Search This Blog

Loading...

Friday, 25 November 2011

Aku baik - baik saja

Sudah seminggu lebih aku tak menuliskan kisahku. Terlalu banyak beban yang menumpuk di benakku, mengkristal dan harus kukeluarkan. Iya, terlalu banyak.

Mulai dari pekerjaan survey di Pantai Utara Manokwari, keberangkatan ke Makassar dan bertemu beberapa teman hingga pertemuan dengan lelaki baru yang memujaku. Sayangnya, ia salah slag karna sudah punya ‘tunangan’. Entahlah, ada banyak hal yang terjadi. Belum lagi minggu lalu aku bertengkar hebat dengan orang tuaku hanya karena gayaku yang dianggap memalukan dan tak ‘baik’ ada kata mereka yang membuatku sangat sesak. Sangat sesak!

Minggu lalu, aku dan orang tuaku bertengkar hanya karena masalah potongan rambutku. Aku tak masalah bila mereka mencela apapun potongan rambutku karena sejak kecil aku terbiasa dengan celaan mereka. Sangat terbiasa! Yang aku sesalkan dan membuatku down semalaman dan mata bengkak hingga pagi adalah mereka bahkan tidak ‘membelaku’. Ceritanya sih karena survey yang harus kulakukan ke kampung – kampung di Pantura yang harus kutempuh dengan balap motor dengan kecepatan 80 KM antara 45 menit – 1 jam, kan siang hari sangat panas dan lokasinya di pinggir pantai, jadinya ya hari itu rambutku terasa sangat panas. Tak pikir panjang, aku memutuskan ke salon dan memotong pendek rambutku. Ya, biar sedikit lebih adem dan terawat. Apalagi ujung rambut juga sudah banyak yang pada pecah. Daripada semakin rusak, kuputuskan memotong rambutku. Jadinya, rambutku pendek dan sangat pirang. Iya, karna ini kan tahun ‘mewarnai’ rambut!

Aku ingat malam itu, aku dan sahabatku pergi ke toko besar di Manokwari dan membeli lipstik yang memang kunantikan untuk kubeli dari uang honorku. Jadinya ketemu. Nah saat kami pergi ke lantai bawah toko itu, ya ampun ternyata aku sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari penjaga toko pria yang mengikuti kami dan mengganggu kami menggunakan lirik lagu yang diputar tapi kata – katanya sih ‘sorry, sorry … rambut. Rambut, rambut’. Karena sahabatku yang mendengarnya tak suka, ia langsung membalasnya dengan tertawa ‘sorry, sorry, UDIIIIIIIIIIIIK. UDIIIIIIIIIIIIIIIK’. Aku sih cuek bebek tak peduli. Nah pulang dari toko dan usai mengantar sahabatku pulang, aku bercerita pada mama dan papa di ruang TV. Ternyata, respon mereka sangat berbeda dengan apa yang kuharapkan. Aku hanya ingin berbagi cerita saja, tak lebih. Tak mengharapkan pujian sama sekali. Tapi yang kudapatkan malah makian dan celaan tanpa henti. Aku terus terang langsung down dan masuk kamar usai bertengkar dan berdebat dengan mereka.

Aku ingat awalnya mama hanya bilang, “Itu ko yang salah, sadar diri too sapa suru mo potong rambut dan kas warna seperti itu. Jadi kalo orang ganggu, jang bicara banyak ka marah toooo, sapa suru aneh.” Aku pun mendebat mama dengan bilang, “Tapi ini di toko, Ma. Kalo di luar, sa cuek. Tapi kalo di toko itu kan ada aturan dimana penjaga tuh harusnya melayani pengunjung bukannya membuat pengunjung merasa tidak nyaman dalam berbelanja.”. Tapi ternyata pernyataanku malah jadi pemicu pertengkaran yang lebih besar dan membara malam itu. Aku benar – benar tak tahan kala papa bergabung dan mulai menyinggung dengan berkata, “sapa suru mati jadi bule eee. Su pulang Indonesia juga mo. Nih bukan di Australia sana.”. Mama mengiyakan dan mulai lagi membahas gayaku yang memakai celana pendek, rambutku dan segala macam hal. Pokoknya, aku harus mengikuti norma apa yang ada di kotaku, gaya standar dan segala macam hal. Aku tak tahan jadi aku mendepak pernyataan mereka, “Kalo sa cuma ikut apa yang kam bilang dan apa yang dipercayai banyak orang di kota ini, sa pasti tra akan pernah bisa pi kuliah ke Australia dan raih sa mimpi – mimpi. Sa cuma akan kawin tempo, pu anak banyak – banyak saja kapa, dan berakhir seperti kam yang begini – begini saja dari dulu.” Dan aku pun langsung membanting pintu kamar dan memutuskan menangis sepanjang malam. Jangan tanya bagaimana mataku yang bengkak.

Entahlah, aku merasa sangat sendiri. Aku hanya mengirim pesan pada sahabat perempuanku. Meminta pendapat, entahlah. Akhir – akhir ini aku merasa bahwa pada akhirnya yang memahamiku hanyalah aku dan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa mengerti bahwa aku sedang melakukan apa yang kucintai dan mencintai apa yang kulakukan. Itu saja. Entahlah!!! Aku merasa semakin jauh dari orang tua dan keluargaku terkecuali dengan para keponakanku. Aku ingat pesan sahabatku malam itu, “Style reflects personality, May”. Iya, dia benar. Gayaku merefleksikan kepribadianku., itu yang kutahu dan aku hanya tak bisa memakai pakaian dan gaya yang bukan diriku. Rasanya seperti mengkhianati diriku. Rasanya ada bagian diriku yang hilang dan diperkosa saat aku tak bisa memakai apa yang ingin kupakai. Aku suka fashion sejak kecil sayangnya jalan hidupku berubah dan tak sanggup masuk sekolah menjahit masa SMK ataupun sekolah fashion design karena tak ada ketiadaan biaya. Jalan satu – satunya adalah memakai apa yang ingin kupakai dan kurefleksikan. Itu saja.

Aku suka kebebasan, ingin bebas berekspresi, ingin jadi apa yang kuinginkan, mengejar mimpi – mimpiku. Ini terefleksi juga dalam gayaku bila berhadapan dengan musik. Pasti badanku akan bergoyang seirama lagu atau musik yang kudengar. Seperti di depan Gedung Kesenian Makassar minggu lalu, aku cuek saja bergoyang bersama temanku mengikuti hentakan musik Jazz, Reggae dan pop. Sangat hidup menikmati musik live lengkap dengan alunan suara saxophone. Aku bahagia! Padahal banyak sekali orang yang memelototi kami karena ada puluhan orang dan hanya kami yang bergoyang dan kadang menyanyi bersama para pemain musik itu. Sampai – sampai ada yang merekam kami dan tak sadar saat HP sudah di depan mata. Iyalah, menari sepenuh hati HAHAHA.

Aku ingin menikmati tiap detik kecil dari hidupku, menikmatinya dan jadi diriku sendiri. Tak peduli apa kata orang toh selama ini aku baik – baik saja. Aku pasti melawan bila ada tindakan berlebihan yang dilakukan pada diriku, itu prinsipku.

Tentang cinta? Ah seminggu ini aku dekat dengan seorang lelaki Waropen yang bekerja di instansi pemerintah urusan bikin jalan raya, panggil saja ia Bob. Gara – gara ia aku sampai membuat satu cerpen tentang dirinya tapi akhirnya ternyata beda dan lebih versi fiksinya HAHAHA. Jadi kejadiannya terkait dengan pelatihan surveiku di Makassar, saat itu ternyata ia melihat fotoku di pinggir jalan raya bersama Chel; temanku di notebook-nya Chel. Nah ia terpesona atau mungkin sedikit ‘tagila – gila’. Jadinya, ia langsung mengirimku pesan dan itulah awal perkenalan kami. Entahlah, aku nyaman bercerita dengan dirinya. Sangat nyaman. Ia terus berusaha meyakinkan diriku kalau ia lajang tanpa pacar. Jadinya, aku pun melacak dirinya, guess what? Ia sudah punya pacar yang cantik di Ambon sana.

Kemarin aku mendampratnya karena 3 kali kutanya, ia selalu mengaku lajang dan bahkan bilang, “May, sa jelek kok, mana ada perem yang mau sama sa ka”. Aku juga baru tahu kalau ia ngaku pada Chel kalau ia ingin menutup akun FBnya agar aku tak curiga. Sayangnya, ia telat banyak. Jangan panggil aku miss Investigasi dan googling kalau tidak bisa mendapatkan informasi tentangnya. Ya iyalah, tak hanya Chel yang kuwawancara tapi juga si Arc yang satu kantor dengannya. HAHAHA dan tentu saja Google di internet. Ia dan pacarnya tak memproteksi akun FB mereka jadinya ya mudah terbuka dan kubaca dengan bebas belum termasuk foto – foto mesra mereka. Bob benar – benar salah menantangku beberapa hari lalu dengan bilang, “lacak sa status suda, May. Kalo tra percaya. Sa single n tra pu pacar kok!” dan aku membuktikan bahwa aku cocok jadi INTEL HAHAHAHA. Untung aku tak ada otak psiko untuk mengacak – acak FB mereka atau mencuri foto mereka dan kujadikan sasaran iseng di dunia maya, ya semisal membuat blog atau akun palsu bertema prostitusi atau gigolo HAHAHAHA, atau juga kujebak untuk semisal bukti kejahatan. Aku masih ingin jadi malaikat HAHAHA.

Jadinya, kemarin aku menegur Bob habis – habisan. Jujur, aku trauma dengan lelaki hujan dulu. Jadinya takut kejadiannya akan terulang kembali, belum lagi miss Gaul dan Rie sahabatku plus miss M telah wanti – wanti untuk ‘jaga jarak’. Intinya, mereka bilang Bob tergila – gila denganku. Tampangnya sungguh mati biasa eeeeeeeeeee, dan aku sampai bilang padanya, “Ko Aneh! Ko pu pacar tuh cantik skali tapi ko masih bisa kirim SMS mesra – mesra ke sa.”. Iya, malah membalas pesanku dengan pesan – pesan yang membuatku mo pingsan, iya ia mengaku suka padaku sejak melihat fotoku. Freak!!! Apalagi ia mengaku sejak mengenal diriku seminggu ini ia merasa sangat klop dan nyaman dan bisa bercerita apa saja dan bilang bahwa ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Aku ingat SMSnya yang begini: “Sa juga bingung, May. Sejak lihat ko foto dan ketemo ko dan cerita dengan ko, sa rasa klop sekali dan nyaman. Cuma ko yang bisa bikin sa nyaman sekali. Jang marah ka kalo sa SMS2 ko eee. Sa tra bisa tipu sa perasaan saja.”. Payah!!!! Kan ceweknya sudah mau datang dalam minggu ini dari Ambon.

Yang pasti, ada satu hal lucu yang kudengar dari pernyataan Bob ke Chel yang adalah tetangganya, katanya wajahku ‘bule’, belum lagi gaya bicaraku dan juga sikapku dan kemungkinan gaya hidupku. Aku hanya bisa ketawa ‘bokar – bokar’, pasti pengaruh rambutku yang kucat pirang dan mataku yang memang coklat terang abis. Masa sih aku harus operasi mata agar kelihatan Jawa - Papua. Salahkan nenekku yang orang Cirebon itu HAHAHA. Kemarin aku sampai bilang pada Chel begini, “Untung sa pu hidung dan tinggi badan sama seperti sa bapa, sa pasti su jalan tipu – tipu laki – laki. Su genit hancur HAHAHAHA”. Ini hanya catatan lepasku, abisnya sejak beberapa minggu terakhir aku merasa terlalu banyak mata yang menempel di badanku karena rambut. Padahal aku hanya akan mewarnai rambutku hingga akhir tahun ini. Tanggal 1 besok aku akan menggantinya dengan warna hitam dan kembali ke gayaku. Cukup 6 bulan saja aku menikmati pewarnaan rambut. Berikutnya mungkin aku akan melihat apa yang ingin kulakukan dengan rambutku ini.

Lain si Bob, lain lagi si Q. Aku sudah menghapus nomor ponselnya sejak sebulan lalu dan menetralisir perasaanku. E di hari yang sama dimana aku sukses mengunggah foto – foto baruku dengan rambut pendek pirang di FB, e ia mengirimkan SMS basa – basi hingga 3 x, isinya sih seperti “Ciao”, “Semangat”, “Kapan lanjutkan pembahasan sirene Fasharkan chapter II, sa tunggu lho”. Jadi kucek lagi nomor ponselnya yang kutulis di buku lain, untuk pastikan apa benar ini dia. Dua malam lalu jadi titik balik komunikasi kami walau hari ini aku menghapus lagi nomor ponselnya HAHAHA

Q masih tetap aneh dengan perasaannya. Aku juga sudah berhasil menetralisir perasaanku, dan cuek saja bercerita tentang Bob dan si Arc (baru tahu kalo ternyata si Arc dulu pernah suka padaku tapi karena ia tak enak hati dengan sahabatku yang ternyata menyukaiku juga, ia memilih mundur.) Aku sempat tertawa tadi malam mendengar reaksi Q saat aku bilang kalau aku sudah tak menghubunginya sejak bulan lalu karena aku menghapus nomor ponselnya. Nada suaranya sangat marah, “Sa salah apa ka, sampe kaka ko hapus sa nomor. Sa salah apa?” Pertanyaan yang berulang – ulang. Aku hanya bilang agar aku tak kecanduan dan menghubunginya, itu saja. Untung ia tak tahu bahwa aku juga selalu menempelkan kertas post-it penuh makian padanya dan memakinya di dinding meja kerjaku, mulai dari “ Q babingung, Q sontong, Sontong belanda, nyali pecek, babingung taslep”. Pokoknya ekspresi emosiku semuanya dan ternyata itu sangat membantu diriku. Iya, sangat membantu melepaskan emosi tanpa harus kecanduan padanya. Aku hanya tak ingin menutup diriku untuk jatuh cinta lagi pada orang lain. Itu saja! Ternyata SUKSES karena dua hari ini aku bisa sukses memaki – maki dia via SMS sampai – sampai ia enggan membalas pesanku abis de terlalu makan puji jadi.

Aku memang merasa sedikit jahat (walau kemarin aku sudah minta maaf). Karena Q terlalu ‘makan puji, Jadinya aku membuka kartu AS-ku, “Q, jang talalu pede ka. Sa memang dulu kejar2 ko, tapi tuh dulu dan sa juga cuma kejar2 saja, sa tra niat jadikan ko sa pacar. Ko tahu itu. Sa kan cuma ungkapkan sa perasaan ke ko TAPI sa tra pernah niat jadikan ko sa pacar, ko bukan sa target mo. Ko tuh cuma enak dikejar – kejar, tapi tidak enak dipacarin, ko mulut talalu babisa. Lagian sa tra pernah minta ko jadi sa pacar too, apa sa pernah minta ko jadi sa pacar, tidak pernah too. Lagian sekarang sa su tahap bosan mooooooo makanya sa juga su tra hubungi ko lagi. Su trada rasa untuk ko skarang. Rasa yang sa rasa dulu sama ko su trada juga. Jadi terserah kalo mo bilang sa kejar2 ko ke orang lain, sa teman – teman dekat dong juga tahu sa penyakit yang mudah jatuh cinta tapi juga mudah bosan. Jadi jang talalu percaya diri tingkat tinggi eee.” Langsung de SUNYI!!!! Entahlah, sekarang aku lebih ekspresif saja mengeluarkan pikiranku. Toh aku tak hidup untuk membuat orang lain terkesan ataupun membuat semua orang bahagia. Titik!

Ah hari ini aku bercerita terlalu banyak. Itu saja.

Satu yang pasti, aku sedang tergila – gila dengan menulis dan juga meneliti.

Tak peduli dengan orang lain usai mendengar apa kata Tuhan pagi ini di saat teduhku yang penuh tangisan bahwa banyak orang tak bisa memahamiku dan mengerti diriku karena Ia menciptakanku spesial, dan tiba – tiba selalu ada perkataan begini, “Karena orang seperti ko cuma 10% dari populasi, May”. Ia banyak berbicara dan menyemangatiku pagi tadi, banyak kata cintanya dan aku bahagia. Apalagi Ia bilang, “May, yang paling penting berbagi kasih. Toh ko kerja sebentar siang jadi relawan penerjemah di kuliah umum untuk mahasiswa Biologi tuh kan pelayanan dan bukti kasih, trus ko temani Chel dan bantu acara pembayaran mas Kawinnya keluarga miss M itu juga pelayanan. Jadi jang merasa tertekan belum melakukan hal – hal luar biasa. Ko sangat spesial dan unik dan Aku menciptakanmu begitu karena aku tahu kau salah satu dari keajaiban yang kubuat. Jadi semangat eee.”

Selamat datang dunia!!!!

Thanx Father, Jesus & Holy Spirit. Amen

(Manokwari, 251111; usai disiram cinta Tuhan)



-

0 comments: