PENGANTAR
Sirene galangan kapal Manokwari yang sudah berbunyi sejak tahun 1955 hingga saat ini masih menjadi representasi simbol yang berbeda bagi banyak orang Manokwari. Bila di catatan pertama saya ‘Orang Manokwari dan Sirene Fasharkan) lebih banyak membahas tentang representasi simbol sirene ini dalam kehidupan beberapa orang Manokwari, maka catatan kedua saya ini lebih mengulik tentang sejarah galangan kapal tempat bernaungnya sirene ini dan bagaimana galangan kapal ini kerap berganti nama.
Ini hanyalah catatan kenangan yang berhasil saya padatkan dari wawancara saya (29/11/11) dengan tete Lamberth Rumbino (77 tahun) yang tinggal di Sanggeng (selanjutnya saya rujuk sebagai tete Rumbino); salah seorang mantan pekerja di Dok Fasharkan dan menjadi salah satu saksi sejarah bagaimana dok ini berkembang lepas dekade dan kekuasaan. Informasi yang sangat berharga ini tak hanya tentang sejarah Fasharkan tetapi juga bagaimana hubungannya dengan seorang Lambert Rumbino yang telah membagikan ekstrasi kenangannya terkait tempat ini. Catatan ini tak akan pernah bisa dilakukan pula tanpa bantuan catatan pribadi tete Rumbino yang saya kutip, bantuan fasilitasi wawancara yang dilakukan oleh tanta Thea Manusawai – Rumbino (putri tete Rumbino), rekomendasi kaka Adolf Ronsumbre (dosen Antropologi UNIPA dan sekaligus tetangga tete Rumbino) dan dukungan semangat dan supervisi dari kaka Ngurah Suryawan (dosen Antropologi UNIPA), dan juga ide awal dari teman saya Nunang May (dosen Fahutan UNIPA). Tak lupa pula saya memasukan beberapa catatan tambahan pendukung yang saya dapatkan dari catatan seorang wartawan Australia (John Ryan) dalam bukunya ‘The Hot Land: Focus on New Guinea’. Saya berhutang banyak pada mereka yang telah menginspirasi dan mendukung saya untuk berada di titik penulisan catatan ini yang sekiranya dapat pula membantu terwujudnya salah satu impian saya untuk menulis dan mendokumentasikan ‘Sejarah orang biasa’ terkait kota Manokwari.
Sirene dan galangan kapal di kota saya ini ternyata juga pada perjalanan sejarahnya memainkan banyak hal terkait tata kota Manokwari antara lain memicu munculnya daerah pemukiman baru di berbagai tempat di Manokwari. Namun, hal ini akan saya masukan sebagai topik bahasan pada catatan – catatan selanjutnya misalnya terkait hadirnya sejumlah toponimi dan kompleks baru di Manokwari; Biryosi, Swafen Bahari, Bumi Marina Asri, Lanal, Kopal, dll.
SEJARAH SINGKAT DOK FASHARKAN
Berbicara tentang keberadaan sirene Fasharkan di Manokwari tentu tak bisa lepas dari tempat dimana sirene itu bernaung; Fasharkan Manokwari. Fakta – fakta sejarah terkait galangan kapal ini saya kutip langsung dari catatan pribadi tete Rumbino kecuali yang berasal dari tulisan John Ryan. Fasharkan Manokwari awalnya merupakan fasilitas galangan kapal (dok) milik pemerintah Belanda yang mulai dibangun pada tanggal 22 Februari 1954 oleh kontraktor dari negeri Belanda ‘N.V. Amsterdamche Ballast Maschappy (N.V.A.B.M.)’. Dikarenakan oleh situasi politik di masa itu, pemerintah Belanda melihat pentingnya sebuah fasilitas perbaikan kapal – kapal perang Angkatan Laut kerajaan Belanda yang beroperasi di wilayah Nederland New Guinea dalam rangka memperkuat kedudukan Belanda di wilayah ini. Menurut catatan Ryan (1970: 188) galangan kapal Manokwari dibangun dengan dana $ 1. 250.000. Adapun nama resmi galangan kapal ini pertama kali adalah SCEEPWEERF KONIJNENBURG. Dasar hukum pendiriannya pun tercantum dalam Gouvernement blads van Nederland Bedries berdasarkan hukum I.B.W.
Peresmiannya sendiri baru dilakukan pada tanggal 15 Mei 1957 oleh Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda yang berkedudukan di Holandia. Hal ini dilakukan tentu saja usai selesainya pembangunan Dok dan fasilitas pendukung lainnya seperti bengkel, mesin, relat, las, pipa, kayu, dan fasilitas listrik. Guna menguji ketangguhan dok ini, uji coba pertama kali adalah dengan menggunakan sebuah kapal Lending Cooster Tangki (LCT 5603) yang berbobot mati 465 Ton dengan panjang kapal 57 M.
Fasilitas dok ini tentu saja tak dapat berlangsung begitu saja tanpa dikelola dengan baik. Itulah sebabnya Pemerintah Belanda pada tanggal 20 Mei 1957 menyerahkan pengelolaan galangan kapal ini pada Ir. Konijnenburg sebagai direktur sekaligus penanggung jawab perusahaan SCEEPWEERF KONIJNENBURG. Hal ini diatur oleh Kementerian Perindustrian dan Energi Kerajaan Belanda untuk Nederland New Guinea No. 43 tahun 1957 dalam bentuk Lands Bedrijf berdasarkan hukum I.B.W.
Kondisi politik di Papua Barat yang tidak menentu sejak tahun 1961 apalagi setelah terbitnya perintah Trikora oleh Presiden Sukarno ternyata berpengaruh pula pada kinerja galangan kapal di Manokwari ini. Tak pelak, para petinggi Konijnnenburg pun mengambil keputusan untuk melakukan ‘Papua Nissering’ terhadap pekerjaan – pekerjaan dan jabatan – jabatan yang dianggap mampu dilakukan oleh orang Papua. Tak heran pada tahun 1961, ada sekitar 5 orang asli Papua yang dikirim ke Belanda untuk belajar mengenai manajemen serta operasional galangan kapal ini. Mereka dikirim untuk mengikuti kursus di bidang lasery, Machino/diesel, plaat worker, dreetri dan lain – lain. Hal ini juga didukung dengan terbitnya Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Kepala Urusan Pegawai perusahaan ini (J.J. Westrarutipan) pada tanggal 15 September 1962. Sayangnya karena kondisi politik yang semakin tidak menentu menjelang Trikora, maka pengiriman tahap kedua mengalami kesulitan dan dibatalkan.
Pada masa peralihan kekuasaan (UNTEA) (1962 – 1963) galangan kapal ini pun mengalami perubahan nama menjadi ‘Galangan Kapal Manokwari’ yang berada di bawah Dinas Perhubungan Laut dan Pengangkutan Irian Barat. Saat itu yang menjadi penanggungjawabnya (Direktur) adalah Ir. Triwitono. Saat itu berkat kemampuan yang dimilikinya maka situasi dan kondisi fasilitas pada galangan kapal ini tetap terpelihara dan dalam keadaan utuh. Usai tanggal 1 Mei 1963, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan SK Presiden RI No. 233/1963 pada tanggal 14 November 1963 yang menetapkan bahwa Galangan Kapal Manokwari sebagai milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan menjadi unsur organik dalam korps ini.
Pergantian ‘kepemilikan’ dan kekuasaan tentu saja mempengaruhi nama galangan kapal ini. Itulah sebabnya nama ‘Galangan Kapal Manokwari’ pun harus rela berganti nama menjadi ‘Komando Penataran Angkatan Laut (Konatal)’ yang dikuatkan dengan adanya telegram Men.Rangal.TW 300120.z/November 1965 yang menyatakan status Konatal Manokwari sebagai ‘suatu perusahaan yang secara taktis separatif dan administrasi personilnya dikendalikan oleh Pangdaeral 10, sedangkan teknis pembinaan dan pembiayaannya berada di bawah Deputi II CQ Direktur Perkapalan Angkatan Laut’.
Walaupun galangan kapal ini berada di bawah pengendalian TNI-AL tetapi hanyalah perubahan secara organisatoris saja karena teknis prosedur kerjanya tak banyak mengalami perubahan. Saat itu, namanya masih berubah lagi menjadi ‘Penataran Angkatan Laut (PAL)’. Di galangan kapal ini, pekerjaan perbaikan yang dilakukan tidak hanya pada kapal – kapal milik ALRI tetapi juga kapal – kapal yang bukan milik ALRI. Bahkan, perbaikan yang dilakukan pada kapal ‘swasta’ lebih banyak dilakukan dibanding pada milik korps ini. Pada tahun 1976, galangan kapal ini sekali lagi mengalami perubahan nama yang diadopsi hingga sekarang. Hal ini berdasarkan Telegram Kasal No. 5724-2/sum/1976 TWU 1117-1142/1976 dan penyebutan PAL Manokwari berubah lagi menjadi ‘Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan’ (Fasharkan) yang merupakan unit organik Lanal dan diproyeksikan kepada Lanal Biak. Tugas pokok fasilitas ini adalah melaksanakan pemeliharaan tingkat menegah dan perbaikan darurat terhadap kapal – kapal Armada RI yang beroperasi di Wilayah Indonesia bagian Timur.
Hingga saat ini fasilitas galangan kapal di kota saya ini telah banyak melakukan perbaikan kapal. Lewat catatan pribadi tete Rumbino, saya mendapatkan beberapa informasi tentang kapal – kapal di masa lalu yang pernah diperbaiki. Kapal – kapal perang Belanda yang pernah ‘naik dok’ antara lain H.R.M.S. Jon Van Brakel, Evertsen, Amsterdams, Gronigen, Overy Zal, Breband, Jon Maurits, dan Hr.M.S. Korteneir. Ada juga kapal dagang seperti MS. Orient Maluku, Kasimbar, Karoso, GunungArgak, Oranye dan lain – lain.
Terkait sirene, menurut tete Rumbino, pada masa itu Sirene dok dapat terdengar hingga daerah Mansinam, Manggoapi, dan Rendani. Pada masa itu Sirene berbunyi pada jam 6.30 pagi, 11 siang dan 2.30 sore. Bagaimana rinciannya, akan saya bahas pada sub-bagian berikut. Alat sirene ini sendiri pada masa itu berada di atas sebuah gedung. “Ada wayar (kipas angin) yang pake dinamo di barang ini, jadi kadang kalo su kas jalan kencang, nan barang nih de bunyi”. Terkait sirene yang bunyinya sudah didengar sejak tahun 1955 ini tentu saja tak lepas dari adanya fasilitas layanan listrik yang dibangun bersebelahan dengan dok dan beroperasi sejak tahun 1953 guna melayani galangan kapal dan juga usaha perkayuan milik Belanda di lokasi sebelah fasilitas layanan listrik (akan jadi topik catatan berikutnya).
Akhirnya catatan kedua terkait salah satu ikon kota Manokwari ini harus saya tutup dan berharap sirene yang sudah berbunyi selama 56 tahun khususnya di pagi hari ini tak akan hilang ditelan oleh kebisingan kota Manokwari yang lalu lintasnya makin padat di pagi hari. Ya semoga!!!
(Manokwari, 031211)
Referensi:
Rumbino, Lambert. Iktisar Sejarah dan Data – Data Sejarah Fasharkan Manokwari. Catatan pribadi: Unpublished document.
Ryan, John. 1970. The Hot Land: Focus on New Guinea. Melbourne Australia: Macmillan.
0 comments:
Post a Comment