Tanah Papua, tanah yang diberkati. Tanah yang diselimuti hutan rimba. Saya percaya itu. Papua tanpa pohon adalah sebuah keniscayaan karena hutan yang menjadi salah satu aset Papua adalah identitas lain tanah ini. Banyak hutan yang masih ditumbuhi pohon – pohon ratusan tahun, banyak pula yang sudah diperkosa habis. Hutan tak hanya berisi pohon tapi juga makhluk hidup lainnya. Pohon sebagai elemen penting hutan adalah mama bagi banyak manusia kulit gelap dan pelindung para hewan. Sayangnya, di tanah saya, ada banyak sesama anak tanah kulit gelap yang tidak menghargai hutan khususnya pohon. Bahkan ada juga yang tidak dapat membedakan siapa yang salah dalam mengekspresikan kemarahan seperti yang saya lihat di kota kelahiran saya; Manokwari pada tanggal 20 Desemer 2011 kemarin. Catatan saya kali ini hanyalah ekspresi kesedihan saya mengenang banyaknya pohon yang jadi korban dalam kekacauan di Manokwari di tanggal tersebut.
Beberapa minggu lalu di kota saya, para pejabat silih berganti mempromosikan diri cinta lingkungan mereka dengan menanam pohon. Katanya, ada gerakan nasional segala. Mereka bahkan tak ragu memajang wajah mereka di mana – mana dengan slogan cinta lingkungan segala. Saya tak mengerti bagaimana ikatan emosi mereka dengan pohon – pohon yang mereka tanam, saya tak tahu. Bahkan, saya penasaran apakah mereka juga punya waktu untuk bicara ataupun menyapa pohon – pohon yang mereka tanam atau tidak. Ataukah sekedar memantau pertumbuhannya. Saya hanya penasaran saja. Anggap saja ini bagian dimana saya bertanya.
Saya tak pernah tahu bagaimana orang lain memandang pohon. Apa hanya sekedar sebagai mesin pompa air penarik air tanah ke permukaan, penghijau pandangan, ataukah sekedar pabrik oksigen? Saya tak tahu. Sekedar fakta yang bisa saya dapatkan tentang manfaat pohon, misalnya saja yang dibagi oleh majalah Reader’s Digest Indonesia beberapa tahun lalu, bahwa untuk mencetak 15 rim kertas A4 dibutuhkan satu pohon yang berusia 10 tahun dan untuk tiap penebangan satu pohon berarti menghilangkan sumber oksigen untuk dua orang. Bagi saya, pohon lebih dari sekedar mesin pompa air, penghijau, ataupun pabrik oksigen. Bagi saya, sedari kecil, Pohon telah menjadi guru dan malaikat tanpa sayap bagi saya dalam memahami hidup. Memahami kehidupan dan juga mengenal Tuhan.
Catatan tak jelas ini tentu saja berangkat dari kegalauan dan kesedihan saya hari ini. Rasa kehilangan tepatnya. Sejak pagi tadi, saya mulai sedih mengenang nasib pohon – pohon besar pinggir jalan yang menjadi korban dalam acara ‘kacau – kacau’ reaksi masyarakat Arfak di Manokwari tanggal 20 Desember kemarin. Saya tak bisa mengerti saja jalan pikiran mereka yang memilih menjadikan pohon sebagai sarana pemalangan jalan. Apakah mereka hendak mengusir roh – roh di alam dengan menebang dan mencincang pohon? Saya tak rela benar melihat hal ini. Jujur saya sangat sedih hingga menangis lebih dari sejam. Saya memilih menuangkan rasa protes saya dalam cerita pendek saya terkait para ‘mega’ (pohon) yang menjadi korban. Saya tahu dalam suku mama saya, saya sebagai perempuan bahkan tak punya hak untuk bersuara yang besar, apalagi saya hanya ½ Arfak. Tapi saya geram dengan perlakuan mereka pada pohon – pohon itu, benar – benar geram. Apakah mereka tak paham bahwa mungkin saja Moncusu, Kinomu, Monghu, Meski, Amerera, Kinonsa dan roh – roh lainnya juga bersedih dengan perlakuan mereka pada alam? Sebuah pohon butuh waktu tahunan untuk bertumbuh. Bukan sesuatu yang instan dan langsung jadi besar. Ada banyak kenangan dan harapan yang dititip oleh banyak orang pada tiap pohon, entah disadari atau tidak. Saya percaya, para pohon bereaksi pada perlakuan manusia pada mereka.
Malam ini saya benar – benar sedih dan menangis, sangat nelangsa. Merasa sangat kehilangan mengenang nasib pohon – pohon besar di kota saya dan juga tanah saya Papua. Saking tak tahannya, saya mengirim pesan pada sejumlah teman tentang rasa sedih saya. Sehari sebelum kejadian ‘palang dan bakar’ di Manokwari, saya dan keluarga lengkap dengan 4 keponakan cilik pergi ke daerah ulayat keluarga mama saya; mengambil 30 pohon bibit pinang yang saya beli bulan kemarin di sebuah persemaian lokal (saat ini rumah kami resmi punya 80an pohon pinang walau sebagian besar masih setinggi 30 cm), juga membeli bibit pohon Rambutan dan Manggis serta mengambil beberapa bibit pohon Ketapang Papua. Sehari sebelum kekacauan, saya percaya akan ada tambahan pohon penghuni di dalam kota, karena rumah kami letaknya memang masih di daerah dalam kota. Namun, kemarin sore, hati saya terasa luruh kala melihat banyak pohon ditebang sia – sia demi sebuah ekspresi amarah dan sayangnya yang ditebang adalah pohon – pohon besar dan bukan sekedar bibit pohon seperti yang saya beli kemarin.
Anyway, bulan Desember ini pun, sejak beberapa tahun saya amati, ada banyak hal yang membuat saya sedikit trenyuh melihat perayaan natal di Manokwari. Selalu saja perayaan natal dengan banyaknya pohon tua ataupun pohon muda yang jadi ‘korban’. Iya, jadi korban. Pernah tidak melihat pembuatan pondok – pondok natal di Manokwari? Sangat jarang saya melihat pondok natal yang terbuat dari balok kayu permanen, ataupun dari bahan semacam fiberglass dan bahan – bahan non-rambahan hutan. Selalu saja yang saya lihat adalah pondok natal yang terbuat dari puluhan batang kayu yang adalah pohon muda. Pohon – pohon muda yang berkorban menjadi penyemarak natal dan bila telah lewat masa perayaan, mereka akan jadi kayu bakar. Sesimpel itu. Jadi, anda tinggal hitung saja berapa banyak kebutuhan pohon muda (biasanya disebut saja ‘kayu buah’) untuk tiap pondok dan anda kalikan dengan jumlah pondok hias natal di seluruh kota Manokwari. Saya berani bertaruh bahwa pohon yang ditebang umurnya > 1 tahun dan saya berani bertaruh juga, para perambah hutan untuk kayu pondok ini tak pernah menanam kembali di hutan dimana mereka ambil kayunya. Saya hanya sedih melihat keadaan hutan Manokwari khususnya pohon. Ini hanya pengamatan lepas saya, di Manokwari sendiri, daerah luasan hutan kota makin berkurang. Entah karena dirambah kayunya untuk kayu bakar dan bahan bangunan, ataukah dijadikan areal lahan pemukiman. Saya merasa sedih bila melihat adanya perayaan demi senang – senang semata tanpa melihat dampaknya pada keseluruhan hidup penghuni alam.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan sensitif dengan interrelasi alam dan manusia. Terlalu juga terkoneksi dengan pohon sejak kecil dan alam bawah sadar saya menyimpan bayang pohon. Saya baru sadar malam ini kala memandang dinding kamar yang tiap dindingnya bertabur gambar pohon dalam empat musim. Iya, sewaktu pulang kuliah S2 saya, sebelum resmi menempati kamar baru di rumah baru ini, saya ‘membabtis’ kamar ini dengan lukisan – lukisan di dinding. Saya melukis dahulu siklus pohon 4 musim, dari musim semi hingga musim gugur di tiap dindingnya. Jadi ada 4 rupa pohon di kamar saya. Malam ini, saya benar – benar tersadar dengan refleksi saya tentang hidup lewat lukisan pohon di dinding kamar. Musim semi ibarat masa kecil saya yang baru bertumbuh, kala pohon memunculkan daun dan bunga mula - mula. Musim panas adalah masa remaja saya hingga dewasa muda yang dipresentasikan dengan lebat dan hijaunya dedaunan. Musim gugur adalah masa dewasa saya, masa yang matang dan ini adalah masa dimana keindahan pohon begitu cantik dan romantis serta terefleksikan dengan sempurna. Dan kelak, di musim dingin, saya akan serupa dengan pohon – pohon kerontang meranggas tanpa daun itu. Mati. Namun kelak, sebenarnya saya hanya menunggu datangnya ‘musim semi’ dalam kehidupan yang baru di dunia lain.
Alam bawah sadar saya mungkin terlalu banyak menyimpan konsep ‘pohon’ dalam hidup saya: sebagai sahabat, pelindung dan juga penyemangat (iya, karna musim dingin adalah musim terberat bagi saya selama tinggal di negara 4 musim, karena saya emosi saya suka down karna tak melihat banyak pohon hijau). Bahkan tato terbaru saya yang ‘asal’ itu ternyata memang juga merefleksikan pohon. Mungkin karena ikatan masa kecil saya. Sewaktu saya lahir 28 tahun lalu, bapak saya menanam banyak pohon buah untuk saya (pohon Nangka, Alpukat, Langsat dan juga Rambutan) dan begitu juga sewaktu adik - adik saya lahir. Masa kecil saya pun diisi dengan bermain bersama pohon khususnya sebagai teman bicara karena saya memang punya masalah komunikasi dengan anggota keluarga saya dan pohon akhirnya menjadi teman cerita terbaik. Selain itu, saya juga ingat kejadian di tahun 2004 kala kakak lelaki saya mabuk berat dan mengejar semua anggota keluarga dengan parang, saya ingat betul bagaimana peran pohon Nangka yang ditanam bapak saya di bulan September 1983 itu. Entahlah, saat itu, saya tahu saya akan aman berada di atas pohon dan bukannya di tempat lain. Saat anggota keluarga lain dan adik perempuan saya lari sejauh mungkin ke luar halaman rumah, insting dan alam bawah sadar saya malah membuat saya memilih pergi ke halaman belakang rumah dan memanjat pohon Nangka itu dan diam hampir sejam lebih di atas sana. Mencari perlindungan yang aman. Padahal saya punya banyak kesempatan untuk lari keluar halaman dan menjauh tapi tidak saya lakukan.
Malam ini, saya juga makin mengerti kenapa sejak setahun terakhir walaupun saya marahan besar dengan orang tua saya bahkan bisa sampai ‘pake acara banting – banting pintu dan baku maki’, tak sekalipun saya punya keberanian untuk lari ataupun kabur dari rumah lebih dari sehari. Selalu saja saya akan kembali ke kamar saya, mengunci pintu, dan mencari sebuah kedamaian dalam ruang 4x4 meter berdinding gambar pohon. Entahlah, mungkin karena alam bawah sadar selalu sukses merekam jejak pohon sebagai ‘tempat yang aman’ ataupun ‘tempat berlindung’.
Anyway, ada banyak kisah pribadi masa kecil saya yang sangat terkoneksi dengan pohon. Sangat banyak dan saya tak pernah kapok jatuh cinta pada pohon walau pernah 3 x jatuh dari pohon. Saya tahu saya cukup berbeda dalam merespon pohon dan alam dari saudara – saudara saya sejak kecil, ya mungkin karena intensitas saya yang cukup tinggi dengan pohon. Saya juga cukup sensitif dengan alam. Tak ada hari di masa SD – SMP saya yang bebas dari acara panjat pohon dan nongkrong berjam – jam di sana sendirian. Saya bahkan mengenal betapa bedanya saya kala kecil karena sampai harus disambit dengan batu serta diteriaki ‘gila’ dan ‘otak seno’ oleh saudara – saudara lelaki dan mama saya karena bila saya marah atau sedih, pasti saya memilih naik ke pohon dan diam di sana. Saya hanya punya masalah komunikasi sewaktu kecil dan tak bisa mengeluarkan emosi yang tepat dan memilih menuangkannya dengan cerita pada pohon sambil memandang jauh ke depan, berpikir tentang hidup dalam bentuk ‘seandainya’ dan ‘bagaimana jika…’ , dan juga melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang – orang di bawah pohon. Mungkin itulah sebabnya, hingga sekarang saya lebih suka melihat dari kacamata yang berbeda untuk banyak hal dalam hidup saya termasuk mimpi – mimpi saya yang tidak terlalu popular itu. Pohon begitu baik meminjamkan saya tempat untuk menemukan diri dan hidup saya. Itu saja.
Saya tak tahu bagaimana anda ataupun orang lain memandang pohon, entah yang buahnya dapat dimakan ataupun tidak. Saya tak tahu. Bagi saya, setiap pohon punya cerita, punya kenangan dan punya banyak hal yang bisa diajarkan. Bahkan, ini mungkin jadi salah satu alasan konyol bila dikenang. Iya, salah satu alasan saya waktu memilih kuliah di ANU Canberra dulu hanya karena senior saya bilang kalau di sana banyak pohon dan alamnya hijau. Daerah konservasi. Itu saja. Saya bahkan tidak tahu kalau waktu itu peringkat kampus ini termasuk the top 8 di Australia. HAHAHA *iyalah, baru tersadar dengan aliran tugasnya yang ‘gila’ itu.
Entahlah, saya mungkin terlalu naïf dan juga terlalu bermimpi untuk melihat bagaimana pohon diperlakukan secara layak oleh manusia di kota saya. Apalagi bermimpi akan ada ‘ahli bedah pohon’ seperti di Canberra dulu. Entahlah, saya bertumbuh dengan banyak pohon di rumah saya dan selalu saja ada rasa sakit yang muncul bila mengenang bagaimana tiap pohon harus mati demi alasan tertentu. Mungkin kelakuan saya ini serupa Idefix; anjingnya sih Obelix dalam komik Asterix yang suka melolong sedih kala sebuah pohon ditebang. Saya masih ingat beberapa rasa sakit yang pernah menjalar di hati e.g.seperti kala pohon Nangka seumuran saya yang harus kami tebang karena akarnya dirusak hama dan terlalu tinggi. Nasib yang sama juga menggerogoti pohon – pohon Alpukat. Pohon Durian di depan rumah juga baru kami tebang tahun ini karna kehadirannya yang mengancam para keponakan kecil saya yang suka bermain di bawahnya. Selalu saja ada rasa sakit yang tertancap tertinggal kala pohon – pohon itu harus mati di tangan kami. Ada banyak kenangan yang juga hilang.
Bila anda datang ke rumah saya suatu hari nanti, jangan heran dengan banyaknya pohon di halaman rumah. Kami khususnya saya memang tergila – gila pada pohon. Proyek ‘gila’ saya dan bapak saya di halaman rumah saat ini adalah mengoleksi varietas mangga, rambutan dan juga Giawas. Juga untuk mulai menjadikan puring sebagai satu – satunya tanaman pagar. Kami menyukai pohon dan pohon menjadi bagian integral dari keluarga kami. Kala satu pohon kami tebang, pasti selalu saja tanpa kami sadari, ada pohon lain yang kami tanam kembali. Itu saja.
Tulisan saya mungkin berbelit – belit. Entahlah. Saya hanya ingin bilang, bila ada waktu, ya bila anda percaya apa yang saya katakan. Ini mungkin ide gila saya yang sampai sekarang masih kadang – kadang saya lakukan. Saya suka menyentuh dan berkenalan dengan pohon – pohon di tempat baru. Di rumah saya, saya suka menempelkan tangan saya dan merasakan pohon itu. Cobalah tutup mata anda dan ucapkan terimakasih pada pohon itu. Express your love, mungkin ungkapan yang tepat. Itu yang bisa saya anjurkan karena bagaimanapun anda dan saya berhutang oksigen pada mereka; pohon – pohon di sekeliling anda.
Malam ini, saya merindukan pohon besar penaung es kelapa di tanjakan Manggoapi sana, tempat saya kerap menghabiskan hari duduk sendirian, merenung tentang hidup sambil memandang lurus jauh ke teluk sana. Tanggal 20 Desember kemarin, pohon penaung ini ditebang untuk jadi bahan palang jalan raya demi ekspresi kemarahan anggota suku mama saya. Entahlah! Ada banyak cerita di bawah pohon ini, ada banyak kenangan, ada banyak renungan dan pelajaran yang saya dapatkan. Saya mengenang bagaimana saya suka tertawa kecil mendengar desau angin yang memainkan daun – daun pohon ini kala saya menengadah ke atas kepala saya, memandang langit biru yang terselip di antara dedaunan. Tiap kali melakukan hal itu, saya teringat kenangan manis saya di Canberra Australia di bawah pohon Poplar dan melakukan hal yang sama. Pohon ini juga kerap menjadi peneduh saya kala mengagumi betapa dekatnya Tuhan bagi saya; lewat alam yang indah. Pun tak lupa mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya lahir di Manokwari; sebuah kota teluk berbukit dan gunung yang indah. Pohon yang saya tak tahu bahasa Latinnya ini memang selalu menjadi peneduh dan malaikat tanpa sayap.
Akhirnya, catatan ini harus saya tutup juga. Anyway, Please, just don’t take the trees for granted. Malam ini, saya ingin tidur dan semoga besok akan turun hujan pagi, agar sore hari dapat saya tanam bibit pohon – pohon Pinang yang baru diambil beberapa hari lalu. Tapi, saya berdoa agar semoga akan ada tunas pohon di tebangan pokok pohon di Manggoapi itu dan ada penanaman pohon baru di bekas tebangan pohon – pohon yang sempat menjadi korban.
Ah saya hanya pemimpi, tapi bagi saya, pohon lebih dari sekedar pabrik oksigen, mesin pompa air, peneduh dan perindang. Bagi saya, it’s an integral part of my life. Itu saja.
(Manokwari, 211211; menulis sebagai terapi, isn’t it? Just miss that tree)
0 comments:
Post a Comment