PROLOG
Ini bukan persoalan ‘menjadi’ tetapi ‘ada’. Meninggalkan jejak eksistensi yang nyata. Yang ia inginkan hanya jujur pada dirinya. Menjadi dirinya sendiri. Tiba – tiba aku merindukan perempuan itu. Perempuan bernama Jingga. Lamat – lamat kudengar suaranya kembali terulang di dalam kepalaku, “Tong tra bisa pilih lahir di keluarga mana, Rhe. Tapi tong bisa pilih jadi siapa dalam hidup ini. Dan sa pilih jadi sa diri sendiri. Sekonyol apapun itu. Andai saja dong bisa terima sa apa adanya. Cinta itu ternyata mahal ya?”
***
Malam telah beberapa jam membelah langit Manokwari. Perempuan lajang 28 tahun itu baru saja pulang dari acara belanja. Dilangkahkan kakinya cepat – cepat masuk ke dalam ruang keluarga. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya. Bibirnya dipoles gincu merah muda lembut dan tipis. Ia merasa sangat cantik dan bahagia dengan hidupnya.
“Ma, kam bikin?” suaranya berseru dari luar.
Seorang perempuan paruh baya pun keluar menatapnya. Pandangannya datar.
“Ma, liat sa pu rambut baru. Sa potong pendek. Abis panas tadi jadi,” serunya dengan semangat.
Perempuan itu hanya memandang sekilas.
“Sa juga baru beli lipstik baru. Sa suka de warna skali,” jawabnya lagi dengan nada ceria.
Perempuan tua itu hanya memandangnya datar. Tanpa komentar.
Ia melanjutkan ceritanya sambil menyibakan rambut keritingnya yang dipotong bob pendek. Rambutnya yang suka berganti warna. Kali ini coklat kepirangan.
“Ma, tadi toh sa deng Anna pi belanja. Damainya, sa pu rambut aneh ka? Adoh tadi ada pelayan yang liat tong deng muka bagaimana ka begitu, baru de sindir – sindir tong khususnya sa rambut. Anna ko ganas jadi de langsung tindis bicara besar – besar ‘udik’. Sa tadi tra dengar jadi, kalo sa dengar, sa mo lapor ke dong pengawas. Masa tong belanja baru pelayan toko macam begitu. Tong tra bikin apa – apa baru dapa perlakuan begitu,” Jingga pun bersuara berkeluh kesah.
Pandangan mamanya yang semula datar pun berubah menjadi pisau tajam, mengejewantah lewat muntahan kata – kata tajam tanpa nama.
“Makanya, bagaya tuh yang biasa – biasa saja. Yang normal – normal saja to. Kalo bikin rambut begitu ya sadar resiko too. Orang bicara ya cuekin saja to. Untuk apa balas. Bikin masalah saja,”desisnya dengan nada menghakimi.
“Tapi ma, nih kan dalam toko. Sa belanja, sa bayar. Sa kan tra minta de pu sindiran, ma. Kalo di luar ruangan, sa cuek. Tapi kan ini masalah layanan too. Masa tong belanja ada pelayan yang begitu. Jadi untung tadi sa tra dengar jelas. Kalo iya, sa pasti lapor supervisornya,” suara Jingga mulai naik 1 oktaf.
“Ko tahu apa, ko yang salah mo. Sapa suru mo bikin rambut begitu. Baju juga sapa suru pake celana pendek begitu. Makanya tahu tempatkan diri di mana. Ini Manokwari. Kalo kas warna ya tahu diri resikonya. Diam saja kenapa ka?”, jawab perempuan yang adalah mamanya Jingga.
“Jih mama, tapi kalo tong tra bela tong diri, bisa – bisa tong diinjak – injak trus. Sa tra komentar dong pu muka ka gaya yang begitu mo, kenapa dong harus sibuk ka sindir orang lain besar – besar,” sahut Jingga tak mau kalah.
“Sapa suru mo gaya mati jadi bule ka. Untuk apa juga ko basibuk kas pirang rambut, pake baju yang begitu. Pancing keadaan skali. Tra bisa normal sedikit ka,” sahut bapaknya tak mau kalah.
“Iya, gaya tuh yang normal – normal saja ka. Sapa suru. Tuh ko pu salah too,” jawab mamanya lagi.
Jingga tak dapat lagi menahan beban yang mulai terasa sesak di dadanya. Semuanya terasa sesak. Ia tak sadar mengeluarkan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya semakin meradang:
“Ma, kalo sa ikut kam pu pola berpikir yang macam begini. Sa percaya sa pasti tra akan pernah pi Australia untuk sa pu S2, tra akan bisa tamat dari uni yang bagus, tra bisa lulus S1 deng nilai bagus, tra bisa dapat kerjaan lepas yang masih bisa kas makan sa diri sendiri. Bisa – bisa sa hidup hanya untuk bautang terus menerus dan tra bisa jadi apa yang sa mau dalam hidup.”
Perkataannya selesai lengkap dengan gebrakan pintu kamarnya. Lengkap dengan bunyi “klik” di lubang kunci.
***
Aku mengenalnya sejak lama. Sangat mengenalnya. Mungkin ia sebaya denganku. Perkenalan kami begitu biasa, hanya kenalan di sebuah kegiatan organisasi pemuda di kotaku. Lama – lama, si pirang kribo ini kerap menjadi penyemangatku dan teman cerita. Pertalian persaudaraan yang kasat mata. Ataukah cinta? Entahlah disebut apa hubungan ini. Kami jarang bertemu. Tapi, aku banyak mendengar ceritanya lewat pesan – pesan pendeknya. Ia orang yang ceria sayangnya aku tak pernah sekalipun mendengarnya menyanyi lepas dengan pandangan bahagia kecuali kala dalam acara saat teduhnya yang pernah tak sengaja kudengar. Ada satu kisah yang sering membuatku bertanya mengapa ia tak pernah suka menyanyi ataupun menikmati menyanyi. Hingga tak sengaja dalam sebuah malam, ia mengirimkan pesan – pesan pendek bernada lirih.
“Kak, su tidur. Sa bole curhat ka?”, isi pesan pertamanya, seperti SMS yang lain. Selalu berupa ijin. Selalu bertanya.
“Ah trada ade, kenapa jadi? SMS saja, tra papa kok.” Jawabku singkat.
Ia pun mengalirkan keluh kesahnya seperti kawah kepundan. Berasap. Menggelegak.
Ia ingat dengan jelas, sedari kecil tiap kali ia ingin menyanyi, mamanya dengan cepat berseru, “Tra usah nyanyi. Ko suara jelek.” Dan Jingga kecil memutuskan untuk diam. Tetapi beberapa tahun kemudian, kala adik perempuannya didorong untuk menyanyi oleh mamanya, ia pun bertanya tentang suaranya dalam hati, “Mungkin ada yang salah di dalam sa pu pita suara”, jawabnya menghibur diri tiap kali didera pernyataan yang sama. Ia mengingat jelas pula bagaimana di masa liburan SMAnya di kota ini, saat harus mengurus sebuah persyaratan di sebuah kantor pemerintah dan ia bersenandung kecil di ruang tunggu. Hanya ia dan bapaknya saat itu. Ia mengingat jelas ia diadili orang tuanya dan dianggap memalukan dan gila. Sejak saat itu ia berhenti menyanyi di depan orang tuanya dan juga orang lain. Menutup mulut dengan rapat.
Itulah sebabnya aku tahu mengapa ia jatuh cinta pada Greenday, pada India.Arie. Karena mereka bisa menyanyikan sebuah protes yang tak pernah bisa ia nyanyikan. Itulah sebabnya ia paling tak suka dipaksa untuk menyanyi. Itulah sebabnya ia begitu ekspresif menyembah Tuhannya karena ia tahu orang tuanya tak akan pernah tahu apa yang ia ceritakan pada Tuhannya. Aku kadang sedih melihat bagaimana Jingga tiap hari harus bersitegang dengan mamanya. Kalau bukan tentang masalah taman bunga di depan rumahnya, pasti tentang dekorasi kamarnya. Kalau bukan tentang gaya berpakaian, pasti tentang hal lain.
Ah aku merindukannya malam ini.
***
EPILOG
Lama sudah aku tak mendengar kabarnya, mendengar kisahnya. Akun jejaring sosialnya hanya berisi pesan dari teman – temannya dan segala macam iklan. Aku merindukannya malam ini. Kukirim pesanku pada ponselnya tapi tak pernah ada balasan. ‘Mungkin lagi ke pedalaman,’ batinku.
Aku ingat pagi tadi kala mengecek newsfeed jejaring sosialku, sebuah pesan muncul di layar Jingga yang terefleksi di laman-ku.
“Ga, kenapa ko tega skali ka. Kenapa? Sa akan rindu ko sungguh mati. Ko tega. Kenapa tra cerita ka. Sa sayang ko. Kenapa Ga? Ko tega tinggalkan sa tuh!!!”.
Pesan dari sahabatnya Jingga.
Aku hanya bisa menangis, terasa berat di dada.
Entahlah, aku gagal sebagai teman. Sangat gagal kala membaca pesan sahabatnya Jingga dan komentar – komentar dari berbagai teman dekatnya.
Yang aku tahu, Jingga tak akan pernah kembali lagi. Terlalu banyak darahnya yang terbuang usai sayatan di nadinya. Itu penjelasan via pesan pendek yang dikirimkan sahabat dekatnya padaku.
Ah aku merindukannya hari ini. Merindukan Jingga yang selalu ingin jadi dirinya sendiri termasuk menentukan akhir hidupnya.
“You are beautiful dan maafkan sa karna tra pernah bilang langsung ke ko kalo sa terlanjur sayang ko”, itu yang ingin kubilang padanya, bila besok aku tiba kembali di kota ini demi pemakamannya.
Kau benar, Ga, cinta itu ternyata mahal ya? Semahal darah yang mengalir lepas.
(Manokwari, 251111; a chunk of memory indeed)
0 comments:
Post a Comment