Search This Blog

Loading...

Wednesday, 28 December 2011

Dendam (dosa) itu manis!

Entahlah, bagaimana memulai catatan ini sebenarnya, malam ini saya merasa sangat berdosa pada Tuhan. Iya, sangat berdosa. Ada hal yang sebenarnya saya tahu tak boleh tapi saya masih tergoda juga. Untunglah malam ini Tuhan menegur saya lagi dan bagi saya, itu sudah cukup kuat. Ya semoga ke depannya saya bisa menolak godaan seperti ini, dosa lama yang masih sering mengintip dan sayangnya minggu ini saya sulit sekali menolaknya.

Untunglah, malam ini saya ditegur dengan baik oleh Tuhan. Usai berdoa minta ampun, saya diminta untuk membaca Yeheskiel 8: 1-18. Saya benar – benar merasa ditampar oleh Tuhan dengan Firman ini dan saya merasa bahwa saya benar –benar pembohong pada Yesus dan saya sadar bahwa ini salah dan membuat Yesus marah dan juga sedih. Entahlah … itu yang saya tahu saat ini.

Saya memilih menuliskan hal ini di catatan ini karena saya tahu saya tidak bisa berbagi mulai beberapa bulan ini dengan beberapa teman dekat karena saya tidak hanya ingin membuat mereka terbeban dengan saya, tak terlalu suka dekat dan berbagi kisah ataupun masalah saya. Entahlah, semua orang sudah cukup punya masalah, tak usah lagi berbagi hal sepele seperti ini.

Yang saya tahu, malam ini dalam hati saya, The Spirit bilang pada saya begini, “May, ko harus mulai belajar mengontrol ko diri eee. Kalo pikiran godaan berdosa itu datang lagi, ko harus tolak dengan nama Yesus dan minta darah Yesus dan Nama Yesus melindungi ko. Bagaimanapun ko tahu bahwa ko pu standar tuh Alkitab too. Jadi kontrol ko pu diri eee.”

Saya belajar banyak malam ini.

Anyway, mungkin ini memang ada hubungannya dengan si Bob juga. Entahlah, saya melihat sisi buruk saya mulai kembali menguasai saya akhir – akhir ini sejak kenal dengan lelaki ini. Entahlah, bahkan pagi kemarin sebelum pergi ke Ibadah Natal pagi, the Spirit asked me like this: “Are you sure that he didn’t put any charm on you, May? Are you sure about it?”. Sebuah pertanyaan yang membuat saya sedikit tergagap. Ada sebuah cerita yang saya pikir wajib saya bagikan di sini. Intinya, saya tak ingin lagi terlibat dalam dosa saya menjadi seorang ‘penggoda’, dan segala macam dosa bawaannya. Itu saja. Saya sudah berjanji ingin jadi orang baik berdasarkan standar kekristenan. Itu saja. Ya, saya masih jauh dari sempurna. Masih sangat jauh, tapi saya ingin berubah.

Beberapa malam lalu, tepatnya pukul 10 p.m, something di tanggal 23 Desember, Bob tiba – tiba mengirimkan pesan pendek seperti ini, “Selamat merayakan persiapan menjelang natal. Sorry mengganggu. Cuma kangen saja”. Nah karna saya sudah menghapus nomor ponselnya jadi saya hanya menebak ini pesan dari Bob. Voila, benar. SAYANGNYA, saya tergoda untuk membalas pesannya. Kami bahkan SMSan sampai subuh, dan ia mengaku kalau sedang stress. Saat itu hujan deras dan dingin dan saya tergoda benar untuk SMSan menggodanya, nah keluarlah sudah rayuannya yang mengatakan saya ‘unik’ dan lain – lain. Sialnya, otak ‘penggoda’ saya dan segala macam trik jelek sungguh mati pun keluar dari otak saya dan ditranskripkan lewat pesan – pesan pendek ke dia. Ngomong segala macam hal termasuk urusan seks, mana saya cukup terbuka ngomongin seks lagi. Belum lagi malam itu, saya tak bisa tidur karena boneka di tempat tidur (Ducky) sedang dicuci malam itu, jadinya ya sulit tidur jadi saya katakan hal itu pada Bob, e si Bob ko mulai ngomong segala macam yang intinya sih ‘de kepala besar kecil dan PD kalo misalnya de nan kalo kawin deng sa de yang nan gantikan nih boneka’ HAHAHA *muntah2 iyo. Bisa ditebak kan gimana mabuk kepayangnya nih cowok. Besok paginya kami masih SMSan tapi tak seintens malam hari. Bob cuma bilang ingin sekali mengajak saya jalan – jalan, pokoknya saya akan suka segala rencananya.

Masih ada cerita sambungannya. Sudah tanggal 24 Desember. Siang itu, apa dinyana, tiba – tiba teman lama saya, sebenarnya sih TTM lama saya, sebut saja si Dee, seorang cowok Biak yang dulu kuliah di Jogja dan pindah ke Jakarta, tiba – tiba menelpon saya hanya untuk bilang kalau dia lagi berada di kota saya dan mengajak saya ‘jalan – jalan’. Pokoknya menanyakan jadwal saya. Si Dee ini baru muncul di hidup saya pun bulan lalu, kala meminta akun FB dan juga nomor ponsel saya. Saya juga tahu ia sudah punya pacar dan pacarnya lumayan manis. Saya dan Dee pun baru ngobrol sekali bulan lalu. Pokoknya, tiba – tiba saya dia muncul di tanggal 24 itu. Nah si Dee ngajak jalan – jalan di hari Natal, jadinya ya saya ajakin saja untuk pergi ‘pegang tangan’ nanti di hari Natal mengunjungi teman saya.

Balik lagi ke Bob, nah malam natal tanggal 24 Desember itu, saya sempat mengirimkan SMS ke Bob yang bilang gini, “Just miss you”. OK, saya akui ini kesalahan saya, khilaf. Subuhnya tanggal 25, si Bob ngirim SMS yang singkat, “Happy Xmas. Love u”. Saya baru membacanya jam 8 pagi di hari Natal. Saya pun tersadar bahwa saya sudah membuat kesalahan besar, jadinya saya mengirimkan sejumlah pesan pada Bob. Isinya antara lain bahwa memang semalam saya merindukan dia sekali, saya akui kalau saya memang suka sama dia dan nyaman selama ini TAPI saya rasa ini salah dan saya tak ingin punya perasaan seperti ini. itu saja. Jadi saya minta dia untuk tidak perlu mengirimkan pesan apapun pada saya, entah mo kangen atau apalah. Pokoknya tidak boleh. Jadinya saya juga minta ia untuk menghapus nomor ponselnya saya plus saya akan melakukan hal yang sama. Saya pikir itulah akhir semuanya.

Guess what? Ternyata takdir memang beda jalannya. Siang itu, usai memasak teh rempah (yang ternyata hasilnya ditertawain anggota keluarganya saya, karena bagi mereka itu ‘percuma’ dan bisa ditebak, tehnya jadi mubazir, padahal sangat menghangatkan tubuh), jadinya jam 2 saya baru menjemput Dee yang kebetulan sedang mengantar mama adenya berangkat dengan kapal laut. Tujuan pertama otomatis tempat terjauh di rumahnya Chel di daerah pesisir luar kota sana. Kedatangan Dee ke rumah yang sering jadi tempat nongkrongnya saya otomatis jadi bahan pertanyaan, pokoknya ortu-nya Chel sudah pada meledek di dapur tentang si Dee, “paitua ka” HAHAHA. Si Dee sih stabil abis di ruang tamu. Mana dia menolak makan karena lagi diet. Iya, badannya tambah gode sekarang. Dee bekerja di sebuah perusahaan tambang khususnya di bagian survey, dan sebelumnya bekerja di Jakarta dan Kalimantan dan mulai bulan Januari akan pindah ke sebuah perusahaan tambang di wilayah kabupaten pemekaran di daerah Selatan Papua, khususnya di bagian produksi off-shore. Orang tuanya juga baru pindah ke Manokwari tahun lalu dan sementara tinggal dan membangun rumah di sebuah pulau kecil di dekat Manokwari. Jadinya si Dee jadi anak pulau. Tampangnya juga lumayan manis untuk cowok Papua dan berkulit terang plus cara bicaranya yang halus. Pokoknya bila dibandingkan dengan si Bob, jauh banget dah perbedaannya. Si Dee sih orangnya tenang dan lebih suka ngaku ‘pengangguran banyak acara’ saat ditanya. Cuma karna dasar saya juga bawaannya ‘miss Investigasi’ ya kebuka deh. Jadi dia cuma bisa pasrah saja saat kami diskusi dan ia diinterogasi HAHAHA.

So, intinya adalah Sweet Revenge. Saat saya bertamu di Chel bersama Dee, lewat 1 jam, muncullah si Bob dan rombongan teman- temannya, sekitar 12 orang, cuma ada cewek seorang dalam rombongan mereka, plus juga ada si Arc (gebetan lama HAHAHA). Si Arc, Bob dan juga Chel sekantor di sebuah instansi pemerintah. Jadi, pas mereka semua masuk, saya dan Dee memang duduk dekat pintu. Jadinya semua bersalaman dengan kami, termasuk si Bob. Ia hanya memandang saya datar tanpa ekspresi. Beda banget sama reaksinya Arc yang heboh, menjabat tangan saya dengan semangat. Jadi, saat kami semua duduk mengitari meja berisi toples – toples kue kering, si Arc berhadapan dengan saya dan Dee. Si Bob di ujung lain searah saya dan Dee. Jadi, saya dan Dee di arah jam 7, si Arc sekitar arah jam 10, nah si Bob anggap saja di arah jam 3. Alamak, saya bahkan tidak merasa ada apa – apa antara saya dan Bob, jadinya saya malah asik ngobrol dengan Dee dan juga memperkenalkannya ke Arc. Apalagi mereka sama – sama dari Jogja, mangkali saja dulu baku kenal ka ini. Sapa tau yaro.

Saya sadar benar saat itu, hanya saya, Arc dan Dee yang ngomong, mulai dari membahas tempat kuliah, dan juga saya dan Arc berbagi kabar tentang teman kami yang lagi liburan. Saya sadar bahwa si Bob mungkin sedang mengamati kami. Tak berapa lama, saya dan Dee mohon diri dan pamit. Itupun pake gaya saya yang kabur duluan ke ortunya Chel dan memanggil Dee dari tengah ruangan, tentu saja dipandangi semua teman – temannya Bob dan Dee pun manut saja ikutin instruksinya saya seakan saya ini pacarnya yang suka nyuruh – nyuruh HAHAHA. Kami pun pulang, tentu saja berpamitan garis besar pada semua.

Usai pulang, Dee tentu saja harus balik ke pulau tapi saya memang hanya mendropnya di rumah kerabatnya yang hendak ia kunjungi. Pokoknya, ia benar – benar jadi my guardian angel. Ia hanya bisa ketawa – ketawa kala saya sudah cerita kalau ia telah menolong saya dari sebuah situasi emosi yang tidak menyenangkan. Yang pasti ia bilang, “Adoooh May, ko bikin sa dalam situasi buruk saja di kota ini. Bisa – bisa sa dapa pukul sia – sia”. Ia pun bercerita tentang pengalamannya saat survey di Nabire dan berada dalam situasi seperti ini, kali ini berurusan dengan para tentara hanya karena ia ‘dipinjam’ menjadi subyek membuat pasangan cemburu HAHAHA.

Usai pulang, saya juga tak lupa mengirimkan pesan pada Chel. Tentu saja memantau bagaimana reaksi teman – temannya Bob. Guess what? Benar – benar sweet revenge, ternyata benar perkiraan saya dan Chel, selama ini Bob sudah hiperbolis bercerita kemana – mana khususnya untuk bahan ‘menaikan gengsi’ di antara sesama cowok di kantornya, kalau saya ini gebetannya dia. Ia juga sampai mengambil foto saya dari akun FB saya dan memamerkannya di notebook-nya bersama para TO (target operasi)nya di Manokwari. Padahal, saat ini tunangannya sudah tinggal di rumah orang tua Bob di Nabire sana, mana foto ceweknya sudah berada bersama saudara – saudara perempuan si Bob. FYI, saya bahkan saat meng-track percakapan dinding di laman si cewek, e si Bob malah ada kasi komen segala tentang keinginan bersama ceweknya. Benar – benar buaya darat lah.

Jadi, Chel bilang, baik via SMS maupun kunjungan saya hari ini ke rumahnya lagi bersama teman – teman jalan saya, kalau kehebohan terjadi saat saya baru saja pergi dan tiba – tiba seorang cowok amber di rombongan itu bertanya pada Chel begini, “Chel, tuh cewek siapa ka? De gaya keren skali ooo”. Saya tidak tahu bagaimana reaksi wajah Bob saat itu. Si Chel dengan cuek bilang, “Oh itu … itu yang namanya kak Maya”. Dan hebohlah seisi ruangan!!! Ibarat melempar sarang tawon, keluarlah semua lebah. Iyalah, mereka pun otomatis melihat Bob dan bilang, “ohhhhh, itu toh gebetannya Bob!!!”. Reaksi anak – anak pada hancur, Ada yang langsung mencari tempat tertawa di luar rumah untuk tertawa bokar, ada yang langsung menahan perut karena tertawa terpingkal – pingkal, ada yang langsung tiarap di lantai. Pokoknya habislah Bob diledek habis – habisan. Apalagi si Arc memang jagoan meledek. Iyalah, saya jamin kalau saya yang berada di posisinya Bob, pasti harga diri tacungkil abis plus muka mo taru dimana HAHAHA. Ya mungkin kalau saya sendiri tak jadi masalah, tapi ada Dee yang kata Chel malah kami tuh layaknya pasangan yang pacaran atau malah seperti ‘suami istri’. Mesra abis, bo HAHAHA.

Saya bisa jamin saat itu, teman – teman Bob sudah bisa membaca situasi. Biarpun seandainya Bob nunjukin SMS dari saya pun, pasti tak ada yang percaya kalau kami baru saja ber-SMSan yang heboh getho. Iyalah, saya cuekin Bob di depan teman – temannya, membawa cowok yang 100% beda banget dengan dia dan lebih dari dia, plus gaya saya yang kasual seksi siang itu. Untung saja mereka tidak bertanya Dee kerja di mana, kalau tidak, pasti saya dengan cuek bilang, “Baru pindah kerja dari perusahaan di Kalimantan ke perusahaan tambang XXX di bagian unit produksi, tapi sementara ini sudah 5 tahun menetap di Jogja dan 2 tahun menetap di Jakarta dan Kalimantan”. Sebenarnya hanya untuk meruntuhkan semangat PD dan ‘makan puji’nya Bob selama ini.

Well, itu ringkasan cerita sweet revenge saya. Yang pasti, 30 menit sebelum saya ditegur the Spirit dan berdoa, saya masih mengirimkan pesan ke Bob untuk pesan sejenis “Sweet dream, good Night” getho. Parah lah otak dosa lama saya ini. Saya malah mengirimkan pesan ke Chel dan sahabat lama saya tentang betapa bernafsunya saya untuk menyakiti Bob hanya karena ia mengingatkan saya pada para mantan buaya darat saya apalagi Lelaki Hujan.

Thanx God, malam ini saya ditegur banget untuk bisa mengendalikan nafsu saya entah mo balas dendam ataupun yang lain. Jadi memang malam ini, saya belajar banyak hal. Itu saja.

Di luar sedang hujan lebat dan saya tampaknya harus mulai menulis catatan lain ataupun nonton film pemberian dari teman saya di Jakarta. Yang pasti, saya tak ingin jadi penggoda, jadinya nomor ponsel Bob yang saya catat di agenda langsung saya hapus tadi dan semoga akan selamanya saya hapus. Bob is not my type dan saya haramkan jatuh cinta padanya. Tak rela dan tak ingin walau nyaman setengah mati. Kata sahabat lama saya, “Bisa bikin generasi rusak” dan saya setuju. No way! Saya butuh lelaki baik dan tulus plus setia dan bertampang tidak jelek yang bisa nangkring di dalam foto keluarga besar saya. Pokoknya yang bisa saya gandeng ke rumah dan ke acara – acara sosial saya. Iyalah, keluarga saya cukup selektif dalam urusan fisik, para keponakan saya lumayan manis dan bahkan punya fans kecil, masa anak saya kelak “memalukan” mereka sebagai sepupu mereka? No way lah ….

Sebenarnya sih saya tidak memilih fisik, itu urusan ke sekian. CUMA kok rasanya tangan gatal pukul cowok dan mulut gatal bamaki kalo lihat cowok yang di bawah standarnya saya, bertampang sangat biasa (atau di bawah biasa) dan talalu babikin plus tidak bersyukur sudah punya tunangan cantik tapi mo bikin cabang di mana – mana. Memang enak jadi selingkuhan dari cowok macam gini? Rasanya ya benar – benar perlu dikasi pelajaran ya? Hati panas skali ya HAHAHA.

Anyway, saya meihat Tuhan itu lebih ajaib dah. Saat lagi bingung bagaimana memberi efek jera pada Bob, e datanglah Dee tanpa diduga hanya untuk sebuah reason n season. Perfecto momento pastinya HAHAHA

Saya ingin jadi orang baik. Itu saja!

Ya itu saja!

(Manokwari, 261211)

0 comments: