Search This Blog

Loading...

Thursday, 28 April 2011

Kaka lagi, bosan!!!

Pernah tidak merasa kalau saat hendak menulis hati dan benak kita terasa penuh tanpa ada ruang tersisa untuk hal lain yang hendak ditranskripsikan dengan jejeran isian QWERTY dan saudara – saudaranya? Itu yang mungkin malam ini kurasakan. Entahlah .... terasa penuh saja dalam hati dan kutahu artinya sebentar malam aku harus berdoa dan ngobrol banyak dengan Yesus, karena kalau sudah begini artinya banyak yang harus kubagikan daripada mengendap dan jadi instalan mimpi buruk saat tidur hehehe. Sejak mengambil komitmen baru dengan Yesus, selalu saja terasa lebih ringan memandang hidup. Tak terlalu terasa berat!

Anyway, kaka sedang berada di Manokwari sejak Jumat kemarin tapi entahlah ... tak ada keinginan untuk bertemu dan bercerita dengannya. Walaupun Sabtu kemarin ia menawarkanku tiket festival band dan dance tapi entahlah ... tak niat pergi. Malamnya, saat terlalu capek dan ingin tidur, kusempatkan menelpon dan bertukar kabar, eee belum ngobrol banyak, si kaka sudah mencecarku dan bilang kalau aku “tukang tipu” karena ia bertanya dengan jadwalku selama sehari dan aku bilang pas siangnya cuma di rumah. Entahlah ... hatiku langsung saja ‘ilang feeling taulang – ulang’. Kaka tampaknya memang tak akan pernah berubah dengan sikapnya yang suka nuduh dan tak pernah pakai logika yang jelas. Terang saja, langsung batal semua rencana mo ngajakin kaka jalan or dikenalin ke orang rumah. Malas banget deh!!

Mungkin karena otakku sudah berubah orientasi plus melihat kaka tak pernah ada di sisiku kala kesepian, karna beberapa malam sebelumnya memang aku sempat curhat dengan seorang teman cowok di kota lain dan kata temanku, kaka cenderung hanya menghubungiku KALAU ia butuh, kalau tidak, ya tak akan ada kabar. Serasa jadi ban serep deh, apa ampas tebu? No way lah pokoknya! Selain itu, ya mungkin aku juga sedikit berubah dan memang tak lagi mo taru kaka dalam rencana masa depan. Oooops, sebenarnya ... lagi naksir cowok di Manokwari. Pssssst, masih baru di tahap kagum sih, sebenarnya sih lucu juga karna tidak terlalu kenal karena temannya sahabat cowokku hahahaha. Ketemunya juga baru 3 kali pas lagi nongkrong bareng dengan teman – teman wwkwkwwkwkwkw.

Tenang saja, May. Kan baru kagum. Abis pertama tuh cowok tampangnya sudah masuk kategori cowok idaman alias komin hitam manis!!! Entahlah, kenapa ya, kalo lihat cowok komin itam manis, hati macam pica dengan bunga – bunga kecil yang tumbuh dan menjalar dengan cepat ibarat dikasi pupuk cair organik 1 liter ya. Ketemunya juga kebetulan, lewat cerita sahabat cowok yang lagi bicara tentang proyek komunitas kami. Dan ya ketemu juga tapi memang momennya tak ada jaga image dll, lha lagi sibuk ngangkut sampah botol plastik beberapa karung dari pantai plus betis yangbaru terbakar knalpot motor plus membahas kaka di Jayapura dengan acara makian2 kecil pas bulan lalu ^_^. Tapi minggu ini kayaknya rasa kagum tambah banyak usai tahu kalau ternyata si itam manis ini kreatif banget!!! Gosh, karyanya itu yang bikin geleng – geleng kepala wkwkwkkkw. Benar – benar masuk tipe cowok yang layak dikagumi wkwkwkwkwkwkw. Sa banget deh orangnya!!! Tenang saja, May. Sa belum jatuh cinta kok.

Anyway, entahlah .... beberapa hari ini jadi lebih punya alasan senyum – senyum sendiri hahahaha walau kadang bayang kaka masih suka muncul kadang – kadang. Masih rindu sih cuma memang rasa dan masa itu perlu dipagar, disaring dan ditelaah. Biar cinta yang buta asal jang sa yang buta lagi. Cukup suda ....

Selamat datang makluk baru yang perlu dikagumi, lumayan biar bisa hapus kaka pu jejak dengan perlahan tapi pasti. Kaka lagi, bosan deh!!!

(Manokwari, 250411)

Sunday, 24 April 2011

Kesaksianku

Perjalananku ke Jakarta kali ini bukan sebuah kebetulan ataupun berdasarkan perencanaan tetapi ibarat “diculik” untuk sebuah tujuan: bagaimana Tuhan memulihkan dan “mengisi ulang” rohaniku lewat cara yang ajaib. Dan aku tahu, usai pulang, ada rencana besar yang terbentang di hadapanku: kala Tuhan menjadi prioritas hidup.

Panggil saja aku Maya, lajang 28 tahun penduduk Manokwari. Aku ingat jelas hari itu tanggal 14 April 2011 jam 10 pagi lewat beberapa menit kala mantan dosenku di sebuah perguruan negeri di kota Manokwari menelponku. “Ada tawaran kerja di sebuah yayasan pelayanan Kristen, May.”, katanya. Usai diskusi singkat lewat telepon dan SMS, nomorku pun berpindah pada seorang perempuan di Jakarta. Panggil saja Ibu Vero; beliau ketua Voice in the City Indonesia. Tak lama kemudian ibu Veronica Juniar menelponku dan berbicara tentang tawaran kerja di pelayanan ini sebagai sekretaris. Tanpa lama bicara, aku pun setuju untuk terbang ke Jakarta untuk wawancara keesokan harinya, tapi tentu saja dengan perasaan yang sedikit gugup karena semuanya sangat mendadak. Terlalu mendadak apalagi ada beberapa kerjaan lepas yang masih harus kuselesaikan beberapa hari terakhir.

Esok subuh tanggal 15 April jam 4 pagi, aku diantar kedua orangtuaku tiba di bandara Rendani pada sebuah subuh penuh hujan. Perjalanan menuju Jakarta kali ini adalah yang terberat bagiku. Tujuh jam dilewati dengan berganti pesawat tiga kali di tiga kota tetapi akhirnya tiba juga dengan selamat di Jakarta. Thanks God, ucapku dalam hati. Datang ke Jakarta guna wawancara bukan sebuah hal yang dapat membuatku tenang. Sore itu, aku pun dikenalkan dengan beberapa orang oleh ibu Veronica hingga akhirnya bertemu dengan ibu Suzette Hattingh. Ini kali pertama aku bertemu beliau secara pribadi karena aku baru saja mengetahui sosoknya lewat baliho – baliho yang dipasang di kotaku. Usai berdoa bersama ibu Suzette, beliau mulai menanyakan latar belakangku khususnya latar belakang rohani dan aspek – aspek yang berkenaan di dalamnya guna mendukung pelayanan hingga tiba di sebuah pertanyaan penting dalam wawancara ini tentang tawaran kerja dari yayasan Kristen ini. Cara beliau menjelaskan tawaran kerja dan konsekuensi – konsekuensinya membuatku tersadar tentang apa yang selama ini Tuhan berikan dalam hatiku dan akhirnya tersadar bahwa tawaran kerja ini bukan untukku. Apalagi saat ibu Suzette menjelaskan secara pribadi untuk mengenal hati kita dalam panggilan pelayanan. Saat itu aku hanya berkata dalam hati untuk diriku, “OK, ini sudah selesai, May. Ko pulang. Pekerjaan ini bukan untuk ko.” Tapi aku masih tak tahu untuk rencana apa aku ‘dibawa’ secara mendadak ke Jakarta, masih tetap bertanya.

Keesokan harinya, kala sarapan dan bertemu Ibu Vero; kebetulan aku menginap di rumah beliau, Ibu Vero berbagi tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya secara pribadi dan keluarganya serta bagaimana Tuhan memulihkan keluarga besarnya. Pengalaman hidup ibu Vero dari yang berat dan cukup sulit hingga penuh diberkati menjadi sebuah pelajaran baru yang kupelajari pagi ini khususnya tentang mengikuti Tuhan, hingga kemudian ibu Vero bilang bahwa ada acara konferensi doa Jaringan Doa Nasional di mana Ibu Suzette menjadi salah satu pembicara, jadi kami boleh pergi ke sana dan aku dapat membantu di stan buku yang menjual buku Ibu Suzette guna menunjang pelayanan di Papua. Karena memang statusnya aku ‘tamu’ dan tak ada kegiatan, kuiyakan saja tapi tanpa ekspetasi apapun ke tempat yang bernama Jitec; lokasi konferensi.

Ternyata aku menemukan rencana Allah di tempat ini. Tuhan mengijinkan aku datang ke tempat ini untuk belajar beberapa hal yang sangat mengubah pandangan hidupku dan kudapatkan pencerahan besar yang tak terkira. Ceritanya ada sesi seminar yang kupikir hanya berbentuk Praise & Worship jadi aku dan kak Oppie (stafnya ibu Vero) masuk dan duduk di barisan belakang tempat pertemuan. Orang – orang di dalam ruangan telah larut memuji Tuhan. Jadi aku pun masuk dan berdoa. Saat masuk dalam seminar ini, kulihat ibu Suzette dan pak Sugi (penerjemah ibu Suzette) telah hadir di depan panggung dan mengajak para hadirin memuji Tuhan. Saat itu semua hadirin sedang berdiri termasuk aku. Aku tak tahu mengapa tetapi saat itu aku percaya mengalami lawatan Allah atas diriku.

Jujur, sejak setahun kepulanganku ke Indonesia, aku bukan orang Kristen yang aktif sekali beribadah bahkan dengan saat teduh yang lebih banyak bolongnya, sangat liberal dengan imanku dan pragmatis melihat kekristenan. Bahkan tak pernah berpikir untuk secara spesifik mau terlibat secara khusus dalam sebuah pelayanan Kristen. Tapi hari itu, entah bagaimana, yang kudapatkan saat pujian dinaikan, aku menangis dan terus menangis, hampir 30 menit lebih aku hanya menangis tanpa tahu apa yang menjadi alasan untuk ‘menangis Bombay’ seperti itu. Kuingat kala itu ibu Suzette sedang berdoa agar Roh Kudus menyentuh hati para hadirin agar terbuka mendengar Firman Tuhan dan larut penyembahan pada Allah. Di kala ‘menangis Bombay’ seperti itu, di saat yang sama kurasakan sebuah rasa haus di dalam diri untuk memuji Tuhan dengan lepas, bebas dan tanpa malu ataupun takut, lebih ekspresif. Puji Tuhan! Usai menangis tanpa sebab itu, kurasakan semua beban yang selama ini terpendam dan membebaniku; mulai dari masalah hubungan dengan orang – orang di sekitarku, beban pikiran belum punya pekerjaan tetap, belum menikah di usia menjelang 30 tahun, dan sejumlah masalah – masalah pribadi lainnya pun lenyap, tak berbekas. Kekosongan dan kehampaan yang selama ini kurasakan juga lenyap. Semua hal yang selama ini membuatku kadang tak bisa tidur malam hilang dan yang ada sebuah kesegaran yang mengalir dalam diri. Hingga seminar ibu Suzette tentang membuat prioritas terbaik dengan Tuhan dari kisah Isak dalam Kej 26: 12 – 25 benar – benar membuatku tersadar dan mendapat sesuatu yang baru. Benar – benar diberkati!

Usai seminar siang, ternyata masih ada seminar jam 4 sore, jadi sekali lagi aku dan beberapa kenalan baru masuk ke dalam ruangan. Dan kali ini, Allah benar – benar bekerja dahsyat. Kurasakan sukacita mengalir lancar kala memuji Tuhan. Tak ada sesuatu pun yang membatasiku dan orang – orang lain untuk memuji Tuhan. Sungai sukacita terasa mengalir lancar dalam ruangan. Apalagi satu hal penting yang kudapatkan saat itu adalah topik ‘doa syafaat yang mempergunakan Firman Tuhan’ yang dibawakan ibu Suzette. Beliau dan pak Sugi sebagai penerjemahnya benar- benar diurapi Tuhan kala membawakan materi ini. Ternyata doa syafaat bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan dan semua orang dapat melakukannya dan saat itu, mataku seakan dibuka bahwa ada cara praktis untuk berdoa dan Allah sebenarnya tidak menuntut kita untuk terlalu banyak mengabsen dan khawatir akan masalah kita karena yang Ia inginkan adalah keintiman bersama-Nya; kala kita datang padanya dan mendengar dan menyembahnya dalam roh dan kebenaran. Aku benar – benar merasa diberkati! Satu yang pasti, aku ingin bukan hanya aku yang dapat merasakan sukacita seperti ini - sukacita dan kelepasan besar dari Yesus - tapi aku ingin akan ada banyak orang di sekelilingku, di kotaku, di tanah Papua ini yang bisa mendapatkan sukacita dan berkat seperti ini. Seminar doa seperti ini benar – benar kurekomendasikan untuk dihadiri. Saudara mungkin ragu, mungkin apatis tapi percayalah .... aku sudah merasakan bagaimana sukacita itu ada dan asalnya dari Yesus. Kiranya segala kemuliaan, hormat dan pujian hanya untuk Bapa, Anak dan Roh Kudus! Amen.

sepotong kue, sekeping status dan segenggam kerja

Suara Akon membelah langit malam dalam kamarku yang terang benderang. Seonggok terang bulan manis membentang manis di antara tumpukan buku yang terhempas ringkih. Kiri kanan yang kulihat hanya ranjang berukuran queen size, kabel – kabel yang berlilitan ibarat ‘ular kebelet kawin’ dan bahan ketikan yang menumpuk. Malam ini seperti malam lainnya hanyalah malam – malam panjang pelarianku dari status single yang tak jelas, yang makin membelitku menjelang umur 28 tahun. Lebih baik fokus kerja dibanding memikirkan urusan perasaan yang tak pernah pasti. ‘Terlalu menikmati kesendirian dan kemandirianku’, batinku lagi. Bukan menafikan pelukan dan kecupan hangat yang kadang masih kurindukan dari makhluk bernama lelaki ataupun menyangkal telepon atau sapaan yang bisa bikin jantung ikut bungee jumping. Sama sekali tidak! Hanya ingin sendiri sementara waktu ini.

Sekeping kue masuk kembali, meluncur deras ke dalam asam perut. Berharap dilebur menjadi nutrisi ataupun lemak tubuh walau akan tetap terdefekasi dan keluar lagi menjadi pupuk. Bukankah siklus hidup seperti itu. Yang terbuang akan kembali lagi menjadi yang berguna bagi organisme lainnya dan mengisi siklus hidup dalam planet bernama Bumi. Suara Akon masih saja mengisi gendang siputku yang mungkin enggan terkalibrasi usai sekian lama. Ada yang hilang malam ini, ataukah sedang merindukan seseorang? Tak tahu. Walau memang akhir – akhir ini sedang dekat dalam batasan menjadi teman SMSan yang saling ‘baku maki’. Hanya menikmati ‘acara baku ganggu’ tiap hari dan berharap menjadi teman seterusnya.

Pikiranku kembali lagi melayang pada beberapa lembar gambar majalah ‘the Wedding’ edisi Canberra yang kubeli tahun lalu sebelum pulang ke Indonesia. Ada yang hilang dari hati. Ada yang hilang. Entah sepotong rindu ataukah segenggam asa? Atau harapan yang membusuk dalam lapisan tanah terdalam dan mungkin juga tersuruk terjerembab di dalam akar pohon impian? Tak tahu dan mungkin tak mau tahu. Majalah itu seakan membawaku jauh ke impian terdalam yang pernah hadir (dulu), yang sempat bangkit dari hibernasinya dan terpaksa harus mati lagi. Semoga hanya mati suri. Karna aku masih rindu mempunyai bayi kecil merah muda yang memanggilku ‘mama’ kelak. Tak peduli ia lahir dari sebuah ikatan ataukah status di atas kertas bermeterai. Kalau sebuah kelahiran hanya dihargai oleh sebuah status sosial dan ikatan hukum maka aku bukan penganut paham ini. Bagiku sebuah kehidupan layak dihargai seburuk apapun itu karena bayi kecil yang lahir tak pernah perlu tahu dilahirkan di mana dan tak pernah bisa memilih. Layak dilindungi! Layak dihargai! Dan sangat layak dicintai dan dihidupi.

Malam ini aku mungkin sangat terbawa situasi yang entahlah ibarat labirin tak jelas yang membuatku sedikit ‘lelah’. Tak ingin mencari pembenaran apapun. Terlalu lelah dan hanya ingin menjalani hidup ke depan. Tak mau peduli ataupun terlibat dengan urusan orang lain.

Ada banyak hal yang ingin kuekstrasi malam ini, mulai dari hal seperti relasi yang memburuk dalam arti yang sebenarnya dimana ada sebuah jarak yang membentang dan semakin dalam. Entahlah mungkin memang manusia adalah makhluk paling dinamis di dunia ini dan tak pernah bisa kumengerti selain mencoba menjadi manusia yang selalu salah dan ditolong dan ditegur Tuhan lewat sesama ataupun intervensi spiritual lainnya.

Satu yang pasti, aku bersyukur untuk hidupku yang dikelilingi oleh para sahabat yang mengasihi hidupku dan menerimaku apa adanya. Aku masih tetap berusaha jadi manusia yang lebih baik bagi sesama. Masih sangat jauh untuk mencapai apa yang kuimpikan dalam hidup. Tapi aku akan tetap berusaha. Masih tetap akan berusaha. Janjiku malam ini.

Yang tak pernah akan berubah, aku bersyukur punya Allah yang mengerti dan memahami semua kelemahanku dan memberikan intervensi dan jalan keluar yang kadang tra pernah kupahami. Allah yang dahsyat seperti ini memang benar – benar tidak ada tandingan-Nya.

Segala hormat, puji dan kemuliaan untuk Bapa, Yesus dan Roh Kudus.


(Manokwari, 130411; merenungi makna ‘being singleness’)

Hati Tuhan

Siang ini kala sibuk menerjemahkan edisi bulletin Spirit Wind dari Voice in the City Indonesia, lantunan suara dari album WOW 2009 mengisi gendang siputku dan tiba – tiba di tengah kerjaanku, kurasakan sebuah panggilan untuk berdoa.

Kumulai doa pendekku untuk kaka di Jayapura agar ia dijamah Yesus dan berubah dari gaya hidupnya yang tak sehat di mata Tuhan, aku berdoa agar kaka dipulihkan dan memakai talentanya lebih lagi untuk Tuhan dan juga agar ia dijaga Tuhan dan bisa menerima Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Usai berdoa untuk kaka, saat kembali lagi dengan terjemahanku, kurasakan panggilan untuk berdoa untuk tanah Papua ini. Dan suara di dalam diriku tiba – tiba bilang begini, “May, mau tidak lihat hatiku untuk tanah ini?”. Saat itu yang kurasakan adalah hanya sebuah kesedihan mendalam yang mengiris hati dan aku hanya bisa menangis keras dan terus menangis kala di dalam doaku kulihat orang – orang yang dipenjara, anak – anak kecil yang terlantar, perempuan – perempuan yang dianiaya, dan orang miskin serta berbagai potongan wajah – wajah manusia yang menderita. Seakan dalam doaku tadi, Tuhan mengajakku berkeliling dan melihat apa yang dirasakan-Nya.

Dalam sesi ‘doa’ singkat penuh tangisan itu, Tuhan juga bilang begini, “May, aku ingin mereka dipulihkan, aku ingin mereka kembali pada-Ku. Aku sedih karna kadang mereka tidak sadar bahwa Aku sedang berada di samping mereka, bersama mereka dalam masa sulit mereka. Aku ingin mereka kembali pada-Ku” dan sekali lagi hatiku masih terasa menangis dan terasa berat.

Satu pesan yang kudapat hari sebelum doa ditutup adalah sebuah pesan di hatiku, “Teruslah menulis, May. Gunakan apa yang kuberikan untukmu untuk membangun sesamamu. Tetaplah menulis!”

Sungguh hari ini aku belajar banyak tentang ‘hati Yesus’ untuk tanah ini. Pelajaran Jumat Agung yang berharga bagiku!

(D. Meimosaki; 220411)

Untuk perempuan

Untuk perempuan yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit:

Kau cantik, kuat dan cantik
Penyakit boleh membusukan jaringan tubuhmu
Menggerogoti lapisan – lapisan daging
Tapi tidak semangatmu.
Ini hanya proses, darl.
Pasti bisa kau lalui.
Bertahan demi hidupmu dan nikmati proses ini.
Tubuhmu hanya butuh istirahat sejenak.

Untuk perempuan baru saja digebukin hancur oleh suaminya:

Kau cantik, kuat dan memesona.
Lelakimu saja yang tak memahami arti dirimu.
Ia terlalu takut tersaingi akan pesonamu.
Ini saatnya kau melangkah pergi.
Bukan karena tak mencintainya tapi memberikan waktu untuknya berpikir.
Bila ia tak berubah, toh hidup punya banyak pilihan.
Hargai tubuh dan hidupmu
Hargai betapa hancurnya Tuhan melihat ciptaannya berubah bentuk.
Darl, memang sakit bila mengambil keputusan TAPI
Kau terlalu berharga bila hanya terus menjadi sandsack
Hidup hanya satu kali, nikmatilah!

Untuk perempuan yang dikejar tekanan sosial untuk menikah:

Darl, hidup itu kan pilihan.
Begitu juga pernikahan.
Jangan menikah karena alasan status sosial, faktor umur,
Alasan kenyamanan ataupun seks.
Menikahlah karena kau siap menjadi penolong
Yang sepadan bagi pasanganmu
Guna menjadi rekan Tuhan dalam kerjaan di planet ini.
Darl, kebahagiaan adalah keadaan yang kau percaya
Bukan hanya karna menikah.
Menikahlah bila kau memang ingin menikah.
yang pasti, jangan pernah berpikir kau tak sempurna karna
belum menikah.
Jadilah orang yang baik bagi sesama walaupun status lajang melekat di KTP.
Jadilah orang yang membangun sesama walaupun kau hidup sendiri.
Jadilah orang yang memberkati hidup orang lain walau kau seorang lajang.
Hidup cuma satu kali, nikmatilah!
Kau sangat berharga, cantik dan kuat!

Untuk perempuan yang kebingungan hamil sebelum nikah dengan lelaki yang enggan bertanggungjawab:

Darl, tetap kuat ya.
Kau tetap cantik, memesona dan kuat.
Tiap orang pernah salah, darl.
Belajarlah dari proses ini dan hiduplah untuk anakmu.
Jangan menyalahkan anakmu bila harapanmu tertunda, impianmu hancur,
Dan orang – orang membicarakan statusmu.
Kau tetap cantik, darl.
Tubuhmu memang akan melar sekian centi, kau akan gemuk,
TAPI darl, kau sedang mengandung kehidupan
Dan Tuhan mempercayakan kau satu rahasia alam;
Menjadi ibu.
Tetap semangat dan hiduplah terus untuk anakmu.
Didiklah ia menjadi manusia yang lebih baik bagi sesama,
Menjadi manusia yang memberkati kehidupan orang lain,
Menjadi manusia yang memperkaya dan mewarnai hidup sesamanya.
Darl, kau tetap cantik.
Jangan ragu melangkah mengejar apa yang kau impikan.
Lelakimu memang tak layak mendapatkan dirimu
Karena kau sangat berharga.
Lupakan dia dan teruslah melangkah
Karna
Hidup hanya satu kali.
Jadilah berkat!

Untuk perempuan yang menjual tubuhnya demi kesenangan, bertahan hidup ataupun demi mendapatkan kenyamanan:

Come on, darl.
Apakah ini hidup yang kau inginkan?
Tak ada lagikah pilihan lain?
Kau masih sangat berharga, cantik dan kuat.
Apakah kau ingin menghabiskan hidupmu hanya menjadi penyalur nafsu para lelaki demi keping Rupiah yang menggelontor dari pundi mereka?
Ayolah sayang, bangkit dan keluar.
Buatlah hal yang akan membuatmu dikenang kelak.
Para lelaki itu tak menghargaimu, mereka hanya akan menganggapmu daging hidup
Untuk disantap, dimakan ataupun dihabiskan.
Angkatlah kepalamu dan lakukan sesuatu.
Kau masih sangat berharga dan keluarlah dari lingkaran ini.
Ingat darl, ada banyak bahaya yang menunggumu dalam pekerjaan ini.
Penuh risiko, penuh maut dan kau terlalu muda untuk mati, darl.
Hidup cuma satu kali, nikmatilah!

Untuk perempuan yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya:

Come darl, lupakan segala operasi itu!
Kau cantik, menarik dan kuat.
Apakah casing selalu lebih menarik dari isi?
Darl, yang terpenting kau sehat, bisa berjalan dan menikmati hidup.
Lemak tubuh, rambut yang tak seperti model apalagi tubuh yang tak bisa memakai tren baju baru hanya hal – hal kecil.
Darl, wake up!
Kau cantik, memesona dan kuat.
Nikmati hidup ini, terima tubuhmu apa adanya.
Darl, Tuhan menciptakanmu untuk melengkapi keunikan yang ada.
Kau berharga!

Akhirnya aku hanya bisa bilang pada semuanya:

Kau perempuan, makhluk terindah di planet ini!!!

(D. Meimosaki, 210411; Manokwari)

\

mama dosen

Prolog
Mereka mungkin hanya perempuan biasa berusia hampir 30 tahunyang dapat kau temukan di sudut jalan kota ini. Mungkin saja mereka pernah bersisian denganmu dalam antrian pembayaran di kasir ataupun bank pemerintah. Hanya perempuan biasa dengan gaya yang biasa. Tak ada yang spesial dari tampilan mereka. Hanya para perempuan mandiri yang jatuh bangun dari kelamnya cinta dan pengalaman hidup. Tapi toh tetap terlalu sulit untuk dijatuhkan! Lajang, muda, mandiri dan memesona, itu kesan bila bertemu mereka. Mungkin anda mengenal mereka; para wanita yang memperkaya hidupku.

***

Nay

Jilbab kuning karinya disampirkan rapat menutup rambutnya yang hitam lurus tergerai. Dengan body a la Kim Kardhasian kurang satu meter, ia cukup mudah diperhatikan. Tawanya yang tak bisa lepas dari tampilannya membuat aku mudah sekali mengidentifikasi mama dosen ini. Iya, aku mengenalnya sudah cukup lama karena menjadi salah satu bagian dari keping masa laluku dan berharap ia akan tetap menjadi bagian dari keping masa depanku dan tetap berdoa anakku kelak akan bertemu mama dosen ini. Bukan untuk diajar tentu saja, tetapi agar bisa ketularan semangat mudanya yang anti kapok jatuh cinta dan bergaya gila.

Dua delapan tahun bukan sebuah indikator kematangan dan jaga sikap mama dosen Perempuan ini sangat anti jaga sikap karena hidup hanya sekali dan ia tipe penikmat hidup. Kerap kali bertemu dengannya, yang ada tak hanya berbagi informasi, gosip tapi juga info kerjaan. Ah mama dosen dengan bodi semok itu pasti bisa bikin banyak lelaki tak bisa tidur alias begadang memikirkan mama dosen. Mama dosen yang sangat liberal terlepas dari pilihan hidupnya untuk memakai jilbab, mama dosen yang sangat gemar mencintai hingga terluka dan kadang moody terbawa suasana tapi juga mama dosen yang bisa menjadi penghibur dan bijak kala hatiku sedang terluka.

Banyak yang tak mengerti mama dosen dan aku melihatnya kadang diam dan terluka. Merasa dikhianati. Merasa disepelekan. Merasa terlecehkan. Dibalik kegilaan mama dosen, ah ia hanya perempuan sederhana yang menikmati hidupnya dan mencintai terus. Terlepas hubungan buruk yang pernah dijalani. Tak ada yang tahu seperih apa luka yang pernah dilaluinya. Tak ada yang tahu mama dosen juga bisa bersaing dengan Bill Gates menjadi dermawan walau gajinya tak banyak; tak ada yang tahu berapa banyak orang yang ditolongnya tanpa perlu berkoar – koar menjadi ‘dermawan’. Mama dosen bukan orang yang suka membanggakan hal yang berhubungan dengan uang. Mama dosen memang menyukai barang baru dan belanja tapi toh dibalik acara belanjanya, mama dosen mungkin orang paling sensitif dan tak pernah ingin ribut urusan uang. Bagi mama dosen, rejeki akan mengalir bila kita tak pelit dengan orang lain.

Aku berharap mama dosen akan baik – baik saja hingga kelak anak perempuanku akan kuserahkan untuk ‘digembleng’ dengan virus gila ala mama dosen biar ia jadi orang yang tak perlu takut berbuat salah, tak harus jadi malaikat dan tak perlu malu menjadi diri sendiri apalagi untuk hidup dengan pilihan sendiri. Mama dosen seh!!! *sambil senyum - senyum membayangkan para pecinta mama dosen yang gigit – gigit jari lihat mama dosen melenggang dengan Vixion =)

***

Nee

Panggil saja ia Neeta. Perempuan berusia hampir tiga puluh tahun ini mungkin salah satu ‘Athena’ modern yang pernah kutemukan. Cantik, berbodi aduhai, cerdas dan tentu saja sangat mandiri. Terlepas dari tampilan luarnya yang bisa bikin perempuan sekompleks gigit jari dan maki – maki dalam hati, tak ada yang tahu emosi yang berkecamuk dalam diri Nee.

Nee pekerja keras, itu kesanku kala melihatnya. Aku pernah mengenalnya beberapa tahun lalu di sebuah pulau berbentuk huruf K, ia pun berubah ibarat ulat yang telah bermetaforsa menjadi kupu – kupu cantik dengan sayap ringkih. Pengalaman sekian tahun menempanya untuk tak jadi kupu – kupu lemah tetapi sedang memadatkan sayapnya dengan besi dan mesin – mesin jet agar dapat melambung tanpa takut dipatahkan angin.

Aku hanya bingung ada lelaki – lelaki liar yang tak bisa menghargai Nee dalam hidup mereka. Dikhianati mungkin urusan biasa, tapi tetes keringatnya pun pernah ‘dirampok’ oleh mereka yang menyebut diri ‘penyambung lidah Tuhan’ hanya karena urusan perangkat teknologi jaringan berbayar. Lelaki – lelaki yang tak tahu diri ini memang layak dipersona-non-gratakan dari hidup kupu – kupu mandiri nan cantik ini karena mereka tak layak menemani Nee dalam hidupnya. Mereka hanya akan jadi parasit dan menggerogoti Nee.

Nee, sosok mandiri perempuan yang berjuang mencari jalan dan pilihan hidupnya sendiri. Mungkin dukanya tak akan muncul bila hanya bertatapan dengannya sekejap karna ia terlalu cantik untuk membiaskan luka dalam hati. Tuntutan status, tuntutan rupiah hingga gengsi harus ditelannya sendiri. Tapi toh terlepas dari terpaan duka, pengkhianatan dan juga tekanan sosial menjelang usia berkepala tiga, Nee tetap bisa melelehkan kata – kata bijak dan bantuan bila dibutuhkan dan memberi kesegaran kala berjalan dengannya, walau dengan kata – katanya yang kadang tegas, lugas dan cuek.

Yang pasti, bila ada masalah dengan orang lain dan takut untuk mengungkapkan masalah apalagi mengkonfrontasi, ajaklah Nee. Ia memang ibarat mata pisau bedah yang precise, concise dan pas – pas tulang. Satu yang pasti, kelak anak perempuanku harus bisa kuajak bertemu Nee untuk belajar menjadi perempuan mandiri yang tegas dan bisa menghargai hidupnya dan tetap cantik.

P.S. Rekomendasi gaya a la Nee patut dilirik ^_^

***

Mayo

Namanya memang bukan sejenis saus sedikit asam pelengkap hamburger. Bukan pula merek sebuah makanan. Sama sekali bukan! Tapi Mayo memang ibarat bumbu yang membuatku menjadi manusia penuh warna seperti ini. Perkenalan kami dimulai sejak kami masih balita yang berlarian dengan kaki telanjang di halaman penuh rumput hijau dan penuh dengan pohon Pomelo yang kadang – kadang buahnya kami pakai sebagai bahan pembuat mobil – mobilan. Mayo menjadi teman ceritaku sejak kecil dan teman petualangan. Ia mengenal tiap lelaki yang menjadi kekasihku karna tiap jatuh cinta dan menjalin hubungan, para lelaki itu wajib berkenalan dengan Mayo, entah dengan SMS, telpon ataupun kopi darat.

Mayo hanya perempuan biasa berusia dua-delapan-tahun dengan orang tua yang biasa; bukan anak pejabat ataupun orang kaya. Tapi Mayo dan saudara – saudaranya kadang membuatku salut setengah mati; mereka mandiri dan bisa menerima hidup apa adanya dan tak pernah mengeluh dengan apa yang mereka terima dalam hidup. Mayo pula yang kerap menjadi pelarianku kala beban pikiran tak bisa dituliskan dan harus kubagi. Entah saat kudatang dengan cara simpatik ataupun penuh amarah dan ia selalu berhasil menjadi stabilizerku.

Mayo yang selalu menjadi sahabat terdekatku kadang disalahmengerti oleh banyak lelaki. Ia bukan perempuan dengan tampang biasa untuk orang Papua. Dengan tubuh yang terawat dan terjaga, ia bisa jadi pemenang kontes kecantikan a la Papua. Siapa sangka lelaki – lelaki itu kadang tak bisa menghargainya. Dikhianati, dilukai dan bahkan tak mendapat penjelasan apapun pernah dialaminya. Tapi ia tetap kuat dan tak terpuruk dalam masalahnya. Ia bangkit dan menjadi pemenang dalam hidupnya. Ia perempuan yang tegas, mandiri dan tak mudah menyerah.

Suatu hari kelak, aku ingin anak perempuanku bisa bermain dan bercerita dengannya dan belajar bagaimana menjadi perempuan yang kuat dan bertahan dalam situasi apapun. Tak lupa pula, aku ingin anakku kelak belajar bagaimana bisa menikmati hal – hal kecil di sekeliling hidupnya.

***

Epilogue

Mereka hanya perempuan – perempuan biasa tapi bagi diriku, mereka sangat luar biasa memperkaya diriku guna menjadi orang yang lebih baik. Mereka pernah disakiti dan dikhianati berulang kali tapi tetap memilih berjalan dalam keanggunan dan menjadikan semua hal pahit itu ibarat kerikil pembentuk jalan aspal mulus. Aku bersyukur mengenal mereka dalam hidupku; para perempuan perkasa.

(Manokwari, 140411; untuk para perempuan perkasa di sekelilingku)

antara kaka, kerjaan, dan hal tak penting lainnya

Hari ini masih sama seperti hari lainnya yang kulalui. Berkutat dengan urusan les privat, terjemahan, laporan dan tambahan tugas terjemahan lainnya. Duduk menggelandang dengan komputer jinjing Acer tua yang tutsnya sudah terlepas sana – sini. Sambil sesekali telingaku memantau musik dari piranti musik yang terinstal. R &B, Jazz hingga pop beterbangan membuaiku. Entahlah ... hari ini hari Kartini, hari perempuan dan aku memikirkan kaka. Masih ada cinta yang tersimpan dan entahlah ... kaka masih saja sulit kuhilangkan dari pikiran.

Kaka menghilang sejak pulang ke Jayapura dan aku tak mau lagi memikirkannya. Tapi selalu saja ada celah dalam benak yang memutar kenangan kami berdua. Selalu saja ada saat di tengah kesibukanku dan aku mengingatnya. Ada sesuatu yang pecah di hatiku. Ada yang hilang. Ada yang pergi. Mungkin hanya sebuah persinggahan di sebuah dermaga kayu yang telah tersaput tsunami pada suatu kala. Mungkin memang seharusnya tak perlu diingat lagi. Kunci benakmu. Kunci hatimu. Kunci fokusmu.

Hari ini mungkin saat yang tepat untuk melakukan apa yang kudengar kala seminar ibu Suzette Hattingh di Jakarta. Lupakan masa lalu dan lihat apa yang telah Tuhan sediakan untuk masa depan dan berpegang pada janji Tuhan. Jangan pernah takut untuk melangkah tanpa kaka, mungkin ungkapan yang tepat untuk saat ini.

Masih saja ada hati yang tertinggal dalam sunyi, masih saja ada rasa yang tersimpan rapi di ujung hati. Wake up, May. Hidup masih panjang, May.

Aku hanya ingin Yesus memegang tanganku erat saat ini dan melangkah bersamaku ke depan, walau mungkin tak akan ada lagi kaka. Walau mungkin harus begini. Entahlah ... masih juga merindukan kaka walau logika dan visiku menolaknya. Berhenti melakukan terlalu banyak kompromi dan korbankan talenta yang Tuhan berikan dalam hidupmu, May.

Hanya bisa bilang bahwa menjelang Paskah ini benar – benar tersadar mengapa Yesus harus datang untuk manusia. Ya karena masih ada manusia – manusia seperti diriku yang benar – benar butuh Tuhan yang mengerti bagaimana manusia dan perasaannya. Entah bagaimana hidupku bila tak ada Yesus, mungkin bunuh diri dobol – dobol dan larut sungguh mati dalam diam dan air mata. Satu yang kutahu, aku tak akan pernah sendiri lagi di hidupku karena ada Yesus.

Thanx Jesus 4 sacrificing Your life to me. Amen

(Manokwari, 210411)

Perempuan namaku

Martina namaku
Lima belas tahun umurku
Tak tamat SD
Jadi pembantu rumah tangga

Yokbet, kata KTP untukku
Delapan belas tahun kulalui
Wajah merah hitam biru lebam
Makanan harianku

Mince panggilanku
Ini tahun keDua-empatku berjalan
3 anak 1 laki kubiayai
Ditemani palungku dan kayu-bakar-pica-di-tulang-blakang tiap hari

Yakoba ku disebut
18 tahun umurku
Entah tahun depan kan kujalani
Kala HIV merongrong tubuh ringkihku

Yosmina sebutanku
Dua-puluh-tahun kulalui
Diperkosa, dianiaya, dilecehkan dalam pernikahan
Tanpa dibela
Karna aku perempuan!

Gerda label namaku
23 tahun hidup di pedalaman baru saja berlalu
Kala tanah merah menutup liang kuburku
Mati beranak tanpa pertolongan medis apapun

Yakomina, Tince, Since, Maria, Marta, Iren, Yohana,
Paskalina, Damaris, Dina, Ina, Ida
dan masih-banyak-nama-apapun-yang-ingin-kau-sebutkan

Aku perempuan, tak bahagia,
Apakah aku dibela?
Apakah aku diperhatikan?

Tanya dirimu!!!

(D. Meimosaki; Manokwari/ 210411; mereka-bilang-nih-hari-perempuan, iyo ka?)

Kebaya

Kebaya putih berenda
Pupur putih tebal bergincu merah
Langkah pendek tertahan wiritan kain
Hari Kartini!!!

Perempuan Jawa ...
Ah lagi – lagi perempuan Jawa.
Penerobos gelapnya buta huruf
Pendobrak paham patriarki
Katanya!!!

Andai dulu perempuan Minahasa yang diekspos
Andai dulu perempuan Maluku yang dibahas
Andai dulu perempuan lainnya yang jadi sorotan
Mungkin tak harus pakai kebaya!!!

Rambut keriting disasak
Rambut keriting dicatok
Rambut keriting disanggul
Wajah gelap dipupur
Demi kebaya!!!

Stagen, hak, sanggul cepol
Sasak tinggi, bedak tebal, gincu merah
Pupur sana, poles sini
Kebaya’s time, darl!!!

Wajah – wajah topeng
Wajah – wajah berpupur tebal
Wajah – wajah yang tak kukenal
Kala semuanya bertransformasi ....
Kebaya’s time, darl!

It’s kebaya’s time, darl!
Kataku lirih!!!! *sigh

(D. Meimosaki/ Manokwari, 210411; kala trus bertanya kenapa harus Kartini dan berkebaya)

Thursday, 7 April 2011

puisi: Menji

Hitam keriting
sa Papua

Merah gelap
Kalo
Sa paitua
Baru abis
Tumbu sa badarah

Biru tua
Kalo
Sa paitua
Baru abis
Tumbu sa
Mata masak

Putih pucat
Kalo
Sa paitua
Baru abis
Siksa sa
Sampe sa air
Mata mo kering

Kuning muda
Kalo
Sa paitua
Tra cari uang
Ka makanan
Jadi sa
Kerja bagadang
Jualan dan
‘Mencari’*
Sendiri

Ungu gelap
Kalo
Sa sedih hancur
Pikir sa pu
Paitua mo pi
Cari perem
paha putih
baru

dan hitam gelap (lagi)
kala sa kaku
mati
fisik jiwa
karna
sa paitua
tra peduli
tra hargai
tra jaga
tra mo tahu
tentang sa!

Panggil sa Menji*
Karna
Sa pu hidup
Warna – warni!!!

(Manokwari, 060411; for ‘Lata’ yang tra bisa hargai dong pu perem)


Catatan:

Mencari:
Merujuk pada usaha mencari nafkah, biasanya diasosikan dengan kerja

Menji
(bahasa Meyah) pelangi

puisi: ganti pemain

Ko tampeleng sa
Ko pukul sa
Ko tumbu sa
Ko palungku sa
Ko lap sa
Ko b’la sa
Ko sepak sa
Ko injak sa
Ko hajar sa

Sa mata masak
Sa gigi lompat indah
Sa bibir tamu di emergensi
Sa sendi patah – patah
Sa badan bangka - bangka
Sa tulang belakang biru
Sa hampir lepu*
Sa brubah warna

Ko ramas sa
Ko cium sa
Ko polo sa
Ko jilat sa
Ko gigit sa
Ko ‘isap’ sa
Ko paku sa
Ko ‘hantam’ sa
Ko ‘kurung’ sa
Ko ‘naik’ sa

Neh ... pace,
Ko hop suda!!!
Sebenarnya
ko anggap
sa
A-P-A???

Sandsak ka perem?
Bola ka cinta?
Musuh ka kekasih?

Ko
pikir
Sa nih
mangga isap
ka ampas tebu?

Aeh neh ... ko pikir akan suda!!!

Sa G-A-N-T-I pemain!!!!
Titik.

(Manokwari, 060411; thanx kak Sarah ‘n Dessy for such inspiring idea. Puisi ini untuk lata2 yang tra bisa hargai dong pu perem!!!)


Catatan:

Lepu:
(Melayu Papua) slang di Manokwari. Singkatan untuk ‘leher putus’ alias akibat buruk yang akan terjadi yang biasanya berhubungan dengan akibat fisik buruk yang akan diderita, bahkan sering dipakai untuk merujuk pada kematian.

Today my life begins!

‘Today my life begins’! Syair dari Bruno Mars ini mungkin menjadi pengisi dan penyemangatku akhir - akhir ini khususnya setelah mengalami masa – masa emosi hancur lebur ibarat Tinutuan tapi toh akhirnya sehancur – hancurnya keadaan tetap ada sisi positif yang bisa diambil. Anyway, hari ini catatanku mungkin hanya beberapa fragmentasi yang terjadi beberapa hari ini. Aku bukan reporter yang baik untuk kisah hidupku yang biasa saja, tapi toh tak ada salahnya mendokumentasikan apa yang terjadi dalam hidupku.

Cinta
Wow! Mungkin ungkapan yang tepat untuk topik ini. Iya, beberapa hari ini aku sudah mengalami beberapa kali ‘reuni’ dengan para mantan pacar. Mulai dari si hacker ‘mantan talapas’ yang dulu pernah mengancamku 2 tahun lalu, hingga ‘lelaki hujan’ dan juga J (untuk seterusnya, aku lebih suka memanggil J dengan sebutan ‘kaka’). Kalo si hacker sih dia bersama pacar lepasnya dan aku tak peduli dengannya bahkan harusnya ia digebukin waktu itu. Bukan karena masalah perasaan tapi karena memang ia cukup brengsek. Sahabatku yang sepupu si hacker bilang kalo si hacker tambah hancur saja. Iyalah, demi jalan dengan pacarnya yang sekarang, anaknya (bareng istrinya) yang tinggal di rumah ortunya dicuekin. Mungkin kalo dalam tahap itu aku bisa memahami, karena masalah perasaan tak bisa dipaksakan. Yang jadi masalah itu karena pas si hacker pulang ke kota kelahirannya di sebuah pulau berjuluk ‘Hot Rock’, e anaknya yang baby boy itu sedang sekarang di rumah sakit, e si hacker ogah ngunjungin tuh baby dan memilih kelayapan. Pokoknya aku merasa bersyukur banget tak berurusan dengan si hacker, walaupun memang masih saja ada niat untuk menggebukinya bila mengingat perkara ‘ancam – mengancam’ beberapa tahun lalu.

Kalo ‘Lelaki Hujan’ sih ya aneh saja, dua hari ini tiap belanja ketemunya dia terus, dan selalu sendiri. Mungkin maituanya kabur lagi *wkwkwwkkwkw + devilish smile. Tapi yang bikin bete sih sikapnya. Dua hari lalu kan aku belanja di sebuah toko yang bernama ‘tanaman epifit’, nah pas lagi sibuk memilah kertas – kertas kado untuk paper craft, e si LH datang nyamperin, tapi pake acara colek – colekan segala. Jujur eskpresi yang keluar mah busuk abis nih muka. Pengennya sih tuh cowok digampar pake sandal apa martil dah. Biar nyonyor!! Abis udah nyolek e malah pamerin senyumnya yang Pepsodent abis deh. Lebay banget dah pokoknya. Kalo gak di toko, udah pasti kena ‘1 bab’ deh dari vocabulary makian gw. E trus tadi pas belanjaan usai acara reunian teman – teman dari OZ, pas belanja di toko yang lain, e si LH pamerin lagi senyumnya yang selebar tripleks alias garing banget deh. Mana pake acara nungguin di dekat kasir lagi. Terang aja gw langsung ngacir dan cuek pura – pura gak lihat, bete aja deh kalo diberi reaksi. Ntar ngelunjak deh macam di toko yang dua hari lalu. Iyalah, di toko yang lain itu tuh cowok pake acara ngantri bareng di belakang badan n gangguin trus bilang katanya gw tambah manis tapi kok jutek apa judes getho. Pengen banget deh tuh mulut di’prop’ dengan deretan sandal di rak apa dibanting – banting di rak. Aduh ... pokoknya, panas nih hati. Anyway, sisi positifnya adalah, gw yakin Tuhan lagi baek hati mo nguji apa gw masih cinta gak sama nih cowok dan kayaknya Tuhan tahu banget kalo gw dah kuat lihat nih cowok usai break dulu. Iyalah, hati gw luka bertahun – tahun sama cowok yang cuma nganggap gw sebagai ban serep. Begonya lagi, dulu gw mau aja digituin, jadi ban serep, dimanfaatin de el el. Pokoknya kalo sekarang n bikin acara flash back, pengen teriak “Thanx God!”.

Oooops, kok bahasa gw dah switch ke Jakarta Indonesian ya? Aneh saja. Ini nih yang namanya code-switching dan code mixing. Tatukar trus .... harus balik ke pokok nih, whatever happens, harus coba nulis dalam Melayu Papua.

Kalo tentang ‘kaka’ sih aman – aman saja. Kaka datang ke Manokwari demi kerjaan. Pokoknya surprise banget, mana datangnya tuh tanggal 1 April lagi. Kan beberapa hari sebelumnya sih kaka lagi suka SMSan. Jadi sa tanya keadaan getho, e pas tanggal itu, kaka SMS tanya sa rumah di mana. Jadi ya sa langsung curiga, jangan – jangan pace ko ada di Manokwari. Voila .... iyo de datang!

Jang tanya lagi, sa pu reaksi awal pas ketemu dia tuh marah bunuh eee, cuma mo bicara singkat dan kabur, itu kan pas hari Jum’at sore. E karna kaka pu tarikan bagus, malam itu usai pulang ngajar, akhirnya ketemuan lagi dan cerita – cerita. Mana hujan lagi, jadi ya tong pi makan malam sama – sama. Masih cerita sedikit – sedikit walau ada yang hilang. Tuhai, ada rasa yang pica di hati skali. Rasa sayang masih bokar seh ... jadi ya begitu suda. Tra pacaran lagi sih, cuma ya nyaman saja deng kaka dia. Jadi ya cuma menikmati waktu duduk ngobrol *plok – plok – plok. Besoknya ya dari siang sampe malam ikut kaka pu kegiatan. Sempat baku marah sampe sa bikin pace ko ampir serangan jantung karena sa balap. Fyi saja, kaka de tra bisa bawa motor jadi wkwkkwkw. Pas pace tasalah deng sa, sa tindis balap sungguh di pinggiran pantai biar de tau rasa, sampe de tinggal tepuk sa tangan bilang jang balap2 ka ini, abis su emosi naik karena miskomunikasi tentang tempat kegiatan. Mana sa juga sempat emo sebelumnya karena urusan pi cari rumah sodaranya. Tapi untungnya hari itu tong baik – baik saja sampe malam.

Entahlah ... kaka selalu kelihatan seksi sekali kalo su ngomongin barang yang de pu bidang dan mungkin sa memang dari dulu jatuh cinta tuh sama karyanya jadi ya tong dulu pacaran. Entahlah ... sa menikmati sekali de ngajar tentang seni pas acara briefing festival dance dan band. Pas de jelaskan tentang dance dan perkembangannya. Pokoknya, gosh .... macam mo bilang “I love this man!”. Tapi skarang ya, hubungan tuh tanpa status skali eeeee. Tapi sa su tenang karena sa pu Yesus yang lebih dekat jadi kaka ko mo kenapa – kenapa juga sa su tra peduli secara emosional ka ini. Sa tetap sayang kaka cuma sa tra siap terikat deng dia saja. Itu sa pu pilihan ka ini.

Relasi
Adooooh ini mungkin topik yang lebih berat sa bahas akhir – akhir ini. Abis macam bagaimana eee, kayaknya konsep friend for a season, a reason n a life time sedang terjadi jadi. Pokoknya sa akhir – akhir ini memang lagi ganti – ganti main deng sapa, dekat deng sapa, pokoknya buka gigi deng sapa. Ada pergantian pola permainan ka ini. Sa memang tra bisa bahas secara eksplisit di catatan ini. Yang pasti, kadang saat tong pu orang – orang yang dekat berubah, kadang tong tra siap deng perubahan itu dan macam rasa aneh dan menjaga jarak. Nah itu yang sedang terjadi deng sa, sa tra marah sa teman atau benci. Sama sekali tidak. Sa cuma merasa tra nyaman saja berada dekat deng dia. That’s all. Sa masih sayang, hargai dia cuma sekarang sa cuma bisa anggap de sebagai sa pu kolega saja. Tra lebih. Su bukan sebagai sa pu teman curhat dll apalagi mo pi kongkow. Sa cuma tra nyaman dan su tahu sa toooo, sa orangnya kan agak moody dan plin – plan jadi sa paling utamakan rasa nyaman. Kalo nyaman, sa jalani. Kalo trada, ya sa pikir cara lain toooo. Fleksibel saja ka ini.


Kerja?
Kalo relasi kerja sih as usual, biasa akan ada politik kantor. Seperti biasa, dan mungkin bakat alami, sa selalu harus bisa baca situasi dan mainkan kartu terbaik. Maksudnya, sa bilang kalo politik tuh su jadi ‘darah’ dalam diri karena latar belakang keluarga besar mama yang memang banyak yang ‘politikus alami’ apalagi dari jaman sa kecil sa su harus belajar yang namanya konspirasi, intrik sampe segala macam barang yang hubungan deng ‘politik’ karena tong pu keluarga besar tuh memang ‘berpolitik’ dalam hubungan deng sesama anggota keluarga ka ini. *another topic to be discussed

Balik ke topik kerja, itu lagi, sa cuma rasa bagaimana eeee, lain baku bicara lain, lain pake acara stabbed from the back, lain baku kas jatuh lain. Tapi begitu suda toooo. Masing – masing cari posisi aman ka ini. Kalo sa sih sejak sa pulang dari Jayapura kemarin, usai abis emotionally breakdown, sa su putuskan kalo sa cuma mo fokus deng sapu kerjaan talapas cari uang, mo liburan de el el, jadi sa epen deng orang lain pu urusan ka ini. Apalagi mo sibuk urus. Bikin abis uang dan energi saja wkwkwkkwkkw. Lebih baik urus diri sendiri dan pikir cara lain untuk bantu sesama yang marjinal dibandingkan mikir bagaimana orang lain mo pi maintain dong pu power, relations dll. Epen – epen enos banget deh pokoknya.

Yang perlu sa lakukan adalah fokus deng sapu impian untuk bantu anana Papua yang marjinal tapi pu keinginan belajar yang tinggi, bantu tulis tentang perempuan Papua yang tertindas, bantu daur ulang dan ciptakan ekonomi kerakyatan dalam skala kecil. Masih banyak impian yang lebih penting ka ini. Yang mo bikin barang lain ya terserah ka ini. Kalo bikin barang lain yang membantu sesama dan jujur dalam melakukannya, sa mau dengar or bantu, tapi kalo untuk yang tra penting dan ujung2nya bikin hal yang sakiti orang lain, ya epen juga ka ini.

Sekali lagi, sa mo teriak, sa suka lagu Bruno Mars yang “Today my life begins!” Sa percaya kalo sapu kebahagiaan tuh ya mengerjakan dan menikmati hal – hal kecil ka ini.

Ampir lupa, sa sekarang lagi suka warna merah!!!! Smangat skali ka ini hehehhe

I love every inch of my body!!! *tambahan motto barunya sa

(Manokwari, 060411; usai makan malam dengan sesama alumni OZ)

Mimpi buruk

It’s another new day. Thursday is the name of today. Cloudy morning and my day begins with a cup of tea. No more coffee *hahaha. As my doctor when I was in OZ told me that my stomach has such intolerant manner to caffeine. Anyway, I feel so much blessed waking up in the morning for I slept more than 12 hours and my dream is one of the worst nightmares I’ve experienced. The same feeling I have had for more than three times. The scene remains same. I always feel that I return back to Australia but in different scenarios or it is like I was stranded and I have to survive. Yet, last nightmare also involved my friends, my ex boyfriends and people I knew. Terrible and hectic!

Today is my last day working with that OZ company, I mean for this term. It is quite nice working with them for the staffs there have given me such invaluable opportunity to work professionally in my field. I mean, my master degree is in this area so I feel that its is great to work with them. You can call it such ‘warming up’ of working for next months, I still work with them ... hopefully.

This afternoon, I have another responsibility to teach some master students in my Uni. I mean, I have a class of TOEFL introductory as I work as a freelance instructor in one unit of the local university in my hometown. Nope ... I’ m not a lecturer though. Just a lost thinker stranded in a building full with wonderful people and makes me hard to leave. To be honest, I also have different responsibilities in different places, so just call me a slasher *hahahaha. You know, a slasher is someone who has many different responsibility or you call it as a ‘job’. One of my biggest sin is I can’t handle something for too long. I tend to feel that my phobia (claustrophobia) is getting worse hahaha.

Anyway, nothing too special today but keep hope that today is like other days; a wonderful beautiful day in my beloved hometown and like yesterday, my life has just began.

I am so much blessed and thanx God for that.

All the glory, honour and worship for Father, Jesus and the Holy Spirit. Amen.

(Manokwari, 310311)