Search This Blog

Loading...

Thursday, 8 December 2011

Workshop Menulis - Beringin, Ojek dan Daun Gatal

BERINGIN, OJEK, dan DAUN GATAL adalah tiga kata yang saya beri pada salah satu kelompok penulis pemula pada workshop menulis di Fakultas Sastra UNIPA pada 7 November 2011 lalu. Di mata para mahasiswa ini, kata ‘beringin’ atau Ficus Benjamina ini sukses menggiring pikiran mereka pada sebatang pohon beringin besar di sudut kampus UNIPA, tepatnya di depan areal Gedung Peternakan FPPK UNIPA. Dari representasi imajinasi pohon inilah, beberapa dari peserta sukses merangkai cerita dan tulisan terkait pohon ini. Saya terpesona bagaimana mereka dengan lihai merangkai dari sekedar pengamatan lepas harian, pendapat masyarakat terkait cerita mistik hingga bagaimana asumsi negatif dapat terbentuk. Saya juga terpesona bagaimana mereka dapat memasukan unsur faktual pemanfaatan daun gatal dalam sebuah pengalaman temuan mereka ataupun juga cerita mengejutkan namun lucu yang berhasil dipotret dalam kata – kata. Fastastis adalah kata yang tepat menggambarkan para penulis pemula dalam kelompok ini.

Tarami dalam tulisannya mencoba menggambarkan ketakutannya terhadap pohon beringin di kampus UNIPA . Namun, sikap kritisnya tak lupa tercermin dalam karakter yang diangkatnya yang mempertanyakan hubungan antara daun gatal di bawah pohon ini dengan penunggu maupun juga aksi beberapa mahasiswa pemabuk di sekitar pohon ini. SIkap takut ini memang sedikit berbeda yang diangkat oleh Sampe dalam tulisannya. Sampe lebih mengedepankan ketakutan yang berbuah kelucuan dari sikap karakter tukang ojek yang mengejar karakter utama tulisannya; seorang perempuan muda yang sedang membunuh kejenuhan di bawah pohon beringin. Sampe termasuk cerdik di dalam menampilkan kelucuan yang juga cerdik di dalam menghubungkan ketiga kata yang saya berikan. Witty mungkin kata yang tepat untuk tulisannya.

Catatan keseharian yang memotret peran beringin sebagai peneduh di siang panas di daerah kampus juga diabadikan oleh Warami, Kafiar, Amunauw dan Dimara dalam tulisan mereka. Mereka membagikan hubungan antara ketiga kata yang saya berikan secara sederhana tentang peristiwa kasual dalam kehidupan mereka. Mulai dari beringin yang teduh dan sejuk sehingga dipilih sebagai tempat peneduh bagi para tukang ojek maupun tentang daun gatal yang tumbuh di bawah pohon ini.

Mustakim, Woruwawi, dan Yewun sedikit berbeda di dalam tulisan mereka. Karakter mereka selain memotret sebuah pengalaman keseharian, mereka juga berhasil mengangkat isu pemanfaatan daun gatal dalam tulisan mereka. Dari sebuah pengalaman ‘menemukan pengetahuan baru’seperti yang diangkat Mustakim dan Yewun hingga sebuah opini tentang pentingnya daun gatal yang diusung oleh Woruwawi.

Saya juga melihat adanya sebuah ‘insiden’ yang terekam dalam tulisan beberapa anggota kelompok ini. Nur dan juga Mansawan menggambarkan keterlibatan karakter mereka dalam sebuah ‘insiden’. Tengok saja tulisan Mansawan yang menggambarkan insiden jatuhnya daun gatal, pun pencuri yang tertangkap di pasar kala karakter yang ditulis Nur sedang berada di tempat itu. Mereka berdua berhasil menangkap hubungan antara sebuah insiden dan juga 3 kata yang saya berikan.

Secara singkat, saya puas tiga kata yang saya berikan pada pelatihan kemarin dapat dikembangkan dan dibuat asosiasinya oleh para peserta di kelompok ini. Tulisan mereka saya lampikan juga dalam catatan ini. Saya percaya mereka punya potensi untuk terus menciptakan tulisan yang panjang dan yang berhasil membuat para pembaca mereka tertohok tak lepas hingga titik pengahabisan. Itu saja.

SALUT untuk mereka!

Tabea,

D.M.
(tukang bantu – bantu kas masuk dan edit tulisan di blog ini)

***

SHEILLA TARAMI
Di lingkungan UNIPA terdapat pohon beringin yang letaknya di dekat jalan raya. Di bawah pohon beringin itu banyak sekali tumbuh daun gatal, tempat itu juga biasanya dipakai sebagai tempat pangkalan ojek Amban. Selain sebagai tempat pangkalan ojek – ojek, para mahasiswa – mahasiswa seringkali nongkrong di tempat itu, dan mereka sering mabuk – mabukan di bawah pohon beringin itu. Namun, ada cerita dari beberapa teman saya, kalau tempat itu jika makam ada ‘penunggunya’. Mendengar hal itu membuat saya sangat takut sekali, jika pulang dari kota kalau sudah malam sekali, sehinga saya harus ikut jalan yang lain, yang saya rasa aman untuk sampai ke kos.

Kadangkala, saya merasa lucu terhadap diri saya sendiri, memang di bawah pohon itu ada penunggunya apakah penunggu itu tidak merasa gatal? Karena di bawah pohon beringin itu banyak tumbuh daun gatal. Kadangkala juga ojek – ojek sudah tidak mangkal di tempat itu, sebab adanya salah satu teman ojek yang pernah mangkal sampai larut malam diganggu oleh penunggu itu.
***

ITA R. SAMPE
Malamku terlewat begitu saja. Tak ada sesuatu yang berarti. Kuputuskan untuk mencari tempat menghela nafas, tapi ini berbeda dari biasanya. Mendengarkan musik Rock di bawah pohon Beringin. Ketika itu muncul sesosok pria berbadan besar, dan tinggi, melaju dari arah berlawanan menggunakan motor dan helm kuning. Ya, itu adalah ojek. Dia datang dengan tidak memakai baju, terburu – buru dan dengan dahi mengkerut. Dia memarkir motornya di kejauhan. Dia berlari dan memanggil – manggil, “Hey, nona manis yang di sana, cepat kemari!”. Saya takut. Bagaimana tidak? Dia berbadan kosong, memakai helm kuning tertutup, berlari dan berteriak memanggil saya di tengah malam yang terdengar hnya musik dan suara jangkrik. Saya bergerak cepat, saya ingin melarikan diri. Bergegas saya mengambil tas dan memakai sandal Swallow yang baru saya beli, “Jangan lari!!!” Kemudian terdengar lagi, “Saya sudah tidak tahan!!!” Kata – kata itu membuat saya merinding disko.

Tiba – tiba dia meraih tangan saya, “Mau atau tidak, kau harus melakukannya!!!, kata ojek itu dengan tidak sabar.

“Jangan paksa saya, saya tidak mau!” kataku dengan suara gemetar.

“Tolong gosokkan daun gatal ini di punggung saya!!! Dari tadi saya mencobanya tapi tidak bisa!”
***

NOMENSEN WARAMI
Pada suatu hari, saya berjalan bersama teman karib saya dan tiba – tiba saya melihat ada seorang pemuda yang menggunakan helem ojek dan sedang berdiri tepatnya di samping motornya. Kemudian berselang beberapa menit, si pemuda itu berjalan menuju sebuah pohon besar yang bernama pohon Beringin dan kemudian si pemuda itu mulai menjongkokkan tubuhnya lalu saya melihat si pemuda itu sedang memetik sehelai daun gatal untuk diambilnya.

***
INA DIMARA
Beringin adalah suatu pohon besar dan lebat daunnya. Pohon ini biasanya bertumbuh dimana – mana dan pohon ini sangat sejuk dan juga tepat perteduhan saat panas. Di samping itu, juga daun gatal yang yang sangat banyak menyelimuti pohon tersebut. Ketika itu saya melihat ojek yang berteduh di bawah pohon beringin tersebut.
***

SILIA LOISA KAFIAR
Pada siang hari Edi sedang berdiri di bawah pohon Beringin karena cuaca panas, dan Edi sedang menunggu ojek. Sambil menunggu ojek ia menggosok tangannya dengan daun gatal karena tangannya sakit akibat kerja di kebun.
***

ERI L. AMUNAUW
Di bawah pohon Beringin yang sangat lebat parkir seorang tukang ojek yang beristirahat. Sambil menggunakan daun gatal untuk menggosok bagian tubuhnya yang terasa pegal.
***

AMAT FAISYAL MUSTAKIM
Siang itu dosen mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar menugakan kami untuk meneliti kandungan akar pohon Beringin. Aku berinisiatif untuk mengambil sampel pada pohon Beringin di ujung jalan kampus. Namun, tiba – tiba saja ketika aku hendak memacu motorku, aku merasakan sesuatu yang janggal. Yup! Ban motorku kempes. Akhirnya aku memutuskan untuk naik ojek. Aku menghentikan seorang pengendara motor yang menggunakan helem kuning (karena ojek di kotaku berhelm kuning). Kemudian aku duduk di belakangnya seraya berkata, “ ke ujung jalan Merpati, bang!” “Baik,” jawabnya. Selang beberapa meter, aku melihat beberapa ibu yang berjejer seperti sedang berjualan di pinggir trotoar. Karena penasaran, aku bertanya pada abang ojek di depanku, “Bang, apa yang ibu – ibu lakukan? Berjualan ka?”. “Benar sekali, mas,” jawabnya. “ “Jualan apa?,” tambahku. “Daun gatal, daun itu dapat digunakan sebagai obat tradisional dalam mengobati berbagai penyakit,” jelasnya. “Oooo,” jawabku dengan kerutan kening.
***

ONES PERINUS WORUWAWI
Pada siang hari di panas yang terik. Jhoni berlindung di bawah pohon beringin yang rindang di depan kampus. Sambil menunggu ojek untuk pulang ke rumahnya dan sesampainya di rumah, dia mengambil daun gatal untuk menggosok kaki dan tubuhnya yang lelah. Johni sangat memilih memakai daun gatal untuk menggosok tubuhnya yang lelah karena menurut Jhoni daun gatal sangat mujarab dari minyak gosok yang dijual di toko – toko obat. Karena daun gatal digunakan dari orang – orang tua dulu sampai sekarang.
***

PETRUS YEWUN
Pada hari Minggu kemarin saya mengikuti salah satu ojek yang parkir di bawah pohon beringin ke pasar Sanggeng untuk membeli sayur. Sampai di sana saya melihat ada ibu – ibu yang menjual daun gatal. Maka saya langsung bertanya, “daun gatal ini digunakan untuk apa?” Langsung mama tersebut menjawab, “daun gatal ini digunakan untuk menggosok badan yang sakit – sakit.”
***

THERESIA MANSAWAN
Pada suatu siang hari yang disengat oleh matahari, kami sekelompok teman duduk di bawah pohon beringin besar tepatnya di depan kampus Peternakan UNIPA sambil makan ‘pinang ojek’. Ketika sedang asyik duduk, ada sebuah karung goni besar yang jatuh dari sebuah mobil angkutan yang lewat. Ketika kami menghampiri karung tersebut dan membuka karung itu, ternyata di dalamnya hanya terdapat daun gatal milik mama – mama Mandopi yang hendak dijual di pasar.
***

NUR IS
Kemarin sore ibu Marta duduk tunggu ojek di bawah pohon beringin. Saat ojek berhenti, ibu Marta pun langsung naik dan menuju ke Pasar Wosi untuk membeli daun gatal karena anaknya Yulianus menderita penyaki t panu dan Kaskado yang banyak.

Saat membeli daun gatal di pasar wosi, ibu Marta dikejutkan dengan sekelompok orang yang berlari – lari ke arahnya dengan membawa kayu balok. Setelah mendekat ternyata mereka mengejar seorang pencuri yang mencoba melarikan diri. Namun, naas nasib pencuri tersebut. Ketika ibu Marta berjalan beberapa langkah menuju penjual daun gatal, pencuri tersebut tertangkap oleh sekelompok orang yang mengejarnya tadi dan mereka pun menghajarnya. Untungnya polisi segera datang di tempat kejadian tersebut dan langsung mengamankan pencuri tersebut dari massa yang menghajarnya. Setelah polisi mengamankan pencuri tersebut, situasi pun kembali seperti semula.
***

(Manokwari, 081211)

2 comments:

Ujung Pena said...

Gak nyangka tulisanku yang asal itu di muat di blog pribadi k'Maya... bangga deh...[kegirangan, sambil lompat2 gak jelas]... thx ya kak...[tak terasa menitikkan butir2 haru]

meimosaki said...

ya ampun, dek. Kam pu tulisan itu ada di blog resminya di para2 sastra UNIPA di wordpress ya hehehe, sa juga ada bagi di facebook sama beberapa teman hehhee, ini mah kopian di sapu blog pribadi. Adoooh sa keceplosan nulis sa nama tuh hehhee jadinya ketahuan. Jang bilang2 sa pu alamat blog pribadi eee hehehhe*jadi malu