Beberapa bulan lalu, sa baca artikel refleksi ini di sapu milis uni lama di Australia (ANU). Kebetulan yang tulis itu wartawati senior The Jakarta Post (Ati Nurbaiti) yang sedang lanjut kuliah lagi di umur 50 tahun di sa pu kampus lama. Tiap baca artikel ini sa masih suka ketawa – ketawa dan mengenang masa manis kuliah plus juga memicu sa untuk tetap belajar tanpa henti walau su selesai sa pu Master. Mungkin mace pu cerita ini bisa menginspirasi kam, karena tiap kali sa baca sa masih tetap terpompa semangat juga hehehe. Sa ada sertakan de pu terjemahan bebas dalam Melayu Papua di bagian bawah. Selamat menikmati! Fresh from the tungku ^_^
Tabea,
D.M.
=============
Versi Melayu – Papua
http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/18/back-school-50.htmlBack to School at 50
WEEKENDER | Thu, 08/18/2011 11:06 AM |
Pace profesor ko pegang gambarnya Henry Kissinger dan tanya smua orang dalam kelas sapa tahu ada yang tahu ini gambarnya sapa. Sa bisa jawab pertanyaan itu tapi macam mahasiswa – mahasiswa lain yang muda – muda nih dong pandangan kosong ka ini.
Tapi macam langsung akan jadi barang lucu yang kas ingat sa, kalo sa su umur 50 tahun, mangkali su talalu tua untuk kembali kuliah, kali ini di satu universitas di Australia.
Waktu sa bilang sama sapu anana kalo sa lagi coba cari beasiswa, sa pu anana dong ‘rata’ e karna bayangkan sa duduk belajar satu kelas deng anana yang seumuran dong. Iyo, sa harus akui kalo ini memang macam lucu ya, sa di sana deng rambut putih smua baru muncul di kelas yang diajar oleh profesor muda yang pangaruh skali.
Sa pu anana perem dong tinggal tertawa bayangkan dong pu mama ini nan coba tidur di asrama dengan mahasiswa – mahasiswa yang kapala baribut. Dong juga bilang sa harus kas bagus sa pu selera busana, ya dong pu harapan yang mungkin susah sa buat tuh – walau ya setidaknya sa tra muncul di kelas deng pake sandal jepit kamar (di Australia dong bilang ‘Thongs’) macam anana lain hanya karna dong pu kelas tuh ada dekat depan dong pu asrama.
“Mama, macam ko pake barang yang dari gaul ke tra gaul e skarang gaul lagi!” sapu anak pertama bilang sa. Jadi, artinya sa pu barang – barang lama akan gaul lagi ka?
Akhirnya semester pertama yang bikin badan malas ko lewat juga, tapi macam tra jelas ka untuk sa bagaimana hubungannya umur deng pekerjaan kuliah nih. Iyo, sa kapala lupa jadwal kuliah satu atau dua kelas, dan kapala tersesat satu atau dua kali, mmmh ka banyak kali ee. Tapi sa tra pernah bisa bayangkan sa pu nilai akan lebih rendah dari anana mahasiswa yang muda – muda ini, yeskooon, bikin malu skali eee kalo sa tra bisa lebih baik dari dong yang macam asing deng mog yang ada pace Kissinger yang terkenal itu!
Tua dan muda
Sa pu frustasi macam mirip juga deng beberapa anana mahasiswa yang muda – muda tuh – macam rasa tatinggal jauh e dalam bacaan dan pengetahuan dasar (memalukan skali untuk wartawati berpengalaman macam sa!). Sa dulu bayangkan karna sa tuh su terbiasa kejar deadline tulisan di kantor lama jadi nan mungkin kali ini bisa frei juga dan gampang untuk kas masuk tugas – tugas .. neh macam sa pu harapan salah ka – karna tetap sama saja, kejar deadline.
Tapi macamnya memang faktor umur juga yang pengaruh dan akan hubungan deng tantangan fisik karna macam badan ko mo kram – kram ka mengetik lama, belum lagi rambut putih yang tumbuh tempo skali di bulan – bulan pertama trus juga tra bisa bagadang sampe lat ( adooh kenapa sa lagi bikin barang ini – sa pikir sa kan lai liburan kerja toooo?)
Ok, tong smua tahu tong pu kebiasaan mengetik yang ergonomis tuh, tapi tong akan cenderung lupa tentang barang itu waktu su takena deng buku – buku yang banyak, macam tong taheran – heran juga bisa trada untuk cerna akan smua dalam menit – menit tasisa sebelum deadline ka ini.
Sa harap sa bisa atur sa pu waktu di semester depan lebe bae daripada semester ini. Tapi sa cuma bisa bilang macamnya ini bagus untuk anana masa skarang yang su lebih cepat sadar kalo kebutuhan untuk pendidikan tinggi tuh daripada sa dulu – begitu banyak – Jadi dong juga harus diingatkan untuk cari kerja dan pengalaman hidup di luar kampus sebelum lanjut deng kuliah – kuliah pascasarjana nih.
Sa su lewati masa taputar kuliah di kampus dulu hanya untuk selesaikan S1 tuh yang talalu lama. Sa macam ingat kata – katanya jurnalis veteran satu ( sa lupa de nama) yang bilang kalo wartawan yang diharapkan bisa jalin hubungan baik deng orang – orang akan mulai ambil jarak dari masyarakat umum kalo dong mulai kejar pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dong akan talalu ‘gaul’ dan tra terjangkau lagi. (Di masa lalu, trada barang yang disebut gelar sarjana jurnalistik. Beberapa nama terkenal dalam jurnalistik tuh biasanya lulusan SMA setelah dong terbiasa jadi tukang bantu – bantuk di kantor ka tukang antar – antar begitu).
Karena tra rela buang waktu banyak untuk belajar malah bikin tong pu alasan yang sempurna untuk bilang ,”sa sibuk”, “sa pu anana masih butuh sa” dll – dan kenapa tra baca buku saja di sapu waktu frei too? Mmmmh, mungkin karna sa pu daftar buku yang sa beli dan belum tabaca di sa pu waktu frei itu juga masih banyak, karna biasanya sa pulang kerja tuh langsung taslep di sofa. Teman – teman dan rekan kerja tinggal kas tahu sa kalo ini waktu yang tepat untuk ‘recharge’ sa pu hidup tapi bukan deng skolah ya. Tapi tetap sa bikin juga, masih taheran – heran juga kalo di masa ini yang lain – lain dong ada sibuk urus dong pu kuliah ka bagi waktu deng kerja dan dong pu anana.
Skarang nih banyak universitas yang kembangkan program ‘coursework’ untuk orang – orang yang kerja, jadi sa pilih yang jenis ini, ya tentu saja – trada tesis dan semuanya cuma 1 tahun saja. Oooops, tapi macam akan jadi program yang padat eee dan tuntut penguasaan teknologi untuk setidaknya bisa ka masuk 3 tugas yang deadline bersama – sama. Karna sa belum kuasai teknik macam begini, jadi ya sa coba bikin sebisa mungkin yang terbaik saja ka ini, tapi dengan macam rambut – rambut putih yang tinggal keluar dalam kelas ka ini.
Tentu saja nih kesempatan besar untuk balik kuliah setelah berpuluh tahun, pada umur 50 tahun! Tapi kali ini, sa juga butuh sedikit peralatan ekstra untuk bisa lewati musim dingin yang hancur di Canberra sini – tangan yang ekstra kuat, hidung yang anti flu, lebih banyak kopi dan juga mata yang lebih mantap untuk pantau kalender kampus di sapu di dinding kamar – yang saat ini tatutup sa pu mantel – mantel yang tra gaul ini.
***
ENGLISH VERSION:
The university professor holds up a picture of Henry Kissinger, and asks if anyone in the class knows who it is. I can answer, but the younger students’ faces are blank.
Yet another amusing reminder of how, at the age of 50, I am quite possibly too old to be back at school, this time an Australian university.
When I announced that I was trying to get a scholarship, my children giggled at the thought of me in class with their peers. I have to confession it is rather funny, me there with my gray hairs on display in classrooms run by extraordinarily young professors.
My girls chuckled over the prospect of their mom trying to sleep in a dorm with rowdy students. They demanded that I sharpen my fashion sense, a hopeless expectation – although at least I don’t turn up in thongs (that’s Australian for “flip-flops”) like some students simply because classes are only a short stumble from their dorms.
“Mama, you wear stuff that went from fashionable to outdated to fashionable again!” my eldest said. So that means all my vintage stuff is OK?
But as the first grueling semester rolled on, finally reaching an end, it was no clearer to me just what age has to do with student performance. Sure, I did forget the schedule for one or two classes, and I might have lost the way once or twice or, well, a few times. But I never expected I’d achieve less than the other, younger students; indeed, it would be embarrassing if I couldn’t do better than those young kids who are strangers to Kissinger’s famous mug!
Young and Old
My frustration was likely similar to that of some of the younger students – feeling I was falling behind in the readings and short on background knowledge (shameful for an experienced journalist!). Expectations that, far from the rush of the newsroom, I would have more time to ponder assignments proved completely false – it’s been chasing deadlines just the same.
But perhaps it is the age factor at play when it comes to the physical challenge of overcoming laptop arm and shoulder cramps, rapid white hair growth in the first months and not being able to stay up all night (why would I – I thought I was on holiday from work?).
Sure, we all know about ergonomic typing habits, but you just tend to forget about them when poring over books, wondering if it’s possible to digest them in the remaining minutes before the deadline hits.
I hope I’ll manage the next semester better than the first. But at any rate it’s good that young people today seem to realize the need for further education much faster than I did – so much so that they need to be reminded to get a job and some off-campus life experience before continuing on to postgraduate classes.
I had already found hanging around campus to complete an undergraduate degree was too long. A memorable line from a veteran journalist (I forget who) was that journalists, who are expected to relate well to people, are increasingly distanced from the public as they pursue higher and higher education. They get too posh. (Back in the day, there was no such thing as a journalism degree. Noted names in journalism came straight from high school after a stint as delivery boy or newsroom office help.)
Not willing to spend more time studying seemed to form the perfect excuse, apart from “I’m busy”, “My kids still need me”, etc. – and why not just read books in my spare time? Um, possibly because the growing rows of unread books bought in that spare time remain unread, as I usually just crash on the couch when I get home from work. Friends and colleagues repeatedly reminded me it was high time to “recharge” by not merely hanging out at campus. So finally I did, wondering at the same time how others do it juggling their studies with managing kids and work.
Universities have developed “coursework” programs for working people, so I headed for this one, with – yeah! –no thesis and all done in only one year. Oops, it turns out it’s a packed program demanding clone technology to manage at least three deadlines all at once. Since I have no access to such techniques, I’ll just manage as best as possible, with more gray hairs spiking out in class.
Of course, it has been a great opportunity to be back on campus decades after the last time, and at 50! But this time around, I also need a bit of extra equipment to get me through the dreaded Canberra winter – extra strong arms, an anti-flu nose, more coffee and a closer eye on the wall campus calendar – which is now covered by not very fashionable coats. + Ati Nurbaiti
0 comments:
Post a Comment