Search This Blog

Loading...

Monday, 30 May 2011

dari Italia, mimpi, doger hingga cinta

Baru saja menyelesaikan menonton “Letters to Juliet” dan ada yang pecah di hatiku. Italia ... satu negara yang harus kukunjungi sebelum meninggal.

Anyway hari ini hujan turun dengan deras sedari siang hingga sore. Aktivitas rumah hanyalah merayakan ulang tahun J yang ke 4. Tak banyak undangan, tak banyak tamu, tak banyak hadiah; hanya kado pink beragam bentuk untuk si tomboy.

Hari ini karena tak pergi ibadah, aku tidur sejak sore hingga malam dan 10 menit sebelum jam 9 malam, karena sebuah mimpi buruk, aku terbangun dan tergeragap teringat belum pergi ‘doger’ alias doa gerbang. Tapi sebelumnya menyempatkan berdoa untuk si M karena mimpiku membuatku tersadar; karena batita ini.

2 hari belakangan ini aku mimpi buruk. Mulai dari mimpi kemarin tentang digigit ular di tempat bersetting rerimbunan pohon Poplar saat turun hujan dengan sebuah kaki luka dan berkruk hingga mimpi buruk petang ini dengan setting rumah yang sama persis dan waktu yang sama. Yang pasti, kuserahkan semuanya pada Yesus. Walau teman – temanku bilang kalau mimpi digigit ular artinya akan dilamar atau ‘ditembak’ seseorang entah jadi pacar ataupun suami, tapi menurutku aku tak percaya itu. Yang pasti, hanya ingin berserah pada Yesus.

Karena mimpi ini pulalah, aku tersadar bahwa belum pergi berdoa dan bergegas dengan motorku ke Pelabuhan dan Rendani. Dan aku merasakan bagaimana jiwaku yang sedari tadi sempat gloomy terasa penuh dan bebas. Memang benar, kalau pujian pada Yesus itu membebaskan dan menenangkan jiwa. Semoga Yesus berbaik hati memberikan seorang lelaki yang juga menikmati pujian pada Yesus sebagai bagian dari hidupnya.

Cinta? Masih seperti biasa. Masih plain. Beberapa hari ini suasana hatiku mulai membaik. Tak terlalu menggebu – gebu. Bahkan hari ini pun bertanya; apa memang seorang Day membutuhkan seorang kekasih? Aku pun berada pada sebuah titik yang mempertanyakan eksistensi dan pentingnya seorang kekasih di hidupku? Pernahkah mereka benar – benar peduli? Menilik pengalaman dengan para mantan kekasihku. Ataukah aku yang terlalu mencintai bayangan mereka dan bukan diri asli mereka ibarat melihat foto permak Photoshop dan bukan realita penampakan wajah yang sebenarnya? Ataukah ini mungkin tanda bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri dan tak ada waktu berbagi dengan orang lain? Mungkin benar yang kubutuhkan hanya para SAHABAT!!!

Rumit ngomong urusan cinta kadang – kadang. Tak seperti menuliskan sesuatu yang jelas seperti esai dengan pendahuluan, pembahasan dan simpulan. Lebih rumit karena esai cinta pasti tak berbentuk jelas dengan siapa yang dituju, apa yang diinginkan dan bagaimana menjelaskan kegilaan sesaat ini. Apa kekaguman, status de el el yang hendak dirujuk? Tak tahu dan mungkin kadang tak mau tahu.

Anyway, satu yang pasti, aku mau hidupku mengikuti apa yang diinginkan Yesus dalam hidupku. Aku mau bertemu dan menghabiskan hidupku untuk jadi apa yang Yesus inginkan. Dan aku mau, kalau memang mempunyai kekasih; seseorang yang cinta mati Yesus dan melakukan apa yang Yesus inginkan dari hidupnya.

Catatan ini kututup.

Segala hormat, kemuliaan dan pujian hanya bagi Allah Bapa, Allah Yesus, dan Allah Roh Kudus. Amen.

(Manokwari, 290511; tengah malam di sebuah penghujung Mei)

dari Italia, mimpi, doger hingga cinta

Baru saja menyelesaikan menonton “Letters to Juliet” dan ada yang pecah di hatiku. Italia ... satu negara yang harus kukunjungi sebelum meninggal.

Anyway hari ini hujan turun dengan deras sedari siang hingga sore. Aktivitas rumah hanyalah merayakan ulang tahun J yang ke 4. Tak banyak undangan, tak banyak tamu, tak banyak hadiah; hanya kado pink beragam bentuk untuk si tomboy.

Hari ini karena tak pergi ibadah, aku tidur sejak sore hingga malam dan 10 menit sebelum jam 9 malam, karena sebuah mimpi buruk, aku terbangun dan tergeragap teringat belum pergi ‘doger’ alias doa gerbang. Tapi sebelumnya menyempatkan berdoa untuk si M karena mimpiku membuatku tersadar; karena batita ini.

2 hari belakangan ini aku mimpi buruk. Mulai dari mimpi kemarin tentang digigit ular di tempat bersetting rerimbunan pohon Poplar saat turun hujan dengan sebuah kaki luka dan berkruk hingga mimpi buruk petang ini dengan setting rumah yang sama persis dan waktu yang sama. Yang pasti, kuserahkan semuanya pada Yesus. Walau teman – temanku bilang kalau mimpi digigit ular artinya akan dilamar atau ‘ditembak’ seseorang entah jadi pacar ataupun suami, tapi menurutku aku tak percaya itu. Yang pasti, hanya ingin berserah pada Yesus.

Karena mimpi ini pulalah, aku tersadar bahwa belum pergi berdoa dan bergegas dengan motorku ke Pelabuhan dan Rendani. Dan aku merasakan bagaimana jiwaku yang sedari tadi sempat gloomy terasa penuh dan bebas. Memang benar, kalau pujian pada Yesus itu membebaskan dan menenangkan jiwa. Semoga Yesus berbaik hati memberikan seorang lelaki yang juga menikmati pujian pada Yesus sebagai bagian dari hidupnya.

Cinta? Masih seperti biasa. Masih plain. Beberapa hari ini suasana hatiku mulai membaik. Tak terlalu menggebu – gebu. Bahkan hari ini pun bertanya; apa memang seorang Day membutuhkan seorang kekasih? Aku pun berada pada sebuah titik yang mempertanyakan eksistensi dan pentingnya seorang kekasih di hidupku? Pernahkah mereka benar – benar peduli? Menilik pengalaman dengan para mantan kekasihku. Ataukah aku yang terlalu mencintai bayangan mereka dan bukan diri asli mereka ibarat melihat foto permak Photoshop dan bukan realita penampakan wajah yang sebenarnya? Ataukah ini mungkin tanda bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri dan tak ada waktu berbagi dengan orang lain? Mungkin benar yang kubutuhkan hanya para SAHABAT!!!

Rumit ngomong urusan cinta kadang – kadang. Tak seperti menuliskan sesuatu yang jelas seperti esai dengan pendahuluan, pembahasan dan simpulan. Lebih rumit karena esai cinta pasti tak berbentuk jelas dengan siapa yang dituju, apa yang diinginkan dan bagaimana menjelaskan kegilaan sesaat ini. Apa kekaguman, status de el el yang hendak dirujuk? Tak tahu dan mungkin kadang tak mau tahu.

Anyway, satu yang pasti, aku mau hidupku mengikuti apa yang diinginkan Yesus dalam hidupku. Aku mau bertemu dan menghabiskan hidupku untuk jadi apa yang Yesus inginkan. Dan aku mau, kalau memang mempunyai kekasih; seseorang yang cinta mati Yesus dan melakukan apa yang Yesus inginkan dari hidupnya.

Catatan ini kututup.

Segala hormat, kemuliaan dan pujian hanya bagi Allah Bapa, Allah Yesus, dan Allah Roh Kudus. Amen.

(Manokwari, 290511; tengah malam di sebuah penghujung Mei)

Saturday, 28 May 2011

cerpen - Pengakuan Patah Hati

PROLOG

Langit penuh dengan kanvas kelabu buatan Tuhan. Tak ada pelangi yang muncul. Tak ada awan putih berarak riang. Teras rumah hijau di atas bukit karang kecil penuh tanaman bebungaan ini masih basah dengan putaran kenangan yang lengket. Usai sebuah suara memecah kebisuan.

“Rhe, de maitua hamil lagi. Su 6 bulan. Su pasti de yang bikin. Sa tra yakin de mo cerai!!!”, kata – kata Mei memecah ruang kupingku.

***

Namanya Fey. Lelaki berbadan tegap dan berkulit kopi ini kutemukan lewat jasa sahabat lamaku di penghujung sebuah dermaga kayu. Awalnya proses pertemuan kami pun bermula kala hatiku baru saja hancur luluh usai putus dengan kekasihku di kota lain. Iseng – iseng kubilang pada Mei untuk mencarikan seorang teman lelaki yang bisa diajak nongkrong; yang pasti tak ingin ada proses “kelapa” alias KEnal Langsung PAcaran.

Sebulan berlalu dan akhirnya kami pun berpacaran. Bukan seperti di film – film Hollywood penuh dengan adegan kebetulan ataupun a la sinetron Indonesia penuh bumbu cinta penuh curahan bunga apalagi seperti film India yang ada adegan lari – larian dan tarian. Sama sekali plain, biasa dan mungkin monoton dan membosankan. SMS, telpon dan sesekali keluar bersama dengan gaya a la backpacker alias jalan kaki sepanjang jalan di bawah deretan lampu menjelang Natal dan Tahun baru. Bukan sebuah kenangan yang spektakuler!

Jam berlari menjemput hari dan lembar kalender pun berganti. Hingga suatu hari beberapa pasang mata mencegatku. Suara – suara kecil membahana dari sudut jendela dan ekspresi ‘mata brimob’ mereka.

“Yeskol. Su trada laki – laki lain ka? Rebut orang pu laki”, seru mereka tertuju padaku.

Suara – suara ini merebak bagai aroma bunga bangkai dan menulari seisi tempat kerja. Pasang – pasang mata berbisik campur iba, pasang – pasang mata dengan pupil membesar keheranan.

Dan akhirnya aku pun datang pada lelaki yang kutemukan di sebuah sudut dermaga ini. Pengakuan mengalir dengan mata yang penuh air mata yang tertumpuk. Entahlah ... ia menyesal dan menutupi semua kebenarannya karena tak ingin kehilanganku, katanya. Yang aku tahu ... tak ada jalan pulang selain keluar dari labirin perasaan bersalah ini dan pergi.

***

EPILOGUE

Sudah 3 tahun kututupi perasaan ini sejak lelaki itu menikah diam – diam. Tak ada undangan, yang ada hanya air mata yang masih terus mengalir untuknya. Hari ini, kutemukan istrinya dengan perut buncit di sebuah klinik .... kali ini tentu saja bukan karena ‘kecelakaan’ seperti dulu kala. Yang aku tahu, aku ingin menangis keras – keras malam ini sambil memeluk seorang bocah lelaki kecil bermata sama dengan lelaki di dermaga kayu itu.

(Manokwari, 270511; Eits, it’s not a true story lah)

Rapuh lagi!

Joeniar Arief dengan suksesnya membuat perasaanku ‘rapuh’ seperti judul lagunya. Suaranya malam ini membuat beberapa keping memori lama terkuak, apalagi usai pulang hangout di rumah teman dan mendengar kisah lama mantan pacar. Ada yang hilang dari hati! Ada yang membuatku masih sedikit rapuh untuk bisa menerima yang lain lagi. Takut, sakit, dan mungkin sedikit khawatir campur kecewa.

Mereka yang pernah menitipkan hati mungkin tak pernah tahu bahwa luka yang mereka goreskan masih terlalu dalam untuk ditimbun seiring pertambahan detik, menit dan deretan kala yang berlari kencang. Masih tetap terasa sakit saat diungkit, dibuka ataupun disentuh. Masih ingin kukancing rapat.

Mungkin karena terlalu sering diungkit dan dilukai di tempat yang sama, hatiku menjadi berkarat dengan bau amis dan nyeri pengkhianatan, ketidaktulusan dan amuba – amuba ‘pemanfaatan’. Hingga akhirnya harus dibalut dengan antiseptik ‘kasih’ ditambah perban ‘pengampunan’ dan dilumuri terus dengan air mata berasa asin untuk mengingat bahwa aku pernah berada pada titik terbodoh di dalam hidup.

Hari ini, kuakui aku menikmati waktu lainnya dimana aku sempat tertawa, bercanda dan menikmati percakapan dengan para sahabat dan Arc. Tapi ... usai diberi kabar sekilas tentang mantan ... Gosh, ada yang pecah di hati. Masih terasa sakit dan berdarah, walau berusaha kututupi agar tidak membuat para sahabatku lelah mendengar sakit hatiku seperti dulu. Tak ingin membebani mereka.

Malam ini, kupikirkan lagi tentang dia yang telah mengguratkan luka mendalam beberapa tahun terakhir ini. Ah mungkin ia memang sudah bahagia, walau aku sempat terheran – heran dengan tingkahnya hampir 2 bulan lalu ataupun 2 minggu lalu kala bertemu diriku; masih dengan pandangan cinta, sentuhan yang membuatku kaget dan juga bahasa tubuhnya yang aneh. Entahlah ... aku sudah menolak semua pesonanya ... yang tertinggal hanyalah rasa sakit itu. Rasa sakit yang entahlah ... tidak perih tetapi membuatku sedikit ‘terluka’ dan juga R-A-P-U-H!!!

Malam ini kudengar lagi lagu lain dari Josh Groban “When you say you love me” ... dan tiba – tiba teringat dua musim gugur yang kulewati di benua lain dan berharap dan juga berdoa untuk mantan ini; si Lelaki Hujan. Mengingat tiap perih yang kurasa untuknya, mengingat tiap janji yang terpatahkan saat jarak tak lagi dalam genggaman tangan, mengingat semua tawa yang pudar dan pupus .... mengingat semua rasa sakit, kebohongan, dusta dan air mata yang mengalir untuknya. Entahlah ... aku sudah melupakannya TETAPI tiap kali berbenturan dengan kisah tentangnya dan apapun yang berkaitan dengannya ... ada yang pecah di hatiku dan mendadak menjadi ‘rapuh’.

Sudah saatnya menguatkan iman, memperbanyak doa dan mencari pacar baru. Bukan sebagai pengganti ataupun pelarian. Tetapi menunggu dia yang memang disiapkan Yesus untukku agar sama – sama bisa menertawakan masa lalu kelam, menertawakan kisah lama kasih tak sampai, menertawakan hidup yang telah berhasil dilewati walau dengan lembaran – lembaran tisu basah penuh ingus.

Malam ini yang kutahu, aku ingin menangis hingga puas, menangis hingga lega. Tak tahu kenapa ... mungkin sudah berhenti terpapar dengan dirinya. Berhenti terpapar dengan apapun yang terkait dengan dirinya.

Let me cry, o my soul
Let me pray, o my self
And let me be what I should be ...

How I miss Canberra so much this autumn!

(Manokwari, 260511; post-shock reaction)

kegilaan sesaat

Dia membuatku memimpikan wajahnya khususnya matanya akhir – akhir ini. Entahlah ... lelaki hitam manis ini membuatku kelimpungan. Bukan karena kata – katanya, bukan pula karena apa yang ia berikan. Tidak sama sekali. Aku hanya tergeragap tiap kali memandang mata coklatnya yang hangat *itu tebakanku sih, karena tak pernah berani lama memandang wajahnya ^_^. Anyway, yang membuatku memikirkannya adalah karna menebak apa yang akan dibuatnya lagi. Karyanya yang membuatku mengingat lelaki ini. Arc seh ....

Ah mungkin perasaan kagum ini kerap kualami kala berhadapan dengan para lelaki penuh bakat. Toh, sejak pengalaman dengan kaka di Jayapura, aku belajar untuk tidak lagi menilai lelaki dari bakat mereka. Maksudku aku tak ingin lagi jatuh cinta hanya karena faktor ‘karya’ seseorang. U know lah, driven factor getho. Jadi kalo cewek lain ada yang menilai uang, kemapanan dll, entahlah ... akhir – akhir ini pasti aku mudah sekali jatuh cinta pada mereka yang punya bakat seni, mulai dari si bro J di Melb yang suka ngajakin ngomong seni khususnya fotografi dan filmografi hingga berakhir di kaka J di Jayapura.

NAMUN Hari ini aku mampu mengatasi ‘kegilaan perasaan sesaat’ ini!!! Caranya: minta dalam nama Yesus untuk atasi perasaan rindu apa kekaguman berlarut yang membuatku sedikit ‘terobsesi’ hahaha.

Malam ini aku sedikit tersenyum melihat beberapa pendapat para teman di akun jejaring sosialku, kala seorang teman cowok bercanda dengan temannya yang mengomentariku dengan pedas. Pendapat si X yang ‘memakiku’ ditanggapi dengan Y; sahabatnya X kalau kenapa si X bisa berpendapat pedas untuk ‘ko pu sayang’. Pasti ada konspirasi kaco di pedalaman sana *merujuk pada dua makhluk yang kerap dimaki ini ^___^ apalagi frekuensi X yang mulai jarang menghubungiku baik lewat telpon maupun SMS sejak aku bercerita tentang si Arc.

Selain itu, aku bersyukur bosku si Versace sedikit peduli dengan kesehatanku. Mungkin memang cowok bule itu lebih perhatian ya dibanding cowok lokal. Walau aku hanya freelance pada si Versace ini tapi kata – katanya selama ini lewat perkataan langsung maupun e-mail benar – benar membuatku dihargai, apalagi hari ini aku bersyukur untuk pesannya di e-mail, “stay healthy” alias jaga kesehatan ya ^___^ entahlah, jujur pertama kali bertemu si Versace, aku merasa aku menemukan senyuman dan tatapan dan gaya ngomong bro J. Ada hal – hal kecil pada Versace yang mengingatkanku untuk bro J. Mungkin karna mata birunya yang sama wkwkwkkw Walau kuakui kalo si Versace lebih GANTENG daripada bro J *sorry bro J ^_^

Anyway, sosok kaka mulai pudar akhir – akhir ini. Entahlah ... rasa itu menghilang dengan cepat. Mungkin benar bahwa dulu aku sangat terpesona dan mencintai karya – karyanya dan bukan dirinya yang sebenarnya. Mungkin usai mengenal posesif dan cemburunya yang tak terkontrol serta sifatnya yang kerap menuduh dan egois benar – benar bersinggungan dengan kebebasan dan prinsipku. Walau pernah dulu kutitipkan mimpi untuk menikah dengannya. Sekarang ... semua rasa itu pudar usai 3 minggu bersamanya. It’s not only about the future sebenarnya TAPI yang kurasa, aku hampa secara rohani saat bersamanya. Dan jujur itu membuatku sesak nafas. Apalagi kaka kerap tak jelas. Untunglah ... kami sekarang berjalan dengan jalan kami masing – masing walau kadang – kadang masih merindukannya.

Aku juga akhir – akhir ini kerap bermimpi dan tiba – tiba rindu akan Lelaki Hujan. Walau logikaku otomatis mengingatkan dengan cepat tentang sifat negatifnya dan hal – hal buruk yang terjadi. Sebuah mekanisme pembelaan diri, tentu saja. Dan rasa rindu sesaat yang muncul langsung kuhajar abis. No more Lelaki Hujan, tentu saja.

Aku hanya ingin melangkah ke depan dengan bebas dan tanpa ikatan sekarang. Aku bersyukur masih punya sahabat lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakak laki – lakiku sendiri dan minggu ini aku merayakan dan berterima kasih padanya karena telah 5 tahun menjadi sahabatku; seorang teman berbagi idealisme dan impian serta kegilaan. Ia dan juga seorang teman di tempat lain pernah menjadi alasan kecemburuan kaka di Jayapura dan menjadi salah satu alasan putus kami. Aku tak akan pernah mau merelakan sahabatku dimaki kekasihku karena bagiku; sahabat lebih penting daripada seorang kekasih.

Akhirnya ... aku harus tidur dan masih tetap mengingat tatapan mata si Arc yang hangat banget *menghayal kapa....

What a life!!!

Yang pasti, aku bersyukur pada Bapa, Yesus dan Roh Kudus untuk hidupku yang warna – warni ini. Amen.

(Manokwari, 230511; mengingat mata cokelatnya sambil ngemil sepotong coklat)

Poem - Mata

Jatuh cinta?
MUNGKIN!

Rindu?
Iya!

Kagum?
Sangat jelas!

Ko pu mata slalu bikin sa ‘tididit’
Semuanya terasa coklat, terlalu manis.
Logika yang berkarat pun meleleh.
Tiap kali ko pu mata menyapa.

Ah ... kaka ko pu mata tuh seh ....
Bikin sa hati lompat – lompat.

Andai saja ko tahu HahAhA ...

Sh**!!! Feromon kerja nih.
Oksitosin pica di mana – mana.
Damainya ....

Lelaki hitam manis seh ...

&*?(&%$#@%&%^ *trying to describe my feeling

(Manokwari, 210511; untuk lelaki yang sekarang sedang sa kagumi bratz .....)

Si busur

Adoh hari ini temanya sih sa lagi jatuh cinta bratz .... feromon lagi kerja keras dalam tubuh ini gara – gara ... biasa ... gebetan baru. Itung – itung smua ini karna si cowok ini, panggil saja deh si Arc, bukan busur tentu saja ... tapi sio, de pu panah pesona su bidik sa hati mulai takapar nih wkkwkwkwkwk

Iya, sa pu tulisan kelihatan kalo sa lagi kaco banget nih skarang. Bukan kelakuan tapi emosi. Jatuh cinta seh .... mungkin lebih tepatnya masih di tahap KAGUM bratz tapi kok tiap ketemu si Arc sa pu hati langsung lari – lari babi tra pake itungan begitu!!!

Si cowok itam manis ini bikin tiap kali ketemu dia di rumah teman, sa hati langsung macam pica ka. Bukan kaget ka ini tapi macam jantung lagi aerobik ka ini. Tra tau juga kenapa nih. Jadi macam anak remaja lagi ketemu artis idola seh ... jadi untuk menutupinya terpaksa menghindari kontak ngomong dengan si Arc ... gugup banget wkwkkwkwkw

Jadi, su beberapa kali ini sa lihat, tiap kali sa main ke sa pu teman, tra lama langsung pasti si Arc datang ka ini. Jadi sa yang niatnya mo ngobrol deng sapu sahabat cowok, harus berbagi dengan si Arc  padahal mo curhat deng sapu sobat cowok nih. Tapi ya akhirnya jadi biasa ka ini. Jadi ingat beberapa pertemuan terakhir deng si Arc. Nih anak ternyata dulu masa SMAnya tuh di kota yang sama; tepatnya sama – sama eks anak yang sekolah di Kotaraja Jayapura, cuma beda sekolah ka ini dan de satu angkatan di atas sa ‘n sama – sama eks anak sekolah kejuruan.

Sebenarnya yang bikin sa KAGUM BRATZ sama si Arc karna insting seninya tuh benar – benar keren. Awesome!!! Kemampuan representasinya benar – benar bikin sa macam mo tarik nafas, saking indahnya. Pokoknya tra bisa sa deskripsikan di sini.

Intinya, sa masih di tahap KAGUM BRATZ karna bagaimanapun sekarang ada aturan yang jelas kepada siapa sa harus titipkan hati usai hati kena bombardir patah hati berulang kali, antara lain cowok yang mo jadi PACAR BARU .... HARUS:

 Cinta bratz sama Yesus. Ini harga mati. Jadi, sikap dan karakter harus merefleksikan Yesus dalam hidup.
 Pu pekerjaan tetap dan tra gengsi bekerja apapun selama itu baik menurut pandangan Tuhan .... tapi kerjaannya bisa diandalkan APABILA de jadi kepala keluarga kelak. Tentu saja sa ogah jadi pencari nafkah keluarga kelak dan harus biayai hidup laki wwkkwkwk
 Cinta mati Papua.
 Terima sa apa adanya.
 Setia dan jujur baik deng masa lalunya ataupun kesalahan – kesalahannya.

Anyway, daripada absent semua yang sa inginkan, nan jang sampe ini jadi acara TAKE me OUT lagi wkkwkwkwkw.

Adoooh malam ini sa benar – benar hati macam bagaimana eeeeeeee.... senang sekali ketemu si Arc di toko tadi wwkkwkwkwkkwkwkkw. Pasti tadi karna ada sapu ‘kembaran’ jadi pasti de sampe bingung ka ini wkkwkkwkkkwk


Adoooooh Arc seh ...
(Manokwari, 210511; untuk si Arc, U r so talented. Like your works)

Thursday, 19 May 2011

PNS dan Uang Mina

Hujan baru saja berhenti di luar kamar dan aku pun kembali bercengkerama dengan papan ketik, usai beberapa jam mencuci pakaian. Sambil melihat daftar kerjaan yang harus kukerjakan usai beberapa hari MENUNDA kerjaan ketik dan terjemahan karena nyeri otot, di depan layar putih, aku teringat beberapa hal yang dibahas para sahabatku di sebuah kantor pemerintah siang tadi. Uneg – uneg seorang sahabat membuatku teringat kisah yang pernah dibagikan seorang ‘tukang kayu’ sederhana dari Asia kecil (Luk 19: 11 – 27).

Alkisah, ada seorang bangsawan di sebuah daerah. Ia hendak pergi ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan sebagai raja. Sebelum ia pergi, dipanggilnya 10 pembantunya dan memberi masing – masing sekeping uang, sebut saja, uang mina. “Neh, kam pake uang nih untuk cari keuntungan untuk sa e. Nih sa kasi kam modal ka ini. Nan sa balik, sa cek akan eee” dan pergilah bangsawan itu ‘usai bagi – bagi uang’. Usai beberapa waktu, si bangsawan pun balik dan bergelar ‘raja’ dan bikin acara ‘jumpa pembantu’, semua diabsennya dan e ternyata, ada tiga kasus yang ditemukannya.

Masuklah pembantu 1 (P1) ke dalam ruangan:

Bos : Pace, baru sa pu uang yang sa kasi waktu itu, akan ada mana?

P1 : Ada bos. Sa su pake bajual jadi lumayan juga, sa dapat 10 mina nih.

Bos : Andoleeenz. Ko bisa jalankan tanggungjawab kecil tuh, jadi ... neh sa angkat ko jadi penguasa 10 kota eee.

P1 : Thanx, bos. Sa cabut dulu eee *dengan muka berseri – seri dan bahagia.

Tak lama, masuklah pembantu 2 (P2) ke dalam ruangan:

Bos : Pace, sa pu uang satu mina tuh bagaimana? Ada hasil ka?

P2 : Bos, jang takut. Sa ada pake usaha, jadi ada dapa untung 5 koin nih.

Bos : Mantapz. Ko bisa pake 1 keping jadi 5, jadi ko sa utus jadi penguasa untuk sa pu 5 kota eee.

P2 : Adoooh terima kasih, bos. Terima kasih banyak *sambil tertawa girang dan bersyukur plus mata berkaca – kaca.

Dan pembantu 2 pun keluar, datanglah pembantu ke 3 (P3) dengan muka ‘badan malas’:

Bos : Baru ... pace ko bagaimana? Sa pu uang ko bikin apa? *berharap akan ada untung dan laporan ‘surplus’

P3 : (dengan ‘muka seratus’) Adoooh bos, ko baik baru. Adooh waktu itu tuh .... (pikir alasan...) ... sa meman’ dapat uang 1 keping mina too ... tapi begini ..... (garuk – garuk kepala) ... sa pikir bos ko ini jahat dan tra pernah usaha cari baru ko mo enaknya saja ka ini, jadi aeh daripada sa urat ‘mancari’ untuk bos ko, sa taru uang dalam sapu tangan dan sa simpan saja abis bos ko orangnya keras jadi *bicara sambil tinggal bikin pembelaan diri ka ini.

Bos : Damainya ... Adoooh sa tahu begitu lebi bae sa kas uang tuh untuk pembantu yang lain. Ko su tahu itu uang untuk modal baru .... Meman ... ko ini eeee. Kalo ko meman pamalas, lebe bae ko kas di ko pu teman – teman yang bisa jalankan usaha ka ko kas masuk di bank, setidaknya sa ada dapat keuntungan. Eniwei, ko tadi bilang sa ‘keras’ tooo, jadi suda .... sa bikin barang ko bilang, sa P-E-C-A-T ko + sa denda ko banyak – banyak, sapa suru ko bikin sa rugi ka ini.

P3 : Aih mamayooooooooooooooo *sambil menyembah – nyembah menangis Bombay


Kisah Tukang Kayu ini ternyata tak hanya ADA di jaman-Nya, tetapi juga masih terus terjadi bahkan di sebuah tanah bernama Papua atau lebih tepatnya di kota ini; Manokwari. Siang tadi karena berkutat dengan berbagi kisah di jam istirahat dengan sahabat yang bekerja sebagai seorang honorer yang sudah 3 tahunan kerja di sebuah instansi pemerintah, aku pun tersadar bahwa kisah yang dibagikan tukang kayu itu masih sangat relevan dengan saat ini, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan temanku di instansi pemerintah.

Catatan ini bukan sebuah catatan untuk mendiskreditkan kerjaan tertentu, dalam konteks ini, Pegawai Negeri Sipil terlebih lagi yang bekerja di Pemda. Hanya karena kerap bersentuhan dengan oknum – oknum dengan kinerja yang membuang atau menyiakan ‘uang mina’dari pekerjaan ini membuatku ingin menulis tentang pekerjaan ini walaupun cakupan kisah tukang kayu itu lebih luas. Percayalah, aku tak ingin mendiskreditkan kerjaan PNS karena masih ada para PNS berdedikasi yang kukenal yang bekerja tepat waktu namun kesejahteraannya tak diperhatikan. TAPI ... karena kerap bertemu dengan lebih banyak ‘oknum’ PNS yang tak bisa mengolah ‘uang mina’ jadinya ya ... catatan ini kubuat.

Sering kulihat para tetangga, famili, ataupun teman yang ‘tembus pegawai’ tetapi menyia – nyiakan kerjaan. Padahal untuk mendaftar jadi PNS saja sudah ada proses berliku, belum lagi mengikuti rangkaian tes. Bahkan, ada praktek – praktek penyuapan yang terjadi, baik dengan duit segepok ataupun dengan imbalan servis ‘pelayanan tubuh’. Untuk menjadi seorang PNS yang melewati proses pendaftaran, seleksi, dan akhirnya prajabatan; sejenis masa orientasi, tentu bukan sebuah waktu yang cepat. Apalagi bila menunggu masa pra jabatan yang bisa berkisar antara 1 – 2 tahun. Ditambah lagi harus bersaing dengan ribuan pendaftar kerja untuk mendapatkan sebuah posisi dengan gaji berkisar antara 2 – 3 juta pada awal masuk. Tentu saja itu kisaran dasar di kota Manokwari.

Tapi, kisah lama selalu terjadi. Usai mendapat beberapa pasang seragam dari ‘hansip, hingga yang berwarna ‘khaki’ plus SK penempatan de el el, maka ‘para penunda dan pemalas sejati’ pun bermunculan bagai jamur di musim hujan. Mulai dari setor wajah di atas jam 10 tetapi pulang lebih cepat. Hingga para ‘penghitung jenius’ yang kerap mengisi kwitansi kosong dengan nominal sesuka hati, para ‘imajiner pesaing Steven Spieldberg’ yang mampu membuat proyek – proyek fiktif’ ataupun para ‘ahli sulap’ yang lebih lincah dari ‘Houdini’ untuk menghilangkan dana – dana bantuan untuk masyarakat miskin ke dalam saku pribadi dan juga berbagai macam oknum ‘jagoan’ lainnya.

Para oknum PNS ini tak pernah sadar ataupun tak pernah mau sadar dan masa bodoh bahwa mereka telah banyak “mencuri” apa yang bukan menjadi milik mereka dan juga menyebabkan orang lain menjadi “lebih menderita”. Karena mereka selalu berpikir bahwa “toh .... itu kan uang negara, jadi epen epen enos, toooh sa tra cinta negara ini. Jadi sa juga kerja suka - suka” Pikirkan saja apa yang akan terjadi APABILA:

 Seorang pengurus administrasi ataupun urusan surat – menyurat datang di atas jam 10 pagi ke kantor, saat itu mungkin saja ada surat penting yang harus ditandatangani cepat atau diserahkan untuk diproses guna pencairan dana untuk bantuan sosial orang miskin ataupun pengantar keterangan tidak mampu untuk biaya obat dan sekolah dan lain – lain. Ataupun pengantarnya adalah masyarakat yang tinggal di luar kota yang tak punya banyak uang untuk ‘berkeliaran’ di kota sedang ia harus meninggalkan anaknya yang sakit di rumah dan juga orang – orang yang sangat berharap surat ini ditindaklanjuti dan ditanggapi ; entah ‘YA’, ‘TIDAK’ ataupun ‘MENUNGGU’ dengan cepat. DAN HANYA KARENA si pegawai telat datang ataupun memilih tidak datang, maka semua urusan menjadi lama dan berbelit – belit. Pikirkan dampak dan biayayang harus dihadapi pekerjaan, program ataupun orang – orang yang menanti jawaban surat – surat tersebut.

 Seorang staf pengajar perguruan tinggi negeri yang tidak masuk mengajar selama bertahun – tahun, katakan saja lebih dari 7 tahun tapi tidak pernah diproses secara administrasi dan tetap menerima gaji dan jatah beras dan fasilitas lainnya hanya karena “IA PAPUA dan BERAMBUT KERITING” sehingga mendapat keistimewaan, apalagi ia masih berkerabat dengan ‘petinggi’ tertentu. Sedang seorang temannya yang lain, yang hanya mangkir bekerja part-time di instansi lain selama 1 bulan langsung mendapat sanksi administrasi dihentikan gaji dan dikirimi surat pemecatan hanya karena teman ini hanya “separuh PAPUA” dan tak punya kerabat ‘petinggi’ dan bukan siapa – siapa. Bayangkan apa yang dihadapi para rekan sesama pengajar yang bertahun – tahun harus makan hati dan menggadaikan kesehatan mereka memberikan jam ekstra dan keringat mereka untuk mengambil alih kerjaan ‘si pengajar malas’ ini demi sebuah label bernama ‘pengabdian’. Bayangkan para mahasiswa yang harus kehilangan ‘kualitas’ mendapat perhatian ekstra dari pengajar karena keterbatasan waktu dan energi.

PADAHAL ... si pemalas ini harusnya berkaca pada para guru bantu dan beberapa guru SD berstatus PNS yang notabene juga ORANG ASLI PAPUA yang pernah kutemui di sudut – sudut Supiori dalam sebuah kerjaan proyek selama beberapa bulan beberapa tahun silam, yang rela bekerja dengan gaji yang ditunda pembayarannya beberapa bulan plus jalan kaki 5 jam hanya untuk datang ke tempat pelatihan kami. Para pengajar ini banyak yang telah mengabdi berpuluh tahun dengan fasilitas minim di tempat yang sinyal HP suka ngadat dan hiburan pun terbatas. Bandingkan dengan si pengajar malas yang tinggal di sebuah kota bernama Manokwari dengan kesempatan mengajar di salah satu perguruan tinggi bergengsi di tanah ini. Apakah si pengajar malas ini telah berkaca pada kisah tukang kayu tentang ‘Uang Mina’. Apakah jawabnya kelak, kala Ia, pemberi modal, bertanya tentang ‘uang Minanya’? Aku tak tahu, karena aku bukan hakim-Nya. Yang aku tahu, ada banyak orang – orang yang menderita dan mengalami kerugian karena ‘uang mina’ tidak dijalankan dengan baik!

 Seorang staf keuangan dan beberapa temannya dari divisi lain tidak jujur menghitung biaya sebuah proyek pembangunan fisik baik jembatan, gedung dan peralatan lainnya dan memilih ‘menyunat’ dan ‘menyulam’nya demi mendapatkan keuntungan. Bayangkan kalau akhirnya proyek itu berjalan, bayangkan bila yang dibangun itu sebuah JEMBATAN di atas sebuah sungai yang besar di sebuah daerah luar kota tetapi jembatan ini dibangun dengan kualitas bahan yang a la kadarnya. Bayangkan bila pada sebuah hari hujan, dipenuhi guntur dan kilat, melintaslah kendaraan motor dan mobil pengangkut sayuran ke kota dan ..... blessss .... jatuhlah mobil – mobil itu ke sungai. Bayangkan, wajah – wajah kelaparan anak – anak penjual sayur di kampung yang menanti uang untuk sekolah dari hasil penjualan sayur mereka, ataupun bayangkan pusingnya kepala penjual sayur itu membayar biaya rumah sakit ataupun tukang urut. Bayangkan kerugian pemilik mobil angkutan yang kredit mobilnya belum lunas tetapi sudah harus membayar biaya bengkel yang lumayan besar. Bayangkan kerugian lain yang muncul akibat rusaknya kualitas jembatan kala seorang ibu yang harus dibawa operasi secepat mungkin di rumah sakit di kota karena anaknya susah lahir dan terpaksa harus ditandu melewati sungai deras yang berisiko si ibu kehilangan nyawa.

BAYANGKAN bila yang dana yang telah ‘disunat’ itu dibangun untuk membangun sebuah gedung sekolah, katakan sebuah gedung SD, di kota dengan frekuensi gempa yang tinggi seperti Manokwari. Bayangkan apa yang akan terjadi pada bocah – bocah Papua dengan kualitas bangunan yang buruk kala gempa besar terjadi di sekolah itu. Setidaknya dengan membangun dengan kualitas baik, dapat meminimalisir tingkat resiko. Masih banyak hal yang bisa dibuat dengan ‘dana sunat’ oleh para manipulator ini. BAYANGKAN hal – hal besar yang terjadi dan membuat orang lain menderita HANYA KARENA ulah manipulasi dana beberapa orang yang MUNGKIN hanya ingin mendapat UANG untuk :

- Membeli notebook dan ponsel varian terbaru;

- Biaya liburan ke kota wisata terdekat;

- Biaya bangun rumah untuk keluarga dan juga modal usaha;

- Biaya membeli ‘cinta’, ‘kekuasaan’ ‘harga diri’, ‘gengsi’, ‘prestise’, ‘makan puji’ dan ratusan hal bertema “RAKUS, TAMAK, SERAKAH!!!”.

Aku masih punya banyak contoh nyata yang kutemui dalam hidup, yang kerap kudengar, yang kerap kusaksikan.

Aku percaya, menjadi PNS itu bukan sebuah hal yang diperoleh dengan mudah, menjadi PNS itu ibarat diberikan ‘uang mina’ oleh si pemilik modal. Adakah kita mengelolanya dan mendatangkan ‘keuntungan’ bagi pemberinya ATAUKAH kitalah si hamba yang enggan dan malas dan lebih suka menyimpannya di ‘sapu tangan’ kita?

Aku tak tahu .... yang aku tahu aku menggunakan ‘uang minaku’ saat ini dengan membuat catatan ini. Kiranya kelak di saat matiku, kala bertemu si tukang kayu itu, aku akan bilang, “Bos, sa su berusaha jalankan Ko pu uang mina, selanjutnya biar BOS yang ‘audit’ suda eee”

Stay blessed!!!

(Manokwari, 180511; Thanx 4 Mitha for her ‘curhat’; you are one of my best ‘kawan panta’ in my life. Tetap s’mangat, siz)

Saturday, 14 May 2011

Gerbang

Hari ini hari yang sebenarnya tidak melelahkan, tetapi membuatku cukup lemas menahan nyeri. Pagi dimulai dengan bangun di atas jam 7 pagi karena baru dapat tidur jam 2 pagi. Bangun pagi dengan sebuah doa kecil dan sibuk mengecek SMS yang masuk dan tertidur – terjaga lagi. Ritual yang tak menyenangkan. Masih dengan mata sedikit malas terbuka, berhadapan dengan cermin lemari, aku menatap bayanganku dan bilang: “May, hari ini ko pu dua pilihan. Mo jalani hari ini deng semangat dan optimisme atau biarkan ko pu mood mellow kuasai ko.”. Dan hari ini aku memilih pilihan pertama.

Ritual pun berjalan. Bangun pagi, mengecek keponakan, minum, dan mandi. Hingga sebuah SMS masuk dari si Versace (sebenarnya bulan ini ia berganti kacamata lagi, tapi karna kadung mengenalnya dengan Versace-nya jadi sebut saja ia Versace). Si Versace, bule Amerika yang bekerja di Sydney kembali lagi guna penerapan program karbon hutannya di provinsi ini. Versace memintaku menemaninya hari ini untuk dua pertemuan yang ternyata masih berlanjut dengan mencari lagi oleh – oleh pulang ke Sydney. Jadi, kami berakhir di sebuah galeri seniman lokal yang ternyata pembicaraan pun makin melebar dan voila ... pesanan Versace bertema ikan dengan elemen dekoratif lokal pun terlaksana. Well, let’s say, I become a sort of broker.

Nothing special today kecuali hari ini aku mulai dengan kegiatan yang kujanjikan pada Tuhan dan molor beberapa hari. Yeap, malam berdoa di “pintu gerbang” kota. Panggilan ini kudapatkan pada sebuah doa subuh minggu lalu saat mengikuti sebuah pelayanan Kristen di kotaku. Saat doa subuh, suara di dalam hatiku hanya meminta dua hal untuk kulakukan: mengoptimalkan kemampuan menulisku guna memotivasi, menguatkan sesama khususnya yang mengaku Yesus sebagai juru selamat dan Tuhan. Yang kedua, aku harus menjadi pendoa untuk “pintu gerbang Manokwari”. Dalam saat teduh di doa subuh itu, aku diberi penjelasan bahwa aku harus berdoa tiap hari di tempat yang menjadi ‘pintu gerbang kota’ alias tempat keluar masuk kota ini. Dalam saat teduh itu aku diberi penjelasan bahwa tempat itu adalah pelabuhan utama di kota Manokwari dan bandara Rendani. Di saat teduh itu, aku akui aku menjadi seperti Abraham yang membuat penawaran pada Tuhan, aku bilang sama Tuhan, “Tuhan, kalo setiap hari sa tra sanggup, bagaimana kalo 1 minggu 3 hari”. Then ... it’s done!!! Jadi seminggu 3 hari yang harus kualokasikan.

Roh Kudus dalam hatiku bilang kalau Ia tak menuntut aku doa yang sangat lama. Tak harus bersuara. Yang ia lihat, niat dan ketulusanku untuk datang dan berdoa di dalam nama Yesus. Yang pasti, harus ada beberapa hal yang diminta disebutkan dalam doa pintu gerbang itu. Aku ingin menjabarkannya di sini:

 Berdoa bagi semua orang yang melalui tempat ini (pelabuhan dan bandara). Berdoa agar mereka dipulihkan dan mengenal Yesus dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat. Berdoa bagi orang – orang yang berniat jahat bagi kota ini dan sesama, agar Allah berperkara dengan mereka, entah membelokan motivasi mereka ataupun kehendak Allah atas mereka.

 Berdoa bagi kesejahteraan dan agar kemuliaan Tuhan dinyatakan di kota Manokwari. Agar Allah melawat kota ini.

 Berdoa dan mengklaim gerbang – gerbang kota di dalam nama Yesus. Ibarat melabel pintu gerbang dengan darah Anak Domba seperti di Mesir.
Aku memulai doaku jam 8 malam dengan berkendara ke pelabuhan, walau dengan menahan nyeri efek jatuh sebulan lalu yang belum beres sehingga memicu sciaticaku. Dari pelabuhan lanjut ke bandara. Yang pasti selama sejam itu di atas motor, kurasakan keinginan memuji dan menyembah Tuhan serta berdoa yang dalam. Sangat dalam. Hingga mungkin terdengar gila karena sepanjang perjalanan, yang ada hanya menyanyi pujian – pujian yang tak pernah diketahui dari mana asalnya dan mengalir. Yang pasti memuliakan Yesus dan seperti doa dalam nyanyian. Saat pulang, jiwaku terasa lega dan segar karena utangku pada Tuhan mulai kujalankan dan juga karena terasa begitu dekat dengan Yesus.

Satu yang pasti, aku percaya hidupku tiap hari diubahkan Tuhan dan menerima berkat – berkat yang mengalir terus. Trust me, seminggu ini saja aku sampai “gajian” 4 kali dengan jumlah tiap gajian sekitar 6 digit bervariasi. Dan aku percaya, Tuhan mendengar doaku beberapa minggu lalu yang bilang, “Yesus, sa tra pu uang” dan memang saat itu benar – benar tak punya uang. Bahkan untuk beberapa kali fotokopi dan pergi pelayanan pun duit kolektenya dengan meminta dari orang tua. Dan sekarang, saat ini, seems like blessings run to me smoothly.

Anyway, just wanna say, “Thanx Father, Jesus, and Holy Spirit. Amen”

(Manokwari, 120511)

Wednesday, 11 May 2011

Antara KKR dan sampah

Tiap kali melintas di lapangan Borarsi Manokwari usai kegiatan apapun, selalu saja mataku menjadi sedikit ‘radang’. Bukan karena sedang sakit mata! Bukan juga karna ada yang heboh di sana. Tapi karena sampah yang bertebaran!!!! Malam ini usai menjalankan tugas sebagai penjaga stan buku pada sebuah pelayanan Kristen yang kebetulan mengadakan KKR di kotaku, aku sempat ngomong pada beberapa teman lain di stan andai saja aku diperbolehkan membuat sebuah poster atau tampilan Power Point di layar. Idenya sih sudah matang di otak! Memotret tumpukan sampah yang bertebaran usai KKR dan menuliskan kata – kata “What Would Jesus Do?” di layar atau poster itu. Tiba – tiba terbayang satu pertanyaan: Memangnya menjaga kebersihan BUKAN bukti dari IMAN KRISTEN ya? Jadi apa saja bukti iman kita dalam kehidupan nyata? *pertanyaan hari ini.

Aku percaya kalau Firman Tuhan tidak ada yang basi dan sampai hari ini, aku belum pernah menemukan pembaharuan dari kitab Kejadian 1: 28 tentang fungsi manusia dalam penciptaan. Dari semua jenis terjemahan Alkitab (aku punya 4 jenis terjemahan; 2 dalam bentuk elektronik untuk New King James Version dan Alkitab dalam bahasa sehari – sehari LAI; 2 edisi cetak untuk Good News Bible dan Alkitab terjemahan resmi LAI) favoritku adalah versi Good News Bible dan ayat yang paling berkesan dari Kej 1:28 - 30 adalah

“I am putting you in charge of the fish, the birds, and the wild animals. I have provided all kinds of grain and all kinds of fruit for you to eat but for all the wild animals and for all the birds I have provided grass and leafy plants for food”

Aku jadi berpikir, apa memang seruan panitia KKR agar semua orang membawa pulang sampahnya masing – masing terasa berat? Apa memang kita sudah terserang virus malas dan ogah menjaga lingkungan karena bagi kita para pengunjung KKR itu bukan SESUATU YANG ROHANI? Entahlah ... apa yang dipikirkan para pengunjung KKR ini ataupun kegiatan lain serupa pengguna lapangan Borarsi Manokwari.

Aku hanya berpikir, bagaimana reaksi Yesus kalau ia masih ada sebagai anak Manusia dan mengikuti KKR ini dan menjumpai sampah yang bertebaran usai kegiatan? Aku percaya Ia bukan Allah yang cuek dan tak mau tahu keadaan sekitar. Bagiku, kekristenan adalah sebuah relasi dan juga gaya hidup. Apakah kita menganggap sesuatu yang kecil seperti menjaga kebersihan bukan sesuatu yang rohani? Bukan sesuatu yang mendatangkan berkat? Trust me ... kalau anda masih berpikir demikian, berkacalah pada orang – orang bergaji rendah yang harus bekerja sebagai tenaga angkat sampah di Dinas kebersihan kota!!! Bukankah dengan tak mau peduli pada lingkungan, telah menambah beban kerja mereka? Padahal mereka dibayar sangat rendah dan tanpa asuransi kesehatan dan kesejahteraan tak terjamin.

Aku percaya, dengan membuang sampah atau bertanggungjawab atas sampah saudara, maka kita sudah meringankan beban para petugas kebersihan dan artinya kita menolong hidup sesama kita dan menciptakan rantai kebaikan dalam lingkungan sekitar kita.

Bagaimana kita dapat bertanggungjawab pada ciptaan Tuhan yang lain yang diperintahkan-Nya pada kita kalau hal sekecil membuang sampah tak dapat kita lakukan? JAWABANnya di tangan anda.

Kesimpulan sementara untuk keadaan pasca bubaran KKR di lapangan Borarsi adalah .... para pembuang sampah adalah ORANG KRISTEN!!! What a life!!!

Aku percaya bila semuanya dapat setia dalam perkara yang kecil seperti buang sampah pada tempatnya atau bertanggungjawab dengan sampahnya sendiri, dunia pasti jadi tempat yang lebih baik dan akan ada tanggungjawab besar yang dilimpahkan!!!

Stay blessed. Amen

(Manokwari, 060411; merenung kejadian yang bikin mata ‘panas’)

uneg - uneg talapas

Pernah tidak merasa terjebak dalam situasi di mana anda berada dalam kondisi tak punya pertahanan, perlawanan atau pembelaan? Pernah tidak merasa orang – orang di sekeliling anda menuduh ataupun melemparkan perkataan yang menyudutkan anda tanpa mengkonfirmasi pada anda apa yang sebenarnya terjadi atau alasan di baliknya? Pernahkah anda yang harus menjadi kambing hitam dari sebuah situasi yang tidak menyenangkan dan semua kesalahan ditimpakan pada anda? Percayalah ... aku merasakannya kemarin dan benar – benar membuatku down sekali pada malam hari dan harus menangis semalaman. TAPI ... aku percaya bahwa aku tidak sendiri karna sewaktu aku tak punya seorang pun untuk curhat, saat merasa sangat kesepian, dan aku memilih curhat pada Yesus ... ah semuanya jadi terasa lebih ringan apalagi setelah ada kata – kata penghiburan di hatiku yang aku tahu asalnya pasti dari Yesus lewat Roh Kudus karna Toh Bapa, Anak, dan Roh Kudus satu hanya beda fungsi ^_^. Ada hal yang kupelajari dari down-nya aku kemarin malam.

 Tidak semua orang dewasa dalam melihat sebuah situasi dan mungkin juga aku masih belum dewasa!!!

Saat ini mungkin aku hanya anak kecil dalam rohani yang sedang berada dalam lingkungan banyak orang. Ada orang – orang yang dewasa secara umur tetapi dalam mental mereka masih remaja. Maksudku, saat dihadapkan pada sebuah situasi yang tidak menyenangkan, mereka cenderung mencari orang lain untuk dijadikan kambing hitam atau dilimpahkan kesalahan.

Xxxxxxx (omitted for personal reason)

Aku tak menyalahkan XX untuk sakitnya tapi aku cuma tak suka kalau manusia itu sudah diberi hikmat tapi tak menggunakannya. Kan XX didiagnosa positif gula. Jadi dibujuk ke patologi dan rumah sakit untuk cek darah, itupun usai diceramahi sampai berminggu – minggu baru mau, itupun usai luka di kaki mulai membusuk. Usai ke dokter, e dikasi obat penekan gula. Aku menganjurkan juga selain obat penurun kadar gula, dilengkapi suplemen biar cepat pulih mengingat umur mama yang 50an. Tapi semua orang di rumah menentangku. Jadi aku tak mau berkomentar lagi karna biasanya saudara – saudara laki – lakiku akan mengancam memukulku dan itu pernah terjadi.

Xxxxxxx (omitted for personal reason)

Kadang mengabsen semua hal dalam keluarga ini bikin nafasku menjadi sesak dan ingin segera mati. Tapi entahlah ... selalu saja suara dalam hatiku selalu bilang bahwa Ia mengasihiku, Ia selalu ada bersamaku dan Ia punya banyak rencana dalam hidupku. Suara ini yang selalu menguatkanku apapun yang terjadi. Hari ini aku tak ingin menyerah untuk hidup karna aku berharga. Apalagi usai disuruh membaca Mazmur 20 dan Daniel 9: 23; 10: 11 dan 10: 19 . Tersadar bahwa tak ada yang bisa mencuri sukacitaku karna Yesus mengasihiku!!! May, wake up!!!

 Konfirmasi itu penting sebelum membuat sebuah pernyataan

Sedikit merasa tak sejahtera kala sedang mengerjakan tugas menunggui sebuah stan buku dan SMS dari rekan kerja masuk dan bilang, “May, katanya si X karna ko terlambat masukan nilai kerjaan jadi tong pu honor semua terlambat dibayar ka?”. Degg ... rasanya kayak hati copot!!! Jadi langsung kubalas dan mengkonfirmasi semuanya. Dan temanku bilang sebaiknya aku mengkonfirmasi langsung ke X karena ia bilang biar semuanya jelas. Untungnya pas bubaran kegiatan, aku bertemu bendahara kantor yang kutanyai langsung dan ia bilang tak ada masalah, dan ia yang belum mengerjakan rekapan honor jadi bukan kesalahanku. Sedikit lega!!!

Aku tak ingin kerjaanku sekarang ini yang membantu dalam pelayanan menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan jujur sebelum kerjaan dimulai tanggal 29 April kemarin, aku sudah membereskan kerjaan kantor dari tanggal 23 April sudah menyetorkan semua nilai bahkan masih sempat memberikan dan menunggui peserta yang telat ujian yang bahkan membuatku harus pulang jam 6 sore lewat karena ketidakdisiplinan mereka dan juga menyetorkan ulang nilaiku yang dihilangkan bendahara. Aku tak bermaksud mengabsen apa yang kulakukan tapi tetap saja sisi manusia dan prideku bilang, “lho ... sa su lakukan yang terbaik kok. Kenapa tidak konfirmasi langsung ke sa saja ka? Kenapa harus ngomong dari belakang seperti itu ka?” ... sempat terheran karna aku dan X cukup dekat sejak kuliah dan kok hal sekecil ini tak bisa mengonfirmasi pada diriku. Padahal sewaktu kuliahnya dulu, aku tidak pernah berhenti membantunya meng-scan buku – buku kala kekasihnya sendiri tak mau membantu. Sempat terheran saja!!!

Aku memang sudah mengambil jarak dari si X 1 bulan terakhir karena tak ingin bersinggungan karna ia berubah. Aku juga tak mau mengonfirmasi lagi rasa tak sejahteraku kala ucapannya yang keukeuh pengen tahu berapa yang kudapatkan dari honor talapasku kerja di berbagai kerjaan serabutan dari penerjemah sebuah perusahaan konsultan lingkungan dari Australia, ataupun berapa banyak duit yang harus kusetorkan untuk kredit motorku dan lain – lain. Karna toh aku tak pernah mau tahu urusan duit orang lain!!! Aku tahu aku orangnya sensitif!! Dan aku juga tak mau mempermasalahkan sesuatu terlalu berlama – lama. Karena tak ingin membebaniku dan kadang jalan yang kupilih adalah menjauh dan memberi jarak dan hanya memberikan komunikasi seperlunya. Jujur, Tak ingin terluka sebenarnya!!!

Aku belajar cara terbaik melihat masalah adalah menerima kesalahan menjadi bagian kita, tak usah terlalu membela diri, menuliskannya dalam catatan harianku dan yang terpenting CURHAT DAN MENDOAKANNYA PADA YESUS!!! Karna bila tak direm, maka semua perkataan yang keluar, hanya akan menyakiti orang lain. Biarkan orang lain menganggap kita yang salah dan biarlah Tuhan yang menjadi hakim atas kita.

Satu yang pasti, usai menuliskan semua ini, aku merasa lebih baikan.

Ada hal yang terasa lucu bila disampaikan tapi akhir – akhir ini aku bilang sama Tuhan kala saat teduh kalau, “tolong adopsi sa ka, Yesus! Sa janji jadi anak yang manis ^____^” Mungkin terasa lucu tapi itu yang ada di pikiranku akhir – akhir ini.

Segala hormat dan kemuliaan bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Amen

(Manokwari 5 Mei 2011)

Wednesday, 4 May 2011

Rebuild the temple

Sekitar tengah malam tanggal 3 menuju tanggal 4 Mei 2011, saat bersaat teduh malam, aku mendengar suara di dalam hatiku menyuruhku membaca pembacaan yang harus kubagikan kepada semua orang lewat tulisanku, entah mau pakai cara apa, tetapi harus kubagikan. Jadi saat mendengar kitab Hagai diberikan dan harus kubaca semuanya, spontan dalam hati aku bilang sama suara dalam hati, “Yang benar saja nih? Kitab ini? Semuanya dibaca ya? Memangnya ada apa di sana?”, karna kitab nabi – nabi kecil bukanlah kitab favoritku kala membaca Firman Tuhan. Tapi karna ini berupa perintah sehingga aku pun membuka Alkitab dan bertanya, ada apa dalam kitab Hagai ini?

Ternyata oh ternyata, kitab ini berisi pesan singkat Tuhan tentang pembangunan ulang Bait Allah di zaman nabi Hagai saat orang Israel sudah pulang kembali lagi pembuangan di Babel. Kitab yang terdiri hanya atas 2 pasal ini berisi sebuah perintah dan janji – janji Tuhan.

Saat membaca dan merenungkan kitab ini, aku seakan dibukakan sebuah pemahaman baru tentang kitab ini, ya seperti diajar oleh suara dari dalam diriku. Jujur, sejak kepulangan dari Australia, aku sempat hampir lebih dari setengah tahun cuek dengan suara dalam hatiku dan melakukan hal – hal yang tak disukai Yesus dan lari dari panggilanku. Aku juga kerap menutup pendengaranku dan mengacuhkan suara dari dalam diriku dan bahkan sempat mengalami kekosongan hampa akhir tahun lalu dan yang hampir membuatku memutuskan bunuh diri, tetapi saat sedang hancur – hancurnya emosi ini, ternyata memang Tuhan harus pakai acara ‘menculik’ dulu untuk merevitalisasi dan memperbaharui diriku. Sejak minggu kedua bulan April, saat “diculik” dengan cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk ke Jakarta, aku merasakan pemulihan dan beban – beban semua terlepas dan suara dalam diriku lebih bebas berekspresi, lebih bebas menuntunku belajar tentang Firman Tuhan dan entahlah ... aku merasa lebih dekat dan tenang dengan Tuhan plus ada banyak hal baru yang kudapatkan. Pokoknya, ada pemulihan secara bertahap yang kurasakan dalam diri.

Back to topic, saat merenung Firman ini, aku diajar bahwa jangan melihat perintah ini saat ini sebagai membangun “Bait Allah” yang secara fisik. Bukan untuk membangun gedung gereja dengan indah, bukan untuk membangun ulang bait Allah di Yerusalem, bukan untuk membangun sesuatu yang fisik. Karena Alkitab yang kupakai adalah versi terjemahan Good News Bible, kata – kata yang dipakai adalah “rebuild the temple” alias MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH. Aku diajar bahwa yang dimaksudkan Firman ini adalah BAIT ALLAH yang ada di dalam diri kita, alias tubuh kita. Jadi membangun ulang Bait Allah yang dimaksudkan dalam kitab ini adalah memakai tubuh kita sebagai Bait Allah yang hidup, jadi kalau selama ini Roh Kudus tinggal di dalam tubuh yang ‘tidak sehat’ secara rohani, ya segeralah mentransformasi diri untuk menyiapkan tubuh yang sehat secara rohani dan jasmani untuk berdiamnya Roh Kudus.

Aku diajar bahwa kalau kita memakai tubuh kita sebagai alat melakukan percabulan, untuk sebagai alat mendapatkan kepuasan duniawi, untuk dipakai sebagai saluran minuman keras, terowongan asap rokok dan ganja, sebagai alat untuk menunjukan kesombongan kita dan nafsu – nafsu kedagingan kita maka tubuh kita ibarat puing – puing Bait Allah yang masih runtuh dan Roh Kudus sedih melihat hal itu karna ia sesak napas tinggal di dalam rumah seperti ini. Jadi ia menginginkan adanya ‘pembangunan ulang Bait Allah’ bagi diri-Nya, agar dapat menjadi Home Sweet Home bagi-Nya. Caranya? Berbalik pada Yesus, mengakui dosa dan berhenti melakukan dosa yang tak diinginkan Tuhan. Caranya? Periksa manual hidup dalam Alkitab!!!

Dalam kitab Hagai ini, aku juga diajarkan bahwa selain perintah, ada juga janji yang Tuhan berikan, bahkan aku juga mendapatkan banyak hal, jadi aku mencoba untuk memaparkannya dalam catatan ini. Anyway, catatan ini bukan untuk menunjukan bahwa aku paham tentang Firman lebih baik dari orang lain. Tidak sama sekali!!! Aku hanya ingin membagikan apa yang diperintahkan padaku untuk membaginya dalam catatan dan mempergunakan talenta menulisku guna kepentingan Tuhan. Jadi jangan berpikir bahwa aku memakai kecerdasanku untuk mengajar sesuatu yang rohani dalam catatan ini. Karna siapa sih Maya? Bukan siapa – siapa. Please, jangan menganggap tulisan ini dibuat karna aku ingin membuatnya. Aku sekarang merasa aku ibarat menjadi ‘Baruk’ bagi Yeremia, menjadi ‘tukang tulisnya Tuhan’ dalam skala kecil yang hanya bisa membagikan lewat cara yang aku bisa. Btw, yang kudapatkan antara lain:

 Tuhan akan menginspirasi atau menggerakan semua orang dalam membangun Bait Allahnya (Hag 1: 14)

Allah tidak mau bekerja sendiri, ia mau kita sebagai manusia paham bahwa Ia memerlukan kerjasama walaupun Ia sangat berkuasa melakukan sesuatu sendiri. Ia ingin melihat niat kita bekerja untuk-Nya. Ia tak hanya menginginkan pemimpin politik juga pemimpin agama tetapi juga semua orang terlibat. Dan ia akan berbicara pada mereka lewat perantaraan Roh Kudus. Pertanyaannya? Sudahkah kita mendengar dan MAU melakukan perintah-Nya?

 Bila hasil yang diinginkan tak sebaik yang kita harapkan atau mengalami kendala, jangan pernah patah semangat, lakukan saja pekerjaan yang diperintahkan karena Allah selalu bersama – sama kita (Hag 2: 4

Kadang saat ingin membangun ulang ‘bait Allah’ sejati yaitu tubuh kita demi kemuliaan Tuhan, akan ada tantangan dan kendala. “Jih de kan tukang mabuk, yang benar saja kalo de bertobat?”, “Jih de kan dulu suka jalan bagatal, tuh betul sadar ka cuma karna takena sedikit jadi?” ... mungkin akan ada perkataan – perkataan seperti ini yang ditujukan buat diri saudara. Tapi Tuhan bilang, jangan berhenti bekerja, tetapi tetap bekerja membangun ulang ‘Bait Allah’. Karena apapun yang terjadi Allah tidak pernah meninggalkan kita.


Perintahnya kan cuma satu, “tetap bekerja membangun ulang Bait Allah”!!!

 Apapun yang terjadi, Tuhan tetap bersama – sama kita (Hag 2: 5)

Aku suka terjemahan dalam versi Good News Bible yang bilang begini:

“I promised that I would always be with you. I am still with you, so do not be afraid.”

Yang kalau kuterjemahkan jadinya seperti: “Aku berjanji bahwa Aku akan selalu bersama engkau. Aku tetap denganmu, jadi jangan khawatir,”

Jadi dalam usaha membangun ulang diri anda sebagai bait Allah, jangan pernah khawatir melakukan pekerjaan ini karna Allah berjanji akan selalu berada bersama kita.

 Bait Allah yang baru akan lebih baik dari yang lama dan Allah akan memberikan kemakmuran dan kedamaian (Hag 2: 9)

Kalau kita baca ayat ini hingga selanjutnya, Allah menjanjikan sebuah kemakmuran dan kedamaian kala kita selesai membangun bait Allah. Dalam konteks hidup kita, bila tubuh kita kita pakai demi kepentingan Tuhan. Jadi bukan hanya untuk pelayanan kekristenan, karna konteks itu terlalu sempit. Tetapi bagaimana kita memakai segala yang ada dalam kita dengan tubuh yang dipersembahkan sebagai rumah Tuhan, dan melakukan semua pekerjaan yang ditujukan buat kepentingan Tuhan; intinya yang mendatangkan kebaikan bagi sesama, yang memaksimalkan bakat yang Tuhan berikan untuk kemuliaan nama Tuhan, maka akan ada berkat – berkat yang mengalir yang lebih baik dalam hidup kita.

Jadi, meskipun saat kita membangun ulang bait Allah dalam diri kita kemudian saat itu kita tidak punya apa – apa yang tersisa, misalnya ditinggalkan keluarga kita, teman – teman pergaulan kita dan banyak hal yang tak tersisa, tetapi Tuhan bilang (Hag 2: 19) kalau dari keadaan itu hingga ke depannya, Ia akan memberkati saudara.

PERTANYAANNYA sekarang adalah “MAUKAH KITA MEMBANGUN ULANG BAIT ALLAH DALAM DIRI KITA dan memaksimalkan segala yang ada diri kita untuk kepentingan Tuhan?

Bukan hanya untuk menjadi pelayan Tuhan dalam lingkup gereja dan yayasan Kristen TETAPI juga dalam kehidupan pekerjaan saudara sehari – hari. Dalam apapun yang saudara dapat lakukan demi kebaikan sesama dan Tuhan!

Aku percaya, jawabannya ada di tangan saudara.

Segala kemuliaan bagi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Amen!!!

Stay blessed!

(Manokwari, 040511)

Perempuan dalam mimpi

Subuh tadi aku tidur terlalu lama dan melewatkan doa subuh untuk kotaku karena kelelahan luar biasa. Tidur dari pukul 1 pagi dan baru bangun jam 2 siang dan diisi dengan mimpi buruk yang membuatku jijik kala bangun tidur. Benar – benar sedikit resah dan merasa jijik dengan diriku. Tapi Thanx Jesus, di doa sore tadi aku dibukakan tentang arti mimpiku dan diberi pembacaan dalam Mazmur 20 yang benar – benar menguatkan dan mengembalikan sukacitaku.

Inti cerita mimpiku sih aku dan beberapa teman diculik atau dibawa seorang perempuan ke dalam rumah besarnya yang terletak di sebuah tempat dataran tinggi. Dalam mimpi itu sebuah kota berada di bawah areal tempat tinggalnya. Si perempuan ini ternyata seorang biseks dan penuh percabulan dan menginginkan kami semua yang dibawa untuk melayani nafsunya dan akan diberikan semua akses dan keinginan kami dipenuhi olehnya. Perempuan muda ini memang cantik tapi entahlah ia penuh dengan kejijikan. Hingga aku bangunpun aku merasakan jijik karna dalam mimpi, aku dan beberapa orang melayani nafsunya. Tetapi aku bersyukur di akhir mimpi, ia berhasil kami kalahkan dan ia tak berdaya lagi.

Dalam mimpi, aku mengingat betul bagaimana ia membawa kami ke dalam rumahnya yang sangat besar dengan halaman yang luas, saat ia ingin masuk rumahnya, ia bilang “Manokwari, terbukalah!” dan gerbang rumah yang berat itu dan besar terbuka dan saat kami lewat gerbangnya pun tertutup rapat dan tak bisa ditembus lagi. Ia memberikan kami apa yang kami inginkan dengan syarat melakukan kenajisan bersamanya.

Usai doa sore, saat aku curhat pada Yesus, tentang rasa jijikku untuk apa yang aku lakukan dalam mimpi, aku pun diberikan pasal Firman yang membuatku kuat dan merasa terbebas dari rasa bersalah pada Tuhan dan diberikan sebuah pemahaman dari mimpi itu.

Aku diberi pemahaman bahwa perempuan cantik penuh nafsu percabulan adalah roh yang mengikat kota Manokwari yang menargetkan anak – anak muda dan penduduk kota ini dan ia menjanjikan kenikmatan percabulan tetapi sebenarnya merupakan sebuah kenajisan di mata Allah. Pemahaman yang kudapatkan saat membaca kitab tadi juga menunjukan padaku bahwa dulu aku juga memang menjadi pengikut perempuan ini dan melayaninya di dalam percabulan dan menikmati apa yang kulakukan walau itu membuat Yesus terluka. Tetapi karna Yesus mengasihiku dan menginginkan aku kembali maka perempuan itu pun telah dikalahkan, karna dalam mimpiku ada banyak anak muda yang membebaskan diri dari ‘rumah besar’ milik perempuan ini dan melumpuhkan perempuan ini. Di akhir mimpi, aku melihat aku dan beberapa teman yang pernah ditawan dan melayani perempuan ini bertemu dengan dia bersama seorang perempuan muda di sebuah area perbelanjaan tetapi perempuan ini tidak berkuasa atas kami dan sangat malu menatap kami dan berusaha menyembunyikan mukanya.

Catatan ini kubuat bukan untuk menunjukan bahwa aku seorang yang ingin kelihatan suci atau apalah, karna aku tahu bahwa aku baru saja berbalik dan melawan apa yang dulu sangat kunikmati dan kusuka dan terjerat dalamnya. Dan hanya karena Kasih Yesus yang masih mau menerimaku maka aku dapat terlepas dari percabulan dan sekarang memandangnya sebagai sebuah kenajisan dan merasa jijik sungguh mati.

Kiranya segala hormat, kemuliaan dan pujian bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus! Amen.

(Manokwari, 030511)

Untitled

Saat doa subuh jam 5 pagi tanggal 2 Mei 2011 di lapangan Borarsi, aku merasakan hadirat Allah dan dalam doa, seakan rohku bisa melihat banyak sekali malaikat memenuhi lapangan berjaga – jaga dan seakan aku bisa melihat langit Manokwari dari atas, maksudku melihat bahwa ada awan hitam gelap membungkus tetapi kemudian secara perlahan, ada bukaan kecil perlahan di langit menembus awan hitam itu karena terang kemilau dari bawah yang mencuat ke atas. Aku melihat ini saat orang – orang berdoa dan menaikan pujian penyembahan dan merasakan kuasa Tuhan mengalir.

Dalam doa pagi ini aku juga mendapatkan suara di hatiku bilang untuk terus menulis dan mempergunakan bakat menulisku untuk kemuliaan Tuhan dan membantu sesama. Ternyata, pembawa Firman pagi itu, ibu Vero juga berbicara tentang hal yang sama yaitu persembahan yang hidup dari diri kita termasuk talenta yang Tuhan berikan. Benar – benar konek deh dengan suara yang mengajakku bicara tadi.

(Manokwari, 030511)

Mazmur 80 yang membingungkan

Kemarin malam saat sedang doa malam, dan memikirkan tentang Manokwari dan tanah Papua, hatiku diliputi kesedihan mendalam dan suara di hatiku menyuruhku membaca sebuah pembacaan dalam Alkitab di Mazmur 80: 1- 11. Karena Alkitab yang kubaca adalah dalam versi bahasa sehari – sehari, aku mendapat sebuah pertanyaan besar dalam hati. Kesedihan itu benar – benar melingkupiku kala kubaca pembacaan ini berulang – ulang, isinya sih tentang ‘doa permohonan pada Tuhan untuk memulihkan bangsa’, itu judul dalam versi bahasa sehari – hari.

Kala membaca pasal ini, aku pun menyadari bahwa ini adalah Kesaksian Asaf. Entah siapa dia, aku tak paham. Yang pasti, pasal ini ibarat sebuah doa permohonan yang mengiris hati dari seorang yang sadar bahwa bangsanya terancam dan membutuhkan lawatan Allah.

Aku punya banyak pertanyaan pada Tuhan kala membaca pasal ini, dan membuatku sampai memeriksa 4 jenis terjemahan Alkitab (New King James Version, LAI terjemahan resmi, LAI Kabar baik dalam bahasa sehari – hari, Good News bible). Pertanyaan – pertanyaan pun muncul, misalnya saat membaca bagian ayat ini:

80:1. Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Bunga bakung. Mazmur kesaksian Asaf. (80-2) Ya Gembala Israel, dengarlah, Engkau yang memimpin keturunan Yusuf sebagai kawanan. Engkau yang bertakhta di atas kerub, tampillah dengan cemerlang
80:2 (80-3) di hadapan Efraim, Benyamin dan Manasye. Tunjukkanlah kekuasaan-Mu kepada kami, dan datanglah menyelamatkan kami.

Aku pun bertanya pada Roh Kudus, apa maksud ayat – ayat ini? Kenapa hanya pada tiga suku Israel ini? Kenapa bukan pada semua suku Israel? Kenapa dikatakan keturunan Yusuf dan juga yang dari keturunan Yakub dan Rahel? Memangnya suku lain tak punya masalah dengan penindasan pada jaman itu? Trus kenapa pembacaan ini yang diberikan saat aku memikirkan tentang orang Papua, tentang Manokwari dan tanah Papua. Malam itu karna tak bisa mengontrol rasa sedihku sampai aku mengirimkan SMS pada mantan dosenku dan juga meminta mamaku menemani berdoa dan membaca pasal ini. Pokoknya rasa hatiku sedih sekali.

Aku juga pun langsung memikirkan bahwa memang pasal ini untuk Papua kala membaca bagian ini:

80:6 (80-7) Kaubiarkan bangsa-bangsa tetangga bersengketa tentang tanah kami musuh-musuh kami tertawa kesenangan.

Atau

“You let the surrounding nations fight over our land; our enemies insult us.”

Selama berdoa dan bersaat teduh serta merenung, aku seakan disadarkan bahwa memang sampai hari ini, terlalu banyak pihak luar yang ingin mendapatkan Papua dan tanah ini, kekayaan alam dan semua yang ada di dalamnya. Aku bukan ingin membawa pembacaan ini dalam pandangan politik, tapi bukankah memang dalam kaitan dengan bangsa berarti kita bicara tentang manusia dan orang yang akan berhubungan dengan ras secara garis besar, bukankah selama ini orang Papua memang berbeda dengan mayoritas orang Indonesia yang khas Asia Tenggara, bukankah selama ini banyak pihak asing mulai dari Amerika dengan Freeportnya, mulai dari Australia dan Cina serta Inggris yang mulai membidik tambang, belum lagi Malaysia dan cukong – cukong kayunya, pemerintah Indonesia dengan sejumlah kegiatan ‘eksploitasi’nya serta kepentingan – kepentingan lainnya yang ujung – ujungnya HANYA bicara tentang PENGUASAAN TANAH PAPUA demi kepentingan pihak tertentu dan bukan manusianya.

Sambil merenungkan pasal ini, aku tersadar bahwa pasal ini sampai berulang kali berseru pada Tuhan untuk menolong bangsa ini khususnya tiga suku keturunan Yakub dan Rahel. Jujur aku sedih sekali saat membaca ayat ini:

“Bring us back, O God! Show us your mercy, and we will be saved!’

Atau

80:3 (80-4) Ya Allah, pulihkanlah kami; pandanglah kami dengan murah hati, maka kami akan selamat.

80:7 (80-8) Ya Allah Yang Mahakuasa, pulihkanlah kami; pandanglah kami dengan murah hati, supaya kami selamat.

80:19 (80-20) Ya TUHAN Allah Yang Mahakuasa, pulihkanlah kami, pandanglah kami dengan murah hati, supaya kami selamat.

Tentu saja pasal ini dilengkapi sebuah janji pada Tuhan karena si Asaf bilang begini:

80:18 (80-19) Maka kami takkan lagi menyimpang daripada-Mu; jagalah hidup kami, maka kami akan memuji Engkau.

Satu yang pasti, pasal ini membuatku sedikit kepikiran kemarin malam.

Anyway, ada yang bisa membantu menjawab kenapa hanya tiga suku ini yang disebutkan secara spesifik di pasal ini ataupun menjawab siapa Asaf ini? Bukankah kitab ini dikarang oleh Daud?

Entahlah ... masih banyak hal yang mungkin harus kupelajari kala ingin mengenal Yesus lebih dalam. Let God reveals what He wants in my life. Amen

(Manokwari, 030511)

Orblak

Pernah tidak dalam sebuah pekerjaan yang berdampak bagi sesama, anda diberikan porsi kecil? Pernah tidak dalam pelayanan Kristen, anda hanya jadi orang suruhan alias jadi ‘Jony-on-the-spot’ yang selalu diminta bantuan – bantuan kecil? Pernah tidak anda merasa tidak dimaksimalkan dalam sebuah kerjaan pelayanan rohani di lingkungan anda ataupun dalam kerjaan yang mendatangkan manfaat bagi banyak orang? Dan kadang .. hal – hal ini seperti membuat anda bertanya tentang ‘fungsi’ anda dalam pelayanan ataupun pekerjaan ini dan juga membuat anda sedikit minder kala ‘ada beberapa orang’ yang menganggap anda hanya ‘bantu bikin rame’ sebuah kegiatan. Kalau semua jawaban anda ‘Iya’ ... saya percaya apa yang dibagikan oleh teman saya sesama penjaga stan buku a.k.a pak Vikram Ferdinandus akan membantu mencerahkan hari anda. Karna saya pun merasakannya!!!

Beberapa hari ini saya ‘diperbantukan’ alias jadi ‘relawan’ pada sebuah pelayanan Kristen di kotaku; pelayanan Voice in the City (VIC) dari ibu Suzette Hattingh. Tak seheboh kerjaan yang lain ataupun kerja panitia yang lain, hanya bantu menjaga sebuah stan buku di area konser doa, jadi ‘seksi sibuk’ untuk teman – teman VIC Jakarta, dan juga jadi penerjemah dadakan bila diperlukan; sekali lagi bila diperlukan. Tanpa label panitia seperti panitia lainnya tapi ya masuk juga dalam kategori ‘relawan’. Sebenarnya seorang teman bilang namanya itu ‘pelayanan’ cuma karna kadung jadi relawan sejak masa remaja dulu, jadi ya lebih suka menyebut diri ‘bantu – bantu sana – sini’ ^_^

Sebagai penjaga buku, aku berkenalan dengan pak Vikram Ferdinandus; seorang Maluku dari Timika yang bekerja di bagian logistik kegiatan khususnya yang membawa buku – buku jualan dari Timika. Aku percaya pada konser doa hari pertama, bukan kebetulan aku duduk dan mengobrol dengan bapak ini karena ternyata ada banyak cerita yang kudapatkan dan sangat membangun pemahamanku. Malam itu sebuah cerita dari pak Vikram sangat membantuku untuk memahami peranku kali ini dan seakan menjadi jawaban pertanyaanku tentang fungsiku dalam pelayanan ini. Sebuah pemahaman tentang peran kecil yang berdampak besar namun sering dianggap sepele. Benar – benar pencerahan!!! Ceritanya sih tentang ‘invisible men’ alias orang – orang belakang layar, bahasa gaulnya sih ‘orblak’ a.k.a. ‘orang belakang’ ^_^

Ada dua kisah yang dibagikan pak Vikram namun seakan membukakan jalan pemahamanku, kisah ini mungkin kerap anda dengar, dan saya akan membuatnya dalam bentuk sub-topik seperti berikut. Anyway, tulisan ini menggambarkan inti pokok yang dibagikan pak Vikram.

 Pemilik kandang tempat Yesus lahir (Lukas 2: 7)

Pernah tidak membayangkan situasi beberapa hari atau jam sebelum kelahiran Yesus? Si Yusuf sudah kelelahan mencari penginapan, Maria apalagi. Bayangkan ibu hamil 9 bulan jalan ke sana – kemari, numpang di atas keledai ataupun pedati, dituntun suami muda yang baru mau belajar jadi bapak trus janin yang dikandung bukan anaknya, di tempat yang curah hujannya minim eee cari penginapan semuanya penuh. Putar kiri kanan, lirik sana – sini, yang ada cuma kata “Sorry man, tong pu penginapan su vol. cari tempat lain saja suda eee.” Mana si Yusuf bukan anak pejabat atau bangsawan, cuma tukang kayu miskin yang datang jauh – jauh, ibarat dari Timur ke Barat di Israel sana. Tidak ikut sensus, wah salah – salah juga, bisa – bisa dituduh pemberontak sama penjajah Romawi. Bisa gawat kalau sampai masuk penjara, man!!! Nanti siapa yang kasi makan tuh istri dan anak.

Dan ... bayangkan saja, setelah capek panas – panas cari penginapan untuk ibu hamil, akhirnya pencarian pun berakhir kala seorang pemilik penginapan or pemilik kandang bilang begini, “Pace Yusuf, adoh ko jang marah eee. Kalo mo mau sih, masih ada tempat, cuma ya pangkotor begitu, kalo ko mo bersih – bersih ya tra papa, trus kalo ko maitua juga mau, ya tra papa. Neh di belakang sini, ada sapu kandang ternak, adoooh begitu suda .... jadi kalo ko mau, ko deng mace bisa tinggal di sana. Mungkin untuk ko pu anak yang belum lahir, kalo memang terpaksa lahir, ya mungkin kam bisa berdayakan palungan ka tempat makan tuh. Nan sa kasi makan sa pu ternak – ternak di tempat lain. Jang takut, nan sa usahakan binatang – binatang dong pindah ka bagaimana dulu eee. Jang marah eee, kam pake suda tempat itu.”

Ya ... dan sejarah pun mencatat, Yesus lahir di kandang binatang dan dibaringkan dalam palungan.

Bayangkan kalau tak ada si pemilik kandang ini, bisa – bisa Yesus lahir di lapangan dong! *imajinasi. Mana ada privasi de el el.


 Penandu, pembongkar dan penutup atap untuk pelayanan orang sakit (Markus 2: 1 – 5)

Hari itu Yesus lagi khotbah di Kapernaum, orang yang datang banyak sekali. Dari semua ruangan, tidak ada yang kosong sampe Alkitab mencatat bahwa di depan pintupun penuh. Bisa bayangkan suasananya pasti panas sekali. Tiba – tiba datanglah serombongan orang, ada 4 orang penandu plus 1 pria lumpuh. “Permisi, ada orang sakit nih, buka jalan ka?” kata seorang penandu tapi yang lain tak mau mengalah dan memberi jalan. Akhirnya para penandu ini pun putar otak.

Tahu kan kondisi rumah di Israel sana jaman Yesus, masih dari tanah liat biasanya dan atapnya dibuat dengan sejenis balkon untuk duduk – duduk karna umumnya curah hujan sangat rendah di sana. Jadi ke empat pria ini membuat rencana bak tim SWAT yang harus membebaskan sandera. Saya percaya mereka mungkin orang biasa tapi bisa bikin sesuatu yang luar biasa. Buktinya, mereka menjebol atap rumah dan memasukan lelaki lumpuh dengan gantungan atau tandu atau tikarnya tepat di depan Yesus. Pasti lain ‘su keker’ posisi dari atas, untuk cek lokasi penurunan.

Nah tahu tidak, ayat 5 di pasal ini bilang, kalo Yesus melihat betapa besarnya iman mereka,. Jadi bukan hanya si orang sakit, tapi para penandu ini sehingga si lumpuh disembuhkan. Yesus pasti salut juga untuk usaha mereka menolong si lumpuh. Saya percaya saat si lumpuh selesai disembuhkan, pasti ada orang – orang yang kembali menutup kembali atap yang jebol itu. Baik orang yang menjebol dan menutup kembali atap adalah orang – orang yang memahami arti kehadiran mereka dalam sebuah ‘pelayanan’ ini. Bayangkan kalau para penjebol atap tak berani malu dan berani kreatif dalam mengusahakan kesembuhan si lumpuh, otomatis pace lumpuh ‘ko pu selamat tinggal suda’ .... *imajinasi ^_^

JADI ...
Saat ini mungkin saudara dan saya juga hanyalah orang – orang seperti pemilik kandang ataupun penjebol atap ini, tapi percayalah God knows what is in our heart .... Tuhan melihat apa yang kita buat dengan ketulusan. Jadi, jangan pernah lelah melakukan pekerjaan apapun yang mendatangkan kebaikan bagi sesama kita.

Stay blessed!

(Manokwari, 30 April – 3 Mei 2011; Thanx oom Vik untuk bincang – bincang rohaninya)