Malam ini aku baru saja pulang dari sebuah wawancara dan memilih mengendarai motor baruku ke arah pinggiran kota; tepatnya di sepanjang pesisir pantai. Sekitar pukul 8 malam. Motor baruku ini kebetulan baru saja kubeli sistem kredit yang harus kucicil selama setahun tapi lumayanlah, cicilannya tak begitu besar karena depositnya lebih dari 2/3 harga motor. Mumpung sedang tahap ‘meresmikan’ motor sekaligus ‘enreien’ motor, kuputuskan membawanya ke jalan sepanjang pesisir pantai sambil menikmati malam gelap tanpa bulan dan bintang. Sekitar 20 menitan perjalanan, rasa khawatir mulai menginfeksi keberanianku saat menyadari bahwa dalam proses enreien seperti ini kecepatan motor sangat terbatas. Nyaliku mulai menciut kala kuperhatikan bahwa jok motor baru ini lumayan panjang dan ramping dibandingkan motor lamaku sehingga kalau aku berjalan perlahan di jalan – jalan gelap, kemungkinan orang jahat untuk melompat naik ke motor dapat terjadi. Alamak ... arus kuat keberanianku semakin melemah kala melewati daerah Pasir Putih khususnya daerah ‘perumahan abadi’. Ai kam .... *bulu kuduk merinding ditemani imajinasi berjumpalitan disertai iringan musik latar pengiring film a la Friday the 13th =D
Daerah atau kompleks Pasir putih selain terkenal dengan obyek wisata pantai, juga mempunyai jejeran ‘perumahan abadi’ di pinggir pantai. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya penghubung antara kompleks Inggandi dan perumahan penduduk di Pasir Putih. Jangan salah, ‘perumahan abadi’ ini bukanlah kompleks para petinggi ataupun kalangan orang berkantong tebal tetapi para ‘pembeli kapling’ di alam baka. Tentu saja ‘perumahan’ yang kumaksud adalah jejeran 3 buah pemakaman yang dibedakan berdasarkan agama ataupun etnis.
Cemetery ataupun kompleks pemakaman di Manokwari secara umum dikenal dengan dengan istilah ‘kuburan’. Kata ‘kuburan’ bisa merujuk pada konteks ‘makam dan segala perangkat pendukungnya’ ataupun kepada ‘kompleks atau arealnya’. Di daerah Pasir Putih terdapat tiga ‘kuburan’ yang berjejer. Pertama, kuburan Islam dengan ciri nisan tanpa rumah pelindung dan sebuah pohon Mangga hutan besar dan kemboja. Lalu ada kuburan Cina dengan pagar dan rumah penjaga kuburan; dalam konteks tulisan ini, aku memakai kata ‘Cina’ untuk merujuk pada etnis Tionghoa karena di kotaku, kata ‘Cina’ bersifat netral dan tidak merujuk pada makna derogatif apapun tetapi hanya sebagai penunjuk identitas sebagaimana aku menyebut suku lainnya seperti Arfak, Biak, ataupun Jawa. Akhirnya, kuburan Kristen; ciri khasnya tiap makam dilengkapi sebuah salib kayu bertuliskan nama pihak yang telah berpulang, lengkap dengan tanggal ‘tiba – brangkat’nya dari planet ini. Tentu saja kuburan yang terakhir ini bebas tanda “R.I.P”. Sayangnya seiring perkembangan populasi para ‘pembeli kapling’, pohon – pohon Kamboja di areal tiga kuburan ini mulai berkurang. Walau sedari tadi waktu aku berkendara, sempat samar – samar aroma bunga ini mengisi lubang hidungku sepersekian menit *’ai kam’ mode: ON
Tiap kuburan punya keunikan, itu pendapat pribadiku. Kuburan Islam misalnya. Kuburan ini terletak lebih ke arah bukit dibandingkan dua kuburan lainnya dan mempunyai beberapa pohon Kamboja Putih dan Merah muda serta sebuah pohon Mangga hutan besar asam. Pohon mangga ini tiap musim buah kerap menjadi sasaran ‘tembak’ dari anak – anak kecil. Jangan tanya mengapa aku tahu rasanya, karena sewaktu kecil kalau tak salah pernah juga mencicipi buah dari pohon ini karena mamaku bekerja lebih dari 28 tahun di dekat kawasan ini sehingga aksesku ke kawasan ini terjadi sejak masih jaman balita. Statistik pengunjungnya pun terasa lebih ramai dan ‘hidup’ di bulan Ramadhan atau menjelang Lebaran saat peziarah datang berduyun – duyung. Anyway, kuburan ini sekarang berdampingan, tepatnya bersebelahan jarak 1 meter dengan pagar barak karyawan serta kompleks gudang sebuah supermarket di Manokwari. Ooops ampir lupa, halaman depan kompleks gudang yang bersebelahan dengan kuburan Islam ini ditanami jejeran semak Terong ungu dan bebungaan. Unik!!!
Kuburan berikutnya yang terletak bersebelahan dan dibatasi sebuah ‘urat bukit’ tepatnya membentang di lereng ke daerah landai adalah kuburan Cina dengan nisan – nisan batu yang kadang dilapisi marmer ataupun ubin keramik dan dipenuhi aksara Cina..Di kotaku, ini adalah kuburan Cina kedua karena sebelumnya daerah kuburan Cina lama berada di pusat kota; bagian dari kuburan Belanda lama. Sangat cantik karna sewaktu kecil aku jatuh cinta dengan kuburan ini karena makamnya sangat klasik seperti yang ada di dekat daerah Tugu, Jakarta. Kuburan Cina juga merupakan satu – satunya pekuburan yang mempunyai penjaga makam karena menurut cerita pernah beberapa kali ada orang – orang tak bertanggung jawab yang hendak membongkar kuburan dan melakukan pencurian. Ajaib saja masih ada orang yang berminat mencuri dari ‘orang mati’ a la pembongkar makam Firaun. Tak heran kalau di pemakaman ini kuburannya harus dicor dan dibeton biar aman. Bahkan akhir – akhir ini kuburan telah dibuatkan rumah dan teralis, makin mendekati bentuk ‘arsitektur kuburan’ di kuburan Kristen.
Faktor pembuatan areal pekuburan ini pun sedikit berbeda karena kuburan Cina yang diapit oleh dua kuburan lainnya sebenarnya dibuat bukan berdasar pada faktor agama tapi lebih pada kuburan etnis Tionghoa sehingga yang dikubur kemungkinan beragama Budha, Katolik ataupun Konghucu. Bentuk kuburan pun merefleksikan bagaimana perlakuan pada jenazah, apakah dikremasi atau dikubur. Kalau tidak salah, biasanya yang dikubur umumnya etnis Tionghoa asli (di kotaku disebut ‘Cina Totok’) ataupun etnis Tionghoa campuran dengan etnis lain di belahan lain di Indonesia. Biasanya untuk etnis Tionghoa campuran Papua (biasanya disebut ‘cina Irian atau Cina Papua; tergantung apakah Cina Bintuni, Cina Babo, Cina Wandamen, Cina Serui, Cina Biak, Cina Sarmi dll) sering dikuburkan di pekuburan Kristen walaupun bukan merupakan sebuah keharusan, tergantung pada keputusan keluarga ‘pihak yang berpulang’.
Kompleks kuburan yang terakhir yang juga cukup unik adalah kuburan Kristen, terlepas apakah yang dikubur beragama Protestan ataupun Katolik ataupun denominasi lainnya. Kuburan ini ibarat Madorodam ataupun miniatur rumah kecil a la Cockington garden di Canberra tapi minus bunga – bunga cantik dan jalan setapak. Jejeran rumah – rumah mini dilengkapi dengan pasak salib mencuat dari dasar pasir. Tiap rumah mempunyai bentuk dan warna yang berbeda tergantung pada tingkat ekonomi keluarga yang ditinggalkan. Semakin kaya maka semakin mewah tampilan ‘rumah’. Ada yang berteralis emas, berjendela, bergaya kisi – kisi kayu a la Country house, open – air tanpa pembatas ataupun dilengkapi pagar. Selain vas ataupun botol bunga di dalam rumah kuburan, selalu saja ada botol pelita ataupun tempat lilin.
‘Wisata kuburan’ terbaik di kota Manokwari adalah tiap tanggal 24 Desember usai pulang ibadah malam Natal dan juga pada malam tanggal 31 Desember di saat yang sama. Sebuah kota kecil telah ‘dibangun’ oleh ratusan nyala lilin dari rumah – rumah mini. Selain suasana romantis, ‘acara bakar lilin kuburan’ menjadi sebuah bentuk ‘silahturahmi tanpa kata’ para warga Manokwari yang mulai tergerogoti semangat individualisme konsumtif. Sayangnya acara bakar lilin juga menjadi saat emas para ‘maling lilin’ yang ditengarai dilakukan oleh para anak muda di dekat kawasan ini. Jangan tanya mengapa aku tahu hal – hal kecil di kawasan ini karena bagaimanapun kompleks ini menjadi salah satu kompleks tempatku bermain sewaktu kecil. Tentu saja dulu aku bukan pengunjung setia ke kuburan. Iyalah, I am totally a coward urusan beginian =D
I am a totally a coward urusan beginian and will remain same. Epen ka ^_^
p.s. musik pengiring sedari tadi klasik a la film Horor guna membangkitkan aroma ‘kuburan’ hehehe
(Manokwari, 23 Januari 2011; 11 p.m.;)
Monday, 24 January 2011
Friday, 21 January 2011
Another Helen of Troy's Case
Kecantikan kadang tidak membawa manfaat melainkan mudarat bagi orang banyak khususnya bila kecantikan disalahgunakan ataupun disalahartikan. Hampir semua orang khususnya penggemar Film pasti pernah mengetahui atau setidaknya menonton sebuah film epik karya Iliad berjudul ‘Troy’ yang memajang sejumlah aktor dan aktris papan atas Hollywood dalam sebuah episode cinta seorang perempuan yang konon perempuan tercantik abad itu (tentu saja dalam setting masa Yunani kuno) bernama Helen; seorang perempuan yang dikenal dengan ‘a face who launched a thousand ship’. Kisah perselingkuhan antara Helen; seorang permaisuri asal Sparta dengan pangeran Troya bernama Paris yang memicu perang besar antara Sparta dan Troya memang masih dipertanyakan validitas kesejarahannya tetapi ‘nilai universal’ perselingkuhan berbuntut malapetaka tentu bukan barang baru yang tidak bisa dikaji kebenarannya. Yang tentu saja implikasinya kadang berujung pada tubuh yang merenggang nyawa dan kekerasan massal yang sayangnya semuanya kadang tidak mengenal istilah ‘kompromi’ ataupun ‘diplomasi’ karena lebih dikaitkan dengan ego dan harga diri.
Kekerasan berkelompok yang dipicu masalah syawat bukan ‘barang baru’ di kota kelahiranku; Manokwari dan sayangnya dalam beberapa kasus yang kuketahui, aku sering menyayangkan bagaimana nyawa manusia harus meregang secara brutal dan sadis tanpa lewat sebuah kompromi dan diplomasi. Karena label harga diri, ego dan nama baik menjadi hal – hal terpenting yang wajib diperjuangkan dibandingkan nyawa manusia.
Aku membuat catatan ini bukan untuk menjadi juri ataupun hakim tentang siapa yang benar pun salah, tapi hanya uneg – uneg pribadi terkait kekerasan khususnya dalam bentuk kekerasan neo-tribalisme yang beberapa kali terkait urusan syawat di kalangan suku mamaku. Aku tidak ingin mendiskreditkan suku mamaku pun mencoba menjadi hakim atas tindakan mereka, aku hanya menyayangkan tindakan dan keputusan yang sering diambil khususnya dalam hal resolusi konflik. Andai saja keputusan dan tindakan terkait masalah penyelesaian masalah apalagi yang berkaitan dengan urusan ‘perselingkuhan’ yang diambil oleh orang – orang yang masih berbagi fisiognomi denganku dapat terlepas dari unsur kekerasan brutal. Mungkin harapanku hanya doa kecil dari seorang perempuan yang mengandung unsur 50 % darah suku besar ini, tapi aku bermimpi andai suatu hari nanti, semua bentuk label kekerasan dapat lepas dari suku kami.
Catatan ini kubuat usai mendengar cerita dua hari lalu dalam sebuah penghujung sore di dekat perumahan kami yang notabene adalah tanah ulayat keluarga besarku. Konon, tiga hari lalu perselingkuhan seorang perempuan muda bersuami dari sukuku dengan seorang lelaki dari suku lain di daerah pinggiran kota Manokwari berakhir tragis dengan kematian kekasih gelap perempuan itu. Sayangnya, ‘eksekusi’ berlangsung tragis dan mencekam karena lelaki tersebut harus menerima sekurangnya tiga panah di dadanya dan juga cacahan senjata tajam yang mengiris – iris dagingnya saat ia sekarat ibarat ‘mencincang kasbi di pasar’, istilah mamaku ‘potong mentah’. Kejadiannya tidak berakhir begitu saja dengan kematian lelaki ini tetapi dilanjutkan dengan jenasah diangkut oleh pihak penyerang guna menjadi jaminan pembayaran denda harga diri dari keluarga si lelaki korban. Siapa yang salah hingga terjadi hal ini, aku tentu saja tidak mempunyai kapasitas dalam menjawabnya tapi aku sebagai manusia menyayangkan tindakan pembunuhan tanpa peradilan, diskusi, konsultasi, negosiasi ataupun diplomasi. Walaupun aku sebagai keturunan suku ini sangat paham bagaimana konsep ‘harga diri’di suku kami khususnya ‘kehormatan keluarga’.
Jujur aku tak menyukai label kekerasan yang terlanjur menempel dalam diri suku kami. Tiap kali aku harus menyebutkan identitas kesukuanku, akan ada beberapa reaksi bahasa tubuh ataupun perkataan verbal yang kaget, kecewa ataupun terheran – heran. Apalagi nama keluarga mamaku yang sering menjadi stigma negatif suku kami alias menjadi ‘representasi etnis’ di kota kami. Hal ini kadang juga berefek pada hubungan yang kubangun dengan ‘para pencari cinta’ yang kadang mundur teratur karena aspek etnisku; seorang mantan pacar bahkan pernah berujar kalau ibunya berkomentar bahwa mereka tidak ‘pu banyak babi di kandang belakang rumah’ ataupun mantanku yang kerap membandingkan ‘kebaikan’ dan ‘ego’ sukunya dibanding suku mamaku.
Label kekerasan khususnya kekerasan neo-tribalisme bukan barang baru di kota kelahiranku dan juga kota para nenek moyangku. Mungkin aku terbiasa melihat kekerasan sehingga bagiku itu menjadi rutinitas dan sebuah ‘penerimaan’ secara tak sadar. Sangat sulit sebagai perempuan untuk memrotes di kalangan sukuku kala perempuan kadang tak punya hak berbicara. Itulah sebabnya aku lebih suka menuliskannya dalam bentuk catatan seperti ini; mengeluarkan beban lewat kepingan kata, mengekspresikan apa yang kurasakan dalam rangkaian huruf dan berdoa semoga mimpi buruk ini akan berakhir suatu hari. Kala rantai kekerasan di sukuku berakhir ataupun berkurang, ijinkan aku berada di sana; untuk menyaksikan salah satu mimpiku.
Kadang aku merasa bahwa satu aspek budaya sukuku tak terlalu beda jauh dengan orang Italia; konsep Vendeta. Saat dendam keluarga ataupun suku harus tetap dibalas walau hingga keturunan ke tujuh apapun harga dan konsekuensi yang harus ditanggung karena harga diri adalah ‘nafas’ yang menggerakkan tindakan kami. Begitu pula dengan konsep ‘cincang mentah’ bila kemarahan berbau harga diri telah tak tertahankan. Peristiwa pembantaian tahun 2004 di RSUD Manokwari adalah satu contoh ‘cincang mentah’ yang terkenal, begitu pula sejumlah kasus pembuangan mayat yang terpotong di beberapa lokasi Manokwari per 2001 – 2006 yang sebenarnya hanyalah implikasi ‘Vendetta’; aksi baku balas pihak X dan Y. Saat siapa yang menjadi ‘korban’ begitu rancu, saat kita tak bisa menuding ‘siapa marah siapa’. Bagiku lingkaran kekerasan di suku kami ibarat vicious circle; lingkaran setan yang membelit diri. Lingkaran setan ini sangat kupahami konsepnya sejak kecil karena walaupun aku seorang yang telah bertabrakan dengan beberapa etnisitas di diriku dan menyerap beberapa konsep budaya yang berbeda, tapi aku paham betul filosofi kami. Filosofi pembalasan yang sampai kini kadang secara pribadi masih kupegang di alam bawah sadarku; “bubur panas jang makan akan, kasi tinggal akan dingin dulu, baru nan makan pelan – pelan dari pinggir”. Filosofi tentang pembalasan di waktu dan saat yang tepat walau akan memakan waktu yang lama, entah sebulan, setahun ataupun berpuluh tahun, karena kelengahan musuh adalah kekuatan kami.
Kekerasan dan tekad hati apalagi bila berkaitan dengan harga diri di suku besar kami bukan hal baru. Buku “Ajaib di Mata Tuhan” karangan F.C. Kamma dan juga buku harian penginjil Ottow dan juga catatan sejarah para pejabat Belanda mencatat tentang aksi para nenek moyangku. Bahkan sejarah politik di tanah ini tak lepas dari aksi sukuku karena perlawanan OPM pertama di tanah ini atas aneksasi Indonesia terjadi di kotaku, oleh sukuku walau perlawanan ini banyak memakan korban termasuk nenek kandungku dan beberapa anggota keluarga besarku. Yang aku tahu hingga saat ini kadang orang luar dari suku kami tak memahami kami dan cenderung menghakimi sehingga secara tak langsung akan ada ‘upaya perlawanan’ dari dalam suku kami sendiri. Dipungkiri atau tidak, suku besar kami baru mendapat sebuah ‘pengakuan entitas’ sejak tahun 2000 karena yang kupahami sebelumnya lewat sikap dan perkataan orang – orang yang kutemui baik dari suku lain dari tanah ini ataupun suku lain dari belahan Indonesia lainnya adalah kami hanyalah suku ‘primitif dan terbelakang serta marjinal’ dan berbagai label derogatif lainnya.
Aku pikir luka lama harus diselesaikan dalam resolusi konflik, memecah kekerasan neo-tribalisme. Pembangunan yang dibutuhkan oleh suku besarku bukan hanya pembangunan fisik yang kadang tak berimplikasi langsung pada kesejahteraan suku besar kami. Aku pikir sudah saatnya ada terobosan yang dibuat oleh semua pihak yang terkait di kota kami; rekonsiliasi. Saat tiap pihak menaruh syak wasangka pada pihak lain yang ada kita tak pernah membangun jembatan tetapi sebuah tembok besar yang makin hari makin tinggi dan tebal. Pembangunan kesadaran bermasyarakat bebas diskriminasilah dan pembauran bebas pilih kasih yang dibutuhkan oleh daerah kami yang tentu harus disertai dengan acara ‘buka luka lama’ dan ‘pengakuan kesalahan’; sebuah “Sorry Day” yang tulus wajib dilakukan di kota kami apapun konsekuensinya disertai juga upaya penyadaran internal di kalangan suku besar kami bahwa kami bukan satu – satunya manusia yang hidup di tanah ini. Sebuah jembatan damai wajib dibangun.
Akhirnya aku berharap, kelak akan ada rekonsiliasi baik antara sesama anggota suku besar kami, hubungan suku besar kami dengan suku lainnya dari Papua dan juga hubungan suku besar kami dengan para ‘pendatang’ karena aku percaya bahwa “KEKERASAN TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MENYELESAIKAN MASALAH”.
(Manokwari, 21 Januari 2011; usai semalam memikirkan ‘perulangan tragedi’)
Kekerasan berkelompok yang dipicu masalah syawat bukan ‘barang baru’ di kota kelahiranku; Manokwari dan sayangnya dalam beberapa kasus yang kuketahui, aku sering menyayangkan bagaimana nyawa manusia harus meregang secara brutal dan sadis tanpa lewat sebuah kompromi dan diplomasi. Karena label harga diri, ego dan nama baik menjadi hal – hal terpenting yang wajib diperjuangkan dibandingkan nyawa manusia.
Aku membuat catatan ini bukan untuk menjadi juri ataupun hakim tentang siapa yang benar pun salah, tapi hanya uneg – uneg pribadi terkait kekerasan khususnya dalam bentuk kekerasan neo-tribalisme yang beberapa kali terkait urusan syawat di kalangan suku mamaku. Aku tidak ingin mendiskreditkan suku mamaku pun mencoba menjadi hakim atas tindakan mereka, aku hanya menyayangkan tindakan dan keputusan yang sering diambil khususnya dalam hal resolusi konflik. Andai saja keputusan dan tindakan terkait masalah penyelesaian masalah apalagi yang berkaitan dengan urusan ‘perselingkuhan’ yang diambil oleh orang – orang yang masih berbagi fisiognomi denganku dapat terlepas dari unsur kekerasan brutal. Mungkin harapanku hanya doa kecil dari seorang perempuan yang mengandung unsur 50 % darah suku besar ini, tapi aku bermimpi andai suatu hari nanti, semua bentuk label kekerasan dapat lepas dari suku kami.
Catatan ini kubuat usai mendengar cerita dua hari lalu dalam sebuah penghujung sore di dekat perumahan kami yang notabene adalah tanah ulayat keluarga besarku. Konon, tiga hari lalu perselingkuhan seorang perempuan muda bersuami dari sukuku dengan seorang lelaki dari suku lain di daerah pinggiran kota Manokwari berakhir tragis dengan kematian kekasih gelap perempuan itu. Sayangnya, ‘eksekusi’ berlangsung tragis dan mencekam karena lelaki tersebut harus menerima sekurangnya tiga panah di dadanya dan juga cacahan senjata tajam yang mengiris – iris dagingnya saat ia sekarat ibarat ‘mencincang kasbi di pasar’, istilah mamaku ‘potong mentah’. Kejadiannya tidak berakhir begitu saja dengan kematian lelaki ini tetapi dilanjutkan dengan jenasah diangkut oleh pihak penyerang guna menjadi jaminan pembayaran denda harga diri dari keluarga si lelaki korban. Siapa yang salah hingga terjadi hal ini, aku tentu saja tidak mempunyai kapasitas dalam menjawabnya tapi aku sebagai manusia menyayangkan tindakan pembunuhan tanpa peradilan, diskusi, konsultasi, negosiasi ataupun diplomasi. Walaupun aku sebagai keturunan suku ini sangat paham bagaimana konsep ‘harga diri’di suku kami khususnya ‘kehormatan keluarga’.
Jujur aku tak menyukai label kekerasan yang terlanjur menempel dalam diri suku kami. Tiap kali aku harus menyebutkan identitas kesukuanku, akan ada beberapa reaksi bahasa tubuh ataupun perkataan verbal yang kaget, kecewa ataupun terheran – heran. Apalagi nama keluarga mamaku yang sering menjadi stigma negatif suku kami alias menjadi ‘representasi etnis’ di kota kami. Hal ini kadang juga berefek pada hubungan yang kubangun dengan ‘para pencari cinta’ yang kadang mundur teratur karena aspek etnisku; seorang mantan pacar bahkan pernah berujar kalau ibunya berkomentar bahwa mereka tidak ‘pu banyak babi di kandang belakang rumah’ ataupun mantanku yang kerap membandingkan ‘kebaikan’ dan ‘ego’ sukunya dibanding suku mamaku.
Label kekerasan khususnya kekerasan neo-tribalisme bukan barang baru di kota kelahiranku dan juga kota para nenek moyangku. Mungkin aku terbiasa melihat kekerasan sehingga bagiku itu menjadi rutinitas dan sebuah ‘penerimaan’ secara tak sadar. Sangat sulit sebagai perempuan untuk memrotes di kalangan sukuku kala perempuan kadang tak punya hak berbicara. Itulah sebabnya aku lebih suka menuliskannya dalam bentuk catatan seperti ini; mengeluarkan beban lewat kepingan kata, mengekspresikan apa yang kurasakan dalam rangkaian huruf dan berdoa semoga mimpi buruk ini akan berakhir suatu hari. Kala rantai kekerasan di sukuku berakhir ataupun berkurang, ijinkan aku berada di sana; untuk menyaksikan salah satu mimpiku.
Kadang aku merasa bahwa satu aspek budaya sukuku tak terlalu beda jauh dengan orang Italia; konsep Vendeta. Saat dendam keluarga ataupun suku harus tetap dibalas walau hingga keturunan ke tujuh apapun harga dan konsekuensi yang harus ditanggung karena harga diri adalah ‘nafas’ yang menggerakkan tindakan kami. Begitu pula dengan konsep ‘cincang mentah’ bila kemarahan berbau harga diri telah tak tertahankan. Peristiwa pembantaian tahun 2004 di RSUD Manokwari adalah satu contoh ‘cincang mentah’ yang terkenal, begitu pula sejumlah kasus pembuangan mayat yang terpotong di beberapa lokasi Manokwari per 2001 – 2006 yang sebenarnya hanyalah implikasi ‘Vendetta’; aksi baku balas pihak X dan Y. Saat siapa yang menjadi ‘korban’ begitu rancu, saat kita tak bisa menuding ‘siapa marah siapa’. Bagiku lingkaran kekerasan di suku kami ibarat vicious circle; lingkaran setan yang membelit diri. Lingkaran setan ini sangat kupahami konsepnya sejak kecil karena walaupun aku seorang yang telah bertabrakan dengan beberapa etnisitas di diriku dan menyerap beberapa konsep budaya yang berbeda, tapi aku paham betul filosofi kami. Filosofi pembalasan yang sampai kini kadang secara pribadi masih kupegang di alam bawah sadarku; “bubur panas jang makan akan, kasi tinggal akan dingin dulu, baru nan makan pelan – pelan dari pinggir”. Filosofi tentang pembalasan di waktu dan saat yang tepat walau akan memakan waktu yang lama, entah sebulan, setahun ataupun berpuluh tahun, karena kelengahan musuh adalah kekuatan kami.
Kekerasan dan tekad hati apalagi bila berkaitan dengan harga diri di suku besar kami bukan hal baru. Buku “Ajaib di Mata Tuhan” karangan F.C. Kamma dan juga buku harian penginjil Ottow dan juga catatan sejarah para pejabat Belanda mencatat tentang aksi para nenek moyangku. Bahkan sejarah politik di tanah ini tak lepas dari aksi sukuku karena perlawanan OPM pertama di tanah ini atas aneksasi Indonesia terjadi di kotaku, oleh sukuku walau perlawanan ini banyak memakan korban termasuk nenek kandungku dan beberapa anggota keluarga besarku. Yang aku tahu hingga saat ini kadang orang luar dari suku kami tak memahami kami dan cenderung menghakimi sehingga secara tak langsung akan ada ‘upaya perlawanan’ dari dalam suku kami sendiri. Dipungkiri atau tidak, suku besar kami baru mendapat sebuah ‘pengakuan entitas’ sejak tahun 2000 karena yang kupahami sebelumnya lewat sikap dan perkataan orang – orang yang kutemui baik dari suku lain dari tanah ini ataupun suku lain dari belahan Indonesia lainnya adalah kami hanyalah suku ‘primitif dan terbelakang serta marjinal’ dan berbagai label derogatif lainnya.
Aku pikir luka lama harus diselesaikan dalam resolusi konflik, memecah kekerasan neo-tribalisme. Pembangunan yang dibutuhkan oleh suku besarku bukan hanya pembangunan fisik yang kadang tak berimplikasi langsung pada kesejahteraan suku besar kami. Aku pikir sudah saatnya ada terobosan yang dibuat oleh semua pihak yang terkait di kota kami; rekonsiliasi. Saat tiap pihak menaruh syak wasangka pada pihak lain yang ada kita tak pernah membangun jembatan tetapi sebuah tembok besar yang makin hari makin tinggi dan tebal. Pembangunan kesadaran bermasyarakat bebas diskriminasilah dan pembauran bebas pilih kasih yang dibutuhkan oleh daerah kami yang tentu harus disertai dengan acara ‘buka luka lama’ dan ‘pengakuan kesalahan’; sebuah “Sorry Day” yang tulus wajib dilakukan di kota kami apapun konsekuensinya disertai juga upaya penyadaran internal di kalangan suku besar kami bahwa kami bukan satu – satunya manusia yang hidup di tanah ini. Sebuah jembatan damai wajib dibangun.
Akhirnya aku berharap, kelak akan ada rekonsiliasi baik antara sesama anggota suku besar kami, hubungan suku besar kami dengan suku lainnya dari Papua dan juga hubungan suku besar kami dengan para ‘pendatang’ karena aku percaya bahwa “KEKERASAN TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MENYELESAIKAN MASALAH”.
(Manokwari, 21 Januari 2011; usai semalam memikirkan ‘perulangan tragedi’)
Spaghetti Time
Hari ini cuaca Manokwari mendung kelabu sedari pagi walaupun hujan hanya turun di pagi hari dan tidak sederas seperti kemarin. Saat aku memutuskan membuat catatan ini, tentu saja usai acara masak dan makan spaghetti Bolognese minus daging cincang (terpaksa corned beef yang difungsikan ^_^). Aku menikmati acara masak dan makan spaghetti tadi karna kedua keponakan, kedua adik dan iparku bergabung. Acara masak juga diselingi dengan acara dansa bersama. Sambil menunggui rebusan spaghetti melunak di dapur, lagu – lagu berirama riang membuai kami sehingga aku, adik perempuanku menari. Bahkan si keponakan bayiku turut bergabung dengan menghentak – hentakkan kepalanya. Jangan tanya lagi bagaimana gayanya, kadang aku takut ‘sekrup – sekrup’ kepalanya bakal lepas.
Hari ini sebenarnya moodku tidak begitu baik. Bukan hanya karena malaria tertiana +1 yang menyerangku, tetapi gabungan mood suntuk karena membantu penelitian seorang senior yang belum beres dan menjadi beban bagiku plus juga aku merasakan sedikit mood atau entahlah apakah ini instuisiku bahwa ‘kehadiranku’ yang mempertanyakan ‘hakku’ tidak begitu baik, atau katakan saja ‘I’m not the right person either in the right place or on the right time. Yang pasti mood ini membuatku sedikit tak nyaman sehingga mengirimkan sejumlah pesan pada kekasihku di Jayapura. Sayangnya ia sedang sibuk walaupun siang tadi ia sempat menelpon dan saling berkirim pesan tentang terjemahan sebuah nama dan dilanjutkan dengan acara berkirim pesan tentang perasaan kami. Aku merasa ia menjadi salah satu orang yang menguatkan aku akhir – akhir ini, yang menyemangatiku; seorang teman berbagi dan berdiskusi walau kadang – kadang mulutnya bisa sangat pedas mengkritikku khususnya bila aku mulai down dan menyalahkan diri. Ia pasti mulai dengan ‘kuliah’nya tentang membuang pikiran negatif hingga bagaimana hidup dengan pikiran positif. Kadang aku berpikir bahwa lelaki ini terlalu santai dalam hidup. Iya, ia memanggilku ‘manusia serius’.
Namanya Jeff. Lelaki campuran Ambon – Serui ini mulai mengisi hari – hariku sejak awal tahun baru sih sebenarnya walau aku pernah bertemu dengannya sekali dalam sebuah pementasan teater dan tari di TIM Jakarta pertengahan tahun 2008. Saat itu aku hanya tahu ia sutradara pementasan, iyalah di akhir pementasan ada acara bincang – bincang sejenak di sana. Sebenarnya aku jatuh cinta mati pada pementasan itu. Bukan hanya karena tata panggung, jalan cerita dan tariannya yang keren abis tapi juga karna pementasan itu hadir di saat yang tepat; sebagai penghibur dan pengalih perhatian ditinggal nikah ‘Lelaki hujan’ yang hanya terjadi sehari sebelumnya. Di pementasan ini selain bertemu dengan Jeff, aku juga bertemu dengan seorang dosen political science di universitasku (ANU) walau saat itu aku tidak tahu siapa dia namun saat aku di Australia, aku akhirnya bisa me-recall ingatanku karna saat pementasan itu aku bertindak sebagai pengamat dan mantan dosenku ini seingatku diajak menari di atas panggung ^_^. Ingatanku cukup baik walau tak terlalu berupa photographic memory. Sayangnya aku malah punya short-term memory loss dan hal ini cukup menggangguku hehehe.
Tulisan ini tampaknya mulai berjumpalitan seperti biasa, berlari sana – sini dan tidak jelas. Ok, balik ke topik kekasihku. Si Jeff ini kan lebih tua tujuh (7) tahun dariku dan juga lebih dewasa dariku. Kehadirannya cukup membuatku tenang. Mungkin kedengarannya lucu tapi entahlah ... aku merasa pertemuan dengannya dan juga jadian dengannya bukan sebuah kebetulan tetapi telah diatur oleh ‘Paitua Besar’ di atas.
Ada banyak hal yang membuatku berkesimpulan seperti itu. Bahkan saat aku diperkenalkan ke keluarganya di malam aku menginap di rumah Jeff juga berlangsung lancar karena faktor friends’ connection.
Aku tak pernah menyangka bahwa seorang sahabat masa SMAku di Kotaraja, yang juga ternyata ‘mama ade’nya sepupu kandungku, ternyata adalah tetangga baku sebelah rumah dengan Jeff. Bahkan keluarganya dan keluarga Jeff bagaikan keluarga karna sahabatku menganggap Jeff sebagai kakaknya dan kebetulan kakak laki – lakinya yang kebetulan akrab denganku sewaktu SMA juga bernama sama dengan kekasihku. Tak usah ditanyakan lagi saat kami bertemu, sahabatku hanya bisa ternganga – nganga saat aku membuat pengakuan bahwa aku pacaran dengan Jeff. Yang pasti, akhirnya tak ada kendala saat berkenalan dengan saudara –saudara perempuan Jeff karena ada topik yang bisa dibahas; sahabatku ^_^
Lelaki ini yang pasti sekarang menjadi seseorang yang bersamanya aku mau menghabiskan hidupku dan tentu saja menjadi tua bersamanya. Entahlah aku tak mau terlalu sentimental ataupun romantis, tapi bila harus menaruh perasaanku dalam kata – kata, aku mungkin ingin bilang kalau aku menginginkan lelaki ini menemaniku menikmati tarian hujan, entah sekarang entah besok entah nanti. Karena aku tahu, sekarang aku telah menemukan ‘rumah’ di mana aku merasa nyaman dan hangat.
Malam ini yang pasti aku sedang jatuh cinta pada Jeff dan bersyukur atas dia dalam hidupku. Sebenarnya sikap Jeff yang tiba – tiba PDKT serius untuk hubungan yang lebih dari sekedar teman terjadi hanya sehari usai aku berdoa berserah pada Tuhan meminta ‘jodoh’. Kedengaran bodoh mungkin tapi Jeff tiba – tiba muncul saja tanpa kutahu. Sebenarnya pokok doaku sih bilang aku ingin liburan dan ingin mendapat jodoh pengganti Lelaki Hujan. Dan ternyata Tuhanku memang Allah yang dashyat dan hidup. Ia memberiku bukan hanya satu berkat tetapi dua berkat dan menjadi hadiah natal tahun ini; mendapat kekasih dan liburan seminggu gratis dan dibayar pula ke beberapa kota di Cina.
Satu hal yang pasti, cuma ingin bilang: Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus untuk sa pu hidup.
(Manokwari, 170111)
Hari ini sebenarnya moodku tidak begitu baik. Bukan hanya karena malaria tertiana +1 yang menyerangku, tetapi gabungan mood suntuk karena membantu penelitian seorang senior yang belum beres dan menjadi beban bagiku plus juga aku merasakan sedikit mood atau entahlah apakah ini instuisiku bahwa ‘kehadiranku’ yang mempertanyakan ‘hakku’ tidak begitu baik, atau katakan saja ‘I’m not the right person either in the right place or on the right time. Yang pasti mood ini membuatku sedikit tak nyaman sehingga mengirimkan sejumlah pesan pada kekasihku di Jayapura. Sayangnya ia sedang sibuk walaupun siang tadi ia sempat menelpon dan saling berkirim pesan tentang terjemahan sebuah nama dan dilanjutkan dengan acara berkirim pesan tentang perasaan kami. Aku merasa ia menjadi salah satu orang yang menguatkan aku akhir – akhir ini, yang menyemangatiku; seorang teman berbagi dan berdiskusi walau kadang – kadang mulutnya bisa sangat pedas mengkritikku khususnya bila aku mulai down dan menyalahkan diri. Ia pasti mulai dengan ‘kuliah’nya tentang membuang pikiran negatif hingga bagaimana hidup dengan pikiran positif. Kadang aku berpikir bahwa lelaki ini terlalu santai dalam hidup. Iya, ia memanggilku ‘manusia serius’.
Namanya Jeff. Lelaki campuran Ambon – Serui ini mulai mengisi hari – hariku sejak awal tahun baru sih sebenarnya walau aku pernah bertemu dengannya sekali dalam sebuah pementasan teater dan tari di TIM Jakarta pertengahan tahun 2008. Saat itu aku hanya tahu ia sutradara pementasan, iyalah di akhir pementasan ada acara bincang – bincang sejenak di sana. Sebenarnya aku jatuh cinta mati pada pementasan itu. Bukan hanya karena tata panggung, jalan cerita dan tariannya yang keren abis tapi juga karna pementasan itu hadir di saat yang tepat; sebagai penghibur dan pengalih perhatian ditinggal nikah ‘Lelaki hujan’ yang hanya terjadi sehari sebelumnya. Di pementasan ini selain bertemu dengan Jeff, aku juga bertemu dengan seorang dosen political science di universitasku (ANU) walau saat itu aku tidak tahu siapa dia namun saat aku di Australia, aku akhirnya bisa me-recall ingatanku karna saat pementasan itu aku bertindak sebagai pengamat dan mantan dosenku ini seingatku diajak menari di atas panggung ^_^. Ingatanku cukup baik walau tak terlalu berupa photographic memory. Sayangnya aku malah punya short-term memory loss dan hal ini cukup menggangguku hehehe.
Tulisan ini tampaknya mulai berjumpalitan seperti biasa, berlari sana – sini dan tidak jelas. Ok, balik ke topik kekasihku. Si Jeff ini kan lebih tua tujuh (7) tahun dariku dan juga lebih dewasa dariku. Kehadirannya cukup membuatku tenang. Mungkin kedengarannya lucu tapi entahlah ... aku merasa pertemuan dengannya dan juga jadian dengannya bukan sebuah kebetulan tetapi telah diatur oleh ‘Paitua Besar’ di atas.
Ada banyak hal yang membuatku berkesimpulan seperti itu. Bahkan saat aku diperkenalkan ke keluarganya di malam aku menginap di rumah Jeff juga berlangsung lancar karena faktor friends’ connection.
Aku tak pernah menyangka bahwa seorang sahabat masa SMAku di Kotaraja, yang juga ternyata ‘mama ade’nya sepupu kandungku, ternyata adalah tetangga baku sebelah rumah dengan Jeff. Bahkan keluarganya dan keluarga Jeff bagaikan keluarga karna sahabatku menganggap Jeff sebagai kakaknya dan kebetulan kakak laki – lakinya yang kebetulan akrab denganku sewaktu SMA juga bernama sama dengan kekasihku. Tak usah ditanyakan lagi saat kami bertemu, sahabatku hanya bisa ternganga – nganga saat aku membuat pengakuan bahwa aku pacaran dengan Jeff. Yang pasti, akhirnya tak ada kendala saat berkenalan dengan saudara –saudara perempuan Jeff karena ada topik yang bisa dibahas; sahabatku ^_^
Lelaki ini yang pasti sekarang menjadi seseorang yang bersamanya aku mau menghabiskan hidupku dan tentu saja menjadi tua bersamanya. Entahlah aku tak mau terlalu sentimental ataupun romantis, tapi bila harus menaruh perasaanku dalam kata – kata, aku mungkin ingin bilang kalau aku menginginkan lelaki ini menemaniku menikmati tarian hujan, entah sekarang entah besok entah nanti. Karena aku tahu, sekarang aku telah menemukan ‘rumah’ di mana aku merasa nyaman dan hangat.
Malam ini yang pasti aku sedang jatuh cinta pada Jeff dan bersyukur atas dia dalam hidupku. Sebenarnya sikap Jeff yang tiba – tiba PDKT serius untuk hubungan yang lebih dari sekedar teman terjadi hanya sehari usai aku berdoa berserah pada Tuhan meminta ‘jodoh’. Kedengaran bodoh mungkin tapi Jeff tiba – tiba muncul saja tanpa kutahu. Sebenarnya pokok doaku sih bilang aku ingin liburan dan ingin mendapat jodoh pengganti Lelaki Hujan. Dan ternyata Tuhanku memang Allah yang dashyat dan hidup. Ia memberiku bukan hanya satu berkat tetapi dua berkat dan menjadi hadiah natal tahun ini; mendapat kekasih dan liburan seminggu gratis dan dibayar pula ke beberapa kota di Cina.
Satu hal yang pasti, cuma ingin bilang: Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus untuk sa pu hidup.
(Manokwari, 170111)
Wednesday, 12 January 2011
Loy dan Pam
Prolog
Kutemukan dia lemas dan tak terurus di pasir putih ini. Tatapannya kosong sekumuh badannya yang tak terawat. Ia berusaha menghindari mataku. Ada rasa malu yang terpancar. Entahlah ... ini hanya kisah kami berdua. Kisah Loy dan Pam. Hanya kisah biasa yang sempat muncul di kota ini; Manokwari.
***
Manokwari
Desember 2010
Ini hari pertamaku ke tempat ini, tepatnya ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Sudah hampir 1 minggu aku tiba di tanah berjuluk ‘bumi cenderawasih’ tapi baru hari ini aku dikirim ke toko. Tanggal muda, banyak sekali warga ibukota provinsi muda ini menghamburkan uang mereka. Aroma berbagai bentuk hinggap di hidungku. Manusia berkulit langsat hingga berwarna kopi hilir mudik di depanku. Entahlah apa yang ada di benak mereka. Tiba – tiba kudengar sebuah suara di dekat rak tempat aku berada.
“Woi, jang kasar – kasar ka! Sa badan sakit nih. Sopan sedikit ka. Kam tra tau kalo sa nih mahal ka!!!”, suara seorang memecah hilir mudik arus lalu lintas pembeli di dekat rak.
Kulongokan kepala ke arah sumber suara. Ia berada tepat di depanku. Mungkin karena sedari tadi aku tidur menikmati aliran udara pendingin ruangan hingga tak menyadari bahwa ia sebenarnya hanya berada di depanku.
“Hei, nama kamu siapa? Boleh kenalan?”, tanyaku dengan pandangan harap. Maklum, aku masih pendatang baru.
“E ko su di sini tuh jadi cepat sesuaikan eee, jang pake kata ‘kamu’, bilang ‘ko’ saja kenapa ka?”, sahutnya tapi masih enggan menyebut namanya.
“Ok, maaf – maaf. Iya, sa coba eee untuk bicara deng bahasa lokal. Iyo, ko nama sapa eee, boleh kenalan? Sory tadi sa tra lihat ko jadi. Maklum baru pertama kali di sini jadi. Sa pu nama Loy. Ini sa pu hari pertama di toko sini.”, kataku PD memperkenalkan diri.
“Oh iyo, tra papa. Sa juga baru beberapa bulan di sini, tapi neh, kenapa ko penampilan kaco begitu ka? Ada harus ko nama ‘Loy’. Co ko kaya sa bole; bersih, rapi, terawat dan tentu saja pasaran tinggi. Anana di sini bilang sa tuh ‘daun keras’ ka ini.”, ujarnya sambil tertawa renyah.
“Panggil saja sa Pam!”, jawabnya lagi tapi dengan sedikit pongah.
***
Hari pertama kali aku menyapanya menjadi hari dimana aku belajar mengenal karakter lain yang cukup berbeda denganku. Aku mungkin hanya pendengar yang baik atau memang kadang sengaja mengalah karena tak mau berdebat dengan Pam. Aku akui ia benar – benar modern. Kulitnya pun lebih putih dibanding diriku yang biasa – biasa saja. Bahkan jauh lebih mulus dan lembut. Apalagi pakaian yang dikenakannya benar – benar menarik mata, belum lagi nilai jualnya yang tinggi. Mungkin karena tampilannya yang mentereng.
Siang ini usai jam makan siang, kami masih tetap berada di tempat di mana kami pertama kali bertemu di dalam sebuah toko dan mengamati para pembeli yang mendekati rak kami. Sepasang suami istri muda dengan batita dalam kereta belanja dorong mereka. Sang istri sibuk mengecek daftar belanjaannya dan matanya berhenti di rak kami.
“Ade, tong beli yang ini ka?”, tanya sang suami sambil telunjuknya mengarah ke arah rak di mana aku berada.
“Aih jangan, tra laku ya. Sapa yang mo repot ka kalo beli akan? Tra usah suda. Beli yang sebelah rak bole. Hari gini mo pake yang begitu, apa kata dunia? Tra elit sampe!!!”, sahut istrinya.
Aku hanya bisa menahan napas, geram bercampur kecewa. ‘Mangkali tong kaskado kapa eee’, batinku.
Melihat ekpresiku yang kecewa, Pam pun tertawa terbahak – bahak. Hatiku makin bertambah sedih kala rentetan pendapatnya, tepatnya ‘opininya’ memborbardir akal sehatku.
“Makanya Loy, ko tuh harusnya sadar diri kalo mo ke tempat ini. Sa cuma heran ada yang mo taru ko di sini. Hari gini, di kota yang ibukota provinsi ini, baru ko muncul deng gaya yang biasa – biasa begitu. Sapa juga yang mo pilih ko ka? Yang pilih ko pasti de mata su kena rica kapa eee. Hahahahaha”, kali ini dengan tertawa a la Rahwana*
Aku hanya bisa menahan diri untuk tak mencecar balik. Iya, ia mungkin benar. Aku hanya Loy yang bukan siapa – siapa. Bukan blasteran seperti Pam. Konon, Pam blasteran. Bapaknya berasal dari negeri jauh yang bertemu ibunya yang konon dari daerah di tengah – tengah hutan tropis, kala keduanya bekerja di sebuah pabrik di seuah tempat yang sangat jauh dari kota ini. Sedang aku biasa – biasa saja. Orangtuaku hanya berasal dari sebuah daerah tandus penuh ladang kapas putih, yang jatuh cinta dan ditolong oleh para ibu – ibu rumahan yang suka menjahit dan muncullah aku dan saudara – saudaraku. Apalagi aku tak semenarik Pam. Kulit dan tubuhku biasa – biasa saja. Tapi aku bersyukur dengan kekurangan itu, aku percaya kalau aku bisa bertahan melewati saat – saat sulit. ‘Tra boleh terlalu berharap lebih dalam hidup ini e, Loy!”, kata – kata yang pernah dititipkan nenek penjahit.
***
Hari ini hujan turun dengan deras di kota Manokwari. Walau aku tak sempat keluar toko dan melihat bagaimana suasana kota hujan ini, suara para pembeli yang sibuk mencari kebutuhan mereka menjadi corong informasiku, walau tak sevokal dan selincah Mr Potaroda; penyiar favoritku di sebuah radio swasta berfrekuensi 103. 4 FM.
Aku ingin tahu seperti apa rasanya hujan deras di kota Manokwari membasahi tubuhku dan mengalir di pori – pori. Entahlah ... mungkin suatu hari nanti aku akan punya kesempatan berhujan – hujanan.
Tiba – tiba sebuah suara mengagetkanku kala Pam berteriak ke arah rakku berada, “Loy, sa hilang dulu eee. Sa su bilang ko toooo, sa pu tarikan bagus. Makanya jang jadi yang biasa – biasa saja. Modern sdikit ka!”, masih dengan eskpresi pongah bercampur senang.
Pam pergi dibawa seorang lelaki muda. Mungkin ia memang lebih beruntung dibanding diriku. Entahlah ... biarkan saja. Toh aku masih punya banyak waktu untuk merenung.
Hujan masih tetap turun, kurasa. Sambil menikmati musik pengiring ‘jualan’ dalam toko dan sesekali menahan batuk karna debu – debu sapuan yang beterbangan, aku memilih memejamkan mataku barang sekejap. Tak dinyana, tiba – tiba sebuah tangan memelukku dengan suara serak.
“Ambil de saja. Pikir ke depannya saja tooo. Cape sedikit juga tra papa. Ingat ko pu gaya hidup hijau tuh!:, seru suara itu kepada suara lainnya.
“Iyo juga ee, aaih tapi moga tra kaskado saja. Hahaha”, jawab suara lainnya.
Malam itu aku ingat jelas bagaimana mereka membawaku. Entahlah ... ada kebebasan dan kepuasan yang kurasakan walau sedetik saja. Sekali lagi , entahlah ... aku bahagia mereka memilihku.
***
Pantai Pasir Putih
Februari 2011
Aku tak pernah lagi bertemu Pam sejak malam penuh hujan itu. Mungkin ia sudah bahagia sekarang dengan lelaki muda itu. Hidupku sendiri biasa – biasa saja. Penuh dengan ritual mandi dan mencuci dan kadang – kadang aku harus kerja keras menyingkirkan bau tak sedap hasil pencernaan. Yikes! Apa boleh buat, itu kerjaku sejak malam mereka mengambilku, tepatnya ‘membayarku’.
Hari ini saat sedang tidur – tiduran, El, nyonya rumahku menyuruhku ikut ke pantai. Kami akan pergi menemani anak – anaknya berenang di pantai dan si kecil Loli yang masih 3 bulan juga turut serta. Ah aku senang berada di keluarga El, apalagi ia perempuan dengan pola pikir modern tetapi tetap punya waktu untuk anak – anaknya dan rumahnya sangat bergaya hidup hijau.
Saat sedang bersama Loli, mataku tertumbuk pada pasir pantai Pasir Putih. Kulihat Pam berada di pinggiran pantai tapi tampangnya sangat kusut masai. Kubujuk Loli ke sana hingga membuatnya menangis hingga El harus memindahkan kami ke dekat air. Saat itu kusapa Pam yang hanya terdiam menatapku.
“Damainya, Pam. Ko kenapa? Ko baik2 saja ka? Baru ko pu laki2 yang bawa ko tuh?”, tanyaku dengan tatapan iba.
“Aih tra usah tanya – tanya suda. Ko tra lihat sa badan skarang bagaimana ka. Su kaco, tra laku, su gemuk skali nih, pangkotor lagi. Apalagi laki – laki itu de su buang sa mo”, katanya dengan malu.
Kami masih berbincang hingga sebelum aku pulang. Pam, memang pernah lebih cantik daripadaku. Ia memang pernah sangat menarik, bahkan sangat modern. Entahlah ... tapi mendengar cerita tentang bagaimana ia dibuang dan dimaki – maki lelaki itu karena aroma badannya, bahkan terkatung – katung dibawa hujan dan gelombang di laut dan sempat tenggelam di areal terumbu karang membuatku merasa bersyukur bahwa aku tak secantik Pam. Aku masih ingin bicara lama dengan Pam tapi apa dayaku kala ombak menggulungnya pergi lagi. Selamat tinggal Pam!
***
Epilog
Dua minggu lagi aku akan meninggalkan ibu El dan pergi ke rumah tante Lina, itu kata ibu El tadi siang. Tugasku bersama Loli telah rampung.
Mungkin aku Loy(or) biasa – biasa saja tapi aku bahagia dengan hidupku. Setidaknya aku lebih beruntung dari Pam(pers).
Sorry, Pam .... but I have to ‘come out of my closet’*!
(Manokwari, 090411; terilhami pengalaman berenang dan snorkeling dan ketemu banyak produk popok tak-ramah-lingkungan di areal terumbu karang dan pantai).
Catatan:
Come out of my closet
(Inggris) Idiom atau kiasan yang dipakai untuk mengekspresikan pengakuan sebuah rahasia usai sekian lama tersimpan dalam hati. Bila dibaca secara literal artinya ‘keluar dari lemari pakaian’ ^_^
Kutemukan dia lemas dan tak terurus di pasir putih ini. Tatapannya kosong sekumuh badannya yang tak terawat. Ia berusaha menghindari mataku. Ada rasa malu yang terpancar. Entahlah ... ini hanya kisah kami berdua. Kisah Loy dan Pam. Hanya kisah biasa yang sempat muncul di kota ini; Manokwari.
***
Manokwari
Desember 2010
Ini hari pertamaku ke tempat ini, tepatnya ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Sudah hampir 1 minggu aku tiba di tanah berjuluk ‘bumi cenderawasih’ tapi baru hari ini aku dikirim ke toko. Tanggal muda, banyak sekali warga ibukota provinsi muda ini menghamburkan uang mereka. Aroma berbagai bentuk hinggap di hidungku. Manusia berkulit langsat hingga berwarna kopi hilir mudik di depanku. Entahlah apa yang ada di benak mereka. Tiba – tiba kudengar sebuah suara di dekat rak tempat aku berada.
“Woi, jang kasar – kasar ka! Sa badan sakit nih. Sopan sedikit ka. Kam tra tau kalo sa nih mahal ka!!!”, suara seorang memecah hilir mudik arus lalu lintas pembeli di dekat rak.
Kulongokan kepala ke arah sumber suara. Ia berada tepat di depanku. Mungkin karena sedari tadi aku tidur menikmati aliran udara pendingin ruangan hingga tak menyadari bahwa ia sebenarnya hanya berada di depanku.
“Hei, nama kamu siapa? Boleh kenalan?”, tanyaku dengan pandangan harap. Maklum, aku masih pendatang baru.
“E ko su di sini tuh jadi cepat sesuaikan eee, jang pake kata ‘kamu’, bilang ‘ko’ saja kenapa ka?”, sahutnya tapi masih enggan menyebut namanya.
“Ok, maaf – maaf. Iya, sa coba eee untuk bicara deng bahasa lokal. Iyo, ko nama sapa eee, boleh kenalan? Sory tadi sa tra lihat ko jadi. Maklum baru pertama kali di sini jadi. Sa pu nama Loy. Ini sa pu hari pertama di toko sini.”, kataku PD memperkenalkan diri.
“Oh iyo, tra papa. Sa juga baru beberapa bulan di sini, tapi neh, kenapa ko penampilan kaco begitu ka? Ada harus ko nama ‘Loy’. Co ko kaya sa bole; bersih, rapi, terawat dan tentu saja pasaran tinggi. Anana di sini bilang sa tuh ‘daun keras’ ka ini.”, ujarnya sambil tertawa renyah.
“Panggil saja sa Pam!”, jawabnya lagi tapi dengan sedikit pongah.
***
Hari pertama kali aku menyapanya menjadi hari dimana aku belajar mengenal karakter lain yang cukup berbeda denganku. Aku mungkin hanya pendengar yang baik atau memang kadang sengaja mengalah karena tak mau berdebat dengan Pam. Aku akui ia benar – benar modern. Kulitnya pun lebih putih dibanding diriku yang biasa – biasa saja. Bahkan jauh lebih mulus dan lembut. Apalagi pakaian yang dikenakannya benar – benar menarik mata, belum lagi nilai jualnya yang tinggi. Mungkin karena tampilannya yang mentereng.
Siang ini usai jam makan siang, kami masih tetap berada di tempat di mana kami pertama kali bertemu di dalam sebuah toko dan mengamati para pembeli yang mendekati rak kami. Sepasang suami istri muda dengan batita dalam kereta belanja dorong mereka. Sang istri sibuk mengecek daftar belanjaannya dan matanya berhenti di rak kami.
“Ade, tong beli yang ini ka?”, tanya sang suami sambil telunjuknya mengarah ke arah rak di mana aku berada.
“Aih jangan, tra laku ya. Sapa yang mo repot ka kalo beli akan? Tra usah suda. Beli yang sebelah rak bole. Hari gini mo pake yang begitu, apa kata dunia? Tra elit sampe!!!”, sahut istrinya.
Aku hanya bisa menahan napas, geram bercampur kecewa. ‘Mangkali tong kaskado kapa eee’, batinku.
Melihat ekpresiku yang kecewa, Pam pun tertawa terbahak – bahak. Hatiku makin bertambah sedih kala rentetan pendapatnya, tepatnya ‘opininya’ memborbardir akal sehatku.
“Makanya Loy, ko tuh harusnya sadar diri kalo mo ke tempat ini. Sa cuma heran ada yang mo taru ko di sini. Hari gini, di kota yang ibukota provinsi ini, baru ko muncul deng gaya yang biasa – biasa begitu. Sapa juga yang mo pilih ko ka? Yang pilih ko pasti de mata su kena rica kapa eee. Hahahahaha”, kali ini dengan tertawa a la Rahwana*
Aku hanya bisa menahan diri untuk tak mencecar balik. Iya, ia mungkin benar. Aku hanya Loy yang bukan siapa – siapa. Bukan blasteran seperti Pam. Konon, Pam blasteran. Bapaknya berasal dari negeri jauh yang bertemu ibunya yang konon dari daerah di tengah – tengah hutan tropis, kala keduanya bekerja di sebuah pabrik di seuah tempat yang sangat jauh dari kota ini. Sedang aku biasa – biasa saja. Orangtuaku hanya berasal dari sebuah daerah tandus penuh ladang kapas putih, yang jatuh cinta dan ditolong oleh para ibu – ibu rumahan yang suka menjahit dan muncullah aku dan saudara – saudaraku. Apalagi aku tak semenarik Pam. Kulit dan tubuhku biasa – biasa saja. Tapi aku bersyukur dengan kekurangan itu, aku percaya kalau aku bisa bertahan melewati saat – saat sulit. ‘Tra boleh terlalu berharap lebih dalam hidup ini e, Loy!”, kata – kata yang pernah dititipkan nenek penjahit.
***
Hari ini hujan turun dengan deras di kota Manokwari. Walau aku tak sempat keluar toko dan melihat bagaimana suasana kota hujan ini, suara para pembeli yang sibuk mencari kebutuhan mereka menjadi corong informasiku, walau tak sevokal dan selincah Mr Potaroda; penyiar favoritku di sebuah radio swasta berfrekuensi 103. 4 FM.
Aku ingin tahu seperti apa rasanya hujan deras di kota Manokwari membasahi tubuhku dan mengalir di pori – pori. Entahlah ... mungkin suatu hari nanti aku akan punya kesempatan berhujan – hujanan.
Tiba – tiba sebuah suara mengagetkanku kala Pam berteriak ke arah rakku berada, “Loy, sa hilang dulu eee. Sa su bilang ko toooo, sa pu tarikan bagus. Makanya jang jadi yang biasa – biasa saja. Modern sdikit ka!”, masih dengan eskpresi pongah bercampur senang.
Pam pergi dibawa seorang lelaki muda. Mungkin ia memang lebih beruntung dibanding diriku. Entahlah ... biarkan saja. Toh aku masih punya banyak waktu untuk merenung.
Hujan masih tetap turun, kurasa. Sambil menikmati musik pengiring ‘jualan’ dalam toko dan sesekali menahan batuk karna debu – debu sapuan yang beterbangan, aku memilih memejamkan mataku barang sekejap. Tak dinyana, tiba – tiba sebuah tangan memelukku dengan suara serak.
“Ambil de saja. Pikir ke depannya saja tooo. Cape sedikit juga tra papa. Ingat ko pu gaya hidup hijau tuh!:, seru suara itu kepada suara lainnya.
“Iyo juga ee, aaih tapi moga tra kaskado saja. Hahaha”, jawab suara lainnya.
Malam itu aku ingat jelas bagaimana mereka membawaku. Entahlah ... ada kebebasan dan kepuasan yang kurasakan walau sedetik saja. Sekali lagi , entahlah ... aku bahagia mereka memilihku.
***
Pantai Pasir Putih
Februari 2011
Aku tak pernah lagi bertemu Pam sejak malam penuh hujan itu. Mungkin ia sudah bahagia sekarang dengan lelaki muda itu. Hidupku sendiri biasa – biasa saja. Penuh dengan ritual mandi dan mencuci dan kadang – kadang aku harus kerja keras menyingkirkan bau tak sedap hasil pencernaan. Yikes! Apa boleh buat, itu kerjaku sejak malam mereka mengambilku, tepatnya ‘membayarku’.
Hari ini saat sedang tidur – tiduran, El, nyonya rumahku menyuruhku ikut ke pantai. Kami akan pergi menemani anak – anaknya berenang di pantai dan si kecil Loli yang masih 3 bulan juga turut serta. Ah aku senang berada di keluarga El, apalagi ia perempuan dengan pola pikir modern tetapi tetap punya waktu untuk anak – anaknya dan rumahnya sangat bergaya hidup hijau.
Saat sedang bersama Loli, mataku tertumbuk pada pasir pantai Pasir Putih. Kulihat Pam berada di pinggiran pantai tapi tampangnya sangat kusut masai. Kubujuk Loli ke sana hingga membuatnya menangis hingga El harus memindahkan kami ke dekat air. Saat itu kusapa Pam yang hanya terdiam menatapku.
“Damainya, Pam. Ko kenapa? Ko baik2 saja ka? Baru ko pu laki2 yang bawa ko tuh?”, tanyaku dengan tatapan iba.
“Aih tra usah tanya – tanya suda. Ko tra lihat sa badan skarang bagaimana ka. Su kaco, tra laku, su gemuk skali nih, pangkotor lagi. Apalagi laki – laki itu de su buang sa mo”, katanya dengan malu.
Kami masih berbincang hingga sebelum aku pulang. Pam, memang pernah lebih cantik daripadaku. Ia memang pernah sangat menarik, bahkan sangat modern. Entahlah ... tapi mendengar cerita tentang bagaimana ia dibuang dan dimaki – maki lelaki itu karena aroma badannya, bahkan terkatung – katung dibawa hujan dan gelombang di laut dan sempat tenggelam di areal terumbu karang membuatku merasa bersyukur bahwa aku tak secantik Pam. Aku masih ingin bicara lama dengan Pam tapi apa dayaku kala ombak menggulungnya pergi lagi. Selamat tinggal Pam!
***
Epilog
Dua minggu lagi aku akan meninggalkan ibu El dan pergi ke rumah tante Lina, itu kata ibu El tadi siang. Tugasku bersama Loli telah rampung.
Mungkin aku Loy(or) biasa – biasa saja tapi aku bahagia dengan hidupku. Setidaknya aku lebih beruntung dari Pam(pers).
Sorry, Pam .... but I have to ‘come out of my closet’*!
(Manokwari, 090411; terilhami pengalaman berenang dan snorkeling dan ketemu banyak produk popok tak-ramah-lingkungan di areal terumbu karang dan pantai).
Catatan:
Come out of my closet
(Inggris) Idiom atau kiasan yang dipakai untuk mengekspresikan pengakuan sebuah rahasia usai sekian lama tersimpan dalam hati. Bila dibaca secara literal artinya ‘keluar dari lemari pakaian’ ^_^
Kapal putih 100% guaranteed
Minggu terakhir Januari 2011 kuisi dengan sebuah perjalanan dari Manokwari menuju Jayapura. Perjalanan ini sebagaimana perjalanan lainnya yang kutempuh akhir – akhir ini umumnya memakai jasa kapal – kapal penumpang milik sebuah perusahaan nasional pelayaran. Di tanah kelahiranku, kapal– kapal milik perusahaan ini kerap disebut ‘kapal putih’. Kapal – kapal milik perusahaan ini melayari laut di daerah utara dan selatan pulau Papua dengan berbagai rute serta tingkatan kelas pelayanan yang berbeda. Tentu saja semuanya akan berhubungan dengan kompensasi harga tiket yang bervariasi. Catatanku kali ini lebih menyoroti pengalamanku naik sebuah kapal milik perusahaan ini yang melayari kota – kota seperti Manokwari – Wasior – Nabire – Serui – Biak dan Jayapura. Nama kapal ini tentu saja tak akan kusebut dalam catatan ini tapi anda dapat mengasosiasikannya dengan sebuah nama gunung berpuncak salju di sebuah tempat di tanah kelahiranku.
Perjalanan yang kumulai tanggal 26 Januari 2011 pukul 2 siang dari Manokwari dimulai dengan aksi gencet – gencetan penumpang, buruh dan aparat keamanan plus petugas pelabuhan. Aksi sikut – menyikut, dorong – mendorong diwarnai pula dengan makian, umpatan dan permohonan memelas dari para penumpang. Cuaca yang panas di pelabuhan Manokwari semakin menambah tekanan emosi untuk meledak saat pemeriksaan tiket tak hanya dilakukan satu kali tetapi berkali – kali guna mencegah adanya para penumpang liar di kapal. Di Manokwari, kami menyebut para penumpang liar ini sebagai ‘pelarian’ atau ‘pela’. Aku tak akan memrotes upaya penyaringan penumpang seperti yang dilakukan di pelabuhan ini tetapi dengan kondisi pelabuhan yang panas, penumpang yang berdesak – desakan dan juga tekanan beban yang harus dibawa semisal tas punggung, karton – karton besar, ataupun anak kecil, perjalanan dengan kapal laut tentu bukan sebuah perjalanan yang mulus dan nyaman. Bahkan mungkin perjalanan ini bermasalah ataupun penuh masalah. Belum termasuk resiko perjalanan yang akan dihadapi di atas kapal.
Tebakanku cukup tepat. Sewaktu kapal hendak berlayar pun, tekanan dan aksi dorong belum juga usai. Ditambah lagi resiko terbentur oleh barang bawaan penumpang lain dan resiko dicopet saat berdesak – desakan mencari tempat. Maklum saat perjalanan ini dimulai aku memposisikan diriku sebagai penumpang kelas ekonomi alias penumpang dengan tingkat kenyamanan terendah dalam artian bersedia menerima segala bentuk perlakuan yang mungkin kurang manusiawi sebagai pembeli jasa pelayanan pelayaran. Sebut saja resiko tak mendapat tempat tidur dan harus tidur beralaskan tikar ataupun kertas pembungkus semen di bawah tangga, lorong, di sudut – sudut dek ataupun di koridor luar kapal dengan beratapkan langit gelap. Aku juga harus memikirkan resiko bersinggungan dengan orang – orang yang tak kukenal yang berada di sekitarku, entah di sebelah tempatku berbaring pun di dekat ku berdiriyi’ atau duduk. Apakah harus memercayai mereka ataukah mencurigai mereka. Belum lagi ditambah ketidaknyamanan dalam menggunakan fasilitas kamar mandi; toilet yang ‘taprop’, popok bayi dan pembalut wanita yang dibuang sembarangan, air yang mengalir ibarat ‘kencing bayi’ hingga air kamar mandi yang meluap ke luar kamar mandi serta aroma kamar mandi yang khas menusuk hidung. Makanan dan minuman pun jauh dari kenyamanan walaupun sebuah franchise ayam goreng dari Amerika membuka gerai mininya di kapal ini, toh tak ada yang nyaman tapi gratis. It’s all about money, honey. You get what you pay tapi kadang di kapal putih, you pay more for something less you get; membayar ‘calo’ kamar ABK hingga ‘makanan kelas’ dan lain – lain.
Walaupun resiko sebagai penumpang kelas ekonomi cukup beragam, aku menikmatinya karena kemungkinan belajar tentang hidup yang kudapatkan dari sudut pandang orang lain begitu besar bahkan aku menemukan ‘kemanusiaanku’ lewat perjalanan seperti ini. Aku belajar bagaimana sisi kewaspadaanku teruji di saat yang sama dengan membiarkan diriku percaya pada orang lain di sekitarku sewaktu menjadi penumpang ekonomi. Selain itu, ada banyak hal dan juga pengalaman – pengalaman unik yang kutemukan dalam perjalanan ini. Hal – hal yang kutemukan tak selalu baik tetapi ada juga yang membuatku marah, sedih dan kecewa. Semuanya menambah daftar apa yang kusebut ‘pengalaman hidup’.
Dalam catatan ini aku akan membaginya dalam beberapa bagian kecil seperti sebuah bagian tematis dan merefleksikan kehidupan penumpang kelas ekonomi karena bagaimanapun sebagian besar penduduk Papua bepergian dengan menggunakan kelas pelayanan ini karena tiketnya yang terjangkau walau minus fasilitas.
Keamanan
Aspek keamanan mungkin sebuah kelemahan yang dimiliki penumpang yang menggunakan jasa perusahaan pelayaran seperti yang kupakai. Resiko kehilangan barang dan juga resiko berbenturan dengan bentuk – bentuk intimidasi, pemerasan ataupun pelecehan bukanlah hal asing yang kutemukan. Seorang teman yang tempat tidurnya hanya beda dua tempat dariku kehilangan telepon genggamnya saat tertidur. Belum lagi kejadian sebulan lalu saat aku menumpangi kapal sejenis, yang mana dalam waktu semalam, lebih dari 2 orang kehilangan tas pakaian, tas ransel, telepon genggam dan juga dompet. Aku juga menemukan sebuah hal baru bahwa penumpang ekonomi khususnya penumpang wanita rawan mendapat pelecehan seksual baik verbal maupun fisik dari sesama penumpang lainnya ataupun dari awak kapal. Aku dan beberapa teman perempuan sempat mendapatkan pelecehan secara verbal saat hendak membeli mie instant di kafetaria kapal. Sayangnya saat itu, kami sepakat untuk tidak menindaklanjuti dengan bentuk kekerasan verbal lainnya karena salah seorang dari kami sedang mabuk laut. Pengalaman ini tentu saja tidak menyenangkan.
Jaminan mutu mungkin bukan slogan yang dijual ‘kapal putih’. Selain keamanan ytang riskan, anda juga tak akan mendapatkan slogan ‘barang hilang akan dicari’. Di kapal putih, you are on your own alias anda mengurus diri sendiri. Aku mengingat bagaimana para penumpang yang sibuk mencari sendiri barang mereka yang hilang ataupun laporan temanku ke pihak keamanan kapal yang entah ditindaklanjuti. Hingga kami berkelakar kalau mungkin ‘daun bisa menyelesaikan masalah’ *saran yang tak layak dicoba.
Mabok plus - plus
“Alcohol is kapal putih’s another name”; Alkohol adalah nama lain kapal putih. Sindiran ini sengaja kuberikan karena melihat bagaimana kemabukan dan minuman beralkohol menjadi nama lain dari pelayaran yang kuikuti. Pelayaran kapal putih selain membawa beberapa pasokan bahan makanan dan barang – barang perdagangan dari daerah lain di Indonesia barat juga menjadi sarana ‘penyelundupan’ minuman keras ke kota kelahiranku ataupun kota – kota lainnya. Bahkan terdapat sejumlah penumpang yang memindahkan ‘bar’ ke lorong – lorong kapal. Tingkah penumpang yang mengonsumsi alkohol kadang berefek menciptakan kekerasan. Bentuk kekerasan yang kerap terjadi adalah intimidasi orang – orang tertentu khususnya yang dalam keadaan mabuk untuk meminta uang dari para penumpang lainnya. Umumnya intimidasi ini dilakukan oleh para aparat keamanan yang mabuk. Aku tak ingin menyebutkan label korps tetapi anggota kedua korps ini sangat umum ditemukan berkeliaran di areal publik. Aku sempat memergoki seorang aparat meminta pop mie dan sirup gratis dari penjaga kafe yang ogah – ogahan, karena tampaknya oknum aparat ini tak hanya mensubsidi dirinya tetapi juga serombongan temannya yang lain, yang tentu saja sedang ‘mabok berjamaah’. Selain oknum aparat yang memeras, ada juga oknum aparat yang kerap menggoda penumpang wanita muda. Aku salah satu korbannya.
Pengalaman ‘digoda’ ini tentu saja jauh dari aspek kenyamanan. Saat kutemani seorang teman yang kelaparan dan mencari makan di kafetaria kapal, kami terpaksa meladeni obrolan seorang oknum aparat mabuk dari sebuah kabupaten pemekaran baru di daerah teluk Cenderawasih yang sedang memamerkan telepon genggam. Dengan mulut beraroma minuman keras lokal, ia sibuk mengajakku bercerita yang kutanggapi ogah – ogahan. Usut punya usut, ia hanya oknum aparat yang baru saja beberapa tahun menjadi ‘anggota’. Tak sia – sia aku ‘menjual’beberapa nama kerabat jauh yang kebetulan adalah atasan oknum ini agar ia tak menggangguku dengan cerita ‘pamernya’. Mungkin ia hanya butuh pengakuan ataupun kurang perhatian sehingga bertingkah seperti itu. Entahlah ... ya sudahlah. Anggap saja mendapat seorang kenalan baru di perjalanan yang mungkin akan bermanfaat suatu hari nanti. Buktinya, sebelum ia turun di pelabuhan tujuannya dan melihatku di anjungan dek 7, ia masih ‘berpamitan’ hendak turun.
Orang mabuk mungkin fenomena umum yang kerap kutemukan tiap kali naik ‘kapal putih’. Mulai dari para oknum aparat, masyarakat umum, para lelaki tua, remaja hingga bocah belasan tahun, yang sayangnya semuanya lelaki. Mereka sering kutemukan dalam keadaan berjalan ataupun tergeletak dengan aroma minuman keras lokal. Aku masih bisa membedakan aroma minuman keras lokal ataupun pabrikan. Yang ini jelas berbau ‘lokal’, entah itu saguer, ampouw, bobo, balo, lumpur lapindo atau apapun namanya. Sayangnya dengan menenggak minuman keras sebelum dan selama perjalanan berisiko memicu bentuk kriminalitas dan resiko kecelakaan. Kasus penumpang jatuh dari kapal ataupun perkelahian yang berujung kematian bukan sebuah cerita dongeng tetapi nyata dalam perjalanan ‘kapal putih’ di perairan Papua. Belum lagi resiko lainnya yang perlu dipikirkan misalnya ada dari mereka yang positif HIV ataupun IMS dan dalam keadaan mabuk berisiko melakukan kontak seksual ataupun tindakan lainnya yang berisiko menularkan ‘penyakit’ yang mereka idap. Everything can happen when you are high, honey.
Murah Vs ‘Diperas’
Bila ditilik dari harga tiket, kelas ekonomi adalah kelas termurah dibandingkan kelas lainnya pada pelayanan kapal putih apalagi bila dibandingkan dengan jasa pesawat terbang. Untuk aku yang menyukai perjalanan a la ‘tukang pikul ransel’ alias backpacker, kelas ini termasuk sempurna. Tetapi bila dihitung dari segi bisnis, kalau anda mudah tergoda membelanjakan uang, sebaiknya hindari memakai kelas ini. Harga tiket yang murah tak sebanding dengan ‘pemborosan’ yang harus anda lakukan apalagi bila rute yang harus anda lewati sangat panjang alias ‘kapal putih’ ini telah menjelma menjadi ‘kapal perintis’; kapal antar pulau. Mulai dari kebutuhan air mineral, makanan bahkan hingga kebutuhan fashion, wewangian, mainan anak hingga barang elektronik tersedia di kapal ini. Bahkan monopoli perdagangan kadang terjadi di kapal ini kala sebulan lalu, aku memergoki bagaimana para ABK yang merangkap penjual menyita barang – barang milik penumpang yang ‘nyambi’ jadi pedagang di kapal. Konon, barang yang mereka sita akan kembali mereka jual. Toh pada satu sisi aku mengerti mengapa para ABK dapat bertindak seperti itu. Dari obrolan lepas yang pernah kulakukan sekitar dua tahun lalu, gaji para ABK memang tak sepadan sehingga ‘berdagang’ menjadi pilihan lain mereka. Selain itu perusahaan pelayaran tak dapat menggaji mereka dengan layak karena konon biaya perawatan kapal yang besar. Fakta ini tentu saja only God knows; karena bukan sa pu tete yang pu kapal *wkwwkwkkwkwk
Tempat yang dijual juga membuat kata ‘murah’ jauh dari kelas ekonomi. Kasur – kasur yang sebenarnya gratis diperjualbelikan oleh para tenaga bongkar muat yang menguasai tiap pelabuhan. Bayaran mereka mulai dari harga rokok hingga Rp. 50. 000/kasur. Belum lagi anda harus membeli tikar dari bungkus semen ataupun ‘kain bali’ dan ‘selimut’ dari para ABK. Kamar – kamar ABK pun disewakan, umumnya berkisar Rp. 100. 000/pelabuhan. Di kapal ini, segala hal dapat dijual. Mungkin kalau sekoci penyelamatan di atas dilengkapi kasur ataupun tempat tidur, mungkin juga akan disewakan =D
100 % guaranteed
Semboyan ini layak dilabelkan pada pelayaran kelas ekonomi. Banyak hal gila dan aneh yang hanya didapatkan kala memilih kelas ekonomi. Pengalaman bulan lalu mengajarkan bahwa aku tak harus pergi berbungee-jumping untuk mendapatkan adrenalinku melompat – lompat. Ceritanya aku menempati dek II yang dekat dengan areal mesin kapal dan juga bioskop mini. Gara – gara asap rokok yang terlalu pekat karena gaya merokok para penumpang cowok di dekku bisa menyaingi kereta api uap, alarm kebakaranpun meraung – raung. 30 menit alarm cukup bisa membuat para penumpang panik dan kalang kabut apalagi saat pintu kedap air otomatis menutup. Jangan tanya bagaimana reaksi aku dan penumpang lainnya dalam dek 2. apalagi kapal sejak awal perjalanan selalu oleng diterjang ombak yang tinggi. Serasa dunia memang sedang menuju ‘2012’. Sisi positifnya, aku dan penumpang lainnya jadi punya cerita lucu sepanjang perjalanan plus para penumpang ‘kereta api’ berhenti merokok. Selalu ada sisi positif dari tiap keburukan *filosofis mode: ON.
Pelayaran dengan kapal penumpang di pantai Papua memang tak ada duanya. Terlepas dari ketidaknyamanan selama pelayaran, ada banyak hal yang dapat dipelajari lewat pelayaran. Tiba – tiba aku berpikir, “Orang Papua sendiri harus punya kapal yang hanya melayari dari Sorong sampai Jayapura dengan pelayanan maksimal dan dengan pengamanan super ketat; kalo perlu bayar pace – pace badan tokmar ka spesialis suanggi untuk jaga kapal =D”. Kapan ya??? * Menurut anda?
(Cigombong, 05022011)
Perjalanan yang kumulai tanggal 26 Januari 2011 pukul 2 siang dari Manokwari dimulai dengan aksi gencet – gencetan penumpang, buruh dan aparat keamanan plus petugas pelabuhan. Aksi sikut – menyikut, dorong – mendorong diwarnai pula dengan makian, umpatan dan permohonan memelas dari para penumpang. Cuaca yang panas di pelabuhan Manokwari semakin menambah tekanan emosi untuk meledak saat pemeriksaan tiket tak hanya dilakukan satu kali tetapi berkali – kali guna mencegah adanya para penumpang liar di kapal. Di Manokwari, kami menyebut para penumpang liar ini sebagai ‘pelarian’ atau ‘pela’. Aku tak akan memrotes upaya penyaringan penumpang seperti yang dilakukan di pelabuhan ini tetapi dengan kondisi pelabuhan yang panas, penumpang yang berdesak – desakan dan juga tekanan beban yang harus dibawa semisal tas punggung, karton – karton besar, ataupun anak kecil, perjalanan dengan kapal laut tentu bukan sebuah perjalanan yang mulus dan nyaman. Bahkan mungkin perjalanan ini bermasalah ataupun penuh masalah. Belum termasuk resiko perjalanan yang akan dihadapi di atas kapal.
Tebakanku cukup tepat. Sewaktu kapal hendak berlayar pun, tekanan dan aksi dorong belum juga usai. Ditambah lagi resiko terbentur oleh barang bawaan penumpang lain dan resiko dicopet saat berdesak – desakan mencari tempat. Maklum saat perjalanan ini dimulai aku memposisikan diriku sebagai penumpang kelas ekonomi alias penumpang dengan tingkat kenyamanan terendah dalam artian bersedia menerima segala bentuk perlakuan yang mungkin kurang manusiawi sebagai pembeli jasa pelayanan pelayaran. Sebut saja resiko tak mendapat tempat tidur dan harus tidur beralaskan tikar ataupun kertas pembungkus semen di bawah tangga, lorong, di sudut – sudut dek ataupun di koridor luar kapal dengan beratapkan langit gelap. Aku juga harus memikirkan resiko bersinggungan dengan orang – orang yang tak kukenal yang berada di sekitarku, entah di sebelah tempatku berbaring pun di dekat ku berdiriyi’ atau duduk. Apakah harus memercayai mereka ataukah mencurigai mereka. Belum lagi ditambah ketidaknyamanan dalam menggunakan fasilitas kamar mandi; toilet yang ‘taprop’, popok bayi dan pembalut wanita yang dibuang sembarangan, air yang mengalir ibarat ‘kencing bayi’ hingga air kamar mandi yang meluap ke luar kamar mandi serta aroma kamar mandi yang khas menusuk hidung. Makanan dan minuman pun jauh dari kenyamanan walaupun sebuah franchise ayam goreng dari Amerika membuka gerai mininya di kapal ini, toh tak ada yang nyaman tapi gratis. It’s all about money, honey. You get what you pay tapi kadang di kapal putih, you pay more for something less you get; membayar ‘calo’ kamar ABK hingga ‘makanan kelas’ dan lain – lain.
Walaupun resiko sebagai penumpang kelas ekonomi cukup beragam, aku menikmatinya karena kemungkinan belajar tentang hidup yang kudapatkan dari sudut pandang orang lain begitu besar bahkan aku menemukan ‘kemanusiaanku’ lewat perjalanan seperti ini. Aku belajar bagaimana sisi kewaspadaanku teruji di saat yang sama dengan membiarkan diriku percaya pada orang lain di sekitarku sewaktu menjadi penumpang ekonomi. Selain itu, ada banyak hal dan juga pengalaman – pengalaman unik yang kutemukan dalam perjalanan ini. Hal – hal yang kutemukan tak selalu baik tetapi ada juga yang membuatku marah, sedih dan kecewa. Semuanya menambah daftar apa yang kusebut ‘pengalaman hidup’.
Dalam catatan ini aku akan membaginya dalam beberapa bagian kecil seperti sebuah bagian tematis dan merefleksikan kehidupan penumpang kelas ekonomi karena bagaimanapun sebagian besar penduduk Papua bepergian dengan menggunakan kelas pelayanan ini karena tiketnya yang terjangkau walau minus fasilitas.
Keamanan
Aspek keamanan mungkin sebuah kelemahan yang dimiliki penumpang yang menggunakan jasa perusahaan pelayaran seperti yang kupakai. Resiko kehilangan barang dan juga resiko berbenturan dengan bentuk – bentuk intimidasi, pemerasan ataupun pelecehan bukanlah hal asing yang kutemukan. Seorang teman yang tempat tidurnya hanya beda dua tempat dariku kehilangan telepon genggamnya saat tertidur. Belum lagi kejadian sebulan lalu saat aku menumpangi kapal sejenis, yang mana dalam waktu semalam, lebih dari 2 orang kehilangan tas pakaian, tas ransel, telepon genggam dan juga dompet. Aku juga menemukan sebuah hal baru bahwa penumpang ekonomi khususnya penumpang wanita rawan mendapat pelecehan seksual baik verbal maupun fisik dari sesama penumpang lainnya ataupun dari awak kapal. Aku dan beberapa teman perempuan sempat mendapatkan pelecehan secara verbal saat hendak membeli mie instant di kafetaria kapal. Sayangnya saat itu, kami sepakat untuk tidak menindaklanjuti dengan bentuk kekerasan verbal lainnya karena salah seorang dari kami sedang mabuk laut. Pengalaman ini tentu saja tidak menyenangkan.
Jaminan mutu mungkin bukan slogan yang dijual ‘kapal putih’. Selain keamanan ytang riskan, anda juga tak akan mendapatkan slogan ‘barang hilang akan dicari’. Di kapal putih, you are on your own alias anda mengurus diri sendiri. Aku mengingat bagaimana para penumpang yang sibuk mencari sendiri barang mereka yang hilang ataupun laporan temanku ke pihak keamanan kapal yang entah ditindaklanjuti. Hingga kami berkelakar kalau mungkin ‘daun bisa menyelesaikan masalah’ *saran yang tak layak dicoba.
Mabok plus - plus
“Alcohol is kapal putih’s another name”; Alkohol adalah nama lain kapal putih. Sindiran ini sengaja kuberikan karena melihat bagaimana kemabukan dan minuman beralkohol menjadi nama lain dari pelayaran yang kuikuti. Pelayaran kapal putih selain membawa beberapa pasokan bahan makanan dan barang – barang perdagangan dari daerah lain di Indonesia barat juga menjadi sarana ‘penyelundupan’ minuman keras ke kota kelahiranku ataupun kota – kota lainnya. Bahkan terdapat sejumlah penumpang yang memindahkan ‘bar’ ke lorong – lorong kapal. Tingkah penumpang yang mengonsumsi alkohol kadang berefek menciptakan kekerasan. Bentuk kekerasan yang kerap terjadi adalah intimidasi orang – orang tertentu khususnya yang dalam keadaan mabuk untuk meminta uang dari para penumpang lainnya. Umumnya intimidasi ini dilakukan oleh para aparat keamanan yang mabuk. Aku tak ingin menyebutkan label korps tetapi anggota kedua korps ini sangat umum ditemukan berkeliaran di areal publik. Aku sempat memergoki seorang aparat meminta pop mie dan sirup gratis dari penjaga kafe yang ogah – ogahan, karena tampaknya oknum aparat ini tak hanya mensubsidi dirinya tetapi juga serombongan temannya yang lain, yang tentu saja sedang ‘mabok berjamaah’. Selain oknum aparat yang memeras, ada juga oknum aparat yang kerap menggoda penumpang wanita muda. Aku salah satu korbannya.
Pengalaman ‘digoda’ ini tentu saja jauh dari aspek kenyamanan. Saat kutemani seorang teman yang kelaparan dan mencari makan di kafetaria kapal, kami terpaksa meladeni obrolan seorang oknum aparat mabuk dari sebuah kabupaten pemekaran baru di daerah teluk Cenderawasih yang sedang memamerkan telepon genggam. Dengan mulut beraroma minuman keras lokal, ia sibuk mengajakku bercerita yang kutanggapi ogah – ogahan. Usut punya usut, ia hanya oknum aparat yang baru saja beberapa tahun menjadi ‘anggota’. Tak sia – sia aku ‘menjual’beberapa nama kerabat jauh yang kebetulan adalah atasan oknum ini agar ia tak menggangguku dengan cerita ‘pamernya’. Mungkin ia hanya butuh pengakuan ataupun kurang perhatian sehingga bertingkah seperti itu. Entahlah ... ya sudahlah. Anggap saja mendapat seorang kenalan baru di perjalanan yang mungkin akan bermanfaat suatu hari nanti. Buktinya, sebelum ia turun di pelabuhan tujuannya dan melihatku di anjungan dek 7, ia masih ‘berpamitan’ hendak turun.
Orang mabuk mungkin fenomena umum yang kerap kutemukan tiap kali naik ‘kapal putih’. Mulai dari para oknum aparat, masyarakat umum, para lelaki tua, remaja hingga bocah belasan tahun, yang sayangnya semuanya lelaki. Mereka sering kutemukan dalam keadaan berjalan ataupun tergeletak dengan aroma minuman keras lokal. Aku masih bisa membedakan aroma minuman keras lokal ataupun pabrikan. Yang ini jelas berbau ‘lokal’, entah itu saguer, ampouw, bobo, balo, lumpur lapindo atau apapun namanya. Sayangnya dengan menenggak minuman keras sebelum dan selama perjalanan berisiko memicu bentuk kriminalitas dan resiko kecelakaan. Kasus penumpang jatuh dari kapal ataupun perkelahian yang berujung kematian bukan sebuah cerita dongeng tetapi nyata dalam perjalanan ‘kapal putih’ di perairan Papua. Belum lagi resiko lainnya yang perlu dipikirkan misalnya ada dari mereka yang positif HIV ataupun IMS dan dalam keadaan mabuk berisiko melakukan kontak seksual ataupun tindakan lainnya yang berisiko menularkan ‘penyakit’ yang mereka idap. Everything can happen when you are high, honey.
Murah Vs ‘Diperas’
Bila ditilik dari harga tiket, kelas ekonomi adalah kelas termurah dibandingkan kelas lainnya pada pelayanan kapal putih apalagi bila dibandingkan dengan jasa pesawat terbang. Untuk aku yang menyukai perjalanan a la ‘tukang pikul ransel’ alias backpacker, kelas ini termasuk sempurna. Tetapi bila dihitung dari segi bisnis, kalau anda mudah tergoda membelanjakan uang, sebaiknya hindari memakai kelas ini. Harga tiket yang murah tak sebanding dengan ‘pemborosan’ yang harus anda lakukan apalagi bila rute yang harus anda lewati sangat panjang alias ‘kapal putih’ ini telah menjelma menjadi ‘kapal perintis’; kapal antar pulau. Mulai dari kebutuhan air mineral, makanan bahkan hingga kebutuhan fashion, wewangian, mainan anak hingga barang elektronik tersedia di kapal ini. Bahkan monopoli perdagangan kadang terjadi di kapal ini kala sebulan lalu, aku memergoki bagaimana para ABK yang merangkap penjual menyita barang – barang milik penumpang yang ‘nyambi’ jadi pedagang di kapal. Konon, barang yang mereka sita akan kembali mereka jual. Toh pada satu sisi aku mengerti mengapa para ABK dapat bertindak seperti itu. Dari obrolan lepas yang pernah kulakukan sekitar dua tahun lalu, gaji para ABK memang tak sepadan sehingga ‘berdagang’ menjadi pilihan lain mereka. Selain itu perusahaan pelayaran tak dapat menggaji mereka dengan layak karena konon biaya perawatan kapal yang besar. Fakta ini tentu saja only God knows; karena bukan sa pu tete yang pu kapal *wkwwkwkkwkwk
Tempat yang dijual juga membuat kata ‘murah’ jauh dari kelas ekonomi. Kasur – kasur yang sebenarnya gratis diperjualbelikan oleh para tenaga bongkar muat yang menguasai tiap pelabuhan. Bayaran mereka mulai dari harga rokok hingga Rp. 50. 000/kasur. Belum lagi anda harus membeli tikar dari bungkus semen ataupun ‘kain bali’ dan ‘selimut’ dari para ABK. Kamar – kamar ABK pun disewakan, umumnya berkisar Rp. 100. 000/pelabuhan. Di kapal ini, segala hal dapat dijual. Mungkin kalau sekoci penyelamatan di atas dilengkapi kasur ataupun tempat tidur, mungkin juga akan disewakan =D
100 % guaranteed
Semboyan ini layak dilabelkan pada pelayaran kelas ekonomi. Banyak hal gila dan aneh yang hanya didapatkan kala memilih kelas ekonomi. Pengalaman bulan lalu mengajarkan bahwa aku tak harus pergi berbungee-jumping untuk mendapatkan adrenalinku melompat – lompat. Ceritanya aku menempati dek II yang dekat dengan areal mesin kapal dan juga bioskop mini. Gara – gara asap rokok yang terlalu pekat karena gaya merokok para penumpang cowok di dekku bisa menyaingi kereta api uap, alarm kebakaranpun meraung – raung. 30 menit alarm cukup bisa membuat para penumpang panik dan kalang kabut apalagi saat pintu kedap air otomatis menutup. Jangan tanya bagaimana reaksi aku dan penumpang lainnya dalam dek 2. apalagi kapal sejak awal perjalanan selalu oleng diterjang ombak yang tinggi. Serasa dunia memang sedang menuju ‘2012’. Sisi positifnya, aku dan penumpang lainnya jadi punya cerita lucu sepanjang perjalanan plus para penumpang ‘kereta api’ berhenti merokok. Selalu ada sisi positif dari tiap keburukan *filosofis mode: ON.
Pelayaran dengan kapal penumpang di pantai Papua memang tak ada duanya. Terlepas dari ketidaknyamanan selama pelayaran, ada banyak hal yang dapat dipelajari lewat pelayaran. Tiba – tiba aku berpikir, “Orang Papua sendiri harus punya kapal yang hanya melayari dari Sorong sampai Jayapura dengan pelayanan maksimal dan dengan pengamanan super ketat; kalo perlu bayar pace – pace badan tokmar ka spesialis suanggi untuk jaga kapal =D”. Kapan ya??? * Menurut anda?
(Cigombong, 05022011)
Kuburan 101
Areal pemakaman di Manokwari tentu saja punya banyak cerita. Ada cinta, ada duka bahkan ada yang seram. Catatanku kali ini hanya berupa ekstraksi ingatanku, rangkuman urban legend terkait kuburan dan arealnya di Manokwari serta hal – hal kecil yang sering kudengar. Bukan sebuah laporan faktual. Hanya keping – keping kenangan yang sempat singgah di otak toh catatan ini pun hanya sebuah dokumentasi subyektif tanpa nama. Anggap saja dongeng sebelum tidur!!!
Catatanku kumulai tentang areal kompleks kuburan Kristen yang merupakan kuburan umum terbesar. Kuburan ini punya banyak cerita selain urusan ‘kubur – mengubur’ dan ‘wisata lilin romantis a la Natal dan Tahun baru’. Kuburan ini berseberangan dengan pantai berpasir putih. Di siang dan sore hari, pantai ini kerap dijadikan tempat mengaso para peziarah, tukang ojek, dan mas – mas penjual Baso Malang. Kala gelap membungkus bumi, anak muda yang nongkrong dan berpacaran memilih tempat ini karena di depan lokasi pekuburan terdapat talud yang menghadap teluk kecil. Bulan purnama lebih cantik bila dipandang dari tempat ini.
Urusan pacaran juga bukan barang baru di areal pantai dan kuburan Kristen. Tempatnya yang gelap dan ditumbuhi pohon – pohon besar sering menjadi tempat transaksi seksual, quickie sex bahkan pemerkosaan. Yang lebih seram lagi, jangan pernah mencoba pacaran remang – remang di pantainya hanya dengan pacar anda yang bukan atlet bela diri dan tak punya senjata api ataupun senjata tajam apalagi saat bulan gelap. Konon, anda dan pasangan akan menjadi target empuk para ‘pemeras’ berkelompok. Alih – alih mendapat ketenangan batin bertemu ‘cinta’ e malah uang ataupun telepon genggam berpindah tangan dan lebih buruk lagi, akan ada perulangan kejadian beberapa tahun silam. Beberapa tahun silam di kawasan ini, entah di pantai kuburan ataupun di pantai teluk sebelahnya, seorang cewek SMA diperkosa saat berpacaran oleh sekelompok lelaki tak dikenal yang tampaknya telah memantau pasangan muda ini. Kesimpulannya, ‘pacaran berjamaah’ wajib hukumnya di kawasan ini.
Urban legend ataupun legenda kota yang terkait dengan kuburan Pasir Putih pun kerap kudengar. Sewaktu aku kecil, banyak pohon kamboja yang tumbuh di pinggir jalan kuburan. Tiap kali berkendara motor pasti akan kau cium aroma kemboja yang kental. Konon, pada masa kecilku, sering pengendara motor yang kerap melewati tempat ini ditipu oleh ‘penampakan perempuan cantik’ yang hendak menumpang pulang tapi ternyata berakhir di sela – sela pohon Kemboja. Ataupun juga cerita tentang peti mati yang terbang. Bahkan kisah penampakan kuntilanak pun perempuan cantik bukan barang baru. Kisah suanggi malah tak terlalu heboh kecuali bila ada pemakaman yang kematian almarhum/ah ditengarai disebabkan oleh ilmu hitam; biasanya makam tersebut akan dijaga beberapa malam ataupun dicor semen agar aman.
Selain tiga jejeran kuburan di Pasir Putih, Manokwari mungkin kota yang penuh dengan pemakaman. Tentu saja pemakaman yang kumaksud adalah pemakaman yang memang dibuat dan bukan yang tak terlacak karena sebagai anak yang dibesarkan di tanah Papua, secara sadar aku tahu ada banyak ‘kuburan – kuburan’ lain yang tidak pernah disebut ‘kuburan’. Semacam ‘pusara tanpa nama’ *Black Brothers mode: ON. ‘Pusara tanpa nama’ yang kumaksud adalah kuburan – kuburan korban kekerasan HAM khususnya yang terjadi dari masa pra aneksasi Papua Barat ke Indonesia hingga saat sekarang; seperti kuburan nenek kandungku yang entah berada di hutan mana. Sedangkan kuburan – kuburan rakyat yang diakui keberadaannya ini tersebar di tiap sudut kota walau telah ada dua ‘kuburan’ yang dipindahkan pada tahun 1990an.
Manokwari sebagai kota administratif resmi tertua di tanah Papua dan telah berumur 113 tahun tentu saja bertabur kuburan yang umumnya adalah kuburan Kristen. Mulai dari kuburan rakyat di kampung Dowansiba, Amban. Begitu juga areal pemakaman Kristen yang mulai terabrasi di daerah Andai yang berpasir putih. Ditambah lagi areal pemakaman untuk para ‘pahlawan’ dan ‘taman makam bahagia’ untuk anggota keamanan. Pemakaman ini belum pernah kukunjungi secara intens walaupun ‘tete’ * kandungku terbaring abadi di tempat ini. Selain itu terdapat kuburan umum di areal – areal luar kota seperti di Prafi, Ransiki dan sepanjang kampung – kampung pesisir bahkan di kampung – kampung dataran tinggi. Terdapat juga kuburan – kuburan di samping rumah pribadi seperti yang kutemukan di daerah Amban. Bahkan ada juga kuburan – kuburan pribadi milik keluarga seperti di daerah Fanindi dalam yaitu kompleks tempat tinggalku.
Lokasi kuburan keluarga di Fanindi terletak pada dua sisi lokasi yang dibatasi oleh sebuah kali. Bila anda memutuskan untuk menjelajahi kali di kompleks ini, jangan kaget bila di tepian tebing pinggir kali terdapat ‘rumah – rumah kecil masa depan’. Kuburan di Fanindi terbagi dua; pekuburan milik keluarga besar Lodewyck Mandacan dan kuburan rakyat lainnya. Pekuburan keluarga besar Lodewyck Mandacan berada di seputaran rumah tua milik almarhum Lodewyck Mandacan yang mantan kepala suku besar Arfak dan menampung anggota keluarga besar yang meninggal. Entah berapa banyak orang yang dikuburkan di sana. Yang aku tahu, ada banyak oom dan tanteku, keponakan dan sepupu serta para nenek yang dikuburkan di sana kecuali tete kandungku. Lokasinya dikelilingi oleh rumah – rumah milik keluarga besarku. Pemandangan yang kadang menurutku sangat paradoks. Di lokasi kuburan yang lain, tepatnya yang berada pada areal kompleks RRI, terdapat kuburan milik orang Arfak pemilik tanah. Aku kadang kala masih merinding bila bermain ke halaman belakang rumah sahabatku karena jejeran kuburan yang menyembul keluar dari semak – semak dan pepohonan belakang rumahnya. Aku tidak tahu pasti seberapa sering penguburan dilakukan di tempat ini.
Upaya relokasi kuburan demi sebuah pembangunan bertajuk ‘modern’ pun tak luput di kota ini. Karena telah ada dua kuburan yang direlokasi yaitu kuburan Cina dan kuburan Sahara. Kuburan Cina yang berlokasi di antara kantor RRI dan Telkom serta terletak di daerah jalan protokol mungkin satu contoh kuburan yang cantik pada masa lalu. Kuburan yang terletak di kelurahan Padarni ini awalnya adalah kuburan umum jaman Belanda yang tak hanya berisikan kuburan etnis Tionghoa tetapi juga orang Eropa dan penduduk Manokwari lainnya. Populasi Manokwari sebelum tahun 1963 ditengarai dihuni oleh ribuan orang dengan persentase masyarakat kota yang beragam tetapi umumnya dihuni oleh orang Belanda, Maluku, Sanger dan Papua. Areal pekuburan ini kemungkinan dipilih karena pada masa itu kompleks ini termasuk kawasan berpenduduk sedikit.
Aku punya beberapa kenangan tentang kuburan ini. Sewaktu kecil aku sangat menyukai kuburan ini karena terletak di pinggir jalan protokol dengan pohon – pohon besar yang mencuat dan tanaman menjalar. Sangat misterius. Bahkan makam – makam Belanda di sana walaupun berlumut menyisakan keanggunan masa silam bahkan residen Belanda pertama di Manokwari dikuburkan di tempat ini. Fakta ini kudapatkan saat aku masih seorang anak SD yang mengikuti teman – teman sekolah mingguku mengutak atik kokeran bibit pohon – pohon yang disemaikan di areal bawah pohon beringin di tempat ini. Di waktu senggang, aku menjadi ‘penjelajah kuburan’ membaca nama – nama para penghuni alam baka.
Kenangan lain yang muncul tentang kuburan ini membawaku ke tahun 2007 saat harus mengejar dan menangkap seorang teman cewek yang mengalami depresi berat. Teman perempuan ini, sebut saja si X, mengalami masalah pribadi dengan mantan pacarnya yang kebetulan adalah temanku sehingga si X depresi berat dan kabur dari karirnya di Ambon dan menuju Manokwari. Tiap kali mengingat si X, aku akan mengingat bagaimana ‘olahraga di kuburan’. Aku ingat jelas bagaimana malam itu aku ditelpon tantenya si X kalau si X lagi ngamuk dan kabur dari rumah kontrakan oomnya yang kebetulan berseberangan jalan dengan kuburan dan bersembunyi a la petak umpat di makam – makam Belanda lama. Tentu saja semua orang dikerahkan mengejarnya. Akhirnya si X ketangkap juga di kuburan. Usut punya usut, kaburnya si X ke kuburan semata – mata ya gara – gara si oom ‘sumbur deng halia’ alias ‘ritual pengusir roh jahat’ =D What a life!!!
Kuburan lain yang direlokasi adalah pekuburan di sisi kali jembatan Sahara; Sahara di masa lalu adalah nama sebuah toko milik keluarga Cina Fak – Fak yang tinggal di dekat jembatan dan kuburan ini. Sewaktu SD kawasan itu sering membuatku sedikit ngeri karena jejeran kuburan Kristen di bantaran kali. Apalagi kala mendengar kisah Manokwari lama dari mamaku yang keluarganya telah bergenerasi tinggal di Manokwari. Konon, dahulu pada tahun 1950an atau 1960an, ada keluarga Belanda yang pernah tabrakan dan jatuh ke dalam kali dan anak perempuan remajanya meninggal ‘mati tampa’ (on the spot) pas di areal samping jembatan dan sering membuat acara ‘penampakan’ dan meminta ‘korban’ tiap bulan tertentu. Dipengaruhi oleh cerita ini, sewaktu SD tiap kali melewati jembatan Sahara dan juga jembatan yang lainnya apalagi bila melirik ke arah sisi bawah jembatan yang dijejeri kuburan, aku kadang harus menahan napas. Untunglah kuburan ini direlokasi ke kuburan Kristen di Pasir Putih. *lega mode: ON
Kuburan mungkin salah satu tempat yang kukunjungi bila sempat kala berkunjung ke suatu tempat baru. Selalu terpapar, selalu kutatap walau dengan separuh napas usai mengumpulkan keberanian. Aku percaya cara pandang tentang kehidupan dan budaya sebuah masyarakat terefleksi dalam areal kuburan mereka dan cara mereka menghargai kematian. Walau aku tahu, kehidupan manusia kala hidup harus tetap lebih layak dihargai. Bagaimana dengan anda? Tertarik?
(Cigombong, Jayapura; 3 Februari 2011)
Catatan:
Tete: (Melayu Papua) kakek, opa
Catatanku kumulai tentang areal kompleks kuburan Kristen yang merupakan kuburan umum terbesar. Kuburan ini punya banyak cerita selain urusan ‘kubur – mengubur’ dan ‘wisata lilin romantis a la Natal dan Tahun baru’. Kuburan ini berseberangan dengan pantai berpasir putih. Di siang dan sore hari, pantai ini kerap dijadikan tempat mengaso para peziarah, tukang ojek, dan mas – mas penjual Baso Malang. Kala gelap membungkus bumi, anak muda yang nongkrong dan berpacaran memilih tempat ini karena di depan lokasi pekuburan terdapat talud yang menghadap teluk kecil. Bulan purnama lebih cantik bila dipandang dari tempat ini.
Urusan pacaran juga bukan barang baru di areal pantai dan kuburan Kristen. Tempatnya yang gelap dan ditumbuhi pohon – pohon besar sering menjadi tempat transaksi seksual, quickie sex bahkan pemerkosaan. Yang lebih seram lagi, jangan pernah mencoba pacaran remang – remang di pantainya hanya dengan pacar anda yang bukan atlet bela diri dan tak punya senjata api ataupun senjata tajam apalagi saat bulan gelap. Konon, anda dan pasangan akan menjadi target empuk para ‘pemeras’ berkelompok. Alih – alih mendapat ketenangan batin bertemu ‘cinta’ e malah uang ataupun telepon genggam berpindah tangan dan lebih buruk lagi, akan ada perulangan kejadian beberapa tahun silam. Beberapa tahun silam di kawasan ini, entah di pantai kuburan ataupun di pantai teluk sebelahnya, seorang cewek SMA diperkosa saat berpacaran oleh sekelompok lelaki tak dikenal yang tampaknya telah memantau pasangan muda ini. Kesimpulannya, ‘pacaran berjamaah’ wajib hukumnya di kawasan ini.
Urban legend ataupun legenda kota yang terkait dengan kuburan Pasir Putih pun kerap kudengar. Sewaktu aku kecil, banyak pohon kamboja yang tumbuh di pinggir jalan kuburan. Tiap kali berkendara motor pasti akan kau cium aroma kemboja yang kental. Konon, pada masa kecilku, sering pengendara motor yang kerap melewati tempat ini ditipu oleh ‘penampakan perempuan cantik’ yang hendak menumpang pulang tapi ternyata berakhir di sela – sela pohon Kemboja. Ataupun juga cerita tentang peti mati yang terbang. Bahkan kisah penampakan kuntilanak pun perempuan cantik bukan barang baru. Kisah suanggi malah tak terlalu heboh kecuali bila ada pemakaman yang kematian almarhum/ah ditengarai disebabkan oleh ilmu hitam; biasanya makam tersebut akan dijaga beberapa malam ataupun dicor semen agar aman.
Selain tiga jejeran kuburan di Pasir Putih, Manokwari mungkin kota yang penuh dengan pemakaman. Tentu saja pemakaman yang kumaksud adalah pemakaman yang memang dibuat dan bukan yang tak terlacak karena sebagai anak yang dibesarkan di tanah Papua, secara sadar aku tahu ada banyak ‘kuburan – kuburan’ lain yang tidak pernah disebut ‘kuburan’. Semacam ‘pusara tanpa nama’ *Black Brothers mode: ON. ‘Pusara tanpa nama’ yang kumaksud adalah kuburan – kuburan korban kekerasan HAM khususnya yang terjadi dari masa pra aneksasi Papua Barat ke Indonesia hingga saat sekarang; seperti kuburan nenek kandungku yang entah berada di hutan mana. Sedangkan kuburan – kuburan rakyat yang diakui keberadaannya ini tersebar di tiap sudut kota walau telah ada dua ‘kuburan’ yang dipindahkan pada tahun 1990an.
Manokwari sebagai kota administratif resmi tertua di tanah Papua dan telah berumur 113 tahun tentu saja bertabur kuburan yang umumnya adalah kuburan Kristen. Mulai dari kuburan rakyat di kampung Dowansiba, Amban. Begitu juga areal pemakaman Kristen yang mulai terabrasi di daerah Andai yang berpasir putih. Ditambah lagi areal pemakaman untuk para ‘pahlawan’ dan ‘taman makam bahagia’ untuk anggota keamanan. Pemakaman ini belum pernah kukunjungi secara intens walaupun ‘tete’ * kandungku terbaring abadi di tempat ini. Selain itu terdapat kuburan umum di areal – areal luar kota seperti di Prafi, Ransiki dan sepanjang kampung – kampung pesisir bahkan di kampung – kampung dataran tinggi. Terdapat juga kuburan – kuburan di samping rumah pribadi seperti yang kutemukan di daerah Amban. Bahkan ada juga kuburan – kuburan pribadi milik keluarga seperti di daerah Fanindi dalam yaitu kompleks tempat tinggalku.
Lokasi kuburan keluarga di Fanindi terletak pada dua sisi lokasi yang dibatasi oleh sebuah kali. Bila anda memutuskan untuk menjelajahi kali di kompleks ini, jangan kaget bila di tepian tebing pinggir kali terdapat ‘rumah – rumah kecil masa depan’. Kuburan di Fanindi terbagi dua; pekuburan milik keluarga besar Lodewyck Mandacan dan kuburan rakyat lainnya. Pekuburan keluarga besar Lodewyck Mandacan berada di seputaran rumah tua milik almarhum Lodewyck Mandacan yang mantan kepala suku besar Arfak dan menampung anggota keluarga besar yang meninggal. Entah berapa banyak orang yang dikuburkan di sana. Yang aku tahu, ada banyak oom dan tanteku, keponakan dan sepupu serta para nenek yang dikuburkan di sana kecuali tete kandungku. Lokasinya dikelilingi oleh rumah – rumah milik keluarga besarku. Pemandangan yang kadang menurutku sangat paradoks. Di lokasi kuburan yang lain, tepatnya yang berada pada areal kompleks RRI, terdapat kuburan milik orang Arfak pemilik tanah. Aku kadang kala masih merinding bila bermain ke halaman belakang rumah sahabatku karena jejeran kuburan yang menyembul keluar dari semak – semak dan pepohonan belakang rumahnya. Aku tidak tahu pasti seberapa sering penguburan dilakukan di tempat ini.
Upaya relokasi kuburan demi sebuah pembangunan bertajuk ‘modern’ pun tak luput di kota ini. Karena telah ada dua kuburan yang direlokasi yaitu kuburan Cina dan kuburan Sahara. Kuburan Cina yang berlokasi di antara kantor RRI dan Telkom serta terletak di daerah jalan protokol mungkin satu contoh kuburan yang cantik pada masa lalu. Kuburan yang terletak di kelurahan Padarni ini awalnya adalah kuburan umum jaman Belanda yang tak hanya berisikan kuburan etnis Tionghoa tetapi juga orang Eropa dan penduduk Manokwari lainnya. Populasi Manokwari sebelum tahun 1963 ditengarai dihuni oleh ribuan orang dengan persentase masyarakat kota yang beragam tetapi umumnya dihuni oleh orang Belanda, Maluku, Sanger dan Papua. Areal pekuburan ini kemungkinan dipilih karena pada masa itu kompleks ini termasuk kawasan berpenduduk sedikit.
Aku punya beberapa kenangan tentang kuburan ini. Sewaktu kecil aku sangat menyukai kuburan ini karena terletak di pinggir jalan protokol dengan pohon – pohon besar yang mencuat dan tanaman menjalar. Sangat misterius. Bahkan makam – makam Belanda di sana walaupun berlumut menyisakan keanggunan masa silam bahkan residen Belanda pertama di Manokwari dikuburkan di tempat ini. Fakta ini kudapatkan saat aku masih seorang anak SD yang mengikuti teman – teman sekolah mingguku mengutak atik kokeran bibit pohon – pohon yang disemaikan di areal bawah pohon beringin di tempat ini. Di waktu senggang, aku menjadi ‘penjelajah kuburan’ membaca nama – nama para penghuni alam baka.
Kenangan lain yang muncul tentang kuburan ini membawaku ke tahun 2007 saat harus mengejar dan menangkap seorang teman cewek yang mengalami depresi berat. Teman perempuan ini, sebut saja si X, mengalami masalah pribadi dengan mantan pacarnya yang kebetulan adalah temanku sehingga si X depresi berat dan kabur dari karirnya di Ambon dan menuju Manokwari. Tiap kali mengingat si X, aku akan mengingat bagaimana ‘olahraga di kuburan’. Aku ingat jelas bagaimana malam itu aku ditelpon tantenya si X kalau si X lagi ngamuk dan kabur dari rumah kontrakan oomnya yang kebetulan berseberangan jalan dengan kuburan dan bersembunyi a la petak umpat di makam – makam Belanda lama. Tentu saja semua orang dikerahkan mengejarnya. Akhirnya si X ketangkap juga di kuburan. Usut punya usut, kaburnya si X ke kuburan semata – mata ya gara – gara si oom ‘sumbur deng halia’ alias ‘ritual pengusir roh jahat’ =D What a life!!!
Kuburan lain yang direlokasi adalah pekuburan di sisi kali jembatan Sahara; Sahara di masa lalu adalah nama sebuah toko milik keluarga Cina Fak – Fak yang tinggal di dekat jembatan dan kuburan ini. Sewaktu SD kawasan itu sering membuatku sedikit ngeri karena jejeran kuburan Kristen di bantaran kali. Apalagi kala mendengar kisah Manokwari lama dari mamaku yang keluarganya telah bergenerasi tinggal di Manokwari. Konon, dahulu pada tahun 1950an atau 1960an, ada keluarga Belanda yang pernah tabrakan dan jatuh ke dalam kali dan anak perempuan remajanya meninggal ‘mati tampa’ (on the spot) pas di areal samping jembatan dan sering membuat acara ‘penampakan’ dan meminta ‘korban’ tiap bulan tertentu. Dipengaruhi oleh cerita ini, sewaktu SD tiap kali melewati jembatan Sahara dan juga jembatan yang lainnya apalagi bila melirik ke arah sisi bawah jembatan yang dijejeri kuburan, aku kadang harus menahan napas. Untunglah kuburan ini direlokasi ke kuburan Kristen di Pasir Putih. *lega mode: ON
Kuburan mungkin salah satu tempat yang kukunjungi bila sempat kala berkunjung ke suatu tempat baru. Selalu terpapar, selalu kutatap walau dengan separuh napas usai mengumpulkan keberanian. Aku percaya cara pandang tentang kehidupan dan budaya sebuah masyarakat terefleksi dalam areal kuburan mereka dan cara mereka menghargai kematian. Walau aku tahu, kehidupan manusia kala hidup harus tetap lebih layak dihargai. Bagaimana dengan anda? Tertarik?
(Cigombong, Jayapura; 3 Februari 2011)
Catatan:
Tete: (Melayu Papua) kakek, opa
Curhat Manokwari
Kopi hitam bercampur sedikit gula kuseruput dalam – dalam. Aromanya yang khas menembus saraf perasaanku dan tiba – tiba seperti sebuah bohlam yang menyala di kepalaku, terbersit sebuah perkataan atau tepatnya judul sebuah buku kesaksian Kristen beberapa tahun lalu; “Surga itu nyata!” dan tentu saja aku memakainya sore ini. sungguh, Surga itu nyata ... maksudku untuk menggambarkan nikmatnya menyeruput kopi sambil ditemani tarian hujan di luar kamarku dan acara menulis mingguan. Benar – benar sepotong surga!
Hujan yang turun di luar mungkin menjadi sebuah ciri khas kota Manokwari; sebuah kota kecil yang sedang menggeliat di daerah kepala burung Manokwari. Manokwari, sebuah toponimi lokal yang merupakan hasil perubahan fonologis dari ‘Mnukwar’;sebuah kata berbahasa Biak yang berarti ‘Kampung lama atau kampung tua’ mungkin sebuah kota di tanah Papua yang kupanggil rumah. Walau nama kota ini sendiri diberikan oleh para migran Biak yang datang beberapa abad lalu di pesisir tempat ini dan bukannya memakai bahasa suku besar mamaku dari pegunungan yang mengitari daerah ini, apa boleh buat, toh sejarah selalu mencatat bahwa para ‘orang luar’ yang selalu berusaha ‘melegitimasi’ toponimi sebuah tempat. Sepertinya bahkan persoalan nama ini tak lagi diributkan oleh penduduk setempat karena saat toponimi sebuah tempat telah diberikan legitimasi tulisan dan hukum tertulis, kadang diperlukan suatu terobosan politik dan sosial budaya untuk mengubahnya, tergantung dari sikap penduduk lokal pertama. Di Manokwari tampaknya it’s not a big deal ibarat perkataan Shakespeare ‘apalah arti sebuah nama, toh Mawar biar diganti namanya pun tetap akan harum ^_^’
Bicara tentang para migran dan perpindahan penduduk yang masuk ke kota Manokwari, aku melihat sebuah pergerakan dan mobilisasi atau katakan saja tingkat pertambahan penduduk yang pesat beberapa tahun terakhir, yang sayangnya bukan karena faktor alami seperti kelahiran. Perkembangan demografi penduduk yang pesat ini kutengarai dipicu oleh berubahnya status Manokwari dari kabupaten menjadi ibukota provinsi Papua Barat. Perubahan status seperti ini tentu saja berdampak pada perputaran roda ekonomi yang menggeliat, akan ada pembangunan infrastruktur baru tingkat provinsi, akan ada perubahan tata kota dan lain – lain, yang implikasinya tetap akan berdampak pada segi ekonomi penduduk. Tulisan ini kubuat tentu saja bukan berupa artikel yang harus kupasang data statistik tentang perubahan jumlah penduduk dan perputaran ekonomi tapi lebih kepada catatan uneg – unegku sebagai anak Manokwari. Ya, aku lebih suka menyebut diriku ‘anak Manokwari’ dibandingkan menyebutku etnisitasku yang telah bercampur aduk. Bagiku kota Manokwari tak lagi menampung manusia – manusia yang mencintainya seperti dulu. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak tertata menyisakan banyak masalah bagi kota ini. Andai kota ini seorang perempuan, ia pasti telah berteriak melihat sampah yang mengotori laut dan daratan, pembangunan yang mengikis hutan lindung dan menebang hutan bakaunya.
Catatan ini bukan sebuah catatan yang akan berisikan data faktual tetapi lebih kepada catatan pribadiku. Enam bulan telah berlalu sejak kutinggalkan benua Australia. Tiap kali aku pergi berbelanja ke pertokoan besar di kota ini, boleh dikatakan sangat jarang aku bertemu orang – orang lama Manokwari. Karena wajah – wajah yang kutemui kebanyakan berasal dari kota lain di Papua ataupun dari daerah lain di Indonesia. Apalagi untuk melihat orang – orang berkulit gelap dan berambut keriting pun tak begitu banyak, bahkan di saat jam – jam ramai belanja seperti akhir pekan. Kadang aku merindukan suasana Manokwari jaman dahulu yang tenang dan hampir dapat mengidentifikasikan tempat tinggal orang lain, katakan saja, o si X itu tinggalnya di Reremi, si Y anak Kampung ambon dan lain – lain. Semacam sebuah ‘kesadaran’pengenalan masyarakat sekitar yang non-individualis. Entahlah, hujan sore ini membuatku bernostalgia tentang Manokwari yang kukenal.
Daerah perumahan di Manokwari saat ini pun telah bertambah. Daerah perumahan di kota Manokwari umumnya disebut ‘kompleks’. Tentu saja sangat berbeda di Jakarta misalnya yang menyebut ‘kompleks’ untuk merujuk pada perumahan mewah ataupun menengah ke atas. Di Manokwari, kata kompleks untuk merujuk pada unit – unit perumahan ataupun ‘cluster’ bahkan dapat mencakup kawasan pemukiman sejenis ‘suburb’ di Australia. Jumlah kompleks juga bertambah bahkan ada beberapa yang sebenarnya berada di daerah penampang hutan lindung dan daerah resapan air bahkan dikelola oleh sebuah unsur perangkat negara.. Bahkan di sebuah kawasan hutan konservasi, terdapat sebuah kampung baru tanpa struktur administrasi dari sebuah suku dari luar Manokwari. Aku khawatir di masa mendatang akan ada konflik berbau neo-tribalisme dengan pihak pemilik hak ulayat lokal ataupun dengan pihak pemerintah daerah.
Aku secara pribadi memang tak punya hak menentang perkembangan dan pembangunan kota kelahiran dan kota nenek moyangku, tapi aku hanya menyayangkan pengembangan kota tanpa analisis lingkungan dan sosial budaya serta pengelolaan tata ruang yang tepat. Banyak hal yang dapat kucatat dari perkembangan ini khususnya berkaitan dengan tata kelola kota dalam hal pengelolaan sampah dan bangunan, dampak perubahan lingkungan serta tingkat kriminalitas yang sempat membuatku sedikit ‘rindu’ akan suasana kota lama.
Pengelolaan sampah di kota Manokwari semakin memburuk bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Tumpukan sampah yang menggunung tak hanya ditemukan di areal pasar tradisional tetapi juga menjamur di tiap sudut perumahan bahkan laut di sekitar Manokwari telah berubah menjadi sebuah tempat sampah raksasa. Sampah organik dan anorganik yang membusuk semakin menusuk hidung usai turun hujan. Dapat dibayangkan bagaimana suasana jalan di Manokwari bila hari hujan karena sampah meluap ke jalan – jalan khususnya di daerah jalan baru Manokwari. Selain karena kesadaran masyarakat yang kurang dalam membuang sampah, kurangnya armada pengangkut sampah menjadi faktor lainnya. Bahkan aku sempat mendengar di siaran radio swasta lokal, ada warga masyarakat yang mengirimkan uneg – uneg tentang truk sampah milik Pemerintah daerah yang disalahgunakan ke daerah pinggiran kota. Manokwari saat ini ibarat kota sampah karena mau dimana saja, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari – hari ibarat jamur di musim hujan.
Perubahan lingkungan ataupun tata kota yang tak terencana juga tercermin lewat dampak lingkungan yang diakibatkannya. Banjir selutut di daerah Jalan Baru dapat dijadikan contoh. Tiap hujan lebat, jalan raya ini sering terendam banjir setinggi lutut oleh air hujan berwarna merah kecoklatan hasil aliran sedimentasi pinggiran bukit – bukit tanah liat yang terkikis air hujan. Curah hujan di Manokwari cukup tinggi sehingga kawasan ini berisiko longsor di masa mendatang. Belum lagi kesadaran masyarakat yang rendah dalam membuang sampah sehingga tiap hujan deras, sampah – sampah plastik bercampur material memenuhi badan jalan.
Pertumbuhan penduduk Manokwari yang pesat tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kehidupan kota ini. Meskipun demikian, tingkat mobilisasi penduduk yang meningkat dapat juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di kota ini. Mobilisasi penduduk dari daerah lain di Papua ataupun dari belahan lain Indonesia, tak hanya mengantarkan para tenaga kerja profesional ataupun para tenaga kerja tanpa keahlian yang mencoba mengadu untung, tapi juga membawa masuk para sindikat kejahatan, pencoleng, pencuri, perampok dan juga para ‘penjahat kelamin’. Modus kejahatan yang makin beragam kadang membuatku merasa tidak aman bila bepergian pada malam hari. Namun kekhawatiranku lebih pada perlindungan para keponakanku yang masih kecil. Minggu ini saja telah terjadi beberapa kasus pemerkosaan dan juga sodomi pada beberapa murid SD di tempat berbeda, yang sayangnya dilakukan oleh oknum ojek. Sikap oknum ojek ini sangat disayangkan karena para ojek menjadi salah satu nyawa transportasi di kotaku. Aku sangat berharap para oknum ojek ini dapat ditindak tegas sehingga jangan sampai merusak citra ojek di Manokwari, karena bagiku ojek teraman di Papua adalah ojek di kotaku.
Manokwari mungkin akan terus bergeliat dan terus mencari bentuknya sebagai ibukota provinsi baru di tanah ini. Aku hanya berharap bahwa semangat kota kecilnya dimana kesadaran komunal non-konsumtif yang masih menghargai peran lingkungan tak akan punah. Aku berharap akan ada kegerakan penyadaran lingkungan yang terjadi di kota. Semoga para manusia penghuni ini dapat sadar tentang peran lingkungan sebelum alam yang memilih menyadarkan mereka. Semoga tidak!!!
(Manokwari, 22 Januari 2011; sebuah sore penuh hujan)
Hujan yang turun di luar mungkin menjadi sebuah ciri khas kota Manokwari; sebuah kota kecil yang sedang menggeliat di daerah kepala burung Manokwari. Manokwari, sebuah toponimi lokal yang merupakan hasil perubahan fonologis dari ‘Mnukwar’;sebuah kata berbahasa Biak yang berarti ‘Kampung lama atau kampung tua’ mungkin sebuah kota di tanah Papua yang kupanggil rumah. Walau nama kota ini sendiri diberikan oleh para migran Biak yang datang beberapa abad lalu di pesisir tempat ini dan bukannya memakai bahasa suku besar mamaku dari pegunungan yang mengitari daerah ini, apa boleh buat, toh sejarah selalu mencatat bahwa para ‘orang luar’ yang selalu berusaha ‘melegitimasi’ toponimi sebuah tempat. Sepertinya bahkan persoalan nama ini tak lagi diributkan oleh penduduk setempat karena saat toponimi sebuah tempat telah diberikan legitimasi tulisan dan hukum tertulis, kadang diperlukan suatu terobosan politik dan sosial budaya untuk mengubahnya, tergantung dari sikap penduduk lokal pertama. Di Manokwari tampaknya it’s not a big deal ibarat perkataan Shakespeare ‘apalah arti sebuah nama, toh Mawar biar diganti namanya pun tetap akan harum ^_^’
Bicara tentang para migran dan perpindahan penduduk yang masuk ke kota Manokwari, aku melihat sebuah pergerakan dan mobilisasi atau katakan saja tingkat pertambahan penduduk yang pesat beberapa tahun terakhir, yang sayangnya bukan karena faktor alami seperti kelahiran. Perkembangan demografi penduduk yang pesat ini kutengarai dipicu oleh berubahnya status Manokwari dari kabupaten menjadi ibukota provinsi Papua Barat. Perubahan status seperti ini tentu saja berdampak pada perputaran roda ekonomi yang menggeliat, akan ada pembangunan infrastruktur baru tingkat provinsi, akan ada perubahan tata kota dan lain – lain, yang implikasinya tetap akan berdampak pada segi ekonomi penduduk. Tulisan ini kubuat tentu saja bukan berupa artikel yang harus kupasang data statistik tentang perubahan jumlah penduduk dan perputaran ekonomi tapi lebih kepada catatan uneg – unegku sebagai anak Manokwari. Ya, aku lebih suka menyebut diriku ‘anak Manokwari’ dibandingkan menyebutku etnisitasku yang telah bercampur aduk. Bagiku kota Manokwari tak lagi menampung manusia – manusia yang mencintainya seperti dulu. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak tertata menyisakan banyak masalah bagi kota ini. Andai kota ini seorang perempuan, ia pasti telah berteriak melihat sampah yang mengotori laut dan daratan, pembangunan yang mengikis hutan lindung dan menebang hutan bakaunya.
Catatan ini bukan sebuah catatan yang akan berisikan data faktual tetapi lebih kepada catatan pribadiku. Enam bulan telah berlalu sejak kutinggalkan benua Australia. Tiap kali aku pergi berbelanja ke pertokoan besar di kota ini, boleh dikatakan sangat jarang aku bertemu orang – orang lama Manokwari. Karena wajah – wajah yang kutemui kebanyakan berasal dari kota lain di Papua ataupun dari daerah lain di Indonesia. Apalagi untuk melihat orang – orang berkulit gelap dan berambut keriting pun tak begitu banyak, bahkan di saat jam – jam ramai belanja seperti akhir pekan. Kadang aku merindukan suasana Manokwari jaman dahulu yang tenang dan hampir dapat mengidentifikasikan tempat tinggal orang lain, katakan saja, o si X itu tinggalnya di Reremi, si Y anak Kampung ambon dan lain – lain. Semacam sebuah ‘kesadaran’pengenalan masyarakat sekitar yang non-individualis. Entahlah, hujan sore ini membuatku bernostalgia tentang Manokwari yang kukenal.
Daerah perumahan di Manokwari saat ini pun telah bertambah. Daerah perumahan di kota Manokwari umumnya disebut ‘kompleks’. Tentu saja sangat berbeda di Jakarta misalnya yang menyebut ‘kompleks’ untuk merujuk pada perumahan mewah ataupun menengah ke atas. Di Manokwari, kata kompleks untuk merujuk pada unit – unit perumahan ataupun ‘cluster’ bahkan dapat mencakup kawasan pemukiman sejenis ‘suburb’ di Australia. Jumlah kompleks juga bertambah bahkan ada beberapa yang sebenarnya berada di daerah penampang hutan lindung dan daerah resapan air bahkan dikelola oleh sebuah unsur perangkat negara.. Bahkan di sebuah kawasan hutan konservasi, terdapat sebuah kampung baru tanpa struktur administrasi dari sebuah suku dari luar Manokwari. Aku khawatir di masa mendatang akan ada konflik berbau neo-tribalisme dengan pihak pemilik hak ulayat lokal ataupun dengan pihak pemerintah daerah.
Aku secara pribadi memang tak punya hak menentang perkembangan dan pembangunan kota kelahiran dan kota nenek moyangku, tapi aku hanya menyayangkan pengembangan kota tanpa analisis lingkungan dan sosial budaya serta pengelolaan tata ruang yang tepat. Banyak hal yang dapat kucatat dari perkembangan ini khususnya berkaitan dengan tata kelola kota dalam hal pengelolaan sampah dan bangunan, dampak perubahan lingkungan serta tingkat kriminalitas yang sempat membuatku sedikit ‘rindu’ akan suasana kota lama.
Pengelolaan sampah di kota Manokwari semakin memburuk bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Tumpukan sampah yang menggunung tak hanya ditemukan di areal pasar tradisional tetapi juga menjamur di tiap sudut perumahan bahkan laut di sekitar Manokwari telah berubah menjadi sebuah tempat sampah raksasa. Sampah organik dan anorganik yang membusuk semakin menusuk hidung usai turun hujan. Dapat dibayangkan bagaimana suasana jalan di Manokwari bila hari hujan karena sampah meluap ke jalan – jalan khususnya di daerah jalan baru Manokwari. Selain karena kesadaran masyarakat yang kurang dalam membuang sampah, kurangnya armada pengangkut sampah menjadi faktor lainnya. Bahkan aku sempat mendengar di siaran radio swasta lokal, ada warga masyarakat yang mengirimkan uneg – uneg tentang truk sampah milik Pemerintah daerah yang disalahgunakan ke daerah pinggiran kota. Manokwari saat ini ibarat kota sampah karena mau dimana saja, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari – hari ibarat jamur di musim hujan.
Perubahan lingkungan ataupun tata kota yang tak terencana juga tercermin lewat dampak lingkungan yang diakibatkannya. Banjir selutut di daerah Jalan Baru dapat dijadikan contoh. Tiap hujan lebat, jalan raya ini sering terendam banjir setinggi lutut oleh air hujan berwarna merah kecoklatan hasil aliran sedimentasi pinggiran bukit – bukit tanah liat yang terkikis air hujan. Curah hujan di Manokwari cukup tinggi sehingga kawasan ini berisiko longsor di masa mendatang. Belum lagi kesadaran masyarakat yang rendah dalam membuang sampah sehingga tiap hujan deras, sampah – sampah plastik bercampur material memenuhi badan jalan.
Pertumbuhan penduduk Manokwari yang pesat tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kehidupan kota ini. Meskipun demikian, tingkat mobilisasi penduduk yang meningkat dapat juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di kota ini. Mobilisasi penduduk dari daerah lain di Papua ataupun dari belahan lain Indonesia, tak hanya mengantarkan para tenaga kerja profesional ataupun para tenaga kerja tanpa keahlian yang mencoba mengadu untung, tapi juga membawa masuk para sindikat kejahatan, pencoleng, pencuri, perampok dan juga para ‘penjahat kelamin’. Modus kejahatan yang makin beragam kadang membuatku merasa tidak aman bila bepergian pada malam hari. Namun kekhawatiranku lebih pada perlindungan para keponakanku yang masih kecil. Minggu ini saja telah terjadi beberapa kasus pemerkosaan dan juga sodomi pada beberapa murid SD di tempat berbeda, yang sayangnya dilakukan oleh oknum ojek. Sikap oknum ojek ini sangat disayangkan karena para ojek menjadi salah satu nyawa transportasi di kotaku. Aku sangat berharap para oknum ojek ini dapat ditindak tegas sehingga jangan sampai merusak citra ojek di Manokwari, karena bagiku ojek teraman di Papua adalah ojek di kotaku.
Manokwari mungkin akan terus bergeliat dan terus mencari bentuknya sebagai ibukota provinsi baru di tanah ini. Aku hanya berharap bahwa semangat kota kecilnya dimana kesadaran komunal non-konsumtif yang masih menghargai peran lingkungan tak akan punah. Aku berharap akan ada kegerakan penyadaran lingkungan yang terjadi di kota. Semoga para manusia penghuni ini dapat sadar tentang peran lingkungan sebelum alam yang memilih menyadarkan mereka. Semoga tidak!!!
(Manokwari, 22 Januari 2011; sebuah sore penuh hujan)
Curhat Manokwari
Kopi hitam bercampur sedikit gula kuseruput dalam – dalam. Aromanya yang khas menembus saraf perasaanku dan tiba – tiba seperti sebuah bohlam yang menyala di kepalaku, terbersit sebuah perkataan atau tepatnya judul sebuah buku kesaksian Kristen beberapa tahun lalu; “Surga itu nyata!” dan tentu saja aku memakainya sore ini. sungguh, Surga itu nyata ... maksudku untuk menggambarkan nikmatnya menyeruput kopi sambil ditemani tarian hujan di luar kamarku dan acara menulis mingguan. Benar – benar sepotong surga!
Hujan yang turun di luar mungkin menjadi sebuah ciri khas kota Manokwari; sebuah kota kecil yang sedang menggeliat di daerah kepala burung Manokwari. Manokwari, sebuah toponimi lokal yang merupakan hasil perubahan fonologis dari ‘Mnukwar’;sebuah kata berbahasa Biak yang berarti ‘Kampung lama atau kampung tua’ mungkin sebuah kota di tanah Papua yang kupanggil rumah. Walau nama kota ini sendiri diberikan oleh para migran Biak yang datang beberapa abad lalu di pesisir tempat ini dan bukannya memakai bahasa suku besar mamaku dari pegunungan yang mengitari daerah ini, apa boleh buat, toh sejarah selalu mencatat bahwa para ‘orang luar’ yang selalu berusaha ‘melegitimasi’ toponimi sebuah tempat. Sepertinya bahkan persoalan nama ini tak lagi diributkan oleh penduduk setempat karena saat toponimi sebuah tempat telah diberikan legitimasi tulisan dan hukum tertulis, kadang diperlukan suatu terobosan politik dan sosial budaya untuk mengubahnya, tergantung dari sikap penduduk lokal pertama. Di Manokwari tampaknya it’s not a big deal ibarat perkataan Shakespeare ‘apalah arti sebuah nama, toh Mawar biar diganti namanya pun tetap akan harum ^_^’
Bicara tentang para migran dan perpindahan penduduk yang masuk ke kota Manokwari, aku melihat sebuah pergerakan dan mobilisasi atau katakan saja tingkat pertambahan penduduk yang pesat beberapa tahun terakhir, yang sayangnya bukan karena faktor alami seperti kelahiran. Perkembangan demografi penduduk yang pesat ini kutengarai dipicu oleh berubahnya status Manokwari dari kabupaten menjadi ibukota provinsi Papua Barat. Perubahan status seperti ini tentu saja berdampak pada perputaran roda ekonomi yang menggeliat, akan ada pembangunan infrastruktur baru tingkat provinsi, akan ada perubahan tata kota dan lain – lain, yang implikasinya tetap akan berdampak pada segi ekonomi penduduk. Tulisan ini kubuat tentu saja bukan berupa artikel yang harus kupasang data statistik tentang perubahan jumlah penduduk dan perputaran ekonomi tapi lebih kepada catatan uneg – unegku sebagai anak Manokwari. Ya, aku lebih suka menyebut diriku ‘anak Manokwari’ dibandingkan menyebutku etnisitasku yang telah bercampur aduk. Bagiku kota Manokwari tak lagi menampung manusia – manusia yang mencintainya seperti dulu. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak tertata menyisakan banyak masalah bagi kota ini. Andai kota ini seorang perempuan, ia pasti telah berteriak melihat sampah yang mengotori laut dan daratan, pembangunan yang mengikis hutan lindung dan menebang hutan bakaunya.
Catatan ini bukan sebuah catatan yang akan berisikan data faktual tetapi lebih kepada catatan pribadiku. Enam bulan telah berlalu sejak kutinggalkan benua Australia. Tiap kali aku pergi berbelanja ke pertokoan besar di kota ini, boleh dikatakan sangat jarang aku bertemu orang – orang lama Manokwari. Karena wajah – wajah yang kutemui kebanyakan berasal dari kota lain di Papua ataupun dari daerah lain di Indonesia. Apalagi untuk melihat orang – orang berkulit gelap dan berambut keriting pun tak begitu banyak, bahkan di saat jam – jam ramai belanja seperti akhir pekan. Kadang aku merindukan suasana Manokwari jaman dahulu yang tenang dan hampir dapat mengidentifikasikan tempat tinggal orang lain, katakan saja, o si X itu tinggalnya di Reremi, si Y anak Kampung ambon dan lain – lain. Semacam sebuah ‘kesadaran’pengenalan masyarakat sekitar yang non-individualis. Entahlah, hujan sore ini membuatku bernostalgia tentang Manokwari yang kukenal.
Daerah perumahan di Manokwari saat ini pun telah bertambah. Daerah perumahan di kota Manokwari umumnya disebut ‘kompleks’. Tentu saja sangat berbeda di Jakarta misalnya yang menyebut ‘kompleks’ untuk merujuk pada perumahan mewah ataupun menengah ke atas. Di Manokwari, kata kompleks untuk merujuk pada unit – unit perumahan ataupun ‘cluster’ bahkan dapat mencakup kawasan pemukiman sejenis ‘suburb’ di Australia. Jumlah kompleks juga bertambah bahkan ada beberapa yang sebenarnya berada di daerah penampang hutan lindung dan daerah resapan air bahkan dikelola oleh sebuah unsur perangkat negara.. Bahkan di sebuah kawasan hutan konservasi, terdapat sebuah kampung baru tanpa struktur administrasi dari sebuah suku dari luar Manokwari. Aku khawatir di masa mendatang akan ada konflik berbau neo-tribalisme dengan pihak pemilik hak ulayat lokal ataupun dengan pihak pemerintah daerah.
Aku secara pribadi memang tak punya hak menentang perkembangan dan pembangunan kota kelahiran dan kota nenek moyangku, tapi aku hanya menyayangkan pengembangan kota tanpa analisis lingkungan dan sosial budaya serta pengelolaan tata ruang yang tepat. Banyak hal yang dapat kucatat dari perkembangan ini khususnya berkaitan dengan tata kelola kota dalam hal pengelolaan sampah dan bangunan, dampak perubahan lingkungan serta tingkat kriminalitas yang sempat membuatku sedikit ‘rindu’ akan suasana kota lama.
Pengelolaan sampah di kota Manokwari semakin memburuk bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Tumpukan sampah yang menggunung tak hanya ditemukan di areal pasar tradisional tetapi juga menjamur di tiap sudut perumahan bahkan laut di sekitar Manokwari telah berubah menjadi sebuah tempat sampah raksasa. Sampah organik dan anorganik yang membusuk semakin menusuk hidung usai turun hujan. Dapat dibayangkan bagaimana suasana jalan di Manokwari bila hari hujan karena sampah meluap ke jalan – jalan khususnya di daerah jalan baru Manokwari. Selain karena kesadaran masyarakat yang kurang dalam membuang sampah, kurangnya armada pengangkut sampah menjadi faktor lainnya. Bahkan aku sempat mendengar di siaran radio swasta lokal, ada warga masyarakat yang mengirimkan uneg – uneg tentang truk sampah milik Pemerintah daerah yang disalahgunakan ke daerah pinggiran kota. Manokwari saat ini ibarat kota sampah karena mau dimana saja, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari – hari ibarat jamur di musim hujan.
Perubahan lingkungan ataupun tata kota yang tak terencana juga tercermin lewat dampak lingkungan yang diakibatkannya. Banjir selutut di daerah Jalan Baru dapat dijadikan contoh. Tiap hujan lebat, jalan raya ini sering terendam banjir setinggi lutut oleh air hujan berwarna merah kecoklatan hasil aliran sedimentasi pinggiran bukit – bukit tanah liat yang terkikis air hujan. Curah hujan di Manokwari cukup tinggi sehingga kawasan ini berisiko longsor di masa mendatang. Belum lagi kesadaran masyarakat yang rendah dalam membuang sampah sehingga tiap hujan deras, sampah – sampah plastik bercampur material memenuhi badan jalan.
Pertumbuhan penduduk Manokwari yang pesat tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kehidupan kota ini. Meskipun demikian, tingkat mobilisasi penduduk yang meningkat dapat juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di kota ini. Mobilisasi penduduk dari daerah lain di Papua ataupun dari belahan lain Indonesia, tak hanya mengantarkan para tenaga kerja profesional ataupun para tenaga kerja tanpa keahlian yang mencoba mengadu untung, tapi juga membawa masuk para sindikat kejahatan, pencoleng, pencuri, perampok dan juga para ‘penjahat kelamin’. Modus kejahatan yang makin beragam kadang membuatku merasa tidak aman bila bepergian pada malam hari. Namun kekhawatiranku lebih pada perlindungan para keponakanku yang masih kecil. Minggu ini saja telah terjadi beberapa kasus pemerkosaan dan juga sodomi pada beberapa murid SD di tempat berbeda, yang sayangnya dilakukan oleh oknum ojek. Sikap oknum ojek ini sangat disayangkan karena para ojek menjadi salah satu nyawa transportasi di kotaku. Aku sangat berharap para oknum ojek ini dapat ditindak tegas sehingga jangan sampai merusak citra ojek di Manokwari, karena bagiku ojek teraman di Papua adalah ojek di kotaku.
Manokwari mungkin akan terus bergeliat dan terus mencari bentuknya sebagai ibukota provinsi baru di tanah ini. Aku hanya berharap bahwa semangat kota kecilnya dimana kesadaran komunal non-konsumtif yang masih menghargai peran lingkungan tak akan punah. Aku berharap akan ada kegerakan penyadaran lingkungan yang terjadi di kota. Semoga para manusia penghuni ini dapat sadar tentang peran lingkungan sebelum alam yang memilih menyadarkan mereka. Semoga tidak!!!
(Manokwari, 22 Januari 2011; sebuah sore penuh hujan)
Hujan yang turun di luar mungkin menjadi sebuah ciri khas kota Manokwari; sebuah kota kecil yang sedang menggeliat di daerah kepala burung Manokwari. Manokwari, sebuah toponimi lokal yang merupakan hasil perubahan fonologis dari ‘Mnukwar’;sebuah kata berbahasa Biak yang berarti ‘Kampung lama atau kampung tua’ mungkin sebuah kota di tanah Papua yang kupanggil rumah. Walau nama kota ini sendiri diberikan oleh para migran Biak yang datang beberapa abad lalu di pesisir tempat ini dan bukannya memakai bahasa suku besar mamaku dari pegunungan yang mengitari daerah ini, apa boleh buat, toh sejarah selalu mencatat bahwa para ‘orang luar’ yang selalu berusaha ‘melegitimasi’ toponimi sebuah tempat. Sepertinya bahkan persoalan nama ini tak lagi diributkan oleh penduduk setempat karena saat toponimi sebuah tempat telah diberikan legitimasi tulisan dan hukum tertulis, kadang diperlukan suatu terobosan politik dan sosial budaya untuk mengubahnya, tergantung dari sikap penduduk lokal pertama. Di Manokwari tampaknya it’s not a big deal ibarat perkataan Shakespeare ‘apalah arti sebuah nama, toh Mawar biar diganti namanya pun tetap akan harum ^_^’
Bicara tentang para migran dan perpindahan penduduk yang masuk ke kota Manokwari, aku melihat sebuah pergerakan dan mobilisasi atau katakan saja tingkat pertambahan penduduk yang pesat beberapa tahun terakhir, yang sayangnya bukan karena faktor alami seperti kelahiran. Perkembangan demografi penduduk yang pesat ini kutengarai dipicu oleh berubahnya status Manokwari dari kabupaten menjadi ibukota provinsi Papua Barat. Perubahan status seperti ini tentu saja berdampak pada perputaran roda ekonomi yang menggeliat, akan ada pembangunan infrastruktur baru tingkat provinsi, akan ada perubahan tata kota dan lain – lain, yang implikasinya tetap akan berdampak pada segi ekonomi penduduk. Tulisan ini kubuat tentu saja bukan berupa artikel yang harus kupasang data statistik tentang perubahan jumlah penduduk dan perputaran ekonomi tapi lebih kepada catatan uneg – unegku sebagai anak Manokwari. Ya, aku lebih suka menyebut diriku ‘anak Manokwari’ dibandingkan menyebutku etnisitasku yang telah bercampur aduk. Bagiku kota Manokwari tak lagi menampung manusia – manusia yang mencintainya seperti dulu. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak tertata menyisakan banyak masalah bagi kota ini. Andai kota ini seorang perempuan, ia pasti telah berteriak melihat sampah yang mengotori laut dan daratan, pembangunan yang mengikis hutan lindung dan menebang hutan bakaunya.
Catatan ini bukan sebuah catatan yang akan berisikan data faktual tetapi lebih kepada catatan pribadiku. Enam bulan telah berlalu sejak kutinggalkan benua Australia. Tiap kali aku pergi berbelanja ke pertokoan besar di kota ini, boleh dikatakan sangat jarang aku bertemu orang – orang lama Manokwari. Karena wajah – wajah yang kutemui kebanyakan berasal dari kota lain di Papua ataupun dari daerah lain di Indonesia. Apalagi untuk melihat orang – orang berkulit gelap dan berambut keriting pun tak begitu banyak, bahkan di saat jam – jam ramai belanja seperti akhir pekan. Kadang aku merindukan suasana Manokwari jaman dahulu yang tenang dan hampir dapat mengidentifikasikan tempat tinggal orang lain, katakan saja, o si X itu tinggalnya di Reremi, si Y anak Kampung ambon dan lain – lain. Semacam sebuah ‘kesadaran’pengenalan masyarakat sekitar yang non-individualis. Entahlah, hujan sore ini membuatku bernostalgia tentang Manokwari yang kukenal.
Daerah perumahan di Manokwari saat ini pun telah bertambah. Daerah perumahan di kota Manokwari umumnya disebut ‘kompleks’. Tentu saja sangat berbeda di Jakarta misalnya yang menyebut ‘kompleks’ untuk merujuk pada perumahan mewah ataupun menengah ke atas. Di Manokwari, kata kompleks untuk merujuk pada unit – unit perumahan ataupun ‘cluster’ bahkan dapat mencakup kawasan pemukiman sejenis ‘suburb’ di Australia. Jumlah kompleks juga bertambah bahkan ada beberapa yang sebenarnya berada di daerah penampang hutan lindung dan daerah resapan air bahkan dikelola oleh sebuah unsur perangkat negara.. Bahkan di sebuah kawasan hutan konservasi, terdapat sebuah kampung baru tanpa struktur administrasi dari sebuah suku dari luar Manokwari. Aku khawatir di masa mendatang akan ada konflik berbau neo-tribalisme dengan pihak pemilik hak ulayat lokal ataupun dengan pihak pemerintah daerah.
Aku secara pribadi memang tak punya hak menentang perkembangan dan pembangunan kota kelahiran dan kota nenek moyangku, tapi aku hanya menyayangkan pengembangan kota tanpa analisis lingkungan dan sosial budaya serta pengelolaan tata ruang yang tepat. Banyak hal yang dapat kucatat dari perkembangan ini khususnya berkaitan dengan tata kelola kota dalam hal pengelolaan sampah dan bangunan, dampak perubahan lingkungan serta tingkat kriminalitas yang sempat membuatku sedikit ‘rindu’ akan suasana kota lama.
Pengelolaan sampah di kota Manokwari semakin memburuk bila dibandingkan beberapa tahun lalu. Tumpukan sampah yang menggunung tak hanya ditemukan di areal pasar tradisional tetapi juga menjamur di tiap sudut perumahan bahkan laut di sekitar Manokwari telah berubah menjadi sebuah tempat sampah raksasa. Sampah organik dan anorganik yang membusuk semakin menusuk hidung usai turun hujan. Dapat dibayangkan bagaimana suasana jalan di Manokwari bila hari hujan karena sampah meluap ke jalan – jalan khususnya di daerah jalan baru Manokwari. Selain karena kesadaran masyarakat yang kurang dalam membuang sampah, kurangnya armada pengangkut sampah menjadi faktor lainnya. Bahkan aku sempat mendengar di siaran radio swasta lokal, ada warga masyarakat yang mengirimkan uneg – uneg tentang truk sampah milik Pemerintah daerah yang disalahgunakan ke daerah pinggiran kota. Manokwari saat ini ibarat kota sampah karena mau dimana saja, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari – hari ibarat jamur di musim hujan.
Perubahan lingkungan ataupun tata kota yang tak terencana juga tercermin lewat dampak lingkungan yang diakibatkannya. Banjir selutut di daerah Jalan Baru dapat dijadikan contoh. Tiap hujan lebat, jalan raya ini sering terendam banjir setinggi lutut oleh air hujan berwarna merah kecoklatan hasil aliran sedimentasi pinggiran bukit – bukit tanah liat yang terkikis air hujan. Curah hujan di Manokwari cukup tinggi sehingga kawasan ini berisiko longsor di masa mendatang. Belum lagi kesadaran masyarakat yang rendah dalam membuang sampah sehingga tiap hujan deras, sampah – sampah plastik bercampur material memenuhi badan jalan.
Pertumbuhan penduduk Manokwari yang pesat tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kehidupan kota ini. Meskipun demikian, tingkat mobilisasi penduduk yang meningkat dapat juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas di kota ini. Mobilisasi penduduk dari daerah lain di Papua ataupun dari belahan lain Indonesia, tak hanya mengantarkan para tenaga kerja profesional ataupun para tenaga kerja tanpa keahlian yang mencoba mengadu untung, tapi juga membawa masuk para sindikat kejahatan, pencoleng, pencuri, perampok dan juga para ‘penjahat kelamin’. Modus kejahatan yang makin beragam kadang membuatku merasa tidak aman bila bepergian pada malam hari. Namun kekhawatiranku lebih pada perlindungan para keponakanku yang masih kecil. Minggu ini saja telah terjadi beberapa kasus pemerkosaan dan juga sodomi pada beberapa murid SD di tempat berbeda, yang sayangnya dilakukan oleh oknum ojek. Sikap oknum ojek ini sangat disayangkan karena para ojek menjadi salah satu nyawa transportasi di kotaku. Aku sangat berharap para oknum ojek ini dapat ditindak tegas sehingga jangan sampai merusak citra ojek di Manokwari, karena bagiku ojek teraman di Papua adalah ojek di kotaku.
Manokwari mungkin akan terus bergeliat dan terus mencari bentuknya sebagai ibukota provinsi baru di tanah ini. Aku hanya berharap bahwa semangat kota kecilnya dimana kesadaran komunal non-konsumtif yang masih menghargai peran lingkungan tak akan punah. Aku berharap akan ada kegerakan penyadaran lingkungan yang terjadi di kota. Semoga para manusia penghuni ini dapat sadar tentang peran lingkungan sebelum alam yang memilih menyadarkan mereka. Semoga tidak!!!
(Manokwari, 22 Januari 2011; sebuah sore penuh hujan)
untitled
Malam ini sambil mulai mengetik catatan pribadi di tahun ini, saat jarum jam sudah menuju jam kecil, aku mengetik sambil ketawa membaca status sahabatku; Amos di newsfeed Facebook via HP “kodok – kodok di kebun kasbi mimpi buruk sampe dong ribut sekali =)) “. Terang saja si Amos heran, kan rumahnya memang di pondok darurat tapi lengkap dengan peralatan anti peluru di dalamnya ^___^ *sorry bro
Anyway, ini catatan yang mungkin kedengaran basi dan memang aku tak peduli. Cuma ingin tulis uneg – uneg yang terpendam selama 6 bulan terakhir; menulis untuk blog pribadi.
Malam ini usai emotionally broken dua minggu terakhir, akhirnya malam ini I feel a lil bit relieved to some point. May be my tonight conversation with Olive helps me a lot to talk about my hidden fear, dream and what I am gonna do with my life anyway. Yet, I know that my praying time just now is the key to feel peace. Yeap, talking and chatting with God are the keys of my serenity.
Lately, it seems that I am in a junction, thinking, analyzing about where the future will be. My hidden fear is reflected in my subconscious mind for nightmares came on and on, trying to consume my common sense. I have my own confession that in the end of 2010, I felt like a hostage at home, felt so worthless and even tried to think (actually I tried but on the initial step of committing suicide) to end my life. Just can’t believe that I spent two days rode my motorbike in such high speed to the outskirt of Manokwari just trying to prove to my mom that I’m worthy, mature enough Then, spent hours sitting alone in dark sandy beach; contemplating about the best way of suicide It’s so immature and foolish and the worst thing was I rejected the idea or the voice deep within me which kept saying that the Lord loves me and I am worthy to have a beautiful life.
This evening praying helps me a lot to find my self, to find Jesus back in my life; to rediscover my faith. Lord, I wanna be a better person this year, wanna try to resist the temptation especially swearing, complaining, and cursing.
I know that I haven’t be a good person, yet I wanna try, Lord. Try to find You in my life, again and again. Sometimes I feel that I am not deserved to accept Your such abundant love in my life, blessings and all good things. Anyway, Thanx for my life, Father. You’ve been so good to me. Thanx sudah mengirimkan para sahabat, saudara dan kekasih yang mengerti sa dan menyemangati sa pas sa down kayak kemarin; Ol***, R***, M***, No** ‘n J***. Berkati mereka dalam hidup mereka dan biarkan rencana-Mu yang terjadi dalam hidup mereka. Love them heaps. Amen.
(Manokwari, 100111)
Anyway, ini catatan yang mungkin kedengaran basi dan memang aku tak peduli. Cuma ingin tulis uneg – uneg yang terpendam selama 6 bulan terakhir; menulis untuk blog pribadi.
Malam ini usai emotionally broken dua minggu terakhir, akhirnya malam ini I feel a lil bit relieved to some point. May be my tonight conversation with Olive helps me a lot to talk about my hidden fear, dream and what I am gonna do with my life anyway. Yet, I know that my praying time just now is the key to feel peace. Yeap, talking and chatting with God are the keys of my serenity.
Lately, it seems that I am in a junction, thinking, analyzing about where the future will be. My hidden fear is reflected in my subconscious mind for nightmares came on and on, trying to consume my common sense. I have my own confession that in the end of 2010, I felt like a hostage at home, felt so worthless and even tried to think (actually I tried but on the initial step of committing suicide) to end my life. Just can’t believe that I spent two days rode my motorbike in such high speed to the outskirt of Manokwari just trying to prove to my mom that I’m worthy, mature enough Then, spent hours sitting alone in dark sandy beach; contemplating about the best way of suicide It’s so immature and foolish and the worst thing was I rejected the idea or the voice deep within me which kept saying that the Lord loves me and I am worthy to have a beautiful life.
This evening praying helps me a lot to find my self, to find Jesus back in my life; to rediscover my faith. Lord, I wanna be a better person this year, wanna try to resist the temptation especially swearing, complaining, and cursing.
I know that I haven’t be a good person, yet I wanna try, Lord. Try to find You in my life, again and again. Sometimes I feel that I am not deserved to accept Your such abundant love in my life, blessings and all good things. Anyway, Thanx for my life, Father. You’ve been so good to me. Thanx sudah mengirimkan para sahabat, saudara dan kekasih yang mengerti sa dan menyemangati sa pas sa down kayak kemarin; Ol***, R***, M***, No** ‘n J***. Berkati mereka dalam hidup mereka dan biarkan rencana-Mu yang terjadi dalam hidup mereka. Love them heaps. Amen.
(Manokwari, 100111)
cerpen: Usai tahun baru
USAI TAHUN BARU
Prolog
Titik di mana aku melepaskanmu pergi; Bukan titik kekalahanku. Bukan!!! Dan sekali lagi bukan. Mungkin karena aku harus melebur dalam titik hujan yang membaur dalam pori bumi demi sebuah kehidupan baru. To let you go!
***
Akhir November 2010
Jakarta
“Jadi ko pu akreditasi ijazah, bagaimana? Lama sampe. Ko yang pamalas urus to?”, cecarnya di ujung pembicaraan telpon kami. Dan “KLIK!”, telpon pun tertutup tanpa ada penjelasan apapun darinya.
Sebuah pesan singkat dari nomor ponselnya menyalip masuk dalam prosesor otakku kala sekilas isinya kubaca. “Sorry Rhe, sa cuma tra percaya ko. Itu saja!” Aku hanya bisa diam.
Entah bagaimana meyakinkan lelaki ini. Pembicaraan kami hampa akhir – akhir ini. Tak ada lagi perasaan serupa coklat cair manis menggelegak dalam pemanas. Tak ada lagi udara bertabur aroma mawar yang pecah di hati. Pun sentuhan pasir yang bergesekan dan bersatu dengan ayunan ombak tak lagi indah di pendengaranku.
Ada yang hilang (jauh di dalam hatiku) dan sekarang lelaki itu semakin membuatku tak tahu harus berkata apa.
***
Hampir tiga hari aku tak mendapat kabar darinya. Tak ada sepotong pun berita tentang dia yang tiba di otakku. Hingga di sebuah penghujung sore kala kukunjungi seorang teman di bilangan Salemba, satu pesan singkat masuk di ponselku.
“Sibuk s’kali ka? Macam trada kabar. Pokoknya sebelum natal su pulang eee. Jangan aneh ya!”, pesan lelaki itu.
Dan tiba – tiba aku kembali lagi kosong, hampa, tanpa jiwa dalam denyut nadiku.
***
“Rhe, harusnya ko su kas tahu dia to dari awal. It’s definitely wrong! You know, pokoknya sebagai sahabat, sa tra setuju!”, Dee memberikan pendapatnya saat aku sedang sibuk memelototi banana bread yang sedikit gosong di tepinya di meja sebuah kafe kecil.
“I know, Dee. Tapi kas tinggal suda, biar de tahu nan suda eee. Sa pamalas bahas akan eee. Su pernah coba usaha kas tahu beberapa kali, tapi lagi – lagi sa yang salah. Sa cape.”, ujarku.
Pembicaraan kami tentang lelaki itu, di penghujung sore di sebuah kafe kecil itu pun berganti dengan topik fashion, mantan pacar Dee hingga rencana natal. Topik akreditasi ijazah Masterku yang kudapat dari sebuah negara benua lima bulan lalu pun enggan keluar. Mungkin memang enggan keluar karena itu hanya sebuah alasan. Entahlah disebut alasan atau sebuah jalan keluar. Aku tak tahu!
***
Pertengahan Desember 2010
Jakarta
Sebuah pesan masuk dengan nada pribadi yang sangat kukenal. Tulisan – tulisan digital dalam huruf patah – patah itu pun masuk.
“Siz, z su dpt info tbaru lg. Ada bukti baru juga nih. Ko cek MMS2 yg z krm e. Ko mo prcya/tdk tuh ko pu urusan. Yg pst de ‘gedi’* ka ‘lemon’ *ko sj.”
Ragu – ragu kubaca lagi pesan itu. Tak sampai sepuluh menit usai beberapa layanan MMS masuk, aku bisa merasakan tetesan dingin hujan di luar kamar sahabat perempuanku menembus pori tubuh. Sambil memandang nanar cincin emas putih tanpa motif yang melingkar di jari manis tangan kiri, ku dengar suara seorang perempuan di kejauhan lewat jaringan Telkomsel; dari sebuah pulau emas berhiaskan burung – burung sorga. Sebuah penjelasan selama 1,5 jam itu cukup membuat kelenjar air mataku bekerja keras, bersatu padu dengan oseofagusku memompa lendir – lendir pengisi paru keluar membanjiri helai – helai sapu tangan kertas. Batinku jelas sedang tak bertakziah!!!
Dan kurasakan ada yang terbang menjauh dariku; hatiku!
***
“Rhe, jangan begitu ka? Main matikan HP saja ka kalo marah. Tong bicara bae2 dulu ya!”, kata lelaki itu usai beberapa panggilan telponnya kutolak.
Dan pembicaraan kami pun berlanjut dalam hubungan satu arah; aku menjadi pendengar setia unek – uneknya. Mulai dari kerjaan proyek yang belum dibayar hingga akhir tahun, rencana natalan dan tahun baru heboh di kota orang tuanya dan akhirnya mendarat juga di topik yang enggan kubahas; akreditasi ijazah.
“Jadi, kapan ko pu akreditasi ijazah seles ka? Macam lama sampe. Ko stop aneh suda. Tra mo lamar kerja ka? Macam tra bisa urus nasib tuh. Sa pu orang tua su tanya ko tuh. Pulang ke sini tempo, kalo trada lagi yang dikerjakan!”, ujarnya, yang bagiku lebih terdengar sebagai perintah yang tak dapat dibantah.
Tak menunggu lama, percakapan itu pun berakhir dengan sebuah “KLIK”. Kali ini aku yang membuatnya!
Masih dengan emosi campur aduk, kuperhatikan selembar stiker multiple entry dengan tanggal yang masih aktif; berhologram dan melekat di buku kecil empat-puluh-delapan lembar berwarna hijau dengan simbol Garuda. Kuperhatikan lagi layar komputer jinjing dengan sebuah modem kecil yang bertengger di sampingnya, tampilan sebuah surat elektronik dari seseorang bermata biru di sebuah negara benua muncul dengan jelas. Singkat, padat, jelas dan mengiris hati (tepatnya, membelah hati dan kesadaranku!!!)
“I will wait for you ‘till the end of time, Rhe”
***
Akhir Desember 2010
Jakarta
“Rhe, ko di mana? Neh tadi sa pi bandara, tapi ko tra turun dari pesawat. Ko di? Stop aneh – aneh suda. Keluarga besar ada mo ketemu 3 hari lagi. Awas kalo tra datang ke sapu keluarga besar pu perayaan natal eee.”, suara lelaki itu memberondongku di percakapan pertama hari ini.
“Sorry Fey, di bandara tadi sa tiba – tiba menggigil hancur dan lemas. Sa tadi pingsan. Untung ada Dee yang antar. Sorry eee, sa su coba tukar seat untuk beberapa hari ini, tapi belum ada kepastian nih. Kalo tra bisa, berarti sa tra bisa pulang, mungkin usai tahun baru eee.”, pungkasku.
“Usai tahun baru? Ko gila ka? Stop aneh suda. Pokoknya sa tunggu ko di bandara paling lambat 3 hari dari sekarang ee. Awas kalo tra datang!!!”, dan “KLIK”; percakapan terakhir kami yang kudengar dari balik ringkukan selimut hangat tebal di kamar kos!
***
Epilog
Pesta bakar duit baru saja berakhir meriah di langit Jakarta Utara bersamaan dengan iringan kemacetan kendaraan roda empat. Kupegang tiketku dengan erat dan buku hijau identitas diri.
Kuharap paket kiriman cincin logam putih itu tiba dengan selamat besok ke sebuah kota di daerah kepala burung tanah tabu beserta beberapa cetakan gambar beresolusi sedang dari ponsel; French Kiss sepasang lelaki dan perempuan hamil di pantai, berpegangan tangan di sebuah pantai pasir putih.
Lamat – lamat kupandangi lagi sobekan boarding tiketku sambil menuju gerbang boarding:
“
JKT – MELB Economy Class
Ms. Rhe Nemesis
“
I’m coming home this New Year. Usai Tahun Baru!!!
***
(Manokwari, 010111; bukan kisah nyata tentunya tapi yang pasti dibuat sambil bingung tunggu telpon ^___^)
Catatan:
* ‘gedi’
nama sejenis sayur di Papua yang terkenal karena daunnya yang sangat berlendir bila dirajang dan dicampur dengan air. Di daerah seperti Sorong Selatan bahkan dipakai sebagai sayur pengganti ikan kuah menemani ‘papeda’. Slang ini khususnya di Manokwari dipakai untuk mengungkapkan sifat seseorang yang suka membual, berbohong, atau berbicara omong kosong. Kadang dipakai berkolokasi dengan kata ‘mulut’ seperti dalam ‘mulut (ba)gedi’’ ataupun dalam ekspresi ‘musim hujan jadi gedi tumbuh subur’ ^___^ *analisa sosiolinguistik asal
* ‘lemon’
tanaman citrus ini menjadi elemen penting dalam salah satu hidangan makanan khas Papua; Papeda dan ikan kuah kuning dan khususnya di daerah pesisir Papua menjadi bumbu andalan dalam meramu produk masakan laut; menghilangkan amis. Karena sifatnya yang khas memberikan dan memanipulasi sesuatu yang ‘amis’ menjadi ‘baik’, tanaman ini digunakan dalam slang di Manokwari. Dalam slang di Manokwari khususnya kerap digunakan oleh penutur perempuan muda, ‘lemon’ merujuk pada sifat seseorang untuk menipu, memperdaya ataupun memanipulasi orang lain agar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang tersebut. Slang ini bernada negatif dan biasanya diungkapkan untuk orang yang tak begitu disukai sifatnya. *analisa sosiolinguistik asal
Prolog
Titik di mana aku melepaskanmu pergi; Bukan titik kekalahanku. Bukan!!! Dan sekali lagi bukan. Mungkin karena aku harus melebur dalam titik hujan yang membaur dalam pori bumi demi sebuah kehidupan baru. To let you go!
***
Akhir November 2010
Jakarta
“Jadi ko pu akreditasi ijazah, bagaimana? Lama sampe. Ko yang pamalas urus to?”, cecarnya di ujung pembicaraan telpon kami. Dan “KLIK!”, telpon pun tertutup tanpa ada penjelasan apapun darinya.
Sebuah pesan singkat dari nomor ponselnya menyalip masuk dalam prosesor otakku kala sekilas isinya kubaca. “Sorry Rhe, sa cuma tra percaya ko. Itu saja!” Aku hanya bisa diam.
Entah bagaimana meyakinkan lelaki ini. Pembicaraan kami hampa akhir – akhir ini. Tak ada lagi perasaan serupa coklat cair manis menggelegak dalam pemanas. Tak ada lagi udara bertabur aroma mawar yang pecah di hati. Pun sentuhan pasir yang bergesekan dan bersatu dengan ayunan ombak tak lagi indah di pendengaranku.
Ada yang hilang (jauh di dalam hatiku) dan sekarang lelaki itu semakin membuatku tak tahu harus berkata apa.
***
Hampir tiga hari aku tak mendapat kabar darinya. Tak ada sepotong pun berita tentang dia yang tiba di otakku. Hingga di sebuah penghujung sore kala kukunjungi seorang teman di bilangan Salemba, satu pesan singkat masuk di ponselku.
“Sibuk s’kali ka? Macam trada kabar. Pokoknya sebelum natal su pulang eee. Jangan aneh ya!”, pesan lelaki itu.
Dan tiba – tiba aku kembali lagi kosong, hampa, tanpa jiwa dalam denyut nadiku.
***
“Rhe, harusnya ko su kas tahu dia to dari awal. It’s definitely wrong! You know, pokoknya sebagai sahabat, sa tra setuju!”, Dee memberikan pendapatnya saat aku sedang sibuk memelototi banana bread yang sedikit gosong di tepinya di meja sebuah kafe kecil.
“I know, Dee. Tapi kas tinggal suda, biar de tahu nan suda eee. Sa pamalas bahas akan eee. Su pernah coba usaha kas tahu beberapa kali, tapi lagi – lagi sa yang salah. Sa cape.”, ujarku.
Pembicaraan kami tentang lelaki itu, di penghujung sore di sebuah kafe kecil itu pun berganti dengan topik fashion, mantan pacar Dee hingga rencana natal. Topik akreditasi ijazah Masterku yang kudapat dari sebuah negara benua lima bulan lalu pun enggan keluar. Mungkin memang enggan keluar karena itu hanya sebuah alasan. Entahlah disebut alasan atau sebuah jalan keluar. Aku tak tahu!
***
Pertengahan Desember 2010
Jakarta
Sebuah pesan masuk dengan nada pribadi yang sangat kukenal. Tulisan – tulisan digital dalam huruf patah – patah itu pun masuk.
“Siz, z su dpt info tbaru lg. Ada bukti baru juga nih. Ko cek MMS2 yg z krm e. Ko mo prcya/tdk tuh ko pu urusan. Yg pst de ‘gedi’* ka ‘lemon’ *ko sj.”
Ragu – ragu kubaca lagi pesan itu. Tak sampai sepuluh menit usai beberapa layanan MMS masuk, aku bisa merasakan tetesan dingin hujan di luar kamar sahabat perempuanku menembus pori tubuh. Sambil memandang nanar cincin emas putih tanpa motif yang melingkar di jari manis tangan kiri, ku dengar suara seorang perempuan di kejauhan lewat jaringan Telkomsel; dari sebuah pulau emas berhiaskan burung – burung sorga. Sebuah penjelasan selama 1,5 jam itu cukup membuat kelenjar air mataku bekerja keras, bersatu padu dengan oseofagusku memompa lendir – lendir pengisi paru keluar membanjiri helai – helai sapu tangan kertas. Batinku jelas sedang tak bertakziah!!!
Dan kurasakan ada yang terbang menjauh dariku; hatiku!
***
“Rhe, jangan begitu ka? Main matikan HP saja ka kalo marah. Tong bicara bae2 dulu ya!”, kata lelaki itu usai beberapa panggilan telponnya kutolak.
Dan pembicaraan kami pun berlanjut dalam hubungan satu arah; aku menjadi pendengar setia unek – uneknya. Mulai dari kerjaan proyek yang belum dibayar hingga akhir tahun, rencana natalan dan tahun baru heboh di kota orang tuanya dan akhirnya mendarat juga di topik yang enggan kubahas; akreditasi ijazah.
“Jadi, kapan ko pu akreditasi ijazah seles ka? Macam lama sampe. Ko stop aneh suda. Tra mo lamar kerja ka? Macam tra bisa urus nasib tuh. Sa pu orang tua su tanya ko tuh. Pulang ke sini tempo, kalo trada lagi yang dikerjakan!”, ujarnya, yang bagiku lebih terdengar sebagai perintah yang tak dapat dibantah.
Tak menunggu lama, percakapan itu pun berakhir dengan sebuah “KLIK”. Kali ini aku yang membuatnya!
Masih dengan emosi campur aduk, kuperhatikan selembar stiker multiple entry dengan tanggal yang masih aktif; berhologram dan melekat di buku kecil empat-puluh-delapan lembar berwarna hijau dengan simbol Garuda. Kuperhatikan lagi layar komputer jinjing dengan sebuah modem kecil yang bertengger di sampingnya, tampilan sebuah surat elektronik dari seseorang bermata biru di sebuah negara benua muncul dengan jelas. Singkat, padat, jelas dan mengiris hati (tepatnya, membelah hati dan kesadaranku!!!)
“I will wait for you ‘till the end of time, Rhe”
***
Akhir Desember 2010
Jakarta
“Rhe, ko di mana? Neh tadi sa pi bandara, tapi ko tra turun dari pesawat. Ko di? Stop aneh – aneh suda. Keluarga besar ada mo ketemu 3 hari lagi. Awas kalo tra datang ke sapu keluarga besar pu perayaan natal eee.”, suara lelaki itu memberondongku di percakapan pertama hari ini.
“Sorry Fey, di bandara tadi sa tiba – tiba menggigil hancur dan lemas. Sa tadi pingsan. Untung ada Dee yang antar. Sorry eee, sa su coba tukar seat untuk beberapa hari ini, tapi belum ada kepastian nih. Kalo tra bisa, berarti sa tra bisa pulang, mungkin usai tahun baru eee.”, pungkasku.
“Usai tahun baru? Ko gila ka? Stop aneh suda. Pokoknya sa tunggu ko di bandara paling lambat 3 hari dari sekarang ee. Awas kalo tra datang!!!”, dan “KLIK”; percakapan terakhir kami yang kudengar dari balik ringkukan selimut hangat tebal di kamar kos!
***
Epilog
Pesta bakar duit baru saja berakhir meriah di langit Jakarta Utara bersamaan dengan iringan kemacetan kendaraan roda empat. Kupegang tiketku dengan erat dan buku hijau identitas diri.
Kuharap paket kiriman cincin logam putih itu tiba dengan selamat besok ke sebuah kota di daerah kepala burung tanah tabu beserta beberapa cetakan gambar beresolusi sedang dari ponsel; French Kiss sepasang lelaki dan perempuan hamil di pantai, berpegangan tangan di sebuah pantai pasir putih.
Lamat – lamat kupandangi lagi sobekan boarding tiketku sambil menuju gerbang boarding:
“
JKT – MELB Economy Class
Ms. Rhe Nemesis
“
I’m coming home this New Year. Usai Tahun Baru!!!
***
(Manokwari, 010111; bukan kisah nyata tentunya tapi yang pasti dibuat sambil bingung tunggu telpon ^___^)
Catatan:
* ‘gedi’
nama sejenis sayur di Papua yang terkenal karena daunnya yang sangat berlendir bila dirajang dan dicampur dengan air. Di daerah seperti Sorong Selatan bahkan dipakai sebagai sayur pengganti ikan kuah menemani ‘papeda’. Slang ini khususnya di Manokwari dipakai untuk mengungkapkan sifat seseorang yang suka membual, berbohong, atau berbicara omong kosong. Kadang dipakai berkolokasi dengan kata ‘mulut’ seperti dalam ‘mulut (ba)gedi’’ ataupun dalam ekspresi ‘musim hujan jadi gedi tumbuh subur’ ^___^ *analisa sosiolinguistik asal
* ‘lemon’
tanaman citrus ini menjadi elemen penting dalam salah satu hidangan makanan khas Papua; Papeda dan ikan kuah kuning dan khususnya di daerah pesisir Papua menjadi bumbu andalan dalam meramu produk masakan laut; menghilangkan amis. Karena sifatnya yang khas memberikan dan memanipulasi sesuatu yang ‘amis’ menjadi ‘baik’, tanaman ini digunakan dalam slang di Manokwari. Dalam slang di Manokwari khususnya kerap digunakan oleh penutur perempuan muda, ‘lemon’ merujuk pada sifat seseorang untuk menipu, memperdaya ataupun memanipulasi orang lain agar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang tersebut. Slang ini bernada negatif dan biasanya diungkapkan untuk orang yang tak begitu disukai sifatnya. *analisa sosiolinguistik asal
Subscribe to:
Posts (Atom)