We always have the nice view from this spot either in the sunny day or cloudy day. Yet, we haven’t had any idea who will either ‘pop up’ in the edge of the sight or go down to the bay. What remain is the nice view of the bay, mountain, and the sky. That’s it! *lesson from the edge of ‘Es Kelapa’ Manggoapi (131111)
Pelajaran itu yang saya dapatkan kala duduk dalam sebuah siang dua mingguan lalu. Kala saya menikmati pencapaian saya mewawancarai narasumber tulisan di Amban. Nah saat itu seperti biasa, saya memilih singgah sebentar di sebuah lapak penjual es kelapa di Manggoapi yang kebetulan tempat jualannya sangat sempurna pemandangannya. Saya suka duduk di sini dan menikmati pemandangan teluk, pegunungan dan juga sekaligus merenung tentang hidup. Salah satu tempat dimana saya merasa inilah alasan saya harus berada di kota ini karena kota ini cantik dan dapat mengajarkan banyak hal tentang hidup, cinta dan bagaimana menikmatinya. Saya melihat pelajaran dari tempat ini adalah apapun yang terjadi dalam hidup, hanyalah hal – hal kecil yang datang dan melihat tetapi esensinya adalah hidup kita tetap ‘cantik’. Hanya perlu melihat ‘gambaran besar’nya saja. Intinya sih mungkin “Don’t lose sight of the forest because the trees”. Jadi memang butuh ‘ganti kacamata’ saja ya HEHEHE.
Saya percaya tiap orang punya jenis pencapaian dan standar hidup serta filosofi yang berbeda. Setiap orang punya standar kesuksesan dan kebahagiaan sendiri. Ada yang merasa baru bisa bahagia dan terasa sukses bila sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri ataupun berganti – ganti gadget terbaru. Ada yang baru bisa mencapai rasa bahagia bila merasa sudah mengikuti tren busana terbaru, juga bisa nongkrong di tempat gaul di kota saya, ataupun sekedar mengoleksi tren kosmetik buatan luar negeri. Ada juga yang sepakat bahwa kalau berjalan – jalan dan berwisata ke luar pulau ataupun ke luar negeri adalah standar kesuksesan dan kebahagiaan. Ada yang bilang harus memiliki ‘banyak’ uang di rekening bank. Apapun yang dipercayai oleh tiap orang ini adalah pilihan mereka. Bagi saya, itu sah – sah saja karena itu pendapat mereka. Selama mereka bahagia asalkan jangan sampai tidak bahagia dan merasa jadi orang termalang di dunia kala tidak bisa mencapainya. Kalau tidak, maka perlu dipertanyakan kembali apa yang kita cari sebenarnya. Apakah itu kebahagiaan ataukah sekedar standar obsesi kita untuk dapat ‘diterima’ oleh orang lain dan mendapatkan sebuah ‘pengakuan’? Entahlah … saya bukan pikolog ataupun filsuf piawai yang pandai merangkai makna hidup.
Anyway, dalam salah satu bacaan wajib saya tiap bulan (Majalah Cosmopolitan Indonesia), saya mendapatkan beberapa kutipan yang sangat menarik dan bagi saya sangat menguatkan diri saya; seorang lajang pengangguran banyak acara berusia 28 tahun. Saya suka pengertian sukses a la Sophie Ellis Bextor ini, “Sukses berarti bisa mengendalikan diri sendiri, bisa terus berusaha dan berkarya tanpa henti, sembari bertahan menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup.” (Sophie Ellis Bextor in Cosmopolitan Indonesia edisi November 2011). Saat saya membaca kutipan ini, saya langsung bilang dan berteriak di depan cermin karena kebetulan saya membacanya di atas tempat tidur Queen Size yang berhadapan dengan cermin lemari. Saya hanya berteriak, “Hey, that’s my line!!!!” Iya, itu yang saya pikirkan selama ini khususnya pada poin ‘bisa terus berusaha dan berkarya tanpa henti’. Kutipan ini sangat menguatkan saya.
Saya juga mendapatkan kutipan lainnya dari Nia Dinata, dan saya sangat merekomendasikannya pada para perempuan. “Bagi perempuan, pastikan dulu apa passion anda. Bagi saya itu memerlukan proses. Expose so many possibilities and don’t be afraid to try. Saat sudah yakin dengan pilihan anda, jangan ragu untuk menekuninya. Tapi yang anda harus ingat, saat ternyata hal itu tak cocok untuk anda, jangan pernah ragu untuk berhenti dan memulai dengan yang lain.” (Nia Dinata in Cosmopolitan Indonesia edisi November 2011).
Entahlah, kata – kata Nia ini resounds di kepala saya dan saya bilang, ‘sa tahu apa yang sa mau’. Saya ingin tetap menulis karena saya cinta menulis, saya ingin menulis menjadi salah satu ciri saya saya untuk bisa bahagia. Saya bahagia dan merasa sukses kala saya bisa menyelesaikan sebuah tulisan yang jujur tentang sesuatu, sekonyol apapun itu di mata orang lain. Saya menemukan passion saya dalam hal ini, karena sewaktu menulis saya menjadi jujur dengan diri saya, saya tak perlu jadi orang lain, saya menjadi diri saya sendiri.
Saya akhir – akhir ini juga mulai semakin jujur dengan gaya saya. Saya ingin jujur dengan fashion dan pakaian ataupun aksesoris yang saya kenakan karena bagi saya, ‘style reflects personality’. Kepribadian saya tercermin dalam gaya saya. Saya cinta kebebasan, saya cinta alam, saya cinta beragam warna, saya suka manik – manik, saya suka sesuatu bergaya etnik. Bagi saya, saya ingin memakai apa yang saya suka walaupun itu bukanlah sesuatu yang sedang trend saat ini. Saya bukan perempuan yang suka mengikuti trend fashion yang bukan ‘saya’. Sejak kecil saya bisa merancang dan membuat desain fashion saya sendiri. Itulah sebabnya saya paling tak ingin mengikuti apa kata orang lain tentang fashion. Saya ingin kelihatan cantik walaupun mungkin tubuh saya sedang sangat ‘ba-lemak’, sedang tak ‘cantik’ menurut para ahli kebugaran. Saya tak peduli.
Saya hidup di sebuah kota kecil yang baru ‘kaget pembangunan’ dan saya tetap ingin jadi diri saya sendiri. Saya tak peduli dengan gerai busana dan sepatu yang menjamur di kota saya, karena saya ingin gaya dan tulisan saya jujur tentang diri saya. Itu saja.
Bagi saya, inilah yang saya sebut BAHAGIA dan SUKSES kala saya “Bisa melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya lakukan!” Sesimpel itu sebenarnya.
Dan pendapat orang di luar sana tak akan membuat saya berhenti menjadi diri saya sendiri walau mungkin saya hanya punya sedikit uang untuk bertahan hidup.
Bagi saya, ini panggilan hidup. Itu saja!
(Manokwari, 281111)
0 comments:
Post a Comment