Seminggu terakhir, saya sedang menyukai dua hal yang berbeda; Mendengarkan suaranya Michael Bolton tengah malam sambil menyesap Teh Gopek dingin sebelum tidur. Entahlah saya juga tak tahu bagaimana menjabarkan hubungan antara keduanya tetapi rasa teh yang khas rupanya sama persis dengan suara si bapak ganteng ini. Jelasnya, saya sedang jatuh cinta pada keduanya, apalagi bila lagu “To Love Somebody”nya melayang – layang lepas di kamar saya HAHAHA.
Saya mungkin punya keterikatan emosi dengan teh yang saya minum seminggu ini. Padahal biasanya saya hanya minum teh Sari Wangi. Karena teh herbal saya yang saya bawa pulang dari liburan di RRC (Linjiang, Yunnan) setahun lalu pun masih awet banyak. Entahlah. Teh non-kantong beraroma khas dari kabupaten Slawi, yang saya minum ini kalau tidak salah namanya ‘teh Gopek’. Rasanya sedikit sepat di lidah. Kebetulan nama Slawi itu ‘rings a bell’ di kepala saya. Ya alasannya sih sedikit sentimental karena saya pernah berkunjung di daerah ini dan kerabat saya dari pihak bapak banyak tinggal di daerah sini, khususnya di dekat areal pabrik teh. Apa boleh buat, kakek saya dari pihak Bapak memang aslinya berasal dari Slawi tetapi pindah ke Tegal (atau sebaliknya?). Toh jarak Slawi dan Tegal tak jauh. Saya teringat aroma teh dari pabrik – pabrik teh saat saya, adik lelaki, keponakan yang sudah meninggal dan pak’lik saya naik pedati ke rumah pak’de saya di daerah luar kota Slawi sepuluh tahun lalu.
Rasa teh yang sangat kental membuat saya terhubung dengan berbagai kenangan lepas yang telah berlalu plus juga menjadi sebuah pengingat. Sedikit konyol juga sih kalau mengingat hubungan antara teh gopek ini dengan topik tulisan ini yang sebenarnya ingin membahas tentang ‘hubungan’ sepasang kekasih ataupun pertalian kasih. Tapi toh tak salah bila saya coba bagi kisah konyol saya ini. Toh ini hanya catatan pribadi saya. Ceritanya, saya membeli ‘teh gopek’ kala menunggu janji ‘ketemuan’ dengan teman lelaki teman saya yang terpesona dengan foto diri saya di notebook teman saya. Jadinya, karena menunggu janji yang rada ‘ngaret’, saat itu saya sudah benar – benar ‘bete tingkat tinggi’ jadinya berputar – putar di sebuah toko bernama tanaman Epifit di kota saya, yang kebetulan di lantai dasarnya ada sebuah resto keluarga bertajuk ‘Kayu Manis’ versi Inggris yang harus jadi tempat ‘kopi darat’. Jadi, sambil bĂȘte e ketemu teh ini. Mata saya langsung kontan ‘berwarna’ kala melihat tagline teh ini, “asli Slawi” HEHEHE. Ya, semacam menemukan sebuah koneksi dengan para kerabat di sana ataukah para leluhur yang telah berpulang. Karena saya percaya mereka mungkin juga pernah meminum teh yang sama *analisa asal HAHAHA.
Singkat cerita, si lelaki temannya teman saya, sebut saja dia Bob seperti tokoh dalam cerpen saya ‘SMS’ yang terinspirasi dari kisah pertalian saya dengan lelaki ini selama seminggu ini, ternyata masuk kategori ‘buaya darat’ tetapi ‘tergila – gila’ pada saya(atau memang sedang pasang jurus ‘rayuan tingkat tinggi’ HAHAHA). Jangan tanya bagaimana cara kerja saya yang kadang menurut beberapa teman terlalu ‘investigatif’ dan ‘googling’. Yang pastinya, saya mendapatkan banyak fakta tentang lelaki ini dan bagi saya ia masuk kategori ‘lelaki buaya darat’ HAHAHA. Jadinya beberapa hari lalu saya pun ‘menegur’ dia dengan banyak pesan singkat tentang gayanya yang ‘memurnikan’ status hubungan cintanya itu sebagai ‘lajang tanpa pacar’. Usut punya usut, ia menabur saham di mana – mana HAHAHA Tak hanya mem-PDKT saya tetapi juga beberapa perempuan lain. Anyway, kami hanya teman kok karena bagaimanapun saya sudah bertobat dari ‘being a seducer’ sejak tahun ini. Ya mau bagaimana lagi, untuk budaya saya, perempuan seperti saya punya kans untuk jadi penggoda dan saya memang mengakui sexual appeal saya yang lumayan cukup HAHAHA.
Saya ingat perkataan saya pada Bob hari Kamis kemarin terkait cinta. Saya bilang, “Sa heran kenapa ko masih bisa lemon sa, padahal ko pu cewek itu cantik skali lho. Lebih cantik dari sa malahan. Sa cuma rasa ko aneh saja. Cinta itu mahal lho, semahal luka.” Pokoknya banyak bertanya dan berbagi tentang pengalaman saya bertemu banyak cowok ‘brengsek’ yang mungkin hanyalah orang yang tidak tepat bagi saya. Saya ingat saya juga sempat bilang pada Bob, “Saya percaya ko dan cewekmu akan baik – baik saja dalam kam pu hubungan karena sa percaya bahwa tiap orang pu potensi untuk jadi manusia yang lebih baik ke depan, selama tong mo berusaha dan berkomunikasi dan percaya bahwa tong memang bisa jadi lebih baik. Itu saja. Sa percaya kam dua akan baik – baik saja. Satu yang pasti, tolong jaga ko perem pu perasaan ka eee, karena sa percaya trada perem yang rela pasangannya berbagi ‘perasaan’ dengan perempuan lain. Bob, ko tahu, sa akan rela untuk berikan semua sa pu uang dan kehilangan semua talenta yang sa miliki untuk bisa jatuh cinta yang dalam lagi yang mungkin seperti yang ko miliki sekarang dengan ko pu perem lho. Cinta itu mahal, semahal Luka!”
Saya mungkin sedikit sensitif dengan isu hubungan yang diwarnai pengkhianatan apalagi ‘buaya darat’ karena pengalaman masa lalu yang kerap dikhianati para mantan pacar. Padahal sekarang bila saya lihat lagi ke belakang, saya menemukan alasannya yang tepat agar tidak lagi menyesali yang pernah terjadi, apalagi bila membaca sebuah kutipan pembahasan di sebuah rubrik konsultasi di majalah kesayangan saya ‘Cosmopolitan’. Saya jadi punya alasan untuk semakin menikmati masa lajang saya yang entah kapan berakhir HAHAHA. Ini kutipan yang saya dapatkan beberapa jam lalu kala hendak tidur di sebuah Minggu Subuh:
“Hubungan yang baik adalah menjadikan kedua orang yang terlibat di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah yang bisa menjadi patokan.” (Alexander Sriewijono dalam rubrik ‘Ask Cosmo Anything’ edisi November 2011, hal. 47)”
Membaca kutipan bapak ini, saya merasa ada sebuah bel besar yang berdentang kencang di otak saya dan saya merasa bahagia. Ada pelajaran baru yang saya dapatkan. Saya pun jadi semangat dan mensyukuri hidup saya bahwa saya berpisah dengan semua mantan pacar saya karena saya memang harus berpisah dan itu bagi kebaikan kami. Mereka bukanlah orang ‘brengsek’ tetapi hanyalah mereka ‘tidak tepat’ bagi saya dan bila dipaksakan maka kami tak akan bisa menjadi manusia yang lebih baik. Ibaratnya kami adalah pasangan voltase listrik dan perangkat elektronik berbeda voltase. Bila terus dipaksakan bersama, yang ada hanya kemungkinan konslet ataupun rusaknya salah satu perangkat. Sesimpel itu saja sih sebenarnya. Kutipan di atas tak lupa saya bagikan pada beberapa teman termasuk si Bob itu. Semoga saja bermanfaat bagi mereka. Tak ayal balasan pesan dari salah satu sahabat saya yang juga sesama lajang dan pesannya seakan menjadi ramifikasi penjelasan dari pendapatnya pak Alex itu. Saya suka pesan dari sahabat saya ini:
“Itu su lama juga sa pikirkan. Coz 2 orang itu saling menolong, mendampingi, mengingatkan, menegur, memperbaiki, melengkapi. Jadi itu akan meningkatkan kualitas kedua – duanya.” (Ririe Namserna, 271111)
Malam ini saya mendapat banyak pelajaran berharga terkait hubungan dan saya pun teringat hubungan abadi saya dengan kekasih jiwa saya a.k.a Yesus apalagi bila mengingat perkataannya kemarin pagi dalam sesi saat teduh. Sampai saat ini memang saya masih belum menemukan lelaki yang bisa mengisi sempurna apa yang saya butuhkan dari sebuah hubungan. Mungkin karena saya sedikit perfeksionis tapi entahlah sejauh ini saya masih nyaman saja. Memang saya masih mudah jatuh cinta yang kata seorang teman lelaki, ‘membuat saya menjadi kelihatan murahan’ tapi entahlah, saya memang lebih suka jujur pada perasaan saya. Saya merasa ‘baik – baik saja’. Anyway, terkait kekasih jiwa saya, saya teringat pesan kiriman dari teman saya di Manado; Titien Liwutang, isinya begini:
“Jesus does not have a Blackberry or an iPhone but He’s my ‘favorite contact’. He doesn’t have Facebook but He’s my ‘Best Friend’. He doesn’t have Twitter but I ‘follow Him.’ He doesn’t have the Internet but I’m ‘Connected’ to Him.”
Malam ini saya sadar bahwa saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya masih menunggu belahan jiwa saya bila memang ia ada, masih tetap mudah jatuh cinta (tetapi mudah bosan juga), masih tetap juga tak tahan rayuan dan bujukan para keponakan saya yang ingin ‘ikut jalan – jalan belanja’ padahal ujung – ujungnya mereka minta dibelikan ini – itu termasuk aksesoris, es krim dan wewangian anak. Saya masih perempuan lajang umur 28 yang juga suka menulis tentang topik lepas tak jelas seperti ini HAHAHA.
Satu yang pasti, saya ingin menjadi manusia yang lebih baik bagi Yesus dan sesama terlepas apakah saya akan dapat kembali jatuh cinta dalam dan punya hubungan yang dalam dengan lelaki lagi di masa mendatang ataupun tidak.
The most important thing is saya ingin punya relasi yang lebih baik dengan kekasih jiwa saya (Yesus) dan mudah - mudahan terasa kental seperti teh Gopek yang sedang saya nikmati tetes terakhirnya malam ini, ataupun seseksi suara Michael Bolton dan tentu saja punya HUBUNGAN yang dalam lagi dan lagi di setiap detik hidup saya.
Saya (sadar) sedang jatuh cinta (bratz) pada hidup saya malam ini dan ini adalah sebuah HUBUNGAN!!!
Terima kasih Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kam tra kosong!!! Amen!
(Manokwari, 271111; refleksi subuh)
0 comments:
Post a Comment