Sedari kecil, saya selalu penasaran pada yang namanya makhluk bersayap. Entah peri, malaikat ataupun drakula. Karena bisa lancar membaca sejak usia 5 tahun, saking tergila – gilanya pada makhluk bersayap ini dan diracuni dengan segala macam cerita dan dongeng, imajinasi saya tak pernah mati tentang mereka. Sewaktu kecil, saya sangat suka mengamati tanaman dan bunga serta berharap akan ada makhluk kecil bersayap yang muncul tiba – tiba dan mengajak kenalan apalagi bersahabat. Sayangnya, berulang kali yang terjadi adalah petaka karena seringnya saya malah tersengat makhluk bersayap kecil yang banyak di rumah lama saya; lebah madu.
Keinginan untuk melihat makhluk bersayap dan bahkan menjadi makhluk bersayap yang bisa terbang ini, saking parahnya tersimpan oleh alam bawah sadar saya. Sejak kecil, imajinasi makhluk bersayap itu khususnya peri dan malaikat meracuni saya dengan keinginan untuk bisa terbang seperti mereka yang terekspresi dalam mimpi – mimpi saya yang menjadi superhero. Imajinasi alam bawah sadar ini malah kadang masih sering muncul di masa stress saya hingga sekarang, walau kali ini dalam mimpi saya sudah lebih realistis dan bebas gaya superhero seperti dulu yang lengkap dengan segala macam kemampuan ajaib. HAHAHA. Ya ini menjelaskan salah satu alasan mengapa saya suka ‘bajalan ukur jalan dan tidak bisa tinggal diam di satu tempat’ karena memang makhluk bersayap punya kemampuan mobilitas tingkat tinggi dan saya terobsesi pada mereka *skali lagi HAHAHAHA untuk sebuah upaya ‘pembenaran diri’. Anyway, Swanter termasuk tidak ya pada bagian ini? *mikir.
Saya bahkan baru ingat kenapa saya suka kupu – kupu dan juga mati muda. Mungkin tidak kelihatan relasinya tapi saya baru sadar malam ini. Sejak kecil, karena adanya kepercayaan yang salah dan konsep nilai kekristenan yang setengah – setengah waktu kecil (waktu itu kedua orang tua saya berbeda agama dan hingga kelas 6 SD saya dibesarkan dengan 2 budaya agama yang berbeda), makanya saya percaya bahwa makhluk bersayap khususnya MALAIKAT itu ada yang kecil. Jadinya, saya percaya entah dengan logika sendiri ataupun asumsi yang ditanamkan entah oleh siapa, saya percaya bahwa anak kecil ataupun bayi yang mati itu otomatis jadi malaikat. Sesimpel itu karena mereka masih kecil dan tak banyak dosa. Guess what? Itulah titik tolak saya terobsesi dengan kematian sejak usia dini. Semakin buruk kala menonton serial favorit saya sewaktu SD ‘Eerie Indiana’ yang tagline salah satu episodenya adalah “mati muda meninggalkan mayat yang cantik.”
Kupu – kupu sendiri salah satu makhluk yang saya kagumi kecantikannya karena punya sayap yang cantik, walaupun rapuh dan hidupnya singkat. Tapi saya suka kupu – kupu karena ia contoh satu makhluk cantik yang menganut paham ‘mati muda meninggalkan mayat yang cantik’. Karena bahkan kematiannya pun membawa keindahan dan yang terpenting adalah makhluk ini BERSAYAP! Ya, saya terobsesi pada makhluk bersayap.
Selain malaikat, saya terobsesi pada drakula dan juga peri. Ya, mungkin karena sama – sama bersayap. Tapi memang tidak segila obsesi saya pada malaikat dan peri semasa kecil. Tak heran, salah satu foto profil Facebook saya kala sedih 2 tahun terakhir adalah perempuan bersayap HAHAHA. Saya bahkan ingin suatu hari nanti punya kesempatan difoto dengan anyaman mahkota bunga liar dan rambut tergerai dan pakaian putih selutut dari bahan ringan di padang ilalang ataupun bunga liar ataupun di tepian pantai hanya agar mirip dengan imajinasi peri di kepala saya HAHAHA.
Seiring usia, saya mulai mengembangkan konsep saya pada malaikat yang tanpa sayap. Sewaktu masa remaja hingga awal umur 20an, saya tidak terlalu mengagumi ‘malaikat’ ataupun ‘bidadari’ versi baik yang ayu kemayu dan ngomongnya halus. Saya malah tergila – gila dengan para bidadari atau makhluk ini versi “Charlie’s Angels”. Bidadari berotot dan jago bela diri tapi punya bodi yahud dan tampang ajaib plus otak encer. Ya, saya sangat tergila – gila dengan konsep seperti ini makanya saya suka juga pada versi kartunnya dalam ‘Totally Spies’. Bahkan kalau boleh jujur, pada masa remaja dan awam 20an, saya tidak suka pada serial dulu yang seperti ‘Luz Clarita (Carita de Ange)’ ataupun serial ‘Angel’ di TV lokal. Saya lupa di stasiun TV mana.
Tapi, saya percaya, setiap orang punya masa di mana mereka menemukan sebuah ‘pencerahan’ atas apapun yang ingin ditunjukan oleh Tuhan ataupun ‘the Highest Divine’ (buat yang tidak percaya pada konsep ‘Tuhan’). Saya menemukan pencerahan terkait para malaikat ini lewat orang – orang di sekitar saya baru sekitar 3 tahun belakangan ini. Belum terlalu lama sebenarnya. Saya semakin tersadar perannya sejak tahun 2008 dimana tahun itu jadi salah satu masa dimana saya mempertanyakan Tuhan, mempertanyakan konsep hidup saya, mempertanyakan janji Tuhan, perjalanan cinta saya yang hancur lebur sungguh mati full dengan mata bangka tiap malam menangis darah. Titik dimana saya ‘rescheduling my life’ sungguh mati.
Pertengahan tahun 2008 menjadi salah satu titik dimana saya belajar melihat bahwa di sekeliling saya ada banyak malaikat tanpa sayap yang Tuhan ijinkan hadir dalam hidup saya. Sesuatu yang dahulu kadang hanya saya ‘take them for granted’ tanpa penghargaan yang besar. Para malaikat yang Tuhan utus diam – diam, yang kadang mereka sendiri pun tak sadari. Mereka hadir dalam hidup saya agar menguatkan, mendampingi, menghibur, menyemangati, bahkan mencintai saya walau kadang hanya untuk beberapa waktu, semusim ataupun juga sekejap saja. Tapi mereka adalah para malaikat yang tak perlu sayap untuk jadi superhero, apalagi jadi peri seperti di serial ‘True Blood’. Para malaikat tanpa sayap ini adalah kenalan, relasi, teman dan terlebih lagi para sahabat saya, baik jauh dan dekat, lelaki maupun perempuan ataupun yang punya masalah dengan identifikasi jenis kelamin mereka. Mereka yang peduli dan menyayangi saya terlepas bagaimana intensitasnya.
Beberapa jam lalu, saya mengirimkan beberapa SMS kepada para sahabat dan teman – teman dekat saya dengan pesan seperti ini:
“Sa baru saja selesai berdoa malam dan belajar tentang Raja Yosafat (2 Tawarikh 17-20). Sa belajar banyak malam ini dari de pu hidup. Anyway, it makes me think of U as my wingless angel. Sa percaya tiap orang yang Tuhan ijinkan hadir dalam sa hidup , terlepas bagaimana intensitas dan chemistry-nya, adalah bongkah – bongkah permata yang akan saling bersinergi membentuk keunikan dan keindahan serta merefleksikan Tuhan. Thanx 4 being the part of my life. Amen”
Ya, mereka dan juga teman – teman lainnya yang tidak bisa saya jangkau lewat pesan singkat tadi adalah para malaikat tanpa sayap. Mereka kadang tidak menyadari bahwa tiap interaksi dan perjumpaan dengan mereka menghasilkan banyak hal yang membantu saya untuk tetap hidup, tetap bertahan dan tetap semangat untuk menjalani hidup saya. Mereka tidak menyadari bahwa masing – masing dari mereka menyimpan satu benih ‘damai’ surga yang akan mengalir keluar ke hidup saya dan menguatkan saya pada satu sisi. Mereka meradiasikan ‘damai’ itu pada saya dan membuat saya menemukan kepercayaan saya pada Tuhan bahwa ‘Paitua Besar’ itu entah di mana Dia berada memang mengasihi saya karena mempercayakan perjumpaan saya dengan para malaikat tanpa sayap ini.
Para malaikat tanpa sayap ini mempunyai fungsi yang berbeda – beda. Ada yang menjadi semisal charger alias memasok energi terus menerus pada saya kala sedang drop ‘semangat’. Kala saya sedang bĂȘte tingkat tinggi, ada yang sekedar mengajak saya jalan – jalan, ada yang menawarkan trik kosmetik baru pada saya, ada yang mengajak nonton, ada yang mengajak pergi berenang, ada juga yang menawarkan makanan dan bahkan petualangan.
Ada lagi malaikat tanpa sayap yang jadi katalisator daur ulang ataupun ‘tempat sampah’. Mereka tak pernah bosan mendengar keluhan, curhat tak penting saya, kebingungan bahkan kegilaan saya. Padahal kalau dihitung – hitung, saya tidak terlalu sering menjadi ‘tempat sampah’nya mereka. Mereka bereaksi dengan cara yang berbeda kala saya membuang ‘sampah emosi’ saya. Ada yang membantu saya dengan memaki, ikutan melakukan tindakan fisik, ada yang mendengar dan memberikan saran, ada yang menyindir saya untuk cepat bangkit ke mood normal dan ada yang mendoakan saya. Apapun respon mereka, mereka meluangkan waktu untuk membalas pesan singkat saya yang biasanya sangat banyak itu ataupun kadang – kadang panggilan saya ataupun acara curhat saya yang panjang lebar. Mereka benar – benar malaikat.
Saya juga punya tipe malaikat tanpa sayap yang bukanlah orang yang mendengar curhat saya ataupun membaca SMS tidak penting saya terkait perasaan dan urusan sentimental lainnya. Namun, mereka adalah para malaikat yang memantau progress pemanfaatan talenta saya ataupun kapasitas yang dipinjamkan Tuhan pada saya. Mereka menyemangati saya, mengomentari pekerjaan saya dan juga meminjamkan mata dan telinga saya untuk meningkatkan kapasitas yang saya miliki. Mereka adalah malaikat tanpa sayap tipe ‘pemikir’. Bertemu dengan mereka, saya menemukan semangat dan radiasi energi bahwa saya memang layak untuk tetap hidup karena mereka percaya bahwa saya punya kemampuan untuk melakukan yang ‘lebih’ lagi, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam memanfaatkan talenta yang dipinjamkan Tuhan pada saya.
Saya juga bertemu para malaikat tanpa sayap yang tidak banyak bicara, tapi menunjukan perhatian dengan kasih full 100% tanpa ragu. Memantau dan memastikan saya baik – baik saja dan kadang – kadang sorot mata mereka dan terkadang juga pelukan untuk menunjukan bahwa “I do care about U, May!” Ya saat ini yang termasuk pada bagian ini adalah orang tua, saudara – saudara saya serta para keponakan kecil saya. Para bandit kecil adalah salah satu contoh malaikat tanpa sayap tipe ini, karna saya merasakan pasokan energi, cinta dan semangat hidup kala mereka memandang saya dengan pandangan binar ataupun berlari dan memeluk saya. Tentu saja dengan menyebut nama saya. That’s one of the heavenly moments I’ve ever felt.
Saya percaya, tiap mereka ini, tiap malaikat tanpa sayap ini, adalah bongkah – bongkah permata yang tersembunyi, yang lagi ‘undercover’ alias menyamar. Pergesekan ataupun pertemuan dengan mereka di tiap titik hidup saya membuat percikan permata mereka teradiasi dalam hidup saya, membuat hidup saya berwarna dan kelak saya percaya, suatu hari nanti, tiap kami akan menjadi permata tingkat tinggi dengan irisan rumit yang indah, yang tak lekang waktu dan setia merefleksikan pancaran keunikan dan keindahan Tuhan dalam hidup.
Akhirnya, di akhir catatan ini, saya cuma ingin bilang bahwa saya percaya bahwa malaikat itu ada dan terlebih lagi saya percaya Tuhan itu ADA karena saya menemukannya dalam rupa tiap malaikat tanpa sayap yang saya temukan dalam hidup saya, entah untuk semusim, entah untuk alasan tertentu, entah untuk sepanjang hidup saya. Satu yang pasti, saya hanya ingin bilang:
Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup saya. It means a lot to me. May God bless you abundantly, over and over.
Ya, anda salah satu dari malaikat tanpa sayap itu.
Terima kasih! *clap-clap-clap sambil mendendangkan lagunya India.Arie “I see God in you” (lagu ini khusus untuk anda)
“I see the God in you/Oh Yeah/ Yeah/ I wonder/ I wonder if you really knew that I see God in you/ I wonder if you can see/ how much you mean to me/ I know you cannot read my mind/ But I hope you feel it about/ So, I let you know that I see the God in you. Oh yeah”
(121211; sebuah malam penuh cinta kala mengingat saya dikelilingi banyak malaikat tanpa sayap yang merefleksikan cinta Tuhan)
2 comments:
Hai Dayanara,
saya adalah penggemar tulisanmu yang humanis dan realistis.
Tulisanmu semakin touching
Tetap bersemangat ya.
dian.
Thanx juga sudah mau baca :) salam kenal. No worries, saya tetap bersemangat kok hehehehe *tergantung fase mood :)
Post a Comment