Malam ini, saya baru saja usai memperbaharui janji dan komitmen saya pada Yesus dalam sebuah Perjamuan Kudus di gereja lokal saya. Iya, sebuah janji pada Tuhan. Apalagi sejak mewawancarai narasumber saya terkait daerah Sanggeng, saya merasa malu pada diri saya yang tidak bisa meluangkan waktu barang 2 jam seminggu untuk bersekutu di rumah Tuhan bersama orang percaya lainnya. Jadi, malam ini, usai hampir 2 bulan lebih tidak pernah pergi ibadah di gereja, saya muncul untuk sebuah commitment renewal dalam bentuk mengakui peran tubuh dan darah Kristus. Iya, sesimpel itu.
Malam ini saya juga baru saja selesai membuat tato temporer di tubuh saya. Ini ketiga kalinya saya membuat tato: pertama tahun 2008, kedua tahun 2009, dan ketiga ya tahun ini hehehe. Kali ini, hanya 3 tato dengan desain yang berbeda. Tato pertama, di punggung tangan kiri, sebuah tato sedang berisi simbol nama saya yang sudah saya ciptakan logonya sejak tahun 2002 di Manado. Ya, sebuah simbol RH34 dalam gambar kotak dan huruf. Simbol ini merupakan dari representasi saya sewaktu kecil tentang diri saya yang tidak bisa menyebutkan nama kedua saya dengan huruf ‘I’ tetapi dengan ‘E’. Plus penyebutannya menjadi ucapan nama seorang dewi dalam mitologi Yunani. Ibu kehidupan a.k.a. Rhea.
Saya juga memutuskan membuat tato kedua saya, berada di atas payudara kiri, bertuliskan nama panggilannya saya dalam penulisan bahasa Inggris: MYA. Tulisan ini sudah saya adopsi sejak tahun 2000 kalau tidak salah. Jadinya tidak merujuk pada sebutan nama saya versi India. Saya punya alasan penting memakai nama saya di tempat yang cukup terlindung . Faktor budaya suku mama saya: Meyah, Arfak. Dalam keluarga besar mama saya yang berasal dari keluarga ‘big man’ alias kepala suku turun – temurun, setahu saya, saya keturunan ke 7 dari trah dinasti kami, dan ke empat dari keturunan Byak. Semua saudara perempuan mama saya punya tato, entah di wajah atau tangan. Bahkan ada yang memiliki keduanya. Hanya mama saya yang tidak memilikinya karena ia sejak lahir diadopsi pasangan Maluku ( Amahai, Seram - Paperu, Saparua). Di masa lalu, perempuan suku Meyah rata – rata bertato, entah dalam bentuk titik, garis atau apalah. Tapi harus. Tato yang saya tahu menurut penuturan saudara – saudara perempuan mama adalah simbol yang menyatakan bahwa kami ‘milik’ atau berasal dari keluarga X atau suku X.
Anyway, Seiring dengan dikenalnya huruf Latin, maka kerabatnya mama pun berganti simbol dengan lebih banyak menggunakan inisial nama. Suku besar mama adalah suku petarung yang suka berperang dan salah satu suku pegunungan Arfak. Bahkan juga punya mekanisme kontrol sosial; suanggi. Kehidupan yang keras di pegunungan dan juga nilai perempuan yang tinggi menjadikan tato sebagai alat identifikasi sejak kecil. Iyalah, kasus penculikan dan pembunuhan sering terjadi dan perempuan sangat rentan dalam kondisi seperti ini. Itulah sebabnya, saudara perempuan mama punya tato di wajah dan tangan mereka, sebagai penanda. Hal inilah yang membuat saya memutuskan membuat tato temporer di badan saya, dan semoga masih tetap bisa bertahan ke depannya. Toh, sekarang saya sudah bisa membuatnya sendiri. Saya fobia dengan insersi jarum di tubuh saya dan juga cepat bosan, makanya masih tidak berani membuat tato permanen. Itu saja.
Tato ketiga saya berada di betis kanan, lumayan besar. Gambarnya adalah sebuah guci yang menuangkan air yang meluap. Desainnya saya adaptasi dari versi yang saya lihat di internet tetapi kemudian saya modifikasi sesuai dengan filosofi saya. Saya suka air dan menjadi representasi nama lain saya yang mengandung unsur ‘air’. Dalam bahasa suku mama saya, air disebut ‘Mei’ dan hujan disebut ‘Mos’, itulah sebabnya saya memakai nama ‘meimosaki’, arti literal karangan saya sendiri sih ‘(air) hujan di pagi hari’. Nah, tato ini sendiri punya dua makna bagi saya. Selain simbol air, guci yang dipakai menampung air aliran air memuat simbol dua huruf M tumpang tindih, satu merujuk pada nama panggilan saya sejak kecil dan dua pada nama Meimosaki. Air yang mengalir tidak lagi dalam bentuk air tapi saya buat dalam representasi pohon dalam mitologi India. Sedikit tampak seperti batik juga sih. Ataupun manusia abstrak. Ya, merepresentasikan budaya Jawa yang sarat dengan konsep ‘gunungan’ itu tapi ini merujuk pada air dan pohon dalam bentuk kehidupan. Saya suka keduanya dan saya bersyukur tato buatan saya kali ini benar – benar the real me dan saya puas.
Saya tidak peduli apa pandangan orang tentang tato saya. Entah dibilang ‘kaco’, ‘nakal’ atau ‘sesat’, I just don’t give a damn on it. Bagi saya, saya akan bertato demi sebuah filosofi dan bukannya tren. Saya tidak akan bertato dengan simbol tertentu yang sedang tren atau diinginkan orang lain. Selain itu, saya juga berkomitmen sejak akhir – akhir ini untuk mulai menghayati 50% darah Papua saya termasuk aturan keluarga besar saya yang tidak boleh menyantap daging anjing karena legenda keluarga kami; kami berasal dari anjing betina. Ya, saya mulai sedikit bisa mengadopsinya karena memang sudah bermasalah dengan RW plus mulai memelihara Autumn (anjing kecil saya yang saya serahkan untuk si Eu). Janji kecil tepatnya.
Anyway, saya mulai menulis yang tidak penting tampaknya. Ini hidup saya dan ya, saya hanya ingin jujur pada diri saya sendiri. Saya sedang dalam perjalanan saya ‘back to my root(s). Itu saja.
(Manokwari, 191211; 2 a.m.)
0 comments:
Post a Comment