wadah terpisah.
Pisang Rebus – ditemani dengan berbagai macam saus dampingan. Apalagi spesialis kedai ini adalah pisang tanduk khas pegunungan Arfak.
Kolak – Mulai dari kolak kasbi, keladi, pisang maupun olahan sagu.
Menu – menu diatas dapat pula ditemani dengan hidangan side-dish seperti sepiring kecil ikan asar tumis pedis, bunga papaya dan kangkung tumis pedis yang diisi dalam kulit dadar ataupun irisan kombrof asar (gurita asap) dan bia kering.
Tak lupa beberapa penganan yang jarang kumakan beberapa tahun ini pun hadir juga, sebut saja bila anda tertarik dengan KELAPA BAKAR, KASBI KABAR, KELADI BAKAR, PISANG BAKAR, dengan varian saus yang berbeda, mulai dari sambal hingga saus panggang dan saus buah merah. Selain itu, Tak lupa pula adanya sinole dengan berbagai varian rasa ditambah penganan khas Indonesia Timur lainnya seperti kue serut dan bagea dari Maluku. Ooops, aku bahkan hampir melewatkan acara mengintipku kalau tak menyebutkan adanya swami, dan ambal (sejenis olahan singkong yang dibakar seperti sagu forno dengan isian kelapa karamel). Bagi yang ingin mendapat olahan inipun dapat membeli di outlet take-away untuk dibawa pulang khususnya untuk penganan kering kedai kami.
Bila sambil nongkrong anda ingin merasakan asinan, jangan pernah lupakan porsi kecil kemasan kecil RICA GARAM dengan pilihan buah seperti GIAWAS, MANGGA, TOMI – TOMI, LONGGA – LONGGA, KEDONDONG, PEPAYA, MENGKUDU dan LEMON CINA.
Kedai ini pun menyajikan minuman yang rata – rata hangat dan panas mengingat kondisi cuaca Manokwari yang seperti Melbourne di Australia alias tak stabil dan kerap berganti sesuka hati. Minumannya memang berkisar hanya pada 4 jenis. Mulai dari aneka kopi, teh, cokelat, susu, sari buah maupun minuman tradisional yang dikemas khusus (baca: air wati, seperti kava dari Fiji). Kalau kopi, kedai ini tak terlalu mengusahakan yang mahal dan tak mau yang terlalu western’s style walau kuakui aku pernah menjadi salah seorang penikmat kopi a la barat dengan gaya cupping yang khas dan kerap mengecengi barista keren di kafe. Tapi untuk kopi mungkin aku tetap suka gaya tradisional yang tak ada espresso dan granula topping segala macam yang ditambahkan, walau penyajiannya akan tetap elegan. Bagaimanapun mungkin Kopi Toraja dan produksi lokal dari Pegunungan Tengah Papua akan kupilih. Selain itu, mungkin karena 6 tahun lalu aku jatuh cinta pada kopi Arab yang kaya rempah, aku ingin akan ada racikan kopi rempah khusus yang disajikan di kedai ini. Karna aku keturunan Arfak, aku berpikir untuk meracik kopi rempah dengan tambahan kikisan kulit kayu Akuai yang khusus disajikan untuk kaum lelaki, apalagi sangat cocok bagi cuaca dingin.
Teh mungkin salah satu hal yang mulai kusuka 2 tahun belakangan ini, walau aku tahu tak mungkin punya rumah teh lengkap seperti di Canberra misalnya seperti yang kulihat di “Chai Tea House”. Tapi apapun teh yang disajikan kelak, akan ada teh rempah hangat pengiring acara ngobrol. Entah teh kental bercampur gula aren dan kayu manis, teh gado – gado yang pernah kubuat pengusir dingin kala di Canberra yang berisi racikan bumbu dari lemari semisal jahe, pala, dan cengkeh. Teh lemon sudah pasti ada di dalam menu yang disajikan. Bahkan bila ada yang menyukai teh susu a la gaya Inggris (aku terbiasa akhirnya karena acara Arvo tea yang kerap kuikuti dengan para oma tetangga) pasti akan disajikan *pada bagian ini aku tersenyum – senyum mengingat bagaimana teh susu pesanan Ellen dan Vivie yang susu cairnya di teko kecil kerap kuembat abis di Pajenka’s. Tentu saja seperti Kopi, Teh Akuai sudah jelas akan ada hehehe.
Susu, cokelat panas dan sari buah khususnya yang hangat mungkin hanya pelengkap saja. Tentu saja ditambah lagi dengan sajian minuman tradisional seperti air wati atau kava dengan dosis rendah.
Sambil menikmati lagi segelas tes kayu manis yang kupesan dengan seiris KashMeer dan mendaratkan tubuhku di kursi kayu, tiba – tiba alarm ponselku berbunyi … dan BUYAR SUDAH IMPIAN TINGKAT TINGGI ini apalagi kepala makin pusing usai dampak minum kopi tadi sore wkwkwkww.
I’ll make this kedai someday!!!! *dalam-mimpi-statement
(Manokwari, 230611)
Doa lepas
Malam ini saat sedang sibuk menerjemahkan bagian kedua sebuah buku doa, khususnya sejak di bagian visi dan tentang nyanyian Tuhan, tiba – tiba aku mendapat sebuah panggilan untuk berdoa. Panggilan malam ini sedikit mendadak di tengah – tengah kerjaan.
Doa malam ini seperti biasanya dimulai dengan panggilan untuk menyembah Tuhan dengan nyanyian yang muncul begitu saja di hati dengan lirik yang sama. Maksudku aku punya kesulitan menghafal lirik tetapi anehnya setiap berdoa memang jarang sekali bisa menyanyikan lagu yang sudah tertulis atau dibukukan ataupun yang lagi ngetren sebagai lagu rohani. Umumnya lagu yang muncul adalah lagu yang melodi dan liriknya ada di kepala yang muncul ibarat sedang membaca teleprompter a la pembaca berita. Untuk alasan inilah sekarang aku lagi giat belajar main gitar agar dapat mengiringi dan mendokumentasikan lagu – lagu tersebut =) karena yang sering terjadi adalah usai penyembahan, aku pun melupakan apa yang tadi kunyanyikan dan bagaimana lirik dan nadanya.
Doa malam ini awalnya kuingin mendoakan kebutuhanku tetapi yang dinyatakan Tuhan adalah mendoakan beberapa pokok doa, dari yang urusannya Tuhan sampai urusan sesama. Urusan sesama malam ini yang harus didoakan adalah mulai dari janda – janda miskin yang malam ini sedang menemui kesulitan keuangan untuk sekolah anak mereka, untuk janda – janda yang ingin berzinah, untuk mama – mama yang mengalami KDRT, untuk perempuan – perempuan yang malam ini menjajakan tubuh mereka, yang berniat aborsi. Juga untuk staf rumah sakit yang malam ini bekerja, untuk orang – orang yang malam ini sedang berencana membunuh orang, untuk para tukang ojek yang sedang bekerja ganda sebagai informan yang mendatangkan ketidaksejahteraan untuk orang lain, untuk orang yang sedang terpenjara dan juga untuk orang – orang yang malam ini sedang berencana mengikatkan ataupun mempraktekan okultisme ataupun sihir.
Urusan Tuhan malam ini pun penuh dengan doa peperangan khususnya mendoakan areal tempat tinggal saya, dari kompleks, kota hingga tanah Papua. Isinya sama seperti doa yang sering saya naikan yaitu minta agar Tuhan mengalahkan tiap Roh penjaga kota yang mengikat orang agar berdosa. Malam ini sambil berdoa suasana kamar memang serasa tiba – tiba dingin dan merasakan bagaimana aliran dingin berjalan dan menyentuh apalagi saat berulang kali mengatakan dan menyatakan bahwa semua roh dan manusia tunduk di bawah kuasa Yesus.
Saat berdoa bagi kesejahteraan dan lawatan Allah atas Manokwari dan tanah Papua juga agar banyak orang mengenal Yesus, tiba- tiba di dalam doa, aku di bawah seperti menuju lautan dan berdoa untuk lautan di sekeliling Manokwari. Berdoa agar pertemuan roh – roh jahat malam ini di lautan semuanya dikalahkan dan dihancurkan oleh Yesus. Dalam doa pun aku dipimpin untuk mendoakan dan menyatakan bahwa malam ini kekuatan surga turun 100% berperang dengan roh jahat untuk kemuliaan Allah dan malam ini dalam doa berulang kali mulutku mengucap bahwa Iblis kalah di bawah kaki Yesus. Jujur saat berdoa peperangan ini rasanya ada sedikit mau lari dari kamar karena suasana kamar yang tiba – tiba terasa dingin dengan aliran udara dan rasa bulu kuduk yang mulai terasa lain. Tetapi Puji Tuhan, ada suara di hati yang menguatkan dan menenangkan.
Usai berdoa, tiba – tiba diingatkan lagi untuk berdoa pendek untuk pemulihan kaka di Jayapura agar bisa menerima Yesus secara pribadi dan tiba – tiba seakan aku bisa melihat apa yang sedang kaka lakukan dan di dalam apa yang kulihat, aku melihat kaka membaca dari Yeremia 11: 5. Tak menunggu lama, usai berdoa, kukirim sebuah SMS kepada kaka hanya untuk bilang kalau ia punya waktu agar membaca Alkitab dalam pembacaan yang kumaksud.
Aku dan kaka memang sudah tak ada hubungan apa – apa, tetapi dua hari ini aku mengingatnya dan berharap ia baik – baik saja. Apalagi hampir dua minggu lalu ia sempat mengirimkan pesan yang menyatakan rindu namun tak kutanggapi dan kujawab jujur kalau aku tak merindukannya lagi. Yang pasti, aku akan tetap mengingat dia dalam doaku. Bagaimanapun aku pernah sangat mencintainya.
Cinta mungkin hal yang saat ini sedang hilang dari hatiku, maksudnya cinta yang bersifat eros. Entahlah … tak hanya ingin membangun sebuah hubungan yang jelas dulu. Masih terasa sedikit ragu untuk memulai lagi, untuk terikat pada sebuah hubungan dengan label jelas sebagai kekasih.
Saat ini yang aku rasakan adalah aku dikelilingi oleh banyak orang hebat yang mengasihiku sebagai saudara dan teman dan bagiku itu lebih dari cukup.
Aku bersyukur mempunyai inner circle yang cukup mendukung mimpi dan impianku. Mulai dari kak Mo yang sangat sevisi denganku dan percaya dan mendukung impianku dan menjadi seperti saudara lelakiku yang sangat mendukung. Juga Miss M yang sahabatku sejak sebelum TK, juga El adiknya M, dan juga double R yang keduanya adalah tempat berbagi jarak jauh. Belum ditambah lagi dengan lingkar 2 dan 3 inner circleku khususnya anana pondok yang suka mendengarku curhat.
Satu yang pasti, aku bersyukur dengan apapun yang terjadi pada hidupku dan bagiku, seperti yang kutuliskan di status FBku, “Akhirnya … hidup hanya perlu DIJALANI dan bukannya DIANALISA!!!”.
(Manokwari, 220611)
Doa malam ini seperti biasanya dimulai dengan panggilan untuk menyembah Tuhan dengan nyanyian yang muncul begitu saja di hati dengan lirik yang sama. Maksudku aku punya kesulitan menghafal lirik tetapi anehnya setiap berdoa memang jarang sekali bisa menyanyikan lagu yang sudah tertulis atau dibukukan ataupun yang lagi ngetren sebagai lagu rohani. Umumnya lagu yang muncul adalah lagu yang melodi dan liriknya ada di kepala yang muncul ibarat sedang membaca teleprompter a la pembaca berita. Untuk alasan inilah sekarang aku lagi giat belajar main gitar agar dapat mengiringi dan mendokumentasikan lagu – lagu tersebut =) karena yang sering terjadi adalah usai penyembahan, aku pun melupakan apa yang tadi kunyanyikan dan bagaimana lirik dan nadanya.
Doa malam ini awalnya kuingin mendoakan kebutuhanku tetapi yang dinyatakan Tuhan adalah mendoakan beberapa pokok doa, dari yang urusannya Tuhan sampai urusan sesama. Urusan sesama malam ini yang harus didoakan adalah mulai dari janda – janda miskin yang malam ini sedang menemui kesulitan keuangan untuk sekolah anak mereka, untuk janda – janda yang ingin berzinah, untuk mama – mama yang mengalami KDRT, untuk perempuan – perempuan yang malam ini menjajakan tubuh mereka, yang berniat aborsi. Juga untuk staf rumah sakit yang malam ini bekerja, untuk orang – orang yang malam ini sedang berencana membunuh orang, untuk para tukang ojek yang sedang bekerja ganda sebagai informan yang mendatangkan ketidaksejahteraan untuk orang lain, untuk orang yang sedang terpenjara dan juga untuk orang – orang yang malam ini sedang berencana mengikatkan ataupun mempraktekan okultisme ataupun sihir.
Urusan Tuhan malam ini pun penuh dengan doa peperangan khususnya mendoakan areal tempat tinggal saya, dari kompleks, kota hingga tanah Papua. Isinya sama seperti doa yang sering saya naikan yaitu minta agar Tuhan mengalahkan tiap Roh penjaga kota yang mengikat orang agar berdosa. Malam ini sambil berdoa suasana kamar memang serasa tiba – tiba dingin dan merasakan bagaimana aliran dingin berjalan dan menyentuh apalagi saat berulang kali mengatakan dan menyatakan bahwa semua roh dan manusia tunduk di bawah kuasa Yesus.
Saat berdoa bagi kesejahteraan dan lawatan Allah atas Manokwari dan tanah Papua juga agar banyak orang mengenal Yesus, tiba- tiba di dalam doa, aku di bawah seperti menuju lautan dan berdoa untuk lautan di sekeliling Manokwari. Berdoa agar pertemuan roh – roh jahat malam ini di lautan semuanya dikalahkan dan dihancurkan oleh Yesus. Dalam doa pun aku dipimpin untuk mendoakan dan menyatakan bahwa malam ini kekuatan surga turun 100% berperang dengan roh jahat untuk kemuliaan Allah dan malam ini dalam doa berulang kali mulutku mengucap bahwa Iblis kalah di bawah kaki Yesus. Jujur saat berdoa peperangan ini rasanya ada sedikit mau lari dari kamar karena suasana kamar yang tiba – tiba terasa dingin dengan aliran udara dan rasa bulu kuduk yang mulai terasa lain. Tetapi Puji Tuhan, ada suara di hati yang menguatkan dan menenangkan.
Usai berdoa, tiba – tiba diingatkan lagi untuk berdoa pendek untuk pemulihan kaka di Jayapura agar bisa menerima Yesus secara pribadi dan tiba – tiba seakan aku bisa melihat apa yang sedang kaka lakukan dan di dalam apa yang kulihat, aku melihat kaka membaca dari Yeremia 11: 5. Tak menunggu lama, usai berdoa, kukirim sebuah SMS kepada kaka hanya untuk bilang kalau ia punya waktu agar membaca Alkitab dalam pembacaan yang kumaksud.
Aku dan kaka memang sudah tak ada hubungan apa – apa, tetapi dua hari ini aku mengingatnya dan berharap ia baik – baik saja. Apalagi hampir dua minggu lalu ia sempat mengirimkan pesan yang menyatakan rindu namun tak kutanggapi dan kujawab jujur kalau aku tak merindukannya lagi. Yang pasti, aku akan tetap mengingat dia dalam doaku. Bagaimanapun aku pernah sangat mencintainya.
Cinta mungkin hal yang saat ini sedang hilang dari hatiku, maksudnya cinta yang bersifat eros. Entahlah … tak hanya ingin membangun sebuah hubungan yang jelas dulu. Masih terasa sedikit ragu untuk memulai lagi, untuk terikat pada sebuah hubungan dengan label jelas sebagai kekasih.
Saat ini yang aku rasakan adalah aku dikelilingi oleh banyak orang hebat yang mengasihiku sebagai saudara dan teman dan bagiku itu lebih dari cukup.
Aku bersyukur mempunyai inner circle yang cukup mendukung mimpi dan impianku. Mulai dari kak Mo yang sangat sevisi denganku dan percaya dan mendukung impianku dan menjadi seperti saudara lelakiku yang sangat mendukung. Juga Miss M yang sahabatku sejak sebelum TK, juga El adiknya M, dan juga double R yang keduanya adalah tempat berbagi jarak jauh. Belum ditambah lagi dengan lingkar 2 dan 3 inner circleku khususnya anana pondok yang suka mendengarku curhat.
Satu yang pasti, aku bersyukur dengan apapun yang terjadi pada hidupku dan bagiku, seperti yang kutuliskan di status FBku, “Akhirnya … hidup hanya perlu DIJALANI dan bukannya DIANALISA!!!”.
(Manokwari, 220611)
Friday, 17 June 2011
Alergi dan urusan lidah
Sudah hampir sebulan ada ‘revolusi makan’ di rumahku. Bukan karena ada sebuah hajatan ataupun sebuah ritual. Semuanya kembali ke perintah dokter untuk mama yang positif kadar gulanya cukup tinggi dan harus menjalankan diet karbo ketat. Perintah dokter ini ibarat sebuah jalan keluar dari koar – koar yang selama ini kudengungkan di rumah tentang pembatasan konsumsi beras sebagai makanan pokok. Bukannya apa, karena banyaknya artikel kesehatan terkait kandungan karbohidrat dan efek samping mengonsumsi nasi dalam jangka waktu lama yang kubaca plus pola makanku sewaktu kuliah dulu di Australia, lambungku jadi sedikit terganggu bila harus mengonsumsi nasi selama 7 hari seminggu. Aku melihat sakitnya mama sebagai sebuah gebrakan nyata dari apa yang selama ini kudengungkan di rumah; berganti pola makan alias ‘you are what you eat’.
Panggil saja aku cerewet bila berkaitan dengan urusan makan. Mungkin termasuk cerewet. Itulah sebabnya aku tak pernah dipekerjakan sebagai tim urusan masak – memasak di rumah. Seleraku sering ‘tak konek’ dengan selera orang rumah, mulai dari urusan garam hingga makanan pokok. Aku bersyukur, koar – koarku ternyata menular pada 2 keponakanku (Jessi dan Monia), lantaran mereka juga sedikit sensitif pada makanan. Dua makhluk kecil ini juga suka makan makanan pokok non-nasi apalagi keladi dan papeda; produk olahan sagu. Adik lelakiku malah lebih ketat aturan makannya, mungkin karena seorang balita kecilnya itu alergi pada beberapa jenis makanan. Jessi dan Monia ternyata menderita alergi turunan dari kedua orangtuanya yaitu tubuh mereka intoleran pada produk turunan kakao alias cokelat, MSG, dan bahan pengawet baik perasa, pewarna dan bahan tambahan. Alergi mereka terdeteksi karena beberapa bulan lalu semua jari kaki dan tangan bahkan daerah wajah Jessi luka bernanah berupa bisul dan bernanah dan sangat mengganggu aktivitasnya. Orang tuanya menghentikan konsumsi telur, susu, dan protein tinggi tapi hasilnya tetap sama. Kunjungan ke dokter anak tak berhasil hingga pergi ke spesialis dokter kulit. Dokter spesialis kulit pertama kali bertemu adik lelaki dan iparku hanya punya satu pertanyaan inti: ‘”Bapak ibu punya riwayat alergi yang berkaitan dengan pernafasan ya, misalnya bersin berkali – kali?”. Pertanyaan yang sempat membuat adikku terheran – heran karena ia membawa putri kecilnya dengan banyak luka di tubuhnya.
Rujuk punya rujuk ternyata karena adik lelakiku punya alergi debu, sama sepertiku walau reaksinya cukup berbeda (ia pasti bersin berkali – kali, sedang aku pasti langsung merasa sedikit sesak dan lapisan dalam hidungku terasa panas tingkat tinggi), dan istrinya punya riwayat keluarga dengan sakit asma, sehingga faktor – faktor ini semuanya menyatu di tubuh si Jessi. Selain diberi obat, pesan dokter cuma satu, katanya si Jessi pantang makanan berpengawet, mengonsumsi cokelat dan juga MSG plus itu aturan seumur hidup karena masalahnya memang ada di dalam tubuhnya sendiri. Hasilnya memang sangat signifikan. obat selesai dan kurang dari seminggu semua luka sembuh dan kering.
Rupanya adikku masih penasaran menguji reaksi Jessi pada makanan sebagaimana saran dokter bila memang masih ingin dibuktikan lebih lanjut. Selang dua atau tiga minggu setelah sembuh, selama seminggu kalau tak salah, adikku membiarkan anaknya mengonsumsi camilan dan snack khas anak – anak, cokelat dan lain – lain. Voila …. Sakitnya kumat lagi dengan bentuk yang sama. Namun kali ini kedua orangtuanya sudah paham lebih baik sehingga pengobatannya lebih cepat.
Makan dan minum memang hal yang menjadi salah satu ciri kita sebagai makhluk hidup. Tapi aku percaya kita harus lebih bijak melihat apa yang kita konsumsi. Karena bagaimanapun tubuh kita terbangun dari apa yang kita konsumsi dan kita hanya punya satu tubuh, bukan? Kecuali kalau memang sudah ada bagian – bagin tubuh yang benar – benar pas dan dijual bebas dan murah di toko sekitar rumah. Mungkin sekali lagi aku cerewet untuk urusan ‘konsumsi’ karena bagaimanapun aku bisa jadi contoh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan urusan ‘makan dan minum’ adalah hal utama yang mempengaruhi kesehatanku.
Anda beruntung bila pada saat membaca catatan ini tak punya masalah dengan sistem kekebalan atau tubuh anda. Artinya … anda salah satu orang yang beruntung dan diberkati ‘n anda patut bersyukur pada Tuhan untuk hal ini. Contohnya seperti diriku yang punya sejenis penyakit auto-immune disease alias sistem kekebalan tubuhku sendiri menyerang jaringan tubuhku dan ternyata baru kuketahui kala berkuliah dulu di Australia. Ada beberapa hal yang harus kujaga antara lain berat badanku harus stabil karena bila melebihi berat badan ideal maka tekanan pada sendi – sendi gerakku akan bermasalah. Salah satu solusinya adalah wajib menjaga makanan apa yang masuk dalam tubuhku.
Masalahnya semakin kompleks kala tiap makanan yang masuk kadang harus kuperhitungkan dengan berbagai jenis penyakit yang ada dan kadang menderaku BILA AKU TAK DISIPLIN dengan apa yang kumakan, kuminum dan kulakukan. Dulu aku bahkan pernah bilang pada Tuhan kalau kondisiku itu tak adil karena tak bisa mengonsumsi apapun yang kuinginkan karena pasti ada saja dampaknya dalam tubuhku. Tapi seiring dengan waktu, lama – lama aku terbiasa untuk menerima hal ini dan memilih untuk bersyukur dengan kondisi ini. Karena bagaimanapun reaksi makanan atau minuman yang tak boleh kukonsumsi lebih membuatku sakit. Makin lama yang aku tahu aku makin paham cara kerja tubuhku dan bagaimana hidup dengan tubuh yang intoleran.
Karena bergolongan darah A, aku jadi paham bahwa aku memang cocok dengan mengonsumsi sesuatu yang mudah dicerna dan memang cocok jadi vegetarian dan memang tak bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan protein tertentu misalnya pada Lektin. Produk daging merah khususnya daging sapi dan kambing adalah salah satu makanan yang sangat kuhindari. Kukonsumsi pun mungkin sebulan sekali ataupun sekali dalam 6 minggu, itu pun dengan porsi sangat kecil. Dulu aku kerap makan daging sapi dan dampaknya benar – benar membuatku takut. Otot – otot bagian belakang kepala bisa tiba – tiba tegang dan mulutku tak bisa digerakan. Dulu sewaktu kuliah, terpaksa kukonsumsi ketimun guna menetralisir, tetapi serangan terakhir kala di Lijiang, Yunnan pada Desember 2010 kemarin benar – benar membuatku sadar bahwa aku harus disiplin. Jadi, kebutuhan proteinku terpenuhi paling banyak dari ikan khususnya ikan laut dan lele, produk seafood, produk turunan kedelai dan daging babi dan anjing. Tapi jangan salah, untuk ikan yang kukonsumsi pun tak bisa untuk jenis cakalang dan ikan yang tak segar, karna dulu aku pernah setahun berhenti makan ikan karena reaksiku sama dengan yang dialami Jessi tiap kali makan ikan cakalang.
Memang masih banyak alternatif untuk pemenuhan protein tapi ada banyak juga yang tak kusukai. Telur bukan pilihan favoritku karena lambungku terasa penuh dan tak nyaman tiap kali mengonsumsi telur. Daging ayam memang dapat kujangkau tapi toh aku tak terlalu suka. Begitu pula daging domba, kelelawar, kangguru dan lau – lau, karena aku tak suka daging yang beraroma. Aku punya masalah dengan penciuman alias hidungku sedikit sensitif (itulah alasan kadang aku hanya sekedarnya memakai produk pewangi karena tak tahan dan cepat pusing bila mencium aroma wewangian terlalu lama).
Aku juga intoleran pada produk – produk kacang tanah, cashew, macadamia, almond dan jenis kacang lainnya. Efeknya memang tak separah bila mengonsumsi daging merah tapi jerawat tetap menjadi hal tak menyenangkan di usia menjelang 28 tahun. Tiap kali mengonsumsi produk bermuatan kacang, yang ada tak sampai seminggu, radang sebum menggempur wajah dan punggungku. Makanya jangan heran sewaktu dulu tinggal di Australia, aku yang memang tak cocok dengan udara kering plus menikmati surga berbagai jenis cokelat kacang, benar – benar panen jerawat karena ketidakdisiplinan makan.
Urusan minuman pun cukup jelas. Aku intoleran pada kafein alias zat yang terkandung pada kopi. Urusan ini baru saja kudapat tahun 2009 kala di Australia. Dulu aku pecandu kopi sewaktu kuliah S1, guna penyemangat belajar. Sempat berhenti dua tahunan dan saat kembali lagi, yang terjadi aku langsung mengontrak penyakit baru yang namanya “reflux oseafagitis”, alias ‘kakaknya’ si gastritis alias maag. Efeknya jangan tanya, sudah mirip dengan serangan jantung awal, dengan nyeri di dada dan tak bisa bernapas sampai terpaksa x-ray 4 kali dan cek patologi. E rupanya karena tubuhku tak tahan lagi. Mana obatnya agak mahal (iyalah, di Canberra saja dulu, 30 butir harganya sudah AUD $ 73) dan harus kukonsumsi selama 2 minggu bila serangan parah. Tapi kadang aku masih agak bandel, contohnya untuk mengatasi ‘moody’ku, kuhirup kopi kemarin pagi yang efeknya sampai sekarang benar – benar kayak lagi sakau dan tak nyaman dan napas yang agak terasa sulit.
Anyway, ini masih larangan makan dan minum yang sering kualami belum lagi dengan larangan – larangan lainnya yang mungkin akan kutuliskan lagi, bila ada waktu.
TAPI apapun yang terjadi pada tubuh dan kesehatanku, aku selalu melihat bagaimana Allah menjagaku dan tak pernah membiarkanku sampai mati walau penderitaan fisik khususnya nyeri dan segala hal yang menyiksa pernah kualami.
Hidup itu indah, tergantung bagaimana kita melihatnya, dan hari ini aku ingin memakai kacamata yang dipakai Tuhan.
(Manokwari, 170611; saat hujan turun dan merenung)
Panggil saja aku cerewet bila berkaitan dengan urusan makan. Mungkin termasuk cerewet. Itulah sebabnya aku tak pernah dipekerjakan sebagai tim urusan masak – memasak di rumah. Seleraku sering ‘tak konek’ dengan selera orang rumah, mulai dari urusan garam hingga makanan pokok. Aku bersyukur, koar – koarku ternyata menular pada 2 keponakanku (Jessi dan Monia), lantaran mereka juga sedikit sensitif pada makanan. Dua makhluk kecil ini juga suka makan makanan pokok non-nasi apalagi keladi dan papeda; produk olahan sagu. Adik lelakiku malah lebih ketat aturan makannya, mungkin karena seorang balita kecilnya itu alergi pada beberapa jenis makanan. Jessi dan Monia ternyata menderita alergi turunan dari kedua orangtuanya yaitu tubuh mereka intoleran pada produk turunan kakao alias cokelat, MSG, dan bahan pengawet baik perasa, pewarna dan bahan tambahan. Alergi mereka terdeteksi karena beberapa bulan lalu semua jari kaki dan tangan bahkan daerah wajah Jessi luka bernanah berupa bisul dan bernanah dan sangat mengganggu aktivitasnya. Orang tuanya menghentikan konsumsi telur, susu, dan protein tinggi tapi hasilnya tetap sama. Kunjungan ke dokter anak tak berhasil hingga pergi ke spesialis dokter kulit. Dokter spesialis kulit pertama kali bertemu adik lelaki dan iparku hanya punya satu pertanyaan inti: ‘”Bapak ibu punya riwayat alergi yang berkaitan dengan pernafasan ya, misalnya bersin berkali – kali?”. Pertanyaan yang sempat membuat adikku terheran – heran karena ia membawa putri kecilnya dengan banyak luka di tubuhnya.
Rujuk punya rujuk ternyata karena adik lelakiku punya alergi debu, sama sepertiku walau reaksinya cukup berbeda (ia pasti bersin berkali – kali, sedang aku pasti langsung merasa sedikit sesak dan lapisan dalam hidungku terasa panas tingkat tinggi), dan istrinya punya riwayat keluarga dengan sakit asma, sehingga faktor – faktor ini semuanya menyatu di tubuh si Jessi. Selain diberi obat, pesan dokter cuma satu, katanya si Jessi pantang makanan berpengawet, mengonsumsi cokelat dan juga MSG plus itu aturan seumur hidup karena masalahnya memang ada di dalam tubuhnya sendiri. Hasilnya memang sangat signifikan. obat selesai dan kurang dari seminggu semua luka sembuh dan kering.
Rupanya adikku masih penasaran menguji reaksi Jessi pada makanan sebagaimana saran dokter bila memang masih ingin dibuktikan lebih lanjut. Selang dua atau tiga minggu setelah sembuh, selama seminggu kalau tak salah, adikku membiarkan anaknya mengonsumsi camilan dan snack khas anak – anak, cokelat dan lain – lain. Voila …. Sakitnya kumat lagi dengan bentuk yang sama. Namun kali ini kedua orangtuanya sudah paham lebih baik sehingga pengobatannya lebih cepat.
Makan dan minum memang hal yang menjadi salah satu ciri kita sebagai makhluk hidup. Tapi aku percaya kita harus lebih bijak melihat apa yang kita konsumsi. Karena bagaimanapun tubuh kita terbangun dari apa yang kita konsumsi dan kita hanya punya satu tubuh, bukan? Kecuali kalau memang sudah ada bagian – bagin tubuh yang benar – benar pas dan dijual bebas dan murah di toko sekitar rumah. Mungkin sekali lagi aku cerewet untuk urusan ‘konsumsi’ karena bagaimanapun aku bisa jadi contoh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan urusan ‘makan dan minum’ adalah hal utama yang mempengaruhi kesehatanku.
Anda beruntung bila pada saat membaca catatan ini tak punya masalah dengan sistem kekebalan atau tubuh anda. Artinya … anda salah satu orang yang beruntung dan diberkati ‘n anda patut bersyukur pada Tuhan untuk hal ini. Contohnya seperti diriku yang punya sejenis penyakit auto-immune disease alias sistem kekebalan tubuhku sendiri menyerang jaringan tubuhku dan ternyata baru kuketahui kala berkuliah dulu di Australia. Ada beberapa hal yang harus kujaga antara lain berat badanku harus stabil karena bila melebihi berat badan ideal maka tekanan pada sendi – sendi gerakku akan bermasalah. Salah satu solusinya adalah wajib menjaga makanan apa yang masuk dalam tubuhku.
Masalahnya semakin kompleks kala tiap makanan yang masuk kadang harus kuperhitungkan dengan berbagai jenis penyakit yang ada dan kadang menderaku BILA AKU TAK DISIPLIN dengan apa yang kumakan, kuminum dan kulakukan. Dulu aku bahkan pernah bilang pada Tuhan kalau kondisiku itu tak adil karena tak bisa mengonsumsi apapun yang kuinginkan karena pasti ada saja dampaknya dalam tubuhku. Tapi seiring dengan waktu, lama – lama aku terbiasa untuk menerima hal ini dan memilih untuk bersyukur dengan kondisi ini. Karena bagaimanapun reaksi makanan atau minuman yang tak boleh kukonsumsi lebih membuatku sakit. Makin lama yang aku tahu aku makin paham cara kerja tubuhku dan bagaimana hidup dengan tubuh yang intoleran.
Karena bergolongan darah A, aku jadi paham bahwa aku memang cocok dengan mengonsumsi sesuatu yang mudah dicerna dan memang cocok jadi vegetarian dan memang tak bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan protein tertentu misalnya pada Lektin. Produk daging merah khususnya daging sapi dan kambing adalah salah satu makanan yang sangat kuhindari. Kukonsumsi pun mungkin sebulan sekali ataupun sekali dalam 6 minggu, itu pun dengan porsi sangat kecil. Dulu aku kerap makan daging sapi dan dampaknya benar – benar membuatku takut. Otot – otot bagian belakang kepala bisa tiba – tiba tegang dan mulutku tak bisa digerakan. Dulu sewaktu kuliah, terpaksa kukonsumsi ketimun guna menetralisir, tetapi serangan terakhir kala di Lijiang, Yunnan pada Desember 2010 kemarin benar – benar membuatku sadar bahwa aku harus disiplin. Jadi, kebutuhan proteinku terpenuhi paling banyak dari ikan khususnya ikan laut dan lele, produk seafood, produk turunan kedelai dan daging babi dan anjing. Tapi jangan salah, untuk ikan yang kukonsumsi pun tak bisa untuk jenis cakalang dan ikan yang tak segar, karna dulu aku pernah setahun berhenti makan ikan karena reaksiku sama dengan yang dialami Jessi tiap kali makan ikan cakalang.
Memang masih banyak alternatif untuk pemenuhan protein tapi ada banyak juga yang tak kusukai. Telur bukan pilihan favoritku karena lambungku terasa penuh dan tak nyaman tiap kali mengonsumsi telur. Daging ayam memang dapat kujangkau tapi toh aku tak terlalu suka. Begitu pula daging domba, kelelawar, kangguru dan lau – lau, karena aku tak suka daging yang beraroma. Aku punya masalah dengan penciuman alias hidungku sedikit sensitif (itulah alasan kadang aku hanya sekedarnya memakai produk pewangi karena tak tahan dan cepat pusing bila mencium aroma wewangian terlalu lama).
Aku juga intoleran pada produk – produk kacang tanah, cashew, macadamia, almond dan jenis kacang lainnya. Efeknya memang tak separah bila mengonsumsi daging merah tapi jerawat tetap menjadi hal tak menyenangkan di usia menjelang 28 tahun. Tiap kali mengonsumsi produk bermuatan kacang, yang ada tak sampai seminggu, radang sebum menggempur wajah dan punggungku. Makanya jangan heran sewaktu dulu tinggal di Australia, aku yang memang tak cocok dengan udara kering plus menikmati surga berbagai jenis cokelat kacang, benar – benar panen jerawat karena ketidakdisiplinan makan.
Urusan minuman pun cukup jelas. Aku intoleran pada kafein alias zat yang terkandung pada kopi. Urusan ini baru saja kudapat tahun 2009 kala di Australia. Dulu aku pecandu kopi sewaktu kuliah S1, guna penyemangat belajar. Sempat berhenti dua tahunan dan saat kembali lagi, yang terjadi aku langsung mengontrak penyakit baru yang namanya “reflux oseafagitis”, alias ‘kakaknya’ si gastritis alias maag. Efeknya jangan tanya, sudah mirip dengan serangan jantung awal, dengan nyeri di dada dan tak bisa bernapas sampai terpaksa x-ray 4 kali dan cek patologi. E rupanya karena tubuhku tak tahan lagi. Mana obatnya agak mahal (iyalah, di Canberra saja dulu, 30 butir harganya sudah AUD $ 73) dan harus kukonsumsi selama 2 minggu bila serangan parah. Tapi kadang aku masih agak bandel, contohnya untuk mengatasi ‘moody’ku, kuhirup kopi kemarin pagi yang efeknya sampai sekarang benar – benar kayak lagi sakau dan tak nyaman dan napas yang agak terasa sulit.
Anyway, ini masih larangan makan dan minum yang sering kualami belum lagi dengan larangan – larangan lainnya yang mungkin akan kutuliskan lagi, bila ada waktu.
TAPI apapun yang terjadi pada tubuh dan kesehatanku, aku selalu melihat bagaimana Allah menjagaku dan tak pernah membiarkanku sampai mati walau penderitaan fisik khususnya nyeri dan segala hal yang menyiksa pernah kualami.
Hidup itu indah, tergantung bagaimana kita melihatnya, dan hari ini aku ingin memakai kacamata yang dipakai Tuhan.
(Manokwari, 170611; saat hujan turun dan merenung)
Peperangan dan penyembahan
Malam ini saat menerjemahkan buku doa dari sebuah yayasan Kristen, di bagian peperangan rohani, aku jadi sadar tentang sebuah hal; pujian dan peperangan.
Ceritanya karena sudah lebih dari sebulan menjalankan doa gerbang (doa gerbang) 3 kali seminggu di gerbang udara dan laut Manokwari, ada beberapa kejadian yang sempat muncul dan membekas, apalagi terkait peperangan rohani.
Saat berdoa menuju dan dari doger, biasanya di hati, Roh Kudus sudah minta untuk menyanyi dan lagu yang diberi adalah lagu yang entahlah mengalir dari hati saja, yang musik dan nadanya kadang susah diretrieve ulang alias kalo sa disuruh ulang menyanyi pasti sa su lupa akan. Nah biasanya mulai keluar dari sa kompleks, pasti mulai sudah menyanyi, nah genrenya sih terserah Roh, abis pas buka mulut nada dan kata – katanya su ada, macam sa cuma baca teleprompter saja kapa eee, jadi cuma numpang mulut untuk ngucap. Nah itu pasti ritual resmi. Setelah itu on the spot baru sa doa, kadang berhenti sebentar, kadang turun, kadang kalo suasana tra memungkinkan jadinya ya, berjalan pelan – pelan dan motor dan mulai mendoakan gerbang.
Karena ritualnya mulai dari gerbang laut yang dekat rumah dan berada di teluk Doreri, jadinya ya dari sana, biasanya usai doger 1 lanjut ke lokasi doger 2, nah sepanjang jalan pasti harus menyembah. Ternyata usai baca buku doa ini, saya jadi ngerti bahwa penyembahan dalam peperangan itu dibutuhkan sebagai perlindungan plus juga itulah yang diinginkan Bapa, yaitu kedekatan dengan-Nya.
Nah bicara tentang peperangan, sa jadi ingat, kadang – kadang kalo mo masuk ke lokasi doger 2 yang rada seram dan juga jauh dan gelap, dari su mulai dari mata jalan yang masih jauh dari Rendani, di hati, Roh Kudus su kas ingat. “May, mo peperangan ini eee, menyanyi plus nan ikuti sap u kata – kata eee, pokoknya talapas dari jembatan, ikuti saja sa kata – kata eee.”. Sa ingat kejadiannya tuh minggu lalu suda, pas diingatkan kayak gitu, sa diminta cuma ikuti perkataan ini:
SAYA KATAKAN DAN NYATAKAN, DI DALAM NAMA YESUS DAN DENGAN KUASA DARAH YESUS, TIAP ROH DAN MANUSIA YANG BERADA DI TEMPAT INI ATAUPUN MELEWATI TEMPAT INI, TUNDUK DI BAWAH KUASA YESUS. AMEN
Malam itu terasa berat skali memang, dan sepanjang jalan itu sampai ke doger 2, cuma ucapkan itu. Dan usai mo pulang, sepanjang perjalanan itu, tiba – tiba dari satu rumah, ada 2 anjing ko tiba – tiba lari keluar kejar sa mo gigit, galak skali eeee, baru bersemangat kejar sampe jauh PADAHAL tadi sa lewat depan rumah itu perlahan sa tra dikenal sama sekali, padahal di dekat tempat itu sering banyak anjing di jalan tapi tra pernah kejadian. Sa cuma berpikir positif kalo memang roh – roh yang di sekitar tempat itu memang terusik dengan doa deklarasi itu. Tapi epen ka, sa jalankan sa pu perintah hehehe
Dan sa ingat betul, tiap pi doger, mo pi pasti sa diminta nyanyi dan pulangnya juga begitu. Walau kadang – kadang juga Roh bilang sa diam saja dan dengar de bicara dan cerita.
Anyway, sa jadi paham mala mini memang kalo peperangan rohani tra boleh lepas dari penyembahan.
Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen
(Manokwari 160611; di tengah acara mengetik terjemahan)
Ceritanya karena sudah lebih dari sebulan menjalankan doa gerbang (doa gerbang) 3 kali seminggu di gerbang udara dan laut Manokwari, ada beberapa kejadian yang sempat muncul dan membekas, apalagi terkait peperangan rohani.
Saat berdoa menuju dan dari doger, biasanya di hati, Roh Kudus sudah minta untuk menyanyi dan lagu yang diberi adalah lagu yang entahlah mengalir dari hati saja, yang musik dan nadanya kadang susah diretrieve ulang alias kalo sa disuruh ulang menyanyi pasti sa su lupa akan. Nah biasanya mulai keluar dari sa kompleks, pasti mulai sudah menyanyi, nah genrenya sih terserah Roh, abis pas buka mulut nada dan kata – katanya su ada, macam sa cuma baca teleprompter saja kapa eee, jadi cuma numpang mulut untuk ngucap. Nah itu pasti ritual resmi. Setelah itu on the spot baru sa doa, kadang berhenti sebentar, kadang turun, kadang kalo suasana tra memungkinkan jadinya ya, berjalan pelan – pelan dan motor dan mulai mendoakan gerbang.
Karena ritualnya mulai dari gerbang laut yang dekat rumah dan berada di teluk Doreri, jadinya ya dari sana, biasanya usai doger 1 lanjut ke lokasi doger 2, nah sepanjang jalan pasti harus menyembah. Ternyata usai baca buku doa ini, saya jadi ngerti bahwa penyembahan dalam peperangan itu dibutuhkan sebagai perlindungan plus juga itulah yang diinginkan Bapa, yaitu kedekatan dengan-Nya.
Nah bicara tentang peperangan, sa jadi ingat, kadang – kadang kalo mo masuk ke lokasi doger 2 yang rada seram dan juga jauh dan gelap, dari su mulai dari mata jalan yang masih jauh dari Rendani, di hati, Roh Kudus su kas ingat. “May, mo peperangan ini eee, menyanyi plus nan ikuti sap u kata – kata eee, pokoknya talapas dari jembatan, ikuti saja sa kata – kata eee.”. Sa ingat kejadiannya tuh minggu lalu suda, pas diingatkan kayak gitu, sa diminta cuma ikuti perkataan ini:
SAYA KATAKAN DAN NYATAKAN, DI DALAM NAMA YESUS DAN DENGAN KUASA DARAH YESUS, TIAP ROH DAN MANUSIA YANG BERADA DI TEMPAT INI ATAUPUN MELEWATI TEMPAT INI, TUNDUK DI BAWAH KUASA YESUS. AMEN
Malam itu terasa berat skali memang, dan sepanjang jalan itu sampai ke doger 2, cuma ucapkan itu. Dan usai mo pulang, sepanjang perjalanan itu, tiba – tiba dari satu rumah, ada 2 anjing ko tiba – tiba lari keluar kejar sa mo gigit, galak skali eeee, baru bersemangat kejar sampe jauh PADAHAL tadi sa lewat depan rumah itu perlahan sa tra dikenal sama sekali, padahal di dekat tempat itu sering banyak anjing di jalan tapi tra pernah kejadian. Sa cuma berpikir positif kalo memang roh – roh yang di sekitar tempat itu memang terusik dengan doa deklarasi itu. Tapi epen ka, sa jalankan sa pu perintah hehehe
Dan sa ingat betul, tiap pi doger, mo pi pasti sa diminta nyanyi dan pulangnya juga begitu. Walau kadang – kadang juga Roh bilang sa diam saja dan dengar de bicara dan cerita.
Anyway, sa jadi paham mala mini memang kalo peperangan rohani tra boleh lepas dari penyembahan.
Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen
(Manokwari 160611; di tengah acara mengetik terjemahan)
Usai belanja
Malam ini saya berada pada tahap BAHAGIA sungguh mati. Entahlah … mungkin mood minggu ini memang lagi senang atau lagi tahap normal. Hari ini usai mengurus keperluan survey dan diberi pengarahan dari sebuah instansi dan harus menyelesaikan terjemahan buku sebuah yayasan Kristen, tak ada yang istimewa sebenarnya. Tetapi malam ini aku bahagia.
Mungkin juga karena efek dari pergantian gaya pertengahan tahun. Mulai dari mewarnai rambut minggu ini, mencoba gaya make-up baru, bahagia dengan program makan minggu ini, iya, lagi diet kesehatan termasuk diet karbo karna menghindari diabetes. After all, malam ini aku bahagia mungkin karena bertemu teman lama yang juga masuh kerabatku, yang kebetulan ia bekerja sebagai pendeta. Dari tertawa pulang dari toko dan membahas kegilaan masa SD dan bertukar kabar teman – teman SD.
Mungkin juga karena hari ini aku bertemu seseorang yang entahlah mulai kuperhatikan. Aku tidak jatuh cinta, tentu saja. Hanya mulai memperhatikan usai seorang junior kampus menanyakan lelaki ini hahaha.
Anyway, jawaban terbaik aku bahagia mungkin karena kehidupan doaku mulai kembali kuperbaiki minggu ini sehingga sukacita itu memang alami datangnya dari Yesus. Benar – benar melepaskan dan membuat aku jatuh cinta terus.
Satu yang pasti, tak pernah ingin jauh dari Yesus, karena tanpa-Nya, aku hanya perempuan pemarah yang tak bahagia.
Aku hanya ingin bilang:
Thanx Jesus 4 everything in my life especially my body and health at this time.
(Manokwari, 160611; mood usai belanja dan kirim SMS ke berbagai sahabat dekat)
Mungkin juga karena efek dari pergantian gaya pertengahan tahun. Mulai dari mewarnai rambut minggu ini, mencoba gaya make-up baru, bahagia dengan program makan minggu ini, iya, lagi diet kesehatan termasuk diet karbo karna menghindari diabetes. After all, malam ini aku bahagia mungkin karena bertemu teman lama yang juga masuh kerabatku, yang kebetulan ia bekerja sebagai pendeta. Dari tertawa pulang dari toko dan membahas kegilaan masa SD dan bertukar kabar teman – teman SD.
Mungkin juga karena hari ini aku bertemu seseorang yang entahlah mulai kuperhatikan. Aku tidak jatuh cinta, tentu saja. Hanya mulai memperhatikan usai seorang junior kampus menanyakan lelaki ini hahaha.
Anyway, jawaban terbaik aku bahagia mungkin karena kehidupan doaku mulai kembali kuperbaiki minggu ini sehingga sukacita itu memang alami datangnya dari Yesus. Benar – benar melepaskan dan membuat aku jatuh cinta terus.
Satu yang pasti, tak pernah ingin jauh dari Yesus, karena tanpa-Nya, aku hanya perempuan pemarah yang tak bahagia.
Aku hanya ingin bilang:
Thanx Jesus 4 everything in my life especially my body and health at this time.
(Manokwari, 160611; mood usai belanja dan kirim SMS ke berbagai sahabat dekat)
Saturday, 11 June 2011
cerpen - perempuan di pojok toko
PROLOG
Kurapikan dagangan titipan teman di pojok ruangan. Berdandan rapi a la SPG. Menyeduh tiap larutan bibit pewangi dengan alkohol, menyiapkan kertas tes, dan beberapa potong sapu tangan kertas. Buku penjualan tergeletak manis di pojok meja. Tak lupa, kuoleskan lagi beberapa tetes parfum Oceanus keluaran the Body Shop di beberapa titik tubuhku.
Mataku nanar memandang ke deretan keranjang dorong, orang – orang yang mengantri menitip barang dan juga aliran manusia hilir mudik masuk ke sebuah tempat franchise makanan siap saji dari negeri oom Sam dan pusat perbelanjaan ini. Ini hari pertamaku bekerja sambilan di sini, dan mungkin juga hingga waktu yang tak ditentukan, tergantung perintah atasan.
Dandanan semi kasual ala wanita berkulit kopi di akhir 20an dengan baju potongan berdada rendah dan rambut ikal terurai sedikit diwarnai, aku memulai tugas. Tentu saja menjual cairan – cairan pewangi sambil duduk manis memamerkan tubuhku di pojok areal masuk sebuah areal perbelanjaan terbesar di ibukota provinsi ini.
***
Pace ‘celana jatuh’
Matanya jelalatan kala menatapku di pojok ruang ini. Cepat – cepat dilengoskan kepalanya kala kupandang balik. Dengan nafas terengah – engah dititipkan tasnya dan naik ke lantai atas yang terhubung dengan ruang tampil berbagai potong pakaian dan mungkin juga ia menuju ke arena permainan anak dan remaja. Kaos merahnya terlihat basah oleh keringat. Sama seperti wajahnya yang sedikit acak tanpa potongan usia yang jelas, entah di akhir 20an ataukah telah berumur 30an. Indikator kabur dari wajah tanpa bentuk itu, maksudku tanpa penanda umur yang jelas. Ini bukan pertama kali kulihat lelaki ini. Mungkin bukan pula yang terakhir kali.
Entah namanya siapa, aku tak tahu dan mungkin belum mau tahu. Tapi aku mengenal lelaki ini. Mengenal karakternya, mengenal kegilaannya. Bahkan hampir tiap inci organ vitalnya kerap kulihat. Jangan tanya kenapa. Yang pasti, bukan hanya aku, tetapi juga beberapa teman perempuan di pondokan. Bukan! Ia bukan lelaki yang tidur dengan kami ataupun gigolo penjaja cinta. Bukan pula lelaki yang suka menebar pesona di pondokan kami hingga berapa centimeter simbol kejantanannya seakan menjadi rahasia umum. Bukan sama sekali. Ia memang bukan penjaja cinta ataupun simbol kejantanan, hanya lelaki yang suka melorotkan celananya dan membuat kami, para penghuni pondokan, jijik ketakutan dan menjerit. Tentu saja semua temanku, kecuali aku. Mungkin tadi ia memang menatapku dengan campuran nafsu ataupun marah, entahlah. Mata liarnya enggan berbicara banyak. Mungkin ia mengingatku karena sebutir peluru senapan anginku baru – baru ini pernah mengikis tipis selangkangan telanjangnya kala lelaki ‘celana jatuh’ ini mempertunjukan ‘show solo’ 17 tahun ke atas di belakang pondokan. Mungkin saja.
Yang aku tahu, aku akan menatapnya balik kalau ia turun nanti. Bukan untuk menyapa, tapi hanya ingin bilang, “kapan ko show lagi, biar sa siap peluru cis banyak – banyak …. Lumayan, untuk hiburan!!!”
***
Mace penuang kopi
Perempuan hamil berdaster bunga – bunga itu tertatih – tatih berjalan menenteng belanjaannya di dekat meja jualanku. Kandungan kutaksir sekitar 7 bulanan. Tak tampak lelakinya berjalan di sekitarnya ataupun menunggunya. Dipandangnya mataku dengan seksama, mencari bayang sesosok manusia yang dikenalnya. Kemudian, dipalingkan wajahnya dengan ekspresi ingin muntah. Aku dengan acuhnya sengaja menarik ketat bajuku dan tersenyum manis memandangnya. Tentu saja dengan gaya devilish smile yang kerap kupamerkan pada beberapa orang yang tak kusuka.
Keti, ia disebut. Perempuan berkulit kopi berusia di pertengahan 20an ini mungkin akan jadi salah satu perempuan yang akan selalu membenciku seumur hidup. Ia hanya pernah menangkapku dan lelaki atau suaminya, aku tak tahu status lelaki itu yang sebut saja namanya Max, kala sedang duduk mengobrol mesra di sebuah kafe bernuansa minimalis di gedung bekas bioskop jaman kolonial. Tanpa basa – basi ia menuangkan secangkir espresso bergranula milikku tepat ke rok mini dan panty-hose oleh – oleh sahabatku yang baru saja kupakai pertama kali. Tanpa banyak bicara kutaksir kekuatannya dan mengajaknya bicara ke arah rest room kafe, tentu saja dengan tak lupa menyambar tas tanganku. Tanpa banyak bicara, kala lelaki itu tak melihat, kucecoki Keti dengan cepat dengan tablet putih pemberian atasanku dan mengancamnya untuk jangan buka mulut, tentu saja usai memutar ulang semua fakta tentang dirinya dan alamat tempat tinggalnya dan dampak tablet itu bila tak kuberi penawar.
Ia tentu tak tahu banyak alasan aku mendekati lelakinya. Sungguh tak perlu tahu. Yang aku tahu pasti, ia membenciku karena usai kejadian di kafe, ia semakin kerap melihatku bermesraan dengan lelaki itu selama sebulan hingga kemudian lelaki itu lenyap ditelan bumi. Tentu saja dengan meninggalkan jejak sel – sel kehidupan yang terus membelah di rahim Keti.
***
Sang penulis
Perempuan akhir 20an itu sedang berjalan riang dengan keponakannya keluar dari baris antrian pembayaran kala tiba – tiba ia memandangku dengan kaget di pojok ruangan. Matanya dengan cepat mengendus kehadiranku dan tanpa banyak bicara, menarik keponakannya mengambil titipan tas dan helm mereka dan bergegas keluar. Di matanya terbersit rasa cemas yang tidak dapat disembunyikan. Aku pun sedikit tergeragap, campuran antara senang dan kaget, namun dengan cepat kutepiskan emosi yang meletup.
Tanpa banyak bicara, kukejar ia dengan langkah perlahan ke parkiran. Rupanya ia memarkir motornya di pojokan. Tak ingin mendekatinya, aku hanya menatap jelas deretan huruf – huruf yang tertulis jelas di bawah kendaraan roda dua itu. Aku pun kembali lagi masuk ke dalam toko, tentu saja usai mengirimkan beberapa deret angka itu ke sebuah nomor pribadi di ponselku.
Panggil saja perempuan itu Ai. Kukenal ia berbulan – bulan lewat jejaring sosialnya yang minim perlindungan, lewat potongan – potongan gambar kegiatan dan jalan – jalannya. Kukenal dia lewat banyaknya tulisannya yang berapi- api dan gamblang di dunia maya yang menyerukan revolusi, ideologi dan semangat kaum muda untuk melawan. Kukenal ia lewat percakapan virtual ‘kami’ yang kuretas beberapa bulan terakhir, tentu saja lewat akun lelaki berinisial M yang suka sekali ‘menjatuhkan celana’ perempuan. Masih kuingat jelas perkataannya lewat obrolan dunia maya itu tentang kondisi terakhir tanah kelahirannya.
“Tong tra bisa harap orang lain, pace. Kalo mo maju tra bisa pake evolusi, harus revolusi! Patria o muerte ya …”
Yang aku tahu, ia kembali ke kota ini beberapa minggu silam dan rekam jejakku pun menghilang dari jejaringnya seiring dengan lemahnya koneksi jaringan internet di kota ini. Ponsel cadanganku, ‘hibah’ lelaki itu, kerap berdering dengan rentetan nomor ponsel Ai walau selalu kuacuhkan. Mungkin ia mengenalku malam ini BUKAN karena siluet tubuhku, bukan pula suaraku tetapi karena aku pernah berfoto dengan lelaki pengobrol di jejaring sosial itu, dan sayangnya lelaki itu mati terbunuh di depan Ai kala sebuah acara ‘kopi darat’ perdana tak sukses di kota lain antara Max, Ai dan diriku.
EPILOGUE
Beberapa hari telah lewat sejak kulihat pace celana jatuh, mace penuang kopi dan Ai. Kubuka koran hari ini dan membaca sebuah headline surat kabar lokal dengan menyilangkan kakiku yang ramping. Kuhirup dalam – dalam pesanan teh dari kedai sebelah. Aliran manusia yang hilir mudik masuk areal perbelanjaan ini kuacuhkan karena berita ini terasa mengisi benakku, menciptakan euforia sesaat, yang tentu saja membuatku sedang ‘sakau karena mabuk popularitas’. Sebuah judul besar membuatku memamerkan devilish smile yang tentu saja bersamaan dengan sebuah SMS masuk dari nomor pribadi; aku tak lagi harus menunggui bibit pewangi tak murni yang panas di kulit ini mulai besok.
Sambil menikmati teh, kubaca lagi judul Koran lokal:
“Jurnalis media asing tewas di Weidema. Rem blong, nyawa melayang”
Sebuah foto minim cahaya bergambar perempuan muda akhir 20an terkapar berdarah – darah di aspal jalan dengan snapshot kepala patah. Tentu saja dengan penjelasan tudingan pada tumpahan pasir di turunan curam ke arah Amban Pantai itu di sebuah petang.
Misi selesai.
Saatnya menikmati liburan di tempat lain sambil memeriksa daftar beberapa orang yang perlu ‘kutemui’ pekan depan.
***
(Manokwari, 090611; terilhami membayangkan kalau “pasal – pasal pengintaian” makin gila diterapkan dan cerita ini diretas hehehe)
Kurapikan dagangan titipan teman di pojok ruangan. Berdandan rapi a la SPG. Menyeduh tiap larutan bibit pewangi dengan alkohol, menyiapkan kertas tes, dan beberapa potong sapu tangan kertas. Buku penjualan tergeletak manis di pojok meja. Tak lupa, kuoleskan lagi beberapa tetes parfum Oceanus keluaran the Body Shop di beberapa titik tubuhku.
Mataku nanar memandang ke deretan keranjang dorong, orang – orang yang mengantri menitip barang dan juga aliran manusia hilir mudik masuk ke sebuah tempat franchise makanan siap saji dari negeri oom Sam dan pusat perbelanjaan ini. Ini hari pertamaku bekerja sambilan di sini, dan mungkin juga hingga waktu yang tak ditentukan, tergantung perintah atasan.
Dandanan semi kasual ala wanita berkulit kopi di akhir 20an dengan baju potongan berdada rendah dan rambut ikal terurai sedikit diwarnai, aku memulai tugas. Tentu saja menjual cairan – cairan pewangi sambil duduk manis memamerkan tubuhku di pojok areal masuk sebuah areal perbelanjaan terbesar di ibukota provinsi ini.
***
Pace ‘celana jatuh’
Matanya jelalatan kala menatapku di pojok ruang ini. Cepat – cepat dilengoskan kepalanya kala kupandang balik. Dengan nafas terengah – engah dititipkan tasnya dan naik ke lantai atas yang terhubung dengan ruang tampil berbagai potong pakaian dan mungkin juga ia menuju ke arena permainan anak dan remaja. Kaos merahnya terlihat basah oleh keringat. Sama seperti wajahnya yang sedikit acak tanpa potongan usia yang jelas, entah di akhir 20an ataukah telah berumur 30an. Indikator kabur dari wajah tanpa bentuk itu, maksudku tanpa penanda umur yang jelas. Ini bukan pertama kali kulihat lelaki ini. Mungkin bukan pula yang terakhir kali.
Entah namanya siapa, aku tak tahu dan mungkin belum mau tahu. Tapi aku mengenal lelaki ini. Mengenal karakternya, mengenal kegilaannya. Bahkan hampir tiap inci organ vitalnya kerap kulihat. Jangan tanya kenapa. Yang pasti, bukan hanya aku, tetapi juga beberapa teman perempuan di pondokan. Bukan! Ia bukan lelaki yang tidur dengan kami ataupun gigolo penjaja cinta. Bukan pula lelaki yang suka menebar pesona di pondokan kami hingga berapa centimeter simbol kejantanannya seakan menjadi rahasia umum. Bukan sama sekali. Ia memang bukan penjaja cinta ataupun simbol kejantanan, hanya lelaki yang suka melorotkan celananya dan membuat kami, para penghuni pondokan, jijik ketakutan dan menjerit. Tentu saja semua temanku, kecuali aku. Mungkin tadi ia memang menatapku dengan campuran nafsu ataupun marah, entahlah. Mata liarnya enggan berbicara banyak. Mungkin ia mengingatku karena sebutir peluru senapan anginku baru – baru ini pernah mengikis tipis selangkangan telanjangnya kala lelaki ‘celana jatuh’ ini mempertunjukan ‘show solo’ 17 tahun ke atas di belakang pondokan. Mungkin saja.
Yang aku tahu, aku akan menatapnya balik kalau ia turun nanti. Bukan untuk menyapa, tapi hanya ingin bilang, “kapan ko show lagi, biar sa siap peluru cis banyak – banyak …. Lumayan, untuk hiburan!!!”
***
Mace penuang kopi
Perempuan hamil berdaster bunga – bunga itu tertatih – tatih berjalan menenteng belanjaannya di dekat meja jualanku. Kandungan kutaksir sekitar 7 bulanan. Tak tampak lelakinya berjalan di sekitarnya ataupun menunggunya. Dipandangnya mataku dengan seksama, mencari bayang sesosok manusia yang dikenalnya. Kemudian, dipalingkan wajahnya dengan ekspresi ingin muntah. Aku dengan acuhnya sengaja menarik ketat bajuku dan tersenyum manis memandangnya. Tentu saja dengan gaya devilish smile yang kerap kupamerkan pada beberapa orang yang tak kusuka.
Keti, ia disebut. Perempuan berkulit kopi berusia di pertengahan 20an ini mungkin akan jadi salah satu perempuan yang akan selalu membenciku seumur hidup. Ia hanya pernah menangkapku dan lelaki atau suaminya, aku tak tahu status lelaki itu yang sebut saja namanya Max, kala sedang duduk mengobrol mesra di sebuah kafe bernuansa minimalis di gedung bekas bioskop jaman kolonial. Tanpa basa – basi ia menuangkan secangkir espresso bergranula milikku tepat ke rok mini dan panty-hose oleh – oleh sahabatku yang baru saja kupakai pertama kali. Tanpa banyak bicara kutaksir kekuatannya dan mengajaknya bicara ke arah rest room kafe, tentu saja dengan tak lupa menyambar tas tanganku. Tanpa banyak bicara, kala lelaki itu tak melihat, kucecoki Keti dengan cepat dengan tablet putih pemberian atasanku dan mengancamnya untuk jangan buka mulut, tentu saja usai memutar ulang semua fakta tentang dirinya dan alamat tempat tinggalnya dan dampak tablet itu bila tak kuberi penawar.
Ia tentu tak tahu banyak alasan aku mendekati lelakinya. Sungguh tak perlu tahu. Yang aku tahu pasti, ia membenciku karena usai kejadian di kafe, ia semakin kerap melihatku bermesraan dengan lelaki itu selama sebulan hingga kemudian lelaki itu lenyap ditelan bumi. Tentu saja dengan meninggalkan jejak sel – sel kehidupan yang terus membelah di rahim Keti.
***
Sang penulis
Perempuan akhir 20an itu sedang berjalan riang dengan keponakannya keluar dari baris antrian pembayaran kala tiba – tiba ia memandangku dengan kaget di pojok ruangan. Matanya dengan cepat mengendus kehadiranku dan tanpa banyak bicara, menarik keponakannya mengambil titipan tas dan helm mereka dan bergegas keluar. Di matanya terbersit rasa cemas yang tidak dapat disembunyikan. Aku pun sedikit tergeragap, campuran antara senang dan kaget, namun dengan cepat kutepiskan emosi yang meletup.
Tanpa banyak bicara, kukejar ia dengan langkah perlahan ke parkiran. Rupanya ia memarkir motornya di pojokan. Tak ingin mendekatinya, aku hanya menatap jelas deretan huruf – huruf yang tertulis jelas di bawah kendaraan roda dua itu. Aku pun kembali lagi masuk ke dalam toko, tentu saja usai mengirimkan beberapa deret angka itu ke sebuah nomor pribadi di ponselku.
Panggil saja perempuan itu Ai. Kukenal ia berbulan – bulan lewat jejaring sosialnya yang minim perlindungan, lewat potongan – potongan gambar kegiatan dan jalan – jalannya. Kukenal dia lewat banyaknya tulisannya yang berapi- api dan gamblang di dunia maya yang menyerukan revolusi, ideologi dan semangat kaum muda untuk melawan. Kukenal ia lewat percakapan virtual ‘kami’ yang kuretas beberapa bulan terakhir, tentu saja lewat akun lelaki berinisial M yang suka sekali ‘menjatuhkan celana’ perempuan. Masih kuingat jelas perkataannya lewat obrolan dunia maya itu tentang kondisi terakhir tanah kelahirannya.
“Tong tra bisa harap orang lain, pace. Kalo mo maju tra bisa pake evolusi, harus revolusi! Patria o muerte ya …”
Yang aku tahu, ia kembali ke kota ini beberapa minggu silam dan rekam jejakku pun menghilang dari jejaringnya seiring dengan lemahnya koneksi jaringan internet di kota ini. Ponsel cadanganku, ‘hibah’ lelaki itu, kerap berdering dengan rentetan nomor ponsel Ai walau selalu kuacuhkan. Mungkin ia mengenalku malam ini BUKAN karena siluet tubuhku, bukan pula suaraku tetapi karena aku pernah berfoto dengan lelaki pengobrol di jejaring sosial itu, dan sayangnya lelaki itu mati terbunuh di depan Ai kala sebuah acara ‘kopi darat’ perdana tak sukses di kota lain antara Max, Ai dan diriku.
EPILOGUE
Beberapa hari telah lewat sejak kulihat pace celana jatuh, mace penuang kopi dan Ai. Kubuka koran hari ini dan membaca sebuah headline surat kabar lokal dengan menyilangkan kakiku yang ramping. Kuhirup dalam – dalam pesanan teh dari kedai sebelah. Aliran manusia yang hilir mudik masuk areal perbelanjaan ini kuacuhkan karena berita ini terasa mengisi benakku, menciptakan euforia sesaat, yang tentu saja membuatku sedang ‘sakau karena mabuk popularitas’. Sebuah judul besar membuatku memamerkan devilish smile yang tentu saja bersamaan dengan sebuah SMS masuk dari nomor pribadi; aku tak lagi harus menunggui bibit pewangi tak murni yang panas di kulit ini mulai besok.
Sambil menikmati teh, kubaca lagi judul Koran lokal:
“Jurnalis media asing tewas di Weidema. Rem blong, nyawa melayang”
Sebuah foto minim cahaya bergambar perempuan muda akhir 20an terkapar berdarah – darah di aspal jalan dengan snapshot kepala patah. Tentu saja dengan penjelasan tudingan pada tumpahan pasir di turunan curam ke arah Amban Pantai itu di sebuah petang.
Misi selesai.
Saatnya menikmati liburan di tempat lain sambil memeriksa daftar beberapa orang yang perlu ‘kutemui’ pekan depan.
***
(Manokwari, 090611; terilhami membayangkan kalau “pasal – pasal pengintaian” makin gila diterapkan dan cerita ini diretas hehehe)
Sunday, 5 June 2011
Hari kelabu hingga pesta teromantis
Keluarga mungkin topik utama tulisanku malam ini, usai hari yang melelahkan secara emosi. Hari ini memang aku merasa bahwa aku benar – benar butuh anger management untuk amarahku yang kadang lepas bebas dan tak tertahan. Hari ini karena aksi mabuk kakak sulungku dan istrinya dengan mama karena urusan minyak tanah yang berbuntut kakak lelaki merusak barang- barang di rumahku, yang ada aku juga kelepasan emosi dan mendamprat iparku yang jadi ‘bibit roti’ musabab pertikaian dan iparku yang memang sikapnya rada minus sejak lama dan memang ketidaksukaanku keluar lepas usai terakumulasi begitu lama. Jangan tanya aksi balas dendamku untuk rumah mereka. Selain membanting gelas, mukulin TV (tapi tak sampai kenapa – napa, karna cuma pake sapu ijuk) sampe memegang papan dan mengejar iparku yang ditempelin keponakan – keponakan. Benar – benar kalap emosiku tadi. Padahal daster yang kupakai hampir putus talinya dan lagi rada basah usai selesai mencuci dan menguras bak di kamar mandi.
Sebenarnya aku sering cuek dengan pertengkaran di rumah, tak mau terlibat secara emosi. Tapi karena baru usai kerja menguras bak dan lain – lain, dengan daster enak – enakan menikmati makan siangku dan berpikir akan melanjutkan kerjaan mengupas daun – daun sirsakku. E datanglah prahara dari rumah sebelah. Apalagi kala mama dan kakak tidak mengalah dan efeknya mo ngancurin rumah … mana bapa lagi tugas luar pulau … yang ada mata n telinga makin panas dan hati ikutan panas kala mendengar bunyi partisi ruangan jebol dan meja plastic dibanting2 patah di depan mata dan ancaman mo ngancurin kaca rumah. Emosi pun keluar …. Meledak banget!!! Rumah orang tua ini dibangun dengan keringat dari bapa, aku dan adek cowok. Aku sempat mengirimkan duit beberapa kali untuk pembangunan rumah ini plus juga setelah pulang, uang – uang ceperan kerjaan kupakai untuk biaya perawatan dan pembiayaan rumah. Sedang kakak lelaki yang dari dulu memang suka morotin duit ortu eee enak – enak saja. Dulu bahkan saat pembangunan rumah, kami harus mengupahnya sebagai seorang buruh dengan gaji yang sama dengan asisten tukang. Padahal bapa dan adek lelaki bekerja tanpa dibayar dan memang tidak mempertimbangkan bayaran karena duitnya dari kami sendiri dan rumah ini kan untuk orang tua sendiri. Makanya emosi amarah keluar tanpa ampun.
Jangan tanya bagaimana orang – orang menonton kami. Yang ada tadi memang benar – benar jadi tontonan dilengkapi dengan acara baku maki di muka rumah. Aku benar – benar tak peduli dengan tanggapan orang lain, yang ada hingga beberapa jam ke depan; ingin menghajar nih ipar sampai babak belur. Murka sekali!!!
TETAPI …
Demi mencari Suasana lain, kuputuskan pergi ke pondok sahabat lelakiku dan curhat di sana walau masih dengan emosi membara di hati, bahkan cuek saja mengobrol dan bilang dengan rencana – rencana ‘gila’ di otak. E ternyata ultahnya seorang teman dan akhirnya ingatan marah sempat surut dan dilanjutkan dengan acara curhat dengan para sahabat, pergi ke toko berburu kue dan berakhir dengan rencana gilaku balapan di Pantura. Guess what? Iya, aku menikmati balapan hingga melewai kampong Asai, tepatnya melewati rumah peristirahatan di sebuah teluk. Jujur, usai lebih dari sejam balapan, pas melihat teluk ini dari ketinggian, ada yang pecah di hatiku, sebuah ekspresi puas dan lega. Tiba – tiba teringat kenangan manis dan alasan – alasan untuk bahagia dan melupakan amarah yang tadi ada. Benar – benar lega. Memang benar dalam hal ini bahwa kadang Allah menyatakan kehebatan-Nya lewat ciptaan-Nya. Truly awesome. Yang ada … perjalanan pulang diisi dengan menikmati pemandangan pinggir jalan. Dari sibuk memberikan senyum pada masyarakat kampung, bertemu seekor burung hitam hingga tarikan balap dengan tukang ojek. Benar – benar fantastik. Apalagi aksi berdiri sambil balap. Benar – benar lega!!!
Anyway, jujur sedari bangun moodku sudah rada baikan. Walau ada kecenderungan yang kulihat bila tiap kali bermimpi yang ‘tidak bikin sejahtera’ selalu saja ada masalah keesokan harinya. Seperti sebuah pemberitahuan dari alam bawah sadarku. Jujur, hingga masa cuci dan kuras bak dll tadi, aku dan si Q sibuk SMSan dan tertawa membahas urusan ‘nembak’ perasaan dan lain – lain. Tapi karena urusan pertikaian minyak tanah eee semuanya buyar.
Thanx God, untung ada para sahabat di pondok yang membuatku sedikit tenang dan lega walau rencana awalku sudah bulat hanya singgah meminjam parang dan mengajak nongkrong di pantai. Rupanya acaranya kemudian pada akhirnya berubah menjadi acara kumpul – kumpul, penuh acara makan malam romantis dengan nyala lilin, saling berbagi informasi (iyalah … dapat banyak info tentang si Q wkwwkkwkwkw) dan juga hal – hal lain yang membuatku sadar bahwa so far … para sahabat ini telah menjadi saudara – saudara.
Akhirnya ... sa belajar satu pelajaran penting hari ini.'Keluarga & saudara' bukanlah selalu terjadi karena komponen DNA dan 'darah' yang sama tetapi juga ikatan - -ikatan emosional yang kompleks dan membantu kita memahami diri sebagai manusia yang utuh. Anyway, Feel so much blessed dikelilingi orang - orang terdekat yang sudah menjadi 'saudara' over the years =)
(Manokwari, 040611; after the rain, my rainbow will definitely come)
Sebenarnya aku sering cuek dengan pertengkaran di rumah, tak mau terlibat secara emosi. Tapi karena baru usai kerja menguras bak dan lain – lain, dengan daster enak – enakan menikmati makan siangku dan berpikir akan melanjutkan kerjaan mengupas daun – daun sirsakku. E datanglah prahara dari rumah sebelah. Apalagi kala mama dan kakak tidak mengalah dan efeknya mo ngancurin rumah … mana bapa lagi tugas luar pulau … yang ada mata n telinga makin panas dan hati ikutan panas kala mendengar bunyi partisi ruangan jebol dan meja plastic dibanting2 patah di depan mata dan ancaman mo ngancurin kaca rumah. Emosi pun keluar …. Meledak banget!!! Rumah orang tua ini dibangun dengan keringat dari bapa, aku dan adek cowok. Aku sempat mengirimkan duit beberapa kali untuk pembangunan rumah ini plus juga setelah pulang, uang – uang ceperan kerjaan kupakai untuk biaya perawatan dan pembiayaan rumah. Sedang kakak lelaki yang dari dulu memang suka morotin duit ortu eee enak – enak saja. Dulu bahkan saat pembangunan rumah, kami harus mengupahnya sebagai seorang buruh dengan gaji yang sama dengan asisten tukang. Padahal bapa dan adek lelaki bekerja tanpa dibayar dan memang tidak mempertimbangkan bayaran karena duitnya dari kami sendiri dan rumah ini kan untuk orang tua sendiri. Makanya emosi amarah keluar tanpa ampun.
Jangan tanya bagaimana orang – orang menonton kami. Yang ada tadi memang benar – benar jadi tontonan dilengkapi dengan acara baku maki di muka rumah. Aku benar – benar tak peduli dengan tanggapan orang lain, yang ada hingga beberapa jam ke depan; ingin menghajar nih ipar sampai babak belur. Murka sekali!!!
TETAPI …
Demi mencari Suasana lain, kuputuskan pergi ke pondok sahabat lelakiku dan curhat di sana walau masih dengan emosi membara di hati, bahkan cuek saja mengobrol dan bilang dengan rencana – rencana ‘gila’ di otak. E ternyata ultahnya seorang teman dan akhirnya ingatan marah sempat surut dan dilanjutkan dengan acara curhat dengan para sahabat, pergi ke toko berburu kue dan berakhir dengan rencana gilaku balapan di Pantura. Guess what? Iya, aku menikmati balapan hingga melewai kampong Asai, tepatnya melewati rumah peristirahatan di sebuah teluk. Jujur, usai lebih dari sejam balapan, pas melihat teluk ini dari ketinggian, ada yang pecah di hatiku, sebuah ekspresi puas dan lega. Tiba – tiba teringat kenangan manis dan alasan – alasan untuk bahagia dan melupakan amarah yang tadi ada. Benar – benar lega. Memang benar dalam hal ini bahwa kadang Allah menyatakan kehebatan-Nya lewat ciptaan-Nya. Truly awesome. Yang ada … perjalanan pulang diisi dengan menikmati pemandangan pinggir jalan. Dari sibuk memberikan senyum pada masyarakat kampung, bertemu seekor burung hitam hingga tarikan balap dengan tukang ojek. Benar – benar fantastik. Apalagi aksi berdiri sambil balap. Benar – benar lega!!!
Anyway, jujur sedari bangun moodku sudah rada baikan. Walau ada kecenderungan yang kulihat bila tiap kali bermimpi yang ‘tidak bikin sejahtera’ selalu saja ada masalah keesokan harinya. Seperti sebuah pemberitahuan dari alam bawah sadarku. Jujur, hingga masa cuci dan kuras bak dll tadi, aku dan si Q sibuk SMSan dan tertawa membahas urusan ‘nembak’ perasaan dan lain – lain. Tapi karena urusan pertikaian minyak tanah eee semuanya buyar.
Thanx God, untung ada para sahabat di pondok yang membuatku sedikit tenang dan lega walau rencana awalku sudah bulat hanya singgah meminjam parang dan mengajak nongkrong di pantai. Rupanya acaranya kemudian pada akhirnya berubah menjadi acara kumpul – kumpul, penuh acara makan malam romantis dengan nyala lilin, saling berbagi informasi (iyalah … dapat banyak info tentang si Q wkwwkkwkwkw) dan juga hal – hal lain yang membuatku sadar bahwa so far … para sahabat ini telah menjadi saudara – saudara.
Akhirnya ... sa belajar satu pelajaran penting hari ini.'Keluarga & saudara' bukanlah selalu terjadi karena komponen DNA dan 'darah' yang sama tetapi juga ikatan - -ikatan emosional yang kompleks dan membantu kita memahami diri sebagai manusia yang utuh. Anyway, Feel so much blessed dikelilingi orang - orang terdekat yang sudah menjadi 'saudara' over the years =)
(Manokwari, 040611; after the rain, my rainbow will definitely come)
Q
Q, demikian kupanggil dia. Lelaki hitam manis dari negeri seribu pulau ini sudah kukenal sejak tahun 2003 tepatnya. Dia juniorku di fakultas lain, dan sahabat seorang juniorku. Di masa kuliah S1 dulu, Kami tak pernah akrab setahuku. Maksudku dalam artian berbincang akrab ataupun bermain bersama. Aku hanya tahu bahwa ia kerap membantu kegiatan organisasi mahasiswa fakultasku terlebih saat aku menjadi ketua himpunan karena ia sahabat seorang teman. Tapi pembicaraan beberapa hari lalu dengan para sahabatku tiba – tiba membuatku melihatnya berbeda: Dia cukup dekat denganku selama 6 bulan ini dan aku bahkan tak menyadari kehadirannya!!!
Mungkin dalam bagian ini aku menjadi sedikit terbuai dengan Arc yang memang kuakui bakat seninya spektakuler. Aku bahkan lupa bahwa aku pernah curhat dengan Q, curhat tentang ketertarikanku, curhat tentang kekagumanku, curhat segala macam urusan cinta dengan si kaka de el el. Aku bahkan sampai melupakan perannya si Q “menyelamatkanku” dari acara pulang lambat. Mungkin benar kalau aku kadang suka ‘amnesia’ dan tidak bisa melihat dengan jelas kalau sedang mengalami kegilaan sesaat.
Kalau dilihat, si Q dan aku memang aneh. Kami tak pernah akrab sejak dulu. Tapi usai kejadian bertemu dengannya di sebuah studio foto di kotaku pertengahan Januari lalu, semuanya berubah. Usai bertukar nomor ponsel dan diakhiri dengan janji mo bertemu dan jalan kalau di Jayapura, eee akhirnya malah keterusan dengan SMS dan telpon.
Karena terbuai dengan pesonanya misteriusnya si Arc, aku lupa bahwa si Q adalah orang yang bisa bikin aku marah besar kalau diganggu atau dijailin. Membuatku emosi tertahan dan ingin memakinya beberapa bulan lalu.
Tapi entahlah … seiring dengan waktu, apalagi usai percakapan kami beberapa bulan lalu, aku sadar bahwa si Q tak lagi seperti biasanya saat ngobrol. Lebih dewasa sedikit, lebih bisa membuka diri tentang siapa dia, dan kadang lebih pake logika dibanding diriku. Ada yang berubah.
Pesona Arc memang membuatku sempat lupa bahwa selama ini, ada Q yang kadang hadir menghiburku. Tapi aku baru menyadari 2 hari lalu usai diberi tahu para sahabat kalau si Q sebenarnya naksir dan bersemangat memburuku karena ia pernah curhat pada sahabatku tentang mengapa aku bisa sampai jadian dengan kaka di Jayapura dll. Aku baru menyadari bahwa si Q sempat mundur sebulan terakhir usai keterusteranganku kalau aku lagi naksir si Arc.
Kalau dipikir, mungkin aku yang bodoh … bodoh untuk tidak melihatnya … Bodoh untuk tidak menyadari hadirnya. Mungkin semuanya sudah berubah. Entahlah … malam ini aku merindukan si hitam manis cerewet ini … walau kata – katanya kadang bikin hati ‘t**’ skali …
Jujur .. malam ini aku baru sadar kalau si Q cowok dalam 6 bulan terakhir yang bisa bikin aku ketawa terus dengan kejailannya ataupun memaki sungguh mati sampai menelponnya dengan kosa kata makian tingkat tinggi yang nyatanya … dengan gampang ia cuekin *wkwkwwkwk.
Mungkin harus ada perubahan dalam sikapku. Seperti SMS kami hari ini tentang ‘bagaimana kalau aku yang mengungkapkan perasaanku duluan pada gebetan?” .. reaksi Q sama dengan beberapa hari lalu, ia bilang “itu tindakan bodoh dan jangan pernah kulakukan”… tapi jawaban – jawaban ambigu ini terjadi lagi usai kuingat acara curhat SMS tentang bagaimana bereaksi terhadap Arc … aku begitu bodoh tak melihat bahwa sebenarnya Q tak ‘rela’ aku berdekatan dengan si Arc. Mulai dari nasehatnya untuk jangan pernah menunjukan perasaan ketertarikanku, untuk bersikap normal dan lain – lain dan jangan pernah melakukan tindakan bodoh dengan menyatakan perasaanku ataupun kekagumanku. Aku begitu bodoh!!!!
Andai si Q paham juga kalau sebenarnya pernah ada perasaan lain tentangnya CUMA dianya juga rada cuek dan mulutnya itu terlalu ‘cerewet’ …
Andai saja dia tahu … kalau sekarang I really miss his voice yang mirip banget dengan suara si Vino G. Sebastian itu … seksi banget!!!
Andai saja dia tahu … kalau sekarang I realize his presence in my life, kalo dia orang yang bisa bikin sa ketawa terus dan mood turun naik marah – marah tapi senang.
Andai saja dia tahu … kalau sekarang .. I miss him badly!!!
Andai saja, dia bisa baca catatan ini!!!
(Manokwari, 040611; mengingat Q yang jauh di sana – andai saja ko tahu -)
Mungkin dalam bagian ini aku menjadi sedikit terbuai dengan Arc yang memang kuakui bakat seninya spektakuler. Aku bahkan lupa bahwa aku pernah curhat dengan Q, curhat tentang ketertarikanku, curhat tentang kekagumanku, curhat segala macam urusan cinta dengan si kaka de el el. Aku bahkan sampai melupakan perannya si Q “menyelamatkanku” dari acara pulang lambat. Mungkin benar kalau aku kadang suka ‘amnesia’ dan tidak bisa melihat dengan jelas kalau sedang mengalami kegilaan sesaat.
Kalau dilihat, si Q dan aku memang aneh. Kami tak pernah akrab sejak dulu. Tapi usai kejadian bertemu dengannya di sebuah studio foto di kotaku pertengahan Januari lalu, semuanya berubah. Usai bertukar nomor ponsel dan diakhiri dengan janji mo bertemu dan jalan kalau di Jayapura, eee akhirnya malah keterusan dengan SMS dan telpon.
Karena terbuai dengan pesonanya misteriusnya si Arc, aku lupa bahwa si Q adalah orang yang bisa bikin aku marah besar kalau diganggu atau dijailin. Membuatku emosi tertahan dan ingin memakinya beberapa bulan lalu.
Tapi entahlah … seiring dengan waktu, apalagi usai percakapan kami beberapa bulan lalu, aku sadar bahwa si Q tak lagi seperti biasanya saat ngobrol. Lebih dewasa sedikit, lebih bisa membuka diri tentang siapa dia, dan kadang lebih pake logika dibanding diriku. Ada yang berubah.
Pesona Arc memang membuatku sempat lupa bahwa selama ini, ada Q yang kadang hadir menghiburku. Tapi aku baru menyadari 2 hari lalu usai diberi tahu para sahabat kalau si Q sebenarnya naksir dan bersemangat memburuku karena ia pernah curhat pada sahabatku tentang mengapa aku bisa sampai jadian dengan kaka di Jayapura dll. Aku baru menyadari bahwa si Q sempat mundur sebulan terakhir usai keterusteranganku kalau aku lagi naksir si Arc.
Kalau dipikir, mungkin aku yang bodoh … bodoh untuk tidak melihatnya … Bodoh untuk tidak menyadari hadirnya. Mungkin semuanya sudah berubah. Entahlah … malam ini aku merindukan si hitam manis cerewet ini … walau kata – katanya kadang bikin hati ‘t**’ skali …
Jujur .. malam ini aku baru sadar kalau si Q cowok dalam 6 bulan terakhir yang bisa bikin aku ketawa terus dengan kejailannya ataupun memaki sungguh mati sampai menelponnya dengan kosa kata makian tingkat tinggi yang nyatanya … dengan gampang ia cuekin *wkwkwwkwk.
Mungkin harus ada perubahan dalam sikapku. Seperti SMS kami hari ini tentang ‘bagaimana kalau aku yang mengungkapkan perasaanku duluan pada gebetan?” .. reaksi Q sama dengan beberapa hari lalu, ia bilang “itu tindakan bodoh dan jangan pernah kulakukan”… tapi jawaban – jawaban ambigu ini terjadi lagi usai kuingat acara curhat SMS tentang bagaimana bereaksi terhadap Arc … aku begitu bodoh tak melihat bahwa sebenarnya Q tak ‘rela’ aku berdekatan dengan si Arc. Mulai dari nasehatnya untuk jangan pernah menunjukan perasaan ketertarikanku, untuk bersikap normal dan lain – lain dan jangan pernah melakukan tindakan bodoh dengan menyatakan perasaanku ataupun kekagumanku. Aku begitu bodoh!!!!
Andai si Q paham juga kalau sebenarnya pernah ada perasaan lain tentangnya CUMA dianya juga rada cuek dan mulutnya itu terlalu ‘cerewet’ …
Andai saja dia tahu … kalau sekarang I really miss his voice yang mirip banget dengan suara si Vino G. Sebastian itu … seksi banget!!!
Andai saja dia tahu … kalau sekarang I realize his presence in my life, kalo dia orang yang bisa bikin sa ketawa terus dan mood turun naik marah – marah tapi senang.
Andai saja dia tahu … kalau sekarang .. I miss him badly!!!
Andai saja, dia bisa baca catatan ini!!!
(Manokwari, 040611; mengingat Q yang jauh di sana – andai saja ko tahu -)
Dia
Orang bilang jatuh cinta itu kepayang. Mungkin benar kalau kita menenggak cinta ibarat sebotol whiskey. Tapi bagaimana bila rasa kagum yang membuatmu salah tingkah, kebingungan dan menghindari pandangan matanya itu didefinisikan? Entahlah ... kata favoritku!!!
Sebenarnya apa yang membuatku kagum padanya? Mungkin dimulai sejak di Jayapura saat aku mulai tertarik pada desain logo ‘komunitas’ baru kami. Kekagumanku makin berlanjut saat bertanya pada sahabatku tentang desain ‘pondok’ baru kami. Dan sekali lagi berlanjut pada ‘maket pondok’ dan berlanjut lagi dengan rancangan lukisan tempelnya dan lagi ... dan lagi ... dan lagi karya – karyanya yang makin berkembang.
Entahlah ... setiap bertemu orang yang kreatif, ada yang pecah di hatiku. Elemen diriku seakan diingatkan tentang impian masa kecil yang pernah ada. Elemen yang tertutup oleh realita hidup yang kupilih dengan sadar dan tidak ada penyesalan; untuk melepaskan impian menjadi seorang perancang busana. Dan melihat dia yang sangat kreatif ... ada elemen diriku yang merasa nyaman. Entahlah .... berada dengan teman – teman yang senyawa benar – benar membuatku hidup, merasa diterima, merasa sangat berharga dan tak kosong.
Mungkin saat ini yang tepat menggambarkan perasaanku adalah sedang kagum berat pada lelaki berkulit kopi ini. Mengagumi bakatnya, tatapan matanya dan tentu saja celetukannya yang kadang lucu di saat yang tepat. But after all, merayakan pertemuan para pengangguran!!!
Dia
Mungkin bukan
Kekasihku
Bukan juga seorang
Yang akan
Jadi suamiku
Atau belahan
Hatiku kelak
TETAPI
Dia berhasil
Membuat mimpi kecilku
Muncul ke
Permukaan
Kala telah mengental dalam
Labirin waktu
Yang kelam
Dan kembali
Lagi
Thanx 4 coming with a brand new style, bro!!!
(010611; sebuah hujan subuh dan mengingat ‘dia’)
Sebenarnya apa yang membuatku kagum padanya? Mungkin dimulai sejak di Jayapura saat aku mulai tertarik pada desain logo ‘komunitas’ baru kami. Kekagumanku makin berlanjut saat bertanya pada sahabatku tentang desain ‘pondok’ baru kami. Dan sekali lagi berlanjut pada ‘maket pondok’ dan berlanjut lagi dengan rancangan lukisan tempelnya dan lagi ... dan lagi ... dan lagi karya – karyanya yang makin berkembang.
Entahlah ... setiap bertemu orang yang kreatif, ada yang pecah di hatiku. Elemen diriku seakan diingatkan tentang impian masa kecil yang pernah ada. Elemen yang tertutup oleh realita hidup yang kupilih dengan sadar dan tidak ada penyesalan; untuk melepaskan impian menjadi seorang perancang busana. Dan melihat dia yang sangat kreatif ... ada elemen diriku yang merasa nyaman. Entahlah .... berada dengan teman – teman yang senyawa benar – benar membuatku hidup, merasa diterima, merasa sangat berharga dan tak kosong.
Mungkin saat ini yang tepat menggambarkan perasaanku adalah sedang kagum berat pada lelaki berkulit kopi ini. Mengagumi bakatnya, tatapan matanya dan tentu saja celetukannya yang kadang lucu di saat yang tepat. But after all, merayakan pertemuan para pengangguran!!!
Dia
Mungkin bukan
Kekasihku
Bukan juga seorang
Yang akan
Jadi suamiku
Atau belahan
Hatiku kelak
TETAPI
Dia berhasil
Membuat mimpi kecilku
Muncul ke
Permukaan
Kala telah mengental dalam
Labirin waktu
Yang kelam
Dan kembali
Lagi
Thanx 4 coming with a brand new style, bro!!!
(010611; sebuah hujan subuh dan mengingat ‘dia’)
Subscribe to:
Posts (Atom)