Know your limits mungkin pesan penting yang saya pelajari minggu ini. Beberapa hari lalu, gara – gara efek kopi yang cukup banyak dan membuat saya sesak nafas dan Refluks Oseofagitis saya kumat serta dampak hangover begadang beberapa malam, pada sebuah subuh di kala mau tidur suara dalam diri saya memberi pesan ini: “Know your limits, May. Kalau mau hidup lama dan menikmati hidup seutuhnya dalam hidup, you should know your limits. There is not any freedom without the consequence; there is not any absolute freedom of something, May.”
Hari ini saya belajar lagi tentang makna know your limits. Memang terasa lebih sakit hari ini kala saya harus melepaskan sebuah hubungan kedekatan saya dengan seseorang, sebut saja si Bob. Saya harus menjaga jarak dan saya memang memberitahu hal ini pada lelaki itu. Ya mungkin sebuah bentuk kejutan bagi lelaki ini karena tampaknya hubungan pertemanan kami baik – baik saja. Ia perhatian, bahkan bagi saya ya perhatian yang seharusnya diberikan pada pacar atau tunangannya itu. Iya, salah satu alasan saya memintanya menjaga jarak ya karena saya melihat bahwa kami akan punya potensi mengarah pada hubungan yang lebih dari teman sedang ia sudah terikat berpacaran atau pun bertunangan dengan seorang perempuan cantik dari provinsi seribu pulau . Jadi, sebaiknya sebelum semua rasa yang terjalin antara pertemanan saya dan Bob itu berkembang lebih jauh dan membuat urusan perasaan menjadi kacau antara campuran terlanjur sayang, rasa bersalah dan juga ketidakpastian, saya memilih seperti ini.
Sejak siang, usai mengirimkan sebuah berkas lamaran pada sebuah lembaga, saya benar – benar merasakan dampak kelelahan emosi terkait pesan – pesan saya pada Bob di pagi hari. Entahlah, saya merasakan ada yang hilang dari hidup saya. Saya merasa semangat saya sempat terjun tiarap. Itu saja. Saya tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaan ini. Sangat rumit. Mungkin kalau ia brengsek dan tidak perhatian, rasanya akan lebih gampang ya mengatasi perasaan seperti ini? Anyway, kami belum genap sebulan berteman karena resminya saya baru menerima perkenalannya tanggal 16 November kemarin. Jadinya ya bagi saya belum sebulan. Tapi entahlah, saya menemukan sosok sahabat lama di dalam dirinya, yang mana kami bisa bercerita (atau sebenarnya saya ya?) bercerita banyak hal dan saya merasa sangat nyaman. Iya, sangat nyaman.
Saya baik – baik saja hanya mungkin malam ini saya masih berada dalam tahap belajar untuk realistis untuk setiap hubungan yang saya punya. Tak boleh ada belas kasihan dalam hubungan apalagi sampai membandingkan dan menyamakan karakter tiap orang. Jadi, selama masih begitu, sebaiknya memang relasi dengan cowok tersebut harus diputuskan.
Bob lelaki yang perhatian, itu menurut saya. Seperti semalam saat kami berdiskusi sebelum ia tidur (ia kerap mengirimkan pesan sebelum tidur dan akhirnya pasti kami bercerita) dan semalam saya pun langsung bertanya padanya, “kenapa ko selalu kirim sa pesan malam – malam ka?” dan ia hanya bilang “karna ko di sa benak tiap mo tidur”. Jujur, saya merasa bersalah pada tunangan atau pacarnya itu yang saya tahu saat ini mungkin sudah berada di Nabire, menuju rumah orang tua lelaki ini. They’re planning to marry next year dan saya merasa apa yang saya lakukan untuk dekat dengan lelaki ini tentu saja salah besar. He’s not mine dan saya tidak layak menerima perhatiannya seperti ini. Bukan hak saya.
Entahlah, saya belajar tentang know my limits dan hari ini saya harus melakukan sebuah keputusan yang membuat saya kehilangan semangat tetapi ini masalah pilihan, bukan? Saya juga tidak berniat menjadikan Bob sebagai kekasih saya jadi sebaiknya saya tidak ‘mencuri’ perhatian yang seharusnya ia berikan pada pacarnya bukan? Terasa sangat jahat. Saya sudah pernah menegurnya tentang perhatian pada pacarnya lebih dari sekali dan bagaimana perasaan pacarnya bila tahu bahwa ia selama sebulan ini suka mengirim SMS perhatian pada saya. Saya tahu karena saya memantau jejaring sosial pacarnya dan saya merasa bersalah dengan status pacarnya yang mengeluh dan tampaknya memang rada lebay juga sih dengan kondisi percintaan mereka, tapi saya tak ingin memperkeruh suasana. Jadinya, sebaiknya memang harus begini. Make it quick and clean. Cabut dari akar – akar semua rasa yang ada mumpung baru sebulan berteman walau memang saya akui saya mulai kecanduan dengan perhatiannya.
Saya baik – baik saja. Sekarang hanya tahap dimana saya keluar dari zona nyaman perhatiannya. Hanya tahap dimana saya belajar untuk know my limits. Itu saja. Saya sudah menghapus nomor ponselnya, saya sudah mengingatkannya dan sedari tadi, saya sudah berdoa. Saya cuma ingin semuanya kembali normal. Saya sebenarnya masih tetap mengharapkan ia menjadi teman saya tapi tampaknya kami berdua ada potensi lebih dari sekedar teman dan saya juga masih sulit menolak perhatiannya jadinya ya sebaiknya seperti ini. Agar tidak terjadi lagi cerita Lelaki Hujan bagian II. Itu saja.
Kadang when you know your limits, it is so damn hard. So damn hard. Yet, you have to do it in order to move on. Yeap, I am on the way to move on with my feeling. People may say that it is easy sometimes to forget people. For me, it is quite damn hard for I have tattooed themselves on my mind, Batiking our personal encounters in my life. Ya, hidup cuma satu kali. Saya hanya ingin melakukan yang ‘benar’ bagi saya. Selama lelaki yang mencintai saya tidak lajang dan terikat pada pertalian kasih yang lain, maka selamanya hal itu menjadi salah bila saya merespon perhatian mereka. TITIK! Setegas itu? IYA. Karena saya lelah hati saya berdarah – darah sekian tahun lampau demi sebuah kepastian yang ternyata hanyalah sebuah ilusi. Jadi, daripada saya membuang waktu pada suatu hubungan yang pada akhirnya kemungkinan gagalnya tinggi, sebaiknya saya menyimpan energi untuk mimpi – mimpi yang Tuhan titipkan dalam hidup saya. Lebih efektif, efisien dan tentu saja menjadi berkat.
Ini hidup saya dan hari ini saya belajar banyak tentang know my limits. Itu saja!
(Manokwari, 141212; Just buried a heart, iyo?)
0 comments:
Post a Comment