Pernahkah kau gantung bintang di jendela kamarmu?
Pernahkah tetesan hujan menari liar dalam kamarmu?
Pernahkah sekeping kenangan menabur duka dalam matamu?
Ataukah sepercik rindu membasahi benakmu yang penuh?
Aku pernah!
Entahlah ... tetes hujan di luar sana menyuruhku diam kala mereka menari dan menembus jendela kamar. Mereka bilang ia yang jauh di sana tak lagi sadar bahwa tak ada lagi yang perlu dikatakan kala jembatan hati telah retak dan tak bisa direkatkan dengan lelehan madu. Perlu lem? Tidak, sayang! Ini bukan kapas busuk perekat darah bulanan. Bukan topi pelindung sperma yang kadang bocor dan membuat sel telur terbuahi. Bukan pula hutan yang perlu diberi mekanisme perdagangan karbon agar bisa hidup barang sekejap. Ini tentang hati, sayang. Ini tentang mimpi. Ini tentang hidup dan tentu saja ini tentang C-I-N-T-A!!!
Ia bukan pecinta hujan, bukan pula pembau garam seperti dia yang pernah sangat kucinta. Bukan pula seperti lelaki pejantan yang pernah memporak- porandakan hatiku apalagi seperti si peretas gila yang terobsesi. Bukan, sayang. Ia hanya lelaki yang bertemu aku dan jatuh cinta di saat yang salah. Entahlah ... aku pernah sangat mencintainya dan kupikir hidup kami akan jadi seperti negeri dongeng, setelah sekian lama. Tapi ternyata ... aku salah. Kembali lagi sejarah terulang dalam versi yang lain dan hubungan kami berakhir dalam sebuah tanda tanya. Putus - tidak – putus – tidak. Entahlah ...
Ia bilang ia masih sayang. Iya, aku juga masih sayang. TAPI .... entahlah ... hatiku tak lagi memikirkan dia, kadang – kadang iya tapi yang kupikirkan adalah mimpiku, wajah lelaki – lelaki lain yang kulirik, dan senyum kecil bibirku kala melihat satu makhluk manis lepas di depan mata. Dan Ia hanya kupikirkan kala hendak tidur, masih ada rindu mendengar suaranya. Tapi segera berhenti kala akal sehat bilang, “Tapi kan ko tra mo nikah deng dia tooo!”. Blup! Ibarat suara kentang masuk sup panas, ya rasa cinta pun tenggelam.
Aku masih ingin tetap memeluknya walau ia tak pernah ingin memelukku (kecuali kalau kupaksa). Entahlah ... mengapa aku tetap selalu membandingkannya dengan seseorang yang pernah memberikan pelukan – pelukan termanis dalam hidupku. Pelukan yang tulus kala aku kedinginan, ketakutan dan merasa tak nyaman. Entahlah ... mungkin karna latar belakang mereka yang mirip tapi entahlah ... ia tetap bukan dia dan aku masih tetap masih sulit menghapus bayang dia dalam diri lelaki ini. Mencari jalan keluar dan realitas, entahlah .... tak tahu. They’re just different!!!
Mungkin aku hanya pernah jatuh cinta pada karyanya dan bukan dirinya, tak seperti dia yang pernah membuatku jatuh cinta benar – benar walau tak bisa mengungkapkan perasaanku karna toh aku sadar diri.
Andai dia yang enggan memelukku ini tahu bahwa aku masih tetap sayang dan cinta TAPI masih enggan untuk mengikatkan diri dengannya dan melepaskan impianku. Karena bagaimanapun urutan prioritas hidupku selalu sama dan tak berubah walau pernah ingin kuubah karena dia. Sebut saja namanya J. Lelaki terakhir yang membuatku kehilangan logika dan meletakan egoku.
Entahlah ... perbedaan umur yang lumayan, 8 tahun lebih tua dariku ternyata tak membuat masing – masing dari kami bisa mengalah. Aku yang dua tahun lagi berkepala 3 ternyata tak bisa juga memahaminya dan ia juga tak bisa memahamiku. Sebenarnya ada banyak kompromi yang kulakukan untuknya. Aku tak mempermasalahkan status dudanya, tak mempersalahkan tampilan fisiknya dan sederetan hal kecil lainnya yang bukan urusan besar untukku. Tapi ternyata .... ada hal – hal yang masih saja membuatku tak bisa melangkah ke depan dan mengambil jarak walau memang kami telah putus. Putusnya hubungan kami pun punya dua versi. Versinya dan versiku. Versiku, kami telah putus sejak ia mengirimkan SMS yang bilang sebaiknya aku dan dia menjadi teman saja dibanding emosi habis hanya untuk urusan yang tak penting. Sedangkan versinya, kami tak putus dan itu hanya SMS biasa untuk diskusi.
Komunikasi mungkin salah satu masalah yang mulai ada sejak sebulan lebih pacaran. Ia bisa jadi lelaki baik super duper kala sedang baik tapi tiap kali sedikit mabuk dan mulai jujur bicara, ah aku hanya seorang pelarian atau mungkin karena dikejar target orang tuanya untuk menikah sehingga aku yang tersisa *miris. Aku masih belum bisa menerima perlakuannya sebelum putus dan masih ada luka yang basah di hati kalau mengingatnya. Saat ini aku masih berusaha memulihkan hidupku yang sempat hilang, luka dan hancur secara emosi.
Aku masih belum bisa memaafkan bagaimana ia menggantung statusku selama 3 minggu di mata orangtuanya, bagaimana ia memperlakukanku sebagai pajangan yang dijaga; hanya perlu disentuh atau diajak bicara kalau memang perlu dan dijaga mati agar tidak jatuh tapi tanpa sebuah kata bahwa aku berharga. Ia yang tak pernah menyebut namaku dan hanya memanggilku dengan nama ‘say’; apa ia takut salah memanggil nama perempuan lain? Entahlah ... ia yang tak pernah mau membahas masa lalunya dan harus orang lain yang bercerita padaku. Aku ingat malam itu kala sahabatku semasa SMA yang notabene tetangganya bercerita usai kuungkapkan tentang akhir hubungan antara aku dan dia. Ah lagi – lagi aku bukan satu – satunya perempuan dalam hidupnya. Jelas saja sahabatku dulu terkaget – kaget dan pernah beberapa kali menganjurkan agar jangan menjalin hubungan dengan lelaki ini.
So far, aku masih sangat mencintainya, masih. Tapi mungkin dalam hati saja atau lewat SMS. Tapi menikah? Entahlah .. apa aku kuat ‘makan hati dan tahan hati dan bersabar’? Aku tak tahu dan mungkin tak akan mau.
Aku hanya ia paham bahwa aku butuh sayap, kebebasan dan pelukan. Aku butuh kepastian dan kemapanan, apalagi kemandirian. Bukan lelaki manja yang hanya suka main perintah dan tak ada langkah nyata tentang rencana ke depan. Hallo, nikah itu bukan hanya urusan tidur, sayang! Nikah bukan hanya urusan makan sehari – dua hari. Bukan itu!!!
Aku mungkin egois, mungkin terlalu pake logika tapi jelas saja aku tak mau sengsara dalam hidup. Tak ingin dapat lelaki manja yang pikir semuanya akan baik – baik saja tanpa berusaha. Tak ingin lelaki yang terus menyuruhku menjaga sikap kalau pergi ke luar rumah karena ia tak ingin nama baiknya hancur karena banyak yang mengenalnya. Tak ingin lelaki yang tidak bisa menghargai caraku berbicara, caraku tertawa dan membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Entahlah ... bersamanya aku lelah. Lelah menjadi orang lain, lelah menjadi pajangan yang diinginkannya.
Saat ini ada banyak cinta yang kurasakan dan membuatku sedikit berpikir tentang apa memang aku butuh cinta darinya, apakah itu tulus atau hanya demi karir masa depannya sehingga membutuhkan orang sepertiku? Hanya demi gengsi, sayang!!! Entahlah ...
Jujur saat ini, aku hanya tak ingin berpikir tentang cinta atau membangun hubungan yang serius dengan lelaki manapun. Entahlah ... mereka tak pernah mengerti aku, tak pernah mengerti seleraku. Tak pernah. Dan aku juga capek mengerti mereka. Mungkin karena aku terlanjur nyaman dengan diriku sendiri sekian lama.
Aku lajang, hampir 28 tahun, mandiri sejak kecil dan percaya akan kekuatan impian, financially independent, punya hidup yang biasa saja walau aku punya kontrol penuh atas apa yang hendak kulakukan dalam hidup karena orang tuapun tak banyak mengontrol apa yang hendak kulakukan.
Aku hanya ia dan lelaki lain yang hendak dekat denganku mengerti bahwa aku sangat menghargai hal – hal kecil dan kerja keras. Ini bukan tentang uang yang banyak, fasilitas dan lain – lain. Ini bagaimana para lelaki itu mau berusaha mencapai apa yang hendak mereka capai dan melibatkan aku dalam hidup mereka tapi tanpa mengikatku. Lelaki yang memberiku sayap dan percaya penuh padaku. Yang bukan menuduhku dengan bahasa yang kasar dan memanggilku dengan kata – kata seperti ‘licik, egois, berpikiran negatif’. Please deh, sayang!!!
Entahlah .... mungkin karena semua tipe lelaki yang pernah menjadi impian tersembunyiku pernah kudapatkan dalam seminggu bersama lelaki yang mengajariku membaui garam di benua lain. Entahlah ia, yang juga bernama J dan kulabel sebagai bro J’ benar – benar tipe lelakiku. Mandiri, mencari duit sendiri, bebas label orang tua dalam hidupnya, punya cita rasa seni, memberiku kepercayaan penuh, menyemangatiku dan bilang bahwa aku pasti bisa menjadi apa yang kuinginkan karena aku seorang perempuan yang visioner dan punya hati untuk Papua walau ia seorang berkulit putih dan bermata biru. Entahlah ... banyak hal yang masih tetap berbekas di benak dan membuatku tetap menanti seseorang yang seperti bro J, yang bisa membuatku merasa dihargai dalam hidup. Bro J memang tak pernah jadi kekasihku tapi ia membuatku merasa ‘melambung sedunia’ dan membuat aku percaya bahwa lelaki baik itu ada.
Aku masih merindukannya kadang – kadang. Ia yang membuatkanku sarapan tiap pagi, mengajakku berpetualang, mengajariku mencintai bumi lewat tindakan dan gaya hidupnya, mencintai seni dan baca, menghargai budaya lain dan tentu saja memberikanku pelukan terhangat yang pernah kudapat. Aku masih juga mengingat perjalanan kami menyusuri bukit – bukit di Apollo Bay dan berdiri pada satu titik di mana ia bilang bahwa ia akan membangun rumahnya di sana, menghadap teluk, suatu hari kelak. Ia seorang pemimpi sepertiku. Aku mencari lelaki seperti ini. Lelaki yang mencintai hal –hal kecil dalam hidup dan membuatku tersenyum untuk hal – hal gila yang dilakukannya; menunjukan F-word motion ke arah kamera sensor balap di jembatan, mengajakku makan apel dan buah – buahan di halaman rumah kosong, mengajakku menonton wallaby kala senja, mengajakku berburu koala dan mengganggu makhluk pemalas ini dan juga berpetualang hingga baret- baret di kaki muncul. Entahlah ... ia membuatku terus jatuh cinta kala mengingatnya. Ooops hampir lupa, ia juga yang pertama kali mengajakku ‘kencan’ makan es krim di pinggir pantai. Gosh, aku mencari lelaki seperti ini seumur hidupku.
Hidup masih panjang. Tak banyak yang kuminta dari Tuhan. Ijinkan aku bertemu, jatuh cinta dan dicintai lelaki SEPERTI bro J dalam hidupku. Bila kudapat, aku janji tak akan kulepaskan, tak akan pernah.
Entahlah ... aku akan terus menunggu untuk lelaki seperti dia, seperti my bro J.
Aku memang sentimental fool but it’s my life dan aku memilih seperti ini.
Jangan pernah kapok jatuh cinta TAPI tetap saja ... bro J itu sapu acuan *hahahaha
(Manokwari, 270311)
Monday, 28 March 2011
So far ...
Rain keeps falling outside my bedroom and makes me stuck for more than hours inside my warm ‘chrysalis’. Neither of coffee, wine nor any warm beverage on my work desk. It is just like other Sunday nights without something special. My mind wanders around thinking about what life will bring me tomorrow or what will happen next day. Yet, there a voice inside me keep telling me that everything will be alright and nothing to be worried about.
So far, I feel so much blessed with my life. There was time when I felt that I was nothing but a crap. There was a time when I felt that nobody understood me. There was a time when everything happened was out of my control and I had to accept my fate. Nonetheless, there was still such invisible hands working mysteriously and helped to make the way out from any hard circumstances. Then, as usual .... I am still alive, safe and sound, wild and free *hahaha.
So far, I keep searching about my life and love. Keep wondering about when this journey will end somehow. I am still on my journey but I have already know the purpose of my life; the vision that God puts in my heart. How this sort of vision is quite clear to me since I find no joy in other things but anything deals with this sort of vision. It’s not about rejecting the idea of making money from other activities but about pursuing my happiness. It may sound foolish, naïve, or stupid but this is what I believe in my life. Life is a matter of choice. For better or worse, that’s our choice, isn’t it?
So far, I have many dreams invested in my subconscious mind. These dreams are not about having abundant wealth or being a successful woman; neither I have any fancy car nor luxurious house. The happiness I have looking for is the state when I am proud of what I have done so far, no matter it is. The happiness comes to me in different shapes and forms yet it remains sweet in my mind.
So far, I feel happy when I can keep in touch with some old fellas e.g. some best friends from my childhood time. I also enjoy my time chit chat and gossiping with my besties. My nieces and nephew are also my source of happiness especially when they enjoy our traveling to the outer skirt of my hometown, I mean riding a motorbike in the seaside road. We talk about life, nature and many stories about this old little town. How they perk my life up is something that I appreciate most in my life. There are many things that make me feel so much blessed so far. Happiness is not what you get but you create, that’s my opinion.
So far, I feel so much love pours in the air. The rain outside is one example how God loves this world. My translating task now is also another example of how God loves me so much. There many small things occur in my life which is eventually a sort of love expression. Love is not mainly talking about the lust and passion but the inner feeling of happiness that you want to share to others.
Rain keeps falling down and Lionel Richie sings a song about ‘Just to be with you’. This song reminds me about many sleepless nights several years ago when I was so emotionally broke down after breaking with ex-boyfriend. Yet, once again, this song also reminds me that after years, I keep surviving of any tension of broken heart. I am a survivor indeed.
Love life, indeed, is not my field or specialty. Making a new relationship with a guy, talking about marriage, then we end up in such broken-hearted moment. Silly but true, isn’t it? Keep wondering about why I never stop falling in love and keep believing in building a new relationship. It’s like the saying ‘never give up of finding your true match’ is engraved on my forehead *hahaha. Nope, I am just a sentimental fool who never ever says that I will stop love a man. My radar is still ON in receiving any signal and transcribe it into action. What a woman I am!
Anyway, there are some quotations I have found yesterday from a small book that my friend in OZ gave to me last year as a farewell gift. It is quite helpful to push up my confidence and say to myself that ‘Wake up, girl. It’s just a process of life. You are so tough and nothing can beat you down, ‘coz you have such a great superhero called JESUS’. Yeap, that’s true and these quotations are really me. Check them out!!!
“Remember, no one can make you feel inferior without your consent.” (Eleanor Roosevelt)
“Success is getting what you want. Happiness is liking what you get.” (H. Jackson Brown”.
“Happiness is something that comes into our lives through doors we don’t even remember leaving open.” (Rose Lane).
So far, I love every inch of my body, every step that I take, and everything happens in my life. After all, I only have one life and just live for once, so why should I bother about what will happen? Just enjoy the process and keep believing that my superhero will show me the best way.
Suddenly, I just miss one of the Canberra’s rainy mornings when I waited for a bus in Constitution Avenue and reassured my self that ‘life is just a process’.
Yes, it is just a process for with Jesus, everything is possible to be going through.
(Manokwari, 270311)
So far, I feel so much blessed with my life. There was time when I felt that I was nothing but a crap. There was a time when I felt that nobody understood me. There was a time when everything happened was out of my control and I had to accept my fate. Nonetheless, there was still such invisible hands working mysteriously and helped to make the way out from any hard circumstances. Then, as usual .... I am still alive, safe and sound, wild and free *hahaha.
So far, I keep searching about my life and love. Keep wondering about when this journey will end somehow. I am still on my journey but I have already know the purpose of my life; the vision that God puts in my heart. How this sort of vision is quite clear to me since I find no joy in other things but anything deals with this sort of vision. It’s not about rejecting the idea of making money from other activities but about pursuing my happiness. It may sound foolish, naïve, or stupid but this is what I believe in my life. Life is a matter of choice. For better or worse, that’s our choice, isn’t it?
So far, I have many dreams invested in my subconscious mind. These dreams are not about having abundant wealth or being a successful woman; neither I have any fancy car nor luxurious house. The happiness I have looking for is the state when I am proud of what I have done so far, no matter it is. The happiness comes to me in different shapes and forms yet it remains sweet in my mind.
So far, I feel happy when I can keep in touch with some old fellas e.g. some best friends from my childhood time. I also enjoy my time chit chat and gossiping with my besties. My nieces and nephew are also my source of happiness especially when they enjoy our traveling to the outer skirt of my hometown, I mean riding a motorbike in the seaside road. We talk about life, nature and many stories about this old little town. How they perk my life up is something that I appreciate most in my life. There are many things that make me feel so much blessed so far. Happiness is not what you get but you create, that’s my opinion.
So far, I feel so much love pours in the air. The rain outside is one example how God loves this world. My translating task now is also another example of how God loves me so much. There many small things occur in my life which is eventually a sort of love expression. Love is not mainly talking about the lust and passion but the inner feeling of happiness that you want to share to others.
Rain keeps falling down and Lionel Richie sings a song about ‘Just to be with you’. This song reminds me about many sleepless nights several years ago when I was so emotionally broke down after breaking with ex-boyfriend. Yet, once again, this song also reminds me that after years, I keep surviving of any tension of broken heart. I am a survivor indeed.
Love life, indeed, is not my field or specialty. Making a new relationship with a guy, talking about marriage, then we end up in such broken-hearted moment. Silly but true, isn’t it? Keep wondering about why I never stop falling in love and keep believing in building a new relationship. It’s like the saying ‘never give up of finding your true match’ is engraved on my forehead *hahaha. Nope, I am just a sentimental fool who never ever says that I will stop love a man. My radar is still ON in receiving any signal and transcribe it into action. What a woman I am!
Anyway, there are some quotations I have found yesterday from a small book that my friend in OZ gave to me last year as a farewell gift. It is quite helpful to push up my confidence and say to myself that ‘Wake up, girl. It’s just a process of life. You are so tough and nothing can beat you down, ‘coz you have such a great superhero called JESUS’. Yeap, that’s true and these quotations are really me. Check them out!!!
“Remember, no one can make you feel inferior without your consent.” (Eleanor Roosevelt)
“Success is getting what you want. Happiness is liking what you get.” (H. Jackson Brown”.
“Happiness is something that comes into our lives through doors we don’t even remember leaving open.” (Rose Lane).
So far, I love every inch of my body, every step that I take, and everything happens in my life. After all, I only have one life and just live for once, so why should I bother about what will happen? Just enjoy the process and keep believing that my superhero will show me the best way.
Suddenly, I just miss one of the Canberra’s rainy mornings when I waited for a bus in Constitution Avenue and reassured my self that ‘life is just a process’.
Yes, it is just a process for with Jesus, everything is possible to be going through.
(Manokwari, 270311)
Get a new job
It’s absolutely a hectic day, I bet. The weather is not really sunny today, or let’s say it’s quite gloomy and has a bit of shower in the arvo. Yet, As usual, there is not any point of being grumpy all the day long even in such weather like this. Guess what? I’ve a new ‘job’ today. Sort of being a formal translation for two representatives of an Australian company or something. You should know how little frustrated I was when I popped in the meeting room and just wearing casual dress: tee + thongs and denims*hahahaha. To be honest, I don’t even know that I would meet my clients. For the day before, a lecturer in my uni just told me via text that I could come at her office and discuss about a job offer. Two of my colleagues told me that they gave my mobbie number to this particular lecturer for a job offer. And voila .... I encountered such heap of documents and talking about REDD+ ^______^
Anyway, today is fine. Nothing’s special. Some students are get pranked by the similarity between miss M and I. Yeap, she is my colleague and we have similar complexion and face even the body shape even though I am three years older than her. So far more than ten people misrecognise us. It’s a joke among my colleagues that one of us must be displaced when we were a child *hahahahahahaha. Yet, miss M is quite a strong woman who passed such bitterness in life and she survives*clap – clap – clap. She is one of good fellas in my task force.
Ooops, I almost forget what I wanna write this evening. Neither the hot gossips among friend nor the hunky blokes. I wanna tell you about the love that my God gives me today. What amazing my God is. This is the story, I mean you just read it in next paragraph of course.
I left my office at 4 something in the arvo along with my old friend who has became a teacher in my unit, and we discussed about our teen age, sort of reminiscing how crazy we were 13 years ago when we were just a secondary high school’s students. Then, on the slope near Bukit Doa or Paparisa Beta in Manggoapi, I told her about Manokwari’s view especially the bays. How wonderful it is and how I missed them when I was in Australia. I said that sometimes we would never realize what we had; I mean to understand the beauty of this natural view, until we are set a distance from it. I feel sorry about how the residents of Manokwari treat their town, living environment as well as the wildlife. I mean everything that God grants them in life. How selfish we are when we just think about the money conversion we can get from the nature. In theend, I hope we’ll realize that we can’t eat money.
After all, I feel so much blessed living in Manokwari and was brought up in a family who loves nature. I feel just so much blessed.
I just wanna say ‘Thanx Father, Jesus, and Holy Spirit’ for such unconditional love, to love me as I am, to believe my dreams no matter how silly it is and to be my guardian wherever I go.
In the end, I just wanna say: Thanx heaps, God. You are just so amazing to me. Amen
(Manokwari, 230311)
Anyway, today is fine. Nothing’s special. Some students are get pranked by the similarity between miss M and I. Yeap, she is my colleague and we have similar complexion and face even the body shape even though I am three years older than her. So far more than ten people misrecognise us. It’s a joke among my colleagues that one of us must be displaced when we were a child *hahahahahahaha. Yet, miss M is quite a strong woman who passed such bitterness in life and she survives*clap – clap – clap. She is one of good fellas in my task force.
Ooops, I almost forget what I wanna write this evening. Neither the hot gossips among friend nor the hunky blokes. I wanna tell you about the love that my God gives me today. What amazing my God is. This is the story, I mean you just read it in next paragraph of course.
I left my office at 4 something in the arvo along with my old friend who has became a teacher in my unit, and we discussed about our teen age, sort of reminiscing how crazy we were 13 years ago when we were just a secondary high school’s students. Then, on the slope near Bukit Doa or Paparisa Beta in Manggoapi, I told her about Manokwari’s view especially the bays. How wonderful it is and how I missed them when I was in Australia. I said that sometimes we would never realize what we had; I mean to understand the beauty of this natural view, until we are set a distance from it. I feel sorry about how the residents of Manokwari treat their town, living environment as well as the wildlife. I mean everything that God grants them in life. How selfish we are when we just think about the money conversion we can get from the nature. In theend, I hope we’ll realize that we can’t eat money.
After all, I feel so much blessed living in Manokwari and was brought up in a family who loves nature. I feel just so much blessed.
I just wanna say ‘Thanx Father, Jesus, and Holy Spirit’ for such unconditional love, to love me as I am, to believe my dreams no matter how silly it is and to be my guardian wherever I go.
In the end, I just wanna say: Thanx heaps, God. You are just so amazing to me. Amen
(Manokwari, 230311)
Going to Tuscany
Yesterday I watched a movie portraying the life in one of Italy’s town called Tuscany; Under the Tuscan Sun (UTTS). Even though it’s just a yesterday movie, it leaves such a deep impression to me. Not because of such ‘making-love’ scene in this movie or any romantically whim happens, but because the impression of a distant cultural town shown. Suddenly I want to jump into the scene and spend several days in this town especially in its seaside.
Can you imagine walk in the old town, eating pasta everyday, going for a stroll and catch up with several gorgeous olive-skin blokes? That’s what I call as ‘paradise’. Bloke’s paradise maybe *hahaha
Anyway, this movie inspires me to save my money for better or worse, no matter how long it will be, I’ll go to Tuscany someday or any part of Italy which looks like the town in this movie. Naïve? May be and I don’t give a shit on it. Who cares anyway? I want to dream like a child, pray like a child, and believing like a child. No matter how foolish, how silly, how stupid it is, there’s nothing to lose, right?
To be honest, the loveliest scene I love from UTTS is when the Italian friend of the main characters, Frances Mayes, tells a story about the building of rail in the Alps to connect Venice and Vienna. It is really a good illustration I’ve ever heard about love. I mean for UTTS is made based on the same true story, so it means that this sort of illustration helps a lot to strengthen the idea of waiting for the true love. It is said that once in a time, the residents of particular villages in the Alps built the rail when there is not any train going through these villages. They said that the rail was to connect between two cities; Vienna in Austria and Venice in Italy. Eventually, they finished the rail working and kept believing. Time passed by, and voila .... the train had been finally gone through the rails made.
Love is also like the faith of the residents in the Alps. Before you start to fall in love on somebody, you have to prepare your self, your heart and different personal stuffs. In the end, love always comes to those who believe it. I still have no idea but I reckon that I will try to live the life I love each day like I will meet my alter ego every day. So, it’s time to pampering my soul with love spirit, dignity, optimism and pour the rain of praying and dreaming. In the end, I’ll be in Tuscany with the one whom I love *khayalan tingkat tinggi =D
What a hectic day today and I write such silly note. Yeap, it’s a hectic day but I thank God, I passed it ,or let’s say, I go through it.
No matter how fast I ride my motorbike today, no matter how cranky I was this arvo, how silly I was today, I have to cut this negative crap and brush it off.
I am loved, young, beautiful, artistic and the ultimate point is Jesus loves me unconditionally. What a love!!!! *clap clap clap =)
I am single and very happy!
Tuscany, I will come to you *sekali-lagi clap clap clap =D
(Manokwari, 220311; after such a hectic day)
Can you imagine walk in the old town, eating pasta everyday, going for a stroll and catch up with several gorgeous olive-skin blokes? That’s what I call as ‘paradise’. Bloke’s paradise maybe *hahaha
Anyway, this movie inspires me to save my money for better or worse, no matter how long it will be, I’ll go to Tuscany someday or any part of Italy which looks like the town in this movie. Naïve? May be and I don’t give a shit on it. Who cares anyway? I want to dream like a child, pray like a child, and believing like a child. No matter how foolish, how silly, how stupid it is, there’s nothing to lose, right?
To be honest, the loveliest scene I love from UTTS is when the Italian friend of the main characters, Frances Mayes, tells a story about the building of rail in the Alps to connect Venice and Vienna. It is really a good illustration I’ve ever heard about love. I mean for UTTS is made based on the same true story, so it means that this sort of illustration helps a lot to strengthen the idea of waiting for the true love. It is said that once in a time, the residents of particular villages in the Alps built the rail when there is not any train going through these villages. They said that the rail was to connect between two cities; Vienna in Austria and Venice in Italy. Eventually, they finished the rail working and kept believing. Time passed by, and voila .... the train had been finally gone through the rails made.
Love is also like the faith of the residents in the Alps. Before you start to fall in love on somebody, you have to prepare your self, your heart and different personal stuffs. In the end, love always comes to those who believe it. I still have no idea but I reckon that I will try to live the life I love each day like I will meet my alter ego every day. So, it’s time to pampering my soul with love spirit, dignity, optimism and pour the rain of praying and dreaming. In the end, I’ll be in Tuscany with the one whom I love *khayalan tingkat tinggi =D
What a hectic day today and I write such silly note. Yeap, it’s a hectic day but I thank God, I passed it ,or let’s say, I go through it.
No matter how fast I ride my motorbike today, no matter how cranky I was this arvo, how silly I was today, I have to cut this negative crap and brush it off.
I am loved, young, beautiful, artistic and the ultimate point is Jesus loves me unconditionally. What a love!!!! *clap clap clap =)
I am single and very happy!
Tuscany, I will come to you *sekali-lagi clap clap clap =D
(Manokwari, 220311; after such a hectic day)
Friendship
Some people told me that the best things in one’s life are when one can enjoy those things compassionately. Yet, I keep wonder about those things, whether I can recognize and hold them for the rest of my life or will I let them slip away and disappear? One of the best things I value most in my life is friendship. This note basically tells a lot about many forms of friendship I’ve been through in my almost-twenty-eight years. Just an ordinary story, yet, it keeps bugging me to put into words what I feel about this particular issue.
Reflecting on my life, I found many kinds of friendship since I was a kid. There are some friends whom I want to spend my whole life with them and introduce them someday to my kids and tell that they’re one of a million in my life. They are those who spend their quality time with me and consider me as the member of their family. I mean, the one who never be ‘betray’ me or stab me from the back, those people who never take me for granted no matter who I am. Some of them came to my life when I was in childhood time, let’s say, Miss M. I knew her since she moved to my neighborhood in Manokwari. She and her family remain as close friends of me until today. They are such an independent industrious family and their life inspires me a lot. I learn many things through my friendship with this Miss M.
Another friend who becomes my angel are Miss T. I knew her since I was in my first year in junior high school. She is a friend who helped me with my math homework and taught me a Basic English. For at that time, I was such a dumb; let’s say such a dummy *hahaha. She was also the one who taught me about computer stuff and even helped me in handling with such thing called love. Just can’t imagine what would happen if she wasn’t there when we tricked those admired guys several years ago. Until now, she remains the one who makes me think that I am so much blessed. She has a baby boy now and keeps telling me even when I was in OZ about her pregnancy and such thing called family life.
There is also what you call as inner circle of friends yet not as close as my miss M and miss T. At this moment, I would like to say that I have some close friends yet for such particular thought like inner struggle of being me, I prefer to spare time for different friend for different purpose. It may be looked as selfish manner. However, for I have been through such experience called ‘stab-from-the-back’, I reckon this is my self-defense mechanism instead of ‘tell-the-world-the truth’. R & R are my trusted friends in what you called as inner circle. What’s glue us is our family background for the world consider us as independent women financially, yet in our family, we were just sort of ‘living mistake’. Each of us experiences what we call as ‘injustice in micro-context’. For that reason, we feel like sisters.
Talking about friendship is quite a delicate issue to me, for sometimes at one stage in my life, someone becomes my closest friends, then s/he just changes without any prior notification and I feel betrayed to some extent. Yet, I also feel betrayed is when a close friend saying words about me behind my back or using me; taking me for granted. Some of them remain friends but only as what I call ‘acquaintance’; for I don’t want to share my ideas, opinions and any personal stuff with them. Just say hi whenever we meet but without emotion. A lip service, you name it. I just don’t give a damn on this particular relationship. For business sake then, our relationship is based.
Betraying by a best friend is my most hateful moment in my life, let’s say, the most stupid ones. Yet, I have experienced such moment more than once. I just can’t understand why I believe that I have to trust my friend. May be I am so naïve. I just don’t want to think negatively about other people. Lately, I try to restrain my self from people around me especially dealing with their emotional influence on me.
I love order in my life and live harmoniously. I can’t tolerate any disharmony especially in human relationship. I can’t tolerate selfishness. I can’t tolerate lie and boasting stuff. Just can’t tolerate such opportunists and selfish people.
I have to finish my note and continue my life. Keep telling my self that this is my life. I only have one life, one chance to fill it with love and compassion and create such harmonious life each day.
I just want to wake up in the morning each day and say that I am so much blessed, lucky and wonderful. Just want to keep living each day with new strength, new hope, new dream and live the life I love to its fullest. Just want to believe in my self and on God that everything is possible through prayer, hard work and high self determination. Just believe that God put me in this world for such mysterious plan and blue print and never let me down no matter the circumstance is. I believe that I am strong, independent, and be blessed.
And friendship is one of the things I value most.
I just can’t believe spend my whole life without one trusted supported friends who believes about my dream, my life and my achievement.
I can say that I have enough in my life now when I have already had one friend.
A friend who never stabs me from the back;
Never says words from my back;
Never betrays me;
Loves me deeply and compassionately,
And believe in my capacity and my dream:
And his name is J-E-S-U-S!
To be honest, He’s the reason for living now.
The one who makes me think that I am loved.
Jesus, I thank You for such friendship even though sometimes I betrayed you for nothing.
How do I live without You, O God?
Thanx for our friendship. Amen
(Manokwari, 200311; reflecting on such thing called friendship ‘n realizing that I have already had one who is my true eternal best friend.)
Reflecting on my life, I found many kinds of friendship since I was a kid. There are some friends whom I want to spend my whole life with them and introduce them someday to my kids and tell that they’re one of a million in my life. They are those who spend their quality time with me and consider me as the member of their family. I mean, the one who never be ‘betray’ me or stab me from the back, those people who never take me for granted no matter who I am. Some of them came to my life when I was in childhood time, let’s say, Miss M. I knew her since she moved to my neighborhood in Manokwari. She and her family remain as close friends of me until today. They are such an independent industrious family and their life inspires me a lot. I learn many things through my friendship with this Miss M.
Another friend who becomes my angel are Miss T. I knew her since I was in my first year in junior high school. She is a friend who helped me with my math homework and taught me a Basic English. For at that time, I was such a dumb; let’s say such a dummy *hahaha. She was also the one who taught me about computer stuff and even helped me in handling with such thing called love. Just can’t imagine what would happen if she wasn’t there when we tricked those admired guys several years ago. Until now, she remains the one who makes me think that I am so much blessed. She has a baby boy now and keeps telling me even when I was in OZ about her pregnancy and such thing called family life.
There is also what you call as inner circle of friends yet not as close as my miss M and miss T. At this moment, I would like to say that I have some close friends yet for such particular thought like inner struggle of being me, I prefer to spare time for different friend for different purpose. It may be looked as selfish manner. However, for I have been through such experience called ‘stab-from-the-back’, I reckon this is my self-defense mechanism instead of ‘tell-the-world-the truth’. R & R are my trusted friends in what you called as inner circle. What’s glue us is our family background for the world consider us as independent women financially, yet in our family, we were just sort of ‘living mistake’. Each of us experiences what we call as ‘injustice in micro-context’. For that reason, we feel like sisters.
Talking about friendship is quite a delicate issue to me, for sometimes at one stage in my life, someone becomes my closest friends, then s/he just changes without any prior notification and I feel betrayed to some extent. Yet, I also feel betrayed is when a close friend saying words about me behind my back or using me; taking me for granted. Some of them remain friends but only as what I call ‘acquaintance’; for I don’t want to share my ideas, opinions and any personal stuff with them. Just say hi whenever we meet but without emotion. A lip service, you name it. I just don’t give a damn on this particular relationship. For business sake then, our relationship is based.
Betraying by a best friend is my most hateful moment in my life, let’s say, the most stupid ones. Yet, I have experienced such moment more than once. I just can’t understand why I believe that I have to trust my friend. May be I am so naïve. I just don’t want to think negatively about other people. Lately, I try to restrain my self from people around me especially dealing with their emotional influence on me.
I love order in my life and live harmoniously. I can’t tolerate any disharmony especially in human relationship. I can’t tolerate selfishness. I can’t tolerate lie and boasting stuff. Just can’t tolerate such opportunists and selfish people.
I have to finish my note and continue my life. Keep telling my self that this is my life. I only have one life, one chance to fill it with love and compassion and create such harmonious life each day.
I just want to wake up in the morning each day and say that I am so much blessed, lucky and wonderful. Just want to keep living each day with new strength, new hope, new dream and live the life I love to its fullest. Just want to believe in my self and on God that everything is possible through prayer, hard work and high self determination. Just believe that God put me in this world for such mysterious plan and blue print and never let me down no matter the circumstance is. I believe that I am strong, independent, and be blessed.
And friendship is one of the things I value most.
I just can’t believe spend my whole life without one trusted supported friends who believes about my dream, my life and my achievement.
I can say that I have enough in my life now when I have already had one friend.
A friend who never stabs me from the back;
Never says words from my back;
Never betrays me;
Loves me deeply and compassionately,
And believe in my capacity and my dream:
And his name is J-E-S-U-S!
To be honest, He’s the reason for living now.
The one who makes me think that I am loved.
Jesus, I thank You for such friendship even though sometimes I betrayed you for nothing.
How do I live without You, O God?
Thanx for our friendship. Amen
(Manokwari, 200311; reflecting on such thing called friendship ‘n realizing that I have already had one who is my true eternal best friend.)
Thursday, 17 March 2011
Cerpen: Oba
Prolog
Layar komputerku masih tetap menampilkan lembar – lembar kerja. Musik berdentang perlahan lewat speaker piranti keras pengolah data ini dan tiba – tiba aku ingat dia; malaikat kecil penabur semangatku. Oba!
***
Manokwari
Juli 2009
Pagi mendung dan aku diam dalam kamar. Bukan hari yang tepat sebenarnya untuk bekerja. Apa boleh buat, beberapa tagihan pengeluaran telah ada di depan mata dan tak ada cara lain bertahan hidup selain bekerja. Tentu saja bekerja dengan halal. Samar – samar bunyi deru motor di jalan masuk perumahan bergemuruh. ‘Mungkin ojek kompleks’, kataku dalam hati.
Dengan langkah ogah – ogahan, kusambar handuk di belakang pintu kos dan menuju kamar mandi. Dengan gaji hanya 2 juta per bulan dan orang tua yang berada jauh di kota lain, biaya kebutuhan adik – adik di rumah serta angsuran tanggungan mas kawin yang harus dibayar saudara laki – lakiku membuatku tak sanggup mengontrak rumah kontrakan yang baik. Bahkan kos seharga 400 ribu rupiah/bulan ini saja bagiku terasa mahal. Apa boleh buat, ini pilihan yang kubuat. Daripada tak ada kerjaan.
***
Suasana kantor hari ini masih seperti biasa. Bos yang merasa tahu segalanya padahal tak punya kapasitas kerja, rekan kerja yang saling mencaci di belakang, para staf keuangan dan beberapa teman yang saling menyunat hak orang lain, tentu saja dengan sepengetahuan bos, dan orang – orang apatis sepertiku yang terjebak dalam sistem. ‘Daripada tak ada kerjaan’, kataku tiap hari demi bisa bertahan hidup.
Sambil duduk terpekur menatap layar komputer yang monoton, mengetik beberapa laporan keuangan dan surat yang harus segera diselesaikan. Aku terkaget kala pintu ruang bosku terbanting keras. ‘Bamms’. Disusul bunyi keras sepatu berlari keluar. Seorang perempuan.
“Ko pikir sa cula ka? Cula saja tra gratis. Anjing nih!”, teriak perempuan berbaju merah itu.
Makiannya disertai bunyi bantingan barang – barang di sepanjang lorong kantor.
Oh rupanya si perempuan yang kerap datang apalagi saat pak bos lembur di kantor. Rasa kagetku hilang. Aku terpekur kembali menatap layar komputer. Isu yang beredar di kantor, perempuan itu selingkuhannya pak bos. Apa niat pak bos menyelingkuhi istrinya aku pun tak tahu dan tak mau tahu. Tapi aku jadi sedikit mengerti kenapa pak bos makin gemar menyunat uang sana – sini dari pundi- pundi kantor dan beberapa proyek. Mungkin karena ada dua dapur yang harus dibiayainya. Entahlah ... bukan urusanku.
***
Hari berlanjut dan kerjaanku masih tetap monoton. Tak ada pacar, tak ada anak dan hidupku hanya berlanjut dengan gaji yang hanya cukup untuk uang makan, tempat tinggal, transportasi dan komunikasi. Tak ada keahlian lain untuk mencari obyekan. Tampang juga pas – pasan untuk menggoda lelaki. Hingga satu hari, aku melihat dia datang ke kosku. Tetangga baru.
Tampangnya yang segar dan muda membuatku teringat diriku beberapa tahun lalu saat baru pindah ke kota ini guna menuntut ilmu. Gayanya cukup ceria dengan tawa lebar yang kerap menghias wajahnya. Baru tamat SMA.
“Kaka, kenalan dulu ka? Sa kan anak baru di kos nih.”, katanya mengulurkan tangan padaku saat kami sedang berada di dapur kos.
“Oba”, katanya singkat.
Kuangsurkan tanganku dan menjawab singkat, “Lisbeth, tapi panggil sa ‘Betty’ saja eee.”
***
Manokwari
Juli 2010
Percakapan di dapur menjadi titik tolak persahabatan kami. Seorang perempuan berumur awal 30an dan perempuan muda di akhir masa remaja. Di mana ada Betty, di situ pasti ada Oba; tepatnya Yakoba. Oba berhasil mengobati rasa rinduku untuk adik – adik perempuanku di rumahku. Ia menjadi saudara dan sahabat yang suka mendengar ceritaku. Hingga di suatu malam semuanya berubah. Tak lagi sama.
Hari itu hujan turun dengan deras di Manokwari. Jam berlari ke pukul 10 malam dan Oba belum juga pulang. Rumah kos kami hanya berisi 3 penghuni dan ibu kos dengan tegas memberi waktu jam malam hingga pukul 10. “De kemana eee?’, batinku. Tidak biasanya ia pergi hingga larut tanpa pamit.
Aku masih tetap melanjutkan bacaan novel ‘Tanah Tabu’ yang belum juga kelar, sambil sesekali menghubungi ponsel Oba. Tetap tak ada jawaban. Beberapa kali suara angin menghempaskan daun jendela kamarnya yang masih terbuka. Meringkuk di balik selimut tempat tidur, tiba – tiba kudengar bunyi ketukan keras berulang kali. ‘Mangkali Oba’, kataku dalam hati. Dengan sedikit rasa enggan berjalan keluar kamar, aku menuju pintu ruang depan kos.
Tiga lelaki tegap berdiri dalam diam. Wajah gelap mereka membuyarkan tanda tanya dalam hati. “Cari siapa eee?”, tanyaku. Tanpa basa – basi mereka memperkenalkan diri dan maksud kedatangan. Rupanya tentang Oba. Ia sedang berada di ruang UGD sebuah rumah sakit di kotaku. Tanpa banyak bicara, kusambar dompet, berganti pakaian dan berjalan bersama para pria itu. Bertemu Oba.
***
Oba hanya dirawat dua hari. Orang tuanya belum juga datang karena keterbatasan transportasi dari kota kelahirannya. Mungkin besok atau lusa. Aku sudah menghubungi beberapa kerabat jauhnya. Oba tak lagi sama. Tak lagi ceria. Kemudaannya telah hilang. Semangatnya tampaknya telah patah. Dipatahkan tangan – tangan jahanam itu. Tangan – tangan pemerkosanya.
Oba masih sering bersamaku beberapa hari usai musibah yang diterimanya. Hari naas itu ia pulang malam usai mencari tugas kuliah di sebuah warnet. Saat menunggu redanya hujan di emperan warnet yang berdekatan dengan pusat pertokoan, seorang teman kuliahnya menghampiri dan menawarkan mengantar menuju pangkalan ojek. Apa daya, sebuah mobil pribadi sewaan berkaca gelap berhenti dan menyeretnya masuk. Entah temannya bekerja sama, aku tak tahu. Semuanya pun terjadi bagai adegan film: Oba diperkosa beramai – ramai hingga tak sadarkan diri dan dibuang. Ia sempat juga disuntik oleh orang – orang jahanam itu. Ia masih sering menjerit dan menangis tiap kali duduk bersamaku. Entahlah ... para jahanam itu tak hanya membunuh semangat Oba tapi juga aku. Apalagi sebuah nama yang sempat Oba katakan padaku; nama seorang pemerkosanya. Miris!
***
Hari Jumat. Hari yang menyenangkan. Aku pulang cepat dari kantor dan berharap bisa membuat Oba ceria hari ini. Minggu depan ia akan pulang liburan ke kotanya. Oba suka sekali makan kelapa muda dan hari ini kami akan pergi makan kelapa muda di rumah seorang temanku. Semoga ia suka rencanaku.
Kubuka pintu depan rumah kos. Sunyi! Biasanya tengah hari ini Oba pasti sedang memutar musik dengan keras. ‘Apa ia sedang pergi? Atau sedang tidur?’, batinku. Kulihat kamarnya yang berada di samping kamarku sedikit terbuka dan sendalnya masih di depan pintu. Usai berganti pakaian, kupanggil namanya. Tak ada sahutan. Tak ada jawaban. Tak sabar kuketuk pintunya yang setengah terbuka. Tak ada jawaban.
Kuterobos pintu kamarnya sambil berteriak girang, “Oba, tong pi makan kelapa muda e. Sa yang bayar. Tempo!”
Darahku membeku dan teriakan lenyap ditelan rasa dingin yang menjalar di wajah, tubuh dan jemariku.
Oba tak lagi mampu menjawab, tak lagi bicara karna ia sedang tergantung kaku di langit – langit kamarnya yang tanpa plafon, memandangku dalam pucat.
***
Epilog
Semuanya tak lagi sama. Rumah kos ini. Hati ini. Oba pergi dan membawa kecerianku bersamanya.
Sambil tetap sibuk memandang layar komputer yang penuh dengan lembar – lembar hitungan yang harus kuisi, aku hanya bisa tersenyum getir kala rombongan orang – orang berbaju seragam coklat susu seperti kali kabur masuk dan menyeret pak bos keluar. Bukan karena perempuan berbaju merah yang kerap datang. Bukan karena perempuan – perempuan lainnya yang silih berganti kuantarkan teh. Tapi karena alasan lain: K-O-R-U-P-S-I.
Aku hanya bisa tertawa miris. Entah senang, entah bahagia. Entah kecewa. Entahlah ... semoga Oba puas. Sepuas hatiku melihat bukti pengiriman kopian berkas – berkas bukti penyelewengan dana berbagai proyek yang tiba di beberapa badan pemberantasan korupsi. Entah apa yang akan terjadi padaku. Aku tak peduli lagi.
Maafkan aku, Oba. Hanya ini yang bisa kulakukan. ‘Istirahat deng tenang e, ade.’
(Manokwari, 160311; menikmati hujan dalam ruang)
Layar komputerku masih tetap menampilkan lembar – lembar kerja. Musik berdentang perlahan lewat speaker piranti keras pengolah data ini dan tiba – tiba aku ingat dia; malaikat kecil penabur semangatku. Oba!
***
Manokwari
Juli 2009
Pagi mendung dan aku diam dalam kamar. Bukan hari yang tepat sebenarnya untuk bekerja. Apa boleh buat, beberapa tagihan pengeluaran telah ada di depan mata dan tak ada cara lain bertahan hidup selain bekerja. Tentu saja bekerja dengan halal. Samar – samar bunyi deru motor di jalan masuk perumahan bergemuruh. ‘Mungkin ojek kompleks’, kataku dalam hati.
Dengan langkah ogah – ogahan, kusambar handuk di belakang pintu kos dan menuju kamar mandi. Dengan gaji hanya 2 juta per bulan dan orang tua yang berada jauh di kota lain, biaya kebutuhan adik – adik di rumah serta angsuran tanggungan mas kawin yang harus dibayar saudara laki – lakiku membuatku tak sanggup mengontrak rumah kontrakan yang baik. Bahkan kos seharga 400 ribu rupiah/bulan ini saja bagiku terasa mahal. Apa boleh buat, ini pilihan yang kubuat. Daripada tak ada kerjaan.
***
Suasana kantor hari ini masih seperti biasa. Bos yang merasa tahu segalanya padahal tak punya kapasitas kerja, rekan kerja yang saling mencaci di belakang, para staf keuangan dan beberapa teman yang saling menyunat hak orang lain, tentu saja dengan sepengetahuan bos, dan orang – orang apatis sepertiku yang terjebak dalam sistem. ‘Daripada tak ada kerjaan’, kataku tiap hari demi bisa bertahan hidup.
Sambil duduk terpekur menatap layar komputer yang monoton, mengetik beberapa laporan keuangan dan surat yang harus segera diselesaikan. Aku terkaget kala pintu ruang bosku terbanting keras. ‘Bamms’. Disusul bunyi keras sepatu berlari keluar. Seorang perempuan.
“Ko pikir sa cula ka? Cula saja tra gratis. Anjing nih!”, teriak perempuan berbaju merah itu.
Makiannya disertai bunyi bantingan barang – barang di sepanjang lorong kantor.
Oh rupanya si perempuan yang kerap datang apalagi saat pak bos lembur di kantor. Rasa kagetku hilang. Aku terpekur kembali menatap layar komputer. Isu yang beredar di kantor, perempuan itu selingkuhannya pak bos. Apa niat pak bos menyelingkuhi istrinya aku pun tak tahu dan tak mau tahu. Tapi aku jadi sedikit mengerti kenapa pak bos makin gemar menyunat uang sana – sini dari pundi- pundi kantor dan beberapa proyek. Mungkin karena ada dua dapur yang harus dibiayainya. Entahlah ... bukan urusanku.
***
Hari berlanjut dan kerjaanku masih tetap monoton. Tak ada pacar, tak ada anak dan hidupku hanya berlanjut dengan gaji yang hanya cukup untuk uang makan, tempat tinggal, transportasi dan komunikasi. Tak ada keahlian lain untuk mencari obyekan. Tampang juga pas – pasan untuk menggoda lelaki. Hingga satu hari, aku melihat dia datang ke kosku. Tetangga baru.
Tampangnya yang segar dan muda membuatku teringat diriku beberapa tahun lalu saat baru pindah ke kota ini guna menuntut ilmu. Gayanya cukup ceria dengan tawa lebar yang kerap menghias wajahnya. Baru tamat SMA.
“Kaka, kenalan dulu ka? Sa kan anak baru di kos nih.”, katanya mengulurkan tangan padaku saat kami sedang berada di dapur kos.
“Oba”, katanya singkat.
Kuangsurkan tanganku dan menjawab singkat, “Lisbeth, tapi panggil sa ‘Betty’ saja eee.”
***
Manokwari
Juli 2010
Percakapan di dapur menjadi titik tolak persahabatan kami. Seorang perempuan berumur awal 30an dan perempuan muda di akhir masa remaja. Di mana ada Betty, di situ pasti ada Oba; tepatnya Yakoba. Oba berhasil mengobati rasa rinduku untuk adik – adik perempuanku di rumahku. Ia menjadi saudara dan sahabat yang suka mendengar ceritaku. Hingga di suatu malam semuanya berubah. Tak lagi sama.
Hari itu hujan turun dengan deras di Manokwari. Jam berlari ke pukul 10 malam dan Oba belum juga pulang. Rumah kos kami hanya berisi 3 penghuni dan ibu kos dengan tegas memberi waktu jam malam hingga pukul 10. “De kemana eee?’, batinku. Tidak biasanya ia pergi hingga larut tanpa pamit.
Aku masih tetap melanjutkan bacaan novel ‘Tanah Tabu’ yang belum juga kelar, sambil sesekali menghubungi ponsel Oba. Tetap tak ada jawaban. Beberapa kali suara angin menghempaskan daun jendela kamarnya yang masih terbuka. Meringkuk di balik selimut tempat tidur, tiba – tiba kudengar bunyi ketukan keras berulang kali. ‘Mangkali Oba’, kataku dalam hati. Dengan sedikit rasa enggan berjalan keluar kamar, aku menuju pintu ruang depan kos.
Tiga lelaki tegap berdiri dalam diam. Wajah gelap mereka membuyarkan tanda tanya dalam hati. “Cari siapa eee?”, tanyaku. Tanpa basa – basi mereka memperkenalkan diri dan maksud kedatangan. Rupanya tentang Oba. Ia sedang berada di ruang UGD sebuah rumah sakit di kotaku. Tanpa banyak bicara, kusambar dompet, berganti pakaian dan berjalan bersama para pria itu. Bertemu Oba.
***
Oba hanya dirawat dua hari. Orang tuanya belum juga datang karena keterbatasan transportasi dari kota kelahirannya. Mungkin besok atau lusa. Aku sudah menghubungi beberapa kerabat jauhnya. Oba tak lagi sama. Tak lagi ceria. Kemudaannya telah hilang. Semangatnya tampaknya telah patah. Dipatahkan tangan – tangan jahanam itu. Tangan – tangan pemerkosanya.
Oba masih sering bersamaku beberapa hari usai musibah yang diterimanya. Hari naas itu ia pulang malam usai mencari tugas kuliah di sebuah warnet. Saat menunggu redanya hujan di emperan warnet yang berdekatan dengan pusat pertokoan, seorang teman kuliahnya menghampiri dan menawarkan mengantar menuju pangkalan ojek. Apa daya, sebuah mobil pribadi sewaan berkaca gelap berhenti dan menyeretnya masuk. Entah temannya bekerja sama, aku tak tahu. Semuanya pun terjadi bagai adegan film: Oba diperkosa beramai – ramai hingga tak sadarkan diri dan dibuang. Ia sempat juga disuntik oleh orang – orang jahanam itu. Ia masih sering menjerit dan menangis tiap kali duduk bersamaku. Entahlah ... para jahanam itu tak hanya membunuh semangat Oba tapi juga aku. Apalagi sebuah nama yang sempat Oba katakan padaku; nama seorang pemerkosanya. Miris!
***
Hari Jumat. Hari yang menyenangkan. Aku pulang cepat dari kantor dan berharap bisa membuat Oba ceria hari ini. Minggu depan ia akan pulang liburan ke kotanya. Oba suka sekali makan kelapa muda dan hari ini kami akan pergi makan kelapa muda di rumah seorang temanku. Semoga ia suka rencanaku.
Kubuka pintu depan rumah kos. Sunyi! Biasanya tengah hari ini Oba pasti sedang memutar musik dengan keras. ‘Apa ia sedang pergi? Atau sedang tidur?’, batinku. Kulihat kamarnya yang berada di samping kamarku sedikit terbuka dan sendalnya masih di depan pintu. Usai berganti pakaian, kupanggil namanya. Tak ada sahutan. Tak ada jawaban. Tak sabar kuketuk pintunya yang setengah terbuka. Tak ada jawaban.
Kuterobos pintu kamarnya sambil berteriak girang, “Oba, tong pi makan kelapa muda e. Sa yang bayar. Tempo!”
Darahku membeku dan teriakan lenyap ditelan rasa dingin yang menjalar di wajah, tubuh dan jemariku.
Oba tak lagi mampu menjawab, tak lagi bicara karna ia sedang tergantung kaku di langit – langit kamarnya yang tanpa plafon, memandangku dalam pucat.
***
Epilog
Semuanya tak lagi sama. Rumah kos ini. Hati ini. Oba pergi dan membawa kecerianku bersamanya.
Sambil tetap sibuk memandang layar komputer yang penuh dengan lembar – lembar hitungan yang harus kuisi, aku hanya bisa tersenyum getir kala rombongan orang – orang berbaju seragam coklat susu seperti kali kabur masuk dan menyeret pak bos keluar. Bukan karena perempuan berbaju merah yang kerap datang. Bukan karena perempuan – perempuan lainnya yang silih berganti kuantarkan teh. Tapi karena alasan lain: K-O-R-U-P-S-I.
Aku hanya bisa tertawa miris. Entah senang, entah bahagia. Entah kecewa. Entahlah ... semoga Oba puas. Sepuas hatiku melihat bukti pengiriman kopian berkas – berkas bukti penyelewengan dana berbagai proyek yang tiba di beberapa badan pemberantasan korupsi. Entah apa yang akan terjadi padaku. Aku tak peduli lagi.
Maafkan aku, Oba. Hanya ini yang bisa kulakukan. ‘Istirahat deng tenang e, ade.’
(Manokwari, 160311; menikmati hujan dalam ruang)
Diberkati
Malam ini usai pulang dari acara kumpul – kumpul dengan teman – teman komunitas, aku merasa telah mendapat banyak ilmu dan pembelajaran. Acara kami hari ini hanyalah menonton mereka bermain karambol, belajar bahasa Inggris (iya, aku pengajarnya) dilanjutkan dengan menyelesaikan dan meninjau proyek lukisan beling kami. Selain itu sambil mencicipi kue dadar sayuran yang kubuat (proyek percobaan dengan mengganti isian kue dengan tumis jamur campur wortel parut dan ikan tuna asar), kami juga melanjutkan diskusi kecil – kecilan; mulai dari mimpi kami tentang rumah sampah, proyek bagi – bagi rica, hingga urusan ‘baku ganggu pacar’.
Berkumpul bersama teman – teman yang umurnya berviasi memang banyak segarnya. Hanya aku dan sahabat lelakiku yang cukup senior, maksudnya di atas 28 tahun sedang mereka berkisar sekitar 23 – 24 tahun bahkan ada yang lebih muda dari umur segini. Entahlah ... mungkin kami hanya segerombolan pemimpi yang sedang mengaduk mimpi dan visi kami dalam panci hidup dan diskusi dan berharap ada yang akan kami cicipi kelak. Entahlah ...
Kami juga sempat berburu botol plastik sampah untuk bahan baku ‘rumah sampah’ dan dilanjutkan dengan mencuci hingga tengah malam. Ada saja kejadian lucu yang terjadi kala aku dan sahabat perempuanku yang baru datang dari Raja Ampat. Selain bergosip ria mencuci botol, tak lupa berbagi mimpi, curhat dan lain – lain. Plus lari terbirit – birit mendengar suara kepakan sayap; seems like there’s a miss K*********. Padahal sahabat priaku sedang kedatangan tamu dan berdiskusi dengan teman arsiteknya yang merancang proyek ini. What can I say, seberani – beraninya seseorang, akan ada sisi ‘takutnya’ alias Fear Factor =D
Hari ini aku bahagia karna ada banyak hal yang kupelajari hari ini. Mungkin berdiskusi dengan sesama pemimpi adalah mimpi yang tak bisa dibendung, kebutuhan jiwa. Walau sempat mendapat ‘luka bakar’ di betis karna knalpot panas tetapi tetap semangat dan cerewet.
Hanya bisa bilang: Thanx Jesus 4 them in my life. Amen.
(Manokwari, 130311)
Berkumpul bersama teman – teman yang umurnya berviasi memang banyak segarnya. Hanya aku dan sahabat lelakiku yang cukup senior, maksudnya di atas 28 tahun sedang mereka berkisar sekitar 23 – 24 tahun bahkan ada yang lebih muda dari umur segini. Entahlah ... mungkin kami hanya segerombolan pemimpi yang sedang mengaduk mimpi dan visi kami dalam panci hidup dan diskusi dan berharap ada yang akan kami cicipi kelak. Entahlah ...
Kami juga sempat berburu botol plastik sampah untuk bahan baku ‘rumah sampah’ dan dilanjutkan dengan mencuci hingga tengah malam. Ada saja kejadian lucu yang terjadi kala aku dan sahabat perempuanku yang baru datang dari Raja Ampat. Selain bergosip ria mencuci botol, tak lupa berbagi mimpi, curhat dan lain – lain. Plus lari terbirit – birit mendengar suara kepakan sayap; seems like there’s a miss K*********. Padahal sahabat priaku sedang kedatangan tamu dan berdiskusi dengan teman arsiteknya yang merancang proyek ini. What can I say, seberani – beraninya seseorang, akan ada sisi ‘takutnya’ alias Fear Factor =D
Hari ini aku bahagia karna ada banyak hal yang kupelajari hari ini. Mungkin berdiskusi dengan sesama pemimpi adalah mimpi yang tak bisa dibendung, kebutuhan jiwa. Walau sempat mendapat ‘luka bakar’ di betis karna knalpot panas tetapi tetap semangat dan cerewet.
Hanya bisa bilang: Thanx Jesus 4 them in my life. Amen.
(Manokwari, 130311)
Sore bersama mereka
Hari ini ulang tahunnya yang ke 30 dan aku tak punya kesempatan mengucapkannya. Entahlah ... ia tetap jadi sahabat terbaikku dan seseorang yang menginspirasiku untuk menikmati hal – hal kecil walau dalam hati kecil, aku pernah sangat jatuh cinta padanya. “Hidup itu berlanjut ke depan kan, Day?”, Kataku tiap kali berada dalam titik di mana aku bingung hendak melangkah ataupun sedang down ataupun sedang tak tahu hendak berbuat apa ataupun sedang sangat sibuk. Dan ... Aku makin tahu apa yang membuatku bahagia akhir – akhir ini; keluargaku.
Hari ini aku bahagia bisa berjalan dan bercerita dengan para keponakan kecilku, Si tomboy dan si genit kriwil. Sebenarnya aku juga ingin si cadel dan si imut ikut tapi sayang kapasitas motorku cuma untuk dua penumpang kecil padahal aku sudah membayangkan bagaimana asyiknya membawa empat makhluk yang menjadi alasanku untuk tetap hidup dan tertawa. Aku selalu merindukan mereka kala berada jauh dari rumah. Entahlah ....
Sore tadi, aku, si tomboy dan si kriwil pergi jalan – jalan dengan motor. Dengan cueknya kuajak mereka nongkrong di tanjakan Paparissa beta dan melihat pemandangan teluk Doreri dari atas bukit, bermain tebak – tebakan mana letak rumah kami, mana pulau Lemon, mana pelabuhan dan mana Hadi Supermarket. Ah mereka anak – anak yang cerdas dan lucu. Walau masih balita, mereka sangat aktif dan aku senang bermain dengan mereka karna merasa begitu muda lagi. Apalagi tadi kami juga belajar bersama – sama tentang beberapa tanaman dan pohon – pohon dalam perjalanan kami, belajar banyak hal.
Selain melihat pemandangan dari bukit, kami pergi ke pantai dekat kuburan Pasir Putih, bercerita tentang sejarah keluarga kami secara acak, bermain di talud pelabuhan, melihat kepiting, berlomba melempar batu di pelabuhan hingga mencari gurita di pasar ikan Sanggeng. Betapa lucunya bila mengingat bagaimana kami bertiga berjalan beriringan dan berdesak – desakan di antara calon pembeli di pasar ikan dengan gaya sok tahu mencari gurita. Entahlah ... aku ingin mereka saat besar bisa menghargai hal – hal kecil di sekeliling mereka, bisa menikmati hal – hal sederhana tapi indah. Aku ingin mereka menjadi petualang sepertiku. Belajar banyak hal dari kacamata yang berbeda dan tak harus membuat mereka bahagia dengan hanya pergi ke tempat bermain anak di dalam pusat perbelanjaan.
Hari ini aku bahagia, belajar bercerita dan mendengarkan kata – kata dan pertanyaan mereka. Apalagi si kriwil sangat cerdas dan cerewet dan selalu ingin tahu urusan orang dewasa, berbeda dengan si tomboy yang sangat pintar bicara dan berdiplomasi dan tahu bagaimana menempatkan diri. Mereka kanak – kanak yang lucu dan umur mereka hanya beda 6 bulan. Tak dapat kubayangkan bila kelak membawa kriwil, cadel, tomboy dan imut bersama –sama. Pasti paduan yang sangat unik. Tentu saja harus ada penjagaan ekstra.
Entahlah .... mereka membuatku bahagia dan selalu membuatku berpikir, apa memang aku masih membutuhkan orang lain di dalam hidup untuk melengkapi hidupku karena aku terlanjur jatuh cinta pada empat makhluk ini.
Kalau anda berkunjung ke kotaku dan dalam sebuah akhir pekan melihat seorang perempuan berumur akhir 20an bersama 2 orang balita, dan sedang sibuk menjelaskan sesuatu khususnya yang berkaitan dengan lingkungan dan alam pada 2 balita kecil itu. Mungkin saja itu aku.
Tabea!
(Manokwari, 120311; bahagia mode: ON)
Hari ini aku bahagia bisa berjalan dan bercerita dengan para keponakan kecilku, Si tomboy dan si genit kriwil. Sebenarnya aku juga ingin si cadel dan si imut ikut tapi sayang kapasitas motorku cuma untuk dua penumpang kecil padahal aku sudah membayangkan bagaimana asyiknya membawa empat makhluk yang menjadi alasanku untuk tetap hidup dan tertawa. Aku selalu merindukan mereka kala berada jauh dari rumah. Entahlah ....
Sore tadi, aku, si tomboy dan si kriwil pergi jalan – jalan dengan motor. Dengan cueknya kuajak mereka nongkrong di tanjakan Paparissa beta dan melihat pemandangan teluk Doreri dari atas bukit, bermain tebak – tebakan mana letak rumah kami, mana pulau Lemon, mana pelabuhan dan mana Hadi Supermarket. Ah mereka anak – anak yang cerdas dan lucu. Walau masih balita, mereka sangat aktif dan aku senang bermain dengan mereka karna merasa begitu muda lagi. Apalagi tadi kami juga belajar bersama – sama tentang beberapa tanaman dan pohon – pohon dalam perjalanan kami, belajar banyak hal.
Selain melihat pemandangan dari bukit, kami pergi ke pantai dekat kuburan Pasir Putih, bercerita tentang sejarah keluarga kami secara acak, bermain di talud pelabuhan, melihat kepiting, berlomba melempar batu di pelabuhan hingga mencari gurita di pasar ikan Sanggeng. Betapa lucunya bila mengingat bagaimana kami bertiga berjalan beriringan dan berdesak – desakan di antara calon pembeli di pasar ikan dengan gaya sok tahu mencari gurita. Entahlah ... aku ingin mereka saat besar bisa menghargai hal – hal kecil di sekeliling mereka, bisa menikmati hal – hal sederhana tapi indah. Aku ingin mereka menjadi petualang sepertiku. Belajar banyak hal dari kacamata yang berbeda dan tak harus membuat mereka bahagia dengan hanya pergi ke tempat bermain anak di dalam pusat perbelanjaan.
Hari ini aku bahagia, belajar bercerita dan mendengarkan kata – kata dan pertanyaan mereka. Apalagi si kriwil sangat cerdas dan cerewet dan selalu ingin tahu urusan orang dewasa, berbeda dengan si tomboy yang sangat pintar bicara dan berdiplomasi dan tahu bagaimana menempatkan diri. Mereka kanak – kanak yang lucu dan umur mereka hanya beda 6 bulan. Tak dapat kubayangkan bila kelak membawa kriwil, cadel, tomboy dan imut bersama –sama. Pasti paduan yang sangat unik. Tentu saja harus ada penjagaan ekstra.
Entahlah .... mereka membuatku bahagia dan selalu membuatku berpikir, apa memang aku masih membutuhkan orang lain di dalam hidup untuk melengkapi hidupku karena aku terlanjur jatuh cinta pada empat makhluk ini.
Kalau anda berkunjung ke kotaku dan dalam sebuah akhir pekan melihat seorang perempuan berumur akhir 20an bersama 2 orang balita, dan sedang sibuk menjelaskan sesuatu khususnya yang berkaitan dengan lingkungan dan alam pada 2 balita kecil itu. Mungkin saja itu aku.
Tabea!
(Manokwari, 120311; bahagia mode: ON)
Friday, 11 March 2011
Curhat Mince: Kenapa harus mabok ka?
Hari ini sa ketemu Mace Day pas de ada singgah beli pinang untuk de pu insar* di rumah. Jadi tong dua crita – crita ka ini. Tong tadi cerita lumayan lama juga. Biasa, cerita perempuan ka ini. Apa lagi yang tong bisnis kalo bukan cerita tong pu hidup dan hidup orang lain di dekat – dekat tong. Lanjuuuuuut ....!!!
Kam panggil sa nama Mince saja eee. Seperti perem lain yang ketemu mace Day, sa pu fam pasti tra akan sa kas tahu, nan ada yang bilang sa cemarkan fam lagi *blushing. Ok lanjut, sa masih sekolah, baru kelas 1 SMA ka ini dan kalo pulang skolah, sa bantu sa mama jaga de pu jualan di pinggir jalan bokar. Mace de jualan pinang dan jagung rebus sama ‘pepaya dan kedondong rica garam’ lapis deng bensin eceran. Sa anak Manokwari. Ini sa pu cerita tapi kam jang kaget neh, karna cuma cerita biasa – biasa saja. Ya anggap saja sa cuma singgah kas kabar saja ka ini, supaya kam jang bilang sa kapal kayu yang tra pernah stoom.
Sa memang masih kelas 1 SMA, baru saja ganti rok biru deng rok abu - abu. Tapi sa mo jujur saja kalo sa pu otak su tra sehijau sa pu umur. Maksudnya menurut sa hidup itu sulit dan keras dan sa juga su banyak hilang sa pu masa bermain waktu kecil dan remaja. Sa tra mo salahkan Tuhan atau sa pu orang tua tapi kadang – kadang sa ganas juga sama sa pu orang tua oooo. Mo kabur tapi tra bisa, jadi ya sementara sa terima nasib dulu ka ini.
Sa nih tiap hari kalo su pulang skolah, sa tra bisa main karna sa masih harus jaga sa pu mama pu jualan ka ini lapis deng jaga ade – ade kecil. Abis sa mama nih de macam tiap tahun juga melahirkan jadi. Sa nih anak pertama dari 5 bersaudara. Sa pu mama de dulu belum tamat SMA baru de kawin deng sa bapa jadi begitu suda. Sebenarnya sa tra protes sa pu ade – ade banyak karna sa tahu tong orang Papua juga sedikit ka ini TAPI yang sa tra suka tuh sa pu orang tua dong tra atur jarak lahir ka jadi macam sa pu mama tuh de setengah mati tiap tahun ka ini. Abis sa pu ade – ade tuh dong tangga ke bawah baru yang urat tuh sa mama deng sa. Sa kadang kasihan sa mama dia eee. Tong kan masih tinggal deng sa pu nene dari bapa dong jadi. Sa mama tiap bangun pagi harus pi masak air panas, kerja, masak, kas bersih rumah, kadang su langsung stavel pakaian kotor fol – fol. Apalagi ada anana kecil di rumah jadi pakaian cepat kotor. Su begitu tong bukan tinggal di kompleks perumahan mewah ka pegawai dong, tapi di daerah pesisir yang dekat manggewa – manggewa sana. Untung ada kali bokar dekat rumah jadi sa mama tra terlalu urat spul baju kalo bacuci.
Biar sa mama tuh tra tamat SMA tapi sa salut skali sama dia. Mace de tuh sabar skali hadapi sa bapa yang tukang mabok nih. Sa pace de PNS ka ini, dong bilang de tamatan sarjana ka. Tapi macam de pu otak sarjana tuh tra sesuai deng de pu kelakuan ooo. Sa macam ganas dia juga walau sa pake de fam tapi sa kadang macam mo menyangkal pace dia. Sa pu banyak alasan kadang sa emosi – emosi untuk sa pace nih khususnya yang de bikin untuk sa mama.
Sa ingat kalo de su mabuk tuh de kapala pukul sa mama sampe biru – biru. Biar sa mama ada hamil ka trada, tetap kalo pace ko fly dan pas tanggal tua tuh mace kena sasaran. Padahal mace cuma minta uang sedikit untuk ke puskesmas dan beli obat tambah darah karna lagi hamil. Sa mama juga tra bisa minta uang ke sa pu tete dan nene di rumah karna dong su pensiun baru masi ada bapade – bapade yang sekolah juga jadi begitu suda.
Sa kadang cape curhat tentang sa pace ke mace Day, abis sa macam mo sakit hati juga. Su kapala pukul sa mama sampe bangka – bangka baru kapala pukul dan marah tong anana. Su begitu, 3 tahun lalu sa bapa de pi cari maitua baru ka ini. Sa pu mama muda nih de lebih muda beberapa tahun dari sa mama. Masih anak SMA juga ka ini. Tra tau kenapa de mo kawin deng sa bapa eee, padahal de su tahu kalo sa bapa su pu maitua ka ini, apa karna sa bapa tuh PNS jadi ada uang? Sa tra tahu juga. Yang sa tahu dari sa mama dua ini sa ada pu ade dua orang. Yang sa dengar – dengar kalo sa bapa pukul sa mama kalo dong ada masalah tuh sa bapa de kawin lagi karna sa mama tra bisa melahirkan anak laki – laki. Cuma yang sa heran, sa mama baru nih juga de pu anak dua – dua tuh juga perempuan. Sa jadi takut sa bapa de nan kawin lagi, karna tiap hari pas jaga – jaga jualan nih, macam sa dengar sa pu tetangga – tetangga dong ada pake ‘bahasa’ cerita bilang sa bapa de ada baku bawa deng perem lain lagi. Adoh kalo sa bapa de kawin lagi demi cari anak laki – laki, berarti nan sa yang urat jaga ade – ade dong lagi oooo. Trus sa kasihan sa mama dia oo. De perasaan nan bagaimana eee. Adoh Tuhan sayang dia eee.
Sa kadang heran sa bapa nih. De su PNS, su pu gaji, su pu maitua dua coba de atur uang baik – baik ka. Adoh tiap bulan sa tuh kadang macam mo menangis minta uang sekolah. Sa kan sekolah di SMA swasta jadi tetap bayar SPP. Sa sekolah di SMA swasta bukan karna sa ortu kaya tapi karna sa tra diterima di SMA Negeri yang pake tes – tes dan lampirkan sertifikat bahasa Inggris tuh. Su jelas sa tra bisa karna tra pu sertifikat bahasa Inggris. Sa pu orang tua tra pu uang. Untuk sekolah tiap hari sa harus jalan kaki 30 menit PP. Macam betis mo keladi juga ka ini apalagi kalo hari hujan ka ini. Su tahu Manokwari pu hujan too. Abis kalo sa naik ojek terlalu sering, nan uang mana yang sa pake untuk cari tugas dan beli buku – buku tambahan. Su tahu kalo sekolah swasta di Papua tuh kadang materi pendukung kurang dibanding sekolah negeri.
Sa bapa nih kalo sa minta uang de bilang trada uang dan pasti pukul sa. Sa heran saja, kalo de trada uang, kenapa de mo kawin dua dan bayar mas kawin mahal – mahal ka ini. Trus kalo de tra pu uang, kenapa de bisa tiap hari mabok deng bir berkarton – karton kadang deng ampouw ka saguer ka milo baru bawa tong pu bapade – bapade dan anana kompleks dong ka ini. Kalo sa tanya, dong bilang itu untuk persahabatan ka jaga hubungan baik deng teman – teman jadi harus minum – minum. Cuma sa herannya, kenapa harus tiap hari trus kalo su mabuk pasti baribut dan bikin kaco. Baru mabuk tuh de guna apa? Kenapa dong tra pi pulang urus jaga anak ka, bantu batanam di kintal ka, pi balobe ka molo cari ikan untuk makan, pi tanam tomat ka rica ka pohon papaya ka pi ke hutan sana cari rebung ka sayur apa untuk keluarga makan. Sa heran!!!
Sa bapa nih de tiap hari kalo de mabok ka tra mabok, de tinggal bicara bilang tong orang Papua nih tertindas, dijajah dan barang – barang lain dan bilang negara ini cuma tipu – tipu tong orang Papua. De bilang negara ini jalan bunuh tong pu orang – orang Papua yang otak M, siksa dan lain – lain. Sa mungkin masih kecil, masih anak SMA, tapi sa juga setuju deng sa bapa dia. CUMA sa juga macam mo balik tanya sa bapa dia, ‘baru selama ini bapa ko bikin apa untuk melawan?’. Macam sa mo lanjut bilang, ‘lawan deng sakit hati dan mabok saja sama pukul2 maitua dan anak – anak dan main perempuan ka?’. Kalo iyo, baru apa bedanya bapa ko deng negara yang ko maki – maki ka ini? Sa pikir kalo bapa ko rasa tra benar, ko kerja baik – baik, urus tong keluarga baik – baik, hargai ko pu maitua – maitua dan anana di rumah, kerja yang baik dan melayani tong pu orang Papua tooo. Jadi mulai dari bangun BANGSA PAPUA dalam skala kecil dulu tooo, baru ko pikir NEGARA dalam konteks yang lebih bokar ka ini. Jadi bapa ko juga jang lakukan kekerasan dalam rumah tangga apalagi mabok – mabok. Ko sendiri bilang kalo negara nih mo kas habis tong orang Papua, baru kenapa ko minum mabok trus, ko tra pikir kalo ada yang memang sengaja mo bikin tong bodok trus deng minuman jadi tra bisa kerja bangun bangsa nih. Sa heran!!!!
Adoh sa mungkin masih SMA, baru masuk saja. Tapi sa su bilang tooo, kalo sa pu hidup keras dan tra bisa anggap hidup nih gampang. Biar sa susah begini tapi sa mo dengar sa mama pu nasehat untuk skolah baik – baik. Biar tong jualan kecil begini tapi setidaknya sa masih sekolah. Sa tra mau tergoda jadi ‘makucula’* alias ‘cula* ka ini macam sa teman – teman lain. Dong pilih cara instan tuh untuk dapat uang. Ada yang memang niat cari uang saja, tapi ada yang juga kompensasi lari dari rumah. Dong bilang syukur – syukur kalo dapa paitua pegawai ka anggota jadi bisa ada pegangan dan bisa keluar dari rumah deng alasan yang tepat. Adoooh tapi sa tra mau ooo. Sa tra mo kena ‘tiga huruf’ lagi baru nan harus menyimpan diri masuk kuburan. Sa bilang begini karna su beberapa kali sa jaga jualan sampe malam nih baru ada pace – pace yang mangkali dong dapat uang banyak ka jadi siku deng mobil – mobil rental baru kata alasan datang beli pinang tapi skalian tawar sa ka ini. Dong gila kapa eee. Macam dong tra lihat buku pelajaran yang sa ada baca di bawah lampu pelita sambil jaga jualan. Adoh bicara dong tuh nan hati sakit eee. Macam dong tra pu anana perempuan ka sodara perempuan di rumah saja jadi bikin kelakuan begini. Ganas skali eeee...
Bicara – bicara tapi sa mo menyimpan dulu, macam mo hujan bokar jadi, sa takut sa buku – buku dan barang jualan ko hancur, abis tempat bajual nih tra pake sabua* jadi begitu suda. Lain kali baru tong cerita lagi eee. Salam untuk sa pu teman – teman yang juga bajual macam sa eee. Daag.
***
(Manokwari, 090311; remembering some girls that I knew who have to face this sort of reality. May God be your strength in such harsh life.)
Catatan:
* Insar
(Bahasa Byak) Mama
* Makucula/cula
Slang dalam Melayu Papua di daerah Manokwari yang merujuk pada Pekerja Seks Komersil Jalanan (PSKJ). Awalnya merupakan akronim dari ‘MAkan KUrang CU** LAncar’ tetapi seiring dengan waktu, ungkapan ini menjadi hanya ‘Cula’. Slang ini umumnya hanya dilabel pada perempuan.
*Sabua
(Melayu Papua) sejenis kanopi tradisional, bisa beratap tenda, bisa beratap daun nipah dll ataupun seng.
Kam panggil sa nama Mince saja eee. Seperti perem lain yang ketemu mace Day, sa pu fam pasti tra akan sa kas tahu, nan ada yang bilang sa cemarkan fam lagi *blushing. Ok lanjut, sa masih sekolah, baru kelas 1 SMA ka ini dan kalo pulang skolah, sa bantu sa mama jaga de pu jualan di pinggir jalan bokar. Mace de jualan pinang dan jagung rebus sama ‘pepaya dan kedondong rica garam’ lapis deng bensin eceran. Sa anak Manokwari. Ini sa pu cerita tapi kam jang kaget neh, karna cuma cerita biasa – biasa saja. Ya anggap saja sa cuma singgah kas kabar saja ka ini, supaya kam jang bilang sa kapal kayu yang tra pernah stoom.
Sa memang masih kelas 1 SMA, baru saja ganti rok biru deng rok abu - abu. Tapi sa mo jujur saja kalo sa pu otak su tra sehijau sa pu umur. Maksudnya menurut sa hidup itu sulit dan keras dan sa juga su banyak hilang sa pu masa bermain waktu kecil dan remaja. Sa tra mo salahkan Tuhan atau sa pu orang tua tapi kadang – kadang sa ganas juga sama sa pu orang tua oooo. Mo kabur tapi tra bisa, jadi ya sementara sa terima nasib dulu ka ini.
Sa nih tiap hari kalo su pulang skolah, sa tra bisa main karna sa masih harus jaga sa pu mama pu jualan ka ini lapis deng jaga ade – ade kecil. Abis sa mama nih de macam tiap tahun juga melahirkan jadi. Sa nih anak pertama dari 5 bersaudara. Sa pu mama de dulu belum tamat SMA baru de kawin deng sa bapa jadi begitu suda. Sebenarnya sa tra protes sa pu ade – ade banyak karna sa tahu tong orang Papua juga sedikit ka ini TAPI yang sa tra suka tuh sa pu orang tua dong tra atur jarak lahir ka jadi macam sa pu mama tuh de setengah mati tiap tahun ka ini. Abis sa pu ade – ade tuh dong tangga ke bawah baru yang urat tuh sa mama deng sa. Sa kadang kasihan sa mama dia eee. Tong kan masih tinggal deng sa pu nene dari bapa dong jadi. Sa mama tiap bangun pagi harus pi masak air panas, kerja, masak, kas bersih rumah, kadang su langsung stavel pakaian kotor fol – fol. Apalagi ada anana kecil di rumah jadi pakaian cepat kotor. Su begitu tong bukan tinggal di kompleks perumahan mewah ka pegawai dong, tapi di daerah pesisir yang dekat manggewa – manggewa sana. Untung ada kali bokar dekat rumah jadi sa mama tra terlalu urat spul baju kalo bacuci.
Biar sa mama tuh tra tamat SMA tapi sa salut skali sama dia. Mace de tuh sabar skali hadapi sa bapa yang tukang mabok nih. Sa pace de PNS ka ini, dong bilang de tamatan sarjana ka. Tapi macam de pu otak sarjana tuh tra sesuai deng de pu kelakuan ooo. Sa macam ganas dia juga walau sa pake de fam tapi sa kadang macam mo menyangkal pace dia. Sa pu banyak alasan kadang sa emosi – emosi untuk sa pace nih khususnya yang de bikin untuk sa mama.
Sa ingat kalo de su mabuk tuh de kapala pukul sa mama sampe biru – biru. Biar sa mama ada hamil ka trada, tetap kalo pace ko fly dan pas tanggal tua tuh mace kena sasaran. Padahal mace cuma minta uang sedikit untuk ke puskesmas dan beli obat tambah darah karna lagi hamil. Sa mama juga tra bisa minta uang ke sa pu tete dan nene di rumah karna dong su pensiun baru masi ada bapade – bapade yang sekolah juga jadi begitu suda.
Sa kadang cape curhat tentang sa pace ke mace Day, abis sa macam mo sakit hati juga. Su kapala pukul sa mama sampe bangka – bangka baru kapala pukul dan marah tong anana. Su begitu, 3 tahun lalu sa bapa de pi cari maitua baru ka ini. Sa pu mama muda nih de lebih muda beberapa tahun dari sa mama. Masih anak SMA juga ka ini. Tra tau kenapa de mo kawin deng sa bapa eee, padahal de su tahu kalo sa bapa su pu maitua ka ini, apa karna sa bapa tuh PNS jadi ada uang? Sa tra tahu juga. Yang sa tahu dari sa mama dua ini sa ada pu ade dua orang. Yang sa dengar – dengar kalo sa bapa pukul sa mama kalo dong ada masalah tuh sa bapa de kawin lagi karna sa mama tra bisa melahirkan anak laki – laki. Cuma yang sa heran, sa mama baru nih juga de pu anak dua – dua tuh juga perempuan. Sa jadi takut sa bapa de nan kawin lagi, karna tiap hari pas jaga – jaga jualan nih, macam sa dengar sa pu tetangga – tetangga dong ada pake ‘bahasa’ cerita bilang sa bapa de ada baku bawa deng perem lain lagi. Adoh kalo sa bapa de kawin lagi demi cari anak laki – laki, berarti nan sa yang urat jaga ade – ade dong lagi oooo. Trus sa kasihan sa mama dia oo. De perasaan nan bagaimana eee. Adoh Tuhan sayang dia eee.
Sa kadang heran sa bapa nih. De su PNS, su pu gaji, su pu maitua dua coba de atur uang baik – baik ka. Adoh tiap bulan sa tuh kadang macam mo menangis minta uang sekolah. Sa kan sekolah di SMA swasta jadi tetap bayar SPP. Sa sekolah di SMA swasta bukan karna sa ortu kaya tapi karna sa tra diterima di SMA Negeri yang pake tes – tes dan lampirkan sertifikat bahasa Inggris tuh. Su jelas sa tra bisa karna tra pu sertifikat bahasa Inggris. Sa pu orang tua tra pu uang. Untuk sekolah tiap hari sa harus jalan kaki 30 menit PP. Macam betis mo keladi juga ka ini apalagi kalo hari hujan ka ini. Su tahu Manokwari pu hujan too. Abis kalo sa naik ojek terlalu sering, nan uang mana yang sa pake untuk cari tugas dan beli buku – buku tambahan. Su tahu kalo sekolah swasta di Papua tuh kadang materi pendukung kurang dibanding sekolah negeri.
Sa bapa nih kalo sa minta uang de bilang trada uang dan pasti pukul sa. Sa heran saja, kalo de trada uang, kenapa de mo kawin dua dan bayar mas kawin mahal – mahal ka ini. Trus kalo de tra pu uang, kenapa de bisa tiap hari mabok deng bir berkarton – karton kadang deng ampouw ka saguer ka milo baru bawa tong pu bapade – bapade dan anana kompleks dong ka ini. Kalo sa tanya, dong bilang itu untuk persahabatan ka jaga hubungan baik deng teman – teman jadi harus minum – minum. Cuma sa herannya, kenapa harus tiap hari trus kalo su mabuk pasti baribut dan bikin kaco. Baru mabuk tuh de guna apa? Kenapa dong tra pi pulang urus jaga anak ka, bantu batanam di kintal ka, pi balobe ka molo cari ikan untuk makan, pi tanam tomat ka rica ka pohon papaya ka pi ke hutan sana cari rebung ka sayur apa untuk keluarga makan. Sa heran!!!
Sa bapa nih de tiap hari kalo de mabok ka tra mabok, de tinggal bicara bilang tong orang Papua nih tertindas, dijajah dan barang – barang lain dan bilang negara ini cuma tipu – tipu tong orang Papua. De bilang negara ini jalan bunuh tong pu orang – orang Papua yang otak M, siksa dan lain – lain. Sa mungkin masih kecil, masih anak SMA, tapi sa juga setuju deng sa bapa dia. CUMA sa juga macam mo balik tanya sa bapa dia, ‘baru selama ini bapa ko bikin apa untuk melawan?’. Macam sa mo lanjut bilang, ‘lawan deng sakit hati dan mabok saja sama pukul2 maitua dan anak – anak dan main perempuan ka?’. Kalo iyo, baru apa bedanya bapa ko deng negara yang ko maki – maki ka ini? Sa pikir kalo bapa ko rasa tra benar, ko kerja baik – baik, urus tong keluarga baik – baik, hargai ko pu maitua – maitua dan anana di rumah, kerja yang baik dan melayani tong pu orang Papua tooo. Jadi mulai dari bangun BANGSA PAPUA dalam skala kecil dulu tooo, baru ko pikir NEGARA dalam konteks yang lebih bokar ka ini. Jadi bapa ko juga jang lakukan kekerasan dalam rumah tangga apalagi mabok – mabok. Ko sendiri bilang kalo negara nih mo kas habis tong orang Papua, baru kenapa ko minum mabok trus, ko tra pikir kalo ada yang memang sengaja mo bikin tong bodok trus deng minuman jadi tra bisa kerja bangun bangsa nih. Sa heran!!!!
Adoh sa mungkin masih SMA, baru masuk saja. Tapi sa su bilang tooo, kalo sa pu hidup keras dan tra bisa anggap hidup nih gampang. Biar sa susah begini tapi sa mo dengar sa mama pu nasehat untuk skolah baik – baik. Biar tong jualan kecil begini tapi setidaknya sa masih sekolah. Sa tra mau tergoda jadi ‘makucula’* alias ‘cula* ka ini macam sa teman – teman lain. Dong pilih cara instan tuh untuk dapat uang. Ada yang memang niat cari uang saja, tapi ada yang juga kompensasi lari dari rumah. Dong bilang syukur – syukur kalo dapa paitua pegawai ka anggota jadi bisa ada pegangan dan bisa keluar dari rumah deng alasan yang tepat. Adoooh tapi sa tra mau ooo. Sa tra mo kena ‘tiga huruf’ lagi baru nan harus menyimpan diri masuk kuburan. Sa bilang begini karna su beberapa kali sa jaga jualan sampe malam nih baru ada pace – pace yang mangkali dong dapat uang banyak ka jadi siku deng mobil – mobil rental baru kata alasan datang beli pinang tapi skalian tawar sa ka ini. Dong gila kapa eee. Macam dong tra lihat buku pelajaran yang sa ada baca di bawah lampu pelita sambil jaga jualan. Adoh bicara dong tuh nan hati sakit eee. Macam dong tra pu anana perempuan ka sodara perempuan di rumah saja jadi bikin kelakuan begini. Ganas skali eeee...
Bicara – bicara tapi sa mo menyimpan dulu, macam mo hujan bokar jadi, sa takut sa buku – buku dan barang jualan ko hancur, abis tempat bajual nih tra pake sabua* jadi begitu suda. Lain kali baru tong cerita lagi eee. Salam untuk sa pu teman – teman yang juga bajual macam sa eee. Daag.
***
(Manokwari, 090311; remembering some girls that I knew who have to face this sort of reality. May God be your strength in such harsh life.)
Catatan:
* Insar
(Bahasa Byak) Mama
* Makucula/cula
Slang dalam Melayu Papua di daerah Manokwari yang merujuk pada Pekerja Seks Komersil Jalanan (PSKJ). Awalnya merupakan akronim dari ‘MAkan KUrang CU** LAncar’ tetapi seiring dengan waktu, ungkapan ini menjadi hanya ‘Cula’. Slang ini umumnya hanya dilabel pada perempuan.
*Sabua
(Melayu Papua) sejenis kanopi tradisional, bisa beratap tenda, bisa beratap daun nipah dll ataupun seng.
Puisi: Dong bilang ...
Dong bilang ...
Kalo tong pu negeri
Nih kaya
Dan
Eksotis
Dong bilang ...
Dong mengerti
Tong pu
Maksud
Dan diri
Dong bilang ...
Dong
Coba bikin
Yang
Bagus dan
Membangun
Baru kenapa dong
Bikin
Film
Bo***
Yang
Tra tahu
Tong
Budaya
Dan
Hajar sambarang
Tentang
Tong
Pu budaya?
Mangkali dong memang
Selalu
Merasa lebih
Pintar kapa eee
Sampe
Karang budaya
Baku tabrak.
Ai kam ...
Jang sampe kam ‘Lost in Papua’
Lagi???
(Manokwari, 100311; emoti sangat baca review2 film ‘Lost in Papua’ ... su studi budaya berapa buku jadi eee =D )
Kalo tong pu negeri
Nih kaya
Dan
Eksotis
Dong bilang ...
Dong mengerti
Tong pu
Maksud
Dan diri
Dong bilang ...
Dong
Coba bikin
Yang
Bagus dan
Membangun
Baru kenapa dong
Bikin
Film
Bo***
Yang
Tra tahu
Tong
Budaya
Dan
Hajar sambarang
Tentang
Tong
Pu budaya?
Mangkali dong memang
Selalu
Merasa lebih
Pintar kapa eee
Sampe
Karang budaya
Baku tabrak.
Ai kam ...
Jang sampe kam ‘Lost in Papua’
Lagi???
(Manokwari, 100311; emoti sangat baca review2 film ‘Lost in Papua’ ... su studi budaya berapa buku jadi eee =D )
Puisi: De bilang ...
De bilang ...
Sa perempuan
Jadi
Sa tra usah
Bicara banyak
Tentang
Hidup!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa harus
Tahu
Jaga anak
Dan
Masak!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa tra
Usah
Melawan dia
Kalo
De
Bicara!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa tra
Perlu
Tahu
De pu
Urusan
Tiap kali
Kas tinggal
Rumah!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa harus
Lincah
Di tempat
Tidur
Dan
Di
Dapur!
BARU ....
Ko pu guna apa?
Ko pu fungsi apa?
Ko pu tanggung jawab apa?
Mangkali ko BUNGA ka pa?
Ka
PEMBUKA BOTOL?
(Manokwari, 100311; untuk lata – lata yang merasa =D)
Sa perempuan
Jadi
Sa tra usah
Bicara banyak
Tentang
Hidup!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa harus
Tahu
Jaga anak
Dan
Masak!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa tra
Usah
Melawan dia
Kalo
De
Bicara!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa tra
Perlu
Tahu
De pu
Urusan
Tiap kali
Kas tinggal
Rumah!
De bilang
Sa perempuan
Jadi
Sa harus
Lincah
Di tempat
Tidur
Dan
Di
Dapur!
BARU ....
Ko pu guna apa?
Ko pu fungsi apa?
Ko pu tanggung jawab apa?
Mangkali ko BUNGA ka pa?
Ka
PEMBUKA BOTOL?
(Manokwari, 100311; untuk lata – lata yang merasa =D)
Puisi: Ae neh
AE NEH ...
Stop su deng ko pu omong kosong
Stop su deng ko pu janji – janji
Stop su deng abunawas tuh
Sa bosan!!!
AE NEH ...
Stop bikin diri tahu suda
Stop bikin diri baik ka pintar suda
Stop bikin diri mengerti sa pu isi hati
Sa badan malas!!!
AE NEH ...
Stop deng otak kejahatan tuh suda
Stop deng rencana jahat suda
Stop deng makan uang tuh suda
Sa ganas!!!
Sa tra butuh janji, rayuan, abuti apalagi panipu tuh
Sa tra butuh kampanye manis, sogokan dana, suntikan bantuan
Sa tra butuh kata – kata madu tuh
Sa mo muntah!!!
TAPI
Sa cuma butuh
Ko pu
Hati dan niat
Sama
Peduli deng
Kerja keras bangun
Negeri nih
Untuk
Sa pu diri
Dan sa pu
Anana.
TITIK!!!
Tertanda,
PERTAPA (Perempuan tanah Papua)
(Manokwari, 10 Maret 2011; untuk para politikus yang mo sibuk urus tanah ini)
Stop su deng ko pu omong kosong
Stop su deng ko pu janji – janji
Stop su deng abunawas tuh
Sa bosan!!!
AE NEH ...
Stop bikin diri tahu suda
Stop bikin diri baik ka pintar suda
Stop bikin diri mengerti sa pu isi hati
Sa badan malas!!!
AE NEH ...
Stop deng otak kejahatan tuh suda
Stop deng rencana jahat suda
Stop deng makan uang tuh suda
Sa ganas!!!
Sa tra butuh janji, rayuan, abuti apalagi panipu tuh
Sa tra butuh kampanye manis, sogokan dana, suntikan bantuan
Sa tra butuh kata – kata madu tuh
Sa mo muntah!!!
TAPI
Sa cuma butuh
Ko pu
Hati dan niat
Sama
Peduli deng
Kerja keras bangun
Negeri nih
Untuk
Sa pu diri
Dan sa pu
Anana.
TITIK!!!
Tertanda,
PERTAPA (Perempuan tanah Papua)
(Manokwari, 10 Maret 2011; untuk para politikus yang mo sibuk urus tanah ini)
Tuesday, 8 March 2011
Curhat: Yako, si mama pinang
Sa pu nama Yakomina, tapi ko panggil sa Yako saja. Itu panggilan yang sa pu pelanggan – pelanggan pinang dong panggil sa tiap kali dong singgah di sa pu para – para. Seperti perem lain yang kapala ‘buka hati’ ke mace Day, sa juga tra perlu kas tahu sa pu fam, jang sampe lawan baca ka ini.
Sebenarnya sa pamalas kas tahu sa pu cerita tapi sa kapala sakit tiap hari lihat barang yang terjadi di depan sa mata baru tra cerita. Sa tinggal di satu kompleks di tanah Papua, sa bukan PNS bukan juga kerja di kantor ka tempat mana begitu. Tiap hari ya sa jualan pinang trus sambil jualan bensin eceran di botol – botol Aqua ka Vit. Sa tau mungkin ada yang pernah bilang kalo orang – orang macam sa yang jualan bensin ka jadi macam ‘calo’ nih yang bikin antrean di pom bensin sampe mengular ka panjang sampe, atau bikin sampe bensin ko susah ka ini. Padahal siooo, nih sapu famili – famili yang pu usaha perahu yang beli lebih untuk dong pu Johnson yang bantu kasi satu jerigen bokar untuk sa bajual.
Sa dulu pernah sekolah tapi sampe SMP saja. Trus sa berhenti. Bukan hanya karna sa tra pu uang ka orang tua dong tra pu uang tapi sa juga terlanjur hamil jadi sekolah dong kasi keluar sa ka ini. Sa cuma heran saja eee, bukan sa mo kasi jelek sekolah ka lembaga pendidikan eee, tapi menurut sa tra adil. Masa kalo kasus siswi hamil di sekolah tuh, kalo de hamil deng de pu teman sesama anak skolah, kenapa cuma tong yang perem yang harus dikas keluar dari skolah baru yang laki – laki trada. Apa karna tong yang poro besar jadi tra bole bikin rusak nama skolah sedang laki – laki yang juga sama – sama buat de tra boleh dapa sanksi. Su begitu, orang – orang di mana – mana cuma bicara tong saja bilang tong gatal lah, tong lincah, tong bodok dan lain – lain. Tapi sa juga bingung, abis sampe sa SMP juga trada orang – orang tua ka petugas – petugas kesehatan ka juga orang – orang dari gereja yang ajarkan tong tentang seks dan dampaknya yang benar buat tong. Dong cuma bilang tong jang begini, tong jang begitu, jang bikin ini, jaga tong pu ‘malu’ dan lain – lain tapi tra kas tahu ka jelaskan KENAPA?
Sa waktu SD dan SMP trada yang kas tahu ka terangkan sama sa kenapa sa sebagai anak remaja jang sampe sa hamil ka kenal seks. Dong tra terangkan ke sa kalo sa hamil nan sa pu tubuh berubah, sa pu organ reproduksi tra siap betul, sa pu kejiwaan belum siap, trus yang paling penting, siapa yang nan biayai sa pu anak ke depan. Apa sa su siap jadi mama ka su siap kasi masa depan yang baik untuk sa pu anak dia? Adoooh sa sekarang kalo lihat ke belakang lagi, macam kadang sa juga menyesal tapi begitu suda mo bagaimana lagi. Yang penting sa janji kalo sa harus bisa bajual yang halal ka ini untuk kas makan sa pu anak kecil dia.
Adooh kalo untuk sa pu laki nih, aeeeh kas tinggal de suda. Sa kapala sakit deng dia. De kemarin – kemarin su lulus SMA ka ini baru ada pi tes pegawai karna de pu famili dong ada pu koneksi jadi de lulus tapi adooh begitu suda. Gaji pertama tuh de cuma pake mabok saja deng anana kompleks. Sampe de pu gaji su di bulan ke 5 nih de masih sama saja. Sa nih heran tong pu laki – laki tanah dong ini, biar tra kerja ka mo kerja tapi kalo su baku ketemu deng teman – teman, tetap dong bikin ‘perjamuan kudus’ deng milo ka saguer ka ampow ka bobo. Macam barang tuh de rasa enak ka.
Sa pikir orang – orang yang kapala miras itu dong tuh cuma orang – orang yang tra bisa terima kenyataan hidup yang keras dan selalu coba lari dari kenyataan ka ini. Padahal sa pu tete pernah cerita kalo dong yang hidup di jaman – jaman Belanda ka sa pu tete de pu tete – tete dong tuh trada budaya ‘selesaikan semua deng air kata – kata’. Yang dong tau minum cuma macam ‘air wati’ yang dari batang rotan ka begitu ka dari tanaman liana begitu. Mace Day de cerita kalo masyarakat Pasifik lainnya dong bilang itu ‘Kava’ tapi bukan alkohol ya.
Adoh bicara tentang sapu paitua nih, sa macam badan pamalas ka ini. De pu kerja tuh tiap hari mabuk trus. Sa kalo su bajual dari pagi sampe mo malam juga de sondor bantu sa eee. Coba bantu lihat anak kecil ka bantu cuci piring ka setidaknya kas beres kamar. Adoh macam mo makan – makan hati saja. Jang ko heran lihat sa pu badan nih. Sa masih awal 20 tahun tapi macam sa su bentuk nene – nene seh. Abis dari bangun pagi sampe mo malam, sa kerja trus. Mulai dari mata tabuka, sa su pi cuci piring dan gosok blanga - blanga. Apalagi sa nih tinggal di mama mantu dong pu rumah. Belum sa masak untuk 1 keluarga bokar. Belum kalo pas kayu bakar su mo meti berarti sa masih pi bela kayu bakar lagi. Ko jang pikir sa pu mama mantu dong bantu ka ini. Sondor eee, sa ipar – ipar sondor bantu. Dong bilang dong su bayar sa pu denda, su bayar sa mas kawin sampe semua uang yang dong ada absen ka ini. Sa kartu mati. Belum lagi kalo sa paitua mabuk baru de tagih sa di para – para pinang. Bukan hanya tagih uang tapi juga tagih ‘jatah tidur’. Sio eee, biar cape ka sehat, harus jadi maitua yang baik kalo trada .... sebentar sa muka biru lagi. Badan malas ya!
Sa pernah pikir mo cere saja tapi sa kartu mati karena tra ada program pemberdayaan di sekitar sa rumah. Mo jalan jauh tapi nan sapa yang jaga sa anak kecil. Mo pi balik ke rumah orang tua, aeeeh neh mas kawin su ikat dan sa pamalas bikin keluarga ribut eee. Serba salah ka ini. Mo bikin usaha, tapi modal terbatas. Untung saja ada sa pu mama pu famili yang bantu modal pinang dan bensin. Kalo trada, sioooo eee, sa su mati kapa eee.
Yang penting sa tahu sekarang, sa mau ajar sapu anak nih untuk jadi orang yang bisa hargai pendidikan ka ini. Sa tra mo de nan jadi macam sa lagi. Sa tra mo de nikah muda macam sa deng laki – laki yang kurang jelas macam sa pu laki. Adooooh andai saja sa dulu lebih sabar eee untuk jang kenal seks tempo – tempo, untuk dengar sapu famili – famili lain yang bilang untuk sekolah dulu. Adoooh andai saja ... biar suda, ini sapu konsekuensi tapi yang penting jang sampe sa pu anak juga sama deng sa.
Damainya ... sa permisi dulu eee. Su ada pelanggan yang datang mo beli pinang, pasti nanti tong lanjut cerita lama nih. Salam untuk ‘mama – mama Yako’ yang lain eee. Besok lagi eeee. Daag!
(Manokwari, 070311)
Sebenarnya sa pamalas kas tahu sa pu cerita tapi sa kapala sakit tiap hari lihat barang yang terjadi di depan sa mata baru tra cerita. Sa tinggal di satu kompleks di tanah Papua, sa bukan PNS bukan juga kerja di kantor ka tempat mana begitu. Tiap hari ya sa jualan pinang trus sambil jualan bensin eceran di botol – botol Aqua ka Vit. Sa tau mungkin ada yang pernah bilang kalo orang – orang macam sa yang jualan bensin ka jadi macam ‘calo’ nih yang bikin antrean di pom bensin sampe mengular ka panjang sampe, atau bikin sampe bensin ko susah ka ini. Padahal siooo, nih sapu famili – famili yang pu usaha perahu yang beli lebih untuk dong pu Johnson yang bantu kasi satu jerigen bokar untuk sa bajual.
Sa dulu pernah sekolah tapi sampe SMP saja. Trus sa berhenti. Bukan hanya karna sa tra pu uang ka orang tua dong tra pu uang tapi sa juga terlanjur hamil jadi sekolah dong kasi keluar sa ka ini. Sa cuma heran saja eee, bukan sa mo kasi jelek sekolah ka lembaga pendidikan eee, tapi menurut sa tra adil. Masa kalo kasus siswi hamil di sekolah tuh, kalo de hamil deng de pu teman sesama anak skolah, kenapa cuma tong yang perem yang harus dikas keluar dari skolah baru yang laki – laki trada. Apa karna tong yang poro besar jadi tra bole bikin rusak nama skolah sedang laki – laki yang juga sama – sama buat de tra boleh dapa sanksi. Su begitu, orang – orang di mana – mana cuma bicara tong saja bilang tong gatal lah, tong lincah, tong bodok dan lain – lain. Tapi sa juga bingung, abis sampe sa SMP juga trada orang – orang tua ka petugas – petugas kesehatan ka juga orang – orang dari gereja yang ajarkan tong tentang seks dan dampaknya yang benar buat tong. Dong cuma bilang tong jang begini, tong jang begitu, jang bikin ini, jaga tong pu ‘malu’ dan lain – lain tapi tra kas tahu ka jelaskan KENAPA?
Sa waktu SD dan SMP trada yang kas tahu ka terangkan sama sa kenapa sa sebagai anak remaja jang sampe sa hamil ka kenal seks. Dong tra terangkan ke sa kalo sa hamil nan sa pu tubuh berubah, sa pu organ reproduksi tra siap betul, sa pu kejiwaan belum siap, trus yang paling penting, siapa yang nan biayai sa pu anak ke depan. Apa sa su siap jadi mama ka su siap kasi masa depan yang baik untuk sa pu anak dia? Adoooh sa sekarang kalo lihat ke belakang lagi, macam kadang sa juga menyesal tapi begitu suda mo bagaimana lagi. Yang penting sa janji kalo sa harus bisa bajual yang halal ka ini untuk kas makan sa pu anak kecil dia.
Adooh kalo untuk sa pu laki nih, aeeeh kas tinggal de suda. Sa kapala sakit deng dia. De kemarin – kemarin su lulus SMA ka ini baru ada pi tes pegawai karna de pu famili dong ada pu koneksi jadi de lulus tapi adooh begitu suda. Gaji pertama tuh de cuma pake mabok saja deng anana kompleks. Sampe de pu gaji su di bulan ke 5 nih de masih sama saja. Sa nih heran tong pu laki – laki tanah dong ini, biar tra kerja ka mo kerja tapi kalo su baku ketemu deng teman – teman, tetap dong bikin ‘perjamuan kudus’ deng milo ka saguer ka ampow ka bobo. Macam barang tuh de rasa enak ka.
Sa pikir orang – orang yang kapala miras itu dong tuh cuma orang – orang yang tra bisa terima kenyataan hidup yang keras dan selalu coba lari dari kenyataan ka ini. Padahal sa pu tete pernah cerita kalo dong yang hidup di jaman – jaman Belanda ka sa pu tete de pu tete – tete dong tuh trada budaya ‘selesaikan semua deng air kata – kata’. Yang dong tau minum cuma macam ‘air wati’ yang dari batang rotan ka begitu ka dari tanaman liana begitu. Mace Day de cerita kalo masyarakat Pasifik lainnya dong bilang itu ‘Kava’ tapi bukan alkohol ya.
Adoh bicara tentang sapu paitua nih, sa macam badan pamalas ka ini. De pu kerja tuh tiap hari mabuk trus. Sa kalo su bajual dari pagi sampe mo malam juga de sondor bantu sa eee. Coba bantu lihat anak kecil ka bantu cuci piring ka setidaknya kas beres kamar. Adoh macam mo makan – makan hati saja. Jang ko heran lihat sa pu badan nih. Sa masih awal 20 tahun tapi macam sa su bentuk nene – nene seh. Abis dari bangun pagi sampe mo malam, sa kerja trus. Mulai dari mata tabuka, sa su pi cuci piring dan gosok blanga - blanga. Apalagi sa nih tinggal di mama mantu dong pu rumah. Belum sa masak untuk 1 keluarga bokar. Belum kalo pas kayu bakar su mo meti berarti sa masih pi bela kayu bakar lagi. Ko jang pikir sa pu mama mantu dong bantu ka ini. Sondor eee, sa ipar – ipar sondor bantu. Dong bilang dong su bayar sa pu denda, su bayar sa mas kawin sampe semua uang yang dong ada absen ka ini. Sa kartu mati. Belum lagi kalo sa paitua mabuk baru de tagih sa di para – para pinang. Bukan hanya tagih uang tapi juga tagih ‘jatah tidur’. Sio eee, biar cape ka sehat, harus jadi maitua yang baik kalo trada .... sebentar sa muka biru lagi. Badan malas ya!
Sa pernah pikir mo cere saja tapi sa kartu mati karena tra ada program pemberdayaan di sekitar sa rumah. Mo jalan jauh tapi nan sapa yang jaga sa anak kecil. Mo pi balik ke rumah orang tua, aeeeh neh mas kawin su ikat dan sa pamalas bikin keluarga ribut eee. Serba salah ka ini. Mo bikin usaha, tapi modal terbatas. Untung saja ada sa pu mama pu famili yang bantu modal pinang dan bensin. Kalo trada, sioooo eee, sa su mati kapa eee.
Yang penting sa tahu sekarang, sa mau ajar sapu anak nih untuk jadi orang yang bisa hargai pendidikan ka ini. Sa tra mo de nan jadi macam sa lagi. Sa tra mo de nikah muda macam sa deng laki – laki yang kurang jelas macam sa pu laki. Adooooh andai saja sa dulu lebih sabar eee untuk jang kenal seks tempo – tempo, untuk dengar sapu famili – famili lain yang bilang untuk sekolah dulu. Adoooh andai saja ... biar suda, ini sapu konsekuensi tapi yang penting jang sampe sa pu anak juga sama deng sa.
Damainya ... sa permisi dulu eee. Su ada pelanggan yang datang mo beli pinang, pasti nanti tong lanjut cerita lama nih. Salam untuk ‘mama – mama Yako’ yang lain eee. Besok lagi eeee. Daag!
(Manokwari, 070311)
happy?
Hari ini aku berada di tahap ‘bahagia’. Bukan karena mendapat sejumlah uang, bukan karena dilamar seseorang, bukan karena mendapat makanan yang banyak. Bukan! Entahlah ... mungkin lebih cocok memakai ungkapan bahwa aku sedang bahagia karena bisa menikmati hariku hari ini. Berbuat apa yang kuinginkan dalam hidup. Menikmati hari. Tepatnya menjadi a beachbum selama beberapa jam =D
Siang tadi dengan bermotor ke pantai, aku menikmati duduk setengah basah di pasir pantai yang halus dan putih dengan sampah yang minim. Karena ombak yang lumayan besar, kulanjutkan acara bermalas – malasan dengan pergi ke arah Aipori; sebuah mata air salobar dan nongkrong. Bermain air sepuas mungkin. Air dingin berasa payau tawar memberi sensasi berbeda di kulit diselingi deburan ombak yang kadang memecah masuk ke areal salobar. Benar – benar lepas. Satu yang pasti, aku bahagia. Entahlah .... ada yang pecah di hati. Ibarat dunia memang sebuah dunia bermain dan aku cukup bahagia berada dalam kondisi ini. Entahlah ... yang aku tahu, aku bahagia tadi; menikmati ombak, air salobar dan rindang pohon.
Tak hanya itu. Aku juga menikmati tawa dan canda kanak – kanak di pantai. Dengan memanjat karang di salobar, aku bertemu kanak – kanak berusia SD yang sedang memanen kelapa muda. Dengan membayar Rp. 5000,-, kunikmati sebutir kelapa muda. Benar – benar nikmat. Apalagi diselingi dengan mengobrol dengan kanak – kanak itu. Jadi sedikit tahu status pohon – pohon kelapa yang mereka panen dan siapa saja nama mereka. Ternyata ada yang masih sepupuan jauh denganku tapi tidak kukenal ... iyalah jauh banget umurnya *blushing
Semuanya diakhiri dengan pulang membawa motor sambil menyanyi sepanjang jalan. Tak penting liriknya tetapi maknanya benar – benar membuatku bahagia. Entahlah ... tadi aku sempat berpikir bahwa aku harus kursus gitar pada tetangga karena tak seorangpun anggota keluargaku yang bisa bermain gitar. Musik bukan bawaan seni keluarga kami kecuali mama yang bisa bernyanyi dengan baik dan adik perempuanku yang bisa bermain organ. Selebihnya ... kami sangat buta tentang musik. Entahlah, aku dan kedua saudara lelakiku lebih ‘jago’ dalam urusan gambar – menggambar. Kami bertiga tak bisa bernyanyi dengan baik, tak bisa main musik dan tak begitu mengerti urusan musik. Tapi tanyakan kami dengan urusan menggambar. 3 bersaudara yang aneh dengan spesialisasi yang berbeda. Mulai dari gambar perspektif, fashion design dan gambar instalasi lainnya, kami jagonya *makan puji. Sayang, hanya aku dan kakak laki – lakiku yang tak serius mendalami gambar dan hanya menjadikannya hobi. Beda dengan adik lelakiku yang fokus di gambar instalasi.
Anyway, aku menikmati hal – hal kecil saat ini. Bersyukur untuk hari yang indah. Thanx Jesus. Saat aku tak berpikir tentang cinta eros, lelaki dan beban kerja atau apa yang akan ditawarkan masa depan karena bagiku masa depan adalah saat ini, kala menikmati hal – hal kecil seperti ini. Begitu sederhana namun indah.
Bahagia itu sikap, Day. Ah itu yang kurasakan hari ini. Aku hanya merasa bahwa aku begitu dekat dengan Tuhanku lewat ciptaan – ciptaan yang tadi kulihat di pantai dan sepanjang perjalanan dari – ke pantai.
Thanx Father, Jesus, ‘n Holy Spirit. Amen
(Manokwari, 070311)
Siang tadi dengan bermotor ke pantai, aku menikmati duduk setengah basah di pasir pantai yang halus dan putih dengan sampah yang minim. Karena ombak yang lumayan besar, kulanjutkan acara bermalas – malasan dengan pergi ke arah Aipori; sebuah mata air salobar dan nongkrong. Bermain air sepuas mungkin. Air dingin berasa payau tawar memberi sensasi berbeda di kulit diselingi deburan ombak yang kadang memecah masuk ke areal salobar. Benar – benar lepas. Satu yang pasti, aku bahagia. Entahlah .... ada yang pecah di hati. Ibarat dunia memang sebuah dunia bermain dan aku cukup bahagia berada dalam kondisi ini. Entahlah ... yang aku tahu, aku bahagia tadi; menikmati ombak, air salobar dan rindang pohon.
Tak hanya itu. Aku juga menikmati tawa dan canda kanak – kanak di pantai. Dengan memanjat karang di salobar, aku bertemu kanak – kanak berusia SD yang sedang memanen kelapa muda. Dengan membayar Rp. 5000,-, kunikmati sebutir kelapa muda. Benar – benar nikmat. Apalagi diselingi dengan mengobrol dengan kanak – kanak itu. Jadi sedikit tahu status pohon – pohon kelapa yang mereka panen dan siapa saja nama mereka. Ternyata ada yang masih sepupuan jauh denganku tapi tidak kukenal ... iyalah jauh banget umurnya *blushing
Semuanya diakhiri dengan pulang membawa motor sambil menyanyi sepanjang jalan. Tak penting liriknya tetapi maknanya benar – benar membuatku bahagia. Entahlah ... tadi aku sempat berpikir bahwa aku harus kursus gitar pada tetangga karena tak seorangpun anggota keluargaku yang bisa bermain gitar. Musik bukan bawaan seni keluarga kami kecuali mama yang bisa bernyanyi dengan baik dan adik perempuanku yang bisa bermain organ. Selebihnya ... kami sangat buta tentang musik. Entahlah, aku dan kedua saudara lelakiku lebih ‘jago’ dalam urusan gambar – menggambar. Kami bertiga tak bisa bernyanyi dengan baik, tak bisa main musik dan tak begitu mengerti urusan musik. Tapi tanyakan kami dengan urusan menggambar. 3 bersaudara yang aneh dengan spesialisasi yang berbeda. Mulai dari gambar perspektif, fashion design dan gambar instalasi lainnya, kami jagonya *makan puji. Sayang, hanya aku dan kakak laki – lakiku yang tak serius mendalami gambar dan hanya menjadikannya hobi. Beda dengan adik lelakiku yang fokus di gambar instalasi.
Anyway, aku menikmati hal – hal kecil saat ini. Bersyukur untuk hari yang indah. Thanx Jesus. Saat aku tak berpikir tentang cinta eros, lelaki dan beban kerja atau apa yang akan ditawarkan masa depan karena bagiku masa depan adalah saat ini, kala menikmati hal – hal kecil seperti ini. Begitu sederhana namun indah.
Bahagia itu sikap, Day. Ah itu yang kurasakan hari ini. Aku hanya merasa bahwa aku begitu dekat dengan Tuhanku lewat ciptaan – ciptaan yang tadi kulihat di pantai dan sepanjang perjalanan dari – ke pantai.
Thanx Father, Jesus, ‘n Holy Spirit. Amen
(Manokwari, 070311)
Professional donk ... grrrrrh
Hari belanja terburuk! Kesanku untuk pengalaman belanjaku hari ini. Entahlah, selalu saja ada yang hilang dari semangat menghamburkan uang hari ini.
Kasir rese! Itu kesanku malam ini saat berbelanja di lantai bawah sebuah toko berlantai 3 di kotaku yang nama tempat belanja ini sama dengan tanaman epifit di hutan tropis. Sebenarnya aku sudah mulai malas belanja di tempat ini. Bukan karena ketersediaan barangnya yang tak begitu lengkap di lantai 1 tapi karena ulah para penjaga tokonya. Dari yang ogah membantu pengunjung bila ditanya atau juga memberikan informasi yang tak berguna hingga kasir yang ketus plus ogah memberikan koin kembalian. Bukannya apa, berulang kali belanja di toko ini, jangan harap uang kembalian Rp. 500,- akan dikembalikan. Yang ada malah segepok Vitacimin besar telah disiapkan. Mungkin kedengaran kecil cuma 500 perak tapi kalo sampai 100 orang sehari yang harus merelakan hilangnya 500 perak dengan terpaksa seperti ini, sama saja kan sebuah politik dagang kalau yang punya toko tidak rela mengembalikan ulang receh. Sudah begitu ee si kasirnya ngeyel dan ketus banget pas ditanyain. Herannya kan nih toko lumayan besar, kenapa juga tra usaha untuk ke bank atau bagaimana untuk menyediakan koin. Kalau cuma satu – dua kali mungkin tidak terasa mengganjal, e ini lebih dari 3 kali belanja dan jawabannya selalu sama; tidak ada koin. Mana kasir malam ini ketus banget ee ternyata usai pulang dan ngecek belanjaan, si kasir ketus men-charge tambahan barang yang tidak ada dalam daftar bawaan alias ada harga fiktif yang entah dari mana tuh item. Parah!!!!
Mungkin tidak ingin bikin perbandingan tapi macam bagaimana ya. Di toko lain yang rasanya sejenis dua jenis dengan toko ini, at least masih ada koin kalau ditanyain mereka akan berusaha menawarkan koin walau cuma 1 – 2 keping tapi lebih baik dibandingkan vitacimin. Untung – untungan kalo Vitaciminnya bisa ditukar kembali kalo belanja atau ditabung ulang *mimpi tanggal berapa nih?
Intinya, tempat belanja kayak begini sama sekali tidak direkomendasikan. Bikin sakit hati belanjanya! Ayo boikot!!!! *nyadar banget hak pembeli
Setali tiga uang. Hari ini aku kembali lagi mengalami pengalaman buruk belanja di pantai Yenbebai Manokwari alias Pasir Putih. Apa lagi kalau bukan urusan ngantri rujak dan gado – gado. Akhirnya kesabaranku sudah sampai pada tahap ‘No way’ lagi deh. Hari ini terakhir kali deh sa beli rujak di tempat ini. Dulu pernah ngantri Bombay sampe capek e si ibu penjual cuek saja bungkusin rujak buat yang mo pulang duluan padahal ngantrinya telat. E pas sa pu giliran, ternyata rujaknya ambles. Makan hati! Trus pernah dengan seorang sahabat ngantri lagi, kejadiaanya pesanan kita dicuekin n lupa. Apa memang karena cuma 2 porsi ya. Belum lagi beberapa pengalaman yang sama di pembelian berikutnya dan hari ini ternyata masih sial juga. Gado – gadonya dah kelar dimakan eee rujak sa pu sahabat masih belum jadi dan akhirnya hampir 1 jam, terpaksa sa batalin. Semangat makan terlanjur lenyap. KAPOK!!!! Never ever buy any food in the food vendor near the fig tree!!! Ayo boikot!! *ungkapan sakit hati lagi? =D
Anyway, perkara belanja memang gampang – gampang susah. Tapi memang susah juga ngajarin orang cara menjual atau berdagang yang baik dengan pelayanan prima. Yang ada cuma bagaimana menyediakan barang dll tapi minus keramahan dan pelayanan yang baik. Mo dari jasa penjualan barang sampai jasa kesehatan di tempat publik. Mana ada sih pelayanan kesehatan untuk publik yang ramah dan prima di tempat ini khususnya yang terkait ngambil darah de el el. Beberapa kali punya pengalaman buruk didamprat membuatku kapok. Mending ke dokter praktek yang ramah, bayar mahal dikit OK saja yang penting tidak berurusan dengan staf kesehatan yang rese, merasa diri penting dan masih ngeyel dan sama sekali tak punya empati. Ini berdasarkan pengalaman pernah sekali ngambil darah di lab sebuah rumah sakit pemerintah di kota ini, dan yang nusuk si cewek muda getho. E sudah ditusuk pertama kali tanpa proses penenangan diri, iyalah lengan I cuma dibelit karet ban dalam sepeda apa motor yang warna hitam getho dan ditonton sekitar 15an orang dalam ruangan, IYA tak ada privasi, Hello!. Ternyata oh ternyata, salah tusuk! ShIt banget kan? Mana bengkak e darahnya tra keluar masih diomelin lagi. Jadi the second attempt, I jadi ketakutan dan minta pelan – pelan eee kena omel lagi dari si cewek yang mungkin merasa jadi orang penting deh saat itu, mana jarumnya besar lagi, untunglah walau perlakuannya kasar setidaknya ada darah yang diambil jadi tak harus ke tiga kali *sigh Kalo gak ingat kalo ada butuh surat yang ada cap rumah sakit tersebut, mana mau ngambil darah di sana. Sejak saat itu, kapok bratz!
Btw, kejadian salah tusuk or tra profesional bukan barang baru di tanah ini deh. Dulu waktu tamat SMA juga di sebuah rumah sakit di Jayapura, pernah sekali ngambil darah lengkap dan payah deh. Maklum sa kan fislem jadi sering urusan periksa – periksa darah getho, mulai dari Papua sampe Jakarta sampe OZ; kerjaannya gak pernah jauh dari patologi sana alias ke lab, periksa darah lah, periksa paru – paru lah, periksa RNA lah de el el. Nah dulu itu kasusnya sama dengan di Manokwari, ditusuk dua kali baru pas. Tentu saja dengan acara tangan bengkak getho. Yang paling bagus ngambil darah lengkap mungkin si suster tua yang di Jakarta sana, di sebuah klinik mewah sih yang banyak orang asingnya, abis rujukan suratnya wajib ngambil dari sana. Jadi dulu masa penyembuhan tiap 1 minggu ambil darah lengkap, cek l endapan darahnya lah, cek eritrosit de el el. Belum tes – tes lainnya. Di OZ juga susternya asik urusan suntik – suntikan dan vaksin getho. Gak masalah or di klinik swasta di Manokwari. Jadi fobia jarum de el el hilang dan nyaman. Kapok deh kalo yang di sarana publik deh, su trada privasi e masih kena bentak. Gimana orang mo sembuh?
Untung gak EKG periksa jantung. Pengalaman teman mah buruk, gak ada privasi dah. Bisa – bisa jadi model topless lagi =( *amit – amit
Ngomong orang tra profesional sih gampang. Bulan lalu di Jayapura juga sama. Kejadiannya bareng lelakiku pergi ke lab periksa darah, DDR getho karena sa su melayang – layang dan demam beberapa hari. E ke lab, pas periksa darah si staf analis sibuk dengan ponselnya yang berdering terus dan nyuruh anak balitanya yang ngangkat *gila aja bawa anak ke ruang lab yang meriksa darah pasien. Mungkin gak dongkol pada tahap ini walau terheran – heran. Nah pas nunggu ketemu dokter dengan selembar hasil lab bertanda MALARIA TROPIKA ++ alias plus 2, si cewek berlari tergopoh – gopoh ke arah sa dan paitua. Katanya salah hitung eee lembar kertasnya ketukar dengan orang lain, jadi yang benar cuma +1 alias si cewek teledor. Gosh, bisa kebayang tidak kalo dengan kertas segitu ketemu dokter dan diberi resep yang kebanyakan obat. Bisa gawat kan? Apalagi coba kalo seandainya posisi saya itu lagi hamil, misalnya saja, apa tidak berbahaya bagi janin kalo sampe ada kecerobohan kayak gini? PARAH banget. Ayo boikot!!!! *boikot-fever
Intinya kalo memang niat menjual sesuatu baik jasa or barang, be professional lah. Bukan hanya masalah kepuasan pembeli tapi kan tanggung jawab kita juga. Kan kerja itu bentuk pelayanan pula. Jadi, lakukan yang terbaik dalam segala hal yang ko lakukan. Kan tra enak kalo ada orang ngeluh ka maki – maki dalam hati seperti yang sa lakukan tadi. Mencuri kebahagiaan orang lain kan? Wkwkwwkkwkwkwkw
Anyway, ini cuma curhat saja saking tra tertahankan. Semoga tidak mengalami kejadian macam saya khususnya yang berhubungan dengan mereka yang menjual jasa dan barang tapi tidak profesional. Badan malas ya!!!
(Manokwari, 070311; dikejar deadline tugas)
Kasir rese! Itu kesanku malam ini saat berbelanja di lantai bawah sebuah toko berlantai 3 di kotaku yang nama tempat belanja ini sama dengan tanaman epifit di hutan tropis. Sebenarnya aku sudah mulai malas belanja di tempat ini. Bukan karena ketersediaan barangnya yang tak begitu lengkap di lantai 1 tapi karena ulah para penjaga tokonya. Dari yang ogah membantu pengunjung bila ditanya atau juga memberikan informasi yang tak berguna hingga kasir yang ketus plus ogah memberikan koin kembalian. Bukannya apa, berulang kali belanja di toko ini, jangan harap uang kembalian Rp. 500,- akan dikembalikan. Yang ada malah segepok Vitacimin besar telah disiapkan. Mungkin kedengaran kecil cuma 500 perak tapi kalo sampai 100 orang sehari yang harus merelakan hilangnya 500 perak dengan terpaksa seperti ini, sama saja kan sebuah politik dagang kalau yang punya toko tidak rela mengembalikan ulang receh. Sudah begitu ee si kasirnya ngeyel dan ketus banget pas ditanyain. Herannya kan nih toko lumayan besar, kenapa juga tra usaha untuk ke bank atau bagaimana untuk menyediakan koin. Kalau cuma satu – dua kali mungkin tidak terasa mengganjal, e ini lebih dari 3 kali belanja dan jawabannya selalu sama; tidak ada koin. Mana kasir malam ini ketus banget ee ternyata usai pulang dan ngecek belanjaan, si kasir ketus men-charge tambahan barang yang tidak ada dalam daftar bawaan alias ada harga fiktif yang entah dari mana tuh item. Parah!!!!
Mungkin tidak ingin bikin perbandingan tapi macam bagaimana ya. Di toko lain yang rasanya sejenis dua jenis dengan toko ini, at least masih ada koin kalau ditanyain mereka akan berusaha menawarkan koin walau cuma 1 – 2 keping tapi lebih baik dibandingkan vitacimin. Untung – untungan kalo Vitaciminnya bisa ditukar kembali kalo belanja atau ditabung ulang *mimpi tanggal berapa nih?
Intinya, tempat belanja kayak begini sama sekali tidak direkomendasikan. Bikin sakit hati belanjanya! Ayo boikot!!!! *nyadar banget hak pembeli
Setali tiga uang. Hari ini aku kembali lagi mengalami pengalaman buruk belanja di pantai Yenbebai Manokwari alias Pasir Putih. Apa lagi kalau bukan urusan ngantri rujak dan gado – gado. Akhirnya kesabaranku sudah sampai pada tahap ‘No way’ lagi deh. Hari ini terakhir kali deh sa beli rujak di tempat ini. Dulu pernah ngantri Bombay sampe capek e si ibu penjual cuek saja bungkusin rujak buat yang mo pulang duluan padahal ngantrinya telat. E pas sa pu giliran, ternyata rujaknya ambles. Makan hati! Trus pernah dengan seorang sahabat ngantri lagi, kejadiaanya pesanan kita dicuekin n lupa. Apa memang karena cuma 2 porsi ya. Belum lagi beberapa pengalaman yang sama di pembelian berikutnya dan hari ini ternyata masih sial juga. Gado – gadonya dah kelar dimakan eee rujak sa pu sahabat masih belum jadi dan akhirnya hampir 1 jam, terpaksa sa batalin. Semangat makan terlanjur lenyap. KAPOK!!!! Never ever buy any food in the food vendor near the fig tree!!! Ayo boikot!! *ungkapan sakit hati lagi? =D
Anyway, perkara belanja memang gampang – gampang susah. Tapi memang susah juga ngajarin orang cara menjual atau berdagang yang baik dengan pelayanan prima. Yang ada cuma bagaimana menyediakan barang dll tapi minus keramahan dan pelayanan yang baik. Mo dari jasa penjualan barang sampai jasa kesehatan di tempat publik. Mana ada sih pelayanan kesehatan untuk publik yang ramah dan prima di tempat ini khususnya yang terkait ngambil darah de el el. Beberapa kali punya pengalaman buruk didamprat membuatku kapok. Mending ke dokter praktek yang ramah, bayar mahal dikit OK saja yang penting tidak berurusan dengan staf kesehatan yang rese, merasa diri penting dan masih ngeyel dan sama sekali tak punya empati. Ini berdasarkan pengalaman pernah sekali ngambil darah di lab sebuah rumah sakit pemerintah di kota ini, dan yang nusuk si cewek muda getho. E sudah ditusuk pertama kali tanpa proses penenangan diri, iyalah lengan I cuma dibelit karet ban dalam sepeda apa motor yang warna hitam getho dan ditonton sekitar 15an orang dalam ruangan, IYA tak ada privasi, Hello!. Ternyata oh ternyata, salah tusuk! ShIt banget kan? Mana bengkak e darahnya tra keluar masih diomelin lagi. Jadi the second attempt, I jadi ketakutan dan minta pelan – pelan eee kena omel lagi dari si cewek yang mungkin merasa jadi orang penting deh saat itu, mana jarumnya besar lagi, untunglah walau perlakuannya kasar setidaknya ada darah yang diambil jadi tak harus ke tiga kali *sigh Kalo gak ingat kalo ada butuh surat yang ada cap rumah sakit tersebut, mana mau ngambil darah di sana. Sejak saat itu, kapok bratz!
Btw, kejadian salah tusuk or tra profesional bukan barang baru di tanah ini deh. Dulu waktu tamat SMA juga di sebuah rumah sakit di Jayapura, pernah sekali ngambil darah lengkap dan payah deh. Maklum sa kan fislem jadi sering urusan periksa – periksa darah getho, mulai dari Papua sampe Jakarta sampe OZ; kerjaannya gak pernah jauh dari patologi sana alias ke lab, periksa darah lah, periksa paru – paru lah, periksa RNA lah de el el. Nah dulu itu kasusnya sama dengan di Manokwari, ditusuk dua kali baru pas. Tentu saja dengan acara tangan bengkak getho. Yang paling bagus ngambil darah lengkap mungkin si suster tua yang di Jakarta sana, di sebuah klinik mewah sih yang banyak orang asingnya, abis rujukan suratnya wajib ngambil dari sana. Jadi dulu masa penyembuhan tiap 1 minggu ambil darah lengkap, cek l endapan darahnya lah, cek eritrosit de el el. Belum tes – tes lainnya. Di OZ juga susternya asik urusan suntik – suntikan dan vaksin getho. Gak masalah or di klinik swasta di Manokwari. Jadi fobia jarum de el el hilang dan nyaman. Kapok deh kalo yang di sarana publik deh, su trada privasi e masih kena bentak. Gimana orang mo sembuh?
Untung gak EKG periksa jantung. Pengalaman teman mah buruk, gak ada privasi dah. Bisa – bisa jadi model topless lagi =( *amit – amit
Ngomong orang tra profesional sih gampang. Bulan lalu di Jayapura juga sama. Kejadiannya bareng lelakiku pergi ke lab periksa darah, DDR getho karena sa su melayang – layang dan demam beberapa hari. E ke lab, pas periksa darah si staf analis sibuk dengan ponselnya yang berdering terus dan nyuruh anak balitanya yang ngangkat *gila aja bawa anak ke ruang lab yang meriksa darah pasien. Mungkin gak dongkol pada tahap ini walau terheran – heran. Nah pas nunggu ketemu dokter dengan selembar hasil lab bertanda MALARIA TROPIKA ++ alias plus 2, si cewek berlari tergopoh – gopoh ke arah sa dan paitua. Katanya salah hitung eee lembar kertasnya ketukar dengan orang lain, jadi yang benar cuma +1 alias si cewek teledor. Gosh, bisa kebayang tidak kalo dengan kertas segitu ketemu dokter dan diberi resep yang kebanyakan obat. Bisa gawat kan? Apalagi coba kalo seandainya posisi saya itu lagi hamil, misalnya saja, apa tidak berbahaya bagi janin kalo sampe ada kecerobohan kayak gini? PARAH banget. Ayo boikot!!!! *boikot-fever
Intinya kalo memang niat menjual sesuatu baik jasa or barang, be professional lah. Bukan hanya masalah kepuasan pembeli tapi kan tanggung jawab kita juga. Kan kerja itu bentuk pelayanan pula. Jadi, lakukan yang terbaik dalam segala hal yang ko lakukan. Kan tra enak kalo ada orang ngeluh ka maki – maki dalam hati seperti yang sa lakukan tadi. Mencuri kebahagiaan orang lain kan? Wkwkwwkkwkwkwkw
Anyway, ini cuma curhat saja saking tra tertahankan. Semoga tidak mengalami kejadian macam saya khususnya yang berhubungan dengan mereka yang menjual jasa dan barang tapi tidak profesional. Badan malas ya!!!
(Manokwari, 070311; dikejar deadline tugas)
Gurun
Orang bilang cinta itu bertahan dan tumbuh seiring dengan waktu. Iya, mungkin memang mereka benar pada satu sisi. Tapi bagaimana dengan cinta yang mati seiring dengan waktu? Apa karena kurang disayang, diperhatikan, atau bagaimana? Entahlah ... aku bukan orang yang pernah mengambil mata kuliah ‘botani’ apalagi yang berhubungan dengan perasaan. Bukan urusanku kadang – kadang untuk memikirkannya.
Usai berpisah dengan lelakiku di Jayapura, aku sedikit lega. 1 minggu penuh amarah dan kekesalan telah berlalu dan aku dan dia bisa berbicara dan SMSan tanpa rasa marah atau dongkol. Kami berdua bisa ‘normal’ lagi. Memang SMSan kami tak lagi ada kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ tapi setidaknya kami berdua tahu bahwa kami berdua masih saling menyayangi dan hanya butuh waktu memikirkan hidup kami masing – masing ke depan.
Memang untuk mengikat diri dalam sebuah komitmen dibutuhkan sebuah kesabaran dan hati yang luas bagaikan gurun Sahara. Maksudku seluas gurun agar semua air mata kesedihan dapat ditelan dalam pasir kesabaran, semua amarah dapat dilenyapkan dalam badai pasir ketabahan dan semua hal buruk dapat diserap dan dibakar. Pernah tidak melihat bagaimana tanaman gurun bertahan hidup? Tanaman gurun jarang ada yang setinggi pohon – pohon pongah di dataran tinggi ataupun pesisir pulau. Tanaman gurun biasanya berukuran rendah dan mempunyai sistem perakaran yang baik dan sangat menghargai air yang turun ataupun cairan apapun; entah urine unta, entah air seni manusia, entah tetesan embun. Andai hati kita seperti gurun dan isi gurun, kita tak akan pernah sakit hati kala kesedihan dan kemalangan menimpa kita karena kita tahu bahwa hati dan hidup kita butuh tetesan air mata agar kita tahu bagaimana menjadi manusia, bagaimana menghargai tetesan gurat luka yang dalam. Menjadi lebih manusiawi!
Aku ingin jadi seperti tanaman gurun agar aku lebih menghargai semua sumberdaya yang kupunya. Agar saat bertahan hidup, aku bisa kuat dan tenang dan tak terlalu menuntut banyak hal dalam hidup. Agar aku bisa tahu bahwa hidup merupakan sebuah tantangan yang harus dijalani dan tak ada pilihan lain selain bersyukur masih tetap hidup.
Mungkin aku memang masih perlu banyak belajar untuk mencintai dan memahami lebih dalam lagi sebelum Tuhan mempercayakan seseorang kepadaku untuk kujaga dan kuperhatikan. Mungkin aku belum begitu baik dan siap menjadi seorang pendamping yang bisa menjadi penolong yang sepadan.
Apapun kehendak Tuhan saat ini, aku OK saja. Toh aku sedang menikmati masa lajangku yang terasa begitu indah. OCDku juga tak terlalu segila dulu, aku bisa fokus dengan ‘me-time’ku, aku bisa mencintai lelakiku dengan lebih baik saat ini usai berpisah dan tentu saja aku jadi punya banyak waktu dengan Tuhanku.
Ah selalu saja ada yang manis dari Tuhan kala sebuah peristiwa telah lewat.
Thanx Jesus, karena mengijinkan mempunyai hidup seperti hari ini. Amen.
(Manokwari, 050311; usai pesta durian ‘n ketawa sepuasnya deng para sahabat lama)
Usai berpisah dengan lelakiku di Jayapura, aku sedikit lega. 1 minggu penuh amarah dan kekesalan telah berlalu dan aku dan dia bisa berbicara dan SMSan tanpa rasa marah atau dongkol. Kami berdua bisa ‘normal’ lagi. Memang SMSan kami tak lagi ada kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ tapi setidaknya kami berdua tahu bahwa kami berdua masih saling menyayangi dan hanya butuh waktu memikirkan hidup kami masing – masing ke depan.
Memang untuk mengikat diri dalam sebuah komitmen dibutuhkan sebuah kesabaran dan hati yang luas bagaikan gurun Sahara. Maksudku seluas gurun agar semua air mata kesedihan dapat ditelan dalam pasir kesabaran, semua amarah dapat dilenyapkan dalam badai pasir ketabahan dan semua hal buruk dapat diserap dan dibakar. Pernah tidak melihat bagaimana tanaman gurun bertahan hidup? Tanaman gurun jarang ada yang setinggi pohon – pohon pongah di dataran tinggi ataupun pesisir pulau. Tanaman gurun biasanya berukuran rendah dan mempunyai sistem perakaran yang baik dan sangat menghargai air yang turun ataupun cairan apapun; entah urine unta, entah air seni manusia, entah tetesan embun. Andai hati kita seperti gurun dan isi gurun, kita tak akan pernah sakit hati kala kesedihan dan kemalangan menimpa kita karena kita tahu bahwa hati dan hidup kita butuh tetesan air mata agar kita tahu bagaimana menjadi manusia, bagaimana menghargai tetesan gurat luka yang dalam. Menjadi lebih manusiawi!
Aku ingin jadi seperti tanaman gurun agar aku lebih menghargai semua sumberdaya yang kupunya. Agar saat bertahan hidup, aku bisa kuat dan tenang dan tak terlalu menuntut banyak hal dalam hidup. Agar aku bisa tahu bahwa hidup merupakan sebuah tantangan yang harus dijalani dan tak ada pilihan lain selain bersyukur masih tetap hidup.
Mungkin aku memang masih perlu banyak belajar untuk mencintai dan memahami lebih dalam lagi sebelum Tuhan mempercayakan seseorang kepadaku untuk kujaga dan kuperhatikan. Mungkin aku belum begitu baik dan siap menjadi seorang pendamping yang bisa menjadi penolong yang sepadan.
Apapun kehendak Tuhan saat ini, aku OK saja. Toh aku sedang menikmati masa lajangku yang terasa begitu indah. OCDku juga tak terlalu segila dulu, aku bisa fokus dengan ‘me-time’ku, aku bisa mencintai lelakiku dengan lebih baik saat ini usai berpisah dan tentu saja aku jadi punya banyak waktu dengan Tuhanku.
Ah selalu saja ada yang manis dari Tuhan kala sebuah peristiwa telah lewat.
Thanx Jesus, karena mengijinkan mempunyai hidup seperti hari ini. Amen.
(Manokwari, 050311; usai pesta durian ‘n ketawa sepuasnya deng para sahabat lama)
Thursday, 3 March 2011
gerobak
Malam ini hujan sedang turun dengan deras di luar kamarku. Sambil menyiapkan berkas ajar untuk persiapan ngajar privatku, aku mengingat seorang perempuan yang beberapa jam lalu kuamati di pinggir jalan di kota Manokwari saat menunggu kopian berkas ajarku. Catatan ini mungkin hanya catatan lepas seorang self-employer alias pengangguran banyak acara sepertiku. Saat sedang menunggu kopian materiku guna mencari uang, aku sempat tersentak tadi menyaksikan bagaimana pendidikan, kondisi keluarga dan faktor – faktor lainnya membentuk jalan hidup yang berbeda yang kadang bagiku tak adil. Catatan ini mungkin terlalu personal bagiku.
Hujan masih turun dengan deras, suhu mulai sedikit dingin dan aku bahkan bisa membaui aroma lembab dari luar jendela yang terbawa angin ke meja komputerku saat komputer jinjing ini berjumpalitan papan ketiknya. Aku membayangkan apa yang kulihat beberapa jam lalu. Selama ini aku bahkan tak sampai berpikiran bahwa realitanya memang seperti itu. Sedikit merasa sedih campur bersalah. Entahlah ... campur aduk. Yang pasti bayangan tadi masih belum bisa kutepis.
Beberapa jam lalu di pinggir sebuah jalan protokol Manokwari, di pinggir ruas jalan menuju Sanggeng, seorang perempuan Papua duduk di pinggir jalan, menelan debu – debu jalanan menunggui jualan bensin ecerannya berbotol – botol dalam botol mineral, saat aku berjalan masuk ke dalam sebuah tempat foto kopi. Sekilas aku tak terlalu memperhatikannya karena ia berada dalam tempat sombar yang terhalang cahaya lampu. Sibuk mengarahkan tukang fotokopi menyortir berkasku, aku memutuskan duduk dan melihat ke arah jalan. Mataku tertohok pada sosok perempuan ini dan sebuah benda yang tergeletak di sampingnya. Gerobak dorong! Iya, gerobak dorong yang sering dipakai di pasar – pasar tradisional. Aku kaget dan terdiam dan ada sesuatu yang pecah di hatiku dengan sebuah tanda tanya besar berjudul “Why?” ‘kenapa?’. Aku bukan orang yang bisa bereaksi dengan baik tapi aku paham ada bagian dari hatiku yang tak bisa menerima hal ini.
Panggil saja aku si melankolis. Tapi yang kulihat malam ini membukakan aku bahwa aku harus bersyukur untuk hidupku apapun itu. Malam ini, gerobak itu menyadarkanku untuk berhenti bersungut dan memaki – maki hidupku dan yang sedikit khawatir dengan statusku yang pengangguran banyak acara. Gerobak itu menjadi semacam pengingat. Ada apa dengan gerobak itu? Mungkin itu tanyamu.
Kulihat perempuan itu duduk di trotoar, tepatnya parkiran semen sebuah ruko di pinggir jalan protokol dengan beratapkan langit malam dan debu – debu jalanan. Seorang perempuan muda berkulit gelap yang kutaksir umurnya baru awal 20 tahunan. Tubuhnya diletakan begitu saja di atas sepotong karton dan tangannya sibuk menata gerobak. Ia tidak menata jualan bensinnya. Sama sekali tidak! Yang ia lakukan adalah dengan hati – hati meletakan beberapa potong kain panjang hingga berbentuk selimut hangat untuk meletakan balitanya yang hendak tidur. Ini bukan cerita rekaan yang kulihat di tanah ini. Aku sedikit terhenyak menyaksikan gerobak butut itu dijadikan alas tidur balitanya sedangkan debu jalanan sedang mengepul naik dari jalanan. Tiba – tiba aku benci KEMISKINAN! Sangat benci! Apalagi kemiskinan yang diakibatkan oleh sebuah ‘upaya sistematis’ dan ketidak pedulian sesama.
Aku terhenyak melihat fakta ini. Aku dan dia sama – sama perempuan. Sama – sama masih mempunyai gen berkulit gelap. Sama – sama tinggal di kota ini. Sama – sama mempunyai balita di rumah; ia dan anaknya dan aku bersama ke 4 keponakanku. Sama – sama belum menginjak usia 30 tahun. Dan kami mempunyai DAYA TAWAR (bargaining power) yang berbeda. Dan aku ingin menjerit bahwa ia hanya korban dari sebuah sistem saat ini; entah sistem patriarki, entah sistem ekonomi yang berlangsung saat ini, entah keadilan sosial, entah sistem – sistem lainnya yang intinya menciptakan lingkaran setan di mana perempuan – perempuan seperti ini akan terus menjadi KORBAN.
Aku terhenyak karena aku walaupun bukan seorang PNS ataupun karyawan swasta tetapi pekerja untuk diriku sendiri dan mencari penghasilan dari kemampuan akademikku yang tak terikat pada siapapun masih bisa membuat para klienku membayar cukup mahal. Aku masih mempunyai daya tawar untuk ‘memaksa’ para klienku berpikir bahwa aku tak akan rugi bila mereka tak membeli jasaku karena masih banyak klien potensial lainnya yang akan membayarku dengan harga yang lumayan yang bisa dua hingga tiga kali lipat gaji PNS golongan 3 A untuk 48 jam kerjaku selama sebulan. Padahal aku hanya kerja efektif selama 2 jam tiap hari di luar hari minggu, dengan pekerjaan dan waktu yang sangat fleksibel. Aku merasa kondisi yang mengakibatkan perempuan muda di pinggir jalan tadi tidak adil karena ia hanya seorang KORBAN. Apa yang membedakan ia tak mempunyai daya tawar yang sama denganku dan terpaksa harus merelakan masa mudanya habis di pinggir jalan menunggu para pembawa kendaraan berhenti sejenak mengisi bahan bakar? Aku benci sistem yang tak adil ini.
Aku benci para lelaki yang mungkin tinggal di rumah perempuan ini; entah bapaknya, entah suaminya, entah saudara lelakinya, yang mungkin penganut paham patriarki sejati bahwa merekalah TUAN di rumah yang harus dilayani. Yang mungkin tak mau tahu bagaimana keluarganya bisa makan hari ini asalkan ia dapat mempertahanku egonya sebagai lelaki dengan mabuk – mabukan, mentraktir teman – temannya makan dan dapat memenuhi kebutuhan biologisnya. Sedang perempuan ini dan mungkin perempuan – perempuan lainnya di rumah harus menjaga anak, mengerjakan pekerjaan domestik tetapi juga harus mencari tambahan penghasilan demi sebuah mangkuk bernama makanan di rumah. Padahal para lelaki di rumahnya SEHARUSNYA menjadi pelindung perempuan ini. Seharusnya mereka lah yang menelan debu – debu sialan itu dan bukan perempuan dan balita kecilnya ini.
Aku benci sistem ekonomi yang menyebabkan lahirnya perempuan – perempuan seperti ini. Kala yang kaya semakin kaya dan terus berpikir bagaimana membuat orang lain tergantung secara ekonomi kepada mereka, dengan menciptakan sebuah tatanan modern dan menjual gaya hidup dan label ‘modern’ kepada para miskin , yang membuat adanya lingkaran setan seperti ini. Kala perubahan tatanan masyarakat peramu bergeser, para perempuan yang dibesarkan di dalam lingkungan yang tak ramah perempuan, harus bertahan hidup dan melanjutkan kehidupan dan bertahan hidup dengan berkompetisi di dalam dunia yang asing bagi mereka. Saat biaya hidup semakin tinggi sedang mereka tak lagi bisa menggantungkan upaya bertahan hidup dari alam di sekeliling mereka dan tergantung pada pasokan ‘pasar’. Jalan satu – satunya adalah mengerjakan pekerjaan apapun, seberat apapun, walaupun akan ada dampak di masa depan; entah kesehatan, entah psikologis, entah fisik.
Aku benci kepada mereka khususnya yang menerima cipratan dana – dana Otonomi Khusus (otsus) yang mempunyai kapasitas melakukan perubahan untuk perempuan seperti ini tetapi memilih bungkam dan diam dan membiarkan lahirnya perempuan – perempuan seperti ini terus – menerus tanpa pernah berupaya melakukan sesuatu. Aku benci beberapa orang dari kaumku sendiri yang mungkin duduk di bagian pemberdayaan perempuan tetapi tak melakukan apa – apa dan hanya sibuk mengurus bagaimana penampilan mereka hari ini, bagaimana perawatan facial wajah mereka, apakah rambut rebonding mereka sudah harus diluruskan kembali, apakah gaun baru sudah harus dibeli bulan dan hal – hal tak penting lainnya dibandingkan memikirkan bagaimana bisa menciptakan sistem ataupun solusi untuk menghadirkan makanan yang layak bagi balita perempuan ini ataupun memberi solusi sederhana bagaimana perempuan ini bisa bekerja sementara ini di rumah tetapi ada pendapatan ekonomi bagi keluarganya sehingga ia tak harus menggadaikan kesehatannya di pinggir jalan pada malam dingin di kota dengan curah hujan yang tinggi seperti Manokwari.
Aku benci kepada sebagian orang yang SELALU bilang bahkan menurutku memberi harapan palsu pada perempuan – perempuan seperti ini dan keluarga perempuan bahwa keadilan sosial akan terjadi bila kondisi politik berubah; entah konstitusi, entah dasar negara, entah pemimpin, bila rohani perempuan ini ataupun keluarganya berubah total, bila negara – negara lain ataupun pihak asing memberikan bantuan TETAPI lupa bilang kalau perubahan ataupun kekuatan yang dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik berasal dari diri orang tersebut sendiri dengan sikap dan keteguhan hati yang tinggi untuk mengubah masalahnya menjadi sebuah kekuatan. Aku tak peduli tentang politik, agama ataupun bantuan asing karena aku percaya bila orang – orang di tanah ini sendiri mau saling membantu dan melepaskan sesama mereka dari lingkaran kemiskinan, maka tak akan ada lagi perempuan yang mengalaskan gerobak dorong sayur sebagai kasur balitanya di malam dingin seperti ini.
Aku tak benci politik atau afiliasi politik manapun, entah yang pro NKRI, entah yang pro OPM, entah komunis, karena yang aku tanyakan saat ini APAKAH KITA TERLALU SIBUK MEMIKIRKAN bagaimana SEBUAH NEGARA HINGGA LUPA MEMBANGUN SEBUAH BANGSA? Negara bisa berubah konstitusi dan berganti pemimpin. Negara hanya sebuah status politik yang terdiri atas wilayah, kekuasaan dan rakyatnya dan pengakuan politis lainnya TETAPI bangsa adalah makhluk hidup bernama manusia yang perlu makan, minum, kesehatan yang memadai demi melanjutkan pembelahan sel – sel tubuh mereka demi bertahan hidup.
Aku benci orang – orang sepertiku yang mengenyam pendidikan hingga di perguruan tinggi dan sibuk mencari gengsi dan status sosial di masyarakat agar bisa dibilang modern dan berpendidikan TETAPI tak menciptakan solusi apapun untuk perempuan dan orang – orang seperti ini di sekitar mereka. Misalnya saja apa yang sudah dibuat oleh para sarjana ekonomi di tanah ini demi peningkatan pendapatan orang – orang seperti perempuan ini? Apa yang sudah dihasilkan oleh banyaknya sarjana – sarjana pendidikan di tanah ini guna menciptakan sebuah sistem independen pendidikan yang dapat membuka pemahaman kritis agar rantai kehidupan seperti ini tak harus berulang, setidaknya menanamkan sebuah nilai bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu unsur melepaskan diri dari kemiskinan; tak usah banyak, ciptakan saja relawan baca tulis atau relawan program pendidikan apapun untuk anak – anak ataupun perempuan seperti ini. Agar mereka tak selalu dianggap rendah saat melamar pekerjaan di level yang tinggi karena tak bisa mengetik, menulis, komputer dll. Begitu juga para sarjana bidang ilmu lainnya. Apakah kita semua pemimpi pencari kerja PNS LUPA bahwa ilmu yang kita punya adalah sebuah titipan Tuhan hingga wajib kita kembangkan demi mengentaskan kemiskinan dan menolong sesama?
Mungkin aku terlalu banyak memrotes malam ini, sedikit kecewa dengan sistem, sedikit merasa tak nyaman dan merasa bersalah dengan perempuan ini saat aku masih mempunyai daya tawar yang tinggi. Entahlah ...
Satu yang kutahu, harus ada jalan keluar yang kita buat. Entah dalam bentuk besar, entah dalam bentuk kecil. Entah secara fisik ataupun spiritual. Entah doa, entah nyanyian, entah kritik sosial. Yang kutahu, lakukan apapun yang dapat aku dan saudara buat demi MEMUSEUMKAN kemiskinan di tanah ini. Agar tak ada lagi balita yang harus tertidur pulas di gerobak, tak ada lagi ibu muda yang menggadaikan kesehatan ‘tadah abu jalan’, tak ada lagi lingkaran setan kemiskinan di sekitar kita.
Yang aku tahu, aku akan melakukan apa yang dapat kubuat sesuai kapasitasku dalam waktu dekat ini karena tak ada lagi waktu menunggu.
Samar – samar kuingat lagi penggalan pengamatanku kala keluar dari tempat foto kopi tadi saat perempuan ini masih bisa tersenyum dan tertawa bercerita dengan sepasang pasangan muda lain suku di parkiran berdebu itu. Ah ia memang perempuan yang kuat. Terlalu perkasa. Salut!!!
Hidup cuma satu kali. PILIHAN APA YANG SUDAH KAU BUAT BAGI SESAMAMU HARI INI?
(Manokwari, 020311; 11.30 p.m.)
Hujan masih turun dengan deras, suhu mulai sedikit dingin dan aku bahkan bisa membaui aroma lembab dari luar jendela yang terbawa angin ke meja komputerku saat komputer jinjing ini berjumpalitan papan ketiknya. Aku membayangkan apa yang kulihat beberapa jam lalu. Selama ini aku bahkan tak sampai berpikiran bahwa realitanya memang seperti itu. Sedikit merasa sedih campur bersalah. Entahlah ... campur aduk. Yang pasti bayangan tadi masih belum bisa kutepis.
Beberapa jam lalu di pinggir sebuah jalan protokol Manokwari, di pinggir ruas jalan menuju Sanggeng, seorang perempuan Papua duduk di pinggir jalan, menelan debu – debu jalanan menunggui jualan bensin ecerannya berbotol – botol dalam botol mineral, saat aku berjalan masuk ke dalam sebuah tempat foto kopi. Sekilas aku tak terlalu memperhatikannya karena ia berada dalam tempat sombar yang terhalang cahaya lampu. Sibuk mengarahkan tukang fotokopi menyortir berkasku, aku memutuskan duduk dan melihat ke arah jalan. Mataku tertohok pada sosok perempuan ini dan sebuah benda yang tergeletak di sampingnya. Gerobak dorong! Iya, gerobak dorong yang sering dipakai di pasar – pasar tradisional. Aku kaget dan terdiam dan ada sesuatu yang pecah di hatiku dengan sebuah tanda tanya besar berjudul “Why?” ‘kenapa?’. Aku bukan orang yang bisa bereaksi dengan baik tapi aku paham ada bagian dari hatiku yang tak bisa menerima hal ini.
Panggil saja aku si melankolis. Tapi yang kulihat malam ini membukakan aku bahwa aku harus bersyukur untuk hidupku apapun itu. Malam ini, gerobak itu menyadarkanku untuk berhenti bersungut dan memaki – maki hidupku dan yang sedikit khawatir dengan statusku yang pengangguran banyak acara. Gerobak itu menjadi semacam pengingat. Ada apa dengan gerobak itu? Mungkin itu tanyamu.
Kulihat perempuan itu duduk di trotoar, tepatnya parkiran semen sebuah ruko di pinggir jalan protokol dengan beratapkan langit malam dan debu – debu jalanan. Seorang perempuan muda berkulit gelap yang kutaksir umurnya baru awal 20 tahunan. Tubuhnya diletakan begitu saja di atas sepotong karton dan tangannya sibuk menata gerobak. Ia tidak menata jualan bensinnya. Sama sekali tidak! Yang ia lakukan adalah dengan hati – hati meletakan beberapa potong kain panjang hingga berbentuk selimut hangat untuk meletakan balitanya yang hendak tidur. Ini bukan cerita rekaan yang kulihat di tanah ini. Aku sedikit terhenyak menyaksikan gerobak butut itu dijadikan alas tidur balitanya sedangkan debu jalanan sedang mengepul naik dari jalanan. Tiba – tiba aku benci KEMISKINAN! Sangat benci! Apalagi kemiskinan yang diakibatkan oleh sebuah ‘upaya sistematis’ dan ketidak pedulian sesama.
Aku terhenyak melihat fakta ini. Aku dan dia sama – sama perempuan. Sama – sama masih mempunyai gen berkulit gelap. Sama – sama tinggal di kota ini. Sama – sama mempunyai balita di rumah; ia dan anaknya dan aku bersama ke 4 keponakanku. Sama – sama belum menginjak usia 30 tahun. Dan kami mempunyai DAYA TAWAR (bargaining power) yang berbeda. Dan aku ingin menjerit bahwa ia hanya korban dari sebuah sistem saat ini; entah sistem patriarki, entah sistem ekonomi yang berlangsung saat ini, entah keadilan sosial, entah sistem – sistem lainnya yang intinya menciptakan lingkaran setan di mana perempuan – perempuan seperti ini akan terus menjadi KORBAN.
Aku terhenyak karena aku walaupun bukan seorang PNS ataupun karyawan swasta tetapi pekerja untuk diriku sendiri dan mencari penghasilan dari kemampuan akademikku yang tak terikat pada siapapun masih bisa membuat para klienku membayar cukup mahal. Aku masih mempunyai daya tawar untuk ‘memaksa’ para klienku berpikir bahwa aku tak akan rugi bila mereka tak membeli jasaku karena masih banyak klien potensial lainnya yang akan membayarku dengan harga yang lumayan yang bisa dua hingga tiga kali lipat gaji PNS golongan 3 A untuk 48 jam kerjaku selama sebulan. Padahal aku hanya kerja efektif selama 2 jam tiap hari di luar hari minggu, dengan pekerjaan dan waktu yang sangat fleksibel. Aku merasa kondisi yang mengakibatkan perempuan muda di pinggir jalan tadi tidak adil karena ia hanya seorang KORBAN. Apa yang membedakan ia tak mempunyai daya tawar yang sama denganku dan terpaksa harus merelakan masa mudanya habis di pinggir jalan menunggu para pembawa kendaraan berhenti sejenak mengisi bahan bakar? Aku benci sistem yang tak adil ini.
Aku benci para lelaki yang mungkin tinggal di rumah perempuan ini; entah bapaknya, entah suaminya, entah saudara lelakinya, yang mungkin penganut paham patriarki sejati bahwa merekalah TUAN di rumah yang harus dilayani. Yang mungkin tak mau tahu bagaimana keluarganya bisa makan hari ini asalkan ia dapat mempertahanku egonya sebagai lelaki dengan mabuk – mabukan, mentraktir teman – temannya makan dan dapat memenuhi kebutuhan biologisnya. Sedang perempuan ini dan mungkin perempuan – perempuan lainnya di rumah harus menjaga anak, mengerjakan pekerjaan domestik tetapi juga harus mencari tambahan penghasilan demi sebuah mangkuk bernama makanan di rumah. Padahal para lelaki di rumahnya SEHARUSNYA menjadi pelindung perempuan ini. Seharusnya mereka lah yang menelan debu – debu sialan itu dan bukan perempuan dan balita kecilnya ini.
Aku benci sistem ekonomi yang menyebabkan lahirnya perempuan – perempuan seperti ini. Kala yang kaya semakin kaya dan terus berpikir bagaimana membuat orang lain tergantung secara ekonomi kepada mereka, dengan menciptakan sebuah tatanan modern dan menjual gaya hidup dan label ‘modern’ kepada para miskin , yang membuat adanya lingkaran setan seperti ini. Kala perubahan tatanan masyarakat peramu bergeser, para perempuan yang dibesarkan di dalam lingkungan yang tak ramah perempuan, harus bertahan hidup dan melanjutkan kehidupan dan bertahan hidup dengan berkompetisi di dalam dunia yang asing bagi mereka. Saat biaya hidup semakin tinggi sedang mereka tak lagi bisa menggantungkan upaya bertahan hidup dari alam di sekeliling mereka dan tergantung pada pasokan ‘pasar’. Jalan satu – satunya adalah mengerjakan pekerjaan apapun, seberat apapun, walaupun akan ada dampak di masa depan; entah kesehatan, entah psikologis, entah fisik.
Aku benci kepada mereka khususnya yang menerima cipratan dana – dana Otonomi Khusus (otsus) yang mempunyai kapasitas melakukan perubahan untuk perempuan seperti ini tetapi memilih bungkam dan diam dan membiarkan lahirnya perempuan – perempuan seperti ini terus – menerus tanpa pernah berupaya melakukan sesuatu. Aku benci beberapa orang dari kaumku sendiri yang mungkin duduk di bagian pemberdayaan perempuan tetapi tak melakukan apa – apa dan hanya sibuk mengurus bagaimana penampilan mereka hari ini, bagaimana perawatan facial wajah mereka, apakah rambut rebonding mereka sudah harus diluruskan kembali, apakah gaun baru sudah harus dibeli bulan dan hal – hal tak penting lainnya dibandingkan memikirkan bagaimana bisa menciptakan sistem ataupun solusi untuk menghadirkan makanan yang layak bagi balita perempuan ini ataupun memberi solusi sederhana bagaimana perempuan ini bisa bekerja sementara ini di rumah tetapi ada pendapatan ekonomi bagi keluarganya sehingga ia tak harus menggadaikan kesehatannya di pinggir jalan pada malam dingin di kota dengan curah hujan yang tinggi seperti Manokwari.
Aku benci kepada sebagian orang yang SELALU bilang bahkan menurutku memberi harapan palsu pada perempuan – perempuan seperti ini dan keluarga perempuan bahwa keadilan sosial akan terjadi bila kondisi politik berubah; entah konstitusi, entah dasar negara, entah pemimpin, bila rohani perempuan ini ataupun keluarganya berubah total, bila negara – negara lain ataupun pihak asing memberikan bantuan TETAPI lupa bilang kalau perubahan ataupun kekuatan yang dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik berasal dari diri orang tersebut sendiri dengan sikap dan keteguhan hati yang tinggi untuk mengubah masalahnya menjadi sebuah kekuatan. Aku tak peduli tentang politik, agama ataupun bantuan asing karena aku percaya bila orang – orang di tanah ini sendiri mau saling membantu dan melepaskan sesama mereka dari lingkaran kemiskinan, maka tak akan ada lagi perempuan yang mengalaskan gerobak dorong sayur sebagai kasur balitanya di malam dingin seperti ini.
Aku tak benci politik atau afiliasi politik manapun, entah yang pro NKRI, entah yang pro OPM, entah komunis, karena yang aku tanyakan saat ini APAKAH KITA TERLALU SIBUK MEMIKIRKAN bagaimana SEBUAH NEGARA HINGGA LUPA MEMBANGUN SEBUAH BANGSA? Negara bisa berubah konstitusi dan berganti pemimpin. Negara hanya sebuah status politik yang terdiri atas wilayah, kekuasaan dan rakyatnya dan pengakuan politis lainnya TETAPI bangsa adalah makhluk hidup bernama manusia yang perlu makan, minum, kesehatan yang memadai demi melanjutkan pembelahan sel – sel tubuh mereka demi bertahan hidup.
Aku benci orang – orang sepertiku yang mengenyam pendidikan hingga di perguruan tinggi dan sibuk mencari gengsi dan status sosial di masyarakat agar bisa dibilang modern dan berpendidikan TETAPI tak menciptakan solusi apapun untuk perempuan dan orang – orang seperti ini di sekitar mereka. Misalnya saja apa yang sudah dibuat oleh para sarjana ekonomi di tanah ini demi peningkatan pendapatan orang – orang seperti perempuan ini? Apa yang sudah dihasilkan oleh banyaknya sarjana – sarjana pendidikan di tanah ini guna menciptakan sebuah sistem independen pendidikan yang dapat membuka pemahaman kritis agar rantai kehidupan seperti ini tak harus berulang, setidaknya menanamkan sebuah nilai bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu unsur melepaskan diri dari kemiskinan; tak usah banyak, ciptakan saja relawan baca tulis atau relawan program pendidikan apapun untuk anak – anak ataupun perempuan seperti ini. Agar mereka tak selalu dianggap rendah saat melamar pekerjaan di level yang tinggi karena tak bisa mengetik, menulis, komputer dll. Begitu juga para sarjana bidang ilmu lainnya. Apakah kita semua pemimpi pencari kerja PNS LUPA bahwa ilmu yang kita punya adalah sebuah titipan Tuhan hingga wajib kita kembangkan demi mengentaskan kemiskinan dan menolong sesama?
Mungkin aku terlalu banyak memrotes malam ini, sedikit kecewa dengan sistem, sedikit merasa tak nyaman dan merasa bersalah dengan perempuan ini saat aku masih mempunyai daya tawar yang tinggi. Entahlah ...
Satu yang kutahu, harus ada jalan keluar yang kita buat. Entah dalam bentuk besar, entah dalam bentuk kecil. Entah secara fisik ataupun spiritual. Entah doa, entah nyanyian, entah kritik sosial. Yang kutahu, lakukan apapun yang dapat aku dan saudara buat demi MEMUSEUMKAN kemiskinan di tanah ini. Agar tak ada lagi balita yang harus tertidur pulas di gerobak, tak ada lagi ibu muda yang menggadaikan kesehatan ‘tadah abu jalan’, tak ada lagi lingkaran setan kemiskinan di sekitar kita.
Yang aku tahu, aku akan melakukan apa yang dapat kubuat sesuai kapasitasku dalam waktu dekat ini karena tak ada lagi waktu menunggu.
Samar – samar kuingat lagi penggalan pengamatanku kala keluar dari tempat foto kopi tadi saat perempuan ini masih bisa tersenyum dan tertawa bercerita dengan sepasang pasangan muda lain suku di parkiran berdebu itu. Ah ia memang perempuan yang kuat. Terlalu perkasa. Salut!!!
Hidup cuma satu kali. PILIHAN APA YANG SUDAH KAU BUAT BAGI SESAMAMU HARI INI?
(Manokwari, 020311; 11.30 p.m.)
Aksi hijau di ruang kerja
Catatan ini sa salin langsung dari majalah Reader’s Digest Indonesia edisi lingkungan hidup beberapa tahun lalu. Tra ada perubahan apapun pada isi tulisan. Sa suka skali sama tulisan ini jadi sa pikir layak untuk sa bagikan di sini.
Tabea,
D. M.
***
AKSI HIJAU DI RUANG KERJA
Oleh Dalyanta Sembiring
Sebelum bumi terpanggang pemanasan global, selamatkanlah planet ini dari balik meja kerja anda.
Tak disangkal lagi, kertas sudah begitu lekat dengan kehidupan kita. Sejak pagi, kita sudah ‘mengonsumsi’ kertas, seperti membaca koran, menggunakan tisu, membayar dengan uang kertas, menerima karcis tol, mencetak puluhan lembar laporan di kantor, hingga membaca majalah sebelum tidur. Tak heran, 20, 5 % total sampah warga Jakarta adalah sampah kertas.
Selain rumah tangga, kantor – kantor juga merupakan salah satu penghasil sampah kertas yang relatif besar. Padahal, untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun. Untuk penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Nah, berapa batang pohon yang ‘ditebang’ kantor anda setiap bulan? Berapa sumber oksigen yang lenyap akibat penggunaan kertas yang tak terkendali?
Namun aksi penyelamatan bumi bukan sekedar penghematan kertas saja. Agar bumi tak semakin panas, simak beberapa tip tentang ‘perilaku hijau’ di kantor.
• Cek Dokumen Sebelum Cetak
Tip paling mendasar, periksalah dokumen sebelum anda mencetaknya. Ini untuk menghindari kertas yang terbuang akibat kesalahan ketik, lupa nomor halaman, atau salah mencetak ukuran gambar. Jika anda menggunakan program Microsof Word maupun sejenisnya, gunakan fasilitas Print Preview sehingga dapat melihat dokumen secara keseluruhan. Jika tidak diperlukan, gambar maupun foto dalam dokumen bisa dibuang untuk menghemat penggunaan kertas dan tinta printer. Begitu pula saat mencetak e-mail.
• Pakai Laptop Dan Proyektor
Dibandingkan desktop, laptop mengonsumsi daya yang lebih sedikit. Karena itu, sebaiknya gunakan perangkat kecil ini saat anda bekerja di mana saja atau mengadakan rapat. Yang terpenting, pasanglah proyektor di ruang rapat. Alat ini dapat memangkas peran kertas yang harus didistribusikan saat rapat. Alat ini dapat memangkas peran kertas yang harus didistribusikan saat rapat. Setelah rapat, anda dapat mendistribusikannya via e-mail.
• Manfaatkan Kertas Bekas
Simpanlah kertas bekas yang bagian belakangnya belum terpakai. Untuk menyimpan kertas bekas, letakkan kotak khusus di samping printer atau mesin fotokopi. Anda dapat memanfaatkan kertas – kertas itu untuk mencetak dokumen yang tak terlalu penting atau mengirim faks. Kertas bekas yang tidak lecek dan hanya berisi teks dapat diproses dengan baik oleh printer. Kertas yang lecek atau berisi gambar penuh tinta dalam satu halaman bisa membuat aliran kertas di dalam printer menjadi macet.
Ini juga berlaku untuk penggunaan amplop besar maupun kecil bekas pakai. Agar dapat juga digunakan lagi, jangan mencoret amplop untuk keperluan internal (antar divisi) dengan spidol atau bolpen. Gunakan kertas kecil dari kertas bekas untuk menulis nama dan lokasi penerima, dan tempelkan pada amplop tersebut. Cara ini dapat menghemat penggunaan amplop dalam kantor.
• Gunakan Kertas Daur Ulang
Usulkan ke kantor anda agar mau menggunakan kertas yang dapat didaur ulang. Perhatikan logo yang terdapat dalam kemasan kertas. Menurut Friends of the Earth (www.foe.org) industri kertas dan pulp merupakan konsumen energi peringkat lima terbesar di dunia. Produksi kertas daur ulang mampu menghemat 70 % energi daripada kertas biasa.
• Cetak Satu Lembar
Anda juga dapat menggunakan fasilitas khusus pada printer, misalnya fitur duplexer untuk mencetak bolak – balik. Gunakan program khusus untuk mencetak dua halaman atau lebih dalam satu lembar. Program seperti Fine Print (www.fineprint.com) dapat mendukung anda, jika printer tidak menyediakan fasilitas ini. saat mencetak file presentasi dalam format Microsoft Power Point maupun PDF, anda dapat menampilkan beberapa halaman dalam satu lembar. Pilih Black and White jika warna tidak menjadi masalah saat mencetak. Tip ini juga dapat menghemat staple yang biasa anda pakai untuk menyatukan dokumen. Menurut Friends of the Earth, jika setiap orang hanya menggunakan satu staple saja setiap hari, maka langkah ini dapat mengurangi penggunaan 120 ton baja selama setahun.
• Makan Yang Lokal
Saat makan siang, cobalah memesan menu yang dibuat dari bahan – bahan lokal. Langkah in akan mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengirim bahan makanan. Bahan makanan yang segar juga dapat menghemat energi karena membutuhkan lebih sedikit pembungkus atau tanpa melewati proses pengawetan/ pendinginan agar tahan lama. Setelah makan, cucilah tangan dan hindari penggunaan tisu yang berlebihan. Manfaatkan pengering tangan ataupun lap kain jika tempat makan favorit anda menyediakannya. Ssst ... jangan mencari tempat makan yang jauh dari kantor, ya.
• Perhatikan Cahaya Ruangan
Saat menata ruang kerja, hindari penempatan filling cabinet, lemari atau tirai yang dapat menghalangi cahaya lampu ke seluruh ruangan secara permanen. Jika anda bekerja dalam ruang khusus, buatlah agar sinar dari luar masuk secara maksimal, seperti matahari dan cahaya lampu. Gunakan lampu yang hemat energi, dan matikan saat tak ada yang membutuhkannya.
• Matikan Monitor
Jika anda pergi selama beberapa menit dari meja kerja, matikanlah monitor komputer. Penggunaan screen saver hanya untuk mengamankan monitor, dan bukan untuk menghemat energi. Saat anda pergi rapat atau berkunjung ke kantor klien, matikanlah komputer. Untuk pengaturan otomatis, agar monitor non- aktif, klik Start| Control panel | Display | Screen saver | Power
• Bertemu Lewat Video Conference
Jika memungkinkan, manfaatkan teknologi video conference untuk pertemuan virtual dengan rekan kerja di luar negeri atau luar kota. Dengan cara ini anda telah membuat penghematan besar karena tak harus mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi.
• Pilih produk hemat energi
Saat memilih barang – barang untuk kantor, pastikan bahwa produk tersebut hemat energi. Salah satu cara memastikannya adalah menemukan logo Energy Star pada produk. Energy star adalah program pelabelan yang didesain Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat untuk mengidentifikasi dan mempromosikan produk – produk yang hemat energi demi mengurasi emisi gas. Energy star dapat anda temui pada berbagai produk, seperti lemari pendingin, ponsel, komputer hingga AC. Dengan penggunaan produk yang mendukung energy star, anda dapat menghemat penggunaan energi hingga 30 % per tahun tanpa mengorbankan fungsi, kenyamanan, dan gaya. Jangan lupa mematikan printer atau mesin fotokopi saat seluruh penghuni kantor sudah pulang.
• Atur suhu AC
AC atau air conditioner mengonsumsi energi cukup besar di kantor. Karena itu pemakaiannya harus bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Hidupkan AC hanya bila ruangan akan digunakan, dan jangan diaktifkan bila tidak dipakai lebih dari 15 menit. Saat menghidupkan AC, listrik naik cukup drastis. Setelah itu, listrik turun kembali. Karena itu jangan terlalu sering mematikan dan menghidupkan AC. Aturlah pada suhu sekitar 24 derajat Celsius, yang merupakan perbandingan terbaik antara tingkat kesejukan dan penghematan listrik. Jangan biarkan ruang dalam keadaan terbuka saat AC menyala agar mesin tidak bekerja terlalu keras untuk mendinginkan. Yang terpenting, lakukan perawatan AC secara rutin untuk menghindari jamur dan akteri yang bersarang di filter udara.
• Mengisi baterai ponsel
Saat bekerja, anda mungkin sering membiarkan ponsel terhubung ke listrik untuk mengisi baterai menggunakan charger. Kadang anda melupakan ponsel dan charger itu sepanjang hari karena tenggelam dengan kesibukan kerja. Sebaiknya hilangkan kebiasaan ini, matikan charger setelah baterai terisi penuh. Salah satu produsen ponsel, Nokia, memperkirakan bahwa dua per tiga energi ponsel menguap begitu saja ketika baterai terus menerus terisi energi karena saklar yang mengalirkan energi tidak dicabut.
• Tambahkan pesan penyelamatan bumi
Agar pesan penyelamatan terhadap bumi terus menggema di mana saja, cobalah tambahkan teks “Selamatkan pohon – jangan cetak e-mail ini kecuali anda membutuhkannya” atau pesan sejenis pada baris terakhir e-mail anda. Langkah seperti ini dapat berdampak luas dan dimulai dari orang – orang yang dekat dengan anda.
(Sumber: Reader’s Digest Indonesia edisi khusus lingkungan/2008)
Tabea,
D. M.
***
AKSI HIJAU DI RUANG KERJA
Oleh Dalyanta Sembiring
Sebelum bumi terpanggang pemanasan global, selamatkanlah planet ini dari balik meja kerja anda.
Tak disangkal lagi, kertas sudah begitu lekat dengan kehidupan kita. Sejak pagi, kita sudah ‘mengonsumsi’ kertas, seperti membaca koran, menggunakan tisu, membayar dengan uang kertas, menerima karcis tol, mencetak puluhan lembar laporan di kantor, hingga membaca majalah sebelum tidur. Tak heran, 20, 5 % total sampah warga Jakarta adalah sampah kertas.
Selain rumah tangga, kantor – kantor juga merupakan salah satu penghasil sampah kertas yang relatif besar. Padahal, untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun. Untuk penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Nah, berapa batang pohon yang ‘ditebang’ kantor anda setiap bulan? Berapa sumber oksigen yang lenyap akibat penggunaan kertas yang tak terkendali?
Namun aksi penyelamatan bumi bukan sekedar penghematan kertas saja. Agar bumi tak semakin panas, simak beberapa tip tentang ‘perilaku hijau’ di kantor.
• Cek Dokumen Sebelum Cetak
Tip paling mendasar, periksalah dokumen sebelum anda mencetaknya. Ini untuk menghindari kertas yang terbuang akibat kesalahan ketik, lupa nomor halaman, atau salah mencetak ukuran gambar. Jika anda menggunakan program Microsof Word maupun sejenisnya, gunakan fasilitas Print Preview sehingga dapat melihat dokumen secara keseluruhan. Jika tidak diperlukan, gambar maupun foto dalam dokumen bisa dibuang untuk menghemat penggunaan kertas dan tinta printer. Begitu pula saat mencetak e-mail.
• Pakai Laptop Dan Proyektor
Dibandingkan desktop, laptop mengonsumsi daya yang lebih sedikit. Karena itu, sebaiknya gunakan perangkat kecil ini saat anda bekerja di mana saja atau mengadakan rapat. Yang terpenting, pasanglah proyektor di ruang rapat. Alat ini dapat memangkas peran kertas yang harus didistribusikan saat rapat. Alat ini dapat memangkas peran kertas yang harus didistribusikan saat rapat. Setelah rapat, anda dapat mendistribusikannya via e-mail.
• Manfaatkan Kertas Bekas
Simpanlah kertas bekas yang bagian belakangnya belum terpakai. Untuk menyimpan kertas bekas, letakkan kotak khusus di samping printer atau mesin fotokopi. Anda dapat memanfaatkan kertas – kertas itu untuk mencetak dokumen yang tak terlalu penting atau mengirim faks. Kertas bekas yang tidak lecek dan hanya berisi teks dapat diproses dengan baik oleh printer. Kertas yang lecek atau berisi gambar penuh tinta dalam satu halaman bisa membuat aliran kertas di dalam printer menjadi macet.
Ini juga berlaku untuk penggunaan amplop besar maupun kecil bekas pakai. Agar dapat juga digunakan lagi, jangan mencoret amplop untuk keperluan internal (antar divisi) dengan spidol atau bolpen. Gunakan kertas kecil dari kertas bekas untuk menulis nama dan lokasi penerima, dan tempelkan pada amplop tersebut. Cara ini dapat menghemat penggunaan amplop dalam kantor.
• Gunakan Kertas Daur Ulang
Usulkan ke kantor anda agar mau menggunakan kertas yang dapat didaur ulang. Perhatikan logo yang terdapat dalam kemasan kertas. Menurut Friends of the Earth (www.foe.org) industri kertas dan pulp merupakan konsumen energi peringkat lima terbesar di dunia. Produksi kertas daur ulang mampu menghemat 70 % energi daripada kertas biasa.
• Cetak Satu Lembar
Anda juga dapat menggunakan fasilitas khusus pada printer, misalnya fitur duplexer untuk mencetak bolak – balik. Gunakan program khusus untuk mencetak dua halaman atau lebih dalam satu lembar. Program seperti Fine Print (www.fineprint.com) dapat mendukung anda, jika printer tidak menyediakan fasilitas ini. saat mencetak file presentasi dalam format Microsoft Power Point maupun PDF, anda dapat menampilkan beberapa halaman dalam satu lembar. Pilih Black and White jika warna tidak menjadi masalah saat mencetak. Tip ini juga dapat menghemat staple yang biasa anda pakai untuk menyatukan dokumen. Menurut Friends of the Earth, jika setiap orang hanya menggunakan satu staple saja setiap hari, maka langkah ini dapat mengurangi penggunaan 120 ton baja selama setahun.
• Makan Yang Lokal
Saat makan siang, cobalah memesan menu yang dibuat dari bahan – bahan lokal. Langkah in akan mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengirim bahan makanan. Bahan makanan yang segar juga dapat menghemat energi karena membutuhkan lebih sedikit pembungkus atau tanpa melewati proses pengawetan/ pendinginan agar tahan lama. Setelah makan, cucilah tangan dan hindari penggunaan tisu yang berlebihan. Manfaatkan pengering tangan ataupun lap kain jika tempat makan favorit anda menyediakannya. Ssst ... jangan mencari tempat makan yang jauh dari kantor, ya.
• Perhatikan Cahaya Ruangan
Saat menata ruang kerja, hindari penempatan filling cabinet, lemari atau tirai yang dapat menghalangi cahaya lampu ke seluruh ruangan secara permanen. Jika anda bekerja dalam ruang khusus, buatlah agar sinar dari luar masuk secara maksimal, seperti matahari dan cahaya lampu. Gunakan lampu yang hemat energi, dan matikan saat tak ada yang membutuhkannya.
• Matikan Monitor
Jika anda pergi selama beberapa menit dari meja kerja, matikanlah monitor komputer. Penggunaan screen saver hanya untuk mengamankan monitor, dan bukan untuk menghemat energi. Saat anda pergi rapat atau berkunjung ke kantor klien, matikanlah komputer. Untuk pengaturan otomatis, agar monitor non- aktif, klik Start| Control panel | Display | Screen saver | Power
• Bertemu Lewat Video Conference
Jika memungkinkan, manfaatkan teknologi video conference untuk pertemuan virtual dengan rekan kerja di luar negeri atau luar kota. Dengan cara ini anda telah membuat penghematan besar karena tak harus mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi.
• Pilih produk hemat energi
Saat memilih barang – barang untuk kantor, pastikan bahwa produk tersebut hemat energi. Salah satu cara memastikannya adalah menemukan logo Energy Star pada produk. Energy star adalah program pelabelan yang didesain Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat untuk mengidentifikasi dan mempromosikan produk – produk yang hemat energi demi mengurasi emisi gas. Energy star dapat anda temui pada berbagai produk, seperti lemari pendingin, ponsel, komputer hingga AC. Dengan penggunaan produk yang mendukung energy star, anda dapat menghemat penggunaan energi hingga 30 % per tahun tanpa mengorbankan fungsi, kenyamanan, dan gaya. Jangan lupa mematikan printer atau mesin fotokopi saat seluruh penghuni kantor sudah pulang.
• Atur suhu AC
AC atau air conditioner mengonsumsi energi cukup besar di kantor. Karena itu pemakaiannya harus bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Hidupkan AC hanya bila ruangan akan digunakan, dan jangan diaktifkan bila tidak dipakai lebih dari 15 menit. Saat menghidupkan AC, listrik naik cukup drastis. Setelah itu, listrik turun kembali. Karena itu jangan terlalu sering mematikan dan menghidupkan AC. Aturlah pada suhu sekitar 24 derajat Celsius, yang merupakan perbandingan terbaik antara tingkat kesejukan dan penghematan listrik. Jangan biarkan ruang dalam keadaan terbuka saat AC menyala agar mesin tidak bekerja terlalu keras untuk mendinginkan. Yang terpenting, lakukan perawatan AC secara rutin untuk menghindari jamur dan akteri yang bersarang di filter udara.
• Mengisi baterai ponsel
Saat bekerja, anda mungkin sering membiarkan ponsel terhubung ke listrik untuk mengisi baterai menggunakan charger. Kadang anda melupakan ponsel dan charger itu sepanjang hari karena tenggelam dengan kesibukan kerja. Sebaiknya hilangkan kebiasaan ini, matikan charger setelah baterai terisi penuh. Salah satu produsen ponsel, Nokia, memperkirakan bahwa dua per tiga energi ponsel menguap begitu saja ketika baterai terus menerus terisi energi karena saklar yang mengalirkan energi tidak dicabut.
• Tambahkan pesan penyelamatan bumi
Agar pesan penyelamatan terhadap bumi terus menggema di mana saja, cobalah tambahkan teks “Selamatkan pohon – jangan cetak e-mail ini kecuali anda membutuhkannya” atau pesan sejenis pada baris terakhir e-mail anda. Langkah seperti ini dapat berdampak luas dan dimulai dari orang – orang yang dekat dengan anda.
(Sumber: Reader’s Digest Indonesia edisi khusus lingkungan/2008)
Andai Yokbet jadi TKW
Sa pu nama Yokbet. Panggil saja Beth biar gaul ka ini. Sa pu fam kayaknya tra perlu sa pasang di sini, bukan karena tra bangga tapi memang sa mo lindungi identitas ka ini, kan tra enak kalo lawan baca ka ini. Hari ini sa mo tulis tentang sa pu mimpi kalo seandainya tamat SMA ini sa pi cari kerja di luar negeri. Orang yang sekolah tinggi – tinggi tuh dong bilang jadi tenaga kerja wanita ka TKW tuh. Sa kapala dengar di televisi kalo itu orang – orang yang pi kerja di luar negeri sana ka itu. Katanya dong itu pahlawan devisa bagi negara ini, katanya sumbang – sumbang Indonesia pu pendapatan ka ini. Tapi macam sa lihat – lihat itu kebanyakan dong dari bagian barat negara ini, mangkali karna dong memang su trada harapan kerja dalam negeri ka mangkali lain memang mo jalan – jalan ke luar negeri atau memang pekerjaan su takancing di dong pu tempat tinggal. Kayaknya memang dong bukan orang – orang yang pi cari bia ka tokok sagu atau cari makanan di hutan. Sa dengar – dengar karena dong pu tempat tinggal memang hutan su trada jadi masyarakat tra bisa tahan hidup dari alam. Adoooh padahal kalo hutan dan dong pu laut masih ada, mangkali dong tra susah cari makan sampe harus pi ke luar negeri ka ke negara – negara padang pasir sana kapa eee.
Sa tuh kapala bayangkan kalo sa yang pi daftar jadi TKW ka ini. Adoh karena sa masih skolah di SMA, sa bayangkan deng ijazah macam ini, sa palingan kerja tuh jadi pembantu ka ini, orang yang skolah tinggi kasi halus akan deng bilang itu ‘pramuwisma’ ka ini padahal de pu kerjaan sama too. Ko sapu dan slaber lantai, ko urus masak, jaga anak kecil sampe kadang ko mata urep karna duduk jaga rumah sambil strika pakaian fol – fol lagi. Belum ko stavel pakaian kotor apalagi kalo ada anak bayi di rumah majikan, sa yakin pasti bantu bujuk anak kecil de tidur. Mungkin memang barang itu kerjaan tra papa suda, yang penting itu uang de halal ka ini daripada pi korupsi ka ini.
Btw, sa tuh bayangkan kalo cuma kerjaan begitu mangkali sa juga bisa. Tapi kalo sa nonton TV, mamayooo, macam yang sa dengar tuh pemerintah dong telantarkan para TKW ka ini. Adooh ada yang dapa strika, dapa lap sampe dapa potong ka ini, malahan ada yang tewas ka ini. Apalagi yang parah tuh yang dapa perkosa ka ini. baru pemerintah ko tra bikin apa – apa ka ini. Dong bilang itu tenaga ilegal lah, trada surat – surat ka ini. Bahkan sa beberapa bulan lalu nonton tuh ada yang Arab sana dong tinggal di lorong – lorong bawah jembatan su hampir 1 tahun ka ini padahal ada yang pu anak kecil ka ini. Tapi sa heran kenapa pemerintah dong bisa kasi tumpangan pesawat gratis beberapa kali sampe ada juga katanya bantuan biaya hidup untuk 3 bulan untuk orang – orang Indonesia yang dari konflik Mesir ka itu. Yang katanya karna dong kuliah di salah satu universitas besar di negeri piramida. Sa langsung toki testa suda mo, masa hanya beda status perlakuan beda tuh. Padahal kalo lihat, yang kasi uang untuk negara nih dan secara tra langsung bayar biaya – biaya operasional macam antar – antar mahasiswa tuh kan para TKW dan TKI lainnya tooo. Mangkali memang negara nih de tra anggap TKW tuh manusia kapa eee. Tiba – tiba sa bayangkan kalo sa yang jadi TKW ka ini *tahan poro mode: ON
Adoh kalo sa jadi TKW tuh, pasti pace ka mace majikan sa kasi dong juga tiarap ka ini kalo dong mo siksa sa ka ini. Sa pu spir yang kapala panggayuh ini jang sampe tiba di dong pu muka ka ini. Mungkin sa memang belum tamat SMA tapi kalo sampe sa yang jadi TKW, adoooh mangkali sa yang tindas majikan dong kapa eee. Sa kerja tapi jang dong bikin gerakan tambahan suda. Sa masih pu harga diri dan sa cinta kebebasan ka ini.
Mangkali kalo sa pu rencana su begini, kalo sa lamar TKW mangkali dong langsung tolak kapa eee.
Sa dari tadi cuma bisa tertawa dalam hati sambil bayangkan kalo sa yang balik tindas majikan, mangkali besok di TV Indonesia, akan ada cerita baru dari TKW versi Yokbet kapa eee.
Ah andai saja sa jadi TKW ..... *sekali-lagi-tahan-poro mode: ON
(Manokwari, 260211; sambil ingat diskusi tahan poro deng anana Pandanus)
Sa tuh kapala bayangkan kalo sa yang pi daftar jadi TKW ka ini. Adoh karena sa masih skolah di SMA, sa bayangkan deng ijazah macam ini, sa palingan kerja tuh jadi pembantu ka ini, orang yang skolah tinggi kasi halus akan deng bilang itu ‘pramuwisma’ ka ini padahal de pu kerjaan sama too. Ko sapu dan slaber lantai, ko urus masak, jaga anak kecil sampe kadang ko mata urep karna duduk jaga rumah sambil strika pakaian fol – fol lagi. Belum ko stavel pakaian kotor apalagi kalo ada anak bayi di rumah majikan, sa yakin pasti bantu bujuk anak kecil de tidur. Mungkin memang barang itu kerjaan tra papa suda, yang penting itu uang de halal ka ini daripada pi korupsi ka ini.
Btw, sa tuh bayangkan kalo cuma kerjaan begitu mangkali sa juga bisa. Tapi kalo sa nonton TV, mamayooo, macam yang sa dengar tuh pemerintah dong telantarkan para TKW ka ini. Adooh ada yang dapa strika, dapa lap sampe dapa potong ka ini, malahan ada yang tewas ka ini. Apalagi yang parah tuh yang dapa perkosa ka ini. baru pemerintah ko tra bikin apa – apa ka ini. Dong bilang itu tenaga ilegal lah, trada surat – surat ka ini. Bahkan sa beberapa bulan lalu nonton tuh ada yang Arab sana dong tinggal di lorong – lorong bawah jembatan su hampir 1 tahun ka ini padahal ada yang pu anak kecil ka ini. Tapi sa heran kenapa pemerintah dong bisa kasi tumpangan pesawat gratis beberapa kali sampe ada juga katanya bantuan biaya hidup untuk 3 bulan untuk orang – orang Indonesia yang dari konflik Mesir ka itu. Yang katanya karna dong kuliah di salah satu universitas besar di negeri piramida. Sa langsung toki testa suda mo, masa hanya beda status perlakuan beda tuh. Padahal kalo lihat, yang kasi uang untuk negara nih dan secara tra langsung bayar biaya – biaya operasional macam antar – antar mahasiswa tuh kan para TKW dan TKI lainnya tooo. Mangkali memang negara nih de tra anggap TKW tuh manusia kapa eee. Tiba – tiba sa bayangkan kalo sa yang jadi TKW ka ini *tahan poro mode: ON
Adoh kalo sa jadi TKW tuh, pasti pace ka mace majikan sa kasi dong juga tiarap ka ini kalo dong mo siksa sa ka ini. Sa pu spir yang kapala panggayuh ini jang sampe tiba di dong pu muka ka ini. Mungkin sa memang belum tamat SMA tapi kalo sampe sa yang jadi TKW, adoooh mangkali sa yang tindas majikan dong kapa eee. Sa kerja tapi jang dong bikin gerakan tambahan suda. Sa masih pu harga diri dan sa cinta kebebasan ka ini.
Mangkali kalo sa pu rencana su begini, kalo sa lamar TKW mangkali dong langsung tolak kapa eee.
Sa dari tadi cuma bisa tertawa dalam hati sambil bayangkan kalo sa yang balik tindas majikan, mangkali besok di TV Indonesia, akan ada cerita baru dari TKW versi Yokbet kapa eee.
Ah andai saja sa jadi TKW ..... *sekali-lagi-tahan-poro mode: ON
(Manokwari, 260211; sambil ingat diskusi tahan poro deng anana Pandanus)
Subscribe to:
Posts (Atom)