PENGANTAR
Saya harus jujur pada diri sendiri bahwa catatan ini adalah topik favorit saya: Kesehatan Ibu dan Anak di masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963, khususnya terkait persalinan di rumah sakit dan juga layanan pasca persalinan. Iya, selama proses wawancara tanggal 13 Desember 2011 jam 10 pagi itu, saya bahkan sampai berimajinasi tentang kehidupan di masa itu dan seakan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh narasumber saya: Nene Albertina Rumbino/Faidiban. Cerita ini bukan untuk sekedar mengenang masa manis di masa lalu tapi ingin menunjukan bahwa ada bagian sejarah yang dapat kita adaptasi demi perbaikan kesehatan perempuan di masa kini, khususnya saat adanya kucuran dana OTSUS yang melimpah ruah. Ya semoga kita sebagai generasi Papua masa kini dapat berkaca pada manisnya sebuah layanan kesehatan di masa lampau. Simak catatan saya berikut ini. Tentu saja saya jamin Fresh from the tungku HEHEHE
LAYANAN DI RUMAH SAKIT
Gambaran umum
Pada tahun 1961, anak pertama keluarga Rumbino dilahirkan di Manokwari. Seorang anak perempuan; Thea. Waktu itu, persalinan dilakukan di Rumah Sakit Umum Manokwari, satu – satunya rumah sakit di masa itu. Keluarga Rumbino yang tinggal di Barak Kakatua – Sanggeng ini tentu saja pergi ke rumah sakit. Suasana di rumah sakit pada masa itu cukup berbeda dengan masa kini. Salah satunya adalah peran pengantar dan pengunjung serta pembesuk yang tidak boleh berada lama di sana. Saat itu, dalam proses persalinan itupun tete Rumbino hanya boleh berkunjung tidak terlalu lama dan hanya boleh dilakukan sesuai jam berkunjung yang terpampang di papan pengumuman. Biasanya pada pukul 5 sore, semua tamu sudah diminta untuk pulang. Bila pengunjung terlalu lama di rumah sakit, maka pihak rumah sakit dalam hal ini akan menegur secara sopan para tamu untuk segera pulang, biasanya mereka akan menyapa seperti ini, “Tuan/nyonya, jam bezuuk sudah selesai.”
Selama menginap di rumah sakit, nene Rumbino mengingat jelas bagaimana pembagian kamar pasien. Ada kamar tertentu untuk pasien Belanda dan Indo-Kaukasian. Ada juga beberapa kamar untuk orang Papua dan Maluku. Pada masa itu, nene Rumbino dan beberapa ibu – ibu Papuan lainnya termasuk beberapa perempuan asli pegunungan Arfak ditempatkan dalam sebuah ruangan (zaal) yang terdiri atas 20 tempat tidur. Tiap deret terdiri atas 10 tempat tidur yang saling berhadapan. Para bayi ditempatkan di ruang terpisah. Jangan takut resiko bayi mereka tertukar karena tiap bayi diberi plester bertuliskan nama ibu di lengan mungil mereka misalnya ‘nyonya Rumbino’. Saya juga perlu menambahkan pada masa itu belum ada proses kelahiran dengan operasi sehingga tak ada ruangan untuk pasien pasca operasi
Selain ruangan yang teratur, pada masa itu kebersihan rumah sakit juga sangat terjamin. Jangan harap ada noda ludah pinang yang dibuang sembarangan. Pada masa itu, pinang tidak dipasarkan secara massal seperti masa kini dan biasanya orang – orang Papua menanamnya hanya untuk konsumsi sendiri. Sehingga tidak ada para tamu rumah sakit yang membuang ludah sembarangan. Tidak dijumpai juga sampah yang dibuang sembarangan. Dimana – mana pada masa itu yang ada hanyalah bau karbol rumah sakit.
Para pasien khususnya ibu yang baru melahirkan di masa itu tak perlu khawatir dengan layanan rumah sakit karena para tenaga medis khususnya para dokter , suster dan mantri menunggu pasien dengan sabar dan memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Mereka bekerja dengan sangat keras dan disiplin serta berdedikasi tinggi. Di masa itu, tenaga medis di rumah sakit ini terdiri atas paramedis Belanda dan paramedis asli Papua. Misalnya saja, suster yang menolong persalinan pertama dari nene Rumbino adalah Ibu Yosina Marani/Yoku. By the way, salah satu bukti layanan yang baik yang diingat nene Rumbino adalah tiap beberapa jam, para suster akan membawa para bayi mungil ini ke ibu mereka untuk disusui selama 30 menit. Usai itu, mereka diantar kembali ke ruang bayi. Tentu saja para suster selalu memantau para bayi ini untuk mengecek kondisi mereka. Termasuk memandikan dan mengganti popok. Selain itu, para suster sangat disiplin dalam mengotrol para ibu, biasanya para ibu sudah dibangunkan pukul 6 pagi untuk mandi.
Fasilitas Gratis: Pakaian, Makanan, transportasi
Perlu dicatat bahwa pada masa itu, semua layanan rumah sakit itu GRATIS. Pemerintah Belanda menyediakan fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Tiap ibu yang bersalin tak perlu khawatir dengan pakaian yang akan dikenakan selama di rumah sakit karena kebutuhan dasar bayi dan ibu dalam proses persalinan disediakan oleh pihak rumah sakit. Tiap ibu hanya membawa pakaian yang akan dipakai pulang. Kebutuhan pakaian seperti selimut, pakaian bayi, loyor, gurita, sarung tangan dan kaki, pakaian untuk ibu dan peralatan mandi, bahkan juga ‘dug’ (softex) disiapkan oleh pihak rumah sakit. Untuk pakaian bayi baik berupa gurita, loyor dll serta pakaian ibu umumnya merupakan pinjaman dari pihak rumah sakit dan akan dikembalikan usai pasien selesai menjalani perawatan. Tentu saja ada jasa laundry gratis yang disiapkan rumah sakit. Meskipun demikian, pihak rumah sakit juga memberikan bonus 1 stel pakaian bayi gratis saat bayi pulang.
Saat saya singgung tentang layanan makanan selama pasca melahirkan, Nene Rumbino pun menerawang mengingat bagaimana sajian makanan pada masa itu. “Cucu, yang masak orang Belanda jadi kami jarang makan ikan. Paling sering daging,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa makanan yang tersaji di atas nampan – nampan itu diantar dengan menggunakan kereta dorong sejenis troli. Biasanya produk daging untuk makan pagi berupa bubur dengan irisan daging ‘smak’ goreng (daging babi kalengan/Ma Ling). Biasanya sekaleng daging smak diberikan untuk 4 orang. Produk makanan kalengan ini umumnya buatan Singapura. Anyway, Pada pukul 10, pasien diberi makan pisang. Jam makan siang sendiri baru berlangsung pada pukul 1 siang berupa nasi dengan daging babi non-kalengan. Pada jam makan malam, menu yang diberikan adalah nasi dan sayuran serta kadang – kadang disertai ikan goreng. Satu hal yang masih diingat baik oleh nene Rumbino adalah peran koki; seorang perempuan Belanda bercelemek yang datang ke tiap zaal dan bertanya langsung pada pasien tentang kualitas makanan yang disajikan khususnya di jam makan ‘besar’ (siang atau malam). Cerita yang cukup menarik!
Fasilitas peminjaman pakaian bagi pasien dan bayi bukan satu – satunya fasilitas yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Pada masa itu, semua biaya rawat inap dan persalinan serta obat – obatan digratiskan. Tak ada tuntutan pembayaran dari rumah sakit. Bahkan, nene Rumbino bertutur bahwa di masa itu, ibu yang melahirkan harus tinggal selama 7 hari di rumah sakit. Selama 7 hari itu, dokter akan memantau kondisi ibu dan meresepkan sejumlah obat. “Cucu, obat yang kami minum itu bikin gigi hitam – hitam,” tuturnya sambil tertawa kecil. Usai dokter menilai keadaan ibu sudah kuat dan ‘darah nifas’ yang keluar mulai berkurang maka pasien diijinkan pulang.
Sewaktu pulang pun, pasien tidak boleh pulang sendiri tetapi harus diantar oleh mobil rumah sakit sampai tiba di rumah, terlepas di mana letak rumah pasien. Tentu saja layanan ini gratis! Proses pengantaran ibu dan bayi ini pun tidak boleh digabung antar satu pasien dengan pasien yang lain. Nene Rumbino mengingat jelas saat ia dan bayinya diantar pulang di masa itu, ia harus menunggu pihak rumah sakit mengantar dahulu ‘Nyonya’ Meidodga dan bayinya ke Pasir Putih, setelah itu baru gilirannya diantar pulang ke Sanggeng.
Saya cukup salut dengan kebijakan rumah sakit ini mengingat pada masa itu, tidak tersedia layanan transportasi untuk masyarakat umum. Saya tak bisa membayangkan rasanya bila ibu muda yang baru selesai melahirkan seminggu lalu ini harus berjalan pulang membopong bayinya dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Tentu saja hal yang sangat berat. Sebuah layanan yang mungkin dapat diadaptasi pada masa kini. Two thumbs!!!
LAYANAN PASCA PERSALINAN
Usai melahirkan bukan berarti pihak rumah sakit menyepelekan para ibu ini khususnya para ibu muda. Tiap hari Senin sejak keluarnya pasien dari rumah sakit, akan ada kunjungan ke rumah – rumah eks-pasien untuk mengontrol perkembangan ibu dan bayi. Biasanya kunjungan dilakukan oleh dua orang suster yang terdiri atas 1 orang suster Belanda dan 1 orang suster Papua. Mereka berkeliling menggunakan mobil. Kontrol kesehatan ibu dan anak tiap minggu ini berlangsung hingga bayi berumur 3 bulan.
Pada waktu bayi menginjak umur 3 bulan, kedua suster ini akan datang untuk mengajarkan para ibu muda di rumah tentang cara memberi makan bayi mereka. Biasanya mereka telah memberitahukan jadwal kunjungan mereka sebelumnya dan juga bahan – bahan yang harus disiapkan oleh tiap ibu. Nene Rumbino mengingat jelas bagaimana ia harus menyiapkan satu buah pisang Ambon masak, tomat masak, satu buah lemon nipis dan juga garpu. Para suster ini kemudian mengajarkan bagaimana cara menghancurkan pisang menjadi bubur halus dengan menggunakan garpu. Tomat masak juga mengalami hal yang sama. Setelah itu, bubur pisang ini dicampur dengan beberapa tetes tomat masak yang sudah lumat dan ditambahi 2 – 3 tetes lemon nipis. Saat itu, para suster langsung mempraktekan cara pemberian makanan ini secara langsung pada bayi. Tentu saja si bayi sudah dipasangkan serbet HEHEHE. Makanan ini kemudian dianjurkan untuk diberikan tiap hari hingga bayi berumur 4 bulan dan setelah itu bayi dapat diberikan jenis bubur lainnya.
Selain itu, nene Rumbino mengingat bagaimana para suster ini juga masih datang dan mengingatkan nene untuk membawa bayinya melakukan penimbangan tiap hari Senin. Biasanya dilakukan tiap 2 minggu sekali di sejenis ‘posyandu’ dekat Barak Kakatua (masa kini: Tempat penitipan anak Sanggeng). Dalam penimbangan ini terkadang bayi juga diberikan vitamin secara oral.
Inilah sepenggal kenangan yang berhasil saya jaring dari nene Rumbino terkait isu kesehatan ibu dan anak di masa lampau.
SIMPULAN
Layanan kesehatan ibu dan anak khususnya terkait persalinan yang dialami oleh nene Albertina Rumbino/Faidiban dapat menjadi sebuah cermin dalam melihat bagaimana sejarah pelayanan kesehatan di Manokwari pada masa pemerintahan Belanda pada tahun 1961 – 1963. Semoga dapat menginspirasi para generasi muda Papua di masa kini khususnya yang mempunyai kapasitas untuk melakukan hal serupa ataupun perubahan yang lebih baik di dalam bidang kesehatan maupun dalam perencanaan pembangunan. Di masa lampau, orang Belanda yang jelas – jelas berbeda ras dengan orang Papua dapat melakukan tindakan berdedikasi penuh kasih untuk kaum kita, bukankah lebih bijak bila di masa kini, kitalah yang dapat melakukan hal terbaik untuk kaum kita sendiri? Jawabannya hanya anda yang tahu!
Selamat pagi, Manokwari!!! *sambil membayangkan the life in Manokwari around 1960s
(Manokwari, 161211; pada sebuah subuh)
0 comments:
Post a Comment