Hari ini saya menghabiskan tidur hingga 14,5 jam tanpa henti. Iya, tidur pukul 2 pagi dan bangun jam 6.30 malam. Benar – benar melewatkan matahari hari ini. Saya mungkin sedang stress tanpa saya sadari sebenarnya. Reaksi tidur ini saya pikir dipicu karena saya jarang beristirahat dengan teratur dan kelelahan bersilahturahmi plus terlibat dalam urusan emosi sehingga membuat saya cepat lelah.
Belum sejam bangun, tiba – tiba ada saja yang terjadi. Saat hujan sedang deras turun di malam hari, seorang sahabat saya menelpon kalau mamanya beberapa saat lalu dipukul oleh iparnya di pinggir pantai rekreasi. Iya, ini sahabat saya sejak kecil. Walau nyawa masih setengah, tidak mandi, saya pun menerobos hujan deras dan bermantel mengendarai motor saya ke rumahnya. Mendengar cerita dan setidaknya memberikan dukungan. Guess what? Beberapa jam tadi saya berada di dalam sebuah situasi emosi dimana memposisikan diri saya sebagai pengamat dan pendengar dari kerumunan anggota keluarga yang sangat marah.
Pasti anda tak percaya apa yang saya lalui. Sekitar 1 jam dari acara berkunjung itu, dalam hujan deras, saya pun menemani sahabat saya, lengkap dengan adik lelakinya dan juga mama mereka plus nantinya disusul oleh keluarga besar mereka pergi menanyakan duduk perkara ke rumah ipar mereka itu di daerah Kampung Ambon. Intinya, pada akhirnya kejadiannya berlangsung dan berakhir sangat runyam. Saya menjadi pengamat dan hanya memantau. Sialnya, sampai di sana, saat adik lelaki sahabat saya dan mamanya hendak menanyakan duduk persoalan pada iparnya, e keluarganya mengusir rombongan ini dan semakin runyamlah acara. Yang pasti, malam itu, berbasah – basah dalam deras hujan malam, saya menyaksikan bagaimana acara ‘kunjungan’ bakalai itu bubar karena kakak si ipar mengamuk mengusir dengan parang, mama si ipar mengejar kerumunan keluarga sahabat saya ibarat mengejar anak ayam dengan payung dan sebongkah batu karang besar plus adegan ‘banting – banting panci’ dari mama sahabat saya. Tentunya ada banyak kerumunan orang yang menonton. Urusan pun dilanjutkan ke kantor polisi, tapi tak selesai karena pihak polisi pun tak berniat mencatat urusan pemukulan di pantai, pengejaran dengan parang ini dan seakan tak peduli. Sangat aneh!
Terlepas dari bagaimana kisah drama yang akan sangat panjang sekali bila diceritakan ini, saya mengambil satu kesimpulan yang sangat jelas: BERHATI – HATILAH SAAT MEMILIH JODOH.PILIHLAH YANG TAK HANYA MENJADI ‘TEMAN HIDUP KITA’ TETAPI BISA JUGA MENJADI TEMAN BAGI ANGGOTA KELUARGA KITA YANG LAIN (plus dari anggota keluarga ‘baik – baik’). Pilihlah yang bisa menerima kita apa adanya dan juga yang tak hanya terbawa nafsu. Jangan memilih pasangan hidup yang akhirnya akan menjauhkan kita dari anggota keluarga kita yang lain. Itu saja.
Saya melihat dari kisah keluarga sahabat saya ini, juga bercermin dari kehidupan keluarga kakak laki – laki saya serta juga keluarga teman saya yang lain bahwa ada banyak pasangan muda di kota saya yang sebenarnya TAK SIAP MENIKAH TETAPI MEMAKSAKAN DIRI UNTUK MENIKAH DEMI STATUS, ANAK, NAFSU DAN JUGA KENYAMANAN! Saya tahu saya tak punya hak untuk menilai hal ini tetapi dengan memantau kisah – kisah pertengkaran keluarga muda yang terpaksa melibatkan banyak anggota keluarga kedua belah pihak maka semakin menguatkan pendapat saya bahwa sebaiknya pernikahan dilakukan bila tiap individu dalam hubungan cinta itu sudah siap untuk melangkah. Tak hanya mempersiapkan kematangan fisik, seksual dan finansial TETAPI yang paling penting kematangan emosi dan kedewasaan diri untuk terikat dalam sebuah pernikahan sebagai institusi dan segala macam konsekuensi psikologi sosial ekonominya. Bagaimanapun, pernikahan di dunia timur ini bukanlah pernikahan yang individualistis seperti di negara – negara Anglo-Saxon sana. Sama sekali bukan. Pernikahan di dunia timur lebih pada pernikahan dua keluarga besar dan peran kontrol sosial sangat lekat hubungannya.
Malam ini, saya teringat pada sebuah pelajaran yang saya pelajari dari sebuah rubrik konsultasi di majalah Cosmopolitan Indonesia, “Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47). Ya, apalagi bila dikaitkan dengan urusan cinta, maka bila kedu sejoli itu menjadi baik, maka peliharalah hubungan itu ke jenjang yang lebih tinggi: Pernikahan. Bila tidak, sebaiknya jangan paksakan diri. Karena toh pada akhirnya hanya akan menyiksa diri dan pada akhirnya, tiap individu ini tidak bisa menikmati hidup itu dengan baik.
Saya jadi sedikit bingung bila melihat kehidupan pasangan – pasangan muda ini, apa yang sebenarnya mereka cari dari sebuah pernikahan? Apakah kebahagiaan? Bila iya, bagaimana mereka mendeskripsikannya? Saya hanya kasihan saja melihat nasib anak – anak dari keluarga seperti ini karena saya pernah merasakan kondisi dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis beberapa tahun lalu dan bagaimana hal yang serupa terjadi pada pasangan yang sebenarnya tak siap menikah tetapi memaksakan diri untuk menikah. Ya, mungkin hal inilah yang selalu membuat saya ragu untuk mengikatkan diri pada sebuah kontrak sosial dan institusi bernama ‘pernikahan’. Saya melihat ke dalam hidup saya sendiri bagaimana masa kecil dan remaja saya yang hanya berisi pertengkaran orang tua di rumah, kecemburuan, dan jujur sampai sekarang, saya rindu adanya keluarga yang bisa memberikan saya pelukan. Itulah sebabnya, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa tiap kali punya kesempatan, saya harus selalu memeluk para keponakan saya dan meyakinkan bahwa mereka dicintai. Ya sangat sederhana tapi saya ingin mereka selalu tahu bahwa terlepas dari buruknya kehidupan orang tua mereka, akan ada saya yang bisa mencintai mereka karena saya tak mau mereka mengalami masa kecil dan remaja seperti yang pernah saya lalui dulu.
Saya tak pernah mengerti bagaimana egoisnya orang dewasa dan tak pernah menimbang perasaan anak mereka dalam sebuah pertengkaran. Dalam pertengkaran keluarga sahabat saya dan juga beberapa kali dalam pertengkaran keluarga kakak laki – laki saya, saya selalu melihat bahwa pada akhirnya para orang dewasa ini selalu mengkambinghitamkan anak mereka sebagai alasan mereka ‘terikat dalam sebuah pernikahan’. Iya, seperti itu. Menyalahkan mereka, terkadang malah anak – anak inilah yang menjadi pelampiasan kemarahan dari individu tertentu, ataupun dijadikan alasan mempertahankan hubungan ataupun dimanipulasi demi mendapatkan keinginan tertentu. Padahal, saya pikir, bukan salah para anak ini, mereka tak pernah minta dilahirkan, bukan? Mereka tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Entahlah, mungkin saya terlalu naïf, tapi bagi saya … toh pada akhirnya para anaklah yang menjadi korban dan akan punya masalah dalam perkembangan emosi dan psikologi mereka. Andai dulu saya bisa memilih ulang sekolah lagi dari awal, saya ingin sekali masuk ke jurusan psikologi klinis khusus untuk anak, memahami mereka dan membantu mereka untuk bisa melewati masa – masa seperti ini. Karena saya paham betul bagaimana rasanya bertumbuh dalam keluarga seperti ini.
Para orang tua tak pernah tahu bagaimana sakitnya perceraian ataupun ancaman perceraian yang diwarnai oleh pertengkaran berlarut – larut bertahun – tahun. Ibarat hidup di atas jerami penuh jarum pentul yang tertancap ke atas. Entahlah, mungkin ketahanan tiap orang atas masalah berbeda tapi saya percaya bahwa seorang anak seharusnya hidup dalam keluarga yang bahagia dimana mereka bisa melihat bahwa kedua orang tua mereka saling menyayangi dan juga menyayangi mereka.
Kejadian dalam hujan malam tadi dan juga melihat dalam hidup keluarga saya dan juga kehidupan keluarga kakak saya, saya semakin sadar bahwa MENIKAH ITU TIDAK MUDAH. MENIKAH BUTUH KESIAPAN YANG SANGAT KUAT, KETETAPAN HATI DAN JUGA KEMATANGAN EMOSI. Menikah juga adalah sebuah JANJI DENGAN TUHAN YANG HARUS DIJAGA MATI, bukan? TAPI yang paling penting sebenarnya adalah MENIKAHLAH bila memang sudah SIAP. Sekali lagi saya ingin bilang bahwa JANGAN PERNAH MENIKAH hanya demi status sosial, seks, alasan finansial dan kenyamanan.
Saya bukan siapa – siapa, bukan pula pakar pernikahan karena toh hubungan cinta saya kerap kandas karena saya memilih untuk mengakhirinya saat saya sendiri ragu untuk melangkah ke depan khususnya terkait pada pernikahan. Memang sakit terasa seperti itu tapi saya lebih memilih sakit seperti itu dibanding memaksakan diri terlibat jauh dalam hubungan pernikahan dan toh ternyata saya dan pasangan gagal menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama karena cuma berkelahi dan bertengkar demi mempertahankan ego diri pribadi. NAMUN, yang saya tahu dan percaya, menikahlah bila pasangan anda dan anda sendiri saling mengisi kekurangan, menerima kekurangan itu dan bersama – sama berusaha saling melengkapi. Menikahlah bila anda dan pasangan anda sama – sama dapat menghibur satu sama lain, menjadi penolong satu sama lain, menjadi seseorang yang ibarat ‘kulit kedua’ satu sama lain, menjadi charger pengisi semangat dan energi positif, menjadi tangan yang membalut ‘luka – luka kesedihan’, orang pertama yang dicari saat dalam keadaan bahagia maupun sedih. Menikahlah bila anda berdua setiap hari selalu merasakan ikatan dan cinta satu sama lain semakin menguat, tak bisa berhenti jatuh cinta pada pasangan anda dan juga semakin ‘kecanduan’ dan saling membutuhkan.
Subuh ini saat saya menuliskan catatan lepas ini, saya pun ingat di dalam Alkitab sendiri ada tercatat bahwa “People learn from one another, just as iron sharpens iron.” (Amsal 27: 17; GNT). Saya belajar banyak hal malam ini. Kejadian dalam hujan malam ini tak sia – sia mengajarkan saya tentang banyak hal. Ya, karena toh dalam perjalanan bernama hidup, pengalaman adalah guru terbaik. Sesimpel itu.
(Manokwari, 281211)
0 comments:
Post a Comment