Search This Blog

Loading...

Monday, 14 November 2011

Orang Manokwari dan Sirene Fasharkan

“NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUIIIIIIIIIINNNNNNGG!!! NGUUUUUUUUUUUUUUUUUIIING!!!”


“Maku, tuh barang apa yang bunyi ka?” tanya Joni di suatu pagi beberapa tahun silam pada sepupunya yang tinggal di daerah Fanindi. Ini pagi pertama Joni di kota Manokwari karena ia baru saja diterima sebagai mahasiswa sebuah universitas negeri lokal di daerah Amban dan bunyi sirene pagi yang membahana keras dari arah sebuah teluk membuatnya terkaget – kaget. Apalagi dari sebelah rumah Maku, beberapa mama sibuk menyuruh anak mereka pergi sekolah. “Woi, tempo. Sirene su bunyi tuh. Kam tunggu jam berapa baru pi skolah ka?”, teriak seorang mama dari samping jendela. Joni semakin terkaget – kaget melihat anak – anak sekolah bereaksi terhadap sirene.


Beberapa tahun kemudian, saat sedang bernostalgia dan mengunjungi Manokwari, Maku terkaget – kaget dengan suara - suara di kota Manokwari. Ada yang hilang dari ruang dengarnya kala tinggal dengan kerabatnya di Fanindi, ada pula suara baru yang bertambah dan ia pun terus bertanya, “Kenapa suara sirene itu sudah tak lagi terdengar jelas ya? Sebenarnya tuh sirene apa ya? Sejak kapan ada di kota Manokwari?” Dan beberapa pertanyaan lain yang muncul terus.


Cerita di atas tentu rekaan semata. Namun, apa yang ditanyakan oleh Joni itu persis sama yang ditanyakan oleh teman saya Nunang May (27 tahun) seorang dosen Fakultas Kehutanan UNIPA saat kami bertemu di sebuah warung makan dekat kampus UNIPA beberapa minggu silam. Saya dan Nunang sama – sama anak Manokwari yang lahir – besar di kota ini dan beredar di seputaran Fanindi. Kebetulan Nunang baru saja menyelesaikan studi pascasarjananya selama 2 tahun di Bogor jadi ia penasaran dengan bunyi yang lumayan membuatnya rindu Manokwari. Pertanyaan Nunang ini langsung menyentil pikiran saya, “iyo eee, sa juga su lama tra terlalu jelas dengar barang ini, padahal ini barang yang sa dari kecil dengar akan baru. Adooh apalagi sa memang juga makhluk nokturnal jadi su jarang – jarang dengar akan ka ini karna jam tidur lambung jam sirene bunyi jadi.”


Terinspirasi dengan permintaan teman saya Nunang untuk menulis tentang bunyi sirene ini walau masih saya cicil HEHEHE. Saya pun inginmelakukan riset kecil terkait ‘bunyi khas’ kota Manokwari dan kaitannya dengan kenangan historis ataupun indikator waktu serta peran sosialnya. Tulisan ini tentu saja seakan membawa saya kembali mengingat pengalaman tinggal beberapa tahun silam di ibukota Australia; Canberra yang mana dari rumah saya yang arealnya dekat dengan danau tiap saban tengah hari dan sore hari pasti mendengar alunan musik klasik dari sebuah pulau buatan, tepatnya dari National Carillon. Anggap saja saya sedang membayangkan ikon bunyi Sirene ini ibarat bunyi dentang Big Ben bagi penduduk London sana HEHEHE.


KATA ORANG MANOKWARI

Pada bagian pertama catatan ini, saya ingin membahas apa sih pendapat orang Manokwari terkait bunyi sirene ini dan bagaimana kaitan bunyi sirene ini dengan hidup mereka. Saya mencoba memaparkannya dari sudut pandang warga Manokwari ditinjau dari segi etnis mereka. Baik dari pandangan orang Manokwari yang asli Papua maupun non-Papua. Ini hasil ‘tangkapan’ informasi saya:


Okky Sahetapy (25 tahun), seorang teman yang tinggal di daerah Jalan Nusantara Wosi tetapi sekarang bertugas di kabupaten lain saat dihubungi via pesan pendek bertutur bahwa ia sewaktu masih tinggal di Manokwari juga mendengar sirene ini. Menurutnya, sirene itu sangat penting untuk menunjukan waktu, walau ia tak tahu tepatnya itu pukul berapa. “Tapi sekarang udah mulai - mulai berkurang bunyinya di karenakan aktivitas kendaraan yang beraktivitas pagi hari.” Karena sewaktu SMA ia bersekolah di SMAN 2 di daerah Wosi dalam, ia mengatakan bahwa dirinya masih bisa mendengar bunyi sirene itu dari areal sekolah.


Indah Ratna Ningtyas (20 tahun) seorang mahasiswi jurusan Biologi UNIPA yang besar di Manokwari dan tinggal di daerah Reremi Lurus berkisah ia juga kerap mendengar sirene ini walau ia tak begitu yakin jam berapa sirene ini berbunyi tepatnya. “Kayaknya ada 3 kali sehari ka, kaka. Ada yang jam 7 pagi, macam yang jam 9 ka begitu, trus ada yang sore. Cuma kaka cek lagi ee waktunya, pokoknya pagi dan sore ka”. Menurutnya, sirene pagi mengingatkannya pada pengingat proses pergi ke sekolah.


Lain lagi cerita Maria Ondy (23 tahun), mahasiswa Fakultas Kehutanan UNIPA yang sedari kecil tinggal di Wosi AMD Manokwari bertutur bahwa ia mendengar bunyi sirene ini sejak masih SD hingga SMA. Menurutnya, sirene berbunyi dua kali. Pertama, pada pukul 6.30 pagi dan kedua, pada pukul 7 pagi. Saat ini, ia jarang mendengar sirene. “Abis sa juga skarang bangun pagi su di atas jam 7 jadi, mungkin akan masih bunyi ka. Tapi kadang – kadang sa bangun pagi tapi su tra dengar ka ini.” Menurut perempuan Sentani pernakan Serui ini, peran sirena cukup membawa kenangan masa kecilnya muncul kembali. “Kalo sirene pertama yang jam setengah tujuh pagi tuh, sa ingat akan jadi tanda untuk jam mandi persiapan pi sekolah. Nan kalo sirene kedua, artinya sa su harus jalan pi sekolah, kaka.”


Saat saya tanya tentang kira – kira ia tahu letaknya lokasi sirene ini. Mia, demikian ia akrab disapa mengiyakan. Menurutnya, sirene ini terletak pada sebuah tower atau menara di gedung yang bentuknya mirip huruf T. “Tapi letak persisnya sa tra tau ee, kaka. Tapi sa pernah main ke areal sana dulu eee,” jelasnya.


Mitha (28 tahun) sahabat saya yang tinggal di daerah seputaran Reremi Pemancar yang juga sahabat saya bercerita tentang sirene ini di kiosnya (02/11/11). Menurutnya, sewaktu belum pindah ke Reremi dan masih tinggal di Fanindi ST, ia dan saudara – saudaranya punya kenangan khusus terkait sirene ini pada masa kecil. Sirene ini berbunyi tiga kali sehari: pukul 06.30 dan 7 pagi serta pukul 3 sore. Sepengetahuannya, asal sirene ini dari daerah Angkatan Laut sana (Fasharkan). Ia mulai mengerti tentang sirene ini sejak tahun 1989, semasa kelas 1 SD karena sirene ini terkait dengan ‘urusan sekolah’. “Adooh May, kalo sirene su bunyi pertama tuh, sa deng sapu sodara – sodara tong su lari baku rebut kamar mandi ka ini. Tong su baku taru mandi karna su mo skolah ka ini. Jadi pasti rame di rumah.” Baginya, sirene ini menjadi sebuah indikator waktu dan ‘pengingat’ pergi ke sekolah.


Hal ini rupanya masih berlanjut hingga masa kini sewaktu bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah laboratorium Dinas Perikanan. “Kalo sa deng teman – teman su dengar sirene sore yang jam 3 tuh, macam tong langsung rasa lapar skali eee, karna tong tahu su sore ya, macam kerja langsung gerakan karna tong su mo pulang.” Namun, sahabat saya ini menambahkan kalau suara sirene yang ia dengar ini tak terlalu besar. Hal ini rupanya dibenarkan oleh adik lelaki Mitha; Elly. Elly (23 tahun) berpendapat kalau penyebabnya mungkin karena arus lalu lintas yang ramai di Manokwari sehingga suaranya tak sejelas di masa kecil. “Kendaraan su rame too kaka, apalagi pas pagi dan sore tuh. Jadi mangkali de pu suara tatutup kapa jadi su tra jelas skali di sini,” kilahnya.


Bagaimana pandangan antropolog terkait sirene ini. Saya berhasil menjaring pendapat Adolf Ronsumbre (31 tahun), dosen Antropologi Fakultas Sastra UNIPA yang kebetulan tumbuh besar di kawasan perumahan Angkatan Laut Sanggeng, tempat asal bunyi sirene. Pak Olof, begitu ia akrab disapa, berbagi pendapat pada sebuah siang (02/11/11). Menurutnya, Sirene ini berbunyi tiga kali: 6.30 dan 6.45 pagi serta jam 3 sore. Ia mendengar dari almarhum bapaknya yang pegawai sipil di Fasharkan kalau bunyi sirene itu mengindikasikan tentang persiapan apel, jam kerja dan jam pulang kerja. Itulah sebabnya pada sirene kedua, ada jeda sekitar 15 menit untuk tanda apel pagi bagi anggota militer dan karyawan sipil di instansi ini. Sepengetahuannya, sirene itu dibunyikan oleh anggota piket Fasharkan yang terdiri atas anggota militer dan sipil. “Sa lupa tepatnya komposisi anggota piket itu, May. Dulu setahu sa, dari cerita sa pu almarhum bapa, ada 2 dari sipil, sisanya dari militer,tapi setiap 8 jam” ungkapnya. Selain mengindikasikan jam kerja, sirene ini juga selalu dibunyikan pada pergantian tahun yang sering disebut “Kunci Tahun” di Manokwari. Saat itu, tepat pukul 12 malam, sirene akan berbunyi 3 kali. Secara pribadi, Ronsumbre ini bertutur bahwa bunyi sirene ini menjadi sebuah tanda untuk bersiap – siap dan pergi ke sekolah.


Ditinjau dari sisi antropologi, Ronsumbre yang menyelesaikan S2 Antropologinya di UGM ini berpendapat pada sirene Fasharkan ini telah menjelma menjadi simbol dalam kehidupan masyarakat kota Manokwari. Hal ini karena sirene ini mempunyai banyak representasi arti dari bunyi sirene itu sendiri. Tak hanya bagi pegawai dan anggota militer Fasharkan sebagai ‘pemilik’ suara sirene tetapi juga berbagai kalangan orang Manokwari yang mendengar bunyi sirene ini. Bagi anak sekolah, ini menjadi sebuah penanda pergi ataupun pengingat ke sekolah. Bagi beberapa kalangan masyarakat nelayan di seputaran perairan Sanggeng, sirene sore menjadi penanda waktu. “Kadang – kadang, orang – orang yang pi mincing ikan ka melaut di sekitar perairan sini sampe ke PKN sana kalo su dengar sirene sore, dong su tahu tuh jam 3. Jadi kadang ada yang mo pi sembayang sore, dong gerakan pulang ka ini. Biar tra bawa jam juga dong tahu waktu karena dengar sirene jadi, ” akunya. Hal seperti inilah yang mendasari alasan ia berpendapat bahwa sirene telah menjadi salah satu representasi simbol di kota ini.


SIMPULAN

Sirene fasharkan menjadi sebuah simbol yang menyuarakan pesan yang berbeda di kota saya Manokwari. Ada yang menganggapnya sebagai ‘jam alarm’ pergi ke sekolah, ada yang menjadi pengingat jam kerja. Ada pula yang menjadikannya sebuah indikator pulang. Apapun pesan yang disebarkan oleh sirene ini, semoga saja di masa mendatang bunyi sirene ini akan tetap ada walau lambat laun akan tertelan oleh polusi bunyi di kota ini. Bagi saya, sirene ini memainkan sebuah kepingan kenangan masa kecil yang manis, kala sekolah adalah sebuah surga belajar yang menyenangkan.


(Manokwari, 141111; thanx untuk semua narasumber)

0 comments: