Search This Blog

Loading...

Saturday, 3 December 2011

Kilas Sejarah - Keping Kisah Pekerja Asli Papua di Galangan Kapal Manokwari di masa Belanda

PENDAHULUAN
Catatan ini adalah catatan ketiga saya terkait sirene galangan kapal Manokwari atau dikenal juga pada masa kini dengan nama ‘Sirene Fasharkan’. Bila catatan pertama merangkum pendapat orang Manokwari terkait sirene dan catatan kedua pada sejarah singkat Fasharkan dan pergantian nama galangan kapal, maka di catatan ketiga ini, saya ingin membawa anda pada cerita kehidupan dan kerja orang Papua mula – mula yang bekerja di galangan kapal di kota saya. Tentu saja catatan ini saya dapatkan dari kerelaan berbagi cerita milik Tete Lambert Rumbino (77 tahun); pensiunan pekerja galangan kapal (sekarang Fasharkan) dalam wawancara saya (29/11/11).

Ini hanya sebuah catatan kecil tentang ‘sejarah orang biasa’ yang bagi saya adalah orang – orang luar biasa yang berkontribusi pada masa kecil saya terkait hadirnya sirene ‘kas bangun pi sekolah’ di kota saya. Selamat membaca!

ORANG PAPUA DAN GALANGAN KAPAL MANOKWARI
Dok Manokwari tidak akan dapat dipisah sejarahnya dari peran tenaga kerja asli Papua yang bekerja di tempat ini. Lewat penuturan tete Rumbino, saya mendapatkan informasi berharga tentang peran serta orang asli Papua pada masa – masa awal berdirinya dok ini khususnya pada masa pemerintahan Belanda.

Para perintis
Lambert Rumbino, kelahiran Biak 14 Januari 1934 merupakan salah seorang pekerja atau teknisi Papua pertama di galangan kapal ini. Saat itu, sekitar tahun 1956, Ia dan 20 teman laki – lakinya yang lulusan LTS Holandia (sekarang SMKN 3 Teknologi Jayapura/STM) diminta resmi oleh Ir. Konijnenburg (direktur Sceepweerf Konijnenburg; nama resmi awal galangan kapal) untuk bekerja di fasilitas galangan kapal ini. Kebetulan ia menjadi ketua rombongan dari 20 pemuda asli Papua ini. Teman – temannya saat itu al,: Zakaria Kafiar, Robert Ronsumbre, Teryanus Wabdaron, Zeblum Pedai, Anton Marisan, Fredrik Kapitarauw, Niko Mambrasar, Rimon Parairaway, Fredrik Hanasbey, Klemens Orisu, Hasan Wasaraka, Pilep Arapami, Usman Ombaier, Yustinus Ofide.

Para pekerja mula – mula ini umumnya berasal dari daerah Teluk Cenderawasih khususnya dari pulau Biak. Saat saya tanya kira – kira alasan mengapa lebih banyak orang Biak yang bekerja di perusahaan galangan kapal pada masa itu, saya mendapatkan beberapa informasi yang cukup membantu dari tete Rumbino dalam memahami hal ini. Pertama, umumnya para siswa yang sekolah di LTS Holandia adalah lulusan dari JWS di Korido, Biak (sekolah setingkat SMP berasrama khusus laki – lakii). Kedua, menurut tete Rumbino, karakter orang Biak yang cenderung berani bicara secara blak – blakan dan terbuka sehingga dipilih menjadi pekerja mula – mula. Namun, ada hal lain yang sempat saya pikirkan yaitu terkait kedekatan lokasi geografis antara Manokwari sebagai lokasi kerja dan pulau Biak sebagai daerah asal pekerja sehingga hal ini dapat mempengaruhi faktor psikologis pekerja *analisa asal HEHEHE.

Pada masa Belanda, status kepegawaian pekerja asli Papua adalah ‘organik’; sejenis honor pada masa itu. Usai perpindahan kekuasaaan, para pekerja ini baru mendapat status PNS mereka sebagai tenaga sipil di galangan kapal. Meskipun demikian, saat terjadi peralihan kekuasaan, terdapat juga perpindahan tenaga asli Papua ke unit lain. Menurut penuturan Tete Rumbino, ada teman- temannya yang pindah ke dinas Telepon (Telkom) ataupun dinas pemerintah lainnya. Tete Rumbino sendiri mulai kerja di galangan kapal sejak tahun 1956 dan pensiun dari Fasharkan pada tahun 1990.

Dari 20 pekerja asli Papua yang mula – mula bekerja di galangan kapal ini, karena upaya ‘Papua Nissering’ atau pemberdayaan orang asli Papua agar dapat menduduki jabatan – jabatan yang bisa diisi oleh pribumi Papua, maka pada tahun 1961, perusahaan ini mengirimkan 5 orang anak Papua untuk mengikuti kursus di Belanda (lihat catatan sebelumnya ‘Sejarah Singkat Sirene Fasharkan Manokwari’). Pada masa itu, mereka yang dikirim sebagai rombongan pertama ke Belanda adalah Lambert Rumbino, Robert Ronsumbre, Zakaria Kafiar, Rimon Parairaway dan Yustinus Ofide. Saat itu sebenarnya telah disiapkan pula rombongan kedua tetapi karena adanya perubahan pemerintahan dan situasi politik yang tidak kondusif maka rencana pengiriman rombongan kedua pun dibatalkan.

Unit Kerja
Para pekerja asli Papua ini bekerja di berbagai bidang antara lain di unit bagian bengkel (las, kayu, listrik, bangunan kapal/plaat warker, bubut; diesel dan motor, mesin/machinar: kikir dalam dan luar termasuk baling – baling, bagian dok, gudang, serta penjagaan (portier) yang juga mengurusi urusan sirene. Saat itu mereka umumnya masih bujang dan tinggal di dalam fasilitas barak pekerja di lingkungan dok. Usai menikah, banyak dari mereka tinggal di perumahan yang disediakan di seputaran Sanggeng baik di daerah Angkatan Laut maupun Sanggeng Dalam (pada masa kini).

Bahasa
Saat itu, para pekerja asli Papua yang umumnya berasal dari daerah teluk Cenderawasih ini bukan satu – satunya pekerja di dok ini tetapi ada juga staf petinggi berkebangsaan Belanda dan bebepa pekerja lainnya dari Maluku. Karena adanya etnis dan ras yang berbeda di perusahaan ini, hal ini tercermin pula dalam pemakaian bahasa mereka. Bila sesama pekerja dari suku yang sama (misalnya sesama orang Biak) maka mereka cenderung akan memakai bahasa suku mereka sebagai alat komunikasi. Namun, Tete Rumbino menambahkan bahwa para pekerja Papua memahami bahasa Belanda (umumnya secara pasif)yang diucapkan oleh para atasan mereka yang notabene adalah orang Belanda karena bagaimanapun bahasa Belanda saat itu juga menjadi lingua franca pada kalangan tertentu. Pada masa itu, peran Melayu Papua pun sudah ada sebagai lingua franca tingkat regional karena saat itu untuk sesama orang asli Papua beda suku maka ‘bahasa’ yang digunakan adalah Melayu Papua.

Pendapatan
Galangan kapal ini tentu saja berdiri sebagai sebuah perusahaan, maka saya pun iseng – iseng penasaran bertanya tentang berapa sih gaji yang didapatkan oleh tete Rumbino pada masa itu. Tete Rumbino dibantu nene Rumbino berkisah bahwa ia dibayar 150 Gulden sebulan. Entah berapa Rupiah bila dikonversi pada masa kini. Namun, bila menilik kondisi keuangan pada masa itu baik untuk di daerah Indonesia lainnya, tingkat pembayaran untuk orang Papua saat itu merupakan salah satu ‘masa emas’ yang pernah dirasakan pekerja Papua. Perlu ditilik bahwa saat itu di belahan lain Indonesia, pemerintah Indonesia sempat mengalami defisit anggaran karena baru saja selesai perang dengan Belanda dan juga adanya berbagai pemberontakan di berbagai daerah. Bila melihat perbandingan pendapatan yang didapatkan oleh Tete Rumbino, saya semakin mengerti mengapa pada masa itu sering dianggap ‘masa emas’ pekerja Papua. Pada masa itu, Pekerja biasa di Jawa hanya mendapatkan sekitar $ 1.80 termasuk makanan, sedangkan di Tanah Papua, pemerintah Belanda berani membayar seorang pekerja $ 18 sebulan plus $8 untuk membeli makanan (Ryan, ibid). Sebuah jumlah yang sangat besar pada masa itu! Saya tidak berusaha membandingkan isu kesejahteraan antara pemerintah yang berbeda tetapi sekedar memberikan gambaran mengapa ‘masa lalu yang manis’ kadang masih diungkit oleh beberapa orang tua Papua termasuk beberapa kerabat dekat saya.*pembicaraan yang keluar jalur =D

Kinerja
Pada masa itu, disiplin kerja para pekerja benar - benar ketat. Tak ada namanya bersantai – santai kala bekerja. Walaupun saat itu para pekerja harus pergi dan pulang ke rumah mereka umumnya dengan berjalan kaki, tapi semangat kerja mereka lumayan tinggi. Kinerja pekerja ini tak luput dari adanya sirene sebagai sejenis ‘bel’ penanda awal dan akhir kerja.

Pada pukul 6.30 pagi, sirene dibunyikan oleh pekerja bagian portier atau penjaga. Sirene pertama ini menjadi tanda bahwa pekerjaan akan dimulai 30 menit lagi sehingga sebaiknya para pekerja sudah berada di dalam areal galangan kapal untuk berbaris dan apel pagi. Pukul 7 tepat, semua pekerja beranjak ke unit kerja mereka masing – masing. Namun, pada pukul 10 pagi, pekerja diijinkan untuk pulang dan beristirahat serta makan. Ada yang memilih kembali ke baraknya, ada yang berjalan kaki pulang ke perumahan yang disediakan di daerah seputaran Sanggeng. Sirene kembali lagi dibunyikan jam 11 siang sebagai tanda masuk kerja lagi dan baru akan berbunyi pukul 2.30 siang kala pekerjaan selesai dan semua pekerja boleh pulang. Saat itu, arus masuk – keluar areal galangan kapal termasuk ketat dan mencerminkan kedisplinan kerja di masa itu dan rupanya masih terwarisi hingga masa kini.

Lain – Lain
Bila penasaran bagaimana penampakan galangan kapal di masa Belanda ini dan juga bentuk sirenenya, mungkin bila punya akses, silahkan menilik koleksi beberapa fotonya yang dipamerkan dalam buku berbahasa Belanda tulisan Daniel G. Kloeth, ‘Terug naar Manok …: Een Terugblik Op Het Leven Van Ware Pioniers’ yang sayangnya hanya bisa saya tilik dan menebak – nebak keterangan foto. Maklum, saya tak bisa berbahasa Belanda HEHEHE.

Anyway, itu cerita saya tentang kehidupan pekerja Papua di galangan Kapal Manokwari pada masa Belanda. Saya berharap akan ada tambahan informasi lainnya yang dapat saya kumpulkanlagi di kemudian hari terkait pekerja asli Papua di galangan kapal Manokwari pada masa 10 tahun pertama berdirinya galangan kapal (1954 – 1964). Mungkin hal – hal kecil seperti tempat gaul favorit mereka, bagaimana mereka membelanjakan uangnya, apa lagu favorit mereka pada masa itu dan bagaimana mereka mengisi hari liburnya dan hal – hal kecil lainnya yang dapat menjadi sumber informasi terkait kehidupan orang Papua pada masa itu. Anggap saja catatan saya yang tergila – gila pada masa lalu Manokwari HAHAHA.

Sampai jumpa di catatan berikutnya!

(Manokwari, 031211; 5: 46 a.m. )

0 comments: