‘Tiap orang yang kita temui adalah kepingan sejarah hidup yang ada dan tumbuh, sumber cerita yang tak pernah habis, dan inspirasi mengenal hidup lewat sampel hidup.Tiap masalah yang kita lihat, temukan dan rasakan adalah studi kasus dari pelajaran gratis manajemen, psikologi dan bahkan strategi marketing hidup. Sayang kalo tidak didokumentasikan!!!! ‘
Tulisan di atas adalah status di jejaring sosialku entah pada tanggal berapa di tahun ini. Namun, itulah yang menjadi dasar mengapa saya selalu tertarik menulis tentang hal – hal yang biasa saja, mendokumentasikan mimpi – mimpi tak pentingku ataupun melihat bagaimana hidup kucatatkan dalam keabadiaan kata. Ada banyak hal yang bisa dicatat, tergantung dari sisi penting tidaknya hal itu mempengaruhi hidup kita. Misalnya kisah yang mungkin dianggap tak penting oleh orang lain seperti pengalamanku kemarin pergi ke pasar Sanggeng Manokwari dan juga melihat sekilas parade Sinterklas di jalan raya ataupun pertengkaran di pasar antara dua mama asli Papua yang kujuluki ‘drama queens’ karena heboh.
Sabtu sore yang panas di Manokwari di tanggal 3 Desember 2011. Kemarin sore ada parade sinterklas dari persekutuan anak muda Kristen di kota ini yang entah mulai dari Sanggeng bagian mana dan menuju Kota. Banyak orang berduyun – duyun menonton parade di pinggir jalan. Tua muda, keriting -lurus, tumpah ruah. Ini adalah satu sisi Manokwari yang selalu saya rindukan; parade ataupun festival di jalan. Saat kita melihat bagaimana rupa ketertarikan orang Manokwari pada ‘atraksi’. Tak heran, di pinggir – pinggir jalan yang panas itu, orang – orang benar – benar mempunyai semangat yang tinggi untuk ‘parkir muka di jalan’.
Saya berdiri di depan Pasar Tingkat Manokwari. Sendiri. Tersisip di antara para penjual petasan musiman yang semakin memadat di areal parkiran. Tiap berapa menit, satu dua bunyi ledakan petasan keluar dari deretan penjual. Entah apa yang dicari dari bisingnya kendaraan, bunyi petasan dan tiba – tiba muncullah rombongan mobil yang mendendangkan lagu natal dari pengeras suaranya. Saya sempat terkikik menahan tawa kala mendengar ada mobil dari gereja lokal di Manokwari yang berisikan rombongan Sinterklas dan para ‘punggawa’nya menyetel keras lagu natal versi Eminem yang berisi makian tanpa henti. Mungkin yang penting kedengarannya berbau natal tanpa tau makna kata yang dilantunkan ya? *mikir.
Anyway, sore itu saya juga sempat pergi ke Pasar Ikan, melihat apa ada kombrof atau ‘gurita’ yang dijual. Tampaknya sunyi. Yang ada hanyalah ikan – ikan seperti Cakalang, Ekor Kuning dan saudara – saudaranya. Tak lupa, tumpukan kepiting lebih dari 10 tumpuk yang dijual 3 ekor/Rp. 50.000,-. Sempat tergoda untuk membeli kepiting. Saya masih ingat bagaimana reaksi saudara lelaki saya kala saya kirimi SMS tentang harga kepiting. “May, beli suda, nan sa yang masak.” Tapi saat saya bilang tak bawa uang, e dia dengan cueknya bilang, “Kalo begitu, tra papa too. Liat – liat suda, kas senang hati dulu suda HAHAHA”. Kacau!!!
Pulang dari acara jalan – jalan ke pasar ikan Sanggeng, mata saya dimanjakan dengan parade warna -warni bermacam sayur dan bumbu di lapak – lapak pinggir jalan Pasar Sayur Sanggeng. Buah mangga lagi merajalela di mana – mana. Buang mata kiri - kanan, e ada mangga Kueni. Depannya ada mangga telur. Samping kiri kanan malah ada mangga pepaya alias mangga golek. Bikin ngiler!!! Harganya pun bervariasi dari yang hanya Rp. 5.000/6-7 buah hingga yang sebiji Rp. 15.000 – 20.000 untuk mangga pepaya. Tapi, ternyata pesona surga mangga harus cepat pupus karena ulah mama – mama penjual sayur yang berkelahi. Mau tau ceritanya? Ini cerita singkatnya langsung dari hasil pandangan mata, kebetulan mereka mulai berkelahi saat saya berada di depan tumpukan jualan mereka HAHAHA.
Pertengkaran mama – mama pasar tak setiap hari saya lihat jadi sore kemarin benar – benar jadi hiburan di sana. Menonton orang ‘bakalai’. Benar – benar khas orang Manokwari karena banyak sekali ‘rubber-necked Manokwarians’ yang menonton, termasuk saya. Itu lho, kebiasaan orang Manokwari yang selalu ‘kas panjang leher dan pantau’, ingin tau apa yang sedang terjadi. Sampai – sampai ada satu ungkapan di Manokwari, “Biar jarum satu jatu di Bakaro sana, orang di Rendani juga tau”. Itulah Manokwari dan fenomena sosialnya, ‘semua ada bakat jadi reporter’ HAHAHA.
Nah balik lagi ke pertengkaran di pasar itu. Ceritanya, sih mama Paniai yang suka jualan di dalam pasar (lokasi dengan atap) datang tiba – tiba dan memaki seorang mama Serui yang jualan bia. Ia marah – marah menyuruh mama Serui pindah dari tempat jualannya yang hanyalah badan jalan aspal yang dialasi karung. Nah mama Serui tak mau kalah. Ia mempertahankan tempatnya. Usut punya usut, itu sebenarnya lahan jualan mama – mama Arfak dari Warmare. Tapi mereka cuek saja. Jadinya, rombongan mama Arfak dan juga mama – mama Serui dan Biak di sekitar tempat itu balik ‘hura’ atau menyoraki si mama Paniai untuk jangan bikin ribut di areal sana. Dari pertengkaran itu dan sumbang pendapat mama – mama Papua di tempat itu (saat itu ada banyak mama Serui, Biak dan Arfak), terungkap kalau si mama Paniai kalau siang, biasanya jualan di dalam areal pasar, tapi kalau sore dengan ‘seenaknya’ mencaplok tempat penjual mama – mama Papua lainnya di areal luar badan jalan. Mungkin karena memang pada waktu sore, para pembeli lebih suka membeli sayur di luar karena lebih beragam. Sedang pada waktu siang, tak ada penjual yang berjualan di luar karena sangat panas dan berdebu. Jadi para penjual di bagian luar adalah penjual yang hanya berjualan pada sore hari.
Balik lagi ke perkelahian itu, kedua mama tak mau diam. Suasana memanas. Mama Paniai sudah ‘bikin acara banting sayur – sayurnya’ di alas karung dan menarik karung si mama Serui. Mama Serui sambil maki – maki mempertahankan karungnya. Mereka ibarat dua bocah perempuan yang berebut boneka. Saling menarik barang jualan dan karung yang dihamparkan. Akhirnya usai ‘baku maki’, baku hura dan juga saling bicara banyak, mama Serui merelakan karungnya digeser untuk mama Paniai yang ‘malas tahu’ mengacaukan tatanan jualan mama Serui. Iyalah, tumpukan bia yang sudah disusun menjadi beberapa tumpuk kembali jadi satu tumpukan tanpa bentuk.
Tak pelak, mama – mama Papua dari suku lain di sekitar lahan jualan ribut memaki si mama Paniai, sampai – sampai isu rambutnya yang dipirang dan dilurusin dibawa – bawa HAHAHA. Benar – benar makian dan acara baku maki khas mama – mama Papua. Benar – benar hidup dan menghibur dan pada akhirnya ‘resolusi konflik’nya berakhir sendiri. Saya tak mengerti bagaimana kedua mama ini akhirnya berdamai dengan cara mereka padahal saya berdiri di depan mereka hanya lewat 1 meter. Tak ada pembicaraan verbal, yang ada hanya sikap tubuh keduanya yang mulai melunak. Tanpa ada acara baku pukul, baku tinju ataupun kekerasan. Jadinya, mama Serui dan mama Paniai jualan baku sebelah di lahan sempit dengan tenang walau tentu saja dua – duanya ‘pasang muka asam’. Mengkel setengah mati HAHAHA.
Saya sempat mengagumi bagaimana komunitas pendukung penjual memberikan pendapat mereka dan juga bagaimana respon penonton termasuk saya yang merasa terhibur menonton ‘pertunjukan’ ini. Hanya ada di Papua, saudara – saudara. Saya tertawa terbahak –bahak kala para oom dan tanta penjual di sekeliling kedua ‘drama queens’ ini menyumbang pendapat dalam pertengkaran yang sudah panas. Mungkin karena komunitas penjual dan penonton yang terus ‘hura’ kedua ‘drama queens’, jadinya kedua mama yang bertengkar jadinya tak jadi bertengkar lebih lama karena sudah menjadi bahan mop. Asli, saya tertawa ‘bokar – bokar’ mendengar celotehan para penjual lainnya dalam acara ‘hura’ itu. Sore itu, saya malah sudah membayangkan adanya acara ‘baku guling’ di atas sayur kalau sampai pecah pertengkarannya. Ternyata ya para drama queens ini masih berpikir realistis. Anyway, saya juga kagum dengan pendapat para penjual lain untuk mama – mama suku Arfak yang juga orang pegunungan, “Coba kam dua tuh liat mama – mama Arfak dari Warmare nih, areal ini dong pu tempat jualan tapi dong duduk atur jualan diam – diam, kam mo jualan dong kas tinggal, dong diam – diam tunggu pembeli n tra heboh macam kam dua nih saja ka. Bicara baik baik bisa too”.
Acara pertengkaran di pasar Sanggeng ini langsung membuat ingatan saya kembali pada cerita kakak saya beberapa hari lalu, kalau tak salah pada sore hari tanggal 1 atau 2 Desember 2011, di Pasar Ikan Manokwari. Kali ini terkait lagi dengan aksi drama queen lainnya. Niatnya kakak saya hendak mencari sontong atau cumi pesanan istrinya. Alamak, sampai di sana ia tidak jadi belanja dan pulang dengan tangan kosong karena lupa. Tak ayal, kena maki ipar saya HAHAHAHA. Mau tahu alasannya ia sampai lupa? Cerita ini cukup menarik dipantau.
Malam itu, sudah hampir senja. Kakak laki – laki saya datang ke pasar Ikan. Sayangnya, kala baru saja masuk dalam areal pasar ikan, seorang lelaki datang minta tolong pada ia dan beberapa pengunjung lain agar membantunya di pinggiran tembok dermaga samping pasar. Seorang perempuan sudah mengikat lehernya dengan tali dan mau lompat bunuh diri. Padahal air di dermaga tidak dalam dan juga banyak sampah serta aroma amis ikan terasa kental. Saat itu karena situasi politik, mana keamanan berada pada Siaga 1 atau 2, tak banyak pengunjung di pasar ikan, sedangkan kakak saya bukanlah orang yang bisa makan tanpa ikan barang sehari. Benar – benar tipikal orang Manokwari; pemakan ikan. Orang – orang pun pada lari menolong. Usut punya usut, si ibu orang Buton ini mau bunuh diri karena baru saja habis dihajar suaminya yang asli Papua. Di dekat tempat percobaan bunuh diri, berdiri anak – anaknya sekitar 5 orang. Masih kecil – kecil pula. Suaminya sendiri hanyalah pengangguran tak jelas atau yang biasa kami sebut dalam bahasa Biak, ‘orang – orang murmum’ atau ‘mura muma’. Itu laporan kakak saya usai pulang. Saya cukup miris melihat hal ini, kemiskinan ternyata memang punya banyak cerita menyakitkan ya? Entah apa penyebabnya, tapi saya bertaruh pasti masalah ‘ekonomi’.
Cerita drama queen di pasar Ikan juga sempat dialami adik laki – laki saya beberapa bulan lalu. Kali ini ia tidak menolong seperti tipe kakak saya tetapi hanya jadi ‘pita kaset kosong’. Adik lelaki saya memang punya kebiasaan ‘ajaib’ persis seperti bapak saya. Paling hobi memutar ulang cerita perkelahian apalagi ‘baku maki’ dan diputar ulang detail hingga koleksi kata – katanya semua. Nah ceritanya ini di Pasar ikan pada sebuah sore. Ada tanta Papua usia 20an tahun, kalau tak salah kata adik saya ini perempuan Serui, yang baru saja dihajar suaminya. Jadinya suaminya mengejarnya hingga ke dalam areal pasar ikan. Tak terima dipukul, si perempuan melapor pada saudara – saudaranya di areal pasar, dan jadilah suda. Ada adegan ‘action’ di dalam pasar ikan. Suaminya kena hajar juga. ‘De laki juga Bangka – bangka, May’, pungkas adik lelaki saya.
Ooooops, jangan heran dengan kebiasaan terbesar keluarga saya, entah dipandang positif ataupun negatif; berbagi cerita, gosip ataupun informasi apapun. Kami semua terlatih menjadi ‘reporter’ sejak kecil, mungkin pengaruh dari bapak saya yang pulang – pulang dari kantornya usai menangani perkara di kantor polisi biasanya sibuk berbagi laporan kasus yang ia tangani. Makanya jangan heran ia juga suka ‘bergosip’ tentang kasus – kasus orang – orang yang ia tangani. Kebiasaan yang tumbuh sejak kecil HAHAHA.
Anyway, tampaknya catatan jalan – jalan saya ke pasar Sanggeng hari ini lumayan membuat saya terhibur. Anggap saja ini wisata lokal yang menarik. Sangat menikmatinya dan merekomendasikan acara jalan – jalan ke pasar tanpa perlu belanja. Yang penting jangan pernah berada kala ada acara ‘bakalai’ di pasar yang melibatkan senjata tajam. Kalau anda berada dalam situasi seperti itu, saya rekomendasikan untuk kabur secepat mungkin. It’s gonna be totally disaster. Trust me!!! HAHAHA.
Selalu saja ada cerita (menarik) di pasar Sanggeng. Entah drama, entah komedi, ataupun tragedi. Tapi itulah Manokwari dan its rubber-necked people. I am so much damn proud to be a Manokwarian!
(Manokwari, 051211; ini bukan cerita gosip kan? hehehe)
0 comments:
Post a Comment