Search This Blog

Loading...

Monday, 12 December 2011

Sepenggal Perjalanan

Malam ini saya menemukan Tuhan lagi lewat cara yang berbeda. Tepatnya usai pulang berenang sesorean bersama seorang teman baru, menikmati semburat matahari terbenam di langit dan ‘lautan yang dibatik’ (meminjam istilahnya Ririe Namserna) dengan rona merah keunguan. Sore tadi saya merasa begitu dekat dengan Tuhan lewat ciptaan-Nya. Entahlah bagaimana mendeskripsikan perasaan yang saya punya senja tadi. ‘Damai’ mungkin kata yang bisa mendekati apa yang saya rasakan tadi. Saya merasa ‘feel so damn good’ bisa melihat senja indah dan lautan di kejauhan sana khususnya saat saya sedang berada di daerah Susweni. Apalagi perjalanan pulang dari Pasir Putih pukul 5:30 sore melewati jalur belakang Susweni , Anggori dan Amban disertai dengan acara singgah sebentar makan pisang goreng di daerah Tugu Manggoapi. Bagi saya, itulah kebahagiaan dan berkat yang saya dapatkan hari ini. I (do) love and enjoy small things.

Pulangnya, seperti biasa, sebelum jam 7 malam, ada ‘sidang dadakan’ yang diadakan keluarga saya terkait kebiasaan saya yang sedikit ‘menyimpang’ dari tradisi keagamaan keluarga saya. Apa lagi kalau bukan kebiasaan saya yang suka mangkir tak pergi ibadah karena rupanya mereka sudah menghitung berapa minggu yang saya lewati tanpa pernah hadir ibadah di gereja, apalagi bila mereka mengaitkannya dengan peran mama saya yang salah seorang anggota majelis di gereja lokal yang dihadiri keluarga kami. Belum lagi, tadi ada juga opa dan oma Maluku (sepupunya oma saya) yang datang berkunjung. Lengkaplah sudah!

Ya, tapi tadi mereka semua cuma bisa geleng – geleng kepala apalagi opa dan bapak saya saat mendengar pernyataan saya yang bagi saya sangat jujur. Iya, mungkin bagi mereka alasan saya sangat tak masuk akal. Saya hanya bilang pada mereka, “Sa tidak merasa ada panggilan hari ini untuk pi ibadah malam. Sa merasa tra siap saja untuk ketemu Tuhan hari ini di gereja.” That’s all dan diskusi pun selesai dengan pandangan aneh mereka. Saya tidak bilang bahwa saya ingin jadi orang suci atau apalah. Tidak sama sekali. Saya hanya ingin mengikuti suara hati saya. Yang terpenting bagi saya, tiap hari setidaknya relasi pribadi saya dengan Tuhan tetap ada. Ya walau tidak selalu dengan baca Firman lengkap. Kadang cuma berdoa dan mendengar Ia berbicara lewat ciptaan-Nya. Entahlah, tiap kali melihat alam, saya selalu melihat Tuhan dalam banyak bentuk. Melihat keindahan-Nya.

Usai mandi malam, jam 7 lewat, seperti biasa komputer jinjing pun menyala dan entahlah, saya ketemu folder lagu rohani Kristen yang pernah dibagi adik sahabat saya dan rupanya ada satu bundel lagu yang belum pernah saya putar. Ya, lagu rohani khas Indonesia Timur termasuk juga ada beberapa lagu yang terkenal. Saya ingat ada lagunya Ricky Jo “Kusadari”. Sekali lagi, kumpulan lagu itu ternyata membuat saya berada pada tahap ‘damai’. Mungkin karena dua hari terakhir ini saya berada dalam kondisi mental yang sedikit tidak sejahtera khususnya usai menolak secara halus sebuah tawaran ke sebuah kepulauan di daerah Kepala Burung karena kondisi kesehatan saya yang sedikit naik turun serta perasaan yang sedang ‘tak jelas’ like expecting something. Mendengar rangkaian lagu ini tentu saja terjadi juga usai saya ditelpon seorang teman lama terkait tawaran kerja yang memang saya bidik sejak lama dan saya sampai menyindir teman saya itu, “su benar nih ka. Abis macamnya sa su ‘bosan’ dengar ko tawarkan posisi ini jadi hehehe”. Ya, saya memilih untuk ‘give it a go’ saja ya pada akhirnya walau sudah tak mengharapkannya. Cuma ingin ‘mencoba’ saja!!! Namanya juga my dream job HAHAHA.

Balik lagi dengan efek dari lagu – lagu rohani itu, dalam hati saya, saya merasa ada sebuah panggilan untuk berdoa dan baca Firman. Sebuah panggilan yang tak bisa saya tahan lagi. Panggilan yang kayak bilang gini, “grab your Bible. Pray and read it, May”. Jadinya seperti biasa, saya memilih untuk mengikuti suara hati saya dan berakhirlah saya di 2 Chronicles 17 – 20. Dalam bahasa Indonesia kalau tidak salah itu di Tawarikh. Tentang kehidupan seorang Jehosaphat atau Yosafat. Saya belajar banyak hal malam ini dari kehidupan raja ini. Usai membaca kisah ini saya merasa sangat baikan dan memutuskan untuk pergi ke toko mengajak keponakan batita saya (si Eu) yang semangat sekali untuk jalan – jalan dan tentu saja saya mengacuhkan 3 keponakan saya yang lain yang menghambur semangat ingin ikut ke toko juga. Tentu saja saya tolak mati – matian. Bisa bangkrut mendadak HAHAHA.

Di toko pun, usai membeli teh gopek karena persediaan di rumah habis, saya memutuskan ngopi sendiri di sebuah kafe keluarga yang jadi bagian dari toko ini, tak lupa sambil mengirim pesan pada beberapa teman dekat. Apalagi tak sengaja mamanya Eu juga belanja di toko jadinya si Eu dipindahtangankan saja HEHEHE.

Entahlah, secangkir kopi susu yang saya hirup tadi seakan mengantar saya balik pada bacaan Alkitab yang saya baca dan juga relasi saya dengan berbagai teman dekat. Plus saya juga diingatkan pada hidup saya. Saat saya duduk tadi di sebuah meja kosong, saya teringat kenangan manis ngopi di Canberra. Tak ayal, ada saja tulisan nyasar yang nyangkut di otak dan saya terpaksa harus menuliskannya saat itu di catatan ponsel saya. Isinya begini:

“Vanilla sky robs my mind when sudden feeling of fear enters. Where life will lead me is something beyond my knowledge. Hope or fear melts in a cup of coffee when the last drop of milk fades away in the bottom of the cup. Like the lost track of time constellation in the wormhole of universe. Here I stand by my self, staring into the long broken soul, and broken vow. Reclaiming my self a whole new beginning, that’s it. This is my life and I will fight for it!”

Anyway, ini hidup saya dan saya berjanji untuk terus berjuang untuk tetap hidup, berusaha untuk tetap semangat dan juga melihat serta mengganti ‘kacamata’ saya dengan kacamata yang lebih baik. Ya bila bertemu Tuhan, saya ingin sekali bilang pada-Nya, “Pinjamkan sa Ko pu kacamata ka, barang sejam saja. I want to see through your glasses biar sa jadi orang yang lebih baik ka, Tuhan.”

Saya hanya rindu Tuhan akhir – akhir ini. Rindu bercakap – cakap seperti dulu, begitu intens. Saya merasa akhir – akhir ini Tuhan lebih berbicara dengan cara yang berbeda dan membawa saya lewat perjalanan spiritual yang berbeda. Saya sedang merasa berada dalam sebuah perjalanan yang entah bagaimana menjelaskannya. Sebuah perjalanan yang hanya saya pahami dengan diri-Nya saja. Saya ingin jadi orang yang lebih baik ke depan. Menjadi orang yang lebih bisa menghargai apa yang Ia berikan dalam hidup saya. Menjadi manusia yang menjadi berkat bagi orang banyak. Itu saja. Sesimpel itu.

Kemarin sore atau malam, saya lupa tepatnya. Suara dalam pikiran saya bilang gini, “May, some people ask Me about you. Are you an angel or something?” Jujur saat mendengar suara di pikiran itu saya cuma bisa bilang pada diri saya sendiri, “sa lagi tra gila toooo hahaha”. Entahlah, suara itu kemudian menghilang kala saya cuma bilang “Tuhan, sa sayang Ko. Sorry kalo sa masih suka malawan. Tapi sa sayang ko.” Seperti biasa, I express my feeling to God through a big hug for such imaginary ‘being’. Entahlah, kalau dilihat keluarga saya ini bisa jadi mop baru kegilaan saya pastinya. Itulah sebabnya saya sangat menghargai yang namanya privasi di dalam kamar. Karena di dalam kamar saya, saya bisa mengekspresikan diri dan kepercayaan saya pada Tuhan dengan lebih jujur.

Mungkin kedengaran gila atau apalah, tapi saya cuma berpikir untuk tidak mau membatasi Tuhan ataupun apapun itu yang kau sebut. Maksud saya dalam ekspresi cinta saya padanya. Kadang di tengah – tengah pekerjaan saya, saya bisa ngomong pada diri saya untuk jeda sejenak dan menyanyi untuk Tuhan, kadang juga baca Alkitab, kadang juga ya sejenis diam dan bercakap – cakap dalam hati untuk topik serampangan yang muncul di otak dan berdiskusi dengan-Nya. Kadang kami hanya duduk diam dan entahlah, saya memahaminya walau saya tak tahu Ia berada entah di mana. Tapi, dari semuanya itu, saya paling suka saat saya lagi ada masalah. Biasanya saat itu suara di dalam saya lebih kencang, lebih intens ngomong dan sangat gigih bilang “sa sayang ko, May.” Ah itu momen terindah saya. Kadang hanya menangis tak jelas dan membiarkan suara dalam diri saya membisikan kata – kata cinta yang berlarian dengan lancar. Usai itu, biasanya saya merasa diisi 100% dengan semangat baru yang kemudian akan saya bagikan pada orang – orang di sekeliling saya sebagai ekspresi terima kasih atas apa yang mereka lakukan pada saya. Ya seperti hari ini, saya mengirimkan SMS ini pada beberapa teman dekat. Isinya sih simpel:

“Sa baru saja selesai berdoa malam dan belajar tentang Raja Yosafat (2 Tawarikh 17-20). Sa belajar banyak malam ini dari de pu hidup. Anyway, it makes me think of U as my wingless angel. Sa percaya tiap orang yang Tuhan ijinkan hadir dalam sa hidup , terlepas bagaimana intensitas dan chemistry-nya, adalah bongkah – bongkah permata yang akan saling bersinergi membentuk keunikan dan keindahan serta merefleksikan Tuhan. Thanx 4 being the part of my life. Amen”

Ya, ini hidup saya dan satu yang pasti, saya ingin jujur dengan hidup saya. Itu saja. Anyway, Thanx 4 being the part of my life. Amen.

(Manokwari, 121211)

0 comments: