Search This Blog

Loading...

Saturday, 12 November 2011

Refleksi Seminggu

Kusesap kopi susu, ditemani hujan yang turun dengan deras sejak tadi, suara Des’ree dalam album ‘Supernatural’ dan kuputuskan menulis refleksi mingguanku.

Beberapa hari ini aku sempat mengalami kekeringan rohani, hilangnya semangat untuk dekat pada Tuhan. Saat teduhku berantakan. Tapi, thanx God, 2 hari terakhir, ada panggilan darurat dalam diri untuk kembali mengisi energiku karna jujur aku merasa sangat kosong, hampa dan tak punya kekuatan untuk hidupku. Ada yang hilang, dan aku tahu aku merindukan Tuhan.

Aku lupa, dua hari kemarin saat benar – benar bingung dengan hidupku, aku diingatkan untuk membaca satu pembacaan Firman. Malam itu, dalam hatiku bilang begini, “May, baca I Samuel 20 eeee”. Tak tahu itu pembacaannya tentang apa, kubuka Alkitab. Tentu saja usai berdoa. Nah ternyata kisahnya tentang pesahabatan Daud dan Jonathan. Aku belajar banyak hal dari cerita ini, bagaimana Jonathan bisa “mengkhianati” ayahnya si Saul demi sahabatnya. Bagaimana mereka berjanji untuk saling setia sebagai sahabat dan menjaga janji suci mereka. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka harus berpisah dalam tangis. Pasti berat sekali. Mungkin itu pula yang jadi pertemuan terakhir mereka. Seharusnya ada cerita yang dibuat tentang persahabatan ini. Usai membaca kisah ini, aku diingatkan untuk bisa melihat hubunganku dengan Tuhan ibarat antara Daud dan Jonathan ini. Sebuah persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Benar – benar diingatkan malam itu.

Hari ini, aku bangun kesiangan karena memang terbuai dengan hujan yang turun sejak pagi. Hujan deras tanpa henti. Benar – benar jadi lullaby! Anyway, saat bangun aku diserang rasa rindu yang sangat besar pada Tuhan, sangat besar sekali. Hari ini bahkan aku merasakan kerinduan untuk menyanyi untuk Tuhan, menyanyikan rasa ini. Rasa yang tak dapat kujelaskan. Rasa yang membuatku merasa sangat jatuh cinta. Iya, sangat jatuh cinta pada Tuhan. Jadi usai ritual pagi segala macam, Kuputuskan mengambil Alkitabku dan berdoa. Pembacaan yang terbuka bagiku secara acak hari ini di Mazmur 51 “A prayer for forgiveness”. Benar – benar Tuhan tahu apa yang tepat pagi ini bagiku. Lirik puisi doa ini benar – benar apa yang kurasakan. Satu yang pasti, aku tahu bahwa Tuhan sangat baik bagi hidupku. Sangat baik!

Karena catatan ini tentang refleksi seminggu ini, aku bisa bilang bahwa Tuhan sangat baik dalam hidupku. Sangat baik!

Cinta? Ah aku bahkan sudah kehilangan sensasi rasa cintaku pada manusia. Bahkan respon Q pada fotoku dan seorang kerabat jauh tak membuatku merasa ‘bagaimana’ walaupun makin sadar bahwa laki – laki ini persis seperti ‘sontong’ =D Benar – benar tak layak berdekatan lagi dengannya. Untungnya memang aku sudah menjaga kontak dan bahkan menghapus nomor ponselnya sejak seminggu terakhir jadi perkataannya ke saudaraku terkait foto di BBMnya tak terlalu membuatku merasa ‘bagaimana getho’. Anyway, Aku harus membuat pengakuan. Seminggu ini aku bahkan tak terlalu memikirkan lelaki untuk kujadikan pacar walau masih tetap suka mengganggu teman – temanku dengan frasa “carikan sa pacar ka?” HAHAHA. I just enjoy to say those words. Walau dalam hati, harus kuakui saat ini aku bahkan tidak merasakan sebuah passion untuk punya pacar, punya seseorang untuk berbagi karena isi dalam otakku dan hatiku sedang penuh sejak aku menemukan gairah baru dalam menulis. Apalagi selama dua hari besok, aku dilibatkan sebagai pemateri dalam sebuah workshop menulis di fakultas Sastra. Berbagi cerita tentang menulis ‘blog’ dan travel writing. Sebuah kegiatan yang memungkinkan aku berinteraksi dengan banyak orang. Iya, sebuah kegiatan yang membuat aku merasa ‘hidup’. Menulis mungkin passion terbesar yang kupunya sejak lama. Iya, karena bila ditarik garis ke belakang, aku baru sadar kalau aku sudah menulis sejak SMP, walau saat itu dalam bentuk surat. Aku memang gemar korespondensi sejak SMP dan punya beberapa sahabat di luar Papua. Pada mereka, aku kerap berbagi kabar, bercerita tentang Papua, bercerita tentang hidup. Sayangnya, aku sudah tak tahu alamat mereka sekarang. Aku berutang banyak pada mereka yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. Ini utangku, aku harus menulis sebuah catatan yang kudedikasikan untuk mereka. Iya, itu janjiku.

Persahabatan? Wah ini topik menarik. Aku merasakan persahabatan sedang bagus minggu ini, baik hubungan dengan miss gaul Cs, sahabat lamaku bahkan dengan miss Internet. Termasuk dengan kerabat jauhku yang sekarang kami jadi teman curhat HAHAHA. Semuanya baik – baik saja. Tak ada masalah. Aku hanya ingin jadi sahabat yang baik tapi tak ingin terlibat secara emosi terlalu dalam dengan mereka. Jadinya ya aman – aman saja. Apalagi mengingat makan malam antara diriku, miss gaul dan miss perfect tadi malam di kafe kayu manis. Benar – benar perfect. Lajang, muda dan punya banyak ide. Kami tertawa berbagi kisah cinta, visi dan konsep hubungan. Benar – benar girl talk. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di sekeliling kami yang melihat paduan wajah kami yang berbeda. Ada miss gaul yang berjilbab tapi pacarnya cowok yang lebih muda 8 tahun dan ketua kaum muda Katolik *inilah ajaibnya sahabat – sahabatku. Juga si miss Perfect yang tak ada celah, wajah nilai 9, tubuh seanggun Jennifer Lopez tapi jangan pernah coba kekuatan mulutnya, bagaimanapun ia tetap cewek Maluku HAHAHA. Sedang aku, memakai baju off semi-off shoulder, berambut keriting mekar warna pirang coklat dan celana pendek. Kami memang cuek. Yang pasti, mereka memang sahabat – sahabat yang bisa kukirim SMS apapun, tengah malam pula. Hubungan dengan sahabat masa kecilku masih berjalan aman – aman. Si Angel cewek Jawa sahabat sejak SMP ini anaknya lagi ulang tahun kemarin, dan sore ini aku harus mengantar kadonya dan anaknya. Kami jarang bertemu sekarang, tapi ia akan tetap menjadi penyemangatku. Aku hanya tak mau mengganggu saja. Untuk semua persahabatan yang kumiliki, aku hanya bisa bilang, ‘I do enjoy this sort of feeling’. Thanx Jesus.

Tentang cinta terbesar dalam hidupku, minggu ini aku juga dihibur para keponakan – keponakanku yang ajaib. Aku merasa sangat bahagia diberi para keponakan yang membuatku banyak tertawa, terhibur dan tentu saja merasa sangat hidup. Apalagi keponakan andalanku si Eu. Eu memang batita cerdas. Itu yang kutahu. Aku merasakan sebuah keajaiban yang berlari di depan mataku, yang harus kuakui. Dia sedang gemar menghubungkan, mengasosiasikan antara kata dan makna. Aku suka sekali mengenalkannya dengan kata baru khususnya kata benda. Jadi bila ia memegang sesuatu, maka akan kusebutkan nama benda itu. Dan ia mengikutinya. Kadang – kadang kami membuatnya menjadi permainan dan guess what, ia yang jadi inisiatornya. Ia akan cepat – cepat memegang tiap benda di dekatnya dan aku harus cepat – cepat menyebutkan nama benda itu. Aku yakin, ia mewarisi otakku yang cerdas sama seperti si Ochil yang akan genap lima tahun usianya bulan ini.

Echi minggu ini sedang ingin mogok sekolah. Sudah 2 hari ia mangkir, kemarin ia juga malah menangis dalam kelas minta pulang. Sejak bapaknya ikut prajabatan minggu ini, Echi kehilangan semangat belajarnya. Ia sangat dekat dengan adik lelakiku apalagi adikku yang memang staf pengajar di sebuah SMK ini setiap malam harus membimbing anak perempuannya ini belajar, seperti menarik garis, menulis angka dan huruf. Bahkan lebih parahnya, Echi memang didapuk sebagai anak andalannya si ‘bapa Nyong’ panggilan khasnya adikku.

Si Muel alias keponakan lelakiku, anak kakakku malah lagi tergila – gila dengan boneka singanya. Padahal boneka anjingnya sudah kusembunyikan. Kami hanya takut ia jadi sedikit ‘nona manis’, walau harus kuakui kalau kedua saudara laki – lakiku awalnya juga begitu sewaktu kecil. Namun, guna meminimalisir hal tersebut, tak ada salahnya mulai melakukan langkah preventif, bukan. Padahal si Echi tuh sangat tomboy sungguh mati.

Ochil minggu ini juga baru sembuh sakit jadinya ya sangat kurus dan rambutnya juga dipotong pendek. Tak ada lagi rambut sarang burung itu HAHAHA.

Anyway, minggu ini aku juga baru saja mem-bleach rambutku menjadi pirang kecoklatan. Lagi bosan dengan warna rambutku HAHAHA Hanya ingin sesuatu yang beda sementara waktu. Bagiku, membuat rambut pirang tak ada bedanya dengan para orang tua yang mengecat hitam uban mereka ataupun mereka yang meluruskan rambut. I am not my hair, seperti katanya India.Arie.

Tampaknya catatan ini harus kututup. Sudah banyak rencana gila yang bertebaran di kepalaku. Sangat banyak. Masa hipomania? Mungkin HAHAHA.

Thanx Jesus for my life. Amen

(Manokwari, 061111)

0 comments: