What’s your heavenly moment today? Itu pertanyaan yang saya berikan pada beberapa teman saya saat saya sedang ngopi sore di sela – sela waktu menulis. Kebetulan hujan deras sedang turun di Manokwari sejak siang merangkak sore dan saya memutuskan mencoba mencicipi kopi Arab made in Lebanon asli pemberian mantan dosen saya dulu. Aromanya khas banget dan bikin otak saya langsung ‘smangat’ beybeh =D. Iseng – iseng sambil duduk di ambang jendela dan ngopi, menyetel kencang lagu – lagunya Pink i.e. ‘Fucking Perfect’, ‘Raise your glass’ hingga ‘Single and very happy’-nya Oppie dan punyanya Ne-Yo ‘Miss Independent’, saya masih sempat menikmati hujan dan juga pemandangan depan jalan. Tak lupa memandang bunga – bunga serta tanaman hias plus 30 bibit pohon pinang depan kamar, yang terletak antara saya dan jalan depan rumah. Di momen surga itulah, saya mengirimkan pesan ini pada beberapa teman. Isinya sih simpel tapi saya merasa damai sekali. Isinya begini: “ Sa lagi duduk ngopi Arab di ambang jendela dan nikmati hujan jatuh di kebun kecil depan kamar dan juga pemandangan hujan depan jalan dan lihat payung – payung warna – warni. Sa sebut ini momen hujan hari ini. What’s your heavenly moment today?”
Tak dinyana, respon saya bersambut bagaikan timba sumur dilempar ke dalam sumur ‘Indonesia Raya’; sumur manual pake tali. Siap dikerek naik. Nah ini kesimpulan dari beberapa teman yang berhasil saya ciduk. Fresh from the tungku, sodara – sodara ^_^
Beberapa sahabat perempuan saya yang sedang mempersiapkan urusan domestik perayaan natal, baik dari bersih – bersih rumah hingga mempersiapkan kudapan natal, berbagi momen surga mereka hari ini. Simak saja dari pernyataan Ririe ini: “ Sementara belum ada, yang ada devilish moment coz sejak pagi z sibuk panjat – panjat dan lap segala macam di dapur. Tapi kayaknya sih (heavenly moment-red) ada, Z pu dapur keliatan romantis skali saat hujan gini… Aih pacaran di dapur suda wkwkwkkwkw”. Saya langsung senyam – senyum saja, rumahnya sudah romantis penampakannya dari luar apalagi dilatarbelakangi hutan lindung. Bisa jadi areal foto pre-wedding malah hehehe. Si Yana malah sedikit berbeda , lebih ke urusan kue tapi saya bisa membayangkan bagaimana suasana di rumahnya di Pasir II Jayapura itu ya, masalahnya langsung punya akses dekat pantai. Mau donk! Ini cerita Yana tentang momen surganya hari ini: “Kalo sa ada duduk di dapur samping jendela yang di bawahnya ada kolam ikan sambil bantu mama bikin kue nastar :D”. Wah tadi pas lagi ngopi dan baca SMSnya Yana, alamak … ngiler boooo, pasti lezat ya ngopi hujan – hujan gini, kopi Arab pula e ditemani setoples Nastar panggang hangat dari oven. Bisa tidak dibayangkan ya aroma kopi melebur bersama Nastar hangat. Alamak, saya semakin ngiler lagi saat selang beberapa menit, si Olive mengirimkan pesan serupa: “Bikin Brownis Kukus”. Yiah … hampir saya jatuh dari jendela tadi. Gosh, I call it ‘temptation’ kala hujan. Iyalah, lagi nikmat ngopi dan dikirimi rekam jejak momen surga teman – teman dalam bentuk ‘makanan’. Sapa mo blok HAHAHA.
Sahabat saya si Amos yang lagi liburan pulang kampung ke Toraja berbagi pengalaman surganya hari ini, aduuuh bikin kaki saya langsung ‘gatal’ ingin travelling, bagaimana tidak, isinya begini: “Naik turun gunung mengendarai motor. Lihat kabut awan beterbangan”. Damainya, mana beberapa waktu lalu banyak foto alam hijau yang ditautkannya ke laman jejaring sosial saya. I can remember it, iya .. kabutnya itu lho, sudah lama tak melihatnya hehehe*serasa ingat Canberra lagi HAHAHA. Lain si Amos, lain lagi dosen saya semasa kuliah dulu. Ma’am Yanti ternyata setali tiga uang dengan saya untuk momen surganya hari ini, apalagi kalau bukan sedang ‘menikmati hujan seharian ini’. Perfect!
Momen surga hari ini tak selalu diterjemahkan sebagai momen yang romantis, kadang hanya hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup teman –teman saya. Seperti bercengkrama dengan buah hati seperti yang dibagikan oleh teman saya Tisda yang sedang liburan di kampung halamannya di Sumatera Utara sana, “Baru saja selesai masak, suap Joy, cuci baju, makan siang. Nih lagi nyusui Joy habis duduk di depan rumah sambil makan kacang Bogor dan lihat kendaraan lalu lalang n yang pasti sambil pantau Joy. Hehehe tadi nyaris jatuh dari rumah (model rumah panggung papan)”. Pun seperti yang dikatakan April di Kendari, “Saya lagi terpaku liat tumpukan cucianku yang perlu diberi perhatian khusus minggu ini, karena takut saja saya gak bisa pake baju lagi kalo gak ditindak lanjuti karena cucian lainnya dicuri orang hehehe. Tambahan tugas menumpuk mampu membakar otak, trus apa ya, satu yang spesial lagi, tunggu – tunggu mama, mau ngasih kado untuk hari Ibu, semoga beliau jadi datang hari ini.” Teman saya Maria yang sedang liburan di Serui malah berbagi cerita bahwa momen surganya hari ini begini: “Kalau saya nikmati berbagai keunikan dari segudang keponakan yang sedang bermain di teras rumah.”
Momen surga bukan pula sesuatu yang harus sangat spektakuler. Toh Luna Vidya dalam sebuah perjalanan kerjanya cukup menggambarkannya dengan sempurna, “Sore dengan matahari yang suam, di teras sebuah CafĂ© di Kendari, menunggu rapat mulai. Not so heavenly ya May?”. Bahkan mungkin hanya sesimpel yang dikatakan teman saya Eni yang tinggal di Borarsi sana, “Nikmati momen tidur siang spanggal saat hujan turun.”
Ada lagi teman saya yang menerjemahkan momen surga mereka sebagai momen dimana mereka melakukan hal yang mereka cintai, semacam ekspresi hidup mereka. Lihat saja komentar dari Arie May di Jayapura, “Saya suka malam, langit terang dan berada di tempat yang gelap. Saya suka memotret bulan, meski sangat suka bintang.” Ataupun versinya si Andi a.k.a. Ibiroma yang juga tinggal di kota yang sama, tentang berbagi satu momen surganya hari ini, “Lagi cerita – cerita dengan teman tentang musik”. Ya, mereka mempunyai persepsi momen surga yang muncul dalam hal – hal kecil yang mereka lakukan.
Ada pula teman saya , Henny, yang saat ditanya tentang momen surga hari ini hanya bisa bilang bahwa ia baru saja melewati masa yang berat dan terasa ‘suck’ hari ini. Bikin badan malas skali! Ya dampak dari rapat di tempat kerjanya. Ya tapi semoga saja akhir pekan ini akan membuatnya merasakan sekeping momen surga. Itu harapan saya.
Anyway, dari berbagai komentar teman – teman saya ini, saya melihat bahwa tiap orang punya momen surga dengan gradasi yang berbeda, tapi saya tak melihat ada seorangpun yang menyinggung tentang momen surga yang harus terkait dengan memiliki uang yang banyak,harta ataupun gadget mewah . Saya melihat bagaimana mereka melihat momen surga adalah saat dimana mereka menjadi diri mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka cintai ataupun menikmati hal – hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka hari ini. Intinya, mereka sedang menikmati ‘hidup’ mereka. Saya pun teringat dengan diskusi dengan dosen saya tadi lewat pesan – pesan pendek, dan saya sangat setuju dengan pernyataan Ma’am Yanti ini, “Yupz, small ‘trivia’ thing is beautiful indeed. Justru orang – orang yang kebanyakan duit itu yang kadang – kadang malah tra bisa merasakan ‘keindahan’ hal – hal kecil di sekitar karena yang terpampang di dong pu pikiran dan pandangan hanya duit dan sodara2nya, padahal ‘kemewahan’ saat hujan begini nih tra pernah bisa dibeli ^_^”
Oopppps, tepat saat saya ingin menutup catatan ini, si Ririe yang tinggalnya di kawasan Gunung Meja sana dan asli Maluku ini mengirimkan lagi sebuah pesan dan sangat heavenly moment versinya dia dan menggambarkan sebuah kebersamaan, simak ceritanya: “Btw, I’ve just got my heavenly moment. Pohon di seberang jalan tumbang. Trus beberapa anak Wamena datang potong dengan dibantu papa dan tetangga depan. Sekarang semua lagi ngeteh dan makan gorengan di ruang tamu.”
Akhirnya, saya hanya bisa menutup catatan ini dan berharap bahwa setiap dari kita, akan selalu menemukan keindahan dalam hal – hal kecil dalam keseharian hidup kita tiap hari. Merasakan kepingan momen surga dalam hidup kita yang biasa saja. Karna saya percaya bahwa tiap orang punya potensi luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang menakjubkan dalam sebuah perjalanan yang disebut ‘hidup’.
Ya, dan tampaknya saya masih mau melanjutkan momen surga tahap ke sekian kala hujan hari ini, apalagi kalo bukan menulis catatan baru tentang pohon dan ‘ngopi’ lagi, kali ini dengan secangkir Javabica Cafelicious ‘Mochaccino’. Tentu saja usai itu akan dilanjutkan dengan mandi berlulur kopi buatan sendiri and I call this series of activity as ‘P-A-R-A-D-I-S-E’.
Welcome to my paradise, mates! Have a very nice weekend.
(Manokwari, 221211)
0 comments:
Post a Comment