Bila Bogor didapuk sebagai kota Hujan, Melbourne sebagai kota ‘four seasons in a day’ maka Manokwari layak menyandang gelar ‘kota hujan lokal’ selain gelar kota buah – buahan dan kota Injil. Ini tentu saja pendapat pribadi saya. Semuanya berawal dari curah hujan di kota Manokwari yang cukup tinggi bahkan turun hujannya yang sesuka hati ini mematahkan prediksi badan BKMG lokal beberapa bulan lalu yang mendapuk datangnya musim panas di sejak bulan September. Sayangnya, prediksi itu tinggal prediksi karena hujan di kota saya masih saja datang sesuka hati.
Di kota saya, hujan lokal memang datangnya sesuka hati. Saya pernah punya pengalaman ‘salah kostum’. Rumah saya di Fanindi ST jadi kalau hendak pergi ke areal kampus UNIPA di Amban sana, kadang di kompleks saya, hujannya sudah deras sekali, tahu – tahunya saat mendekat pertengahan jalan mendekati kampus, jalannya itu benar – benar kering bahkan orang – orang berjalan kaki dengan santainya karena tak ada hujan. Jadinya saya yang memakai mantel dan basah menjadi pemandangan yang menggelikan. TAPI, saat mendekati ruas jalan masuk gapura, e tiba – tiba jalannya sudah basah lagi dan hujannya sama dengan di kompleks saya, padahal kompleks saya dan daerah kampus itu letaknya tidak linear alias seakan di timur dan barat, kompleks saya di dekat teluk dan kampus di areal bukit yang jauh. Belum lagi terlanjur memakai pakaian hari hujan lengkap dengan jaket tebal atau sweater. Padahal beberapa jam kemudian, cuacanya berubah jadi sangat panas. Ini bukan pengalaman satu – satunya yang saya alami. Kadang juga di areal teluk Doreri terjadi turun hujan lokal. Misalnya di Kota (areal sisi teluk teluk dekat pelabuhan) hujannya turun deras, tapi di Sanggeng (areal teluk yang berseberangan), panasnya menggigit. Begitu juga di Wosi, bisa saja di Sanggeng lagi hujan, e di Wosi malah cuma panas ataupun mendung. Tak heran, jangan lupa selalu menyiapkan payung dan mantel hujan adalah saran terbaik yang bisa kita lakukan di Manokwari. Sangat tak menyenangkan sedang naik motor dan tiba – tiba disambut hujan deras di tengah deras, ataupun hujan yang ‘lari’ (awan hujannya terbawa angin).
Beberapa bulan ini kota saya juga beberapa kali dikunjungi efek badai tropis Pasifik barat daya. Saya lupa sudah beberapa kali surat lokal memuat berita ini. Dampak badai lokal yang berimbas pada cuaca Manokwari ya biasanya seperti ini: guruh besar yang seperti ‘orang langit lagi latihan drum’ atau ‘ada sepasang suami istri yang sedang berkelahi dan banting – banting piring’, kilat keriting yang berlari terus – menerus, mungkin lengkap dengan anak petirnya, dan tentu saja angin besar yang bisa dipakai menerbangkan ratusan layang – layang setinggi mungkin. Tak lupa hujan deras yang turun terus menerus. Bukan hal baru di Manokwari untuk punya hari hujan selama berhari – hari. Pemandangan biasa bagi saya, apalagi hujan paginya. Benar – benar sangat biasa bagi saya.
Manokwari dan hujan bukan hal baru sejak kecil bagi saya. Apa mungkin karena letak kota Manokwari yang benar- benar ‘terjepit’ ya? Maksud saya berada di pinggiran laut dan sedikit berbukit – bukit tetapi juga langsung berbatasan dengan dearah pegunungan yang tingginya hingga 3.000an meter di atas permukaan laut sana ya. Mungkin harus saya cari tahu di BMKG suatu hari nanti. Anyway, satu hal yang selalu membuat saya rindu pada Manokwari ya karena cuacanya ini dan bagaimana orang Manokwari merespon hujan di kota saya.
Saya sebagai anak Manokwari bisa dengan bangga bilang kalau Orang Manokwari khususnya anak =- anak dan kaum mudanya pecinta hujan. Tak percaya? Coba luangkan waktu saat hujan deras turun beberapa hari khususnya pada sore hari. Di saat seperti itu, di pinggir – pinggir jalan perumahan hingga jalan – jalan protokol, anak – anak kecil dan kaum mudanya berlarian dan berjalan sambil bermandian hujan. Ada yang bahkan membeli shampoo untuk keramas di bawah rinai hujan. Ada yang berlarian dan bermain sambil berjalan dari satu kompleks yang lain. Bahkan saya pernah melihat anak – anak dan remaja di kompleks pesisir laut memutuskan ‘mandi hujan’ alias ‘hujan – hujanan’ ke pantai dan diakhiri dengan ‘mandi – mandi’ (berenang dan bermain air). Tradisi ‘mandi hujan’ inilah yang membuat saya sangat rindu Manokwari bila berada di kota lain bahkan sewaktu di Australia.
Bagi saya hujan di Manokwari berbeda, sedikit hangat dan rasanya beda. Apalagi usai hujan, aroma tanah di Manokwari bagi saya terasa beda, sedikit harus khas tanah segar. Percayalah, saya pernah ‘mandi hujan’ sewaktu tinggal di Jakarta, Manado, Jayapura dan Canberra, ataupun menikmati jalan – jalan dalam hujan dengan berpayung sewaktu liburan di Biak, Padang, Melbourne dan Apollo Bay. Tak ada yang bisa menggantikan aroma tanah usai hujan di Manokwari atau hangatnya air hujan apalagi pendaran lampu jalan. Terasa sangat khas tropis dan basah namun segar. Bau hutan!
Satu yang pasti, bagi saya bila menyebut Manokwari tanpa hujan rasanya tak lengkap. Bagi saya, hujan adalah satu berkat Tuhan bagi orang Manokwari. Itu saja.
(Manokwari, 111111)
0 comments:
Post a Comment