Search This Blog

Loading...

Thursday, 8 December 2011

Workshop Menulis - Hitam, Ingus & Kawasaki

Lucu, segar dan mengejutkan mungkin tiga kata yang cocok untuk menggambarkan hasil tulisan dari anggota kelompok yang mencoba merangkaikan tugas tiga kata: HITAM, INGUS dan KAWASAKI. Peserta workshop menulis pada tanggal 7 November 2011 ini berhasil membuat saya berpikir, “betapa ajaibnya otak mereka mengasosiakan tiga kata ini. Fantastik!” Tulisan mereka secara garis besar menggambarkan bagaimana bergengsinya pengendara sepeda motor Kawasaki di Manokwari yang mana motor jenis ini masih menjadi motor dengan gengsi tersendiri dibandingkan dengan sepeda motor lainnya (baca: Honda Bebek dll).

Mereka juga mencoba menggambarkan paradoks dari pengendara motor ini dalam berbagai sisi. Selain itu, saya juga masih melihat bagaimana persepsi mereka tentang hitam khususnya warna kulit baik yang terkait dengan persepsi nilai maupun pola pandang mereka. Namun, dalam bahasan ini saya tidak berani menyimpulkan ‘ideologi’ penulis pemula ini terkait warna ini. Mereka juga berhasil menggambarkan pandangan mereka tentang ‘ingus’ secara eksplisit dalam tulisan mereka. Ada yang lebih pada bau, penampakan ataupun pada perasaan yang ditimbulkannya.

Para penulis pemula yang semuanya ini perempuan mencoba menampilkan beberapa hal. Baibaba dalam tulisannya lebih mengangkat tentang sebuah kejadian menangkap basah secara tidak sengaja sebuah kejadian lucu yang menjadi paradoks di siang hari: lelaki beringus berbadan besar dengan motor Kawasaki. Rumainum, pada satu sisi, dalam karakter yang dipilihnya memasukan sistem nilai yang dianutnya dan mencoba menjelaskan persepsinya terkait hubungan antara pencitraan benda fisik (motor) dalam mendongkrak kepercayaan diri. Ia juga tak lupa mengangkat sisi ‘oportunis’ beberapa karakter yang diangkatnya dalam tulisan. Kebar juga tak kalah dengan ceritanya tentang pengalaman buruk karakternya yang bersentuhan dengan ‘ingus’ sebagai konsekuensi kecelakaan lalu lintas yang dilakukan oleh karakternya. Ketiga penulis ini lebih menekankan pada sudut pandang orang pertama dalam tulisan mereka dan mengajak pembaca menjadi karakter utama. Hal ini cukup berbeda dengan yang diusung oleh Pradiska yang menempatkan karakternya sebagai orang ketiga dan juga menggiring pembaca pada sebuah cerita ‘horor’.

Keempat anggota kelompok ini berpotensi mengembangkan tulisan mereka ini menjadi sebuah fiksi yang cukup menarik da segar, apalagi melihat bagaimana mereka memasukan unsur Melayu Papua dalam tulisan mereka. Tulisan Pradiska misalnya berpotensi menjadi sebuah cerita horror yang menegangkan, ya semisal bila dikembangkan menjadi cerita ibarat ‘Hantu Ingus Jembatan Sahara’. Sedangkan tulisan Kebar sangat menarik membayangkan bagaimana perasaan yang dialami karakter – karakternya seperti ‘Lukas dan saya’ kala dicaci maki dan dilumuri ingus. Rumainum juga bisa dikembangkan entah sebagai pengantar tulisan non-fiksi tentang pragmatisme perempuan muda ataupun juga tentang sistem nilai warna kulit di kalangan anak muda Papua sedang tulisan Baibaba dapat pula dikembangkan menjadi cerita tentang perjalanan itu sendiri usai melihat sebuah paradoks.

Akhirnya, saya hanya bisa bilang membaca tulisan kelompok ini yang saya tampilkan sebagai lampiran bahasan ini benar – benar Lucu, segar dan mengejutkan! Salut untuk mereka.

Tabea,

D.M.

(tukang bantu – bantu kas masuk dan edit tulisan di blog ini)
***

MARISA BAIBABA
Pada suatu hari, kira – kira pukul 2.00 siang dimana matahari bersinar sangat terik dan udara yang begitu panas, saya berjalan bersama salah satu ade tingkat saya yang mempunyai warna kulit begitu hitam. Walau saya sendiri hitam tetapi warna kulit ade tingkat tersebut lebih hitam daripada saya. Kami berdua asyik jalan melintasi setiap jalan dengan penuh tawa dan canda, ketika kami berdua berjalan kami berdua terpaku dan terkaget – kaget saat melihat seorang lelaki dengan tubuh yang besar yang membawa motor Kawasaki tetapi lelaki tersebut tidak menyadari kalau ada ingus di lelaki tersebut punya hidung.
***

MERRY CHRISTINE RUMAINUM
Pada saat malam Minggu di Stadiun Sanggeng diadakan acara untuk muda – mudi. Saya pun terlibat dalam acara itu. Suasana di tempat itu sangat ramai, bermacam – macam orang ada di sana. Mata saya pun tertuju pada seseorang yang menurut saya aneh dan juga menjijikan. Mengapa? Karena dia terlihat sangat pede (percaya diri) dengan motor Kawasaki yang ia gunakan. Banyak juga perempuan yang tertarik padanya walaupun dia sangat hitam dan bila diamati lebih dekat, mukanya sangat kotor dengan ingus yang menempel di hidung juga pipinya. Walaupun begitu, perempuan – perempuan itu tetap tertarik padanya hanya karena motor Kawasaki. Bahkan, kulitnya yang hitam dan ingusnya tidak menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan cewek.
***

MARIA M.M. KEBAR
Pada waktu siang hari, tepat pukul 12 dimana waktunya untuk makan siang, saya bersama teman saya, namanya Lukas. Kami menggunakan motor Kawasaki 4 tag yang baru dibeli ayahnya bulan lalu. Kami memutuskan untuk makan siang bersama – sama di warung pinggiran pertokoan Sanggeng. Dalam perjalanan menuju Sanggeng, Lukas sangat cepat mengendarai motor tersebut hingga tiba – tiba terdengar suara teriakan, “yeeeeeeee…!!! Kam dua stop stop yooooo!!!” Hihihihi. Ternyata Lukas menabrak seorang anak kecil. Kami pun berhenti dan melihatnya. Perkiraan kami, ia tidak cedera. Namun, ternyata ia terluka parah dan darah menutupi wajahnya. Karena warna kulitnya yang hitam sehingga darah tidak terlalu kelihatan di sekujur tubuhnya. Kami pun dimarahi dan dicacimaki oleh para mama di sekitar Manggoapi, sampai – sampai ada seorang mama yang sengaja melumuri tanganku dengan ingus yang sangat kental dan berwarna hijau. Kami pun bergegas membawa anak itu ke RSUD untuk mengobati lukanya dan sekaligus membiayai obat – obatan yang diberikan perawat. Tak lupa kami minta maaf kepada orang tuanya dan berpamitan untuk pulang. Rencana kami untuk makan siang pun batal karena uang kami habis untuk membayar obat anak tersebut.
***

CHANTIKA ROMANIA RESTU PRADISKA
Cowok hitam manis pemilik motor Kawasaki yang kemarin sore ngebut di depan Hadi ternyata baingus dan sangat malas mandi namun tetap manis dan menawan. Sayangnya si cowok hitam manis ini mati ketubruk truk di Jembatan Sahara dan motor Kawasakinya hancur. Setiap Jumat malam selalu gentayangan di sekitar jembatan Sahara menggunakan jas hitam. Jika lewat jembatan Sahara setiap Jumat malam maka tercium bau busuk ingus dan diduga itu adalah bau ingus cowok hitam manis yang selalu ngebut dengan motor Kawasaki.
***

(Manokwari, 081211)

0 comments: