Pagi tadi, saya bangun dengan perasaan berat, perasaan sedih, perasaan nelangsa. Suara George Telek dengan single ‘West Papua’nya versi original minus Tabura (grup musik Papua asal Melbourne yang digawangi Rumwaropen Cs) menemani saya minum kopi. Mendung masih menggantung di luar sana, di luar kamar saya. Sudah jam 10 pagi lewat. Pagi dimana para lelaki dan perempuan sekaum mamaku sedang berada di lapangan Borarsi Manokwari; merayakan hari kemerdekaan Papua. Ini tahun ke 50. Tahun pembebasan! Tahun Jubelium. Dan hati saya pun masih sangat sedih memikirkan tanah ini, memikirkan nasib penduduk aslinya yang mayoritas berkulit gelap dan berambut keriting, memikirkan kemana tanah ini dibawa ke depan.
Ini tahun ke 50 sejak 1 Desember 1961. Terkurung di dalam kamar, akhirnya saya tak tahan juga. Usai mengirimkan pesan singkat ke beberapa teman tentang rasa sedih saya terkait tanah ini, saya putuskan berbagi rasa ‘kebersamaan’ saya dengan para lelaki dan perempuan Papua itu. Melegakan beban yang menghimpit di dada. Terasa sangat sesak!
Jam 11 siang, panas tanpa ragu membakar Manokwari dengan garangnya. Ratusan lelaki dan perempuan berteriak ‘Merdeka’ dengan mengibarkan bendera bintang Fajar di jalan protokol. Saya melihat mereka di persinggungan ruas jalan Merdeka dan Yos Sudarso. Kanak – kanak melambaikan bendera mini bergaris putih biru dan bintang putih di tengah bentangan warnamerah. Kulihat para lelaki dan perempuan berkulit gelap yang berdiri di samping jalan menatap dengan tenang. Ada yang dengan mata berkaca entah emosi berat apa yang menggantung di sana. Ada yang berdiri seakan hanya menonton karnaval. Saya pun memilih berjalan. Tujuannya jelas, melihat momen di lapangan Borarsi. Be the part of history. Itu saja!
Berjalan sendiri menuju lapangan Borarsi, melewati jalan Jend. Sudirman. Orang – orang berkerumun di depan rumah – rumah dan tempat usaha di sepanjang jalan itu. Raut wajah cemas bercampur penasaran terpampang jelas di wajah mereka. Orang – orang non-Papua yang saya temukan seakan jelas menanti ‘sesuatu’. Entah apa yang hendak mereka tunggu. Ratusan orang Papua lainnya berjalan di ruas jalan pararel di jalan Merdeka. Saya tak peduli berjalan sendirian walau banyak mata yang menatap saya lekat. Mungkin karena lengan baju yang saya gulung, kacamata ‘lalat’ yang saya pakai dan tentu saja rambut saya yang dipotong model ‘bob’ dan dicat pirang. Saya hanya ingin merasakan ‘rasa’ itu, yang sejak subuh saya rasakan.
Jam 11 lewat, lapangan Borarsi panas. Saya memilih sementara berdiri di dekat lampu merah, bertemu tak sengaja dengan beberapa kenalan. Panas matahari semakin membakar wajah dan lengan saya. Tiba – tiba rombongan mereka yang ikut long march masuk menuju lapangan. Deru belasan hingga puluhan motor mencabik – cabik keheningan. Mereka masuk mengadakan atraksi semi –konvoi tanpa ritme di dalam lapangan. Berteriak ‘Merdeka’ tanpa henti dengan mengibarkan bendera Bintang Fajar. ‘Sampari’ pica di mana – mana’ itu yang saya rasakan. Saya dapat merasakan semangat mereka, saya dapat menangkap sukacita yang keluar spontan tanpa malu, tak peduli dengan puluhan aparat keamanan beragam bentuk yang ada di sana. The spirit is in the air!
Saya merasakan semangat yang saya cari dari sebuah perayaan kenegaraan, sebuah rasa memiliki, sebuah rasa yang menggambarkan kepemilikan. Sesuatu yang tak saya rasakan dari perayaan 17 Agustus. Suatu perasaan yang saya rasakan dan lihat kala melihan komunitas masyarakat Australia merayakan hari Australian Day di Canberra. Perasaan yang sama. Entahlah, bagaimana mendeskripsikannya. Yang saya tahu, para lelaki dan perempuan itu punya ‘passion’ yang meletup – letup di sana. Entah karena euforia semata ataukah karena memang karena itulah ekspresi terdalam mereka. Mungkin yang saya tahu, mereka begitu rindu mengibarkan bendera bintang Fajar tanpa takut ‘ditembak’. Sebuah ekspresi yang dalam tentang rasa ‘kebanggaan’. Mungkin seperti para Fashionista yang baru saja membeli sebuah gaun rancangan desainer ternama dari butik mahal.
Siang tadi panas sekali. Tapi percakapan dengan seorang teman lama yang kebetulan menjadi dosen di UNIPA menjadi teman diskusi yang menyenangkan sambil sesekali mendengar apa yang diserukan dalam orasi politik di panggung. Di belakang kami, beberapa anggota aparat keamanan sedang sibuk memantau, ada yang hanya sibuk mengutak atik perangkat komunikasi mereka. beberapa wartawan dan fotografer berjalan hilir mudik dengan kamera – kamera SLR dan kamera perekam. Mencari emosi, berita dan mungkin berharap ada ‘berita’ pendongkrak oplah surat kabar. Saya melihat mereka dari jauh. Mengamati!
Siang tadi, tak ada seorang pun penjaja makanan kecil di lapangan, tak seperti biasanya. Tak ada pula penjual pinang. Haus yang mendera harus saya tahan. Padahal keringat sudah mengucur deras. Tapi saya bahagia dapat langsung ke lapangan, membunuh beban yang saya pegang dalam benak. Harus dikeluarkan. Siang itu, sebelum pergi saya hanya bilang pada diri saya, “Apapun yang terjadi di sana, sa harus pergi. I want to be the part of history”. Tak ingin mendengar cerita dari orang lain. Witnessing mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang saya rasa.
Pukul 1 lewat, acara pun bubar teratur. Teman saya berbaik hati menurunkan saya yang sudah sangat lemas dan mulai dehidrasi di depan supermarket terbesar di kota saya. Akhirnya, saya memutuskan sedikit realistis dan menikmati sisa hari yang panas ini. Penasaran apa yang saya lakukan? Saya membeli sepotong es krim Magnum classic dan sebotol teh dingin rasa Apel. Saya lupa mereknya. Makan es krim di depan toko dengan pandangan cuek sambil menatap jalan, rombongan dan iringan orang – orang Papua dan juga beberapa simpatisan non-Papua (karena tampang mereka yang ‘amber’ tetapi memegang bendera dan mengibarkannya). Beberapa pasang mata menatap saya penasaran tapi saya biarkan; mulai dari pengunjung toko, penikmat ayam goreng di gerai waralaba depan toko dan juga beberapa tukang ojek.
Siang tadi, Saya merayakan kemerdekaan Papua ke 50 dengan pergi ke lapangan, melihat dan menyaksikan ekspresi sukacita dan tentu saja menutupnya dengan manis dengan lelehan es krim Magnum di dalam mulut. Sio, hidup ini indah. Seindah mimpi senyap yang terus dikumandangkan dan dijaga selama 50 tahun ini.
Happy Anniversary for West Papua! It’s your golden year.
(Manokwari, 011211)
0 comments:
Post a Comment