Beberapa jam lagi para lelaki dan perempuan berkulit kopi di kotaku akan merayakan 50 tahun kemerdekaan Papua di kota saya. Ini tahun Jubelium ‘proklamasi’ yang pernah dideklarasikan di tanah ini pada 1 Desember 1961. Setiap orang berhak atas sejarahnya masing – masing; pikiran saya subuh ini. Catatan ini hanya catatan lepas perempuan yang separuh dari diri dan hidupnya ‘berhutang’ pada momen 1 Desember. Sebuah catatan lepas yang sangat personal sebenarnya. Hanya catatan orang ‘biasa’ yang bukan siapa – siapa dalam sejarah tanah ini. Itu saja!
Pada tahun 1961, 50 tahun lalu, saya bahkan belum lahir. Mama saya pun baru berusia 4 tahun, bapak saya sendiri pun belum lahir di tanah Jawa sana.Tetapi, di Manokwari, bapak dari mama saya alias ‘tete’ saya yang saat itu menjadi ‘the big man’ alias kepala suku besar Arfak (sebuah suku besar pegunungan di Manokwari) sudah ada, masih hidup dan aktif berpolitik. Saya tak tahu bagaimana ia merefleksikan perjalanan tanah ini, perjalanan sukunya dan semangat ‘kebebasan’ saat itu. Yang saya tahu, ia bukan pendukung NKRI saat itu, ia mungkin berpikir sangat fragmatis saat itu dan yang saya tahu, ia hanya ingin keluarga dan suku besarnya mendapat yang ‘terbaik’; lepas dari otoritas Belanda dan segala macam otoritas luar. Ia ingin kesejahteraan. Yang saya tahu lewat literatur – literatur yang kerap saya baca beberapa tahun terakhir baik semasa di Australia maupun di Manokwari kala merekonstruksi sejarah lelaki tua suku Meyah keturunan Biak ini, mencari sosok yang tidak pernah saya kenal karena saya baru lahir 12 tahun kemudian usai kematiannya yang ditengarai ‘diracun’ dalam pengasingannya, saya melihat bagaimana visinya banyak terwarisi dalam darah saya; visi mencari ‘kebebasan’ demi kesejahteraan sukunya. Banyak literatur sejarah yang mendapuknya dengan berbagai label. Ada yang menyebutnya ‘fragmatis’, ada yang menyebutnya ‘oportunis’, ada yang menyebutnya ‘pengecut’. Entahlah … saya tak peduli. Yang saya tahu, pada tanggal 1 Desember 1961, ia berada di suatu momen untuk mendengar bahwa kaumnya, para lelaki dan perempuan Papua, berikrar dalam ‘Manifesto Politik’ bahwa mereka adalah kaum merdeka yang berhak hidup dengan sejahtera di tanah warisan nenek moyang mereka; para manusia merdeka yang tidak akan pernah sepenuhnya tertaklukan.
Saya tak tahu bagaimana perasaannya saat itu, saya tak tahu bagaimana ekspresi wajahnya, bagaimana ia menggumpalkan emosinya, mengaduk mimpi dan aksinya, bagaimana ia meramu kebebasannya kala mendengar deklarasi kemerdekaan bangsanya, kala mendengar berita tentang ‘bendera’ pemersatu kaumnya. Saya benar – benar tak tahu. Sama sekali tak bisa menggambarkan hal itu karena saya tak hidup dan berada bersamanya masa itu. Tetapi, yang saya tahu, ia menunggu sekian tahun untuk mengumpulkan keberaniannya untuk melawan kala ‘kebebasan’ yang didengungkan tahun 1961 TAK DIDAPATKANNYA, kala kesejahteraan yang diinginkan tak didapatnya. Itulah sebabnya, saya percaya ia orang yang mengadopsi prinsip “If you don’t fight, you’ll lose”. Malam ini pikiran saya melayang kembali pada 50 tahun silam, apa yang dipikirkan ‘tete’ saya pada jam yang sama dengan malam dimana saya menulis catatan ini, saya ingin tahu. Sangat ingin tahu sekali.
50 tahun sudah berlalu sejak pertama kali ikrar para lelaki dan perempuan Papua tentang kemerdekaan dan pendirian negara mereka . Saya tak tahu seberapa banyak lelaki dan perempuan ini yang tahu dan mengerti tentang transfer kekuasaan oleh orang – orang luar sejak tahun 1714 lewat kesepakatan politik antara Belanda dan Sultan Tidore. Orang – orang luar yang tak sebenarnya menguasai tanah Papua dengan utuh pun tak bisa sepenuhnya merebut kebebasan dan kemerdekaan orang Papua sebagai manusia merdeka di tanah ini. Tapi saya tahu, para lelaki dan perempuan Papua saat itu sadar entah sepenuhnya sadar ataupun benar – benar sadar untuk mengambil hak politik mereka. Tah heran, di tahun 1961, bulan Januari, ada 8 partai politik di tanah Papua; DVP, PARNA, EPANG, Partai Serikat Pemuda Papua, Persatuan Orang New Guinea/ PONG, KUE (Kena U Embay), Sama – Sama Manusia, Persatuan Christen – Islam Radja Ampat dengan platform yang berbeda – beda tetapi berbagi visi yang sama tentang ‘kebebasan’; tak ada lagi otoritas asing atas penduduk tanah ini.
50 tahun lalu, ekspresi kebebasan sudah dikumandangkan. Ini bukan barang baru karena OTSUS yang gagal, kesejahteraan yang tidak diberi, bukan juga karena hanya karena luka lama DOM. Ini adalah kisah dan ekspresi para lelaki dan perempuan Papua yang ingin menjadi ‘Tuan’ di atas tanah mereka sendiri. Ingin merasakan ‘kebebasan’ yang tidak berada di ujung moncong senjata. Saya teringat kutipan pernyataan seorang William Inuri dalam wawancara dengan wartawan di Port Moresby pada November 1961, “We want a real voice in this trouble. The rest of the world is saying what SHOULD happen to us native people. It’s time the world let us have a say.” Iya, ia menentang pandangan bahwa orang luar yang berhak menentukan apa yang SEHARUSNYA terjadi atas orang Papua dan ia bersikukuh bahwa inilah saatnya dunia mendengarkan apa yang HARUS diutarakan sendiri oleh orang Papua. Sejarah mencatat, walau NKRI tak mengakuinya dan Sukarno menganggapnya hanyalah ‘pembentukan negara boneka’, pada tanggal 1 Desember 1961, di Hollandia (sekarang Jayapura), mereka; para lelaki dan perempuan Papua berikrar, berjanji, berseru dan memproklamasikan NEGARA mereka; dengan nama resmi mereka, lambang negara, lagu kebangsaan dan juga bendera. Terlepas dari itu yang terpenting, mereka menyatakan SIKAP sebagai ENTITAS; manusia penghuni tanah ini, bahwa mereka MERDEKA!!!
Sejak saat itu, tanah ini tak pernah lagi diam, tak pernah lagi bersih dari bau darah yang menggelegak amis, tak pernah lagi ada mimpi – mimpi senyap di benak lelaki dan perempuan berkulit kopi. Sejak saat itu, sejak 1 Desember 1961, banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya, banyak keluarga kehilangan hak ulayat mereka, banyak keluarga kehilangan budaya dan bahasa mereka. Cerai Berai!!! Betapa mahalnya harga sebuah kebebasan!!!
Sudah 50 tahun tanah ini dinyatakan ‘merdeka’. Sudah 50 tahun tanah ini dipaksa menutup sejarahnya bahwa pernah ada berbagai lelaki dan perempuan Papua yang berkumpul bersama dan sepakat untuk menjadi sebuah NEGARA. Sudah 50 tahun tanah ini disumpal sejarahnya. Saya sedikit menerawang jauh, apakah semuanya akan berbeda bila tanah ini hanyalah tanah tandus nan gersang tanpa kekayaan mineral dan alam? Apakah penduduk tanah ini akan hidup bahagia dan merasakan kebebasan bila tanah dan laut tempat tinggal mereka hanyalah hamparan padang pasir minus minyak? Apakah pesta deklarasi kemerdekaan mereka tiap tahun akan dirayakan dengan mudah tanpa dibayangi ujung moncong senjata, sepatu lars dan pandangan mengancam penuh teror? Saya tak tahu! Tapi saya terus bertanya (dan mencari jawaban)!!!
50 tahun sejak deklarasi kemerdekaan dan tanah ini masih penuh darah, masih belum MERDEKA, masih dan semakin dililit banyak ‘penyakit’. Penduduknya di daerah pedalaman ataupun bahkan di perkotaan masih bergelut setengah mati dengan masalah kesehatan, pendidikan dan bertahan hidup. Sesama ‘anana tana’ saling ‘baku makan’. Tidak mendukung satu sama lain. Melupakan apa yang dijunjung dan dikejar oleh para lelaki dan perempuan yang berdiri dan percaya atas arti 1 Desember 1961. KEBEBASAN YANG MENSEJAHTERAKAN! KEBEBASAN BAGI SESAMA! KEBEBASAN YANG DIDAPAT DARI KERJA KERAS!
50 tahun berlalu, dan Anana Tana terlena dengan cipratan dana Otsus yang merajalela dan bocor di mana- mana. Anana tana terlena dan lupa untuk nasib saudara – saudaranya sendiri. Anana tana lupa untuk berbagi dan bekerja keras melawan apa yang mereka tentang yang berlawanan dengan prinsip kebebasan yang dijunjung para ‘pendiri’ tanah ini. Anana tana terlalu sibuk memikirkan nasib mereka sendiri; memikirkan uang, kekuasaan dan juga nafsu. Tak pernah lagi sama!!!
50 tahun berlalu, dan tanah ini masih menangis keras, menuntut keadilan, menuntut kebebasan. Tanah ini masih menuntut tubuhnya yang diperkosa dan ditaburi darah, menuntut hengkangnya cakar – cakar besi yang merasuk badannya, entah lewat moncong senjata, hujaman alat – alat bor dan keruk, ataupun segala macam perangkat tambang tajam non-ramah lingkungan.
50 tahun berlalu dan anana tana yang duduk ongkang – ongkang kaki di kursi empuk yang didapatkan dari menggadaikan air mata darah kaum mereka sendiri lupa melihat sekeliling mereka. saya mendapatkannya kala mengingat kampung berjarak 20 menit perjalanan dari rumah saya, di sana tak ada listrik, sarana kesehatan dan juga adanya 3 kelas SD yang digabung dan diajar satu guru per tiga kelas itu. Saya lupa, apa memang anana tana yang mengambil keputusan terkait hal ini lupa bahwa mereka yang ‘harus jalan raba kendaraan malam – malam untuk antar orang sakit ke kota itu’ adalah bangsa mereka, saudara sekaum mereka? Mungkin mereka lupa atau pura – pura lupa, saya tak tahu.
50 tahun berlalu, dan di tanah saya, di kota saya, di kompleks saya, kata ‘Merdeka’ masih terus ada; entah pelan dibunyikan, disembunyikan dalam tulisan ataupun disuarakan lantang di jalan – jalan.
50 tahun berlalu, dan saya masih merasa bahwa MERDEKA adalah hak tiap orang, tiap kaum, tiap bangsa. Tidak dapat disumpal dengan senjata, tidak dapat ditutup dengan tanah dan batu. Tidak dapat disembunyikan dengan pembredelan dan pelenyapan orang – orang.
Entahlah!
Satu yang pasti, saya percaya sebagaimana yang dipercayai oleh ‘tete’ saya 50 tahun lalu bahwa, “If we don’t fight, we’ll lose” dan KEBEBASAN HARUS MENSEJAHTERAKAN! Bila subuh ini saya bisa dan harus berhadapan dengan Sukarno, lelaki yang sesuku dengan bapak saya, saya ingin bertanya dan bicara, “Setelah 48 tahun, ko ‘rebut’ tanah ini untuk janji kebebasan dan kata untuk tolong sa pu tete pu orang – orang, mana ko janji? Kenapa tra kas tinggal dong dengan dong pu negara saja yang penting dong tra ganggu kam di Jawa sana juga mo. Ko su curi dong pu pesta perayaan 1 Desember, ko su rusak dong pu keluarga dan tanah, ko su banyak curi dong nyawa.
Dong pernah rebut ko pu rumah ka, pancuri ko barang – barang ka? Bunuh ko pu anana dong ka? Perkosa ko pu keluarga ka? Sampe ko bikin gerakan kas ka kirim banyak orang untuk bikin tanah ini selama 50 tahun bau DARAH kental macam perem yang mens ka pendarahan saja. Itu sakit ya. Sa tanya ko.
Sa cuma mo bilang satu barang saja eeee. Sa cuma mo kas tau pace ko eeee, dong pu mimpi – mimpi KEBEBASAN itu tra akan hilang. Tra akan pernah, sa kas tahu ko. Itu dalam tong pu DARAH, dalam tong pu DNA. Itu saja yang sa mo kas tahu ko. Selamat subuh, pace”
(Manokwari, 011211; reflecting on the anniversary of 50 years of West Papua Independence; the long lost searching of freedom)
0 comments:
Post a Comment