PROLOG
Ada yang bilang Tuhan itu sedekat doa, sedekat hati. Ada yang bilang Tuhan itu tak tampak. Tapi yang kutahu, kadang Tuhan yang dikenal oleh beberapa orang – orang sebangsaku bukanlah Tuhan yang sesungguhnya karena ternyata mereka sedang memasung Tuhan yang asli, memasangkannya topeng besi seperti lelaki dalam film “the Man in the Iron Mask”. Menyembunyikannya. Itu yang kutahu!
Segelas susu Dancow masuk dengan nikmatnya ke dalam mulutku. Tak peduli akan gemuk karena lemak susunya. Tak peduli. Aku lebih peduli dengan laporan seorang sahabat dari kota kelahiranku; Manokwari. Lebih peduli dengan prosesi ‘melamar Tuhan’. Iya, banyak orang sedang melamar Tuhan di kotaku.
Itulah sebabnya aku memutuskan terbang pulang hari ini. Ingin melihat prosesi melamar Tuhan.
***
Manokwari, Oktober 2011
Lelaki berkulit kopi berperut gembul itu berjalan sumringah, keluar dari tempat karaoke di sebuah sudut kota. Beberapa lelaki lain mengikutinya, memegang tas. Ada yang hanya berjalan diam. Sesekali lelaki gembul itu tertawa dan bicara dengan seseorang di ujung telpon.
“Suda bapa, tuh aman saja. Sa su tempatkan orang – orang di pos – pos pemenangan. Nan sa servis dong, jang takut. Sa bisa janjikan kemenangan 100% di sana.”
Lelaki gembul dan pria – pria itu berjalan keluar. Sesekali aroma alkohol menyeruak dari desah nafas mereka. Beberapa pria itu pun ada yang belum menarik ritsleting mereka yang sedikit terbuka. Belum lagi bekas kecupan bibir berlipstik yang tersisa di ujung kemeja.
Di pojok kota yang lain, beberapa lelaki lain duduk mengelilingi seorang lelaki. Berdiskusi, membahas, dan tertawa. Mata mereka mereka dengan lihai menatap rancangan tulisan di sebuah selebaran. Mata mereka tertawa menatap angka yang akan diusung dua lelaki. Beberapa kata yang menistakan dua lelaki dalam gambar itu pun bertaburan keluar. Seseorang sibuk menghitung biaya perbanyakan tulisan dan berpesan pada temannya,:
“Pace, nan takser su gelap baru ko bagi eeee. Masukan lewat celah – celah pintu saja ka, ko bayar ojek untuk sebarkan ke kompleks – kompleks luar kota eee. Bilang saja ada yang titip. Main pelan saja eee.”
***
Lapangan Borarsi, akhir Oktober 2011
Kerumunan massa datang dari berbagai sudut kota. Lelaki, perempuan, anak kecil. Datang tumpah ruah di lapangan. Datang dengan wajah cerah. Beberapa lelaki di sudut lapangan sibuk menyelipkan beberapa lembar uang di saku pengunjung, berbisik hal yang sama, “tahan sampe pulang eee. Nan ada tong siapkan makan eee”.
Aku baru saja hendak mengucapkan salam di depan rumah seorang sahabat yang tinggal di Borarsi kala gegap gempita suara pengeras suara membunyikan janji – janji surga.
“Sa tra tipu, kalo bapa, ibu, famili dong pilih sa, sa akan bangun pelabuhan besar di kam pu pelosok –pelosok pulau. Jadi tra harus panggayuh jauh – jauh ke seberang. Nan biar ada kapal kayu yang lewat, jadi famili dong bisa angkat hasil pulau ke kota besar. Sa tra tipu, untuk kota ini sendiri, sa akan kasi kesejahteraan penuh. Sa janji. Tong akan bikin kota ini terkenal di mata dunia. Tra akan pake waktu lama. I promise”.
Suara lelaki itu membahana diiringi bunyi suara tepuk tangan yang riuh. Tepat lelaki itu sedang berkicau tentang programnya di masa mendatang, seorang lelaki buta dengan banyak sapu lidi dan kemonceng penghilang debu turun di mata jalan dekat rumah temanku. Kukenali ia sebagai lelaki yang sering duduk di depan sebuah toko di kota ini. Seorang anak kecil menyambut lelaki itu dan membawanya pergi entah kemana. Kutunggu lelaki berpengeras suara itu bicara tentang lelaki buta ini. Tapi hingga pisang goreng dan teh manis yang disediakan sahabatku tandas dalam perut, tak sekalipun kudengar ia berbicara tentang nasib orang seperti lelaki ini ataupun pelayanan kesehatan. Tak ada!
Sebelum kupergi, kudengar tarikan suara lewat pengeras suara yang diberi redaksi ‘artis ibu kota’ bernyanyi dan mengajak penonton bergoyang. “Ayooooooooooooooo gooooooooooooyang, Manokwari. Pilih nomor kami. Yuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!”
***
8 November 2011
Tuhan merupa dalam banyak bentuk, dalam berbagai rupa. Manusia di kota ini menyembah bermacam – macam Tuhan. Ada yang menyembah Tuhan yang berbentuk cairan. Ada yang menyembah Tuhan dalam berbagai kenikmatan khususnya kenikmatan yang berlendir. Ada yang menyembah Tuhan dalam timbunan emas dan permata dan lembar digit tabungan dan deposito. Semuanya mencari, memuja dan menjilat Tuhan yang bernama empat huruf itu. Tak banyak yang mau terus menanti Tuhan yang sedang dipasung itu. Tak banyak!!!
“Bip- bip – bip” bunyi pesan notifikasi jejaring sosialku di ponselku. Pesan dari sahabatku. Kubaca pesan itu diam – diam, sambil menahas nafas:
Dear Neme,
Co ko cek info di oom Yakob dong eee, kayaknya tadi sa pu informan kas tahu nih, kam pu kompleks lagi ditarget tuh sama pasangan kandidat X, dong su siapkan 100 juta untuk kam pu areal, satu orang nan dapa 300 ribu per orang. Terserah kam. Sa pu pesan sih gampang: terima saja dong pu uang dan barang, tapi pilih sesuai kam hati nurani too. Epen ka. Sapa suru mo bagi – bagi uang. Kalo ko mau dapa data ini untuk ko tulisan, ko tunggu sebentar pas subuh eee,jang tidur ya eee. Ka ko pi tidur di oom Yakob pu rumah eee. Pasti ko lihat nanti. Lucu skali eee.
Salam,
Milo
***
Ini hari penentuan. Sedari subuh kompleks tempat tinggalku riuh. Riuh di depan pintu rumah dengan orang – orang yang memanggul beras 20 KG dan lembaran – lembaran uang beserta stiker. Manusia – manusia yang tak peduli dengan Tuhan yang terpasung,; mereka yang menjual suara maupun membeli suara. Tawa kecil dan senyum kilas mengisi rumah tiap penduduk yang mau ikut transaksi. Tak peduli.
Beberapa jam lagi, Tuhan akan dilamar. Dilamar dalam proses tusuk gambar dan cap stempel. Dilamar suaranya. Beberapa pria yang sudah melebur dalam tanah di Mediterania sana berabad – abad lalu bilang: Fox Dei Fox Populus. Iya, suara rakyat adalah suara Tuhan. Itu kata mereka. Di kotaku dan kota – kota sekitarnya, Tuhan sedang dilamar, dilamar suaranya. Tepatnya ada juga yang membeli suaranya.
Para pelamar Tuhan tak main – main. Mereka sangat serius. Tuhan berubah menjadi perempuan cantik yang hendak dikawini. Entah nanti untuk jadi istri pertama, istri kedua, budak pemuas nafsu, aku tak tahu. Para pelamar Tuhan sibuk memamerkan wajah mereka di pinggir – pinggir jalan. Memamerkan senyum terbaik, memberi banyak ‘dupa’ agar Tuhan berpaling pada mereka. Dupa dalam bentuk janji surga, barang, jasa bahkan uang.
Beberapa hari lalu, kuingat kunjungan ke seorang narasumber riset bahasaku di dekat asrama mahasiswa tertentu. Saat melewati asrama itu, di depannya, ada banyak karung beras sumbangan, unit televisi dan beberapa peralatan elektronik baru. “Kaka boo, ko jang kaget ka. Biasa, pace X dong pu orang – orang yang datang kasi, dong tra minta banyak. Cuma pilih dong saja ka ini besok eee.”, ujar seorang lelaki berusia awal 20an padaku. Ada rasa yang tiba – tiba pecah di hatiku.
Ingatanku pecah dan kembali lagi pada agenda kerjaku hari ini. Usai lamaran Tuhan, aku harus bertemu Milo, sahabatku dan juga calon suamiku. Jam 1 siang. Iya, jam makan siang nanti di sebuah restoran di kotaku.
***
Di berbagai sudut kota, Tuhan sedang dilamar. Mereka yang datang murni untuk menyembah Tuhan yang benar, ataukah sedang menjual suara mereka. Beberapa lelaki sibuk menghitung jumlah daftar pemilih tetap yang sudah menjalankan hak mereka. Beberapa saksi sibuk duduk memantau, bercerita dan kadang tak peduli.
Di sudut – sudut tempat pemungutan suara, beberapa lelaki berdiri dan mencegat calon pemilih dengan bujuk rayu dan ancaman, “Neh sa cuma mo bilang eee, kalo kam tra pilih pace X, jang harap kam tinggal di kompleks sini eeee.”. Ada pula yang berkoar – koar, “aeeeh kam pilh pace Y tuh yang nan kam siap angkat kaki dari tempat ini, kam su lihat de pu keyakinan macam bagaimana, macam - macam kam begini siap – siap kam cari jalan saja eee. Jadi mari tong pikir bae – bae sapa yang akan bawa kebaikan untuk kam.” Mereka sibuk berbagi opini dan merayu calon pemilih. Tak peduli pace X tak pernah setia pada istrinya, tak peduli ia tak pernah terbukti membawa kesejahteraan, tak peduli ia pernah tersandung kasus korupsi namun melenggang lolos tanpa banyak proses lama. Bagi para perayu, yang penting ada dana banyak yang akan didapat bila pace X terpilih. Itu saja. Masa bodoh dengan siapa pace X atau apa yang akan ia lakukan kalau ia terpilih.
Milo menjemputku di rumah dan mengajakku makan siang di sebuah restoran ayam goreng di kota ini. Minggu depan aku harus kembali lagi ke kota studiku. Anggap saja ini makan siang kami yang terbaik usai melihat prosesi melamar Tuhan.
Ayam goreng di restoran ini lumayan enak walau bukan hidangan khas Papua. Tiba – tiba di sela – sela makanku, aku teringat ponselku yang tertinggal dalam saku belakang kursi Milo. Dalam perjalanan menuju restoran, aku duduk di jok tengah karena Milo tadi harus sekalian mengantarkan kerabatnya yang tinggal searah dengan restoran plus aku memang lagi ingin mengistirahatkan kakiku barang sejenak.
Berbekal kunci mobil pemberian Milo, aku bergegas ke parkiran; mengambil ponsel. Kubuka pintu mobil, meraih ponsel dengan segera. Sayangnya, sepercik aroma yang sangat khas tiba – tiba merasuk hidungku dengan cepat. Rasa penasaran membuatku melongok ke bagasi belakang mobil. Sebotol pemutih pakaian ukuran besar , satu gelas kosong, dan beberapa jeruk nipis bekas dipakai tergeletak di sana, di dalam sebuah karton tanpa tutup. Tak lupa sehelai kain berwarna ungu bekas tinta stempel.
Aku tiba – tiba pusing. Sangat pusing. Bayang wajah Milo menari di kepalaku. Bayang ia mencelupkan bekas tinta di jarinya, membersihkanya. Entah dengan siapa ia mencuci bekas ia terlibat dalam prosesi ini. Tiba – tiba bayangnya menari – nari liar. Sayup – sayup kudengar suara lelaki lewat pengeras suara tertawa di dalam benakku, tertawa sangat keras. Keras sekali! Dan kurasa tiba – tiba Tuhan bernama empat huruf itu menari kegirangan serupa bocah taman kanak – kanak, bersama – sama Milo tentu saja.
***
EPILOG
Mereka tertawa karena berhasil melamar Tuhan. Entah untuk disembah atau untuk digagahi demi Tuhan mereka; si empat huruf itu. Entahlah, yang aku tahu, mereka sudah berhasil mendapatkan Tuhan itu, dan tak lama lagi akan lahir anak – anak mereka yang bernama korupsi, kerakusan, ketamakan, nafsu kekuasaan. Tak akan ada lagi koar – koar peduli kesehatan apalagi untuk lelaki buta yang pernah kutemui.
Aku harus pulang hari ini. Tak ada lagi Tuhan yang hendak kutemukan dalam wajah manusia – manusia ini. Tak ada. Milo berutang penjelasan besar padaku, sangat besar. Khususnya mengingat hadiah ulangtahunnya untukku bulan lalu lewat seorang teman yang dititipinya; kamera SLR Nikon D90 lengkap dengan berbagai lensa makro, tele, dan mikronya termasuk lagi tripod dan light diffuser dan beberapa buku fotografi impor.
Sesaat aku pun sadar, bagi mereka, para pelamar Tuhan itu, mereka tak peduli dengan suara rakyat yang adalah suara Tuhan, bagi mereka cuma satu Tuhan yang mereka sembah dan namanya cuma satu:
U-A-N-G!
Ya, nama Tuhan mereka adalah UANG! Itu yang kutahu. Itu saja.
(Manokwari, 111111; inspired by West Papua public election)
0 comments:
Post a Comment