Beberapa jam lalu, saya membaca sebuah bagian Alkitab, tepatnya di kitab 2 Tawarikh 17 – 20. Karena versi terjemahan yang saya baca adalah Good News Bible: Revised edition, jadinya yang muncul adalah kitab 2 Chronicles *tiba – tiba jadi ingat the Chronicles of Narnia HAHAHA. Nah saya ketemu sama raja yang namanya Jehoshaphat alias Yosafat. Dalam catatan saya kali ini, saya lebih suka panggil si raja ini dengan panggilan pendek, ya mungkin Yos saja. saya juga tidak tahu kenapa juga harus membaca tentang si Yos ini, abis yang saya tahu, saya cuma merasakan panggilan di hati untuk baca Firman dan berdoa dan pas buka Alkitab e ketemunya ya kisahnya si Yos ini. Dari bacaan saya ini, saya ketemu beberapa hal menarik, al.:
#1. Yosafat percaya dan mencintai Tuhan lewat tindakan, bukan sekedar kata - kata (1 Taw 3 – 6)
Si Yos baru berumur 35 waktu jadi raja dan dia ikuti jejak bapaknya si Asa untuk tidak menyembah Baal. Dia bahkan membuat aturan untuk menghancurkan semua tempat penyembahan berhala khususnya untuk istrinya si Baal yang namanya Dewi Asherah. Saya sih setuju juga sama si Yos ini. Karena dari literatur yang pernah saya baca terkait pasangan dewa – dewi ini khususnya si Ashera, dia nuntutnya kan persembahan anak – anak kecil. Biasanya dengan cara dipersembahkan dengan cara dibakar. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ya melihat di negeri yang kering kerontang seperti itu, para perempuannya hamil 9 bulan lamanya, e anaknya kalau sudah besar dipersembahkan untuk sesuatu yang ‘mati’ seperti si dewi ini. Just can’t believe it. Jadi ya, saya setuju dengan si Yos ini. Karena kalau tempat penyembahannya sudah dibasmi, kan tidak akan ada lagi acara ‘bakar – bakar’ anak kecil.
Anyway, saya salut sama kerjanya si Yos yang tak sekedar bilang pada Tuhan, “sa sayang Ko.” Tapi dia berani lakukan sebuah tindakan yang nyata bukti sayangnya pada Tuhan. Jadinya, Tuhan juga tak tanggung – tanggung sayang sama si Yos juga. Lihat saja kejayaan dan kekayaan yang didapatnya selama memerintah. Dia bertakhta selama dua lima tahun, jadinya anggap saja dia turun takhta saat berumur 60 tahun. Selama memerintah, ia kaya, disegani negara tetangga plus dihormati. Dia tak sekedar punya ‘harta’ secara fisik tapi juga ‘reputasi’ alias harta non-fisik.
Saat membaca bagian cintanya Yos pada Tuhan, saya jadi malu pada Tuhan juga. Apa sih yang sudah saya tunjukan pada Tuhan ya selama ini? Abisnya saya masih suka memaki, masih suka memikirkan yang jahat – jahat hanya untuk lucu – lucuan, dan ya bukan sikapnya anak Tuhan yang suka memboroskan waktu menggosip. Saya jadi malu pada diri sendiri.
#2. Yosafat menempatkan Tuhan sebagai konsultan atas apapun juga (2 Taw 18: 4)
Yos saat itu sedang bersama si Ahab, raja Israel yang juga sudah dianggap keluarga karena berbesan dengannya. Nah si Ahab ajak si Yos untuk pergi perang. Tapi, si Yos bilangnya begini, “Pace, sa siap kalo ko juga su siap, sa pu tentara juga sama. Tong nan gabung deng ko. TAPI, tong tanya Paitua Besar dulu eee”
Jadi, waktu di pelaksanaan perang, dan pace Ahab menyamar mati dan si Yos juga hampir tewas TAPI di saat gentingnya, Ia berteriak pada Tuhan minta tolong. Hasil akhirnya, Tuhan menolongnya dan malah si Ahab yang mati. Tuhan pasti melihat upaya si Yos untuk selalu menempatkan Tuhan dalam tindakannya.
Di bagian ini, saya jadi berkaca pada diri saya sendiri, seberapa banyak ya saya bertanya pada Tuhan atau minta pendapatnya Tuhan untuk segala hal dalam hidup saya. Mulai dari pekerjaan, jodoh bahkan hal – hal kecil yang cukup penting semisal buku in layak tidak saya baca, saya bisa tidak teman sama orang ini, saya boleh tidak pergi ke tempat X dan lain – lain.
#3. Yosafat tidak malu jadi ‘juru kampanye’nya Tuhan dalam kehidupan sehari – hari (2 Taw 19: 4)
Si Yos tidak ragu memakai kapasitas jabatannya untuk mengelilingi negerinya dan bilang pada orang – orang untuk kembali pada Tuhan.
Saya jadi malu pada diri saya sendiri dan malam ini jadi mikir berat, sudahkah saya berlaku seperti Yosafat atau belum ya? Lah hidup saya sendiri masih jauh dari ‘benar’ sih. Tapi malam ini saya berjanji lai pada diri sendiri untuk jadi manusia yang lebih baik bagi Tuhan dan mengkampanyekan Tuhan lewat ‘buah – buah’ hidup saya. Itu saja yang mungkin bisa saya lakukan saat ini.
#4. Yosafat berani bikin reformasi dengan kapasitas yang ada: menyuarakan kebenaran pengambilan keputusan (2 Taw 19: 5 – 7)
Si Yos tak tanggung – tanggung mengikuti Tuhan. Dia membuat reformasi dalam pemerintahannya, salah satunya dengan mengangkat para hakim di tiap kota perlindungan di wilayah kerajaannya. Plus juga beberapa hakim yang berbeda fungsinya di Yerusalem. Pesannya tidak tanggung – tanggung sama mereka semua.
“ Neh hati – hati waktu kas keluar keputusan ee. Kam tuh bukan mewakili kam diri sendiri tapi wakili Tuhan dan Paitua Besar de tuh sama – sama kam waktu kam kas keluar hukuman tuh. Jadi, hormati Tuhan dan bikin barang tuh bae – bae eee karena Tuhan tra akan toleransi kam pu kesalahan ka keberpihakan apalagi mo terima suap tuh ka ee.”
Saya jadi mikir juga akhirnya, saya harus meniru sikap Yosafat ini atas segala kapasitas yang saya punya saat ini kepada upaya – upaya penciptaan kebaikan dan refleksi Tuhan dalam hidup. Ya mungkin itu yang bisa saya pikirkan malam ini.
#5 . Dalam peperangan besarnya, Yosafat berserah penuh pada kekuatan dan kapasitas Tuhan dengan cara doa minta petunjuk dan berpuasa (2 Taw 20: 3)
Waktu kerajaannya mau diserang oleh tiga kekuatan: Moab, Amon dan Edom, si Yos jujur ketakutan. Tapi di tengah ketakutannya, ia tidak bersandar pada kekuatannya sendiri TAPI malah minta petunjuk pada Tuhan. Tidak tanggung – tanggung, ia juga berpuasa dan memakai kapasitasnya untuk menyuruh rakyatnya juga ikutan berpuasa dan berdoa pada Tuhan.
Hasil akhirnya sih, Tuhan melihat usahanya dan memberikan kemenangan ajaib bagi mereka. Yang Tuhan mau saat itu lewat petunjuknya si Jahaziel (nabi) adalah si Yos kirim bala tentaranya ke sebuah tempat, selanjutnya nanti Tuhan yang ‘mainkan’. Yang Tuhan mau saat itu hanyalah, “Ikut dan percaya saja kata Tuhan, selanjutnya itu urusannya Tuhan”. Benar kan hasil akhirnya. Kemenangannya sangat ajaib karena saat tentaranya si Yos datang ke titik pertempuran yang diminta Tuhan, semua musuh ‘su baku bunuh mati’ dan tidak ada seorangpun yang hidup. Sejak saat itu, tidak ada satupun satu negara tetangga yang berani ‘kore’ pace Yosafat dia. Iyalah, kala Tuhan berperang di sisinya, siapa yang berani kore Paitua Besar coba. Cari mati ka HEHEHE.
Saya suka kata di Alkitab yang saya baca tentang kata – katanya si Yosafat sama rakyatnya sebelum mereka pergi ke medan perang (2 Taw 20: 20):
“Put your trust in the Lord your God, and you will stand your ground. Believe what his prophets tell you, and you will succeed.”
Pada bagian ini, saya sontak bilang, “Adooh Tuhan, sorry neh, kadang sa lupa ko dalam sa pu ‘peperangan’ dan terlalu andalkan sa pu kekuatan sendiri. Sory neh.” Tampaknya kisah pace Yos ini cukup jadi renungan berharga untuk sa hari ini.
#6. Tuhan mau kita bergaul apalagi bersahabat dengan orang yang mencintai Tuhan dan kebaikan (2 Taw 19: 3; 2 Taw 35 – 37)
Lantaran si Yos ini besan-an sama si Ahab yang jahat, jadi pace Ahab ajak Yos untuk bantu perang, e si Yos OK – OK saja. Tak heran usai si Ahab tewas di perang, Tuhan kirim si Jehu bin Hanani untuk tegur si Yos begini, “Neh pace, ko pikir tuh benar ka tolong orang yang jahat dan berpihak pada orang yang benci Tuhan? Neh Paitua Besar marah ko tuh. Tapi anyway, Tuhan juga lihat ko usaha untuk Dia jadi.” Usai ditegur, si Yos memang bikin reformasi besar – besaran dalam pemerintahannya.
Namun, di akhir hidupnya lagi, si Yos sahabatan sama si Ahazia raja Israel yang jahat. Jadi mereka rencananya bikin usaha perkapalan untuk kapal – kapal yang bisa arungi samudera ke negeri – negeri jauh. Nah Tuhan tidak suka si Yosafat sahabatan sama si Ahazia yang jahat, jadinya ya Tuhan kirim si si Eliezer bin Dodavahu dari kota Mareshah dan bilang begini (2 Taw 20: 37):
“Pace Yos, karena ko pi bikin sobat kental deng Ahaziah, jadi Tuhan nan kas hancur barang – barang yang bikin tuh yoooo”.
Hasil akhirnya kan bisa ditebak to, semua kapal yang mereka buat karam di tempat dan tidak pernah berlayar.
Dari kisah – kisah persahabatan lepasnya si Yosafat ini, saya belajar satu hal tentang persahabatan dan pertemanan. Seberapa banyak sih saya bertanya pada Tuhan tentang hubungan dan relasi yang saya bangun dengan siapapun yang dekat dengan saya termasuk untuk urusan perasaan?
Saya jadi malu pada diri sendiri karena selama ini saya lebih mengandalkan instuisi saya sendiri dibanding bertanya dan berdoa serta menggumuli persahabatan dan tiap relasi yang saya punya. Saya jadi malu dan benar – benar merasa bahwa Tuhan begitu baik pada saya sehingga relasi – relasi yang tidak tepat ataupun buruk, Ia jauhkan dengan cara yang begitu baik dan teratur walaupun memang menimbulkan luka dalam hidup saya tapi itu semua demi kebaikan bersama. Ya anggap saja relasi buruk dahulu seperti dengan si Lelaki Hujan, Radang Otak dan si Psiko bisa jadi contoh bagaimana relasi yang buruk akan dikeluarkan Tuhan dengan cara yang berbeda – beda.
Anyway, malam ini saya belajar banyak dari si Yosafat dan hidupnya. Kalau seandainya ketemu si Yosafat satu hari nanti,saya cuma ingin bilang, “Pace, ko ganteng ka trada eee. Jadi sa teman suda HAHAHAHAEEE”.
(Manokwari, 121211)
0 comments:
Post a Comment