Search This Blog

Loading...

Saturday, 26 February 2011

Tips hemat energi di rumah

TIPS HEMAT ENERGI DI RUMAH

Berikut ini saya lampirkan tips – tips yang bisa kita lakukan di rumah demi menghemat energi. Apalagi di kota saya, Manokwari sumber energi utama (baca: listrik) adalah dari diesel yang jelas merupakan bahan bakar fosil. Tips ini disadur dari Reader’s Digest Indonesia edisi Khusus lingkungan tahun 2008.


PENERANGAN

• Optimalkan penggunaan cahaya alami di rumah. Buka lebar – lebar jendela, dan matikan semua lampu di siang hari.
• Gunakan bohlam dari bahan Compact Fluorescent Light (CFL), yang menggunakan energi hanya 20% dari bohlam biasa, dan 10 kali lipat lebih panjang rentang umurnya sebelum harus diganti.
• Menggunakan beberapa titik lampu dengan daya rendah akan lebih menghemat energi ketimbang bergantung dengan satu titik saka, namun berdaya besar. Selain itu, penerangan dari berbagai titik akan memudahkan mata anda melihat sekitar.

SETRIKA LISTRIK

• Bersihkan bagian bawah setrika dari kerak/ kotoran agar tidak mengganggu proses penghantaran panas ke pakaian, dan memperpanjang umur alat anda.
• Gunakan setrika otomatis karena lebih hemat listrik.
• Atur tingkat panas setrika listrik sesuai dengan jenis kain yang disetrika.

POMPA AIR

• Gunakan poma air hanya untuk mengisi tempat penampungan air, bukan untuk menyalurkan air.
• Gunakan penampung air otomatis sehingga aliran listrik akan terputus/ pompa berhenti bekerja jika bak sudah penuh.
• Berhematlah dalam penggunaan air. Biasakan melakukan cek rutin untuk kebocoran pada keran atau pipa.
• Gunakan shower ketimbang gayung karena lebih menghemat air, tapi selalu pastikan bak mandi terisi penuh, jika sewaktu – waktu daerah rumah anda tertimpa giliran pemadaman aliran listrik.

PENDINGIN RUANGAN

• Penggunaan listrik untuk AC mencapai 35 % dari konsumsi listrik seluruh rumah. Matikan AC bila tidak digunakan.
• Atur suhu AC sesuai kebutuhan. Sebaiknya tidak lebih dingin lima derajat Celsius dari suhu luar karena semakin dingin suhu, maka semakin banyak energi listrik yang diperlukan.
• Hindari kebocoran udara luar, dan gunakan kenop waktu untuk mengatur pemakaian sesuai kebutuhan anda.

LEMARI ES

• Pintu lemari es harus ditutup rapat dan hanya dibuka seperlunya.
• Jangan masukan makanan dan minuman yang masih panas ke dalam lemari es.
• Jauhkan lemari es dari sumber panas karena akan mengganggu proses pendinginan di dalamnya.
• Isilah lemari es secukupnya. Lemari es yang diisi terlalu penuh akan menghalangi sirkulasi udara pendingin di dalam.
• Bersihkan kondensor secara teratur.

PERALATAN HIBURAN ELEKTRONIK

• Matikan tlevisi, stereo, komputer, dan peranti elektronik lain sepenuhnya ketika akan meninggalkan ruangan. Apabila peranti tersebut masih dalam mode stand-by, maka listrik akan terus dikonsumsi.
• Pasang timer ketika menonton di malam hari agar apabila anda tertidur, peranti itu tidak menyala sepanjang malam.


TAHUKAH KAMU??

Perangkat elektronik apa yang mengonsumsi listrik paling besar di rumah?
(sumber: www.wwf.or.id)

• Pendingin ruangan 38 %
• Komputer 10 %
• Penanak nasi 10 %
• Mesin cuci 9 %
• Setrika 9 %
• Pompa air 6 %
• Lampu 5 %
• Pemanas air 4 %
• Kipas angin 3 %
• Lemari es dan televisi 2 %
• Radio/tape 1 %
• Perlengkapan lain 3 %

Cerpen: Peti

Prolog

Setahun telah berlalu sejak kutinggalkan kota ini. Hari aku kembali lagi untuk bertemu dia yang telah dipeluk bumi. Hari ini hari kematiannya dan aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Entahlah ... banyak yang hendak kukatakan.

***
Manokwari
Akhir Januari 2011

“Rhe, ko jadi datang to ke Jayapura? Tong mo bikin ibadah pengucapan syukur setahun terpanggilnya kaka Anis. Datang ya ...”, suara mama ade Yako di ujung telpon.

“Iyo made, nan sa datang. Sa cek sa pu jadwal kerja dulu eee, kalo sa bos ijinkan sa datang ee”, jawabku.

Mama Yako menelponku seminggu lalu. Mama Yako yang sepupunya ibuku mungkin salah satu mama adeku yang mengerti bagaimana aku kehilangan Anis. Anis mungkin lelaki yang cukup dekat denganku bahkan mungkin aku pernah jatuh cinta padanya walau aku tahu bahwa cinta seperti itu terlarang. Lelaki berambut keriting dan berkulit Kopi Moka ini adalah anak mama Yako dan hanya dua tahun lebih tua dari diriku. Ia teman masa kecilku dan seseorang yang sangat memahamiku walau aku tak pernah tahu apa ia menyimpan perasaan yang sama denganku hingga kepulangannya. Yang aku tahu, setahun lalu, ia ditemukan terbunuh secara misterius usai mengikuti rapat para aktivis HAM di Jayapura. Sayangnya hingga setahun kepergiannya, aku tak pernah mendengar penyelidikan kematiannya berbuah sebuah penjelasan kepada keluarga, apalagi kepadaku. Semuanya gelap.

Kulihat sepotong kenangan masa kecil bersama Anis dalam selembar foto lusuh yang selalu kusimpan di dalam dompetku. Tawanya masih tetap terasa basah dalam ingatan. Apalagi semangatnya yang selalu menggebu – gebu kala menjelaskan tentang ketidakadilan di tanah ini apalagi yang terkait dengan Hak Asasi Manusia. ‘Ah Anis pasti akan jadi seorang pengacara hebat kelak’, kataku sejak kecil. Tapi semuanya menjadi kelabu kala setahun lalu, telpon Mama Yako di pagi hari mengagetkanku.

“Rhe, kuat eee, kaka Anis su tidak ada. Kaka Anis su pulang”, penjelasan yang singkat diselingi dengan desahan napas yang berat berisi duka. Suara mama Yako pun berlanjut dengan detail kematian Anis dan rencana pemakaman. Aku ingat kala itu aku hanya bisa beku. Diam. Duniaku jungkir balik. Di hari yang sama, aku mencari tiket penerbangan ke Jayapura dan untunglah ada sebuah seat kosong yang kuperoleh.

Yang aku ingat, Anis begitu tampan berada di dalam peti hitam itu. Hatiku pun kututup untuk cinta seiring peti itu tertutup dan tertimbun tanah.

***

Jayapura
Februari 2011

Jayapura terasa panas disengat bola panas yang berpijar di angkasa. Peluh sedari tadi mengucur deras di dalam taksi yang membawaku dari Sentani ke Kotaraja. Makin hari kota ini makin panas dan berdebu, batinku. Pembangunan di sepanjang jalan membuatku sedikit terhenyak. Gedung – gedung baru, ruko – ruko warna – warni, pusat perbelanjaan baru dan mama – mama penjual pinang yang menyempil di sela – sela pusat ekonomi itu; menelan debu dan mengais ‘seribu tra pake’ di pinggir jalan. Ironis, batinku. Tiba – tiba aku teringat Anis. Aku tahu, Anis pasti kecewa dengan apa yang kulihat.

***

Mama Yako semakin kurus sejak kepergian Anis. Wajahnya tak lagi sama. Ada gurat mendalam di wajahnya; luka yang tak akan pernah sembuh. Anak lelaki satu – satunya; pembawa fam suaminya telah pergi. Tak akan pernah kembali.

Usai rapat keluarga untuk ibadah pengucapan syukur, kuputuskan pergi ke Abe untuk berbelanja. Di areal pasar tradisional, para lelaki sedang sibuk membongkar peti – peti kemas kayu berisi sayuran dan buah. Peti – peti kemas itu terhambur begitu saja di pinggiran jalan masuk.

Pasar yang becek di kala hujan membaurkan keringat para pembeli. Aku seakan terlempar pada labirin dusun sagu dan hutan bakau yang menjerit di gendang telingaku meminta tolong tergerus pembangunan. Pasar masih tetap sama. Para penjual berkulit kopi moka masih kalah bersaing dengan mereka yang berkulit kuning langsat. Pundi – pundi rupiah tak pernah sama. Hanya ‘seribu – seribu tra pake’ yang berjumpalitan enggan masuk ke kantong mereka. Sekali lagi aku teringat Anis. Esok aku akan bercerita padanya.

***

Deret – deret kuburan memanjang diterpa panas matahari. Hari ini tepat setahun lalu mayat Anis ditemukan di dalam got dekat sebuah jalan kecil di daerah yang dulunya adalah dusun – dusun sagu dan manggewa. Bekas gorokan di leher dan sebuah luka bundar berbau mesiu di dadanya menghiasi tubuh. Darah kering menghiasi badannya. Ia mati dibunuh. Entah siapa yang durjana.

Ingatanku masih basah. Lukaku pun tak pernah kering. Aku ingat iring – iringan kami berjalan melewati pemakaman ini. Berbaju hitam. Peti hitam dan payung warna – warni yang mengingatkanku akan warna gulali.

Tahun ini, kujejakan lagi kakiku dan berjongkok di sebuah kuburan. Sudah setahun dan banyak hendak kuceritakan pada Anis. Waktu terasa berhenti dan beku kala cerita mengalir hingga tak sadar mentari tak lagi bersinar. Suara serangga senja mengiringi ceritaku dan aku tak pusing lagi bahwa aku satu – satunya pengunjung pemakaman ini.

Jam tanganku menunjuk pukul 8 malam. Lekas – lekas kukibaskan debu yang melekat di celana panjangku dan dengan langkah lamat – lamat kuucapkan selamat tinggal. ‘Sampai jumpa tahun depan, kaka’, ujarku pelan.

Tiba – tiba bayangan – bayangan hitam di ujung deret kuburan membuatku terhenyak. Langkah – langkah berat dan bantingan benda membuat langkahku mati dan adrenalin berlompatan. “Ada apa eee?”, batinku penasaran.

Dari sudut gelap kuburan, para lelaki itu sibuk menerangi sebidang tanah dengan lampu petromaks. Peti – peti kemas kayu yang kulihat berserakan di dekat mereka. Seseorang sedang menggali kuburan. Tapi untuk apa peti kemas itu?

Kutahan napas dalam – dalam dan terus memperhatikan. Waktu berlari cepat dan aku tak peduli. Meringkuk dalam gelap. Penasaran!

“Hati – hati pace, daripada nan ko kena yoo. Bungkus deng plastik saja suda. Baru masukan di peti tuh”, instruksi seorang lelaki berbadan besar. 3 lelaki lainnya sigap membungkus sesuatu beraroma menyengat.

“Tempo. Masih ada beberapa yang harus tong kubur lagi. Malam ini harus beres”, perintahnya sekali lagi.

Bayangan – bayangan hitam itu sibuk membungkus peti kemas. Bunyi dentaman keras jatuh dalam tanah dan ditutup secepat mungkin. Tak ada upacara. Tak ada nama. Tak ada peti apalagi ratapan.

“Kasihan dong harus begini tapi mo bagaimana lagi. Yang penting tong su usaha. Kam pulang nih pi ke klinik dulu eee, jang sampe kam kena lagi. Masih ada pekerjaan lain”, ujar seorang pria yang tangannya sibuk memegang peti kemas.

Aku hanya bisa diam dalam gelap. Duniaku sekali lagi jungkir balik.

Yang aku ingat sebelum pingsan, peti – peti kayu bertebaran di mataku. Peti Anis, peti kemas dan peti – peti lainnya. Terkubur dalam diam!

***

(Manokwari, 26 Februari 2011; mengenang mereka yang berada dalam peti entah karena pandangan politik ataupun korban penyangkalan keluarga karena HIV; terinspirasi cerita seorang kenalan tentang nasib ODHA yang terlantar di tanah Papua).

Entahlah

Pagi beku
Ingatan mencair
Aku bisu tanpa kata
Mengingatmu

Mati rasa? Entahlah
Rindu? Mungkin
Cinta? Masih ada
Hanya sedih yang tertinggal

Entahlah salah siapa?

(Manokwari, 250211)

Benar - benar putus

Akhirnya kembali lagi aku melajang. Iya, aku dan dia telah mengakhiri hubungan kami pada suatu malam beberapa hari lalu. Tepatnya tanggal 22 Februari 2011. Kami tak lagi menjadi sepasang kekasih yang percaya akan menikah tahun ini. Ia yang memutuskan, tepatnya. Ini hanya akumulasi retaknya hubungan sejak sebulan terakhir. Pada sisi aku sempat sedih tapi entahlah ... aku merasa lega. Apalagi usai memberitahukan saudara perempuannya dia bahwa tak ada lagi pertalian kasih. LEGA!!!

Masalah mencuat di tanggal yang sama, di sebuah pagi, kubuka jejaring sosialku dan terkaget – kaget kalau ia telah mengganti statusnya menjadi ‘lajang’ termasuk mendapati sebuah postingan dari seorang perempuan yang mendampratnya habis – habisan karena mengirimkan pesan – pesan ke dinding perempuan itu. Perempuan ini merasa marah karena ia telah mempunyai ‘paitua’ =D Karena penasaran, aku mengirimkan sejumlah pesan ke ponselnya yang ujungnya aku kena damprat dan ia bilang aku hanya mencari alasan karena ingin selingkuh dengan sahabatku di Manokwari. Aku hanya tak tahan kala ia menyebutku ‘otak licik’, yang diulanginya lagi lewat pesan di jejaringku yang kembali menuduhku dengan sebutan licik. Belum lagi tuduhannya kala aku memblokirnya membaca postingan sahabat – sahabatku karena jujur aku tak ingin ia menyakiti para sahabat cowok yang kerap men-tagku dalam catatan ataupun foto mereka.

Malamnya, aku pikir ia telah mereda, kukirimkan pesan – pesan menanyakan keadaannya dan pesan yang berisi bahwa aku masih peduli dan sayang padanya. Tapi kali ini dibalas dengan pesan – pesan yang meminta hubungan kami berakhir hanya sebagai teman. Dan aku mengiyakan. Tak ada gunanya memaksakan perasaan, bukan?

Entahlah ... aku masih terluka dan sedih.

Para sahabatku tentu saja gembira. Kata mereka aku terlalu banyak melakukan kompromi demi lelaki ini. Terlalu banyak.

Malam yang sama usai putus, aku mengirimkan sejumlah pesan pada sahabatku yang tetanggaan sejak kecil dengan dirinya. Akhirnya aku tahu alasan yang sesungguhnya mengapa sahabatku ini mati – matian melarangku dulu untuk dekat dan pacaran dengan lelaki ini. He’s sort of womanizer yang tak pernah bisa serius dengan anak orang. What a shame. Tentu saja ia punya beberapa sifat yang membuatku tertekan. Posesif, over protektif dan cemburuan dan membuat 3 mingguku di Jayapura kemarin bagai burung yang terikat sayapnya.

TAPI ...

Thanx God, akhirnya aku bebas. Walau hatiku masih berdarah – darah dan kenangan dengannya masih lengket dan basah.

Satu yang pasti, saat terluka begini dan sendiri lagi, aku merasa Tuhan lebih dekat denganku.

Aku pendosa tapi aku butuh Tuhan. Mungkin ini memang caranya Tuhan untuk selalu menarikku mendekat dengannya.

I will survive no matter the bitterness I have for Jesus is my superhero.

Aku sekarang fokus dengan tujuanku MELAJANG. Entah akan menemukan lelaki pelangiku yang akan menemaniku mengejar kupu – kupu dan kelomang, menemaniku berlarian di pantai.

Mungkin memang mencari seseorang seperti bro J terlalu sulit di tanah Papua ^_^

I’m single ‘n very happy!!!

(Manokwari, 240211)

Lupakan dia

Mungkin kalau feromon sedang bekerja, oksitosinku berlarian kencang dan menggerus akal sehatku. Selamat, Day! Kau disakiti lagi. Selamat karena kau membiarkan perasaanmu terlena hingga gampang disakiti. Terluka! Iya. Kesalahanmu, bukan? Memilih menyayangi dan mempercayai lelaki itu. Lupakan saja kreativitasnya yang membuatmu mabuk kepayang. Lupakan saja janji dan keseriusan yang dikatakannya. Omong kosong! Kau ibarat berjalan dalam gelap karena toh cintamu tak sanggup menerangimu lagi. Lupakan dia!!!

(Manokwari, 22012011; in the middle of a rainy night)

Baku tunggu

Menunggu mungkin pekerjaan yang membosankan. Itu yang kujalani sore ini. Menunggu, mengamati, menatap hampa, kekenyangan, dan menunggu lagi. Lelaki, perempuan, banci, tua, muda, berbadan besar, kecil, seksi, berdada rata, berlatar belakang padat semuanya ada.

Tiba – tiba teringat salah sebuah ingatan liarku beberapa waktu silam, “Busy life strucks me to death. Trapped in between dream and reality. Live my dream or else. Gotta find the real job of writing and be paid.”

Sore hari di Jayapura yang panas usai kelayapan sejak pagi dengan wajah jerawatan. Lelakiku telah pergi kerja sedari pagi sedang aku bertemu teman lama; chit – chat, gossiping hingga bicara tentang acara nikah impian bertabur iringan biola yang dimainkannya. Anehnya saat ini aku terdampar di lantai bawah sebuah pusat perbelanjaan modern yang meminjam nama vernakular ‘Metroxylon Sp’. Terdampar di sebuah meja kecil milik sebuah bakery atau tempat bakar roti yang konon tersebar di Jakarta, Paris, New York, Hongkong, Taipeh, hingga Bangkok. Entah apa Jayapura masuk dalam ‘tagline jualan’ bakery ini di tempat lain? Entahlah. Mungkin kalau Papua sudah merdeka.

Terdampar dari sengatan matahari yang makin panas sambil menikmati wisata makanku hari ini bersama tiga potong kue yang semuanya berasa keju; roll tart keju, roti pisang keju dan kue sus. Ditemani sebotol teh dingin. Sialnya aku harus mendengar iringan lagu Drive ‘bersama bintang’ dari sebuah toko kaset di dekat mejaku. Lagu yang pernah menjadi pengiring patah hatiku beberapa tahun lalu. Belum lagi harus mendengar celotehan tiga pria kulit gelap di meja sebelahku yang menghabiskan sebalok roti tawar, segelas teh dan tiga botol air mineral. Entah mereka sedang menunggu seseorang seperti yang kulakukan ataukah memang hanya duduk nongkrong karena tampang dan gaya mereka bukan lagi anak muda berbaju kaos tetapi berkemeja dan gaya necis.

Tiga pria ini sebenarnya enggan kuamati tetapi apa boleh buat, posisi dudukku mengarah pada mereka dan hanya ada 2 meja di bakery ini yang posisinya bersisian dengan lalu lalang tempat belanja ini. Pembicaraan mereka mulai dari upaya gereja lokal hingga politik. Bahkan tentang uang, kekuasaan dan wanita. Aku seakan jadi pengamat mereka yang berbicara layaknya pengamat politik. Tiga pria yang tampaknya dari daerah pesisir ini tentu bukan mahasiswa menaksir umur mereka yang berkisar antara 30 – 40an tahun. Tampilan semi- ‘kompas’ alias setengah ‘komen papan atas’ bahkan seseorang menyelipkan sebuah agenda berukuran sedang di atas saku kemeja perut buncitnya. Jelas itu sebuah agenda karena ada tulisan khas agenda di sudut buku hitam itu. Ia begitu semangat berbicara tentang politik uang dan amplop dan menjadi salah seorang ‘pembicara utama’.

Aku sekali lagi merasa terjebak karena menunggu temanku sejam lebih di meja yang berhadapan dengan sebuah tempat penyewaan gaun pengantin dan peralatan nikah. Totally sh** memikirkan tentang pernikahan. Bukan momen yang tepat memandangi deretan gaun pengantin ini. I’m just getting blank anyway.

Sambil duduk akupun memperhatikan orang – orang yang lalu – lalang dan menghitung berapa banyak orang berambut keriting dan berkulit gelap yang melintas ke dalam gedung ini. Tak banyak. Dalam sejam, tak lebih dari 15 orang =( Mungkin aku sedikit miris atau marah. Entahlah. Mungkin tak bisa terima. Mungkin ini wajah lain Papua yang makin tak kukenal. Wajah ekonomi yang hanya numpang tempat. Bahkan nama tempat ataupun outlet jualan pun tak lagi berbahasa Melayu Papua, Tak lagi Indonesia. Dari penggunaan bahasa campuran ‘code mixing’ Indonesia – Inggris hingga bahasa Inggris murni. Mungkin semua pengunjung paham bahasa Inggris. *iyo ka mode: ON. Bagaimanapun di dunia modern ini, people buy prestige alias yang ‘tong beli tuh gengsi’. Entahlah aku bukan pengamat resmi.

Perasaan ini sama dengan perasaanku sewaktu beberapa malam lalu aku berjalan kaki sendiri di Abepura menyusuri tepian pinggiran trotoar dari Saga Mall menuju toko Kalam Hidup dan berhenti sejenak. Kelihatan gila karena beberapa kali aku dipanggil para pengendara motor iseng, penumpang taksi dan pengendara mobil. Termangu menatap sebuah billboard dari sebuah iklan rokok dan lampu – lampu tempat – tempat usaha yang menjadi latar depan perbukitan Abe di kejauhan. Sedikit miris apalagi membaca tagline iklan ini, “plin – plan. Go ahead’. Seakan bingung dan ingin berteriak ‘lanjut kemana? Nyungsep* atau ‘taprop*’. Sedikit melankolis mungkin melihat para ibu berkulit gelap itu menghirup debu jalan yang melekat pekat sambil menyiapkan meja jualan pinang dan berpakaian seadanya duduk menanti pembeli pinang dan jualan bensin eceran mereka. Mereka dilatarbelakangi kerlap – kerlip lampu beberapa resto yang menjual gaya hidup entah dari pulau atau benua mana dan mataku liar mencari sebuah resto papeda ataupun kedai keladi tumbu *sigh. Menjadi tamu di tanah warisan nenek moyang. Kontradiktif dalam sebuah surga bernama ‘Papua’.

Musik pengiring berganti lagu. Masih tetap bernada melankolis. Mas – mas penyedia layanan jualan berseliweran dengan riang dan dengan gaya ‘gangguan identifikasi jenis’. Belum lagi para perempuan berpupur tebal dengan kulit tidak mulus; berjerawat. Lelaki – lelaki ‘kompas’ di depanku masih tetap membahas politik tapi seseorang di antaranya yang kutaksir berusia lebih dari 40 tahun sibuk melirik perempuan – perempuan komen ‘baru naik badan yang berjalan di sisi dekat meja kami. Entahlah apa yang dipikirkan ‘paitua’ ini karena beberapa kali kudengar bibirnya membunyikan bunyi – bunyi lain yang bukan tuturan kata seiring matanya yang beredar mengikuti langkah perempuan – perempuan muda itu. Mataku kembali lagi mengamati sekelilingku. Sedikit terganggu dengan derap langkah tapak SPG yang berbunyi keras ataupun gemerisik bunyi jagung tembak dan aromanya yang mengajak fantasi berbau manis terbang. Aku bahkan saking terpukau dengan aroma manis masih bisa melihat sepasang lelaki Papua berjalan berkeliling lantai bawah. Rupanya salah seorang dari mereka buta dan ingin berjalan – jalan. Mungkin ia ingin mencium aroma manis udara sepertiku ataupun tergoda aroma gerai wewangian di hadapanku. Entahlah.

Sambil duduk, seorang bocah Papua berbaju kuning bertelanjang kaki berjalan dan menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya. Kembali lagi seorang lelaki lain melintas. Tentu saja tak menatapku. Kaosnya merah muda dan rambutnya dicat pirang dengan wajah mirip vokalis band Aerosmith. Guess what? Aku menduga ia juga seperti para penyedia layanan jualan lainnya yang gangguan identifikasi jenis. Tak lama setelah pria berkaos pink lewat, lewatlah rombongan kanak – kanak Papua dengan tampang riang. Lumayan menghibur. Mungkin ke area permainan Fun Station. Entahlah.

Catatan ini mungkin catatan perjalanan terakhir di Jayapura tahun ini. Aku sedikit kelelahan secara fisik dan mental, emotionally broken down hingga sempat menjuluki kota ini ‘hottie, dusty, slutty, crowded Jayapura’ *no offense.

Ten minutes to go and she hasn’t come yet. Teman perempuanku belum juga datang. Mungkin ia sedang balapan dari Angkasa; tempat kerjanya ke pusat kota Jayapura. Menunggu seperti ini terasa ringan karena aku duduk sambil mencatat dengan menggunakan fasilitas ‘catatan’ telepon genggamku sedari tadi hingga seorang lelaki dari ‘trio kompas’di depanku terus memandangku curiga. Mungkin karena tanganku yang tak pernah lepas dari ponsel dan pandangan lurus tanpa ekspresi. ‘Aku seorang intel’, mungkin itu yang ada dalam benaknya. Padahal aku mendekam sejam lebih hanya untuk menikmati udara berpendingin tak alami, musik gratis, kue keju, aroma manis udara dan langit – langit bercat gambar awan dalam sesi penantian seorang teman lama. What a life!!!

(Jayapura, 16 Februari 2011)

Kapok

Subuh ini aku belajar untuk menahan yang namanya sakit hati penyesalan. Sekian kali kata – katanya melukaiku lagi. Belum termasuk sikapnya. Menguatkan pendapatku bahwa lelaki memang makhluk teregois yang pernah kutemui. Subuh ini ia bilang kalau ia merasa menyesal mengenalkan dan mendekatkanku dengan keluargu - satunya, menganggap serius hubungan kami. Ia bilang aku bukan satu – satunya perempuan di dunia.

Aku bukan perempuan yang bisa bereaksi seperti yang dia inginkan karena aku secara spontan menarik diriku menjauh darinya dan menangis. Jujur saat aku menangis aku ingin ia mengerti kalau aku terluka dengan kata – katanya. Setelah 3 minggu dimana egoku kubuang, harga diriku kuletakan di bawah dan aku merelakan tak ikut kerjaan relawan lingkungan di pulau, melewatkan acara wisuda sahabat – sahabatku dan membuang waktu efektifku selama 3 minggu, ia bertingkah seperti ini? Entahlah! Mungkin aku salah. Terlalu jatuh cinta padanya. Terlalu percaya pada konsep pernikahan yang ditawarkannya. Aku yang salah mau percaya bahwa akan ada cinta yang tulus untukku usai lama terluka.

Entahlah. Aku ingin berhenti mempercayainya. Ingin melajang saja. Bukan karena sakit hati tapi karena tak mau dilukai lagi. Anggap saja hubungan ini sebuah kesalahan. Salah satu ketololan dalam hidup. Biar ini jadi sebuah pembelajaran bahwa melajang adalah pilihan yang terbaik bagiku. Titik! Biar saja aku disebut egois. Biar saja label buruk lainnya diberikan. Satu yang pasti, aku ingin kembali ‘normal’, utuh, mandiri dan fokus dengan impianku. Tak akan lagi jatuh cinta dan mempercayai lelaki. Tak akan! KAPOK!!!

(Cigombong, 160211)

Totally SH**

Kadang penantian yang panjang tidak membuahkan hasil yang baik, Day. Kataku untuk menguatkan hati saat seseorang sepertiku yang mulai makin tak percaya pada pernikahan. OK, aku pernah berada dalam titik di mana tak mau percaya untuk menikah dan lain – lain tetapi berulang kali jatuh cinta dan ingin menikah. Sebut saja dari beberapa mantanku yang lalu dan juga kekasihku sekarang. Tetapi tetap saja ada yang hilang dan ternyata memang instuisiku selalu benar.

Hubunganku dengan kekasih yang sekarang termasuk yang paling serius karena aku berani bilang pada orang tuaku bahwa aku ingin menikah tahun ini. Begitu juga keluarga besarku. Mereka yang tidak pernah mendengar ide menikah dari mulutku banyak yang tersentak karena sadar bahwa aku serius dan tidak ingin main – main. Bahkan aku memutuskan untuk liburan ke Jayapura selain urusan kerjaan dan membantu kerja beberapa teman juga untuk mendalami dan mengenal keluarga kekasihku. Bahkan para sahabatku sempat merasa kehilangan. Tapi ternyata yang kurencanakan selalu berjalan tidak sesuai dengan yang kuinginkan khususnya yang berhubungan dengan rencana ‘menikah’. Kali ini aku memutuskan untuk serius dengan keputusan melajang. Iya, aku berpikir sepertinya selalu saja ada titik di mana aku bertanya, “Day, ko su siap merit ka? Siap terikat?”. Entahlah, demi kekasihku yang sekarang, aku pikir aku terlalu banyak kompromi dengan nilai yang kupegang usai memutuskan diri dari Lelaki Hujan; untuk lebih menghargai diriku dan tidak akan pernah membiarkan lelaki untuk mengontrol dan memberitahuku apa yang sangat kuinginkan dalam hidup. Aku pendosa yang ingin bebas. Itu saja!!!

Entahlah, dalam titik ini, aku tak ingin lagi bersama kekasihku yang sekarang. Aku masih sangat mencintainya, sangat mencintainya. Tetapi ada hal – hal yang aku pikir tak bisa kuterima lebih lagi; impianku, keinginanku dan banyak hal. Aku cukup menerima perlakuannya beberapa bulan lalu yang ‘membuatku tergantung’ beberapa saat dengan ketidakpastian, ibarat aku perempuan yang ‘mengemis’ cinta. Tetapi the truth is Ia yang selalu gencar menghubungiku sejak aku di Australia hingga pulang ke Manokwari dan akhirnya aku luluh dan ternyata, usai ia mendapatkan ‘pengakuan cintaku’, the romance has just ended. Aku mungkin sekali lagi salah menitipkan hati. Dan kali ini aku ingin benar – benar netral dari rasa cinta. I’m totally in deep shit!!!

Aku sudah tak peduli dengan yang namanya nama baik atau harga diri. Tak peduli bila orang – orang di luar sana membicarakan keputusanku. Mungkin terlanjur basah TAPI aku tak mau tenggelam. Aku tak ingin masalah ini membuatku terpuruk dan jatuh. No way!!! Hidup tak akan berakhir karena aku batal menikah walau sudah tinggal di rumah orang tua kekasihku selama 3 minggu. Aku pendosa dan aku tak peduli. Satu yang pasti, aku butuh Tuhan dan kali ini mungkin ingin lebih serius melajang.

Ini bukan karena urusan seks semata, bukan juga urusan finansial tapi lebih kepada syarat sewaktu ia melamarku secara pribadi yang ternyata selama 3 minggu bersamanya, aku sadar ia tak akan pernah memegang janji yang ditawarkannya; kebebasanku. Aku suka traveling dan berpetualang dan saat ia melamarku, ia bilang ia akan ijinkan aku berjalan kemanapun aku ingin pergi bahkan bila ingin sekolah lagi. Toh kenyataan di Jayapura, aku pergi ke Abe sendiri saja atau ke rumah teman – temanku, ia akan ‘ribut’ menyuruh saudara perempuannya ataupun mengijinkanku pergi tapi akan terus menelpon dan mengirimkanku pesan pendek untuk pulang. Aku ingin kebebasanku yang tidak terkekang, itu saja!!!! Memang ada urusan – urusan lain seperti sikapnya yang manja dan tak mandiri dan juga konsep sayang. Aku tipe cewek romantis dan sangat menghargai dan mengagungkan ‘sebuah sentuhan’ dan bagiku ‘sebuah pelukan’ dalam sebuah hubungan itu WAJIB!!! Aku beberapa kali bilang padanya dan juga memintanya, tapi entahlah ... ia tak pernah mengerti konsep ini. Mungkin tak akan pernah karena ia akan selalu mengartikannya salah dengan ajakanku untuk ngeseks *huffft

Pelukan dari orang – orang yang menyayangiku dan dekat denganku means a lot to me. Aku tak butuh banyak kata – kata sayang, tak terlalu butuh limpahan uang dari kekasih ataupun perhatian yang berjuta apalagi ML beronde – ronde, I just need a cuddle from one whom I love. Sebuah pelukan kasih sayang yang bisa menenangkanku. Sebuah pelukan dan ciuman yang bisa membuatku nyaman dan merasa dicintai. Sebuah pelukan yang sebenarnya tidak perlu aku minta. Aku hanya butuh kekasih yang bisa mengerti bahwa aku butuh pelukan saat aku merasa tidak enak badan, ketakutan, gelisah dan tidak tenang. Entahlah .... mungkin aku terlalu menuntut.

Mungkin aku terlalu naïf juga berpikir bahwa pernikahan dan pindah ke kota lain akan menyelesaikan masalah dengan mamaku; sebuah hubungan yang tidak pernah harmonis. Ternyata aku salah. Jadi, aku akan menghadapi masalahku sendiri dan mungkin ini jalan yang terbaik untuk menjadi kuat.

Satu yang pasti, aku benar – benar rindu Yesus. Selalu seperti ini, tiap kali aku dekat dengan lelaki dan dan mengacuhkan Yesus, selalu saja Ia akan menarikku kembali dan melepaskan lelaki itu. Kali ini mungkin final. Keputusan yang final.

Satu yang pasti, kekasihku seorang yang baik hanya aku yang tak bisa menerimanya apa adanya dan visi yang kami punya berbeda ke depan. Aku tak bisa berjalan dengannya, itu saja. Ia tak pernah sadar bahwa sikapnya yang mengekangku membuatku tak bahagia. Aku tak ingin bertengkar lagi dengannya tiap kali kuungkapkan keinginan dan pendapatku. Lelah.

Mungkin aku yang salah. Jadi aku memilih mundur secara pribadi. Sebelum terlambat dan mengikat janji di depan Yesus. Karna janji di depan Bapa, Yesus dan Roh Kudus lebih berat bagiku dan tidak ingin ‘menipu’ Tuhan.

(Jayapura, 13 Februari 2011)