Search This Blog

Loading...

Sunday, 6 November 2011

Tukang Mimpi - Sorry, ini bisnis Suanggi

Dua hari lalu, kala tengah hari sedang membakar puncak bukit kapur di areal kampus UNIPA, tepatnya di dekat Fakultas Sastra UNIPA, saya dan beberapa teman duduk dan membahas tentang kondisi tanah ini. Awalnya hanya tentang politik lokal dan berlanjut pada tanaman obat Papua tapi tiba – tiba pada akhirnya berakhir dengan sebuah topik. Apa lagi kalau bukan tentang ‘Suanggi’. Karena awalnya pembicaraan kami tentang kondisi politik dan kinerja keamanan di tanah ini, entah bagaimana tiba – tiba terbersit ide untuk mempekerjakan orang berilmu alias ‘Suanggi’ tentu saja. Ide saya yang dilempar ternyata direspon baik oleh teman saya Risia yang kebetulan dosen Sastra, dan disambut oleh beberapa teman lain seperti Kaleb, Edmond dan Mambri. Jadinya, siang itu kami tertawa terbahak – bahak hampir dua jam membahas segala kemungkinan kalau saya punya perusahaan besar dan mempekerjakan suanggi sebagai karyawan saya dan bahkan juga bisa mengembangkannya sebagai sebuah franchise bisnis. Seperti biasanya, saya memang pemimpi dan anggap saja ini catatan mimpi saya di akhir pekan. Boleh dibaca, boleh juga dilepaskan HAHAHA.

Kalau seandainya saya punya banyak uang, banyak peluang dan punya kontak yang baik, dan juga mengutip pendapat teman saya Risia, “Daripada suanggi dong cuma jalan pi bunuh – bunuh orang, kenapa tra pake kemampuan tuh untuk tanah Papua ka. Orang Papua su sedikit baru mo pi jalan bunuh – bunuh orang Papua sendiri lagi. Co pake kemampuan untuk hal baik ka.”, maka saya akan membuat perusahaan layanan jasa dan mempekerjakan orang berilmu ataupun ‘suanggi’ dalam areal kerja seperti ini:

#DIVISI KEAMANAN DAN OPERASIONAL

Di tanah ini, khususnya di daerah saya, Suanggi di kota saya terkenal sebagai ‘pembunuh bayaran’. Ah kalau saya punya banyak uang, saya akan mempekerjakan dan memberi pelatihan dasar – dasar manajemen serta pelatihan manajemen diri bagi para ‘staff’ saya ini. Mereka memang memilih jalan hidup sebagai ‘pembunuh’ kadang – kadang. Nah daripada dipakai hanya untuk membunuh demi hal remeh temeh seperti menyingkirkan orang – orang yang mungkin tak punya dampak besar bagi kemaslahatan umat, maka saya akan merekrut mereka untuk misi yang lebih ‘baik’. Daripada mereka hanya digambarkan sebagai ‘penjahat’ dan tokoh yang menakutkan, kenapa tidak sekalian dijadikan simbol sebagai ‘pahlawan’ atau ‘hero’.

Saya bermimpi, para ‘suanggi’ ini usai menjalankan pelatihan dasar menjadi tim elit: pelatihan GIS, pelatihan navigasi, pelatihan pengenalan senjata, bela diri, pelatihan segala macam elemen dasar termasuk bahasa asing dan teknologi termasuk cara meng-crack komputer (HAHAHA), dan juga diplomasi, mereka akan resmi masuk dalam tim elit bisnis saya yang dilabel tim SWAT (Swanggi Terlatih) *sumbangan istilah dari Mambri Sroyer.

Misi mereka? Bagian ini yang paling saya suka. Iya, sangat saya suka. Bayangkan berapa banyak orang sadar yang mau menanggung dosa akhirat dipanggang api neraka (bagi yang percaya adanya neraka). Bayangkan berapa banyak yang mau dirundung rasa bersalah membunuh orang lain, katakan saja seperti yang dialami para eksekutor hukuman mati para tahanan? Nah bukankah lebih baik mempekerjakan tim SWAT ini dalam bisnis seperti ini kan? Tugas utama tim SWAT di tanah Papua mungkin untuk membereskan para koruptor khususnya pejabat korup di tanah ini khususnya yang tak sadar – sadar juga karena menilep uang rakyat ataupun yang selalu lolos dari jeratan hukum. Lebih aman, akurat dan juga punya dampak bagi rakyat.

Saya membayangkan anggota tim ini meretas data komputer lembaga tertentu guna mencari target yang akurat. Dengan kemampuan penyamaran dan teletransporter (kemampuan berpindah tempat) mereka, tim ini dengan mudah menyiapkan jebakan bagi target operasi. Mungkin tak selalu harus ‘membunuh’, mungkin juga hanya dengan meretas data tabungan mereka, ‘mencuri’ kekayaan para pejabat korup ini dan mengirimkannya ke rekening amal yayasan – yayasan sosial di tanah ini. Ataupun dengan langsung membayar uang sekolah anak – anak marjinal tentu saja dengan menyamar terlebih dahulu.

Tentu saja dari semua divisi perusahaan saya, divisi ini yang paling tak terlacak dan hanya orang – orang tertentu yang tahu siapa saja anggotanya. Demi aspek privasi tentu saja. Saya membayangkan mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, bekerja mulai dari tenaga pengajar, tukang jual ikan, tukang sayur sampai hanya orang ‘mura muma’ yang berkeliaran. Tapi jangan salah, perusahaan saya akan menjamin mereka mendapatkan asuransi sangat besar, demi kesejahteraan keluarga mereka. Ini mimpi saudara – saudara. Anggap saja imajinasi saya yang lepas hari ini. HAHAHA

#DIVISI INVESTIGASI

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari kebiasaan beberapa orang yang saya kenal dan juga cekcok anak muda yang pernah saya dengar. Ceritanya, seorang perempuan menuduh teman – temannya yang menerornya lewat nomor ponsel baru yang tak dikenal, jadi kata perempuan ini, “aeeeeh kam mengaku suda, sa su pi ke orang mawi untuk liat, de bilang nomor ini kam pu. Jadi de mawi tuh skalian deng kam pu nomor HP keluar ka ini.” Spontan seorang teman yang ia tuduh dengan cuek bilang, “Aeeeh sa curiga, pace yang mawi ini de kerja di Telkomsel kapa” HAHAHA.

Kalau memang secanggih itu jasa yang dilakukan oleh orang ‘berilmu’ ini, wah sebaiknya dibuatlah bisnis investigasi alias penerawangan HAHAHA. Mencari orang hilang, mencari barang hilang dan tentu saja melacak kasus pencurian, kasus perampokan dan juga yang paling penting, membuka kedok terorisme HAHAHA. Daripada tak dipakai buat kemanusiaan, bukan?

Kalau memang secanggih itu kemampuannya, misi pertama bagi tim ini, tentu saja: saya akan minta mereka melacak siapa sih pelaku – pelaku pembunuhan, penembakan, dan penculikan misterius di tanah ini. Jadi kondisi tanah Papua akan beres. Tak hanya sampai di situ, usai didapatkan informasi yang ‘akurat’, sekalian kita kirimkan tim SWAT membereskan. Pasti tanah ini akan lebih damai dan setidaknya tak harus menonton berita tentang tanah ini yang ‘itu – itu’ saja persis seperti sinetron – sinetron. Biar ada variasi. Tak lupa, tiap saat operasi, disiapkan kamera. Jadi bisa dibuat film dokumenter atau dokumennya dijual ke perusahaan film besar untuk dijadikan bahan acuan pembuatan film. Siapa tahu akan ada film Hollywood ber-setting Papua dengan judul “SWAT: lost in Papua” jadi adegannya akan ada tim SWAT yang nyasar dan ditolong oleh tim SWAT (swanggi terlatih) dan bahu membahu melacak ‘siapa’ sih ‘penjahat’ di tanah ini HAHAHA*ini namanya mengkhayal indah.

#DIVISI FARMASI DAN LITBANG

Dalam perusahaan saya, tak lupa ada staff bagian farmasi, mereka bekerja di bidang LITBANG (penelitian dan pengembangan) Suanggi. Tugas mereka, selain mendokumentasikan tumbuhan dan hewan yang bisa dipakai oleh tim lain (SWAT dan investigasi) mereka juga berperan di dalam bidang pengkaderan anggota tim baru. Ya untung – untung mereka bisa bekerja dengan mereka yang membuat ‘sekolah adat’ seperti yang pernah saya dengar ada di Waropen sana.

Anggota divisi ini tentu saja bekerja dan mengabdikan ilmu pada etnobotani, jadi mereka mendokumentasikan tanaman dan hewan, menguji efektivitasnya, menanam dan membudidayakan tanaman itu. Bila memungkinkan, saya akan mencarikan jaringan agar mereka bisa dilibatkan dalam riset – riset ilmiah di lembaga penelitian lokal ataupun berbicara dalam kampanye publik lingkungan hidup penyelamatan hutan. Saya membayangkan anggota divisi ini bekerja dengan peralatan digital seperti kamera dan video, membuat transkripsi mantra – mantra mereka entah untuk pengobatan, untuk kematian, untuk ramuan cinta; Mantra – mantra mereka ternyata adalah bahasa – bahasa yang hampir punah di tanah Papua. Mereka juga membuat rekaman ritual mereka bertemu dengan roh – roh di tanah ini yang ternyata adalah sekelompok alien ataupun makhluk luar angkasa yang terlempar di tanah ini dan bersembunyi dan membagikan pengetahuan mereka usai pesawat mereka tertabrak meteor.

Saya membayangkan anggota divisi ini adalah orang – orang yang punya dedikasi bagi tanah ini lewat cara melestarikan pengetahuan lokal. Saya berimajinasi bahwa mereka adalah orang – orang belakang layar yang mengadvokasi masyarakat adat dalam melawan para cukong kayu dan perusahaan tambang yang tidak mendatangkan manfaat bagi masyarakat lokal.

Anggap saja mereka adalah tim belakang layar perusahaan saya. Saya membayangkan mereka dapat berbagi pengetahuan mereka bagi kemanusiaan khususnya bagi orang Papua sendiri. Saat dunia medis tak mampu mencari jalan keluar dari penyakit – penyakit mematikan, setidaknya ada ‘obat suanggi’ dan pengobatan terapi alternatif yang bisa dipakai untuk meredakan sakit beberapa orang yang mungkin lebih produktif bertahan hidup lebih lama. Anggap saja ini hanya pemikiran sisi positif saya melihat kemampuan meramu tanaman dan tumbuhan.

Bagi saya pribadi, anggota divisi ini adalah ahli farmasi terbaik yang pernah saya kenal. Mereka punya kemampuan untuk mendeteksi sakit dan memberikan tanaman obat serta melacak sumbernya. Semuanya adalah kemampuan manusia super sebenarnya, bukan? *analisa pribadi.

#DIVISI LAYANAN TRANSPORTASI

Ini divisi favorit saya, ide ini terlempar dari cerita Risia, “sa bayangkan daripada suanggi terbang dong pi bunuh – bunuh orang, kenapa tra pake dong kemampuan untuk antar dokumen ka, khususnya dari satu kampung ke kampung lain?”. Ide ini berkembang pada siang itu menjadi bahan imajinasi antara saya, Risia, Kaleb, Edmond dan Mambri. Saya lupa siapa yang mengeluarkan idenya, yang pasti divisi ini pasti akan menjadi saingan berat FedEx, Tiki, KGP ataupun PCP kalau memang berhasil diwujudkan. Penasaran apa yang berkelebat di benak saya dan teman – teman? Ini ceritanya!!!

Divisi layanan ini akan kami namakan SWANEX alias ‘Swanggi Terbang Express’. Jangan salah, divisi kami bisa jadi adalah layanan pengantaran dokumen (kalo perlu orang) yang sangat ramah lingkungan. Boleh saja perusahaan lain mengklaim diri mereka perusahaan ‘hijau’ tapi saya berani bertaruh divisi perusahaan saya adalah yang terbaik di seluruh dunia dan kami dengan tegas mendukung kampanye lingkungan hidup khususnya terkait Save the Climate biar efek pemanasan global tak meggila. Bagaimanapun, pekerjaan kami sangat terkait dengan kelangsungan alam khususnya hutan dan laut. Bahkan, saking cinta lingkungannya, layanan ini punya motto alias tagline “SWANEX: SECEPAT ANGIN, ECO-FRIENDLY”

Bayangkan, bila perusahaan lain harus menitipkan dokumen di pesawat terbang yang terbangnya pasti pake avtur, punya banyak prosedur ini – itu dan berganti bandara. Belum lagi dokumen setiba di kota tujuan harus diantar pake kendaraan bermotor yang tentu saja akan meninggalkan jejak karbon, semua hal ini tentu saja tak harus terjadi pada layanan kami karena anggota tim kami sangat professional dan cinta lingkungan. Bahkan saya menjamin, karena mottonya kan secepat angin, dijamin dokumen tiba di tangan yang tepat tepat waktu pula. Ya, saya membayangkan para anggota divisi ini sebenarnya adalah para ‘Jumper’ seperti di film Hollywood itu ataupun punya kemampuan seperti para penyihir dalam film Harry Potter yang suka ber-teletransporter .

Saya membayangkan bila ada layanan Swanex di tanah Papua, lupakan saja kendala transportasi di tanah ini. Pembangunan akan berjalan dengan baik. Ini imajinasi saya tentu saja. Saya membayangkan sebuah dokumen penting dari sebuah dinas di kabupaten terpencil yang harus dikirimkan ke kabupaten lain tak harus menunggu pesawat ataupun speedboat di kala cuaca buruk. Saya membayangkan persediaan obat yang mendesak dari sebuah puskesmas di kampung terpencil tak harus habis di saat genting karena ada layanan Swanex di kampung tersebut. Saya membayangkan bila di saat genting dimana ada bahan – bahan atau benda penting lainnya bagi kemaslahatan umat termasuk uang gaji guru dan pegawai pedalaman yang telat dapat diatasi oleh jasa layanan ini. Ini imajinasi saya tentunya tapi apa lagi yang bisa saya lakukan selain berpikir tentang layanan dari orang Papua untuk sesama orang Papua. Bukankah ini sebuah pencapaian bergenerasi, kan?

Akhirnya, saya hanya bisa bilang bahwa di tanah kelahiran saya; Papua, ada banyak Manusia Super yang disebut ‘Suanggi’. Mungkin suatu saat nanti mereka tidak selalu dilabel sebagai ‘orang Jahat’ namun bisa dilihat sebagai sebuah warisan budaya sebagai Orang Papua. Saya cuma ingin bilang bahwa kadang kita hanya perlu melihat ‘suanggi’ dari kacamata yang berbeda. Bagi saya, mereka tetap adalah manusia super, mereka pecinta alam # 1 yang lebih dekat dari sekedar para penjelajah alam, mereka sahabat alam #1: mampu membaca angin, merangkai awan, mempersepsikan bahasa binatang dan tentu saja membaca emosi manusia.

Terlalu banyak orang Papua termakan imajinasi tokoh dunia barat seperti Superman, Batman, Spiderman, ataupun X-Men. Dibuai dongeng seperti Cinderella, Putri Duyung dan Barbie. Dininabobokan oleh kepahlawanan Rambo, Arnold Schwarzenegger dan Iron Man. Terlalu banyak kita dipaksa ‘mengadopsi’ gaya manusia super ataupun pahlawan dari tanah seberang sebut saja Gatotkaca, Pandawa Lima, tokoh wayang ataupun film – film Angling Dharma. Bagi saya, tanah Papua sudah punya banyak manusia Super termasuk yang dijadikan simbol kekuatan dan bukan ‘Suanggi’ seperti Gurabesi dan lain – lain.

Suanggi maupun para tokoh pahlawan seperti Gurabesi, Kuri dan Pasai dan lain – lain adalah manusia super. Ada yang bisa terbang tanpa kendaraan apapun, ada yang bisa mengendalikan cuaca dan alam seperti Storm dalam X-Men. Ada yang bisa berlari cepat secepat angin seperti tokoh Flash. Ada yang punya ‘mata panas’ dan bisa membunuh dengan tatapan matanya ibarat Gambit dalam X-Men. Ada yang bisa bicara dengan binatang ibarat kemampuan Dr. Doolittle, ada yang bisa berjalan di atas air hanya dengan membuang selembar daun seperti kemampuan meringankan tubuh para tokoh kungfu atau sinetron silat. Ini hanya masalah persepsi, saudara – saudara.

Bagi saya, suanggi adalah sebuah warisan budaya yang perlu dihargai. Terlepas dari efek dan mudaratnya. Anggap saja catatan ini hanya imajinasi saya.

Catatan ini saya tutup dengan sebuah pernyataan sikap, “Suanggi adalah manusia super dari Tanah Papua”.

Itu saja!!!


(Manokwari, 061111; Thanx untuk Risia Y., Kaleb Y., Edmond P. dan Mambri S. yang menjadi teman berbagi imajinasi saya).

0 comments: