Search This Blog

Loading...

Friday, 25 November 2011

Cerpen - SMS

PROLOG

Ia tak pernah tahu ia berurusan dengan siapa. Ia tak perlu tahu. Yang ia perlu tahu hanyalah ia salah memainkan ‘kartu’nya, salah memainkan hati, dan tentu saja salah berurusan dengan diriku. Tentu saja aku menikmati permainan ini. Sangat menikmati selingan di sela – sela kesibukanku ‘berbisnis informasi’ di tanah ini HAHAHA Dan aku sangat benci PENIPU!!!

***

Makassar, 3 November 2011

Pak Donny baru saja selesai menerangkan rangkaian pembahasan pengisian sampel acak dari blok sensus yang akan kami garap dalam survei minggu depan. Beberapa rekan mulai mengeluh tentang pembagian wilayah, aku tak luput juga dalam kelompok ini. Kami tepatnya meminta pergantian wilayah sensus. Tak sanggup saja rasanya harus bekerja hanya 3 hari di tempat yang terisolir untuk mewawancarai 10 responden, plus harus mengurus perijinan di tiga instansi yang berbeda. Alamak, asuransi kesehatanku tak cukup kuat menanggung biaya opname jangka panjangku usai survei HAHAHA.

“Bip – Bip – Bip,” sebuah SMS masuk dari nomor ponsel baru tepat pukul 5 sore kala penjelasan baru saja kelar. Kulirik teman setim-ku yang sedang sibuk membuat coretan nomor kontak dan segala macam tetek bengek dari catatan penjelasan tadi.

‘Hai, ini Day ya?’, bunyi pesan siluman itu.

‘Iya, siapa nih?’ tanyaku cuek dalam barisan huruf pembentuk makna.

‘Nih dari Bob’, jawab si ‘siluman SMS’ itu.

‘Bob siapa eee’, balasku.
‘Temannya Chel,’ jelasnya.

Singkatnya, pembicaraan untuk nongkrong di pantai Losari bersama beberapa kenalan dan merasakan Pisang Epe on the spot di Makassar pun berbaur dengan balasan pesan silih berganti dari ponselku yang sudah layak dipakai melempar anjing saking uzurnya. Menghabiskan pulsa gratis dari sebuah operator pesan plus mengusir galau menghirup udara yang cukup tak ramah di paru – paruku. Sesak napas! Aku percaya saat itu di atas langit sana pesan – pesan singkatku untuk siluman SMS bernama Bob sedang balapan ramai di lapisan Ionosfer dengan ratusan SMS. Entah apa ada Polantas-nya di sana atau tidak. Entah menabrak malaikat pembawa pesan Tuhan dan pengantar doa, entah berjibaku dengan kilatan petir dan butir es, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku sedang memakai satu bukti teknologi hasil karya manusia yang mungkin hanyalah mimpi – mimpi senyap tulang belulang leluhurku beribu ataupun beratus tahun silam.

***

Gerombolan anak kecil berkaki telanjang sibuk memainkan gitar mini dan menyanyi dengan suara cempreng, berlarian mengejar aku, El dan Dee di salah satu landmark kota Makassar. Jarum jam baru saja merayap cantik di pukul 7 malam. Pantai Losari tetap saja ramai. Lampu taman berpendar tajam membiaskan, tepatnya membalut hembusan debu yang beterbangan. Para remaja hilir mudik mencari areal berfoto. Ada yang sumringah menebar senyum dalam kamera. Ada yang memasang mulut monyong, entah meniru ekspresi orang ‘mati berak’ atau memang sedang terkena penyakit ‘Bell’s palsy’. Entahlah! Bukan urusanku.

Beberapa pesan pendek masuk lagi di ponsel ‘anti peluru-ku’. Bertanya ini – itu. Si siluman pesan ini ternyata terlalu gigih mengirimkan SMS. Jadi penasaran, kucoba bertanya pada Chel via pesan pendek. Rupanya foto petaka yang membuat si siluman SMS muncul HAHAHA. Hanya karena beberapa digit kilobyte rekam jejak wajahku yang berambut pirang asli cat sendiri dengan celana pendek bersama Chel, si siluman jadinya menghabiskan pulsa untuk bertanya ini – itu sok penting padaku. Sok perhatian!!!

Malam itu, pesan siluman tak terlalu kugubris. Ini malam pesta aku, El dan Dee. Benar – benar menikmati alunan musik Jazz dan reggae di depan gedung kesenian Makassar. Surga untuk diriku yang sudah setahun lebih dipaksa mendengar rekaman Mp3 dan bukannya live music yang sangat ‘Day’ banget. Tak tahan rasanya bila tak bergoyang, sampai – sampai aku ingin meng-kargokan pemain saxophone-nya. Entahlah itu sax jenis sopran atau alto. Telingaku kurang peka HAHAHA. ‘Para – para nasi kuning’ jadi saksi saat telinga kami dibuai alunan suara penyanyi Jazz itu. Tak lupa syaraf tawaku sejak tadi sudah terlanjur lumer dihajar ‘mop’nya Dee. Mop tentang singa dan Gajah.

Sekali lagi tarikan nafas si penyanyi cewek menghiburku, sebelum keburu dipotong suara perusak mimpi – mimpi nada surgawi dari si bapak pejabat tinggi kota ini. Gosh, mendingan cepat kabur sebelum impresi musik indah ini terlanjur diramu tantrum nada tanpa nama dan judul. Rintik – rintik hujan mulai turun dan pesan si siluman masih masuk ke ponsel uzur-ku. Kubalas singkat dan padat. Tanpa emosi!!!

***

Manokwari , 10 November 2011

Mereka bilang ini ‘hari pahlawan’. Siapa juga mereka itu yang dengan santainya mendapuk ini ‘hari pahlawan’. Maaf, emosi nasionalismeku sudah larut sejak beberapa tahun terakhir. Bukannya sok liberal. Hanya tak percaya bahwa Pahlawan haruslah mereka yang berbaju kemeja hijau dan bertopi lucu dan tentu saja bersepatu kulit beralas besi. Persis seperti yang diusung oleh patung empat lelaki di dekat sebuah Jembatan di kotaku. Ini hanya pikiran lepasku melihat spanduk – spanduk bergambar tugu lelaki baju hijau yang bertebaran di kotaku. Penuh basa – basi. Aku ingin ‘patung guru’, aku ingin ‘patung dokter atau tenaga medis’, aku ingin patung yang lain. Tak perlu insersi ideologi berlebihan di otak. ‘Apa tak cukup patung lelaki bertopi baja lengkap dengan harimau di areal pelabuhan?’ batinku.

Masih teringat bayang mas – mas bernama Yos Sudarso di Taman Imbi Jayapura sana. Bertakhta pongah di atas para makhluk pribumi. Padahal seingatku lewat catatan seorang teman di Makassar a.k.a. Luna Vidya, di sana pernah ada sebatang pohon Matoa yang ditanam saat ulang tahun kota Jayapura berpuluh tahun silam tetapi harus ditebang demi mas ini. Ya pohon kerap disepelekan fungsinya dibandingkan lelaki beton bernama pahlawan itu. Patung mati! Padahal sebatang pohon berusia sepuluh tahun sanggup memompa Oksigen untuk dua orang sepanjang hayatnya. Ini masalah kepentingan! Tak ada yang menganggap si pohon Matoa yang endemik Papua itu lebih penting daripada si mas – mas bercat emas itu, yang konon anggaran pengecatan ulangnya sanggup memberi makan orang satu RT di Jayapura selama seminggu. Ironis!!!

Patung pahlawan dekat jembatan pun jadi bahan pembicaraan tepatnya ‘perdebatan’ sengit dengan si siluman SMS lewat pesan – pesan pendek minus ‘tanta Veronica’. Rupanya ia salah satu lelaki yang bertanggungjawab atas hadirnya si patung bapak – bapak berbaju hijau dan cokelat di kotaku.

“Aeh ko deng ko teman – teman cuma bisa protes mo, tra bikin apa – apa. Biar tooh ada patung itu, kenapa juga. Epen ka,” jawabnya di ujung perdebatan kami.

“Mendingan tugu jam, lebih ada guna. Apa tuh, pace baju coklat tuh makhluk dari mana ka? Tong tra kenal dia. Lebe bae patung guru ka dokter, masih ada guna. Makna simbol tra sampe moooo. Apa lagi de pu tifa tuh, maksudnya? Biar dong kelihatan berdiri di Papua dan jadi lambang supremasi? Nene moyang. Kam bikin tuh co lihat de pu ukiran dulu ka, ukirannya bukan Papua mooo, macam dari Kalimantan ka ini. Perhatikan de motif bunga ka, pliz HAHAHA. Sa pu mulut mo, sa mo bicara juga ko ganas ka. Pi kopeng tembok sana HAHAHA,” ujarku tak kalah cuek.

Pertengkaran kami tak berhenti juga. Pesan – pesan singkat kami saling meyikut, ‘baku pukul di udara, tabanting – banting di tanah, saling baku sepak’. Tepatnya, saling berdebat. Berlari ke arah impian dan liberalisme pikiran. Saat ia dengan mental oportunisnya menyindir kerjaanku yang serabutan di mana – mana, dengan cuek-nya aku bilang,:

“HAHAHA Sorry, sa pemimpi. Sa cuma 10% dari populasi. At least so far sa su lebih banyak bajalan ke berbagai tempat dibanding ko. CATAT! Dibayar untuk bajalan dan GRATIS! Plus setidaknya sa lakukan apa yang sa cintai dan cintai apa yang sa lakukan. Sisanya, epen ka? Kalo ganas, ya silahkan ganas, tacukur di jalan aspal sana HAHAHA. Epen ka!”

***

Bob masih sering mengirim pesan. Selalu menyangkal pekerjaannya dan selalu mengaku hanya pengangguran padahal rangkuman informanku dengan jelas memberi tahu pekerjaan dan deskripsi kerja Bob. Ia juga selalu menyangkal hubungannya. Ia selalu mengaku lajang tanpa pacar, memurnikan hubungannya tanpa cela.

Lebih dari seminggu pun aku belum bertemu dirinya. Penasaran dengan penampakan si siluman ini HAHAHA. Akhirnya, dari urus sana – sini, atur sana – sini. Voila …. Kami bertemu di sebuah tempat bernama ‘Kayu Manis’. Gosh, he’s not totally not my type. Jadi penasaran dengan si siluman yang bisa sepercaya diri itu.

Ia masih tetap sama. “Ba’gedi” atau “Lemon” alias too much flirting deh. Ia pikir aku tipe perempuan yang terpesona dengan digit tabungannya. No way!!!

Pesannya masuk lagi malam ini kala laporan survey telah beres sejak sore. It’s my free time! Kami tertawa membahas hal – hal kecil. Tertawa garing lewat simbol – simbol emotikon a la “HAHAHA, hehehe, =D, :D,” ataupun sekedar Mr Smiley dalam berbagai pose. Tak luput dengan larian susunan kata a la ROFL ataupun LOL. SMSnya pun tak kalah gombal-nya, entah apa yang ia pikirkan kala merespon pesanku tentang rencanaku ke luar kota mengangkut pulang bibit pohon yang sudah kubeli di persemaian petani lokal. Yang aku tahu ia pasti pikir aku akan percaya 100% pada lelaki seperti dia padahal di dalam hatiku aku masih tetap beberapa persen mengadopsi paham bahwa lelaki gombal ataupun buaya darat hanyalah “segumpal daging tanpa otak”. Sorry, masih sedikit feminis (garis keras) HAHAHA

“Day, masa ko mo trus ajak ko sahabat Ray sih, skali – skali ajak sa juga eee. Kalo sa, sa janji kerja rodi untuk ko HAHAHA”, jawabnya.

Pesan – pesan gombalnya selalu kupatahkan dengan menjebaknya lagi dalam pernyataan yang sama,:
“Stop lemon ya. Nan ko maitua kas sa mata masak!.”

Ia masih tetap tak peduli. Selalu mengirimkan pesan gombalnya yang entah dicabutnya dari buku siapa, ataukah memang ini kelakuan khas lelaki dari pulau kecil di teluk Cenderawasih itu. ‘Abuleke’ tinggi!!!

“Day, sa tra bisa tidur nih. Masih terbayang tadi ketemu bidadari di resto.”

Atau juga pesan lainnya sejenis:

“Malam Day, su tidur ka? Adooh kangen SMSmu ini. Met tidur ya!”

***

Jujur, aku menikmati SMSnya. Menikmati pesannya. Menikmati ia memainkan emosiku sambil berharap ini hanya akan jadi hiburan bagiku. Walau aku sangat benci berhadapan dengan lelaki ‘buaya darat’. Bob selalu memasang tampang alim bersih cewek. Bahkan rela memintaku mengorbankan 1 menit waktuku untuk bertemu dengannya di pinggir jalan yang searah dengan rumah Chel di luar kota sana. Entahlah, saat itu aku hanya kasihan padanya yang terlanjur menunggu.

Bob tak pernah tahu bahwa aku sudah memasang jaringan kerjaku di mana – mana termasuk di rekan – rekan kerjanya. Aku tahu ia sudah mempunyai tunangan. Perempuan dari negeri seribu pulau yang sama dengan opa – omaku. Perempuan yang sangat cantik menurutku. Entah apa yang berkelebat di otak lelaki siluman pesan ini hingga bisa sukses mengirimkan pesan ‘lemon’nya padaku. Tak tahu. Aku hanya benci penipu saja dalam hidupku. Dalam bisnis informasiku, aku benci penipu. Musuh nomor satuku dalam tim kerjaku adalah pembohong ataupun kaum ‘muka dua’ dan ‘double agent’. A big NO untuk mereka!!! Biasanya, kuberi pelajaran yang tak akan mereka lupakan. Jangan panggil namaku ‘Day Nemesis’ kalau penipu di dekatku tak kuberi pelajaran.

Entahlah. Aku tak mengerti apa yang ia lihat padaku hingga selalu ‘ber-lemon’ dengan ungkapan, “U r perfect, Day. Makanya banyak cowok yang tagila – gila ko.” Ia salah besar! Aku tak pernah bisa ‘sempurna’!!! Karena aku mengenal hidupku (dengan baik). Begitu juga perasaanku!

***

Akhir November 2011

Kusiapkan cetakan foto – foto Bob dan tunangannya dalam amplop. Ia begitu bodoh tak memproteksi jejaring sosialnya hingga foto – fotonya mudah kucuri. Samaran namanya tak mempan di jejaring itu karena aku punya ‘mata’ dan ‘telinga dimana – mana’ apalagi seorang perempuan cantik di pulau lain berbagi informasi denganku. Foto – foto itu selalu kubawa. Berjaga – jaga bila ia terlalu gombal. Berjaga – jaga untuk momen ‘hari pembalasan’. Aku mulai bosan dengan permainan ini. Sangat bosan! Ingin lepas. Padahal masih ada sebulan aku di kota ini.

“Hai Day, bikin apa?,” tanya Bob sekali lagi.

Aku tak peduli dengan pesan itu.

“Bisa ketemu ka? Sa yang traktir makan nanti. Ko di mana? Sa ke situ eee. ”ajaknya lagi.

Aku tak peduli.

Sebuah pesan baru masuk ke ponselku. Pesan yang kutunggu. Seorang lelaki yang kerap kurindukan aroma tubuhnya!

“Beib, Z su di Manokwari. Jadi makan malam toooo? Mau di mana?,” tanya lelaki pengirim pesan itu.

“Di tempat biasa, 30 menit lagi eee”, balasku.

Kukirimkan pesan lain pada Bob. Bertemu di resto kayu manis, tak boleh lebih dari 15 menit dan ia wajib ada di sana.

***

Bob muncul rapi jali lengkap dengan parfum andalannya yang katanya buatan Swedia. Lumayan meningkatkan penampilan fisiknya yang sangat biasa.

Kusiapkan amplop fotonya. Tersimpan rapi tanpa cacat dalam tas tanganku.

Kami memesan minuman. Tertawa lepas. Kupancing lagi tentang status hubungannya yang katanya lajang itu. Ia meyakinkan diriku lagi, “Sa jelek, Day, Perem mana yang mau sama sa ka. Lacak suda kalo tra percaya HAHAHA,” tuturnya. Kuingat catatan kiriman “Lv u, hon” dari Blackberry-nya di dinding jejaring sosial perempuannya 5 hari lalu. Kadang kuanggap mereka berdua benar – benar gagap teknologi hingga tak memproteksi akun mereka. Ia pikir ia penipu (perasaan) yang lihai. Mungkin ia pikir ia anak buahnya ‘Simon Petrus’; si penyangkal HAHAHA.

Kulihat seorang lelaki muda mulai masuk ke areal restoran. Si kulit kopi itu mulai sibuk menebar pesonanya dengan tampang jail-nya. Tampang jail yang selalu sukses merebut hatiku, membuatku menggelepar tanpa nafas tiap kali ia harus pergi untuk kunjungan medisnya di pedalaman berminggu – minggu. Kaos polonya rapi lengkap dengan topi baseball dan sebuah kotak kado besar.

Langkahnya tegap dan stabil seiring dengan topinya yang dibuka menampilkan potongan rambut crew-cut.

“Happy birthday, Love. Sa sayang ko,”jawabnya langsung menuju kursiku lengkap dengan pelukan dan ciuman di kening. Tak peduli dengan pandangan orang – orang di resto.

Bob Terpana. Giginya menggeretak!!!!

Tak menunggu lama, aku dengan cuek-nya mengeluarkan amplop putih dari tas dan mengangsurkan pada Bob, lengkap dengan pesan pendek:

“Bob, lain kali kalo mo lemon ka gedi cewek, pastikan target deng baik eee. Sa kasihan ko cewek!”, ujarku.

Max dan aku pun melangkah keluar resto. Meninggalkan Bob yang masih memandangku dengan pandangan tak percaya.

Bob salah karena aku tak pernah ‘Perfect’. Tak akan pernah ‘perfect’ karena kelemahanku adalah memainkan hati para buaya darat kala Max bertugas di pedalaman.

Kukirim pesan pada sebuah nomor ponsel di daftar kontakku:

“Siz, sa su kas kam 2 pu koleksi foto ke ko pu paitua tuh. Mudah – mudahan de tobat eee. De macam –macam lagi deng sa, nan sa bilang sa pu rekan kerja lipa dia bae – bae. Thanx lagi su libatkan sa eee. Good luck deng ko pu hubungan.”

***

EPILOG

Di pinggiran sebuah dermaga yang temaram, ditemani nyala lilin yang membias wajah dan senyum lepas orang ‘mabuk cinta’ kubuka kotak kadoku.

“Moga ko suka, Day. Bagus untuk ko kerjaan. Lensa tele-nya bagus tuh. Hehehe”, kata Max yang masih menatapku dengan pandangan cinta.

Kami tak peduli dengan pesan masuk dari Bob yang singkat, pendek, dan jelas:

“Dasar perem anjing. Sa bunuh ko!”.

Aku dan Max hanya bisa tertawa lepas. Tak bisa membayangkan bagaimana wajah Bob besok sore bila selesai dihajar rekan – rekan timku. Ia tak tahu aku pemimpin tim ‘SWAT a.k.a. Swanggi Terlatih’.

Ciao, buaya darat! GAME OVER!!! *sambil memegang erat kamera hadiah tunanganku.

(Manokwari, 241111; inspired by a true story. Maunya sih akhir ceritanya begini HAHAHA*otak nangka sungguh mati)

0 comments: