Search This Blog

Loading...

Monday, 12 December 2011

Instuisi, R4, Q n Say NO

Hari ini mereka bilang hari HAM internasional. Hari ini sejak subuh moodku juga sedang tak baik. Sebenarnya sejak seminggu terakhir. Semuanya terkait dengan rencana menemani liburannya sahabat orang tua angkat selama kuliah dulu di Canberra. Rencananya liburannya di kepulauan eksotis di daerah kepala burung: R4. Awalnya aku menerima permintaan tolong dari orang tua angkatku (sebut saja MI) untuk menjadi penerjemah karena rencananya sahabatnya (sebut saja Brown) akan liburan di kotaku. Jadinya, aku setuju saja dan pikirku hanya beberapa hari. Ternyata usai lewat beberapa hari dan menerima e-mailnya beberapa hari lalu, aku langsung down dengan jadwalnya yang ternyata dimulai 2 hari sebelum Natal.

Ada beberapa hal yang membuatku juga merasa tidak sejahtera dan juga tidak nyaman. Sedikit personal memang. Tak peduli dianggap konyol. Pertama, sejak di OZ, ada fitur diri Brown yang membuatku sedikit merasa tak nyaman, entahlah disebut apakah ini. Mungkin kesan pertama pertama tepatnya. Itu terekam terkait caranya meminta ‘milk for her tea’ dalam sebuah gathering. Kesan ini terekam lagi saat ia menelponku pertama kali sekitar 10 hari lalu. Ada hal – hal kecil yang sempat tertangkap dan membuatku tidak nyaman. Sesuatu yang entah mo dibilang apa. Sesuatu yang membuat alam bawah sadarku mengirimkan sinyal ‘jaga jarak’. Entahlah, aku memang sangat sensitif tapi aku mau mencoba percaya pada my inner self-ku karena dari selama beberapa tahun terakhir dalam membangun hubungan ini, aku belajar bahwa inner self-ku jarang salah.

Kedua, aku merasa bahwa perjalanan ke R4 ini dan kota lainnya itu tidak ‘siap’ seakan lagi berusaha meraba jarum di tumpukan jerami. Bukan pesimis cuma merasa sedikit ‘bagaimana’ eee. Aku suka sesuatu yang teratur dan juga terorganisasi dengan baik karena aku mau meminimalisir kegagalan. Aku sedikit terkejut dalam waktu <1 bulan dan tidak ada banyaknya orang yang bisa dikontak rencana proyek ini bisa dilaksanakan. Belum lagi permintaan dari Brown yang menurutku sedikit ‘tak mungkin’ untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan bila tak membuka diri. Itu sangat tak mungkin. Bila ingin mendapatkan informasi apapun, kita harus berusaha setidaknya ‘expose ourselves ’ dengan cara tertentu. It is not a secret service stuff. Itu saja. Selain itu, aku tak melihat adanya keterbukaan biaya. Aku tidak meminta diriku dibayar untuk hal ini. Tapi at least ada keterbukaan tentang posisiku dalam proyek ini. Apakah Brown akan membayar tiketku atau bagaimana. Transparansi keuangan dimana – mana wajib hukumnya. Biar tra ada baku kurang hati. itu saja.

Ketiga, mungkin aku terlalu mempercayai instuisiku. Terlalu mempercayai. Aku merasa ada something bad will happen later. Entah untuk rencana perjalanan ini ataupun juga untuk sesuatu yang lain. Entahlah. I just can sense it in the air. Entahlah bagaimana menjelaskan hal ini. Sangat tak mengerti. Tapi aku tahu bahwa aku tak boleh pergi dari kota ini untuk waktu yang tak bisa kujelaskan . itu saja. Subuh tadi di sela – sela jam kerjaku dan rehat sebentar. Itu Usai doa pagi dan saat teduh segala macam di sela – sela jam kerja. Di benakku, maksudku dalam pandangan mataku, tiba – tiba muncul wajah seekor serigala atau rubah. Tapi sepertinya serigala berambut pirang kemerahan. Bukan gelap. Ia menampakan seringainya padaku, sangat bengis. Gigi – giginya dipamerkannya padaku. Seakan sedang berdiri di depan wajahku. Sangat menakutkan. Lalu ia pergi meninggalkanku dengan ancaman yang masih melekat di udara. Entahlah, aku hanya bisa berdoa usai melihat hal itu. Mudah – mudahan hanya ekspresi alam bawah sadarku yang lagi stress. Semoga.

Ke empat, kondisi kesehatanku sedang drop skali. Mudah lelah, dan juga lemas. Aku merasa akhir – akhir ini aku sedang krisis kesehatan. Itu saja. Jadi sebaiknya aku tak melakukan kegiatan yang akan berpotensi menambah beban kerja ototku maupun kondisi kesehatan mentalku juga. Ya ini mungkin pembelaan akhir – akhir ini yang kususun untuk menjadi ‘excuse’. Aku hanya ingin bertahan dengan semangat untuk sesuatu yang sedang kurintis saja dan tidak terlalu mobile dan masih punya waktu untuk para keponakanku dan juga diriku sendiri serta teman – teman dekatku. Itu saja.

Aku memang tipe ENFJ berdasarkan tes kepribadian MBTI. Di US saja tipe sepertiku hanya 3 – 7 % dari total populasi dibanding dengan 15 tipe lainnya. Memang terasa aneh sih bagi orang – orang cuma aku ingin mengikuti instuisiku dan kata hatiku. Paulo Coelho saja dalam novelnya bilang, “Ikutlah kemana hatimu berada, di situlah letak hartamu berada”. Iya, masalahnya aku hanya mau mengerjakan apa yang kucintai, dan mencintai apa yang kulakukan.

Entahlah aku tidak menuntut untuk dipahami sebenarnya karena aku tahu tipe sepertiku sangat jarang dipahami dengan baik. Tapi aku bersyukur dikelilingi beberapa sahabat dan teman dekat yang benar – benar memahamiku walau aku harus jujur bilang kalau Q sudah harus kucoret dari teman dekat dan sebaiknya memang tak usah curhat lagi padanya. Hanya bikin rasa sakit hati. tampaknya juga harus mulai menerapkan pendapatnya temanku yang jadi psikolog itu, “tong tra bisa kontrol bagaimana orang lain bereaksi, tapi tong bisa kontrol tong pu reaksi. Jang biarkan orang lain kontrol ko, tapi ko yang harus pegang rimot kontrol tuh”.

Aku melihat bagaimana sahabat – sahabat perempuan dan juga senior - seniorku memberikan dukungan atas pembatalan rencanaku membantu Brown karena bagaimanapun ini hidupku. Mereka mendukung rencanaku dan juga mendukung penghargaanku untuk momen Natal ini untuk berkumpul dengan keluarga serta mendukung upayaku untuk penyembuhan karena mereka tahu aku ‘penyakitan’ dan sebaiknya tak memaksakan diri bila merasa tidak fit. Mereka mendukungku untuk ‘say NO’ walau tawarannya menggiurkan. ‘Liburan di R4, siapa yang mo tolak coba!’ Tapi mereka menguatkanku dan bilang bahwa orang tua angkatku pasti mengerti dengan keputusanku.

Q malah muncul dengan pendapatnya yang sempat membuatku sedikit terkejut, sama dengan saat aku curhat dua malam lalu tentang keterkejutanku dengan jadwal. Padahal malam tadi kami sempat bercanda kala aku mengisengin dia dengan SMS tak penting mulai dari bilang, “sa rindu ko tapi ah ini lagi hujan jadi ya ini cuma sms gedi =D”. Pokoknya seperti itulah. Iseng sekali gaya SMSku tadi malam, persis seperti yang sering ia lakukan dulu. Tadi malam itu pertama kalinya aku relaks bercanda dengannya dan tampaknya ia yang sensitif . SMSku semuanya hanya dibalas begini, “Thank kaka”, “terima kasih kaka”. Pokoknya cuma terima kasih doang. Jadi kubilang kalau aku merindukan gaya balasnya yang jail itu dan juga yang sering bilang, “sa kejar – kejar dia dll”. E tiba – tiba dia bilang begini merespon pernyataanku untuk “It’s gedi time” alias cuma main – main ,”Kalo rindu jangan caranya begitu ka”. Jadinya tak kukirim pesan lagi selain satu SMS terakhir yang intinya adalah “sa sms ko cuma supaya ko pu HP bunyi saja wkwkwkwk”. Itu pun SMS yang dikirim Bob padaku pada jam yang sama. Karena semalam memang aku dan Bob juga ‘baku gedi dan lemon’ hanya untuk senang – senang saja tanpa mikir.

Anyway, caya Q merespon SMS curhat yang juga kukirim ke teman – teman dekatku yang lain dengan cara yang luar biasa membuatku terkejut dan memang aku ingin mengikuti sarannya sahabatku yang akan berulang tahun tanggal 29 Desember besok ini. Membuang Q jauh dari hidupku. Tak heran kertas post-it sudah penuh di dinding penuh makian untuk Q. Mulai dari panta tai, Kaskado, lau – lau burik, stupid, otak mati, anjing Kaskado, babingung dll. Sedikit melegakan hati. tampaknya memang ia suka sukses membuatku tak sejahtera. Sudah saatnya mengambil keputusan yang keras dan kejam untuk tidak lagi tergoda membalas SMS – SMSnya. Ini SMSnya Q:
“U must go to R4. Titik… Kalau tidak setuju dengan saya, jangan bahas topik ini lagi sama saya, Ok”.
Usai 5 menit menarik nafas, akhirnya saya balas juga, “Sa tra setuju deng ko pu pendapat. Thanx anyway juga untuk komentarnya. Jbu”. Aku berharap itu adalah SMS terakhirku dengan Q karena di detik membaca SMS inilah aku tahu inilah saatnya realistis. Itu saja.

Jadi teringat dengan pesan singkat yang dikirim Chel padaku semalam. “Jadi seandainya hubungan kaka baik deng Q dan Bob, siapa yang akan kak ko pilih?” dan kujawab, “Jonathan tentu saja. Sa masih tetap menunggu someone like him” Itu saja. Entahlah. Aku dan Bob memang baik – baik saja. Aku memang mulai suka padanya dan aku bilang padanya tapi ya masih sebatas itu. Tak lebih.

Ini hidupku. Mungkin itu yang perlu kukatakan pada diriku setiap hari ada rasa bersalah yang menyelusup masuk ke dalam diri. Ya itu saja. Harus mulai belajar menguatkan hati untuk bilang “TIDAK”!!!

(Manokwari, 101211)

0 comments: